Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat Khalifatul Masih V ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Hadhrat  Mirza Masroor  Ahmad 

tanggal 30 Ihsan 1389 HS/Juni 2010

di Hadiqatul Mahdi, Hamsphire, United Kingdom of Britain (Inggris Raya)

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ            

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

اَلتَّآئِبُوۡنَ الۡعٰبِدُوۡنَ الۡحٰمِدُوۡنَ السَّآئِحُوۡنَ الرّٰکِعُوۡنَ السّٰجِدُوۡنَ الۡاٰمِرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ النَّاہُوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ وَ الۡحٰفِظُوۡنَ لِحُدُوۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ بَشِّرِ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿۱۱۲﴾

 

‘At-taa-ibuunal ‘aabiduunal haamiduunas saa-ihuunar raaki’uunas  saajiduunal aamiruuna bil ma’ruufi wan naahuuna ‘anil mungkari wal haafizhuuna li huduudillaahi wa basysyiril mu’miniin’ – “Yaitu, orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji Allah, yang bepergian di jalan Allah, yang ruku, yang sujud, yang menyuruh kepada kebaikan dan melarang keburukan dan yang menjaga batas-batas hukum Allah. Dan sampaikanlah kabar suka, kepada orang-orang yang beriman.” [Surah At-Taubah, 9 : 112]

Di dalam ayat [Alquranul Karim] ini disebutkan mengenai orang-orang ini (kaum Mu’minin), yang mendahulukan kepentingan keimanan mereka di atas urusan dunia dan karena sedemikian rupa keadaan iman mereka itu maka mereka memperoleh kabar suka dari Allah Ta’ala. Demikianlah, orang-orang yang memiliki keistimewaan inilah yang disebut orang mu’min hakiki (orang beriman yang sebenarnya). Allah Ta’ala berfirman attaa’ibuunialah mereka yang bertobat sedemikian rupa sehingga memenuhi hak taubat; al-‘aabidun, orang-orang yang beribadah sedemikian rupa sehingga mereka memenuhi hak ibadah; al-haamiduun, mereka yang memuji Allah sesuai hak pujian; as-saaihuun, mereka yang bepergian semata-mata di jalan Allah dengan ikhlas, demi untuk kepentingan talim (pengkajian) agamanya; ar-raaki’un, yakni, mereka yang ruku (tunduk) di hadapan Tuhan dengan sempurna dan menyatakan semua kelemahan dan menanggalkan semua ego pribadinya; as-sajiduun, mereka yang biasa bersujud kepada Allah Ta’ala dengan merendahkan diri sampai puncaknya, dengan penyerahan diri dan ketaatan sepenuhnya. Al-aamiruuna bilma’rufi wan-naahuuna anil munkar, yakni mereka pun menjadi dai penyeru kepada amanat Tuhan, menyuruh kepada kebaikan, dan mencegah orang dari perbuatan munkar, baik yang besar dan tampak maupun yang halus. Begitu pula menarik perhatian orang kepada kebaikan yang besar dan tampak maupun memunculkan kebaikan yang halus. Ini [semua sikap akhlak fadhilah tersebut] baru bisa [terjadi] apabila kita sudah dapat melakukan perubahan dalam diri sendiri dengan cara senantiasa mencegah keburukan dan mengajak kepada kebaikan. Orang-orang yang dalam dirinya menciptakan enam sifat istimewa yang dijelaskan dalam ayat ini, yaitu senantiasa memfokuskan diri pada taubat, memfokuskan perhatian pada ibadah, bertawajjuh  (memusatkan perhatian) dalam memuji Allah Ta’ala,  lalu semata-mata untuk memperoleh faedah mempelajari agamanya, mereka pun bepergian; mereka itu pun ruku dan sujud dengan sebaik-baiknya memenuhi hak ruku dan sujud. Maka, sungguh dalam diri mereka itu telah tercipta keindahan (keistimewaan) yaitu berhasil meninggalkan keburukan-keburukan dan dalam setiap perkataan dan perbuatan mereka terlihat jelas memperlihatkan kebaikan-kebaikan. Orang-orang inilah yang mencapai martabat (derajat rohaniah) sebagaimana Allah Ta’ala telah sebutkan dalam ayat itu ‘wal-haafizhuuna lihuduudillaah’ yakni, “Mereka yang menjaga batas-batas Allah.” Mereka termasuk kedalam golongan orang-orang yang telah berhasil menjaga batas-batas hukum (hudud) yang Allah Ta’ala telah tetapkan. Dan Allah Ta’ala memberikan taufik kepada mereka semua untuk mengalami kemajuan dalam hal kebaikan-kebaikan. Bagi saudara-saudara sekalian yang sedang duduk di hadapan saya ini, saya sangat berharap; saya mendoakan, agar saudara-saudara semua dapat menjadi termasuk kedalam golongan orang-orang yang memiliki keistimewaan tersebut [berbagai sifat akhlakul karimah seperti dijelaskan sebelumnya-pent.]. Banyak dari saudara-saudara yang menempuh perjalanan dengan menghadapi berbagai rintangan untuk bisa hadir di tempat ini. Di pagi hari setelah namaaz fajr (shalat shubuh) tadi, saya melihat satu keluarga bahkan lebih dari Eropa daratan yang berkendaraan satu malam penuh menempuh perjalanan panjang untuk bisa sampai kemari. Pada mereka ada anak-anak dan kaum wanitanya. Inilah mereka yang mau bersusah payah bersafar agar dapat mengikuti Jalsah Salanah sejak pembukaan dimulai. Namun demikian, saudara-saudara sekalian sedikit banyak pastinya menempuh suatu perjalanan untuk datang ke Hadiqatul-Mahdi [Hampshire] ini dan hal ini pada pandangan Allah Ta’ala adalah satu keistimewaan dari Jemaat Mu’miniin (orang-orang beriman) yakni mereka mengusahakan atau mengalami suatu perjalanan demi agama dan untuk mempelajari agama. Mereka bertobat kepada Allah Ta’ala (attaa’ibuun); menegakkan standar ibadah kepada Allah (‘aabiduun); senantiasa menaruh perhatian untuk memuji Allah (haamiduun); mereka yang melakukan ruku’ dan sujud dihadirat Allah Ta’ala dengan penuh penyerahan diri dan kerendahan hati (raakiuun) dan (as-saajiduun); kemudian dalam rangka memoles supaya keadaan ketakwaan dan kebaikan bertambah ‘mengkilat’ mereka semua bersusah payah mengadakan perjalanan semata-mata demi Allah.

Mereka yang telah datang kemari [menghadiri Jalsah Salanah] untuk tujuan mulia tersebut dan menjadi tamu Hadhrat Masih Mau’ud as yang meninggalkan urusan dan pengkhidmatan duniawi mereka untuk menambah kemajuan bagi tujuan-tujuan luhur [keenam sifat istimewa] yang telah saya jelaskan sebelumnya. Tidak diragukan lagi bahwa berpondasikan Nizam Jemaat telah ada nizam (sistem koordinasi atau pengaturan) untuk mengkhidmati para tamu atau musafir yang mempunyai tujuan suci ini yang kendati berbagai langkah persiapan telah dilakukan [oleh Panitia] agar dapat melayani seluruh peserta, namun bagi orang yang mengadakan perjalanan semata-mata demi Allah mereka kurang mempedulikan kenyamanan dan keperluan-keperluan duniawi dan mereka lebih banyak berikhtiar untuk mendapatkan lebih banyak faidh (karunia) dari ruh dan tujuan pokok perkumpulan ini. Maka tiap-tiap orang diantara kalian tidak pernah berupaya memasukkan diri kedalam kumpulan orang-orang yang mengadakan perjalanan dan bertamu semata-mata untuk kepentingan duniawi. Jika hal ini terus menerus dipahami maka berbagai kelemahan dan kekurangan tuan rumah tuan-tuan hanya akan menatapnya saja [memaafkannnya, tidak mempersoalkannya]. Bila tidak demikian, kadangkala adapula setengah orang yang mengeluh katanya, “Tempat si fulan lebih baik pengaturannya. Tempat si fulan lebih baik pengaturannya dibanding tempat kami yang tidak mendapatkan perhatian padahal pengaturan panitia harusnya sedemikian rupa dimana setiap tamu mengalami kenyamanan yang sama.” Ya, beberapa tamu non Jemaat, beberapa tamu yang sedemikian rupa dihormati karena menjadi pemimpin dalam kaum (golongan)nya, tentulah perlu mendapat pelayanan yang terpisah dan khusus dan ini jaiz (boleh-boleh saja). [Kendati demikian] panitia sedemikian rupa luas cakupan [upaya]nya supaya kenyamanan dan kemudahan kepada para tamu dapat dipersembahkan. Saya ingin mengatakan kepada para tamu yang menjadi peserta Jalsah apabila mereka senantiasa ingat kepada tujuan utama perjalanan mereka [guna menghadiri Jalsah] dan pada hari-hari Jalsah selalu berupaya untuk meneguhkan dan meningkatkan kebaikan mereka maka sesungguhnya hal itu menjadikan mereka termasuk golongan orang-orang beriman yang mendapatkan kabar suka [dari Allah Ta’ala seperti disebutkan dalam ayat yang ditilawatkan diatas].

Hadhrat Masih Mau’ud as biasa sangat menghormati dan menunjukkan penghargaan besar kepada para tamu yang datang untuk baiat. Kepada mereka beliau as biasa bersabda, “Hendaknya tidak segan untuk menyampaikan keperluan-keperluan tuan.” Akan tetapi untuk tamu Jalsah beliau biasa bersabda, “Hendaknya siapkan makanan yang sama untuk semua tamu. Pengaturan dan pelayanan setiap tamu hendaknya berdasarkan satu intizhaam (pengaturan).” Namun, bersamaan dengan adanya penghormatan [terhadap para tamu] ini dalam keadaan yang umum juga dengan cukup merasuk kedalam hati setiap tamu beliau menekankan, “Tujuan utama saudara-saudara datang kemari adalah untuk mempelajari agama, untuk membersihkan hati dan pikiran, dan untuk memperoleh derajat-derajat kedekatan dengan Allah Ta’ala. Inilah hakekat tujuannya yang guna memperolehnya saudara-saudara setiap tahun menjadi tamu datang kesini dan berkumpul.” Tujuan yang seperti demikianlah para peserta Jalsah menjadi tamu guna mengikuti Jalsah Salanah.

Saya hendak menyampaikan beberapa hal [nasehat] penting bersifat umum kepada para tamu. Bagi seorang mu’min sangat penting untuk menggunakan waktu mereka dengan benar. Pada kesempatan perkumpulan semacam ini, semua yang berkumpul, baik para anggota keluarga maupun kenalan yang datang dari tempat yang jauh-jauh ingin agar satu dengan yang lain dapat bertatap-muka dan berjumpa serta duduk-duduk bersama. Saat ini hasrat kuat untuk bertemu bukan hanya dengan keluarga dan kenalan satu negara namun dengan keluarga dan kenalan dari negara yang berbeda. Dengan karunia Allah Ta’ala, Hadhrat Masih Mau’ud as telah menciptakan suatu Jemaat yang berasal dari berbagai negara dan bangsa, mengakhiri firqah-firqah (kelompok-kelompok) dan sudah membangun suatu ikatan persaudaraan yang besar. Beliau as juga bersabda menjelaskan salah satu tujuan mengikuti acara Jalsah, “Mengupayakan penguatan jalinan persaudaraan Jemaat sehingga mengokohkan orang-orang yang ada di dalamnya. Kita menjadi seperti satu bangsa. Dan untuk itu merupakan suatu kenyataan bahwa diperlukan adanya perjumpaan dalam suatu majelis. Perlu juga saling mengenal lebih dalam dan menjalin hubungan satu dengan yang lain. Akan tetapi hendaknya melewatkan waktu untuk menyimak berbagai acara Jalsah. Dan setelahnya dapat menyediakan waktu untuk itu [berkenalan atau berjumpa kawan dan berbincang-bincang]. Namun demikian, beberapa kali terjadi bahwa setelah berjumpa lalu duduk-duduk berbincang-bincang dalam waktu lama sehingga sedemikian senangnya lalu sampai larut malam terus-menerus bercakap-cakap. Seluruh malam disia-siakan dalam obrolan tersebut. Atau berbincang-bincang di tenda makan memakan waktu sedemikian rupa sehingga terpaksa ada perlu pengaturan untuk mengingatkan waktu-waktu shalat. Keadaannya hingga sampai demikian bahwa keluarga dan kenalann yang ditempatkan di rumah-rumah dikarenakan pertemuan yang berlama-lama juga menyia-nyiakan waktu dan lupa akan tujuan datang ke Jalsah. Jadi, hendaknya selalu mengamalkan sikap i’tidaal (pertengahan, moderat, tidak berlebih-lebihan) dalam setiap pekerjaan karena inilah keistimewaan seorang beriman. Allah Ta’ala dalam Alquranul Karim memberi petunjuk kepada orang-orang beriman tentang undangan makan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimanakah cara mengikutinya dan bagaimanakah hendaknya yang dilakukan setelah menyelesaikan acara undangan tersebut? Dan Dia berfirman mengenai nasehat agar menjauhkan diri dari membuat waktu beliau saw sia-sia. Inilah perintah Allah Ta’ala secara khusus dimana dari satu segi menempatkan martabat dan maqam Hadhrat Nabi saw secara benar dan bagaimana bernilai dan berharganya waktu beliau saw yang dari segi lain kepada kaum mu’min secara umum juga dikenai nasehat ‘laa musta-nisiina lilhadiits’ – “Janganlah menyia-nyiakan waktu untuk duduk-duduk berbincang-bincang!” Tidak ragu lagi silakan berusaha saling berkenalan. Duduk-duduk berbincang-bincang guna menambah kenalan baru. Namun demikian mohon pikirkanlah waktu masing-masing. Terutama orang-orang yang bekerja di sini yang hidupnya penuh kesibukan dan juga datang dari luar dan juga menjadi tamu yang selama beberapa waktu harus [terpaksa] duduk-duduk di pertemuan-pertemuan semacam itu yang jika tidak ikut duduk [karena fokus ke Jalsah] lalu keluarga atau pun teman sejawat mengajukan keluhan atau protesnya. Ini cara yang salah. Hendaknya berhati-hatilah mengenainya.

Hal demikian bukan hanya terjadi pada orang-orang dari luar Eropa namun juga terjadi pada orang Eropa yang beranggapan sebagaimana ia dalam keadaan libur orang lain pun dianggapnya sedang libur. Tidak bisa demikian bahwa anda sekalian memang sedang cuti tapi tidaklah setiap orang itu cuti pula.

Kemudian karena banyaknya orang yang berkumpul di suatu tempat sehingga beberapa kali menimbulkan kesulitan (kemacetan). Pernah terjadi dimana peserta menyatakan keluhannya kepada kepanitiaan [Jalsah] lalu mengeluarkan kata-kata tidak enak kepada seseorang panitia berkaitan dengan kepengurusan hal semacam ini. Panitia pun dalam menanggapinya menambah lagi kata-kata yang juga tidak enak sehingga mulailah rangkaian pembicaraan yang bertambah saling menyerang dalam kata-kata. Rangkaian pembicaraan menjadi panjang bila yang mengeluh atau membicarakan suatu kesalahan adalah orang-orang yang tinggal di sini. Tuhan berfirman mengenai orang beriman yang sejati adalah  وَ الۡکٰظِمِیۡنَ الۡغَیۡظَ ‘wal kaazhimiinal ghaizha’ – “Mereka yang menahan kemarahannya.” (Surah Ali Imran, 3 : 135). Jadi, saya mengatakan kepada pihak yang berbuat salah terhadap hak orang lain dan juga yang haknya dipersalahkan agar masing-masing menjaga kekudusan (kesucian) Jalsah ini suasana sejuk di dalamnya dan para tamu sebaiknya memperhatikan serta memaafkannya. Bila terjadi dorong-mendorong maka seketika itu juga hendaknya perlihatkan kesabaran dan harapan tinggi (positif). Dan para panitia juga hendaknya dapat menjaga (menahan) kemarahannya dengan adanya saling mendorong diantara tamu.

Pada tahun ini, khususnya cards checking (pemeriksaan kartu tanda identitas) dan berbagai upaya [pola] keamanan yang diterapkan boleh jadi membuat kesulitan dan menambah lamanya waktu [memperlambat proses penerimaan dan penempatan tamu]. Saya menerima laporan dari kaum wanita (Lajnah Imaillah) bahwa diinformasikan pintu masuk [menuju tempat Jalsah mereka], dikarenakan banyaknya tas bagasi sehingga memakan waktu.[2] Adalah satu keharusan bahwa mereka membawa tas-tas karena berbagai keperluan anak-anak ada di dalamnya namun hendaknya kaum wanita untuk hari-hari mendatang (jalsah yang akan datang) mengurangi bawaan tas sedikit mungkin. [3] Sebagian dari mereka masing-masing membawa 2 atau 3 tas bagasi. Dikarenakan hal itu maka waktu menjadi sia-sia karena hal yang seperti ini mengakibatkan terjadi pemberhentian (orang-orang) dan karenanya saya pun menunda datang kemari. Namun saya diberitahu bahwa terjadi kemacetan (antrian panjang) sedemikian rupa sehingga sampai-sampai waktu diperlonggar untuk kaum wanita agar mereka masuk ke dalam (Tempat Jalsah untuk Wanita). Sementara kaum pria sedang masuk melalui pintu masuk mereka dengan lancar saat ini. Beberapa orang terpaksa harus berdiri di bawah sinar terik matahari, hal demikian itu menyebabkan kelelahan, atau karena tertunda layanan bagi keluarga yang uzur dan kesehatannya tidak sempurna [cacat dst] lalu untuk pengecekannya menyebabkan antrian terpaksa bertambah panjang bahkan terhenti. Perlu adanya pengaturan semacam ini bahwa memberikan jalan tersendiri dan diusahakan agar jalan longgar bagi orang-orang yang cacat. Namun beberapa kali para peserta yang baru datang yang membawa barang-barang sedemikian rupa memakan waktu di tempat pemeriksaan. Hal tersebut menyebabkan kesulitan bagi orang-orang yang uzur (cacat). Yang karenanya lalu berakibat orang-orang yang perasaannya cepat tersentuh mulai berguman, berbisik-bisik menandakan ketidaksukaannya. Hal-hal seperti ini tentunya dapat membuat munculnya hubungan yang dingin diantara lingkungan masyarakat kita. Maka, memperlihatkan kesabaran dan harapan baik adalah salah satu keistimewaan seorang mu’min.

Hadhrat Rasulullah saw bersabda, ‘Afdhalul fadhaail an tashila man qatha’aka wa tu’thi man mana’aka wa tashfaha man syatamaka’ – Perbuatan yang paling utama dari yang utama adalah anda menegakkan hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan dengan anda, anda memberi kepada orang yang tidak memberi kepada anda, anda memaafkan (mengabaikan) orang yang berkata-kata buruk kepada anda.”[4] Perbuatan lebih mulia bukanlah, “Bila seseorang pada saat diperlukan tidak membantu anda maka anda juga tidak membantunya pada saat dia memerlukan bantuan. Perbuatan yang lebih mulia juga berarti Anda tidak menyakiti orang yang menyakiti anda. ”

Jadi, disini tidak dipersoalkan mengenai kata-kata yang menyakitkan melainkan yang dipertanyakan ialah penunaian kewajiban (pelaksanaan tugas-tugas) yang menjadi tanggungjawab para panitia. Jadi, jika karena kelalaian dari pihak panitia ada kesalahan atau pada saat checking menjadi lama atau ada protes soal kartu identitas yang muncul maka alih-alih mendesak-desak lebih baik memperlihatkan harapan yang tinggi (kesabaran dan positif). Sekarang inilah tiga hal yang disabdakan oleh Hadhrat Nabi saw yang memberi petunjuk agar ada keluasan dan kelapangan dada. Jika tercipta kelapangan dada maka semua ekses buruk dan pertengkaran akan sudah berakhir. Saya berkata, baik kepada para tamu maupun kepada para petugas [Jalsah] merupakan kewajiban mereka berdua masing-masing untuk memperlihatkan kelapangan dada.                                           Di sini saya ingin menyampaikan satu hal kepada petugas checking yang bertugas di pintu-pintu masuk bahwa beberapa yang berumuran masih muda dan anak-anak harapan saya adalah pada waktu Jalsah pada hari-hari itu tidak terjadi hal demikian. Akan tetapi di beberapa tempat terjadi peristiwa seperti itu sehingga diperlihatkan pemandangan yang salah. Peraturan ini memang baru oleh karena itu dengan adanya perkataan saya ini hendaknya diusahakan bahwa di tempat-tempat itu agar ditempatkan mereka-mereka yang serius, sebagian mereka terlihat berkebiasaan tidak serius atau mendapat posisi tugas yang tidak tepat dan setiap waktu digunakannya untuk bercakap-cakap dan bercanda bahkan saat bertugas. Ia menganggap perlu bercanda dalam waktu yang cukup lama dengan panitia kenalannya pada saat mengecek kartu. Ia yang memakai waktunya untuk bercanda hendaknya diganti dengan orang yang lebih serius. Karenanya, hendaknya perlu pengaturan di pintu masuk saat pengecekan dimana ada orang yang serius (dewasa atau matang pemikirannya) atau para naib (panitia) yang menjadi officer juga perlu ada di sana. Keduanya, bercakap-cakap dan bercanda yang membuat waktu menjadi sia-sia juga memakan waktu orang lain yang beru datang sehingga ia menjadi merasa susah, terpaksa menunggu-nunggu. Ada juga datang setengah keluhan menyampaikan mengenai hal-hal yang sedang saya terangkan ini. Sesungguhnya, seluruh tamu datang kemari untuk maksud yang baik. Oleh karena itu, hendaknya berupaya mencapai maksud tersebut.

Hadhrat Masih Mau’ud as Allah Ta’ala memberikan gambaran orang-orang beriman, رُحَمَآءُ  بَیۡنَہُمۡ ‘ruhamaa-u bainahum’ – “Saling mengasihi diantara mereka” (Surah Al-Fath, 48 : 30) bahwa orang-orang beriman memperlakukan satu dengan yang lain diantara mereka dengan sangat mencintai, menyayangi, kelemahlembutan dan kehalusan supaya mereka dapat menjadi orang-orang yang memperoleh karunia dan keridhaan Tuhan dan untuk sampai kepada karunia itu alih-alih (daripada) mempermasalahkan hal-hal kecil mereka berusaha mendapatkan tujuan hidup mereka dengan ruku, sujud dan beribadah. Oleh karena itu, setiap tamu yang datang ke sini hendaknya berupaya menjadikan perjalanan mereka khalishatan lillaah (murni dan ikhlas karena Allah). Seperti yang telah saya saya sampaikan dalam khotbah sebelumnya kepada tuan rumah saya keatakan bahwa tamu yang datang dari luar mengamati para panitia, ‘Bagaimana mengerjakan pekerjaan ini?’ dan setelah menyaksikannya mereka terkesan. Setiap petugas Jalsah [pada hakekatnya] tengah melaksanakan ‘khamusyi tabligh’ – ‘tabligh tanpa-wicara, tabligh diam-diam dengan amal perbuatan’. Demikian pula setiap Ahmadi yang mengikuti Jalsah juga sedang melakukan tabligh Ahmadiyah dengan diam-diam dan adalah duta Ahmadiyah. Setiap tahun kepada saya datang laporan dari sini juga, Jerman dan tempat lainnya juga dan negara-negara lainnya yang dari laporan tersebut diantaranya dapat diketahui bahwa suatu kali seorang tamu ghair Jemaat berkata, “Saya heran, kumpulan orang ini demikian banyak dan tanpa ada kericuhan dan huru-hara dan setiap kegiatan berlangsung dalam keadaan tenang?” Setelah menyaksikan hal ini mereka pun berkata, “Kami baru pertama kali melihat wajah kaum Muslim yang seperti ini.” Sambil melihat-lihat mereka mengatakan lebih banyak lagi [kesan-kesan]nya. Sesungguhnya ini adalah ‘khamusyi tabligh’ – ‘tabligh tanpa-wicara’ yang dilakukan setiap Ahmadi pada hari-hari Jalsah. Jadi, orang-orang yang mengikuti Jalsah di dalam Jalsah bukan hanya melakukan ishlah (perbaikan, pelurusan diri) saja namun menjadi orang yang muncul untuk memperlihatkan jalan lurus untuk banyak orang. Sebagai dampaknya, Allah Ta’ala  memandang para tamu Hadhrat Masih Mau’ud as dengan pandangan yang lebih cinta dibanding sebelumnya yang semata-mata karena Allah Ta’ala mereka memperlihatkan kesabaran, harapan tinggi, tekad yang kuat dan kelapangandada (toleransi) dan memperlihatkan Islam dan contoh tertinggi akhlak Islam. Sebagai dampaknya, sedemikian rupa sehingga membuat tuan-tuan sekalian menjadi pewaris doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud as itu yang mana beliau bersabda sebagai hak orang-orang yang mengikuti Jalsah.

Satu hal yang selalu saya ingatkan kepada para tamu pada setiap Jalsah tiap tahun akan tetapi [sayangnya] sampai pada satu tingkat dimana setelah nasehat diperdengarkan lalu terbang[5]  seolah-olah mereka tidak mendengarnya bahwa berdasarkan koordinasi kepengurusan tamu Jemaat mereka yang datang dari Eropa, Amerika dan negara-negara maju lainnya selain itu yang datang dari Pakistan, Hindustan, Bangladesh dan negara-negara gharib (berkembang, miskin) lainnya supaya jangan tinggal melebihi 2 atau 3 minggu. Sebab, hal demikian menjadikan para panitia Jalsah menjadi kesulitan. Dan Jemaat yang memiliki nizam tersendiri pun juga mendapatkan kesulitan. Hal ini dikarenakan tidak ada tempat penempatan tamu di sini dalam jumlah yang mencukupi guna memudahkan berjalannya seluruh pengaturan dan pengaturan penempatan tamu. Tempat-tempat sementara untuk ditempati para tamu perlu dibangun baik di tempat milik Jemaat, di masjid maupun di rumah-rumah. Di rumah-rumah yang dapat ditempati secara terbatas yang tersedia untuk dipakai tidak dapat dalam jumlah banyak namun tempat-tempat milik Jemaat atau mesjid diijinkan ditempati oleh para tamu untuk waktu yang terbatas tetapi setelahnya lalu petugas pemerintah mulai mengawasi dan membuat kesan positif dalam hal pengaturan penempatan tamu oleh Jemaat, “Orang-orang ini [Jemaat] adalah orang-orang yang taat hukum dan aturan.” Karenanya, bila hukum dan aturan [kerajaan Inggris soal menerima dan menempatkan tamu atau orang asing] tidak ditaati maka akan timbul kesan yang buruk [terhadap Jemaat]. Maka, secara khusus hendaknya hal itu diperhatikan bahwa bila menetap dalam waktu lama agar keluarga atau kenalan tempat menetap sementara itu dalam keadaan rela (senang). Tidak boleh ada tekanan atau pemaksaan [untuk boleh dan lama menginap] di situ. Hadhrat Nabi saw melarang dengan sangat akan hal ini dan menetapkannya sebagai hal yang tidak diperbolehkan bahwa tamu demikian lama bertamu sehingga sampai membuat tuan rumah merasa kesulitan. Maka seorang mu’min yang datang untuk maksud yang baik secara khusus hendaknya mempertimbangkan hal ini. Allah Ta’ala berfirman bahwa masuklah kedalam rumah orang-orang setelah mengucapkan salam. لَا تَدۡخُلُوۡا بُیُوۡتًا ‘Laa tadkhuluu buyuutan’ (Surah an-Nur, 24 : 28)[6] – “janganlah masuk ke rumah-rumah orang lain” حَتّٰی تَسۡتَاۡنِسُوۡا ‘hatta tasta-nisuu’ – “selama belum diijinkan [untuk masuk]”. Sekarang setelah seseorang diijinkan masuk maka serta-merta saat itulah ia menjadi tamu namun kemudian sedemikian rupa lamanya menjadi tamu sehingga panitia atau tuan rumah dibuat susah karenanya. Oleh karena itu supaya tuan rumah atau panitia menjauhkan diri dari pemikiran seperti itu Allah Ta’ala memberikan nasehat tambahan kepada para tamu yang datang, تُسَلِّمُوۡا عَلٰۤی اَہۡلِہَا ‘tusallimuu ‘alaa ahlihaa’ – “Ucapkanlah salam kepada ahlinya (keluarga, tuan rumah)” (Surah An-Nuur, 24 : 28) bahwa berikanlah pesan keselamatan kepada tuan rumah. Sampaikanlah kepada mereka, “Saya sebagai seorang beriman tidak membawa apa-apa untuk tuan-tuan selain kedamaian. Saya bukan seperti tamu-tamu lainnya yang menjadikan munculnya kesulitan-kesulitan bagi tuan rumah. Saya membawa maksud baik, dan setelah menyempurnakan maksud tersebut, dikarenakan saya datang dari jauh terpaksa selama beberapa waktu menetap di tempat tuan, dan saya harus segera pulang setelah selesai menetap sementara di tempat tuan. Hendaknya tuan-tuan tidak perlu susah dan repot dikarenakan penghormatan kalian terhadap saya sebagai tamu. Orang mu’min tentunya adalah orang-orang yang meningkatkan kecintaan dan kasih-sayang setelah memberikan pesan salaam (keselamatan, kedamaian). Jadi, ketika perjalanan saya, perjalanan seorang mu’min dengan maksud untuk agama maka bagaimana mungkin saya menimbulkan kesedihan tuan rumah (menjadikan tuan rumah bersedih karena ucapan dan perilaku saya).”

Satu lagi Allah Ta’ala berfirman, tuan rumah maupun tamu hendaknya saling menyampaikan pesan keselamatan satu dengan yang lain. Dia berfirman,

تَحِیَّۃً مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُبٰرَکَۃً  طَیِّبَۃً ‘tahiyyatan min ‘indillaahi mubaarakatan thayyibatan’ (Surah An-Nuur, 24 : 62) bahwa inilah pesan pokok keselamatan karena ini keberkatan yang besar dan doa yang murni dari Allah Ta’ala. Jadi, ketika tuan rumah dan tetamu satu dengan yang lain saling mengucapkan salam maka saat itu pula mereka terbebas dari rasa cemas dan sesuatu pikiran [negatif] karena keduanya saling mendoakan sedemikian rupa dengan doa yang penuh dengan kemurnian dan keberkatan. Dan doa yang penuh keberkatan dan kemurnian dan juga keselamatan dari sisi Allah Ta’ala maka itu menjadi sarana keberkatan dan kemurnian bagi tuan rumah maupun tetamu.

Jadi, inilah dia lingkungan yang penuh cinta-kasih, inilah dia lingkungan indah yang Tuhan menghendaki agar kita membuatnya demikian. Namun bila kita merusaknya dengan keburukan gambaran diri kita dan untuk kepentingan nafsu (ego) kita sehingga membuatnya sia-sia maka ini merupakan bagian yang buruk yang seorang mu’min tak dapat membayangkannya sehingga membuatnya mahrum (luput) dari keberkatan Allah Ta’ala.            Kita menyaksikan bahwa orang-orang yang hidup bersama Hadhrat Nabi saw senantiasa berupaya membangun suasana harmonis [nyaman, rukun] dan hubungan satu dengan yang lain sedemikian rupa tidak saling menyusahkan dan sedemikian rupa yang menjadi fokus perhatian beliau saw ialah menyebarluaskan tabligh kepada setiap orang guna membawa mereka kearah ketinggian akhlak. Segala tembok keangkuhan palsu, kehormatan palsu, semangat (ketersinggungan) palsu diruntuhkan dan beliau saw membukakan jalan tarbiyat [pendidikan akhlak dan rohani] yang baru. Dan inilah standar yang tinggi dari akhlak yang beliau saw ciptakan dalam diri para sahabat melalui tabiat beliau yang baik dan karena quwwat qudsiyyah beliau saw dan menjadikan mereka salah satu teladan untuk kita.

Sebuah hadits dapat kita temukan mengenai demikian tingginya tarbiyat suci [dari Nabi saw kepada para sahabat beliau saw.] Dalam suatu Hadits yang diriwayatkan dari Abu Mas’ud ra yang mengatakan, “Seorang bernama Abu Syu’aib ra mendatangi pembantunya, Lahham dan berkata, ‘Tolong siapkanlah makanan untuk lima orang karena saya melihat wajah Nabi saw yang mengindikasikan sedang lapar!’ Katanya, maka makanan pun sudah siap lalu ia mengutus pembawa pesan kepada Nabi saw mengundang beliau saw bersama orang-orang yang sedang duduk bersama beliau saw. Tatkala Nabi saw berdiri untuk mendatangi undangan datang seseorang yang tidak bersama mereka saat pesan undangan disampaikan ikut bergabung. Maka ketika Nabi saw sampai ke pintu rumah [pengundang] beliau bersabda kepada pemilik rumah, ‘Sesungguhnya seseorang yang tidak bersama kami saat kami diundang [makan] mengikuti kami [hingga kemari] apabila anda mengizinkan maka ia boleh masuk.’ Ia berkata, ‘Kami telah mengizinkan, silakan masuk!’[7]

Inilah ketinggian akhlak yang hendak beliau saw munculkan dalam diri para sahabat beliau ra dan beliau saw telah menjadikannya demikian tanpa kecuali pada setiap diri mereka yang mendapatkan karunia bergaul dengan beliau saw dengan quwwat qudsiyyah beliau saw. Andaikata beliau saw menghendaki, bisa saja beliau mengatakan kepada orang itu sebelumnya, “Hanya kami yang diundang! Dikarenakan anda tidak dipanggil (diundang) maka janganlah beserta kami menghadiri undangan tersebut” Namun ternyata tidak! [Beliau tidak mengatakan demikian] Beliau adalah ‘Azhim Mudaris’ – “Guru Agung” yang memberikan pelajaran kepada para sahabat beliau saw dengan amal perbuatan beliau saw sendiri. Oleh karena itu, beliau membiarkan orang itu bersama beliau saw dan beliau sungguh yakin, “Orang yang karena demikian cinta kepadaku telah bertambah-tambah cinta sampai-sampai dapat melihat tanda-tanda wajahku [yang sedang lapar lalu menyiapkan makanan serta mengundangku], bagaimana mungkin menolak bila aku menyampaikan permintaan ijin [untuk orang tadi]?”

Namun demikian beliau saw juga hendak memberi ajaran kepada orang yang menyertai beliau saw tersebut bahwa bilamana tuan rumah tidak memberikan ijin kepada orang tersebut maka mau tak mau ia harus pulang tanpa sedikit pun berhak mengajukan protes atau bersungut-sungut karena ia memang bukan undangan yang berhak memasuki rumah pengundang tersebut. Ini semata-mata ihsan (kebaikan) tuan rumah. Oleh karena itu tidak pernah ada kedustaan egoisme (ananiyah,  keakuan) dan kedustaan ghirat macam apa pun pada dirinya.

Para sahabat mendapatkan tarbiyat dan quwwat qudsiyyah dari Hadhrat Rasulullah saw dengan standar tinggi yang sedemikian rupa sehingga ada disebutkan mengenai seorang sahabat yang selalu mencari-cari hal ini, “Saya ingin menyempurnakan perintah tersebut bahwa bila saya bertamu ke rumah seseorang lalu dikatakan, “Pulanglah!” maka saya pun pulang tanpa bersungut-sungut. [sesuai Surah An-Nur, 24 : 29][8]. Namun demikian, di sini pasti muncul suatu pertanyaan bahwa semua sahabat mendapatkan tarbiyat langsung dari tangan Hadhrat Rasulullah saw sendiri. Bagaimana mungkin ada yang tidak menunaikan kewajiban menghormati tamu dengan menyuruh si tamu itu pulang saat ia baru bertamu. Oleh karena itu, sahabat tersebut sedemikian rupa dengan adanya upayanya namun tidak pernah keinginannya menjadi sempurna. [9] Namun dengan adanya itu menjadi nampak sungguh jelasnya mengenai adanya jiwa lapang dada dan keinginan tak kenal lelah memfokuskan diri untuk mengamalkan seluruh perintah [Alquran] dalam diri para sahabat tersebut. Jadi, inilah kelapangandada yang setiap orang dari kita hendaknya menciptakannya dalam diri kita masing-masing dan penampakannya dalam bentuk amalan pun hendaknya selalu ada dalam sepanjang hidup kita.

Mengenai kondisi ini saat saudara-saudara datang untuk menghadiri Jalsah maka terlihat banyak para peserta  yang hanya mengucapkan salam [dan menjawab salam] kepada orang-orang yang mereka temui dan mereka kenal saja walaupun sebenarnya keindahan pokok masyarakat Islam dan juga petunjuk Hadhrat Nabi saw, “Ucapkanlah salam kepada tiap-tiap orang baik engkau kenal maupun tidak kenal!”. Dengan karunia Allah Ta’ala banyak orang yang demikian mengamalkan berdasarkan perintah tersebut dan berkesan bagi mubayyi’in baru yang datang dari luar. Jadi, sabda beliau saw, “Baik engkau kenal maupun tidak ucapkanlah salam kepadanya!” Maka, pada hari-hari ini berikanlah sisi terbaik dari Islam agar nantinya dijadikan kebiasaan tersendiri [sesudah Jalsah selesai]. Hadhrat Nabi saw bersabda bahwa satu segi terbaik dari ajaran Islam adalah engkau menyebarkan salam kepada orang yang kau kenal maupun yang tidak.[10] Dengan syarat ruh dari pada salam, ruh daripada pesan salam dipahami. Salam adalah satu pesan perdamaian, pesan keselamatan. Satu pengungkapan rasa cinta-kasih agar tegak hubungan persaudaran dan kecintaan. Alangkah baiknya bila saat ini sebagian orang yang satu dengan yang lain saling memendam kemarahan lalu dari kedalaman hati yang paling dalam saling memaafkanlah satu sama lain, saling menyampaikan pesan keselamatan dan bersatu-padulah [dalam tali persaudaraan] yang erat sehingga menjadi seorang mu’min yang mendapatkan keberkatan karena melakukan perjalanan semata-mata karena Allah. Hadhrat Masih Mau’ud as dalam pengamalan beliau sendiri saat menjadi tamu terdapat satu hikmah pelajaran. Ini juga satu perkara sedemikian rupa yang bagi orang mu’min harus diperhatikan. Bagi setiap tamu yang sedang bertamu di mana pun juga hendaknya dicamkan dengan baik. Setiap safar seorang nabi adalah untuk Allah bahkan setiap momennya atau menit-menit dalam kehidupannya mengikuti perintah-perintah Tuhan dan semata-mata untuk memperoleh keridhaan Ilahi.

Saya ingin menyampaikan satu peristiwa dari berbagai peristiwa selama perjalanan hidup Hadhrat Masih Mau’ud as yang dari itu dapat diketahui standar tinggi beliau dalam memperlakukan tamu. Hadhrat Syaikh Ya’qub ‘Ali ‘Irfani meriwayatkan, pada kesempatan suatu Jang-e-Muqaddas [Jang-e-Muqaddas adalah sebuah perdebatan besar antara kaum Muslim dengan umat Kristen selama 15 hari di Amritsar pada tahun 1893]. Hadhrat Masih Mau’ud as yang mewakili umat Islam berhasil membuktikan keunggulan Islam dengan berbagai dalil yang kuat. Perdebatan ini dibukukan dan termaktub dalam ‘Ruhani Khazain’. Saat beliau as tinggal sementara di Amritsar untuk melakukan diskusi satu hari dikarenakan membludaknya jumlah tamu yang datang, Panitia sampai terlupa untuk menyuguhkan makan bagi Hadhrat Masih Mau’ud as. Waktu pun telah larut malam. Hadhrat Masih Mau’ud as setelah lama menunggu-nunggu sambil menanyakan perihal makanan maka semua panitia pun menjadi cemas karena suguhan makanan telah habis. Saat mau diusahakan mendapat makanan dari pasar, malam itu pasar pun telah tutup. Kepanikan para panitia ini saat diketahui oleh Hadhrat Masih Mau’ud as karena beliau as dikabarkan soal ini beliau as [justru menenangkan mereka] bersabda, “Tak perlulah tuan-tuan panik dan susah. Coba meja-meja tempat menyuguhkan makanan dilihat. Boleh jadi masih ada sesuatu makanan yang masih tersisa. Cukuplah itu saja!” Mereka pun memeriksa meja-meja tempat menghidangkan makanan (ruang makan) dan menemukan serpihan-serpihan (remah-remah, sisa-sisa) roti. Beliau as bersabda, “Ini sudah cukup!” dan beliau as memakannya. Demikianlah ketinggian (martabat akhlak) pecinta sejati Hadhrat Nabi saw dan Imam zaman ini.

Maka bagi kita yang satu dengan yang lain merupakan orang-orang yang bergabung dalam Jemaat dan yang menyatakan diri anggota dalam Jemaat beliau as hendaknya memperlihatkan kesabaran, harapan tinggi dan rasa syukur. Selama tiga hari hendaknya akhlak terhadap tetamu diterapkan tanpa ada yang terlewat dan maafkanlah [para tamu karenanya]. Boleh-boleh saja [para panitia] menyampaikan hal-hal yang perlu diperhatikan oleh para tamu namun dengan penuh rasa cinta. Hal demikian dikarenakan Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Janganlah menyusahkan para tamu!” Jika tidak ada yang menyampaikan agar memperhatikan mengenai beberapa kekurangan tentunya tidak diketahui bagaimana menyempurnakan hal-hal yang kurang sempurna. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik mendapatkan karunia kepada semuanya dengan adanya keberkatan Jalsah ini.      Akhirnya, saya ingin mengingatkan perihal keamanan bahwa tugas ini bukanlah hanya tugas panitia namun juga tugas seluruh Ahmadi yang mengikuti Jalsah agar mengamati lingkungan sekitarnya untuk menjaga dirinya sendiri dan semua tamu yang mengikuti Jalsah. Bila ada hal-hal apa saja yang menimbulkan prasangka (mencurigakan), segera saat itu pula memberitahukannya kepada petugas (atau panitia). Demikian pula seluruh peserta diharapkan membaca dan mengamalkan petunjuk teknis yang dijelaskan dalam program Jalsah baik mengenai lingkungan dan kebersihan maupun yang lainnya serta lewatkanlah waktu anda dalam do’a-do’a. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik kepada kita semua. [Aamiin]                                                                                

Penerjemah        : Dildaar Ahmad, Kemang-Bogor

Khotbah ke-II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ‑ أُذْكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

AlhamduliLlâhi nahmaduHû wa nasta’înuHû wa nastaghfiruHû wa nu-minu biHî wa natawakkalu ‘alayHi wa na’ûdzubiLlâhi min syurûri anfusinâ wa min sayyi-âti a-’mâlinâ may-yahdihil-Lâhu fa lâ mudhilla lahû, wa may-Yudhlilhû fa lâ hâdiya lah – wa nasyhadu al-lâ ilâha illal-Lôhohu wa nasyhadu annâ muhammadan ‘abduhû wa rosûluHû – ‘ibâdal-Lôh! Rohimakumul-Lôh! Innal-Lôha ya-muru bil‘adli wal-ihsâni wa iytâ-i dzil-qurbâ wa yanhâ ‘anil-fahsyâ-i wal-munkari wal-baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkarûn – udzkurul-Lôha yadzkurkum wad’ûHu Yastajiblakum wa ladzikrul-Lôhi akbar.

“Segala puji bagi Allah Ta’ala. Kami memuji-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya dan kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan-kejahatan nafsu-nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala dan kami bersaksi bahwa Muhammadsaw. itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala! Semoga Allah Ta’ala mengasihi kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh supaya kalian berlaku adil dan ihsan (berbuat baik kepada manusia) dan îtâ-i dzil qurbâ (memenuhi hak kerabat dekat). Dan Dia melarang kalian berbuat fahsyâ (kejahatan yang berhubungan dengan dirimu) dan munkar (kejahatan yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari baghyi (pemberontakan terhadap pemerintah). Dia memberi nasehat supaya kalian mengingat-Nya. Ingatlah Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat kalian. Berdo’alah kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan do’a kalian dan mengingat Allah Ta’ala (dzikir) itu lebih besar (pahalanya).”

 

[1] Semoga Allah yang Mahaluhur menolongnya dengan kekuatan-Nya yang agung)

[2] Selama beberapa waktu masih ada antrian panjang pada beberapa titik pemeriksaan keamanan disebabkan barang-barang bawaan dalam bagasi atau tas harus diperiksa satu per satu oleh panitia terkait. (Redaksi)

[3] Mengurangi tas atau bagasi yang dibawa dan membawa barang-barang yang sangat penting saja. (Redaksi)

[4] Musnad Ahmad, Kitab Musnad al-Makiyyiin

[5] Dalam bahasa Indonesia ada istilah masuk lewat telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri.

[6] Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu masuk ke dalam rumah-rumah, yang bukan rumahmu sendiri, sebelum kamu minta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Hal itu lebih baik bagimu, supaya kamu selalu ingat.  (Surah An-Nur, 24 : 28)

[7] Sunan at-Tirmidzi Kitaabun Nikaah ‘an Rasulillahi shallallahu ‘alaihi wa sallam bab fii man yaji-u ilal waliimah min ghairi da’wah (bab tentang orang yang datang ke walimah tanpa diundang)

[8] Maka jika kamu tidak menemukan seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu memasukinya, sebelum kamu diberi izin. Dan jika dikatakan kepadamu, “Kembali,” maka kembalilah ; yang demikian itu lebih suci bagimu. Dan Allah mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan. (Surah An-Nur, 24 : 29)

[9] Ia bertamu ke banyak rumah sahabat karena ingin ditolak atau disuruh pulang saat bertamu lalu dalam rangka mengamalkan perintah Alquran ia pulang ke rumah tanpa bersungut-sungut. Keinginannya tidak tercapai karena para sahabat selalu menegakkan hak menghormati tamu, Redaksi.

[10] Dari Abdullah bin Amr, bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Islam bagaimanakah yang lebih baik?” Maka beliau menjawab, “Memberi makan dan mengucap salam kepada orang yang engkau kenal dan tidak engkau kenal.” (Shahih Bukhari, Kitabul Iman, bab menyebarkan salam bagian dari Islam)