Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

29 Desember 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Hari ini, dengan anugerah karunia Allah Ta’ala, Jalsah Salanah [Konvensi Tahunan] di Qadian (India) telah dimulai. Berdoalah kepada Allah supaya tiga hari Jalsah di sana dapat ditutup dengan baik dan aman; dan Dia menganugerahi taufik kepada para anggota Jemaat yang tulus dapat mencapai tujuan kehadiran mereka dalam Jalsah ini.

Tujuan itu adalah untuk membuat permohonan dalam doa-doa kepada Allah Ta’ala, untuk berusaha membuat lebih baik keadaan ilmu pengetahuan dan keadaan perilaku mereka, demi memperkuat kita hubungan dengan Allah, mengikuti program-program Jalsah demi memenuhi tujuan ini, memperoleh manfaat dari Jalsah dan atmosfir spiritualnya, membuat mereka lebih menggemari lagi dalam berdoa secara khas yang tidak hanya bagi diri mereka sendiri tapi demi kemajuan Jemaat khususnya, untuk mengalirkan dukungan Ilahi dan pertolongan-Nya guna menggagalkan setiap rancangan dan upaya yang dibuat oleh mereka yang memusuhi Jemaat guna merugikan Jemaat di setiap pelosok di dunia. Berdoalah kepada Allah agar Dia melindungi kita dari kejahatan mereka.

Demikian juga, seyogyanya kita mendoakan umat Muslim secara umum karena beberapa golongan, gerakan dan pemerintahan di antara mereka melakukan keaniayaan, membunuh dan menimpakan kerugian terhadap yang lain atas nama Allah dan Junjungan kita, Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Kewajiban kita untuk berdoa bagi mereka. Karena keaniayaan atas nama Allah dan Rasul-Nya yang dilakukan semua golongan itu membuat kalangan non Muslim menyampaikan kritik dan tuduhan terhadap Islam dan Nabi saw. Hal ini memprihatinkan hati kita sebagai Muslim Ahmadi. Maka dari itu, kita harus mendoakan mereka juga.

Secara khusus saya tujukan seruan [berdoa] ini kepada saudara-saudara yang berkumpul dalam tiga hari ini di kampung halaman Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam, kampung halaman seorang pecinta sejati Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Mereka harus berdoa baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama dengan mengingat semua tujuan Jalsah ini dan doa-doa tersebut di benak mereka.

Mereka juga harus ingat untuk berdoa demi penyempurnaan tujuan yang mana untuk itu Hadhrat Masih Mau’ud (as) diutus. Tujuan itu adalah untuk membimbing umat Islam, dan juga membuat orang-orang non-Muslim menyadari kebenaran Islam dan membawa mereka ke dalam pangkuan Islam dengan membuktikan keunggulannya kepada mereka.

Demikian juga, kita juga harus berdoa untuk kondisi umum dunia. Semoga Allah memberikan hikmat kebijaksanaan kepada semua manusia, agar mereka dapat diselamatkan dari lubang kehancuran. Hari ini, dunia sangat memerlukan doa-doa para pengikut Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Untuk itu, saya katakan kepada warga Qadian yang menghadiri Jalsah ini secara khusus, warga Jemaat secara umum, kita harus berdoa semoga Allah dapat memberikan akal sehat kepada penduduk dunia dan semoga Dia memberikan hikmat kebijaksanaan kepada umat Islam supaya orang-orang ini dapat mengerti kenyataan bahwa tanpa mempercayai seseorang yang diutus oleh Allah Ta’ala, mereka tidak dapat bertahan, juga tidak mencapai keselamatan. Semoga mereka memasuki tahun baru dengan memahami hal ini. Semoga Allah mengatur sedemikian rupa terhadap mereka sehingga mereka sadar dan mendapatkan akal sehat.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) berbicara mengenai tema doa di berbagai kesempatan, pertemuan dan buku-buku beliau as berulang kali. Setiap segi dari tema berikut ini telah beliau jelaskan – sebagaimana baru saya katakan – seperti apa itu doa, apa keadaan yang hendaknya ada pada seseorang ketika berdoa, bagaimana doa dikabulkan dan bagaimana doa menghilangkan berbagai masalah. Beliau (as) telah secara khusus mengarahkan perhatian kita pada keperluan berdoa.

Hari ini, saya akan menyajikan beberapa kutipan dari Hadhrat Masih Mau’ud (as). Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyatakan aspek fundamental dan sentral untuk pengabulan doa, “Doa tidak diterima sampai hati menjadi suci-murni. Jika hati Anda dipenuhi dengan dendam mengenai seseorang bahkan dalam kaitannya dengan masalah duniawi tertentu, doa Anda tidak dapat diterima.” Sabda beliau as, “Ingatlah hal ini sungguh-sungguh. Janganlah membenci seseorang karena urusan duniawi. Apalah harga duniawi dan kenikmatannya sampai-sampai bermusuh demi itu dengan seseorang.”

Jadi, sangat penting demi pengabulan doa, seseorang tidak memberi tempat pada semua dendam dan kebencian pribadi di hatinya; ia memohon pengampunan atas dosa-dosanya sembari menangis dan merendahkan diri; dan  guna mendapatkan pemurnian hati yang permanen, ia harus mengajukan pertolongan dari Allah juga.

Pada hari-hari ini para penentang Ahmadiyah keras dalam tindakan permusuhan mereka terhadap Jemaat. Maka dari itu, kita harus datang ke hadapan Allah dengan doa-doa kita bersatu seperti satu tubuh. Ketika seseorang tertekan dan tunduk di hadapan Allah dalam sebuah keadaan tidak berdaya dan memohon kepada-Nya, maka kemudian Allah Ta’ala datang  memberikan pertolongan-Nya. Maka dari itu, prinsip ini harus selalu diingat. Janganlah melalaikannya selamanya.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) [selanjutnya] mengatakan, “Di kalangan manusia terdapat orang yang jika mendengar sesuatu dari satu telinganya, ia keluarkan itu melalui telinga lainnya. (Artinya, hal itu tidak masuk ke hatinya dan tidak beramal sesuai nasehat tersebut.) Ketahuilah! Allah Maha Kaya. Dia tidak akan peduli sampai seseorang memperbanyak dan berulangkali berdoa dalam keadaan perasaan tertekan (tidak berdaya) dan merintih. Perhatikanlah bagaimana seseorang merasa tertekan dan cemas tatkala istrinya atau anaknya sakit, atau ketika menghadapi gugatan yang membahayakannya di pengadilan. Demikianlah, doa akan menjadi sia-sia secara praktis bila tidak berpengaruh, jika ia kosong dari keperihan hati dan perasaan tertekan yang sejati.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah menjelaskan sebelumnya bahwa syarat mendasar pengabulan doa seseorang ialah menyucikan hatinya dari dendam dan kebencian. Sekarang beliau as menjelaskan keadaan tertekan dan ketidakberdayaan dalam doa yang juga merupakan syarat pengabulan doa, “Distress (perasaan tertekan, merintih dan susah hati) adalah syarat untuk pengabulan doa.’ Syarat pertama adalah menyucikan hati dan kedua adalah merasa kesusahan. ‘Seperti yang Tuhan katakan,’ أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ (am may- yujiibul- mudhtharra idzaa da-‘aahu) yakni, atau “Siapakah yang mengabulkan doa orang yang kesulitan (sengsara) apabila ia berdoa kepada-Nya?” (An-Naml 63) (27:63)

Dengan demikian, rintihan diperlukan dalam berdoa dan juga penting untuk memiliki keyakinan yang kuat akan kenyataan bahwa hanya Allah saja, Yang dapat bersedia memberi manfaat bagi Anda dalam keadaan tertekan dan tidak berdaya ini. Hanya Dia, Yang menjawab doa dan membantu hamba-hamba-Nya.

Maka dari itu, hari ini saya berbicara dengan para Ahmadi yang berada di Qadian secara khusus dan diantara mereka ialah yang datang dari luar Qadian selama beberapa hari sehingga mereka merasakan suasana keruhanian secara istimewa di desa Hadhrat Masih Mau’ud (as) pada hari-hari ini; sebagaimana juga saya berkata kepada seluruh Jemaat supaya memperhatikan hal ini lalu berusaha mendominasikan perasaan rintihan dalam ibadah-ibadah nafal mereka.

Suatu keharusan bagi mereka yang berada di Qadian untuk menghabiskanlah sebagian besar waktu mereka dalam doa-doa dan mengingat Allah baik dalam waktu berangkat maupun pulang; daripada menyia-nyiakan waktu dalam obrolan yang sia-sia. Mereka harus dengan tanpa daya menundukkan diri di hadapan Allah Ta’ala, agar Allah, melalui karunia-Nya, dapat memperbaiki situasi para Ahmadi dimanapun mereka menghadapi kesulitan dan agar Dia dapat menjadikan para penentang tidak berhasil.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyebutkan di satu tempat mengenai keadaan tertekan dan realitas doa, “Jangan mempercayai doa hanya sebagai ucapan saja. Sebaliknya, doa adalah suatu bentuk kematian, yang setelahnya seseorang memperoleh kehidupan yang baru, seperti kita temukan dalam sebuah bait syair bahasa Punjabi, ‘Hai orang yang meminta kematian! Engkau harus mati jika ingin meminta dan berdoa!’”

(Artinya, keadaan seseorang yang meminta ialah seperti dia telah meninggal. Ia telah kehilangan segalanya. Bahkan, ia benar-benar melepaskan dirinya, egonya dan benar-benar memusnahkan keberadaannya. Jika seseorang menghadirkan dirinya di hadapan Allah Ta’ala dalam keadaan seperti itu, maka doanya diterima.) Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyatakan, “Doa memiliki pengaruh magnetis (daya tarik) karena menarik anugerah dan berkat [dari Allah].”

Selanjutnya, beliau as mengarahkan perhatian pada pentingnya doa, pelaksanaan nawafil dan pengarahan demi meraih karunia Allah Ta’ala, “Kami mengatakan bahwa seseorang yang merendahkan diri dan menangis di hadapan Allah Ta’ala, memperhatikan batasan dan perintah-Nya dengan pandangan mengagungkan (hal yang amat penting yaitu mengagungkan batasan dan hukum Allah. Apakah itu? Hal itu ialah yang Allah Ta’ala jelaskan dalam Al-Qur’anul karim dan Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam nasehatkan. Seseorang hendaknya menjunjung tinggi seluruh perintah yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan jangan meremehkan satu pun.)

“Dengan demikian, ia  membuat lebih baik dirinya sebagai akibat terpesona oleh kemuliaan dan kehebatan-Nya…” (Ia meyakini bahwa bila tidak menaati Allah akan mendatangkan hukuman. Oleh karena itu, ia berpedoman terhadap hal itu demi perbaikan dirinya.) “… orang seperti itu pasti akan mengambil bagian dari karunia-karunia Allah. Oleh karena itu, Jemaat kita harus melazimkan diri melakukan shalat Tahajjud, meski hanya dua rakaat jika ia tak mampu banyak, karena paling tidak dia pasti akan mendapat kesempatan untuk berdoa. Doa pada saat itu memiliki dampak unik (yaitu pada saat Tahajjud), karena doa-doa tersebut dipersembahkan dengan perasaan dan gairah sejati…..”

Jika tidak terdapat keperihan khas dan kepedihan hati yang dirasakan dalam qalbu, bilakah seseorang akan bangun dari tidurnya yang nyaman? Bangun tidur pada waktu dini hari ini menciptakan kualitas keprihatinan yang dirasakan qalbu sehingga menimbulkan kegelisahan dan ketidakberdayaan dalam doa yang pada akhirnya mengarahkan pada pengabulan doa.” Artinya, tercipta idhthiraar (perasaan ketidakberdayaan) dan idhthiraab (perasaan keperihan) dalam melaksanakan nafal-nafal pada shalat tahajjud; dan Allah Ta’ala telah berfirman bahwa Dia akan mengabulkan doa-doa orang-orang yang mudhthar (perasaan ketidakberdayaan). Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengatakan bahwa keadaan idhthiraar terlihat oleh orang lain tatkala ia mengorbankan kenyamanannya dan bangun tidur untuk beribadah.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) melanjutkan dalam sabdanya, “Namun, jelaslah bahwa mereka yang malas bangun tidur pada malam dini hari, paling memerlukan perasaan keperihan dan kepedihan yang tadi telah saya sebutkan. Sebab, kenyamanan dan kenyenyakan dalam tidur merupakan tanda ketiadaan perasaan keprihatinan dan keperihan tersebut. Namun, mereka yang bangun tidur membuktikan dia mendukung perasaan keperihan yang mencegahnya terus tidur bahkan memprihatinkannya.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengatakan: “Ada satu hal lain yang perlu diterapkan Jemaat kita, yaitu anggota harus menahan diri dari mengucapkan kata-kata kotor dan hal-hal yang tidak berguna (jagalah lidah Anda agar tetap bersih dari membuat pernyataan yang tidak masuk akal atau sia-sia). Jangan menimbulkan luka emosional pada siapa pun dan jangan katakan sesuatu yang tidak pantas atau salah.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengatakan: “Lidah adalah ambang pintu keberadaan kita dan membersihkan lidah kita seolah-olah mendatangkan keberadaan Tuhan ke dalam wujud kita.” (Artinya, lisan (ucapan) ibarat main entrance atau pintu masuk ke sebuah rumah) Ketika Tuhan telah berada di pintu masuk, maka apakah kamu akan heran bila Dia masuk ke dalam rumah. Ingatlah hak-hak Allah dan hak-hak para hamba-Nya. Janganlah melalaikannya secara sengaja. (Jangan melalaikan pemenuhan hak-hak Allah dan juga hak-hak para makhluk-Nya. Perhatikanlah kedua hal ini senantiasa.)

Mereka yang terus berdoa sembari menempatkan hal ini dalam benaknya, atau katakanlah jika mau, ‘Jika mendapatkan kesempatakan berdoa kami yakin Allah akan merahmati dan menyelamatkan kami.’ Sarana-sarana lahiriah dari segi kebersihan, dan lain sebagainya tidaklah dilarang bahkan wajib beramal dengan prinsip [bait syair bahasa Persia], ‘ikatlah lalu bertawakkal’, sebagaimana yang telah difirmankan: إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * ’Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.’ Namun, ingatlah kebersihan dan kemurnian sejati terletak pada apa yang telah dinyatakan dalam ayat: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ‘Sungguh beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwanya.’ [Asy-Syams, 91:10] Setiap orang harus menganggap sebagai tanggungjawabnya untuk mereformasi diri mereka sendiri. Tidak mungkin mengharapkan karunia Allah, kecuali yang tidak pernah berhenti berdoa, bertobat, beristighfar dan tidak secara sengaja melakukan dosa.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) kemudian berkata: ‘Dosa adalah racun yang menghancurkan seseorang dan menghasut siksa Ilahi. Dosa menghilangkan dalam diri seseorang rasa takut dan cinta kepada Allah Yang Maha Kuasa.”

(seseorang hanya bisa berhenti dari dosa jika mereka berpegang teguh pada Allah dengan kecintaan dan ketakutan serta sadar bahwa Allah mengawasinya sepanjang waktu).

Beliau as bersabda, “Janganlah menghentikan rangkaian doa, perbanyaklah bertobat dan beristighfar (mencari pengampunan dan perlindungan dari Allah atas dosa-dosa). Doa akan bermanfaat bagi mereka yang meluruhkan hatinya di depan Allah dan melihat tidak ada tempat berlari kecuali Allah. Mereka yang berlari kepada Allah dan mencari perlindungan-Nya dengan perasaan tak berdaya pada akhirnya diselamatkan.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan apa itu doa hakiki: ‘Ada dua jenis doa. Yang pertama adalah doa biasa (doa yang secara umum biasa dilakukan orang-orang) dan yang kedua adalah ketika seseorang meninggikan doanya sampai ke puncak. Itulah jenis doa yang sebenarnya (ketika seseorang mencapai klimaks dalam doa dan mengembangkan keadaan gelisah dalam doa). ‘

Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengatakan: “Penting bagi seseorang untuk terus berdoa bahkan jika tidak menghadapi kesulitan (kesengsaraan). (Janganlah hanya berdoa saat menghadapi kesulitan saja. Ketika tidak dalam kesulitan pun tetap berdoa.) Sebab, siapakah yang tahu apa saja kehendak Tuhan dan apa yang terjadi besok. Maka dari itu, berdoalah supaya engkau terselamatkan. Terkadang, bala musibah datang sedemikian rupa kesengsaraan mengendalikan seseorang sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk berdoa. Jadi, jika seseorang berdoa sejak sebelumnya, doa tersebut akan bekerja bagi mereka pada saat seperti itu.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) kemudian menjelaskan bahwa Alquran dimulai dengan sebuah doa dan diakhiri dengan sebuah doa, “Ketahuilah! Tuhan Yang Maha Kuasa memulai dan mengakhiri Alquran dengan sebuah doa. (Surah Fatihah adalah doa dan Surah Al-Nas juga merupakan doa.) Ini menyimpulkan bahwa manusia itu lemah dan tanpa berkat karunia Allah, ia tidak pernah bisa menjadi suci. Manusia tidak dapat maju dalam kesalehan sampai dia menerima pertolongan dan dukungan Tuhan. Ada sebuah Hadits yang menyebutkan bahwa semuanya itu mati kecuali yang Tuhan hidupkan. Semuanya itu tersesat kecuali yang Tuhan beri hidayah.

Semuanya itu buta kecuali yang Tuhan beri penglihatan. Dengan demikian, seseorang belum meraih karunia Tuhan saat ia menjadikan duniawi sebagai tekad yang paling penting. Tidak ada yang mendapatkan penyucian dari-Nya kecuali mereka yang mendapat karunia-Nya. Hanya mereka yang diselamatkan dari iming-iming dunia ini, atas siapa, Tuhan menganugerahkan karuniaNya.”

Namun, seseorang harus ingat bahwa anugerah Tuhan dimulai dengan doa. Jadi, seseorang juga harus berdoa untuk ini. Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan sifat-sifat orang-orang percaya (beriman), “Al-Qur’anul karim (Surah Al-Mu-minuun, 23: 2 -3) menggambarkan dengan jelas, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ {} الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ {} yang artinya, ‘Ketika hati seseorang yang berdoa meleleh dan menundukkan diri di istana-istana Allah secara ikhlas, jujur dan fana fiLlaah sembari menghapuskan pemikiran-pemikiran lain semuanya, memohon pertolongan kepada-Nya dan meminta karunia hanya kepada-Nya, menciptakan dalam dirinya fokus perhatian, riqqat (kepekaan dan kelembutan perasaan) dan meleleh, pada saat itulah pintu kesuksesan dibukakan kepadanya. Ini artinya, makna   kesuksesan benar-benar datang kepada orang-orang beriman, yang merendah hati dalam shalat-shalat mereka’…”

(Itu artinya, tidak akan meraih kesuksesan kecuali orang-orang percaya, yaitu mereka yang menampilkan khasy-yatuLlah (takut akan Allah, kerendahan hati) dalam shalat-shalat mereka dan menjatuhkan diri (tunduk) kepada istana-istana Allah dengan penuh kerendahan hati dan menunjukkan keluarbiasaan dalam ketidakberdayaan keadaan.) Baru saat itulah pintu kesuksesan dibuka bagi mereka yang melaluinya cinta kepada dunia menjadi reda (dingin), karena dua cinta tidak bisa hidup berdampingan di satu tempat sebagaimana disebutkan dalam sebuah bait syair berbahasa Persia,

yang artinya “Dikatakan engkau menginginkan Tuhan dan engkau juga menginginkan dunia ini, tapi ini hanyalah sebuah pemikiran belaka yang tidak mungkin dicapai dan kebodohan. Engkau tidak bisa memiliki keduanya.”

(Artinya, kedua keinginan itu tidak mungkin berkumpul dalam satu waktu. Tentu saja, jika Anda menginginkan Tuhan, maka Tuhan memiliki kemampuan untuk memberi Anda karunia dari dunia ini; tetapi jika Anda hanya mengejar keinginan duniawi ini, maka Anda tidak dapat menemukan Tuhan.)

Pengabulan doa hanya didapat dengan membuat harapan dan keinginan Anda mengikuti kehendak Tuhan. Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan hal ini, “Seseorang harus menghilangkan keberadaannya di dalam Allah (fana fiLlaah), dan dengan meninggalkan semua keinginan dan harapan, dia hendaknya mematuhi hanya keinginan dan perintah Allah supaya dengan itu menjadi sebab berkat bagi dirinya sendiri, anak-anaknya, pasangannya, saudara kandung dan kerabatnya dan juga untuk saya. Seseorang tidak boleh memberi kesempatan pada para penentang untuk mengajukan tuduhan.

Tuhan menyatakan, ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ  ‘Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu (bersegera, maju, berprestasi) berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.’ (Faathir, 35:33).

Hadirat Masih Mau’ud (as) menyatakan bahwa dua karakteristik yang pertama ialah lebih rendah, dan kita seharusnya menjadi sabiqun bil khairat yaitu orang-orang yang berprestasi dalam perbuatan baik. Bukan kualitas yang bagus untuk tetap diam dalam satu posisi. Amati bagaimana air yang stagnan akhirnya menjadi kotor dan karena pencampuran lumpur maka ia menjadi busuk dan menjijikkan.

Di sisi lain, air yang mengalir selalu baik, bersih dan menyenangkan. Meski ada lumpur di bawahnya, ternyata tidak berpengaruh pada air. Begitulah dengan manusia bahwa dia seharusnya tidak tetap berada dalam keadaan yang sama. Keadaan ini berbahaya. Manusia harus membuat kemajuan setiap waktu. Jadi, untuk pengabulan doa, perlu agar manusia membuat kemajuan dalam melakukan perbuatan baik. Jika tidak, maka Tuhan tidak akan menolong manusia dan dengan demikian manusia tidak akan menjadi bercahaya. Dampak akhirnya ialah mengarah ke irtidaad (kemurtadan). Hal demikian membuat hati manusia buta (tertutupi).”

Jadi, untuk pengabulan doa, perlu agar manusia membuat kemajuan dalam melakukan perbuatan baik setiap hari. Sebagaimana telah saya katakan sebelumnya, ia tidak boleh berada dalam satu keadaan saja, melainkan terus maju dalam kebaikan-kebaikan setiap hari seperti air yang mengalir.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) kemudian menyatakan, “Pertolongan Allah Ta’ala menyertai mereka yang senantiasa maju dalam kebaikan setiap hari. Mereka tidak stagnan (tetap seperti itu saja). Dalam kemajuan yang berkelanjutan ini, mengarah pada akhir yang baik. Allah Ta’ala telah mengajarkan doa berikut ini dalam Al-Qur’an رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ  ‘Ya Tuhanku, berilah taufik kepadaku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memperbaiki) anak cucu dan istriku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’ (al-Ahqaf, 46:16).

Hendaknya dawam dalam memanjatkan doa ini supaya tercipta perubahan suci dalam diri anak keturunan dan istri seiring dengan membuat perubahan suci dalam keadaan kamu sendiri. Sebab, seringkali seseorang mendapatkan ujian akibat anak-anaknya dan terkadang karena istrinya.

Perhatikanlah! Ujian pertama yang dialami Hadhrat Adam ialah karena seorang perempuan (istrinya). Dalam Taurat dapat kita ketahui hancurnya iman Bal’am saat menentang Hadhrat Musa. Penyebabnya, istri Bal’am menjadi tamak setelah disuap dengan perhiasan oleh seorang Raja lalu mendesak suaminya (Bal’am) agar berdoa buruk kepada Hadhrat Musa [sesuai desakan sang Raja itu]. Demikianlah, banyak masalah dan kesulitan kaum pria adalah karena anak-anak dan istri. Oleh karena itu, kalian harus memberikan perhatian penuh pada ishlaah (perbaikan) mereka dan seiring dengan itu terus berdoa untuk mereka.”

Dengan demikian, seorang beriman tidak hanya terbatas pada menaruh perhatian terhadap doa dan bertambah dalam amal kebaikan saja, melainkan hendaknya menaruh perhatian pada mengusahakan agar anak keturunan di masa datang juga berada dalam kebaikan. Seiring dengan perhatian terhadap mereka; juga harus mendoakan mereka supaya tercipta ruh kemajuan dalam kebaikan-kebaikan dalalam diri mereka.

Di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyatakan “Ada iwayat seorang Wali yang tengah berada di atas kapal. Terjadi badai di laut dan kapal tersebut hampir tenggelam tapi selamat karena hasil doa-doanya. Pada saat dia berdoa dia diberitahu melalui wahyu Ilahi, ‘Kami telah menyelamatkan semua orang demi engkau.’

Namun, ini tidak dicapai melalui ucapan saja.” (kita harus berusaha keras dalam mencapai hal ini.) Saran kami adalah terus berupaya menjadikan diri Anda teladan yang baik dan luhur. Selama kehidupan seseorang tidak seperti malaikat, bagaimana dapat dikatakan bahwa mereka telah suci, يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ۩   Artinya, ‘…mereka melakukan apa yang Allah perintahkan kepada mereka..’ (Surah An-Nahl; 16:51). Itu maknanya, ‘Jadikanlah keadaan amal perbuatan kalian sebagaimana yang diperintahkan kepada kalian.’”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menarik perhatian kita pada pentingnya doa dalam sabdanya: “Berbahagialah para tawanan yang berdoa dengan tidak mengenal jemu dan lelah, karena mereka akan dibebaskan pada suatu waktu. Berbahagialah orang-orang buta yang tidak lalai berdoa, karena mereka akan mulai melihat pada suatu waktu. Berbahagialah orang-orang yang berada di dalam kuburan yang memohon pertolongan Ilahi dengan doa, karena pada suatu saat mereka akan dikeluarkan dari kuburan itu.

Berbahagialah kamu, apabila kamu tidak mengenal lelah dan payah (tidak malas) untuk berdoa, roh kamu lebur-lelah untuk berdoa, matamu mengalirkan air mata dan menyalakan suatu api dalam dada untuk mendapatkan rasa kecintaan dalam suasana menyendiri kamu dibawa ke sudut-sudut yang gelap dan di hutan-hutan yang sunyi senyap, dan membikin kamu menjadi gelisah, pandir dan lupa diri, karena akhirnya akan dibukakan karunia Ilahi kepadamu.

Tuhan Yang kami ajak kamu kepada-Nya adalah Pemurah, Pengasih, Penyantun, Benar, Setia dan Penyayang kepada orang-orang yang rendah hati. Kamu juga harus menjadi setia dan berdo’a dengan penuh kejujuran dan kesetiaan supaya Dia pun akan kasihan kepadamu. Tariklah dari keributan dunia dan janganlah membuat perselisihan pribadi bersifat duniawi sebagai corak agama. Terimalah kekalahan demi Tuhan sehingga kamu dapat menjadi pewaris kemenangan besar. Tuhan akan menunjukkan keajaiban bagi mereka yang berdoa dan memberikan karunia yang luar biasa kepada orang-orang yang berdoa kepada-Nya. Doa datang dari Tuhan dan kembali kepada-Nya.

Dengan perantaraan doa, Tuhan menjadi dekat denganmu, seperti jiwamu adalah dekat denganmu. Nikmat pertama doa ialah manusia mendapat perubahan suci di dalam dirinya; kemudian oleh karena perubahan itu, Tuhan pun menjadikan perubahan sifat-sifat-Nya bagi orang itu. tetapi untuk orang yang telah mendapat perubahan ini Dia menampakkan sifat-sifat-Nya dengan suatu cara yang lain lagi yang tidak diketahui oleh dunia. (Sifat-sifat Tuhan tidak ada perubahan melainkan penampakan sifat-sifat itu berubah seiring perubahan internal seseorang.) Seolah-olah Dia adalah Tuhan yang lain, padahal tidak ada Tuhan yang lain, hanya penampakan (tajalli) yang baru menyatakan Dia dalam keadaan yang baru. Kemudian, dalam keadaan penampakan yang khas itu Dia mengerjakan hal-hal untuk orang yang telah beroleh perubahan yang suci itu, yang tidak dikerjakan untuk orang-orang lain, inilah yang dikatakan hal yang luar biasa (mu’jizat).”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) memperingatkan anggota Jemaat kearah doa-doa, amal-amal saleh dan keteladanan baik bagi orang-orang: “Para anggota Jemaat harus menampilkan keteladanan bagi orang-orang. Jika seseorang dari kalian menjalani kehidupan yang sama kotor dan tercemar seperti yang dia lakukan sebelum Bai’at dan juga menyatakan dirinya dalam Jemaat kita dan bersamaan dengan itu masih menunjukkan contoh yang buruk dan menunjukkan kelemahan dalam tingkah laku dan kepercayaannya, maka orang tersebut bersalah karena melakukan kekejaman hebat. Ini karena dia membawa nama Jemaat ke dalam keburukan dan juga memberi orang lain kesempatan untuk mengarahkan jari ke arah saya. Orang membenci contoh yang buruk sementara contoh yang bagus mendorong (memotivasi) orang lain.”

Beliau (as) bersabda: “Seseorang pada hari ini dan besok seharusnya tidak sama. Jika seseorang hari ini dan besok tetap sama sehubungan dengan kemajuan dalam kesalehan, maka orang tersebut menghadapi kehancuran. Namun, jika seseorang percaya kepada Tuhan dan memiliki iman yang utuh kepada Dia maka orang itu tidak akan pernah disia-siakan selamanya. Bahkan, sebenarnya karena dia saja, ratusan ribu jiwa diselamatkan.”

Contoh tentang ini diberikan ketika karena ada satu orang suci di sebuah kapal maka Tuhan menyelamatkan semua orang yang ada di sana. Jadi, Tuhan sangat berghairat memperhatikan para hamba-Nya.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyatakan bahwa senjata kita adalah doa. Oleh karena itu, kita harus mengarahkan fokus kita pada doa. Beliau as bersabda, “Tidak tercantum dalam riwayat mana pun bahwa Al-Masih yang dijanjikan itu menghunuskan pedang. Tidak dikatakan ia akan berperang. Melainkan, dikatakan bahwa orang-orang kafir akan mati dengan nafas Al-Masih. Artinya, dia menyelesaikan semua pekerjaan melalui doa. Semua tujuan yang ingin kita selesaikan hanya bisa dicapai dengan doa. Doa mengandung banyak kekuatan.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) selanjutnya menyatakan: “Dikatakan suatu kali seorang raja bersama pasukannya berangkat untuk melancarkan serangan ke sebuah negara. Dalam perjalanan, seorang faqir (pria miskin petapa) meraih kendali kuda itu … “(Ini sebuah hikayat)” … dan mengatakan, ‘Jika Anda menahan diri untuk terus maju, saya tidak akan berperang melawan Anda.’ Raja tercengang dengan ini dan bertanya: ‘Kamu hanyalah pengemis belaka, miskin dan tidak punya apapun. Bagaimana kamu bisa melawan saya?’ Dia menjawab: ‘Saya akan berperang melawan Anda melalui senjata doa yang saya lakukan di awal pagi hari’, yaitu melalui doa-doa yang dilakukan dalam tahajjud [shalat nafal sebelum waktu subuh]. Raja menjawab: ‘Saya tidak bisa melawan ini’, dan berbalik kembali.” Jadi, ini adalah kekuatan doa dan adalah apa yang telah dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam berlanjut dengan mengatakan: “Singkatnya, telah ditetapkan oleh Tuhan bahwa doa menghasilkan kekuatan besar. Tuhan telah berkali-kali memberi tahu saya melalui ilham-ilham bahwa semuanya akan terjadi dengan bantuan doa. Senjata kami adalah doa dan saya tidak memegang senjata lain selain doa. Setiap yang kami doakan kepada Allah dalam keadaan diam-diam, Dia tampakan itu secara nyata. Para penentang pada masa dahulu dihukum melalui Nabi-Nabi juga. (yaitu dalam corak perang-perang menghadapi mereka.)

Namun, Allah Ta’ala Maha Mengetahui bahwa kita ialah orang-orang yang lemah. Oleh karena itulah, Dia mengambil alih mayoritas pekerjaan kita semua di Tangan-Nya Sendiri. Tidak ada bagi Islam sekarang kecuali jalan ini yang mana ini tidak dipahami oleh para Ulama dan para Filosof yang berpegang pada hal-hal lahiriah. Jika jalan perang dibukakan (diperintah) bagi kita tentu akan dimudahkan bagi kita semua sarana-sarana untuk itu. Ketika doa-doa kita mencapai titik puncaknya yang tertentu, para penipu otomatis akan dimusnahkan. ”

Dengan demikian, sabda beliau ‘alaihish shalaatu was salaam ini sangat penting dan harus dipahami. Seluruh penentang beliau as pada masa beliau as telah gagal dan merugi dalam menghadapi beliau as. Jika kita ingin agar kita dimenangkan atas mereka yang memusuhi kita, tidak ada jalan lain kecuali dengan doa. Untuk itu pun kita harus berusaha.)

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyatakan: “Menurut pandangan kami, tidak ada yang melebihi doa dan tidak ada senjata yang lebih ampuh selain doa. Berbahagialah orang yang memahami hakikat ini yang mana merupakan jalan yang sekarang Tuhan ingin memberi kemajuan pada agama.”

Dengan demikian, senjata yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) demi kemajuan agama itu harus dipergunakan oleh para pengikut beliau as. Senjata inilah yang – insya Allah – akan menghilangkan kesulitan-kesulitan dari kita dan membuat gagal mereka yang memusuhi kita. Maka dari itu, tiap Ahmadi harus menaruh perhatian atas hal ini.

Pada akhirnya saya hendak mempersembahkan doa yang Hadhrat Masih Mau’ud (as) amalkan untuk umat Muslim dan juga untuk saudara-saudara kita Muslim yang bukan Ahmadi pada umumnya.

“Ya Tuhan hamba, dengarkanlah doa hamba mengenai umat hamba dan rintihan hamba saat memohon untuk saudara-saudara hamba. Hamba memohon kepada Engkau dengan bertawassul melalui Nabi Engkau yang Khatamun Nabiyyin saw, juru syafaat untuk orang-orang berdosa, yang syafaatnya diterima. Ya Tuhan hamba, lepaskan mereka dari kegelapan dan bawalah mereka ke dalam cahaya Engkau, bawalah mereka dari tempat berjarak mereka ke dalam kedekatan hadirat Engkau,

Ya Tuhan hamba, kasihanilah mereka yang mengutuki hamba. Jagalah dari kehancuran mereka yang berusaha menghalangi hamba. Tanamkanlah hidayah Engkau di dalam relung hati mereka yang terdalam. Maafkanlah kesalahan dan dosa mereka. Ampunilah mereka. Maafkanlah mereka. Berikanlah mereka keamanan. Bimbinglah dan sucikanlah mereka. Anugerahilah mereka dengan mata yang memungkinkan mereka untuk melihat. Anugerahilah mereka dengan telinga sehingga mereka dapat mendengar. Berikanlah mereka hati yang dengannya mereka dapat memahami. Berilah mereka pancaran cahaya yang dengan itu memungkinkan mereka untuk mengerti [kebenaran]. Rahmatilah mereka. Maafkanlah mereka atas apa yang mereka katakan, karena mereka adalah orang-orang yang tidak tahu.

Ya Tuhan hamba [Saya mohon] Demi wajah Muhammad al-Mushthafa (saw) dan derajatnya yang tinggi, di mana beliau menghabiskan malam-malamnya dengan bersujud dan siang hari di medan laga, dan juga berkendaraan dengan cepat di malam hari juga demi Engkau; dan semua perjalanan menyusahkan yang dilakukan ke ummul Qura (induk semua kota yaitu Makkah); perbaikilah hubungan antara kami dan saudara-saudara kami. Bukalah mata mereka dan terangilah hati mereka. Aktifkan mereka untuk memahami kebenaran yang telah Engkau jelaskan kepada hamba. Tunjukkan jalan-jalan ketakwaan kepada mereka dan maafkan semua yang telah berlalu. Doa terakhir kami adalah semua pujian ditujukan kepada Allah Ta’ala, Tuhan Pemelihara langit yang tinggi.”

Semoga Allah Yang Mahakuasa membuka mata hati umat Muslim sehingga mereka menahan diri untuk tidak menentang seorang yang ditunjuk Tuhan, dan bukannya menjadi pembantu Hadhrat Masih Mau’ud (as). Semoga Allah memungkinkan kita menjadi orang yang memenuhi hak-hak shalat. Mereka yang hadir di Jalsa Qadian harus memberikan perhatian khusus terhadap hal ini dan partisipasi mereka di Jalsa harus menjadi sarana perubahan revolusioner dalam diri mereka. Semoga Allah Yang Maha Kuasa memungkinkan kita semua untuk melakukannya.

Penerjemah : Dildaar Ahmad Dartono

________________________________

[1] Malfuzhaat, jilid 9, h. 217, edisi 1985, UK

[2] Malfuzhaat, jilid 10, h. 137, edisi 1985, UK

[3] Malfuzhaat, jilid 10, h. 62, edisi 1985, UK

[4] Malfuzhaat, jilid 3, h. 245-247, edisi 1985, UK

[5] Malfuzhaat, jilid 10, h. 122-123, edisi 1985, UK

[6] Asma wa Sifat karya Imam al-Baihaqi (الأسماء والصفات للبيهقي) dan Shahih Muslim: يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلا مَنْ هَدَيْتُهُ
فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ “Wahai hamba-Ku! Setiap dari kalian adalah sesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk.”

[7] Malfuzhaat, jilid 10, h. 62, edisi 1985, UK

[8] Malfuzhaat, jilid 10, h. 62, edisi 1985, UK

[9] Malfuzhaat, jilid 10, h. 138-139, edisi 1985, UK

Riwayat Bal’am bin Baura disebut juga dalam Kitab-Kitab Tafsir oleh Fakhruddin ar-Razi, Abu Ja’far Jarir ath-Thabari dan ibnu Katsir saat membahas Surah Al-A’raf ayat 176-178. Bal’am awalnya menolak berdoa buruk kepada Bani Israil. Pintu bujukan para pemuka kaum yang menentang Bani Israil ialah lewat hadiah-hadiah kepada istri Bal’am. Bal’am akhirnya menuruti mereka. Meski doa-doa kutukan Bal’am tidak mempan kepada Nabi Musa as dan kaumnya, bahkan berbalik, Bal’am tidak kurang akal. Ia menyarankan ide menjatuhkan akhlak Bani Israil. Para wanita cantik kaum musuh Bani Israil disuruh agar mendatangi Bani Israil. Godaan ini cukup berhasil. Banyak kaum
pria Bani Israil yang ikut cara hidup mereka dalam penyembahan berhala. Kaum Bani Israil akhirnya mengalami degradasi. Tanah yang dijanjikan tertunda didapatkan. Versi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru menyebutnya Bileam bin Beor, Bilangan 22, Yosua 6, 20-22, Yosua 13:22, II Petrus 2:15 dan Wahyu 2:14

[10] Pidato Sialkot, Ruhani Khazain jilid 20.

[11] Malfuzhaat, jilid 10, h. 137, edisi 1985, UK

[12] Malfuzhaat, jilid 6, h. 273, edisi 1985, UK

[13] Ainah Kamalaat-e-Islam, Ruhani Khazain jilid 5, h. 22

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ  وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ  أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

(Visited 75 times, 1 visits today)