Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Ringkasan Khotbah Jumat

Persiapan Jalsah Salanah UK 2016

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

05 Agustus 2016 di Masjid Baitul Futuh, London

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Jalsah Salanah Jemaat Britania Raya akan dimulai pada Jumat mendatang, إن شاء الله تعالى Insya Allah Ta’ala. Dengan karunia Allah, para tamu sudah mulai berdatangan dari berbagai Negara untuk menghadiri Jalsah. Semoga Allah memudahkan para panitia Jalsah untuk mengkhidmati/melayani para tamu dengan sebaik-baiknya, baik tamu dalam negeri yang datang dari berbagai lokasi di Inggris maupun dari luar negeri, dari berbagai negara. (آمين)

Dengan karunia Allah, orang-orang Jemaat yang sudah tua, para muda/i, anak anak, para wanita, dari berbagai pelosok Inggris mengajukan diri menjadi sukarelawan untuk melayani para tamu dan menjadi panitia Jalsah. Dengan meningkatnya jumlah peserta, pengaturan dan penertiban Jalsah juga meluas, dan lebih banyak Khuddam yang diperlukan. Dengan karunia Allah, anak-anak dan orangtua, kaum pria dan kaum wanita Jemaat mengajukan diri mereka untuk melayani/berkhidmat tanpa ada kesulitan/berat hati dan dilakukan dengan senang hati. Sebagian besar dari para sukarelawan muda dan anak anak ini menganggap pengkhidmatan tersebut sebagai karunia dari Allah sehingga mereka mendapat kesempatan untuk melayani para tamu Hadhrat Masih Mau’ud as. Dengan karunia Allah, sudah menjadi karakter para anggota Jemaat Ahmadiyah di semua negara dari semua golongan/tingkatan dan umur bahwa para anggotanya harus melayani para tamu di acara Jalsah Salanah.

Ada banyak orang yang menunggu berkhidmat seperti ini sejak lama bertahun-tahun yang lalu, tetapi di tiap tahunnya mereka terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan baru. Sebagian orang bekerja sama dengan para tamu langsung di hari Jalsah dan sebagian lagi memulai pekerjaan di hari-hari Jalsah, dan sebagian lagi memulai pekerjaan di hari-hari ini karena para tamu telah mulai menjadi panitia, sebagaimana telah saya katakan. Seperti telah menjadi kebiasaan, maka saya hendak mengarahkan perhatian pada beberapa hal secara ringkas guna mengingatkan.

Minggu lalu, dari Jumat sampai Minggu, Jemaat Ahmadiyah Amerika menyelenggarakan Jalsah Salanah. Sebagian program mereka disiarkan di internet atau youtube. Saya melihat sebuah wawancara seorang wartawan dengan seorang Khadim yang menjelaskan bagaimana Khudam dan para sukarelawan bekerja untuk persiapan Jalsah Salanah. Pentingnya pengorbanan dan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan Jalsah.

Ada juga sebuah wawancara di sana terhadap seorang anak muda berusia 19-20 tahun yang lahir, hidup dan besar di sana. Dia ditanya, “Apa yang Anda dapatkan dari semua pekerjaan yang Anda lakukan? Berapa banyak uang yang Anda dapatkan? Berapa Dollar yang dihasilkan?” Pertanyaan ini juga diajukan kepada Khuddam lain. Jawaban mereka dan jawaban anak muda yang lahir dan besar di AS tersebut, adalah: “Kami bekerja dengan sukarela. Upah yang kami dapatkan jauh di luar yang dapat digapai oleh pemahaman duniawi. Kami melakukan kerja ini untuk mendapatkan ridha Tuhan.” Padahal, seperti telah saya katakana, ia lahir dan besar di Amerika, tempat pendekatan dan pemikiran materialistik/keduniaan sangat berkuasa di sana.

Inilah karakter para Ahmadi yang tinggal di negara mana saja di dunia, apakah itu di Afrika, atau di Indonesia, atau warga dari negara-negara Barat yang maju. Ketika prioritas/pengutamaan orang di dunia selama liburan musim panas di sekolah-sekolah dan tempat-tempat kuliah adalah permainan, olahraga dan bertamasya, ketika prioritas para karyawan di dunia selama liburan mereka dari kerja adalah untuk istirahat dan menghabiskan liburan dengan keluarga mereka; pada waktu yang sama prioritas seorang Ahmadi berbeda. Jika waktu Jalsah Salanah jatuh pada musim liburan ini, maka baik yang terpelajar maupun yang tidak, para pengurus maupun anggota, para spesialis maupun pekerja biasa serta pelajar dan mahasiswa mengajukan diri mereka secara sukarela untuk melayani para tamu Hadhrat Masih Mau’ud as.

Di belahan dunia maju yang lain, Jalsah Salanah mereka diadakan di aula-aula besar atau di tempat-tempat dengan berbagai fasilitas dan kenyamanan. Namun, Jalsah Salanah UK diadakan di sebuah tempat yang mana semua pengaturan diadakan secara temporer/sementara dan semua fasilitas dan kemudahan disediakan. Dewan Kota mengajukan persyaratan bahwa setelah acara Jalsah Salanah selesai, segala sesuatu yang dipakai untuk acara Jalsah dari awal hingga akhir, harus dipindahkan dari tanah tersebut untuk kemudian dalam 28 hari tanah itu harus dijadikan sebagai lahan pertanian. Karena itu, untuk melakukan proyek yang sangat besar dalam periode waktu yang terbatas dibutuhkan sukarelawan yang sangat banyak. Mempertimbangkan sifat proyek Jalsah Salanah ini, jangka waktu acara ini dari awal sampai berakhir cukup pendek. Para sukarelawan mulai mengerjakan persiapan acara yang tidak dilakukan di lokasi berlangsungnya Jalsah Salanah 2-3 minggu sebelum 28 hari. Ini berarti bahwa ada para sukarelawan dari sini yang mengorbankan waktu dan harta mereka selama 1 – 1,5 bulan. Ini waktu yang lama sekali untuk dihabiskan demi mengerjakan pekerjaan sukarela. Ini dikarenakan para sukarelawan ini mengetahui perlunya pengorbanan dan pentingnya tugas-tugas pada Jalsah Salanah. Mereka telah terlibat dalam pelayanan/pengkhidmatan ini dari tahun ke tahun. Ada beberapa yang ikut bergabung untuk pertama kalinya. Ada beberapa yang berurusan langsung dengan para tamu. Beberapa orang memulai selama hari-hari berlangsungnya Jalsah, sedangkan yang lain ada yang sudah memulai duluan karena para tamu sudah mulai berdatangan, seperti yang telah saya katakan. Seperti biasanya, sebagai pengingat, saya akan mengatakan sesuatu kepada mereka semua.

Kadang kadang, beberapa orang mempunyai antusiasme yang luar biasa untuk berkhidmat, namun setiap orang memiliki temperamen/kecenderungan perasaan mereka masing-masing. Ada beberapa yang kurang sabar. Beberapa kurang ilmu pengetahuannya, maka mereka bisa jadi bertindak sedemikian rupa sehingga dapat menyebabkan ketidaknyamanan/menyakiti hati para tamu. Dengan mengingatkan akan membuat para sukarelawan/panitia Jalsah siaga dan berjaga jaga serta berusaha untuk melaksanakan tugas-tugas mereka dengan lebih penuh perhatian. Jika tidak demikian, saya tidak dapat mengatakan bahwa secara umum para pekerja/panitia Jalsah mengerjakan tanggungjawab-tanggungjawab mereka dengan antusiasme yang sangat besar. Tidak, tentu saja semua sukarelawan bekerja dengan semangat melayani. Mengingatkan dan membuat para petugas bersiap-siap dan bersiaga merupakan perintah Allah Ta’ala juga. Karena itulah saya menarik perhatian mereka pada khotbah Jumat ini sebelum pelaksanaan Jalsah.

Allah Ta’ala telah menjelaskan di dalam Al-Quran mengenai pentingnya menghormati para tamu ketika membicarakan mengenai keramahtamahan dan kehangatan Nabi Ibrahim as terhadap tamunya. Demikian pula, Nabi Muhammad saw juga menerangkan pada beberapa kesempatan tentang pentingnya menghormati tetamu dengan dasar akhlak. Dan, pada masa ini, Hadhrat Masih Mau’ud as telah memperingatkan kita agar secara khusus menaruh perhatian pada hal ini. Bahkan, beliau as telah menyebutkan salah satu tujuan kedatangan beliau untuk mengurus/mengkhidmati tetamu yang bepergian demi kepentingan mempelajari agama. Beliau menulis pada satu waktu: “Cabang ketiga dari proyek ini berkaitan dengan orang-orang yang bepergian demi mengunjungi saya guna berbahas/mencari kebenaran dan untuk tujuan-tujuan yang lain..” Lalu, bersabda, “Cabang ini juga terus bertumbuh dan berlanjut…” Selanjutnya, bersabda, “Ribuan orang mereka datang kepadaku.”

Ribuan orang datang pada masa itu ke desa kecil Qadian yang tidak ada fasilitas apa-apa ketika itu untuk mengkhidmati tetamu. Hadhrat Masih Mau’ud as menyediakan makanan dan persediaan bagi para tamu yang dibawa dari kota Batala atau Amritsar. Dalam keadaan-keadaan yang demikian, terkadang orang-orang mengalami kesulitan dengan transportasi karena tidak adanya kendaraan. Panitia terkadang berjalan kaki atau menaiki gerobak kuda. Pengkhidmatan tetamu di area terpencil yang demikian adalah sulit.

Karena itulah, untuk menguatkan hati Hadhrat Masih Mau’ud as, Allah sejak sebelumnya [masa Jalsah] telah berfirman kepada beliau as dalam sebuah wahyu berbahasa Arab, سيأتيك الناس بكثرة، فلا تصعر لخلق الله ولا تسأم من الناس برؤية كثرتهم ”Orang orang datang kepada engkau berbondong-bondong, karena itu janganlah engkau kasar kepada mereka dan janganlah engkau harus tidak merasa bosan melihat jumlah mereka yang sangat besar.” Saat ini di segala sudut dunia, Jalsah-Jalsah Salanah yang diadakan memperlihatkan kita bagaimana orang-orang datang dalam jumlah sangat besar dan diberkati dengan jamuan secara ruhani maupun jasmani.

Di Inggris, karena Khalifah-e-Waqt ada di sini, maka para tamu datang dari seluruh penjuru dunia hanya tiada lain kecuali untuk belajar agama dan demi memuaskan dahaga ruhani mereka. Saat ini, para pelayan Hadhrat Masih Mau’ud as melayani para tamu dengan puncak keikhlasan dan dedikasi serta tanpa dan lelah, dan tanpa menunjukkan kejengkelan atau kemarahan sesuai dengan/dengan taat pada petunjuk/perintah Allah. Ini adalah tugas mereka yaitu melayani para tamu dan berupaya menyelenggarakan Jalsah dengan sebaik-baiknya.

Orang-orang Muslim yang bukan dari Jemaat kita dan demikian pula orang-orang bukan Muslim, yang menghadiri Jalsah selalu terkesan dan kagum dengan kerja para relawan. Mereka terkejut betapa anak-anak kecil melakukan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka dan mereka memenuhinya dengan cara yang sebaik-baiknya. Tahun lalu seorang tamu dari Uganda yang juga Menteri di sana berkata,

“Saya merasa heran dan kagum melihat bagaimana orang-orang melakukan penorbanan demikian besar dengan sukarela. Bahkan, saya tidak membayangkan untuk menghadiri sebuah konvensi (Jalsah) yang mana bukan manusia yang bekerja namun para malaikat yang terlihat aktif bekerja di sana. Bahkan, jika sesuatu diminta 20 kali [kepada para panitia], maka sesuatu tersebut diberikan dengan wajah tetap tersenyum.”

Banyak yang mengungkapkan pada saya, “Ketika anak-anak itu menyajikan makanan kepada kami, mereka bersikap menyenangkan dan tersenyum, mereka melayani air minum di Jalsah Gah untuk kami dengan penampilan yang sangat menyenangkan. Mereka menanyakan berulang-ulang, ‘Ingin air minum?’ Perlakuan oleh para sukarelawan ini tidak hanya terbatas pada tamu-tamu khusus, namun kepada setiap tamu.”

Ini adalah akhlak dan kualitas semangat melayani yang telah dan akan menjadi tanda dan kebiasaan setiap pekerja Jemaat kita. Setiap sukarelawan harus mempertahankan kualitas akhlak ini agar tetap hidup selamanya dan di departemen manapun ia bekerja.

Ketika para tamu kita datang, maka mereka akan berinteraksi dengan berbagai departemen yang berbeda. Segera ketika mereka datang, mereka akan berinteraksi dengan departemen penerimaan tamu. Departemen penerimaan tamu biasanya menyambut para tamu dengan perlakuan yang cukup baik. Saat seorang tamu datang setelah perjalanan, ia lelah. Seberapa banyakpun fasilitas yang mungkin tersedia selama perjalanannya, ada kelelahan dan kepenatan dari perjalanan bahkan di waktu waktu-ini. Departemen penerimaan tamu harus selalu memperhatikan hal ini.

Departemen penerimaan tamu ada yang bertugas di Bandar Udara dan umumnya bekerja dengan baik. Namun ketika tamu datang dari negara-negara tetangga dengan mobil atau bus, mereka datang setelah perjalanan yang memakan waktu lama berjam-jam. Mereka lelah. Jika mereka tinggal di penginapan/tempat yang telah disediakan oleh Jemaat, maka panitia di sana harus mengingat sabda Rasulullah Nabi Muhammad saw:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

‘Tabassumuka fii wajhi akhiika shadaqatun.’

“ketika engkau bertemu saudaramu, senyumlah, dan itu adalah sedekah.”[1]

Beliau juga bersabda di lain kesempatan:

لاَ تَحْقِرَنَّ منَ المعْرُوفِ شَيْئاً ولوْ أنْ تَلْقَ أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

‘Laa tahqiranna minal ma’ruufi syai-an wa lau an talqa akhaaka bi wajhin thaliiq.’

“Janganlah menganggap tidak penting terhadap perbuatan baik meskipun kecil. Termasuk diantaranya ialah saudara engkau dengan wajah yang ceria (menyenangkan).”[2]

Perhatikanlah! Betapa ajaran-ajaran Islam demikian Indah. Kita diperintahkan untuk menghormati tamu. Hal ini merupakan petunjuk/perintah yang diganjar pahala. Keramahtamahan dalam menyambut tetamu, yaitu berinteraksi dengan wajah tersenyum, pahala dan ganjarannya seperti beramal sedekah. Bahkan, dengan dua pahala. Satu pahala adalah untuk penyambutan tetamu, dan pahala yang kedua adalah untuk perlakuan yang menyenangkan dan berakhlak baik terhadap tetamu. Berinteraksi dengan sikap dan tindak-tanduk yang baik terhitung sebagai hasanah (keutamaan/kebaikan). Dan hanya Allah-lah yang lebih mengetahui seberapa besar Dia akan menganjar pahala untuk sebuah kebaikan.

Selanjutnya, Hadhrat Rasulullah saw bersabda,

وَتُدِلُّ الْمُسْتَدِلَّ عَلَى حَاجَتِهِ ، فَهَذَا كُلُّهُ صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ  

‘Wa tudillul mustadilla ‘ala haajatihi…fa haadza kulluhu shadaqatun minka ‘ala nafsika.’

“Menunjukkan jalan [kepada orang yang perlu ditunjukkan jalan guna keperluannya] juga termasuk sedekah darimu untuk dirimu sendiri.”[3]

Panitia yang bertanggung jawab di bidang ini harus memperhatikan agar mereka menyambut orang-orang yang datang setelah menempuh perjalanan jauh dengan penuh keramahan dan akhlak yang baik serta membantu serta mengantar para tamu itu –melalui asisten mereka/panitia- menuju tempat penginapan mereka. Khususnya ketika yang datang adalah kaum wanita dan anak-anak, tanpa ada laki-laki beserta mereka, merupakan kewajiban para sukarelawan terkait untuk mengantar mereka ke tempat penginapan mereka. Hal ini merupakan satu hal yang sangat penting karena terkadang mereka memerlukan bantuan ketika harus memindahkan barang-barang bawaan mereka.

Berbicara dengan cara yang lemah lembut dan penuh senyuman tidak hanya berlaku khusus untuk panitia penerima tamu saja, tapi juga adalah kewajiban bagi semua panitia di setiap bidang.

Satu hal yang menjadi keharusan sekali saat ini dengan melihat situasi terkini, untuk selalu membawa kartu nama/identitas Jemaat. Beberapa orang yang berasal dari luar negeri datang dengan membawa surat pengantar dari jemaat mereka dan kemudian kartu identitas untuk mereka disiapkan di sini. Tapi terkadang hal ini terjadi ketika mereka tidak membawa surat pengantar tersebut. Di dalam kondisi seperti itu, maka perlu sekali adanya pengesahan. Kartu tidak dapat dikeluarkan tanpa adanya jaminan. Oleh karena itu, prosedur untuk mengkonfirmasi harus dilakukan. Selama proses tersebut, sangat penting untuk memperlakukan para tamu dengan sangat baik. Sambil menunggu proses konfirmasi itu berlangsung, para panitia harus menyiapkan tempat duduk yang nyaman untuk mereka. Terkadang, anak-anak yang ikut bersama mereka menjadi gelisah karena terlalu lama menunggu.

Semua tamu yang datang ke acara Jalsah harus membawa surat pengantar dari [Pimpinan Nasional] Jemaat Ahmadiyah di negaranya masing-masing dan mereka harus membawa kartu nama mereka (AIMS, pent). Jika dikarenakan suatu hal, kartu itu hilang atau tidak dibawa, maka bidang yang terkait hendaknya menunjukkan sikap yang ramah dan membuat pengaturan sedemikian rupa sehingga mereka dapat menunggu sambil duduk dengan nyaman.

Terkait dengan penyediaan/penyajian makanan dan minuman juga merupakan salah satu aspek dari penerimaan tamu. Tamu-tamu yang berada di penginapan/tempat-tempat yang di bawah pengaturan Jemaat perlu mendapatkan makanan 2 atau tiga kali setiap harinya. Selama 3 hari jalsah berlangsung, pada umumnya setiap tamu datang ke Jalsah ini untuk mendengarkan ceramah. Oleh karena itu, sekurang-kurangnya mereka mendapatkan makan siang pada tiga hari tersebut di bawah pengaturan Jemaat. Para panitia konsumsi dan pembantunya harus mengkhidmati para tamu dengan sikap yang ramah dan juga sopan.

Diperlakukan dengan sikap yang ramah dan sopan merupakan hak dari setiap tamu dan kewajiban bagi tuan rumah (Urdu: Mezbaan). Beberapa orang menyulitkan para panitia dalam hal makanan. Mereka meminta ini dan itu dan membuat permintaan yang aneh-aneh. Akan tetapi para panitia harus sabar. Jangan sampai ada perilaku yang tidak pantas, komentar atau perkataan apapun dari tuan rumah yang melukai perasaaan para tamu.

Para sahabat Hadhrat Rasulullah saw menunjukkan contoh pengkhidmatan kepada tamu yang begitu luar biasa sehingga layak ditulis dengan tinta emas. Hadhrat Rasulullah saw meminta seorang sahabat untuk menjamu seorang tamu beliau dan memberi makan tamu tersebut. Kemudian, sesuai dengan perintah Hadhrat Rasulullah saw, sahabat tersebut membawa tamu itu ke rumahnya. Sang isteri berkata bahwa hanya ada tersisa sedikit makanan di rumah dan itupun untuk anak-anak. Sang suami dan isteri kemudian berdiskusi dan kemudian menidurkan anak-anak mereka dengan sesuatu cara. Ketika makanan disajikan kepada tamu itu, lampu dimatikan dan di dalam kegelapan, sang tuan rumah berpura-pura makan sehingga tamu itu makan dengan lahapnya tanpa mengetahui bahwa tuan rumah sebenarnya tidak memakan makanan apapun. Dengan cara ini, tamu itu tidak mengetahui bagaimana penerimaan tamu umtuknya telah disiapkan oleh tuan rumah dan tamu itu makan dengan tenang. Pagi harinya, ketika sahabat tersebut datang ke hadapan Hadhrat Rasulullah saw, beliau saw bersabda bahwa Allah Ta’ala pun sampai tersenyum melihat perbuatan yang dilakukannya tadi malam.[4] Pengorbanan dari keluarga itu dilakukan karena tamu tersebut adalah tamu Hadhrat Rasulullah saw, padahal pada umumnya para sahabat pun biasa melayani tamu-tamu yang datang. Tetapi, perlakuan khusus yang diberikan kepada tamu itu adalah dikarenakan tamu itu adalah tamu Hadhrat Rasulullah saw.

Saat ini, setiap panitia sedang melakukan suatu pengorbanan dan hendaknya dia mempersembahkan pengorbanannya dengan corak seperti itu, yaitu ia sedang mengkhidmati para tamu Hadhrat Masih Mau’ud as, yang merupakan pelayan sejati Hadhrat Rasulullah saw. Walaupun pengorbanan dari sahabat tadi, yaitu dengan cara menyajikan makanan kepada tamu sehingga anak-anaknya tidur dalam keadaan lapar, merupakan suatu pengorbanan yang besar, namun hal itu tidak perlu dilakukan di zaman seperti ini. Dengan karunia Allah Ta’ala, sesuai dengan janji Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, dimanapun Jemaat Ahmadiyah berdiri dengan kokoh di dunia ini, maka disana langgar Khana pun tersedia. Khususnya selama beberapa hari ini, jika ada jalsah maka akan ada pengaturan yang khusus terkait dengan penerimaan tamu. Yang harus kita lakukan adalah mengambil makanan dari dapur dan menyajikannya kepada para tamu serta memperlakukan mereka dengan penuh kelembutan. Apabila kita mengkhidmati para tamu yang sedang melakukan safar/perjalanan untuk tujuan agama, maka Allah Ta’ala pun akan sangat senang dengan hal itu.

Jika penerimaan tamu tidak dilakukan dengan cara yang sebagaimana mestinya, maka Allah Ta’ala akan menunjukan rasa ketidaksenangan-Nya. Di satu kesempatan, beberapa tamu diperlakukan secara istimewa sedangkan sebagian tamu lainnya justru diabaikan. Hal ini dulu pernah dilakukan oleh panitia penerima tamu di zaman Hadhrat Masih Mau’ud as. Malam harinya, Allah Ta’ala memberitahukan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan memperlihatkan perilaku orang-orang munafik tersebut. Ada perbuatan riya malam tadi dan para tamu tidak diperlakukan dengan sebagaimana mestinya. Beberapa orang miskin tidak diberi makan. Hadhrat Masih Mau’ud as. marah dan tidak menyukai kejadian tersebut. Kemudian beliau mengambil alih dan melayani tamu itu dengan tangan beliau sendiri. Diriwayatkan bahwa para panitia itu kemudian diusir dari Qadian selama 6 bulan.

Oleh karena itu, ketika kita mengajukan diri untuk melakukan pengkhidmatan ini, maka kita harus mengkhidmati setiap orang tanpa membeda-bedakan. Setiap tamu yang datang ke Jalsah ini adalah tamu jalsah. Kita harus memperlakukan setiap orang dengan cara-cara yang baik dan penuh kelembutan, tidak membeda-bedakan apakah ia orang kaya atau tamu istimewa yang harus dijamu secara khusus. Setiap orang harus diberi makan dimana pengaturan untuk itu telah disiapkan.

Pada umumnya, para Ahmadi hendaknya makan di satu tempat. Mereka tidak diperkenankan makan di tempat khusus yang dibuat untuk para tamu dari luar (non ahmadi/non muslim). Panitia perlu memperhatikan hal ini. Beberapa panitia membawa kerabat mereka untuk makan di tempat yang seharusnya digunakan oleh para tamu dari luar. Pada umumnya seorang tamu ahmadi, walaupun ia adalah seorang pengurus, hendaknya makan di tempat yang biasa Ahmadi lainnya makan.

Ia hendaknya berdoa kepada Allah Ta’ala sepanjang waktu agar Allah Ta’ala menerima pengkhidmatan kita yang kecil ini kepada para tamu Hadhrat Masih Mau’ud as dan semoga pekerjaan kita terhindar dari segala bentuk riya dan dilakukan semata-mata demi meraih keridhaan Allah Ta’ala.

Di zaman Hadhrat Masih Mau’ud as, ada banyak tamu-tamu Hadhrat Masih Mau’ud as yang datang dan tinggal beberapa hari di Qadian. Pengaturan untuk tempat tinggal mereka cukup sulit ketika itu, karena Qadian adalah sebuah tempat yang kecil. Sesuai dengan petunjuk dari Allah Ta’ala bahwa janganlah merasa khawatir dan janganlah lelah. Hadhrat Masih Mau’ud as membuat semacam pengaturan yang informal yang bisa dilakukan. Terkadang, dikarenakan banyaknya tamu yang datang di musim dingin, beliau as. memberikan selimut beliau dan anak-anak beliau kepada para tamu.

Di satu waktu, ada banyak tamu yang datang sehingga bahkan isteri beliau (Hadhrat Amma Jan ra.) merasa khawatir karena memikirkan dimana para tamu itu akan tinggal dan bagaimana pengaturan terhadap mereka dapat dibuat. Saat itu, Hadhrat Masih Mau’ud as menceritakan sebuah kisah kepada isteri beliau.

Seorang musafir kemalaman di sebuah hutan. Malam itu begitu gelap. Tidak ada desa di sekitarnya. Tidak ada tempat, desa dimana dia bisa pergi dan menginap. Musafir yang malang itu kemudian bersandar di sebuah pohon untuk melewati malam tersebut. Ada sepasang burung yang berada di atas pohon itu. Sepasang burung itu kemudian berdiskusi dan memutuskan bahwa orang yang bersandar di bawah sarang mereka itu adalah tamu mereka sehingga merupakan kewajiban mereka untuk mengkhidmatinya. Lalu bagaimana cara mereka mengkhidmati musafir tersebut? Pertama, mereka berfikir bahwa cuaca malam ini sangat dingin sehingga mereka harus menyediakan sesuatu yang dapat dibakar untuk membuat sang musafir itu hangat. Tetapi, mereka tidak mempunyai apa-apa. Mereka kemudian berfikir dan memutuskan bahwa mereka bisa membuang dan menjatuhkan sarang mereka ke bawah supaya musafir itu bisa membakarnya. Lalu, burung itu kemudian melempar sarangnya ke bawah. Dengan membuat api dari dedaunan dan ranting dari sarang burung itu, tamu tersebut dapat membuat api dan menghangatkan dirinya sendiri. Setelah itu, burung-burung itu kemudian berfikir lagi bahwa mereka tidak memiliki apa-apa untuk memberi makan sang musafir itu. Mereka memutuskan untuk menjatuhkan diri mereka sendiri ke bara api tersebut sehingga setelah mereka terpanggang di bara api, sang musafir dapat memakan mereka. Dengan begitu, burung-burung tersebut telah menyediakan makanan untuk sang tamu.

Hadhrat Masih Mau’ud as menceritakan kisah ini dengan tujuan bahwa alih-alih menjadi khawatir akan kedatangan para tamu, seseorang justru hendaknya harus mengkhidmati para tamu dengan semaksimal mungkin, dengan pengorbanan yang dapat ia lakukan. Oleh karena itu, di dalam cerita ini terdapat pelajaran bagi kita semua yang mempersembahkan diri kita untuk mengkhidmati tetamu agar berusaha semaksimal mungkin menunaikan hak-hak kewajiban pengkhidmatan.

Parkir mobil juga merupakan bidang lainnya yang sangat penting. Terkadang, para tamu menunjukkan tingkah laku yang tidak baik dan memaksa memarkirkan mobil mereka di sembarang tempat, semau mereka, bukan di tempat yang telah ditentukan oleh para panitia. Apabila itu terjadi, maka para panitia hendaknya berusaha semaksimal mungkin unttuk memberikan pemahaman kepada mereka dengan cara yang lemah lembut sopan. Para panitia juga hendaknya memberitahukan hal tersebut kepada atasan mereka.

Ada keluhan tahun lalu dimana beberapa wanita ingin memarkirkan mobil mereka lebih maju ke depan. Terjadi adu mulut yang cukup sengit dengan petugas yang sedang bertugas ketika itu. Adalah tanggung jawab dari setiap panitia untuk menjalankan tugas mereka dan diperlukan kehati-hatian yang lebih di dalam kondisi semacam itu, khususnya dalam hal parkir. Tapi sembari menjalankan tugas-tugas mereka itu, sebagaimana yang saya katakan, sikap yang baik hendaknya senantiasa diperlihatkan. Jika seseorang membuat suatu permintaan yang wajar, orang tersebut sakit atau ada alasan-alasan lain, maka berilah pemahaman kepadanya dengan sabar dan katakan kepada mereka bahwa anda akan memanggil atasan anda sehingga ia dapat memberinya kemudahan. Dan mintalah kepadanya dengan sopan untuk minggir sambil menunggu dan tamu pun hendaknya mau bekerja sama sehingga lalu lintas lainnya tidak akan terganggu karena terkadang, diskusi dan adu mulut tersebut menyebabkan antrian mobil yang sangat panjang sehingga para tamu yang lainnya pun terganggu. Ketika orang-orang datang ke jalsah gah, mereka yang sudah duduk pun menjadi terganggu.

Panitia harus meninjau/mereview semua kejadian-kejadian yang terjadi di jalsah sebelumnya dan melihatnya dari berbagai aspek. Setiap bidang yang menghadapi permasalahan harus mereview-nya. Kemudian mereka harus melaporkannya ke petugas jalsah, bagaimana permasalahan-permasalahan itu dapat diatasi sehingga permasalahan-permasalahan seperti itu semakin berkurang di tahun ini. Berbagai upaya perlu dilakukan untuk meminimalisir segala permasalahan-permasalahan tersebut, baik itu masalah kecil ataupun besar.

Pengaturan untuk scanning dan checking harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan jangan sampai para tamu menunggu terlalu lama. Pengumuman-pengumaman harus dibuat di pintu masuk agar para tamu yang hendak masuk membawa kartu pengenal mereka dan tetap berada di antrian mereka sehingga orang-orang dapat masuk dengan cepat.

Ada beberapa panitia yang ditugaskan untuk mengurusi kebersihan. Baik di kaum laki-laki maupun kaum perempuan, para petugas kebersihan seringkali mengalami kesulitan karena orang-orang menyisakan sampah yang sangat banyak. Jika para petugas mengumumkan secara terus menerus untuk menarik perhatian para tamu agar senantiasa menjaga kebersihan, bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, oleh karena itu, jagalah kebersihan lingkungan anda dan perhatikan juga kebersihan kamar mandi, maka pada umumnya, orang-orang akan dapat bekerja sama. Tahun lalu, laporan serupa pun diterima. Bagaimanapun juga/meskipun demikian, jangan sampai ada sikap tidak baik yang ditunjukkan oleh para panitia. Janganlah sampai hilang kesabaran. Kebersihan secara umum juga tanggung jawab para panitia. Jika melihat ada sampah, baik itu di kaum laki-laki maupun perempuan, mereka hendaknya terus membersihkannya. Anak-anak terkadang menjatuhkan minuman, bungkus makanan, kotak, dan sebagainya.

Seringkali orang-orang dewasa juga tidak peduli akan hal itu. Pekerjaan para petugas kebersihan akan menjadi lebih mudah karena tugas mereka tidak hanya mengangkut sampah-sampah dalam jumlah banyak, tapi penting juga untuk memungut setiap sampah yang berserakan. Kemudian petugas melakukan pembersihan. Tapi bagaimanapun juga, para tamu hendaknya diingatkan tentang hal ini berkali-kali dengan cara yang sopan agar membuang sampah di tempat sampah, daripada membuangnya di sembarang tempat.

Bidang Tarbiyat pun hendaknya aktif dalam memberikan pengarahan terkait dengan pentingnya jalsah kepada orang-orang yang menghadiri jalsah ini.

Para panitia yang mengajukan dirinya untuk berkhidmat di Jalsa ini, maka merupakan kewajibannya agar bekerja tanpa pamrih. Dengan karunia Allah Ta’ala, saya telah katakan sebelumnya, pada umumnya para panitia bekerja dengan semangat ini. Tetapi terkadang mereka juga menunjukkan perilaku yang tidak benar. Mereka harus senantiasa ingat nasehat dari Hadhrat Rasulullah saw, yang juga telah saya sampaikan di awal, bahwa kelemahlembutan harus selalu ditunjukkan dalam setiap keadaan.

Begitu juga setiap panitia harus selalu waspada setiap saat. Pekerjaan di bagian keamanan bukanlah tugas dari tim keamanan semata, tapi setiap panitia di setiap bidang harus memperhatikan keamanan di lingkungan mereka masing-masing.

Para panitia harus memperhatikan bahwa setelah acara penutupan jalsah selesai, tidak hanya para petugas kebersihan saja yang harus hadir, tetapi semua panitia harus berada di tempatnya masing-masing selama tamu-tamu masih ada atau sampai atasan mereka mengatakan bahwa pekerjaan mereka telah selesai dan mereka boleh pergi.

Semua panitia dan anggota Jemaat Ahmadiyah hendaknya berdoa semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada setiap orang untuk melaksanakan tanggung jawab mereka dengan sebagaimana mestinya. Semua panitia yang bekerja di jalsah ini, semoga Allah Ta’ala menjaga mereka karena erkadang mereka harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang berat dan bisa saja menjadi terluka. Semoga Allah Ta’ala menjaga mereka.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan jalsah ini penuh berkah dan berjalan dengan sukses dari setiap segi. Semoga Allah Ta’ala melindungi Jemaat Ahmadiyah dari segala perilaku-perilaku buruk dari orang-orang. Dan semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada setiap panitia untuk dapat terus mengkhidmati tamu-tamu Hadhrat Masih Mau’ud as dengan sebaik-baiknya di Jalsah ini.

Para panitia, yang mempunyai standar pengkhidmatan yang tertinggi, semoga mereka dapat mempersembahkan standar pengkhidmatan yang lebih tinggi lagi di waktu mendatang, melebihi standar yang telah mereka peroleh dan melaksankan pengkhidmatan kali ini dengan cara yang lebih baik daripada sebelumnya. Ketika pengkhidmatan semcam itu dilakukan, maka Allah Ta’ala akan melihatnya dengan penuh kecintaan. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada setiap orang. (Aamiin.)

Penerjemahan: Mln. Irfan Fadhlur Rahman, Ratu Gumelar dan Dildaar Ahmad Dartono


[1] HR. At-Tirmizi, al-Birri wash-shilah, no. 1956, Dari Abu Dzarr ra, Rasulullah saw bersabda, « تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيُكَ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِي أَرْضِ الضَّلَالِ لَكَ صَدَقَةٌ، وَبَصَرُكَ لِلرَّجلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ، وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنِ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ، وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ » “Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, engkau memerintahkan yang ma’ruf/baik dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan merupakan sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah.” (Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dalam Adabul Mufrad)

[2] Shahih Muslim, Kitabul Birri wash shilah wal adab, bab istihbaab thalaaqatil wajhi ‘indal liqa, no. 2626

[3] Shahîh: HR. Ibnu Hibbân (no. 3368-at-Ta’lîqâtul Hisân), dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَيْسَ مِنْ نَفْسِ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ طَلَعَتْ فِيهِ الشَّمْسُ . “Tidak ada satu pun jiwa anak keturunan Adam melainkan ia wajib bersedekah setiap hari dari mulai matahari terbit sampai terbit kembali.” Ditanyakan, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمِنْ أَيْنَ لَنَا صَدَقَةٌ نَتَصَدَّقُ بِهَا ؟  “Wahai Rasulullah! Dari mana kami mempunyai harta untuk kami sedekahkan?” Beliau menjawab, إِنَّ أَبْوَابَ الْخَيْرِ لَكَثِيرَةٌ : التَّسْبِيحُ ، وَالتَّحْمِيدُ ، وَالتَّكْبِيرُ ، وَالتَّهْلِيلُ ، وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ ، وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ ، وَتُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ ، وَتُسْمِعُ الأَصَمَّ، وَتَهْدِي الأَعْمَى ، وَتُدِلُّ الْمُسْتَدِلَّ عَلَى حَاجَتِهِ ، وَتَسْعَى بِشِدَّةِ سَاقَيْكَ مَعَ اللَّهْفَانِ الْمُسْتَغِيثِ ، وَتَحْمِلُ بِشِدَّةِ ذِرَاعَيْكَ مَعَ الضَّعِيفِ ، فَهَذَا كُلُّهُ صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ . “Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan sangat banyak. Tasbîh, tahmîd, takbîr, amar ma’rûf nahi munkar, engkau menyingkirkan gangguan dari jalan, engkau memperdengarkan kepada orang yang tuli, engkau memberi petunjuk kepada orang yang buta, memberi petunjuk jalan kepada orang yang meminta petunjuk untuk memenuhi kebutuhannya, berjalan dengan kekuatan kedua betismu untuk orang kelaparan dan minta bantuan, dan memikul dengan kekuatan kedua lenganmu untuk orang lemah. Semua itu adalah sedekah darimu untuk dirimu.”

[4] [4] Shahih al-Bukhari, Kitab Manaqib al-Anshar (keutamaan orang Anshar)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ إِلَى نِسَائِهِ فَقُلْنَ مَا مَعَنَا إِلَّا الْمَاءُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَضُمُّ أَوْ يُضِيفُ هَذَا فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَا فَانْطَلَقَ بِهِ إِلَى امْرَأَتِهِ فَقَالَ أَكْرِمِي ضَيْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ مَا عِنْدَنَا إِلَّا قُوتُ صِبْيَانِي فَقَالَ هَيِّئِي طَعَامَكِ وَأَصْبِحِي سِرَاجَكِ وَنَوِّمِي صِبْيَانَكِ إِذَا أَرَادُوا عَشَاءً فَهَيَّأَتْ طَعَامَهَا وَأَصْبَحَتْ سِرَاجَهَا وَنَوَّمَتْ صِبْيَانَهَا ثُمَّ قَامَتْ كَأَنَّهَا تُصْلِحُ سِرَاجَهَا فَأَطْفَأَتْهُ فَجَعَلَا يُرِيَانِهِ أَنَّهُمَا يَأْكُلَانِ فَبَاتَا طَاوِيَيْنِ فَلَمَّا أَصْبَحَ غَدَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ضَحِكَ اللَّهُ اللَّيْلَةَ أَوْ عَجِبَ مِنْ فَعَالِكُمَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ { وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ

Dari Abu Hazim dari Abu Hurairah ra bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi saw lalu beliau datangi istri-istri beliau. Para istri beliau berkata; “Kami tidak punya apa-apa selain air”. Maka kemudian Rasulullah saw berkata kepada orang banyak: “Siapakah yang mau mengajak atau menjamu orang ini?”. Maka seorang laki-laki dari Anshar berkata; “Aku”. Sahabat Anshar itu pulang bersama laki-laki tadi menemui istrinya lalu berkata; “Muliakanlah tamu Rasulullah saw ini”. Istrinya berkata; “Kita tidak memiliki apa-apa kecuali sepotong roti untuk anakku”. Sahabat Anshar itu berkata; Suguhkanlah makanan kamu itu lalu matikanlah lampu dan tidurkanlah anakmu”. Ketika mereka hendak menikmati makan malam, maka istrinya menyuguhkan makanan itu lalu mematikan lampu dan menidurkan anaknya kemudian dia berdiri seakan hendak memperbaiki lampunya, lalu dimatikannya kembali. Suami-istri hanya menggerak-gerakkan mulutnya (seperti mengunyah sesuatu) seolah keduanya ikut menikmati hidangan. Kemudian keduanya tidur dalam keadaan lapar karena tidak makan malam. Ketika pagi harinya, pasangan suami istri itu menemui Rasulullah saw. Maka beliau berkata: “Malam ini Allah tertawa atau terkagum-kagum karena perbuatan kalian berdua”. Maka kemudian Allah menurunkan firman-Nya dalam QS al-Hasyr ayat 9, وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ yang artinya: (“Dan mereka lebih mengutamakan orang lain (Muhajirin) dari pada diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan apa yang mereka berikan itu, dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”).