Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal  2 Nubuwwah 1391 HS/November 2012

Di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

 

Saat ini saya juga akan menyampaikan riwayat para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam kepada Saudara-saudara yang berkaitan dengan baiatnya mereka.

Yang pertama adalah riwayat Hadhrat Muhammad Syah Sahib radhiyallahu ta’ala ‘anhu. Beliau menjelaskan, “Dalam peristiwa-peristiwa sebelumnya (sebelumnya beliau telah menulis beberapa peristiwa beliau, yang beliau singgung, beliau melanjutkan dari situ) saya menulis bahwa sadaat (para sayyid, keturunan Nabi Muhammad s.a.w.) tidak perlu baiat kepada orang selain Sayyid.“ (Syah Shahib ini adalah seorang sayyid.)

Beliau berkata, “Saya berpikiran bahwa sayyid tidak perlu baiat kepada orang lain.” Dalam peristiwa sebelumnya telah dijelaskan. Beliau berkata, “Karena itu walaupun saya berpendapat bahwa Hadhrat Masih Mau’ud ada diatas kebenaran, saya tidak menganggap perlu baiat kepada beliau.”

Beliau berkata, “Sampai beberapa lama saya tetap teguh pada pemikiran ini, tetapi kapan saja dalam suatu majelis disebutkan mengenai Hadhrat Mirza Sahib, jika mereka memuji beliau saya mendengarkannya dengan hati senang, tetapi majelis yang di dalamnya terdapat penentangan [terhadap Hadhrat Masih Mau’ud a.s.], saya tidak tahan duduk di majelis itu. Saya tidak duduk di majelis itu, dan bangun pergi.”

 Akhirnya suatu hari dari mulut seseorang yang berkata kepada orang lain “tidak punya pir dan  tidak punya mursyid’ (guru spiritual – pent). Timbul pemikiran bahwa ‘tidak punya pir’ dan ‘tidak punya mursyid’ adalah hinaan, dan saya sendiri juga tidak punya pir dan mursyid.

Apakah sayyid dikecualikan? Dengan sendirinya saya ingat beberapa Gaddi Nasyin[2] bahwa beberapa orang suci telah berlalu dan mereka adalah sayyid. Mereka juga baiat kepada beberapa orang suci non-sayyid dan meraih karunia melaluinya.

Oleh karena itulah, saya mulai memikirkan kondisi saya. Tetapi karena kurangnya akal dan kebodohan saya tidak bertanya pada seseorang. Tetapi saya memiliki maksud dalam hati saya dan untuk sempurnanya maksud saya itu saya pergi kepada beberapa orang baik (saleh) menanyakan [doa-doa] wirid dan mulai mengamalkannya.

Yakni saya mulai membaca doa-doa (wirid) dan maksud saya adalah supaya mendapatkan seorang mursyid kamil dan sayyid kamil (yakni mendapatkan seorang pir yang juga seorang sayyid). Karena itu sampai beberapa lama saya membaca doa-doa serta wirid-wirid dan terus melakukannya. Saya pergi ke kuburan-kuburan, sungai-sungai, sumur-sumur, gunung-gunung, makam-makam orang suci, tempat-tempat yang tersembunyi, dan membaca wirid selama 40-40 hari. Tidak terjadi apapun.

Akhirnya suatu hari dalam kondisi putus asa saya berbaring dan tidur. Dalam mimpi saya melihat seorang suci. Dia menenangkan, ”Nak, mursyid yang akan engkau temukan, dia akan menjadi mursyid untuk semuanya. Dengan adanya dia semua mursyid akan kalah.” Setelah melihat pemandangan ini hati menjadi tenang, dan saya yakin bahwa insya Allah saya akan mendapatkan seorang Mursyid kamil.

Pada akhir tahun 1905 suatu malam saya melihat ada sebuah lapangan luas yang sangat bersih dan telah disucikan, seperti jalsah gah (ruang pertemuan) yang sangat besar. Sangat bersih dan di dalamnya ada sebuah panggung yang tinggi dan layak untuk seorang raja – yang orang seperti saya karena kekurangan ilmu tidak bisa mengungkapkan pujiannya – telah siap.

Orang ini berkata kepada saya, ‘Hari-hari ini di sini ada pertemuan para nabi a.s. dan Rasul Karim yakni Hadhrat Muhammad Rasulullah s.a.w. hari ini akan datang untuk mendudukkan putra kesayangan beliau di atas tahta.”

Maka saya melompat dengan gembira dan berlari dengan sangat cepat dan sampai paling pertama di dekat panggung di lapangan tersebut dengan terengah-engah dan kehabisan nafas. Tidak berapa lama lapangan tersebut ramai, penuh dengan orang-orang suci, wajah-wajah yang bersinar.

Secara bersamaan pandangan semua orang mulai melihat ke atas. Saya juga melihat ke atas, maka saya tahu bahwa ada kereta-kereta seperti pesawat yang buatannya sangat indah – dan kereta-kereta itu salah satunya hanya berisi satu laki-laki, yang lain hanya berisi satu laki-laki dan satu atau dua wanita, dan yang lainnya hanya berisi wanita atau laki-laki saja – datang dari langit dengan sangat tenang.

Dengan sendirinya saya tahu bahwa orang ini nabi, dan orang ini nabi. Dan juga banyak sekali ummahatul mukminin [ibu orang beriman, sebutan untuk istri-istri, ibu dan putri para Nabi], misalnya Ummi Hawa (Siti Hawa istri Nabi Adam), Ummi Hajrah (istri Nabi Ibrahim), Maryam, dan Hadhrat Fatimah serta Khadijah r.a.. Semuanya datang.

Setelah semua nabi dan para ummahatul mukminin datang lalu duduk di kursi masing-masing, dan mulai menunggu seperti orang-orang menunggu pada hari Jum’at di mesjid Aqsa – Qadian pada zaman Hadhrat Khalifatul Masih II, dan kadang-kadang mereka menengadah ke langit dan mulai berkata, ‘’Ayah dan anak akan segera datang.”

Setelah beberapa lama sebuah kereta turun dari langit yang paling indah dibandingkan semua kereta lainnya (dihias). Dari dalamnya turun Yang mulia Hadhrat Muhammad Musthafa s.a.w. dan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Sahib, Masih Mau’ud a.s., lalu duduk di dua kursi yang bersisian di atas panggung. Pertama Rasul Karim s.aw. mengucapkan Assalamu ‘alaikum kepadaku, kemudian Hadhrat Mirza Sahib Masih Mau’ud.

Rasulullah s.a.w. menyampaikan ceramah pembukaan pertama dan bersabda, “Saya akan mendudukkan anak saya, yang mengenainya kalian telah diberi kabar sejak sebelumnya, di atas tahta, di hadapan kalian semua para nabi.” Kemudian Hadhrat Mirza Sahib Masih Mau’ud a.s. menyampaikan ceramah.

“Waktu itu saya memahami hakekat sayyid dan melihat Hadhrat Sahib bahwa inilah Mirza Sahib yang ada di stasiun Ludhiana.” [yakni, hubungan keturunan yang bernilai adalah keturunan ruhaniah. Tanpa itu, bahkan menjadi keturunan jasmaniah Nabi mana pun tidak punya nilai apa-apa. Red.]

Beliau (Hadhrat Muhammad Syah Sahib radhiyallahu ta’ala ‘anhu) berkata, “Ketika saya mengetahui apa kedudukan sayyid yang sebenarnya maka keesokan harinya begitu bangun pagi saya langsung menulis surat baiat.”

Selanjutnya beliau menulis, “Semoga ribuan berkat tercurah pada Masih Mau’ud a.s. dan keturunan beliau.”[3]

Hadhrat Muhammad Ali Sahib radhiyallaahu ta’ala ‘anhu putra Gane Khan Sahib menerangkan: “Saya saya baiat pada musim panas setelah wabah besar yang terjadi pada 1903-1904. Pertama ayah baiat, beliau adalah musi dan dimakamkan di Bahesyti Maqbarah.

Beliau melihat dalam mimpi bahwa beliau memasang jaring. Yakni jaring yang dipasang untuk berburu. Di dalamnya ada 3 ekor merpati terperangkap. Maulwi Bothe Khan Sahib saknah Syikar menta’birkan mimpi beliau sebagai berikut, ‘Ketiga putra Anda akan menjadi Ahmadi.’ Demikianlah kami tiga bersaudara setelah itu menjadi Ahmadi.”[4]

Hadhrat Maulwi Ali Syer Sahib Zerah radhiyAllahu ta’ala ‘anhu menerangkan, “Saya baiat pada tahun 1906. Sebabnya adalah saya biasa belajar Al-Qur’an Karim dari Maulwi Muhammad Ali Sahib, saudara Maulwi Jalaluddin Sahib mubaligh Yupi (nama tempat –pent). Dengan perantara Maulwi Jalaluddin Sahib, beliau (Maulwi Muhammad Ali sahib) tergerak dan beliau baiat. Kemudian Maulwi Muhammad Ali Sahib   mulai bertabligh kepada kami.

Saya mulai istikharah dan terus membaca wirid ‘yaa Khabiir akhbirnii’ selama 40 hari. Saya diberitahu bahwa ’penda’wa itu benar’.” Beliau berkata, “Ada banyak penda’wa, saya tidak tahu (kata-kata) ini untuk siapa. Maka pada malam kedua diberitahu lagi bahwa “orang yang menda’wakan diri itu benar.”

Selanjutnya beliau berkata, “Pada malam ketiga dikatakan ‘Orang yang menda’wakan diri di Qadian, dia benar’. Atas hal itu saya baiat, kemudian pada masa Khilafat Tsaniyah juga saya baiat berdasarkan bisyarat (kabar suka).  Yakni pada masa kekhalifahan Hadhrat Khalifatul Masih Tsani r.a. fitnah pun muncul. Pada masa itu juga ada kabar suka dari Allah Ta’ala, maka beliau baiat kepada Khalifah ke-2.[5]

Hadhrat Syeikh Muhammad Hayat Sahib Moga radhiyallaahu ta’ala ‘anhu menerangkan bahwa, “Saya baiat pada tahun 1903 di tangan Hadhrat Sahib. Maulwi Nur Muhammad Sahib dari Manggat yang bertabligh.” Syeikh Sahib menjelaskan, “Saya melihat dalam mimpi, saya berbaring di halaman rumah saya. Sebuah wujud yang seperti bulan lewat di depan saya dan bersamaan dengan itu saya diberitahu bahwa ini adalah Ahmad Qadiani (Ahmad dari Qadian).

Tetapi dalam mimpi itu pula saya berpikir bahwa, ‘Ini tidak benar.’ Dan dalam kondisi itu saya terbangun, dan saya menceritakan mimpi itu kepada Maulwi Nur Muhammad Sahib. Beliau berkata, ‘Pikiran yang muncul selain mimpi itu adalah dari setan.’ Atas hal itu saya baiat.”[6]

Hadhrat Abdur Rahim radhiyallaahu ta’ala ‘anhu boot maker dan Jilid saz (penjilid buku)[7], putra Mia Qadir Bakhsy Sahib menerangkan, “Pada tahun 1906 timbul keinginan dalam diri saya untuk pergi ke Qadian. Dari keluarga kami hanya paman saya Muhammad Ismail Sahib jilid saz (penjilid buku) — ayah Muhammad Abdullah Sahib jilid saz,  dan anak beliau, Muhammad Abdullah Sahib jilid saz yang Ahmadi juga.

Yang paling mukhlis diantara mereka adalah bibi saya, yakni ibunda dari Muhammad Abdullah Sahib. Dengan perantaraan beliau, paman kami dan Muhammad Abdullah Sahib datang ke Qadian, menjadi Ahmadi. Saya selalu belajar Al-Qur’an dari paman. Selalu mendengar pembicaraan beliau. Beliau biasa memberi permisalan, ‘Lihat, engkau bagiku seperti Abdullah. (yakni disayangi seperti itu juga). Nah, dengarlah.’

Beliau mengatakan bahwa orang-orang mengatakan hal-hal buruk tentang Hadhrat Mirza Sahib, tetapi tetap saja Jemaat berkembang. Sebagai permisalan, ingatlah bahwa sebanyak apa kotoran dan pupuk diberikan di ladang sebanyak itu pula panennya akan bagus.

Semakin orang-orang itu berkata kotor, sebegitu pula Jemaat semakin maju. Jadi ribuan syukur kepada Tuhan bahwa walau tinggal berteman dengan orang-orang yang buruk seperti itu kami menjadi hamba Masih Mau’ud a.s.

Paman dan bibi sangat menyintaiku. Mereka sering mengatakan kepadaku bahwa, ‘Kami pasti membawamu ke Qadian.’ Saya merasa senang. Suatu hari (paman) berkata, ‘Ongkos sejalan saya akan berikan, yang separuhnya lagi engkau harus membayarnya.” – yakni beliau menanamkan semangat pada anak itu, bahwa dia pasti pergi, tapi sekurang-kurangnya dia sendiri harus mengeluarkan ongkos.

Beliau berkata, “Setiap hari Jum’at pada hari kedelapan saya selalu mendapatkan 1 pesah.”  — beliau selalu mendapatkan 1 pesah sebagai uang saku. Di zaman itu 1  pesah pun nilainya besar. Beliau berkata, “Setiap bulan saya mengumpulkan 1 ana itu (1 ana adalah 4 pesah). Saya tidak ingat saya punya berapa ana. Pendeknya, seberapapun yang ada saya memberikannya kepada paman, dan semua ongkos sisanya paman yang membayar.”

 Ini juga untuk menanamkan rasa pada anak itu bahwa kalau ingin pergi bertemu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. maka sedikit banyak kamu harus memberikan pengorbanan, dan menanamkan kebiasaannya ke arah ini. Ini adalah jumlah yang sedikit, ongkos yang sebenarnya mungkin pamannyalah yang mengeluarkannya.

“Ringkasnya, pada tahun 1907, saya datang ke Qadian untuk melepas kepergian saudari Muhammad Abdullah Sahib yang bernama Fatimah, yang juga saudara sepersusuan saya. Setelah datang ke sana saya menjadi Muslim sejati dan masuk Jemaat. Syukur kepada Allah yang Karim”.[8]

Abdus Sattar Sahib radhiyallaahu ta’ala ‘anhu putra Abdullah Sahib berkata, “Saya bertanya kepada ayah saya, ‘Saya tidak mengerti mengenai masalah kewafatan Masih Nashiri (Al-Masih dari Nazaret/Nabi Isa), mengenai hidupnya beliau.” — yakni saya tidak tahu mengenai masalah kewafatan Isa as.. Ketika itu beliau belum Ahmadi, ayah beliau sudah Ahmadi. “Mengenai hidupnya Al-Masih    saya tahu, tetapi tentang kewafatan beliau  saya tidak tahu  bagaimana beliau wafat. Tolong jelaskan kepada saya.”

Maka ayah saya menceritakan satu mimpi beliau 8-10 bulan setelah baiat, ‘Saya melihat di tepi sungai Rawi didirikan dua kemah. Yang satu adalah kemah Masih Mau’ud a.s. dan yang kedua kemah Rasulullah s.a.w. saya masuk ke kemah Rasulullah s.a.w. dan bertanya, “Bagaimana orang suci yang menda’wakan diri sebagai Masih Mau’ud?” Beliau s.a.w. bersabda, “Orang ini sangat layak, sangat layak, sangat layak.” Tiga kali (Rasulullah s.a.w.) memberi isyarat dengan jari.

Setelah melihat kesaksian yang sempurna keyakinan saya menjadi sempurna bahwa penda’waan beliau, yakni Masih Mau’ud a.s. benar. Saya tidak memerlukan masalah hidup dan mati.’”  Yakni  Ayah berkata: Saya telah melihat sebuah mimpi. Mimpi yang sangat jelas. Karena itu saya tidak tahu apakah Hadhrat Isa a.s. hidup atau mati, saya tidak memerlukannya. Bagi saya pemandangan ini sudah cukup dan karena itu saya baiat[9]

Hadhrat Chaudri Nizamuddin Sahib radhiyallaahu ta’ala ‘anhu putra dari Mia Nabi Bakhsy Sahib berkata, “Pada saat nubuatan tentang terjadinya ta’un (pes) yang ketiga kali dari distrik Syikar Machya istri Maulwi Roldo Sahib dan 5 atau 6 wanita lainnya, karena takut pada ta’un, dalam kondisi sangat dingin dan hujan deras, datang ke hadapan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. untuk baiat.” Yakni ketika ta’un terjadi maka dari Syikar Machya 5-6 wanita, meskipun cuaca sangat dingin dan sedang hujan, karena takut pada ta’un, mereka datang. Mereka berkata bahwa setelah baiat barulah jiwa mereka terselamatkan. Maka mereka datang ke hadapan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam kondisi basah kehujanan.

Hadhrat Sahib[10], melihat keadaan mereka yang kesulitan dalam safar (perjalanan), dingin, dan lain-lain, menerima permohonan mereka dengan kasih-sayang, mengganti baju mereka yang basah dengan baju yang baru, yakni beliau menyiapkan pakaian mereka, dan untuk menghilangkan rasa dingin mereka beliau menyalakan api. Ketika kondisi mereka sudah membaik mereka memohon, ‘Hudhur, terimalah baiat hamba.’

Hudhur menerima permohonan baiat mereka dengan senang hati dan memasukkan mereka dalam kelompok orang-orang yang telah baiat. Istri Maulwi yang disebutkan di atas menyampaikan pesan ‘assalaamu ‘alaikum’ dari Nabi Karim s.a.w.   — yakni  diantara mereka yang istri Maulwi Sahib, cukup terpelajar. Setelah baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. beliau melaksanakan petunjuk Rasulullah s.a.w. yang terdapat dalam hadist, bahwa sampaikan salam kepada Masih-ku).

“Maka Hudhur sangat senang dan bersabda, ‘Pesan Nabi s.a.w. ini, sampai sekarang  tidak ada yang menyampaikannya. Orang-orang datang, baiat   lalu  pergi.” Kemudian para mubayi’in yang diterangkan di atas memohon, ‘Kami ingin mendapatkan khurdah (makanan yang sebagian telah dimakan Hudhur a.s.) dari Hudhur sebagai tabarruk.’ Dan mereka mendapatkannya.”[11]

Chaudry Haji Ayaz Khan Sahib yang juga menjadi muballigh Hungaria (Eropa Timur), dan negara lainnya. Beliau menerangkan mengenai ayah beliau Hadhrat Chaudry Karam Din sahib radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.

Apa yang sang ayah beritahukan kepada beliau, sang anak kemudian menceritakannya. Kata-kata Hadhrat Chaudry Karam Din Sahib r.a. adalah sebagai berikut: “Ketika (kabar) mengenai kedatangan Hadhrat Sahib ke Jhelum menjadi ramai, waktu itu ibu engkau, Husein Bibi. mengetahui dari Allah dalam mimpi, bahwa orang ini  yang akan datang ke Jhelum, dan orang-orang lainnya menentangnya, adalah orang benar. Karena itu pagi harinya ibu engkau berkata kepadaku, ‘Akan sangat beruntung jika engkau mengunjungi orang suci itu, yakni Hadhrat Masih Mau’ud a.s., dan baiat”

Demikianlah, satu hari sebelum Hadhrat Sahib sampai di Jhelum, di Khariya dan di stasiun-stasiun lain sudah banyak sekali orang berkumpul, sehingga tidak kelihatan ada cara untuk melihat Hudhur. Karena itu satu hari sebelum tanggalnya,” – yakni ayah Haji Ayaz Sahib mengatakan ini kepada beliau, ‘satu hari sebelum tanggalnya’ – “ibu engkau pada waktu sahur memasakkan roti dan memberikannya kepadaku, dan saya memakannya kemudian pergi ke Jhelum dengan berjalan kaki. Dengan sangat sulit masuk ke pagar kantor, sebab orang-orang mengajukan berbagai macam alasan karena ingin melihat wajah beberkat Hadhrat Sahib.

Di dekat bungalow Deputi Sahib, para maulwi yang jenggotnya sangat indah dipandang, menasehati dan mengatakan kepada orang-orang”  — yakni beberapa Maulwi/ulama Ahmadi berkata pada sekumpulan orang-orang Ahmadi — mereka berkata dalam bahasa Punjabi, Ao khalqate Khuda di ae o sacha mahdi o sacha masih o barhiya udhika wala masih, o a gya ae man lote wila je.’ – “Yakni, Hai makhluk Tuhan, Masih Mau’ud dan Mahdi Mas’ud yang benar itu, yang telah ditunggu sejak lama, dia telah datang. Sekarang waktunya, berimanlah kepadanya.”

Para Ahmadi Khariya, sudah pergi ke Jhelum beberapa hari sebelumnya, karena harus menyiapkan langgar (Khana; dapur umum) dan penjagaan. Ketika Hadhrat Sahib masuk ke kantor Deputi, maka 1-2 menit kemudian keluar dan disebarkanlah pengumuman, ‘Beliau sudah bebas [dalam waktu senggang].’ Kemudian beliau duduk di kereta [yang ditarik hewan, kuda atau sapi] dan pergi kearah stasiun kereta api.

Saya bingung bagaimana dapat mencapai Hudhur dan bagaimana saya bisa baiat. Padahal saya tidak tahu Hudhur pergi ke stasiun dari pinggir kota atau melalui jalan lain, tapi saya langsung lari dan sampai ke stasiun. Hudhur duduk di kereta api dan polisi menahan semua orang di luar stasiun.

Di balik pagar [stasisun kereta api], kemana pun melihat, sejauh mata memandang, hanya nampak manusia dan manusia. Ketika polisi ingin mengeluarkan kami dari peron, nampak oleh saya seorang railway pointsman.[12]

Seorang pegawai kereta api, namanya Abdullah, dan dia tinggal di distrik Bore janggal, dan terkenal dalam bermain kabedhi[13] dan kusyti (gulat). Ia seorang kenalan saya. Saya berkata kepadanya, ‘Lakukan sesuatu supaya polisi tidak mengeluarkanku [dari stasiun]. Aku ingin mendekat dan bertemu dengan Mirza Sahib.’ Maka Abdullah si petugas railway pointsman memberikan satu bendera rel kepada saya. Satu di tangannya dan satu di tangan saya, dan kami berdua mulai berkeliling seakan-akan saya juga petugas kereta api. Sekarang hanya tinggal beberapa orang dan yang lainnya ada di luar pagar.

Saya meletakkan bendera tersebut dan dan maju ke gerbong yang di dalamnya ada Hadhrat Sahib. Hadhrat Sahib mengeluarkan jam dari saku dan bersabda, ‘Masih ada 10 menit. Umumkanlah, yang ingin baiat, silahkan.”

 Saya sedang berada di depan jendela, di pijakan kaki, ketika kata baiat keluar dari mulut Hudhur, dan saya terus maju. Seorang Maulwi keluar mengumumkan untuk baiat, dan dia baru keluar ketika maju sedikit lagi dan menundukkan kepala. Maka Hadhrat Sahib memperhatikan saya dan bersabda”Anda) ingin baiat?” Saya menjawab, ’Ya, ya Tuan, saya ingin baiat.’ Maka Hudhur menggenggam tangan saya di tangan beberkat beliau dan mengajarkan Kalimat Syahadat dan banyak hal lain seperti saya tidak akan melakukan syirik, dan akan berkata benar, dan lain-lain, yang sekarang saya tidak ingat …… Tetapi ketika Hudhur menggenggam tangan saya, dan dari situ terdengar suara dari Maulwi Sahib untuk baiat, maka orang-orang yang ada di halaman stasiun atau di luar pagar, mereka langsung masuk melompati pagar dan dalam sekejap memenuhi peron.

Hudhur bersabda, “Letakkan tangan di lengannya” — Yakni, tangan beliau ada di tangan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa orang-orang lain yang ingin baiat, letakkan tangan mereka di lengan beliau) — Tetapi sebelumnya empat atau lima orang telah meletakkan tangan mereka di siku dan lengan saya, dan sekarang sudah penuh.

Hudhur bersabda, “Letakkan tangan di pundaknya, dan yang di belakangnya mereka meletakkan tangan di pundak dan lengan satu sama lain.” Jadi tangan saya ada di tangan Hadhrat Sahib dan sisanya di belakang, tidak tahu sampai mana, ada rangkaian tangan di pundak-pundak tiap-tiap orang. Hadhrat Sahib menggenggam tangan saya dengan kuat, dan mata beliau hampir terpejam. Pagri (sorban) Hudhur putih seperti salju. Di bawah pagri beliau tidak mengenakan kullah, tapi sesuatu seperti topi turki, dan jumbainya berwarna hitam menggantung keluar dari atas pagri, yang nampak indah.

Setelah mengambil baiat, Hudhur mengeluarkan jam, dan sambilnya melihatnya bersabda, “Satu menit lagi.  Teman-teman hendaknya menyingkir dari gerbong kereta, jangan sampai terjadi kecelakaan.”  — Ini bukan kata-kata asli Hadhrat Aqdas, tapi maksudnya demikian –. Maka orang-orang mundur sedikit dari kereta api, tetapi saya terus memegangi gagang pintu, dan kereta api bergerak dengan sangat perlahan, dan saya melihat Hudhur dengan pandangan penuh ghairat (bersemangat). Maka Hudhur sedikit membungkuk ke depan lalu menepuk punggung saya dan bersabda, “Baiklah, Khuda haafiz — Tuhan adalah Penjaga.” (Semoga Tuhan melindungi engkau), mendengar sabda Hudhur itu saya turun dari tempat pijakan kaki.

Demikianlah, apa lagi yang bisa saya sampaikan. Betapa ajaibnya warna dan pemandangan itu. Kalau ada makhluk (orang) sebanyak itu nampak pada hari Kiamat, maka wajar saja. Jika tidak, pohon dan bumi pun penuh dengan makhluk.  Pada waktu baiat usia ayah 52 tahun.[14]

Hadhrat Maula Dad Sahib menjelaskan, “Ini peristiwa sebelum tahun 1880, ketika umur saya sekitar 10-11 tahun. Saya melihat dalam mimpi, ada sekelompok besar orang dalam kondisi siap bersenjata dan seorang laki-laki di depan mereka. Dia juga siap bersenjata. Kepala dan lehernya juga, nampak terbuka. Di pinggang mereka terikat pathka[15]. Yang ada di depan nampak menonjol. Dia berkata (bahasa Persia), Haft zamin haft asman az khesy paidami kunam. – ‘Akulah pencipta tujuh langit da bumi.’ Orang-orang yang berada di belakangnya semuanya serempak satu suara, ‘az khesy paidami kunam, az khesy paidami kunam. – ‘Aku sendiri yang menciptakannya, Aku sendiri yang menciptakannya.’ Demikianlah mereka terus berkata seperti itu dan berayun-ayun. Mereka masuk ke dalam bangunan yang kuat.”

Pendeknya, ini adalah isyarat terciptanya langit dan bumi baru. Jadi, hal ini diperlihatkan kepadanya dalam mimpi.

Selanjutnya beliau menceritakan, “Pada tahun 1906 abang saya Abdul Hakim sakit panas (sakit demam) dia berobat pada seorang tabib maulwi yang merupakan penentang keras Jemaat, dan kakaknya (maulwi) Syamsuddin, adalah Ahmadi. Dia tinggal di desa Maodza Dodah daerah Sakar Syikar. Tabib maulwi itu menggunakan kata-kata kasar terhadap Hadhrat Aqdas. (yakni tidak menggunakan kata-kata yang baik). Saya tidak ada di situ. Tetapi kakak saya yang sakit, dia menghentikan tabibnya. Ketika saya datang dari luar maulwi itu pergi. Kakak berkata dengan nada sangat serius, ‘Saya tidak akan berobat kepada tabib ini. Dia telah bertindak lancang terhadap Hadhrat [Mirza Ghulam Ahmad] Sahib.’

Ringkasnya, maulwi itu kemudian menjadi mangsa penyakit ta’un di jalan. Kemudian saya membawa kakak ke Bhawalnagar. Di sana dua asisten sersan terus mengobatinya, tetapi akhirnya mengatakan, ‘Dia tidak bisa selamat. Hentikan pengobatan dan jangan sia-siakan uangmu.”   – yakni ta’un sedang menyebar dengan hebat, maulwi yang berkata buruk itu, menjadi mangsa ta’un di jalan dan meninggal.  – “Tetapi kakak yang sedang berobat, penyakitnya terus memburuk. Ketika saya membawanya ke Bhawalpur, di sana pun para dokter menjawab [tidak bisa –pent]).

Satu tahun kemudian saya menulis surat kepada Hadhrat Aqdas. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menulis sebagai jawaban, ‘Jangan khawatir. Allah Ta’ala bisa menghidupkan orang mati. Kami akan berdoa. Engkau juga berdoalah. Insya Allah ia akan sehat.” Hari kedua dari terkirimnya surat itu saya melihat bahwa demam saudara saya terus menghilang. Saya berkata, “Sekarang engkau sudah tidak demam.” Saya mendudukkannya, tetapi dia mengambil sandaran dan duduk sendiri. Maka saudara saya berkata, ‘Dada saya yang terbakar sekarang sudah dingin.’ Saya berkata, ‘Saya menulis surat kepada Hadhrat Aqdas. Hudhur menulis sebagai jawaban bahwa “kami akan berdoa”. Allah Ta’ala akan memberi kesembuhan.’

Begitu mendengarnya dia langsung berkata dalam bahasa Punjabi, Oho hun me nehi marda. Masih ne murdah zindah kita ae.’ –“Sekarang saya tidak akan mati. Al-Masih telah menghidupkan orang mati.” Setelah itu dia menjadi Ahmadi, yakni baiat, kemudian sehat total. Sebelumnya bukan Ahmadi, tetapi tidak suka mendengar kata-kata yang menentang Hadhrat Masih Mau’ud a.s.[16]

Hadhrat Sufi Nabi Bakhsy Sahib menerangkan, “Ketika Hudhur datang ke mesjid dan saya melihat wajah beberkat Hudhur, maka saya mengenali Hudhur dan langsung dalam hati saya timbul getaran seperti listrik bahwa inilah wujud beberkat yang saya lihat dalam mimpi di hari-hari saya sebagai pelajar yakni pada September 1882. Hadhrat Sahib pada hari itu mengenakan pakaian yang beliau kenakan ketika bertemu saya dalam mimpi.”[17]

Hadhrat Maulwi Imamuddin Sahib Faidh bin Maulana Badruddin Sahib berkata, “Seluruh petunjuk untuk masuk kedalam Jemaat Ahmadiyah adalah dari rukya shadiqah (mimpi yang benar) yang datang kepada saya setelah berkali-kali melakukan shalat istikharah yang disunahkan. Suatu ketika untuk pertama kalinya saya meminta izin kepada pir sahib (guru spiritualnya) di Batala dan datang hanya untuk melihat Qadian. Pada waktu bertemu dengan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. saya bertanya, ‘Wahyu adalah khusus untuk para nabi. Bagaimana (bisa) anda menda’wakan hal ini?’

Beliau bersabda, “Lebah madu pun memperoleh wahyu, dan Sayyid Abdul Qadir serta mujaddid Alf Tsani, Syeikh Ahmad Sarhindi juga berkata bahwa wahyu dan ilham mukasyafat Ilahiah juga diperoleh para wali Allah. “ Saya berkata, ‘Saya tidak datang untuk berdebat. Saya akan yakin pada kebenaran Anda dengan melihat mimpi yang benar, atau ilham, atau berjumpa dengan Rasulullah s.a.w. seperti para sufi yang mulia.’ Yakni, “saya tidak ingin berdebat. Jika datang mimpi yang benar, atau ilham, atau perjumpaan dengan Rasulullah s.a.w. maka saya akan yakin. Karena itu saya datang. Anda perlihatkanlah ini kepada saya”.

Beliau bersabda, “Istikharahlah Anda.” Saya berkata, ‘Istikharah yang seperti apa?’ Beliau bersabda, ‘Tanyakan kebenaran saya kepada Allah Ta’ala sebagaimana telah dikabarkan oleh Rasulullah s.a.w..’ Saya bertanya, ‘Bagaimana caranya?’ Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ‘Istikharahlah dahulu.’ Dua hal ini yang membuat saya yakin bahwa orang ini bukan penipu.

Ringkasnya, setelah istikharah masnunah (disunnahkan) yang ia lakukan selama empat bulan (beliau melakukan istikharah selama 4 bulan. Dan setelah melakukan istikharah yang disunnahkan ini)

Beliau berkata, “Saya melihat ru-ya bahwa saya datang ke sebuah mesjid yang seperti mesjid Mubarak. Setelah shalat Subuh Hadhrat Sahib datang dan duduk di beranda dengan kondisi sangat bercahaya yang beberkat. Saya berkata, ‘Saya mencari tahu kebenaran Anda” — yakni, “Saya ingin bertanya bagaimana penda’waan anda bisa benar” —  Dikatakan, “Kepada Anda  akan datang suara yang sangat agung dalam bahasa Punjabi ini ‘Jis ona ti use ageya’ – ‘Telah datang seseorang yang dijanjikan akan datang itu.” Beliau berkata, “Suara ini masuk ke dalam hati saya, dan keyakinan saya menjadi sempurna bahwa orang yang harus datang, yakni Masih Mau’ud, Mahdi Mau’ud, adalah Hadhrat Mirza Sahib inilah. Di tengah istikharah (yakni selama masa istikharah) banyak sekali memanjatkan doa dengan penuh kerendahan. Begitu juga saya memohon bahwa ‘Ya Allah! Jika saya tidak tahu dengan pasti, maka pada hari Kiamat jika saya ditanya maka saya akan mengatakan, “Di dunia saya telah berdoa dengan penuh kerendahan hati, Apakah ini Isa Mahdi, maka Ya Allah, beritahu saya. Kenapa Engkau tidak memberitahukannya?”

Kemudian saya mulai menulis surat dengan Hadhrat Sahib. Dalam jawaban beliau kebanyakan menekankan untuk mengerjakan shalat dengan kesungguhan hati.“ —  yakni kerjakanlah shalat dengan sangat khusyu’. Kebanyakan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menekankan hal ini – “Sedangkan keberatan–keberatan yang dilakukan oleh para penentang, jawabannya diberikan lewat pena Hadhrat Abdul Karim sahib r.a..

Sampai di sini saya bertanya [kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s.], ‘Saya sebelumya sudah baiat kepada Hadhrat Khwajah Syamsuddin almarhum dari desa Siyal Syarif yang bermazhab Chisyti. Kemudian [saya baiat] kepada murid dari Pir teman saya Pir Dzuhur Husein Sahib almarhum yang tinggal di Batala, yakni Majaz Khalifah Syed Haedar Syah marhum. Apakah sekarang baiat perlu?’ Beliau bersabda, ‘Itu adalah baiat yang lain. Inilah baiat yang merupakan satu keharusan, yang sekarang akan kamu lakukan.’ Atas hal itu saya baiat di tangan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.[18]

Inilah beberapa riwayat yang telah saya terangkan.

Para Ahmadi yang Wafat: Almarhum Mukaram-o-Muhtaram Fadhlur Rahman Sahib

Saat ini saya juga akan menyampaikan mengenai beberapa almarhum yang salah satunya Mukaram-o-Muhtaram Fadhlur Rahman Sahib, yang merupakan Amir distrik Rawalpindhi. Beliau wafat pada 29 Oktober 2012 di usia 83 tahun setelah sakit sebentar. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Pada hari-hari itu beliau ada di sini (UK/Inggris), menghadiri Jalsah. Setelah itu saya berkata kepada beliau, ‘Tinggallah agak lama.” Sakit beliau sudah berlangsung cukup lama, tapi masya Allah, pikiran beliau sangat siaga dan beliau mengurus tanggungjawab-tanggungjawab Amir dengan penuh semangat.

Beliau ini adalah putra Mukaram Maulwi Abdul Ghafur Sahib, yang baiat di zaman Khilafat Tsaniah. Tapi Mukaram Fadhlur Rahman Sahib adalah Ahmadi keturunan. Pendidikan awal beliau peroleh dari Parah Canar. Beliau juga lulus ujian midle school dan metrik dengan terhormat. Kemudian pada tahun 1948 masuk Islamiah College Pesyawar. Tahun 50-51 lulus ujian AFC. Setelah itu masuk ke Punjab College of Engineering And Technology di Lahore, dan pada 1953-54 lulus ujian BSC mechanical engineering dan SL engineering. Beliau mendapatkan kedudukan tinggi dalam berbagai pekerjaan dan institusi swasta.

Semasa masih menuntut ilmu di enginering college Hadhrat Khalifatul Masih Tsani radhiyallahu ta’ala ‘anhu menetapkan beliau sebagai ketua Ahmadiyah Intercollege Association. Beliau berkata bahwa suatu kali bersama siswa-siswa ghair Ahmadi beliau mengatur suatu pertemuan dengan Hadhrat Khalifatul Masih Tsani r.a.. Ketika dihubungi, Hadhrat Khalifatul masih Tsani r.a. bersabda, ‘Saya sangat sibuk.’ Tetapi beliau berkata, ‘Kami sudah mengumumkannya.’ Atas hal itu Hadhrat Khalifatul Masih Tsani bersabda, ‘Baiklah, saya akan datang ke Lahore,’ dan bersabda kepadanya, ‘Aturlah.’ Beliau mengaturnya. Amir Jemaat Lahore tahu kemudian bahwa Hadhrat Khalifatul Masih Tsani datang ke Lahore.

Pendeknya, beliau pada waktu itu terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan Jemaat. Beliau tinggal di Hayderabad sebagai pekerja Jemaat. Selama beliau tinggal di sana dan pada zaman Hadhrat Khalifatul Masih Tsalits, di Khudamul Ahmadiyah beliau menjadi Qaid Wilayah Khudamul Ahmadiyah, kemudian juga berkhidmat sebagi Qadi Distrik Hayderabad.

 Selain itu beliau juga menjadi ketua halqah, Sekretaris Islah-o-irsyad, naib Amir wilayah dan pada 1998 Hadhrat Khalifatul Masih ar-Rabi’ (IV) menetapkannya sebagai Amir kota dan wilayah Rawalpindhi. Beliau sangat menyintai Khilafat dan Nizam. Dalam setiap pertemuan isi pembicaraan beliau adalah perstiwa-peristiwa Jemaat, kejadian-kejadian dalam kehidupan sahabat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan para khalifah Ahmadiyah.

Beliau selalu menekankan kepada anak-anak beliau mengenai ketaatan kepada Khilafat dan hubungan yang kuat dengan Khalifah-e-Waqt. Beliau orang yang sangat banyak berdoa. Anak-anak (beliau) berkata, “Setiap hari, pagi sebelum keluar dari rumah beliau mendudukkan semuanya dan menyuruh mereka berdoa, dan beliau menanamkan kebiasaan ini sejak awal. Beberapa hari yang lalu ketika beliau dirawat di rumah sakit, maka di sana juga ketika (anak-anak) keluar karena beliau mengantuk, maka beliau berkata pada anak-anak, ‘Sekarang berdoalah.’”

Dalam keluarga beliau selain istri, ada 2 putri dan 4 putra. Semua putra beliau di luar negeri, dan putri beliau pun di luar negeri. Ketika kakak perempuan beliau wafat, anak-anaknya masih kecil. Beliau merawat mereka. Bahkan salah seorang putrinya dua kali mengalami kecelakaan parah, beliau sangat memperhatikannya.

Beliau menikahkan keponakan perempuan beliau di Nawabsyah atau Sangghar. Di sana suami keponakan beliau disyahidkan [ditembak mati para penentang Jemaat]. Beliau kemudian menikahkannya dengan saudaranya [saudara suaminya yang disyahidkan], Pir Habib sahib. Dia [suaminya di pernikahan kedua] setelah beberapa lama disyahidkan pula. Demikianlah beliau dua kali terpaksa melihat keponakan beliau menjadi janda, dan keduanya menjadi janda syuhada.

Mengenai beliau, Tn. Mubarak Ahmad, Qaim Maqam Amir [Pejabat tugas-tugas keamiran, Amir sementara sampai ditetapkan Amir baru] di Rawalpindhi menulis, “Setiap anggota Jemaat, besar maupun kecil, laki-laki maupun perempuan, merasakan kasih sayang beliau yang tak terhingga secara pribadi. Allah Ta’ala telah menganugerahkan kepada beliau kemampuan kepemimpinan yang tidak terhitung. Akibat kemampuan karunia Tuhan itu, dalam masa kepemimpinan beliau sebagai Amir, yang dimulai sejak November 1998, Jemaat Rawalpindhi meraih kemajuan yang menonjol dalam segala bidang, dari segi keuangan dan segi pribadi anggota Jemaat. Dan diperhitungkannya Rawalpindhi sebagai Jemaat yang bagus di tingkat nasional [negara Pakistan], dimulai di masa beliau.

Secara total masa pengkhidmatan beliau mencapai ½ abad atau 50 tahun, yang dimulai dari masa Khilafat Tsaniyah. Beliau adalah anggota berbagai komite markaz. Di masa jabatan beliau sebagai Amir, Tarikh (sejarah) Ahmadiyah Rawalpindhi ditulis dan diterbitkan. Untuk itu beliau, meskipun usia tua dan ada berbagai uzur, selama berhari-hari, berjam-jam duduk membaca, dan mendengarkan dokumen-dokumen sejarah satu persatu kata demi kata, kemudian memberikan persetujuan.

Demikian pula dalam kesempatan Jubilee Seabad Khilafat, Jemaat Ahmadiyah Rawalpindhi memperoleh taufik untuk menyebarkan souvenir Khilafat Jubilee yang indah dan unik. Semua pujian untuk itu juga menjadi hak beliau karena dalam pekerjaan penting itu beliau memiliki ketertarikan secara pribadi dan kontributor [menyumbang] isinya, beliau sendiri menelepon orang-orang terhormat Jemaat laki-laki dan perempuan, lalu menuliskan artikelnya.”

Seperti yang telah saya beritahukan pada tahun 1998, Hadhrat Khalifatul Masih Ar-Rabi’ menetapkan beliau sebagai Amir Jemaat Rawalpindhi. Sebelum itu selama ± 5½ tahun beliau juga mendapat taufik untuk berkhidmat sebagai naib Amir. Pergantian Amir inipun punya dasar. Waktu itu saya (Hudhur) menjadi Nazir A’la. Dan berdasarkan pengetahuan saya beliau bekerja bersama Hadhrat Khalifatul Masih Ar-Rabi’ sebagai Qaid Khudamul Ahmadiyah sementara Hadhrat Khalifatul Masih Ar-Rabi’ menjadi Sadr Khudamul Ahmadiyah.

Hadhrat Khalifatul Masih Ar-Rabi’ menulis kepada saya, “Ajukan nama untuk Amir distrik dan untuk Amir kota Pindhi. Waktu itu tidak banyak nama yang ada di hadapan saya,” maka saya menulis satu nama, beliau, yang segera disetujui oleh Hadhrat Khalifatul Masih Ar-Rabi’, dan beliau bersabda, ‘Ya, saya tahu beliau. Beliau dari segi nizam melakukan pekerjaan yang sangat bagus begitu pula dari segi keikhlasan dan kesetiaan sangat bagus. Insya Allah Ta’ala beliau akan menjalankan pekerjaan.’

Dengan karunia Allah beliau kemudian menjalankan pekerjaan dengan baik. Sampai hari-hari terakhir kehidupan beliau menjalankan tanggungjawab-tanggungjawab yang diberikan dengan cara yang sangat baik. Beliau adalah wujud yang menyintai dan mengorbankan jiwa untuk Khilafat, dan langsung berjalan dengan isyarat (khalifah). Beliau menganggapnya sebagai keberuntungan, dan bukan hanya dalam pekerjaan-pekerjaan Jemaat, tetapi saya juga melihatnya dalam hal-hal pribadi.

Ketika beliau menghadiri Jalsah di sini (Inggris), saya berkata kepada beliau, ‘Tinggallah di sini beberapa lama.” Tetapi dari ekspresi wajah istri beliau saya merasa bahwa beliau tidak ingin tinggal di sini. Tetapi beliau dengan ceria berkata, ‘Selama Tuan katakan, Insya Allah kami akan tinggal.” Mungkin di sinilah beliau akan wafat dan jenazahnya dishalatkan, karena itu Allah Ta’ala telah mengatur hal ini. Sebentar lagi Insya Allah saya juga akan menshalatkan jenazah beliau.

Beliau memiliki hubungan dekat dengan Tuan Dokter Nuri. Beliau menulis, “Saya memiliki berbagai hubungan dengan beliau. Saya sahabat dekat dan juga sebagai dokter beliau.” Dokter Sahib juga bekerja dengan beliau sebagai naib Amir beliau. Beliau berkata, “Saya telah melihat beliau dari segala segi. Fadhlur Rahman ini adalah pemilik keunggulan besar. Beliau orang yang sangat takut kepada Allah Ta’ala, dalam segala kondisi selalu bertawakal kepada-Nya. Beliau memiliki kesetiaan, kecintaan, dan ketaatan sempurna kepada Khilafat.

Kapan saja disebutkan tentang Khalifah-e-Waqt, maka suara beliau menjadi bergetar dan airmata mengalir dari mata beliau. Kesenangan beliau hanya dan hanya dalam pengkhidmatan Jemaat. Beliau menderita sakit sangat keras dan menggunakan rail chair (kursi roda), tetapi meskipun demikian beliau selalu bekerja keras untuk pengkhidmatan agama. Dua tiga tahun terakhir beliau menggunakan rail chair.

Beliau tidak pernah mengeluh dan tidak pernah berwajah muram. Beliau sangat memperhatikan orang-orang miskin, orang yang membutuhkan, anak-anak yatim, para janda, dan pelajar yang berhak (kekurangan). Beliau selalu menolong dan membimbing keluarga dekatnya, karib kerabatnya dari berbagai keadaan yang mengkhawatirkan dan kesulitan keuangan.”

Qaid Khudamul Ahmadiyah distrik Rawalpindhi menulis, “Muhtaram Amir Sahib adalah seseorang yang memiliki sifat unik. Beliau sangat ramah, sangat menghargai orang-orang miskin, selalu ridha dengan takdir (Tuhan), menyintai Khilafat sepenuh hati, orang yang sabar dan suka bersyukur. Gambaran sejati mengutamakan agama di atas dunia. Hamba mendapat kesempatan untuk sangat dekat dengan muhtaram Amir Sahib. Kasih sayang dan kecintaan beliau melebihi seorang ayah.”

 Ini adalah kebiasaan, yang harus dimiliki setiap tempat, semua Amir, nizam sadr Khudamul Ahmadiyah, dan semua nizam lainnya; dan setiap qaid, para qaid dan sadr hendaknya menanamkan kebiasaan ini pada para pemuda.

Beliau menulis, “Hamba juga, sejauh yang hamba mampu seperti seorang anak, mendapat taufik untuk mengkhidmati Jemaat,” dibawah perlindungan beliau. Saya telah melihat semua keunggulan beliau yang diterangkan ini dalam diri beliau, sedikitpun tidak melebih-lebihkan, bahkan mungkin ada kekurangan.”

Qaid Sahib menulis, ‘Allah Ta’ala banyak menganugerahkan kemampuan kepemimpinan sebagai Qaid dan Amir kepada Amir Sahib. Beliau mempunyai metode dan kemampuan untuk mempekerjakan semua pengurus dan pekerja sesuai keahlian, kemampuan dan kekuatan mereka. Setiap pengurus, bahkan setiap orang Jemaat merasa senang menjalankan setiap perintah dan petunjuk beliau, dan menganggapnya sebagai kehormatan bagi mereka. Kasih sayang beliau kepada Khudamul Ahmadiyah juga melebihi seorang ayah. Hamba tidak ragu mengatakan hal ini, bahwa Khudamul Ahmadiyah Rawalpindhi yang dalam 10 tahun terakhir mengalami kemajuan luar biasa dan menjadi kuat, sebagian besarnya adalah dari (usaha) muhtaram Amir Sahib.”

Kemudian menulis, “Beliau menyintai warga Jemaat dan sangat memikirkan kesulitan mereka. Setelah (peristiwa) 28 Mei Amir Sahib memberikan cukup banyak pekerjaan kepada Khudamul Ahmadiyah Rawalpindhi, yang didalamnya juga termasuk pekerjaan konstruksi (pembangunan) dan security (keamanan). [Pada tanggal 28 Mei 2010, sejumlah teroris bersenjata menyerbu dan menembaki para jemaah salat Jumat di Lahore sehingga mensyahidkan puluhan Ahmadi].

Dalam masalah-masalah ini banyak sekali pengeluaran, tetapi Amir Sahib tidak pernah mempedulikannya. Suatu kali seorang Ahmadi pengurus Rawalpindhi mengungkapkan kekhawatirannya, ‘Amir Sahib, uang yang dikeluarkan banyak sekali.’ Atas hal itu Amir Sahib berkata, ‘Dibandingkan satu jiwa seorang Ahmadi, ratusan ribu rupee pun tidak ada artinya. Jika ada seorang Ahmadi yang meninggal [karena penyerangan penentang disebabkan pengamanan yang kurang], maka jawaban apa yang akan kita berikan kepada Khalifah-e-Waqt, bahwa karena [sayang kepada uang] beberapa ratus ribu rupee kita tidak menyiapkan pengaturan [keamanan seperti] ini. Kondisi kota Rawalpindhi rawan, saat itu shalat Jumat mulai dilaksanakan di halqah (kelompok).”

 Di sana tidak boleh melaksanakan shalat Jumat di mesjid, jadi shalat Jumat dilaksanakan di halqah-halqah. Di kota Pindhi kondisi juga cukup tegang. Semoga Allah Ta’ala memberi karunia. Berdoa jugalah untuk mereka semoga kondisi di sana membaik.

Selanjutnya berkata, “Beliau merasa sangat berat atas hal itu bahwa rabtah/hubungan komunikasi dengan dengan (anggota) Jemaat tidak berjalan. Jika Jemaat berkumpul di suatu tempat maka Amir Jemaat sedikit banyak mendapatkan kesempatan untuk memberi petunjuk kepada Jemaat, membimbing, dan mendengarkan permasalahan-permasalahan mereka. Tetapi di sana bahkan tidak diizinkan untuk duduk di kantor. Semuanya dikunci [disegel aparat].

Hamba (saya) mendapat perintah, “Buatlah pengaturan di halqah dan ajak mereka shalat Jumat.” Amir Sahib biasa berkata kepada qaid, “Karena sekarang tidak bisa berkumpul di satu tempat, maka Fadhlur Rahman Sahib sebagai Amir akan pergi ke berbagai tempat supaya rabtah dengan orang-orang tetap berjalan”

Tetapi saya (Qaid Khuddam) berusaha tidak membawa beliau ke tempat yang harus naik tangga, karena lutut beliau sakit. Suatu kali beliau sendiri berkata, ‘Buatlah program di Baitul Hamd, Murrey Road.’ Saya menyampaikan, ‘Amir Sahib, di sana banyak sekali tangga, dan anda akan sangat kesulitan.’ Tetapi Amir Sahib berkata, ‘Tidak, tidak akan terjadi apa-apa. Untuk bertemu teman Jemaat, waktu sangat banyak.’ Kemudian, beliau juga sangat menghormati pengurus markaz.”

Para Amir hendaknya juga selalu ingat hal ini, bahwa hormatilah pengurus Markaz. Meskipun tidak ada yang memintanya, dan hendaknya tidak ada pemikiran di dalam hati seorang pengurus markaz untuk [harus] mendapat penghormatan. Tetapi  adalah pekerjaan Jemaat, tiap individu, pengurus Jemaat, para Amir, dll. untuk memperhatikan hal itu [menghormati pengurus yang diatasnya, dari Markaz].

Beliau (Qaid Khuddam) berkata, “Suatu kali Tuan Sadr Khudamul Ahmadiyah Pindhi datang. Maka beliau (Amir Sahib) berkata, ‘Saya mesti bertemu (dengan anda).’ Sadr Sahib berkata, ‘Saya akan datang kepada anda, beritahu saya waktunya.’ Maka beliau berkata, ‘Tidak, anda tidak perlu datang. Anda tetap dimana anda menginap, saya sendiri akan datang untuk menemui anda.’” Kemudian ketika datang ke sini, beliau sangat memikirkan Jemaat Pindhi. Beliau telah menjalin rabtah (berkomunikasi) terus-menerus dengan Qaid Sahib, dan terus memberi bimbingan kepadanya. Qaid Sahib berkata, “Beliau bertanya kepada saya mengenai Tahrik Jadid. ‘Tahun (perjanjian) akan berakhir, bagaimana posisinya?’”

Sekarang beliau sudah wafat, tapi dengan karunia Allah Ta’ala, posisi mereka (Jemaat Pindi) bagus. Pengumumannya Insya Allah akan saya (Hudhur) sampaikan Jumat depan. Jemaat Pindhi mengalami cukup banyak kemajuan dalam hal ini. Masya Allah.

Almarhum Mukarram Muhsin Mahmud Sahib

Kewafatan kedua yang ingin saya umumkan adalah Mukaram Muhsin Mahmud Sahib. Beliau adalah Ahmadi Afro-Amerika (warga Amerika Serikat keturunan Afrika). Beliau wafat dalam usia 84 tahun pada tanggal 19 Oktober. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Beliau baiat dan masuk Islam Ahmadiyah pada tahun 1958, dan setelah menerima Ahmadiyah beliau harus menghadapi banyak sekali kesulitan. Beliau menahannya dengan sangat istiqamah. Beliau juga sekretaris Tabligh juga. Setelah itu beliau mendapat taufik untuk berkhidmat sebagai Sadr (Ketua) Jemaat New York selama 15 tahun lebih.

Beliau sangat gemar bertabligh. Kapanpun stan tabligh didirikan atau ada program pembagian literatur, maka beliau dengan senang ikut serta didalamnya. Bahkan menyertai sehari penuh. Orang yang menegakkan puasa dan shalat, dawam tahajjud, sangat rendah hati, sederhana, sangat pengasih, murah hati, pendiam, murah senyum, memiliki akhlak sangat luhur, toleran/sabar, menghargai orang miskin, baik, mutaki dan mukhlis.

Orang yang sangat menyintai Khilafat dan langsung mengamalkan setiap isyarat Khalifah-e-Waqt, taat pada nizam Jemaat. Sangat menghormati dan menyintai Mubaligh Jemaat. Selalu hadir dalam setiap rapat Jemaat dan dan mendengarkan seluruh prosesnya dengan diam. Ketika dimintai pendapat maka selalu memberikan saran yang bermanfaat dan tepat. Setiap tahun selalu beliau menanam bunga dan pohon di Baitul Zafar New York, kemudian merawatnya sepanjang tahun. Beliau melaksanakan kebersihan dan keindahan mesjid, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya dan menganggapnya sebagai keberuntungan.

Selalu terdepan dalam pengorbanan harta. Selalu memberikan pengorbanan lebih dari kemampuan beliau. Pada tahun 2005 ketika saya menggalakkan gerakan Alwasiyat, maka ketika beliau diminta oleh Jemaat untuk ikut serta sebagai penduduk lokal, beliau bertanya, ‘Apa kewajibannya (sebagai musi)?’ beliau diberitahu besarnya pengorbanan 10%. Maka beliau berkata, ‘Sebelumnya pun saya sudah membayar chandah penghasilan saya 20-25%.’ Tapi beliau masih menganggapnya belum cukup. Karena ingin mentaati gerakan dari Khalifah-e-Waqt, maka beliau langsung ikut dalam Nizam Al-Wasiyat. Meskipun sudah pensiun, dan hidup dari uang pensiun, tetapi chandah beliau, di Jemaat beliau biasa yang paling banyak. Lebih banyak dari sebagian orang yang bekerja, karena beliau membayar chandah sesuai ketentuan.

Semoga Allah mengampuni kedua almarhum, memberikan tempat di surga keridhaan-Nya, menganugerahkan derajat yang tinggi. Dalam keluarga Ahmadi Afro-Amerika ini, Mahmud Sahib ini, selain istri, beliau mempunyai 4 anak angkat. Beliau tidak punya anak kandung. Semoga Allah Ta’ala juga menguatkan hubungan mereka dengan Jemaat, dan memberikan taufik untuk selalu melanjutkan kebaikan-kebaikan beliau, yang menjadi kewajiban mereka. Demikian juga berdoalah juga untuk anak-anak Fadhlur Rahman Sahib. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada mereka supaya menjadi orang yang selalu meneruskan kebaikan-kebaikan beliau, dan terus punya hubungan keikhlasan dan kesetiaan sejati kepada Khilafat.

Saya akan mengimami shalat jenazah kedua orang ini Insya Allah setelah shalat Jumat. Satu jenazah, Fadhlur Rahman Sahib, ada di sini. Untuk itu saya akan pergi keluar. Saya akan mengerjakan shalat jenazah di luar [masjid]. Saudara-saudara tetaplah di dalam mesjid ini dan laksanakanlah shalat jenazah di sini.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Pewaris spiritual seorang mursyid. Biasa dipilih dari murid-murid terkemuka. Kedudukan ini tidak bersifat turun-temurun.

[3] Register Riwayat Sahabat Jilid 6 hal. 17-20.

[4] Register Riwayat Sahabat, jilid 1, hal. 190

[5] Register Riwayat Sahabat jilid 1 hal. 219

[6] Register Riwayat Sahabat jilid 1 hal. 220

[7]Nampaknya pada zaman itu orang biasa menyebutkan nama beserta dengan pekerjaannya, pent-

[8]Register Riwayat Sahabat jilid 6, hal 167-168

[9] Register Riwayat Sahabat Jilid 6, hal 178

[10] Panggilan Hadhrat Masih Mau’ud as.

[11] Register Riwayat Sahabat jilid 6, hal. 232-233

[12] Orang yang bertugas mengatur rel supaya kereta bisa pindah dari satu jalur ke jalur lain.

[13] Sejenis permainan khas India seperti prisoner’s base, gulat.

[14] Register Riwayat Sahabat jlid 2 hal. 80-83

[15] Semacam pakaian yang diikatkan di pinggang.

[16] Register Riwayat Sahabat jilid 2, hal 84-85

[17] Register Riwayat Sahabat jilid 5 hal 42

[18] Register Riwayat Sahabat jilid 6 hal 25-27