Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 09 November 2018 (Nubuwwah 1397 Hijriyah Syamsiyah/30 Safar 1440 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Baitul Futuh, Morden UK (Britania raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ.

(آمين)

 
مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنۢبُلَةٖ مِّاْئَةُ حَبَّةٖۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ثُمَّ لَا يُتۡبِعُونَ مَآ أَنفَقُواْ مَنّٗا وَلَآ أَذٗى لَّهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ


وَمَثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمُ ٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِ وَتَثۡبِيتٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ كَمَثَلِ جَنَّةِۢ بِرَبۡوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٞ فَ‍َٔاتَتۡ أُكُلَهَا ضِعۡفَيۡنِ فَإِن لَّمۡ يُصِبۡهَا وَابِلٞ فَطَلّٞۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ
ٱلشَّيۡطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلۡفَقۡرَ وَيَأۡمُرُكُم بِٱلۡفَحۡشَآءِۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغۡفِرَةٗ مِّنۡهُ وَفَضۡلٗاۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ
لَّيۡسَ عَلَيۡكَ هُدَىٰهُمۡ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۗ وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٖ فَلِأَنفُسِكُمۡۚ وَمَا تُنفِقُونَ إِلَّا ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ ٱللَّهِۚ وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٖ يُوَفَّ إِلَيۡكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تُظۡلَمُونَ
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُم بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

Ayat-ayat yang telah saya tilawatkan baru saja adalah dari surat Al Baqarah. Di dalamnya dijelaskan mengenai pengorbanan harta dan di sini Allah Ta’ala menjelaskan berkenaan dengan pengorbanan lebih kurang dalam satu rangkaian. Artinya sebagai berikut: “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Pada ayat berikutnya berfirman: “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (2:263-264)

Pada ayat berikutnya berfirman: “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (2:267)

Pada ayat berikutnya berfirman: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.” (2:270)

Pada ayat berikutnya berfirman: “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (2:274)

Pada ayat berikutnya Dia berfirman: “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (2:276)

Dalam menjelaskan berkenaan dengan pengorbanan harta Hadhrat Masih Mau’ud (as) pada suatu kesempatan telah bersabda, “Hal yang sering saya tekankan yakni belanjakanlah harta di jalan Allah, itu merupakan perintah Allah Ta’ala. Islam menjadi sasaran penentangan agama-agama lainnya dan mereka ingin menghapuskan jejak-jejak keislaman. Ketika kondisi seperti ini, apakah kita tidak akan mengambil langkah untuk kemajuan Islam? Untuk tujuan itulah Allah Ta’ala mendirikan Jemaat ini. Walhasil, berupaya untuk kemajuan Islam merupakan bentuk pengamalan perintah dan kehendak Tuhan.”

Kemudian, beliau (as) bersabda, “Merupakan janji dari Allah ta’ala, ‘Siapa yang berkurban di jalan-Ku, Aku akan memberikan berkat yang berlipat-lipat. Di dunia ini jugalah ia akan mendapatkan banyak berkat. Setelah mati pun ia akan menyaksikan ganjaran di akhirat, dengan demikian betapa menyenangkan dan membahagiakannya.’”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) membicarakan mengenai pengurbanan Jemaat orang-orang mukhlis yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada beliau (as). Mereka mendengar dan menaati seruan beliau (as) lalu memberikan pengorbanan. Beliau (as) bersabda: “Mayoritas anggota Jemaat kita adalah dari kalangan lemah ekonominya, namun puji syukur ke hadirat Tuhan yang mana meskipun mereka lemah, namun saya menyaksikan di dalam diri mereka terdapat ketulusan dan rasa simpati. Mereka memahami keperluan Islam dan sedapat mungkin berkorban harta di jalan-Nya tanpa membeda-bedakan.”

Tidak hanya terbatas pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud (as) saja Allah Ta’ala meningkatkan keikhlasan, kesetiaan dan pengorbanan dalam diri para anggota Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud As, bahkan sesuai dengan janji-Nya, Jemaat yang Allah Ta’ala dirikan lebih kurang sejak 130 tahun lalu dan setelah itu berlalu pun Allah Ta’ala masih menganugerahkan orang-orang mukhlis dalam Jemaat ini yang mengorbankan hartanya demi agama sesuai dengan batas kemampuannya dan bahkan terkadang melebihi kemampuannya. Mereka memenuhi standar dan juga mengambil bagian dari janji yang Allah firmankan di dalam Al Quran.

Dengan karunia Allah Ta’ala pada masa ini standar tersebut hanya dan hanya tampak dalam Jemaat yang Allah Ta’ala dirikan dengan perantaraan Hadhrat Masih Mau’ud (as) ini. Saya akan sampaikan beberapa contohnya pada zaman ini. Kisah-kisah ini terjadi pada orang dari berbagai negeri di seluruh dunia. Mereka memenuhi janji untuk mendahulukan agama diatas dunia dan senantiasa siap untuk mempersembahkan hartanya setiap saat.

Kisah-kisah tersebut diantaranya: yang pertama, Muallim kita dari Kamerun menulis, “Ketika kami pergi untuk misi mengumpulkan candah Tahrik Jadid ke Jemaat Marta di Western Region (wilayah barat), kepala kampung bernama Bpk. Saham Usman mengumpulkan penduduk dan mengumumkan, ‘Saat ini tengah datang Muallim Jemaat dalam misi Tahrik Jadid, diharapkan semuanya dapat ikut ambil bagian dalam pengorbanan harta ini.’

Kepala kampung menuturkan, ‘Sebab, dua atau tiga tahun yang lalu saya sendirian shalat di masjid atau kadang beberapa orang menemani. Namun semenjak berdiri Jemaat Ahmadiyah di kampung ini dan kita telah baiat kedalam Jemaat,  masjid kita dipenuhi jamaah shalat. Terkadang karena masjid tidak mencukupi sehingga sebagian jamaah terpaksa shalat di luar masjid. Perubahan yang signifikan semata mata berkat kedatangan Jemaat Ahmadiyah di desa ini. Untuk itu kita harus ambil bagian dalam setiap gerakan Jemaat ini.’”

Perubahan yang dialami oleh mereka dengan perantaraan Jemaat, meningkat dalam ibadah dan pengorbanan harta merupakan perubahan yang menakjubkan. Hal ini harus menjadi pendorong bagi para Ahmadi lama yang masih kurang memberikan perhatian pada ibadah dan meskipun diberikan kelapangan rezeki namun masih kurang perhatian terhadap pengorbanan harta.

Kemudian, seorang Muallim di Kamerun, Abu Bakr Sahib (Bpk. Abu Bakr) menuliskan laporan, “Ketika kami pergi ke satu Jemaat di ujung selatan Kamerun bernama Madibo, kami pergi ke rumah rumah untuk misi Tahrik Jadid kepada para mubayyiin baru. Seorang Ahmadi bernama Utsman Sahib (Bpk. Utsman) menuturkan, ‘Ketika tim Tahrik Jadid mendatangi kampung sebelum ini, saya berniat untuk membayarkan 10.000 frankcifa dan juga jagung. Beberapa hari kemudian anak saya mengatakan akan pergi untuk melakukan interview di departemen bea cukai dalam misi melamar pekerjaan. Namun untuk itu diperlukan sejumlah uang yang tidak kecil.’”

(Seperti halnya di beberapa negara dunia ketiga lainnya, di sana pun untuk melakukan interview harus membayarkan sejumlah uang kepada pejabat.)

“Utsman Sahib (Bpk. Utsman) menuturkan, ’Saya katakan pada anak saya, “Ayah orang miskin Ayah tidak bisa menyediakan uang sebesar itu. Ayah hanya punya 10.000 frang sifa yang telah ayah janjikan untuk melunasi Tahrik Jadid. Pergilah nak, hadiri interview, Allah Ta’ala akan menolongmu.”’

Bpk. Utsman mengatakan, ‘Lalu, saya bayarkan uang itu untuk Tahrik Jadid. Beberapa hari kemudian anak saya menelepon dari kota menyampaikan bahwa ia lulus dalam interview dan segera akan mendapatkan pekerjaan.’”

Dalam hal ini Allah Ta’ala telah mencondongkan hati pejabat di departemen itu, dimana banyak orang yang meskipun membayar sejumlah uang namun tetap tidak mendapatkan pekerjaan, tapi lain halnya anak tersebut, yang mana disebabkan oleh doa-doa, niatan baik dan pengorbanan, Allah Ta’ala mengaturkan baginya sehingga mendapatkan pekerjaan.

Kemudian, Bpk. Amir Gambia menulis, “Kami telah mengadakan suatu acara di sebuah kampung di kabupaten Niyami. Di dalam acara itu kami sampaikan bahwa Huzur telah bersabda agar segenap mubayyiin baru ambil bagian dalam gerakan ini, lalu semua orang yang hadir di sana saat itu membayar candah.”

Seorang anggota LI bernama Ibu Kajawae menuturkan bahwa ketika acara berlangsung beliau membayar candah sebesar 20 dalasi karena itulah yang beliau miliki saat itu yang sengaja beliau simpan untuk masa masa sulit. Ketika sampai di rumah, seorang tamu menghadiahkan kepada beliau 500 dalasi. Pada esok paginya beliau datang ke masjid untuk menambahkan 50 dalasi sebagai candah lalu berkata, “Hadiah uang yang saya dapatkan ini semata-mata hanya keberkatan candah.”

Janji bahwa Allah Ta’ala akan mengembalikan pun menjadi sarana untuk meningkatnya keimanan dan keyakinan beliau. Meskipun beliau berkurban tidak didasari niat Allah Ta’ala akan segera mengembalikan uang candah itu atau akan segera mendapatkannya, namun Allah Ta’ala pun tidak menunggak hutang.

Kemudian, Muballigh Region Bonego, Benin menulis, “Becak motor yang menjadi sarana untuk mencari nafkah bagi sekretaris maal Jemaat di kota ini hilang dicuri. Sesuatu barang yang hilang di Afrika lazimnya sulit untuk dapat ditemukan kembali. Ketika kawan beliau datang menjumpai beliau, merasa sedih ketika mendengar kabar kehilangan yang beliau alami.

Ahmadi itu mengatakan, ‘Lihat saya besok, kita serahkan sepenuhnya pada Allah Ta’ala, karena saya orang miskin yang biasa mengayuh becak motor itu untuk menafkahi keluarga dan saya pun biasa membayar candah pada waktunya, mungkin saja orang ada orang lain yang lebih memerlukan becak itu daripada saya sehingga Allah Ta’ala memberikan untuk sementara kepada orang itu demi memenuhi kebutuhannya lalu mengembalikan lagi becak itu kepada saya.’

Mendengar hal itu, orang-orang beranggapan mungkin beliau mengalami kesedihan yang dalam karena musibah ini sehingga mental beliau sedikit terganggu. Sebagai bentuk ketaatan pada peraturan, beliau melaporkan hal ini kepada polisi lalu pulang ke rumah.

Dua minggu berlalu, tetangga beliau yang berprofesi sebagai penarik becak motor juga menelepon Ahmadi yang kehilangan itu, mengatakan bahwa beliau melihat becak motor yang hilang itu, namun warnanya telah diubah. Lalu dilaporkan kepada polisi.

Polisi memerintahkan kedua orang yang mengaku sebagai pemilik untuk datang ke kantor polisi dengan membawa dokumen kendaraan. Setelah dicek ternyata dokumen pemilik kedua adalah palsu. Polisi memerintahkan kepada orang itu untuk memperbaiki dan merubah lagi warna motor seperti semula lalu mengembalikannya kepada pemilik sebenarnya. Singkat kata becak motor itu kembali ke tangan beliau. Ahmadi tersebut segera datang ke rumah misi dengan membawa becak motor tersebut dan menceritakan semuanya dan juga mengatakan bahwa beliau masih memiliki tunggakan Tahrik Jadid.

Beliau mengatakan, ‘Saya akan pergi mencari nafkah dulu dan nanti keuntungan yang saya dapatkan pada minggu ini akan saya bayarkan untuk candah, karena berkat candah lah saya mendapatkan kembali becak motor saya.’

Dalam minggu itu beliau mendapatkan uang 12.000 francsifa lalu membayarkannya untuk melunasi Tahrik Jadid.”

Ini pun merupakan contoh yang menakjubkan atas ketawakkalan dan keimanan kepada Allah Ta’ala.

Inspektur Tahrik Jadid di India, Bpk. Syihab menulis: “Seorang anggota LI (Lajnah Imaillah) dari Jemaat Cintagutna bernama Sufiyah Begum mengirim pesan melalui saudaranya, menceritakan, ‘Ketika saya masih kecil, saya selalu pergi ke jalsah-jalsah bersama ibu saya dan mendengarkan ceramah-ceramah ulama Jemaat. Ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) meletakkan pondasi Tahrik Jadid dan mencanangkan pengorbanan harta untuk gerakan tersebut, pada saat itu banyak sekali wanita Ahmadi yang mempersembahkan perhiasannya kepada Hudhur.

Ketika mendengar kisah-kisah tersebut, timbul keinginan didalam hati saya andai saya memiliki perhiasan, saya akan mempersembahkannya untuk Tahrik Jadid. Namun karena lemahnya ekonomi, sehingga tidak mungkin untuk mewujudkan keinginan tersebut. Namun saya mendapatkan warisan paska kewafatan ibu, berupa emas seberat dua tola (22,66 gram). Saya ingin menyumbangkan emas itu karena saya tidak yakin apakah di masa yang akan datang saya akan punya emas lagi atau tidak.’

Keluarga wanita itu, petugas Tahrik Jadid dan orang-orang juga menasihati beliau dengan mengatakan, ‘Anda akan menikah nantinya, untuk itu pasti memerlukan emas pada saat itu.’ Namun LI itu tetap ingin memberikannya. Saat itu beliau memberikan 2 tola emas untuk Tahrik Jadid.”

Pada jumat lalu pun saya telah sampaikan hal ini di Amerika dan sering saya katakan bahwa orang-orang miskin memberikan pengorbanan harta dengan penuh kecintaan. Namun para Ahmadi yang memeiliki kelapangan harta, hendaknya melihat kondisi diri, apakah mereka tengah melakukan pengorbanan sesuai dengan standar yang Allah Ta’ala harapkan? Jika demikian, maka Allah pun akan menerimanya.

Inspektur untuk Tahrik Jadid di Karnataka, India, menulis: “Seorang Ahmadi telah menyampaikan perjanjian Tahrik Jadid sebesar 2.500 rupee. Ketika orang ini diminta untuk melunasinya, karena tahun perjanjian akan segera berakhir dalam beberapa hari, dia berkata, ‘Saya tidak dapat bekerja sejak tiga bulan terakhir karena hujan sehingga tidak ada harapan untuk mendapatkan penghasilan.’

Saya berkata kepadanya supaya berniat melunasinya dan berdoa kepada Allah Ta’ala. Setelah mengatakan ini, saya pergi ke tempat lain. Pada sore hari ketika saya kembali setelah kunjungan saya yang lain, orang tersebut dating lagi ke rumah misi untuk melunasi candahnya. Saya bertanya bagaimana ini terjadi begitu cepat.

Dia menyatakan, ‘Ini adalah berkat memiliki niat untuk melunasi candah dan juga berkat rahmat Allah SWT dan doa. Seseorang harus membayar sejumlah uang kepada saya sejak beberapa waktu padahal saya telah mengingatkannya selama beberapa bulan terakhir tetapi dia tidak bisa melunasinya. Namun, hari ini dia datang ke rumah saya dan mengembalikan (melunasi) semua uang saya.’

Bpk. Musa, seorang Muallim dari Tanzania menulis: “Ada seorang Ahmadi yang sangat tulus di Jemaat Darusalam dan dia saat ini berkhidmat di kantor Jamaat juga. Setiap tahun, ia selalu berupaya untuk melunasi janji Tahrik Jadid dan Waqfe Jadid sebelum Ramadhan atas nama dirinya dan keluarganya, tetapi tahun ini beliau tidak dapat melunasinya karena keadaan keluarga yang tidak memungkinkan. Dia sangat prihatin karena ini. Bagaimanapun juga, dia berdoa semoga Allah Ta’ala menciptakan jalan baginya. Dia memutuskan akan menggunakan uang THR dari Jemaat pada kesempatan Idul Fitri nanti. (THR Ini diberikan kepada semua karyawan Jemaat). Jadi dia memutuskan akan menggunakan uang ini untuk melunasi candah bukan untuk memenuhi kebutuhannya dalam Idul Fitri. Tetapi setelah dihitung-hitung ia menyadari bahwa bahkan meskipun seluruh uang THR dibayarkan untuk candah, masih tetap tersisa tunggakannya. Lalu dia berdoa lagi kepada Allah Ta’ala dan memohon kepada-Nya untuk memberikan jalan baginya supaya dapat melunasi seluruh jumlah yang telah dia janjikan. Ia mengatakan bahwa jumlah uang THR yang diterima kali ini lebih dari yang biasa diterima sehingga ia memenuhi dapat melunasi seluruh tunggakan perjanjiannya.”

Bpk. Ridhawi, seorang muballig di Moskwa (Rusia) menulis, ”Bpk. Adam, seorang mubayyin baru, berasal dari kota Buryatiya yang jauh dan terbelakang. Dia memiliki kesempatan untuk baiat pada tahun 2017. Tahun ini dia mengunjungi Moskow selama seminggu untuk bertemu dengan saudara-saudara Ahmadi di sini dan mendapatkan manfaat talim dan tarbiyat. Dia berasal dari keluarga miskin dan kadang-kadang mengalami kondisi keuangan yang sangat lemah.

Selama berada di Moskwa, suatu malam setelah shalat Isya, dia diberi tahu secara terperinci tentang sistem keuangan Jamaat dan berkat-berkat pengorbanan harta dan dia dihimbau untuk dapat berkorban. Mengingat ada keterbatasan dan lemahnya kondisi keuangan beliau, sehingga jika beliau mampu berkorban 50 rubel saja sudah luar biasa. Keesokan harinya setelah shalat subuh, beliau membayar candah Tahrik Jadid sebesar 2.000 Rubel dan Waqfi Jadid. Dia mengatakan, ‘Terimalah candah saya ini dan juga terus mengungkapkan penyesalan kenapa sebelum ini saya tidak membayar candah padahal telah baiat lebih dari setahun yang lalu.’”

Pak Muballigh itu menulis, “Jika mempertimbangkan kondisi beliau, ini merupakan pencapaian besar.”

Demikianlah standar pengorbanan dan ini adalah orang-orang yang mengenainya Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah menyatakan: “Sangat mengherankan untuk melihat ketulusan dan kesetiaan mereka.”

Seorang Muballig lain dari Moskow menulis, ”Ada seorang anggota Jemaat Moskow yang telah bekerja dalam berbagai bidang pekerjaan di kota. Di tempat ia bekerja, dia berkata: ‘Selama wawancara, para majikan memberitahu saya bahwa gaji di sini tidak meningkat dan bahkan di masa depan akan tetap pada jumlah yang sama. Oleh karena itu, bersabarlah! Jika mau menerima tawaran ini, silahkan dan jika tidak, silahkan. ‘

Saya menerima tawaran itu. Setelah beberapa waktu berlalu anggota Jemaat dihimbau untuk membayar candah Tahrik Jadid dan Waqfi Jadid. Saya mulai berpartisipasi di dalamnya secara teratur. Setelah beberapa waktu berlalu, administrasi perusahaan ini memanggil saya masuk dan tanpa alasan yang jelas, mereka meningkatkan gaji saya yang sebelumnya 5.000 Rubel ditambahkan 5000 Rubel lagi. Kemudian setelah waktu berlalu, mereka memanggil saya lagi dan meningkatkan gaji saya lagi sebesar 2000 Rubel. Pada saat itu, saya yakin bahwa ini merupakan buah keberkatan dari pengorbanan harta di jalan Allah Ta’ala tanpa ada alasan duniawi.

Ketika saya mencoba untuk menjelaskan hal ini kepada seorang non-Ahmadi, mereka tidak dapat mencerna kejadian tersebut. Namun orang yang telah menerima Imam Mahdi (as) dapat benar-benar memahami bagaimana dengan Rahmat Allah Ta’ala, Ia memberkati tanpa sarana duniawi.’”

Muballig wilayah Alada di Benin menulis, “Di Jemaat Fanji di kawasan itu, di mana dengan karunia Allah Ta’ala sebuah mesjid juga telah dibangun, ketua Jemaat setempat, seorang pandai besi, dihimbau untuk berpartisipasi dengan sepenuh hati dalam pengorbanan Tahrik Jadid. Memang, ia telah berjanji untuk meningkatkan pengorbanannya, tetapi mengatakan bahwa karena tidak memiliki pekerjaan pada saat itu, ia belum memiliki uang.

Setelah itu, Pak ketua tersebut menelepon, mengatakan ingin membayar 10.000 Franc CFA dan meminta kwitansi tanda terima. Dia berkata, ‘Setelah berjanji untuk Tahrik Jadid, begitu besar karunia yang turun kepada saya yang mana saya mendapatkan pekerjaan dan sekarang saya datang untuk membayar candah sebesar 10.000 Franc CFA.’

Setelah itu, dia menelepon lagi setelah 15 hari mengatakan bahwa begitu besarnya keberkatan yang turun pada beliau sehingga dia tidak tahu apakah dia akan mampu menyelesaikan semua pekerjaan yang telah dia terima ataukah tidak. Dia menerima proyek pekerjaan yang sangat banyak dan ini semata-mata merupakan buah dari pengorbanan harta di jalan Allah Ta’ala.”

Seolah-olah Di sini Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan berkali lipat sesuai dengan janji-Nya, dan melakukannya dengan segera.

Muballig Jemaat Segho Region di Mali menulis suatu hari seorang wanita tuna netra mengirimkan uang candah dan juga mengirim pesan bahwa mulai hari ini beliau akan mengirimkan candahnya ke rumah misi. Ditanyakan alasannya kepada beliau, beliau menjawab, “Allah Ta’ala sendiri mengingatkan sebagian orang untuk melakukan pengorbanan, supaya dapat menganugerahkan lebih banyak lagi. Dua hari lalu saya melihat mimpi, saya tengah tidur dalam mimpi itu lalu Hadhrat Masih Mau’ud membangunkan saya dan menasihatkan saya untuk membayar candah. Lalu dalam mimpi itu saya terbangun dan pergi ke rumah misi untuk membayarkan 5000 sifa. Setelah itu terbukalah mata saya.”

Muballig Burkina Faso, Bpk. Mubarak Munir menulis, “Ada seorang Ahmadi mukhlis dari Jemaat lokal Begu bernama Haji Ibrahim memiliki dua anak yang tengah sakit sudah sejak lama. Telah dilakukan Pengobatan yang cukup namun masih belum menampakan hasil. Suatu ketika Muallim Sahib menghimbau beliau untuk melakukan pengurbanan harta, lalu sesuai dengan kemampuan beliau membayar candah dan berdoa, ‘Ya Tuhan, terimalah pengorbananku dan berikanlah kesembuhan segera kepada anakku.’

Beberapa hari kemudian, dengan karunia Allah ta’ala, kesehatan anak-anaknya semakin baik, salah seorang diantaranya benar benar telah sehat sedangkan pada anak kedua sudah cukup membaik. Melihat demikian beliau yakin bahwa Allah ta’ala menerima pengorbanan tersebut dan menurunkan keberkatan-Nya.”

Sekertaris Al Wasiyat Jemaat kota Bobo Burkina Faso menuturkan: Sebelum ini saya membayar candah Al Wasiyat setiap bulan, namun untuk Tahrik Jadid dan Waqfi Jadid terkadang lambat pembayarannya. Ketika saya mendengarkan khutbah Khalifah, terpikir oleh saya untuk melunasi seluruh candah sebelum berakhir tahun perjanjian. Setelah melunasi candah, saya melihat mimpi ada seorang pria yang berpakaian serba putih tengah memberikan sebuah kunci kepada saya. Saat itu saya tidak faham dengan mimpi tersebut, namun beberapa hari kemudian saya mendapatkan pesan dari saudara saya yang meminta saya untuk bersiap siap naik haji yang mana seluruh biaya akan ia tanggung.”

Demikianlah bagaimana setelah melakukan pengorbanan harta, Allah Ta’ala memberikan kemuliaan untuk dapat pergi naik haji.

Sekretaris Tahrik Jadid Jerman menulis, “Ada seorang Ahmadi dari Jemaat Koln yang meningkatkan perjanjian Tahrik Jadid nya sebesar 900 euro. Ahmadi ini menuturkan, ‘Sehari setelah saya menulis perjanjian Tahrik Jadid, esoknya saya pergi ke peternakan dan pemilik peternakan mengatakan telah meningkatkan gaji saya 100 euro. Jika ditotal dari Februari sampai Oktober totalnya 900 euro lebih. Saya memang yakin Allah Ta’ala akan mengaturnya, namun saya tidak menyangka Allah Ta’ala tidak akan membiarkan tenggangnya lebih dari 24 jam untuk mengaturnya.”

Sekretaris Tahrik Jadid Jerman menulis bahwa seorang Ahmadi mendapatkan kesulitan ketika menghadapi kasus suaka. Kepada beliau dihimbau untuk melakukan pengorbanan Tahrik Jadid. Beberapa hari kemudian saya berjumpa dengan Ahmadi tersebut. Ia mengabarkan, “Anda telah menasihatkan saya untuk membayar Tahrik Jadid, lalu saya berjanji 100 euro. Saat itu saya hanya punya 20 euro. Saat itu saya langsung serahkan 20 euro lalu pulang ke rumah. Ketika di rumah saya mendapat telepon dari tempat saya bekerja dulu yang mengatakan bahwa masih ada kelebihan uang yang merupakan hak kamu, datang dan ambillah kemari. Saya kira sekitar 300, 400 euro. Namun tanpa menghitung lagi, saya langsung masukkan semua uang itu kedalam saku saya. Pertama tama saya langsung melunasi tunggakan Tahrik Jadid sebesar 80 euro, lalu membelanjakannya untuk keperluan lain juga. Setelah itu masih tersisa sejumlah uang. Ketika saya jumlahkan baru diketahui ternyata saya mendapatkan 1000 euro. Saya telah berjanji 100 euro, namun Allah Ta’ala membalasnya dengan sepuluh kali lipat. Sebelum ini saya sering mendengar kisah seperti tu dan saya pun berfikir bahwa memang benar Allah ta’ala memperlakukan demikian kepada para hamba-Nya. Bahkan saya sendiri telah mengalaminya.”

Muballig Ivory Coast menulis, “Kami pergi untuk misi Tahrik Jadid di suatu tempat yang mayoritas adalah mubayyiin baru yang baiat sekitar setahun yang lalu. Kepada penduduk kampung tersebut disampaikan ceramah mengenai keutamaan Tahrik Jadid, tujuannya dan lebih lanjut disampaikan juga bahwa Khalifah meminta supaya semua Ahmadi dapat ambil bagian dalam gerakan ini.

Pada esok harinya bada shalat subuh, para anggota mulai membayar candah sesuai kemampuan, begitu pun Imam Masjid ikut serta dan membayarkan juga atas nama keluarganya. Kemudian, ada anak berumur 6 tahun meminta uang 100 franc dari ayahnya dan mengatakan: Ini candah saya.

Kami sangat terharu melihat perbuatan anak kecil ini, meskipun masih kecil, namun memiliki kecintaan yang dalam untuk berkorban harta. Semoga Allah Ta’ala menerima pengorbanan para mubayyiin baru itu dan menganugerahkan kebaikan agama dan dunia. Amin.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) pernah menyampaikan, suatu ketika seorang Maulwi menghimbau jamaahnya untuk berkorban harta. Dalam acara tersebut hadir juga istrinya. Setelah mendengar ceramah sang suami, istrinya terkesan lalu pulang ke rumah untuk mengambil perhiasannya untuk gerakan pengorbanan tersebut. Pak Maulwi berkata: Himbauan tadi adalah untuk orang lain, bukan untuk kamu, kamu tidak usah berkorban. Namun bagaimana Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang baru baiat, Maulwinya (pemukanya) sendiri ikut berkorban dengan penuh kecintaan begitu juga anaknya.

Seorang anggota LI dari Indonesia bernama Sofiyah Sahibah (Ibu Sofiyah) menulis, Saya adalah seorang mualaf, awalnya saya beragama Kristen Protestan dan saya baiat pada tahun 2014 setelah baiat, saya dimusuhi oleh keluarga-keluarga saya yang beragama Kristen Protestan, dicaci maki, dihina, bahkan saya tidak dianggap lagi keluarga oleh mereka. Namun, meskipun demikian saya merasakan kasih sayang dari semua anggota Jemaat Ahmadiyah yang ada di cabang kami. Saya pun menikah dengan seorang Ahmadi.

Beberapa bulan kemudian, suami saya mengalami kecelakaan kendaraan roda yang mengakibatkan patah tulang kaki sebelah kiri. Sementara saya sendiri tengah hamil 4 bulan. Saat itu dimulai bulan awal perjanjian Tahrik Jadid. Saya bertanya kepada suami, berapa jumlah perjanjian pengorbanan Tahrik Jadid kita untuk tahun ini? Dengan lantang suami menjawab, “Rp. 500.000 saja, kan tahun depan dapat kerja”.

Nilai mata uang Indonesia sangat lemah, namun bagi penduduk lokal di sana jumlah itu cukup besar.

Saat itu saya kaget dan ada kekhawatiran juga, karena kondisi suami saya belum bisa berjalan dengan normal bahkan masih menggunakan 2 tongkat untuk membantu berjalan.

Seiring berjalannya waktu, tidak terasa sudah sampai pada, bulan dimana pelunasan perjanjian Tahrik Jadid. Kekhawatiran pun muncul kembali karena suami saya belum bekerja. Namun, Alhamdulillah pada tanggal 08 Oktober 2016 suami saya kembali dipanggil bekerja di salah satu perusahaan swasta, dan Alhamdulillah kami sekeluarga bisa melunasi perjanjian Tahrik Jadid.”

Kemudian, seorang Ahmadi lain dari Indonesia, Bpk. Gunawan Wardi menulis, “Pada bulan Ramadhan yang lalu, kami mendapatkan satu kesulitan, ayah mertua saya masuk Rumah Sakit karena komplikasi yang cukup serius sehingga beliau dirawat lebih dari satu bulan. Begitu rupa payahnya keadaan beliau sampai 2 x masuk ICU dan hanya sedikit harapan utk bisa hidup.

Teringat dengan khotbah Khalifah mengenai keberkatan Tahrik Jadid. Kami pun memutuskan secara berjamaah – seluruh anggota keluarga untuk melunasi perjanjian Tahrik Jadid di bulan tersebut.”

(Mereka melakukannya betul-betul dan mengirimkan surat kepada saya (Hudhur) untuk meminta didoakan.)

“Alhamdulillah – Alloh Ta’ala menganugerahkan karunia kesehatannya. Hanya beberapa hari setelah Iedul Fitri ayah mertua kami diperbolehkan pulang ke rumah. Dan para tetangga pun keheranan, bagaimana ini bisa terjadi, padahal tidak hanya kami, mereka pun sudah mengira orang tua kami akan berlalu dengan sakit tersebut.”

Ketua Jemaat Birmingham Central, UK menulis, “Kami masih kekurangan 1500 pound dari target Tahrik Jadid, waktu tersisa beberapa jam lagi. Ketika akan berakhir disampaikan kepada beberapa orang, maka ada anggota yang telah memberikan 2400 pound sebelumnya, mengatakan akan melunasi sisa 1500 pound itu. Saat itu anggota tersebut ada di luar negeri lalu melunasinya dengan cara online.

Beliau menuturkan pada hari membayarkan 1500 pound itu, maka hari berikutnya beliau mendapatkan kembali 6000 pound dari departemen pajak. Yang mana Allah Ta’ala segera mengembalikannya 4 kali lipat.”

Bagaimana pengorbanan orang-orang yang miskin dan bagaimana Allah Ta’ala memberikan perlakukan yang menakjubkan. Berkenaan dengan itu Muallim Burundi menuliskan, “Pada tahun lalu saya berkunjung ke Jemaat baru bernama Ghangga. Di sana kami menjelaskan keutamaan candah kepada seorang mubayyin baru yang bernama Bpk. Masudi dan dihimbau juga kepada beliau untuk ambil bagian. Bpk. Masudi mengatakan, ‘Saat ini saya tidak punya apa-apa, namun di rumah saya ada pohon yang berbuah, saya akan menjual buahnya lalu membayarkannya untuk candah.’

Pengorbanan yang biasa tampak pada zaman dulu, saat ini tampak juga kepada kita permisalannya.

Lalu dalam waktu satu dua hari menjual buahnya senilai 1000 franc Burundi dan membyarkan seluruh uang yang didapat itu. Setelah itu beliau katakan bahwa uang yang beliau bayarkan untuk candah dari menjual buah telah membuuahkan keberkatan yang banyak yang dibanding sebelumnya pohon tersebut memberikan buah yang berlipat banyaknya dan menghasilkan uang sebesar 40.000 sampai 45.000 franc Burundi.”

Seorang Bpk. Muallim di Kongo Brazaville menulis bahwa ada seorang kawan yang anaknya tengah sakit sejak lama. Ketika ada yang datang kepada beliau untuk menagih candah, beliau melunasinya dan berdoa, “Ya Tuhan sembuhkanlah anak ini berkat candah.”

Orang itu menceritakan, “Beberapa hari kemudian, anak saya membaik. Saya pun merasa heran bagaimana Tuhan kita mengabulkan doa dan mengabulkan pengorbanan kita yang tiada artinya ini.”

Sekertaris Tahrik Jadid Lajnah Kanada menulis bahwa seorang anggota LI menuturkan, “Suami saya menulis perjanjian Tahrik Jadid sebesar 1000 dollar, namun dia tidak bekerja sudah cukup lama, sehingga tidak dapat melunasinya. Tinggal seminggu tersisa untuk genap satu tahun perjanjian, datanglah sekretaris Maal ke rumah kami untuk menagih candah. Suami beliau pergi kedalam dan mengatakan kepada saya itu, ‘Saya tidak punya uang saat ini, apa yang bisa kita lakukan?’

Saya mengatakan, ‘Kita tidak bisa membiarkan beliau pulang dengan tangan kosong.’

Saat itu saya memiliki tabungan 1000 dollar yang langsung dibayarkan untuk Tahrik Jadid. Merupakan keberkatan candah sehingga suami saya mendapatkan pekerjaan pada minggu itu juga yang menjanjikan gajih 7000 dollar per bulan.”

Muballig Ivory Coast (Pantai Gading) menulis, “Di San Pedro ada seorang anak athfal yang baru berumur 14 tahun. Ayahnya menceritakan: Pada hari minggu saya perintahkan anak saya untuk melakukan satu pekerjaan di rumah. Dia menjawab: di kepengurusan athfalul Ahmadiyah saya ditugaskan sebagai juru pungut candah dan sampai saat ini saya belum melunasi candah saya. Karena pada hari biasa saya harus sekolah, untuk itu saya ingin pergi ke sawah seseorang untuk bekerja, supaya dengan uang yang saya dapatkan nanti saya bisa melunasi candah saya yang tertunggak. Mendengar itu sang ayah mengatakan: saya akan lunasi candah kamu atas namamu. Kemudian anak itu menjawab: Pak muballig mengatakan bahwa anak anak harus berusaha untuk melunasi candahnya dari uang sakunya sendiri. Namun saat ini saya tidak dapat melunasinya dari uang saku saya, untuk itu saya berniat untuk berburuh tani hari ini supaya saya dapat melunasi candah dengan uang yg saya dapatkan nanti. Lalu ia bekerja dan melunasi candah itu dari uang tersebut. Seperti itulah pemikiran anak-anak yang tinggal jauh di pelosok sana, diantara mubayyiin baru yang telah Allah ciptakan.

Sekertaris Tahrik Jadid Jerman menulis laporan bahwa ada seorang anggota LI dari Jemaat Keel mengabarkan, “Ibu saya adalah seorang guru di Pakistan. Beliau selalu terdepan dalam pengorbanan. Biasanya ketika Hari raya Eid, anak anak biasanya mendapatkan pakaian baru, namun ibu saya selalu berusaha untuk melunasi Tahrik Jadid pada bulan Ramadhan supaya masuk kepada daftar yang didoakan. Beliau pun sering melunasinya dengan meminjam hutang dan setelah itu berusaha untuk melunasi hutangnya.

Ketika dicanangkan pengorbanan untuk masjid Basharat Spanyol, beliau mempersembahkan anting satu satunya untuk gerakan pengorbanan tersebut yang mana hal itu menyebabkan beliau harus mendengar kemarahan mertua. Saat itu saya masih kecil dan berfikir bahwa cara-cara yang dilakukan oleh ibu dengan menyusahkan diri sendiri adalah tidak baik. Itulah keyakinan yang ada dalam benak saya waktu itu.

Tahun lalu ketika dicanangkan Tahrik Jadid, saya berfikir bahwa saya tidak akan seperti ibu saya yang menyerahkan semuanya demi pengorbanan. Lalu saya seolah-olah menampakkan kecermatan dengan berjanji untuk Tahrik Jadid sebesar 30 atau 35 euro. Bagaimana cara Tuhan dalam hal ini, beberapa lama kemudian muncul benjolan pada leher saya yang membuat saya sangat khawatir. Dokter menyarankan untuk operasi. Saat itu saya sudah tidak menyukai perhiasan saya tidak juga pakaian.

Suatu ketika saya mendengar khutbah huzur yang mana didalamnya Huzur menjelaskan pengorbanan yang dilakukan oleh para wanita. Setelah mendengar khutbah Huzur itu terpikir oleh saya lalu saya serahkan semua perhiasan saya untuk gerakan Tahrik Jadid. Saya hitung jumlah harga perhiasan itu lalu membayarkannya. Setelah itu saya pergi lagi ke dokter dan dokter mengatakan benjolan ini sudah membaik. Allah ta’ala telah membebaskan saya dari ketakutan itu dan saya faham bahwa Allah Ta’ala telah menghukum saya karena ketakabburan saya tadi. Saat ini buruk sangka seperti itu sudah hilang dalam benak saya. Suami saya disebabkan bekerja di sebuah hotel tertentu sehingga candahnya tidak diterima pengurus. Saya berdoa jika Allah Ta’ala memberikan mata pencaharian yang baik kepada suami saya, maka saya akan membayar Tahrik Jadid sebesar 500 euro. Kemudian Allah Ta’ala memberikan pekerjaan yang baik kepada suami saya dalam corak mukjizat. Sekarang suami istri dawam membayar candah.”

Sekretaris Tahrik Jadid lajnah Imaillah di Lahore menulis bahwa ada seorang Ahmadi dari Jemaat Wanda Town yang menderita sesak nafas akut sejak 1,5 tahun lalu. Dalam kunjungan utusan Markaz, beliau memberikan pengorbanan tahrik Jadid tambahan sebesar 50 ribu Rupees. Atas hal itu Allah Ta’ala melimpahkan karunia-Nya, sehingga penyakit yang meskipun telah diobati berkali-kali terus menyerangnya, namun sejak saat itu kondisinya membaik dan pada penghujung tahun beliau sembuh dari penyakit itu.

Amir Gambia menulis, ada seorang Ahmadi di Jaraistiske yang selalu dawam melunasi candah Tahrik Jadid. Baru baru ini di kampung beliau hewan hewan terjangkit satu wabah yang menyebabkan matinya hewan-hewan. Akibatnya hampir semua orang merasakan pahtnya duka ini. Namun satu pun tidak ada hewan Bpk. Samia yang mati. Orang kampung bertanya pada beliau, apa penyebab satupun hewan kamu tidak ada yang mati? Beliau menjawab: Setiap tahun saya menjual hewan saya lalu uangnya saya bayarkan untuk candah, berkat itulah Allah Ta’ala melindungi hewanhewan saya dari wabah tersebut. Melihat hal itu 7 orang Ahmadi di kampung itupun mulai membayar candah Tahrik Jadid, dan setelah itu mereka melihat bahwa hewan mereka mulai membaik. Padahal dokter khusus mengatakan bahwa tidak ada hewan yang akan selamat dari wabah tersebut.

Ketika dokter datang lagi beberapa hari kemudian, dia melakukan pengecekan, lalu mengatakan, apa yang kalian lakukan untuk mengobati hewan -hewan ini sehingga sembuh lagi? Seorang nenek sambal membawa kwitansi candah mengatakan: beginilah cara pengobatan kami. Mendengar hal itu dokter keheranan dan berkata: Sayapun akan mempelajari Jemaat Ahmadiyah. Lalu diberikan cukup banyak literature Jemaat kepada dokter. Coba perhatikan orang-orang yang tinggal jauh disana, bagaimana keimanan dan keikhlasan mereka terus meningkat. Baaimana keikhlasan, ketawakkalan mereka pada Allah Ta’ala dan yakin pada janjiNya yang mana hal itu memaksa orang lain untuk merenungkan perihal Islam. Semoga Allah Ta’ala terus meningkatkan keimanan dan keyakinan mereka semua dan senantisa memandang mereka dengan pandangan kecintaan.

Setelah menyampaikan kisah-kisah bagaimana limpahan karunia Allah Ta’ala, sebagaimana biasanya pada awal bulan November diumukan tahun Tahrik Jadid, saat ini akan saya umumkan tahun baru Tahrik Jadid dengan menyampaikan data perolehan tahrik Jadid tahun sebelumnya: Tahun ini, tahun ke-85 Tehrik-e-Jadid dimulai, atau lebih tepatnya telah dimulai sejak 1 November.

Laporan penuh berkah dalam penghasilan dari tahun ke-84 adalah sebagai berikut: Menurut laporan penerimaan, Allah Ta’ala telah memberikan taufik kepada anggota Jemaat yang tulus untuk berkontribusi lebih dari 12.790.000 (dua belas juta tujuh ratus sembilan puluh ribu) poundsterling. Berkat karunia-Nya, ada peningkatan sebesar 212.000 pound dari tahun sebelumnya – dan Allah Ta’ala telah memberikan taufik ini meskipun keadaan yang sulit tengah dialami oleh dunia dan fakta bahwa mata uang di banyak negara di dunia mengalami penurunan nilai.

Dalam hal total kontribusi, Pakistan selalu berada di atas, tetapi setelah itu adalah: (1) Jerman; (2) UK; (3) AS; 4. Kanada; 5. India; 6. Australia; 7. Sebuah Jamaat di Timur Tengah; 8. Indonesia; 9. Ghana; 10. Jemaat dari Timur Tengah.

Dalam hal kontribusi per orang, itu adalah: 1. Swiss; 2. USA; 3. UK; 4. Australia; 5. Singapura; 6. Swedia; 7. Belgia; 8. Jerman; 9. Kanada; 10. Finlandia.

Total kontribusi Para Jamaah terkemuka di Afrika adalah: 1. Ghana; 2. Nigeria; 3. Gambia; 4. Tanzania.

Perhatian besar sedang ditarik ke arah peningkatan jumlah peserta yang berpartisipasi dalam Tahrik Jadid, dengan karunia Allah Ta’ala tahun ini 1.717.000 anggota berpartisipasi, peningkatan sebesar 117.000 dan sebagian besar peningkatan anggota berasal dari Afrika. negara-negara di mana Niger, Gambia, Benin, Burkina Faso, Ghana, Nigeria, Kamerun, Kongo-Kinshasa, Liberia, Mauritius, dan Pantai Gading telah melakukan upaya penting.

Di antara Jamaat besar, dari sisi peningkatan jumlah kontributor adalah: Indonesia; 1. Jerman; 2. India; 3. Pakistan; 4. Kanada; 5. USA; 6. Norwegia; 7. Malaysia.

Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, semua rekening daftar Awwal masih beroperasi hingga total 5.927.

Menurut laporan pengorbanan keuangan dari tiga distrik besar Pakistan secara urut itu adalah: 1. Lahore; 2. Rabwah; 3. Karachi. Meskipun Rabwah bukanlah sebuah distrik tetapi kota, namun dimasukkan kedalam daftar kabupaten. Kontribusi total dari kabupaten-kabupaten di Pakistan adalah: 1. Sialkot; 2. Sargodha; 3. Gujrat; 4. Gujranwala; 5. Umerkot; 6. Hyderabad; 7. Narowal; 8. Mirpur Khas; 9. Toba Tek Singh; 10. Mirpur Azad Kashmir.

Berdasarkan total kontribusi adalah: 1. Islamabad; 2. Wilayah Pertahanan di Lahore; 3. Township Lahore; 4. Azizabad, Karachi; 5. Pesyawar, 6. Ghulsanabad, Karachi; 7. Karim Naghar; 8. Faisalabad; 9. Nawabshah; 10. Bahawalpur; 11. Okara.

Sepuluh Jamaat pertama di Jerman adalah: 1. Neuss; 2. Rödermark; 3. Pinneberg; 4. Mahdi Abad; 5. Kiel; 6. Flörsheim; 7. Koblenz; 8. Weingarten; 9. Cologne; 10. Colmberg.

Berdasarkan wilayah mereka, sepuluh yang pertama adalah sebagai berikut: 1. Hamburg; 2. Frankfurt; 3. Morfelden; 4. Gross-Gerau; 5. Dietzenbach; 6. Wiesbaden; 7. Mannheim; 8. Riedstadt; 9. Offenbach; 10. Darmstadt

Lima wilayah pertama Britania Raya, berdasarkan kontribusi, adalah: 1. London B; 2. London A; 3. Midlands; 4. North East dan 5. South.

Sepuluh besar Jamaat pertama dari Inggris adalah: 1. Masjid Fazl; 2. Worcester Park; 3. Birmingham South; 4. Malden New; 5. Bradford North; 6. Islamabad; 7. Birmingham West; 8. Glasgow; 9. Gillingham dan 10. Scunthorpe.

Berdasarkan kontribusi dari Jamaat yang lebih kecil di Inggris, ini adalah 5 Jamaat berikut: 1. Spen Valley; 2. Swansea; 3. North Wales; 4. Southfields; 5. Edinburgh.

Lima wilayah pertama berdasarkan kontribusi adalah: 1. South West; 2. Midlands; 3. Islamabad; 4. North East; 5. Skotlandia.

Berdasarkan total kontribusi di antara Jemaat (as) adalah sebagai berikut: 1. Oshkosh; 2. Valley Silikon; 3. Seattle; 4. Detroit; 5. Silver Spring; 6. York; 7. Central Virginia; 8. Georgia; 9. Atlanta; 10. Los Angeles East; 11. Central Virginia; 12. Florida.

Berdasarkan total kontribusi dari antara daerah-daerah di Kanada: 1. Brampton; 2. Vaughan; 3. Peace Village; 4. Calgary; 5. Vancouver; 6. Western; 7. Mississauga.

Lima Jamaah yang paling menonjol dalam candah untuk kontribusi total adalah: 1. Edmonton West; 2. Durham; 3. Hamilton South; 4. Bradford; 5. Saskatoon North.

Sepuluh Jama’at besar di India berdasarkan kontribusi total mereka adalah: 1. Qadian, Punjab; 2. Hyderabad, Telangana; 3. Patah Perium, Kerala; 4. Chennai, Tamil Nadu; 5. Calicut, Kerala; 6. Bangalore, Karnatica; 7. Calcutta, Bengal; 8. Penggari Kerela; 9. Noor town Kerela dan ke-10. Yadgir Karnatak.

Berdasarkan provinsi di India yang ke-1 ialah Kerala; Karnatak; Tamilnadu; Telanggana; Jammu Kashmir; Orissa; Punjab; Bengal; Delhi dan Maharashtra.

Berdasarkan kontribusi total 10 Jemaat Australia: Castle Hill; Melbourne; Berwick; Canberra; Perth; Melbourne Long Warren; Marsden Park; Adelaide South; Brisbane; Logan dan Jama’at lain dari Brisbane.

Berdasarkan kontribusi per individu (sumbangan per orang) ialah Tasmania; Canberra; Castle Hill, Darwin, Marsden Park, Melbourne, Berwick, Sydney City, Perth, Campbelltown, Parramatta.

Semoga Allah Ta’ala memberkati jiwa dan harta mereka yang telah mempersembahkan pengorbanan dengan keberkatan tak terhingga. Patut dimaklumi bahwa setelah kepulangan saya [ke London, UK] pada umumnya orang-orang Ahmadi berharap saya menjelaskan lawatan saya [ke Amerika] dalam khotbah berikutnya. Insya Allah pada khotbah yang akan datang.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah                : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK); Editor : Dildaar Ahmad Dartono (Qadian, India). Referensi proof reading (baca ulang dan komparasi naskah) : http://www.islamahmadiyya.net (bahasa Arab)