Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

02 Juni 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Surah Al-Baqarah, 2:184)

 

Kita memuji Allah Ta’ala bahwa kita berkesempatan dapat mengalami bulan Ramadhan sekali lagi dalam hidup kita. Baginda Nabi Muhammad saw suatu kali bersabda: لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ  مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُونَ رَمَضَانُ السَّنَةَ كُلَّهَا ‘Law ya’lamul ‘ibaadu ma fi Ramadhana la-tamannat ummati ay yakuuna Ramadhanus sanata kullaha.’ ”Jika para hamba (orang-orang) mengetahui apa-apa [keutamaan] yang ada di bulan Ramadhan, maka umatku akan berharap keseluruhan tahun adalah Ramadhan.”

Atas hal ini seseorang menanyakan kepada beliau mengenai apa saja keutamaan bulan Ramadhan. Beliau menjawab: إِنَّ الْجَنَّةَ لَتُزَيَّنُ لِرَمَضَانَ مِنْ رَأْسِ الْحَوْلِ إِلَى الْحَوْلِ ‘innal jannata la-tuzayyanu li-Ramadhana mir ra-sil hauli ilal hauli.’ – “Sesungguhnya, surga dihias untuk Ramadhan dari awal tahun sampai akhir tahun (setiap tahun).” [1]

Begitu juga, dalam riwayat yang lain dari Hadhrat Abu Hurairah ra, Hadhrat Rasulullah saw bersabda: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ‘man shaama Ramadhaana wa qaamanhu imaanaw wahtisaaban ghufira lahu ma taqaddama min dzanbihi.’ “Seseorang yang berpuasa selama bulan Ramadhan dengan imaanaw wa htisaaban (penuh keimanan, penuh harap akan pahala dan ridha-Nya dan mengoreksi diri sendiri) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”[2]  Ada juga riwayat lain yang maknanya ialah jika kalian mengetahui keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan, kalian akan berharap keseluruhan tahun adalah Ramadhan.” Maka dari itu, karunia-karunia bulan Ramadhan tidak terbatas pada hari-hari di bulan ini. Tidak pula pada menahan dari dari makan dan minum. Tidak juga penyambutan oleh Allah Ta’ala dan penyediaan surga itu demi tujuan itu saja sehingga dengan jelas disabdakan oleh Hadhrat Rasulullah saw dalam Hadits lain bahwa siapa saja yang beriman dengan benar dan melakukan koreksi diri siang dan malam maka ia akan meraih derajat tersebut.[3]

Ketika seseorang dalam keadaan tersebut saja-lah yang membuatnya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, meningkat dalam keimanan, menaruh perhatian pada titik-titik kelemahannya, melakukan muhasabah dan mengintrospeksi diri, mengawasi tindakan-tindakannya, fokus untuk memenuhi hak-hak Allah, memenuhi hak-hak sesama manusia dan berusaha untuk melakukan tindakan-tindakan sesuai yang dikehendaki oleh Allah, maka hanya dengan begitu ia akan dianugerahi ampunan untuk dosa-dosanya di masa yang lalu. Ini juga adalah tujuan berpuasa di bulan Ramadhan, yang telah disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam Al Quran dalam ayat yang telah saya bacakan. Di situ disebutkan bahwa “Berpuasa diwajibkan atas kamu di suatu bulan [yaitu Ramadhan yang telah ditunjuk dan dipilih setiap tahunnya] agar kamu bertakwa. Takwa artinya setiap tindakan kalian lakukan demi mendapatkan ridho Allah Ta’ala. Hanya dengan demikian kalian bisa mendapatkan manfaat dari berpuasa dan menyelamatkan diri kalian dari gencarnya serangan setan. Hanya ketika kalian berpuasa dengan ketulusan demi Allah Ta’ala dan berpegang teguh pada jalan-jalan takwa maka kalian akan datang dalam perlindungan Allah Ta’ala.”

Jika seseorang memperoleh perlindungan Allah maka ia akan teguh dalam menjauhi serangan-serangan setan. Jika tidak demikian, maka di sana terdapat penantang dari pihak setan yang mengumumkan, “Tiap kali seorang manusia kehilangan perlindungan Allah maka kami (setan) buru-buru mencengkeramnya.” Maka dari itu, kemajuan dalam keimanan dan koreksi diri ialah yang membuat seseorang dapat meraih perlindungan Ilahi. Hal ini tidak mungkin terjadi tanpa seseorang itu menapaki jalan ketakwaan. Lalu bagaimanakah seharusnya keadaan iman dan takwa seseorang? Bagaimana seharusnya standar takwa seseorang? Berkenaan dengan hal itu, itu tidak dapat dijelaskan kecuali oleh orang yang diberi tanggungjawab oleh Allah Ta’ala untuk pekerjaan tersebut. Tidak mungkin dapat merasakan hal itu di zaman ini kecuali melalui khadim sejati Nabi Muhammad saw yang juga Imam Zaman karena ia adalah orang yang Allah Ta’ala utus secara khusus demi tujuan ini. Hal itu telah ditakdirkan baginya saja untuk mengembalikan iman ke bumi, mengajarkan umat manusia cara-cara penciptaan ketakwaan dan merasukkannya ke dalam kalbu. Sebagaimana kita dapat melihat bahwa buku-buku beliau as dan peristiwa-peristiwa dalam majlis-majlis beliau as memberikan jalan pada pencapaian tujuan ini dalam berbagai corak.

Hadhrat Rasulullah saw bersabda: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ‘man shaama Ramadhaana wa qaamanhu imaanaw wahtisaaban ghufira lahu ma taqaddama min dzanbihi.’ “Seseorang yang berpuasa selama bulan Ramadhan dengan imaanaw wa htisaaban (penuh keimanan, penuh harap akan pahala dan ridha-Nya dan mengoreksi diri sendiri) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Ini bukanlah sesuatu yang mudah. Hadhrat Masih Mau’ud as mengajarkan kita bahwa keadaan beriman secara hakiki tidak bisa didapatkan sampai dan hanya jika seseorang secara benar mengenali Tuhan.

Beliau as lebih lanjut bersabda, “Kita harus menyeberangi tahapan luar biasa yang harus kita lakukan yaitu mengenali dan memahami Tuhan. Dan jika pemahaman kita mengenai Tuhan ternyata cacat atau bercampur dengan keraguan atau entah bagaimana lemah, iman kita tidak akan bernah berpijar cemerlang dan dijiwai dengan cahaya. Bagaimana mencapai pengenalan Tuhan? Pengenalan Tuhan, baru dapat dicapai dengan manifestasi sifat Allah Ta’ala yaitu ar-Rahim. Itu akan terjadi sebagai hasil penciptaan hubungan yang begitu dekat dengan Allah Ta’ala sehingga kita menjadi berpengalaman dengan sifat-sifat Allah Ta’ala berupa Rahimiyyat, Maha pemberi karunia dan kekuatan. Seseorang tidak mungkin mengalami hal ini tanpa beribadah kepada Allah Ta’ala dan menjalin hubungan erat dengan-Nya.”

Beliau lebih lanjut bersabda, “Ketika seseorang mengalami sifat-sifat Rahimiyyat Allah Ta’ala, karunia dan kekuatan-Nya, maka sifat-sifat tersebut menjaga manusia dari hawa nafsu dan gairah duniawi – karena hawa nafsu dan gairah duniawi disebabkan oleh lemahnya iman dan keyakinan.” (Apabila iman tidak lemah tetapi beriman sempurna kepada Allah maka tidak akan pernah dapat muncul hawa nafsu yang seperti itu.)

Beliau as bersabda, “Manusia yang sekuat-kuatnya menyukai kenyamanan duniawi beserta kepemilikan dan kemakmurannya tidak akan dapat menyintai karunia-karunia ukhrawi sesuai kekuatannya. Seseorang menyatakan dengan lidahnya menyukai karunia-karunia ukhrawi hanya sebagai alasan saja sebab jika ia telah menyintai karunia-karunia kehidupan akhirat dengan sebenarnya maka ia akan berusaha mencapainya sekuat-kuatnya sebagaimana yang dilakukan oleh mereka yang menginginkan hal-hal duniawi, bahkan lebih dari itu.”

Karena itu, jelas dari itu bahwa iman hakiki terhadap kekuasaan, kerahiman dan janji-janji Allah telah hilang dan terdapat keperluan amat sangat untuk memperhatikan hal ini. Tidak mungkin dapat dimengerti hal ini secara tepat tanpa kejelasan bahwa keimanan bukan perkara biasa. Malahan, ini adalah perkara yang luar biasa dan target besar yang telah diberikan kepada kita, bukan hanya berpuasa selama 30 hari lamanya, atau mempersiapkan bulan Ramadhan, karena kedua hal ini hanya memegang peranan yang kecil. Melainkan, pentingnya kedua hal ini hanya dapat tampak dan sempurna ketika seluruh upaya kita dari pelatihan di bulan ini terus membuahkan hasil pedoman amal-amal saleh sepanjang tahun.

Hadhrat Rasulullah saw telah menyediakan dustuurul ‘amal (pedoman beramal) bagi kehidupan dalam dua kata. Namun, harap diketahui bahwa itu tidak cukup dengan hanya berkata dengan mulut kita saja bahwa kita berpuasa dengan keimanan dan koreksi diri lalu pasti akan diampuni semua dosa kita karena Nabi saw telah bersabda demikian. Tidak demikian. Perkaranya bukan demikian. Melainkan, ketika Nabi saw bersabda “berpuasa dengan keimanan dan muhasabah diri’, maknanya ialah kita harus terus menempatkan keadaan iman kita pada kriteria yang mana itu meningkatkan hubungan dengan Allah Ta’ala. Itu ialah kriteria pengamalan perintah-perintah-Nya. Kita hendaknya melihat apakah kita mengamalkan perintah-perintah-Nya ataukah tidak?

Ketika menjelaskan kondisi keimanan dan bagaimana cara untuk memperbaikinya, Hadhrat Masih Mau’ud as pada satu tempat menulis: “Pada kenyataannya, ada dua jenis keimanan pada Tuhan. Yang pertama adalah terbatas hanya di bibir saja – yang tidak punya pengaruh dalam perbuatan dan tindakan (keimanan diekspresikan, tapi tidak ditunjukkan dalam perilaku dan tindakan). Jenis keimanan yang kedua adalah yang dengan kesaksian dalam amalan dan tindakan. Selama tidak timbul keimanan jenis kedua ini pada seseorang maka saya tidak dapat mengatakan bahwa ia telah beriman kepada Allah Ta’ala. Hal yang tidak dapat saya pahami ialah seseorang mengaku beriman kepada Allah lalu juga melakukan perbuatan dosa.

Sebagian besar orang di dunia ini beriman dalam jenis yang pertama. Saya ketahui persis mereka mengatakan beriman kepada Tuhan, tetapi terlibat dalam kekotoran duniawi dan kabut perbuatan-perbuatan dosa. Mengapa tidak timbul keistimewaan keimbanan kepada Allah padahal iman mereka itu kepada Yang Maha Hadir dan Eksis (Ada) di tiap tempat? Kalian lihat bila seseorang kenal orang lain yang levelnya lebih rendah dalam kedudukan social kemasyarakatan, ia takkan mencuri harta orang itu. Maka, mengapa seseorang berbuat yang menentang Allah dan mengabaikan hukum-hukum-Nya padahal ia mengikrarkan bahwa Dia Maha Ada?” (mengimani-Nya)

Beliau bersabda: “Saya mengakui kebanyakan orang di dunia ini menyatakan dengan ucapan mereka soal keimanan mereka pada Tuhan. Diantara mereka ada yang menyebut-Nya ‘Parmesywar’, diantara mereka memanggil-Nya ‘God’ dan selain mereka dengan nama-nama lain lagi. Namun, bila iman dan pernyataan mereka diuji dengan amal perbuatan, terpaksa saya katakan itu hanya omong kosong belaka yang tidak disertai amal perbuatan.

Termasuk tabiat manusia bahwa jika mereka meyakini keberadaan sesuatu maka ia akan menghindari sisi membahayakan dari sesuatu itu dan senantiasa mengambil manfaat darinya. Misalnya ia tidak akan berani memakan racun tikus sebab ia tahu porsi kecil saja dari itu cukup dapat mematikannya. Maka, mengapa tidak timbul buah-buah iman hakiki setelah mengimani Allah Ta’ala? Jika seseorang mengimani Allah maka itu dengan keimanan yang mana seperti racun mematikan terhadap hawa nafsunya. Jika tidak, pasti pernyataan imannya hanya dusta belaka dan keimanannya tidak berubah hingga level yakin bahkan pengaku tersebut menipu diri sendiri saat menyatakan diri beriman kepada Allah.” (Hendaknya meningkatkan keimanan hingga derajat keyakinan sempurna, mewarnai diri dengan warna iman, sebab tanpa itu, tidak lain kecuali menipu diri, artinya penipu-lah orang yang berkata tanpa melakukan hal tersebut yaitu beriman kepada Allah)

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Karenanya, tanggung jawab pertama seorang manusia adalah meninjau dan menelaah kembali iman mereka pada Allah Ta’ala. Hal ini mengisyaratkan, mereka tidak boleh melakukan tindakan yang akan menunjukkan ketidakpedulian akan keagungan Tuhan, dan tindakan mereka pun tidak boleh berlawanan dengan perintah apapun dari-Nya.”

Demikianlah, ini adalah cara dan sikap yang mana orang beriman dapat menganalisa diri mereka sendiri. Selama bulan Ramadhan menyediakan bagi kita suasana khusus yang jika seseorang memperhatikan ibadah-ibadah dan kebaikan-kebaikan secara otomatis melihat kepada orang-orang lain dalam hal itu. Dalam keadaan atmosfir yang demikian hendaknya kita memfokuskan ibadah-ibadah dan memperhatikan usaha-usaha kebaikan-kebaikan, amal-amal saleh dan istighfar atas dosa-dosa masa lalu darinya melalui kerendahan hati di hadapan Allah Ta’ala. Lalu, hendaknya kita jadikan Ramadhan yang demikian sebagai bagian tetap dari kehidupan kita di masa mendatang. Kita harus berusaha sungguh-sungguh untuk tidak mendekati lagi dosa-dosa tersebut yang mana kita telah diampuni dalam bulan Ramadhan. Kita juga menjaga ibadah-ibadah yang kita dirikan di bulan itu dan perubahan-perubahan yang kita perbuat. Kita menjaga pula apa-apa yang telah dibukakan bagi kita di bulan itu berupa pintu-pintu surga. Maka, kita harus berusaha keras merendahkan diri kepada Allah serendah-rendahnya demi tetap merasakan manfaat aliran-aliran karunia-Nya dan menyempurnakan capaian-capaian yang diperlukan demi ketakwaan yang mana telah Allah Ta’ala tetapkan sebagai tujuan berpuasa.

Saya juga akan mengetengahkan kutipan-kutipan dari Hadhrat Masih Mau’ud as yang membuat kita paham tentang bagaimana jalan-jalan seseorang dapat maju dalam ketakwaan. Keimanan manusia mengalami peningkatan hanya ketika mereka membuat kemajuan dalam ketakwaan mereka. Makna sabda Nabi Muhammad saw, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا ‘man shaama Ramadhaana wa qaamanhu imaanaw wahtisaaban’ ialah, “Jika kalian menyelesaikan hari-hari di bulan Ramadhan ini dengan benar-benar meraih kemajuan yang dituntut dari kalian dalam ketakwaan maka itu menjadikan keadaan kalian mengikuti ridha Allah – apabila kalian berhasil meraih ketakwaan dalam bulan Ramadhan ini, maka ketakwaan kalian menjadi bagian kehidupan kalian dan dalam keadaan itu bukan hanya sekedar terbatas perbaikan keadaan amal di bulan ini saja tapi bertahan untuk selamanya.”

 Selagi menarik perhatian kita pada perkara ini, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Tujuan Al-Quran dan ajaran-ajaran Islam adalah untuk membangun Takwa. Namun, hal ini tidak dapat kita saksikan dimanapun saat ini. Orang-orang berpuasa dan melaksanakan sholat, namun jika mereka kosong dari ketakwaan, maka puasa dan sholat ini dapat memimpin mereka pada dosa.”

Di masa dan era saat ini, fakta bahwa kita menyaksikan tindakan-tindakan teror dilakukan atas nama Islam, orang-orang tak bersalah terbunuh, semuanya terjadi karena tidak adanya ketakwaan. Terjadi peristiwa demikian oleh tangan sebagian orang Islam sendiri. Dua hari yang lalu, kira-kira 100 orang terbunuh secara brutal melalui cara yang kejam di Afghanistan. Apakah Ramadhan bermanfaat bagi orang orang [yang melakukan tindakan tindakan keji ini]? Apakah mereka ikut ambil bagian dalam rahmat dan berkat yang lekat pada keagungan dan keluhuran Ramadhan? Tentu saja tidak. Sebab, orang-orang ini melakukan tindakan-tindakan keji ini yang bertentangan dengan perintah-perintah Allah Ta’ala. Juga karena mereka telah jauh dari perintah-perintah Allah Ta’ala dan jauh dari ketakwaan.

Dalam harmoni penuh dengan Al-Quran, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Shalat-shalat tanpa ketakwaan adalah sia-sia dan bahkan merupakan kunci ke neraka.” Artinya, shalat-shalat yang demikian mengarahkan pelakunya menuju neraka. Lantas, bagaimana Ramadhan dapat memberikan manfaat bagi mereka yang kehilangan ketakwaan? Sedangkan mereka yang melakukan kekejaman atas nama Tuhan dan Rasul-Nya, mereka tidak akan pernah mendapat bagian dalam berkat-berkat Ramadhan. Alih-alih demikian, merekalah yang akan menderita murka Tuhan.

Karena itu, pada waktu yang sama ketika kita mendengar dan menyaksikan tindakan-tindakan barbar dan brutal ini, kita sebagai Ahmadi harus beristighfar kepada Allah dan memuji-Nya lebih banyak dari sebelumnya, karena Dia telah memisahkan kita dari orang-orang kejam itu dan membuat kita menerima Hadhrat Masih Mau’ud as. Kita harus selalu menghitung-hitung tindakan-tindakan kita dan harus berusaha untuk menguatkan keimanan kita. Kita harus bersyukur kepada Allah bahwa Al-Masih-Nya yang Dia janjikan menuntun kita ke jalan yang sampai kepada Allah.

Beliau as bersabda: “Akar (asal-usul) iman adalah ketakwaan dan kesucian, iman dimulai dengan semua [hal baik] itu, dan dengan itu pula ia mengalir [diceritakan], dan dengan itu mengendalikan nafsu jiwa.”

Sabda beliau as ini telah menambah kejelasan dan itu adalah iman tidak akan dihasilkan tanpa ketakwaan dan ketakwaan tidak hanya sebagai akar iman saja, tetapi iman tanpa ketakwaan itu artinya tidak memelihara iman dan tidak membuatnya tumbuh. Dengan keberadaan ketakwaan maka akan ada amal perbuatan baik, dan adanya amal perbuatan baik, – yaitu perbuatan yang dilakukan sesuai dengan ridha Allah -, iman pun bertambah. Ternyata juga jelas dari itu juga bahwa buah-buah kebajikan Ramadhan tidak dapat tumbuh tanpa kemajuan dalam ketakwaan. Dengan meningkatkan ketakwaan, seseorang semakin bertambah dalam keimanan dan tertarik untuk meneliti pribadinya sendiri, jika ia memeriksa diri dan amal perbuatannya maka ia mampu mengendalikan keinginan diri. Seperti disebutkan sebelumnya, mengekang keinginan hawa nafsu diri membantu perbuatan yang sesuai dengan hukum-hukum Allah, dan meraih kesuksesan berupa kedekatan dengan Allah.

Selagi menjelaskan tentang arti hakiki ketakwaan, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Takwa hakiki yang membersihkan dan menyucikan seseorang telah menghilang dari muka bumi. Ketakwaan yang demikian ditegakkan oleh para Nabi. Sedikit sekali jumlah orang yang merupakan cerminan dari ayat: قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ‘Sesungguhnya ia benar-benar sukses yaitu orang yang menyucikan dirinya.’ (Surah asy-Syams, 91:10) Kesucian dan kebersihan adalah nilai-nilai kebajikan yang utama. Para malaikat akan menyalami mereka yang suci.

Orang-orang tidak memperhatikan kesucian dan jika tidak demikian niscaya mereka akan menemukan kelezatan dalam hal yang halal bukan yang haram. Pencuri melakukan pencurian demi harta. Namun, jika ia bersabar tentu akan menemukan kecukupan dari Allah Ta’ala dengan jalan lain. Seorang yang melakukan zina dalam perbuatan keji jika bersabar, tentu Allah Ta’ala memuaskan keinginannya dengan jalan lain yang Dia ridhai.”

Beliau as bersabda, “Diriwayatkan dalam Hadits, bahwa tidaklah pencuri itu mencuri ketika dia dalam keadaan beriman. Tidaklah pezina itu berzina ketika dia dalam keadaan beriman.”[4] (Artinya, perbuatan-perbuatan mungkar tidak akan dilakukan kecuali pada waktu seseorang keluar dari keadaan keimanan) “Domba tidak akan bisa makan rerumputan jika seekor singa berdiri di atas kepalanya.” (Maknanya, mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan mungkar ini tidak terdapat dalam diri mereka keimanan sebagaimana keimanan sang domba juga.)

Beliau as juga membahas hadits itu dalam soal itu di majlis lain, “Diriwayatkan dalam Hadits, bahwa tidaklah pencuri itu mencuri ketika dia dalam keadaan beriman. Hal ini benar sepenuhnya. Seekor domba akan lupa untuk memakan rerumputan yang tidak ia pedulikan di kebun tetangganya jika seekor singa berdiri di atas kepalanya. Demikian pula, mustahil seseorang berbuat dosa jika ia takut akan Allah.”

Beliau as bersabda, “Ketakwaan adalah hasrat mendasar, dan siapa yang dikaruniai itu maka ia telah memiliki segalanya, dan tanpa itu tidak mungkin bagi manusia untuk menghindari dosa-dosa besar dan kecil. Ketentuan-ketentuan pemerintah secara lahiriah tidak bisa menyelamatkan orang dari dosa, karena penguasa tidak berjalan bersama dengan orang-orang sepanjang waktu sehingga membuat orang-orang takut. Seseorang itu melakukan dosa dengan berpikiran tidak ada seseorang yang bersamanya, atau ada tetapi tidak berada di sana bersamanya. Ketika seseorang berpikiran tidak ada siapa (sesuatu) pun yang bersama dengan dia maka dia menjadi seorang mulhid (ateis, tidak percaya adanya Tuhan). (Ketika ia berpikiran  tidak ada seorang pun dengan dia maka ia berpikiran Allah tidak melihatnya, sehingga otomatis ia menjadi seorang ateis pada saat itu. Dia tidak berpikiran Tuhan bersamanya dan mengawasinya. Jika sebaliknya, tentu ia tidak terlibat dalam dosa)

Beliau as bersabda, “Ketakwaan adalah segalanya. Dan semuanya tergantung pada ketakwaan. Al-Quran telah dimulai dengan ketakwaan. Firman-Nya, إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ (Kepada Engkau-lah kami menyembah dan kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan) artinya ialah ketakwaan itu sendiri. Itu maknanya, manusia melakukan suatu amal perbuatan tetapi ia tidak berani menghubungkan perbuatan tersebut dengan dirinya sendiri. Itu ialah kehebatan Allah. Bahkan, ia memandangnya bahwa ia mendapat taufik melakukan perbuatan ini dengan bantuan Tuhan, dan ia mencari lebih banyak bantuan dari-Nya.

Ketika Dia berfirman, إيَّاكَ نَعْبُدُ, dengan itu ibadah dilakukan dengan pengakuan, ‘Kami beribadah kepada Engkau’, tetapi pekerjaan ibadah tidak dikaitkan dengan untuk dirinya sendiri, tetapi tidak lama kemudian segera mengatakan, وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ, artinya, ‘Amal perbuatan ibadah yang saya lakukan inii adalah hasil dari pertolongan Engkau sendiri, ya Tuhan, dan taufiq dari Engkau. Tanpa itu, saya tidak juga dapat melakukannya.” Ini adalah standar ketakwaan yang harus kita capai.

Hadhrat Masih Mau’ud as lebih lanjut bersabda: “Surah kedua dari Al-Quran dimulai dengan bahasan ketakwaan. Maksud saya, firman-Nya: هدى للمتقين ‘Petunjuk bagi orang orang yang bertakwa.’ Sholat, puasa, Zakat dan sebagainya akan diterima ketika seseorang yang melakukannya bertakwa.” Maka semua yang sudah disebutkan akan diterima ketika seseorang mengambil jalan Takwa. Jika tidak, semuanya tidak akan diterima jika tidak adanya Takwa

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Pada titik ini, Allah Ta’ala menghapuskan semua motivasi seseorang untuk melakukan dosa.” Dengan kata lain, jika seseorang memiliki Takwa yang utuh dan sempurna, Allah Ta’ala akan menghilangkan semua godaan dan dorongan yang memikatnya menuju pelanggaran.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Ketika seorang pria memerlukan seorang istri, Allah Ta’ala akan menyediakannya. Ketika ia memerlukan obat, Allah Ta’ala akan menyediakannya. Apapun yang diperlukan olehnya, Allah Ta’ala akan menyediakannya dan Dia menyediakannya dengan cara-cara yang tidak terbayangkan oleh seorang manusia.”

Beliau as bersabda, “Terdapat ayat lain dalam Al-Qur’an dan itu ialah إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ  ‘Sesungguhnya mereka yang berkata, “Tuhan kami Allah” lalu bersiteguh hati maka akan turunlah atas mereka para malaikat yang berkata, “Jangan takut dan jangan bersedih. Bersukacitalah akan surga yang telah dijanjikan bagi kalian.”’ Makna dari kata ‘mereka’ ialah orang-orang muttaqi (bertakwa). Mereka itulah yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah’ lalu berpegang teguh dalam keyakinan itu dengan sabar. Allah ialah Tuhan kita. Dia menyediakan segala keperluan kita. Dia itu Rabb. Malaikat turun atas mereka dan berkata, ‘Jangan takut! Jangan mencemaskan atas apa-apa yang telah kalian lakukan di masa lalu. Sebab, sekarang kalian telah terhiasi dengan ketakwaan.’”

Beliau as bersabda, “Ayat ini juga maksudnya adalah orang-orang bertakwa. ثُمَّ اسْتَقَامُوا Artinya, orang-orang yang beristiqamah (teguh hati) diguncang, dilanda kesulitan dan ujian serta menghadapi badai penentangan namun mereka tidak memutuskan janji yang telah mereka ikrarkan. Mereka telah berjanji kepada Allah untuk bersiteguh hati dan bersabar.”

Mereka tidak menunggu bulan Ramadhan datang demi beramal, mengamalkan ketakwaan di dalamnya dan terbuka pintu surga bagi mereka untuk satu bulan. Tidak! Melainkan memenuhi kondisi-kondisi istiqamah.

Beliau as bersabda, “Ketika kebenaran dan kesetiaan tampak jelas terlihat pada mereka maka turunlah para malaikat atas mereka sebagai ganjaran pahala atas mereka. Artinya, para malaikat turun pada mereka dan berkata pada mereka, ‘Jangan takut! Jangan sedih! Allah menyertai kalian dan menjamin kalian.’ وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ  ‘dan mereka (para malaikat) menyampaikan kabar gembira dengan surga yang dijanjikan bagi kalian’ Yaitu, mereka menjadi gembira dengan surga ini (di sini, dunia) dan surga itu.

Makna surga di ayat ini ialah surga di dunia ini bukan surga di dunia lain (akhirat). Bahkan, Allah Ta’ala memberikan kabar gembira bagi orang-orang bertakwa dengan surga di dunia ini sebagaimana disebutkan dalam ayat وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ ‘Maka bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya, baginya ada dua surga’ (Surah ar-Rahman, 55:47), dan setelah itu ada ayat نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ  ‘Kami-lah pelindung kalian di kehidupan dunia dan di akhirat.’ (Surah Fushilat, 41:32)”

Jadi, Allah mengampuni dosa-dosa mereka yang melakukan kebaikan-kebaikan dengan tabah dan terus-menerus. Bukan hanya itu saja, bahkan Dia memuliakan mereka dengan karunia-karunia duniawi, menjadi Wali bagi mereka dan menjamin mereka di akhirat juga. Betapa berbahagianya mereka yang berusaha menghidupkan Ramadhan dengan membuat perubahan suci dalam diri dan cepat tanggap melaksanakan perintah-perintah Allah dengan sabar dan teguh hati dalam hal itu.

Menjelaskan lebih lanjut tentang Takwa dan ketabahan, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Sejak permulaan seorang Muslim hakiki harus menunjukkan kesabaran. Para Sahabat Nabi saw mengalami masa-masa ketika mereka terpaksa bertahan hidup dengan makan dedaunan, dan di lain waktu mereka bahkan tidak memiliki sekerat roti untuk dimakan. Tidak ada seseorang yang dapat memberi manfaat bagi orang lainnya kecuali sudah dikehendaki oleh Allah Ta’ala. Saat seseorang bertakwa, ia memiliki pintu-pintu dan sarana-sarana yang dibukakan baginya oleh Allah Ta’ala, وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ‘Siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Dia akan membuat jalan keluar baginya dan menyediakan baginya (keperluan-keperluannya) dalam cara-cara yang tidak dapat disangka-sangka olehnya… ‘[5] (Surah ath-Thalaq, 2-3) Berimanlah dengan sesungguhnya pada Allah Ta’ala niscaya akan engkau dapatkan segalanya dari hal itu. Hal ini memperlukan ketabahan dan tekad yang kuat. Derajat-derajat mulia yang diraih para Nabi, mereka raih melalui ketabahan dan kesabaran mereka. Apa manfaat shalat dan puasa yang kosong dan tidak berjiwa bagi seseorang?” (artinya, dengan hanya penegakan shalat dan pelaksanaan puasa di bulan Ramadhan takkan menghasilkan sesuatu pun. Sesungguhnya, segala sesuatu diperoleh dengan kesabaran.)

Maka dari itu, Allah Ta’ala menginginkan kita menjadi bertakwa supaya pintu-pintu karunia-Nya yang tanpa perhitungan akan dibukakan bagi kita. Dia adalah Pembuka pintu-pintu karunia bagi orang-orang bertakwa di bulan Ramadhan dalam corak khas.

Guna meraih ketakwaan, tidak cukup hanya menjauhi keburukan saja melainkan memperoleh kebaikan-kebaikan juga. Selanjutnya beliau as bersabda menjelaskan secara rinci tentang itu, “Untuk menjadi muttaqi (orang bertakwa) seseorang perlu sekali bertekad untuk menjauhkan diri dari keburukan-keburukan besar seperti zina, mencuri, merampas hak sesama, riya, bangga diri, menghina orang lain, kikir dan menghancurkannya sepenuh serta meninggalkan akhlak rendah semuanya. Selanjutnya, maju dalam berakhlak mulia.” (artinya, bukan hanya menghindari akhlak rendah melainkan harus meningkatkan kualitas akhlak mulia juga. Akhlak baik yang sudah dimiliki harus terus ditingkatkan. Inilah syaratnya.)

Tampillah di hadapan orang lain dengan perangai simpati, sopan santun dan dengan akhlak yang terpuji. Dan tunjukkanlah sifat kesetiaan, kejujuran dan kebenaran di hadapan Allah Ta’ala. Carilah kesempatan-kesempatan mulia untuk berkhidmat terhadap agama. (Yakni, selain memenuhi hak-hak Allah Ta’ala hendaknya ia harus berusaha melakukan pengkhidmatan terhadap agama dan kebaikan-kebaikan juga yang kedudukannya sangat tinggi dan patut dipuji.) Dengan semua akhlak itulah manusia dapat dikatakan muttaqi. Orang yang memiliki semua akhlak itu menjadi orang muttaqi yang sejati. (Jika satu atau beberapa jenis saja akhlak mulia terdapat pada diri seseorang maka ia tidak dapat dikatakan orang muttaqi. Selama belum terkumpul akhlak-akhlak mulia dalam diri seseorang secara keseluruhan maka ia tidak dapat dikatakan seorang Muttaqi.)

Beliau bersabda lagi, “Bagi orang muttaqi sejati Allah Ta’ala berfirman, وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ “Maka tidak ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.” (Al ‘Araf ayat 36). Setelah itu Allah Ta’ala bersama dia dan menjadi Pelindungnya. Seperti firman-Nya, وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ ‘wa huwa yatawallash shaalihiin’ – “Dan Dia melindungi orang-orang saleh.” (Al ‘Araf:197).

Terdapat riwayat didalam Hadis Syarif, ‘Allah Ta’ala menjadi tangannya dengan mana ia memegang, Dia menjadi matanya dengan mana ia melihat, Dia menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar. Dia menjadi kakinya dengan itu ia berjalan.’ Terdapat juga di dalam sebuah Hadis lain, “Barang siapa yang memusuhi Wali-Ku maka Aku berkata kepadanya, ‘Siapkah kamu berperang  melawan-Ku?’ [6] Di satu tempat lagi  beliau (Rasulullah saw) bersabda, “Apabila ada orang yang menyerang wali (kekasih) Tuhan maka Tuhan dengan cepat menyambarnya seperti seekor singa betina menyambar mangsa yang akan menangkap anaknya.’”[7]

Menguraikan tentang pentingnya Takwa dan tujuan dari kedatangan beliau, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Alasan diutusnya saya adalah karena ranah Takwa tengah kosong. Ada keharusan untuk bertakwa, bukan menghunus pedang – yang sudah ditetapkan sebagai haram (terlarang, melanggar hukum). Jika kalian bertakwa, maka seluruh dunia akan datang di sisimu. Karena itu, bertakwalah. Mereka yang meminum minuman keras atau yang mana minuman keras dianggap sebagai aspek utama dari tradisi-tradisi agama mereka, maka ini tidak ada kaitannya dengan Takwa, dan mengobarkan perang melawan kesalehan dan ketakwaan. Karena itu, jika Allah Ta’ala menganugerahi Jemaat kita orang-orang dengan keberuntungan yang baik, menghibahkan mereka kemampuan untuk berperang melawan kejahatan dan keburukan dan mereka mencari kemajuan dalam bidang ketakwaan dan kesucian, maka ini adalah pencapaian yang luar biasa dan tidak ada yang lebih efektif dari hal ini.

Perhatikanlah agama-agama dunia semuanya. Kalian tahu bahwa tujuan hakiki mereka ialah ketakwaan. Namun, ketakwaan telah menghilang dan wajah dunia telah mereka jadikan Tuhan. Tuhan hakiki mereka sembunyikan dan telah mereka salah gunakan. Tapi, Allah Ta’ala sekarang ingin agar umat manusia mengimani-Nya dan dunia mengenal-Nya. Mereka yang menjadikan dunia sebagai sesembahan tidak akan mungkin bertawakkal kepada Allah.”

“Mereka yang telah berbaiat lalu merasa aman dari cengkraman hukuman Allah, maka mereka itu salah dan telah menipu diri sendiri. Jika orang sakit tidak meminum obat sesuai resep yang diberikan seorang dokter maka harapan kesembuhan akan sia-sia…sucikanlah diri kalian! Bertakwalah hingga ke tingkat yang dapat selamat dari kemurkaan Allah. Allah Ta’ala merahmati mereka yang tabattul karena jika tidak demikian akan gelaplah dunia. Jika seseorang itu bertakwa, Allah akan menjadikan pembeda antara dirinya dan selainnya.”

Beliau as bersabda lagi, “Jemaat kami hendaknya takut akan Allah. Mereka yang memperelok diri dengan takwa sesuai yang Allah Ta’ala inginkan, akan diselamatkan. Allah Ta’ala telah mendirikan Jemaat ini demi ketakwaan saja karena ladang ketakwaan tengah kosong.”

Maka, kedatangan bulan Ramadan yang lain dalam hidup kita dan firman Allah bahwa tujuan bulan Ramadhan adalah pencapaian ketakwaan, dan kata-kata Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa Allah mendirikan Jemaat ini untuk mendirikan ketakwaan, semua hal ini membuat kita menerima tanggung jawab besar, kita harus terus memeriksa diri sepanjang waktu, dan menciptakan dalam diri kita sendiri perubahan yang baik di hari-hari Ramadhan ini yang mana telah Allah istimewakan dengan karunia khusus-Nya, dan kita harus berusaha untuk meningkatkan tingkat ketakwaan kita sebagaimana yang Allah inginkan dari kita, maka jangan membatasi diri untuk Ramadhan saja, tetapi menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan kita. Semoga Allah membantu kita untuk melakukannya. [Aamiin]

Setelah Shalat Jumat, saya akan mengimami Shalat Jenazah untuk yang terhormat Tn. Khwaja Ahmad Hussain dari Darwaish, Qadian, yang merupakan putra dari Tn. Muhammad Hussain. Beliau wafat pada tanggal 31 Mei 2017 pada usia 92 tahun – Inna lillahi wa inna ilahi rojiun. Beliau lahir pada tahun 1926 di sebuah desa bernama Sekhwan, yang dekat dengan Qadian. Kakek dari Ibu beliau adalah Tuan Hadhrat Mia Imam Din dan juga dua saudara beliau yaitu Tuan Mia Nizam Din dan Tuan Mia Khair Din adalah para Sahabat dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Seorang yang berakhlak mulia. Beliau juga datang pada Jalsah Salanah di London tahun 2005. Beliau mendapatkan taufik berjumpa dengan Hz. Khalifah ke-dua ra dan semua Khalifah setelahnya. Beliau memiliki 4 putri dan 1 putra. Putra beliau adalah kepala sekolah di Ta’limul Islam High School Qadian. Putri beliau menulis: Beliau senantiasa pergi kemasjid meskipun dalam keadaan lemah sekalipun. Dalam keadaan ekonomi yang susah tapi tetap anak-anak beliau bisa sekolah tinggi, sehingga anak beliau bisa menjadi kepala sekolah Ta’limul Islam High School Qadian.

….

Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau, Aamiin

Semoga Allah Ta’ala memungkinkan anak-cucu keturunan beliau dan generasi generasi selanjutnya untuk membangun hubungan setia dengan Khilafat. Dan pengorbanan pengorbanan yang telah beliau lakukan, semoga semua itu terus diingat oleh anak-cucu keturunan beliau dan generasi selanjutnya yang akan datang dan semoga mereka membentuk hubungan yang setia dan tulus dengan Jemaat. (آمين)

Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono. Bantuan teks terjemahan dari Ratu Gumelar dan Saefullah MA.

[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no.886) dan Ibnul Jauzi di dalam Kitabul Maudhuat (2/188-189) dan Abu Ya’la di dalam Musnad-nya

[2] Kitab Hadits Masyikhah Abu al-Hasan as-Sukri, w. 386 H. Lanjutannya ialah وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Dan seseorang yang mendapatkan Lailatul Qadr dengan imaanaw wa htisaaban maka juga akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

[3] Yaitu hadits مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه. (صحيح البخاري، كتاب الإيمان)

[4] Hadits Nasai No.4787; dari [Abu Hurairah] dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً ذَاتَ شَرَفٍ يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهَا أَبْصَارَهُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ “Tidaklah pezina itu berzina ketika dia dalam keadaan beriman, dan tidaklah pencuri itu mencuri ketika dia dalam keadaan beriman, tidaklah dia meminum khamr ketika meminumnya sedangkan dia dalam keadaan beriman, dan tidaklah dia merampas suatu rampasan yang berharga dan menjadi daya tarik manusia ketika dia dalam keadaan beriman.”

[5] Ayat ini memiliki dua bagian. Yang pertama adalah untuk mereka yang benar-benar beriman, Allah Ta’ala akan mencarikannya jalan keluar atau sarana sarana (untuk ia keluar dari masalah atau persoalan) dan akan menyediakan baginya (keperluan-keperluannya) lewat jalan dan sarana-sarana tersebut. Bagian kedua berarti Allah Ta’ala akan menyediakan baginya (keperluan-keperluannya) dalam cara-cara yang tidak terbayangkan baginya.

[6] Shahih al-Bukhari Kitab ar-Riqaaq, Bab at-Tawadhu (Kerendahan Hati) [Lengkapnya adalah sebagai berikut: Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, ‏”‏ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِي بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَىْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ، يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ ‏”‏‏ “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang berupaya memusuhi wali-Ku, niscaya Aku umumkan perang terhadapnya.’ Hamba-Ku tidak mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku sukai dari pada sesuatu yang Aku fardhukan atasnya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sunnah-sunnah sampai Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengaran yang untuk mendengarnya, penglihatan yang untuk melihatnya, tangan yang untuk menamparnya dan kaki yang untuk berjalan olehnya. Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku benar-­benar memberinya. Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar melindunginya. Dan Aku tidak bimbang terhadap sesuatu yang Aku lakukan seperti kebimbangan-Ku terhadap jiwa hamba-Ku yang beriman yang mana ia tidak senang mati sedang Aku tidak senang berbuat buruk terhadapnya”.

[7] Malfuuzhaat, jilid 2, halaman 680-681

(Visited 108 times, 3 visits today)