Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

Tanggal  13 Juni 2008  dari Baitul Futuh London U.K.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ (٧)

Didalam khutbah jum’ah yang lepas saya telah menerangkan tentang firman Allah swt : Akulah yang memberi rizqi bukan hanya kepada manusia saja melainkan kepada semua makhluk yang memerlukan makanan. Sejauh mana yang berhubungan dengan manusia sebagai makhluq yang paling mulia (asyraful makhluqaat) mereka memerlukan rezqi jasmani dan juga memerlukan rezqi ruhani.

Kepada orang-orang mu’min Allah swt berfirman : Jika kamu bertawakkal kepada-Ku dan mengamalkan perintah-perintah-Ku, berpegang kepada asas taqwa, maka kamu akan mendapat rizqi dari pada-Ku dengan berbagai macam cara sehingga orang-orang bukan mu’min merasa hairan karena tidak mampu memahami rahasia ini.

Saya telah banyak menerima surat dari orangh-orang Jema’at dari berbagai negara yang menceritakan pengalaman masing-masing bagaimana mereka memperoleh banyak pertolongan dan karunia dari Allah swt didalam menjalankan bisnis dan perniagaan mereka. Sering terjadi mereka mendapatkan keuntungan didalam bisnis mereka diluar jangkauan pikiran mereka sebelumnya, Allah swt telah memberi pertolongan yang luar biasa kepada mereka. Mereka mendapat keuntungan berkali lipat ganda dari pada yang diharapkan. Seorang penulis mengatakan bahwa kejadian seperti itu sungguh telah meningkatkan keimanannya.

Sesungguhnya kejadian seperti itulah yang menjadi bukti seseorang sebagai mu’min yang sejati. Apabila ia mendapat karunia seperti itu maka perhatiannya segera tercurah kepada Allah swt. Ia menjadi orang yang sangat bersyukur kepada Allah swt. Dan memang harus demikian sebagai mu’min yang sejati. Sebab orang mu’min sejati paham betul kepada firman Tuhan :  وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ

Yakni :siapa saja yang besyukur maka faedah syukurnya itu akan samapai kepada dirinya sendiri ( Luqman : 13)  Hal itu harus menjadi tanda bagi orang mu’min sejati. Tatkala Nabi Ibrahim a.s. memanjatkan do’a untuk putra-putra beliau, beliau juga mengatakan supaya mereka menjadi orang-orang yang bersyukur. Seperti terdapat didalam Al Qur’an

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Artinya : Ya Allah sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian dari keturunanku dilembah yang tandus dekat rumah Engkau yang suci. Ya Allah Tuhan kami !! Mereka hendaknya dapat

mendirikan sembahyang. Maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka dan anugerahkanlah rezqi kepada mereka dari berbagai macam buah-buahan supaya mereka menjadi orang-orang yang bersykur. (Ibrahim : 38)

Maka turunnya berkat didalam perniagaan, turunnya berkat didalam bisnis, turunnya berkat didalam pertanian, semua merupakan buah (hasil) yang menjadi penyebab turunnya rezqi yang melimpah dari Allah swt. Dan apabila seorang mu’min menerima karunia-karunia itu, maka rasa syukur mereka semakin terus meningkat, sehingga hal itu menjadi sarana untuk meningkatnya iman dan taqwa mereka. Dan sememangnya harus demikian adanya. Apabila seorang petani mu’min semakin maju dalam iman, dalam taqwa dan dalam perasaan syukurnya, maka Allah swt menambah karunia dan ni’mat-Nya kepadanya dan menambah berkat didalam hasil panenan ladangnya. Allah swt semakin meningkatkan pemberian rizqi kepadanya. Anugerah Allah swt seperti ini berlaku terhadap orang yang keadaan imannya semakin meningkat, atau orang yang berusaha keras untuk meningkatkan imannya. Jadi bertambahnya rizqi itu bukanlah merupakan kejadian serta-merta begitu saja.

Seorang Ahmadi menulis kepada saya bahwa Allah swt telah menurunkan rizqi kepadanya dengan sangat luar biasa. Hal itu berlaku kepadanya sesuai dengan janji Tuhan didalam Al Qur’an bahwa  :

لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ

Artinya : Jika kamu menjadi orang yang bersyukur atas ni’mat-Ku maka Aku akan memberi kamu lebih banyak lagi.  Bagi orang yang bukan mu’min dapat saja mengatakan bahwa hal itu terjadi sesuai dengan hukum alam dan Allah swt telah menganugerahkan demikian karena ia telah bekerja keras. Akan tetapi seorang mu’min mempunyai keyakinan yang jauh lebih luhur dari pada itu bahwa apabila manusia bekerja keras disertai iman dan taqwa serta rasa syukur kepada Allah swt  maka hasil usahanya akan berlipat kali ganda. Dan perolehannya itu tidak hanya tergantung kepada kerja kerasnya saja. Bahkan sekalipun kerja kerasnya itu terdapat kekuranngan, namun Allah swt sambil menutupi kekurangannya itu menganugerahkan hasil kepadanya secara berlimpah, atau Allah swt menutupi kekurangannya itu.

Berkenaan dengan hal itu Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : Jika dia betul-betul beriman kepada Allah swt , kerana Allah swt adalah Razzaq, Dia telah berjanji : Barangsiapa yang berusaha menjadi orang yang bertaqwa maka Aku sendiri Yang bertanggung jawab memenuhi keperluan rizqinya. Demikianlah caranya Allah swt yang bersifat Razzaq melimpahkan karunia-Nya terhadap hamba-hamba-Nya. Bahwa dengan hanya sedikit kerja keras saja, Dia membalas dengan karunia yang sangat banyak kepada hamba-Nya yang sejati. Kadangkala untuk memberi tahu kepada orang-orang non mu’min, dan untuk menegakkan kepribadian orang mu’min, Allah swt lebih banyak memberkati usaha orang mu’min itu, sekalipun mereka melakukan usaha yang sama.

Saya sendiri secara pribadi mempunyai pengalaman seperti itu dan banyak juga orang-orang Ahmadi telah menulis surat kepada saya katanya : Hasil panen ladang kami jauh lebih bagus dari pada panenan orang-orang lain dari tetangga kami. Dengan heran merekapun bertanya kepada kami:  ‘’ Apa yang telah kamu tambahkan didalam pertanian engkau, yang menyebabkan panenan engkau sangat baik sekali ?’’  Kami jawab : Lebihnya tiada lain yaitu dari hasil panenan ini kami keluarkan 1/10 atau 1/16 untuk dibelanjakan dijalan Allah swt melalui Jema’at Ahmadiyah. Itulah sebabnya Allah swt telah memberkati hasil panenan kami. Bahkan Allah swt berfirman :

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً  – وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Yakni : Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah – Dia akan membuat suatu jalan kemudahan baginya. Dan Dia akan memberi rizqi kepadanya dari mana ia sendiri tidak pernah memperkirakan sebelumnya. (Surah Ath Thalaq : 3-4)

Untuk turunnya mu’jizat atau kurnia Allah swt yang luar biasa itu Allah swt telah menetapkan syaratnya. Jika diinginkan agar Allah swt menzahirkan sifat Razaq-Nya secara luar biasa kepada hamba-Nya, maka manusia juga harus berusaha luar biasa kerasnya untuk mendekatkan dirinya kepada Allah swt. Apabila seorang hamba ingin agar Allah swt menunjukkan diri-Nya sebagai Wali (sahabat) hamba-Nya, maka hamba Allah juga harus berusaha keras menunjukkan dirinya sebagai hamba-Nya yang sejati. Memang betul pengkhidmatan seorang hamba tidak akan dapat memadai sepenuhnya terhadap karunia Allah swt. Sekalipun seorang hamba sepanjang hidupnya melakukan pengkhidmatan terhadap Allah swt maka pengkhidamtannya itu tidak akan memadai karunia Allah swt yang diberikan kepadanya. Akan tetapi usaha manusia harus sentiasa dilakukan dengan giat. Dan langkah usaha  kerah taqwa harus dipertingkatkan.

Apa artinya Taqwa ? Hazrat Masih Mau’ud a.s. menjelaskan tentang Taqwa sebagai berikut : Taqwa ke bahut se ajza hain : ujub, khud psandi, maali haram se perhaiz,  aur bad akhlaqi se bechna bhi taqwa hai. Artinya : Takwa mempunyai banyak cabang-cabanya; menjauhkan diri dari kesombongan, dan dari mementingkan diri sendiri, menghindarkan diri dari harta haram dan menyelamatkan diri dari akhlaq yang buruk juga disebut taqwa. Kewajiban orang-orang mu’min adalah menghindari semua keburukan itu, baru mereka akan dimasukkan kedalam golongan orangh-orang yang berusaha menjadai orang-orang bertaqwa. Dan Allah swt akan memenuhi semua keperluan mereka dengan berbagai macam cara sehingga manusia merasa hairan menerimanya, bagaimana semua ini telah terjadi ?? Dalam menjelaskan firman Tuhan :          يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً وَمَن  

Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : Barang siapa yang meninggalkan seberapa kecilnya dosa karena takut kepada Allah swt, maka Allah swt akan menjauhkan kesulitan-kesulitan yang tengah dia hadapi. Dan hal ini saya jelaskan sebab banyak manusia berkata: ”Kami tidak berdaya apa-apa, kami ingin menjauhkan diri dari keburukan itu namun kesulitan demikian menghadang kami sehingga terpaksa kami melakukannya. Allah swt telah berjanji bahwa Dia akan melindungi dari setiap kesulitan.” Dari kutipan sabda-sabda Hazrat Masih Mau’ud a.s. yang telah saya bacakan ini saya ingin mengingatkan mereka yang menerima bantuan social dinegeri-negeri Barat ini. Didalam berbagai negeri bantuan apapun yang dilakukan semuanya datang dari pemerintah, yang diberikan kepada orang yang menganggur tidak memnpunyai sebarang pekerjaan, atau kepada orang-orang yang berpendapatan minimal (sangat sedikit), supaya income mereka sekurang-kurangnya memadai keperluan hidup yang layak sesuai standar yang telah ditetapkan pemerintah. Negara-negara Barat ini dengan hati terbuka memberikan pertolongan seperti itu. Dan negara Britania patut mendapat pujian tentang langkah seperti ini. Negara ini banyak membantu rakyatnya. Namun saya telah memaklumi bahwa banyak orang-orang yang bekerja juga walaupun kecil-kecilan atau ada yang bekerja juga sekalipun tidak dijelaskan apa pekerjaannya. Atau ada juga yang bekerja sebagai taxi driver. Namun disamping itu mereka juga meminta bantuan kepada pemerintah dengan memberi keterangan yang tidak betul. Atau ada juga yang telah membeli rumah akan tetapi ianya mengambil wang dari peperintah juga untuk membayar sewa rumah. Maka perbuatan itu semua sangat jauh dari asas taqwa. Dengan perlakuan demikian akan melibatkan diri didalam keburukan yang lebih jahat lagi dari itu. Pertama mereka tidak memberi keterangan kepada pemerintah secara jujur dan benar, mencuri tax (pajak) pemerintah, bukan hanya mencuri pajak bahkan memakan uang pajak orang lain juga, yaitu wang pajak yang dikumpulkan dari rakyat untuk membantu masyarakat yang tidak mampu. Selain itu mereka terlibat didalam perkataan dusta yang serupa dengan perbuatan syirik atau menyekutukan Tuhan, sangat jauh dari asas taqwa.

Jika ada beberapa orang diantara kita yang berlaku demikian, maka sebetulnya bukan saja mereka telah menjauhkan diri dari Allah swt bahkan mereka sedang menodai nama baik Jema’at. Mereka sedang mengurangi Nama baik dan Kehormatan Jema’at yang telah dikenal oleh berbagai departemen pemerintah.

Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : Apabila manusia telah meninggalkan tumpuan kepada Allah swt maka akan menimbulkan bahaya dahriyat (tak bertuhan) pada dirinya. Tawakkal dan iman kepada Allah swt hanya dimiliki oleh orang yang yakin bahwa Tuhan Maha Kuasa diatas segala sesuatu. Jadi kita harus mencapai peringkat iman seperti yang telah Allah swt beritahukan kepada kita. Bahkan telah berulang kali dinasihatkan dan diperingatkan oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s. kepada kita. Orang-orang yang memberi keterangan yang palsu kepada pemerintah kemudian memakan beberapa suap pounsterling dari hasilnya, seakan-akan mereka mengatakan : Tuhan kami bukan Raziq Tuhan (Pemberi Rizqi) akan tetapi kami  mempunyai kepintaran. Sekarang saya jelaskan kepada saudara-saudara bahwa pemerintah sudah mencium perbuatan orang-orang seperti itu dan telah menimbulkan keraguan didalam departemen pemerintah. Dan mereka sangat cermat dan pandai dalam mendeteksi masalah begini. Sampai sa’at ini mereka mempunyai kesan bahwa orang-orang Ahmadi tidak suka melakukan penipuan. Sekali mereka mengetahui seorang Ahmadi telah melakukan penipuan tentu orang-orang Ahmadi yang baik-baik yang menggunakan haknya dengan benar dan jujur akan terkena dampak dari keburukan itu. Dan sebagaimana telah saya katakan, akhirnya kepercayaan pemerintah terhadap Jema’atpun akan lenyap. Saya sudah mengatakan kepada Tuan Amir, jika diketahui ada seseorang anggauta Jema’at yang berbuat demikian harus segera ditindak dan jangan diterima wang candah dari padanya. Dengan tidak diambilnya wang candah dari orang demikian tidak akan mempengaruhi keuangan Jema’at. Insya Allah ! Dan seandainya mempengaruhi kewangan Jema’atpun, tidak akan menimbulkan kesan apa-apa. Sekurang-kurangnya wang yang kita hadapkan kehadirat Allah swt harus betul-betul bersih.

Maka saya katakan kepada orang-orang demikian (mungkin ada beberapa orang saja) bahwa, jika kalian tidak menganggap Raziq terhadap Allah swt, maka Allah swt pun tidak menghendaki harta apapun dari kalian, untuk kepentingan Agama-Nya. Dan seterusnya perkara kalian ada ditangan Allah swt, Dia akan berbuat sesuatu tehadap kalian sesuai dengan kehendak-Nya.

Terdapat didalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menciptakan kamu sekalian. Dan Dia memberi rizqi kepada kamu sekalian. Maka hanya kepada Dialah kamu semua beribadah dan jangan sekali-kali mempersekutukan sesuatu dengan-Nya. Maka jika setiap orang memahami hakikat ini bahwa memberi rizqi kepada makhluk-Nya adalah tanggung-jawab Tuhan sendiri (didalam khutbah jum’ah yang lepaspun hal ini telah saya jelaskan), maka tentu ianya akan melakukan ibadah dengan sesungguh-sungguhnya kepada-Nya.  Jika dengan sesungguhnya kita melakukan ibadah kepada-Nya maka kita akan menjadi hamba-hamba-Nya yang sejati. Dan tentu akan timbul perasaan qina’ah (kepuasan dalam hati ). Dan apabila telah timbul perasaan qina’ah didalam hati, maka tidak akan memicingkan pandangan mata kita kepada harta kekayaan orang lain. Apabila hati tidak cenderung memandang harta orang lain, maka tidak akan timbul keinginan dalam hati untuk mendapatkan rizqi secara tidak halal. Saya berdo’a semoga Allah swt melindungi setiap orang Ahmadi dari sifat serakah.

Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: Harus selalu diperhatikan bahwa kita sudah sampai peringkat mana usaha menjadi orang yang bertaqwa dan usaha meningkatkan kesucian diri. Tolok ukurnya adalah Al Qur’an. Salah satu tanda orang bertaqwa telah diberitahukan oleh Allah swt bahwa, Allah swt mencegah orang bertaqwa dari perkara dunia yang makruh (yang tidak disukai) dan Dia sendiri menjadi Penolong untuk memenuhi segala urusan dan pekerjaannya. Bersabda lagi : Allah swt tidak menyediakan barang-barang yang sia-sia bagi orang yang bertaqwa. Yaitu barang-barang yang betul-betul tidak berarti dan barang-barang palsu. Umpamanya seorang pemilik Kedai berpikir, tanpa melakukan kata-kata dusta urusan niaga tidak bisa berjalan, oleh sebab itu ianya tidak berhenti dari berkata dusta. Dan selalu terpaksa mengucapkan kata-kata dusta kepada para langganannya. Namun perbuatan seperti itu sekali-kali tidak dibenarkan.

Zaman sekarang ada orang-orang yang mendapatkan pertolongan dari Pemerintah dengan memberi keterangan dusta atau palsu atau menghindar dari membayar tax (pajak). Orang-orang seperti itu juga sama seperti contoh tersebut. Mereka menggunakan pernyataan palsu dan dusta untuk menyempurnakan maksudnya demi mendapatkan sesuatu. Jika seseorang sedang menhadapi sedikit kesulitan ia haruslah berlaku sabar, karena hal itu sangat diperlukan untuk meraih keridhaan Allah swt.

Hazrat Masih Mau’ud a.s bersabda : Kalian jangan  mengira bahwa Tuhan itu lemah. Dia adalah Zat Yang sangat Gagah Perkasa. Jika kalian yakin sepenuhnya kepada-Nya didalam sesuatu urusan maka pasti Dia akan menolong kalian.  Semoga Allah swt memberi keyakinan yang hakiki seperti itu kepada kita semua.

Allah swt begitu Pengasih terhadap hamba-hamba-Nya, Dia selalu mengingatkan untuk berusaha seperti itu, maka kehormatan dan kesucian kalian juga akan tetap terpelihara dan juga akan terus meningkatkan rezqi kalian. Allah swt berfirman :

وَمَا آتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

Artinya : Apa-apa yang kamu berikan sebagai zakat seraya mengharapkan keridhaan Allah-mereka itulah orang-orang yang akan memperbanyak kekayaan mereka dengan berlipat ganda. (Ar Rum : 40)

Demikianlah Allah swt telah memberitahukan sarana untuk mempertingkatkan barkat didalam harta kekayaan, yaitu membelanjakan harta dijalan Allah swt dan seberapa kemampuan yang ada pada kita harus kita belanjakan dijalan-Nya. Dengan demikian akan timbul perasaan qina’ah dan akan merubah haluan keinginan didalam hati. Akan timbul perhatian lebih kuat kearah urusan agama dan mengurangkan perhatian terhadap kepentingan dunia semata.

Jika ada orang berkata : Bagaimanapun cara usaha saya dalam mencari rizqi saya tetap membayar candah juga sesuai peraturan,dan jika saya mengambil bantuan dari pemerintahpun karena taktik kepandaian saya, apa bedanya dalam hal ini ?  Saya bayar juga candahnya.

Sebenarnya harta seperti itu tidak dikehendaki oleh Allah swt. Allah swt berfirman : Jika kalian ingin membalanjakan harta kalian dijalan agama-Ku, maka belanjakanlah dari harta yang suci-bersih. Sebagaimana firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah barang-barang yang baik dari hasil yang kamu usahakan……Al Baqarah : 268

Maksud dari firman Allah ini adalah, kalian hanya boleh mencari rizqi dengan cara yang baik dan suci. Kemudian belanjakanlah sebagian dari padanya dijalan Allah swt.

Harta yang diperoleh dengan cara memberi keterangan yang palsu kepada pemerintah, bagaimana ianya bisa disebut rizqi yang suci-bersih. Maka jika ada orang salah faham menggunakan sarana yang keliru itu, maka ianya harus berhenti dari perbuatan seperti itu. Apabila seseorang membelanjakan harta dari usaha yang benar dan bersih dijalan Allah swt, maka Dia memberi jaminan kepadanya bahwa wang itu atau harta itu akan sangat berbarkat dan akan menjadi sarana bagi bertambahnya harta orang yang membelanjakannya itu. Disatu tempat Allah swt berfirman bahwa harta itu dapat dikembalikan kepadanya lebih dari tujuh ratus kali lipat ganda banyaknya. Namun harta itu harus selalu baik dan bersih atau halal.

Maka ingatlah selalu kepada firman Tuhan ini bahwa :       وَمِمَّا رَزَقْنَهُمْ يُنْفِقُوْنَ

Artinya : Dan mereka membelanjakan dari rezqi yang telah Kami berikan kepada mereka

(Al Baqarah : 4)

Allah swt tidak memberi rezqi kepada hamba-hamba-Nya dengan jalan yang terlarang. Allah swt memberi rizqi-Nya yang dihasilkan dengan cara yang baik dan bersih. Maka sebagai tanda mu’min yang sejati adalah bahwa rezqi yang dihasilkan-nya selalu baik dan bersih. Dan dari hartanya yang baik dan bersih itu mereka membelanjakannya dijalan Allah swt.

Mencari nafkah itu banyak jalannya, ada yang dengan mencuri, dengan merampok, dengan jalan memberi wang suap, banyak sekali orang-orang yang mencari nafkah dengan cara-cara yang tidak halal dan terlarang. Apakah bisa dikatakan terhadap harta yang diperoleh dengan cara demikian itu Allah swt yang telah memberi harta itu kepada mereka ?? Perintah Allah swt adalah tegas, supaya hamba-hamba-Nya menggunakan cara yang adil dan jujur serta halal didalam mencari rizki mereka. Apakah harta yang diperoleh dengan jalan merampas hak orang dapat dikatakan harta itu halal ?? Samasekali tidak dapat dikatakan demikian. Sekalipun di Pakistan dan juga dibeberapa negara lainnya, harta yang dihasilkan mereka dengan cara yang terlarang itu mereka mengatakan harta itu pemberian Allah swt. Tidak mungkin harta kotor seperti itu boleh dikatakan harta dari Allah swt. Harta itu telah dihasilkan melalui tipuan syetan. Keadaan orang-orang kaya dan para pengusaha besar-besar dinegeri Pakistan sama saja seperti itu sehingga merekapun sampai hati menulis sepotong ayat dari Al Qur’an diatas rumah mereka ‘’Hadza min fdhli rabbi  ‘’Rumah ini karunia dari Allah Tuhan-ku ‘’  Inna lillah !!  Harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar,  ditulis : هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ   

‘’ Ini karunia dari Allah Tuhan-ku ‘’

Para ahli politik disana (Pakistan) sedang ramai mencuri harta negara. Harta yang diperoleh dengan cara yang tidak benar dalam jumlah sedikit ataupun banyak tidak dapat disebut harta tayyeb (harta yang bersih). Harta yang tidak tayyeb bukanlah harta Allah swt dan tidak dapat pula diterima disisi Allah swt. Jadi setiap orang Ahmadi harus selalu ingat harta yang ia miliki harus benar-banar baik dan bersih, dan jika ia ingin meningkatkan jumlah hartanya maka hendaklah ia membelanjakannya hanya dijalan Allah swt saja, kemudian lihatlah bagaimana Allah swt akan memberkatinya.

Satu hal lagi yang harus saya jelaskan disini yaitu beberapa orang Ahmadi telah menulis kepada saya, katanya diwaktu saya menentukan anggaran pribadi (budget perseorangan) berdasarkan perkiraan income yang diharapkan (belum pasti berapa banyaknya income itu). Akan tetapi disebabkan terdapat beberapa kesulitan sehingga tidak dapat memperoleh income sesuai dengan yang telah dituliskan. Atau ada juga beberapa orang disebabkan menghadapi kesulitan didalam pekerjaan mereka, tidak mampu memenuhi budget mereka. Maka bagi orang-orang demikian harus memeriksa keadaan pribadi masing-masing berasaskan kepada taqwa dan boleh merevisi semula anggarannya. Namun harus berasaskan taqwa, sebab  Allah swt-pun telah memberi izin untuk melakukan demikian. Sebagaimana Allah swt telah berfirman :            وَيَسْئلُوْنَكَ مَا ذَا يُنْفِقُوْنَ قُلِ الْعَفْوَ

Artinya : Dan mereka bertanya kepada engkau tentang apa yang harus mereka belanjakan. Katakanlah, “Apa yang tidak mendatangkan kesusahan atas kamu“. (Al Baqarah: 220)

Maka jika didalam hati seorang mu’min terdapat taqwa dan ianya menaruh perhatian kepada firman Allah swt ini bahwa : Siapa saja yang membelanjakan hartanya dijalan-Ku maka Aku akan kembalikan kepadanya secara berlipat kali ganda. Tentu seorang mu’min dengan ikhlasnya akan berusaha untuk membelanjakan hartanya sebanyak-banyaknya dijalan Allah swt, supaya ianya menjadi pewaris ni’mat-ni’mat daripada-Nya. Dengan karunia Allah swt didalam Jema’at Ahmadiyah ini terdapat banyak sekali orang-orang yang tidak mengurangkan semangat pembayaran candah mereka sekalipun mereka dalam keadaan sempit dan susah. Jadi pembayaran candah ini tertakluk kepada keadaan iman masing-masing dan tertumpu kepada harapan-harapan ni’mat dan karunia dari Allah swt. Mereka paham betul bahwa Allah swt berjanji akan menurunkan barkat didalam harta mereka jika harta mereka dibelanjakan dijalan-Nya  dan juga Dia akan membuka jalan keridhaan bagi mereka.

Hazrat Rasulullah saw sentiasa memanjatkan do’a ini dan sesuai dengan keadaan zaman sekarang do’a ini sangat penting sekali bagi kita. Hazrat Ummi Salmah r.a. meriwayatkan katanya Nabi Muhammad saw apabila selesai menunaikan salat subuh segera setelah mengucapkan salam beliau membaca do’a ini :

اَللهُمَّ اِنِّيْ اَسْئَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Artinya : Wahai Allah !! Aku memohon kepada Engkau ilmu yang bermanfa’at dan rizqi yang toyyib (baik) dan amal perbuatan yang layak diterima disisi  Engkau.

Itulah do’a yang harus dibaca dengan penuh perhatian oleh setiap orang Ahmadi.

Sudah saya beritahu didalm khutbah jum’ah yang lepas bahwa Rizq artinya hissah juga  atau bahgian.  Dan hissah atau  bahgian itu keadaannya bisa saja baik atau bisa juga buruk. Allah swt berfirman didalam Kitab Suci Al Qur’an :         وَ تَجْعَلُوْنَ رِزْقَكُمْ اَنَّكُمْ تُكَذِّبُوْنَ

Artinya : Dan kamu menjadikan penolakan (mendustakan utusan Tuhan) itu sebagai sarana untuk mencari rezkimu. (Al Waqi’ah : 83)

Didalam Surat Waqiah ini mengandungi ayat-ayat yang menjelaskan nasib baik dan nasib buruk orang-orang dimasa awal permulaan Islam dan juga nasib baik atau buruk orang-orang dimasa akhir yang akan datang, terutama dizaman sekarang ini. Didalam ayat tersebut diatas menjelaskan tentang orang-orang yang bernasib buruk dimasa sekarang ini, yaitu mereka yang mencari nafkah atau rizqi dengan jalan mendustakan kebenaran utusan Tuhan. Keadaan akhlaq dan iman mereka itu sudah jatuh begitu parahnya sehingga mereka tidak mempunyai rasa takut lagi kepada Tuhan, mereka hanya takut kepada dunia atau kepada manusia. Orang-orang semacam itu sudah bersahabat dengan syetan. Mereka semua telah menolak kebenaran Utusan Tuhan dizaman ini dan tidak mau beriman kepada beliau karena takut kehilangan sumber keuangan atau sumber pendapatan mereka. Dan sebagian dari mereka menolak kebenaran karena menganggap diri mereka lebih alim (lebih pandai) dari yang lain, dan mereka telah menjadi anggauta penguasa dimesjid-mesjid orang. Mereka tidak mau menerima kebenaran sebab mereka sudah menjadi anggauta pengurus di mesjid-mesjid dan senang menguasai dan merampok harta masyarakat awam. Ringkasnya mereka para politisi dan juga para Mulla (dan Habib-Habib) juga disebabkan penghasilan rizqi yang kotor itu mereka luput dari bagian rizqi ruhaniah yang telah dikirim oleh Allah swt melalui Utusan-Nya pada zaman ini. Dan disebabkan perilaku dan gerak-gerik yang buruk itu mereka telah menjadi ulat-ulat dunia, sehingga nasib mereka sangat malang tidak bisa mengenal kebenaran. Pekerjaan mereka itulah untuk mendustakan kebenaran. Mereka akan terus berbuat demikian sampai nanti tiba waktunya apabila  mereka akan berurusan dengan Allah swt.

Sekarang kita sedang menyaksikan dinegeri manapun sedang terjadi perlawanan terhadap Jema’at Ahmadiyah, para politisi bekerja sama dengan para Mullah (para pemimpin agama). Dan mereka bersatu padu menyusun kekuatan untuk melawan Jema’at Ahmadiyah. Dengan sempurnanya seratus tahun Khilafat Ahmadiyah rasa hasad dan dengki serta perlawanan mereka semakin bertambah berkobar. Mereka takut sumber rizqi dusta mereka akan terkikis habis. Para politisi, disebabkan tidak mempunyai minat didalam agama, mereka hanya berminat didalam politik semata-mata untuk mendapatkan kursi. Mereka mengira bahwa jika tidak mengikuti kehendak para Mullah (pemimpin agama) dan tidak ikut menentang Ahmadiyah tentu didalam pilihan raya (pemilihan umum) mereka khawatir tidak akan mendapat suara banyak dan akan kehilangan kursi atau tidak akan mendapat kursi. Sebenarnya tujuan mereka ini bukan semata-mata untuk berkhidmat kepada Negara, namun mereka bertujuan untuk mendapatkan atau mempertahankan kursi sambil merampok hak-hak rakyat dan duduk memakan uang dari kas Negara.

Rizqi atau harta yang tidak toyyib dan kotor itu yang diperoleh atas dasar dusta dan kebohongan, akhirnya akan ada tangan Ghaib yang akan merampasnya kembali. Para Mullah diliputi perasaan khawatir jangan-jangan sarana untuk mendapatkan dana atau pendapatan dengan mengatasnamakan pembangunan Madrasah atau atas nama pembangunan sarana pendidikan lainnya lagi dan jalan memungut wang dari masyarakat dengan cara membodohi mereka atau jalan untuk meminta bantuan wang Negara akan tertutup. Mereka inilah orang-orang yang mencari nafkah atau rizqi dengan jalan mendustakan kebenaran Seorang Utusan yang datang dari Allah swt dizaman ini. Atau mereka berdusta demi mendapatkan rizqi atau nafkah. Cobalah perhatikan dengan cermat bahwa rizqi mereka itu dihasilkan semata-mata dengan jalan dusta. Dan itulah rizqi yang sangat buruk. Jadi mereka mendapatkan rizqi itu bukan hanya kerana mendustakan kebenaran saja bahkan dengan jalan perlawanan yang semakin keras terhadap kebenaran yang datang dari Allah swt dizaman ini. Tengoklah mereka itu jelas mendapatkan rizqi disebabkan terang-terangan menolak kebenaran, melakukan perlawanan dan disebabkan perkataan dusta mereka. Maka Allah swt-pun akan mengundang mereka dengan hidangan air sangat panas mendidih, sebagaimana firman-Nya :    وَتَصْلِيَةُ جَحِيْمٍ

Artinya : Tempat tinggal mereka akan disediakan didalam Neraka yang membakar.

Jadi sekarang orang-orang tengah melawan Ahmadiyah, medan perlawanan semakin berkobar dan sengit. Baik di Pakistan maupun di Indonesia, dikedua negara ini para politisi dan para Mullah tengah bersatu-padu melawan Ahmadiyah. Mereka tengah membuat masyarakat awam menjadi bodoh dengan menyebarkan issue untuk melawan dan menentang Ahmadiyah, katanya : “demi mempertahankan agama.” Padahal dibalik itu mereka mempunyai perasaan takut jangan-jangan kesempatan untuk mendapatkan dana atau bantuan kewangan mereka menjadi tersumbat. Usaha penjarahan dan perampokan yang mereka lakukan dengan sangat kejam itu jangan-jangan akan terkendala.

Maka saya nasihatkan kepada semua orang Ahmadi disana untuk bersabar dan tabah dalam menghadapi situasi sekarang ini. Anda semua telah beriman kepada Masih Mau’ud a.s. yang datang dari Allah swt, maka disebabkan telah menjadi orang-orang beriman kepada beliau pasti anda semua akan menjadi orang-orang yang dekat dengan Allah swt. Dan untuk orang-orang yang telah dekat dengan Allah swt telah diberi khabar suka berupa surga yang sarat dengan karunia dan ni’mat-ni’mat-Nya yang tidak terhingga.

Sejak seratus dua puluh tahun yang lepas musuh-musuh Jema’at terus-menerus melakukan perlawanan dan kekerasan terhadap Jema’at Ahmadiyah, sehingga kita semua banyak menanggung kerugian dan kesusahan dengan sabar dan tabah, akan tetapi maksud dan tujuan mereka tidak pernah berhasil dan tidak pernah terpenuhi. Mereka hendak menghapuskan Jema’at ini. Seorang Pemimpin telah mengeluarkan deklarasi untuk menghancurkan Jema’at Ahmadiyah ini melalui tangan kekuasaannya, namun sebaliknya dia sendiri telah digantung oleh Tuhan sampai binasa dan semua orang sudah menyaksikan keadaan yang sngat jelas ini. Akan tetapi Jema’at Ahmadiyah ini, secara perorangan maupun secara kelompk telah mendapat banyak kemajuan dibidang harta dan keuangan dan perkembangannya sangat luar biasa diseluruh dunia. Kemudian seorang pemimpin lagi telah bertekad untuk melakukan penghadangan bahkan untuk menghancurkan Jema’at Ahmadiyah ini yang dianggapnya sebagai kangker (barah) yang sangat berbahaya bagi Islam, namun sebaliknya pula dialah sendiri yang telah dihancurkan oleh Allah swt menjadi debu, semua orangpun telah maklum bahkan banyak orang menjadi saksi atas peristiwa yang sangat mengerikan itu. Akibatnya sarana kemajuan Jema’at semakin terbuka lebar diberbagai bidang. Allah swt Yang Raziq telah membuka sarana-sarana baru bagi kemajuan dan perkembangan kewangan Jema’at ini. Allah swt telah menzahirkan kekuasaan-Nya, dan keperkasaan-Nya bagi mendukung Jema’at Ahmadiyah ini. Sebagaimana firman-Nya :

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Artinya : Sesungguhnya, Allah sendirilah Yang bertanggung jawab sebagai Pemberi rizqi, Yang Mempunyai Kekuasaan, Maha Perkasa. (Adz Dzariyat : 59)

Jadi kita hanyalah orang-orang yang melakukan ibadah kepada-Nya dan pemohon rizqi dari pada-Nya. Mereka itu orang-orang dunia, mereka bukanlah pemberi rizqi kita dan tidak pula mereka berkuasa untuk mengobah pendirian dan iman kita. Dan tidak pula mereka mampu menghentikan kita menunaikan ibadah kepada Allah swt.

Beberapa hari yang lalu selepas tanggal 27 Mei 2008 kita merayakan seratus tahun Khilafat Ahmadiyah, dibeberapa bagian negara Pakistan seperti dikota Kotri dekat Haiderabad, Larhkana, Kasymir, Kotly dan dibeberapa kota di Provinsi Punjab, telah terjadi aksi penyerangan terhadap Ahmadiyah dengan sangat biadab. Beberapa mahasiswa kedoktoran di sebuah University di Faisal Abad Provinsi Pujab, telah dikeluarkan dari University dengan alasan hanya karena mereka orang-orang Ahmadiyah. Mereka pikir dengan perlakuan demikian mereka hendak membekukan sarana pencaharian rizqi bagi para mahasiswa itu. Mereka pikir orang-orang ini tidak lama lagi akan menjadi doctor-doktor terutama mereka yang sudah mencapai tahun kuliah terakhir, mereka akan takut mendengar caci-maki terhadap Hazrat Masih Mau’ud a.s. dikiranya mereka akan meninggalkan Ahmadiyah. Orang-orang itu sangat dungu tidak tahu bagaimana kokohnya iman para mahasiswa itu, tidak seperti keadaan iman mereka. Mereka kira para mahasiswa ini akan meninggalkan Ahmadiyah karena takut.

Di Kothly terjadi penyerangan kerumah-rumah lalu mereka melakukan penjarahan. Bahkan setelah mereka mengeluarkan barang-barang dari sebuah rumah kemudian membakar rumah itu sampai hangus. Mereka mengira kita ini arang-orang pengecut atau orang-orang yang dapat memperjual belikan iman. Kita adalah orang-orang beriman kepada Allah swt Yang Dzul Mateen, Maha Perkasa, Yang memperlihatkan ghairah-Nya demi melindungi hamba-hamba-Nya. Dan apabila Dia menangkap musuh-musuh-Nya maka Dia hancurkan seperti debu. Demikianlah yang telah kami saksikan.

Jadi hadapilah situasi dengan tabah dan sabar, demikian juga saya katakan kepada para anggauta Jema’at Ahmadiyah di Indonesia, jika disana tabligh sudah dilarang dan beberapa jenis kegiatan lain lagi telah dibekukan oleh Pemerintah, walaupun secara pasti Pemerintah tidak membubarkan Ahmadiyah, akan tetapi berdasarkan berita dari beberapa media terbukti bahwa keadaan Jema’at disana sama saja dengan ditutup atau dibubarkan. Orang-orang Jema’at disana harus meningkatkan semangat berdo’a !!

Di Pakistan, dengan Undang-undang kejam yang telah dikeluarkan untuk melarang Ahmadiyah, bisakah mereka menghalangi Jema’at Ahmadiyah dari berkembang disana? Bahkan hujan karunia dan pertolongan Tuhan disegenap penjuru dunia semakin banyak dari waktu sebelumnya. Dan undang-undang yang telah dikeluarkan Pemerintah Indonesia juga untuk membekukan  Jema’at Ahmadiyah akan menjadi sarana untuk berkembangnya Jema’at disana lebih luas lagi dari waktu-waktu sebelumnya, Insya Allah !!

Maka perbanyaklah do’a, insya Allah Ta’ala, waktu tidak lama lagi akan tiba, apabila rencana makar (jahat) mereka akan berbalik menghantam muka mereka sendiri. Bagaimanapun semua warga Jema’at diseluruh dunia harus berdo’a sebanyak-banyaknya untuk orang-orang Ahmadi Indonesia dan Pakistan, semoga Allah swt memberi jalan-jalan kemudahan bagi mereka dan menjauhkan kesusahan dan penderitaan mereka. Amin  !!

Pada akhirnya saya ingin memberitahukan bahwa didalam minggu ini saya akan mengadakan lawatan ke Amerika dan Canada, disana akan diadakan Jalsah berkenaan dengan Sadsalah Jubilee Khilafat, persiapan mereka sudah mencapai taraf Akhir. Mereka sering mengirim surat menyatakan sangat menginginkan kehadiran saya disana. Memang dengan pertemuan secara langsung banyak faedahnya bagi kebaikan dan kemajuan Jema’at. Lawatan ke Amerika merupakan lawatan pertama bagi saya. Saya mengharapkan do’a dari saudara-saudara semoga Allah swt memberkati lawatan ini, dan semoga lawatan ini sangat berberkat bagi Jema’at. Dan semoga Allah swt memberi kemudahan-kemudahan untuk mencapai semua maksud dan tujuan lawatan ini. Berkat adanya lawatan ini semoga Allah swt menimbulkan semangat baru demi kemajuan Jema’at dikedua negara itu dan juga bagi semua Jema’at diseluruh dunia. Dan semua program yang sudah dan sedang dilangsungkan didalam abad Khilafat yang baru ini semoga membangkitkan semangat baru dikalangan Jema’at diseluruh dunia. Dan semoga Allah swt memberi kemudahan-kemudahan didalam lawatan ini. Amin !!!

Alih Bahasa dari Urdu Audio oleh Hasan Basri