Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 30 Sulh 1388 HS/Januari 2009

Bertempat di Masjid Baitul Futuh, London, UK

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

 

Status yang didapatkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam dikarenakan beliau a.s. mengikuti sepenuhnya Aqa-o-Mutha (Junjungan yang Ditaati), Hadhrat Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jelas bagi setiap Ahmadi. Sebagaimana dalam Khotbah Jumat yang lalu, saya telah menerangkan sifat Ilahi Al-Kaafi (Yang Maha Mencukupi), bahwa dengan berkat asyiq dan cinta Hadhrat Masih Mau’ud a.s. terhadap ketinggian martabat Hadhrat Muhammad saw.-lah, maka beliau a.s. dapat menjadi orang yang dicintai oleh Allah dikarenakan pada kecintaan dan ketaatannya yang sangat besar dan istimewa untuk Yang Mulia Rasulullah saw. dan dalam hal ini, tidak terhitung ilham-ilham Ilahi yang diberikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s., baik dalam bahasa Arab, Urdu maupun bahasa-bahasa yang lainnya.

       Allah Ta’ala telah memberikan ilham-ilham berupa bagian dari ayat-ayat Al-Qur’an yang  pada kesempatan khutbah yang lalu saya juga telah menerangkan berbagai ilham beliau a.s.,  dan setiap hari dengan fajar menyingsing pada Jemaat Ahmadiyah merupakan bukti pada kenyataan ilham-ilham beliau a.s. tersebut adalah benar dan dakwah beliau a.s. adalah sepenuhnya benar.

Sunnatullah Terhadap Pendakwa Dusta

       Orang yang berdusta mengada-adakan sesuatu atas nama Allah, terutama yang berdusta dalam hal kenabian tidak dapat melepaskan dirinya dari hukuman. Allah Ta’ala sendiri telah menyatakan firman-Nya di dalam Al-Qur’an, sebagaimana yang tertera dalam Surah Al Haaqah sebagai berikut:

وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ ﴿ۙ۴۴﴾ لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ ﴿ۙ۴۵﴾ ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ ﴿۫ۖ۴۶﴾ فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ ﴿۴۷﴾

(‘Wa lau taqawwala ‘alainaa ba’dhal aqaawiil. Laakhadznaa minhu bil yamiin. Tsumma la-qatha’naa minhul watiin. Famaa minkum min ahadin ‘anhu haajiziin.’)  — “Dan sekiranya ia mengada-adakan atas nama Kami sebagian perkataan, niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan, kemudian tentulah Kami memutuskan urat nadinya; dan tiada seorangpun di antaramu dapat mencegah-Nya dari itu.” (Al Haaqqah, [69]:45-48).

      Pada dasarnya, ini adalah sebuah standar pokok bagi tindakan terhadap orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menyajikan tindakan ini juga sebagai sebuah fakta standarisasi atas kebenaran beliau.

       Beliau a.s. bersabda:   “Ini adalah Allah Ta’ala menetapkan sebuah tanda bagi siapapun untuk kebenaran dakwahnya.  Dia berfirman kepada Yang Mulia Rasulullah saw. bahwa “Jika engkau تَقَوَّلَ (taqowwala) terhadap-Ku maka Aku sendiri yang menangkap (menghukum) engkau.” Orang-orang yang ber-taqowwala terhadap  Allah Ta’ala tidak menemui kejayaan bahkan menjumpai kehancuran, di saat itu 25 tahun telah berlalu semenjak saya mulai mempublikasikan wahyu-wahyu saya. Jika saya bertaqowwala mestinya telah dihancurkan dan Dia menyergapku, apakah Allah Ta’ala menyempurnakan janji-janji-Nya? Bukannya Dia telah berfirman bahwa siapapun yg seperti itu pasti Dia menyergapku?

       Namun bukannya Allah telah menyergapku malah menampakkan beratus-ratus tanda untuk mendukung kebenaran dengan berbagai pertolongan demi pertolongan kepadaku. Apakah dengan keragu-raguan lalu suluk (perjalanan ruhani) ini akan tercapai? Dan apakah Dia memberikan begitu banyak pertolongan kepada dajjal? Coba renungkan sejenak! Banyak tanda telah terzahirkan dan saya mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa tak akan ada seorang pun yang dapat menandingi pendakwaannya itu”.[2]

      Selanjutnya beliau bersabda: “Kepada para Rasul dikatakan, Inilah hukumnya bahwa jika kamu merupakan seorang pendusta terhadap-Ku maka Aku pasti memotong urat nadi leher kamu. Sebagaimana telah terzahir dalam ayat

وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ ﴿ۙ۴۴﴾ لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ ﴿ۙ۴۵﴾ ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ ﴿۫ۖ۴۶﴾ فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ ﴿۴۷﴾

dan disini saya telah 40 tahun melewati waktu dalam setiap harinya dikatakan sebagai orang yang mengadakan dusta terhadap Allah Ta’ala, tentunya tidak berdiri sampai sekarang sebagaimana sunnah-Nya berlaku.

      Orang yang mengada-adakan dan orang yang berdusta bisa dipastikan tidak akan dawam dan istiqamah dalam pekerjaannya. Di akhir kehidupan para pendusta orang-orang meninggalkannya. Tetapi apakah kondisi fitratku sedemikian rupa seperti ini bahwa saya hidup selama 40 tahun bisa bertahan menegakkan kedustaan, dan selama bersamaan waktunya Allah Ta’ala juga berdiam diri serta secara terus menerus memberikan bantuan-Nya? Dia menganugerahkan nubuatan maupun bagian-bagian ilmu gaib yang orang biasa tidak bisa melakukannya. Ini merupakan nikmat yang dianugerahkan dari-Nya, dimana orang-orang suci termulia memperolehnya secara khas lagi istimewa.” [3]

Sunnatullah Mengenai  Kegagalan

Para Pendakwa Dusta Berlaku Umum

      Kemudian beliau bersabda, “Jika ada orang yang menyatakan bahwa ayat taqawwala ‘alallah hanya berlaku di zaman Yang Mulia Rasulullah saw., maka hal ini menjadi cela dan kondisi ini sebanding melupakan Allah tidak menyergap orang lainnya yang mengadakan dusta terhadap-Nya. Na’uudzubillaah jika seperti itu maka iman perlu dibangkitkan.

      Memang ini adalah satu ukuran yang dengan itu setiap orang yang benar harus dievaluasi. Setidaknya orang-orang yang beriman pada Kitab Suci Al-Qur’an harus berhenti dari mencemoohkannya itu. Dan tidak juga bagi mereka yang mendakwakan dengan bukti Tanda yang benar di dalamnya itu akan mengerti atau mereka itu ingin menghindar dari mengertikannya.”[4]

         Jadi, Hadhrat Masih Mau’ud dikritik bahwa ayat ini hanya khusus untuk Hadhrat Rasulullah saw., tidak untuk yang lainnya, maka beliau mempertimbangkan sebagai berikut, “Apakah Allah Ta’ala hanya menghukum Yang Mulia Rasulullah saw. saja, dan Allah Ta’ala membiarkan dengan bebas para pendusta yang mana mereka tidak ditangkap?”

      Ini merupakan standarisasi yang ditetapkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s yang berdasarkan petunjuk Allah Ta’ala., dimana  standar tersebut telah tegak dalam firman-Nya. Jadi standar tersebut benar pada setiap seginya. Telah terbukti dengan adanya sejarah Aswad ‘Ansi atau Musailamah Kadzdzab dalam Islam. Apakah kemudian juga orang-orang Muslim akan duduk-duduk di bawah terhadap kedustaan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.?

     Jadi mereka mau membuat lelucon dengan kalam Allah Ta’ala lalu sedikit demi sedikit membawanya ke pasar, sementara mereka beranggapan mereka beriman Al-Qur’anul Kariim. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bukan hanya berdakwah kepada orang-orang Muslim saja bahkan berdakwah juga kepada para penganut salib (Nashrani/ Kristen).

     Berkah dari pemahaman seruan beliau bukan hanya diajarkan dari kalam (firman) Allah Ta’ala dan bukan pula yang dipahami oleh awam, pada kesempatan ini di  dalam Bibel (Ulangan 18:20) juga disebutkan bahwa nabi palsu akan dibunuh, hal itu tertulis dalam Bibel juga, beliau bersabda:

      “Dari kedudukan ini terbukti bahwa seluruh kitab suci Tuhan sepakat bahwa nabi palsu pasti dihancurkan. Sekarang saya persembahkan sebuah logika, bahwa ada seorang raja besar mendakwahkan nubuatan, Rosyandin Jalandhri telah mendakwahkan diri atau seseorang telah mendakwahkan diri tetapi dia tidak dibunuh. Ini adalah jemaat lain yang mana telah terzahirkan. Seumpama jika ini benar, maka orang-orang telah mendakwahkan nubuatan itu dan sampai 23 masa tidak terbunuh juga maka orang-orang sebelumnya memperkarakan dakwah tersebut dengan gerakan secara khusus dan Dia menganugerahkan ilham yang mana ilham tersebut diperdengarkan atas nama Tuhan kepada orang-orang — yakni dikatakan bahwa “telah diturunkan wahyu kepada saya beserta penjagaannya, yang menyatakan saya adalah Rasul Tuhan.” Asal muasal dianugerahkannya kata bersama perihal kesempurnaan wahyu-Nya dikarenakan telah sempurnanya wahyu nubuwat terhadap kami. Yang mana hal tersebut adalah sangat perlu bahwa sebagian kata yang disajikan adalah ini merupakan kalam Tuhan yang diturunkan kepada kami.”

      Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Perhatikan sebelumnya maka berkaitan tentang tanda tersebut, seperti apa kalam Ilahi yang diberikan kepada seseorang yang berkaitan dengan pendakwahan nubuat tersebut. Kemudian diperhatikan setelah adanya tanda tersebut bahwa sampai 23 tahun semenjak pendakwahan tentang kalam Ilahi turun. Yakni pada Zaman itu kalam Ilahi telah disampaikan kepada umat manusia sehingga hal itu diketahui secara bersama sampai 23 tahun setelahnya yang membuktikan seseorang itu pendusta atau orang benar yang menyatakan bahwa apa yang disampaikannya kalam Tuhan, atau pendakwahan tersebut bersesuaian dengan berbagai kitab maupun dari sudut pandang Al-Qur’an Syarif bahwa “Ini adalah kalam Tuhan yang telah diturunkan kepadaku”.

      Ketika sampai beberapa masa tidak terbukti, sehingga pembuktian berdasarkan keimanan atas Al-Qur’an Syarif dan ayat lau taqowwala terdiam dalam hal tersebut terhadap kemauan umat waktu itu, yang mana kondisi umat waktu itu tidak terlihat tanda-tanda keimanan terhadap Allah Ta’ala dan hanya membaca kalimat dengan mulut serta juga mengingkari Islam dalam batinnya.” [5]

Lima Kejadian yang Mengancam  Jiwa

Yang Mulia Rasulullah Saw. dan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

     Oleh karena itu, kaum Muslimin harus merenungkan dan memperhatikan, inilah standard itu. Hal inilah yang bisa menentukan kepada seseorang itu sebagai benar atau dusta. Dengan mengingat berbagai bantuan Allah Ta’ala dan takluknya para musuh dalam peperangan memadai untuk menunjang beliau a.s. dengan tanda besar sebagaimana Yang Mulia Rasulullah saw. sabdakan, dan kemudian bersamaan dengan itu beliau sendiri mengingatkannya.

     Beliau bersabda: “Ingatlah bahwa ada ada lima kejadian yang membahayakan dan mengancam jiwa Yang Mulia Rasulullah saw., yang nampaknya keselamatan beliau saw. itu sudah tidak mungkin lagi. Jika beliau itu bukan seorang nabi dari Tuhan yang benar maka beliau itu tidak akan terselamatkan dari kejadian tersebut.

      (1) Ketika orang-orang kufar Quraisy mengepung rumah Yang Mulia saw dan mereka bersumpah bahwa hari itu juga untuk membunuh beliau saw.

      (2) Ketika orang-orang kafir telah sampai di mulut gua yang di dalamnya itu Yang Mulia saw. bersembunyi dengan Hadhrat Abu Bakar r.a.

      (3) Pada peperangan Uhud ketika Yang Mulia saw. tertinggal seorang diri dan musuh-musuh sudah mengelilinginya dan menyerang beliau dengan pedang-pedangnya dengan tanpa berhasil. Ini merupakan sebuah mukjizat.

      (4) Ketika seorang perempuan Yahudi menaruh racun yang mematikan pada daging yang disuguhkan kepada beliau, tetapi Allah telah senantiasa menjaga  Yang Mulia saw.

      (5) Ketika Khusro Pervez Kaisar Persia bermaksud membunuh Yang Mulia saw.  dan mengirim utusan untuk melaksanakan rencana tersebut.

     Jadi, penyelamatan dari semuanya ini adalah sebuah testimony (pernyataan) atas kebenaran Yang Mulia saw. itu dengan diselamatkannya dari segala mara bahaya tadi dan unggul atas segala musuh-musuh Islam, ini merupakan satu dalil yang besar yang menyatakan bahwa beliau adalah benar dan Tuhan bersamanya.”[6]

       Menjelaskan lebih lanjut bagaimana Allah Ta’ala juga senantiasa memberikan bantuan-bantuan kepada beliau a.s dalam perjalanan kehidupan keruhaniannya, Hadhrat Masih Mau’ud a.s bersabda: “Ini adalah sungguh luar biasa, dan juga bahwa ada lima kejadian yang dapat merendahkan kemuliaan dan membahayakan jiwa saya.

      (1) Pada saat saya diajukan pengadilan dengan dakwaan / tuduhan menghasut untuk pembunuhan terhadap Dr. Martin Clark.

      (2) Polisi mengajukan tuntutan kasus kriminal terhadap saya di Pengadilan Gurdaspur mengenai Mr. Dowie.

      (3) Seseorang yang terbunuh bernama Karam Din dari Jehlum mengajukan dakwaan kasus kriminal kepada saya.

      (4) Karam Din yang sama mengajukan dakwaan kasus kriminal terhadap saya di Gurdaspur.

      (5) Selama penyelidikan sehubungan dengan terbunuhnya Lekh Ram, rumah saya digeledah di mana semua pihak lawan berusaha sekuat mungkin, tetapi tidak dapat menemukan bukti apapun. Setiap dan semua perkara pengadilan ini tidak berhasil   membuktikan apapun.”[7]

      Perhatikanlah sungguh-sungguh bahwa karena ketaatan terhadap Sang Majikan mendapatkan berkah dengan pendakwahan ke-Masihiyat-an dan ke-Mahdi-an. Keberhasilan dan kejayaan ini berkah dari pertolongan dari Allah Ta’ala. Dengan demikian kemuliaan dan kejayaan Junjungan beliau, YM Nabi saw., amatlah sangat dijunjung tinggi, namun dengan ketaatannya yang sempurna kepada beliau saw. itu  Allah Ta’ala-pun telah memanifestasikan sifat-Nya Al Kaafi kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s..

Mendapat Kehormatan dari Hakim Pengadilan

Duduk di Kursi

     Selain itu, ada juga peristiwa-peristiwa lainnya yang tak terhitung jumlahnya, oleh karena itu tidak bisa dipaparkan secara rinci. Intinya Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan bantuan-Nya kepada beliau a.s.

      Perkara pengadilan yang diajukan oleh Dr Martin Clark adalah sangat terkenal, hal ini merupakan sebuah kilasan sejarah yang amat masyhur di dalam Jemaat. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. cukup dikenal dalam kisah ini. Di zaman tersebut, orang-orang Muslim, Hindu dan Kristiani mulai menentang terhadap Hadhrat Masih Mau’ud a.s., hal ini berlangsung cukup alot dan menyita.banyak waktu.

      Dalam peristiwa ini Allah Ta’ala telah membebaskan beliau a.s. sepenuhnya dari segala tuduhan tersebut. Bagaimanapun juga orang-orang yang merendahkan beliau atau ingin menghina beliau akan ditangani dan berhadapan langsung dengan Allah Ta’ala. Sebagai contohnya, ketika Hadhrat Masih Mau’ud a.s. datang untuk mengurus perkara tersebut, kepada beliau a.s. disodorkan untuk duduk di kursi sebagai sebuah tanda kehormatan yang tinggi.

     Beliau a.s. bersabda: “Pada hakikatnya Dia-lah Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuat, yang tidak akan membiarkan kepada hamba-Nya yang taat dan setia tergeletak di hadapan para penyerangnya. Para musuh mengatakan bahwa saya akan membunuhnya dengan cara yang keji yakni akan dijadikan seperti kentang direbus. Namun Tuhan berfirman bahwa “Wahai orang-orang bodoh! Kalian akan bertarung melawan Aku? Dan bukankah dengan keperkasaan-Ku  Aku bisa membuat orang terhina?” Pada hakikatnya dunia tidak akan bisa melakukannya, hanya Dialah yang dari langit yang menentukan dan sudah banyak manusia dari bumi yang dengan kekuatannya sendiri tidak pernah sanggup melakukannya. Dialah yang ada di langit dalam masa yang panjang senantiasa menentukan takdir-Nya.”

      Pada suatu kesempatan beliau a.s. menerangkan bahwa sebagaimana Allah Ta’ala menghinakan para penentang beliau a.s dan para penentang heran menyaksikan kehinaan untuk beliau a.s. tidak pernah didapatkan. Beliau a.s. bersabda: “Ketika saya berada di Deputi Commissioner (Maksudnya ketika saya dipersilahkan untuk berada di hadapan Deputi Commissioner) maka telah disediakan kursi sebelumnya untukku. Ketika saya datang ketua sidang dengan penuh rasa hormat mempersilahkan saya duduk di kursi tersebut.”

Kehinaan  Mlv. Muhammad Hussein Batalwi

     Singkat cerita, Maulvi Muhammad Hussein Batalwi dan seratusan orang datang untuk menyaksikan (na‘uudzubillaah min dzaalik) dihinakannya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. merasa sangat  heran dengan perlakuan tersebut. Inilah agama yang mana tatkala seseorang direncanakan untuk dihinakan dan dipermalukan namun berkah dari karunia dan kasih-sayang-Nya yang besar malah mendapatkan kehormatan untuk duduk di atas kursi dalam persidangan.

    (Beliau a.s bersabda lagi), “Saya waktu itu berpikir bahwa para penentangku tidak merasakan azab ini sedikitpun dimana mereka menginginkan melihat saya dihinakan dalam pengadilan itu,  tetapi rupanya Allah Ta’ala mempunyai kehendak untuk menghinakan mereka juga, sehingga hasil dari keputusan telah diperoleh bahwa saya tidak bersalah dan tidak ada bukti ditemukan sampai sekarang.

     Untuk kasus Dr Clark, pengadilan yakin ada seseorang yang melakukannya dengan sedemikian rupa. Mereka berharap bahwa mereka bisa memaksa Abdul Hamid sebagai tersangka untuk kasus tuduhan rencana pembunuhan Dr Clark. Ia (Mlv. Muhammad Hussein Batalwi) ada di sana adalah sebagai saksi dari pihak penuntut, Dr Clark,  dan ia meminta kepada ketua sidang Deputi Commissioner dirinya pun diberikan juga sebuah kursi, dengan mengatakan bahwa walaupun ini bukan sidang majlis para Maulwi seseorang meminta kursi,  tetapi hal itu telah ditolak oleh ketua sidang Deputi Commissioner.

     Tampaknya tidak ada kabar tentang urusan Muhammad Husein sebelumnya bahwa dia meminta kursi untuknya dan ditolak. Oleh karena itu ketika dia datang untuk memberikan kesaksiannya, sebagaimana dia menunjukkan dengan sendirinya kekeringan keruhaniannya sebagai imam. Dia datang dengan sangat ceroboh langsung dengan pongahnya meminta sebuah kursi kepada Deputi Commissioner. Ketua sidang yang terhormat menjawab bahwa “Anda tidak mempunyai hak mendapatkan sebuah kursi di pengadilan oleh karena itu kami tidak bisa menyediakan kursi untuk anda.” Untuk kedua kalinya dia mendesak dengan lantang meminta kursi sebagaimana saya berada di atas kursi dan bapakku (?) Rahim Bakhs juga sudah ada kursi yang tersedia. Dia (Muhammad Hussein) dengan beraninya mengatakan kepada Ketua sidang bahwa, “Anda bohong, anda bilang tidak ada kursi, kalau tidak ada kursi seharusnya bapak anda tidak disediakan kursi.” Ketua sidang menjawab bahwa “Kami tidak menyediakan kursi untuk anda.” Singkat cerita Muhammad Hussein mengatakan bahwa “Saya mempunyai surat-surat, karena itu Hakim Sahib harus memberikan kursi pada saya.” Setelah mendengar kebohongan ini, Tn. Hakim marah dengan lantang dan mengatakan: “Hentikan ocehan anda, tangan ke bawah dan berdiri!”

Ilham-ilham Ilahi kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

 

     Pada waktu itu saya juga merasa kasihan terhadap  Muhammad Hussein dikarenakan hal kehinaannya telah tiba. Jika kondisi badan kaku seperti ini maka darah seseorang tidak bisa mengalir dengan baik dan sementara dia menerima kehinaan. Seumur hidup saya tidak mau mengingat pemandangan ini. Jadi setelah suasana menegang, terdiam, menakutkan dan mencekam tangan lunglai ke bawah serta berdiri tertegun dan sebelum kembali duduk di bawah meja.

      Singkat cerita saya saat seperti itu menerima ilham dari Allah Ta’ala: Inni muhiinun man araada ihaanataka yakni “Aku akan menghinakan siapapun yang menghina engkau.” Inilah firman dari mulut Tuhan yang beberkah, Dia senantiasa memperhatikan kita dengan sangat jeli.”[8]

     Bersama ilham yang barusan tersebut Hadhrat Masih Mau’ud a.s  menerima satu ilham yang lain juga, Inna kafainaakal mustahzi-iin (Sungguhnya Aku cukup bagi engkau terhadap pencemooh) ini juga demi menjawab pemandangan yang beliau a.s. alami. Dialah (Para penentang) yang selalu berharap akan kehinaan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Dia yang memulai setiap perkara yang ada untuk menyaksikan cahaya beliau a.s. dan para pencela terus mencari kesempatan untuk menghinakan beliau a.s., dia sendiri yang membuat munculnya berbagai tanda, maka inilah berbagai bantuan pertolongan Allah Ta’ala.

Pemerintah Inggris  Menghukum Nawwab Shiddiq Hasan Khan

     Kemudian pada suatu kesempatan dalam kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ketika beliau a.s. sedang menulis Barahiin Ahmadiyah, pada waktu itu beberapa orang menawarkan bantuan untuk mencetak beberapa halaman, maka Nawwab Shiddiq yang merupakan seorang ulama terkemuka pada saat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. juga mencetaknya.  (?)

Bumi tempat mereka bernaung, mereka memperoleh ulama-ulama keagamaan dan tanah Hindustan. Kemudian Pemerintahan Inggris dimana beliau tinggal  telah mempersiapkan sebuah penghargaan dan memperoleh kemajuan setingkat kementrian dan utusan. Kemudian dinikahkan oleh pemerintah dengan Nawab Syahjihan Begum. Kemudian pemerintah dengan kekuatan penuh mengekang dan menghukumnya dengan keterlibatan pemerintah sendiri.

    Pemerintah Inggris telah memberikan kepada Tuan Sadeeq ini beberapa buah anugerah pada zaman itu termasuk gelar ‘Nawab’, jabatan kepemimpinan dan menenangkannya dengan berbagai khutbah. Ini dikarenakan karena beliau ini seorang Firqoh Ahli Hadits dan dengan kehidupannya yang kaya-raya, ia telah berkhidmat kepada gerakan Islam. Selain itu beliau tidak mengotak-atik masalah din dan Hadhrat Masih Mau’ud as sendiri juga menganggap beliau sebagai seorang yang shaleh lagi muttaqi.

      Ketika Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menerbitkan buku ‘Barahiin Ahmadiyyah’ itu, Beliau a.s menulis surat kepada beberapa orang penentang termasuk Nawwab Shiddiq untuk berlanggananan pada jilid yang awal ini. Nawab mula-mula memberikan responsnya dengan sopan-santun, menyetujui untuk membeli beberapa exemplar namun kemudian diam saja.

      Kemudian ketika Hadhrat Masih Mau’ud a.s.  menghubunginya untuk kedua kalinya ia menjawab dengan mengatakan hal itu adalah bertentangan dengan keinginan Pemerintahan Inggris untuk membeli atau menyokong buku-buku keagamaan ini. Oleh karena itu pihak pemerintah tidak mengharapkan untuk membeli atau memborongnya melalui beliau.

    Sekarang ini, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dituduh sebagai tanaman/antek Inggris,  namun ulama terkenal mereka justru menolak untuk membeli bukunya itu untuk menyenangkan Inggris, yang mana mereka malah menulis sebuah tulisan yang memukul mundur bagi Islam.

      Selain itu Hafiz Hamid Ali Sahib mengatakan, bahwa paket buku yang dikirimkan kepadanya dikembalikan setelahnya dibuka/disobek dan bukunya juga disobek-sobek. Setelah melihat keadaan bukunya itu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menjadi sangat marah dan mengatakan: “Baik! Silahkan kalian itu terus membuat senang pemerintahan kalian!” Berdoa seperti ini “semoga Allah akan mencabik-cabik kehormatan mereka. Kemudian beliau a.s. bersabda bahwa “Kami juga tidak mengharapkan dari Nawab Sahib, Allah Yang Maha Mulia (Karim) cukup untuk harapan kami dan mudah-mudahan Pemerintahan Inggris dapat merasa senang dengan Nawab Sahib.” [9]

     Pada zaman itu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menulis sebuah surat kepada Mir ‘Abas ‘Ali Sahib. Beliaunya juga menjawab surat beliau a.s. sebagai berikut: “Pada mulanya ketika kitab ini (Barahin Ahmadiyah) mulai dicetak maka isi tulisan sangat membantu konsentrasi dalam pemerintahan Islami bahkan dalam kitab ini diterangkan sedemikian rupa. Jadi di dalamnya hanya Nawab Ibrahim ‘Ali Khan Sahib, Malirkotalah dan Mahmud Khan Sahib, kepala Chatari, dan Mudarul Mahmaam yang sedikit membantu terwujudnya kitab itu tersebar.

      Beberapa saat setelah itu, yang pada masa awalnya tidak diperhatikan dan tidak ada perjanjian sebelumnya yang mana kinerjanya juga tidak memuaskan. Bahkan Nawab Sadiq Khan telah menulis sebuah permohonan kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. untuk didoakan. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. berdoa bagi beliau dan dengan doa-doa Hadhrat Sahib mencukupi untuk membantu Mulaa Kariim. Alaisallahu bikaafin ‘abdahu  (Tidakkah Allah cukup bagi hamba-Nya?)

     Maka Allah Ta’ala juga mengabulkan doa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sedemikian rupa sehingga setelah itu Nawab Sahib mendapatkan kembali gelar-gelar kehormatannya dari Pemerintahan Inggris. Pemerintah membuat tuduhan terhadap Nawab Sahib dan guna penyelidikan Komisi Investigasi dibentuk untuk menyelidiki tuduhan bahwa beliau juga terlibat di dalam suatu pemberontakan terhadap pemerintahan Inggris. Serta semua gelar-gelarnya dicabut kembali.

      Sampai disini para Muslim mengetahui bahwa seseorang yang begitu besar dan terhormat serta disegani. Beliaupun bisa mendapatkan hukuman dari pemerintah Inggris, apapun upaya untuk menanggulangi atau berbagai cara untuk mempertahankan segala kehormatannya tersebut telah gagal.

      Akhirnya ketika beliau sudah merasa sangat putus asa, ketika pada waktu itu beliau mengirim permohonan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as supaya memberikan rekomendasi terhadap berbagai kesulitan tersebut. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. berdoa dan mendapatkan ilham sebagai berikut: “Sar ko bi se us ki ‘izat becai gai” yang artinya “kehormatannya akan terlindungi dengan cara yang cantik nan indah.”

      Bahkan Lekhram juga telah menulis perihal perolokannya terhadap Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bahwa “Inikah doa anda yang menyatakan bahwa Allah Ta’ala mendengarkan doa anda, bersama anda dan seorang Muslim, Nawab Shadiq Hasan Khan Sahib nantinya bisa terbebaskan dari berbagai tuduhan itu serta dikembalikan segala kehormatannya? Jika doa-doa anda dikabulkan maka mengapa doa beliau (Nawab Sahib) tidak dikabulkan yang mana Allah Ta’ala menjaganya?”

Selain itu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah bersabda bahwa apa yang dilakukannya itu masalah kebaikan lain, tetapi kemudian doa beliau a.s. lah yang menentukan dan Allah Ta’ala menganugerahkan kembalinya segala kehormatan Nawab Sahib melalui beliau a.s..

Munshi Illahi Bakhs  

       Kemudian Munshi Illahi Bakhs yang adalah seorang Akuntan yang begitu dihormati oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s., namun kemudian ia menjadi seorang musuh yang ekstrim, ia menggunakan bahasa dan kata-kata yang tidak semestinya dan menuduh bahwa semua wahyu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. itu adalah dusta, dan ia tidak mau menerbitkan ilham-ilhamnya sendiri mengenai Masih Mau’ud karena takut akan dituntut secara hukum.

     Hadhrat Masih Mau’ud a.s. meyakinkan kepadanya bahwa ia tidak akan dituntut oleh hukum, karena ia hanya menginginkan Takdir Ilahi agar orang-orang itu mengetahui siapa orang yang dari Tuhan itu,  jadi beliau tidak usah memikirkan masalah tuntutan itu. Beliau mengatakan “Sekarang giliran saya untuk menerbitkan ilham-ilham juga.” Beliau juga mengatakan bahwa, “Saya tidak akan mempermasalahkan hukum”,  dan bersabda: “Intinya saya hanya ingin membuktikan bahwa saya dari langit yakni ini adalah saringan doa untuk mengetahui dengan cara sedemikian rupa seseorang ini merupakan wujud hakikat yang bermanfaat, sudut pandang cara demikian akan praktis mengetahui bahwa seseorang tersebut merupakan imam dari Allah Ta’ala dan juga diketahui siapa orang tersebut apabila tidak dari Allah Ta’ala. Hanya Allah yang tahu atau Dia membukakan bashirat dari kehendak-Nya kepada orang yang dikehendaki. Inilah aturan yang telah ditegakkan.”

       (Yakni Babu Sahib harus menerbitkan semua ilhamnya tentang kedustaan saya). Jadi jika seandainya ilham-ilham Munshi sahib adalah dari arah Allah Ta’ala maka sudah pasti kebinasaan akan menimpa kepada yang dia tuduhkan berdasarkan ilham-ilham tersebut (Yakni pasti dan pasti setelah itu kebinasaan akan menimpa saya dan hancur) dan baginya ada kasih sayang Sang Pencipta. Dia akan diselamatkan dari kedustaan.”

     (Yakni menurut tuduhan Babu Sahib terhadap saya tentang kedustaan saya perihal pendakwahan saya sebagai Masih Mau’ud maka saya akan terbunuh) Namun, jika Allah Ta’ala yang sangat kaya akan ilmu itu sangat menentang prasangka buruk ini maka hasilnya akan jelas terpancar dengan cemerlang.

(Yakni dalam irfan ilmu Allah Ta’ala nan hakikat sayalah Masih Mau’ud itu maka Allah Ta’ala akan memberikan pertolongan untukku) dan saya berjanji bahwa na’uudzubillaah saya mendatangkan kesulitan kepada beliau dan tidak akan ada penyerangan pada martabatnya. Saya hanya menginginkan pembuktian dari sisi Allah Ta’ala (Yakni ini yang saya inginkan adalah supaya saya tidak diragukan dan saya tidak terbukti dusta serta tidak zalim, sehingga jika saya berdusta biarlah Tuhan sendiri yang menghukumnya) dikarenakan ini merupakan cara dari Nabi-nabi Tuhan, sebagaimana yang Hadhrat Yusuf as inginkan.

Ilham-ilham  Munshi Ilahi Bakhs

 

      Akhirnya Munshi Ilahi Bakhs Sahib yang seorang Accounting tersebut menulis sebuah buku dengan 400 halaman dengan ilham-ilhamnya dan mengirimkannya kepada beliau a.s.. Di antara ilham-ilhamnya ialah sebagai berikut:

Kata Munsi Ilahi Bakhs bahwa saya mendapatkan ilham: “Ada salam untukmu, kamu akan menang dan padanya (Yakni Hadhrat masih Mau’ud as) akan mendapatkan kemarahan Tuhan dan dia harus dihancurkan.” Selanjutnya, “sebagaimana yang dikehendaki ribuan penentang, pada suatu saat nanti Mirza sahib akan dihancurkan.” Lalu katanya, “Thaun telah turun dan dia dengan jemaatnya akan terkena wabah thaun dan Tuhan akan menurunkan kehancuran kepada orang-orang zalim.”

Kemudian dia berkata lagi, katanya: “Ada yang mendukung saya, ketika belum sampai pada titik kesempurnaan maka saya belum akan terbunuh.” Begitulah ilham-ilham beliau. Selain itu dalam kitab Ashae Musa yang mana beliau telah menulisnya dan menerbitkannya, tentunya buku itu berisi tentang ilham-ilham berupa tuduhan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as, tetapi adakah tuduhannya terbukti? Tidak ada dari ilham-ilham tersebut yang mendapatkan dukungan Ilahi untuknya itu dan binasanya Masih Mau’ud karena pest sudah berlalu. Malah justru temannya sendiri yang meninggal dunia karena tha’un dan dianya sendiri terkena oleh penyakit pest dan meninggal pada tahun 1907. Kemudian berbagai kabar ditulis bahwa mereka yang terbunuh karena tha’un merupakan mati syahid yang tertera di dalam beberapa halaman kitab Ashae Musa dan malapetaka ini berlalu hingga sampai 12 tahun tetapi Hadhrat Masih Mau’ud as, jemaatnya dan orang-orang yang tinggal dalam rumah beliau as terpelihara atas karunia Ilahi dan sekarang kita semua bisa menyaksikannya bahwa dengan dukungan karunia Allah Ta’ala terhadap jemaat ini, jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as telah bekembang ke seluruh dunia dengan berbagai pertolongan Ilahi dan sampai ke berbagai pelosok negeri. Serta tidak ada yang bisa menghentikannya maupun menghalangi laju perkembangannya.

Selanjutnya, keluarga beliau sendiri, Mirza Imamuddin sahib dan Nizamuddin sahib adalah saudara sepupu (anak paman dari) Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Mereka memperlihatkan rasa permusuhan yang besar terhadap beliau dan juga terhadap Islam secara umum. Mereka bersekongkol dengan orang-orang Hindu, dan mengatakan banyak hal penghinaan dan kata-kata kotor kepada Hadhrat Rasulullah saw, bahkan, mereka mengundang Lekh Ram (Pendeta Hindu yang suka mencaci Islam) untuk tinggal di Qadian (di rumah mereka) selama dua bulan. Mereka tidak melewatkan sedikit waktu sekalipun untuk mengganggu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Mereka membangun dinding penghalang di jalan menuju masjid untuk menghalangi orang-orang Jemaat yang mau berkunjung kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan tidak mau mendengar permintaan dari siapapun untuk membongkar dinding tersebut sehingga orang-orang yang mau datang mengalami kesulitan. Satu-satunya tuntutan pengadilan yang pernah diajukan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as tehadap pihak lawan adalah terhadap orang-orang ini yang adalah untuk menghilangkan penyebab ketidaknyamanan terhadap orang-orang Jemaat. Beliau as juga banyak berdoa untuk perkara ini dan menerima sebuah wahyu yang kuat dari Allah Ta’ala dalam bahasa Arab yang terjemahannya adalah secara jelas akan memenangkan perkara ini di pengadilan, tetapi pada saatnya yang telah ditentukan. Ini adalah karunia Tuhan yang telah dijanjikan dan tidak ada yang bisa membatalkan bahwa saya akan memenangkannya secara terang atas nama Tuhan serta ini perkara yang benar. Dalam perkara ini tidak akan ditemukan perselisihan sedikitpun dan tidak akan ada yang ditutup-tutupi serta akan memberikan kepada anda sekalian rasa heran yang luar biasa. Ini adalah wahyu Tuhan yang merupakan penguasa seluruh langit. Robbku yang tidak pernah bergeser dari shirotol mustaqiim, senantiasa menjaga hamba-hamba-Nya yang terpilih. Dialah Tuhan yang tidak pernah melupakan hamba-hamba-Nya serta layak sebagai penolong sejati. Maka andakah yang merasa akan mempunyai kesempatan meraih kemenangan. Namun dalam hal ini sampai waktu tertentu maupun sampai akhir dari semua ini maka keputusan Ilahilah yang akan menentukan.

Walaupun terlambat dan bahkan para pembelanya nampak sudah berputus asa, akhirnya sebuah dokumen ditemukan diantara catatan-catatan, dan yang sebagai akibatnya membuktikan hasil perkara pengadilan itu adalah untuk kemenangan bagi Hadhrat Masih Mau’ud as yang dinyatakan sebagai pihak yang benar dan dinding pun dibongkar. Hakim mengatakan bahwa jika Hadhrat Masih Mau’ud as menginginkannya sebuah tuntutan hukum lainnya bisa diajukan untuk meminta biaya ganti rugi dan bisa mengajukan tuntutan terhadap orang yang telah lari dari tanggungjawab. Para ahli hukum merekomendasikan untuk melakukan tuntutan balik. Sementara itu ketika tuntutan dilakukan Mirza Imamuddin telah meninggal dan Mirza Nizamuddin-lah yang dipanggil ke pengadilan. Kondisinya persis sebagaimana yang telah dinubuatkan dalam ilham bahwa kepemilikannya semuanya telah habis, sehingga tidak kan bisa memenuhi ganti rugi yang disepakati dalam catatan sebesar 143 rupee. Dia tidak punya apa-apa lagi untuk membayarnya. Dia meminta konsesi dengan pernyataan bahwa mereka itu adalah satu famili. Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan bahwa saya tidak mengajukan perkara tersebut. Dan kepada pengacaranya beliau as untuk tidak perlu mengejar perkara ini lagi dan beliau membuat secara tertulis bahwa walaupun orang-orang tersebut telah membuat penghinaan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as namun sekarang masalah pengajuan perkara ini dianggap selesai yang mana keputusan pengadilan telah dijatuhkan. Kami telah mendapatkan tempat kami lagi. Untuk itulah tidak perlu melakukan balas dendam terhadap orang-orang itu. Ini merupakan kemenangan beliau as dalam perhelatan perkara tersebut.

Selain itu, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Sangat disayangkan bahwa orang-orang yang menentangku dalam ketentuan dari berbagai hadits mutawatir, mereka tidak pernah terpenuhi maksud dan berakhir dengan penyesalan pada waktunya, mereka harus menanggung segala akibatnya baik yang bersifat sendiri-sendiri maupun bersama seseorang yang lain. Jika nasib buruk tidak menimpanya maka untuk mereka ada mukjizat yang akan menuntut tanggung jawab mereka pada waktunya sedangkan Tuhan pasti melindungiku dan tidak hanya melindungi bahkan memberikan kabar juga sebelumnya bahwa Dia akan melindungi.[10]

Selanjutnya beliau as bersabda: “Ini merupakan masalah yang ajib/ unik. Apakah ada seseorang yang bisa mengetahui sebuah rahasia. Yang mana mereka mengkhayalkan bahwa saya kadzib, orang yang mengada-ada dan dajjal maka saya heran bin aneh. Jika orang inilah justru yang terbunuh dalam mubahalah. Apa na’udzubillah Tuhan keliru memahami seseorang? Kalau orang ini sedemikian baiknya mengapakah Tuhan menurunkan hukuman dari sifat Qohar-Nya serta orang ini mengalami maut juga. Kemudian mengalami kehinaan dan kesengsaraan juga.”[11]

Beliau as bersabda: “Hampir setiap kesempatan ada saja upaya makar dari para Mulwi dan mereka tanpa mempertimbangkan rasa dalam aksinya yang mana rasa kemanusiaanpun nyaris tidak ada. Sampai disini yakni sampai Mekkahpun mereka memberikan berbagai fatwa. Sekitar 200 mulwi yang telah memberikan fatwa kafir terhadapku bahkan ada fatwa juga yang menyatakan wajib dibunuh tetapi segala maksud mereka tiada kesampaian……… jika ada rasa kemanusiaan maka tidak ada keperluan sedikitpun, hanya karena perselisihan paham kemudian harus menghendaki kematianku bahkan untuk kematianku cukuplah Tuhan menjadi penentunya.”[12]

                Beliau as memiliki keyakinan akan Dzat Allah Ta’ala, keyakinan akan takdir-Nya yang Allah Ta’ala berlakukan kepada para nabi-Nya dan hanya kepada Allah Ta’alalah para nabi berupaya sampai kepada batas kesempurnaan. Sebagaimana dipahami juga tidak dijumpai rasa keterputusasaan. Tidak sekedar sampai batas khayalan dalam otak bahwa Allah Ta’ala tidak akan menolong fulanku dalam berbagai kegiatannya. Ya memang do’a sangatlah diperlukan. Sangat diperlukan perhatian khusus terhadap do’a ini.

                Hadhrat Masih Mau’ud as pada suatu tempat bersabda: “Ada kesalahan dari seorang tokoh Arab yang menyatakan jika Tuan membayar kepadaku 1000 rupees untuk menetapkanku sebagai wakil disini maka saya akan melancarkan maksud dan tujuan Tuan.” (Yakni membayarku dengan pese dan menetapkanku sebagai perwakilan atau agen dari tujuan sang pembayar disini, maka saya akan melancarkan berbagai aksi untuk memenuhi misi Tuan). Hadhrat Aqdas bersabda bahwa untuk mereka perlu dicatat, kami tidak perlu wakil-wakil seperti itu. Satu saja wakil kami yang telah menyebarkan misi kami selama 22 tahun. Dia yang telah menunjukkan segala pertolongan-Nya dan apa perlunya mengangkat wakil disana serta Dia juga yang telah senantiasa menjaga dengan firman-Nya alaisallahu bikaafin ‘abda-Hu.”[13]

                Selanjutnya beliau as bersabda: “Sebagian teman terhormat kami yang asyik mendalami kecintaan terhadap agama. Mereka mengkritisi ketentuan basyariat yang kami kenakan sebagaimana hal tersebut dipikirkan orang-orang dalam berbagai bentuknya maka seberapapun besarnya kitab telah tercetak, sementara kitab tersebut telah tercetak dan diterbitkan dengan beaya ribuan rupiah pada saat itu. Jadi inilah kemarahan terhadap orang-orang yang telah berkhidmat kepada mereka yang mana jika kami orang benar tidak usah menulisnya. Pada hakekatnya kitab-kitab itu memang wajib untuk dikaji dan diketahui maka kemudian kitab yang telah tercetak itu sendiri tidak bermanfaat. Jika memang demikian kenapa akan dicetak dan diterbitkan dalam anggaran rupiah tertentu jumlahnya. Jadi dia hanya menakut-nakuti teman kami tersebut dan setelah yakin dalam pemahaman bahwa kami didukung penuh oleh qadir mutlaq dan maulaa karim, hanya orang-orang pelit dan kikirlah yang tidak mau memberikan kontribusinya sehingga hanya tergantung dengan tumpukan uang kekayaannya dalam kotak-kotak peti tertentu yang mana kuncinya tersimpan dalam saku mereka. Jadi itulah qudrat kami, agama-Nya, keesaan-Nya dan untuk memenuhi segala keperluan hamba-Nya Tuankah yang akan menolongnya. Alam ta’lam innallaha ‘alaa kulli syaiin qodiir (Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatunya)” (Al Baqoroh:107)[14]

                Inilah beberapa peristiwa yang telah saya sampaikan, masih banyak lagi peristiwa-peristiwa yang menggambarkan kejadian serupa tentang dukungan Ilahi dalam kehidupan beliau as yang dapat kita jumpai pada sirat beliau as dalam sejarah jemaat. Kemudian setelah wafatnya beliau as juga setiap kali ada fitnah penentangan maka datanglah pertolongan dari Allah Ta’ala. Setelah itu jemaatpun dapat selamat dari akibat buruknya fitnah penentangan tersebut dan Hadhrat Masih Mau’ud as telah bersabda mengenai berdirinya silsilah ini bahwa jemaat ini akan terus maju dalam berbagai bangsa di dunia. Walaupun adanya perlawanan dan pembatasan dari beberapa pihak negara, jemaat ini terus berkembang berkat karunia Allah Ta’ala. Meskipun dengan jumlah dana yang kurang pada saat ini, seorang duniawi tidak dapat membayangkannya betapa jemaat ini dapat berjalan bahwa dengan kondisi keuangan seperti itu bagaimana bisa berjalan, hal ini bisa dilaksanakan karena semuanya berdasarkan perencanaan yang tepat sebelumnya sampai penggunaan untuk manusianya. Jika seorang duniawi yang bijak melihat anggaran yang dimiliki oleh jemaat maka mereka dapat mengetahuinya bahwa jumlah ini adalah jauh lebih sedikit juga dari pendapatan setahun seorang yang kaya-raya di dunia. Betapapun juga Allah Ta’ala telah menetapkan keberkahan sangat besarnya, dengan ukuran yang begitu besar yang mana apabila seorang duniawi melihatnya akan memberikan bayangan bahwa kami itu memiliki harta kekayaan yang besar dan uang berlimpah. Atas karunia Allah Ta’ala keuangan kita itu sangat kuat dan ini disebabkan karena jumlah pembelanjaan yang benar digunakan untuk keperluan yang tepat dengan pengeluaran yang sesuai.

Saya ingat, dalam kunjungan saya ke Afrika terakhir beberapa waktu lalu saya menemui Tuan Presiden negara Benin. Dia orang yang sangat berharap para investor menginvestasikan uangnya di negaranya. Dari segi ini, ia berjumpa dengan saya nampaknya sebagai seorang duniawi. Pertanyaan pertama yang diajukan oleh beliau kepada saya pada pertemuan tersebut adalah “Berapa juta dollar investasi yang akan dilakukan oleh Jemaat anda di negeriku ini?” Demikianlah gambaran pandangan orang-orang itu tentang Jemaat kita umumnya.

Sebenarnya, pertolongan Allah Ta’ala itu ada bersama kita dan Dialah yang senantiasa mencukupi dalam setiap pekerjaan dan upaya yang kita lakukan, dan hal ini membuktikan tanda dari Tuhan Yang Maha Hidup dan Tuhan Islam yang Maha Hidup yang dapat terlihat pada setiap waktu, dan setiap Ahmadi dapat merasakan kehadiran-Nya bahkan seluruh dunia juga ikut merasakannya. Inilah Tuhan Yang Menguasai langit dan bumi, tatkala Dia mengutus hamba-Nya ke dunia untuk menyebarkan agama, Dia meyakinkan (memberi ketenangan) kepada mereka dalam segala caranya dan mengumumkan kepada mereka dalam setiap perkara itu, yakni

اَلَیۡسَ اللّٰہُ  بِکَافٍ عَبۡدَہٗ ؕ وَ  یُخَوِّفُوۡنَکَ بِالَّذِیۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ ؕ وَ مَنۡ یُّضۡلِلِ اللّٰہُ  فَمَا  لَہٗ  مِنۡ ہَادٍ

 ‘Alaisallahu bi kaafin ‘abda-Hu…’ – Apakah Allah tidak cukup bagi hamba-Nya?…” (Az Zumar, 39:37). Kapan saja kesulitan itu datang kepadamu maka Akulah yang akan menjauhkan segala kesulitanmu itu. Aku mencukupi untukmu selamanya. Para musuh menginginkan kehinaan bagi para kekasih Allah Ta’ala atau mereka menghendaki adanya tanda kehinaan. Mengenai hal ini Dia menentramkan orang-orang yang dicintai-Nya dengan firman-Nya, اِنَّا کَفَیۡنٰکَ الۡمُسۡتَہۡزِءِیۡنَ ‘Inna kafainaakal mustahzi-iin’ – “Sesungguhnya Kami mencukupimu untuk menghadapi para pencemooh.” (Surah al-Hijr, 14:96) Kemudian Dia juga mengumumkan: وَ اللّٰہُ اَعۡلَمُ بِاَعۡدَآئِکُمۡ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ وَلِیًّا ٭۫  وَّ کَفٰی  بِاللّٰہِ نَصِیۡرًا ‘Wallahu a’lamu bia’daaikum – wa kafaa billahi waliyyaw wa kafaa billahi nashiira.’ “Dan Allah Maha Mengetahui semua musuhmu dan cukuplah Allah sebagai Teman serta cukuplah Allah sebagai Penolong.” ( An-Nisaa, 4:46)

                Jadi inilah Allah Ta’ala, Tuhan yang kekuasaan-Nya senantiasa hidup, senantiasa membantu dan menolong serta memperlihatkan tanda-tanda-Nya yang mana kita menyaksikan di dalam setiap langkah kita. Semoga Allah Ta’ala selalu demikian agar kami selalu dapat menjadi orang-orang yang memenuhi hak-hak-Nya dengan sebenar-benarnya dan semoga kita senantiasa menyaksikan berbagai pertolongan-Nya.

                Disini saya ingin menjelaskan hal lain lagi, saya telah menyebut mengenai Baha’ullah dalam khotbah yang lalu. Telah saya katakan bahwa ia adalah orang yang mendakwakan kenabian [menyatakan diri nabi]. Seharusnya saya mengatakan, bahwa jika benar bahwa ia mendakwakan dirinya sebagai nabi itu dapatlah diterima ironis juga terjadi dengan tidak adanya pertolongan Ilahi bersama dia. Saya katakan hal ini tidak terkonsep dalam beberapa literatur Bahai atau di dalam ajaran-ajaran Bahai bahwa dia adalah seorang nabi maka salah juga karena banyak di antara anak-anaknya dan para pengikutnya sedemikian rupa mengatakan bahwa dia itu adalah seorang nabi atau khutub atau wali Allah dan dia tidak mendakwahkan diri sebagai Tuhan. Tetapi pada hakekatnya Bahaullah itu mempunyai syari’at tersendiri yang tidak diumumkan, alias sembunyi-sembunyi. Kami menyaksikan dalam beberapa perkara di dalamnya dia mendakwahkan diri sebagai Tuhan. Pada dasarnya dakwah kenabiannya tidak diragukan lagi. Tetapi yang perlu diingat adalah jika dakwah kenabiannya diterima juga namun juga sangat disayangkan tidak terlihat berbagai pertolongan Ilahi dikarenakan akhir-akhir ini di berbagai tempat banyak para ahmadi disamakan dengan para Bahai kemudian mereka mengatakan bahwa dua golongan ini pendusta. Maka oleh karena itu Hadhrat Masih Mau’ud as begitu jelas bersama pertolongan Ilahi tetapi pada sisi keduanya yakni Bahai tidak nampak bersama pertolongan Ilahi. Dan kemudian pada asalnya tidak tertulis dalam literaturnya (jika hal ini merupakan sebuah tipuan maka) dia telah menulis dalam kitabnya. Syari’at tersendiri yang menuliskan namanya dengan aqdas, di dalamnya juga tertera sebagai Al Wahiyyat atau mendakwahkan dirinya sebagai Tuhan. Untuk itulah tidak perlu masalah kenabian yang banyak orang mengatakan hal ini dan sebagian besar pengikutnya mengatakan bahwa dia adalah nabi tetapi sangat disayangkan kami juga tidak menyaksikan adanya pertolongan Ilahi bersamanya. Namun saya juga ingin menjelaskan tentang hal ini dikarenakan sebagian orang mudah dipengaruhi dengan informasi yang tidak benar itu karena tidak mengetahui seluk beluknya. Di Afrika juga begitu, di Pakistan sebagian orang juga begitu. Sebagian ahmadi juga terpengaruh informasi yang tidak benar seperti ini maka haruslah diingat bahwa pendakwaan dari Baha’ullah itu sendiri adalah sebagai tuhan dan tidak mendakwahkan sebagai nabi. Dalam literatur mereka tertulis anak laki-laki secara khusus ditunjuk sebagai penggantinyapun dianggap mendakwakan dirinya sebagai Tuhan. (Saya juga tidak paham mengenai anak-anak yang lainnya). Cara mereka itu adalah dengan secara perlahan-lahan berupaya memperangkap orang-orang yang tidak mempunyai ilmu tentang ini dan orang-orang yang suka damai itu dengan informasi yang tidak benar. Mereka pada permulaanya tidak menyebutkan pendakwaannya sebagai Tuhan itu, tetapi kemudian secara perlahan-lahan dan mengikuti pola pikir sasaran barulah mereka berupaya mewujudkan syari’at agama mereka bahwa Baha’ullah itu bertindak sebagai Tuhan sebagaimana diwahyukan kepadanya sendiri. Yakni dia sebagai manusia sekaligus Tuhan juga. Syari’at mereka juga menyatakan dia sebagai Tuhan dan para pengemban syari’at diantara mereka menyatakan bahwa dia sebagai Tuhan.

Maulana Abul Atta yang pernah tinggal di Palestina menyebutkan bahwa beberapa orang di antara mereka itu, termasuk seorang dari anak-anaknya, suka datang ke masjid kita untuk melakukan Shalat lima waktu sehari, walaupun shalat berjama’ah itu tidak biasa di antara mereka, pada kenyataannya mereka melakukan Shalat yang lima waktu itu. Bahkan mereka menganggap sholat lima waktu itu tidak diperlukan, jadi cukup dua atau tiga waktu saja.

Kemudian demi untuk mendapatkan simpati dari orang-orang Kristiani mereka mengatakan bahwa Hadhrat Isa as sebagai penzahiran Tuhan dan oleh karena itu Hadhrat Isa as juga sebagai anak Tuhan. Dengan demikian mereka bisa mengatakan bahwa Baha’ullah itu juga adalah manifestasi penzahiran dari Tuhan, bahkan sebagai Tuhan itu sendiri dan dengan caranya tersendiri Allah Ta’ala telang datang.

Kemudian ini juga merupakan pengajaran di kalangan mereka yakni berkenaan dengan alfadz untuk mereka sendiri maka dalam hal ini akan terlihat tentang hal ketuhanan itu sendiri, ini juga merupakan pendakwahan ketuhanannya. Baha’ullah bagaimana menulisnya, apakah yang dikatakannya saya berada dalam belenggu penjara, dalam belenggu penjara dalam waktu yang lama, sayalah Maalikul Asmaa/ penguasa dunia, bersamaku tiada Tuhan yang lain. Inilah anak Tuhan yang berada dalam belenggu penjara dan yang Maalikul Asmaa/ penguasa dunia juga. Kemudian tertulis sama seperti halnya saya sendiri merupakan Sang Majikan tidak ada Tuhan lain. Kemudian tertulis setelah mati juga saya senantiasa akan memberikan pertolongan. Dialah Tuhan yang merupakan belenggu penjara juga yang mana tidak ada juga yang kuat. Saya juga akan mati dan akan selalu menolong. Demikianlah Tuhan yang dirinya sendiri juga tidak mampu menjadi pelindung dan tidak bisa menghindarkan dari kematian diri sendiri, kalau demikian keadaannya bagaimana bisa dia menciptakan benda-benda langit lainnya. Kemudian kalau sudah begini mencukupi untuk siapa dan bagaimana akan memberikan berbagai pertolongan?

Kemudian Abdul Baha, anaknya yang khas dan penggantinya mengatakan bahwa mungkin seorang Kristiani itu adalah Bahai, seorang Yahudi adalah Bahai, seorang Freemason adalah Bahai atau seorang Muslim itu adalah Bahai. Yakni mereka menganggap dalam setiap madzhab itu Bahai. Maksudnya adalah mereka itu ingin membuat yakin kepada orang-orang supaya dekat pada Baha’ullah sesuai dengan kepercayaan agama mereka masing-masing. Ketika pada suatu kali mereka maka ajaran yang sebenarnya tentang al wahiyyat dakwah ketuhanan baru akan ditunjukkan kepada mereka.

Akan tetapi, mari kita perhatikan ‘Tuhan yang aneh’ ini [maksudnya Bahaullah yang mengaku Tuhan]. Kita tahu bahwa ketika Allah Ta’ala mengirim para nabi maka tentunya Dia berfirman, “Sampaikanlah amanat-Ku kepada dunia. Sampaikanlah kepada kaum yang untuk mereka kalian diutus!” Tatkala mengutus Hadhrat Rasulullah saw maka Dia berfirman, “Sampaikanlah kepada seluruh dunia!” Kemudian Dia mengutus naib (pembantu) dan pecinta sejati beliau s.a.w., yaitu Hadhrat Masih Mau’ud a.s., Dia juga berfirman kepadanya, “Sampaikanlah pesan-Ku kepada seluruh dunia!” Namun, kebalikan dari hal tadi, dia (Bahaullah) mengatakan, “Amanat ini tidak boleh disebarluaskan!” Orang-orang Bahai sendiri menulis, “Baha’ullah telah menetapkan, ‘Haram (jangan) menyebarkan agama di negara-negara ini. Berusahalah melakukan aksi diam ini sampai periode lama. Jika ada pertanyaan maka nampakkanlah ketidaktahuan (pura-pura tidak tahu)!’” Di negara seperti Palestina dan sekitarnya orang-orang Bahai bekerja diam-diam. Mereka bertabligh kepada orang-orang sesuai pembicaraan dan kondisi orang yang ditablighi, sebagaimana telah saya katakan bahwa di sana ada Bahai Kristen, Bahai Yahudi dan Bahai Muslim.

Dalam muhibahnya ke Barat (Inggris dan Eropa), Hadhrat Khalifatul Masih II ra menulis, “Ada seorang wanita Inggris yang telah menjadi Bahai bersama seorang teman perempuannya bangsa Iran datang menemui saya. Saya bertanya kepada wanita ini, ‘Bukankah Al-Qur’an telah membawa undang-undang syariat yang sempurna, lalu apa hal baru yang anda dapat dari Bahaullah?’ Wanita ini mengatakan, ‘Hukum syariat Islam tidak sempurna, karena bertentangan dengan fitrat manusia, seperti halnya pria boleh menikah empat kali (dalam satu waktu). Bukankah di Barat pernikahan empat kali sangat ditentang? Sementara Bahaullah mengatakan supaya menikah satu saja.’” Atas hal ini Hadhrat Khalifatul Masih II ra mengatakan, “Baiklah, padahal Baha’ullah sendiri menikah dua kali, bahkan sebagian orang mengatakan menikah tiga kali.” Atas hal ini dia menjawab, “Pernikakawinannya itu dilakukan sebelum pendakwaan dirinya.” Maka Hadhrat Khalifatul Masih II ra mengomentari bahwa “Tuhan macam mana pula ini yang tidak memberitahukan undang-undang agama apa yang akan dia buat setelah pendakwaan dirinya sehingga sebelum pendakwaan ia melakukan demikian, yaitu menikah dengan lebih dari satu orang. Bila ia (Bahaullah) menikah sebelum pendakwaan, mengapa anaknya sendiri menikah dengan dua orang perempuan, bagaimana hal ini terjadi?” Ketika ditanyakan hal ini kepada temannya yang orang Iran, maka ia menjawab, “Ya seperti itulah yang terjadi. Faktanya menikah dua kali.”

Beliau r.a. menanyakan, “Sekarang anda menjawablah.” Temannya yang orang Iran itu menjawab, “Dia menjadikan istrinya yang kedua itu sebagai saudarinya.” Hadhrat Muslih Mau’ud ra bertanya, “Jika menjadi saudari yang baik, mengapa dia punya keturunan juga dari perempuan ini, apakah seorang laki-laki akan mempunyai keturunan dari saudarinya?” Semua hadirin dalam majlis tersebut memandang kepada orang itu dan ia pun nampak sangat malu. Maka demikianlah keadaan pendakwaan mereka itu. Untuk itulah saya serukan, selalulah diingat dan berhati-hatilah terhadap mereka ini, Mereka itu menyerang dengan diam-diam. Mereka itu diperintah untuk menyembunyikan syariat agama mereka dan tidak menyebarluaskannya, bahkan telah diperintahkan supaya tidak mengungkapkan hal ini.

Allah berfirman mengenai para nabi, “Seandainya mereka membuat pendakwaan palsu dan atas nama-Ku mereka berkata, ‘Saya adalah utusan Tuhan dan Dia menurunkan kata-katanya padaku.’ Maka Aku sendiri yang akan menghukum mereka dan menghinakan mereka di dunia ini juga.” Namun demikian, berkenaan dengan mereka yang mendakwakan dirinya sebagai Tuhan, Allah Ta’ala tidak berfirman bahwa mereka akan dihukum dan dihancurkan di dunia ini. Allah berfirman:

وَ مَنۡ یَّقُلۡ مِنۡہُمۡ  اِنِّیۡۤ  اِلٰہٌ  مِّنۡ دُوۡنِہٖ فَذٰلِکَ نَجۡزِیۡہِ جَہَنَّمَ ؕ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الظّٰلِمِیۡنَ

Wa may yaqul minhum innii Ilaahum min dunihii fadzaalika najziihi jahannama kadzaalika najzizh zhaalimiin “Dan barangsiapa berkata di antara mereka, “Sesungguhnya aku adalah tuhan selain Dia,” maka dialah yang akan Kami ganjar dengan Jahannam. Demikianlah Kami balas orang-orang yang aniaya.” (Al Anbiyaa’ 21:30).

Pendeknya, Allah Ta’ala selalu menolong para nabi-Nya yang benar, memperlihatkan berbagai tanda untuk mendukung kebenaran para utusan-Nya. Allah Ta’ala pun mencengkeram para nabi palsu atau para penda’wa dusta. Di dunia ini, Dia menghinakan para penda’wa dusta. Sedangkan keputusan untuk para penda’wa Uluhiyyat (ketuhanan) atau yang mengaku dirinya sebagai Tuhan berlaku setelah kematian mereka berupa api neraka jahannam.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita muwahhid hakiki dan senantiasa memberikan taufik dan kemampuan kepada kita semua untuk dapat benar-benar taat patuh kepada orang-orang yang diutus-Nya, agar Dia melindungi kita semua dan menempatkan kita dalam selimut rahmat dan karunia-Nya dan senantiasa menjadikan kita sebagai orang-orang yang memperoleh kedekatan dengan-Nya.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud, j. IV, h. 456, Al Hakam, j. VII, Maurkhah 21 Pebruari 1903, h. 8

[3] Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud, j. IV, h. 456, Al Hakam, j. 8, Maurkhah 10-17 Juni 1904, h. 6

[4] Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud, j. IV, h. 457, Al Hakam, j. 12, no. 18, Murkhah 10 Maret 1908, h. 5

[5] Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud, j. IV, h. 454, Dhomimah Arba’iin, no. 3-4, h. 11 – 12

[6] Casma-e-Ma’rifat, Rohani Khozain, j. 23, h. 263-264 hasyiah

[7] Casma-e-Ma’rifat, Rohani Khozain, j. 23, h. 263, Hasyiah dar hasyiah

[8] Kitabul Bariyah, Rohani Khozain, j. 13, h. 29 & 30

[9] Dikutip dari Hayat Thayyabah,  h. 51

[10] Haqiqatul Wahyi, Rohani Khozain, j. 22, h. 125

[11] Haqiqatul Wahyi, Rohani Khozain, j. 22, h. 262-263

[12] Haqiqatul Wahyi, Rohani Khozain, j. 22, h. 262-263

[13] Malfuzhaat, j. som, h. 46, Edisi baru

[14] Barahin Ahmadiyyah, Rohani Khozain, j. no. 1, h. 70