بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

  Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

22 Maret 2013

Di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Dalam sebuah syair Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam  bersabda:

Waqt tha waqt Masihaanah kisi aur ka waqt

Me to nah aata to koi aur hi aya hota

“Ini adalah waktu Almasih dan tidak ada yang lain

Seandainya aku tidak datang, orang lain pasti akan datang!”

Selanjutnya, beliau a.s. bersabda dalam selebaran di suatu kitabnya: “Sebagian orang yang tuna ilmu berpikir bahwa aku berdusta dengan menyatakan diri sebagai penerima wahyu. Ini tidak benar. Melainkan, ini adalah perbuatan Tuhan yang Maha Kuasa Yang telah menciptakan langit dan bumi dan alam semesta ini. Pada saat keimanan kepada Tuhan berkurang, seseorang sepertiku diciptakan dan Tuhan berbicara kepadanya, dan melaluinya Tuhan menampakkan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib sehingga orang-orang pun memahami bahwa Tuhan memang ada.”[2]

Hari ini adalah tanggal 22 Maret akan tetapi pada tanggal 23 Maret, hari yang dalam Jemaat Ahmadiyah dirayakan sebagai Yaum-e-Masih Mau’ud (Hari Masih Mau’ud). Insya Allah besok adalah tanggal 23 Maret. Saya mengganggap sesuai, khotbah hari ini adalah berkenaan mengenai bukti-bukti kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud a.s., pertolongan dan dukungan Tuhan kepada beliau, perlunya seorang Imam Zaman dan seruan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.kepada umat Muslim untuk menerima beliau, dengan kata-kata beliau sendiri.

Beliau a.s.bersabda: “Kejadian-kejadian di langit dan di bumi yang merupakan tanda-tanda kedatangan Masih Mau’ud semuanya telah terjadi di masaku. Beberapa waktu yang lalu gerhana matahari dan bulan terjadi di bulan Ramadhan.” Tanda-tanda berupa gerhana bulan dan matahari itu telah terjadi. “…dan bintang dzus sinain (komet tertentu) juga telah muncul. Gempa bumi juga telah datang, dan wabah penyakit juga telah merebak.” Yaitu penyakit Thaun dan lainnya. “Wabah penyakit dan  agama Kristen telah menyebar ke seluruh dunia dengan kekuatan besar dan sebagaimana telah tertulis di masa sebelumnya dalam atsar, aku telah disebut kafir dengan sangat keras”.

Ini juga adalah nubuwatan yang telah ditulis oleh orang-orang suci (para salafush shalihin) sebelumnya, yaitu tatkala Masih Mau’ud datang maka ia akan dikafirkan. Ia akan dikatakan kafir dan pendusta. Bersabda, “Pendeknya, semua tanda telah nampak, dan ilmu dan makrifat telah muncul yang membimbing orang ke jalan lurus juga telah menjadi jelas.”[3]

Mengenai kebenaran beliau, Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam menulis bahwa semua peristiwa ini telah terjadi kemudian kamu orang tidak sadar juga.

Kemudian seperti ini di satu tempat beliau bersabda,          “Aku melihat bahwa orang-orang yang mengikuti hukum-hukum alam telah diberikan kesempatan bagus oleh Allah Ta’ala untuk menerima pendakwaanku, sebab mereka tidak dihadapkan pada kesulitan-kesulitan seperti dialami oleh para penentang kami yang lain. Sebab, mereka tahu betul bahwa Hadhrat Isa ‘alaihis salaam telah wafat.” (Orang-orang yang telah meyakini kewafatan Hadhrat Isa ‘alaihis salaam hendaknya merenungkan da’wa Masih Mau’ud.)

Bersabda, “…dan pada saat yang sama mereka harus terpaksa mengakui bahwa nubuatan yang terdapat dalam hadits-hadits mengenai munculnya Almasih yang dijanjikan termasuk mutawatir, yang tidak bisa diingkari oleh orang yang berakal. Oleh karena itu, mereka tidak punya pilihan lagi kecuali menerima bahwa Almasih yang dijanjikan akan muncul dari antara umat ini (umat Muslim). Bagaimanapun, mereka berhak bertanya, kenapa mereka harus meyakiniku sebagai Almasih yang dijanjikan, dan atas dasar apa menyatakan da’wa ini?”

Memang ini adalah benar bahwa Masih Mau’ud akan ada dari umat ini akan tetapi bagaimana hal ini dapat dibuktikan benar bahwa pendawaan beliau benar, itu adalah benar?

Bersabda, “Apakah dalilnya bahwa Masih Mau’ud itu kamulah orangnya?” Bersabda, “Jawabannya adalah bahwa yang disebut dalam Al-Quran al-Karim dan hadits-hadits mengenai negeri dan zaman kemunculan Masih Mau’ud (Almasih yang dijanjikan); keadaan-keadaan tertentu yang menuntut kedatangannya; peristiwa-peristiwa di bumi dan kejadian-kejadian di langit sebagai tanda kedatangan Masih Mau’ud serta ilmu dan makrifat yang menuntut akan menjadi keistimewaannya; Allah Ta’ala telah menjadikan semuanya terkumpul dalam diriku, di masaku, dan di negeriku. Selain itu, dan untuk lebih memuaskan, aku telah dikuatkan dengan dukungan Samawi (Ilahi).”

Beliau menulis syair dalam bahasa Persia berikut ini:

Cun mara hukm iz pe qaumi Masihi daadah and

Mashlahat ra Ibn-e-Maryam naam man banhaadah and

Aasman baarid nisyaan al-waqte mi gowid zame

Iin do syahid iz pe tashdiq man astaadah and

karena aku telah diberi wewenang untuk umat Masih (Kristen)

maka aku diberi nama ibnu Maryam

langit tengah menghujani dengan tanda-tanda dan bumi juga menyatakan bahwa inilah masanya

kedua saksi ini berdiri teguh membenarkanku

Bersabda, “Sekarang penjelasannya adalah sebagai berikut, dari isyarat yang diberikan dalam teks Al-Quran al-Karim membuktikan bahwa Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah matsil Musa (permisalan), dan bahwa rangkaian Khilafat beliau s.a.w. akan sangat serupa dengan rangkaian Khilafat Hadhrat Musa,dan sebagaimana Hadhrat Musa dijanjikan bahwa di akhir zaman yakni, ketika rangkaian kenabian Israili akan mencapai akhirnya dan Bani Israil akan terpecah-pecah dalam banyak sekte, yang saling mendustakan satu dengan yang lain, sebegitu rupa sehingga sebagian akan mengkafirkan yang lain. Saat itulah, Allah Ta’ala akan membangkitkan seorang khalifah, yakni Hadhrat Isa ‘alaihis salaam, untuk mendukung agama Musa. Beliau akan mengumpulkan domba Israil yang tercerai-berai, dan akan menyatukan domba dan serigala pada satu tempat, dan sebagai حَكَم hakam bagi seluruh kaum, beliau akan mengatasi perselisihan internal diantara mereka.”

Maksudnya [menyatukan domba dan serigala pada satu tempat] ini adalah, bahwa kaum yang dianiaya akan disatukan dengan kaum yang menganiaya [dengan menerima beliau].

“Dan menyingkirkan semua kebencian dan dengki. Demikianlah, janji yang diberikan dalam Al-Quran yang mana ayat ini mengisyaratkan hal ini: وَآَخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ ‘dan diantara kelompok lain dari antara mereka yang belum bergabung dengan mereka. (Surah al Jumah ayat 4). Mengenai hal ini banyak dijelaskan secara mendetail dalam Hadits. Sebagai contoh, ditulis bahwa umat Muslim akan terpecah dalam berbagai firkah seperti Yahudi, mereka akan saling mendustakan dan menyatakan yang lain adalah kafir. Kebencian dan permusuhan diantara semua orang akan meningkat, hingga ketika Almasih yang dijanjikan akan datang ke dunia sebagai حَكَم hakam. Ketika ia datang sebagai حَكَم hakam maka dia akan menjauhkan semua kebencian dan permusuhan. Pada masa itu, serigala dan domba akan disatukan.” Orang yang menganiaya dan dianiaya, atau yang lemah dan yang kuat setelah mereka bersatu akan tegak berdiri pada satu agama, dan mereka akan berusaha mendapatkan agama yang Allah Ta’ala ridhai.

“Selanjutnya semua orang yang paham tarikh (sejarah) mengetahui bahwa, Hadhrat Isa ‘alaihis salaam datang pada waktu seperti ini yakni ketika timbul perselisihan pada firkah-firkah dalam bangsa Israil dimana mereka satu dengan yang lainnya  saling berselisih dan menyatakan satu sama lain sebagai bid’ah dan kafir. Demikian juga ‘aajiz (hamba yang lemah) ini juga muncul pada masa ketika perselisihan internal telah sampai pada puncaknya dimana setiap firkah telah mulai menyatakan yang lain kafir. Pada masa perselisihan semacam itu, umat Muhammadiyyah (Muslim) memerlukan seorang حَكَم hakam. Karena itu, Tuhan telah mengutus saya sebagai حَكَم hakam seorang  hakim.” Sekarang, perhatikanlah oleh anda sekalian, mereka satu dengan lainnya saling mencap fatwa kafir. Mereka bersatu untuk mencaci dan menyematkan fatwa kafir terhadap Jemaat Ahmadiyah, akan tetapi selanjutnya fatwa saling mengkafirkan diantara merekapun terus saja dipertahankan.

Selanjutnya bersabda: “Ini adalah kesamaan yang mengagumkan yang mengenainya Al-Quran dan Hadits memberikan isyarat yang jelas, bahwa sebagaimana Hadhrat Isa    ‘alaihis salaam lahir pada abad ke-14, 1300 tahun setelah Hadhrat Musa, begitu pula hamba yang lemah ini juga diutus oleh Allah Ta’ala pada abad ke-14. Nampak bahwa mengenai hal ini para penerima kasyaf ditarik pada kenyataan bahwa kedatangan Almasih yang dijanjikan akan terjadi pada abad ke-14.” Bersabda, “Allah Ta’ala telah mengisyaratkan hal ini dengan memberiku nama “غلام أحمد قادياني” Ghulam Ahmad Qadiani, sebab nama ini berjumlah 1300.” Dari sudut huruf abjad Ghulam Ahmad Qadiani jumlahnya sempurna 1300.

“Pendeknya, dari Al-Quran al-Karim dan Hadits terdapat bukti-bukti yang cukup bahwa Almasih yang akan datang, akan muncul pada abad ke-14 dan datang di masa pertentangan diantara umat Islam dan waktu kemenangan pun tiba.” [4]

Kemudian, beliau a.s. memberikan satu bukti lain dari kebenaran beliau. Beliau bersabda, “Syeikh Ibnu Arabi telah menuliskan kasyaf beliau dalam kitabnya “فصوص الحِكَم” ‘Fushushul Hikam’, bahwa Khatamul Wilaayat akan lahir kembar, kembarannya seorang perempuan. (Khaatamul Wilayaat, yakni, Almasih yang dijanjikan); beliau (Almasih yang dijanjikan) nanti adalah orang Cina, yakni nenek moyangnya akan hidup di wilayah Cina. Kehendak Ilahi menyempurnakan semua ini. Saya sudah menulis, bahwa saya dilahirkan kembar dan bersama saya ada seorang anak perempuan, dan nenek moyang kami tinggal di Samarkand, yang bersekutu dengan Cina.”[5]

Dan lagi, beliau a.s. juga bersabda: “Saya telah menulis sebelumnya, bahwa sesuai dengan Al-Quran al-Karim sebuah pendakwaan sebagai utusan Tuhan hanya bisa dibuktikan ketika tiga segi membuktikannya. Pertama, nushush sharihah (nash-nash dengan jelas) memberikan dukungan kesaksian yang pasti, jelas dan terang, bahwa, pendakwaan itu tidak bertentangan dengan Kitabullah. Kedua, argumentasi secara akal mendukung dan membenarkan; dan ketiga, tanda-tanda samawi mengesahkan sang pendakwa. Maka pendawaan saya telah terbukti berdasarkan tiga dalil ini. Nushuush haditsiyyah yang mengantarkan para pencari kebenaran kearah kesempurnaan bashirat (pandangan kerohanian).”

Yakni, itu semua membuktikan kebenaran si pendakwa bagi orang-orang yang mencari kebenaran. Syaratnya ialah mencari kebenaran tidak berkeras kepala dan  memusuhi. Maka, ia akan mencapai kesempurnaan bashirat. Akan diperlihatkan kebenaran padanya.

 

Hadits-Hadits Nabi Muhammad s.a.w.: Ada Dua Isa ibn Maryam

“…dan yang memberikan ketenangan sempurna terkait da’wa saya, diantaranya adalah bahwa [Hadits menyebutkan] Almasih yang dijanjikan akan datang, akan berbeda penampilannya dengan Almasih yang terdahulu. Dalam Shahih Bukhari halaman 483, 876, 1055 dan hadits-hadits lainnya yang menyebutkan tentang Masih Mau’ud menguraikan mengenai sifat-sifatnya.”

(Referensi yang beliau berikan dari Kitab Bukhari di sana ditulis halamannya tetapi pendek kata ada disebut dalam Bukhari, Kitabul Anbiyya Bab Nuzulul Isa dan dimana di dalamnya kedua Masih Bani Israil dan Masih Muhammadi yang disebut sebagai Masih Mau’ud digambarkan terpisah/berbeda.)

Bersabda: “…dalam Hadits-Hadits itu dan di tempat lainnya, hadits mengenai Masih Mau’ud (Masih yang dijanjikan) disana diterangkan, bahwa Rasulullah s.a.w. di alam kasyaf melihat Almasih yang akan datang sedang bertawaf di Ka’bah, dan menceritakan bahwa رَجُلٌ آدَمُ سَبْطُ الشَّعَرِ beliau berkulit warna gandum (coklat, sawo matang) dan rambutnya lurus tidak keriting. Sementara Almasih ‘alaihis salaam yang adalah nabinya Bani Israil diterangkan bahwa beliau رجُلٌ أَحْمَرُ جَعْدُ الرَّأْسِ berkulit warna merah dan berambut keriting, yang membuktikan bahwa Hadhrat Rasulullah s.a.w. sendiri telah menetapkan bahwa Almasih yang akan datang sebagai orang yang berbeda [bukan Nabi Isa a.s.] dan beliau menjelaskan sifatnya “إمامكم منكم” Imaamukum Minkum (Imam kamu dari antara kamu, umat Islam) dan beliau s.a.w. mentetapkan bahwa beliau (Isa yang akan datang) berbeda dari [bukan] Hadhrat Isa ‘alaihis salaam. Beliau s.a.w. meresmikan keduanya dengan nama Isa ibnu Maryam dilihat dari sudut kesamaan keduanya”.

Bersabda, “Juga patut direnungkan satu hal lain lagi dan itu adalah bahwa ketika Hadhrat Rasulullah s.a.w. menyebutkan mengenai Masih Mau’ud (Almasih yang akan datang), di tempat itu tidak hanya disebut bahwa ia berwarna gandum dan berambut lurus, bahkan beliau s.a.w. juga menyebutkan mengenai dajjal yang mengikutinya. [6] Tetapi beliau tidak menyebutkan tentang dajjal ketika menceritakan mengenai Hadhrat Isa ‘alaihis salaam Bani Israil. Ringkasnya, dari hal ini membuktikan bahwa dalam pandangan Hadhrat Rasulullah s.a.w., Isa ibnu Maryam ada dua. Satu adalah yang berkulit gandum dan berambut lurus yang bersamanya ada Dajjal, dan yang kedua adalah yang berkulit merah dan berambut keriting yang bersamanya tidak ada dajjal.[7] Poin penting lainnya yang patut diingat adalah bahwa Hadhrat Isa ‘alaihis  salaam adalah Syami (orang Syam, Suriah dan sekitarnya) dan orang Syam sekali-kali tidaklah disebut berkulit gandum. Sedangkan orang Hindi (India) berkulit warna gandum. Dari dalil itu juga diketahui, bahwa yang berkulit gandum adalah Masih Mau’ud yang akan datang, dan beliau bukanlah orang Syam, melainkan orang Hindi. Ingatlah di poin ini bahwa dari sejarah-sejarah Kristen juga membuktikan bahwa Hadhrat Isa tidak berkulit gandum, tapi berkulit merah seperti orang Syam umumnya. Tapi Masih Mau’ud yang akan datang sekali-kali tidak berpenampilan orang Syam seperti telah jelas dari perkataan dalam Hadits.”[8]

Selanjutnya beliau a.s.bersabda: “Jika para maulwi pada zaman ini merenungkan setelah menilai dengan jujur dan berpegang teguh pada agamanya maka mereka pasti akan mengakui bahwa tugas mujaddid abad ke-14 adalah كسر الصليب kasr-e-salib (mematahkan salib secara metafora, membatalkan akidah salib secara argumentatif). Karena ini adalah tugas yang dinisbahkan kepada Almasih yang dijanjikan, kesimpulan yang jelas adalah bahwa mujaddid abad ke-14 adalah Almasih yang dijanjikan, dan walaupun perbuatan-perbuatan tidak bermoral seperti minum minuman keras dan dan berzina sudah demikian tersebar di abad ke-14 begitu juga kerusakan moral lainnya. Bagaimanapun, jika orang merenungkan akan mendapati bahwa alasan dibalik tindakan-tindakan ini adalah ajaran yang berisi bahwa darah (nyawa) seorang manusia telah menjadi tebusan berkaitan dengan perhitungan dosa.”

Yakni, demikian banyaknya keburukan yang telah tersebar, penyebabnya adalah pandangan ini telah berdiri tegak, dan ajaran itu adalah bahwa disebabkan penghapusan dosa oleh Hadhrat Isa tidak akan ada pertaanggungjawaban kepada mereka mengenai dosa-dosa mereka. Tidak akan ditanya.

“Oleh sebab itu inilah alasan kenapa Eropa (Barat) yang paling buruk dalam melakukan dosa-dosa ini.” Di dalamnya termasuk semua negara Barat dan juga di negara lainnya yang terdapat kebebasan. Sekarang semua dosa-dosa sedang tersebar di setiap tempat.” Bersabda, “Biasanya, karena pengaruh terus-menerus orang-orang ini, negara-negara lain juga telah menjadi lebih bebas.” Kini bukan hanya bertalian dengan Eropa, bahkan dimanapun sedang tersebar, terus tersebar, atau sekarang dengan perantaraan televisi atau sarana lainnya kebebasan sedang  tersebar, disana mereka sedang merdeka dari segala macam jenis keterkungkungan dan perasaan tidak malu tengah tersebar.

Bersabda “Meskipun jika orang-orang terbunuh oleh penyakit atau wabah menghancurkan mereka, pikiran mereka bahkan tidak menganggap bahwa ini mungkin adalah hukuman atas perbuatan-perbuatan mereka.”

Banyak sekali azab yang sedang datang, ada angin topan, gempa bumi, ini adalah disebabkan amal perbuatan mereka, tidak ada yang berpikir demikian. Apakah penyebab semua ini? Semua ini karena kecintaan kepada Tuhan telah menjadi dingin dan keagungan-Nya telah berkurang dalam hati. Maka bencana alam yang menimpa saat ini perlu diperhatikan. Kita juga mesti tertarik kepada doa mengenai hal ini dan orang-orang yang tidak beriman juga hendaknya berpikir tentang hal ini.

Bersabda,  “Sebagaimana kebebasan yang diberikan oleh konsep penebusan dosa telah membuat orang-orang Eropa menjadi berani dalam semua tindakan tak bermoral, negara-negara lain juga terpengaruh oleh pandangan mereka. Tidak diragukan lagi, ketidakbermoralan seperti penyakit menular. Jika seorang wanita saleh berteman dengan seorang wanita tak bermoral, dia mungkin tidak melakukan keburukan yang nyata, tapi hatinya akan terpengaruh menjadi rusak.”

Bersabda, “Ghairat dan rahmat Tuhan berkehendak untuk menyelamatkan manusia dari pengaruh beracun ajaran Kristen, dan mengungkapkan tipuan besar ajaran dajjal yang telah membuat seorang manusia menjadi Tuhan. Akan dibuka pardah penutup ajaran Dajjal ini.  Karena keburukan ini telah mencapai puncaknya pada abad ke-14”, Yakni musibah dan ujian ini yang telah sampai pada puncak kesempurnaannya. Oleh karena itu  karunia Ilahi dan pertolongan-Nya menghendaki mujaddid abad ke-14 menjadi orang yang mengerjakan kasr-e-salib yakni yang akan mematahkan salib. Sebab seorang mujaddid seperti seorang dokter, dan menjadi tugas seorang dokter untuk fokus membasmi penyakit yang paling dominan. Jika benar bahwa kasr-e-salib adalah tugas Almasih yang dijanjikan, maka benar pula bahwa mujaddid abad ke-14 yang tugasnya kasr-e-salib, adalah Almasih yang dijanjikan.”[9]

            Kemudian bagaimanakah mematahkan salib itu?  Mengenai hal itu beliau bersabda: “Di sini pertanyaan yang muncul secara otomatis adalah bagaimana dan dengan sarana apa sebaiknya Almasih melakukan kasr-e-salib. Apakah ini akan dilakukan dengan pertarungan dan peperangan, seperti yang diyakini para maulwi penentang kita? Atau dengan cara lain? Jawabannya, para maulwi (semoga Tuhan mengasihi keadaan mereka) sangat keliru dalam akidahnya soal ini. Program Masih Mau’ud sekali-kali bukanlah demikian, bahwa dia akan bertarung dan berperang, melainkan, kedudukannya menghendaki supaya dia menyingkirkan semua fitnah keburukan ini dengan الحجج العقلية hujaj ‘aqliyyah (dalil-dalil akal), aayaat samawiyyah (tanda-tanda samawi) dan doa. Tuhan telah menganugerahkan tiga senjata ini kepadanya, dan ketiganya mempunyai i’jaazi quwwat (kekuatan luar biasa yang melemahkan penentang) tidak akan ada lainnya yang bisa menandinginya. Akhirnya, dengan perantaraan ketiga inilah bagaimana kasr-e-salib salib akan dipatahkan. Hingga keagungan salib akan hilang bagi orang-orang yang berpenglihatan dengan kritis.” Siapapun yang memandang dengan pandangan menyelidiki kebenaran dan merenungkannya, maka keagungan, kesucian [memandang suci] dan pengaruh salib yang ada padanya akan berakhir.

“Berangsur-angsur pintu luas untuk menerima Tauhid akan terbuka. Semua ini akan terjadi secara bertahap. Sebab, semua pekerjaan Tuhan adalah secara bertahap. Sebagian di masa hidup kita dan sebagian lagi setelah kita wafat. Kemajuan Islam di zaman awal adalah secara bertahap, dan di akhir zaman Islam juga akan kembali kepada kedudukannya yang semula secara bertahap.”[10] Maka sekarang adalah kewajiban mereka yang telah beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam.  Mereka sibuk dalam melaksanakan tugas yang dipikulnya dan berusaha  dalam menegakkan Tauhid Ilahi.

 

Semua Umat Muslim Wajib Mengikuti Imam Zaman

Kemudian beliau berkenaan dengan Imam dan Hakamnya bersabda, “Hendaknya diingat bahwa dalam kata ‘Imam Zaman’ mencakup di dalamnya nabi, rasul, muhaddats dan mujaddid semuanya. Tapi orang yang tidak diutus oleh Tuhan untuk mendidik dan memberi petunjuk kepada makhluk Allah, tidak pula mereka diberi keunggulan semacam itu, tidak peduli walaupun mereka adalah wali atau pir, tidak bisa disebut Imam Zaman. Akhirnya kita sampai pada kesimpulan: Siapakah Imam di zaman ini yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala wajib mengikutinya? Yaitu, ditetapkan atas semua umat Muslim umumnya, dan secara khusus atas semua orang suci, dan semua orang yang melihat mimpi-mimpi benar dan menerima ilham?”

Yakni untuk setiap orang Muslim, yang diantara mereka terdapat orang-orang baik, orang-orang yang kepadanya datang mimpi-mimpi benar juga kepada mereka yang menerima ilham mengenai kedatangan Masih dan kedatangan Imam.

“Maka dengan ini aku mendawakan, tanpa keraguan apapun bahwa, dengan rahmat dan karunia Allah, ‘woh Imaamuz Zaman me huu’ ‘Sesungguhnya aku adalah Imam Zaman itu.’[11] Tuhan telah menyatukan semua tanda dan semua syarth (syarat-syarat kondisi) di dalam diriku dan telah mengutusku pada pergantian abad ini, yang 15 tahun telah berlalu sejak itu. Aku muncul pada waktu ketika akidah-akidah Islam penuh dengan pertentangan sehingga tidak ada suatu aqidah yang kosong dari pertentangan.

Seperti halnya, pandangan yang sangat keliru telah menyebar berkaitan dengan turunnya Almasih. Perselisihan begitu hebat sehingga sebagian mempercayai Hadhrat Isa (masih) hidup sedangkan yang lain meyakini beliau telah wafat; sebagian meyakini turunnya beliau dengan jasad kasar, sementara yang lain meyakini turunnya secara kiasan. Sebagian berpikir bahwa beliau akan turun di Damaskus, yang lainnya [beranggapan beliau turun] di Makkah, dan yang lain lagi di Baitul Muqaddas (di Yerusalem). Sebagian mengira beliau akan muncul diantara tentara Muslim, dan yang lainnya berpikir beliau akan turun di  Hindustan. Maka untuk semua keyakinan dan pernyataan yang bertentangan ini menghendaki seorang حَكَم hakam (hakim) untuk datang dan menghakimi diantara mereka, dan akulah Hakim tersebut. Aku telah dikirim untuk mematahkan salib dalam pengertian rohani, dan menyingkirkan perselisihan-perselisihan ini. Ini adalah dua alasan yang memerlukan kedatanganku. Meskipun tidak perlu bagiku menyajikan dalil lain apapun untuk mendukung kebenaranku -sebab adanya keperluan itu sendiri adalah dalil itu sendiri.”

Keadaan-keadaan itu menuntut perlu bagi kedatangan Masih Mau’ud dan adalah perlu dan cukuplah dengan dalil ini.

“Meski demikian, Allah Ta’ala telah menampakkan banyak tanda untuk mendukungku. Karena itu, sebagaimana aku adalah hakim untuk mengumumkan keputusan dalam segala perselisihan lainnya, begitu pula aku adalah hakim dalam perselisihan mengenai hidup dan wafatnya [Nabi Isa ‘alaihis salaam]. Aku menetapkan bahwa pendirian yang diambil oleh Imam Malik rh, Ibnu Hazm rh. dan qaul (perkataan) Mu’tazilah adalah benar, dan aku memperhitungkan pihak-pihak lainnya dari kalangan Ahli Sunnah salah. Karena itu, dalam kedudukanku sebagai hakim, dengan ini aku memberikan keputusan bahwa golongan Ahlu Sunnah benar hanya sejauh berkaitan dengan keyakinan umum mengenai akan turunnya nabi Isa, sebab beliau sudah ditetapkan untuk turun, sekalipun dalam corak pengertian buruuzi (rohani).” Sampai batas tertentu mereka benar bahwa nuzuul harus secara buruuzi. Namun, mereka salah dalam hal menjelaskan kaifiyat turunnya.

“Ya, mereka telah keliru dalam hal menjelaskan kaifiyat (cara, kategori) turunnya. Sifat dari nuzuul bukanlah secara hakiki (lahiriah, literal) melainkan buruuzi.”[12]

Pertanyaan mengenai telah wafatnya Masih, Mu’tazilah, Imam Malik, Ibnu Hazm, dan orang-orang lainnya yang berpandangan sama, adalah benar, sebab menurut nash shariih (sumber nash yang jelas) dari ayat mulia, فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي ’falammaa tawaffanii’ – “tetapi setelah Engkau mewafatkan aku…’ (5:118) Almasih pasti telah wafat sebelum umat Kristen menjadi sesat. Ini adalah keputusanku sebagai hakim. Orang yang tidak menerimanya, tidak menerima Dia yang telah mengutusku sebagai hakim. Jika ditanyakan, ‘Apa buktinya bahwa kamu adalah hakim?’ jawabannya adalah zaman yang ditetapkan untuk datangnya hakim tersebut telah eksis (saat ini), begitu pula orang-orang yang pandangannya keliru tentang salib dan mesti diralat oleh sang hakim pun telah ada. Tanda-tanda yang akan muncul untuk mendukung sang hakim telah muncul. Di langit dan di bumi, dan tanda-tanda itu terus muncul. Langit memperlihatkan tanda begitu pula bumi. Tanda-tanda di bumi sedang menampakkan diri. Diberkatilah orang yang kini matanya tidak tertutup.”[13]

Semoga Allah Ta’ala menjadikan umat Muslim terbuka mata hatinya, dan menerima sang Hakam itu.

Kemudian beliau juga menulis: “Hendaknya para penentangku merenungkan di dalam hati mereka bahwa jika aku adalah Almasih yang dijanjikan, yang mengenainya telah ditetapkan oleh Hadhrat Rasulullah s.a.w., yang kepadanya beliau menyampaikan salaam, yang mengenainya beliau menamainya حَكمًا عَدْلا، وإمامًا وخليفةَ الله Hakaman ‘Adlan, Imaam dan Khalifatullah (Wakil Allah), maka apakah diperbolehkan bahwa, hanya demi seorang raja biasa, mereka mencaci-maki dan mengutuk seseorang?”[14]

Ini berkenaan dengan raja Turki tapi biarlah hal itu saya (Hudhur V atba) tinggalkan [tidak saya bicarakan].

Bersabda, “Hendaknya mereka menahan amarah mereka dan merenungkan, bukan demi saya tapi demi Allah dan rasul-Nya s.a.w., apakah perlakuan seperti itu kepada orang yang mendakwakan semacam itu adalah benar? Saya tidak ingin memperpanjang hal ini sebab kasus saya melawan kalian ditunda di Langit. Jika saya adalah orang yang telah dijanjikan melalui bibir suci Rasulullah s.a.w., maka kalian telah berdosa, bukan terhadapku tapi terhadap Tuhan. Seandainya saya tidak disebutkan di dalam Hadits bahwa dia akan diberi kedukaan dan dikirimi laknat, kalian tidak akan berani menganiaya aku seperti yang telah kalian lakukan.” Telah tertulis sebelumnya untuk Al-Masih bahwa ia akan ditakdirkan demikian.

Sudah Dikabarkan, Para Ulama yang Jahat akan Memusuhi Imam Mahdi Bila Ia Datang

“Tapi adalah perlu bahwa semua yang ditetapkan oleh Tuhan, dan yang masih bisa ditemukan di dalam kitab-kitab kalian harus terjadi, dan supaya kalian terbukti bersalah. Kalian membaca kitab-kitab tersebut dan kemudian, terus menyatakan saya kafir dan mengutuk saya, yaitu ulama-ulama yang jahat dan teman-temannya yang akan mengkafirkan Mahdi dan akan menentang Masih dan itu adalah kalianlah orangnya.”[15]

Selanjutnya beliau bersabda: “Kemudian pikirlah dalam keadaan dimana saya adalah orang itu yang menda’wakan diri sebagai Masih Mau’ud yang mengenainya Rasulullah Saw bersabda, ‘Dia adalah Imam dan Khalifah kamu. Padanya ada salam dari Tuhan dan nabi-Nya, dan orang yang memusuhinya dilaknat, dan sahabatnya adalah sahabat Tuhan. Dia akan datang sebagai Hakim bagi seluruh dunia, dan Ia akan berlaku adil dalam semua perkataan dan perbuatannya.’ Maka apakah ini jalan ketaqwaan yaitu setelah mendengar penda’waanku. Dan setelah melihat tanda-tandaku dan setelah menyaksikan bukti-bukti kebenaranku memberikan balasan kepadaku yaitu dengan mencaci dan menertawakan aku?  Apakah tanda-tanda tidak lahir? Apakah tanda-tanda dukungan langit tidak datang? Apakah tidak merasa mengetahui  semua waktu-waktu dan musim-musim itu yang telah diterangkan didalam Hadits-Hadits dan Atsar? Kemudian mengapa memperlihatkan kelancangan sedemikian rupa? Yah, kalau dalam pendawaanku ini ada suatu keraguan atau  dalam dalil-dalil dan tanda-tanda ku ada suatu kebimbangan maka dengan ketidakberdayaan dan niat yang baik, kerendahan hati dan niat yang baik dan dengan memohon kepada Tuhan untuk menjauhkan keraguan itu dengan hati yang hancur luluh.”[16]

Beliau bersabda,

“Aku telah mengundang kalian berkali-kali untuk datang kepadaku supaya keraguan kalian disingkirkan”, singkirkanlah kebimbangan dan keraguan, “tapi tidak ada diantara kalian yang maju ke depan”. Aku mengundang setiap orang untuk sebuah keputusan akhir tapi tidak ada seorangpun yang memberikan perhatian. Aku menyarankan supaya kalian beristikharah  kepada Tuhan dan memohon kepada-Nya dengan tetesaan air mata supaya Dia mengungkapkan kebenaran kepada kalian, tapi kalian tidak melakukan apapun dan bersikeras dalam penentangan kalian. Sungguh Tuhan telah berfirman mengenai aku yaitu,

‘Dunya me eik nadzir aya, par dunya ne us ko qabul nah kiya, lekin Khuda us se qabul karega, aur bare zour aur hamlong se us ki saccai zhahir kardega.’

   ‘Seorang juru ingat telah datang ke dunia dan dunia tidak menerimanya, tapi Tuhan akan menerimanya dan akan menyatakan kebenarannya dengan serangan-serangan yang dahsyat.’[17]

Apakah mungkin bahwa seseorang itu benar, tetapi tetap dihancurkan? Apakah mungkin bahwa seseorang dari Tuhan tapi dibinasakan? Hai manusia, janganlah  berperang dengan Tuhan. Ini adalah pekerjaan yang Tuhan telah tetapkan demi kamu dan demi keimanan kamu, maka jangan meletakkan rintangan-rintangan di hadapanNya. Kalau kamu dapat berdiri teguh dihadapan petir tapi kamu tidak punya kekuatan untuk menentang Tuhan. Jika semua ini adalah pekerjaan manusia, tidak ada serangan kalian yang diperlukan. Tuhan sendiri yang akan menghancurkan aku. Sayang! Langit memberikan kesaksian tapi kalian tidak mendengar; bumi meneriakkan: “diperlukan seseorang”, “diperlukan seseorang”, tapi kalian tidak memperhatikan! Hai orang-orang yang bernasib buruk! Bangkit dan lihatlah bahwa pada waktu kesulitan ini, Islam telah diinjak-injak di bawah telapak kaki dan telah difitnah seperti penjahat. Islam telah dianggap termasuk golongan pendusta dan telah dituliskan termasuk diantara yang tidak suci. Maka tidakkah kecemburuan Tuhan bangkit pada saat semacam itu? Maka pahamilah bahwa langit sedang didekatkan dan hari-hari itu telah dekat ketika setiap telinga akan mendengar pernyataan “أنا الموجود”  “Anal Maujuud” ‘Aku ada’.”[18]

Semoga Allah Ta’ala membuka telinga orang-orang Muslim dan orang yang mendengar suara ini.

Dzikr Khair dan Kewafatan Chaudry Mubarak Muslihuddin Ahmad sahib, Wakilut Ta’lim Tahrik Jadid

Selanjutnya saya menyampaikan kabar duka mengenai wafatnya Chaudry Mubarak Muslihuddin Ahmad sahib, yang selama ini menjabat sebagai Wakilul Ta’lim di lembaga Tahriki Jadid. Beliau adalah pengkhidmat Jemaat dalam waktu lama. Beliau wafat pada 16 Maret dalam usia 79 tahun. Inna lillaahi wa inna ilaihi raajiuun. Beliau lahir pada tanggal 21 Juni 1934 di rumah ayahnya Yth. Tn. Sufi Ghulam Muhammad yang adalah seorang Sahabi.  Kakek beliau juga adalah sahabat Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam. Kakek beliau adalah salah seorang diantara 313 Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Beliau baiat pada tanggal 5 Juni 1895.

Setelah pembagian Hindustan, atas petunjuk Hadhrat Khalifatul Masih Tsani ra, beliau pergi ke Qadian. Beliau masuk dalam Darwisy Qadian, wafat di Qadian, dan dimakamkan di Bahisty Maqbarah Qadian. Ayah dari Tn Chaudry Mubarak Muslihuddin, Tn. Sufi Ghulam Muhammad mendapat taufik berjumpa dengan Hadhrat Masih Mau’ud as. Tn. Sufi juga sebagai Waqf-e-Zindegi (orang yang telah mewakafkan kehidupannya demi agama) mendapatkan taufik berkhidmat di berbagai  departemen pengkhidmatan di Jemaat ini. Beliau pernah menjadi dosen di Ta’limul Islam High School, menjadi Superintendent Boarding House Tahriki Jadid, menjadi Nazir Baitul Maal Pengeluaran, dan menjadi Nazir ‘Ala Tsani Sadr Anjuman Ahmadiyah. Pendek kata, beliau telah mendapatkan taufik berkhidmat dalam Jemaat di berbagai departemen.

Kakek dari Tn. Mushlihuddin berasal dari Gujrat. Sebelumnya kedua orang tuanya telah mewakafkannya. Secara pribadi beliau mewaqafkan hidup beliau pada tanggal 18 Juni 1949, dan pada September 1949 setelah tamat SMA, Hadhrat Khalifatul Masih Tsani memanggil 8 orang pewakaf untuk diwawancarai di Rabwah. Beliau sendiri yang menyiapkan soal ujiannya dan beliau sendiri yang mengujinya. Satu diantara mereka itu adalah Tn. Mubarak Mushlihuddin. Kemudian beliau bersabda kepada beberapa dari mereka, “Lanjutkanlah pendidikan kalian ke College.”

Beliau belajar di Ta’limul Islam High School sampai semester 9  kemudian di Cheniot yang terdapat Ta’limul Islam High School beliau mendapat First Division. Kemudian beliau mengambil BSc pada tahun 1953 di Ta’limul Islam College, Lahore. Kemudian  pada tahun 1956 beliau mengambil M.sc dari Government College Lahore ke Punjab University. Kemudian seperti keadaan orang Waqf, pada tahun 1956 pengkhidmatan beliau di Wakaalatid Dewaan.

Pengkhidmatan pertama beliau  kepada Jemaat adalah di bagian Amanat dari lembaga Tahrik Jadid. Beliau bekerja di sana beberapa bulan. Kemudian  beliau berkhidmat di Wakalat Maal, kemudian beliau ditempatkan dalam sebuah lembaga Tijaarat (perdagangan) milik Jemaat ‘ICU African’. Tinggal di sana beberapa tahun. Kemudian pada awal tahun 1964 kembali ke Tahrik Jadid, dan di Wakaalati Maal Tsani sebagai Naib Wakaalatil Maal Tsani berkhidmat sampai tahun 1972. Dari tahun 1972 sampai 2001 beliau berkhidmat sebagai Wakilul Maal, setelah itu dari tahun 2001 sampai wafat sebagai Wakilul Ta’lim. Selain itu beliau adalah anggota berbagai macam komite dan dewan. Beliau juga sebagai anggota komite Majlis Karpardaz Bahishti Maqbarah.

Pemilik ide yang cemerlang [berwawasan luas]. Dengan karunia Allah Ta’ala, beliau orang yang memiliki musyawarah yang penuh pemahaman dan pemilik ilmu yang dalam. Beliau hadir teratur di setiap pertemuan komite dimana beliau menjadi anggotanya, kemudian, sebelum rapat biasanya beliau selalu melakukan penelitian [pengkajian] atas tema-tema yang akan dibahas. Memiliki ikatan dengan Khilafat begitu ikhlas dan penuh cinta. Banyak sekali bagian-bagian Qur’an Karim yang telah beliau hapal, dan beliau sangat baik dalam menilawatkannya. beliaulah yang mendapatkan kesempatan untuk menilawatkan Al-Qur’an dalam banyak kesempatan di Syura. Pengkhidmatan beliau kepada Jemaat mencapai 57 tahun. Beliau dalam waktu yang lama berkhidmat di badan Jemaat Majlis Khudamul Ahmadiyah dan lainnya. Pernikahannya pada tahun 1964. Istri beliau juga adalah cucu dari sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. Penduduk Khre, Bapaknya adalah Tn. Shubiidar Ghulam Rasul. Beliau meninggalkan 3 putra dan 2 putri.

Istri beliau menerangkan, “Ketika di rumah, apabila ada tamu atau pekerja yang bertamu dan mereka mengatakan hal-hal yang memburukkan nizam, maka beliau sangat keras melarangnya. Kapanpun beliau tidak sanggup untuk mengucapkan perkataan yang memburukan nizam.” – Istri beliau adalah Naib Sadr Lajnah Pakistan. – “Kalau saya pergi untuk kunjungan ke Jemaat-jemaat maka kapanpun beliau tidak pernah melarangnya. Bahkan, pekerjaan jemaat selalu diutamakan. Pada kesempatan lain ada juga peristiwa seperti ini yaitu, “Baiklah! Kerjakanlah pekerjaan Jemaat, kerjakanlah tugas-tugas Lajnah kalaupun terpaksa memasak sendiri juga akan saya siapkan makanan sendiri.”

Beberapa tahun sebelum ini beliau dikirim ke Bangladesh. Putranya Mansur Anjum menulis, “Di sana beliau mulai merasakan sakit jantung yang sangat sakit, dan napasnya pun mulai berhenti. Ini adalah suatu kesulitan yang sudah pernah sangat lama terjadi, kurang lebih telah 30 tahunan yang lalu.” Kemudian katanya, “Saya menelepon beliau bahwa saya akan pergi ke Bangladesh. Hal ini mudah untuk kedatangan saya dari Kanada.” Beliau menjawab, “Tidak. Khalifah mengatakan supaya di sini, dan Jemaat di sini penuh memberikan perhatiannya. Kamu tidak perlu datang ke sini.”

Apapun yang terjadi, beliau akan selalu meminta nasehat dari Khalifah-e-Waqt. Putra beliau Tn. Hafiz Nasiruddin, seorang Hafiz Qur’an menulis, “Ayah saya dipercayai berbagai macam barang amanat orang-orang. Amanat (titipan) orang, perhitungan uang candah dan hisab wasiat juga ada pada beliau yang senantiasa beliau berikan secara teratur dan mereka pun diberitahukan.”

Tn. Majduddin juga putra beliau menulis, “Ketika beliau mengetahui apapun masalah yang terjadi di rumah termasuk permasalahan sehari-hari, setelah pergi maka tidak lama kemudian beliau datang dan berkata, ‘Saya telah menulis surat untuk meminta musyawarah [pendapat] dan permohonan doa pada Khalifah-e-Waqt.’  Setiap hal beliau selalu bertanya termasuk permasalahan di rumah. Beliau biasa berkata, ‘Seorang Waqif zindegi tidak pernah berhak untuk menuntut apapun. Di dalam formulir waqf-e zindegi sekarang telah dibuat berbagai macam syarat. Formulir Waqf-e-zindegi yang pernah ada di hadapan kita, di sana hanya ini satu syaratnya yaitu tidak menuntut.’ Kapanpun kami -kata putranya- tidak pernah merasa kekurangan sesuatu dikarenakan kami waqaf-e-zindegi. Beliau senantiasa menyempurnakan kebutuhan kami dengan membebankan kesulitan pada dirinya.”

Ayahanda dari Tn. Mushlihuddin juga adalah seorang Waqif-e Zindegi dan almarhum (Tn. Mushlihuddin) ini adalah anak laki-laki tunggal. Beliau juga mewaqafkan putranya, dan beliau tidak merasakan suatu kesempitan hati dan keluhan karena wakaf ini. Tn. Mushlihuddin memiliki 7 saudara perempuan dan beliau anak laki-laki tunggal. Ayahanda almarhum ialah Hadhrat Sufi Ghulam Muhammad Bsc dan Bt. Ketika beliau sudah pensiun dari pekerjaan di sekolah maka beliau menulis surat kepada Hadhrat Khalifatul Masih Tsani, “Saya sudah pensiun dan saya Waqf-e Zindegi. Saya menunggu perintah. Apa yang harus saya kerjakan.” Maka cukup lama tidak ada jawabannya. Tn Mushlihuddin berada di asrama di sana senantiasa mendapatkan tunjangan. Oleh karena keadaan [keuangan] ayahnya sudah berkurang, ia meninggalkan asrama. Tunjangan beasiswa yang ia terima ia pakai untuk biaya belanja di rumah. Pada waktu itu beliau melewati waktu dengan sangat sulit lalu Allah Ta’ala menganugerahkan karunia-Nya.

Almarhum pernah menuliskan sebuah peristiwa. Beliau berkata: “Satu kali saya pergi ke Islamabad untuk satu pekerjaan Jemaat.  Ada teman saya yang sudah cukup lama tidak berjumpa hendak saya kunjungi. Ketika berbincang-bincang ia berkata, ‘Sekarang tuan sudah menjadi Naib Wakil Maal, keadaan jemaat sekarang sudah baik. Berapa tunjangan yang tuan terima?’ Maksud pertanyaannya ini adalah sekarang tunjangan atau allowance kamu hendaknya banyak. Saya berkata kepadanya,’Apapun yang saya dapat, di sana demikian penuh keberkatannya melebihi orang-orang yang bekerja di pemerintahan dan orang-orang selevel sekretaris, dan keberkatannya melebihi yang engkau dapati.’ Ia berkata, ‘Baiklah!’ Setelah berdiskusi kami tidur karena waktu sudah malam. Setelah bangun di waktu subuh, kami bersiap-siap pergi ke kantor. Beliau juga hendak pergi ke Sekretariat (pusat kantor-kantor pemerintahan) untuk keperluan suatu pekerjaan Jemaat. Setelah pergi dari rumah, sambil berdiri di tepi jalan teman itu berkata, ‘Kita pergi naik taksi.’ Kami pun menunggu taksi lewat. Setelah itu kami beberapa lama berjalan kaki. Kami terus berjalan maka berhentilah sebuah mobil besar dan kepunyaan seorang pejabat tinggi. Ia (pengendara mobil) tidak bertanya kepada teman yang bersama saya, seorang pegawai pemerintahan. Ia bertanya kepada saya, ‘Tuan akan pergi menjumpai Tn. Fulan di Sekretariat Fulan?’ Saya menjawab, ‘Iya.’ Ia berkata, ‘Ya. Saya sangat menyangka bahwa tuan akan ke sana. Duduklah Tuan.’ Saya bertanya, ‘Ini mobil siapa?’ Ia menjawab, ’Ini adalah mobil Tn. Jendral Fulan dan saya sedang pergi kesana.’

Sampailah kami di sana dengan selamat. Pintu gerbang terbuka. Siapapun [dari para penjaga pintu gerbang] tidak ada yang bertanya kepada kami. Saya berkata kepada teman saya, ‘Lihatlah! Kalau kamu naik taksi maka kamu membelanjakan 15 – 16 rupies. Tapi Allah Ta’ala menolong orang Waqf-e-Zindegi yaitu dengan berhentinya sebuah mobil. Dia (pengemudi mobil tadi) tidak tahu siapa saya dan tidak juga saya tahu siapa dia. Dia tidak bertanya kepada kamu bahkan bertanyanya kepada saya, dan dikarenakan saya bisa masuk kedalam kantor di pintu gerbang tidak ditanyakan nama, tidak juga mengatakan nama, memperkenalkan nama, itu juga tidak terjadi. Kita langsung lurus masuk kedalam.’ Maka inilah karunia yang Allah Ta’ala berikan pada orang yang Waqf-e Zindegi.”

Hadhrat Khalifatul Masih ar Rabi ra menyebut  dalam satu khotbahnya satu ru’ya mubasyarah (mimpi membawa berita gembira). Bersabda, “Saya melihat dalam mimpi, saya dan beberapa teman saya berada dalam perjalanan. Kami berada di dalam sebuah bus yang seperti bus pariwisata. Melewati sebuah sungai. Sekarang dalam perjalanan bus ini, saya tidak ingat akan tetapi kemudian diketahui bahwa setelah bis sampai di jembatan, bus berhenti di pinggir bawahnya. Ada suatu sebab yang membuat bus itu tidak dapat berjalan maju. Seperti biasanya dalam keadaan seperti ini, para penumpang turun, dan mulai melangkahkan kakinya perlahan-lahan. Saya pun turun dari bus.” Yakni Khalifatul Masih ar Rabi rha turun.

“Beberapa orang musafir lainnya juga turun. Namun demikian, dalam ingatan saya pada waktu ini tidak ada yang saya ingat [siapa saja mereka]. Tapi, yang saya ingat dengan baik adalah Tn. Mubarak Mushlihuddin yang berkhidmat di kantor Waqfe Jadid kita, beliau ada bersama saya dan seperti halnya dalam keadaan menunggu maka tidak ada sesuatu yang dikerjakan. Kemudian ada orang berkata, ‘Marilah sekarang kita  mandi.’ Saya dan dia, kami berdua terjun ke sungai. Dalam benak saya waktu itu berpikir setelah kami berenang sebentar akan kembali, akan tetapi Mubarak Mushlihuddin sedikit jauh dari saya, berada pada dua rentangan tangan di depan saya dan berkata pada saya, ‘Marilah berenang!’ maka seperti inilah kami menyeberangi sungai. Maka dalam pemikiran saya pada waktu itu tebersit bahwa air sungai sedang mengalir dengan derasnya. Seperti halnya sungai di Sind yang mengalir di waktu airnya meluap. Walaupun di tepinya tidak ada tepian batu kerikil tapi yang ada hanyalah penuh air, dan air mengalir meluap bersamaan dengan waktu, dan saya berpikir dapatkah kami menyeberanginya atau tidak. Maka Mubarak Mushlihuddin berkata, ‘Tidak, kita dapat menyebrang.’ Kemudian saya berkata, ‘Baiklah!’ Kemudian kami berenang. Saya heran karena walaupun saya bukan perenang akan tetapi saya memiliki kekuatan berenang yang luar biasa dengan beberapa gerakan berenang tangan saya saja dapat menempuh jarak-jarak yang jauh sehingga ketika saya membalikan pandangan saya  maka tepi sungai di belakang sudah sangat jauh tertinggal. Kemudian dengan 2 – 3 kali rengkuhan dapat melewati sebagian sungai, dan kami telah sampai pada tepi sungai lainnya. Hal yang menakjubkan adalah, walaupun dalam ru’ya Mubarak Mushlihuddin berada di depan saya akan tetapi ketika tiba di tepi sungai maka saya berada di depannya kemudian beliau berada di belakang. Demikianlah kami berada di tepi yang lain lalu kami bersiap-siap bagaimana setelah keluar dari tepi sini kami dapat keluar berada pada dunia yang umum di tepi lainnya.”

Kemudian beliau bersabda, “Ru’ya ini selesai sampai di sini dan karena ini adalah ru’ya yang pada umumnya sesuai dengan hukum alam tidak ada dalam pikiran manusia, oleh karena itu setelah ru’yanya selesai, saya merasakan beban yang berat dalam pemikiran saya bahwa ini adalah satu amanat yang jelas dimana didalamnya Allah Ta’ala sedang memberikan khabar gembira berupa kemenangan dalam suatu tingkatan baru walaupun satu bagian mimpinya sampai sekarang bagi saya belum jelas,  yaitu, mengapa kami tinggalkan teman-teman kami itu di belakang dan mengapa kami keluar berdua. Akan tetapi singkatnya pasti berpengaruh kedalam pikiran yaitu bukan suatu peringatan melainkan ini adalah suatu berita gembira bahwa walaupun gelombang air sungai menghentikan bis dalam  perjalanan kami, tapi itu tidak dapat menghentikan perjalanan kami.”[19]

Pendek kata, ini adalah ru’ya yang beberkat dimana beliau ini juga ada ikut serta. Beliau melihatnya yang dilihat dari namanya juga ini adalah mimpi yang mubarak (diberkati). Di dalamnya juga ada isyarat akan banyaknya kemajuan bagi jemaat.

Beliau sendiri adalah wujud doa. Menjalankan kehidupan dengan shalat Tahajjud. Orang baik dan banyak memperhatikan orang-orang miskin. Bahkan seseorang di kantornya menulis surat kepada saya, “Beliau selalu mengirimkan kepada orang-orang miskin melalui saya pada setiap bulan Ramadhan jatah pembagian rangsuman makanan, biji-bijian tepung gandum dan lain-lain dan tidak ada orang selain saya yang mengetahui hal ini.” Demikian juga berkaitan dengan urusan-urusan di kantor beliau adalah seorang yang sangat berpegang kepada peraturan nizam akan tetapi pembawaannya itu biasa saja. Rendah hati, juga bersahabat dengan orang miskin. Sekarang anak-anaknya dengan karunia Allah Ta’ala memiliki kondisi yang baik dalam usahanya. Mereka berbuat kebaiakan-kebaikan dalam pengkhidmatan   kepada makhluk Allah yang sedang terus berlangsung. Seorang putrinya ingin beliau upayakan menjadi dokter, akan tetapi ia (putrinya) mengatakan, “Ketika kami pergi dan bertemu dengan Hadhrat Khalifatul Masih IV ra maka beliau bersabda, ‘Kalau perempuan menjadi dokter maka akan timbul masalah besar, pekerjaan sehari-hari di rumah mendapat kesulitan [tidak tertangani].’ Beliau bersabda hanya ini saja tidak berkata lain namun demikian beliau (almarhum) menghentikan keinginannya. Setelah itu Allah Ta’ala telah menganugerahkan kebaikan padanya, Allah Ta’ala memberikan taufik padanya untuk pergi ke Kanada dan [menuntut pendidikan dan] mendapat gelar Doktor setelah meraih Phd.

Sekarang ada beberapa  hal kecil. Di sini [di negara-negara Barat yang makmur], suami istri bertengkar dalam hal anak-anak mereka yang mendapat tunjangan dari pemerintah. Suami berkata, saya yang mendapat. Istri berkata, saya yang mendapat. Akan tetapi anak almarhum menulis, “Saya mendapat nilai baik, maka saya mendapat uang bea siswa. Ayah saya  berkata, ‘Bea siswa ini kamu kareka kerja keras kamu. Akan tetapi pembelanjaan pelajaran kamu dan pembelanjaan kamu sehari-hari di rumah semuanya itu saya yang memenuhinya. Ini adalah uang beasiswa kamu sendiri. Di rumah ini, siapa pun juga termasuk saya tidak ada hak atas uang itu.’” Akan tetapi maksudnya itu bukan begini bahwa anak menuntut bahwa uang beasiswa itu sudah menjadi milikku. Maksud dari perkataannya itu adalah uang hendaknya dipergunakan sesuai dengan tujuan asalnya [beasiswa anak tentu untuk pendidikan anak itu sendiri].

Tn. Nuri menulis, “Sejak tahun 1985, almarhum merasakan sakit di jantung, dan melewati keadaan dimana kehidupannya akan segera berakhir, dan yang kini telah terjadi. Akan tetapi Allah Ta’ala mengeluarkan beliau dari berbagai mulut maut seperti ini. Saya menyampaikan di berbagai konperensi dan seminar kedokteran. Saya senantiasa menerangkan kasusnya dan menyampaikan tanda-tanda kehebatan-Nya. Para dokter selalu mengatakan, ’Bersama dengan pasien anda juga ada mukjizat.’ Ketika pergi ke Bangladesh seperti telah saya sampaikan, pada waktu itu juga saya sangat cemas, mudah-mudahan beliau dapat kembali dengan selamat. Karena saya mengirimnya ke sana, kendati pun beliau dalam kondisi sakit. Pendek kata, Allah Ta’ala selain menganugerahi beliau kondisi sehat juga tambahan umur beberapa tahun. Bukan hanya kehidupan bahkan dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan besar lainnya.”

Tn. Hibatul Rahman, Murabbi yang bekerja bersama beliau menulis, “Pada kesempatan hari Masih Mau’ud tanggal 20 Maret beliau mendapat bagian berceramah di Jamia Ahmadiyah akan tetapi beliau masuk Rumah Sakit. Maka  Principal [Kepala Jamiah] datang menengok beliau. (Tn. Principal juga menulis laporan yang sama kepada saya/Hudhur). Dengan bahasa isyarah tn. Choudry berkata, ‘Saya telah menyiapkan ceramah. Kemarin dari jam 8 pagi sampai dengan jam 12 siang saya terus duduk menyiapkan ceramah tapi kini saya berada di Rumah Sakit sehingga tidak dapat memberikan ceramah.’ Pendek kata dalam segala halnya beliau sangat pikirkan tugasnya, dan sebelumnya juga beliau terus bekerja.”

Kurang lebih selama 8 tahun saya (Hudhur) bekerja bersama beliau di kantor Wakalatil Maal. Banyak sekali yang telah saya pelajari. Beliau sangat baik dalam membuat rencana dan lain-lainnya. Sangat ahli dalam membuat anggaran dan kadang kala bekerja di kantor hingga jam 11-12 malam. Tapi beliau tidak meninggalkan karyawan yang lain dan ia sendiri pergi ke rumahnya. Sepanjang malam bersama para karyawan yang lain bekerja. Dalam dirinya terdapat keikhlasan dan penuh perhatian. Dulu [sebelum terpilih menjadi Khalifah] saya pernah ada dibawah pimpinan beliau. Ketika saya menjadi Nazir ‘Ala maka saya pun melihat semangat ketaatannya sungguh luar biasa, dan setelah saya dalam Khilafat maka keikhlasan dan perhatiannya bertambah  meningkat lagi. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau. Anak-anaknya juga selalu memiliki ikatan dengan Khilafat. Setelah Shalat Jum’at saya akan mengimami shalat jenazah ghaibnya. Insya Allah.

 

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Kitabul Bariyyah, Isytihar Wajibul Izhar, Ruhani Khazain 13, halaman 18

[3]Kitabul Bariyyah, Isytihar Wajibul Izhar, Ruhani Khazain 13, h. 298-299

[4] Kitabul Bariyyah, Ruhani Khazain jilid 13, hal. 254-258

[5] Kitabul Bariyyah, Ruhani Khazain jilid 13, hal. 313

[6] Shahih Bukhari, Kitab Ahaditsil Anbiyaa, bab wadzkur fil kitaabi Maryam, dar al-fikr/Beirut, Libanon/1994

“Diperlihatkan padaku di suatu malam saat aku dekat Ka’bah dalam suatu mimpi, ada seorang berwarna kulit gandum, paling bagus di antara orang-orang yang berwarna gandum, rambutnya jatuh panjang [lurus] hingga di antara kedua pundaknya dan tinggi yang sedang, air menetes dari kepalanya, ia meletakkan kedua tangannya kepada dua orang laki-laki di sisi kanan-kirinya dan ia sedang bertawaf di Bait [Ka’bah]. Aku bertanya, ‘Siapakah orang ini?’ Orang-orang menjawab, ‘Ini adalah al-Masih ibn Maryam.’ Kemudian, aku melihat seorang laki-laki di belakangnya berambut pendek keriting, mata kanannya ada cacat. Ia seperti yang kulihat dari putra Qathan, ia meletakkan tangannya pada bahu seorang laki-laki, mengelilingi (tawaf) di Baitullah. Saya bertanya, ‘siapakah orang ini?’ Mereka (orang-orang) menjawab,’ia Al-Masih ad-Dajjal’.”

 «وَأَرَانِي اللَّيْلَةَ عِنْدَ الْكَعْبَةِ فِي الْمَنَامِ، فَإِذَا رَجُلٌ آدَمُ كَأَحْسَنِ مَا يُرَى مِنْ أُدْمِ الرِّجَالِ، تَضْرِبُ لِمَّتُهُ بَيْنَ مَنْكِبَيْهِ، رَجِلُ الشَّعَرِ، يَقْطُرُ رَأْسُهُ مَاءً، وَاضِعًا يَدَيْهِ عَلَى مَنْكِبَيْ رَجُلَيْنِ وَهْوَ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ. فَقُلْتُ مَنْ هَذَا فَقَالُوا هَذَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ. ثُمَّ رَأَيْتُ رَجُلاً وَرَاءَهُ جَعْدًا قَطَطًا أَعْوَرَ عَيْنِ الْيُمْنَى كَأَشْبَهِ مَنْ رَأَيْتُ بِابْنِ قَطَنٍ، وَاضِعًا يَدَيْهِ عَلَى مَنْكِبَيْ رَجُلٍ، يَطُوفُ بِالْبَيْتِ، فَقُلْتُ مَنْ هَذَا قَالُوا الْمَسِيحُ الدَّجَّالُ».

[7] Shahih Bukhari, Kitab Ahaditsil Anbiyaa, bab wadzkur fil kitaabi Maryam, tercantum juga dalam Shahih Muslim, dar al-fikr/Beirut –libanon/1994 M

عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِهِ لَقِيتُ مُوسَى- قَالَ فَنَعَتَهُ- فَإِذَا رَجُلٌ- حَسِبْتُهُ قَالَ- مُضْطَرِبٌ رَجِلُ الرَّأْسِ، كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ شَنُوءَةَ- قَالَ- وَلَقِيتُ عِيسَى- فَنَعَتَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ- رَبْعَةٌ أَحْمَرُ كَأَنَّمَا خَرَجَ مِنْ دِيمَاسٍ- يَعْنِي الْحَمَّامَ- وَرَأَيْتُ إِبْرَاهِيمَ، وَأَنَا أَشْبَهُ وَلَدِهِ بِهِ- قَالَ- وَأُتِيتُ بِإِنَاءَيْنِ أَحَدُهُمَا لَبَنٌ وَالآخَرُ فِيهِ خَمْرٌ، فَقِيلَ لِي خُذْ أَيَّهُمَا شِئْتَ. فَأَخَذْتُ اللَّبَنَ فَشَرِبْتُهُ، فَقِيلَ لِي هُدِيتَ الْفِطْرَةَ، أَوْ أَصَبْتَ الْفِطْرَةَ، أَمَا إِنَّكَ لَوْ أَخَذْتَ الْخَمْرَ غَوَتْ أُمَّتُكَ».

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Malam ketika aku diisra’kan, aku bertemu dengan Nabi Musa as., ia seorang lelaki yang tinggi kurus dengan rambut berombak, seperti seorang Bani Syanu’ah. Aku juga bertemu dengan Nabi Isa as. ia berperawakan sedang, berkulit merah, seakan-akan baru keluar dari pemandian. Aku bertemu dengan Nabi Ibrahim as. Akulah keturunannya yang paling mirip dengannya. Lalu aku diberi dua bejana, yang satu berisi susu dan yang lain berisi arak. Dikatakan padaku: Ambillah yang engkau suka. Aku mengambil susu dan meminumnya. Kemudian dikatakan: Engkau diberi petunjuk dengan fitrah atau engkau menepati fitrah. Seandainya engkau mengambil arak, niscaya sesat umatmu.

أَخْبَرَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «رَأَيْتُ عِيسَى وَمُوسَى وَإِبْرَاهِيمَ، فَأَمَّا عِيسَى فَأَحْمَرُ جَعْدٌ عَرِيضُ الصَّدْرِ، وَأَمَّا مُوسَى فَآدَمُ جَسِيمٌ سَبْطٌ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ الزُّطِّ».

Imran bin al-Mughirah mengabarkan kepada kami dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Nabi saw bersabda : ”Saya melihat Isa, Musa dan Ibrahim, maka Isa itu berwarna merah, berambut ikal dan berdada lebar..”

[8] Kitabul Bariyyah, Ruhani Khazain jilid 13, hal. 299-302

[9] Kitabul Bariyyah, Ruhani Khazain jilid 13, hal. 303-305

[10] Kitabul Bariyyah, Ruhani Khazain jilid 13, hal. 305

[11] Terjemahan bahasa Arabnya: إنني إمام الزمان

[12] Ibnu Hazm (Spanyol, 994-1064) dalam menafsirkan kata tawaffa dalam ayat falamma tawaffaitani menulis: “Maksudnya di situ bukanlah menidurkan melainkan mewafatkan.” (al-Mahalla wa Kitab al-Fashl). Ibnu Hazm adalah penganut mazhab (pola pemikiran) Zhahiri, apa yang jelas-jelas nampak tertulis dalam nash tidak ditafsirkan secara rumit dengan ta’wil dan seterusnya, sebagai contoh kata tawaffa tetap diartikan mewafatkan seperti umumnya dipahami dalam pembicaraan sehari-hari.

Mu’tazilah adalah salah satu golongan dalam umat Islam yang mengutamakan akal (bir ra’yi, logika dan rasionalitas) dalam memahami al-Quran dan hadits. Tafsir al-Kasysyaaf yang ditulis oleh Mahmud bin Umar Zamakhsyari (abad XI), seorang Mu’tazili menafsirkan ‘inni mutawaffiika wa raafi’uka ilayya’ (Aku wafatkan engkau dan Aku angkat engkau kepada-Ku) sebagai berikut: “Aku akan menyelamatkan engkau dari pembunuhan orang-orang yang mengingkari engkau, dan Aku akan tetap hidupkan engkau hingga umur yang panjang, Aku akan wafatkan engkau dengan cara alami, takkan Kubiarkan orang kafir membunuh engkau. Makna raafi’uka ialah Aku tempatkan engkau pada kedudukan tsawaab.”

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. di dalam buku ‘Itmaamul Hujjah’ (bahasa Arab) menulis: “Penulis kitab Majma’ul Bihar menulis: ‘Dan Malik telah berkata bahwa beliau a.s. telah wafat.’ Kemudian lihatlah dalam Al-Kasysyaafdan takutlah kepada Allah dan janganlah anda memilih jalan kegelapan seperti  orang-orang yang lancang. Selain itu, kalian pun mengetahui akidah golongan Mu’tazilah yakni mereka tidak berpendapat bahwa Nabi Isa a.s. masih hidup, melainkan mereka menyatakan bahwa Isa a.s. telah wafat dan hal ini mereka jadikan sebagai akidah. Tidak diragukan bahwa mereka termasuk golongan dalam Islam. Sungguh umat telah terpecah setelah tiga abad.  Perpecahan dalam agama Islam ini tidak bisa diingkari. Mu’tazilah adalah salah satu dari antara kelompok-kelompok yang memisahkan diri. “

Pemikiran kaum Mu’tazilah dihargai tinggi oleh orang-orang yang tentu mendapat penghormatan tersendiri di kalangan golongan yang menamakan diri Ahlus Sunnah dan kaum Tarekat (Sufi). Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menyebutkan tokoh-tokoh tersebut: “Imam Abdul Wahhaab Asy-Sya’rani yang diakui oleh orang–orang Tsiqaat (kalangan terpercaya) telah berkata dalam buku beliau yang terkenal dengan nama “At-Thabaqaat” : وَكاَنَ سَيِّدِيْ أَفْضَلُ الدِّيْنِ رَحِمَهُ اللهُ يَقُوْلُ كَثِيْرٌ مِنْ كَلاَمِ الصُّوْفِيَّةِ لاَ يَتَمَشَّى ظَاهِرُهُ إٍلاَّ عَلَى قَوَاعِدِ الْمُعْتَزِلَةِ وَ الْفَلاَ َسِفَةِ – فَالْعَاِقلُ لاَيُبَادِرُ إِلىَ الإِْنْكاَرِ بِمُجَرِّدِ عِزَاءِ ذَلِكَ اْلكَلاَمِ إِلَيْهِمْ بَلْ يَنْظُرُ وَيَتَأَمَّلُ فِيْ أَدِلََتِهِمْ –

‘Dan Sayyid-ku (Tuanku) Afdhaluddiyn r.h. berkata: Kebanyakan kata-kata keshufian wujudnya tidak akan berpijak selain di atas kaidah-kaidah Mu’tazilah dan para Filosuf. Jadi, seorang yang berakal tidak akan terburu-buru untuk menolak dengan melontarkan nisbat kata-kata itu kepada mereka. Sebaliknya, ia akan memandang dan merenungkan dalil-dalil mereka.’ Kemudian ia berkata: وَ رَأَيْتُ فِيْ رِسَالَةِ سَيِّدِيْ الشَّيْخِ مُحَمَّدٍ الْمَغْرِبِيِّ الشَّاذَلِيِّ أَعْلَمُ أَنَّ طَرِيْقَ الْقَوْمِ مَبْنِيٌّ عَلىَ شُهُوْدِ اْلإِثْبَاتِ وَ عَلَى مَا يَقْرُبُ مِنْ طَرِيْقِ الْمُعْتَزِلَةِ فِيْ بَعْضِ الْحَالاَتِ –

‘Dan aku telah melihat risalah Sayyid-ku Asy-Syeikh Muhammad Al-Maghribiy Asy-Syadzaaliy. Aku mengetahui bahwa jalan kaum itu dibangun di atas buktibukti yang kuat dan di atas apa yang mendekati jalan Mu’tazilah dalam banyak hal.’ Inilah yang kami kutip dari Lawaaqihul-Anwaar.” (Itmamul Hujjah)

Selain itu, masih banyak lagi para alim umat yang berpendapat bahwa nabi Isa a.s. telah wafat. Contohnya, Imam al-Ghazali dalam Nazharaat fil Qur’an, kemudian mufassir Syi’ah, Hadhrat Imam Jubai dalam Tafsir Majma’ul Bayan dan Syaikh Sa’id al-Qummi dalam Ikmaluddin.

[13] Zharuratul Imam, Ruhani Khazain jilid 13, halaman 495-496

[14] Sesuai dengan pesan Nabi Muhammad saw kala menyebut tentang Isa yang akan datang dalam hadits sebagai berikut: 1. ‘… man adrakahu fal yaqra’ ‘alaihissalaam’ – “Barangsiapa menemuinya (Isa yang dijanjikan) hendaknya sampaikan salam saya kepadanya.” (Thabrani, al-Ausath wash Shaghir); 2. ‘… man adraka mingkum ‘Isa bna Maryama falyaqra’hu minnis salaam’ – “Barangsiapa dari antara kalian menemui Isa ibnu Maryam  (mengetahui, mengimaninya) maka sampaikan salamku padanya.” (Durrul Mantsur juz II)

Shahih Muslim, kitabul Iman, bab Nuzuli Isa bni Maryam bi syari’ati Nabiyyina Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي نَافِعٌ مَوْلَى أَبِي قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ».

Abu Hurairah berkata, “Bersabda Rasulullah s.a.w., ‘Bagaimanakah keadaan kalian ketika datang ibn Maryam diantara kalian dan menjadi imam kalian dari kalian?’”

Hadits yang sama dan semakna ada juga di Shahih al-Bukhari kitab Ahadits al-anbiyaa bab nuzul ‘iisa bna Maryama ‘alaihas salaam, yang juga ada hadits lainnya berikut ini:

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ، حَتَّى تَكُونَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا». ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: {وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا}.

[15] Kitabul Bariyyah, Ruhani Khazain, vol. 13, hal. 328-329

Berbagai ulama dan wali zaman dulu telah mengabarkan bahwa Imam Mahdi akan ditentang dan dimusuhi oleh para ulama di zamannya ketika ia muncul. Contohnya Muhyiddin Ibn Arabi, Syaikh Ahmad Sirhindi dan Nawab Shiddiq Hasan Khan. Ibn Arabi menulis dalam ‘Al-Futuhaat al-Makiyyah’ demikian. Berikut kutipan cetakan  jilid III, h. 377, Darush Shadir, Beirut:

[16] Kitabul Bariyyah, Ruhani Khazain, vol. 13, hal. 328

[17] Terjemahan bahasa Arabnya:

جاء نذير في الدنيا، فأنكروه أهلها وما قبلوه، ولكن الله يقبله، ويُظهر صدقه بصولٍ قويٍّ شديدٍ صول بعد صولٍ”.

[18] Kitabul Bariyyah, Ruhani Khazain jilid 13, hal. 329-330

[19] Khotbah Jumat 12 Januari 1990, Khuthubaat-e-Tahir jilid 9, h. 28-30