Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Hadhrat Khalifatul Masih V Ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 27 Sulh 1391 HS/Januari 2012

Di Mesjid Baitul Futuh, London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Hadits-Hadits mengenai Mengenang Orang yang Sudah Wafat dan Hikmah-Hikmahnya

Dalam sebuah riwayat Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “اذْكُرُوا مَحَاسِنَ مَوْتَاكُمْ” – Udzkuru mahaasina mautakum – “Kenanglah kebaikan-kebaikan orang yang telah meninggal diantara kamu.” Selanjutnya bersabda, “وَكُفُّوا عَنْ مَسَاوِيهِمْ”  – ’wa kuffuu ‘an masaawiihim’ – “Dan janganlah menceritakan keburukan-keburukannya.”[2]

Di dalam diri setiap manusia terdapat kebaikan-kebaikan dan juga keburukan-keburukan. Namun setelah meninggal dunia, disebabkan manusia telah putus hubungan dengan dunia, maka tidak perlu kita menceritakan kelemahan-kelemahan atau keburukan-keburukannya. Ya, kita harus menceritakan kebaikan-kebaikan dan kelebihan-kelebihannya. Dengan cara demikian pertama akan membangkitkan inisiatif atau keinginan kepada yang lain untuk berbuat kebaikan; kedua, akan menciptakan satu sarana pengampunan baginya apabila kebaikan-kebaikannya itu diceritakan. Sebagaimana telah saya katakan bahwa di dalam diri setiap manusia terdapat kebaikan-kebaikan dan juga kelemahan-kelemahan. Itulah fitrat manusia, kadangkala pikiran manusia cenderung kepada kebaikan-kebaikan, kadangkala kepada keburukan-keburukan. Akan tetapi banyak diantara manusia yang kebaikan-kebaikan dan kelebihan-kelebihannya sangat bercahaya cemerlang sehingga menutupi semua kelemahan-kelemahan manusiawinya. Kebaikan-kebaikannya demikian luas dan berkembang sehingga keburukan-keburukannya tersembunyi di balik kebaikan-kebaikannya itu. Alangkah baiknya nasib orang yang kebaikan-kebaikan dan kelebihan-kelebihannya menjadi pembicaraan setiap orang yang mengenalnya. Maka sesuai dengan salah satu hadits, orang demikian wajib masuk sorga. [3]

Kewafatan Saudara kita bangsa Rusia, Ravil Bukharaev    

Hari ini saya akan menceritakan tentang seseorang seperti demikian yang telah menjadi kenangan setiap orang yang mengenalnya. Bukan Ahmadi Pakistani atau Hindustani. Bukan putra seorang sahabat atau seorang Ahmadi kelahiran. Bukan pula seorang yang mendapat tarbiyat sejak anak-anak, muda sampai tua melalui para Khalifah atau melalui bimbingan Jemaat. Beberapa tahun yang lalu beliau baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan telah meninggalkan banyak orang di belakangnya. Beliau adalah saudara kita, Tuan Ravil Bukharaev seorang bangsa Rusia. Wafat pada tanggal 24 Januari 2012 yang lalu. إنا لله وإنا إليه راجعون ’inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Sekalipun beliau merupakan salah satu benih dari segenggam benih mutiara permulaan Ahmadi Rusia, namun disebabkan beliau seorang cendekiawan dan memiliki ilmu pengetahuan rohani yang luas, ikhlas dan setia, tidak mementingkan diri sendiri, memiliki hubungan erat dengan Khilafat, selalu merendahkan diri serta memiliki semangat tinggi untuk menyampaikan amanat Hadhrat Masih Mau’ud as maka beliau telah menjadi bintang Rusia yang menjadi penunjuk jalan bagi banyak sekali manusia. Dan insya Allah apabila Jemaat Ahmadiyah berkembang di Rusia seperti banyaknya pasir di tepi laut menyempurnakan ilham Hadhrat Masih Mau’ud as maka sejarah Insya Allah akan selalu mengenang pengkhidmatan Tuan Ravil Bukharaev.

Pada waktu ini saya akan menceritakan beberapa hal tambahan tentang yang terhormat Tuan Ravil Bukharaev. Pengkhidmatan Tuan Ravil Bukharaev dimulai sejak beliau baru mengenal Jemaat Ahmadiyah dan belum menjadi Ahmadi. Pada waktu itu beliau bekerja sebagai penerjemah di samping beliau bekerja di BBC seksi program bahasa Rusia. Setelah bebas dari pekerjaan di sana beliau mewaqafkan diri. Beliau begitu semangat sehingga siang dan malam tidak mau meninggalkan satu kesempatan melakukan pengkhidmatan terhadap Jemaat. Pada hari beliau wafat pun beliau dalam keadaan semangat seperti itu. Di waktu itu beliau sedang bersiap-siap untuk mengikuti sebuah rapat untuk menyusun program yang diselenggarakan oleh MTA. Di waktu sedang melakukan persiapan itulah telah diterima panggilan telepon dari beliau mengatakan bahwa kesehatan beliau sedang tidak baik, oleh karena itu beliau tidak dapat datang untuk menghadiri rapat. Beliau mendapat serangan jantung sangat keras sehingga beliau-pun meninggal dunia. Dan pada waktu beliau wafat umur beliau 61 tahun, meninggalkan seorang janda tidak mempunyai anak keturunan.

Awal Mula Mengenal Jemaat

Tuan Ravil Bukharaev mengenal Jemaat pada permulaan tahun 1990 melalui tuan Kalim Khawir. Beliau tiba di London sehubungan dengan penelitian bangsa Tartar. Di sinilah beliau mulai mengadakan hubungan dengan Jemaat. Kemudian disebabkan perjumpaan-perjumpaan dengan Hadhrat Khalifatul Masih lV rahimahullahu ta’ala sehingga beliau baiat masuk Ahmadiyah. Tuan Ravil Bukharaev telah menceritakan kisahnya sendiri. Dalam tulisannya beliau mengatakan, ”Sekalipun saya seorang Muslim kelahiran, akan tetapi disebabkan pengaruh lingkungan masyarakat tidak bertuhan (atheis) sampai tahun 1989, saya sama sekali tidak memiliki ilmu tentang Islam. Selama saya dibesarkan dalam lingkungan masyarakat, ajaran Islam dan penggunaan bahasa ibu yaitu Tartari telah dilarang secara total oleh negara. Penggunaan bahasa Tartar telah dilarang dan dihapuskan dari daftar mata pelajaran di sekolah-sekolah. Namun demikian budaya Islam tetap dominan di kalangan orang-orang Tartari baik anggota partai, pekerja atau guru-guru sekolah, setiap mau melakukan pekerjaan pasti mereka mulai dengan membaca Bismillaahir Rahmaanir Rahiim. Budaya Tartari berlaku sejak seribu tahun lalu. selalu dipengaruhi oleh Islam. oleh sebab itu, pengaruh dahriyyat (atheisme) yang mulai merebak di zaman orang tua saya telah agak berkurang di masa kehidupan saya. Saya tidak dapat mengatakan bahwa saya seorang Muslim yang tersembunyi yang selalu berpikir bagaimana saya dapat pergi ke mesjid dan menunaikan shalat di sana. Sungguh saya bukan macam orang demikian. Saya seorang pelajar. Seorang anak muda sesuai dengan lingkungan pada waktu itu apa pun yang timbul dalam benak saya, saya kerjakan.”

Kemudian katanya, “Pada tahun 1989 keadaan negara semakin baik, bersamaan dengan kebebasan lainnya kebebasan beragama pun mulai berlaku. Namun untuk sampai kepada ajaran agama yang sejati saya paham bahwa pengetahuan agama tidak dapat dihasilkan hanya dengan menggunakan dalil akal. Nikmat iman Allah Ta’ala sendiri yang menganugerahkannya. Saya sempat terlibat dalam kebingungan. Secara akal saya telah memahami bahwa hanya dan hanya Islam yang memberi ajaran yang terbaik. Namun demikian rohani saya betul-betul kosong. Dan hanya satu hal yang telah menyelamatkan saya dari kebimbangan dan keraguan itu yaitu beberapa orang yang telah menjumpai saya di London yang saya anggap mereka inilah orang-orang Muslim yang benar dan sejati. Dan mereka inilah sebuah Jemaat yang telah dianggap tidak bertuhan dan murtad oleh dunia Islam, yaitu Ahmadiyah Muslim Jemaat.”

Kemudian beliau menulis, “Jemaat Ahmadiyah mengajarkan, seseorang tidak dapat meraih kecintaan Allah Ta’ala selama ia tidak mencintai makhluk-makhluk-Nya. Setelah mengetahui hal ini saya yakin bahwa inilah manzil (rumah tempat tinggal, akhir tujuan) saya. Di sini saya menemukan semuanya terkumpul yaitu pendidikan saya, pengetahuan dan akal dan saya haus akan dalil-dalil berdasarkan akal. Saya mencari agama yang sejati dan pengalaman-pengalaman rohani semuanya dapat dihasilkan dari satu tempat.”

Dalam kesempatan pidato Jalsah Salanah tahun 1993 Hadhrat Khalifatul Masih lV rha bersabda, ”Di periode yang baru ini dengan karunia Allah Ta’ala, hubungan sedang diperbarui di Hungaria.” Sebelumnya, di zaman Khilafat Tsaniyah telah didirikan Misi (dakwah Jemaat Ahmadiyah), kemudian ditutup kembali disebabkan beberapa hal. “Sekarang di periode baru ini hubungan telah diperbaharui lagi dan hasil pertama dari periode ini adalah Makhlush Zulai yang datang sendiri ke UK. Ahmadi Rusia kita, Tuan Ravil sangat masyhur karena ilmu pengetahuannya dan disebabkan hal itu tuan Makhlush Zulai memiliki hubungan baik dengan beliau. Makhlush Zulai membawanya ke mesjid dan setelah beberapa kali mulaqat saya melihat pendirian Tuan Ravil, yakni keadaan hatinya telah berubah. Dan dengan karunia Allah Ta’ala setelah baiat masuk Jemaat beliau kembali ke Hungaria dan mulai memperkuat dasar-dasar kegiatan tabligh di sana. Berkat kunjungan terakhir Tuan Ravil Jemaat di sana sudah semakin kuat dan dari kesan-kesan yang nampak di sana kita mempunyai harapan bahwa Jemaat di sana akan segera mendapat kemudahan-kemudahan… Tartaristan adalah negara asal Tuan Ravil. Dari sana 2-3 tahun sebelumnya saudara Murad Dihanove datang menghadiri Jalsa UK  dan beliau tetap teguh dalam pendirian dan sangat setia kepada Jemaat. Ketika kembali ke sana beliau mengadakan hubungan dengan Jemaat dan selalu menyatakan diri sebagai orang Ahmadi dan anak perempuan beliau juga mengadakan hubungan sangat ikhlas dengan Jemaat dan selalu memberi bimbingan dan dukungan iman yang teguh kepada yang lain juga.”

Selanjutnya beliau berkata, ”Tidaklah begitu mudah bagi Bangsa Tartar ini untuk menerima Ahmadiyah [karena bangsa Tartar] telah terpengaruh racun dahriyah (atheisme) selama 70 tahun [sejak jatuhnya Czar (Raja) Rusia dan berdirinya USSR, Republik Sosialis Uni Soviet yang komunis, Redaksi]. Sebagai natijahnya, sekalipun hubungan mereka dengan Islam tidak terputus dan pengaruh pikiran Islamiyat tetap tertanam dalam benak mereka, namun secara amal nyata mereka tidak tahu sedikitpun tentang Islam dengan rinci. Dan dalam kedudukan sebagai bangsa Muslim mereka berada dibawah pengaruh Islam akan tetapi dari segi agama tetap berada di luar Islam. Mengajak mereka masuk Islam kembali dan menanamkan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kebenaran-Nya dalam kalbu mereka sangat memerlukan kerja keras, memerlukan banyak doa bagi mereka serta menunggu mukjizat dari Allah Ta’ala. Oleh sebab itu harus banyak memanjatkan doa. Kami sedang bekerja keras, banyak berdoa dan semua Jemaat harus berdoa agar Allah Ta’ala memperlihatkan tanda-tanda mukjizat, sebab bagi revolusi rohani hakiki sangat diperlukan banyak memanjatkan doa agar dapat menarik munculnya mukjizat dari Allah Ta’ala.”

Seorang yang Giat Bertabligh dan Berkhidmat

Sebagaimana telah saya katakan bahwa beliau bukanlah seorang Ahmadi kelahiran, akan tetapi dengan melihat beliau, seakan-akan sejak lama beliau telah menjadi Ahmadi. Dalam makna sebenarnya, beliau adalah duta Ahmadiyah. Kemana saja beliau pergi di sana beliau pasti menyebut Ahmadiyah. Dimana beliau merasa ada reaksi yang mungkin terhadap Ahmadiyah maka dengan bantuan pejabat pemerintah setempat dan dengan sangat beliau menyampaikan amanat Islam dan menguraikan ajaran-ajaran Jemaat Ahmadiyah kepada mereka. Apabila orang-orang bertanya, “Akidah apa ini?” Maka beliau memberitahukan nama Jemaat kemudian beliau memperkenalkan secara menyeluruh. Beliau selalu selalu berpikir untuk memilih dengan bijak buku-buku apa yang patut dan sesuai diberikan kepada suatu pertemuan. Anggota perkumpulan yang beliau ikuti  tediri dari para politikus, sastrawan, penyair, doktor, para dosen dan mahasiswa universitas atau college, ekonom, dan pelaku berbagai bidang kehidupan, baik laki-laki maupun perempuan. Tuan Ravil sendiri seorang penyair yang sangat baik. Sastrawan mumpuni. Jurnalis (wartawan). Penerjemah dan seorang da’i ilallah. Allah Ta’ala telah menganugerahkan banyak sekali keistimewaan kepada beliau di berbagai bidang. Beliau sangat dikenal dan disukai oleh masyarakat luas. Melalui Tuan Ravil-lah amanat Jemaat Ahmadiyah yakni Islam Hakiki sampai ke Rusia dan ke beberapa kawasan bekas Rusia yang para Muballighin atau Mu’allimin kita tidak dapat melaksanakannya sampai ke tempat-tempat yang jauh seperti itu. Jika pun dapat melaksanakannya akan memerlukan waktu yang cukup lama. Ketika pergi ke Moskwa, Tuan Ravil selalu mengikuti banyak pertemuan keilmuan, sastra dan syair. Dalam kesempatan seperti itu dengan cara bagaimanapun beliau selalu menyebut Ahmadiyah; para kawan beliau orang-orang Ahmadi biasa disampaikan sebelumnya, “Tuan-tuan, di tempat itu jam sekian buku-buku jemaat sebagai perkenalan berjumlah sekian mohon dipersiapkan dan disampaikan.” Kemudian setelah pertemuan itu selesai beliau pasti memperkenalkan Jemaat. Mereka juga dengan senang hati membeli atau menerima buku-buku itu.

Sejak dibentuk Russian Desk di London, Tuan Ravil bekerja dengan giat dan penuh semangat serta ikhlas. Di waktu bekerja tidak memikirkan rasa lapar atau memerlukan sesuatu. Semua perhatian ditujukan kepada penyempurnaan pekerjaan Jemaat. Tidak pernah meninggalkan suatu pekerjaan sebelum menyelesaikannya dengan sempurna. Apabila para muballigh yang bekerja bersamanya berkata kepadanya agar istirahat sebentar, Tuan Ravil berkata dengan tertawa, ”Kalian cepat sekali merasa lelah?” Karena beliau yang melakukan dubbing khotbah Jum’at ke dalam Bahasa Rusia untuk MTA maka beliau selalu memikirkannya. Dua tahun sebelumnya, pekerjaan ini dimulai yang harus disiarkan lewat MTA atau diposting di internet (alislam.org). Karenanya setiap hari Sabtu beliau menanyakan kepada kerabat kerja beliau, Apakah terjemahannya sudah selesai?” “Sampai kapan bisa dilaksanakan?” lalu beliau bertanya, “Apakah minggu pagi atau sebelum Zhuhur bisa dilakukan dubbing?” Beberapa kali malah bertanya pada Jum’at sore, “Sampai kapan terjemahan khotbah Jum’at akan sudah selesai?” Beliau akan selalu merasa gelisah selama dubbing khotbah belum beliau laksanakan sampai selesai. Pada hari-hari Jalsah Salanah juga kesibukan dan semangat dalam pengkhidmatan beliau menjadi teladan bagi yang lain. Kekuatan amal, semangat dan pemikiran beliau untuk berkhidmat agama selama tiga hari terlihat secara khas. Selain khotbah dan pidato Khalifah-e-Waqt, beliau juga menerjemahkan sambutan atau pidato lainnya ke dalam bahasa Rusia bagi para pemirsa MTA atau peserta Jalsah. Para tamu yang datang dari Rusia dan dari beberapa kawasan eks Rusia disambut dengan hangat dan sangat ramah, kemudian kepada mereka dijelaskan tentang kemajuan-kemajuan Jemaat. Penjelasan-penjelasan beliau sangat menggugah iman bagi tetamu yang datang. Beliau sangat memperhatikan keperluan-keperluan para tamu. Beliau menjelaskan berkat-berkat Jalsah Salanah dan beliau menjelaskan kepada mereka bahwa bertahun-tahun melakukan tabligh tidak dapat membawa banyak berkat seperti banyaknya berkat karena menghadiri Jalsah Salanah dan mulaqat dengan Khalifa-e-Waqt. Dan untuk itu beliau telah berusaha keras agar dapat membawa tamu sebanyak-banyaknya. Tuan Ravil telah menerjemahkan banyak buku Jemaat ke dalam bahasa Rusia dan telah terbukti banyak sekali faedahnya bagi pertablighan Jemaat di Rusia dan di beberapa kawasan sekitarnya. Selain menerjemahkan buku-buku itu, beliau juga telah melakukan pengkhidmatan yang sangat besar dengan menerjemahkan Alqur’an ke dalam Bahasa Rusia dan inilah pekerjaan paling penting beliau.

Karya Khidmat Terpenting, Terjemahan Alqur’an dalam bahasa Rusia

Tuan Khalid, murabbi untuk Russian Desk kita menulis, “Saya dan tuan Rustam Hamad Wali (Moskwa) pada 1999 dengan berpatokan pada Alqur’an terjemahan Urdu karya Hadhrat Khalifatul Masih lV rha, telah memulai penerjemahan Alqur’an ke dalam Bahasa Rusia dan rampung pada tahun 2004. Kami berdua lalu bersama Tuan Ravil telah memeriksa terjemahan itu dan selesai di London. Siang malam dengan sangat tekun dan semangat sekali sehingga dapat diselesaikan dalam waktu tiga bulan. Pekerjaan terjemahan Alqur’an adalah sebuah tanggung jawab yang sangat besar sekali memerlukan kecermatan, ketelitian dan kehati-hatian yang tinggi. Oleh karena itu setiap perkataan diperiksa dengan teliti dan dicari untuk mendapatkan kata-kata lain yang lebih sesuai dalam Bahasa Rusia. Kadangkala untuk memeriksa satu ayat memerlukan waktu beberapa jam. Tuan Ravil sangat tekun dan bekerja keras untuk mencari kata-kata yang betul-betul memadai dalam Bahasa Rusia. Dan berkat kerja keras beliau itu sampai sekarang Alqur’an terjemah Bahasa Rusia telah dicetak untuk 3 edisi. Di London pada tahun 2006, di Moskwa pada tahun 2007 dan di Kazakstan pada tahun 2008. Dengan karunia Allah Ta’ala, ini merupakan Sedekah Jariyah yang akan selalu mengingatkan kita kepada Ravil Bukharaev.”

Sebagaimana telah saya katakan bahwa Tuan Ravil adalah seorang cendekiawan ulung, jurnalis (wartawan) dan seorang penyair. Beliau telah menerima banyak sekali penghargaan. Penghargaan paling besar beliau dapatkan dalam Tataristan, penghargaan Musa Jalil’s Prize of Honor. Beliau mendapatkannya pada 1986 sebelum masuk Ahmadiyah. Pada tahun 2001 beliau menerima penghargaan atas pengkhidmatannya di bidang arts (seni). Pada tahun 2006 beliau menerima penghargaan tertinggi dalam bidang Tartaristan ‘National Prize of Honor’. Pada tahun 2009 beliau menerima penghargaan berkenaan dengan buku yang beliau tulis dalam kesempatan Pekan Buku Rusia. Penghargaan selanjutnya kepada beliau pada 13 Oktober ‘The Ordo of Cultural Heritage’. Beliau menjadi anggota sebuah perkumpulan ilmu pengetahuan yang ruang lingkupnya tersebar ke berbagai negara di dunia.

Sebagaimana telah saya katakan bahwa beliau bekerja di BBC untuk program Bahasa Rusia. Salah seorang kerabat kerjanya bernama Andrew Ostalski, yang merupakan pemimpin redaksi BBC Russian Service mengatakan, “Kawan kami, Tuan Ravil Bukharaev telah bekerja dengan BBC Russian Service untuk waktu yang cukup lama, sekarang sudah tiada. Selama 15 tahun saya bekerja bahu-membahu bersama Tuan Ravil. Saya merasa sangat beruntung dapat bekerja dengan beliau, sebab sangat sulit untuk mendapat kesempatan bekerja dengan seorang yang berakhlak tinggi.” Kemudian menulis, “Dari segi pendidikan sebenarnya Tuan Ravil adalah seorang pakar dalam matematik, namun beliau seorang penyair yang berkualitas tinggi, memiliki iman yang sangat kuat dan seorang Muslim yang mukhlis sekali. Bahkan, jika beliau dikatakan seorang cendekiawan agama pun, tidak akan salah. Banyak orang yang mendapat kesempatan bertemu dengan beliau sangat terkesan sekali dan telah memberi penilaian bahwa beliau sangat baik dan ramah tamah, beliau seorang yang pandai sekali dalam pembicaraan disebabkan ilmu pengetahuan beliau yang sangat luas sekali.”

Orang-orang yang telah bertemu dengan beliau sungguh terkesan dengan gaya berbicara dan perilaku sangat menarik. Tuan Ravil telah menulis sebuah buku dalam Bahasa Rusia yang judulnya jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris ‘Road to God Knows Where’ “Menuju ke mana jalan ini, Tuhanlah yang tahu”. Dalam buku itu ditulis bagaimana beliau mengenal Ahmadiyah, ringkasannya begini, ”Pada suatu sore hari saya duduk di hadapan TV dan menyimak program yang sedang ditayangkan. Tiba-tiba telepon diatas meja berbunyi dan penghuni rumah (tempat tuan Ravil menginap) mengangkatnya dan mulai berbicara di telepon, saya tidak merasa perlu mengangkat telepon karena di sini (London) tidak ada yang saya kenal. Saya pikir panggilan telepon ini mungkin dari seorang Inggris yang menelepon orang Inggris lainnya. Di dalam pembicaraan telephon itu perempuan pemilik rumah ini mengatakan kepada orang yang menelpon itu bahwa di rumah saya ada seorang tamu dari Rusia. Saya pun menjadi heran karena menurut tata cara Inggris, tidak perlu memberitahukan orang lain mengenai seseorang (yang tidak dikenal, berhubungan). Sesungguhnya, saya memandangnya sebagai mukjizat. Lalu saya dipanggil untuk berbicara di telepon itu. Telepon diserahkan kepada saya. Orang yang menelepon itu dengan penuh ingin tahu bertanya kepada saya, ‘Anda datang dari mana?’ Kemudian beliau mengundang saya datang ke mesjid Jemaat pada hari selanjutnya. Di dalam percakapan itu si penelepon itu tidak menggunakan perkataan Ahmadiyah. ‘Pendeknya hati saya pun memang ingin pergi keluar, oleh sebab itu saya memperlihatkan kesenangannya dan meletakkan telepon setelah itu. Di waktu pagi kendaraan sudah datang siap untuk menjemput saya dan mengantar saya ke mesjid yang terletak di kawasan Putney. Pertama kali yang saya lihat di sana adalah sebuah slogan Jemaat Ahmadiyah ‘Love for all hatred for none’.” Katanya, “Sejak dahulu memang saya tertarik kepada Islam. Oleh sebab itu semua pekerjaan lain saya tinggalkan dan saya mulai dengan pekerjaan penerjemahan buku-buku Jemaat ke dalam Bahasa Rusia seperti dimintakan kepada saya untuk mengerjakannya. Saya berjumpa dengan Khalifah Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad rha dan setelah berbincang-bincang dengan beliau selama dua jam saya merasa bahwa pandangan kami berdua tentang dunia kurang lebih hampir sama. Dari perbincangan itu saya mendapatkan banyak sekali perkara-perkara baru. Setelah itu saya mulai melaksanakan pekerjaan saya dengan penerjemahan sekalipun diantaranya ada hal-hal yang tidak dapat saya pahami, namun pekerjaan penerjemahan tetap saya mulai laksanakan. Saya memang telah berpikir untuk menerjemahkan buku-buku juga, karena apa yang dibahas dalam buku-buku [Jemaat] itu sangat jelas dan indah sekali dalam tempo yang singkat hati saya telah merasa tenteram. Saya masuk Jemaat Ahmadiyah bukanlah suatu kejadian tiba-tiba melainkan taqdir Allah Ta’ala yang telah membawa saya kepada Jemaat ini. Kemudian setelah mulaqat-mulaqat, saya mendapat tugas penerjemahan. Saya diberi tempat tinggal di Islamabad, Tilford. Sebuah tempat terbuka, saya merasa senang sekali berada di tempat itu dan saya diberi sebuah kamar untuk bekerja di sana dan hati saya selalu gembira berada di tempat itu. Empat minggu pertama di Islamabad saya bekerja sungguh-sungguh dengan sepenuh hati dan jiwa-raga saya sehingga sangat sedikit sekali mendapat waktu untuk tidur. Dan saya berhasil menerjemahkan empat buah buku dan selama menerjemahkan buku-buku itu saya telah mendapatkan dalil-dalil penda’waan Jemaat Ahmadiyah sangat tangguh dan kuat sekali. Dan penda’waan yang sangat menarik hati saya ialah dalam waktu dekat Islam akan tersebar ke seluruh pelosok dunia.”

Selanjutnya beliau menulis, “Jemaat Ahmadiyah menda’wakan diri telah diberi tanggung jawab oleh Allah Ta’ala untuk membangkitkan sebuah revolusi rohani diatas muka bumi, tidak ada Jemaat lain yang mendapat kewajiban seperti ini. Dan inilah Jemaat yang akan membuat dunia mengakui Tuhan Yang Maha Esa, insya Allah. Jemaat ini menda’wakan bahwa pendirinya adalah Al Masih yang adalah Almasih yang dijanjikan untuk seluruh dunia. Jemaat ini sedang menghadapi berbagai macam tantangan dari seluruh dunia. Sebaliknya Jemaat ini memberi tantangan terhadap kekuatan dunia yang beraneka macam dan pemerintahan yang paling kuat di seluruh dunia. Jemaat kecil yang telah memberi tantangan kepada dunia ini bukan berdasar kepada tafsir Islam yang terdapat pada zaman awal saja bahkan semua agama termasuk Kristen ditantang secara terbuka dalam medan kerohanian.”

Di dalam bukunya itu beliau menerangkan sebuah mimpi, “Saya melihat mimpi bahwa saya sedang menunaikan shalat di lantai dua sebuah mesjid di Kazan. Saya melihat banyak sekali orang-orang sedang melaksanakan shalat sunnah. Di hadapan mereka orang-orang sedang mengatur saf-saf untuk shalat berjamaah. Di waktu itu saya melihat semua sedang menghadap kearah qiblat yang sama sebagaimana semua harus menghadapkan muka ke sana. Saya melihat ke arah sebuah jendela dari mana cahaya matahari memancar menyinari kepala saya. Saya bertanya kepada diri sendiri mengapa saya tidak menghadap ke arah yang sama dengan semua orang yang sedang menghadap ke arah sana. Saya dalam mimpi itu juga berkata, ‘Ya, saya ini sedang dalam perjalanan sebagai musafir, sesuai dengan ajaran Islam bahwa seorang musafir apabila melakukan shalat di perjalanan ia boleh menghadap ke arah mana ia sedang menghadap di dalam perjalanan itu. Yakni saya memandang ke arah mana cahaya matahari sedang memancar ke arah saya. Lalu di dalam mimpi itu takbir atau iqamat telah diucapkan dan saya berdiri dalam saf bersama orang-orang lain yang sudah siap untuk menunaikan shalat berjamaah. Kemudian pemandangan dalam mimpi itu telah berubah. Ketika itu apa yang terjadi, saya melihat diri saya dalam keadaan telanjang hanya kepala yang tertutup. Namun sekalipun banyak orang di sana saya tidak merasa malu dalam keadaan telanjang itu. Selain itu keadaan lingkungan mesjid itu memang sangat luar biasa. Dan di sebelah atas dalam gallery nampak perempuan-perempuan Tartari berdiri memakai cadar-cadar berwarna putih. Saya tidak merasa malu dalam keadaan telanjang berdiri di hadapan mereka itu layaknya seperti seorang anak baru lahir. Pada waktu itu timbul pula dalam pikiran saya bagaimana dalam keadan telanjang begini saya berdiri di hadapan Allah Ta’ala?” Katanya, “Saya menceritakan mimpi yang aneh ini kepada Hadhrat Khalifatul Masih lV rha dan saya terima jawaban dari beliau, bersabda, ”Tidak diharapkan bagi seorang manusia, apabila mengharapkan untuk kehidupan kedua kalinya secara rohani dan perjalanannya mulai melangkah menuju Tuhan Yang Tunggal, ia tidak melepaskan semua pakaian sebelumnya dan menghadap kepada Tuhan tidak dengan penuh taqwa dan dalam keadaan telanjang dari semua keburukan.” Beliau menulis, “Berkat dari mimpi ini semua keraguan saya hilang sirna dan terbukalah bagi saya suatu hakikat bahwa hanya kelahiran kedua kali secara rohani tidak begitu penting melainkan manusia harus menyucikan dirinya dari semua dosa yang telah diperbuat di masa lalu (telanjang dari pakaian masa lalu) yang hanya Tuhan sendiri yang dapat menyucikan manusia agar ia dapat memulai kehidupan baru yang sangat penting.” Beliau menulis, “Semenjak saya telah memutuskan untuk melangkah diatas jalan ini dan saya berjalan bersama Jemaat Ahmadiyah dan saya mengundang orang-orang lain juga ke jalan ini (yaitu bertabligh kepada orang-orang Rusia). Sehingga banyak sekali keinginan saya yang tersembunyi telah sempurna dan kehidupan saya penuh dengan peristiwa-peristiwa yang luar biasa.” Lalu beliau menulis beberapa peristiwa dalam bukunya itu.

Buku-Buku Terjemahan Tuan Ravil Bukharaev

Tuan Ravil telah menerjemahkan sendiri beberapa buah buku Jemaat ke dalam Bahasa Rusia dan beliau juga mengerjakan koreksi dan pemeriksaan terjemahan buku-buku lainnya. Buku-buku yang telah diterjemahkan oleh Tuan Ravil adalah Da’watul Amir, Mazhab ke naam par khun (Penumpahan Darah Atas Nama Agama), Stories from early Islam (Kisah-Kisah zaman awal Islam) dan Muslim Festivals (Perayaan-Perayaan orang Muslim), Holy Muslims (Para Wali Muslim), Islam our asri hazir ke masail(Islam dan isu-isu kontemporer), The Holy Prophet’s Kindness to Children (Kebaikan Nabi kepada anak-anak) termasuk buku-buku kecil untuk anak-anak dan juga pamflet. Selain itu beliau melakukan pemeriksaan terjemahan buku ‘Islami Usul Ki Filasafi’ (Filsafat Ajaran Islam), ‘Masih Hindustan Me’ (Almasih di Hindustan), ’Hamari Ta’lim’ (Ajaranku), ‘Debacah Tafsirul Qur’an’ (Pengantar Mempelajari Alqur’an), ‘Islam ka iqtishadi Nizam’ (Sistem Ekonomi Islam), ‘Islam mei Aurat ka Maqam’ (Kedudukan Wanita dalam Islam) dan termasuk ‘Life of Muhammad saw’ (Kehidupan Muhammad saw).

Demikian juga pidato-pidato saya di ‘Peace Conferense’ (Konferensi tentang Perdamaian) dan di tempat lainnya beliau terjemahkan ke dalam Bahasa Rusia; beliau melakukan penerjemahan khususnya yang dalam pemahaman beliau tema buku itu sangat zharurat (harus dan perlu dengan sangat untuk) diketahui oleh bangsa Rusia. Akan tetapi karya beliau yang sangat penting adalah terjemahan Kitab Suci Alqur’anul Karim dalam Bahasa Rusia seperti telah saya sebutkan tadi.

In Memoriam oleh BBC Russian Service, Televisi Nasional Tartaristan dan Website Ukraina

BBC dan juga sejumlah Websites telah menyiarkan berita kewafatan Tuan Ravil dan menguraikan beberapa kenangan yang sangat baik tentang beliau. [4] Sebuah tema disiarkan oleh redaksi BBC.Russian yang bernama Andreas Tolsky. Dia mengatakan, “Tuan Ravil selalu tepat waktu dan tidak pernah terlambat. Beliau menjadi teladan bagi kami. Beliau seorang Muslim sejati bahkan beliau adalah seorang cendekiawan agama seperti telah saya sampaikan.” Dalam siaran sore kemarin, BBC telah menyiarkan selama 30 menit hanya tentang beliau dan memperdengarkan rekaman percakapan beliau. Di dalamnya, beliau menyebut Dr Abdus Salam sebagai Ahmadi Muslim yang telah mendapat hadiah Nobel karena terinspirasi oleh Alqur’an. Redaksi BBC menyiarkan, “Tuan Ravil sebagai seorang penulis ulung bagi seluruh Rusia bukan hanya bagi Tartaristan.” Televisi Nasional Tartaristan memberitakan kewafatan beliau dan menyebut, “Beliau sangat mencintai tanah air beliau. Beliau sangat mencintai bangsa Kazan dan Tartari.” Redaksi TV tersebut, internet dan website juga menyebut hal ini. Di internet disebutkan mengenai beliau yang adalah seorang Ahmadi Muslim dan website Ukraina [5] memposting wawancara dengan beliau yang menyatakan kedudukan beliau secara terbuka sebagai seorang Ahmadiyah. Dalam menjawab sebuah pertanyaan beliau menjawab, “Perjalanan saya dimulai dari Australia ketika saya diundang dari sana ke London oleh Jemaat Ahmadiyah sedunia. Jemaat ini telah didirikan untuk tajdid (perbaikan dan pembaharuan pemahaman yang salah tentang) Islam. Mottonya ‘Love for all hatred for none’ betul-betul sesuai dengan suara hati nurani saya dan di dalamnya tidak terdapat perbuatan yang bisa dikatakan menentang Islam. Dapat dikatakan, sesungguhnya Islam hakiki itu hanya Ahmadiyah. Dan Islam bukan hanya untuk para maulwi atau ulama saja melainkan untuk semua manusia yang selalu mencari untuk memilikinya, mencintainya dan mengimaninya. Ketika saya telah mendapatkan jalan, mempelajari dasar Islam, tinggal di sini, mendapat kesempatan mempelajari bahasa Inggris untuk pekerjaan penerjemahan; setelahnya saya terputus dari kehidupan dunia umumnya, dengan karunia Allah Ta’ala saya mulai menerima banyak panggilan untuk pekerjaan. Sebelumnya, saya tidak mendapatkan pekerjaan. Setelah menerima Ahmadiyah dan menerjemahkan buku-buku, sedemikian rupa saya mendapat banyak keberkatan berupa undangan dari berbagai tempat. Saya berulang kali diundang menghadiri konferensi Islam di Rusia.”

Ada sebuah pertanyaan, “Apakah tuan mempunyai guru?” beliau menjawab, “Setelah kedua ibu-bapak saya, guru saya adalah Khalifah Ahmadiyah. Saya terlambat menemukan guru semacam itu. Alangkah beruntungnya saya, jika dua puluh tahun sebelumnya saya mendapatkan ustadz (guru) ini, maka pasti saya akan dapat melakukan banyak sekali pekerjaan.”

Sekalipun Tuan Ravil seorang manusia yang banyak memiliki kelebihan dan keistimewaan akan tetapi kelebihan yang telah membedakan dari yang lain adalah beliau seorang manusia yang lemah-lembut dan selalu rendah hati; yang sangat menyintai Khilafat dan menaatinya. Beliau mempunyai hubungan rohani yang sangat kuat dengan Khalifah-e-Waqt (Khalifah Ahmadiyah yang sedang berjalan, masih hidup) yang di hadapannya, dalam pandangannya tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi dengannya (menghalangi hubungan dengan Khalifah).

Keistimewaan Tuan Ravil Di Mata Para Sahabatnya

Saya akan menyebutkan satu peristiwa. Pada bulan akhir Desember tahun yang lalu saya bersama beliau mengadakan rapat. Khalid Shahib menulis, “Saya bersama Tuan Ravil pergi mulaqat dengan Tuan (Hudhur) di kantor Hudhur, pada waktu itu Tuan Ravil mengajukan sebuah usul katanya, ‘Jika diizinkan, sebuah buku harus ditulis dalam Bahasa Rusia untuk memperkenalkan Jemaat Ahmadiyah secara menyeluruh disertai tarikh tentang Jemaat Ahmadiyah. Dan di alam buku itu hendaknya dijelaskan jawaban berbagai macam tuduhan atau keberatan dari kalangan kaum Muslimin yang timbul dari satu waktu ke waktu selanjutnya. Sebab, masyarakat luas telah diracuni dengan keterangan-keterangan yang salah tentang Jemaat Ahmadiyah oleh para mullah. Karena itu di Rusia banyak sekali tuduhan-tuduhan dan keberatan-keberatan selalu muncul di website.’” Maka saya (Hudhur) berkata kepada beliau, “Baiklah, tulislah buku yang dimaksud itu. Akan tetapi siapkanlah juga jawaban terhadap sejumlah kritikan-kritikan itu kemudian buatlah berbentuk sebuah karangan lalu cetak berupa buku kecil dan kirimkanlah kepada berbagai websites.” Selesai mendengar hal ini, Tuan Ravil berkata, “Baik, Hudhur!” Tuan Khalid menulis, “Setelah rapat kami keluar dan sambil berjalan Tuan Ravil berkata, ‘Sejak beberapa hari yang lalu saya selalu berpikir, dari mana dimulainya pekerjaan ini. Hari ini Hudhur telah membuka jalan yang mudah bagi saya dan sekarang semua gambarannya telah siap dalam benak saya, bagaimana caranya menyusun jawaban terhadap kritikan-kritikan itu kemudian dibukukan lalu dicetak. Dan karena berkat Khilafatlah semua pekerjaan  telah menjadi kenyataan. Hari ini juga pekerjaan ini akan saya mulai laksanakan. Selain itu ada usulan untuk membuat Website dalam Bahasa Rusia juga.” Saya katakan usul membuat website itu supaya segera diadakan penjajagan kemudian laporkan hasilnya kepada saya (Hudhur). Siapa yang akan membuatnya, bagaimana cara membuatnya dan siapa yang akan meng-upload-nya, siapa yang akan melakukan up-date-nya dan bagaimana caranya dan sebagainya. Untuk pekerjaan itu Tuan Ravil telah mengadakan kontak dengan Nasim Rahmatullah Shahib, juga dengan Malik Samar Imtiaz Shahib dari Jerman yang dengan perantaraannya pekerjaan ini telah dimulai. Akan tetapi ketika pekerjaan ini sudah mulai dijalankan tiba-tiba panggilan dari Allah Ta’ala pun tiba. Bagaimanapun, ketika beliau telah mendengar untuk memulai membuka website ini beliaupun dengan segera menjajagi pekerjaan ini serta membuatnya sampai selesai.

Selanjutnya Tuan Khalid dari Russian Desk menulis, “Salah satu kelebihan Tuan Ravil adalah beliau tidak membuang-buang waktu dalam melaksanakan tugas kewajiban, beliau selalu ingin menyelesaikan setiap tugas secepat mungkin. Orang yang tahu beliau dari dekat dan mendapat kesempatan bekerja dengan beliau pasti akan memberi kesaksian bahwa beliau selalu menyelesaikan setiap pekerjaan cepat sekali seolah-olah beliau mempunyai waktu hanya sedikit sekali. Hal itu saya sendiri menyaksikannya selalu berusaha menyelesaikan setiap pekerjaan  secepat-cepatnya. Dan dalam waktu relatif singkat beliau telah menyelesaikan ribuan macam pekerjaan. Di waktu sedang bekerja sering dikatakan kepada beliau untuk berhenti sebentar karena Allah. Namun beliau sambil tertawa berkata, ‘Apakah kalian sudah lelah? Saya sama sekali tidak merasa lelah.’ Apabila waktu makan sudah tiba, beliau menyantap makanan secepat mungkin agar setelah makan pekerjaan dapat dilanjutkan kembali secepatnya. Beliau senantiasa memikirkan perkembangan dan kemajuan Jemaat di Rusia dan di negara-negara sekitarnya. Apabila dari London baru sampai di Moskwa (Moskow) beliau selalu membuatkan program disertai beberapa macam saran demi memajukan Jemaat di sana. Beliau mengatakan bahwa selama perkara-perkara ini tidak diperhatikan dan tidak berusaha memikat perhatian masyarakat kepada kita maka amanat Ahmadiyah tidak akan cepat sampai kepada mereka.”

Mission House (rumah misi) kita di Moskwa dan di Kazan tidak berupa bangunan atau rumah tersendiri melainkan di sebuah flats. Oleh sebab itu banyak orang yang berkata, “Apabila menyebut sebuah pusat Jemaat maka mereka membayangkan sebuah gedung yang besar lagi luas.” Oleh sebab itu kita sekarang memerlukan bangunan besar-besar sesuai dengan perkembangan Jemaat dari pada kita menggunakan Flats. Saya (Hudhur) melihat kapan saja Tuan Ravil mengajukan anggaran yang sangat besar untuk suatu keperluan kemudian tidak mendapat persetujuan disebabkan beberapa alasan beliau menerimanya dengan dada terbuka dan senang hati sambil menunjukkan perangai yang ceria. Beliau tidak pernah putus harapan namun sebagai gantinya beliau segera mengajukan usulan alternatif. Beliau senantiasa memikirkan bagaimana amanat Ahmadiyah dapat disebarkan secepat-cepatnya ke seluruh negeri Rusia.

Salah seorang Muballigh kita tuan Hafiz Saidurrahman menulis, “Tuan Ravil masuk Ahmadiyah hanya 26 tahun yang lalu namun beliau sangat mencintai Khilafat Ahmadiyah dan telah menemukan kedudukan Khilafat sangat dalam sekali sehingga seakan-akan beliau telah menjadi Ahmadi secara turun-temurun untuk waktu yang sudah lama. Banyak sekali kelebihan pada diri beliau yang menjadi teladan bagi orang-orang Ahmadi.” Katanya, “Beliau memiliki semangat tinggi yang selalu bergelora didalam kalbu beliau untuk memajukan dan mengembangkan Jemaat di Rusia. Pada masa Khilafat Rabi’ah (kekhalifahan keempat) dan Khilafat Khamisah (kekhalifahan kelima), beliau selalu mengajukan saran-saran kepada Khalifah-e-Waqt untuk menambah penyebarluasan tabligh dan percepatannya di Rusia. Akan tetapi apabila para Khalifa-e-Waqt menganggap saran-saran beliau itu kurang tepat disebabkan sesuatu hal atau jika saran itu juga diperintahkan untuk dilaksanakan dengan cara lain maka beliau menaati sepenuhnya dan tidak pernah melambatkan atau memberi tanggapan lain. Bahkan beliau selalu mengatakan, ‘Apabila Khalifah-e-Waqt telah memberi petunjuk yang jelas maka memberi saran lain lagi kepada beliau bagi saya adalah melanggar kesopanan,  perlakuan tidak hormat dan dosa besar.’ Apabila Khalifatul Masih telah memberikan petunjuk tentang sesuatu masalah maka beliau langsung diam karena taat. Cara beliau memahami kedudukan Khilafat ini merupakan teladan yang sangat baik bagi para anggota Jemaat lainnya, baik bagi yang sudah lama menjadi Ahmadi maupun yang baru baiat.”

Seorang Ahmadi Rusia senior kita yang mukhlis bernama Tuan Oraz Syripov dalam surat pernyataan belasungkawanya telah menulis, “Tuan Ravil seorang ahli pikir yang sangat besar dan mengagumkan dan beliau telah banyak sekali menciptakan jalan pengkhidmatan-pengkhidmatan bagi Islam. Beliau menganggap berjuang keras dan mengkhidmati agama dan bangsa dengan penuh bijaksana merupakan bagian dari iman beliau. Itulah sebabnya beliau telah memilih sebuah Jemaat yang mencintai kedamaian yaitu Jemaat Ahmadiyah dan beliau menjadi anggotanya.”

Seorang Muallim kita dari Kazakstan, Tuan Ghaffar Toulkanov juga dalam surat pernyataan belasungkawanya telah menulis, “Permulaan sekali saya diperkenalkan kepada Tuan Ravil melalui buku-buku Jemaat yang beliau terjemahkan dalam Bahasa Rusia. Tuan Ravil seorang yang sangat baik dan mulia. Saya dengar sebelum beliau dioperasi pernah berkata, ‘Jika saya masih hidup setelah mengalami operasi ini saya akan mewaqafkan kehidupan saya.’ Yang mulia Tuan Ravil sungguh mukhlis sekali dan kata-kata beliau sangat matang (lurus, jujur, berbobot dan meyakinkan). Pada suatu waktu ketika sedang dalam perjalanan ke London bersama kru MTA saya minta tolong kepadanya untuk memohonkan doa kepada Hudhur untuk saya. Setelah sampai di London beliau menulis surat kepada saya, ‘Permohonan doa anda sudah saya sampaikan kepada Hudhur.’ [Hal ini menandakan beliau pribadi yang tidak meremehkan titipan pesan sahabat atau orang lain] Beliau seringkali berbicara dengan saudara-saudara Jemaat kita tentang bagaimana amanat Ahmadiyah dapat disampaikan dengan cepat kepada bangsa-bangsa di Asia Tengah ini” (di Rusia Selatan atau selatan Rusia seperti Kazakstan, Uzbekistan, Tajikistan, Chechnya dan lainnya).

Kemudian tuan Muallim ini menulis, “Dengan membaca buku-buku beliau kami merasa bahwa dengan berbagai cara beliau selalu berusaha untuk menyampaikan amanat Ahmadiyah secepat-cepatnya kepada bangsa sendiri dan kepada bangsa-bangsa yang berbicara dan memahami Bahasa Rusia.” Selanjutnya ia menulis, “Apabila Tuan Ravil menerjemahkan langsung Khotbah Hudhur melalui MTA dapat dirasakan oleh kami bahwa beliau menyampaikannya dengan penuh rasa haru dan dengan bahasa yang mengesankan sekali agar bangsa beliau mendengar suara (amanat dan nasihat) Imam-e-Waqt kita.”

Tuan Rushtam Muhammad Ali, Sadr (ketua) Jemaat Moskwa telah menulis dalam ta’ziahnya sebagai berikut, ”Tuan Ravil seorang yang sangat terpelajar dan Allah Ta’ala telah menganugerahkannya ilmu pengetahuan yang luar biasa serta kepakaran di berbagai bidang. Dengan hati terbuka beliau memberikan banyak sekali faedah kepada masyarakat dari ilmu pengetahuan dan kepakaran yang beliau miliki. Setelah menerima Jemaat Ahmadiyah beliau mewaqafkan diri sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala, mengkhidmati Jemaat dan masyarakat. Setelah itu, beliau telah dianugerahi keistimewaan insani yang berkualitas dan sangat cemerlang misalnya, merendahkan diri, cinta sesama, lemah-lembut dan kasih-sayang, keikhlasan, toleransi dan pemaaf, senantiasa hanya memohon kepada Allah Ta’ala dalam memerlukan sesuatu, setiap saat berusaha membantu semua orang, dan mengajak (mengikutsertakan) orang lain dalam memberikan manfaat kepada sesama melalui keistimewaan dan kemampuan-kemampuan yang telah Tuhan anugerahkan kepada beliau.”

Muballigh kita Tuan Basharat menulis, “Saya ingat sekali ketika untuk pertama kali khotbah disiarkan dalam Bahasa Rusia [via MTA]. Dua tahun yang lalu, bersama saya ada seorang Ahmadi senior asal Rusia, Tokotorbaev Sighinbek sedang menyaksikan dan menyimak khotbah itu. Ketika khotbah sudah selesai semua yang hadir meneteskan air mata karena gembira dan merasa sangat puas kemudian semua saling berpelukan sambil mengucapkan ‘Mubarak’. Terjemahan khotbah itu direkam dengan suara Tuan Ravil dan suara beliau dalam membacakan khotbah itu telah menciptakan suasana sangat mengesankan dan mengharukan. Dan hal itu telah mengukir satu sejarah bahwa dengan karunia dan kemuliaan Allah Ta’ala, beliau telah mendapat kehormatan menjadi orang pertama yang menjelaskan khotbah Khalifah Sayyidina Masih-e-Paak (Khalifah Hadhrat Masih Mau’ud yang suci) kepada saudara-saudari yang berbahasa Rusia. Beliau bergabung dengan Jemaat jauh setelah kami, namun beliau berada dibawah naungan Khilafat, dengan berkat-berkat Khilafat jauh berada di depan kami. Semoga Allah Ta’ala memperlakukan beliau dengan penuh kasih.”

Shalat Jenazah di Dekat Masjid

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan sultan nasir (kekuatan yang menolong) seperti beliau sebanyak-banyaknya kepada Jemaat. Sekarang ini setelah shalat Jum’at akan diadakan shalat jenazah beliau, insya Allah. Saya yang akan memimpin shalat jenazahnya. Jenazah akan diletakkan di luar masjid. Saya akan memimpin shalat jenazah di luar [masjid]. Sementara orang-orang membentuk shaf yang baik di dalam masjid ini.

Kesyahidan cicit Hadhrat Shahibzadah Abdul Latif ra

Selain itu juga ada dua tiga orang yang telah wafat yang akan kita lakukan shalat jenazah ghaibnya. Pertama adalah mukarram Shahibzadah Dawud Ahmad putra dari Shahibzadah Muhammad Syafi’ Shahib dari Sarae Nurang, wilayah Banu. Dari jalur kakek dan jalur nenek, Shahibzadah Dawud Ahmad Shahib adalah keturunan  dari Hadhrat Shahibzadah Abdul Latif Shahib Syahid (sahabat Hadhrat Masih Mau’ud yang syahid di Afghanistan). Shahibzadah Dawud Ahmad Shahib ini pada pagi hari jam 10 tanggal 23 Januari 2012 disyahidkan di Nurang. Inna lillahi wainna ilaihi raji’un. Ibu almarhum syahid (syahid marhum) adalah putri dari Shahibzadah Abdus Salaam yang merupakan putra dari Hadhrat Shahibzadah Abdul Latif Shahib Syahid. Jadi beliau adalah cicit dari Hadhrat Shahibzadah Abdul Latif Shahib Syahid. Begitu pula dari jalur kakek, kakek mukarram Dawud Shahib yang bernama Shahibzadah Abdur Rabb adalah putra dari putri Hadhrat Shahibzadah Abdul Latif Shahib Syahid yang menikah dengan Mir Akbar Shahib dan kemudian orang ini bergabung kedalam Jemaat Lahore (Ahmadiyah Lahore). Setelah disyahidkannya Shahibzadah Abdul Latif Shahib, keluarga marhum syahid berpindah dari Afghaniskan ke Sarae Nurang dan almarhum lahir pada 1955.  Seperti telah saya sampaikan almarhum disyahidkan tanggal 23 Januari. Pada waktu pagi sekitar jam sepuluh, beliau keluar rumah menuju ke pasar untuk suatu keperluan; di Sarae Nurang datang dua orang tidak dikenal sambil mengendarai sepeda motor dan menembak beliau sampai syahid kemudian kedua penjahat itu melarikan diri. Sebelum kesyahidannya, pada hari Selasa tanggal 17 Januari 2012 orang-orang dari golongan yang menamakan diri Pelindung Khatami Nubuwat telah mengadakan Jalsah (pertemuan) besar-besaran di Sarae Nurang. Dalam jalsah itu mereka telah banyak sekali memaki dan menghina Jemaat dan menghasut para peserta yang hadir untuk menentang Ahmadiyah. Kesyahidan ini berkaitan dengan fitnah tersebut. Keluarga syahid marhum dari jalur kakek seperti telah saya sampaikan adalah Ahmadi Paighami (Ahmadiyah Lahore yang menolak baiat kepada Khilafat). Mereka keras sekali untuk tidak baiat kepada Khilafat. Semenjak 8 tahun yang lalu, almarhum telah baiat dan bergabung dengan Jemaat Mubayyi’in (Jemaat yang berbaiat kepada Khilafat, Jemaat Ahmadiyah umumnya) dan di rumah ia sendirian sebagai Ahmadi sementara keluarganya yang lain memiliki hubungan dengan Jemaat Lahore. Shahibzadah Dawud Ahmad Shahib sangat baik dan saleh, rajin menunaikan shalat tahajjud, menjauhkan diri dari keburukan-keburukan dan sangat teratur dalam pembayaran zakat dan candah. Terkenal sebagai orang yang baik. Sangat baik juga dalam hal menolong pengurus Jemaat dan akhlak secara umum. Tidak memiliki tanda-tanda memusuhi kepada siapa pun. Pada tahun 2004-2005 memiliki penyakit jantung dan dioperasi. Dalam keadaan demikian, beliau teratur menjalankan puasa. Beliau mengajukan retirement (pensiun) lebih cepat dari pekerjaan beliau yang membuat sebagian rekan sekerja beliau berkata, “Engkau telah membuat diri sendiri pensiun. Engkau telah mempercepat pensiun engkau?” Akan tetapi beliau berkata kepada mereka, “Saat masih bekerja saya meninggalkan banyak kekurangan dan cacat-cela. Oleh karena itu sebagai ganti atas kekurangan tersebut Government (Pemerintah) memberikan pensiun ini agar pemerintah tidak mempunyai hutang sedikit pun dari saya.” Setelah pensiun, beliau mengelola sebuah tanah pertanian dan di pasar di Nurang ada sebuah toko milik beliau. Syahid marhum meninggalkan dua saudara laki-laki dan seorang istrinya, Amatul Hafizh. Beliau tidak memiliki anak.

Pensyahidan Tidak Mematahkan Para Ahmadi           

Waktu demi waktu sebagaimana telah kita dengar beritanya para Ahmadi di Pakistan tengah disyahidkan. namun apakah pensyahidan-pensyahidan ini akan menurunkan semangat kita? Beberapa kali saya jelaskan saat peristiwa di Masjid Lahore. Saat 84 orang disyahidkan, orang-orang itu berpikir, “Sepertinya semangat orang-orang Ahmadi telah patah (lumpuh).” Akan tetapi, kaum dewasa laki-laki dan perempuan Ahmadi bahkan anak-anak Ahmadi mengirimi surat kepada saya, “Semangat kami lebih besar dibanding sebelumnya. Dan untuk memberikan pengorbanan kami memohon agar Hudhur mendoakan kami sehingga kami termasuk kedalam orang-orang yang memberikan pengorbanan (syahid) bukan hanya sekedar ucapan bahkan menampakkannya di setiap tempat secara amalan.” Bulan lalu di Layyah juga ada seorang wanita yang syahid, saya memimpin shalat jenazahnya; kesyahidannya adalah demikian tatkala orang-orang menyerbu rumah misi, dan orang-orang Jemaat di sana untuk menolak serangan tersebut mereka mempertahankan rumah misi; beberapa kaum wanita Ahmadi juga turut serta dengan kaum laki-laki; salah satunya wanita Ahmadi tersebut yang masih memiliki anak kecil; di tempat itu musuh menyerangnya yang membuatnya meninggal. Tidak takut dalam bentuk apa pun, tiada gentar. Perempuan ini melakukan perlawanan dan berbahagia mereguk mangkuk kesyahidan. Jadi. Inilah mereka para wanita Ahmadi juga laki-laki dan anak-anak yang takkan pernah takut akan kesyahidan. Maka sekarang yang syahid adalah Shahibzadah Dawud Ahmad Shahib; semoga Allah Ta’ala menerima kesyahidannya. Allah Ta’ala telah menerima kebaikan beliau dan kebaikan fitrat beliau pula dengan memberinya taufik bergabung dengan Jemaat Mubayyi’in kemudian juga memberinya taufik untuk mengalami kesyahidan. Ini adalah dampak baik dari kekuatan iman almarhum dan pengorbanan secara terus-menerus tengah diberikan semenjak lebih dari satu abad yang lampau. Dan pengorbanan itu yang dipersembahkan pertama kali oleh Hadhrat Shahibzadah Abdul Latif Shahib di masa kemenangan Islam kedua kali. Sekarang ini ruh Hadhrat Shahibzadah Abdul Latif Shahib atas hal ini di satu martabat merasa berbahagia karena darah keturunannya lebih dari seratus tahun setelahnya juga telah memenuhi kewajibannya.

Keadaan Jemaat di Pakistan sekarang semakin buruk. Sikap para musuh atau para penentang Jemaat semakin keras dan semakin jahat mereka berusaha untuk menciptakan suasana lebih buruk dan kacau. Oleh sebab itu sangat diperlukan banyak-banyak doa bagi para anggota Jemaat di Pakistan. Semoga Allah Ta’ala melindungi mereka dari setiap segi, memberi keselamatan kepada setiap anggota Jemaat di sana dari setiap keburukan dan kejahatan musuh-musuh Jemaat dan semoga Allah Ta’ala secepat-cepatnya mendatangkan sarana untuk kehancuran para penentang dan musuh-musuh Jemaat di sana.

Kewafatan Dua Ahmadi Lainnya

Jenazah kedua, sahabat mukhlis kita, Mukarram Mirza Nashir Ahmad Shahib, seorang advokat di Lahore yang wafat pada 25 Desember. إنا لله وإنا إليه راجعون Beliau baiat pada 1948. Lalu bergabung dalam Batalyon Furqan (sebuah kelompok militer yang dibentuk oleh Hudhur II ra dan disumbangkan kepada pemerintah untuk membantu tentara negara mempertahankan Pakistan dari serangan India). Pada 1974, Hadhrat Khalifatul Masih ats-Tsaalits (III) membentuk sebuah tim delegasi yang almarhum termasuk anggotanya; mendapat taufik berkhidmat kepada Jemaat dalam kapasitas sebagai anggota delegasi di Supreme Court; dan sebagai jurnalis beliau juga memberikan pengkhidmatannya kepada Jemaat lewat tulisan-tulisannya [yang membela Jemaat] di kolom-kolom mingguan “Lahore”. Selain membantu berbagai jemaat di daerah yang menghadapi berbagai kasus, beliau juga berkesempatan mengkhidmati Jemaat dalam sebuah tim hukum Jemaat yang pada tahun 1984 hadir di pengadilan syariat untuk melakukan penolakan atas ordonansi zalim. Beliau juga berkhidmat di berbagai Jemaat di Lahore. Sekretaris ristanata. Anggota majlis ifta. Qadhi Jemaat Lahore. Begitu pula berkhidmat sebagai anggota komisi hak asasi manusia. Pada 28 Mei 2010 tatkala terjadi peristiwa di Lahore [penyerangan mesjid Jemaat oleh kaum ekstrimis], beliau ada di dalam masjid Darudz Dzikr dan putra beliau juga bersama beliau. Di sana putra beliau luka-luka tertembak. Dengan penuh semangat keberanian beliau tetap di sana dan memberi semangat keberanian kepada putra beliau juga. Seorang yang banyak berdoa, qana’ah, penyabar, suka bersyukur, berwatak sosial dan mukhlis. Selalu siap sedia untuk berkorban demi Khilafat Ahmadiyah dan selalu berbincang-bincang perihal itu. Pembicaraannya pun cukup banyak mengenai hal itu. Beliau seorang musi. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat-derajat beliau dan memperlakukannya dengan penuh ampunan.

Satu lagi jenazah, Nyonya Rabiah Begum dari Asam, India yang merupakan istri dari Mukarram Master Masyriq Ali. Wafat pada 20 Januari di Kalkuta. Pernah mendapat taufik berkhidmat sebagai Sadr Lajnah Benggal dan Asam dalam waktu yang cukup lama. Bersama suami bahu-membahu mengerjakan dan menyelesaikan berbagai program Jemaat. Masyriq Ali adalah Amir Wilayah Bengal dan Asam. Dalam keadaan sakit pun, almarhum biasa menyertai suami dalam perjalanan dinas jemaat. Seorang wanita yang sangat mukhlis, baik dan setia. Beliau meninggalkan suami, 3 anak perempuan dan 2 anak laki-laki. Salah satu anak laki-laki beliau, Ishmatullah biasa menyampaikan nazm dalam jalsah-jalsah. Di MTA, cukup banyak nazm yang dibawakannya. Semoga Allah Ta’ala memperlakukannya dengan penuh pengampunan; meninggikan derajat-derajatnya. Shalat jenazah untuk semuanya akan dilaksanakan setelah Jum’at.

Alihbahasa oleh Mln. Hasan Basri, Shd

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Sunan at-Tirmidzi, Kitab al-Janaa-iz bab 34; Sunan Abi Daud, Kitabul Adab.

[3] Shahih al-Bukhari, Kitabul Janaa-iz bab tsanaaun naasi ‘alal mayyit.

 عَنْ أَبِي الأَسْوَدِ قَالَ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ وَقَدْ وَقَعَ بِهَا مَرَضٌ، فَجَلَسْتُ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَمَرَّتْ بِهِمْ جَنَازَةٌ فَأُثْنِيَ عَلَى صَاحِبِهَا خَيْرًا فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَجَبَتْ. ثُمَّ مُرَّ بِأُخْرَى فَأُثْنِيَ عَلَى صَاحِبِهَا خَيْرًا، فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَجَبَتْ. ثُمَّ مُرَّ بِالثَّالِثَةِ، فَأُثْنِيَ عَلَى صَاحِبِهَا شَرًّا فَقَالَ وَجَبَتْ. فَقَالَ أَبُو الأَسْوَدِ فَقُلْتُ وَمَا وَجَبَتْ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ قَالَ قُلْتُ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَيُّمَا مُسْلِمٍ شَهِدَ لَهُ أَرْبَعَةٌ بِخَيْرٍ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ». فَقُلْنَا وَثَلاَثَةٌ قَالَ: «وَثَلاَثَةٌ». فَقُلْنَا وَاثْنَانِ قَالَ: «وَاثْنَانِ». ثُمَّ لَمْ نَسْأَلْهُ عَنِ الْوَاحِدِ.
Dari Abul Aswar berkata, “Saya datang ke Madinah. Maka saya duduk-duduk bersama Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu lalu lewat sebuah jenazah yang teman-temannya memuji kebaikannya (saat masih hidup) dan Umar ra berkata, ‘wajabat’ – ‘wajib’. Kemudian datang lagi jenazah lainnya yang teman-temannya memuji kebaikannya, maka berkata Umar, ‘Wajabat’ – ‘wajib’. Lalu lewatlah yang ketiga yang teman-temannya menyebut-nyebut keburukannya dan Umar berkata, ‘Wajabat’ – ‘wajib’. Berkata Abul Aswad, ‘Maka aku pun bertanya kepada Umar, “Apakah yang wajib itu, Wahai Amirul Mu’miniin (Pemimpin orang-orang beriman)?” Menjawab, “Aku berkata sesuai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ayyumaa Muslimin syahida lahu arba’atun bi khairin adkhalahullahul jannah.’ – “Siapa saja Muslim yang ada empat orang menyaksikan kebaikannya niscaya Allah memasukkannya ke sorga.” Kami berkata, “Dan juga tiga orang?” “Ya tiga orang.” “Dan juga dua orang?” “Ya dua orang.” Kami pun tidak menanyakan tentang satu orang.”

[4] British Broadcasting Corporation (BBC) dibentuk tahun 1927. BBC merupakan stasiun televisi, radio Britania Raya (Inggris). BBC juga menyediakan berita di Internet.

[5] http://new.tatari-kiev.com/content/view/240/54