Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 1 Ihsan 1391 HS/Juni 2012

Di Karlsruhe, Jerman.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Alhamdulillah hari ini Jalsah Salanah Jemaat Jerman sedang dimulai. Pada tahun ini Jemaat Jerman telah berusaha menutupi kekurangan-kekurangan yang dialami pada Jalsah Salanah tahun yang lalu. Yang pertama, mengenai sound system sekarang sudah jauh lebih baik. Oleh karena pada tahun yang lalu Jalsah Salanah baru pertama kali diadakan di tempat ini maka biasa sering terjadi kekurangan-kekurangan. Tidak perlu ada kekhawatiran dan siapapun jangan melakukan sesuatu keberatan atau kritikan apapun terhadap Ketua penyelenggara. Namun dari satu sisi boleh saja diajukan suatu keluhan terhadap Nizam pelaksana jika mereka tidak memberi perhatian terhadap kekurangan-kekurangan itu dan tidak berusaha untuk memperbaikinya. Akan tetapi sebagaimana telah saya katakan bahwa setelah Panitia pelaksana memperhatikan kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan di masa lalu mereka telah berusaha menjauhkan kemudian memperbaikinya. Demikian juga mengenai perbelanjaan telah terjadi salah perkiraan disebabkan belum biasa menggunakan tempat baru ini sehingga melampaui batas. Sekarang Panitia pelaksana telah berusaha menguranginya dari perbelanjaan tahun lalu. Sekarang juga dapat dipastikan masih terdapat persediaan yang cukup besar dan harus diperhatikan oleh Panitia. Bangsa yang maju selalu mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalaman masa lalu baik dari pengalaman-pengalaman sendiri ataupun dari pengalaman-pengalaman orang lain dan setiap ada perkara yang baik mereka selalu berusaha menerapkannya. Seperti itulah Junjungan kita Hadhrat Muhammad Rasulullah saw bersabda, “Setiap perkara yang baik dan hikmah adalah harta milik orang mu’min yang hilang. Di manapun ia menjumpainya ia harus mengambilnya.” [2] Sebab di situlah tersembunyi rahasia kemajuan rohani dan materi kita. Pada tahun lalu ketika saya datang ke Jerman saya kemukakan hadis tersebut kepada Mayor Berlin (Walikota Berlin) maka mendengar itu beliau serempak berkata, “Jika memang Tuan dan Jemaat Tuan memiliki ajaran dan amalan seperti itu maka Tuan akan segera dapat menghimpun dunia kedalam Jemaat Tuan atau akan berjaya memenangkan dunia.” Kurang-lebih demikianlah maksud daripada kata-kata beliau itu dan insya Allah memang apa yang dikatakan oleh beliau itu akan terjadi.

Pendek kata, jika kita adalah kaum yang akan maju, dan memang kita akan maju, maka kita tidak boleh menutup mata terhadap kelemahan-kelemahan pribadi kita bahkan sebaliknya harus selalu ingat dan berusaha untuk memperbaikinya dan selanjutnya target reformasi kita bukan hanya dari segi duniawi saja. Kita menda’wakan diri telah menerima kebenaran Imam Zaman, Hadhrat Masih Mau’ud as yang menjadi pencinta terbesar di zaman ini terhadap Hadhrat Rasulullah saw diatas muka bumi. Yang telah datang untuk mengingatkan kita terhadap pelaksanaan huquuqullah dan huquuqul ‘ibaad. Maka semua perkara itu menghendaki agar kita berjiwa taqwa dan memandang setiap benda dan setiap perkara dengan luapan rasa taqwa dan berusaha menanamkan rasa gentar dan takut terhadap Allah Ta’ala didalam kalbu kita.

Agar kita berusaha untuk memenuhi janji baiat yang kita lakukan ditangan Hadhrat Masih Mau’ud as Maka kita harus menjauhkan semua kelemahan-kelemahan kita sambil ingat selalu terhadap semua perkara itu. Kita harus betul-betul berusaha untuk itu. Dan usaha kita bukan hanya ditujukan terhadap perbaikan kelemahan-kelemahan dibidang management atau pengelolaan saja namun terhadap perbaikan kelemahan-kelemahan pribadi juga. Dan jika setiap peserta Jalsah mempunyai asas tujuan seperti itu, setiap laki-laki dan perempuan menegakkan angan-angan dan pikiran mereka setinggi-tingginya dan panitya pengelola juga menaruh perhatian sepenuhnya terhadap kewajiban-kewajiban mereka, dalam kata lain, berkhidmat dengan penuh taqwa, maka akan banyak sekali faedah diraih oleh semua peserta Jalsah dan juga oleh para petugas dan semua karyawan Jalsah. Langkah Jemaat pun akan terus semakin cepat maju, insya Allah Ta’ala.

Ingatlah selalu kepada penjelasan tentang maksud dan tujuan Jalsah Salanah dimana Hadhrat Masih Mau’ud as mengarahkan perhatian kearah ibadah, tabligh, taqwa dan tujuan lainnya di sana beliau mengingatkan secara khusus kearah pelaksanaan huquuqul ‘ibaad juga dan banyak sekali beliau bersabda tentang hamdardi khalq (kasih sayang dan simpati terhadap makhluk termasuk sesame manusia). Hakikatnya jika simpati dan gairah kecintaan yang murni terhadap sesama umat manusia tercipta didalam kalbu manusia maka pelaksanaan huquuqul ‘ibaad dengan sendirinya dapat terpenuhi. Maka setiap orang Ahmadi harus menaruh perhatian penuh terhadap hal ini.

Hadhrat Masih Mau’ud as bila saja mengeluarkan selebaran tentang Jalsah Salanah dan mengumumkannya, dimana secara khusus beliau mengingatkan manusia terhadap takut kepada Tuhan, taqwa dan berserah diri kepada-Nya dan sebagainya, disana dengan keras beliau mengingatkan pentingnya berhati lembut, cinta kasih antar sesama, persaudaraan, merendahkan diri dan sopan santun. Taqwa tidak hanya mengamalkan perkara itu semua, taqwa bukan hanya berkhidmat kepada Jemaat, taqwa bukan hanya menzahirkan kecintaan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, taqwa bukan hanya mengikat hubungan dan itha’at kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan para Khalifah beliau, melainkan taqwa baru akan sempurna apabila hak-hak kedua ibu-bapak juga dipenuhi, hak-hak isteri dan anak-anak juga dipenuhi, hak-hak suami dan anak-anak juga dipenuhi, hak-hak sudara-mara dan kaum keluarga dipenuhi, apabila hak-hak handai taulan juga dipenuhi, apabila hak-hak tetangga juga dipenuhi, dan apabila hak-hak saudara kandung lelaki dan perempuan dipenuhi, hak-hak para anggota Jemaat juga dipenuhi, sampai kepada hak-hak para musuh juga dipenuhi, barulah taqwa dapat dikatakan sempurna. Dan semua ajaran itu terdapat didalam Alqur’anul Karim.

Kita datang menghadiri Jalsah Salanah demi menyediakan sarana bagi kemajuan rohani kita. Maka dimana para peserta Jalsah menaruh perhatian terhadap memenuhi hak-hak Allah Ta’ala, dengan tekun melakukan ibadah-ibadah berupa shalat-shalat, doa-doa dan zikir Ilahi, disana mereka juga harus berusaha menanamkan benih-benih kecintaan dan menjalin hubuangan serta simpati terhadap sesama yang lain sambil mengoreksi keadaan diri pribadi masing-masing. Anda semua berkumpul di tempat Jalsah dimana saudara-saudara dan kaum keluarga serta teman-teman sepergaulan juga telah datang. Anda sudah datang di tempat dimana dapat mengambil faedah dari banyak pidato-pidato berisi ilmu pengetahuan dan mungkin mengenai tarbiyat. Tentu anda akan menikmatinya. Namun demikian, maksud dan tujuan Jalsah tidak akan dapat diraih selama anda tidak menaruh simpati dan sikap toleransi terhadap saudara-saudara dan handai taulan sebagaimana telah ditegaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as.

Pada suatu ketika Hadhrat Masih Mau’ud as mengundurkan Jalsah Salanah disebabkan beberapa keadaan tertentu dan setelah beliau mengetahui perilaku beberapa orang setelah baiat. Beliau bersabda,

”Saya telah mengetahui orang-orang yang setelah baiat kepada hamba yang lemah ini telah meninggalkan janji taubah, kembali berhati bengkok dan pandangan mereka terhadap orang-orang Jemaat yang miskin seperti serigala memandang mereka. Karena sombong kalian tidak dapat mengucapkan assalamualaikum dengan mulut yang lurus, kecuali jika penampilan kalian dengan akhlak ceria penuh simpati. Saya lihat akhlaq mereka demikian rendah dan egois dan karena mementingkan diri pribadi itu mereka bertengkar bahkan saling baku hantam dan karena perkara kecil saja mereka saling serang dengan yang lain kadang kala sampai melemparkan caci-maki dan menciptakan kedengkian dalam hati.”[3]

Kemudian beliau as bersabda,

“Saya merasa heran, ya Ilahi, apa yang telah terjadi ini? Jemaat macam apa yang ada bersamaku ini? Mengapa hati mereka telah jatuh ke dalam nafsu keserakahan? Seorang saudara mengapa mengganggu saudaranya yang lain dan ingin berkuasa diatasnya. Aku berkata dengan sesungguhnya bahwa iman seseorang tidak bisa sempurna jika ia tidak mendahulukan kesenangan hati saudaranya yang lain diatas kesenangan pribadinya. Selama Allah Ta’ala dengan karunia-Nya yang khusus tidak menanamkan unsur lemah-lembut, merendahkan diri dan simpati serta kerja keras didalam Jemaat-Nya ini maka Jalsah ini tidak akan memberikan suatu sarana kemaslahatan.”[4]

Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakan rasa sedih dan prihatin yang sangat perih didalam hati nurani beliau menyaksikan hilangnya kecintaan dan lenyapnya sikap simpati antara satu dengan yang lain dalam Jemaat dan lenyapnya gairah berkorban demi orang lain. Maka sebagai hukuman Jalsahpun telah ditangguhkan.  Kebanyakan orang menganggap Jalsah Salanah telah ditangguhkan disebabkan terdapat kekurangan dalam persiapan administrasi dan sarana-sarana lainnya. Padahal sebabnya tiada lain karena kurangnya simpati dan penampilan sikap sombong dari kebanyakan orang terhadap saudara-saudara Ahmadi yang lain yang membuat Hadhrat Masih Mau’ud as sangat sedih dan sangat prihatin sekali.

Saya teringat kepada peristiwa beberapa tahun yang lalu ketika saya meminta diadakan Emergency Shoora (Syura Darurat) di sini (Jerman). Ketika masalah Jalsah itu dikemukakan, saya mendapat kesan dari pernyataan seorang anggota bahwa dia atau kebanyakan anggota yang lainnya juga menganggap ditangguhkannya Jalsah itu untuk satu tahun, disebabkan kurangnya penanganan administrasi atau kurangnya sarana-sarana yang diperlukan. Bagaimanapun bukan itu semua yang menjadi sebab. Alasan yang sesungguhnya tiada lain karena hilangnya kecintaan dan sikap simpati satu sama lain didalam Jemaat dan lenyapnya gairah berkorban demi orang lain yang menyebabkan timbulnya rasa sedih dan prihatin yang sangat perih didalam hati nurani Hadhrat Masih Mau’ud as Jadi, harus selalu ingat bahwa tidak ada rasa simpati terhadap yang lain, tidak saling hormat-menghormati satu sama lain bukanlah perkara kecil. Setiap orang Ahmadi yang mengabaikan hak-hak orang lain atau tidak menaruh rasa simpati terhadap seseorang harus merenungkan sabda Hadhrat Masih Mau’ud as berikut ini. Beliau bersabda, “Saya merasa heran, ya Ilahi apa yang telah terjadi ini? Jemaat macam apa yang ada bersamaku ini?”

Sebagaimana telah saya katakan bahwa Jalsah ini bukan hanya untuk memenuhi hak-hak Allah Ta’ala melainkan untuk menanamkan perubahan suci dalam hati dan juga untuk memenuhi hak-hak sesama manusia. Hal itu penting sekali.

Beliau as bersabda dengan perasaan hati yang perih, ”Banyak manusia mengerjakan shalat namun tidak paham apa yang dinamakan shalat itu. Selama gerakan sujud tidak disertai gairah dan kerendahan hati, hanya dengan gerakan sujud secara lahiriah saja, samasekali tidak mengandung arti apa-apa. Tidak ada sesuatu yang dapat diharapkan dari padanya.”[5]

Maka seseorang jangan merasa  gembira atau merasa bangga dengan shalat yang telah ia kerjakannya dan jangan pula merasa bangga karena pengkhidmatannya terhadap Jemaat, dan jangan pula merasa bangga karena menerima kedudukan khusus didalam Jemaat, jangan merasa bangga disebabkan telah mengorbankan banyak harta, jika ia tidak merendahkan diri menunjukkan kerendahan hati dan rasa simpati yang murni terhadap saudara-saudaranya. Jika manusia secara tetap teguh dan dawam dalam memenuhi huquuqul ‘ibaad bersama huquuqullah maka sesungguhnya ia tengah melangkah diatas jalan taqwa. Orang yang sungguh-sungguh bertaqwa tidak merasa bangga atas suatu amal solehnya, melainkan sebaliknya, rasa rendah diri dan rasa takutnya kepada Tuhan semakin terus meningkat. Setelah ia melakukan setiap kebaikan pikirannya selalu dihantui perasaan takut apakah amal salehnya itu mencapai peringkat penerimaan atau tidak di sisi Allah Ta’ala. Jadi, amal-amal saleh dan kebaikan-kebaikan menjadi penyebab lahirnya taqwa. Dan taqwa melahirkan perasaan merendahkan diri. Dan untuk menciptakan pada diri kita unsur-unsur itulah maksud kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as Betapa pentingnya rasa simpati terhadap orang lain yang tercantum didalam syarat-syarat baiat yang menjadi asas bagi setiap orang untuk menjadi Ahmadi sejati. Di dalam syarat keempat Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Tidak akan mendatangkan kesusahan apapun yang tidak pada tempatnya terhadap makhluk Allah seumumnya dan kaum Muslimin khususnya, karena dorongan hawa nafsunya biar lisan atau dengan tangan atau dengan cara apapun juga.”[6]

Jadi, bukan hanya orang Muslim Ahmadi melainkan setiap  orang Muslim harus selamat dari kesusahan apapun yang tidak pada tempatnya dari setiap orang Muslim Ahmadi. Bahkan, bukan hanya orang-orang Muslim melainkan semua makhluk Allah Ta’ala harus selamat (aman) dari Muslim Ahmadi. Banyak sekali orang yang tidak melakukan tabligh, mereka bekerja sendiri  dan mereka tidak melakukan keburukan terhadap orang lain, namun tidak dikira ia sudah meraih status kebaikan yang tinggi. Setiap langkah orang Mu’min senantiasa berderap maju terus kedepan. Dan memang harus demikian. Jika tidak, taqwa dan iman tidak akan meningkat. Oleh sebab itulah Hadhrat Masih Mau’ud as telah bersabda didalam syarat baiat ke-9 sebagai berikut:

“Akan selamanya menaruh belas kasihan terhadap makhluk Allah umumnya dan sedapat mungkin akan mendatangkan faedah kepada ummat manusia dengan kekuatan dan ni’mat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepadanya.”[7]

Jadi, kebaikan sejati itu dapat dikatakan sempurna apabila keridhaan Allah Ta’ala menjadi asas tujuannya. Dan untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala itu seluruh kekuatan dan kemampuan harus dipergunakan manusia demi berlaku simpati terhadap makhluk Allah Ta’ala. Dari antara makhluk-makhluk Allah Ta’ala yang paling besar atau asyraful makhluqaat adalah manusia. Maka insan hakiki akan terwujud apabila timbul gairah untuk memenuhi huquuqul ‘ibaad (hak-sak sesama hamba-hamba Allah Ta’ala), menaruh perhatian penuh untuk mendatangkan faedah terhadap orang lain.

Sebelum ini juga telah berulang kali saya katakan kepada orang-orang non Muslim yang selalu berbicara tentang human rights (hak-hak asasi manusia) saya kemukakan kepada mereka bahwa inilah hak-hak asasi manusia yang indah yang dikemukakan oleh Islam. Sistim dunia yang telah ditetapkan oleh mereka menyatakan, “Inilah hak-hak kami maka penuhilah hak-hak kami ini jika tidak kami akan menggunakan kekerasan.” Sedangkan Islam mengajarkan jika kalian menghendaki keridhaan Allah Ta’ala maka penuhilah hak-hak kewajiban sesama umat manusia. Dan Allah Ta’ala berfirman didalam Alqur’anul Karim: Manusia harus memenuhi hak-hak orang lain. Jadi, itulah perbedaan antara sistim yang telah dibuat oleh dunia dan sistim yang telah dibuat oleh Allah Ta’ala. Sistim dunia acapkali menuntut hak-hak melalui tatacara yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Sedangkan Allah Ta’ala berfirman, jika kalian orang-orang mu’min sejati, jika ingin meraih keridhaan-Ku maka penuhilah hak-hak orang lain bukan hanya diwaktu ada permintaan dari mereka, melainkan setiap waktu penuhilah hak-hak mereka yang merupakan kewajiban kalian dan penuhilah hak-hak kewajiban itu dengan penuh keadilan dan rasa peri kemanusian.

Perhatikanlah, jika gairah simpati ini timbul didalam pribadi setiap orang Ahmadi dan dilaksanakan dengan penuh perhatian maka tidak mungkin akan timbul suatu masalah pertengkaran dikalangan mereka. Tidak mungkin timbul masalah untuk disampaikan kepada Khalifa-e-Waqt. Sedangkan kenyataannya setiap hari beratus pucuk surat harus diterima berkaitan dengan perkara-perkara demikian. Banyak waktu terbuang hanya untuk menangani perkara demikian yang seharusnya digunakan bagi perkara lain yang sifatnya membangun bagi faedah Jemaat. Apabila perkara-perkara serupa itu dihadapkan kepada Khalifa-e-Waqt, maka banyak sekali aspek yang harus dipertimbangkan, baik bagi kepentingan Nizam maupun bagi kepentingan ishlah (perbaikan) dan juga bagi menegakkan gairah simpati. Jangan-jangan seorang Ahmadi masuk dalam ujian dan menjadi mangsa kemurkaan Allah Ta’ala atau menjadi sasaran kezaliman orang lain disebabkan dia hanya memikirkan kepentingan dirinya saja dan menyita hak orang lain.

Kadangkala terdapat kasus yang bersangkutan tidak mau menaati peraturan atau tidak mau menerima keputusan Jemaat atau Khalifa-e-Waqt, tidak bersedia menerima nasihat bahkan menunjukkan sifat keras kepala sehingga terpaksa diberi jawaban yang keras kepadanya. Saking kerasnya kadangkala saya berkata kepadanya: Baiklah, jika tidak mau menerima keputusan ini maka Jemaat juga tidak akan mempunyai hubungan lagi dalam kasus ini. Kadangkala dilakukan tindakan keras dan diberi hukuman kepadanya. Akan tetapi bagi orang seperti itu juga karena gairah simpati terpaksa saya mendoakan juga agar Allah Ta’ala memberi hidayah kepadanya dan disebabkan perkara duniawi ini iatelah melupakan agam, semoga jangan sampai ia binasa.

Apa yang Hadhrat Masih Mau’ud as sabdakan ini “Tidak akan mendatangkan kesusahan apapun yang tidak pada tempatnya.” Maksudnya tiada lain kadangkala dalam beberapa kasus manusia mendatangkan kesusahan kepada yang lain, memang hal itu pada tempatnya. Dan maksudnya ialah tidak akan memberi kesusahan dengan sengaja kepada orang lain. Dan itulah kelebihan orang mu’min tidak mempunyai niat dengan sengaja menyusahkan orang lain. Keduanya disebakan keadaan terpaksa kadangkala Jemaat atau Khalifa-e-Waqt juga mengambil tindakan yang mendatangkan kesusahan bagi orang bersangkutan. Namun tujuan diberikannya kesusahan ini semata-mata demi islah atau perbaikan. Dan hal itu bukan tidak pada tempatnya. Dalam situasi demikian juga, manusia harus mendoakan orang yang sedang menghadapi kesusahan disebabkan hukuman itu demi menunjukkan gairah simpati dan Khalifa-e-Waqt lebih banyak dari yang lain dalam melakukan demikian sambil merenungkan apakah tindakan saya itu tidak menghancurkan keamanan mereka? Apakah tindakan saya ini tidak menyebabkan rumah tangganya hancur berantakan? Tidak hanya sampai disitu bahkan diusahakan untuk menyatakan gairah simpati kepadanya. Dan berusaha menyediakan sarana untuk membuat keadaannya lebih baik dan membuat pikiran dia berubah. Itulah cara untuk menunjukkan keadilan dan menyempurnakan rasa simpati yang dilakukan oleh Khalifa-e-Waqt. Para anggota pengurus Jemaat yang telah disetujui oleh Khalifa-e-Waqt juga harus bekerja dengan semangat, adil dan penuh rasa simpati. Jika tidak dan dengan sengaja mengabaikan kewajiban mereka sendiri, mereka akan menjadi pengkhianat terhadap amanat itu. Dan pasti akan ditanya pertanggungan jawabnya dihadapan Allah Ta’ala.

Jadi, hal itu sangat menakutkan bagi para anggota pengurus juga. Kedudukan didalam Jemaat bukan untuk kepentingan duniawi, melainkan setelah menerima posisi atau kedudukan itu harus timbul gairah semangat untuk berkhidmat terhadap para anggota Jemaat lebih banyak dari waktu sebelumnya. Dan harus meningkatkan rasa simpati terhadap mereka sambil mencari jalan bagi meningkatkan keadaan mereka yang lebih baik. Harus berusaha berjalan bergandeng tangan dengan mereka agar Jemaat tegak menjadi sebuah ikatan yang kokoh-kuat dan gerak langkah Jemaat untuk meraih kemajuan menjadi semakin cepat. Jadi, para pengurus Jemaat harus menanamkan rasa simpati itu didalam diri mereka. Setiap karyawan Jemaat juga harus menanamkan rasa simpati dalam diri mereka. Apabila para pengurus tetap tegak menjadi contoh bagi yang lain barulah mereka akan menjadi petugas yang baik.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ‘Khaadimul qaumi hona makhduum bane ki nisyaani he.’ – “أن يكون المرء خادمَ القوم علامة على كونه مخدوما” “Menjadi pengkhidmat kaum (bangsa, jemaat) adalah tanda keberadaannya sebagai makhdum (pemimpin).” [8]

Yakni jika anda menjadi pengkhidmat bangsa maka anda akan mendapat kedudukan dan kepemimpinan dari Allah Ta’ala. Rasulullah saw juga bersabda, “سيد القوم خادمهم.”  Sayyidul qaumi khaadimuhum. [9]

Yakni pemimpin Bangsa adalah khadim Bangsa itu. Dan memang harus demikian. Menelaah Hadis, membaca dan mendengar Hadis-hadis akan mendatangkan faedah apabila berusaha untuk mengamalkannya juga. Para pengurus harus berwatak luhur. Orang-orang acapkali mengkritik, menuduh dan menyusahkan juga namun pengurus berkewajiban untuk selalu waspada dan berani dan sekali-kali jangan membiarkan gairah simpati mati terhadap orang-orang seperti itu juga.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Menelan kemarahan dan kata-kata pahit adalah sikap keberanian yang luar biasa.” [10]         Dan hal itu merupakan penjelasan dari sabda Hadhrat Rasulullah saw, “Seorang yang gagah berani bukanlah orang yang dapat merobohkan lawannya akan tetapi orang yang gagah berani adalah dia yang dapat menahan nafsunya di waktu marah.” [11]

Dengan menahan kemarahan itu maka tuntutan keadilan dapat dipenuhi dan suatu keputusan juga dapat diberikan dengan simpati. Itulah standar yang harus dimiliki oleh para pengurus.

Khotbah saya ini tidak hanya ditujukan kepada para pengurus Jemaat Jerman saja melainkan para pengurus Jemaat diseluruh dunia, baik di Inggris, di Pakistan, Hindustan, America, Kanada, Australia, Indonesia dan di seluruh Afrika juga. Penjelasan ini saya sampaikan agar jangan ada pikiran bahwa khotbah ini hanya ditujukan kepada orang-orang yang hadir di waktu Khotbah sedang disampaikan. Khotbah ini ditujukan kepada semua orang di seluruh dunia. Sebagaimana apabila khotbah sedang membahas suatu masalah yang ditujukan kepada salah satu category didalam Jemaat maka artinya khotbah itu tertuju kepada semua Jemaat diseluruh dunia.Sebab sekarang Allah Ta’ala telah menyediakan sarana MTA untuk memudahkan Khalifa-e-Waqt menyampaikan pesan apapun kepada Jemaat diseluruh dunia. Oleh karena itu berbagai jenis masalah selalu disampaikan keberbagai tempat diseluruh dunia. Dan khotbah disampaikan kepada semua Jemaat diseluruh dunia. Namun demikian apabila saya menyampaikan Khotbah disuatu negara maka Jemaat disana yang mendengar nasihat langsung mempunyai hak utama untuk menganggap diri mereka sebagai sasaran utama nasihat itu. Namun ingatlah syarat-syarat baiat yang telah saya bacakan itu bukan khusus untuk satu kelompok tertentu saja atau khusus untuk kelompok orang-orang tertentu melainkan ditujukan kepada setiap orang Ahmadi. Atau ditujukan kepada setiap orang yang menganggap dirinya orang Ahmadi. Oleh karena para pengurus menjadi contoh tauladan bagi Jemaat mereka harus lebih banyak mengadakan koreksi terhadap keadaan diri mereka lebih dari yang lain. Jadi, perintah ini tidak terbatas dan tidak pula bersyarat melainkan penting bagi semua anggota Jemaat. Renungkanlah syarat-syarat Baiat itu dan berusahalah untuk menaatinya.

Sebagaimana didalam syarat baiat ke empat yang telah saya bacakan itu Hadhrat Masih Mau’ud as telah menyatakan sangat penting bagi setiap orang Ahmadi; “Sama-sekali tidak akan mendatangkan kesusahan kepada siapapun baik dengan tangan ataupun dengan mulut.” Standar itu akan dapat diperoleh melalui taqwa, dengan hati rasa takut terhadap Allah Ta’ala. Terdapat sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah katanya Hadhrat Rasulullah saw bersabda, “Janganlah berbuat hasad kepada orang lain, jangan bertengkar dengan orang lain, jangan dengki, jangan bermusuh dengan siapapun, jangan melakukan interupsi terhadap barang yang sedang diperjualbelikan oleh orang lain. Hai hamba-hamba Allah! Bersaudaralah sesama yang lain. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lain; ia tidak berlaku zalim dan tidak pula menghina atau tidak menganggap rendah kepada yang lain.” Hadhrat Rasulullah saw sambil menunjuk letak jantung hati di dada beliau tiga kali bersabda, “Disinilah letak taqwa, disinilah letak taqwa, disinilah letak taqwa.” Beliau bersabda, “Bukti keburukan seseorang cukup dengan hanya menganggap saudaranya hina. Harta, darah dan kehormatan orang Muslim haram atas orang Muslim lainnya.” [12]

Tengoklah keadaan orang dunia zaman sekarang, ada yang melakukan kezaliman, merampas harta orang lain, orang Muslim memotong leher orang Muslim lainnya, dimana-mana nampak kebiadaban dan kezaliman. Sebab utamanya adalah hasad dan hilangnya taqwa. Kita sangat beruntung telah beriman kepada Imam Zaman sekarang ini dan terhindar dari kezaliman pelampau batas. Akan tetapi penyakit ini sudah ada di rumah-rumah kita dan di lingkungan masyarakat kita juga namun dalam skala kecil yang didalam hadis juga telah disebutkan. Jika kita telusuri suasana zaman sekarang dengan seksama maka dengan sendirinya akan nampak dengan jelas apa yang saya katakan ini tidak keliru. Terdapat dendam kesumat diantara sesama saudara yang timbul karena iri hati dan cemburu sosial. Di tengah-tengah para anggota Jemaat juga banyak terdapat rasa dendam dan hasad. Perempuan mempunyai rasa dendam terhadap perempuan lain yang timbul karena cemburu sosial. Ada juga orang yang merasa dendam karena melihat orang lain diberi kesempatan berkhidmat kepada Jemaat sedangkan ia sendiri tidak. Jika setiap orang merasa yakin bahwa Jemaat Ahmadiyah adalah sebuah Jemaat Ilahi, seharusnya ia bukan mengharapkan kedudukan didalam Jemaat melainkan harus banyak-banyak istighfar bahwa jika suatu waktu tugas itu diserahkan kepadanya dapat dia laksanakan dengan sebaik-baiknya. Hadhrat Rasulullah saw telah bersabda bahwa jangan memberi kedudukan (jabatan) kepada barangsiapa yang memintanya.[13]

Kemudian Allah Ta’ala juga berfirman agar amanah itu harus dijaga dan dipelihara sebab mengenainya akan ditanya pertanggung jawabannya. Jabatan dan pengkhidmatan Jemaat juga adalah amanah. Jika manusia mempunyai iman dan taqwa ia harus selalu merasa takut terhadap pertanggungan-jawab di hadapan Tuhan. Pertanggungan jawab itu bukan kepada manusia yang dapat ditipu, melainkan kepada Tuhan Yang ‘Alimul  Ghaib, tiada yang tersembunyi dari Dia dan Dia tidak dapat ditipu.

Jika pemegang Jabatan dan orang yang menginginkan jabatan itu sadar terhadap hal itu semua pasti melangkah ke jalan taqwa, bukan menuruti hawa nafsu mereka. Disebabkan kurangnya taqwa manusia cepat terpengaruh oleh keburukan. Suatu waktu bisa terjadi, apabila suasana sudah ke tahap demikian maka rencana busuk dibuat untuk menyusahkan orang lain. Bagaimana caranya agar mempermalukannya di hadapan Pimpinan Jemaat atau dibuktikan kehinaannya di hadapan Khalifah-e-Waqt atau kebodohan dan kelemahan-kelemahannya dikemukakan di hadapan beliau. Akhirnya dia berusaha untuk membuat istri dan anak-anaknya terhina di hadapan Majlis Jemaat. Seluruh keluarga menjadi banyak terlibat di dalamnya.

Bagaimana hal itu dapat terjadi sedangkan di satu sisi Syarat Baiat mengatakan bahwa sama-sekali tidak akan mendatangkan kesusahan kepada siapapun baik dengan tangan ataupun dengan mulut bahkan, “Aku akan selamanya mencari jalan berbuat hamdardi (menaruh belas kasihan, simpati terhadap makhluk Allah umumnya).” Sedapat mungkin akan mendatangkan faedah kepada ummat manusia dengan kekuatan dan ni’mat yang dianugrahkan Allah Ta’ala kepadanya. Lalu di sisi lain bagaimana orang dengan perbuatan dengkinya itu? Sebagaimana telah saya katakan untuk meraih standar iman dan taqwa seperti telah disebutkan tadi setiap orang perlu sekali mengadakan introspeksi ke dalam dirinya. Adakanlah koreksi kedalam diri sendiri sepanjang hari berada di Jalsah Gah (tempat Jalsah) ini. Untuk itulah Allah Ta’ala telah menyediakan hari-hari Jalsah ini bagi anda sekalian. Apa yang telah saya katakan ini bukan atas dasar perkiraan melainkan kenyataan yang telah tampil ke hadapan saya dan telah menjadi penyebab keprihatinan dan kesedihan bagi saya, disamping memalukan sekali. Telah saya umumkan kepada dunia bahwa Jemaat Ahmadiyah adalah Jemaat yang selalu mencari jalan untuk memenuhi hak-hak sesama manusia dan telah beriman kepada Masih Mau’ud yang telah diutus oleh Allah Ta’ala untuk mengajak manusia berjalan diatas taqwa. Sekarang bagaimana keadaan anggota Jemaat kita? Bagaimana kesan orang-orang ghair Ahmadi melihat mereka? Mereka akan berkata, “Apakah da’wa (klaim, pengakuan) kalian itu? Bagaimanakah amal perbuatan kalian itu?”

Maka, jika kita akan menjadi orang-orang terpilih untuk membangkitkan inqilaab (revolusi) di dunia pertama kali kita sendiri harus mengadakan reformasi terhadap kehidupan diri pribadi kita berdasarkan ajaran Islam yang indah sesuai dengan yang diharapkan oleh Imam Zaman, Hadhrat Masih Mau’ud as.

Di dalam hadits tadi (pada bagian selanjutnya) ada satu nasihat dimana Hadhrat Rasulullah saw bersabda kepada kita, “Janganlah melakukan interupsi jual-beli kedalam jual-beli orang lain.”[14] Maksudnya bukan hanya dalam rangka merusak jual beli orang lain; untuk menampakkan hati benci dan dendam janganlah berusaha menghancurkan jual-beli orang lain, dikarenakan sarana-prasarana (modal) yang lebih baik dengan niat menghancurkan jual-beli [orang lain] janganlah menawarkan pembayaran lebih tinggi atas barang dagangan itu. Bahkan, petunjuk [hadits] ini mempunyai jangkauan lebih luas lagi, misalnya seseorang telah menjalin hubungan risytanata (perjodohan) dengan satu keluarga. Perbincangan (pelamaran) sedang berjalan, namun pihak lain lagi masuk campur tangan menawarkan risyta (jodoh) lainnya. Hal pertama, seseorang bila mengetahuinya, seorang Ahmadi mana pun seharusnya tidak mencampuri suatu perjodohan diatas perjodohan lainnya baik itu keluarga pihak perempuan maupun pihak laki-laki. Hal kedua; atas pembicaraan perjodohan antara laki-laki dan perempuan tersebut, pihak keluarga harus membuat keputusannya terlebih dahulu tentang pihak yang pertama kali telah datang [melamar, membicarakan perjodohan] sambil banyak berdoa. Mereka jangan memikirkan untuk mendapatkan calon lain sebelum proses dengan yang pertama ini mencapai keputusan; di samping ketika itu sudah tidak ada kesesuaian didalam hati tentang calon itu kendati sudah banyak berdoa. Kemudian kadang-kadang terjadi juga suatu hal bahwa bagi seorang gadis sudah ada laki-laki yang telah meminangnya namun kepada pihak keluarga si gadis atau keluarga si pemuda ada lagi dari keluarga yang lain menawarkan calon lalu menyebut-nyebut pihak keluarga perempuan, “Di dalam dirinya terdapat keburukan-keburukan atau kelemahan-kelemahan. Tinggalkanlah perempuan itu nanti kami tunjukkan ‘calon’ yang lebih baik!” Kemudian ia tidak pernah disampaikan mengenai calon yang lebih baik itu. Disebabkan oleh kedengkian, dendam, kebencian, kurangnya keimanan, dan kurangnya taqwa hancurlah hubungan kedua keluarga itu. Kadangkala keluarga perempuan untuk menjatuhkan nama baik perempuan lain menggunakan cara seperti itu juga sehingga betul-betul perempuan yang malang itu namanya menjadi buruk di hadapan orang lain dan hal itu disebabkan karena kedengkian. Seakan-akan mereka setelah melakukan dosa lalu menimbulkan dosa yang lain [dua kali berbuat dosa] dengan melemparkan tuduhan palsu kepada kaum perempuan. Maka amalkanlah nasihat Hadhrat Rasulullah sawa yakni penuhilah hati kalian dengan taqwa. Selesaikanlah setiap masalah dengan jalan taqwa. Jalan taqwa adalah bagian dari uswah hasanah (teladan terbaik) Rasulullah saw sebagaimana telah diberitahu oleh Alqur’anul Karim dengan firman-Nya: لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا “Sesungguhnya kalian dapati dalam diri Rasulullah suri teladan yang sebaik-baiknya bagi orang yang mengharapkan bertemu dengan Allah dan Hari Kemudian dan yang banyak mengingat Allah.” (Surah Al-Ahzab, 33:22). Sungguh Hadhrat Rasulullah saw telah bersabda bahwa orang mu’min adalah orang yang bukan hanya orang Muslim saja yang merasa aman daripadanya melainkan semua umat manusia merasa aman daripadanya. Beliau saw adalah wujud yang telah menjadi teladan sampai ke peringkat yang paling luhur. Kebaikan dan kasih sayang beliau juga telah mencapai peringkat sangat luhur tidak terbatas. Dan tidak ada batas kemuliaan dan luhurnya akhlaq yang tidak beliau peroleh. Maka pada hari ini kita telah berkumpul disini demi mengadakan reformasi kedalam pribadi masing-masing, untuk itu sangat perlu sekali memperhatikan teladan Hadhrat Rasulullah saw. Beliau saw bersabda, “Agama adalah an-nashiihah (ketulusan, niat dan sikap yang baik).” Ketika beliau ditanya, “Kepada siapa, wahai Rasul Allah?” Beliau saw bersabda, “Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam-imam orang Muslim dan masyarakatnya.”  [15]

Jadi, bagi seorang mu’min sejati tidak ada jalan untuk menghindar dari itu semua. Kedudukan simpati tulus terhadap masyarakat awam juga telah disebutkan yang tanpa mencapai pemenuhan kedudukan itu, manusia tidak akan dapat memenuhi hak-hak Allah Ta’ala, hak-hak Kitab-Nya dan tidak dapat memenuhi pula hak-hak Rasul-Nya saw. Mengenai hal itu Hadhrat Masih Mau’ud as telah bersabda yang maksudnya ialah bahwa taqwa hakiki tidak dapat diperoleh hanya dengan melakukan satu kebaikan selama tidak berusaha melaksanakan semua kebaikan lainnya. [16]

Kemudian perhatikanlah bagaimana untuk meraih akhlaq tertinggi, Junjungan dan Majikan kita yang ditaati, Hadhrat Rasulullah saw memanjatkan doa hingga mencapai titik puncak kerendahan diri. Nabi itu yang setiap saat hampir-hampir kehilangan nyawanya dikarenakan simpati tulusnya kepada orang-orang yang memusuhi beliau, yang sifat belas kasih dan rahmatnya mewujud dalam pribadi beliau; beliau saw biasa berdoa dengan penuh kerendahan diri ke hadapan Allah Ta’ala ”Ya Allah, Tuhanku! Aku memohon perlindungan kepada Engkau dari akhlaq yang buruk, dari amal yang buruk dan dari keinginan-keinginan buruk “[17]

Pendek kata, itulah taqwa, tentang mana Hadhrat Rasulullah saw sambil menunjukkan jari pada dada beliau bersabda, “Disinilah letak taqwa, disinilah letak taqwa, disinilah letak taqwa.” Itulah contoh teladan kamil yang Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk mengikutinya. Jadi, betapa perlunya kita harus memanjatkan doa itu, betapa perlunya kita harus mengadakan interospeksi kedalam diri kita, betapa perlunya kita harus memeriksa keadaan perbuatan kita sambil menundukkan kepala karena malu.

Kemudian beliau saw bersabda, “Barangsiapa yang menjauhkan kegelisahan dan kesusahan duniawi orang lain maka pada Hari Qiamat Allah Ta’ala akan menjauhkan kegelisahan dan kesusahannya. Barangsiapa yang menolong dan memudahkan keadaan orang yang dalam kesempitan dan menyediakan kemudahan baginya, maka pada Hari Akhirat Allah Ta’ala akan menyediakan sarana kemudahan baginya. Barangsiapa yang menutupi kelemahan seorang Muslim maka di Hari Akhirat Allah Ta’ala akan menutupi kelemahannya. Allah Ta’ala selalu siap menolong orang yang selalu siap untuk menolong saudaranya.” [18]

Maka, siapakah yang bisa menda’wakan diri bahwa di Hari Kiamat ia akan selamat dari semua kesusahan? Siapakah yang menjamin dirinya akan selamat dari semua kegelisahan dan keprihatinan? Siapakah yang berlaku bangga atas amal perbuatannya bahwa dia telah banyak sekali melakukan amal-amal saleh? Jadi, betapa menakutkan dunia ini. Setiap mu’min harus ingat setiap waktu, setiap saat terhadap hal itu semua. Bagaimana supaya mendapat taufiq untuk melangkah diatas jalan yang telah diberitahukan Allah Ta’ala. Kita tidak tahu amal perbuatan apa kiranya yang akan mendekatkan diri kita terhadap Allah Ta’ala dan menyediakan sarana bagi pengampunan kita. Betapa kasih-sayangnya Tuhan dan Rasul kita yang telah memberitahu segala kebaikan secara terbuka kepada kita. Tidak ada satu macam amal-pun yang dianggap kurang penting. Maka betapa baik nasib orang-orang yang berusaha menyenangkan Allah Ta’ala dan yang setiap waktu selalu berusaha memperbaiki diri mereka agar Allah Ta’ala menjauhkan kegelisahan mereka, agar Allah Ta’ala membuat kemudahan-kemudahan bagi mereka.

Berkenaan dengan simpati dan kasih sayang terhadap sesama yang lain Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Berlaku kasih sayang dan bersikap simpati terhadap manusia merupakan ibadah yang sangat besar sekali. Dan merupakan sarana yang sangat besar pula untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala. Akan tetapi saya lihat  keadaan orang-orang sangat lemah sekali dibidang ini. Menganggap orang lain hina, mencemoohkan mereka dan sebagainya. Mengayomi dan menolong orang-orang yang dalam kesusahan merupakan perkara besar sekali, namun sebaliknya mereka dihina dan dicemoohkan.

Beliau as bersabda, ”Berlaku simpati terhadap sesama makhluk adalah perkara yang penting sekali. Apabila manusia meninggalkannya dan menjauh dari padanya maka lambat laun mereka akan menjadi buas. Insan sungguh menghendaki insaniat dan ia akan tetap menjadi insan selama ia berlaku baik terhadap saudaranya dan ia berlaku ihsan kepadanya dan tidak terjadi suatu perpecahan diantara mereka.” [19]

Dalam menerangkan kelebihan orang-orang Muslim, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Didalam Alqur’anul Karim betapa jelas telah diterangkan hak-hak kedua orang-tua, hak-hak anak-anak dan kaum kerabat serta orang-orang miskin. Saya tidak mengira bahwa hak-hak itu telah tertulis atau terdapat didalam suatu kitab yang lain. Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman, وَاعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا (النساء: 37)

“Dan sembahlah Allah, dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, dan berbuat baiklah terhadap kedua orang-tua dan kaum kerabat dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan tetangga yang sesanak-saudara dan tetangga yang bukan kerabat, dan handai taulan, dan orang-orang musafir, dan yang dimiliki oleh tangan kanan-mu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang sombong, membanggakan diri.” (Surah An Nisa ayat 37).

Di dalam kalimat-kalimat itu anak-anak dan saudara saudara kerabat dekat dan jauh juga telah tercantum semuanya. Kemudian berfirman; “Berlaku ihsan terhadap orang-orang yatim juga dan terhadap orang-orang miskin juga dan terhadap para tetangga juga dan kerabat jauh juga dan tetangga-tetangga yang asing atau tidak kenal dan handai taulan juga yang bersama-sama dalam pekerjaan atau kawan didalam suatu perjalanan atau kawan didalam shalat, atau teman bersama-sama dalam menuntut ilmu agama dan orang-orang musafir dan semua makhluk bernyawa yang berada di tangan kalian, berbuat ihsanlah terhadap mereka semua. Allah Ta’ala tidak bersama dengan orang-orang sombong dan membanggakan diri.” Allah Ta’ala tidak mengasihi mereka yang tidak menaruh belas kasih terhadap orang lain.

Di tempat lain Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Berbelas-kasihlah terhadap hamba-hamba Allah dan janganlah berbuat zalim kepada siapapun dengan mulutmu, dengan tanganmu atau dengan cara apapun. Berusahalah selalu demi kebaikan umat manusia, janganlah berlaku sombong terhadap siapapun sekalipun terhadap anak buah kalian sendiri. Dan janganlah memaki siapapun sekalipun orang memaki kamu. Hendaklah bersikap ghariib (rendah hati, tidak menonjolkan diri), haliim (santun, lemah-lembut), berniat baik dan berbelas kasih terhadap semua makhluk supaya kalian diterima [Tuhan]… Setelah meraih kedudukan berlakulah kasih terhadap yang kecil dan jangan menghina mereka. Jika kamu menjadi orang terpelajar khidmatilah orang-orang bodoh dengan memberi nasihat-nasihat kepada mereka. Janganlah merendahkan mereka dengan menonjolkan kepandaianmu. Jika kamu menjadi orang kaya khidmatilah orang-orang fakir-miskin. Sebaliknya janganlah kamu sombong dengan menunjukkan keegoisanmu dan takutilah langkah yang membawa ke jurang kehancuran.” [20]

Itulah ajaran dan luahan kasih sayang Hadhrat Masih Mau’ud as bagi Jemaat beliau, supaya kita bukan hanya menjadi teladan yang murni bagi dunia bahkan kita menjadi orang-orang yang berhasil meraih belas-kasih Allah Ta’ala juga. Ada sebuah Hadis Hadhrat Rasulullah saw bersabda: “Allah Ta’ala Yang Rahman mengasihani orang-orang yang berbelas kasih kepada orang lain. Berbelas kasihlah kamu kepada para penduduk bumi maka Tuhan di Langit akan mengasihani kamu.” [21]

Jadi, apabila kita berdoa memohon kasih-sayang-Nya sambil mengingat betapa luasnya rahmat Allah Ta’ala, maka kita juga harus berlaku kasih sayang dan penuh simpati terhadap sesama orang lain sambil memperluasnya dalam kalbu kita.

Maka hari-hari Jalsah ini harus dipergunakan untuk menunaikan ibadah-ibadah dan banyak-banyak berzikir serta mempererat hubungan dengan Allah Ta’ala. Di samping itu harus berusaha untuk memperluas gairah simpati satu sama lain dan saling menjauhkan rasa gelisah dan dukacita. Dan harus berusaha untuk memiliki mutu akhlaq yang tinggi. Harus berusaha memenuhi hak-hak orang lain dengan penuh ikhlas semata-mata karena Allah Ta’ala demi meraih keridhaan-Nya. Dan hal itu tidak akan dapat dilaksanakan sebelum kalbu dibersihkan dari karat-karat kotor. Gairah simpati sejati itu akan timbul didalam hati apabila gairah simpati itu ditujukan kepada semua peringkat manusia tanpa kecuali. Dan gairah simpati itulah yang menggerakkan hati manusia untuk saling mendoakan satu sama yang lain. Dan berkat dari saling mendoakan itulah tertanam taqwa didalam hati manusia yang menjadi sarana bagi kebersihan dan kesucian kalbu. Dan standar pelaksanaan huquuqul ‘ibaad akan semakin mantap. Maka apapun yang dimaksud dengan perjanjian baiat yang diambil oleh Hadhrat Masih Mau’ud as dari kita bukanlah perkara kecil tak berarti. Melainkan ia sangat penting sekali untuk menciptakan reformasi didalam diri kita. Untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala juga perjanjian baiat itu sangat penting. Untuk menyebarkan ajaran Islam yang indah dan menciptakan revolusi rohani besar dikalangan masyarakat juga sangat penting sekali. Berusahalah untuk meningkatkan gairah semangat itu selama hari-hari Jalsah ini. Banyak-banyaklah berdoa juga semoga untuk itu Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita semua. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua pewaris barkat doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud as Setiap orang yang hadir semoga dapat meraih barkat-barkat Jalsah sebanyak-banyaknya. Semoga anak keturunan kita juga tetap mempunyai hubungan erat dengan Jemaat Ahmadiyyah. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi perlindungan terhadap Jemaat dan terhadap setiap orang Jemaat dari kejahatan pihak musuh-musuh Jemaat.

Dengan semangat simpati kita juga harus berdoa semoga Allah Ta’ala menyelamatkan dunia dari kehancuran yang sedang bergerak menuju kearahnya dengan cepat sekali. Berdoalah juga bagi umat Muslim dan pemerintahan-pemerintahan Muslim yang sekarang sedang menghadapi cobaan yang sangat berat dan mereka tidak berusaha menyadari apa penyebab-penyebab ujian yang sedang mereka hadapi itu. Semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada mereka untuk menerima Imam Zaman.

Saya ingin mengingatkan agar semua peserta Jalsah menaruh perhatian khusus terhadap Ibadah Shalat. Di waktu shalat Shubuh tadi saya melihat beberapa orang masih pada tidur di ruang Jalsah ini padahal di tempat ini Shalat Tahajjud juga dilaksanakan. Shalat pun sudah selesai namun mereka masih tertidur. Mungkin diantara mereka ada yang sakit, namun dalam keadaan sakit pun menunaikan shalat penting sekali. Pertama tunaikanlah shalat kemudian boleh tidur lagi. Akan tetapi tidak boleh ada kejadian demikian di dalam ruangan Jalsah ini. Para petugas keamanan juga harus menaruh perhatian kearah itu. Seksi Tarbiyyat yang harus bertugas membangunkan mereka. Demikian juga para karyawan Jalsah terutama petugas keamanan harus selalu waspada memeriksa keadaan ke kanan dan ke kiri jangan menganggap terlalu aman sekalipun Jalsah Gah ini keadaannya tertutup. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari setiap kemungkinan bahaya kejahatan.

Selanjutnya, setelah shalat Jum’ah akan saya pimpin Shalat Jenazah ghaib bagi Mohtaramah Sayyidah Amatullah Begum Sahibah putri Doktor Muhammad Ismail Sahib r.a. beliau wafat di usia 90 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون. Beliau adalah yang termuda daripada Sayyidah Choti Apa Ummu Amatul Matin. Setelah pendidikan menengah beliau menempuh dan lulus pendidikan diniyah (agama). Beliau istri dari Mukarram Pir Shilahuddin, yang adalah pensiunan Deputi Komisioner Pemerintah atau mungkin lebih tinggi dari jabatan itu. Beliau mendapat taufik berkhidmat sebagai Sadr Lajnah Imaillah di kota Multan 1943-1944. Segera setelah pemisahan India dan Pakistan beliau ditunjuk sebagai Sekretaris Maal dan bertugas di posisi lain juga dalam Lajnah Imaillah di Rawalpindi. Beliau mendapatkan nasib baik untuk melakukan haji bersama suami beliau pada tahun 1971. Keistimewaan unik yang disebutkan oleh banyak orang bahwa beliau menghadapi banyak peristiwa yaitu kewafatan putranya yang masih muda dan kewafatan suaminya – setelah kematian suaminya, beliau tinggal bersama putranya yang wafat semasa beliau tinggal bersamanya – namun beliau selalu bersabar. Beliau dalam semua guncangan tidak meninggalkan kesabaran dari tangannya. Banyak berdoa dan beribadah. Beliau selalu memberikan nasihat kepada anak-anak beliau agar selalu beribadah dan tidak pernah meninggalkan shalat. Banyak beramal sedekah dan menanggung nafkah hidup untuk beberapa wanita secara teratur setiap bulan. Gemar menelaah. Teladan tiada tara dalam hal perlakuan baik dan tali silaturrahmi dengan kerabat. Beliau memperlakukan kerabat suaminya yang banyak non-Ahmadi dengan hormat. Beliau menyampaikan kata-kata dan nasihat kepada seluruh keluarga beliau dengan sangat hormat. Beliau suka mengajar Alqur’an kepada anak-anak. Di mana pun beliau tinggal selalu terlihat mengajarkan Alqur’an kepada anak-anak. Beliau mempersiapkan diri dengan baik sebelum mengajarkan Alqur’an. Beliau menyarankan anak-anaknya agar selalu menghindari arogansi dan berkaitan dengan anggota keluarga yang kurang berpendidikan, “Jangan pernah memperlakukan mereka dengan angkuh!” dan juga menasehati, “Jadilah miskin diantara orang-orang miskin.” [Tidak bergaya berharta lebih di kalangan orang kurang berada.] Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat-derajat almarhumah dan juga menyatukan anak-anaknya untuk bertahan dalam Khilafat dan Jemaat; membantu mereka untuk tekun dalam kebaikan.

Berdasarkan laporan Tuan Amir suara begitu bagus [terdengar] di seluruh penjuru baik di tempat kaum pria maupun tempat kaum wanita juga. Akan tetapi entah mengapa dua kali kata-kata saya kembali lagi (bergema). Bagaimanapun, jika suara ini jelas baik, Alhamdu lillaah, harus mengupayakan perbaikan jika diperlukan.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ ‑ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

“Segala puji bagi Allah Ta’ala. Kami memuji-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya dan kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan-kejahatan nafsu-nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala dan kami bersaksi bahwa Muhammadsaw. itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala! Semoga Allah Ta’ala mengasihi kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh supaya kalian berlaku adil dan ihsan (berbuat baik kepada manusia) dan îtâ-i dzil qurbâ (memenuhi hak kerabat dekat). Dan Dia melarang kalian berbuat fahsyâ (kejahatan yang berhubungan dengan dirimu) dan munkar (kejahatan yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari baghyi (pemberontakan terhadap pemerintah). Dia memberi nasehat supaya kalian mengingat-Nya. Ingatlah Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat kalian. Berdoalah kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan doa kalian dan mengingat Allah Ta’ala (dzikir) itu lebih besar (pahalanya).”

 

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Sunan at-Tirmidzi Kitaab al-‘ilmi bab maa jaa-a fi fadhlil fiqhi ‘alal ibaadah (bab mengenai keutamaan pemahaman agama diatas ibadah) عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْكَلِمَةُ الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا». Dari Sa’id al-Muqrizi dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Al-kalimatul hikmatu dhallatul mu-mini fahaitsu wajadahaa fahuwa ahaqqu bihaa.’

[3] Majmu’ah Isytihaaraat, jilid awwal halaman 361, selebaran iltiwae jalsah 1893, selebaran nomor 117, terbitan Rabwah.

[4] Op.cit., halaman 361-362

[5] Op.cit., halaman 364

[6] Majmu’ah Isytihaaraat, jilid awwal halaman 159, selebaran ‘Takmil Tabligh’ (Penyempurnaan Tabligh), selebaran nomor 51, terbitan Rabwah.

[7] Op.cit., halaman 60

[8] Majmu’ah Isytihaaraat, jilid awwal halaman 362, selebaran iltiwae jalsah 1893, selebaran nomor 117, terbitan Rabwah.

[9] Kanzul ‘Ummal fii sunanil aqwaali wal af’aali, al-juz as-saadis, halaman 302, kitaabis safar min qismil aqwaali al-fashlits tsaani fii adabis safari wal widaa’I hadits 17513, penerbit Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut (Lebanon), 2004

[10] Majmu’ah Isytihaaraat, jilid awwal halaman 361, selebaran iltiwae jalsah 1893, selebaran nomor 117, terbitan Rabwah.

[11] Shahih al-Bukhari, Kitabul Adab, bab al-hadzr minal ghadhab

“لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.” ‘Laisasy syadiidu bish shura’ati innamaasy syadiidul ladzii yamliku nafsahu ‘indal ghadhabi.’

[12] Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim Kitabul birri wash shilah wal adab, bab tentang haram menzalimi orang Muslim.

حديث عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ. بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ. (البخاري)

[13] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ahkaam, bab maa yakruhu minal harsh ‘alal imaarah Ketika Abu Musa dan dua orang dari kaumnya menghadap Nabi saw, kedua orang itu meminta dijadikan amir (pemimpin). Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya kami tidak mempercayakan hal itu (kepemimpinan) kepada orang yang memintanya; begitu juga kepada orang yang rakus akan jabatan.”

عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى ـ رضى الله عنه ـ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَا وَرَجُلاَنِ مِنْ قَوْمِي فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَيْنِ أَمِّرْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ‏.‏ وَقَالَ الآخَرُ مِثْلَهُ‏.‏ فَقَالَ ‏”‏ إِنَّا لاَ نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ، وَلاَ مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ ‏”

[14]عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ. (البخاري)

[15] Shahih Muslim, kitabul Iman, bab bayaan anad diina nashihah ‘ad-diinun nashiihatu qulnaa liman qaala lillaahi wa likitaabihi wa lirasuulihi wa li-aimmatil muslimiina wa ‘aamatihim.’  الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ.

[16] Malfuuzhaat, jilid 2, halaman 680, 2003, terbitan Rabwah

[17] Sunan at-Tirmidzi, Abwaabud Da’waat, bab du-aa ummi salamah

عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلاَقَةَ عَنْ عَمِّهِ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ».

Nabi saw berdoa, ‘Allahumma innii a’uudzu bika min munkaraatil akhlaaqi wal a’maali wal ahwaa-i.’

[18] Shahih Muslim, Kitab adz Dzikr wad Du-aa wat Taubah wal Istighfaar, bab fadhlil ijtimaa’ ‘alaa tilaawatil Qur’aani wa ‘aladz Dzikr

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ.

[19] Malfuuzhaat, jilid 4, halaman 216-217, 2003, terbitan Rabwah

[20] Kisyti Nuh (Bahtera Nuh), Ruhani Khazain jilid 19, halaman 11-12

[21] Sunan at-Tirmidzi, Kitab al-Birri wash shilah bab rahmatul lil muslimin ‘ar-raahimuuna yarhamuhumur Rahmaanu, irhamuu ahlal ardhi yarhamkum man fis samaa-i’ الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

(Visited 30 times, 1 visits today)