Ramadhan, Ketakwaan dan Pembaharuan Diri

Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz pada 10 Juni 2016 di Baitul Futuh, London

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang orang yang beriman, puasa diwajibkan atasmu sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelummu, supaya kamu terpelihara dari keburukan rohani dan jasmani” (2:184).

Dalam ayat Al Quran ini, Allah telah menarik perhatian kita pada topik yang dapat mencerahkan kehidupan kita di dunia maupun di akhirat, yaitu pada kalimat لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ‘supaya kamu berTaqwa (terpelihara dari keburukan rohani dan jasmani)’. Pentingnya berpuasa bukan karena puasa juga terdapat dalam ajaran agama-agama sebelum Islam, namun karena melalui berpuasa dapat meraih ‘Taqwa’ dan menjauhi keburukan-keburukan.

Apa itu puasa? Puasa adalah sebuah tugas semata-mata untuk ridha Allah, sebuah kewajiban selama sebulan lamanya untuk menahan diri dari tindakan-tindakan yang diperbolehkan untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari kita di waktu selain Ramadhan. Di dalam bulan suci ini, manusia semata-mata untuk meraih ridho Allah, menahan dirinya dari tindakan-tindakan yang biasanya diperbolehkan dehingga dalam kondisi seperti ini seseorang tidak melakukan hal-hal yang buruk atau berbuat dosa.

Hendaknya seseorang berpuasa dengan memahami intisari ‘berpuasa’, yaitu melewati hari-hari berpuasa dengan selalu mengingat dan berharap ridha Allah dan menahan dirinya dari segala sesuatu yang tidak diperbolehkan dan melakukan setiap tindakan yang telah diperintahkan oleh Allah swt. Jika tidak demikian maka puasa orang tersebut adalah sia-sia dan tidak berguna. Baginda Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah tidak memerlukan rasa laparmu.”[1]

Sebab, tujuan utama berpuasa adalah agar seseorang memajukan ketakwaannya (kesalehan dalam takut kepada-Nya). Satu bulan penuh disiplin, pendidikan dan perbaikan diri telah disediakan bagi kita. Oleh karena itu, seseorang harus berusaha untuk meninggikan tingkat kesalehan dan ketakwaannya selama waktu ini. Sebab, ‘Taqwa’ akan meningkatkan derajat-derajat perbuatan-perbuatan baik kita, Taqwa akan menuntun pada perbuatan-perbuatan saleh yang berkelanjutan, membimbing kita ke dalam kedekatan dengan Allah dan juga akan mendapatkan ampunan atas dosa-dosa di masa lalu.

Hadhrat Rasulullah saw bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ’Man shaama Ramadhaana imaanaw wahtisaaban ghufira lahu maa taqaddama min dzanbihi.’ – “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dalam keadaan Iman dan berusaha untuk mengintrospeksi diri dan jiwanya berjuang melawan dosa-dosa, maka segala dosa-dosanya akan diampuni.”[2]

Dengan demikian, jika segala dosa-dosa yang lalu telah diampuni dan seseorang dengan sungguh-sungguh dan terus menerus mengikuti jalan Taqwa, maka orang seperti itu itu adalah saksi atas fakta bahwa ia telah berhasil mencapai tujuan berpuasa dan bahkan juga mencapai tujuan hidupnya. Salah satu manfaat Taqwa yang telah Allah firmankan terdapat di dalam Al Quran, فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Hai orang-orang yang bijaksana, bertakwalah agar engkau berhasil” (Surah Al-Maaidah, 5: 101) Maka, siapa yang tidak ingin meraih falaah (keberhasilan)? Pencapaian-pencapaian duniawi dan keselamatan di dalamnya akan ditinggalkan di dunia ini saja. Pencapaian sejati bagi manusia ialah keberhasilan di dunia dan juga di akhirat. Dan Allah berfirman, “Jika engkau memiliki kebijaksanaan, pahamilah bahwa kemenangan sesungguhnya dicapai dengan mengikuti jalan Taqwa.”

Dalam situasi dunia saat ini, mereka yang dinamakan pemimpin-pemimpin agama menarik para Muslim untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang sebetulnya secara sanat jelas berlawanan dengan ridha Allah Ta’ala. Sangat jauh dari Taqwa (ajaran Islam). Para pengikut Ahmadiyah diberkati dan sangat beruntung karena memiliki kesempatan untuk mengimani Imam Zaman (Hadhrat Masih Mau’ud as), ghulam shadiq (pelayan sejati) Nabi Muhammad saw, yang telah membuat kita memahami secara rinci hal-hal detil ajaran Islam.

Apakah itu Taqwa? Apakah hal-hal yang dengan melaluinya seseorang menjadi mungkin untuk meraih Ketakwaan? Apakah yang Hadhrat Masih Mau’ud as harapkan dari Jemaatnya secara khusus perihal ini? Agar dapat membuat kita mengerti arti dari Taqwa, saya telah memilih beberapa acuan dari kutipan-kutipan sabda Hadhrat Masih Mau’ud as dan saya hendak menyampaikannya. Sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud as ini akan membantu kita meningkatkan iman kita, terus mengikuti jalan ketakwaan dan menyediakan kita aturan-aturan dalam berperilaku untuk bulan (puasa) ini demi perbaikan diri kita.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Taqwa bukan perkara kecil (bukan hal yang mudah). Melainkan, melalui Taqwa-lah, seseorang dapat mengendalikan seluruh pengaruh Setan yang telah mendominasi kemampuan dan potensi batiniahnya. Seluruh potensi ini yang berada di dalam kondisi Nafs Amarah adalah bentuk Setan di dalam jiwa seseorang” Artinya kekuatan pikiran yang menarik seseorang kepada dosa dan menghalangi dari berbuat baik adalah setan di dalam dirinya.

“Jika engkau tidak melawannya (memperbaiki potensi dan kekuatan yang ada di dalam dirimu dalam bentuk Nafs Amarah dan setan atau tidak melawan dirinya sendiri. Maka apa akibatnya?) ia akan menjadikan engkau sebagai budaknya. Jika ilmu dan akal dipergunakan secara tidak baik maka itu akan berubah menjadi setan.”

Pengetahuan dan kebijaksanaan tidak diragukan lagi adalah sifat-sifat yang sangat mulia. Tapi jika seseorang bangga pada sifat-sifat ini dan menggunakan sifat-sifat ini untuk melakukan tindakan-tindakan buruk dan amoral, dan/atau membawa tindakan-tindakan buruk dan amoral ini untuk mengalahkan perbuatan-perbuatan baik, maka sifat-sifat ini pada akhirnya akan berkembang dan berubah menjadi setan dan buruk. “Tugas orang bertakwa ialah menyeimbangkannya dan juga menyeimbangkan kekuatan-kekuatan lainnya juga.”[3]

Siapakah yang dikatakan Taqiyy (bertakwa)? Apakah perbuatannya? Perbuatannya adalah benar. Dalam artian segala hal yang diberikan oleh Allah Ta’ala baik berupa ilmu pengetahuan, kebijaksanaan dan kualitas-kualitas lainnya kepada seseorang digunakan pada tempatnya yang tepat dan benar. Sebab, sifat-sifat ini dapat menjadi sangat berbahaya dan dapat mengalihkan jauh dari Allah Ta’ala dan mendekatkannya pada setan jika tidak digunakan pada waktu dan tujuan yang tepat.

Tema ketakwaan sangat halus lagi mendalam. Berusahalah demi memahaminya. Untuk meraih ketakwaan, tanamkanlah keagungan Allah di dalam hatimu. Allah menolak amalan-amalan yang di dalamnya terdapat riya’ (sifat pamer) meskipun sedikit saja. Sulit memang untuk menjadi berTaqwa. Sebagai contoh, jika seseorang menuduhmu mencuri sebuah pena, kenapa engkau menjadi marah? Pengendalian dirimu adalah semata-mata untuk Allah. Jika ada kemarahan dirasakan dalam situasi seperti tadi adalah karena hati hampa tanpa kehadiran-Nya/tidak mengarahkan perhatian pada-Nya. Manusia tidak menjadi Muttaqi (bertakwa) kecuali ia telah melalui banyak tahap dalam situasi-situasi seperti orang mati [tidak merasa apa-apa-penerjemah].

Keajaiban-keajaiban (Mu’jizat) dan wahyu-wahyu adalah turunan (bentukan) dari ketakwaan. Namun aspek pokoknya adalah ketakwaan. Karena itu jangan terlalu sibuk dan risau dengan wahyu-wahyu dan ilham-ilham, melainkan kejarlah pencapaian ketakwaan. Hanya yang berTaqwa yang memiliki wahyu yang benar. Wahyu apapun yang diterima tanpa ketakwaan tidak bisa diandalkan. Wahyu dan ilham-ilham yang demikian bisa saja dipengaruhi oleh setan. Jangan menghargai ketakwaan seseorang berdasarkan keutamaan mereka dalam menerima wahyu. Namun, analisalah ilham yang bersangkutan berdasarkan keadaan ketakwaannya.

Tutuplah pandangan matamu pada hal-hal lainnya. Hal pertama, bahaslah mengenai tahapan ketakwaan. Junjunglah dan dirikanlah keteladanan semua Rasul dan Nabi. Mereka semua datang dengan tujuan mengajarkan jalan ketakwaan. Allah berfirman, إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُونَ “Para Wali hakiki itu tidak ada selain para muttaqi …” (Surah Al-Anfal, 8:35). Tetapi, Al-Quran mengajarkan jalan-jalan halus (rinci) ketakwaan. Kesempurnaan (keunggulan dan keutamaan) seorang nabi mensyaratkan kesempurnaan kaumnya juga. Dan, karena Rasulullah saw merupakan Khataman Nabiyyin, maka kesempurnaan kenabian telah tercap (terhimpun) pada beliau. Dan, stempel kenabian beliau lahir dari himpunan keunggulan dan keutamaan kenabian. Bagi mereka yang ingin mendapatkan ridha Allah Ta’ala dan menyaksikan mu’jizat dan hal-hal luar biasa, mereka harus membuat hidup mereka menjadi hidup yang luar biasa.”[4]

Inilah revolusi yang kita harus canangkan dan kerjakan. Kita telah beriman kepada Nabi Muhammad saw. Jika kita memang termasuk umat beliau saw, dan jika [dan memang] keteladanan terbaik beliau saw bukanlah seperti seseorang dari kita, maka guna mendirikannya mau tak mau kita harus mengeratkan hubungan dengan Allah dan menciptakan ketakwaan sejati dalam diri kita.

Kemudian, beliau as bersabda perihal akar setiap kebaikan adalah Taqwa, “Bertakwalah kepada Allah! Sebab, asal setiap keunggulan dan keutamaan ialah ketakwaan. Arti Taqwa adalah الاتقاء menjaga diri dari dosa yang bahkan sesedikit dan sekecil mungkin. ketakwaan adalah menjauhkan diri dari setiap tindakan yang di dalamnya terdapat sedikit saja dari keburukan.[5] Maksudnya, bukan hanya meninggalkan keburukan secara lahiriah saja, bahkan setiap jenis keburukan.

Beliau as bersabda, “Permisalan hati adalah laksana saluran besar yang memiliki banyak cabang kecil yang lain. Dalam bahasa setempat disebut “سُووَا” suwa atau راجْبَهَا rajbaha. (Di Punjab, di India dan di Pakistan sungai kecil disebut demikian) Dari hati tersebut keluar berupa cabang-cabang yang antara lain adalah lidah, tangan dan lain-lain. Dan jika cabang-cabang kecil ini melakukan hal-hal buruk, maka mereka adalah refleksi dari kenyataan bahwa saluran utama (yaitu hati dalam hal ini) juga memiliki niat-niat buruk. Dan jika engkau menganggap anggota tubuh seseorang baik itu lidah atau tangan atau kaki itu buruk, maka percayalah bahwa hatinya pun demikian.”

Maka, demikian pula, jika seseorang bermulut nakal, tidak menahan diri dari bertengkar, perselisihan, penghinaan dan pelecehan secara kata-kata meski ia tengah berpuasa; atau tangannya melakukan perbuatan buruk; maka, ketahuilah hatinya pun tidak suci dan jauh dari ketakwaan. Kemudian, beliau as menjelaskan tentang menjalani kehidupan dengan kerendahan-hati dan kesederhanaan, “Syarat bagi ahli taqwa (orang-orang berTaqwa) ialah agar mereka senantiasa menjalani kehidupannya dalam ghurbat (terasing, tidak menonjolkan diri) dan miskiini (sederhana dan penuh kerendahan hati). Ini adalah ranting cabang ketakwaan yang dengan melaluinya kita dapat menahan na jaa-iz ghadhab (gejolak kemarahan yang tidak diperbolehkan, artinya ada kemarahan yang dibolehkan, penampakan marah pada situasi dan kondisi serta tempat yang tepat).

Tahap akhir dan berat bagi orang-orang besar dari kalangan arif dan shiddiq adalah menyelamatkan diri dari ghadhab (gejolak kemarahan).” (Adalah penting untuk menghindari kemarahan) “Sikap ‘ujub (memandang diri sendiri dengan bangga) dan kesombongan timbul dari ghadhab (kemarahan) adakalanya, ghadhab tersebut pun dampak dari sikap ‘ujub dan keangkuhan. (Kadangkala kemarahan timbul karena takabbur dan bangga diri; dan kadangkala kemarahan menimbulkan takabbur dan bangga diri. Dia memandang dirinya penting. Dia tidak berlaku rendah hati dan sederhana. Karena itu, muncullah kemarahan darinya. Kemarahan ini menularkan penyebaran kerusakan di tiap tempat di dunia. Mulai dari rumah-rumah hingga ke level yang lebih luas dan tinggi)

Kemarahan itu timbul di dalam diri seseorang ketika memandang tinggi dirinya sendiri di atas orang lain. Saya tidak menghendaki (saya tidak senang) orang-orang dalam Jemaat saya, satu terhadap yang lain memandang kecil (rendah), atau satu dengan yang lain memandang lebih besar (mulia), atau satu dengan yang lain saling membanggakan diri, ataupun memandang yang lain dengan menghina (mengecilkan). Hanya Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui siapakah yang besar siapa pula yang kecil. Kecenderungan ini sejenis perendahan yang mengandung penghinaan. Saya khawatir semua hal tersebut benih-benihnya bertumbuh dan menghancurkan pemiliknya.” (Jika kalian menghina seseorang, atau memandangnya lebih rendah darimu atau mengejeknya, atau melihatnya dengan pandangan menghinakan (meremehkan) maka tiap hal itu masuk kedalam kategori merendahkan orang lain. Jika hati sedikit saja muncul kecenderungan merendahkan orang lain lalu ini bertumbuh dan berakibat kehancuran bagi seseorang.)

Bersabda, “Sebagian orang demikian hormatnya manakala berjumpa dengan orang besar (orang mulia, berpangkat dan lain-lain). Namun, seorang yang mulia ialah dia yang dengan cara miskiini (dengan merendah, kerendahan hati) mau mendengarkan perkataan orang miskin. Ia mengupayakan dirinya merasa senang hati (tidak sempit pikiran berbincang-bincang dengan orang miskin tersebut). Ia menghormati kata-katanya. Ia tidak akan menimpalinya dengan sesuatu perkataan yang akan menyinggung perasaan orang tersebut. Allah Ta’ala menyatakan, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ …..begitu pula janganlah panggil-memanggil dengan nama buruk. Seburuk-buruknya nama adalah fasiq sesudah beriman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, mereka itulah orang-orang yang dzalim.’ (Surah Al-Hujuraat, 49 : 12) “(yakni, setelah seseorang beriman, inilah perbuatan dosa yang sangat besar. Pertama وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ “Janganlah satu dengan yang lain memanggil dengan julukan buruk dan seburuk-buruk dosa setelah dalam keimanan adalah demikian itu dan barangsiapa yang tidak bertaubat mereka itulah orang-orang yang zalim.”)

Bersabda,

Janganlah memanggil dengan sesuatu nama julukan buruk. Itu perbuatan fussaaq (sangat fasik) dan fujjaar (sangat berdosa). (Orang yang tidak menaati Allah Ta’ala, mereka yang berjalan di belakang setan, inilah dia pekerjaan mereka) “Barangsiapa yang memanggil dengan nama buruk, tidak akan mati sebelum ia sendiri seperti keburukan yang ia panggilkan kepada orang lain itu. Janganlah merendahkan sesama saudaramu. Jika tuan-tuan sekalian meminum dari sumber mata air yang sama, siapa pula yang dapat mengetahui ada yang beruntung dapat mereguknya lebih banyak? Seseorang tidak dapat dimuliakan ataupun dihormati berdasarkan pertimbangan duniawinya. Sebab, dalam pandangan Allah Ta’ala, yang termulia ialah yang paling berTaqwa, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ () ‘Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kamu pada pandangan Allah ialah yang paling berTaqwa di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui. Maha Waspada.’ (Surah Al-Hujuraat, 49: 14) ”[6]

Selanjutnya, Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan siapakah itu orang yang bertakwa,

“Kita mendapati dari firman Allah Ta’ala bahwa orang-orang bertakwa saat berjalan mereka penuh hilm dan maskanah. Dan, mereka tidak mengeluarkan pembicaraan yang bersifat kebanggaan dan kesombongan. Melainkan, percakapan mereka itu ibarat seorang anak kecil berkata kepada orang yang dewasa. (Artinya, orang bertakwa berbicara kepada semua orang seperti seorang anak kecil berbicara dengan orang dewasa. Atau, seperti orang miskin berbicara kepada orang kaya. Meskipun keadaan mereka itu kaya-raya, tokoh terkemuka bangsa; mereka terhiasi dengan sifat penuh kesantunan, ketulusan dan kerendahanhati)

Kita harus senantiasa beramal sesuatu yang dapat menjadi keberhasilan kita. Allah tidak memonopolikan atas seseorang. Sesungguhnya Allah menghendaki Taqwa secara khusus. Siapa yang bertakwa akan meraih derajat tinggi. Hadhrat Rasulullah saw atau Hadhrat Nabi Ibrahim as tidak mendapatkan reputasi atau kehormatan lewat pewarisan dari seseorang. Tidak ragu lagi, kita meyakini bahwa ayah Rasulullah saw, Abdullah bukanlah seorang yang mempercayai banyak Tuhan (musyrik). Tetapi, dia tidak mewariskan kenabian pada beliau saw. Merupakan semata-mata karunia Allah yang memberi beliau saw kehormatan itu (kenabian) sebagai balasan jenis-jenis kebenaran yang ada pada fitrat beliau saw. Karena kesalehan dan ketakwaannya, Hadhrat Nabi Ibrahim as, bapak para Nabi, tidak ragu-ragu saat diperintah mengorbankan putranya. Sebagaimana saat beliau as dilemparkan ke dalam api.

Perhatikanlah kebenaran dan kejujuran Junjungan dan Majikan kita, Muhammad Rasulullah saw, yang telah melawan perbuatan-perbuatan yang buruk yang berlaku pada saat itu. Beliau saw memikul berbagai jenis kesulitan dan penderitaan yang datang. Tetapi, tidak peduli terhadap itu semua, dan karena ketulusan dan kebenaran inilah yang menghasilkan rahmat Allah Ta’ala yang melimpah.[7] Ini adalah contoh bagus yang harus diikuti oleh kita semua.”

Selanjutnya, beliau as membicarakan bagaimana meraih firasat yang benar dan kecerdasan hakiki,

“Firasat yang benar dan ilmu pengetahuan yang sebenarnya atau kecerdasan sejati tidak dapat diperoleh tanpa adanya ruju’ (senantiasa kembali) dengan Allah Ta’ala.” (Kecerdasan dan firasat tidak dapat diperoleh tanpa merendahkan diri di hadapan Allah, tanpa senantiasa ruju’ atau kembali kepada-Nya.) Inilah sebabnya dikatakan [dalam sebuah Hadits], احْذَرُوا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنْ، فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُورِ اللَّهِ ‘ihdzaruu firaasatal mu-mini fa-innahu yanzhuru bi nuuriLlaah.’ ‘Waspadalah terhadap firasat orang beriman karena ia melihat dengan nur Allah.’”[8] Beliau menjelaskan firasat yang benar dan ilmu pengetahuan hakiki tidak akan pernah didapatkan sebelum mencapai ketakwaan sempurna.

Kemudian, beliau as bersabda,

“Bila engkau ingin berhasil, pergunakanlah akalmu. Berpikirlah! Renungkanlah! Terdapat di dalam Alqur’anul Karim berkali-kali menekankan perintah tersebut, yaitu untuk merenungkan dan berpikir. (Pada satu segi kita lihat orang yang menggunakan ilmu dan kecerdasannya secara salah sehingga ilmu dan kepintarannya tersebut menyebabkan kehancurannya. Pada segi lainnya, Allah berfirman supaya kita menggunakan akal senantiasa, memanfaatkan ilmu, merenung, berpikir. Inilah pula yang dianjurkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as saat menjelaskan di kalimat tersebut bahwa Alqur’anul Karim berkali-kali menekankan perintah untuk merenungkan dan berpikir.)

Pelajarilah kitaabi maknun dan Alqur’anul Karim (Alqur’an adalah Kitab Allah yang sangat mendalam dan tersembunyi. Berusahalah mengetahui hal-hal mendalam tentangnya, pelajarilah terjemahannya dan tafsirnya) dan jadilah orang yang bertakwa. Bila qalbu engkau telah disucikan, engkau pun telah menggunakan aql saliim (akal murni) tersebut, dan menjadi orang yang mengedepankan jalan ketakwaan maka dua hal itu pun terhimpun di dalam dirimu suatu kondisi yang mengharuskan dari hatimu untuk menyatakan, رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ‘….Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menjadikan ini sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab Api.’ (Surah Ali Imran, 3 : 192) Ungkapan pernyataan tersebut akan keluar dari hatimu. Pada saat itulah engkau menyadari, bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah, memang tiada yang sia-sia. Melainkan, justru menunjukkan kebenaran dan bukti keberadaan Allah, Sang Pencipta Yang Hakiki. Hal demikian supaya terungkap bahwa semua ilmu pengetahuan dan fann (sains, keahlian teknik) pada hakekatnya adalah untuk membenarkan agama [Islam].”[9]

Kita dapati dari satu segi bahwa ilmu dan kecerdasan telah menjauhkan para pelaku kebudayaan baru dan modern dari Allah Ta’ala. Sementara dari segi lainnya, Allah Ta’ala berfirman bahwa menggunakan pemikiran dan kebijaksanaan pada kemampuan terbaiknya akan menuntun kearah pemahaman tentang keberadaan Allah. Hal itu juga membuatnya sadar bahwa Dia pemilik segala puja dan puji. Di dunia saat ini, orang-orang mengklaim Tuhan tidak ada. Hal yang sebenarnya, mereka tidak mampu melihat Tuhan karena mata rohaniah mereka buta, dan mereka menggunakan pengetahuan dan kecerdasan mereka tolok ukur-tolok ukur fisikal saja; dan hanya mencukupkan diri dengan duniawi. Kelalaian dan pemisahan diri mereka dari agama sampai-sampai menganggap agama-agama itu telah ketinggalan zaman. Mereka telah kehilangan petunjuk Allah. Hal ini membuat mereka tidak mampu memikirkan perkara ini dan menggunakan kecerdasan mereka tentang hal itu. Adapun dalam agama kita, ada Al-Quranul Karim yang merupakan kitab lengkap sebagai petunjuk dan pengetahuan yang menyediakan kita aturan-aturan hidup.

Studi dan pemahaman intensif mengenai Al Quran pada akhirnya menuntun kita pada ketakwaan, dan itu mengarahkan seseorang untuk memuji Allah Ta’ala. Ketika ketakwaan seseorang bertambah, dia melihat Allah, artinya dia melihat Allah dengan ketakwaannya. Singkatnya, ketakwaan menuntun pada keimanan yang teguh akan keberadaan Tuhan dan memastikan kehadiran-Nya pada ketinggian gunung-gunung, kedalaman lautan dan juga pada galaksi di luar angkasa. Orang yang benar-benar beriman mengembangkan hubungan dengan Allah dan bertindak sesuai dengan petunjuk-Nya.

Oleh karena itu, selama bulan Ramadhan ini kita tidak hanya harus menjauhkan diri dari makan-minum, namun juga harus mencari petunjuk sejati Allah seperti direfleksikan dalam Al Quran. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa kita harus menyucikan jiwa dan kemampuan kita selama bulan penuh berkah dan karunia ini sehingga dapat benar-benar memanfaatkannya dengan optimal. Ketakwaan dan kesalehan seperti inilah yang Allah Ta’ala harapkan dari kita.

Selanjutnya, beliau as mengarahkan perhatian kita bahwa jika seseorang memasuki Jemaat dan ingin melayani Islam, maka prasyaratnya adalah ia harus menyucikan dirinya dari semua kebiasaan-kebiasaan buruk; di sisi lain, ia juga harus meraih ketakwaan dan kesalehan. Sebab, kita tidak dapat melayani Islam hanya dengan percakapan semata melainkan mau tak mau kita harus memperoleh kesucian dan ketakwaan untuk dapat melakukan pelayanan ini. Beliau as bersabda, “Saya ingatkan sekali lagi! Jika kalian ingin berkhidmat kepada agama Islam maka pertama kalian harus berusaha menjadi orang berTaqwa. Tanpa itu kalian tidak bisa berkhidmat untuk Islam.

Allah Ta’ala berfirman: صابِروا ورابِطوا ‘shaabiruu wa raabithuu’ — “Sabarlah dan tingkatkanlah kesabaran” (Ali Imran ayat 201). Sebagaimana untuk melawan musuh di perbatasan sangat perlu tersedianya kuda-kuda terlatih supaya musuh jangan terlepas menerobos perbatasan, demikian juga kalian harus selalu siap siaga jangan sampai musuh menerobos garis perbatasan dan membahayakan Islam. Sudah saya katakan, jika kalian ingin menolong dan mengkhidmati Islam, maka pertama, kalian harus berusaha menjadi orang berTaqwa dan menyucikan diri yang dapat membuat kalian berada dibawah naungan dan perlindungan Allah Ta’ala Yang Maha Mulia, barulah kalian akan berhak untuk mengkhidmati Islam.

Tidakkah kalian lihat bagaimana lemahnya kekuatan luar umat Islam? Bangsa-bangsa di dunia [non Islam] memandang mereka dengan hina dan kebencian. Jika kekuatan dalam hati kalian sudah lemah maka anggaplah kalian sudah punah. Kalian harus menyucikan nafs (jiwa) kalian sedemikian rupa sehingga quwwat qudsiyah (daya penyucian rohaniah) masuk kedalam diri kalian, dan kalian akan menjadi kuat laksana kuda-kuda yang siaga menjaga garis perbatasan. Karunia Allah Ta’ala selalu turun kepada orang yang berTaqwa dan jujur. Janganlah membuat akhlak dan prilaku pribadi yang mengakibatkan Islam ternoda. Pelaku kejahatan dan orang Muslim yang tidak mengamalkan ajaran Islam membuat nama Islam ternoda.

Ada seorang Muslim yang meminum arak dan muntah dimana-mana, sedangkan sorbannya melilit di lehernya karena ia jatuh sambil menggelepar terperosok ke dalam parit, akhirnya polisi datang memukulinya dengan sepatunya. Orang-orang Hindu dan Kristen menertawakannya. Perbuatannya itu demikian buruknya sehingga bukan saja membuat dirinya hina bahkan di balik itu nama baik Islam juga terpuruk.”

(Di dunia saat ini, beberapa kelompok Islam – yang sebenarnya kecil (sedikit) – atau selain mereka yang melakukan tindakan-tindakan kekerasan dan keji yang menyebabkan gambaran salah tentang Islam. Yang disalahkan oleh dunia bukanlah para pribadi yang melakukan hal-hal salah tersebut, namun agama mereka yaitu Islam yang akhirnya digambarkan buruk. Maka dari itu, ambil dan lakukanlah jalan hidup yang tidak mengizinkan orang lain untuk mengasosiasikan hal-hal yang buruk kepada agamamu, Islam)

“Menerima berita seperti itu dari penjara membuat saya merasa terpukul dan sedih sekali. Ketika saya melihat keadaan orang-orang Muslim, hati saya menjadi sangat gelisah, disebabkan perbuatan-perbuatan buruk mereka, orang-orang yang telah dianugerahi jalan yang lurus itu, bukan hanya membuat diri mereka sendiri binasa bahkan membuat Islam menjadi sasaran ejekan dan tertawaan orang-orang Non Islam. Maksud saya dari itu adalah orang-orang yang menamakan diri Muslim terlibat dalam perbuatan-perbuatan terlarang yang bukan hanya membuat keadaan mereka diragukan bahkan Islam juga demikian diragukan. Maka, jadikanlah gerak-gerik dan perilaku kalian sedemikian rupa sehingga tidak memberi kesempatan kepada orang-orang bukan Islam untuk mengkritik kalian (yang sesungguhnya kritikan itu tertuju pada Islam).”[10]

Kemudian, beliau as menjelaskan bagian-bagian dari Taqwa,

“Ketakwaan mempunyai banyak bagian, contohnya menahan diri dari kesombongan, egoisme, menonjolkan diri sendiri dan perilaku buruk serta menahan diri dalam meraih harta lewat cara-cara terlarang adalah juga bentuk ketakwaan dan kesalehan. Seseorang yang menampilkan perilaku dan tindakan baik pada akhirnya menarik musuh atau lawan-lawannya menjadi teman-temannya.

Diserukan oleh Allah Ta’ala, ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ‘Tolaklah dengan cara yang sebaik-baiknya’. Kini renungkanlah! Apa yang diajarkan oleh petunjuk ini? Allah bertujuan dengan petunjuk ini jika ada yang penentang yang melontarkan caci-maki supaya kita tidak membalas dan bersabar sehingga dampaknya si pencaci memikirkan kembali tindakan buruknya dan merasa bersalah karenanya. Hukuman ini jauh lebih menyakitkan daripada balas dendam yang dilakukan pada saat yang sama.

Sebuah hal yang memungkinkan bahwa seseorang dapat mengarah untuk melakukan sebuah dosa pembunuhan. Namun hal ini bukanlah perintah (tuntutan) kemanusiaan dan ketakwaan. Melainkan, perbuatan baik mempunyai kualitas yang sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah mengesankan orang lain yang bahkan amat sangat menyakiti (merugikan). Iya, alangkah halusnya sebuah bait syair Persia yang menyebutkan,

 [Terjemahan bahasa Arabnya, أحسِن المعاملة، فبحسن المعاملة يصبح الغريب أيضا صديقا حميما ] “Berlaku baiklah. Dengan perlakuan yang baik seorang asing pun akan berubah menjadi teman nan setia.”[11] Seseorang harus menanamkan ketakwaan dan kesalehan ke dalam dirinya dan mengikuti jalan kejayaan dan kebahagiaan untuk dapat meraih sesuatu di kehidupan ini dan juga di akhirat.

Selanjutnya, beliau as mengarahkan perhatian kita bahwa umat manusia harus memfokuskan diri pada kebahagiaan dan ketakwaan, “Hal yang benar dan sejati ialah seseorang harus menaruh perhatian khusus pada kebahagiaan dan ketakwaan serta memilih jalan kebahagiaan, yang dalam hal itu dapat ia sempurnakan sesuatu. إِنَّ اللهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ‘Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.’ (Surah Ar-Ra’d, 13:11) Sifat berprasangka buruk dan menciptakan berita-berita tak benar adalah tindakan konyol yang sangat memalukan dan tercela yang dapat membawa pada tingkatan ekstrim. Hal terpokok ialah berpaling menuju Allah untuk petunjuk-Nya, melakukan shalat, membayar zakat dan menahan diri dari menipu dan melakukan perbuatan buruk.

Sudah terbukti bahwa tindakan-tindakan buruk dari satu orang terkadang menjadi sebab kehancuran seluruh keluarga dan juga kota yang ditempatinya. Oleh karena itu, berhentilah melakukan perbuatan dan tindakan salah dan keji sebelum tindakan-tindakan ini menggiringmu pada akhir yang mengerikan. Jika tetanggamu berpikir buruk terhadapmu, berusahalah sedapat mungkin untuk melenyapkan kesalahpahaman ini dan memberikan nasehat padanya.

Bukankah hal yang mungkin bagi manusia untuk bersikap lalai? Tercantum dalam Hadits bahwa permohonan doa sebelum datangnya masalah (musibah) adalah yang diterima. Sebab, jika waktu datangnya masalah sudah tiba, maka semua orang juga akan berdoa. Oleh karena itu, lakukanlah doa pada masa damai dan harmoni.”[12] Kita harus menaruh perhatian pada hal ini.

Selanjutnya, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Ketakwaan selalu mempengaruhi orang-orang lain dan Allah tidak menyia-nyiakan kaum yang berTaqwa dan saleh. Saya telah membaca di sebuah buku bahwa salah seorang pemuka umat Islam, حضرة السيد عبد القادر الجيلاني Hadhrat Sayyid Abdul Qadir Al-Jilani رحمة الله عليه rahmatuLlahi ‘alaihi merupakan seorang yang memiliki jiwa yang sangat suci, berbudi luhur dan mulia. Suatu kali beliau mencurahkan hatinya kepada Ibunya bahwa hati beliau tidak puas dengan perbuatan dan tindakan duniawi yang lazim dan umum. Beliau ingin menemukan orang suci yang dapat membimbing beliau menuju jalan damai kebajikan.

Mendengarkan keinginan putranya, ibunda Sayyid Abdul Qadir mengizinkannya melakukan perjalanan dalam mencari kebenaran dan menjahitkan beliau uang (koin Persia) ke dalam lapisan mantel beliau di bawah ketiak beliau, dan menyembunyikannya serta berpesan untuk menggunakan uang tersebut ketika diperlukan. Sayyid Abdul Qadir Shah Al-Jilani lantas meminta ibunda beliau untuk memberikan nasihat. Ibunda beliau berpesan agar beliau selalu berkata jujur karena hal tersebut dapat menyelamatkan seseorang dari kekhawatiran besar.

Dalam perjalanan beliau dari hutan, rombongan beliau diserang oleh para perampok. Ketika seorang diantara para perampok melihat Sayyid Abdul Qadir Shah Al-Jilani yang tampak dalam keadaan melarat, ia mengejek beliau dengan bertanya apakah beliau membawa benda berharga. Mengikuti pesan dari ibunda beliau agar berkata jujur, Sayyid Abdul Qadir Shah Al-Jilani memberitahukan para perampok tersebut uang yang dijahitkan ke dalam lapisan mantelnya. Setelah mencarinya, para perampok itu menemukan koin-koin Persia. Mereka terkejut dan bertanya kenapa beliau berkata jujur.

Sayyid Abdul Qadir Shah Al-Jilani mengatakan: ‘Aku melakukan perjalanan dalam mencari jalan yang benar dan sebelum keberangkatanku, Ibundaku berpesan agar aku selalu mengatakan hal yang benar dan jujur. Jadi kejadian ini adalah ujian pertamaku dan aku tidak ingin berbohong.’ Pemimpin para perampok tersebut begitu terkesan dengan perbuatan jujur Sayyid Abdul Qadir Shah Al-Jilani sehingga ia menyesali dan bertobat atas perbuatan-perbuatan jahatnya dan meminta maaf bersama seluruh kelompok perampok tersebut.”[13]

Demikianlah, kisah ini juga menekankan fakta bahwasanya kita harus mengaudit dan memeriksa diri kita sendiri. Kita juga telah menerima kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as karena agama tengah berada pada kejatuhan dan tidak ada yang mengikuti ajaran-ajaran Islam yang sejati. Kita telah diperintahkan mengikuti Hadhrat Masih Mau’ud as. Jika seseorang ingin mengikuti ajaran sejati Islam, maka sangat penting untuk mengimani beliau as. Tetapi, apakah kita telah meninggalkan keburukan setelah itu?

Kebohongan dipandang sebagai tindakan salah yang sangat kecil dan sangat umum dilakukan. Namun pada kenyataannya, kebohongan adalah dosa yang sangat mengerikan. Jika kita merenungi diri kita dengan bekal kisah diatas mungkin akan kita temukan sebagian kita tenggelam dalam dosa ini (kebohongan). Merupakan tuntutan Baiat dan ketakwaan bahwa kita harus menjauhkan diri dari berbohong.

Banyak orang telah berpindah ke negara-negara ini (Eropa) dari negara-negara lain karena tidak diizinkan mengamalkan agama mereka dengan bebas dan mengungkapkan keyakinan mereka secara merdeka di negara kelahiran mereka sendiri. Oleh sebab itu, orang-orang kita yang hidup di dunia Barat ini dan telah mengungsi ke negara-negara ini seharusnya sangat hati-hati atas setiap tindak-tanduk mereka meskipun dalam hal kecil sekalipun. Jangan sampai keluar dari lidah mereka kebohongan atau kata-kata yang tercium darinya aroma kebohongan atau menyarankan penggunaan cara-cara ilegal untuk mendapatkan manfaat dengan cara sengaja menjelaskan yang salah. Setiap orang dari mereka harus meneliti diri mereka sendiri dan menempatkan tingkat ketakwaan dalam pertimbangan mereka.

Selanjutnya, beliau as mengatakan tentang bagaimana kita hendaknya menaruh perhatian pada penggunaan secara tepat atas semua kekuatan dan potensi yang Allah anugerahkan pada kita,

“Segala kemampuan yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala bukanlah untuk disia-siakan. Mereka dikembangkan melalui penggunaan yang benar dan tepat. (Artinya jika kalian ingin menikmati dan mengambil manfaat dari itu semua dan menjaganya tetap selamat maka kalian harus menggunakannya secara benar.) Dalam rangka itu, Islam tidak pernah menyuruh agar meniadakan kekuatan jasmani atau mengeluarkan mata, melainkan mendesak kita agar memakainya dengan benar dan menyucikan diri sebagaimana firman Allah, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ‘Sesungguhnya telah berhasil orang-orang yang beriman.’ [Al-Mukminun, 23:2] Dalam Surah ini, setelah pada bagian awal menggambarkan kehidupan para muttaqi (orang bertakwa), Allah juga menfirmankan hasil kehidupan mereka itu: وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ () “… Dan mereka itulah orang-orang berjaya.” [Ali Imran, 3:105] Yaitu mereka yang mengamalkan jalan-jalan ketakwaan senantiasa beriman kepada yang ghaib. Mereka terkadang kehilangan konsentrasi di dalam shalat namun kemudian memperolehnya kembali dan mereka membelanjakan apa yang telah Allah Ta’ala anugerahkan kepada mereka.

Mereka tanpa ada keraguan dan pemikiran meski sesuai dengan dorongan hati mereka, senantiasa percaya kepada kitab-kitab pada masa lalu dan Kitab Allah Ta’ala ini (Al-Qur’an) dan pada akhirnya mencapai tahapan keyakinan yang pasti. Inilah orang-orang yang berada di jalan petunjuk. Mereka menapaki jalan yang terbentang maju terus ke depan sehingga mengantarkannya kepada falaah (kesuksesan). Inilah orang-orang yang berjaya yang akan mencapai tujuan mereka dan telah dilepaskan dari bahaya perjalanan tersebut. Dalam rangka itu, inilah mengapa Allah Ta’ala telah memberikan kita ajaran ketakwaan pada permulaan dan menganugerahkan kita sebuah Kitab yang mengandung petunjuk-petunjuk mengenainya. Oleh sebab itu, hendaknya Jemaat kita senantiasa sungguh merasa khawatir dan lebih khawatir daripada terhadap persoalan dunia lainnya yakni apakah mereka memiliki ketakwaan atau tidak!”[14]

Selanjutnya, beliau as bersabda tentang خشية الله khasyyatuLlah,

“Takut pada Allah tertanam pada kenyataan bahwa seseorang harus memeriksa diri sendiri antara apa yang diucapkannya dan dilakukannya. Dan jika apa yang dilakukannya tidak sesuai dengan apa yang diucapkannya, maka orang tersebut akan harus menghadapi murka Allah. Hati yang tidak suci tidak penting bagi Allah; tidak peduli betapa manis dan terdengar suci perkataannya. Bahkan, itu akan menarik murka-Nya.” (Semoga Allah menyelamatkan kita dari murka-Nya. Aamiin.)

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Oleh karena itulah Jemaat saya hendaknya menyadari mengapa mereka perlu mendekat kepada saya, ialah agar saya dapat menanamkan benih yang dapat menumbuhkan pohon yang berbuah. Maka setiap orang hendaknya memeriksa diri sendiri apa saja di kedalaman diri tersebut? Bagaimanakah keadaan batinnya? Jika Jemaat kita ini – kita berlindung kepada Allah – memiliki sesuatu yang lain di antara ucapan dan hatinya, tentu tidak akan mengalami khatimah bil khair (akhir kesudahan yang baik). Manakala Allah Ta’ala melihat suatu Jemaat yang hatinya kosong dan hanya banyak da’wa (mengaku-aku, banyak bicara), Dia yang Ghani (Tuhan Maha Kaya dan tidak memerlukan apa dan siapa pun) tidak akan memperdulikannya.

Meskipun Allah telah menjanjikan kemenangan di perang Badar, namun tetap saja Rasulullah saw berdoa untuk kemenangan mereka di perang Badar itu. Ketika Hadhrat Abu Bakar ra bertanya, ‘Bukankah Allah telah menjanjikan kita kemenangan, lantas apa perlunya lagi berdoa demikian rupa hingga menghiba-hiba?’ [15] Dalam menjawab beliau ra, Hadhrat Rasulullah saw bersabda, ‘Dia adalah Dzat yang Ghani, yakni, boleh jadi janji Ilahi tersebut mengandung beberapa syarat yang tersembunyi.’” [16]

Oleh karena itu, ini juga adalah tahapan yang menakutkan dan mengerikan untuk kita. Meskipun Allah telah meyakinkan Hadhrat Masih Mau’ud as dengan segala limpahan karunia rahmat dan keberhasilan, namun kita harus menganalisa diri kita sendiri untuk dapat menjadi bagian dari karunia dan rahmat yang dijanjikan.

Beliau as bersabda,

Jemaat kita paling memerlukan ketakwaan dan secara khusus karena mereka telah berbaiat dan telah menerima kedatangan orang yang telah menyatakan diri diutus oleh Allah (Al-Masih yang dijanjikan, Imam Mahdi). Hal itu adalah demi menyelamatkan mereka dari semua penyakit (segala perilaku dan tindakan buruk), baik itu berupa semua jenis dendam, iri hati dan syirik, atau yang tenggelam dalam duniawi hingga derajat paling hina. (maksudnya, ketika sudah menerima Hadhrat Masih Mau’ud as, sekarang sudah mengasosiasikan diri dengan beliau sehingga mereka bisa menyingkirkan dosa-dosa yang lalu.)

Kalian tahu persis, jika seseorang jatuh sakit dan tidak dilakukan perawatan –baik sakit kecil maupun berbahaya-, maka penyakitnya tidak selesai. Persis seperti tahi lalat di wajah yang menumbuhkan rasa khawatir: apakah ia akan tumbuh sangat besar dan menggelapkan seluruh wajah. Seperti itulah perbuatan-perbuatan dosa juga menghasilkan tahi lalat gelap dalam hati kita. (Artinya, perbuatan maksiat, dosa dan kelemahan rohaniah seperti titik hitam di hati kita) Jika dosa yang kecil tidak diperbaiki, maka dosa-dosa ini akan terakumulasi dan menuntun kepada dosa-dosa besar dan pada akhirnya menggelapi keseluruhan hati.”

Semoga Allah menolong kita mencapai ketakwaan sesuai perintah-perintah-Nya kepada kita, selama bulan Ramadhan yang penuh berkah (amien), dan menolong supaya kita menjadi anggota Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as yang berusaha sebaik-baiknya menahan diri dari setiap perbuatan buruk, dan menjadi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan guna dapat meraih keridhoan dan kecintaan Allah (Amien). Semoga kita dapat melewati bulan penuh berkah ini dalam kondisi suci bersih dan berpegang teguh pada kebaikan sehingga tidak pernah lagi memanjakan diri dalam keburukan-keburukan yang telah kita buat di masa lalu dan kita tinggalkan di bulan Ramadhan (Amien). Semoga Allah menolong kita mencapai tujuan-tujuan kita (Amien)

Setelah shalat Jumat, saya akan memimpin sholat Jenazah untuk dua orang yang wafat. Satu jenazah hadhirah (ada di sini), yaitu Jenazah Ny. Tahirah Hamid al-muhtaramah, istri almarhum Tn. Abdul Hamid dari UK. Almarhumah berumur 60 tahun dan wafat pada 8 Juni 2016 setelah lama sakit. إنا لله وإنا إليه راجعون Beliau asal dari Jehlum, Pakistan. Datang ke UK dari Jehlum pada 2001. Beliau seorang yang salehah, menjaga shalat dan mempunyai hubungan yang ikhlas dan penuh penghormatan terhadap Khilafat. Almarhumah juga mendidik anak-anaknya agar senantiasa terhubung dnegan Nizham Jemaat secara kuat. Beliau telah ikut Nizham al-Washiyat. Beliau meninggalkan satu putra dan lima putra. Semoga Allah mengampuni, mengasihinya dan mengilhamkan kesabaran pada keturunannya.

Jenazah kedua gaib (tidak ada di tempat itu). Almarhum Syahid Tn. Hamid Ahmad, putra Syarif Ahmad dari wilayah Attock, Pakistan. Beliau berumur 63 tahun. Para penentang Jemaat membunuhnya pada pukul dua setengah siang ketika keluar rumah dengan tembakan senjata api pada 4 Juni 2016. إنا لله وإنا إليه راجعون

Syahid almarhum tengah pulang ke rumah setelah shalat Zhuhur di masjid pada 4 Juni 2016. Saat sampai ke pintu rumahnya dan putrinya hendak membuka pintu, ia ditembak dari jarak dekat oleh penembak tak dikenal yang lalu lari. Pelurunya tembus dari wajah hingga keluar dari kepala. Syahid pun meninggal dengan cepat setelahnya. Semoga Allah meninggikan derajatnya dan melindungi putra-putrinya yang tengah terancam bahaya juga. Semoga Allah mengaruniakan taufik kepada anak-anaknya agar mengikuti jejak kebaikan ayah mereka. Aamiin.

Kakek syahid almarhum, Tn. Mia Muhammad Ali dari desa Lowiriwala di wilayah Gujranwala, Ahmadi pertama di keluarganya dan baiat pada 1923 di tangah Khalifatul Masih II ra. Syahid almarhum lahir di sana pada 15 Mei 1953 dan menjalani sekolah hingga gelar Bachelor (Sarjana). Kemudian, beliau bekerja di pabrik Sanjawal di Attock. Pada periode bekerja di sana, almarhum melanjutkan kuliah di sebuah universitas dan meraih gelar DHMS dalam pengobatan dan ahli dalam hal ini. Setelah 26 bekerja, ia membuka klinik pengobatan. Almarhum menikah dengan Yth. Amatul Karim, putri Tn. Basyir Ahmad, pemilik tempat terkenal di Rabwah, Aqmasyah Rabwah. Istri almarhum telah wafat empat tahun lalu. Ia bekerja di sebuah perguruan tinggi pemerintah di Attock. Almarhum syahid mempunyai sifat terpuji yang banyak yang diantaranya yang cemerlang ialah kebiasaan berdakwah ilaLlah, memuliakan tamu, simpati terhadap orang miskin dan menaati para pengurus. Beliau rajin bertabligh.

Beliau juga membayar candah secara teratur sesuai peraturan dengan menambah berpacu membayar proyek-proyek keuangan lainnya. Saat bekerja di pabrik Sanjul, seorang kawannya berbaiat atas tablighnya dan keluarganya bergabung semua ke Jemaat. Sembilan orang baiat hanya dari satu keluarga yang membuat terjadi penentangan di pabrik itu. Ia tinggal di rumah pemberian pabrik. Penentang melempari rumahnya dan akhirnya pengurus pabrik memindahkan beliau beserta kawannya yang mubayyi’ baru itu dari pabrik Sanjul ke pabrik Wah di Rawalpindi. Almarhum Syahid telah menghadapi penentangan sejak lama. Pada Januari 2015, seorang penentang menembaki Masjid Jemaat di Attock dan klinik Almarhum. Tapi, orang jahat itu melarikan diri karena diketahui pihak keamanan. Dua hari kemudian penembak itu ditangkap dan diserahkan ke polisi.

Tn. Nawid Ahmad, putra almarhum syahid yang tinggal di sini dan belum menghadiri jenazahnya berkata, “Ayah saya taat terhadap Khilafat, pemberani, rajin berdakwah ilaLlah, menjaga shalat-shalat lima waktunya serta menasehati soal ini, biasa membaca Al-Qur’an teratur tiap hari. Beliau biasa datang kemari untuk Jalsah Salanah dan berusaha shalat di Masjid Fadhl.” Putri bungsu Almarhum, Nn. Nuzhat berkata, “Ayah saya mengutamakan agama dibanding dunia, menanggapi cepat seruan pusat. seminggu sebelum pensyahidan berkata, ‘Sayangku, tidak ada jaminan untuk kehidupan.’ Beliau menasehati saya soal kebajikan.”

Nn. Fashahat Hamid, putri almarhum mengatakan, “Ayah saya berlanggangan khotbah Jumat yang disiarkan MTA secara langsung dan mengirimkan rekaman suaranya kepada kawan-kawannya melalui Whatsapp.” Putranya yang lain, Tn. Sa’id Ahmad berkata, “Ayah saya seorang yang saleh dan baik. Ia biasa menasehati kearah kebaikan. Ia pemberani, rajin bertabligh.” Semuanya telah menuliskan kebaikan almarhum. Perlu diketahui, di Pakistan bertabligh sangat sulit.

Almarhum ialah suami saudarinya Tn. Zhuhur Ahmad yang bekerja di sini di bagian Sekretaris Pribadi. Beliau mengatakan, “Almarhum menyelesaikan tanggungjawab pekerjaan di Jemaat dengan ikhlas dan bekerja keras. Ia mengkhususkan waktu lama semampunya untuk berkhidmat. Beliau memenuhi setiap seruan dari Pusat. Beliau menasehati putra/inya untuk menciptakan hubungan yang ikhlas dan penuh kecintaan dengan Khilafat dan Nizham Jemaat. Beliau biasa dawam qiyamul Lail dan berdoa dalam waktu lama.”

Semoga Allah meninggikan derajatnya dan memelihara dan mencukupi anak-anaknya. Mereka di sana sedang dalam bahaya, semoga Allah melindungi mereka dan menganugerahi taufik mengikuti jejak baik Ayah mereka.

[1] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang shaum, bab mal lam, no. 1903, مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه ”Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan selalu mengamalkan keburukan maka Allah tidak memerlukan lapar dan hausnya.”

[2] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang shaum, bab man shaama, no. 1901

[3] Pidato Jalsah Salanah tahun 1897, h. 47-48. Malfuzhat, jilid 1, h. 33

[4] Malfuzhat, jilid 2, h. 301-302, edisi 1985, terbitan UK

[5] Malfuzhat, jilid 2, h. 321. Edisi 1985, terbitan UK

[6] Malfuzat jilid 1, hal. 36, Edisi 1985, Terbitan UK

[7] Malfuuzhaat jilid I halaman 36, edisi 1985, terbitan UK.

[8] Hilyatul Auliya, karya Abu Nua’aim, no. 15652

[9] Malfuuzhaat jilid I halaman 41-42, edisi 2003, terbitan Rabwah.

[10] Malfuzhat, jilid 1, halaman 48-49, edisi 2003, terbitan Rabwah

[11] Malfuzat jilid 1, hal. 81, Edisi 1985, Terbitan UK

[12] Malfuzat jilid 1, hal. 262-263, Edisi 1985, Terbitan UK

[13] Malfuzat jilid 1, hal. 79-80, Edisi 1985, Terbitan UK

[14] Malfuzat jilid 1, hal. 35, Edisi 1985, Terbitan UK

[15] Syarh al-‘Allaamah Zurqani ‘alaa Mawaahibil Laduniyyah jilid 2 halaman 281-284 bab ghazwah badr al-Kubra, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1996

[16] Malfuzhaat jilid I halaman 8, edisi 2003, terbitan Rabwah.

(Visited 221 times, 1 visits today)