Khutbah Jum’ah

Hazrat Amirul Mu’minin Khalifatul Masih V atba.

Tanggal  19  Februari 2010   dari  Baitul Futuh London U.K.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Perkataan Hasib menurut Lughat Arab artinya orang yang menghisab (menghitung) atau orang yang mengambil perhitungan atau mencukupi atau orang yang memberi pembalasan sesuai perbuatannya. Semua keistimewaan ini secara sempurna tidak terdapat pada diri seseorang manusia melainkan hanya terdapat pada Zat Allah swt. Oleh sebab itu salah satu sifat dari sifat-sifat Allah swt adalah Al Hasib. Semua keistimewaan itu hanya terdapat pada Allah swt saja. Dan Dialah yang patut menzahirkan sifat-sifat-Nya sesuai dengan keperluannya dalam berbagai jenis keadaan kita.

Diberbagai ayat didalam Alqur’anul Karim Allah swt telah menzahirkan sifat-Nya ini, diantaranya akan saya jelaskan berikut ini. Pertama saya kemukakan ayat 87 dari Surat An Nisa, Allah swt berfirman :

وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَاۤ اَوْ رُدُّوْهَا‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَىْءٍ حَسِيْباً

Artinya : Dan apabila kamu diberi ucapan salam, maka ucapkanlah salam yang lebih baik dari itu, atau balaslah sebanding dengan yang diucapkannya. Sesunggunhya Allah swt membuat perhitungan atas segala sesuatu.

Didalam ayat ini Allah swt telah mengemukakan sebuah dasar dari hukum-hukum Islam yang memberi jaminan kedamaian dalam hubungan yang baik yang tidak hanya berlaku kepada orang-orang dari kelompok sendiri saja bahkan untuk hubungan baik dengan golongan lain juga untuk meningkatkan wawasan hubungan baik itu, merupakan sebuah resep (recipe) yang sangat indah dan tidak ada bandingannya. Didalam ayat ini bukan hanya menasihatkan kepada orang-orang mukmin untuk menzahirkan perasaan baik kepada orang-orang muslim satu sama lain bahkan difirmankan bahwa apabila salah seorang diantara kamu berjumpa dengan yang lain harus menunjukkan prangai yang baik dengan mengucapkan salam, sebuah do’a yang dipanjatkan untuk kalian yang bisa menciptakan kebaikan kehidupan dunia dan akhirat kalian, maka kalian juga berkewajiban untuk memanjatkan do’a yang lebih baik kepadanya. Firman-Nya : Hal itu merupakan kewajiban akhlaqi dan kewajiban bermasyarakat kalian. Jika kalian tidak melaksanakan hal itu maka kalian akan bertanggung jawab dihadapan Allah swt. Kelebihan seperti ini hanya terdapat didalam Islam, yaitu diwaktu berjumpa satu sama lain mengucapkan perkataan yang mengandung maksud untuk menyatakan rasa kasih sayang. Dan diwaktu berjumpa satu sama lain diperintahkan mengucapkan Assalamu alaikum !! Maksudnya, semoga keselamatan turun diatas kamu !! Yakni semoga kamu terhindar dari kesulitan dan keprihatinan. Dan do’a ini demikian dalam kesannya, jika diucapkan dari dalam lubuk hati yang ikhlas akan menciptakan kecintaan dan kasih sayang yang dalam. Semua kebencian akan dijauhkan. Demikian juga orang yang diberi ucapan salam diperintah untuk menjawab salamnya itu dengan ucapan yang lebih baik. Yakni apabila seseorang mengucapkan salam kepada kalian  harus dijawab dengan ucapan: Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh!! Artinya, semoga rahmat dan barkat Tuhan turun diatas kalian. Atau sebagaimana firman-Nya ucapkanlah seperti yang diucapkan olehnya krepada kamu.

Jadi hal itu sebuah dasar untuk menciptakan kedamaian dikalangan masyarakat. Hazrat Rasulullah sawt dengan tegas sekali telah menasihati orang-orang muslim untuk membiasakan ucapan salam itu ditengah-tengah masayarakat. Dan para sahabah sangat berusaha dan berlomba-lomba dalam mengucapkan salam itu. Hazrat Rasulullah saw sangat menaruh perhatian kepada pelaksanaan ucapan salam itu dan begitu telitinya beliau memberi tarbiyyat kepada para sahabah untuk melaksanakan perintah itu, dapat diketahui dari beberapa riwayat hadis-hadis beliau. Hazrat Kardah Bin Hambal meriwayakan katanya, Sofwan Bin Hayyan hadir dihadapan Rasulullah saw sambil membawa susu dan daging kambing sebagai hadiah. Maka saya masuk kedalam ruangan rumah beliau tanpa izin dan tanpa mengucapkan salam. Beliau menyuruh saya keluar kemudian saya disuruh mengucapkan salam dan meminta izin baru diperbolehkan masuk kedalam ruangan rumah. Rasulullah saw tidak memandang hal itu kecil, atau tidak apa-apa jika sudah masuk kedalam rumah, melainkan beliau segera memberi pelajaran bahwa untuk menanamkan akhlaq yang tinggi harus dimulai dari permulaan bahkan sejak masa kanak-kanak. Keduanya, tidak boleh masuk kedalam rumah orang tanpa izin pemilik rumah.

Harus selalu diingat sebeblum masuk harus meminta izin dahulu. Dan cara yang paling baik untuk meminta izin adalah dengan mengucapkan salam. Mintalah izin dengan cara yang dapat menciptakan kecintaan satu sama lain. Dan bisa menimbulkan do’a dari dalam hati kalian. Dan sebaliknya kamu juga akan mendapat ucapan do’a dari padanya. Dan dengan cara demikian terjadilah perbuatan sesama mendo’akan. Jika seseorang mengucapkan salam kepada orang lain, maka pihak yang diberi salam itu akan menjawab ucapan salamnya itu. Maka jelaslah hal itu merupakan cara saling mendo’akan. Kemudian diwaktu seorang sahabah dalam keadaan terpaksa, ketika seorang sahabah diberi izin duduk di pasar kepadanya dinasihatkan secara khas untuk memenuhi hak jalan dengan memberi salam kepada setiap orang yang keluar masuk ketempat itu. Mengapa begitiu ditegaskan ? Sebab orang mukmin bertanggung jawab bagi menciptakan keamanan sesama yang lain. Jika orang-orang Islam merenungkan hal itu dengan seksama maka ketahuilah bahwa hal itu sebuah ajaran untuk menciptakan keamanan. Akan tetapi sangat malang sekali dengan melupakan perintah Tuhan ini orang-orang Islam saling potong leher sesama mereka. Padahal para sahabah sangat mematuhi perintah itu. Pada suatu hari seorang sahabah Rasulullah saw datang menjumpai  sahabah lain dan berkata kepadanya : Mari kita pergi kepasar. Kemudian mereka pergi kepasar. Setelah mereka berkeliling di Pasar dan menyampaikan salam kepada orang-orang disana mereka kembali pulang tanpa membeli sesuatu barang. Beberapa hari kemudian, sahabah yang satu lagi pergi kepada sahabah lainnya lagi dan mengajaknya kepasar. Dia berkata kepadanya : Jika akan membeli sesuatu maka pergilah. Jika sperti yang lalu setelah berkeliling di  Pasar lalu kembali, apa faedahnya ? Maka sahabah yang pertama itu menjawab : Saya pergi kepasar semata-mata untuk mengucapkan salam kepada mereka dan berdoa untuk mereka. Dan saya menerima ucapan do’a dari mereka. Maka amalkan-lah ucapan salam itu dan biasakanlah ditengah-tengah masyarakat.

Demikianlah keadaan para sahabah pada waktu itu. Mereka selalu berusaha untuk melaksanakan hukum-hukum agama walaupun sekecil apapun dengan penuh perhatian. Para Ahmadi juga harus memberi perhatian secara khas terhadap hal itu. Dan hal itulah yang akan menciptakan rasa cinta satu dengan yang lain dan akan menegakkan kedamaian ditengah-tengah masyarakat. Dan akan saling mengingatkan perhatian sesama yang lain. Allah swt berfirman bahwa Dia akan memberi pembalasan terhadap amal kalian, yang membangkitkan perasaan saling berlaku baik dengan perbuatan menyampaikan amanah perdamaian itu. Jika kalian menyambut uluran tangan orang yang bermaksud baik, jika kalian menjawab do’a orang dengan ucapan do’a lagi maka kalian pasti akan menerima ganjaran dari Allah swt. Jika ucapan do’a orang tidak kalian jawab maka kalian akan bertanggung jawab dihadapan Allah swt. Allah swt berfirman : Aku akan ambil perhitungan tentang itu dari kalian !

Pada masa sekarang ini setelah jaminan keselamatan atau kedamaian sudah tertutup maka Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah datang dari Allah swt. Beliau telah berulangkali menyampaikan amanat melalui tulisan-tulisan didalam buku-buku beliau utnuk menegakkan keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan dunia. Akan tetapi pada umumnya masyarakat dunia, termasuk sebagian besar ummat Islam sendiri, bukan hanya tidak memberikan jawaban dan memberikan sambutan terhadapnya bahkan sebaliknya dari pada memberi hadiah, sambil melanggar hukum-hukum Allah swt mereka melemparkan makian dan penghinaan serta perlawanan yang sangat dahsyat, sekalipun beliau mengatakan: Aku datang dari Allah swt dan aku telah diutus oleh-Nya demi kebaikan dan kemaslahatan kamu sekalian, aku diutus untuk mempertemukan kamu sekalian dengan Allah swt. Orang-orang Islam mengadakan persekongkolan dengan orang-orang non Muslim untuk melawan dan menyerang beliau. Seharusnya mereka yang beriman kepada Hazrat Rasulullah saw yang telah membawa amanah untuk kebaikan dunia, menjadi manifestasi sempurnanya nubuatan yang disampaikan oleh Hazrat Rasulullah saw itu, menyampaikan salam kepada Imam Zaman dan membantu Imam Zaman dalam mengembangkan kebaikan-kebaikan yang telah ditegakkan oleh Hazrat Rasulullah saw. Bahkan seharusnya mereka menjadi para penolong untuk mempercepat kemajuan dan kemenangan Islam. Namun sebaliknya sambil mengikuti langkah orang-orang yang menamakan diri mereka ulama, ummatul Muslimin telah betul-betul lupa kepada ajaran-ajaran Alqur’an. Dan perintah-perintah Hazrat Rasulullah saw-pun telah mereka lupakan. Bahkan sebagaimana telah saya katakan sebelumnya bahwa mereka itu bukan hanya telah melupakan hukum dan perintah-perintah itu bahkan mereka melakukan kekerasan dan pelanggaran yang menimbulkan keresahan serta merusak keamanan. Pesan dan amat beliau sangat memilukan perasaan hati dan menghendaki kesejahteraan dan simpati manusia, misalnya beliau bersabda : “ Pada hari ini demi menyempurnakan semua dalil dan alasan, saya ingin menerbitkan selebaran sebanyak empat puluh macam untuk bertabligh kepada orang-orang yang ingkar dan para penentang. Supaya nanti dihari Qiyamat ada alasan bagi saya dihadapan Allah swt bahwa untuk tugas apa saya telah diutus kedunia saya telah menyempurnakannya. Maka dengan segala hormat dan kerendahan hati saya berkata kepada para Ulama, para Pemimpin Ummat Islam, para Ulama Kristen, Para Sarjanan Kristen, Para Ulama Hindu, para Sarjana Hindu, Para Ulama Aria, saya mengumumkan dan memberi informasi bahwa Allah swt telah mengutus saya kedunia untuk memperbaiki akhlaq, meluruskan ‘itikad dan memperbaiki kelemahan iman. Dan langkah saya seperti langkah perjalanan Hazrat Isa.a.s. dan dari ma’na itulah saya disebut Masih Mau’ud. Sebab kepada saya telah diperintahkan untuk mengembangkan kebenaran didunia ini dengan tanda-tanda luar biasa dan dengan ajaran suci bersih. Saya sangat menentang penggunaan pedang untuk mengembangkan agama. Dan demi agama dilakukan pembunuhan terhadap hamba-hamba Allah. Dan saya orang diperintah, sampai dimana kemampuan saya akan saya jauhkan semua kesalahan orang-orang mukmin itu. Dan saya mengajak mereka kepada akhlak suci dan kesetiaan, lemah-lembut, dan keadilan. Saya jelaskan perkara ini kepada semua orang Muslim, orang-orang Kristen, orang-orang Hindu  dan orang-orang Ariya bahwa saya tidak mempunyai musuh seorangpun didunia ini. Saya mencintai sesama manusia seperti seorang ibu menyayangi anak-anaknya, bahkan lebih dari itu. Saya hanya musuh kepada akidah-akidah batil yang menolak kebenaran. Berlaku simpati kepada manusia adalah kewajiban saya. Menjauhkan diri dari dusta, dari syirik dan khianat dan dari setiap perbuatan buruk dan penipuan dan dari akhlak buruk adalah pendirian utama saya. Penggerak gairah simpaty saya adalah sebuah tambang mas yang telah saya temukan dan saya telah mendapatkan tambang berbagai macam permata indah berupa berlian. Dan semua permata dan berlian itu begitu sangat berharga sehingga jika saya bagikan semua itu kepada seluruh insan, mereka semua akan menjadi kaya–raya melebihi  kekayaan para pemilik mas dan perak. Apakah permata itu ?? Tiada lain ia adalah Tuhan !! Cara menghasilkannya adalah dengan mengenal-Nya siapa Dia dan iman sejati kepada-Nya, dan dengan kecintaan hakiki menjalin hubungan dengan-Nya dan mendapat barkat-barkat sejati dari pada-Nya. Maka setelah mendapat harta kekayaan begitu banyak, alangkah zalimnya saya jika saya biarkan bani nou insan luput dari padanya dan mereka mati kelaparan sebaliknya saya hidup besenang-senang. Hal seperti itu tidak mungkin akan berlaku dengan saya. Dengan melihat kemiskinan dan kepapaan mereka, hati saya menjadi hancur luluh. Dengan melihat kemiskinan dan kesempitan hidup mereka jiwa saya gelisah dan jiwa terus merasa gelisah. Apabila melihat kesulitan hidup mereka perasaan hidup saya menjadi sangat susah. Saya mengharapkan rumah mereka penuh dengan berkat-berkat dari Allah swt. Dan saya mengharapkan mereka mendapat berkat-berkat kebenaran itu demikian banyak sehingga melebihi kapasitas mereka.” Tengoklah betapa merendahnya Hazrat Masih Mau’ud a.s. dalam meluahkan perasaan demi menegakkan keamanan dan kedamaian serta kebaikan dan kemaslahatan dunia. Sampai batas mana beliau menyatakan keinginan keras beliau agar dunia mengenal kebenaran, agar dunia selamat dari kehancuran.

Jadi, sebagaimana Allah swt berfirman : اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَىْءٍ حَسِيْباً  Sesunggunhya Allah swt membuat perhitungan atas segala sesuatu. Bagaimana Allah swt membuat perhitungan dengan orang-orang yang menentang, Tuhanlah Yang lebih mengetahui. Orang-orang yang tidak menerima kebenaran Hazrat Masih Mau’ud a.s. mereka tidak hanya menolak kebenaran beliau bahkan mereka terus meningkatkan perlawanan terhadap beliau. Dan banyak Pemerintah juga ikut serta didalamnya. Akan tetapi jika orang-orang Muslim merenungkannya, kesulitan-kesulitan dan musibah yang tengah mereka hadapi dan dibanyak tempat mereka menghadapi kehinaan dan kenistaan, semua itu pasti menimbulkan rasa takut dalam hati mereka dengan syarat mereka mempunyai kebiasaan merenungkannya sambil menggunakan akal mereka. Jangan sampai Allah swt mulai membuat perhitungan didunia ini juga. Sekalipun mendapat kehormatan sebagai khairu ummat (ummat yang paling baik) namun mereka menjadi pengemis sambil mengulurkan tangan dihadapan orang lain. Itulah sebabnya kekuatan orang-orang Muslim digunakan untuk melawan orang-orang Muslim atau pemerintahan orang-orang Muslim sendiri. Kita orang-orang Ahmady yakin betul bahwa kemenangan akan diraih oleh orang-orang Islam. Dan kemenangan itu akan dicapai melalui Ashiq Sadiq Rasulullah saw yakni Hazrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Akan tetapi mengingatkan orang-orang Muslim juga adalah tugas kewajiban orang-orang Ahmady. Dan mereka harus memahami betul amanat keamanan dan perdamaian yang disampaikan sambil merendahkan diri oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s. kepada dunia. Sambil memahami perasaan halus dan baik serta amanat Masih Muhammadi itu dalam mengamalkan hukum Allah swt harus mengembalikan perasaan-perasaan itu lebih semangat lagi. Mengembalikan disini maksudnya adalah patuh tha’at yang sempurna terhadap Masih Mauhammadi. Patuh tha’at yang sempurna itu dapat diperoleh setelah menggabungkan diri kepada Jema’at beliau. Sehingga nanti orang-orang Muslim akan menyaksikan bagaimana mereka akan mendapat kekuatan. Mereka akan menyaksikan bagaimana kekuatan dan kehormatan Islam yang telah hilang lenyap akan diperoleh kembali dan bagaimana amanat Islam tentang kecintaan sesama yang lain dan persaudaraan hakiki dalam Islam akan berkembang dengan cepat diatas dunia ini. Apabila ini telah terjadi maka hal itu merupakan usaha keras orang-orang Muslim bernilai luhur untuk mengembalikan amanat kebaikan Rasulullah saw yang beliau bawa demi kesejahteraan dunia. Bagi kita orang-orang Ahmadi sangat beruntung telah mendapat taufiq melakukan bai’at kepada Hazrat Rasulullah saw dan kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s., kita harus berusaha keras sekali untuk mengembangkan amanat ini, untuk mana Junjungan kita Muhammad saw mempunyai gejolak simpaty yang sangat besar kepada yang lain. Bahkan hal itu telah menjadi kewajiban kita semua untuk mengamalkannya. Sebab perasaan Junjungan kita Hazrat Muhammad saw  yaitu sangat berat dan sangat gandrung sekali terhadap sesama makhluk Allah swt, sebagaimana Allah swt telah menggambarkannya didalam Alquranul Karim Surah At Taubah ayat 128 sebagai berikut :

لَـقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Artinya : Sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang Rasul dari antara kamu, berat terasa oleh-nya apa yang menyusahkan kamu, ia sangat mengharapkan kesejahteraan bagimu dan terhadap orang-orang mukmin ia sangat berbelas kasih, penyayang.

Didalam ayat ini telah dijelaskan oleh Allah swt perasaan simpaty beliau yang sangat dalam  terhadap orang-orang mukmin dan juga terhadap orang-orang ghair mukmin. Kutipan sabda Hazrat Masih Mau’ud a.s. yang telah saya bacakan sebelumnya, sesungguhnya sebuah gambaran perasaan beliau a.s. sebagai natijah dari jejak setia kepada Hazrat Rasulullah saw. Tengoklah disini bagaimana Allah swt telah menjelaskan perasaan simpaty serta rasa berat hati Hazrat Rasulullah saw demi kecintaan terhadap sesama insan, baik terhadap orang-orang non Muslim maupun terhadap orang-orang kuffar. Hazrat Rasulullah saw merasa sedih apabila beliau melihat orang-orang yang tidak beriman-pun mendapat kesulitan dan kesusahan. Allah swt berfirman : Sekalipun kamu sekalian melakukan penganiayaan terhadap Rasul Agung saw ini dan membunuh para pengikut beliau serta memboikot mereka dengan menutup pasokan bahan makanan dan minuman. Akan tetapi kalbu suci Hazrat Rasulullah saw demikan bergelora dalam menaruh belas kasih terhadap orang-oprang zalim dan bodoh serta dungu itu. Seperti halnya seorang ibu tidak sampai hati menyaksikan anaknya terbenam dalam penderitaan. Macam kezaliman dan kekerasan apapun yang dilancarkan oleh fihak orang-orang Kafir sama sekali tidak bisa melepaskan rasa smpaty dan belas kasih dari dalam kalbu Hazrat Rasulullah saw terhadap mereka. Perasaan simpaty dan belas kasih inilah yang karenanya Allah  swt berfirman kepada orang-orang Kafir : “ Hai orang-orang Kafir dan orang-orang yang ingkar !! Perasaan itu sungguh-sungguh yang timbul dari kedalaman lubuk hati Rasulullah yang selalu memikirkan keadaan kamu semua, bilakah kamu akan mengikuti jalan yang lurus ini dan memperoleh hidayah agar kamu semua selamat dari azab Tuhan-mu ?”  Perasaan simpaty seperti itulah yang harus dimiliki oleh Jema’at Hazrat Asyiq Sadiq Rasulullah saw yaitu Jema’at Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Jadi, bukan hanya semangat dan dawam menyampaikan amanah ini kepada orang-orang lain, melainkan dengan banyak memanjatkan do’a sambil memohon pertolongan kepada Allah swt agar perjuangan kalian mendatangkan hasil yang baik.

Mendapat taufiq masuk kedalam Jema’at Hazrat Masih Mau’ud a.s. adalah merupakan keberuntungan yang sangat besar bagi kita. Sesuai dengan perintah Hazrat Rasulullah saw kita menjadi orang-orang yang menyampaikan perasaan simpaty tehadap Imam Zaman. Dan dari segi itu kita termasuk orang-orang mukmin sejati, sambil mengikuti sunnah Rasullah saw kita menjadi penunjuk jalan-jalan kebaikan demi rasa simpaty kepada dunia. Demi menyempurnakan tujuan itu rela menghadapi berbagai macam kesulitan. Untuk itu setiap orang Ahmady rela mengurbankan harta, jiwa-raga dan kehormatan-nya. Sekarang jika ada orang yang kehilangan rumahnya demi agama, dia adalah orang Ahmady. Akan tetapi setelah menjelaskan keadaan Hazrat Rasulullah saw Allah swt berfirman sebagai berikut : Sekalipun banyaknya perlakuan zalim yang kamu terima namun dada kalian penuh dengan perasaan simpaty Rasulullah saw. Oleh karena itu kalian juga jangan sekali-kali menyimpan rasa benci atau dendam didalam hati kalian terhadap para penentang kalian. Disebabkan telah beriman kepada Imam Zaman kalian telah termasuk kedalam golongan orang-orang yang telah banyak dido’akan oleh Hazrat Rasulullah saw. Dan sampai Qiamat do’a-do’a beliau itu akan diterima berkat-berkatnya oleh orang-orang mukmin. Belas-kasih sayang Hazrat Rasulullah saw bukan hanya bagi orang-orang mukmin yang hidup dizaman beliau saja melainkan rintihan do’a-do’a yang selalu beliau panjatkan setiap tengah malam akan sampai kepada orang-orang mukmin sampai Qiamat. Untuk mendapat bahagian dari do’a-do’a beliau itu kita juga harus selalu menaruh perhatian secara khas untuk mengamalkan perlakuan kasih sayang itu satu sama lain sesuai kemampuan yang ada pada pribadi masing-masing. Dan terhadap saudara sendiri harus menunjukkan contoh dalam kasih-sayang dan dalam ma’af-mema’afkan terhadap sesama manusia, supaya bisa diusahakan untuk menciptakan suasana kemasyarakatan yang asas-nya atau dasar-nya telah ditegakkan oleh Hazrat Rasulullah saw.

Disatu tempat Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah bersabda bahwa, daya tarik dan semangat diberikan kepada manusia apabila ia telah berada diabawah naungan rahmat Allah swt. Dan dia menjadi zilullah (bayangan Allah). Kemudian, dia mendapatkan rasa gelisah pada dirinya karena gejolak simpaty terhadap sesama makhluk dan menginginkan kebaikan mereka. Nabi Besar kita Muhammad saw sangat unggul dari para anbiya sebelumnya dalam hal seperti itu. Oleh sebab itu beliau saw tidak bisa menyaksikan makhluk Allah menderita kesulitan. Sehingga Allah swt berfirman :   عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْم    Artinya : Berat terasa olehnya apa yang menyusahkan kamu, ia sangat mengharapkan kesejahteraan bagimu dan terhadap orang-orang mukmin ia sangat berbelas kasih dan penyayang. Maka dibawah perintah : فَاتَّبِعُوْنِيْ

Ikutilah aku ! Telah menjadi kewajiban kita semua, sesuai kemampuan diri masing-masing untuk menciptakan perasaan-perasaan seperti itu. Dan berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikannya kepada dunia. Didalam ayat terakhir dari Surah Taubah Allah swt berfirman lagi : Hai Nabi !! Perlakuan simpaty engkau, tugas engkau menyampaikan amanat, jika tidak menimbulkan kesan apa-apa kepada orang-orang kuffar dan jika mereka semakin meningkat dalam perbuatan aniaya dan kejahatan mereka, mereka tidak mau mendengar dan tidak menaruh perhatian terhadap perkataan engkau bahkan mereka berpaling meninggalkan engkau, maka katakanlah kepada mereka, bagiku cukuplah Allah !! Sebagaimana firman Allah swt :

فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِىَ اللّٰهُ  َۖۤ  لاَاِلٰهَ اِلاَّ هُوَؕ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ‌ؕ فَاتَّبِعُوْنِيْ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْم

Artinya : Maka jika mereka berpaling, maka katakanlah, Cukuplah bagiku Allah, tiada tuhan selain Dia. Kepada-Nyalah aku bertawakkal, dan Dia adalah Tuhan ‘Arasy yang besar. (At Taubah : 129) Allah swt telah menjelaskan bahwa, berpalingnya orang-orang kuffar, ingkarnya mereka kepada amanat yang dibawa oleh Rasulullah saw, sama sekali tidak merugikan beliau saw. Sebab, beliau adalah Rasul yang diutus oleh Allah swt. Dan tarikh mazahib (agama-agama) menjelaskan bahwa, orang-orang yang tidak beriman, orang-orang yang memalingkan muka dari kebenaran, selalu menerima bermacam musibah. Sedangkan para Anbiya tidak menerima kerugian apa-apa. Bagi mereka cukuplah Allah. Mereka itu sebagai wakil-wakil Allah swt. Demikian juga Hazrat Rasulullah saw adalah wakil Allah swt dan beliau adalah Khatamul Anbiya, melalui beliau Syari’at telah menjadi sempurna.

Kepada Rasulullah saw telah dikenakan tuduhan, na’uzubillah beliau ingin mendirikan negara sendiri. Atas tuduhan itu Allah swt telah mengekalkan jawaban beliau didalam Alquranul  Karim bahwa وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْم   beliau tidak memerlukan suatu pemerintahan, Dia Tuhan ‘Arasy yang Agung. Saya tidak mendirikan kearajaan sendiri, melainkan saya sedang berusaha mendirikan Arasy (Kerajaan) Allah swt yang Agung. Saya bukan mengajak kalian untuk menunjukkan atau mempamerkan kekuatan atau kebesaran saya sendiri. Melainkan saya mengajak kalian kepada Tuhan Arasy Yang Agung. Saya adalah Asyiq Rabul ‘Alamin. Apa perlunya bagi saya untuk memiliki kerajaan dunia fana yang sifatnya sementara itu. Tidak di Arab atau tidak pula dilain tempat. Dimanapun juga saya tidak memerlukan suatu kerajaan atau pemerintahan dunia. Sesungguhnya saya telah diutus untuk menegakkan Kerajaan atau Pemerintahan Allah swt. Kerajaan itulah yang akan saya dirikan, sebab apabila Kerajaan itu sudah berdiri maka Kerajaan atau Pemerintahan saya dengan sendirinya akan berdiri. Akan tetapi yang dimaksud bukanlah Tahta Kerajaan duniawi, melainkan Kerajaan kalbu orang-orang mukmin. Dan dunia telah menyaksikan bagaimana Kerajaan atau Pemerintahan beliau telah berdiri dalam kalbu orang-orang mukmin. Dan pada zaman sekarang melalui Hazrat Masih Mau’ud a.s. untuk menyampaikan amanat Hazrat Rasulullah saw diatas dunia ini bagaimana gencarnya Allah swt sedang menyempurkannya usaha ini. Dan sekarang orang-orang yang telah beriman kepada Hazrat Masih Muhammadi sedang berusaha keras untuk menyampaikan amanat itu kesegenap penjuru dunia. Dan sebagaimana Junjugan kita saw telah bersabda  حَسْبِىَ اللّٰهُ yakni cukuplah Tuhan bagi saya. Pemandangan itulah yang sedang kita saksikan, barkat dari pada sabda Yang Mulia Hazrat Rasulullah saw itu. Sekalipun timbul berbagai macam perlawanan dan pertentangan, namun setiap hari kita menyaksikan sempurnanya sabda beliau حَسْبِىَ اللّٰهُ ini.

Hal ini terjadi demikian sebab kita adalah orang-orang yang mengamalkan dan mengembangkan ajaran Rsulullah saw diatas dunia ini. Dan kita mengembangkan Syari’at yang telah dibawa oleh beliau. Dan sesuai dengan ajaran itulah kita menjadi penyebar amanat beliau itu, yang telah turun kepada beliau saw, supaya mohabbat dan cinta antar sesama serta persaudaraan, dapat ditegakkan ditengah-tengah masyarakat dunia. Supaya dunia meyakini Tuhan sebagai Pencipta Alam semesta ini. Supaya didunia timbul perhatian untuk menyempurnakan kewajiban terhadap hakukullah dan hakukul ibad. Sehingga susana keselamatan dapat ditegakkan. Dan untuk maksud-maksud itu semua Allah swt telah mengutus Hazrat Masih Mau’ud a.s. kedunia. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi : “ Pekerjaan yang untuk melaksanakannya saya telah diutus oleh Allah swt yaitu, menegakkan kembali kecintaan dan keikhlasan manusia dalam hubungan dengan Tuhan dan dengan sesama makhluk-Nya yang sudah lenyap. Meletakkan dasar perdamaian dengan menzahirkan kebenaran dan dengan menghapus peperangan atas nama agama dan menzahirkan kebenaran agama yang telah lenyap dari pandangan mata dunia. Dan menampilkan contoh-contoh ruhaniyat hakiki yang sudah lama terpendam dibawah pengaruh nafsu insaniyat. Dan kekuatan Tuhan yang masuk kedalam jiwa manusia yang tumbuh dengan perantaraan do’a dan dengan perhatian yang khas, keadaanya dijelaskan kepada dunia. Yakni setelah mendapat kekuatan dari Allah swt diperlihatkan kepada dunia bagaimana keadaan seorang mukmin yang sesungguhnya dan bukan hanya pandai berbicara dengan mulut saja. Dan inilah yang harus timbul dalam jiwa setiap orang Ahmady. Dia tidak hanya pandai bicara, sambil bertabligh ia harus memperlihatkan keadaan peribadinya bahwa ia benar-benar sedang berusaha membuat dirinya mukmin hakiki.

Dan yang paling menonjol adalah menanamkan benih tauhid Ilahi yang murni dan cemerlang dalam masyarakat bebas dari setiap jenis syirik yang sekarang sudah hilang lenyap. Dan ini semua bukan melalui kekuatan saya peribadi melainkan melalui kekuatan Tuhan Yang memiliki Langit dan Bumi. Semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua untuk menggunakan semua kekuatan dan kemampuan kita demi mencapai maksud yang sangat penting itu. Semoga kita dijauhkan dari ketakutan dunia dan semoga kita dijauhkan dari kerserakahan dunia. Semoga Tuhan memberi kekuatan kepada kita semua untuk mencapai maksud-maksud itu yang untuk itu Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah diutus kedunia. Dan semoga hasbiyallah dan ‘alaihi tawakkaltu selalu menjadi pusat perhatian kita semua. Amin !!!

Alihbahasa dari Video Urdu oleh Hasan Basri