Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Ringkasan Khotbah Jumat

Ramadhan, Ketakwaan dan Pembaharuan Diri

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

10 Juni 2016 di Masjid Baitul Futuh, London

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang orang yang beriman, puasa diwajibkan atasmu sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelummu, supaya kamu terpelihara dari keburukan rohani dan jasmani” (2:184).

Di dalam ayat Al Quran ini, Allah telah menarik perhatian kita pada topik yang dapat mencerahkan kehidupan kita di dunia maupun di akhirat, yaitu pada kalimat لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ‘supaya kamu bertakwa. Pentingnya berpuasa adalah bukan karena puasa juga terdapat dalam ajaran agama-agama sebelum Islam, namun karena melalui berpuasa dapat meraih ‘Takwa’ dan menjauhi keburukan-keburukan.

Apa itu puasa? Puasa adalah sebuah tugas semata-mata untuk keridhoan Allah, sebuah kewajiban selama sebulan lamanya untuk menahan diri dari tindakan-tindakan yang diperbolehkan untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari kita di waktu selain Ramadhan. Di dalam bulan suci ini, manusia semata-mata untuk meraih ridho Allah, menahan dirinya dari tindakan-tindakan yang biasanya diperbolehkan sehingga dalam kondisi seperti ini seseorang tidak melakukan hal-hal yang buruk atau berbuat dosa.

Hendaknya seseorang berpuasa memahami intisari ‘Berpuasa’, yaitu melewati hari-hari berpuasa dengan selalu mengingat dan berharap keridhoan Allah dan menahan dirinya dari segala sesuatu yang tidak diperbolehkan dan melakukan setiap tindakan yang telah diperintahkan oleh Allah swt. Jika tidak demikian maka puasa orang tersebut adalah sia-sia dan tidak berguna. Baginda Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah tidak memerlukan rasa laparmu. Sebab, tujuan utama dari berpuasa adalah agar seseorang memajukan ketakwaannya”[1]

Satu bulan penuh disiplin, pendidikan dan perbaikan diri telah disediakan bagi kita. Oleh karena itu, seseorang harus berusaha untuk meninggikan tingkat kesalehan dan ketakwaannya selama waktu ini. Sebab, ‘Takwa’ akan meningkatkan derajat-derajat perbuatan-perbuatan baik kita, Takwa akan menuntun pada perbuatan-perbuatan saleh yang berkelanjutan, membimbing kita ke dalam kedekatan dengan Allah dan juga akan mendapatkan ampunan atas dosa-dosa di masa lalu. Rasulullah saw bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dalam keadaan Iman dan berusaha untuk mengintrospeksi diri dan jiwanya berjuang melawan dosa-dosa, maka segala dosa-dosanya akan diampuni” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, jika segala dosa-dosa yang lalu telah diampuni dan seseorang dengan sungguh-sungguh dan terus menerus mengikuti jalan Takwa, maka orang seperti itu itu adalah saksi sebuah kenyataan bahwa ia telah berhasil mencapai tujuan berpuasa dan bahkan juga mencapai tujuan hidupnya. Salah satu manfaat Takwa yang telah Allah firmankan terdapat di dalam Al Quran,

فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang bijaksana, bertawalah agar engkau berhasil” (Surah Ali Imran, 201)

Maka, siapa yang tidak ingin meraih falaah (keberhasilan)? Pencapaian-pencapaian duniawi dan keselamatan di dalamnya akan ditinggalkan di dunia ini saja. Pencapaian sejati bagi manusia adalah keberhasilan di dunia dan juga di akhirat. Dan Allah berfirman bahwa jika engkau memiliki kebijaksanaan, maka pahamilah bahwa kemenangan sesungguhnya dicapai dengan mengikuti jalan Takwa.

Dalam situasi dunia saat ini, mereka yang dinamakan pemimpin-pemimpin agama menarik para Muslim untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang sebetulnya secara sanat jelas berlawanan dengan ridha Allah Ta’ala. Sangat jauh dari Takwa (ajaran Islam). Para pengikut Ahmadiyah diberkati dan sangat beruntung karena memiliki kesempatan untuk mengimani Imam Zaman (Hadhrat Masih Mau’ud as), ghulam shadiq (pelayan sejati) Nabi Muhammad saw, yang telah membuat kita memahami secara rinci hal-hal detil ajaran Islam. Apakah Takwa itu? Apakah itu hal-hal yang dengan melaluinya seseorang menjadi mungkin untuk meraih ketakwaan? Apakah yang Hadhrat Masih Mau’ud as harapkan dari Jemaatnya secara khusus perihal ini?

Agar dapat membuat kita mengerti arti dari Takwa, saya telah memilih beberapa kutipan sabda Hadhrat Masih Mau’ud as dan saya hendak menyampaikannya. Sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud as ini akan membantu kita meningkatkan iman kita, terus mengikuti jalan ketakwaan dan menyediakan kita aturan-aturan dalam berperilaku untuk bulan (puasa) ini demi perbaikan diri kita.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Takwa bukanlah perkara kecil. Melainkan, melalui Takwa-lah, seseorang dapat mengendalikan seluruh pengaruh Setan yang telah mendominasi kemampuan dan potensi batiniyahnya. Seluruh potensi ini yang berada di dalam kondisi Nafs Amarah adalah bentuk setan di dalam jiwa seseorang” Artinya kekuatan pikiran yang menarik seseorang kepada dosa dan menghalangi dari berbuat baik adalah setan di dalam dirinya.

“Jika engkau tidak melawannya maka ia akan menjadikan engkau sebagai budaknya. Jika ilmu dan akal dipergunakan secara tidak baik maka itu akan berubah menjadi setan.”

Pengetahuan dan kebijaksanaan tidak diragukan lagi adalah sifat-sifat yang sangat mulia. Tapi jika seseorang bangga pada sifat-sifat ini dan menggunakan sifat-sifat ini untuk melakukan tindakan-tindakan buruk dan amoral, atau tindakan-tindakan buruk dan amoral ini untuk mengalahkan perbuatan-perbuatan baik, maka sifat-sifat ini pada akhirnya akan berkembang dan berubah menjadi setan dan perbuatan-perbuatan buruk. “Tugas orang bertakwa ialah menyeimbangkannya dan juga menyeimbangkan kekuatan-kekuatan/potensi-potensi lainnya juga.”[2]

Siapakah yang dikatakan Taqiyy (bertakwa)? Bagaimana perbuatannya? Perbuatannya adalah benar. Dalam artian segala hal yang diberikan oleh Allah Ta’ala baik berupa ilmu pengetahuan, kebijaksanaan dan kualitas-kualitas lainnya kepada seseorang digunakan pada tempatnya yang tepat dan benar. Sebab, sifat-sifat ini dapat menjadi sangat berbahaya dan dapat mengalihkan jauh dari Allah Ta’ala dan mendekatkannya pada setan jika tidak digunakan pada waktu dan tujuan yang tepat.

Tema ketakwaan sangatlah halus lagi mendalam. Berusahalah demi memahaminya. Untuk meraih ketakwaan, tanamkanlah keagungan Allah di dalam hatimu. Allah menolak amalan-amalan yang di dalamnya terdapat riya’ meskipun sedikit saja. Sulit memang untuk menjadi orang yang bertakwa. Sebagai contoh, jika seseorang menuduhmu mencuri sebuah pena, kenapa engkau menjadi marah? Pengendalian dirimu adalah semata-mata untuk Allah. Jika ada kemarahan dirasakan dalam situasi seperti tadi adalah karena hati hampa tanpa kehadiran-Nya. Manusia tidak menjadi Muttaqi (bertakwa) kecuali ia telah melalui banyak tahap dalam situasi-situasi seperti orang mati.

Mu’jizatmu’jizat dan wahyu-wahyu adalah turunan dari ketakwaan. Namun aspek pokok dan utamanya adalah ketakwaan. Karena itu jangan terlalu sibuk dan risau dengan wahyu-wahyu dan ilham-ilham, melainkan, kejarlah pencapaian ketakwaan. Hanya yang bertakwa yang memiliki wahyu yang benar. Wahyu apapun yang diterima tanpa ketakwaan tidaklah bisa diandalkan. Wahyu dan ilham-ilham yang demikian bisa saja dipengaruhi oleh pengaruh setan. Jangan menghargai ketakwaan seseorang berdasarkan keutamaan mereka dalam menerima wahyu atau ilham. Namun, analisalah ilham yang bersangkutan berdasarkan keadaan ketakwaannya.

Tutuplah pandangan matamu pada hal-hal lainnya, dan pertama-tama bahaslah mengenai tahapan ketakwaan. Junjunglah dan dirikanlah contoh dan keteladanan semua Rasul dan Nabi. Mereka semua datang dengan tujuan mengajarkan jalan ketakwaan. Allah berfirman, إنْ أولياؤه إلا المتقون “Orang orang yang berhak menjaganya hanyalah orang orang Muttaqi…” (Surah Al-Anfal, 8:35).[3]

Tetapi, Al-Quran mengajarkan jalan-jalan halus dari ketakwaan. Kesempurnaan seorang nabi mensyaratkan kesempurnaan kaumnya juga. Dan, karena Rasulullah saw adalah Khataman Nabiyyin, maka kesempurnaan kenabian telah terhimpun pada beliau. Dan, stempel kenabian beliau lahir dari himpunan keunggulan dan keutamaan kenabian. Bagi mereka yang ingin mendapatkan ridho Allah Ta’ala dan menyaksikan mu’jizat dan hal-hal yang luar biasa, maka mereka harus membuat hidup mereka menjadi hidup yang luar biasa.

Inilah revolusi yang kita harus canangkan dan kerjakan. Kita telah beriman kepada Nabi Muhammad saw. Jika kita memang termasuk umat beliau saw, dan jika [dan memang] keteladanan terbaik beliau saw bukanlah seperti seseorang dari kita, maka guna mendirikannya mau tak mau kita harus mempererat hubungan dengan Allah dan menciptakan ketakwaan sejati dalam diri kita.

Kemudian, beliau as bersabda perihal akar setiap kebaikan adalah Takwa,

“Bertakwalah kepada Allah! Sebab, asal setiap keunggulan dan keutamaan adalah ketakwaan. Arti dari Takwa adalah الاتقاء menjaga/menahan diri dari dosa yang bahkan yang sekecil-kecilnya. Ketakwaan adalah menjauhkan diri dari setiap tindakan yang di dalamnya terdapat sedikit saja dari keburukan/dosa.[4] Maksudnya, bukan hanya meninggalkan keburukan secara lahiriah saja, melainkan setiap jenis keburukan.

Beliau as bersabda,

“Permisalan hati adalah laksana saluran besar yang memiliki banyak cabang kecil yang lain. Dalam bahasa setempat disebut “سُووَا”  suwa atau راجْبَهَا rajbaha. (Bahasa Punjab dan India dan Pakistan) Keluar dari hati tersebut berupa cabang-cabang yang antara lain adalah lidah, tangan dan lain-lain. Dan jika cabang-cabang kecil ini melakukan hal-hal buruk, maka mereka adalah refleksi dari kenyataan bahwa saluran utama (yaitu hati dalam hal ini) juga memiliki niatan-niatan buruk. Dan jika engkau menganggap anggota tubuh seseorang baik itu lidah atau tangan atau kaki itu buruk, maka percayalah bahwa hatinya pun demikian.”

Maka, demikian pula, jika seseorang bermulut lancang, tidak menahan diri dari bertengkar, perselisihan, penghinaan dan pelecehan secara kata-kata meski ia tengah berpuasa; atau tangannya melakukan perbuatan buruk; maka, ketahuilah hatinya pun tidak suci dan ia jauh dari ketakwaan.

Kemudian, beliau as menjelaskan tentang menjalani kehidupan dengan kerendahan-hati dan kesederhanaan,

“Syarat bagi ahli takwa ialah agar mereka senantiasa menjalani kehidupannya dalam ghurbat (terasing, tidak menonjolkan diri) dan miskiini (sederhana dan penuh kerendahan hati). Ini adalah ranting cabang dari ketakwaan yang dengan melaluinya kita dapat menahan najaa-iz ghadhab (gejolak kemarahan yang tidak diperbolehkan).

Tahap akhir dan berat bagi orang-orang besar dari kalangan arif dan shiddiq adalah menyelamatkan diri dari ghadhab (gejolak kemarahan).” “Sikap ‘ujub dan kesombongan timbul dari ghadhab (kemarahan) adakalanya, ghadhab tersebut pun dampak dari sikap ‘ujub dan keangkuhan. (Kadangkala kemarahan timbul karena takabbur dan bangga diri; dan kadangkala kemarahan menimbulkan takabbur dan bangga diri. Dia memandang dirinya penting. Dia tidak berlaku rendah hati dan sederhana. Karena itu, muncullah kemarahan darinya. Kemarahan ini menularkan penyebaran kerusakan di tiap tempat di dunia. Mulai dari rumah-rumah hingga ke level yang lebih luas dan tinggi)

Kemarahan itu timbul di dalam diri seseorang ketika memandang tinggi dirinya sendiri di atas orang lain. Saya tidak mengharapkan orang-orang di dalam Jemaat saya, memandang rendah satu sama lain, atau satu dengan yang lain memandang lebih besar (mulia), atau satu dengan yang lain saling membanggakan diri, ataupun memandang yang lain dengan menghina (mengecilkan). Hanya Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui siapakah yang besar siapa pula yang kecil. Kecenderungan ini adalah sejenis perendahan yang mengandung penghinaan. Saya khawatir semua hal tersebut benih-benihnya bertumbuh  dan menghancurkan pemiliknya.”

Bersabda,

“Sebagian orang demikian hormatnya manakala berjumpa dengan orang besar. Padahal seorang yang besar adalah dia yang dengan kerendahan hati mau mendengarkan perkataan orang miskin. Ia mengupayakan dirinya merasa senang hati. Ia menghormati kata-katanya. Ia tidak akan menimpalinya dengan sesuatu perkataan yang akan menyinggung perasaan orang tersebut. Allah Ta’ala menyatakan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ

عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ

وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

‘‘…..begitu pula janganlah panggil-memanggil dengan nama buruk. Seburuk-buruknya nama adalah fasiq sesudah beriman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, mereka itulah orang-orang yang dzalim.’ (Surah Al-Hujuraat, 49 : 12) “

Yakni, setelah seseorang beriman, inilah perbuatan dosa yang sangat besar. Pertama وَلا تَنَابَزُوا بِالأَلْقَابِ “Janganlah satu dengan yang lain memanggil dengan julukan buruk dan seburuk-buruk dosa setelah dalam keimanan adalah demikian itu dan barangsiapa yang tidak bertaubat mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

Janganlah memanggil dengan sesuatu nama julukan buruk. Itu perbuatan fussaaq (sangat fasik) dan fujjaar (sangat berdosa). “Barangsiapa yang memanggil dengan nama buruk, tidak akan mati sebelum ia sendiri seperti keburukan yang ia panggilkan kepada orang lain itu. Janganlah merendahkan sesama saudaramu. Jika tuan-tuan sekalian meminum dari sumber mata air yang sama, siapa pula yang dapat mengetahui ada yang beruntung dapat mereguknya lebih banyak? Seseorang tidak dapat dimuliakan ataupun dihormati berdasarkan pertimbangan duniawinya. Sebab, dalam pandangan Allah Ta’ala, yang paling mulia adalah yang paling bertakwa, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ  ‘Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kamu pada pandangan Allah ialah yang paling berTakwa di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui. Maha Waspada.’” (Surah Al-Hujuraat, 49: 14)

Selanjutnya, beliau as mengatakan tentang bagaimana kita hendaknya menaruh perhatian pada penggunaan secara tepat atas semua kekuatan dan potensi yang Allah anugerahkan pada kita,

“Segala kemampuan yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala bukanlah untuk disia-siakan, mereka dikembangkan melalui penggunaan yang benar dan tepat. Dalam rangka itu, Islam tidak pernah menyuruh agar meniadakan kekuatan jasmani atau mengeluarkan mata, melainkan mendesak kita agar memakainya dengan benar dan menyucikan diri sebagaimana firman Allah, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ () ‘Sesungguhnya telah berhasil orang-orang yang beriman.’ [Al-Mukminun, 23:2] Dalam Surah ini, setelah pada bagian awal menggambarkan kehidupan para muttaqi (orang bertakwa), Allah juga menfirmankan hasil kehidupan mereka itu: وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ () “… Dan mereka itulah orang-orang berjaya.” [Ali Imran, 3:105] Yaitu mereka yang mengamalkan jalan-jalan ketakwaan senantiasa beriman kepada yang ghaib. Mereka terkadang kehilangan konsentrasi di dalam shalat namun kemudian memperolehnya kembali dan mereka membelanjakan apa yang telah Allah Ta’ala anugerahkan kepada mereka.

Mereka tanpa ada keraguan dan pemikiran meski sesuai dengan dorongan hati mereka, senantiasa percaya kepada kitab-kitab pada masa lalu dan Kitab Allah Ta’ala ini (Al-Qur’an) dan pada akhirnya mencapai tahapan keyakinan yang pasti. Inilah orang-orang yang berada di jalan petunjuk. Mereka menapaki jalan yang terbentang maju terus ke depan sehingga mengantarkannya kepada falaah (kesuksesan). Inilah orang-orang yang berjaya yang akan mencapai tujuan mereka dan telah dilepaskan dari bahaya perjalanan tersebut. Dalam rangka itu, inilah mengapa Allah Ta’ala telah memberikan kita ajaran ketakwaan pada permulaan dan menganugerahkan kita sebuah kitab yang mengandung petunjuk-petunjuk berkenaan dengan ketakwaan. Oleh sebab itu, hendaknya Jemaat kita senantiasa sungguh merasa khawatir dan lebih khawatir daripada terhadap persoalan dunia lainnya yakni apakah mereka memiliki ketakwaan atau tidak!”[5]

Selanjutnya, Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan siapakah itu orang yang bertakwa,

“Kita mendapati dari firman Allah Ta’ala bahwa orang-orang bertakwa saat berjalan mereka penuh hilm dan maskanah. Dan, mereka tidak mengeluarkan pembicaraan yang bersifat kebanggaan dan kesombongan. Melainkan, percakapan mereka itu ibarat seorang anak kecil berkata kepada orang yang dewasa. Kita harus senantiasa beramal sesuatu yang dapat menjadi keberhasilan kita. Allah tidak memonopoli terhadap seseorang. Sesungguhnya Allah menghendaki takwa secara khusus. Siapa yang bertakwa akan meraih derajat tinggi. Hadhrat Rasulullah saw atau Hadhrat Nabi Ibrahim as tidak mendapatkan reputasi atau kehormatan lewat pewarisan dari seseorang. Tidak ragu lagi, kita meyakini bahwa ayah Rasulullah saw, Abdullah bukanlah seorang yang mempercayai banyak Tuhan (musyrik). Tetapi, dia tidak mewariskan kenabian pada beliau saw. Merupakan semata-mata karunia Allah yang memberi beliau saw kehormatan itu (kenabian) sebagai balasan jenis-jenis kebenaran yang ada pada fitrat beliau saw. Karena kesalehan dan ketakwaannya, Hadhrat Nabi Ibrahim as, bapak para Nabi, tidak ragu-ragu saat diperintah mengorbankan putranya. Sebagaimana saat beliau as dilemparkan ke dalam api.

Perhatikanlah kebenaran dan kejujuran Junjungan dan Majikan kita, Muhammad Rasulullah saw, yang telah melawan perbuatan-perbuatan yang buruk yang berlaku pada saat itu. Beliau saw memikul berbagai jenis kesulitan dan penderitaan yang datang. Tetapi, tidak peduli terhadap itu semua, dan karena ketulusan dan kebenaran inilah yang menghasilkan rahmat Allah Ta’ala yang melimpah. Ini adalah contoh bagus yang harus diikuti oleh kita semua.”

Selanjutnya, beliau as membicarakan perihal bagaimana meraih firasat yang benar dan kecerdasan hakiki,

“Firasat yang benar dan ilmu pengetahuan yang sebenarnya atau kecerdasan sejati tidak dapat diperoleh tanpa adanya ruju’ kepada Allah Ta’ala.” Inilah sebabnya dikatakan, اتَّقُوا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُورِ اللهِ ‘Waspadalah terhadap firasat orang beriman karena ia melihat dengan nur Allah.’”

Beliau menjelaskan bahwa firasat yang benar dan ilmu pengetahuan hakiki tidak akan pernah didapatkan sebelum mencapai ketakwaan yang sempurna.

Kemudian, beliau as bersabda,

“Bila engkau ingin berhasil, pergunakanlah akalmu. Berpikirlah! Renungkanlah! Terdapat di dalam Alqur’anul Karim berkali-kali menekankan perintah tersebut, yaitu untuk merenungkan dan berpikir. Pelajarilah kitaabi maknun (ilmu-ilmu dan tafsir-tafsir mendalam tersembunyi dalam ayat-ayat Alqur’an) dan Alqur’anul Karim dan jadilah orang yang bertakwa. Bila kalbu engkau telah disucikan, engkau pun telah menggunakan aql saliim (akal murni) tersebut, dan menjadi orang yang mengedepankan jalan ketakwaan maka dua hal itu pun terhimpun di dalam dirimu suatu kondisi yang mengharuskan dari hatimu untuk menyatakan,  رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ‘….Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menjadikan ini sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab Api.’ (Surah Ali Imran, 3 : 192) Ungkapan pernyataan tersebut akan keluar dari hatimu. Pada saat itulah engkau menyadari, bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah, memang tiada yang sia-sia. Melainkan, justru menunjukkan kebenaran dan bukti keberadaan Allah, Sang Pencipta Yang Hakiki. Hal demikian supaya terungkap bahwa semua ilmu pengetahuan dan sains pada hakekatnya adalah untuk membenarkan agama [Islam].” [6]

Kita dapati dari satu segi bahwa ilmu dan kecerdasan telah para pelaku kebudayaan baru dan modern jauh dari Allah Ta’ala. Sementara dari segi lainnya, Allah Ta’ala berfirman bahwa menggunakan pemikiran dan kebijaksanaan pada kemampuan terbaiknya akan menuntun kearah pemahaman tentang keberadaan Allah. Hal itu juga membuatnya sadar bahwa Dia pemilik segala puja dan puji. Di dunia saat ini, orang-orang mengklaim bahwa Tuhan tidak ada. Hal yang sebenarnya, mereka tidak mampu melihat Allah karena mata rohaniah mereka buta, dan mereka menggunakan pengetahuan dan kecerdasan mereka tolok ukur-tolok ukur hal-hal fisik saja; dan hanya mencukupkan diri dengan sarana-sarana duniawi. Kelalaian dan kesembronoan dari agama diantara orang-orang seperti tadi dihasilkan karena agama-agama mereka telah ketinggalan zaman. Mereka telah kehilangan petunjuk Allah. Hal ini membuat mereka tidak mampu memikirkan perkara ini dan menggunakan akal kecerdasan mereka tentang hal itu. Adapun di dalam agama kita, ada Al-Quranul Karim yang merupakan kitab yang lengkap sebagai petunjuk dan pengetahuan yang menyediakan kita aturan-aturan hidup.

Studi dan pemahaman intensif mengenai Al Quran pada akhirnya menuntun kita pada ketakwaan, dan itu mengarahkan seseorang untuk memuji Allah Ta’ala. Ketika ketakwaan seseorang bertambah, dia melihat Allah, artinya dia melihat Allah dengan ketakwaannya. Singkatnya, ketakwaan menuntun pada keimanan yang teguh akan keberadaan Tuhan dan memastikan kehadiran-Nya pada ketinggian gunung-gunung, kedalaman lautan dan juga pada galaksi di luar angkasa. Orang yang benar-benar beriman mengembangkan hubungan dengan Allah dan bertindak sesuai dengan petunjuk-Nya. Oleh karena itu, selama bulan Ramadhan ini kita tidak hanya harus menjauhkan diri dari makanan, namun juga harus mencari petunjuk Allah yang sejati seperti yang direfleksikan dalam Al Quran. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa kita harus menyucikan jiwa dan kemampuan kita selama bulan penuh berkah dan karunia ini sehingga kita dapat benar-benar memanfaatkannya dengan optimal. Ketakwaan dan kesalehan seperti inilah yang Allah Ta’ala harapkan dari kita.

Selanjutnya, beliau as mengarahkan perhatian kita bahwa jika seseorang memasuki Jemaat dan ingin melayani Islam, maka prasyaratnya adalah ia harus menyucikan dirinya dari semua kebiasaan-kebiasaan buruk; di sisi lain, ia juga harus meraih ketakwaan dan kesalehan. Sebab, kita tidak dapat melayani Islam hanya dengan percakapan semata melainkan mau tak mau kita harus memperoleh kesucian dan ketakwaan untuk dapat melakukan pelayanan ini. Beliau as bersabda,

“Saya ingatkan sekali lagi! Jika kalian ingin berkhidmat kepada agama Islam maka pertama kalian harus berusaha menjadi orang berTakwa. Tanpa itu kalian tidak bisa berkhidmat untuk Islam. Allah Ta’ala berfirman: صابِروا ورابِطوا ‘shaabiruu wa raabithuu’ — “Sabarlah dan tingkatkanlah kesabaran” (Ali Imran ayat 201). Sebagaimana untuk melawan musuh di perbatasan sangat perlu tersedianya kuda-kuda terlatih, supaya musuh jangan terlepas menerobos perbatasan, demikian juga kalian harus selalu siap siaga jangan sampai musuh menerobos garis perbatasan dan membahayakan Islam. Sudah saya katakan, jika kalian ingin menolong dan mengkhidmati Islam, maka pertama, kalian harus berusaha menjadi orang berTakwa dan mensucikan diri yang dapat membuat kalian berada dibawah naungan dan perlindungan Allah Ta’ala Yang Maha Mulia, barulah kalian akan berhak untuk mengkhidmati Islam.

Tidakkah kalian melihat bagaimana sudah lemahnya kekuatan luar dari umat Islam? Bangsa-bangsa di dunia [non Islam] memandang mereka dengan hina dan kebencian. Jika kekuatan dalam hati kalian sudah lemah maka anggaplah kalian sudah punah. Kalian harus menyucikan nafs (jiwa) kalian sedemikian rupa sehingga quwwat qudsiyah (daya penyucian rohaniah) masuk ke dalam diri kalian, dan kalian akan menjadi kuat laksana kuda-kuda yang siap-siaga menjaga garis perbatasan. Karunia Allah Ta’ala selalu turun kepada orang yang bertakwa dan jujur.

Janganlah membuat akhlak dan prilaku pribadi yang mengakibatkan Islam ternoda. Orang-orang pelaku kejahatan dan orang-orang Muslim yang tidak mengamalkan ajaran Islam membuat nama Islam ternoda. Ada seorang Muslim yang meminum arak dan muntah dimana-mana, sedangkan sorbannya melilit di lehernya karena ia jatuh sambil menggelepar terperosok ke dalam parit, akhirnya polisi datang memukulinya dengan sepatunya. Orang-orang Hindu dan Kristen menertawakannya. Perbuatannya itu demikian buruknya sehingga bukan saja membuat dirinya hina bahkan di balik itu membuat nama baik Islam juga terpuruk.

Mendapatkan laporan seperti itu dari penjara membuat saya merasa terpukul dan sedih sekali. Ketika saya melihat keadaan orang-orang Muslim, hati saya menjadi sangat gelisah, disebabkan perbuatan-perbuatan buruk mereka, orang-orang yang telah dianugerahi jalan yang lurus itu, bukan hanya membuat diri mereka sendiri binasa bahkan membuat Islam menjadi sasaran ejekan dan tertawaan orang-orang Non Islam. Maksud saya dari itu adalah orang-orang yang menamakan diri Muslim terlibat dalam perbuatan-perbuatan terlarang yang bukan hanya membuat keadaan mereka diragukan bahkan Islam juga demikian diragukan. Maka, jadikanlah gerak-gerik dan perilaku kalian sedemikian rupa sehingga tidak memberi kesempatan kepada orang-orang bukan Islam untuk mengkritik diri kalian yang sesungguhnya kritikan itu jatuh kepada Islam. Pada zaman sekarang kritikan yang muncul seperti itulah adanya, bahwa jika ajaran Al-Quranul Karim seperti itu maka perilaku orang-orang Muslim tidak keliru. Ketahuilah bahwa macam itulah pertanyaan dan juga kritikan mereka itu.”[7]

Di dunia saat ini, beberapa kelompok Islam – yang sebenarnya kecil – atau selain mereka yang melakukan tindakan-tindakan kekerasan dan keji yang menyebabkan gambaran yang salah tentang Islam. Yang disalahkan oleh dunia bukanlah para pribadi yang melakukan hal-hal salah tersebut, namun agama mereka yaitu Islam yang akhirnya digambarkan buruk. Maka dari itu, ambil dan lakukanlah jalan hidup yang tidak mengizinkan orang lain untuk mengasosiasikan hal-hal yang buruk kepada agamamu, Islam.

Kemudian, beliau as menjelaskan bagian-bagian dari Takwa,

“Ketakwaan mempunyai banyak bagian, contohnya menahan diri dari kesombongan, egoisme, menonjolkan diri sendiri dan perilaku buruk serta menahan diri dalam meraih harta lewat cara-cara terlarang adalah juga bentuk ketakwaan dan kesalehan. Seseorang yang menampilkan perilaku dan tindakan baik pada akhirnya menarik musuh atau lawan-lawannya menjadi teman-temannya.

Diserukan dan disampaikan oleh Allah Ta’ala, اِدفع بالتي هي أحسن ‘Tolaklah dengan cara yang sebaik-baiknya’. Renungkanlah sekarang! Apa yang diajarkan oleh petunjuk ini? Allah bertujuan dengan petunjuk ini jika ada yang menyakiti supaya bersabar sehingga dampaknya si penganiaya untuk memikirkan kembali tindakan buruk dan jahatnya dan merasa bersalah karenanya. Hukuman ini akan jauh lebih menyakitkan daripada balas dendam yang dilakukan pada saat yang sama.

Sebuah hal yang memungkinkan bahwa seseorang dapat mengarah untuk melakukan sebuah dosa pembunuhan. Namun hal ini bukanlah tuntutan kemanusiaan dan ketakwaan. Melainkan, perbuatan baik mempunyai kualitas yang sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah mempengaruhi ke orang lain yang bahkan amat sangat merugikan. Iya, alangkah halusnya sebuah bait syair bahasa Persia yang menyebutkan [Terjemahan bahasa Arabnya, أحسِن المعاملة، فبحسن المعاملة يصبح الغريب أيضا صديقا حميما.” “Perlakuan terbaik. Dengan perlakuan yang baik seorang asing pun akan berubah menjadi teman nan setia.” Seseorang harus menanamkan ketakwaan dan kesalehan ke dalam dirinya dan mengikuti jalan kejayaan dan kebahagiaan untuk dapat meraih sesuatu di kehidupan ini dan juga di akhirat.

Selanjutnya, beliau as mengarahkan perhatian kita pada bahwa umat manusia harus memfokuskan diri pada kebahagiaan dan ketakwaan,

“Hal yang benar dan sejati ialah seseorang harus menaruh perhatian khusus pada kebahagiaan dan ketakwaan dan memilih jalan kebahagiaan, yang pada hal itu dapat ia sempurnakan sesuatu. إِنَّ اللهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (Surah Ar-Ra’d, 13:11) Sifat berprasangka buruk dan menciptakan isu-isu tak benar adalah tindakan konyol yang sangat memalukan dan tercela yang dapat membawa pada tingkatan ekstrim. Hal yang paling penting dan esensial adalah berpaling menuju Allah untuk petunjuk-Nya, melakukan sholat, membayar zakat dan menahan diri dari menipu dan melakukan perbuatan-perbuatan buruk.

Sudah terbukti bahwa tindakan-tindakan buruk dari satu orang terkadang dan menjadi sebab kehancuran kepada seluruh keluarga dan juga kota yang ditempatinya. Oleh karena itu, berhentilah melakukan perbuatan dan tindakan salah dan keji sebelum tindakan-tindakan ini menggiringmu pada akhir yang mengerikan. Jika tetanggamu salah berpikir buruk terhadapmu, berusahalah sedapat mungkin untuk melenyapkan kesalahpahaman ini dan memberikan nasehat padanya.

Bukankah hal yang mungkin bagi manusia untuk bersikap lalai? Tercantum di dalam hadis bahwa permohonan doa sebelum datangnya musibah adalah yang diterima. Sebab, jika waktu datangnya masalah sudah tiba, maka semua orang juga akan berdoa. Oleh karena itu, lakukanlah doa pada masa damai dan harmoni.

Selanjutnya, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Ketakwaan selalu mempengaruhi orang-orang lain dan Allah tidak menyia-nyiakan kaum yang bertakwa dan saleh. “Aku telah membaca di sebuah buku bahwa salah seorang pemuka umat Islam, حضرة السيد عبد القادر الجيلاني Hadhrat Sayyid Abdul Qadir Shah Al-Jilani رحمة الله عليه rahmatuLlahi ‘alaihi merupakan seorang yang memiliki jiwa yang sangat suci, berbudi luhur dan mulia. Suatu kali beliau mencurahkan hatinya kepada Ibunya bahwa hati beliau tidak puas dengan perbuatan dan tindakan duniawi yang lazim dan umum. Beliau ingin menemukan orang suci yang dapat membimbing beliau menuju jalan damai kebajikan.

Mendengarkan keinginan putranya, Ibunda Sayyid Abdul Qadir mengizinkan beliau untuk melakukan perjalanan dalam mencari kebenaran dan menjahitkan beliau uang (koin Persia) ke dalam lapisan mantel beliau di bawah ketiak beliau, dan menyembunyikannya dan berpesan untuk menggunakan uang tersebut ketika diperlukan. Sayyid Abdul Qadir Shah Al-Jilani lantas meminta Ibunda beliau untuk memberikan nasihat. Ibunda beliau berpesan agar beliau selalu berkata jujur karena hal tersebut dapat menyelamatkan seseorang dari kekhawatiran besar.

Dalam perjalanan beliau dari hutan, rombongan beliau diserang oleh para perampok. Ketika melihat Sayyid Abdul Qadir Shah Al-Jilani yang terlihat dalam keadaan miskin dan melarat, seorang perampok tersebut mengejek beliau dengan bertanya apalah beliau membawa benda berharga. Mengikuti pesan dari Ibunda beliau, Sayyid Abdul Qadir Shah Al-Jilani memberitahu para perampok tersebut mengenaiuang yang dijahitkan ke dalam lapisan mantel beliau.

Setelah mencarinya, para perampok itu menemukan koin koin Persia. Para perampok tersebut terkejut dan bertanya kenapa beliau berkata jujur. Sayyid Abdul Qadir Shah Al-Jilani mengatakan: ‘Aku melakukan perjalanan dalam mencari jalan yang benar dan sebelum keberangkatanku, Ibundaku berpesan agar aku selalu mengatakan hal yang benar dan jujur. Jadi kejadian ini adalah ujian pertamaku dan aku tidak ingin berbohong.’ Si pemimpin para perampok tersebut begitu terkesan dengan perbuatan jujur Sayyid Abdul Qadir Shah Al-Jilani sehingga ia menyesali dan bertobat atas perbuatan-perbuatan jahatnya dan meminta maaf bersama dengan seluruh kelompok perampok tersebut.”

Demikianlah, kisah ini juga menekankan fakta bahwasanya kita harus memeriksa diri kita sendiri. Kita juga telah menerima kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as karena agama tengah berada pada kejatuhan dan tidak ada yang mengikuti ajaran-ajaran Islam yang sejati. Kita telah diperintahkan mengikuti Hadhrat Masih Mau’ud as. Jika seseorang ingin mengikuti ajaran sejati Islam, maka sangat penting untuk mengimani beliau as. Tetapi, apakah kita telah meninggalkan keburukan setelah itu?

Kebohongan dipandang sebagai tindakan salah yang sangat kecil dan sangat umum dilakukan. Namun pada kenyataannya, kebohongan adalah dosa yang sangat mengerikan. Jika kita merenungi diri kita dengan bekal kisah diatas mungkin akan kita temukan sebagian kita tenggelam dalam dosa ini (kebohongan). Merupakan tuntutan Baiat dan ketakwaan bahwa kita harus menjauhkan diri dari berbohong.

Banyak orang telah berpindah ke negara-negara ini (Eropa) dari negara-negara lain karena tidak diizinkan mengamalkan agama mereka dengan bebas dan mengungkapkan keyakinan mereka secara merdeka di negara kelahiran mereka sendiri. Oleh sebab itu, orang-orang yang hidup di dunia Barat ini dan telah mengungsi ke negara-negara ini seharusnya sangat hati-hati atas setiap perbuatan dan tindak-tanduk mereka meskipun itu hal kecil. Jangan sampai keluar dari lidah mereka kebohongan yang tercium darinya aroma kebohongan atau menyarankan penggunaan cara-cara ilegal untuk mendapatkan manfaat dengan cara berbohong. Setiap orang dari mereka harus meneliti diri mereka sendiri dan menempatkan tingkat ketakwaan dalam pertimbangan mereka.

Allah menanamkan perbuatan baik pada manusia sehingga perbuatan baik ini dapat digunakan dengan cara layak untuk mencapai manfaat sebanyak-banyaknya daripada menjadi sia-sia. Islam tidak mengajarkan keketatan dan kekerasan. Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang mulia dalam iman mereka dan berusaha sebaik-baiknya untuk meningkatkan sholat mereka. Mereka tidak hanya berusaha untuk mengatasi pikiran-pikiran yang menyimpang selama dilakukannya sholat, namun juga memastikan sholat tepat waktu dan menafkahkan harta mereka di jalan Allah. Iman yang luhur dan mulia menuntun pada iman yang sejati. Orang-orang demikian mengikuti jalan yang benar yang membimbing kepada keberhasilan. Mereka akan mencapai tujuan akhir dan utama mereka serta menyelesaikan masalah-masalah duniawi. Demikianlah Allah telah menyediakan kita petunjuk dan bimbingan yang pasti dan jelas di dalam Al Quran untuk meraih ketakwaan. Oleh karena itu, Jemaat kita harus paling khawatir dan risau tentang ada tidaknya ketakwaan dalam diri mereka.

Selanjutnya, beliau as bersabda tentang خشية الله khasyyatuLlah,

“Takut pada Allah tertanam pada kenyataan bahwa seseorang harus memeriksa diri sendiri antara apa yang diucapkannya dan dilakukannya. Dan jika apa yang dilakukannya tidak sesuai dengan apa yang diucapkannya, maka orang tersebut akan harus menghadapi murka Allah. Hati yang tidak suci tidaklah penting bagi Allah; tidak peduli betapa manis dan terdengar sucinya perkataannya. Bahkan, itu akan menarik murka-Nya.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Oleh karena itulah Jemaat saya hendaknya menyadari mengapa mereka perlu mendekat kepada saya, ialah agar saya dapat menanamkan benih yang dapat menumbuhkan pohon yang berbuah. Maka setiap orang hendaknya memeriksa diri sendiri apa saja di kedalaman diri tersebut? Bagaimanakah keadaan batinnya? Jika Jemaat kita ini – kita berlindung kepada Allah – memiliki sesuatu yang lain di antara ucapan dan hatinya, tentu tidak akan mengalami khatimah bil khair (akhir kesudahan yang baik). Manakala Allah Ta’ala melihat suatu Jemaat yang hatinya kosong dan hanya banyak da’wa (mengaku-aku, banyak bicara), Dia yang Ghani (Tuhan Maha Kaya dan tidak memerlukan apa dan siapa pun), Dia tidak akan memperdulikannya.

Meskipun, Allah telah menjanjikan kemenangan di perang Badar, namun tetap saja Rasulullah saw berdoa untuk kemenangan mereka di perang Badar itu. Ketika Hadhrat Abu Bakar ra bertanya, ‘Bukankah Allah telah menjanjikan kita kemenangan, lantas apa perlunya lagi berdoa demikian rupa hingga mengiba-iba?’ [8] Dalam menjawab beliau ra, Hadhrat Rasulullah saw bersabda, ‘Dia adalah Dzat yang Ghani, yakni, boleh jadi janji Ilahi tersebut mengandung beberapa syarat yang tersembunyi.’” [9]

Oleh karena itu, ini juga adalah tahapan yang menakutkan dan mengerikan untuk kita. Meskipun Allah telah meyakinkan Hadhrat Masih Mau’ud as dengan segala limpahan karunia rahmat dan keberhasilan, namun kita harus menganalisa diri kita sendiri untuk dapat menjadi bagian dari karunia dan rahmat yang dijanjikan.

Beliau as bersabda,

“Jemaat kita paling memerlukan ketakwaan dan secara khusus karena mereka telah berbaiat dan telah menerima kedatangan orang yang telah menyatakan diri diutus oleh Allah (Al-Masih yang dijanjikan/Imam Mahdi). Hal itu adalah demi menyelamatkan mereka dari semua penyakit, baik itu berupa semua jenis dendam, iri hati dan syirik, atau yang tenggelam ke dalam keduniawian hingga derajat paling hina.

Kalian tahu persis, jika seseorang jatuh sakit dan tidak dilakukan perawatan –baik sakit kecil maupun berbahaya – maka penyakitnya tidak selesai. Persis seperti layaknya tahi lalat di wajah yang menumbuhkan rasa khawatir, apakah ia akan tumbuh sangat besar dan menggelapkan seluruh wajah. Seperti itulah perbuatan-perbuatan dosa juga menghasilkan tahi lalat gelap dalam hati kita. Jika dosa yang kecil tidak diperbaiki, maka dosa-dosa ini akan terakumulasi dan menuntun kepada dosa-dosa besar dan pada akhirnya membuat gelap seluruh hati.”

Semoga Allah menolong kita mencapai ketakwaan sesuai perintah-perintah-Nya kepada kita, selama bulan Ramadhan yang penuh berkah (amien), dan menolong supaya kita menjadi anggota Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as yang berusaha sebaik-baiknya menahan diri dari setiap perbuatan buruk, dan menjadi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan guna dapat meraih keridhoan dan kecintaan Allah (Amien). Semoga kita dapat melewati bulan penuh berkah ini dalam kondisi suci bersih dan berpegang teguh pada kebaikan sehingga tidak pernah lagi memanjakan diri dalam keburukan-keburukan yang telah kita buat di masa lalu dan kita tinggalkan di bulan Ramadhan (Amien). Semoga Allah menolong kita mencapai tujuan-tujuan kita (Amien)

Setelah shalat Jumat, saya akan memimpin sholat Jenazah untuk dua orang yang wafat. Satu jenazah hadhirah (ada di sini), yaitu Jenazah Ny. Tahirah Hamid al-muhtaramah, istri almarhum Abdul Hamid dari UK. Almarhumah berumur 60 tahun dan wafat pada 8 Juni 2016 setelah lama sakit. إنا لله وإنا إليه راجعون  Beliau asal dari Jehlum, Pakistan. Datang ke UK pada 2001. ..Jenazah kedua ialah gaib (tidak ada di tempat khotbah itu). Almarhum Syahid Tn. Hamid Ahmad, putra Syarif Ahmad dari wilayah Attock, Pakistan. Beliau berumur 63 tahun. Para penentang Jemaat membunuhnya pada pukul dua setengah siang ketika keluar rumah dengan tembakan senapan/senjata api pada tanggal 4 Juni 2016. إنا لله وإنا إليه راجعون

Semoga Allah meninggikan derajatnya dan melindungi putra-putrinya yang tengah terancam bahaya juga. Semoga Allah mengaruniakan taufik kepada anak-anak almarhum agar mengikuti jejak kebaikan ayah mereka. Aamiin.

Penerjemahan dari bahasa Inggris (ringkasan) oleh Ratu Gumelar rujukan:  http://www.alislam.org/

Pengeditan dengan dasar teks terjemahan bahasa Arab (penuh/full) oleh Dildaar Ahmad Dartono rujukan: http://new.islamahmadiyya.net/

[1] (HR. Ibnu Majah no. 1690)رُبَّ صَاىِٔمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ
 “Berapa banyak orang berpuasa yang tidak meraih apa-apa kecuali lapar dan haus saja.”

 مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه
Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan selalu mengamalkannya, maka Allah Ta’ala tidak memerlukan puasanya.” (HR. Al-Bukhari no.1804)

[2] Pidato Jalsah Salanah tahun 1897, h. 47-48.

[3] Malfuzhat, jilid 2, h. 301-302.

[4] Malfuzhat, jilid 2, h. 321.

[5] Malfuzat jilid 1, hal. 35, Edisi 1985, Terbitan UK

[6] Malfuuzhaat jilid I halaman 41-42, edisi 2003, terbitan Rabwah.

[7] Malfuzhat, jilid 1, halaman 48-49, edisi 2003, terbitan Rabwah

[8] Syarh al-‘Allaamah Zurqani ‘alaa Mawaahibil Laduniyyah jilid 2 halaman 281-284 bab ghazwah badr al-Kubra, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1996

[9] Malfuzhaat jilid I halaman 8, edisi 2003, terbitan Rabwah.

(Visited 42 times, 1 visits today)