Puasa Ramadhan

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

15 Oktober 2004 di Mesjid Baitulfutuh, Morden, London

 

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ(185)

Terjemah ayat ini adalah :

“Wahai orang-orang yang beriman ! diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu supaya kamu bertakwa. Dalam hitungan beberapa hari. Barangsiapa diantara kamu yang sakit atau dalam perjalanan maka hendaknya dia mencukupkan sebanyak itu pada hari-hari yang lain. Dan barangsiapa yang mampu maka hendaknya dia memberikan fidyah memberikan makan seorang fakir miskin . Maka barangsiapa yang melakukan kebaikan tambahan maka ini baik untuknya. Dan jika kamu berpuasa maka lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi ummat manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka harus mencukupi hitungannya pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan supaya dengan mudah mencukupi hitungannya. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.)  Al-Baqarah 186-187

Insyaallah, mulai besok kita tengah memasuki bulan suci Ramadhan, di sejumlah tempat puasa sudah dimulai dan saya telah mendengar disini pun orang-orang telah mulai berpuasa. Singkatnya, sejauh bertalian dengan orang-orang yang beriman bulan ini datang dengan membawa berkat-berkat yang tidak terhitung untuk orang-orang yang mengamalkan hukum-hukum Allah, sementara untuk syaithan atau untuk orang-orang yang bersifat syaithan merupakan bulan menyusahkan, sebab di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa pada bulan ini syaithan dibelenggu. Oleh karena itu seorang mu’min apabila dalam bulan ini berusaha berjalan pada jalan takwa dan sebanyak-banyaknya berusaha untuk terhindar dari serangan syaithan, maka perkara inilah yang menjadi faktor kesusahan bagi mereka/syaithan. Dan maksud syaithan dibelenggu adalah bahwa manakala seorang hamba Allah mencegah dirinya sendiri dari barang-barang yang diperbolehkan maka betapa dia akan terus berupaya untuk menghindar dari hal-hal yang tidak diperbolehkan, yang kadang-kadang syaithan terus memasukkan was-was di dalam kalbu mereka. Kalau tidak, orang-orang yang kurang teguh imannya,yang di dalam hati sanubarinya pada bulan Ramadhanpun tidak timbul rasa hormat terhadap bulan Ramadhan maka di bulan Ramadhan pun mereka sepenuhnya berada dalam cengkeraman syaithan. Dalam bulan Ramadhanpun mereka lalai beribadah pada Tuhan; mereka dalam bulan Ramadhanpun siap untuk merampas hak-hak orang lain dan manakala dapat kesempatan merekapun merampas milik hak orang lain dan mendatangkan kesusahan-kesusahan pada orang lain.

Pendek kata Ramadhan merupakan bulan penuh berkah-berkah bagi orang-orang yang dengan tulus beribadah pada Allah dan mereka melakukan itu. Ini merupakan bulan yang penuh berkah bagi orang-orang yang sambil mengamalkan perintah-perintah Allah mereka berupaya melakukan setiap kebaikan dan mereka sedang melakukan yang untuk mengamalkannya Allah memerintahkan pada mereka; dan mereka meninggalkan segenap keburukan yang Allah perintahkan untuk meninggalkannya. Tetapi terhadap barang-barang yang diperbolehkan pun untuk mereka tinggalkan karena Allah telah memerintahkan untuk meninggalkannya.

Allah berfirman bahwa kewajiban puasa dan menjauhkan diri dari barang makanan untuk supaya kamu meraih peningkatan dalam bidang ketakwaan. Dan apakah takwa itu ? Takwa ialah kamu selamat dari dosa-dosa, berupaya untuk luput dari dosa-dosa dan sedemikian rupa kamu selamat sebagaimana seorang dapat selamat dengan bersembunyi di belakang sebuah prisai. Dan manusia manakala berupaya menghindar dengan sembunyi di belakang suatu benda maka di dalamnya terdapat juga satu rasa takut. Dari serangan mana dia sedang terhindar akibat rasa takut itu dia sembunyi di belakang. Oleh karena itulah berfirman, berpuasalah dan berpuasalah dengan mengamalkan semua ketentuan melakukan ibadah puasa itu,andaikata kamu melakukan seperti itu maka kamu akan meraih peningkatan dalam ketakwaan. Kalau tidak tertera dalam sebuah riwayat bahwa Allah tidak tertarik supaya kamu merasakan lapar, sebab lapar itu bukan tujuan yang utama. Allah berfirman bahwa kekeliruan –kekeliruan dan dosa-dosa yang kalian perbuat untuk terhindar dari akibat –akibat buruknya Saya telah membuat sebuah jalan untuk kalian supaya kalian datang kepada Saya dengan keikhlasan sepenuhnya dan supaya kalian kembali kepada Saya dengan tulus dan ikhlas; dan di dalam puasa-puasa itu,sejalan dengan menjalankan/menunaikan hak-hak puasa di bulan Ramadhan demi untuk Saya kalian tengah menghindar juga dari hal-hal yang diperbolehkan dan akibat upaya-upaya kalian itu Sayapun akan mencurahkan kasih sayang Saya kepada kalian dan akan membelenggu syaithan. Supaya dengan rasa takut mana kamu berpuasa dan sambil berpuasa kalian sembunyi di belakang tameng itu, kalian menempuh jalan ketakwaan supaya kalian tetap selamat di dalamnya dan syaithan sedikitpun tidak akan dapat mendatangkan kerugian pada kalian. Jadi Dia berfirman bahwa adapun takwa, perisai, upaya untuk menghindar dari serangan syaithan, upaya untuk terhindar dari syaithan, akibat dari kamu menunaikan ibadah puasa kamu menjadi terlindungi. Oleh karena itu dengan melakukan suatu upaya keras manakala kamu datang di benteng perlindungan-Nya maka tugas kamu adalah berupayalah pula untuk tetap tinggal di dalamnya. Kini benteng itu , ketakwaan itu sambil mengamalkan hukum-hukum-Nya peganglah itu seteguh-teguhnya. Dan bagi mereka yang memang dari sebelumnya dengan tetap teguh pada kebaikan-kebaikan mereka akibat menunaikan ibadah puasa mereka tambah lagi terus meraih standar tinggi ketakwaan dan dengan terus meraih kemajuan demi kemajuan mereka terus menerus menjadi orang-orang terus meraih kedekatan yang luar biasa dengan Allah.

Seyogianya diingat bahwa puasa bukanlah hanya sekedar meninggalkan makan dan minum untuk beberapa waktu belaka lalu beranggapan bahwa mutu ketakwaan yang tinggi segera diraih. Tetapi sebagaimana saya telah katakan bahwa sejalan dengan berpuasa banyak keburukan-keburukan yang harus ditinggalkan dan beribadah kepada Allah pun harus dilakukan lebih banyak dari sebelumnya kemudian baru ketakwaan akan diraih dan juga kemajuan akan dicapai.

Hadhrat Masih Mauud a.s bersabda:

”Orang-orang pun tidak memahami hakekat puasa. Pada dasarnya negara mana manusia tidak kunjungi dan dengan alam mana manusia tidak kenal, maka situasi dan kondisi disana apa yang akan dia terangkan. Puasa bukanlah bahwa manusia hanya sekedar merasakan lapar dan dahaga, tetapi terdapat satu hakekat dan pengaruh yang dapat diketahui dengan pengalaman. Sudah merupakan fitrah manusia bahwa seberapa manusia sedikit makan maka sebanyak itulah timbul kesucian jiwa dalam dirinya dan daya atau potensi-potensi kasyaf akan menjadi bertambah. Kehendak Allah di dalamnya adalah supaya di satu sisi manusia mengurangi makanan dan disisi lain meningkatkan (makanan ruhani). Orang yang berpuasa seyogianya senantiasa memperhatikan bahwa maksud puasa bukanlah manusia hanya sekedar menahan lapar belaka, tetapi seyogianya dia terus sibuk dalam berzikir pada Tuhan supaya dia dapat meraih tabattul dan pemutusan hubungan dengan benda duniawi”.

Yakni timbul perhatian untuk menjalin ikatan pertalian dengan Allah, dan timbul rasa tidak tertarik pada dunia dan timbul perhatian untuk meninggalkan dunia.” Jadi maksud puasa adalah supaya manusia meninggalkan satu roti (makan) yang merawat tubuh dan meraih roti (makanan) yang lain yang merupakan faktor penghibur bagi ruh dan merupakan faktor yang dapat menimbulkan rasa kenyang pada ruh. Dan orang-orang yang berpuasa hanya semata-mata untuk Tuhan dan tidak berpuasa hanya untuk sekedar tradisi belaka maka hendaknya mereka sibuk dalam bertasbih dan mengucapkan tahlil, yakni memuji-Nya serta bertasbih juga pada-Nya dan menerangkan kebesaran dan menganggap-Nya adalah segala-galannya.” Yang sebagai dampaknya dia akan meraih makanan yang lain,yaitu makanan ruhani.” (Malfuzhat jilid V:102 Edisi baru)

Oleh karena itu bersabda bahwa puasa baru berfaedah bagi kamu manakala dengan mengurangi makannan lahiriah kalian meningkatkan makanan ruhaniah atau spiritual kalian. Janganlah hanya sibuk dalam kesibukan-kesibukan dunia yang tidak terhingga. Dengan hanya sekedar menunaikan ibadah puasa lalu di pagi hari kecuali makan sahur di pagi hari kemudian sibuk dalam perkejaan-pekerjaan dan urusan-urusan dunia semata. Kalau tidak orang-orang dunia pun atas dasar menjaga kesehatan atau karena mode mereka mengurangi makanan atau melakukan daiting. Janganlah kamu melakukan puasa atas dasar fisik kamu menjadi cantik atau untuk kesehatan tetapi semata-mata untuk meraih keredhaan Allah. Dan keredhaan Tuhan ini baru akan dapat diraih apabila hubungan itu lebih kuat dari sebelumnya. Sambil bertasbih pada-Nya dan dengan menganggap-Nya memiliki segenap kekuatan dan kekuasaan-kekuasaan tunduklah lebih banyak lagi lebih dari sebelumnya. Maka baru puasa akan terus melindungi dari syaithan dan akan meningkatkan dalam ketakwaan. Kalau tidak sebagaimana saya telah katakan tidak terhitung orang-orang yang sedemikian rupa di kalangan ummat Islam pun terdapat orang-orang yang tidak terhitung yang syaithan mereka bebas melancong kesana kemari tidak dibelenggu karena tidak berupaya untuk meraih ketakwaan dan mereka sedikitpun tidak ada rasa cemas dan takut.

Kemudian Allah berfirman: Puasa yang merupakan sebuah pelatihan yang bertujuan untuk meraih standar dan mutu ketakwaan yang tinggi, untuk lebih maju dalam kebaikan-kebaikan dan untuk terhindar dari syaitan, bukanlah merupakan pelatihan yang sedemikian panjang lalu kalian mulai khawatir bahwa bagaimana kami dapat menahan lapar dan haus untuk sekian hari lamanya. Berfirman, bahwa ini hanya beberapa hari dalam setahun. Dari 365 hari dalam setahun hanya sebanyak 29-30 hari saja. Sebanyak itulah kamu harus melakukan pengorbanan jika kamu ingin senantiasa terhindar dari serangan syaithan; dan tidak hanya kamu terhindar dari serangan syaithan, tetapi Allah berfirman bahwa raihlah juga keredhaan Saya. Jika kalian menghendaki dan menginginkan untuk meraih keredhaan Saya dan menjadi orang-orang yang meraih kedekatan dengan Saya.

Berfirman bahwa barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan- sebab penyakitpun selalu menyatu dengan manusia, harus juga melakukan perjalanan- maka sesudahnya puasa yang tertinggal itu sempurnakanlah itu. Jadi Allah menganugerahkan kemudahan karena supaya kamu datang kepada Saya, supaya kamu melakukan pertalian dengan Saya, kamu tengah melakukan upaya,kamu tengah melakukan suatu upaya, oleh karena itulah akibat kesibukan kamu secara alamiah kamu saya berikan keringann bahwa dalam waktu tahun berjalan puasa yang tertinggal kamu dapat penuhi sesudahnya. Jadi kemudahan inipun Allah berikan, sabda beliau, sebab kamu untuk datang kapada saya, untuk menciptakan pertalian dengan Saya kalian tengah melakukan suatu upaya, kalian tengah melakukan suatu mujahadah karena itu akibat tuntutan fitrah dan keterpaksaan kamu saya telah memberikan kelonggaran ini kepadamu, bahwa puasa yang tertinggal kamu kapan saja dapat penuhi sepanjang tahun itu.

Allah berfirman, Saya memberikan kelonggaran ini karena menghargai upaya kamu yang kamu lakukan pada hari-hari lain memasukkan dirimu dalam kesulitan untuk meraih kedekatan Saya kalian tengah melakukan suatu upaya. Berfirman bahwa oleh sebab semua pekerjaan kalian ini adalah kalian lakukan demi untuk Saya karena itu jika kalian untuk sementara waktu sakit dan akibat sejumlah perjalanan dan sejumlah keterpaksaan banyak puasa yang tertinggal dan dari segi harta pun kamu mampu maka berilah juga fidyah inilah merupakan kebaikan tambahan. Dan sesudahnya pada tahun yang berlangsung penuhilah pula puasa itu. Dan barangsiapa yang permanent sakitnya atau menahun atau perempuan-perempuan,contohnya perempuan –perempuan yang tengah menyusui atau perempuan yang akan melahirkan oleh karena mereka tidak dapat melakukan puasa karena itu untuk orang-orang sakit seperti itu harus memberikan fidyah sesuai dengan kemampuan mereka.

Hadhrat Masih Mauud a.s dalam menjawab sebuah pertanyaan bersabda:

“Hanya fidyah ini bisa untuk orang tua sepuh atau bisa untuk orang-orang serupa itu yang sama sekali tidak pernah dapat mampu melakukan puasa. Kalau tidak, bagi orang-orang umum yang begitu mendapat kesehatan mereka mampu untuk melakukan puasa. Hanya bayangan /fikiran fidyah dapat membuka jalan /celah untuk membolehkan semata“ (Malfuzhat jilid 5:322 Edisi baru) Yakni akan terbuka satu jalan dan setiap orang akan mulai menafsirkan sesuai dengan keinginannya masing-masing. Hadhrat Masih Mauud a.s yang menggunakan kata “hanya” artinya adalah bahwa bagi orang yang mampu untuk melakukan ibadah puasa sesudahnya,jika dia memberikan fidyah maka ini merupakan kebaikan yang lebih. Sesudahnya puasa pun dia cukupkan/penuhi dan fidyah pun dia berikan. Dan bagi seorang yang tidak dapat melakukan puasa dan tidak berkemampuan untuk melakukan puasa baginya adalah memberikan fidyah. Dalam kaitan itu bagaimana fidyah itu, di dalamnya terdapat berbagai komentar para ahli tafsir yang telah memberikan komentar mereka. Hadhrat Masih Mauud a.s.bersabda: Mereka yang mempunyai kemampuan bagaimanapun juga harus memberikan fidyah dan orang sakit yang bersifat sementara pun berilah juga fidyah.

Kemudian beliau bersabda:

“وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ“ Suatu saat timbul pertanyaan dalam fikiran saya bahwa untuk apa fidyah ini ditetapkan ? Maka dapat dimaklumi bahwa itu adalah untuk mendapatkan taufik supaya dari itu dapat diraih taufik untuk berpuasa. Zat Allah sematalah yang menganugerahkan taufik dan seyogianya harus memohon segala sesuatunya hanya pada Tuhan. Allah adalah Penguasa mutlak. Jika Dia menghendaki maka Dia dapat menganugerahkan taufik pada seorang yang terkena penyakit paru-paru untuk berpuasa. Jadi, maksud fidyah adalah supaya meraih taufik untuk itu dan ini dapat diraih dengan karunia Allah. Karena itu menurut saya manusia harus benar-benar berdoa : ” Ya Allah ! ini merupakan bulan-Mu yang penuh berkat dan saya tengah luput dari itu. Mana dapat diketahui,apakah tahun depan saya akan hidup atau tidak,atau saya dapat melaksanakan puasa yang tertinggal itu atau tidak. Dan andaikata dia memohon taufik pada-Nya,maka saya yakin Dia akan menganugerahkan kemampuan pada hati sanubari orang seperti itu. Malfuzhat Jilid 2:563 Edisi Baru) Oleh karena itu,sabda beliau, bagi mereka yang terdapat rintangan –rintangan sementara dalam melakukan puasa andaikata dia memberikan fidyah maka karena keberkatan itu Allah dapat juga memberikan taufik. Dan berikanlah juga fidyah dan seiring dengan itu berdoa pulalah pada-Nya.

Kemudian beliau bersabda:

“Duduk persoalannya adalah bahwa mengamalkan izin atau keringanan Al-Quran juga merupakan takwa. Allah telah memberikan izin dan kebebasan pada orang yang sakit dan yang dalam perjalanan untuk melakukan (puasa) pada hari-hari yang lain, karena itu seyogianya juga harus mengamalkan perintah itu. Saya telah membaca bahwa kebanyakan ulama-ulama besar/orang-orang yang mampu telah mengakui bahwa jika ada yang berpuasa pada saat perjalanan atau dalam keadaan sakit maka ini merupakan maksiat”,yakni dosa. ” Sebab tujuan adalah untuk meraih redha Ilahi, bukan keinginan sendiri; dan keredhaan Allah terletak pada kesetiaan. Apa perintah yang Dia perintahkan agar ditaati dan jangan memberikan komentar dari diri sendiri. Yakni, jangan diberikan penjelasan panjang lebar. Inilah yang Dia perintahkan فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ (surat-ul-Baqarah ayat 185) Di dalamnya Dia tidak menetapkan ketentuan bahwa perjalanan seperti itu atau penyakit seperti ini.” Saya tidak berpuasa dalam perjalanan dan tidak juga dalam kondisi sakit. Oleh karena itu hari ini juga saya tidak berpuasa karena saya tidak enak badan /kurang sehat. Malfuzhat jilid 5: 67-68 Edisi baru

Kemudian beliau bersabda:

Barangsiapa yang berpuasa dalam keadaan sakit dan dalam perjalanan di bulan Ramadhan, dia jelas-jelas telah melakukan pembangkangan pada perintah Allah. Allah dengan jelas berfirman bahwa orang yang sakit dan orang yang musafir jangan berpuasa. Orang yang sakit lakukanlah puasa setelah sembuh dari sakit dan sesudah pulang dari perjalanan. Seyogianya mengamalkan perintah Tuhan itu,sebab keselamatan adalah dengan karunia dan bukan dengan menunjukkan kekuatan amal-amal seorang dapat meraih keselamatan,sebab Tuhan tidak berfirman bahwa manakala penyakit itu sedikit atau banyak, perjalanan itu panjang atau pendek, tetapi perintah adalah umum dan seyogianya mengamalkan itu. Seorang yang sakit dan seorang yang musafir andaikata melaksanakan puasa maka mereka akan terkena fatwa pembangkangan terhadap perintah. Malfuzhat jilid 5:321 Edisi baru

Terdapat juga sejumlah orang yang berlaku keras pada diri mereka lebih dari keperluan atau mereka berusaha untuk berupaya memasukkan kesusahan di dalam diri mereka dan mengatakan bahwa perjalanan dewasa ini bukanlah merupakan perjalanan karena itu boleh melakukan puasa. Inilah yang beliau terangkan bahwa kebaikan bukanlah dengan paksa kesulitan dimasukkan pada diri sendiri, tetapi kebaikan terletak pada perintah-perintah Allah ditaati dan jangan dibuat takwil-takwil dan komentar-komentar dari diri sendiri. Hukum yang jelas itulah yang seyogianya diamalkan. Dan ini merupakan perintah yang jelas bahwa orang yang sakit dan musafir jangan berpuasa. Jadi , di dalam perintah diamalkan itulah terdapat keberkatan, bukan diupayakan menjadikan Allah redha dengan paksa.

Kemudian tertera dalam sebuah riwayat. Hadhrat Ibnu Umar meriwayatkan bahwa seorang menanyakan pada Rasulullah saw mengenai berpuasa dan shalat di dalam perjalanan di dalam bulan Ramadhan. Maka Rasululah saw memberikan jawaban “ Janganlah berpuasa dalam perjalanan di bulan Ramadhan. Maka atas jawaban Rasulullah saw itu orang itu berkata,ya Rasulullah ! saya mampu untuk berpuasa. Maka nabi saw berkata padanya: انت اقوى ام الله ؟– anta aqwaa amillah- Engkau yang lebih kuat atau Allah ? Sesungguhnya Allah telah menyatakan tidak berpuasa dalam perjalanan sebagai suatu sedekah dan keringanan bagi ummatku yang sakit dan bagi ummatku yang musafir dalam kondisi perjalanan di bulan Ramadhan. Apakah diantara kalian ada seorang yang menyukai bahwa kepada salah seorang diantara kalian diberikan sedekah kemudian barang sedekah itu dikembalikan pada orang yang memberikan sedekah ?

Al-Mushannif lilhafiz al-kabir abu Bakar Abdurrazaq bin hammam . Ashiyamu fi s-safar Jadi,ini,kan merupakan sedekah yang didapat dari Allah.

Kemudian Allah memberikan petunjuk kepada kita bahwa Al-Quran yang merupakan kitab sempurna dan merupakan kitab syareat yang sempurna,yang diturunkan di dalam bulan ini.Tertera dalam sebuah hadis bahwa seberapa Al-Quran turun, Hadhrat Jibril membacakan ulang /menyuruh mengulanginya pada bulan Ramdhan. Dan sebelum kewafatan Rasulullah saw yang merupakan bulan Ramadhan, di dalamnya dua kali disuruh ulangi/membacakan ulang. Jadi di dalam itu dibertahukan bahwa di dalamnya terdapat petunjuk yang luar biasa oleh karena itu kamu pun di dalam bulan ini bacalah itu dengan tekun. Memang membacanya seperti itu jelas merupakan kewajiban tetapi di dalam bulan ini secara khusus berilah perhatian khusus,bacalah itu dan bacalah terjemahannya. Dan dimana-mana diadakan dars Al-Quran (membaca Al-Qurannya berikut terjemah,tafsir dan masaalah yang ada di dalamnya. Bukan hanya sekedar baca saja) di sana orang-orang dengarlah pula dars. Sebab terdapat sejumlah perkara yang tidak setiap orang yang dapat mengetahuinya. Maka disana kamu akan dapat meraih pamahaman, ide-ide dan pengertian yang dalam. Dan akan mendapatkan semua keterangan hukum-hukum yang kamu dapat menjadikan itu sebagai bagian dalam hidupmu. Di dalam ayat kedua pun kembali ditekankan bahwa berpuasalah dan orang musafir dan orang yang sakit janganlah berpuasa pada hari-hari itu dan sesudahnya baru sempurnakan. Dan sambil mensyukurinya karunia- karunia Allah dan nikmat-nikmat-Nya tunduklah di hadapan Allah, jadilah menjadi hamba-Nya yang bersyukur dan ungkapan rasa terima kasih inipun akan meningkatkan kamu dalam kebaikan dan akan meningkatkan kamu dalam ketakwaan.

Hadhrat Masih Mauud a.s bersabda:

Dari ayat شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ (Di dalam bulan Ramadhan diturunkan al-Quran) (Al-Baqarah 186) diketahui akan kebesaran bulan Ramadhan. Para sufi menulis bahwa untuk menerangi hati sanubari bulan ini merupakan bulan yang bagus. Di dalamnya dibukakan banyak tirai-tirai kasyaf. Shalat dapat mensucikan jiwa dan puasa menerangi kalbu. Maksud pensucian jiwa adalah dapat meraih jarak yang jauh dari nafsu ammarah” Nafsu ammarah merupakan nafsu yang membawa pada keburukan. “ Dan maksud tajalli kalbi –kecemerlangan kalbu adalah pintu kasyaf terbuka baginya sehingga dia melihat Tuhan’. Malfuzhat jilid 2:561-562 Edisi Baru

Bersabda:

Oleh karena itu, dengan berpuasa, membaca Al-Quran dan dengan beribadah hati menjadi terang. Lahir pertalian yang dekat dengan Allah. Terkait dengan bahwa salat-salat itu dapat membersihkan jiwa,pada hari-hari inipun tekankanlah secara khusus pada pelaksanaan salat supaya jiwa menjadi bertambah suci. Dan dengan puasa hati meraih penerangan. Dan cahaya/penerangan hati adalah bahwa terlahir hubungan yang sedemikian dekat dengan Allah seolah-olah dia sedang melihat Tuhan.

Tertera dalam sebuah riwayat Hadhrat Abu Hurairah r.a. menerangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Allah berfirman bahwa semua pekerjaan anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Oleh karena itu puasa dikerjakan demi untuk Saya dan Saya sendiri-lah yang akan memberikan pahalanya.

Maka manakala diantara kalian ada yang tengah berpuasa maka janganlah membicarakan kata-kata yang tidak senonoh /yang mengundang syahwat dan janganlah saling caci-mencaci dan jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar /mengadakan konflik maka dalam memberikan jawaban, katakanlah hanya padanya bahwa saya sedang berpuasa. Demi Dzat yang jiwa Muhammad saw terletak di tangan kekuasaan-Nya bahwa mulut orang yang berpuasa pada sisi Allah adalah lebih harum dari aroma kasturi. Bagi orang yang berpuasa terdapat dua kebahagiaan yang akan menggembirakannya. Satu apabila melakukan buka puasa maka dia gembira. Kedua, apabila dia bertemu dengan Tuhan-Nya maka dia akan gembira dengan puasanya.”bukhari Kitabushaum bab fadhlushaum

Jadi, hal-hal yang diterangkan di dalamnya Allah berfirman: Puasa dilakukan demi untuk Saya. Amal yang dilakukan demi untuk Allah, maka di dalamnya tidak akan mungkin terdapat campuran keduniawian. Dan amal yang dilakukan demi untuk Tuhan itu tidak diungkapkan di hadapan orang-orang atau tidak untuk menarik pujian dari orang lain tetapi justru terdapat suatu upaya supaya kebaikan itu tetap sembunyi. Dan manakala dia /seorang melakukan kebaikan dengan sembunyi dari orang-orang maka Allah berfirman bahwa Saya akan menjadi ganjarannya. Kemudian bersabda bahwa puasa adalah prisai/ tameng.

Merupakan suatu fasilitas /sarana yang sedemikian kuat untuk perlindungan yang dengan sembunyi di belakangnya kamu dapat menyelamatkan diri kamu dari serangan-serangan syaithan dan itu mungkin dalam bentuk bahwa sejalan dengan melakukan puasa kamu juga beribadah kepada Allah dan kamu menghindar dari keburukan-keburukan dan juga menghindar dari konflik dan pertengkaran. Sehingga manakala ada yang mencerca maka janganlah kamu marah atau memuncak emosimu tetapi katakanlah bahwa saya sedang berpuasa. Apabila setiap orang Ahmadi berjanji di dalam bulan Ramadhan, baik setiap kalangan dalam rumah tangga maupun dalam lingkungan masyarakat, di kalangan luar maupun di kalangan intern teman-teman berprilaku selaras dengan itu, maka dengan satu hal ini,yaitu tidak akan menjawab cacian dengan cacian, tidak akan berkelahi dan berbantah, maka menurut saya lebih dari setengah konflik dan pertikaian dalam masyarakat kita akan dapat berakhir atau tratasi.

Jadi, bagi mereka yang seperti itu yang ingin meraih kebahagian-kebahagian, inilah merupakan kebahagiaan yang paling besar bersama mereka. Dia akan meraih kedekatan dengan Tuhannya akibat puasa itu, sabda beliau. Maka inipun menjadi jelas bahwa andaikata setelah puasa pekerjaan/ amal ini akan terus berlanjut maka kedekatan Allah pun akan diraih dan akan terus berlanjut, kalau tidak, ini merupakan barang yang bersifat sementara. Allah jelas tidak mengatakan carilah Saya di dalam puasa atau di dalam bulan Ramadhan, sesudah itu terus lakukanlah sekehendak kalian, tetapi ,firman-Nya -kebaikan yang kalian telah raih itu jadikanlah itu permanent sebagai bagian dari kehidupan kalian.

Bersumber dari Hadhrat Ibnu Umar (keduanya) r.a bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Kapasitas amal-amal di hadapan Allah terdapat tujuh corak. Ada dua amal yang dengan mengamalkannya ada dua barang /hal yang menjadi wajib dan ada dua amal serupa itu yang sama dengan itu ganjarannya; dan ada satu amal serupa yang sepuluh lipat ganjarannya; dan terdapat pula satu amal yang ganjarannya tujuh ratus kali lipat; dan ada satu amal serupa itu yang ganjaran mengamalkannya selain Allah siapapun tidak ada yang mengetahui”.

Amal yang dengan itu dua perkara menjadi wajib adalah: Barangsiapa yang bertemu dengan Allah dalam kondisi dia dengan ikhlas beribadah pada-Nya dan dia tidak menyekutukan-Nya dengan siapapun maka surga akan diwajibkan baginya. Dan barangsiapa yang bertemu dengan Allah dalam keadaan dia menyekutukan Tuhan maka jahannam wajib baginya dan barangsiapa yang melakukan amal buruk maka sebanyak itu dia akan mendapatkan hukuman. Dan barangsiapa yang berkehendak melakukan kebaikan tetapi dia tidak dapat melakukannya maka dia akan mendapatkan ganjaran sebanyak orang yang melakukan kebaikan dan barangsiapa yang telah melakukan kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala sepuluh kali lipat. Dan barangsiapa yang membelanjakan hartanya di jalan Allah maka dirham dan dinar yang dia telah belanjakan akan dilipat gandakan menjadi tujuh ratus kali lipat. Dan bersabda bahwa puasa merupakan suatu amal yang dilakukan demi untuk Allah Yang Maha luhur dan ganjaran orang yang melakukan puasa hanya Allah yang Maha perkasa Yang mengetahuinya. Attargiib wattarhiib kitabus-shaum attargiib fis-shaumi mutlaqan

Oleh karena itu, sebagaimana di tempat lain bersabda ganjarannya adalah Saya sendiri,yakni seberapa yang Allah kehendaki Dia menambahnya. Dengan memberitahukan tujuh ratus kali lipat Dia membertahukan bahwa bisa jadi lebih dari itu ganjaran yang akan diperoleh. Sebab orang yang berpuasa menciptakan di dalam dirinya satu perubahan yang revolisioner dan dia berupaya untuk meraih redha Ilahi dan apabila dia berupaya untuk tegak di dalamnya maka mata rantai gajaran ini akan terus menerus berlanjut.

Bersumber dari Hadhrat Salman r.a bahwa Rasulullah saw menyampaikan ceramah kepada kami pada akhir bulan Sya’ban sambil bersabda: Hai orang-orang ! padamu akan tiba bulan agung yang penuh berkat. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Di dalamnya Allah telah mewajibkan puasa pada kalian dan berdiri menunaikan salat pada malam harinya Dia nyatakan sebagai nafal/tambahan…….

هوشهر اوله رحمة واوسطه مغفرة واخره عتق من النار –hua syahrun awwaluhu rahmatun wa ausathuhu magfiratun wa aakhiruhu ‘itqum minannaar- Itu merupakan bulan yang puluhan pertamanya adalah rahmat dan pertengahan sepuluhnya merupakan faktor untuk meraih ampunan dan malam yang sepuluh terakhirnya adalah yang menyelamatkan dari api neraka. Dan barangsiapa yang menjadikan kenyang orang yang melaksanakan puasa maka Allah akan memberikannya minum minuman sehingga sebelum masuk surga dia tidak akan kehausan. Sahib Ibnu Hazimah Kitaabushiyam bab fazaailu syahri ramadhaan

Jadi, disini hal itu menjadi tambah lebih jelas bahwa puasa bulan ini, pertama adalah wajib, karena itu tidak dapat dibuat alasan apa-apa untuk menghindar, dan kedua, tidak hanya sekedar menahan lapar, tetapi maju dan bertambah dalam ibadah-ibadah. Pada malam-malam haripun bangun berdiri menunaikan ibadah baru kamu akan menjadi pewaris dari ganjaran-ganjaran itu dan akan masuk ke dalam surga yang Allah telah janjikan.

Bersumber dari Hadhrat Salman r.a bahwa Rasulullah saw menyampaikan ceramah kepada kami pada hari terakhir bulan Sya’ban dan bersabda ( Ini di dalam riwayat tambah banyak hal-hal yang dimasukkan dan di dalam itu hal-hal yang lebih adalah): Barangsiapa yang mengadopsi/mengambil adat istiadat baik manapun pada bulan Ramadhan, maka dia akan menjadi seperti orang yang telah menunaikan sejumlah kewajiban-kewajiban yang selain itu. Dan barangsiapa yang menunaikan satu hal yang wajib pada bulan ini maka dia akan menjadi orang yang telah menunaikan tujuh puluh hal yang wajib selain pada bulan Ramadhan. Dan bulan Ramadhan adalah bulan sabar dan ganjaran sabar adalah surga dan ini merupakan bulan solidaritas dan bulan persaudaraan, dan ini merupakan bulan dimana orang-orang mu’min diberikan keberkatan. Yakni persaudaraan, cinta,simpati dan solidaritas dan bulan mengalami rasa sepenaggungan. Jadi adanya sabar dari segala segi merupakan hal penting. Ini merupakan bulan untuk mengamalkan kesabaran. Jadi sabar itu bagaimana. Dengan berpuasa dari pagi, kitapun bersabar dari makan dan minum. Dari segi menahan hawa nafsupun kita bersabar. Dari segi diam atas sikap(tidak benar) orang lainpun kita bersabar. Kita diam atas dirampasnya hak-hak kita pun besabar. Itu karena adanya perintah Allah jangan berkelahi dan jangan berbantah. Dan di dalamnya terdapat perintah bahwa memperlakukan orang-orang dengan sifat penuh rasa simpati, solidaritas dan memperlakukan dengan sikap pemaaf maka baru dari itu dapat diambil faedahnya, baru dari itu dapat diraih berkat-berkah. Dan dengan sebab itu dan akibat kesabaran dan akibat rasa simpati dan akibat tetap diam pada saat kezaliman, dimana Allah akan menganugerahi kemajuan ruhani disana Dia juga berfirman bahwa di dalam rezeki dunia juga Allah akan menaruh keberkatan. Barangsiapa yang mengerjakan suatu pekerjaan demi untuk Allah maka Allah sendiri yang akan menjadi jaminannya.

Hadhrat Abu Masud Gaffari r.a meriwayatkan bahwa setelah mulai bulan Ramadhan pada suatu hari saya mendengar Rasulullah saw bersabda:

Andaikata orang-orang mengetahui akan kelebihan atau keistimewaan bulan Ramadhan maka ummat saya akan menghendaki supaya bulan Ramadhan berjalan sepanjang tahun” Maka atas hal itu seorang dari Banu Huza’ah berkata: Hai Nabi Allah ! Beritahukanlah kepada kami akan kelebihan-kelebihan bulan Ramadhan. Maka beliau bersabda,sesungguhnya surga dihiasai dari awal tahun sampai akhirnya untuk menunggu datangnya bulan Ramadhan, karena itu apabila hari pertama bulan Ramadhan tiba maka angin berembus di bawah Arasy Ilahi” (Attarghib wattarhiib Kitaabushaum attarghib fi shiyaami ramadhan)

Hadhrat Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda apabila tiba malam pertama bulan Ramadhan maka Allah melihat pada makhluknya dan apabila Allah melihat kepada salah seorang makhluknya maka Dia sama sekali tidak akan pernah mengazabnya. Dan Allah setiap hari ribuan-ribuan sampai ratusan ribu orang-orang Dia selamatkan dari neraka Jahannam. Jadi apabila malam yang ke 29 bulan Ramadhan tiba, maka Allah memaafkan orang-orang sama dengan sejumlah orang-orang yang dimaafkan pada 28 malam sebelumnya di bulan Ramadhan Attarghib wattarhiib Kitaabushaum attarghib fi shiyaami ramadhan

Di sini di dalam hadis ini digunakan kata واذانظرالله الى عبده لم يعذبه ابدا –wa idza nazharallaahu ila ‘abdihi lam yu’adzdzibhu ,yakni disini digunakan kata عبد – ‘abdun yang artinya orang yang sepenuhnya setia tunduk pada-Nya, orang yang tunduk beribadah pada-Nya. Dia berfirman bahwa apabila hamba-hamba Saya seperti itu , apabila Saya sekali menyelimutinya dengan selimut kasih saying –Ku, maka tidak ada musuh yang dapat mendatangkan kerugian padanya. Dan Allah-pun akan menjadikannya pewaris-pewaris surga-surga-Nya. Semoga Allah menganugerahkan taufik pada semuanya menjadi hamba yang sejati.

Dalam Tibrani Al-ausath Hadhrat Anas bin Malik meriwayatkan beliau berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah saw bersabda: Bulan Ramadhan telah tiba dan di dalamnya pintu-pintu surga dibukakan dan pintu-pintu neraka ditutup. Dan di dalamnya syaithan di belenggu dengan rantai. Terkutuklah orang yang mendapatkan bulan Ramdhan sementara dia tidak dimaafkan dan apabila dia tidak dimaafkan di bulan Ramadhan maka kapan dia akan dimaafkan. Attarghib wattarhiib Kitaabushaum attarghib fi shiyaami ramadhan

Arena

Jadi, hadis sebelumnya pun menjadi tambah lebih jelas bahwa kendati secara keseluruhan Allah telah menciptakan fasilitas-fasilitas atau kemudahan-kemudahan seperti itu yang dari mana seorang manusia dapat menjadi hamba Allah yang hakiki, namun manakala dia tidak menjadi hamba, tidak mengambil karunia dari bulan Ramadhan,tidak menjadi orang yang beribadat pada-Nya, tidak menjadi orang yang mengamalkan perintah-perintah-Nya, tidak menjadi orang yang menyebarkan kebaikan-kebaikan, maka sabdanya, terkutuklah dia, bahwa kendati semua fasilitas-fasilitas dan semua rahmat Allah itu dia tidak bisa menjadikan dirinya layak menjadi orang yang dimaafkan. Oleh karena untuk meraih ampunan itu harus menegakkan standar atau mutu penunaian hak-ahak Allah dan hak-hak makhluk-Nya,harus berupaya menunaikan itu sepenuhnya. Semoga Allah menganugerahkan taufik untuk menunaikan itu.

Tertera dalam sebuah hadis yang bersumber dari Hadhrat Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang menjalankan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan dengan mengintrospeksi dirinya maka semua dosa-dosanya yang telah lalu akan dimaafkan. Dan jika kamu mengetahui bahwa apa-apa keistimwaan-keistimewaan yang terdapat dalam Ramadhan maka kamu niscaya akan menginginkan kiranya Ramadhan itu berjalan sepanjang tahun. Aljaamiushahih musnad Al-imam arrabi’ bin habib kitabushaum bab fi fadhli Ramadhan

Apa yang beliau sabdakan dalam hadis pertama bahwa ribuan dan ratusan ribu yang akan Dia maafkan, itu disini tambah lebih diperjelas lagi bahwa itu jika puasa dilakukan dalam kondisi iman. Yaitu mereka pun melakukan puasa dan dalam kondisi iman mereka melakukan serta melakukan puasa pun sesuai sebagaimana mestinya, sejalan dengan mengintrospeksi diri dan memawas diri mereka sendiri,bukannya hanya tertuju pada keburukan-keburukan orang lain, tetapi mereka pun mengintrospeksi kelemahan-kelemahan diri mereka sendiri,dan menjadi hamba-hamba Allah yang istimewa, maka baru mereka akan menjadi orang yang meraih karunia dari berkat-berkat-Nya.

Nazhor bin Syiban berkata bahwa saya memohon pada Abu Salmah bin Abdurrahman bahwa tuan perdengarkanlah kepada saya hal yang anda dengar dari bapak anda, yang beliau dengar dari Rasulullah saw berkenaan dengan bulan Ramadhan. Abu Salmah bin Abdurrahman menjawab,ya, ayah saya menerangkan kepada saya bahwa Rasulullah bersabda: Allah telah mewajibkan kepada kamu menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan dan berdiri pada malam hari menunaikan salat saya telah jalankan /memulainya untuk kalian. Oleh karena itu, barangsiapa yang dalam keadaan iman menjalankan ibadah puasa dengan niat untuk mendapatkan pahala maka dia keluar/bersih dari dosa sebagaimana ibunya baru saja melahirkannya “ Yakni benar-benar seperti anak yang tidak berdosa. Sunan Nasaai. Kitabushiyam bab dzikri ikhtilaafi Yahya bin abi katsyir wan-nadhar bin syaiban fiihi

Bersumber dari Hadhrat Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah saw bersabda: Puasa adalah sebuah prisai dan merupakan benteng yang kukuh untuk menyelamatkan dari api neraka”. Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 2 :.402 Edisi Berut

Memang ini adalah benteng, tetapi di belakang prisai itu dan di dalam benteng itu sampai kapan dalam benteng itu ada perlindungan, sampai kapan anda akan terus selamat, penjelasannya beliau telah terangkan dalam sebuah riwayat lain bahwa selama dia tidak merobeknya dengan dusta dan gibat/gunjingan. Oleh karena itu keberkatan-keberkatan puasa yang terdapat di bulan Ramadhan baru pada saat itu akan dapat diraih apabila keburukan-keburukan kecil ini juga yang kendati nampak secara lahirnya kacil,orang beranggapan biasa, segenap macam keburukan pun tidak mereka habiskan. Adapun di dalam itu keburukan yang sangat besar yang orang tidak rasakan adalah dusta. Manakala kamu berdusta maka artinya kamu merobek-robek/mengoyak prisai itu. Kalian menggibat orang, kalian mencela orang, menggunjing orang, duduk di belakang lalu kalian mulai membicarakannya maka inipun merupakan perkara yang merobek prisai puasa kamu. Jadi jika puasa dilakukan dengan memperhatikan hal-hal/ perkara-perkara yang merupakan keharusan atau yang diperlukan maka baru akan menjadi tameng. Kalau tidak, di tempat lain besabda, puasa ini hanya merupakan lapar dan haus yang manusia tengah jalani.

Semoga Allah menganugerahi taufik pada kita untuk melaksanakan puasa dengan semua syarat-syatanya dan kita melaksanakannya dan menjadi orang yang melaksanakan puasa demi untuk Allah bukan dengan niat untuk pamer pada dunia. Jangan terdapat alasan hawanafsu yang menghambat dalam kita dalam melakukan ibadah puasa dan di dalam bulan inipun kita menjadi orang yang menghidupkan ibadah-ibadah kita. Semoga Allah menganugrahkan taufik.Dan kapan kita berjalan di jalan kebaikan-kebaikan dalam bulan Ramdhan ini sejalan juga kita terus berdoa pada bulan Ramdhan ini supaya kebaikan-kebaikan itu jangan habis sejalan dengan berlalunya bulan Ramadhan ini,tetapi senantiasa menjadi bagian dalam hidup kita. Dan setiap orang diantara kita menjadi orang yang ikut menjadi kekasih-kekasih Allah, menjadi orang yang ikut meraih kasih sayang-Nya dan pandangan kasih sayang-Nya senantiasa terus menerpa kita. Dan Ramadhan ini untuk kita,untuk Jemaat kita membawa kemenangan yang luar biasa. Semoga Allah menjadikannya demikian.

Kini untuk Jemaat Inggris ada beberapa hal singkat yang ingin saya sampaikan. Dalam beberapa hari yang lalu saya telah mengadakan kunjungan ke beberapa kota yang di dalamnya termasuk pembukaan mesjid Bermingham. Dilakukan peletakan batu pertama pembangunan mesjid Breford.Lokasi tanah mereka beli di tempat yang sangat strategis,berada di puncak pegunungan, di bawah nampak pemandangan seluruh kota. Tanah tidak begitu luas ,tetapi diharapkan bahwa sesudah pembangunan di dalamnya akan banyak orang yang dapat melakukan salat. Akan lebih banyak tanah itu yang akan digunakan. Kemudian dilakukan peletakan batu pertama mesjid Hartlipul,inipun merupakan tempat yang cukup strategis, tetapi disini jumlah anggota Jemaat sedikit dan kini jumlah mereka sedikit bertambah. Dari sejak lama ada beberapa penduduk asli disana. Orang-orang yang mendapatkan suakapun kini mereka datang kesana tetapi kini orang-orang itu belum banyak mempunyai penghasilan yang khas. Dan,insyaallah mereka akan membuat mesjid. Rencana gambar mesjid sangat bagus. Dr Hamid Khan sahib Marhum cukup banyak upaya-upaya beliau untuk supaya mesjid dapat berdiri disana. Dalam membeli tanah rumah beliau banyak bekerja keras dan memberikan bantuan dan sampai akhir hayat beliau beliau terus berusaha untuk itu. Semoga Allah menganugerahkan pahala padanya dan meninggikan derajatnya. Kini pada saat saya menanyakan padanya mengenai mesjid yang tengah dibangun maka akibat uang yang kurang dia ingin mengecilkan gambar bangunan mesjid. Saya katakan pada beliau bahwa dengan alasan uang gambar jangan dikecilkan.Insyaallah , Allah akan memberikan pertolongan.

Tetapi Amir Sahib dalam perjalanan memberitahukan kepada saya bahwa Majlis Ansorullah Inggris ( Telah memberitahukan secara lisan,tidak begitu pasti. Kini saya tidak mengetahui apakah sampai sekarang telah ditetapkan atau tidak) telah berjanji pada Hadhrat Khalifatul-Masih IV bahwa kami akan membangun mesjid di Hartlipul. Jika mereka telah berjanji maka baik sekali, itu seyogianya disempurnakan. Dan jika mereka tidak pernah berjanji sekalipun maka kini pekerjaan/proyek itu saya akan serahkan kepada Ansorullah Inggris supaya mereka- insyaallah- akan memberikan bantuan pada Jemaat setempat sebatas yang diperlukan.dan sesuai gambar yang telah ditetapkan, sesuai dengan itu mesjid harus dibangun. Pembangunan mesjid ini memerlukan biaya kurang lebih lima ratus ribu ponsterling.(6 miliar) Jadi, bagaimana Ansorullah akan menutupinya. Buatlah rencananya dan kencangkanlah ikat pinggang/bulatkanlah tekad untuk itu. Pendek kata, harus memberikan bantuan pada mereka. Disana Jemaat sangat kecil.

Dan kemudian di cabang Bredford kurang lebih perkiraannya adalah1,6 juta ponsterling atau sejuta enam ratus ribu ponsterling ( Jika perkiraan saya benar dan ingatan benar) maka disana akan dibangun mesjid yang cukup besar Kendati disana cukup banyak para pedagang/pebisnis dan saya mengharapkan bahwa dengan sarana fasilitas yang mereka miliki sampai sebanyak mungkin dengan cepat mereka membangun mesjid ini tetapi bisa jadi timbul rasa malas. Ada sejumlah orang yang menuliskan perjanjian mereka tetapi mereka tidak dapat memenuhi perjanjiannya. Atau terdapat sejumlah keterpaksaan –keterpaksaan juga, maka untuk membantu mereka saya menyerahkan tugas ini kepada Khuddamul-ahmadiyah dan kepada Lajnah Imaillah (Inggris) supaya mereka memberikan bantuan dan ini di kawasan ini merupakan proyek Jemaat yang sangat luas yang mana saya mengharapkan bahwa ini akan merupakan faktor kemajuan Jemaat yang sangat besar juga. Disana untuk itu pun mereka memasukkan dana partisipasi mereka.Dan Lajnah senantiasa terus memberikan pengorbanan. Disini juga ada Mesjid Fazal London mereka Lajnah imaillah lah yang telah mengumpulkan dana itu yang tadinya diperuntukkan untuk pembangunan Mesjid Berlin dan kemudian itu digunakan untuk mesjid Fazal London. Jadi Lajnah Imaillah inggris seyogianya bekerja keras untuk itu sebab keinginan saya adalah supaya kedua mesjid ini dalam satu tahun hendaknya harus sudah selesai, insyaallah. Jika Allah menganugerahkan taufik maka dalam bulan Ramadhan ini dengan gejolak doa-doa dan semangat pengorbanan hendaknya memberikan perhatian kea rah itu dan lakukanlah upaya-upaya. Semoga Allah memberikan taufik pada semuanya.

Qamaruddin Syahid