Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

Tanggal 06 November 2009 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ ()

Terjemahan ayat yang saya bacakan ini adalah “Kamu adalah khaira ummah (Jemaat, golongan, orang-orang terbaik), yang diciptakan untuk kemanfaatan umat manusia; kamu memberi petunjuk kearah berbuat kebaikan dan menghentikan berbuat keburukan, dan beriman kepada Allah. Dan, sekiranya Ahlikitab beriman, niscaya akan lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah fasik.” (3:111).

Ayat ini menarik perhatian pada pentingnya menjadi orang Muslim dan tujuan-tujuan menjadi seorang Muslim. Tidak diragukan lagi, menjadi Muslim adalah hal yang besar. Seorang Muslim beriman pada Rasulullah saw. Lalu, beriman pada syariat terakhir yang kaamil (sempurna), mukammal (paripurna) dan jaami’ (menyeluruh, lengkap). Itulah dia syariat yang Allah turunkan dalam bentuk Al-Qur’an dan yang telah Dia nyatakan, إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ ()Sesungguhnya, Kami telah menurunkan Peringatan (Al-Quran) ini, dan sesungguhnya Kami baginya adalah Pemelihara” (Surah al-Hijr, 15:10).

Demikianlah, itulah dia syariat yang dalam bentuk Al-Qur’an yang terjaga dari sejak awal dalam bentuk aslinya. Sampai saat ini, kita telah menyaksikan janji Ilahi ini terpenuhi dengan kejayaan. Kehormatan istimewa ini, dari antara seluruh agama di dunia, hanya Islam-lah yang menerimanya dan sampai saatnya hari Kiamat, hanya Islamlah yang tetap mendapatkan kehormatan ini. Orang yang benar-benar beriman harus merenungkan: apakah sudah merasa cukup bangga dengan pernyataan Ilahi ini; dan juga sekaligus merenungkan apa tepatnya peran seorang Muslim dalam Islam yang sedemikian luhur kedudukannya itu dan peran dalam agama Syariah yang terakhir ini? Jika Allah menjuluki umat Muslim adalah ‘Khaira Ummah’, maka apakah yang sudah umat ini atau seorang Muslim kontribusikan dalam kepercayaan yang sudah diberikan ini? Tuhan mengharapkan dan sesungguhnya telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk melakukan hal-hal yang baik setelah beriman. Dia menentukan beberapa tanggung jawab yang harus dilakukan.

Dia menganugerahi gelar ‘khaira ummah’ bukan tanpa dalil. Bahkan, Dia jelaskan dalil dan sebab-sebabnya, “Kamu menjadi ‘khaira ummah’ dengan dasar-dasar sebab tersebut. Jika di dalam diri kalian terdapat hal-hal itu, maka kalian menjadi ‘khaira ummah’. Pertama ialah ukhrijat lin naas – kalian diciptakan untuk umat manusia. Tanggung jawab untuk melayani tidaklah ditujukan untuk melayani negara tertentu, atau organisasi tertentu, atau orang-orang tertentu; namun bagi seluruh manusia. Kedua, ta-muruuna bil ma’ruuf – kamu memerintahkan berbuat kebaikan, mengarahkan perhatian pada hal-hal yang baik. Ketiga, tanhauna ‘anil mungkar – menghentikan keburukan. Keempat, tu-minuuna biLlaah – mempunyai iman yang sempurna kepada Allah.”

Sejarah menyaksikan betapa pada beberapa abad pertama (Islam), umat Muslim membuktikan kepada dunia sebagai ‘Khaira Ummah’. Mereka memerintah dengan adil rakyat dari semua agama. Pemerintahan mereka tegas dalam keadilan dan menyebarkan cahaya ilmu pengetahuan ke seluruh dunia. Mereka menyebarluaskan kebaikan dan berusaha untuk membasmi keburukan dan kejahatan. Mereka melakukan apa yang mereka dapat lakukan bagi kebaikan manusia. Namun kemudian, orang-orang yang materialistis dan mempunyai niatan tersembunyi masuk diam-diam…dan meskipun ada janji Ilahi untuk menjaga ajaran Al-Qur’an, orang-orang itu meninggalkan kebaikan dan juga mempengaruhi banyak orang; membuat umat Islam luput dari julukan ‘Khaira Ummah’ sebagaimana disebutkan dalam sebuah syair (bahasa Urdu dalam Bang-i-Dara oleh Iqbal):

“Telah kita letakkan warisan perbendaharaan kita di belakang”      

Janji Tuhan menjaga ajaran-ajaran Al-Quran, penjagaannya bukanlah semata-mata seperti penjagaan secara lahiriah atas kisah-kisah dan riwayat-riwayat yang tertera di dalam buku-buku; melainkan, itu adalah janji-Nya untuk mengadakan segolongan orang dan suatu Jemaat yang melaksanakan ajaran-ajaran yang ada di dalamnya. Melalui amalan-amalan mereka, kejayaan Islam bisa diraih kembali, pesan Islam dapat dibawa ke ujung dunia dan pelayanan kemanusiaan yang adil dapat dilakukan sepenuhnya. Untuk tujuan ini, sesuai dengan janji-Nya, Tuhan mengirimkan pecinta sejati Rasulullah saw yang bersemangat yaitu Hadhrat Masih Mau’ud as, yang membawa kembali iman Islam dari sebuah titik terpencil dan sekali lagi keistimewaan Muslim sebagai ‘Khaira Ummah’ dipulihkan dengan kejayaan.

Saat ini, Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as-lah yang memegang keistiewaan sebagai ‘Khaira Ummah’ ini. Tidak diragukan lagi, ada juga dari umat Muslim lainnya yang melakukan tindakan-tindakan terpuji dan pastilah ada juga dari mereka yang mencegah keburukan. Namun demikian, orang-orang tidak bisa secara keseluruhan dianggap demikian kecuali mereka berkumpul di dalam satu kesatuan. Negara-negara Muslim memiliki ulama-ulama mereka sendiri dan juga para pemimpin mereka yang mengikuti cara-cara mereka sendiri. Betapa banyak golongan dalam Islam yang sibuk berdebat dan mempermasalahkan furuu’i masaa-il (masalah-masalah cabang)? Karena itu, akibatnya seberapa banyak negara-negara Muslim yang secara bersama-sama menyebarkan pesan Islam? Siapa yang memiliki waktu menyebarkan keindahan ajaran Islam di dunia?

Beberapa hari yang lalu secara kebetulan saya menangkap bagian akhir sebuah acara diskusi di saluran Televisi Muslim antara seorang alim dari kalangan ulama Sunni dan satu lagi dari kalangan Syiah. Mereka berdua akur dalam sudut pandang mereka mengenai Hadhrat Masih Mau’ud as (Pendiri Jemaat Ahmadiyah). Tapi, jika ulama Sunni itu mengetengahkan mengenai kepercayaan dan imannya sendiri, sang ulama Syiah akan mengecam dan mencelanya, dan begitu juga sebaliknya. Acara tersebut sudah jelas ditujukan untuk menyampaikan kedengkian dan kebencian atas kita, namun mereka terjebak dalam kebingungannya sendiri dan menampilkan contoh buruk.

Contoh-contoh yang demikian justru membuat gusar orang Muslim sederhana yang hanya tertarik pada kebesaran Islam yang kemudian berpikir, “Sebenarnya siapakah yang termasuk dalam golongan istilah ‘Khaira Ummah’?” Solusi hal ini adalah apa yang telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. Beliau saw bersabda, “Jika situasi yang membingungkan muncul, kalian terpecah penuh pertentangan dalam banyak golongan, Tuhan akan mengirimkan Imam Mahdi (Hadhrat Masih Mau’ud as); maka terimalah ia. Pergilah menemuinya meskipun engkau harus merangkak melalui sungai es. Pergilah menemuinya dan sampaikanlah salamku. Beliaulah Hakam ‘Adl (Hakim Adil). Dia putuskan mana yang benar. Dia sampaikan syariat yang sebenarnya. Dia sendirilah yang akan membuktikan keunggulan Islam diantara agama-agama yang lain di dunia. Dia akan tunaikan dengan benar tabligh Islam.”

Hal ini adalah sesuatu yang harus dipikirkan dan direnungkan oleh orang-orang di luar Jemaat. Hal ini juga membuat kita memegang tanggung jawab yang luar biasa besar dalam menyandang sebutan ‘Khaira Ummah’. Hadhrat Masih Mau’ud as diperintahkan Tuhan untuk mengumpulkan manusia di dalam satu agama.

Sejak awal umat Muslim mengimani Syariat Terakhir yaitu Al-Qur’an yang mulia dan Nabi Terakhir, Hadhrat Khatamul Anbiya Muhammad Mushthafa saw. Sekarang, tidak ada lagi agama baru yang akan datang. Lalu, apa maksud perintah Allah kepada Hadhrat Masih Mau’ud as agar mengumpulkan seluruh umat Islam dalam satu agama? Agama yang mana? Tentu saja yang dimaksud ialah hanya agama Islam. Di dalam agama Islam telah terjadi selama berabad-abad lamanya banyaknya para ahli fikih, Imam, Syaikh dan seterusnya yang mendirikan golongan tersendiri dan kelompok yang terpisah.

Imam Zaman telah datang dengan pengabdian dan ketaatan sempurna terhadap Rasulullah saw. Beliau dikirim Allah sebagai hakam dan ‘adal (pemutus, penghakim dan pengadil), beliaulah yang secara akurat menjelaskan dan menerangkan hal yang benar mengenai Islam dan Al-Qur’an. Berbagai keputusan, tafsir dan uraian para cendekia Muslim, para ahli hukum Muslim, para ahli tafsir dan para Mujadid (Pembaharu) yang mereka ketengahkan sesuai keadaan dan ilmu masing-masing selama 1.300 tahun terakhir ini yang dianggap benar ialah yang diverifikasi (disahkan kebenarannya) oleh beliau as melalui tulisan dan sabda-sabda beliau as; Khatamul Khulafa (pengesah para Khalifah), hakam dan ‘adal. Tafsir dan penjelasan beliau as itulah yang tepat. Inilah agama Islam sebenarnya yang kita harus bernaung padanya.

Hadhrat Masih Mau’ud as mengambil semua keputusan beliau berdasarkan perintah Tuhan, dan dengan demikian seharusnya tidak ada lagi kebingungan dalam segala hal yang berkaitan dengan fikih dan masalah furu’. Agama yang beliau as ajarkan adalah agama Rasulullah saw. Sekarang kekekalan dan kehidupan seluruh umat Muslim terletak pada berkumpul di tangan beliau as. Dengan kebajikan dan keutamaan berkumpul di tangan beliau as para Ahmadi menjadi ‘Khaira Ummah’.

Pengorbanan diperlukan agar dapat meraih tujuan-tujuan yang lebih tinggi. Pengorbanan harta adalah bagian dari hal ini. Di dalam Islam, meninggikan taraf ibadah dan menyucikan harta ditekankan. Disebutkan dalam Al-Qur’an, الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ () “Orangorang yang, jika Kami teguhkan mereka di bumi, mereka mendirikan shalat dan membayar zakat dan menyuruh berbuat kebaikan dan melarang dari keburukan. Dan kepada Allah kembali segala urusan” (Surah al-Hajj, 22:42).

Allah Ta’ala dalam ayat tersebut menyebutkan, “Orang-orang yang Kami teguhkan di muka bumi adalah terhormat. Mereka dilindungi dari fitnah dan kerusakan. Hal demikian karena mereka telah memakaikan perisai pelindung bagi kehidupan duniawi maupun ukhrawi mereka.” Jika ayat ini dibaca dalam hubungannya dengan ayat Istikhlaf (surat an-Nur; 24:56), وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ  Niscaya kita dapati janji Tuhan untuk menganugerahkan keteguhan beriringan dengan anugerah berdirinya Khilafat di tengah-tengah orang-orang beriman yang melakukan kebajikan.

Oleh karenanya, kabar baik yang paling utama dan terpenting bagi setiap Ahmadi dengan berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as adalah mereka mendapatkan peneguhan [hati dan kerohanian] dengan berbaiat kepada Khatamul Khulafa’ ini, dan setelah itu berjalan dibawah Nizham Khilafat dan hal-hal inilah yang membuat mereka menjadi ‘Khaira Ummah’. Ayat yang telah dibacakan pada awal khotbah tersebut menggambarkan dengan indah syarat-syarat untuk menjadi ‘Khaira Ummah’ yaitu menunaikan kewajiban untuk menegakkan shalat, pengorbanan harta untuk menyucikan harta, memerintahkan dan menyebarluaskan hal-hak baik, menyampaikan keindahan ajaran Islam, memerintahkan agar berhenti dari berjalan dalam keburukan dan seterusnya.

Jika para Ahmadi bersedia melaksanakan kewajiban-kewajiban ini dengan ketulusan hati dan pikiran yang baik, maka Tuhan akan menganugerahkan mereka kemampuan dan kekuatan. Secara historis (perjalanan sejarah) telah terbukti bahwa inilah cara Tuhan. Ketika orang-orang Muslim meninggalkan kewajiban-kewajiban mereka dan melupakannya, mereka juga kehilangan anugerah tersebut. Seperti yang telah saya sebutkan dalam khotbah sebelumnya, saya membacakan ayat berikut: إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ () “Sesungguhnya, Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka…”(13:12). Itu artinya, “Kalian akan senantiasa dalam peneguhan dan selalu mendapat keamanan setelah ketakutan selama kalian menegakkan ibadah, menaruh perhatian pada penyucian harta, membelanjakan harta di jalan Allah, menyebarluaskan kebaikan, mencegah keburukan dan berdiri teguh dalam ikatan dengan Khilafat.”

Dengan menjuluki orang-orang Muslim sebagai ‘Khaira Ummah’, tanggung jawab-tanggung jawab bersama telah ditetapkan kepada mereka untuk dikerjakan secara bersama-sama. Tidak setiap orang dapat mempunyai pengetahuan yang diperlukan; beberapa orang mempunyai urusan-urusan lain sehingga mereka tidak dapat memberikan waktu seperti yang mereka inginkan untuk perkara-perkara agama. Cukup sulit bagi setiap orang secara pribadi berpartisipasi dalam program-program menyebarluaskan kebaikan dan membawa pesan Islam kepada orang-orang lain. Selalu berlaku demikian, dan barangkali di saat dan zaman inilah malahan lebih diperlukan pengorbanan harta untuk memfasilitasi tugas-tugas ini. Mereka yang tidak dapat berpartisipasi dalam program-program tersebut dapat memberikan kontribusi melalui pengorbanan harta. Untuk inilah rencana-rencana dilaksanakan pada masa para Nabi Allah, dan masa setelah mereka, di masa penerus mereka.

Pada zaman Nabi Muhammad saw, pengorbanan harta beliau perintahkan karena adanya keperluan-keperluan mendesak. Di banyak tempat, Al-Qur’an menyebukan mengenai pengorbanan harta mengiringi bahasan mengenai ibadah. Para Khulafa-ur-Rasyidin (Para Khalifah Lurus, Empat Khalifah setelah wafat Nabi saw) juga menggerakkan program pengorbanan harta di kalangan umat Islam. Amalan ini juga diikuti oleh orang-orang beriman lainnya. Di masa Hadhrat Masih Mau’ud as, program-program pengorbanan harta pun beliau canangkan. Setelah beliau pun, di masing-masing masa para Khalifah beliau, Jemaat ini telah melakukan pengorbanan pengorbanan harta yang luar biasa. Amalan ini akan terus berlanjut sampai hari Kiamat. Beberapa orang berpikir, bahwa pada suatu saat Jemaat akan mempunyai dana yang cukup dan tidak akan ada lagi kewajiban candah. Ini tidaklah benar. Dalam berbagai bentuk, pengorbanan harta akan selalu diajukan. Sebab, Allah Ta’ala telah menetapkan dalam Al-Qur’an bahwa pengorbanan harta adalah sebuah keharusan untuk menyucikan harta kekayaan, dan juga menyucikan hati.

Mata rantai pengorbanan harta dalam Jemaat bermula pada masa Hadhrat Masih Mau’ud as. Selain iuran bulanan dan Wasiyat, Tahrik Jadid adalah salah satu program pengorbanan harta dalam Jemaat. Program ini dimulai oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dengan tujuan utama menyebarkan pesan Islam di luar India. Program ini telah melahirkan hasil yang sangat baik dan luar biasa. Saat ini (2009), Jemaat telah berdiri atau berkembang di 193 negara di dunia. Karenanya, para Ahmadi di 193 negara ini mengalami karunia untuk menjadi ummatan waahidah (satu umat). Pengorbanan harta adalah bagian dan ‘paket’ dari Jemaat ini dimanapun Jemaat ini didirikan di dunia. Kecepatan dari perkembangan pengorbanan harta ini cepat di beberapa negara, dan lambat di negara-negara lainnya; namun pengorbanan harta secara keseluruhan cenderung meningkat.

Beberapa tahun lalu, sekolah Jamiah Ahmadiyah hanya ada di Rabwah (Pakistan); dan setiap tahun sekitar 30 atau 35 mahasiswa terdaftar di sini. Namun sebagaimana anak-anak Waqf-e-Nau telah mencapai usia yang layak, pendaftaran sekolah Jamiah meningkat menjadi 200 siswa setiap tahunnya. Jelas hal ini memerlukan peningkatan pengeluaran. Jemaat Pakistan menanggung pengeluaran ini sendiri. Begitu juga Jemaat di UK, Jerman, Kanada dan Indonesia [negara yang ada Jamiahnya], mereka menanggung sendiri pengeluaran-pengeluaran mereka. Namun, di negara-negara seperti Bangladesh, Nigeria, Kenya, Ghana dan negara Afrika lainnya, kantor pusat (Markaz) Jemaat harus membantu pengeluaran sekolah-sekolah Jamiah mereka. Kantor Pusat Jemaat juga membantu dalam pendirian masjid masjid di negara negara yang belum berkembang.

Tahrik Jadid berperan sangat penting dalam mengirimkan Muballigh-Muballigh ke seluruh dunia. Dengan demikian, orang-orang yang memberikan kontribusi pengorbanan harta Tahrik Jadid bisa mengatakan bahwa mereka termasuk berperan serta melakukan kebaikan dan mencegah keburukan. Sebagai tambahan akan hal ini, tidaklah mengada-ada jika dikatakan bahwa kontribusi pengorbanan harta yang dengan kerendahan hati berasal dari orang-orang Jemaat di UK, atau Jerman, USA, Kanada, Australia, atau dimanapun di Eropa, dapat menjadi sarana pelatihan (tabligh dan tarbiyat) bagi orang-orang yang kurang beruntung di belahan terpencil Afrika.

Saya (Hudhur) mengumumkan dimulainya tahun periode baru perjanjian Tahrik Jadid (November 2009-Oktober 2010). Hati orang-orang beriman penuh dengan pengagungan dan rasa syukur kepada Allah, sehingga meskipun tahun kemarin (November 2008-Oktober 2009) adalah tahun yang buruk karena krisis ekonomi dan begitu banyak bisnis yang gagal, banyak orang kehilangan pekerjaan, inflasi merajalela, dan akibatnya pengeluaran rumah tangga meningkat. Dari sudut pandang duniawi, kontribusi untuk pengorbanan Tahrik Jadid seharusnya negatif. Namun, Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as menunjukkan kualitas mereka sebagai ‘Khaira Ummah’. Hal ini memenuhi hati para Ahmadi dengan pujian dan pujaan kepada Tuhan yang karunia dan berkat-Nya kepada kita tidak berkesudahan. Tahrik Jadid telah berjalan selama 75 tahun dan dengan karunia Allah Ta’ala kontribusi tahun lalu terkumpul sebesar £ 4,953,800 (senilai hampir Rp 78 milyar), dimana jumlah ini peningkatan dari total tahun lalu sebesar £ 850,000 (senilai Rp 13 milyar lebih). Pengumuman Tahrik Jadid periode ke-76.

Penjelasan mengenai Daftar Awwal, Daftar Dom (II); Daftar Som (III) 1966-1984; Daftar Ceharam (IV) 1985-2004 dan Daftar Panjam (V) yang dimulai pada 2005. Tahun ini sekali lagi Pakistan, kendatipun memiliki masalah kemiskinan, di urutan pertama dalam memberikan pengorbanan harta, diikuti USA (Amerika Serikat) di urutan kedua, kemudian Jerman, UK, Kanada, Indonesia, India, Australia, Belgia dan Swiss. Perbedaan antara kontribusi pengorbanan di Jerman dan UK sangatlah kecil, hanya sebesar £1,500 (atau senilai Rp 23,5 juta). Saya (Hudhur) sebelumnya menyangka UK menempati urutan ketiga, namun Jerman ternyata juga bekerja sangat keras. Dalam ukuran mata uang lokal sebuah negara, India telah membuat loncatan paling besar dari kontribusi tahun lalu, dan Jerman juga telah membuat lompatan yang sangat besar.

Tahun lalu, saya telah mengarahkan perhatian Jemaat agar menambah keikutsertaan orang-orang baru sebagai Mujahidin (Pejuang peserta) Tahrik Jadid. Anak-anak juga diikutsertakan. Target juga diberikan oleh Pusat. Jumlah tambahan orang yang berkontribusi dalam pengorbanan Tahrik Jadid tahun ini adalah sebanyak 90,000 orang. Total tahun ini ialah 593.000 orang. Sementara tahun lalu 500 ribu lebih. Peningkatan terbesar dari jumlah peserta dari tahun lalu adalah India (32.2000), Pakistan (14.200), Nigeria (9.000), Sierra Leone (5.000), Ivory Coast (5.200), Indonesia (4.000).

Data nama dan nomor kode lebih dari lima ribu orang mukhlish yang masuk Daftar Awwal telah terpampang di website www.alislam.org. Para ahli waris dan keluarga mereka telah dapat menghidupkan kembali pengorbanan mereka tersebut. Demikianlah, dengan karunia Allah, telah diperbaharui kembali semuanya.

Di Pakistan, tiga Jemaat yang merupakan kontributor terbesar adalah Jemaat Lahore, Rabwah dan Karachi. Di USA, empat majlis pertama adalah Silicon Valley, Los Angeles West, Detroit dan Chicago West. Di USA, 80% anak-anak Jemaat di bawah usia 5 tahun telah bergabung dalam program Tahrik Jadid. Majelis Kanada teratas adalah Calgary North West, Peace Village East, Peace Village Centre, Surrey East dan Vancouver. Di UK, 10 majelis pertama adalah Masjid London, Surbiton, Cambridge, Gillingham, New Malden, Birmingham West, Worcester Park, Purley, S.E. London dan Oxford.

Ketika (dalam tahun-tahun awal) Jemaat saya cenderungkan dan gerakkan kepada Wasiyyat, ada yang mengira bahwa kontribusi pengorbanan harta yang lain akan terpengaruh sehingga besaran jumlahnya tidak seperti sebelumnya. Alhamdulillah, hal ini telah terbukti salah. Saat hati seseorang dipenuhi pujian dan pujaan kepada Tuhan, dan ditarik pada fakta bahwa Tuhan akan memperluas dan meningkatkan tugas-tugas kita dan karenanya ini akan membuat kita cenderung kepada pengorbanan harta yang lebih lanjut. Tugas-tugas kita akan meningkat. Meskipun ada krisis ekonomi dunia, kita akan terus memenuhi kewajiban-kewajiban kita, dan Tuhan akan terus meningkatkan kemampuan kita. Semoga kita meningkat dalam hal iman kita, dalam hal pengorbanan kita, semoga kecepatan kemajuan kita meningkat, dan semoga kita mengalami kemenangan.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menyebut Tahrik Jadid sebagai irhaash (pendahuluan) Wasiyyat. Tahrik Jadid adalah pondasi dan dasar bagi Wasiyyat. Saat ini anak-anak kita sedang disiapkan untuk pengorbanan harta dan untuk program Wasiyyat dengan berkontribusi dalam Tahrik Jadid. Para ekonom berpendapat krisis ekonomi adalah permulaan dari angin ribut kelangkaan dan kekurangan. Namun, bagi ‘Khaira Ummah’, akan ada peningkatan pengorbanan harta kendatipun terjadi krisis ekomoni, dan Tuhan kita Yang Maha Pengasih akan menyelubungi kita dengan kasih sayang dan ampunan-Nya.

Selama kita terus berkeinginan untuk berkembang dalam ketakwaan, kita akan menjadi ‘Khaira Ummah’. Seseorang yang membuat kontribusi pengorbanan harta yang biasa dan seorang anak yang memberikan uang kecilnya akan termasuk dalam berkat dan karunia ini. Semoga Tuhan tetap menjaga semangat pengorbanan ini hidup dalam diri kita dan juga generasi keturunan kita selanjutnya, dan semoga kita terus menjadi penerima berkat-berkat Allah Ta’ala dan meraih ridha-Nya.