Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 01 Sulh 1389 HS/Januari 2010

di Masjid Baitul Futuh, Morden-London, UK.

Setelah azan, beliau naik mimbar mengucapkan ’Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullah kemudian

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ  وَ اٰمِنُوۡا بِرَسُوۡلِہٖ یُؤۡتِکُمۡ کِفۡلَیۡنِ مِنۡ رَّحۡمَتِہٖ وَ یَجۡعَلۡ  لَّکُمۡ  نُوۡرًا تَمۡشُوۡنَ بِہٖ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ  غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿ۚۙ۲۸﴾

 (Surah Al-Hadiid: 29)

Dengan karunia Allah Ta’ala hari ini adalah hari pertama dari tahun 2010, dan pada hari pertama [tahun baru] ini Allah Ta’ala telah memasukkan kita dengan hari Jumat [bertepatan dengan hari Jumat], hari yang penuh keberkahan dari semua hari.

Dari segi ini, sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat tahun baru kepada Saudara-saudara semua. Semoga Allah Ta’ala memberkati bagi setiap orang Ahmadi dalam setiap seginya di tahun ini dan senantiasa di setiap tahun yang akan datang.engan karunia Allah Ta’ala hari ini adalah hari pertama dari tahun 2010, dan pada hari pertama [tahun baru] ini Allah Ta’ala telah memasukkan kita dengan hari Jumat [bertepatan dengan hari Jumat], hari yang penuh keberkahan dari semua hari.

Setiap tahun kita menyampaikan ucapan selamat tahun baru kepada sesama kita. Tetapi bagi seorang mukmin tahun atau hari menjadi beberkah apabila hal tersebut menjadi sarana penyebab diterima taubatnya dan menjadi sarana kemajuan kerohaniannya serta menjadi sarana memperoleh maghfirah (ampunan) baginya.

Berbagai Keberkahan Hari ‘Id dan Pentingnya Hari Jumat

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam pada satu tempat bersabda: “Sesungguhnya, hari ‘Ied, hari kegembiraan dan hari yang beberkah ialah pada hari terkabulnya taubat manusia. Hari maghfirah atau pengampunan baginya. Hari yang memberi tanda  bagi meningkatnya martabat kerohanian manusia. Hari yang memberikan bimbingan kepada jalan-jalan menuju kemajuan rohaniah manusia. Hari yang mengarahkan manusia untuk menyempurnakan hak-hak Allah Ta’ala dan hak-hak sesama manusia. Hari yang mengarahkan manusia untuk memanfaatkan semua kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya guna meraih keridhaan Allah Ta’ala. Hari bagi upaya-upaya secara amaliyah yang dilakukan manusia untuk mencapai kedekatan dengan Allah Ta’ala.

Pendeknya, tahun dan hari-hari kita akan menjadi beberkah bagi kita apabila untuk mencapai maksud-maksud itu, kita melakukannya dengan keikhlasan, selalu bersujud kepada Allah Ta’ala memohon pertolongan-Nya, dan berusaha menciptakan perubahan suci dalam diri dan jiwa kita.”

Bertepatan hari ini adalah hari Jumat dan hari Jumat terhitung sebagai hari yang sangat beberkah, dan dari segi ini hari ini kita memasuki hari pertama tahun baru dimulai dengan hari yang sangat beberkah. Hadhrat Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah banyak memberikan petunjuknya tentang pentingnya hari Jumat ini. Namun harus selalu diingat bahwa sekalipun hari ini hari yang sangat penting dan orang-orang mukmin banyak sekali mengambil faedah darinya, namun orang-orang bukan mukmin tidak dapat mengambil faedah darinya.

Walaupun hari itu sama saja, tetapi seorang mukmin berusaha menjadikan hari itu sebagai sarana mencapai keselamatan baginya. Namun orang-orang non mukmin hanya sekedar tahu bahwa hari itu adalah hari yang bergandengan dengan hari Sabtu, tidak mempunyai keistimewaan apa-apa bagi mereka. Seorang mukmin senantiasa memperhatikan petunjuk Hadhrat Rasulullah saw ini (mengenai pentingnya Jumat) yang juga tercantum dalam hadits.

Hadhrat Abu Hurairah r.a. meriwayatkan hadits ini bahwa Hadhrat Rasulullah s.a.w. bersabda: “Di dalam hari Jumat terdapat saat yang apabila seorang Muslim mendapatkan peluang itu dan ia sedang menunaikan salat, kemudian pada waktu itu juga ia memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala, maka doanya dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Sambil memberi isyarah dengan tangan beliau menunjukkan bahwa waktu tertentu yang beberkah itu sangat pendek sekali.” Referensi: Muwatha Imam Malik, bab Maa jaa-a fis sa’aatillati fii yaumil jumu’ah. Shahih al-Bukhari , Kitab al-Jumu’ah, bab as-saa’atil latii fii yaumil jumu’ah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ: «فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّي، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ». وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا.

Pada waktu itu orang mukmin bisa menyaksikan pengabulan doanya, sedangkan orang-orang non mukmin (tidak beriman) berkecimpung dalam canda tawa dan permainan belaka.

Dikarenakan hari pertama tahun baru ini jatuhnya pada hari Jumat hal mana merupakan hari yang sangat penting juga bagi orang-orang mukmin, mereka menghiasinya dengan doa-doa sambil bersujud di hadapan Allah Ta’ala dengan pemenuhan ibadah-ibadah nafal pada tengah malam demi menyambut kehadiran tahun baru yang dimulai dengan hari yang sangat beberkah ini.

Sedangkan orang-orang non mukmin yang tidak tahu sama sekali pentingnya hari Jumat, tidak tahu bagaimana cara menyambut tahun baru dengan cara baik. Mereka melewatkannya dengan melakukan hura-hura dan permainan, dansa-dansi sambil minum-minuman keras, bersuka-ria, bersorak-sorai dengan suara riuh pada malam akhir tahun dan pada malam awal permulaan tahun baru.

Kita sangat beruntung menjadi orang-orang yang tergabung dalam umat Nabi Muhammad s.a.w.. Kita merupakan orang-orang yang telah beriman kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang dari ujung rambut sampai ujung jari kaki beliau menjadi nur Allah Ta’ala, yang telah menunjukkan jalan kepada kita untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala. Beliau telah membimbing manusia untuk memahami apa tujuan penciptaan mereka di dunia. Beliau adalah kekasih utama Allah Ta’ala. Dia telah mengumumkan bahwa Tuhan mencintai orang-orang yang taat kepada beliau s.a.w., dan mereka yang sungguh-sungguh mengikuti berbagai sunnah beliau saw dengan penuh kecintaan kepada beliau s.a.w.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah bersabda: “Beliau saw-lah yang mampu menjadikan manusia menjadi pencinta Ilahi. Beliau s.a.w. sangat berhak untuk menyatakan dirinya adalah sumber cahaya yang berkilau-kilauan. Oleh karena itulah Allah Ta’ala telah memberikan nama beliau s.a.w. dalam Al-Qur’an syarif adalah nur. Sebagaimana firman-Nya: قَدْ جَآءَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ نُوْرٌ  ’qad jaa-akum nuurum minAllah’ – ”Telah datang kepada kalian nur  dari Allah Ta’ala.” (Al Maidah: 16).”[2]

Hal ini menjadi sebuah ihsan Allah Ta’ala yang sangat besar kepada kita, jika kita berupaya sungguh-sungguh menjadi orang-orang yang dapat meraih bagian dari nur itu, dan untuk meraih bagian dari nur itu beliau saw telah mengajarkan ibadah Jumat kepada kita supaya doa-doa yang  kita panjatkan pada hari Jumat itu mendapat martabat pengabulan disisi Allah Ta’ala.

Jumat dan Keutamaan Doa-doa dan Membaca Shalawat

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aus bin Aus r.a. mengatakan, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Hari yang paling baik diantara semua hari adalah hari Jumat. Oleh karena itu pada hari itu perbanyaklah mengirim shalawat kepadaku, sebab shalawat kalian pada hari itu dipersembahkan Allah Ta’ala di hadapanku.”[3]

Allah Ta’ala menjelaskan kepada beliau s.a.w. dengan firman-Nya: “Tengoklah hai kekasih-Ku Muhammad saw! Hati umat engkau penuh dengan rasa syukur kepada engkau! Mereka mengirim shalawat kepada engkau sambil berusaha melakukan amal sesuai dengan ajaran-ajaran Al-Qur’an dan sambil senantiasa berusaha mengikuti suri tauladan engkau. Di hari yang beberkah ini mereka mengirimkan shalawat kepada engkau, yang mana hari itu merupakan hari yang istimewa. Oleh sebab itu Aku dengan penuh kasih-sayang mengabulkan doa-doa yang dipanjatkan oleh hamba-hamba-Ku. Dan Aku juga telah memerintahkan agar mereka mengirim shalawat kepada engkau. Sebab Allah beserta para malaikat-Nya mengirim shalawat kepada engkau.

Apabila orang-orang mukmin mengamalkan perintah-perintah-Ku dan berminat untuk meraih keridhaan-Ku mereka mengirim shalawat kepada kekasih-Ku, maka Aku juga mendengarkan doa-doa mereka yang beribadah kepada-Ku dan akan mengabulkannya.”

Jadi membaca shalawat dan memanjatkan doa-doa pada hari itu apabila dipersembahkan di hadapan Allah Ta’ala maka Allah Ta’ala pasti akan mengaitkan dengan kekasih-Nya itu. Apabila shalawat yang dikirim kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w. dengan penuh khidmat, ikhlas, penuh keasyikan (kecintaan) kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w. dan mengirimkannya dalam keadaan fana fir Rasul pada akhirnya shalawat itu dipersembahkan kepada Allah Ta’ala setelah melalui syafa’at dari Hadhrat Rasulullah s.a.w..

Ketika Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mendakwahkan diri sebagai Masih dan Mahdi dan memperoleh kedudukan sebagai Imam Zaman karena beliau memiliki kecintaan keasyikan (fana fi Rasul) yang sejati dan shalawat kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w. Kemudian sebagai hasilnya nur cemerlang bagaikan menara-menara yang menjulang tinggi ke angkasa mulai turun kepada beliau dari langit.

Dan seperti itulah juga yang Hadhrat Masih Mau’ud a.s. senantiasa nasihatkan dengan tegas kepada kita untuk mengamalkannya setelah kita bai’at masuk ke dalam Jemaat beliau.

Beliau a.s. bersabda: “Jika kalian sungguh-sungguh menyatakan telah bai’at kepadaku, kalian mendakwakan diri dengan sungguh-sungguh mencintai Hadhrat Rasulullah s.a.w. maka kirimkanlah selalu shalawat dengan ikhlas kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w. disesuaikan dengan kemampuan masing-masing maka kalian juga akan memperoleh bagian dari nur yang bersumber dari nur Allah Ta’ala, kemudian berkat dari nur itu membuat kehidupan duniawi dan akhirat kalian menjadi sangat baik, aman dan tenteram.”

Kemudian ada lagi sebuah hadits tentang pentingnya hari ini (hari Jumat) yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Hadhrat Rasulullah s.a.w. bersabda:

 «خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا».

“Hari paling baik yang di dalamnya matahari terbit adalah Jumat. Pada hari itu Adam telah dilahirkan, pada hari itu juga Adam dibawa ke surga dan pada hari itu juga beliau dikeluarkan dari surga.” (Muslim, Kitabul Jumu’ah, Bab Fadhl yaumil Jumu’ah, Hadits 1860.)

Jadi pada hari itu (Jumat) terdapat juga satu kesempatan yang berberkah dan bisa juga kesempatan bagi manusia untuk mendapatkan ganjaran maupun menerima hukuman. Jadi terpulang kepada Bani Adam (manusia) kesempatan yang sangat baik pada hari Jumat ini hendak dipergunakan untuk apa.

Dengan memperhatikan kemuliaan dan kesucian hari Jumat ini, memanjatkan doa-doa, shalawat dan melakukan amal-amal saleh yang akan menjadi sarana bagi manusia untuk masuk ke dalam surga. Juga akan membuat manusia memperoleh bagian dari nur Allah Ta’ala. Namun sekalipun betapa beberkahnya hari Jumat ini ia akan menjadi sarana bagi manusia untuk menerima hukuman juga jika ia telah terpedaya oleh tipu muslihat syaitan, sekalipun hari ini sedemikian berberkahnya namun juga telah terpaksa membuat Adam a.s. keluar dari surga.

Jalan Menuju Surga dan Jalan Menuju Neraka

Ini juga merupakan riwayat  (asal usul) yang telah dibuat bagi Bani Adam semua. Jika perhatian tetap ditujukan kepada amal-amal kebaikan, perhatian tetap ditujukan ke arah doa-doa dan shalawat maka langkah manusia akan bergerak menuju surga. Dunia ini juga akan menjadi surga dan akhirat juga bisa menjadi surga. Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang surga itu. Jika manusia terlibat dalam berbagai keburukan maka Allah Ta’ala akan mengabarkan kepadanya untuk keluar dari surga itu, sehingga dunia ini juga akan menjadi jahannam baginya.

Jadi, pentingnya hari ini (Jumat) jika hendak dihargai dengan niat yang baik, maka syaratnya harus dengan perbuatan amal saleh dan beribu-ribu durood (shalawat) kita kirimkan kepadanya yang telah menunjukkan jalan menuju surga terhadap Bani Adam, yaitu jalan-jalan menuju surga duniawi dan juga surga   ukhrawi.

Sebagaimana telah saya jelaskan dengan mengutip hadits-hadits bahwa doa-doa yang dipanjatkan ke hadirat Allah Ta’ala dan shalawat yang dikirimkan kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w. dengan hati penuh ikhlas bisa membuat manusia mewarisi surga baik surga di dunia ini maupun juga surga kelak di akhirat nanti.

Jadi memahami pentingnya Jumat dan mendapat karunia masuk ke dalam surga atau bernasib malang dikeluarkan dari surga terpulang kepada amal perbuatan yang dilakukannya. Mengenai surga duniawi dan juga surga ukhrawi telah disebutkan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya: وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَان “Bagi orang yang takut kepada maqam atau kedudukan Tuhannya ia akan memperoleh dua buah surga, yaitu syurga di dunia dan juga syurga di akhirat nanti.” (Ar- Rahmaan: 47).

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam hal ini bersabda: “Barangsiapa yang memahami maqam dan kemuliaan Allah Ta’ala dan ia merasa takut bahwa pada suatu hari ia akan ditanyai, lalu dia meninggalkan dosa maka ia akan menerima anugerah dua macam syurga:

Pertama, akan mendapatkan anugerah surga di dunia ini juga, dia akan mengalami perubahan suci pada dirinya dan Tuhan akan menjadi Pelindung dan Penjaga baginya.

Kedua, setelah meninggal dunia ia akan dianugerahi surga yang kekal abadi kepadanya. Hal itu diraihnya kerana dia takut kepada Tuhan dan dia telah mendahulukan kepentingan-Nya diatas kepentingan dan perasaan nafsu jiwanya sendiri.”[4]

 

Memulai “Tahun baru” dengan Pelbagai Doa

Barangsiapa yang dengan sungguh-sungguh mengambil faedah dari hari Jumat ini yang di dalamnya Allah Ta’ala telah menyediakan sarana untuk meraih kecintaan dan kedekatan-Nya, maka dia akan menjadi orang mukmin yang sejati. Pada hari ini Allah Ta’ala telah memberi kesempatan kepada kita, maka hiasilah mulai dari hari pertama pada tahun baru ini dengan doa-doa agar kita dapat menyaksikan kemakbulan doa-doa kita sepanjang tahun. Yaitu doa untuk diri sendiri, doa untuk keluarga sendiri, doa untuk mereka yang banyak melakukan pengorbanan bagi Jemaat yakni Islam hakiki ini, doa untuk kemajuan Jemaat, doa untuk lingkungan masyarakat pada setiap tempat disekitar kita, dan doa untuk negara.

Seseorang baru dapat disebut mukmin sejati apabila ia tinggal di suatu negeri, menjadi warga negara itu ia memanjatkan doa bagi negara itu. Jadi semua kewajiban ini telah diserahkan kepada orang-orang Ahmadi yang mana sangat perlu dalam pelaksanaannya.

Doa-doa orang-orang Ahmadi-lah yang bisa membuat kelestarian dunia, membuat kelestarian kemanusiaan, membimbing manusia ke jalan surga. Jika dirinya sendiri tidak melangkah, bagaimana ia akan menunjukkan jalan kepada orang lain. Kita orang-orang Ahmadi telah percaya dan beriman kepada Adam Akhir Zaman ini yang datang bukan untuk keluar dari surga, yang bukan hanya sebagai pewaris kedua surga, bahkan ia datang untuk membawa manusia ke dalam surga dengan ajaran yang dibawa oleh Aqa-o-Maulaa (Sang Majikan) Yang Mulia Muhammad Rasulullah s.a.w.,

 

“Pahlawan Allah” dalam Jubah Nabi-nabi

Allah Ta’ala berfirman kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. melalui ilham خَلَقَ أدَمَ فَاَكْرَمَهُ جَرِيُ اللهِ فِيْ حُلَلِ اْلاَنْبِيَاءِ بُشَرَى لَكَ يَا أَحْمَدِيْ   ‘Khalaqa Adama fa-akramahu. Jariyullah fii hulalil anbiyaa. Busyraa laka yaa Ahmadii.’ – “Dia menciptakan Adam dan Dia menghormatinya. Rasul Tuhan ini dalam jubah seluruh Nabi, yakni, dalam dirinya terdapat setiap jenis sifat khas yang dimiliki setiap Nabi. Berbahagialah engkau, hai Ahmad-Ku!” [5]

Sambil menjelaskan makna “جري الله في حلل الأنبياء” Jariyullah fii hulalil anbiyaa – “adalah Juara Allah (Rasul Tuhan) dalam jubah semua Nabi.” Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Maksud dari wahyu Ilahi ini adalah, bahwa sejak Adam ‘alaihissalam sampai akhir berapa pun jumlah para Nabi ‘alaihimussalam yang diutus oleh Tuhan, baik nabi Israili atau nabi bukan Israili, sebagian peristiwa-peristiwa yang khusus dari mereka semua atau sebagian dari sifat-sifat yang khusus dari mereka semua telah diberikan kepada hamba yang lemah ini, dan tidak ada seorang Nabi pun yang telah berlalu yang kekhususannya atau peristiwa-peristiwa khususnya tidak diberikan kepada hamba yang lemah ini.” [6]

“Gambaran fitrat setiap nabi terdapat dalam fitrat-ku, disebabkan asyiq shadiq  atau kecintaan yang sangat dalam terhadap Hadhrat Rasulullah s.a.w. aku mendapat pangkat nabi buruzi (nabi bayangan), mendapat bagian dari nur Hadhrat Rasulullah s.a.w. yang beliau peroleh dengan tidak ada batasnya.”

Inilah Adam yang datang pada zamannya penuh dengan Nur Muhammadi. Beliau menunjukkan kepada kita jalan-jalan baru untuk memperoleh nur itu dengan cahaya baru itu dan beliau juga mengajarkan cara-cara berdoa kepada kita. Beliau memberi bimbingan kepada kita untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat, supaya kita selalu menjadi pewaris surga duniawi dan juga surga ukhrawi. Jadi untuk mendapatkan berkah dari nur itu diperlukan doa dan amal saleh bukan hanya dimulai dari permulaan tahun kehidupan melainkan harus dilakukan setiap hari dalam sepanjang kehidupan. Untuk itu kita harus menaruh perhatian sepenuhnya.

Saya mengharapkan semoga para anggota Jemaat dalam menyambut hari pertama tahun baru ini menjalani kehidupan setiap hari dengan semangat seperti itu. Dengan karunia Allah Ta’ala para anggota Jemaat telah menunaikan salat tahajjud berjamaah di masjid-masjid. Semangat seperti ini jangan sampai hilang hanya sampai hari pertama saja, melainkan setiap hari hendaknya meningkatkan terus semangat seperti itu.

Setiap gerak langkah kita harus menambah ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Iman kita kepada Rasul harus semakin kokoh-kuat. Usaha keras yang telah dilakukan pada hari pertama semoga membawa semangat terus sepanjang 365 hari yang akan datang.

Allah Ta’ala telah berfirman di dalam Al-Qur’anul Karim seperti yang telah saya tilawatkan pada permulaan khutbah ini yang terjemahannya sebagai berikut: “Hai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya! Dia akan menganugerahkan kepada kamu dua bagian dari rahmat-Nya, dan akan menerangi dengan cahaya bagi kamu yang di dalamnya kamu akan berjalan, dan Dia akan menganugerahkan kepada kamu ampunan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Al Hadiid: 29).

Inilah sebuah ciri kedudukan seorang mukmin, maqamnya adalah ia tidak percaya bahwa dosa Adam dan anak-anak Adam bisa ditebus dengan kematian seseorang yang dilaknat, melainkan bagi seorang mukmin sejati Allah Ta’ala berfirman bahwa kehidupan kamu adalah sebuah perjuangan yang terus menerus, pengorbanan yang dawam dan senantiasa mempersiapkan diri untuk meraih takwa kepada Allah Ta’ala serta mempertahankannya.

Menaruh perhatian terhadap pelaksanaan haququl‘ibad (hak-hak sesama hamba) juga begitu penting sebagaimana pentingnya untuk kemajuan rohani diperlukan usaha keras, memusatkan perhatian terhadap hal itu dan juga pelaksanaan terhadap haququllaah (hak-hak Allah) sangat diperlukan. Sambil meningkatkan mutu kerohanian pribadi berusaha untuk menghindarkan masyarakat dari perbuatan maksiat juga sangat perlu sekali.

Harus dikumandangkan kepada dunia bahwa cara menyambut tahun baru ini bukan dengan pesta pora bermabuk-mabukan minum arak atau dengan bersuka ria, tepuk tangan bersorak-sorai, melainkan dengan cara menghadap Tuhan sambil berdoa kepada-Nya dengan hati yang bersih. Disambut dengan doa-doa ke hadirat Tuhan demi meningkatkan mutu kerohanian, dengan menyerahkan pengorbanan demi meningkatkan pelaksanaan tanggung jawab terhadap hak-hak makluk dan dengan disertai perhatian terhadap istighfar supaya Allah Ta’ala menyelamatkan kita dari jahannam dunia ini dan juga jahannam akhirat kelak. Sebab setiap orang akan berhadapan dengan Tuhan kelak di hari akhirat untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Ketakwaan Membuahkan Furqan (Pembeda)

 

Seseorang tidak bisa menjadi penebus dosa orang lain. Itulah kebaikan-kebaikan yang bisa menjadi bagian dari kehidupan manusia di dunia ini dan juga bisa menjadi bagian kehidupan di akhirat nantinya. Itulah sebagai hasil dari takwa dan taat yang sempurna terhadap Hadhrat Rasulullah s.a.w., yang bisa menjadi sarana untuk menarik rahmat Allah Ta’ala.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa berkat taat yang sempurna kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w., manusia bisa menjadi kekasih Allah Ta’ala. Dan tentang Allah Ta’ala akan memberi dua bagian dari rahmat-Nya, maksudnya adalah Dia akan memberi kebaikan di dunia ini juga dan kebaikan kelak di akhirat juga. Sehubungan dengan itu Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Hai orang-orang yang beriman! Jika kalian tetap tegak diatas takwa dan karena cinta terhadap Allah Ta’ala, berusaha berpegang teguh memelihara ketakwaan kalian, maka Allah Ta’ala akan membedakan kalian dengan manusia lainnya.”

Perbedaannya adalah kalian akan diberi nur oleh Allah Ta’ala. Dengan nur itu kalian akan dapat melangkah di atas jalan-jalan kalian. Yakni nur itu akan menyinari semua perilaku kalian, perkataan kalian, kekuatan dan perasaan kalian. Di dalam akal kalian juga akan ada nur dan dalam cara berpikir kalian juga ada nur. Di dalam mata kalian juga akan ada nur, di dalam kuping, lidah, percakapan kalian dan dalam setiap gerak-gerik kalian juga akan ada nur. Di atas jalan mana kalian melangkahkan kaki, jalan-jalan itu akan terang dengan nur itu.

Pendeknya, berapapun jalan-jalan kalian, jalan untuk menunjukkan kekuatan dan pikiran kalian akan dipenuhi dengan nur, serta dari ujung rambut sampai ujung kaki kalian akan penuh dengan nur dari Allah Ta’ala.” Kemudian beliau as bersabda lagi: “Taqwa dengan jahiliyyat tidak bisa bersatu.”  — Yakni antara takwa dan kebodohan tidak bisa bersatu) – “Ya… namun pemahaman dan pengertian yang sesuai dengan maksud-maksudnya akan bisa berkaitan dengan takwa.” [7]

Berapa banyak pengetahuan tentang takwa yang dapat dipahami dan dimengerti erat kaitannya dengan Allah Ta’ala. Namun jahalat dan takwa tidak bisa bersatu-padu. Takwa mempunyai banyak tingkatan, oleh sebab itu Allah Ta’ala memerintahkan agar manusia terus berusaha untuk meningkatkan ketakwaannya.

Jadi orang-orang Ahmadi yang kurang dalam pendidikan, atau yang betul-betul terpelajar, orang yang berpengetahuan agama atau kurang dalam ilmu pengetahuan agama, jika teguh dalam ketakwaan maka dia akan selalu terpelihara dari perkara-perkara yang jahil. Oleh sebab itu harus selalu diingat bahwa jahalat dan takwa tidak akan pernah bersatu-padu.

Standar takwa sungguh berbeda-beda ada yang tinggi dan ada yang rendah. Mukmin sejati adalah dia yang selalu ingat kepada takwa di dalam melakukan setiap amal perbuatannya, setiap hari atau setiap waktu ia memasuki tahun baru senantiasa menegakkan takwa dan memohon hasanah diin (kebaikan agama) dan dunia. Manusia akan memperoleh sesuatu sesuai dengan amal perbuatannya, ia akan meraih keridhaan Tuhan atau akan menimbulkan kemarahan Tuhan berdasarkan kepada amal perbuatan yang ia lakukan. Sebagaimana yang telah difirmankan-Nya diberbagai surah dalam Al-Qur’anul Karim:   وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى‌Yakni: Tiada seseorang akan memikul beban (dosa) orang lain. (Al-Faathir: 19).

Allah Ta’ala telah berfirman tentang orang yang akan diberi dua bagian dari rahmat-Nya itu, maksudnya yaitu orang yang teguh di atas takwanya dan beriman sungguh-sungguh kepada Rasul-Nya, untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala ia selalu mengirim shalawat kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w. dan ia berusaha keras menjalani kehidupan sesuai uswah hasanah  (suri teladan  terbaik) dari Hadhrat Rasulullah saw, orang itulah yang akan mendapat dua bagian dari rahmat-Nya yang akan menjadi pewaris surga di dunia ini dan juga surga di akhirat kelak.

Untuk menjadi pewaris surga-surga itu Allah Ta’ala telah mengajarkan berbagai doa dan kita harus memanjatkannya setiap hari. Jadi untuk anugerah kebaikan itu bagaimanapun manusia bersyukur kepada Tuhan, tidak bisa dan tidak akan bisa memadai dalam pelunasannya. Hanya satu saja jalannya, yaitu manusia harus banyak bersujud di hadapan Tuhan untuk memanjatkan doa guna mensyukuri kebaikan-Nya itu.

Ciri-ciri orang yang meraih dua bagian dari rahmat Tuhan adalah ia yang selalu   memanjatkan doa berikut ini:

وَّفِىْ اْلاَ خِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّار  وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِىْ الدُّنْيَا حَسَنَةً

Dan diantara mereka ada yang berkata, Ya Tuhan kami! Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan hindarkanlah kami dari azab Api Neraka. (Al Baqarah: 202). Maka itulah mukmin sejati yang meminta kepada Allah Ta’ala kebaikan di dunia ini juga dan meminta kebaikan di akhirat kelak juga.

Dalam memanjatkan doa untuk memasuki tahun baru,  mukmin sejati bukan hanya memohon kepada Tuhan untuk kemajuan-kemajuan duniawi saja melainkan juga untuk memohon kemajuan kerohanian. Dia tidak hanya memikirkan demi kebaikan dirinya sendiri bahkan ia memikirkan untuk memenuhi hak-hak orang lain juga sambil mendoakannya. Oleh karena itu, orang-orang yang bertakwa dan mukmin sejati selalu berusaha dan berdoa demi kebaikan di dunia, dia berusaha sambil banyak memanjatkan doa kepada Tuhan untuk kebaikan di akhirat juga, supaya kedua kebaikan itu bisa menyelamatkannya dari azab api neraka. Inilah multi doa yang telah mengajarkan kepada kita untuk memohon kebaikan-kebaikan duniawi yang sifatnya sementara dan untuk kebaikan-kebaikan ukhrawi yang sifatnya kekal abadi.

Terdapat sebuah riwayat yang mengatakan bahwa setiap hari Hadhrat Rasulullah s.a.w. paling banyak memanjatkan doa itu. [8]

Api  “Azab Dunia” yang Melanda  Beberapa Negara Muslim

Doa ini sangat penting sekali bagi manusia untuk dipanjatkan setiap hari sambil menunaikan hak-hak Allah Ta’ala dan hak-hak sesama manusia agar bisa menyelamatkan orang-orang mukmin dari azab api di dunia ini. Dan berkat banyak melakukan amal-amal saleh dan senantiasa berusaha memperoleh ridha Ilahi sehingga orang mukmin bisa selamat dari azab di akhirat juga. Di dunia ini juga manusia banyak melewati adzaban naar dalam kehidupannya. Contohnya berbagai macam kesulitan dan kesengsaraan, kesedihan, berbagai jenis musibah, peperangan, wabah penyakit dan sebagainya semua itu adalah adzaban naar. Api itu azab.

Tengoklah apa yang tengah terjadi di Pakistan, Afghanistan dan di beberapa negara lainnya. Beberapa hari yang lalu telah terjadi kebakaran di Karachi, Pakistan. Bagi orang yang terkena musibah itu merupakan api neraka bagi mereka. Bahkan bagi seluruh negara itu juga telah menjadi adzaban naar (azab api). Api itu telah menghancurkan sebagian ekonomi negara itu sehingga menelan kerugian yang besar. Api merupakan azab yang dirasakan oleh manusia di dunia ini juga. Untuk keselamatan dari api itu manusia harus meminta perlindungan dari Allah Ta’ala. Jika manusia kosong dari takwa, tidak berbuat kebaikan dan tidak menunaikan hak-hak Allah Ta’ala dan hak-hak sesama manusia, maka bagi bangsa tersebut mendapatkan peringatan yang besar dari Allah Ta’ala.

Jadi apabila manusia memanjatkan doa memohon kebaikan kepada Allah Ta’ala harus memperhatikan juga terhadap unsur ketakwaan dan usaha penunaian hak-hak Allah Ta’ala dan hak-hak sesama manusia. Harus juga menjaga diri jangan sampai terlibat kepada suatu perbuatan yang akibatnya sangat buruk. Dan juga harus berpikir, “jangan-jangan karena dosa yang tersembunyi saya menjadi mahrum (luput) dari kebaikan-kebaikan Allah Ta’ala.”

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pada suatu tempat bersabda: “Bagi manusia taubat bukanlah perkara biasa yang tidak berfaedah sedangkan pengaruhnya tidak hanya pada hari kiamat saja, melainkan dengan taubat ini manusia mendapatkan faedah dunia dan diin (agama), secara bersamaan juga. Hasil dari taubat itu manusia akan merasakan ketenteraman yang sejati baik di dunia maupun di akhirat juga. Tengoklah di dalam Al Qur’an Syarif Allah Ta’ala berfirman: وَّفِىْ اْلاَ خِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّار    رَبَّنَآ اٰتِنَا فِىْ الدُّنْيَا حَسَنَةً

Ya Tuhan kami ! Berilah kami kehidupan yang tenteram dan sentausa didunia ini dan berilah kepada kami kehidupan yang tenteram dan sentausa diakhirat juga, dan hindarkanlah kami dari azab Api Neraka.(Qs Al Baqarah: 202).

Rabb Hakiki dan “Rabb-rabb” Palsu

 

Tengoklah, sesungguhnya di dalam perkataan رَبَّنَا (Ya Tuhan kami!) secara halus mengandung isyarah kepada permohonan taubat, sebab perkataan رَبَّنَا menghendaki bahwa rabb-rabb yang dia sembah sebelumnya dia tinggalkan kemudian kembali kepada Rabb yang Sejati ini, dan perkataan itu tetap terpatri dalam lubuk hati tidak bisa keluar darinya tanpa disertai dengan ucapan yang penuh dengan rasa haru dan cinta terhadap Allah Ta’ala.

Manusia banyak menciptakan rab-rab dalam lubuk hatinya, misalnya mempunyai taktik atau rencana busuk. Ia bertumpu sepenuhnya kepada hal itu, sehingga hal itu telah menjadi rabbnya. Jika ilmu pengetahuan dan kekuatan telah menjadi tumpuannya, maka hal itulah telah menjadi rabbnya.  Jika ia merasa bangga dengan ketampanan ataupun kecantikan, kekayaan atas harta materi, kesombongan maupun ketenaran maka itu semua telah menjadi rabb-rabbnya.

Pendek kata, manusia tidak akan dapat menghormati dan mencintai Rabb Sejati yang satu yang tidak ada sekutu, sebelum ia meninggalkan semua perkara tersebut yang telah menjadi rabb atau sembahan palsu baginya. Ia tidak bisa menundukkan kepala dengan sesungguhnya di hadapan Rabb Hakiki dan tidak mampu mengucapkan Rabbanaa dengan penuh rasa haru dan penuh rasa cinta kepada-Nya.

Apabila hati sudah demikian halnya dan dengan hati yang luluh bertaubah sambil mengakui semua dosa-dosanya dihadapan Rabb-nya dan ia berseru  “Rabbanaa! Sesungguhnya hanya Engkaulah Rabb Hakiki itu, tetapi karena kesalahan-kesalahan yang telah kami buat kami telah berkelana ke tempat lain. Sekarang kami tinggalkan semua sembahan-sembahan itu dan dengan hati yang lurus dan jujur kami mengakui Rabbubiyyat Engkau dan sekarang kami hadir di hadirat singgasana Engkau.”

Ringkasnya,  tanpa berbuat demikian sangat sulit bagi manusia untuk menjadikan Tuhan sebagai Rabb Hakikinya, sebelum rasa hormat dan rasa cinta terhadap rabb-rabb yang lain keluar dari dalam lubuk hatinya, sehingga tidak bisa menyadari dengan baik siapa Rabbubiyyat Tuhannya yang sejati itu.

Kemudian beliau a.s. bersabda: “Banyak orang yang menjadikan dusta sebagai rabbnya. Mereka beranggapan, tanpa berkata dusta susah menjalani kehidupan. Banyak orang yang menjadikan penipuan, pencurian, perampokan sebagai rabb mereka. Mereka pikir tanpa berbuat demikian tidak ada jalan lain untuk mendapatkan nafkah atau rezeki. Jadi itulah rabb-rabb mereka, tengoklah pencuri yang memiliki semua cara untuk mencuri dan ada kesempatan pada waktu malam juga, kesempatan itu berfaedah baginya dan tidak ada petugas yang menjaga. Mereka menganggap inilah rezeki yang bisa didapatkan? Dalam keadaan demikian pencuri itu paham bagaimana ia akan mencuri dan menganggap semua sarana yang dimiliki adalah sebagai rabbnya.

Pendeknya. orang-orang yang sudah mempunyai tabiat demikian buruk bertumpu sepenuhnya kepada taktik dan rencana busuknya itu, apakah mungkin mereka akan berdoa kepada Tuhan agar rencananya berhasil?” — yakni mereka sudah menganggap segala rencana dan semua sarana yang dia miliki sudah menjadi segala-galanya bagi mereka. Tidak mungkin juga mereka mempunyai keinginan untuk berdoa. – “Keinginan berdoa akan timbul apabila usaha seseorang sudah menemui jalan buntu dan tidak ada jalan lain kecuali rasa takut dalam hatinya. Maka dari dalam hati orang seperti itulah timbul keinginan untuk berdoa. Pendeknya memanjatkan doa وَّفِىْ اْلاَ خِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّار  رَبَّنَآ اٰتِنَا فِىْ الدُّنْيَا حَسَنَةً seperti ini hanya pekerjaan orang yang telah mengetahui betul bahwa Rabb itu adalah Tuhan-nya, dan dia yakin bahwa di hadapannya semua rabb yang batil tidak berarti sama sekali.”

Beliau a.s. bersabda: “Yang dimaksud dengan api itu bukanlah api yang ada pada hari kiamat, melainkan di dunia ini juga orang yang memperoleh umur panjang menyaksikan bahwa di dunia ini juga nampak ribuan macam api. Para pemerhati akan mengetahui berapa macam api telah terjadi di dunia ini.

Berbagai macam azab: rasa takut, pertumpahan darah, kelaparan, berbagai macam penyakit, kegagalan, bahaya kemunduran dan kehancuran, beribu-ribu macam duka cita, anak keturunan, permasalahan dengan isteri, permasalahan dengan kaum keluarga yang menyulitkan, pendeknya semua itu adalah api. Oleh karena itu, orang mukmin selalu berdoa: “Ya Allah, selamatkanlah kami dari semua api itu. Apabila kami telah berpegang kepada Engkau wahai Tuhan, lindungilah kami dari semua kesulitan dan kesusahan yang menimbulkan kesempitan dalam kehidupan kami dan yang menjadi api neraka bagi manusia.”[9]

Kutipan dari sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tersebut sangat luas dan lengkap mencakup berbagai permasalahan. Selain itu juga masih banyak lagi rinciannya. Namun dari sabda-sabda beliau a.s .itu dapat diperkirakan betapa banyak kesulitan dan kesusahan yang dihadapi manusia di dunia ini dan sambil mengingat hal itu semua manusia harus banyak berdoa kepada Allah Ta’ala.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan kebaikan dunia dan kebaikan akhirat kepada kita semua, dan semoga Dia melindungi kita semua dari api duniawi dan juga api ukhrawi. Semoga Dia memberi taufiq kepada kita semua untuk melakukan banyak kebaikan.

Semoga tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang juga membawa setiap jenis kebaikan dan keselamatan serta kesejahteraan kepada setiap anggota Jemaat dari setiap kedukaan dan kesusahan.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kepada kita warna ketakwaan yang sejati dan memberi taufiq kepada kita untuk mendapatkan bagian dari nur yang dibawa oleh Yang Mulia Nabi Muhammad Mustafa s.a.w. Amiin!

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2]  Sirajuddin ‘Isai ke car suwalung ka jawab, Ruhani Khazain, j. 12, h. 327.

[3]  Abu Daud, Kitab Ash-Shalat, Bab al-Istighfar.

[4]  Lecture Lahore, Ruhani Khazain, j. 20, h. 158.

[5]  Haqiqatul Wahy, Ruhani Khazain, j. 22, h. 82.

[6]  Barahin Ahmadiyah hishshah pancham (bagian V), Ruhani Khazain jilid 21, h. 116.

Fii hulalil anbiyaa-i (dalam jubah seluruh nabi) dalam terjemah Urdu ialah tamaam nabiyyong ke peraae me. Peraayah menurut kamus Urdu : ornament (ornamen), dress (baju), manner (kebiasaan), method (metode) dan behaviour (kebiasaan)

[7]  Aena Kamalati Islam, Ruhani Khazain, j. 5, h. 177-178.

[8]  Shahih Muslim Kitabudz Dzikir wad Du’a wat Taubah, bab Fadhlud Du’a billahumma Aatina fid dunia hasanah… hadits 6735-6736.

[9]  Malfuzhat, jilid som, h. 144-145, Jadid Editional.