Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 20 April 2018 di Masjid Basyarat, Pedroabad, Spain (Spanyol)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ،

 وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

 

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Wa man ahsanu qoulan mimman da’aa ilallaah wa amila soolihaw wa qaala innanii minal muslimiin. Artinya, Terjemahan ayat ini ialah sebagai berikut: “Siapakah yang lebih baik daripada orang yang menyeru kepada Allah Ta’ala, beramal saleh dan menyatakan, ‘aku termasuk kedalam orang-orang yang taat sepenuhnya.’” (Fushshilat : 33)

Ayat ini merupakan permisalan sempurna dan mencakup segala sifat dan keistimewaan yang seyogyanya secara khas dimiliki seorang Mu-min (beriman). Siapa yang dapat mengamalkan hal-hal tersebut melebihi seorang Muslim hakiki? Jika sifat-sifat dan keistimewaan-keistimewaan yang Allah Ta’ala jelaskan itu terdapat dalam diri seseorang maka di dalam kehidupannya akan tercipta satu revolusi, tidak hanya tercipta revolusi dalam dirinya saja, bahkan orang yang seperti itu akan dapat menciptakan revolusi dalam lingkungannya.

Tiga hal tersebut ialah: Pertama, da’wah ilallaah (menyeru kepada Allah); kedua, melakukan amal perbuatan saleh bersamaan dengan [hal ketiga], pernyataan seseorang untuk mengamalkan atau berusaha mengamalkan segala perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dengan memperlihatkan teladan ketaatan dan kesetiaan.

Di dalam hal-hal tersebut mengandung: pertama; dapat mendorong seorang beriman untuk mempelajari ilmu keagamaan dan juga mengajarkannya kepada dunia. Hal tersebut mengarahkan kepada orang beriman supaya menyampaikan kepada dunia apa saja hak-hak (kewajiban-kewajiban kepada) Allah Ta’ala dan bagaimana memenuhi hak-hak tersebut? Mereka mengajarkan kepada orang-orang lain mengenai apa saja kewajiban-kewajiban mereka antara satu terhadap lainnya yang Allah Ta’ala tetapkan atas mereka? Bagaimana mereka memenuhinya?

Perhatian untuk memberitahukan kepada orang-orang lain tidak dapat muncul sebelum memiliki di dalam hati mereka rasa simpati (kepedulian) bagi orang lain. Harus ada rasa simpati dan perhatian untuk menyelamatkan orang lain dari serangan setan. Di dalam dirinya harus ada keinginan yang mendalam untuk menambah jumlah kelompok hamba-hamba Yang Maha Rahman.

Orang yang memiliki keistimewaan ini atau yang menciptakan semangat dan kecintaan untuk mengajak orang lain mendekat Allah Ta’ala; masih saja terus ia lakukan khususnya dalam keadaan rencana-rencana setan dan berbagai macam sarana yang menarik hati untuk menjauhkan dari Allah Ta’ala telah sampai pada puncaknya. Dalam keadaan seperti itu tidak ada yang mampu melakukan upaya dan kerja keras tersebut kecuali seseorang yang memiliki rasa takut kepada Allah Ta’ala dan mencari qurb (kedekatan)-Nya.

Keistimewaan kedua ialah melakukan amal saleh. Artinya, tidak hanya memberikan perhatian untuk memenuhi hak-hak para hamba Allah Ta’ala saja, bahkan dia sendiri harus menjadi contoh dan menegakkan teladan bagi orang lain. Jika tidak mereka lakukan, ilmu agama mereka pun tidak berguna dan amal perbuatan menyeru kepada Allah Ta’ala pun akan kosong dari keberkatan dan hasil, jika tidak disertai amalan. Apabila kondisi seperti ini terjadi, segala upaya tabligh yang dilakukan akan sia-sia, keridhaan Allah Ta’ala tidak dapat diraih.

Lalu, keistimewaan atau sifat ketiga seorang beriman hakiki ialah ia menyatakan, “Saya termasuk kedalam orang-orang yang Muslim (taat sepenuhnya), artinya beriman sepenuhnya atas segala perintah Allah Ta’ala dan rasul-Nya. Tidak hanya beriman bahkan menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan saya. Saya akan selalu mendahulukan kepentingan agama diatas duniawi. Taat dan setia pada Khilafat dan Nizham Jemaat pun termasuk kedalam ketaatan.”

Allah Ta’ala tidak menyukai perkataan, “Saya rajin bertabligh. Ilmu saya banyak sehingga tidak perlu dengan suatu Nizham.”

Pada zaman ini Allah Ta’ala ingin menciptakan satu Jemaat dan Dia telah mendirikannya. Untuk itu bergabung dengan Jemaat tersebut adalah penting. Allah Ta’ala menjelaskan bertabligh adalah sesuatu yang baik. Itu tidak diragukan lagi. Namun perlu juga untuk menyatakan, إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ‘Innanii minal muslimiin’ Artinya, “Saya menyatakan kesetiaan saya dengan menegakkan standar ketaatan yang tinggi.”

Demikian pula, tingkat-tingkat tolok ukur amal saleh dan ketakwaan pun dapat diperoleh jika derajat ketaatan dan kesetiaan seseorang tinggi. Terkadang tampak kepada kita seseorang memperlihatkan kesalehan secara lahiriah dan pengkhidmat agama namun ternyata akhir kehidupannya tampak tidak baik.

Penyebabnya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman bahwa seorang beriman dan orang yang mengucapkan perkataan terbaik pun akan mendapatkan standar memperlihatkan teladan luhur dan hasil yang baik jika disertai dengan pernyataan, إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ‘Innanii minal muslimiin’ – “Saya termasuk orang-orang yang berserah diri (taat sepenuhnya)”, yang mana itu artinya, “Saya melaksanakan ketaatan dan kesetiaan sepenuhnya kepada Nizham yang dibuat Allah Ta’ala.”

Bagi kita para Ahmadi, standar ketaatan sempurna ini dapat ditegakkan, tabligh kita akan berhasil dan perbuatan baik kita akan disebut sebagai amal saleh jika kita menaati sepenuhnya Nizham Khilafat yang berdiri setelah kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam (as) dan bekerja sama secara sempurna dengan Nizham yang berada dalam pengaturan Khilafat. Keberkatan akan menyertai upaya kita baik secara individu maupun berjamaah jika setiap individu Ahmadi, pengurus, dan karyawan Jemaat dan setiap muballigh memahami Nizham dan melaksanakan pemenuhan kewajiban antara satu terhadap yang lain.

Tidak diragukan lagi dalam hal ini, ketika Allah Ta’ala mengutus Hadhrat Masih Mau’ud (as) sesuai janji-Nya dan nubuatan Nabi-Nya saw, Dia menjanjikan beserta utusan itu dengan janji penyempurnaan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Insya Allah akan terpenuhi. Sebagian ada yang terpenuhi pada masa hidup beliau. Sebagian lagi terpenuhi setelah kewafatan beliau dan hingga saat ini tengah berlangsung pemenuhannya.

Dengan perantaraan beliau (as), pesan Islam tengah sampai di pelosok-pelosok dunia sehingga secara perlahan orang-orang yang berfitrat suci masuk kedalam pangkuan Ahmadiyah, Islam sejati. Allah Ta’ala memenuhi tujuan-tujuan yang demi itu Dia mengutus para Nabi.

Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an, كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي  “Allah Ta’ala telah memutuskan, ‘Aku dan Rasul-rasul-Ku pasti akan menang.’” (Al-Mujadilah, 58:22).

Hadhrat Masih Mau’ud (as) juga beberapa kali menerima ilham berupa kalimat-kalimat tersebut.[1]

Beliau as bersabda dalam menafsirkan ayat ini, “Inilah Sunnah (kebiasaan) Tuhan yang berlaku dan sejak Dia menciptakan manusia di bumi, sunnah ini masih saja berjalan tanpa putus bahwa Dia menolong para Nabi-Nya dan para Rasul-Nya. Telah tertulis kemenangan atas mereka sebagaimana Dia berfirman, كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي  ‘Allah Ta’ala telah memutuskan, Aku dan Rasul-rasul-Ku pasti akan menang, sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.’ (Al-Mujadilah, 58:22) Dan, yang dimaksud kemenangan ialah sebagaimana keinginan para Nabi dan para Rasul itu – yaitu keterangan dan dalil Tuhan – sempurna di bumi dan tidak ada yang dapat melawannya, demikianlah Allah Ta’ala membuktikan kebenaran mereka dengan tanda-tanda yang kuat. Kebenaran yang hendak dikembangkan mereka di dunia, benihnya telah Allah Ta’ala semaikan melalui tangan mereka (Para nabi dan Rasul).”[2]

Lalu beliau bersabda, “Tuhan telah menetapkan dari sejak permulaan dan telah menetapkannya sebagai hukum dan Sunnah-Nya bahwa Dia dan para Rasul-Nya pasti akan unggul. Dengan demikian, karena saya adalah Rasul-Nya, yakni utusan-Nya, namun tanpa membawa syariat baru dan tanpa nama baru melainkan mendapatkan nama dari Nabi Karim Khatamul Anbiya saw juga-lah, dalam status itulah dan sebagai mazhhar (manifestasi) beliau saw-lah, saya datang. Untuk itu, saya katakan, sebagaimana halnya pengertian ayat tersebut selalu terbukti benar sejak permulaan yaitu sejak zaman Adam sampai zaman Hadhrat Saw, begitu jugalah pada masa saya pun akan terbukti benar.”[3]

Walhasil, tanaman yang ingin Allah Ta’ala tanamkan di setiap penjuru dunia dengan perantaraan Hadhrat Masih Mau’ud (as) itu merupakan tanaman syariat yang telah turun kepada Hadhrat Muhammad Saw yang mana penyempurnaan penyebarannya telah ditaqdirkan terjadi pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud (as) sabdakan, yaitu kesalehan yang ingin Allah Ta’ala sebarkan di dunia ini dengan disemaikan melalui perantaraan tangan para Rasul-Nya, telah Allah Ta’ala semaikan benih penyempurnaan penyebaran Islam ini melalui tangan Al-Masih yang dijanjikan, bahkan panen-panen tanaman nan subur menghijau ini telah tumbuh dari benih tersebut yang secara terus-menerus menyebar di berbagai wilayah belahan dunia. Seolah-olah benih yang Allah Ta’ala semaikan melalui tangan beliau (as), tanamannya tengah menyebar juga di berbagai negeri di seluruh dunia.

Sebagaimana para petani melakukan pembibitan tanaman, dalam hal ini petani di sini pun biasa dalam hal ini, yaitu setelah pembibitan tanaman, mereka memindahkan atau membawa tanaman-tanaman itu ke suatu tempat dan ditanam di tempat lain.

Demikian pula, pembibitan ilmu tafsir dan makrifat Al Quran yang Hadhrat Masih Mau’ud (as) lakukan dan pesan Islam yang beliau ajarkan kepada kita sejelas-jelasnya, tengah dipindahkan dan disebarkan ke berbagai penjuru dunia dengan bersumber pada Al Quran; dan dunia tengah tertarik kepada ajaran islam yang indah.

Jadi, tidak diragukan lagi ajaran Islam yang indah akan menyebar di dunia ini dengan perantaraan Hadhrat Masih Mau’ud (as). Hal itu benar-benar tengah menyebar. Berkenaan dengan ini Allah Ta’ala telah memberikan kabar suka kepada beliau as melalui sejumlah ilham. Salah satu ilham telah dijelaskan yaitu, كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي  ‘Allah Ta’ala telah memutuskan, Aku dan Rasul-rasul-Ku pasti akan menang, sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.’ Selain itu masih banyak ilham lainnya. Saya akan sampaikan beberapa diantaranya sebagai contoh, ينصركم الله في دينه ‘Yanshurukumullaahu fii diinihi’ – “Allah Ta’ala akan menolong engkau dalam agama-Nya.” (Tadzkirah, h. 574, edisi ceharam) Kata في دينه atau ‘dalam agama-Nya’ bermakna apa yang beliau sebarkan itu adalah agama Allah, Islam.

Lalu, ada ilham lagi, ينصرك الله من عنده ‘Yanshurukallaahu min indi-Hii’ – “Allah Ta’ala akan menolong engkau dari sisi-Nya.” (Tadzkirah, h. 39, edisi ceharam)

Lalu ada satu ilham yang cukup terkenal dan sering diucapkan. Oh, bukan yang itu. Sebelum itu ada satu ilham lainnya,  ‘Me tujhe zamin ke kinarong tak ‘izzat ke sath syehret dungga.’ – Aku akan membuat engkau terkenal secara terhormat sampai ke pelosok-pelosok bumi”. (Tadzkirah, h. 149, edisi ceharam, ilham 1891)

Kehormatan Hadhrat Masih Mau’ud (as) akan tegak; dan tersebar disebabkan penyampaian pesan Islam. Kehormatan itu berasal dari Allah Ta’ala. Lalu,  ilham lain yang ingin saya sampaikan,

 ‘Me teri tabligh ko zamin ke kinarung tak pahuncaungga.’ – “Aku akan sampaikan tabligh engkau ke seluruh pelosok dunia”. (Tadzkirah, h. 260, edisi ceharam, ilham 1898) Setiap orang hapal dan mengucapkannya.

Tidak diragukan lagi, pesan Hadhrat Masih Mau’ud (as) akan sampai ke seluruh dunia. Dunia akan dan mengenal beliau ebagai pecinta sejati Rasulullah Saw dan sebagai pejuang yang gagah berani. Hal ini tengah dikenali.

Sekarang kita saksikan bahwa Allah Ta’ala sendiri yang tengah menyampaikan pesan ini ke seluruh dunia melalui MTA. Pernah saya sampaikan juga sebelumnya bahwa sarana duniawi yang kita miliki tidak pernah dapat mencukupi atau sekurang-kurangnya sampai saat itu tidak mencukupi untuk menayangkan saluran TV 24 jam dan menayangkan program-program dalam berbagai bahasa lalu tayangan-tayangan tersebut sampai ke berbagai belahan dunia yang diantaranya terjemahan khotbah saya yang diterjemahkan secara langsung dalam 6 atau 7 bahasa. Hal ini merupakan buah atas janji Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as). Kemudian, dengan perantaraan khotbah saya, program-program lainnya dan berbagai program MTA, orang-orang yang berfitrat baik baiat masuk kedalam Ahmadiyah.

Banyak orang yang menulis surat kepada saya sebagai berikut, “Khotbah Anda (Hudhur) atau program-program MTA lainnya telah memberikan kesan baik di hati kami sehingga kami tertarik dengan Ahmadiyah dan Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kami untuk menerima Ahmadiyah.”

Beberapa hari yang lalu ada satu program. Di dalam program tersebut ada seorang mubayyiin baru dari Guadelope bersama seorang Muballigh hadir. Beliau mengatakan, “Sebetulnya saya sudah mengenal Jemaat namun saat itu belum ada keinginan untuk baiat. Namun dengan perantaraan khotbah Khalifah timbullah gerakan dalam diri saya untuk baiat, setelah selesai menyimak khotbah tekad saya semakin bulat untuk baiat.”

Walhasil, ini merupakan pekerjaan Allah Ta’ala. Inilah janji-janji-Nya dan akan selalu tergenapi, insya Allah. Dalam hal ini bukanlah karena kehebatan upaya kita atau siapapun, namun Allah Ta’ala berfirman ciri-ciri seorang beriman sejati adalah dengan da’wah ilaLlah (bertabligh). Allah Ta’ala ingin mengikutsertakan kita dalam pekerjaan yang Dia sendiri tengah kerjakan dan telah Dia tetapkan untuk penyelesaiannya. Allah Ta’ala ingin mengikutsertakan kita dalam ganjaran ini. Maka dari itu, setiap Ahmadi harus memberikan prioritas akan hal ini yakni tugas yang Allah Ta’ala sendiri telah bertanggung jawab, ambillah bagian di dalamnya untuk meraih ganjaran dan jadilah orang yang meraih keridhaan-Nya.

Dengan demikian, Anda yang tinggal di sini, di Spanyol, luangkanlah waktu sekurang-kurangnya dua hari dalam sebulan untuk bertabligh. Carilah berbagai metode pertablighan yang sesuai dengan karakteristik penduduk setempat. Ada seorang Ahmadi Spanyol baru baiat menjumpai saya pada minggu ini menyampaikan kepada saya, “Kami yakni Jemaat di sini masih belum bertabligh sebagai mana mestinya. Para muballigh di sini pun – terkecuali satu atau dua muballigh – , meskipun memahami karakteristik penduduk lokal namun tidak bertabligh atau mereka tidak tahu bagaimana bertabligh.”

Beliau memberitahukan, “Memang kami termasuk bangsa Eropa namun karakteristik kami pada batas tertentu sedikit berbeda dari orang Eropa pada umumnya. Disebabkan kondisi dunia terkini, seperti halnya orang Eropa, penduduk di sini pun terkena dampaknya sehingga merasa takut dengan Islam dan orang Islam. Namun seiring dengan itu, karena umat Islam pernah tinggal di Spanyol dalam masa yang panjang sehingga secara tidak disadari di dalam diri kami terdapat gejolak ikatan dengan umat Islam dan perasaan ini perlu ditimbulkan lagi. Khususnya di beberapa daerah yakni provinsi Andalusia.”

Dengan demikian, para sekretaris tabligh tingkat nasional, sekretaris tabligh di Jemaat-Jemaat tingkat lokal dan pengurus-pengurus lainnya hendaknya membuat program tabligh sesuai dengan keadaan-keadaan wilayah mereka. Begitu juga, setiap individu Ahmadi apakah itu anggota Majlis Khuddamul Ahmadiyah, anggota Majlis Ansharullah atau pun anggota Lajnah Imaillah harus meluangkan waktunya secara khusus untuk bertabligh.

Sekitar 700 atau 800 tahun lalu umat Muslim telah dikristenkan dengan menggunakan pedang (pemaksaan) di negeri Spanyol ini, namun kita justru harus memenangkan hati mereka dengan kecintaan, kasih sayang dan dengan ajaran Islam yang indah. Saat ini tengah diperkenalkan Jemaat dan Islam di sini secara besar-besaran. Saluran Televisi dan surat kabar pun memuat berkenaan dengan Jemaat sehingga dengan perantaraan itu tabligh tengah dilakukan di sini. Seorang editor surat kabar di Kordoba dan mungkin beliau pemiliknya datang menjumpai saya. Beliau memperlihatkan surat kabarnya bagaimana beliau menulis mengenai Jemaat di dalamnya dan tertulis satu halaman penuh.

Di London (Inggris) telah kita adakan peace symposium (simposium perdamaian). Perwakilan surat kabar dan channel TV dari negeri ini (Spanyol) pun hadir. Perwakilan channel TV tersebut telah mewawancarai saya. Sekembalinya ke Spanyol beliau membuat satu program pada saluran TVnya yang di dalamnya ditayangkan mengenai Jemaat dan peranan Jemaat dalam menampilkan ajaran Islam yang penuh damai. Di dalamnya juga ditampilkan sebagian tayangan interview saya. Kondisi Spanyol saat ini tidaklah seperti keadaan pada 35 atau 40 tahun yang lalu.[4]

Sekarang, jika ada kekurangan dalam menyampaikan tabligh, berarti ini merupakan kelemahan dari pihak kita. Sebagai tambahan dari itu, penduduk wilayah Maghrib (Afrika Utara, sebelah barat Arab, yaitu Maroko) dan dari Negara-negara Arab hijrah dan menetap di sini di berbagai kota. Di daerah-daerah tersebut bisa dilakukan tabligh dengan perantaraan mereka yang mampu Bahasa Arab atau membagikan literatur Jemaat. Berkenaan dengan literatur berbahasa Spanyol dan juga literatur yang memperkenalkan Islam dan Ahmadiyah, sejak beberapa tahun lalu saya selalu mengirimkan mahasiswa lulusan Jamiah Syahid kemari sebelum ditugaskan ke lapangan.

Mereka membagikan literatur di kota-kota, seingat saya sekitar lebih dari 3 juta literatur telah disebarkan di sini. Kesan umum yang didapatkan oleh para muballighin baru yang datang kemari adalah bahwa orang Spanyol mau menerima literature yang kita bagikan dengan cara yang lebih baik. Secara umum mereka bersikap hormat dan membacanya. Sangat sedikit jumlah orang yang terus membuang literaturnya. Pada umumnya mereka melihatnya, membacanya lalu memasukkannya kedalam saku.

Selain itu ada seorang wanita dari Spanyol yang baiat dan tinggal di London. Suami beliau adalah sekretaris Mubayyin baru. Keluarga beliau ada di sini (Spanyol). Orang tua beliau pun di sini. Ketika datang ke Spanyol dari London, beliau pergi ke sekolah-sekolah atau kampus-kampus untuk bertabligh. Beliau mencari peluang dan kesempatan untuk tabligh. Beliau tahu dan mampu bagaimana memperkenalkan Jemaat dan menyampaikan pesan Islam. Jika beliau datang dari London dan melakukan semua hal itu sedangkan mereka yang tinggal di sini, para muballigh di sini, kenapa tidak dapat mencari peluang tabligh seperti ini? Untuk itu, para Ahmadi di sini, pengurus dan muballighin di sini hendaknya membuat program yang matang.

Saya juga katakan kepada mubayyi’ah baru dari Spanyol tadi, silahkan anda tulis surat kepada saya dan sampaikan apa cara terbaik untuk membuka tabligh di Spanyol menurut anda? Nanti setelah beliau tuliskan sarannya itu, akan saya kirimkan ke sini, jika memang bisa diamalkan dan anda memahami, lalu perlu untuk diamalkan. Namun hal yang inti adalah perlu adanya kerjasama antara satu dengan yang lain. Perlu untuk mendahulukan kepentingan Jemaat diatas kepentingan pribadi. Perlu dipahami, sebagai Ahmadi kita harus melaksanakan segala tanggung jawab dan mengerjakannya dengan satu gejolak semangat dan keuletan yang istimewa.

Dengan hanya mengandalkan kedatangan para mubaligh baru selama satu bulan per tahun untuk membagikan literatur di sini, tidak akan dapat memenuhi maksud dan tujuan. Melainkan, saya kirimkan para muballigh muda ke sini dengan tujuan untuk membantu Anda semua dalam bertabligh karena jumlah para Ahmadi di sini tidak banyak. Kedua, supaya timbul rasa cinta dalam diri anda untuk bertabligh atau sekurang-kurang hijab (penghalang) yang menutupi untuk bertabligh yaitu tidak menguasai Bahasa lokal dengan baik dapat dihilangkan sehingga semuanya dapat turut serta untuk bertabligh.

Beberapa muballigh muda yang dikirim ke sini tidak memahami Bahasa Spanyol, namun demikian, mereka pergi ke berbagai tempat dan melaksanakan tujuannya.

Maka dari itu, perlu menciptakan kesadaran bahwa tugas bertabligh yang Allah Ta’ala percayakan kepada seorang Mu-min hakiki itu harus kita penuhi dan mengambil bagian di dalamnya disertai dengan semangat dan rintihan.

Tanggungjawab dalam tugas ini yang paling besar adalah pada pundak para muballigh untuk mencari berbagai metode tabligh. Selanjutnya, ajarkan kepada para anggota dan ajaklah bersama-sama. Sekretaris Tabligh Nasional di sini juga sering mengungkaprkan semangat yang gigih perihal tabligh. Meskipun beliau tidak nyatakan secara terang-terangan kepada saya, namun saya merasa beliau merasakan kekurangan anggaran dan kurangnya dukungan anggota Jemaat. Ini pun merupakan tanggung jawab Amir Jemaat, jika memang ada masalah anggaran, tulislah permohonan. Sebelum ini juga banyak pengeluaran Jemaat di sini dipenuhi oleh Markaz.

Dengan demikian, merupakan kewajiban Amir untuk bekerja sama dengan sebaik-baiknya dengan Sekretaris tabligh, para Muballighin dan anggota Jemaat. Inilah cara yang dengannya kita dapat menegakkan kembali keagungan Islam yang telah lenyap, inilah yang merupakan tujuan pengutusan Hadhrat Masih Mau’ud (as). Dengan menggambarkan keadaan zaman dan memperhatikan kondisi Islam pada saat itu, beliau (as) menyampaikan ratapan hati, “Allah Ta’ala menghendaki supaya keagungan Islam bangkit kembali sekarang ini, keunggulan Islam terbukti lagi ke hadapan dunia untuk kedua kalinya. Allah Ta’ala ingin menghancurkan rencana para penentang Islam dan Dia akan menggagalkannya.”

Untuk itulah Allah Ta’ala mengutus beliau dan mendirikan Jemaat ini. Allah Ta’ala tengah memperlihatkan kemuliaan Jemaat ini. Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Betapa mubarak (penuh berkatnya) zaman ini, pada masa-masa yang penuh kegelapan ini, Allah Ta’ala dengan karunia-Nya semata telah melakukan pengaturan yang baik untuk menampakkan kemuliaan Hadhrat Muhammad saw, memberikan pertolongan kepada Islam secara gaib dan mendirikan Jemaat ini. Saya ingin bertanya kepada mereka yang memiliki rasa simpati yang dalam kepada Islam dan yang hatinya diliputi oleh kehormatan dan kemuliaan Islam, coba kalian jawab, apakah ada zaman penderitaan yang dirasakan oleh Islam lebih dari zaman sekarang ini, ketika sedemikian rupa Hadhrat Rasulullah dihina dan Al-Quran dihina?!

Selanjutnya, saya sangat menyedihkan dan menyesalkan melihat keadaan umat Islam pada saat ini. Terkadang kesedihan dan tekanan itu membuat saya tak berdaya. Penyebabnya, tidak sedikitpun kesadaran yang tersisa dalam diri mereka untuk mempedulikan kehormatan beliau saw yang telah dan tengah diserang.

Apakah Allah Ta’ala tidak tergerak untuk mengembalikan kehormatan Rasulullah dengan menegakkan Silsilah (Jemaat) samawi pada masa kegelapan ini lalu membungkam mulut para penentang Islam dan menebarkan kembali kemuliaan dan kesucian Hadhrat Rasulullah Saw di dunia ini?

Allah Ta’ala dan para malaikat-Nya sendiri mengirimkan shalawat kepada Rasulullah, maka betapa diperlukannya penampakan shalawat tersebut ketika menghadapi penghinaan ini. Penampakan dari itu Allah Ta’ala tampilkan dalam corak Jemaat ini. “ (yaitu dengan mendirikan Jemaat Ahmadiyah dan mengutus beliau.) “Saya diutus untuk menegakkan kembali kehormatan Hadhrat Rasulullah Saw yang telah dirampas dan menampilkan kebenaran Al-Quranul Karim kepada dunia. Semua pekerjaan ini tengah berlangsung. Namun, orang yang di matanya terdapat tutupan, tidak dapat melihatnya padahal saat ini Jemaat ini telah bersinar layaknya matahari.

Orang-orang yang menyaksikan tanda-tanda dan keluarbiasaannya begitu banyak, sehingga jika mereka semua dikumpulkan di satu tempat maka jumlahnya akan begitu banyak yang mana Raja mana pun tidak pernah ada yang memiliki pasukan sebanyak itu. Begitu banyaknya corak kebenaran yang dimiliki oleh Jemaat ini, sehingga tidak mudah untuk menjelaskan semuanya. Karena Islam telah dihina dengan kasar maka Allah Ta’ala tampilkan keagungan Jemaat ini untuk mengatasi penghinaan itu.”[5]

Kita menjadi saksi keagungan tersebut tengah Allah Ta’ala tampilkan. Perhatian pun muncul dari kalangan pers media dan penduduk di sini. Di beberapa negeri di dunia hal tersebut diungkapkan secara terang-terangan. Sesungguhnya perkara-perkara ini mendukung kebenaran perkataan Hadhrat Masih Mau’ud (as). Jika di sini terdapat kekurangan, seperti yang telah saya sampaikan, Allah Ta’ala sendiri tengah melakukan pekerjaannya namun Allah Ta’ala menginginkan kita menjadi bagian di dalamnya. Karena itu, ambillah bagian di dalamnya dan ambil bagianlah di jalan itu dengan penuh semangat.

Lalu, Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyampaikan mengenai jika ingin panjang umur, sibukkanlah diri dengan bertabligh. Beliau bersabda: “Banyak orang tidak mengetahui untuk tugas dan tujuan apa mereka datang ke dunia ini. Sebagian dari mereka pekerjaannya hanya makan-minum layaknya hewan. Mereka beranggapan, makan daging sekian, berapa pakaian yang dia pakai dan lain lain, tanpa memperdulikan dan memikirkan hal-hal lainnya. Orang yang seperti ini ketika dicengkeram hukuman, seketika itu juga tamat. Namun orang yang sibuk dalam mengkhidmati agama, mereka diperlakukan lembut selama ia belum menyelesaikan pekerjaan dan pengkhidmatannya itu.

Jika manusia menginginkan berumur panjang, sedapat mungkin secara tulus wakafkanlah umurnya semata-mata demi pengkhidmatan agama. Ingatlah! Allah Ta’ala tidak akan tertipu. Orang yang berupaya menipu Allah Ta’ala, berarti dia menipu dirinya sendiri dan dia akan binasa karena hukuman-Nya.

Tidak ada resep yang lebih baik untuk memanjangkan umur selain menyibukkan diri dalam meninggikan kalimah Islam disertai dengan keikhlasan dan kesetiaan serta menyibukkan diri dalam mengkhidmati agama. Pada masa ini resep tersebut sangatlah manjur karena saat ini agama memerlukan pengkhidmat-pengkhidmat yang mukhlis, jika hal tersebut tidak ada, umurnya tidak dapat dipastikan, berlalu begitu saja.”[6]

Dalam menekankan kepada tabligh, nasihat yang Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam berikan kepada Hadhrat Ali radhiyAllahu ‘anhu merupakan nasihat yang luar biasa untuk kita semua. Dalam suatu kesempatan beliau saw bersabda kepada Hadhrat Ali Ra, فَوَ اللهِ ، لأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِداً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرِ النَّعَمِ ‘Demi Allah! Jika ada orang yang mendapatkan petunjuk dengan perantaraan engkau, itu lebih baik dari mendapatkan unta merah berkualitas tinggi.’[7]

Unta merah dianggap sangat berharga pada zaman itu. Orang yang memiliki unta merah dianggap orang kaya dan pembesar. Dalam pada itu, Nabi saw menjelaskan bahwa harta kekayaan dunia tidak ada artinya sedikitpun dibandingkan dengan menablighi dan menjadi sarana bagi orang lain untuk mendapatkan hidayah (petunjuk).”

Jadi, orang yang datang kemari (bermigrasi ke Spanyol), tentu silahkan carilah nafkah dunia, namun luangkan juga sebagian waktu untuk bertabligh. Tadi telah saya katakan, luangkanlah waktu 1 hari atau 2 hari dalam sebulan, bahkan Anda seharusnya meluangkan waktu lebih banyak dari itu. Dengan begitu duniawi pun akan didapatkan dan Allah Ta’ala pun akan ridha kepada kita. Seperti yang saya katakan di awal, dengan bertabligh, ilmu kita pun akan bertambah.

Lalu, Hadhrat Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا “Orang yang menyeru kepada perbuatan baik dan hidayah, dia akan mendapatkan ganjaran sebanyak ganjaran yang didapatkan oleh orang yang mengamalkan nasihatnya itu. Tidak sedikitpun pahalanya berkurang.”[8]

Inilah penjelasan dari ayat yang saya bacakan di awal khotbah, وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ‘Siapa yang lebih baik dari orang yang menyeru ke jalan Allah..’ Da’i (orang yang menyeru) pun mendapatkan ganjaran, ganjaran kebaikan. Orang yang mendapatkan petunjuk (menerima hidayah) pun akan mendapatkan ganjaran. Orang yang menyeru kearah Allah Ta’ala juga mendapatkan nikmat duniawi, umurnya diberkati lama dan juga ganjaran atas amal perbuatan saleh. Dia juga mendapat ganjaran di akhirat. Walhasil, untuk menjadi pewaris nikmat-nikmat Allah Ta’ala, perlu bagi kita saat ini untuk memberikan waktu guna bertabligh dan menjadi sarana petunjuk sehingga dunia mendapatkan petunjuk.

Lalu, Hadhrat Masih Mau’ud (as) menekankan pentingnya pengkhidmatan Islam, beliau bersabda: “Waktu sekarang sempit. Saya berkali-kali nasihatkan jangan ada pemuda yang merasa yakin dia masih berumur 18 atau 19 tahun dan beranggapan umurnya masih sangat panjang. Orang yang merasa sehat, janganlah berbangga dengan kesehatan dan kebugarannya. Begitu juga jika ada orang yang keadaannya baik, janganlah merasa bangga akan kebesarannya itu. Zaman tengah mengalami satu perubahan, ini merupakan akhir zaman.

Allah Ta’ala ingin menguji pendusta dan orang yang benar. Ini adalah saatnya untuk memperlihatkan ketulusan dan kesetiaan dan diberikan kesempatan terakhir. Kesempatan ini tidak akan kembali lagi. Pada zaman inilah waktu penghujung bagi nubuatan semua Nabi. Maka dari itu, ini merupakan kesempatan terakhir yang diberikan kepada manusia untuk memperlihatkan ketulusan dan berkhidmat. Setelah itu tidak ada kesempatan lain lagi, sangat merugilah orang yang luput dari kesempatan ini.”

Beliau (as) bersabda: “Hanya baiat dengan lisan saja, tidak berarti apa-apa melainkan berusahalah dan panjatkanlah doa yang banyak kepada Allah Ta’ala supaya Dia menjadikanmu orang yang benar. Janganlah lalai! Janganlah malas! Melainkan, bergegaslah! Berusahalah untuk mengamalkan ajaran yang telah kuberikan dan melangkahlah pada jalan yang telah kutunjukkan kepada kalian.”[9]

Seperti yang telah saya sampaikan pada khotbah yang lalu berkenaan dengan buku “Bahtera Nuh”, setiap Ahmadi harus membaca buku Bahtera Nuh bagian ‘Ajaranku’, bahkan beliau (as) mengatakan supaya membaca keseluruhan buku Bahtera Nuh tersebut.[10]

Petunjuk-petunjuk yang ada di dalam “Ajaranku” akan memberikan bimbingan kepada kita dalam mendapatkan taufik untuk melakukan da’wah ilaLlah (bertabligh), begitu juga taufik untuk berbuat amal saleh dan ajaran ini jugalah yang dapat menjadikan kita orang beriman yang terbaik.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda mengenai pengarahan pada perbuatan saleh, bersabda: “Meskipun pada umumnya tampak orang-orang meyakini Laa ilaaha illallaah, membenarkan segala perkataan Hadhrat Rasulullah Saw, secara lahiriah melakukan shalat dan berpuasa namun pada hakikatnya keruhanian sudah tidak ada di dalam diri mereka. Di sisi lain, dengan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan amal saleh memberikan kesaksian bahwa perbuatan itu mereka lakukan tidak dalam corak amal saleh. Mereka berbuat sesuatu yang betentangan dengan semua perintah Allah Ta’ala. Hal ini membuktikan apa yang mereka amalkan pada umumnya bukan amal perbuatan saleh.

Bahkan, sebagian kebaikan yang mereka lakukan hanya sebatas bersifat tradisi dan kebiasaan semata, karena di dalamnya tidak terdapat cahaya ketulusan dan keruhanian. Jika tidak demikian, apa yang menjadi penyebab mereka luput dari keberkatan dan cahaya amal perbuatan saleh?

Ingatlah dengan baik, sebelum amal perbuatan ini disertai dengan ketulusan hati dan keruhanian, tidak ada gunanya sedikit pun. Amal perbuatan tersebut tidak akan berguna jika tidak bersih dari kerusakan. Amal perbuatan yang tampaknya saleh akan dikatakan sebagai amal saleh jika di dalamnya tidak ada kerusakan apapun. Kesalehan kebalikan dari fasaad (kerusakan). Jadi, orang yang saleh adalah orang yang bersih dan suci dari fasaad. Orang yang di dalam shalatnya masih terdapat fasaad dan masih tersembunyi hawa nafsu, shalat mereka sama sekali bukan karena Allah Ta’ala. Sejengkal pun ia (shalatnya itu) tidak beranjak dari bumi karena di dalamnya tidak terdapat ruh keikhlasan dan kosong dari keruhanian.”[11]

Apa hakikat amal perbuatan yang saleh? Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan hal tersebut, bersabda: “Ingatlah! Allah Ta’ala memandang kepada ruh dan keruhanian. Dia tidak memandang kepada amal perbuatan secara lahiriah. Dia melihat hakikat dan keadaan yang ada di dalam diri.” (Yakni, apakah amalannya itu didasari oleh rasa egois dan pamrih ataukah didasari oleh ketaatan dan keikhlasan kepada Allah Ta’ala?) “Namun, terkadang manusia melihat amal perbuatan lahiriah dan tertipu karena dengan melihat orang yang di tangannya terdapat tasbih, orang yang melaksanakan tahajjud atau shalat isyraq, meskipun pada lahiriahnya orang itu melakukan perbuatan yang baik dan berbicara mengenai kebaikan, manusia menganggap orang seperti itu saleh.

Namun, Allah Ta’ala tidaklah menyukai tampilan luar, itu hanya bersifat lahiriah, Allah Ta’ala tidak menyukainya dan Allah tidak akan pernah ridha kepada seseorang sebelum dijumpai kesetiaan dan kejujuran di dalamnya.” (Allah Ta’ala tidaklah menyukai tampilan luar dari sesuatu dan kulit terluar dari sesuatu. Hal tersebut tidak dapat membuat Allah Ta’ala ridha sebelum disertai kesetiaan dan kejujuran.) “Orang yang tidak setia permisalannya seperti anjing yang gandrung daging busuk dunia. Meskipun nampaknya baik, namun di dalamnya terdapat perbuatan yang buruk, melakukan perbuatan yang tidak terpuji dan di dalamnya terdapat kelakuan buruk yang tersembunyi. Shalat yang dipenuhi dengan rasa pamer, apa manfaat shalat yang seperti itu?!”[12]

Jadi, amal perbuatan yang dilakukan atas dasar pamer, tidak sedikitpun dapat bermanfaat bagi manusia. amal perbuatan yang setiap saat di dalamnya tidak memperhatikan rasa takut kepada Allah Ta’ala dan keridhaan-Nya, tidak ada ganjarannya. Buah yang dihasilkan oleh seorang da’i yang seperti itu biasanya tidak sesuai dengan yang diinginkan, sekalipun berusaha sekuat tenaga. Jadi, sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud (as) sabdakan, kita perlu untuk menaruh perhatian akan hal itu.

Berkenaan dengan melaksanakan amal perbuatan saleh sebanyak-banyaknya, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Siapa yang ingin menegakkan keimanannya, meningkatlah dalam amal saleh. Ini merupakan perkara ruhani. Telah diketahui bahwa amal perbuatan berpengaruh terhadap akidah.” (Jika ingin memiliki keimanan yang kuat, maka perlu untuk melakukan amal saleh.) “Orang-orang yang menempuh kejahatan dan lain-lain, lihatlah mereka, pada akhirnya akan diketahui di dalam dirinya tidak ada keyakinan akan Tuhan.”

Oleh karena itu, disebutkan di dalam Hadits bahwa ketika seorang pencuri melakukan pencurian, dia bukanlah orang yang beriman. Ketika seorang pezina melakukan perzinaan, dia bukan orang yang beriman.[13] Ini artinya, amal buruknya memberikan pengaruh pada akidahnya yang benar dan dia telah menyia-nyiakannya. Hendaknya para anggota Jemaat kita melakukan amal saleh sebanyak-banyaknya.

Jika keadaan kita sama seperti orang lain pada umumnya, apalah keistimewaan seorang Ahmadi? Apalah perlunya bagi Allah Ta’ala untuk menolong dan melindunginya. Allah Ta’ala akan menolong kalian, jika menyenangkan-Nya dengan ketakwaan, kesucian dan ketataan sejati. Ingatlah! Allah Ta’ala bukanlah kerabat (keluarga) siapapun. Hanya dengan menyombongkan diri dan membual saja tidak akan dapat membuat manfaat apa-apa. Jika terus membual atau berdalil, tidaklah ada gunanya sebelum ada keikhlasan dan kesetiaan.”

Beliau (as) bersabda, “Ketaatan sejati berkedudukan sebagai kematian. Orang yang tidak setia secara hakiki kepada Allah berarti dia tengah bermain catur dengan Allah Ta’ala. Dalam arti, ketika orang itu memerlukan bantuan Allah, maka dia ridha (puas) dengan-Nya. Namun, jika sudah merasa tidak perlu lagi, dia menjauh dari Allah Ta’ala. Hendaknya seorang beriman tidak bersikap seperti itu.

Coba renungkan, jika Allah Ta’ala senantiasa memberikan seseorang keberhasilan dalam setiap kesempatan dan orang itu tidak pernah mengalami kegagalan, dengan begitu bukankah seluruh dunia akan menjadi pemegang tauhid semuanya? Lantas, apa keistimewaannya? Karena itulah, orang yang tetap bersikap setia dan tulus ketika menghadapi musibah, Allah Ta’ala ridha kepadanya.”[14]

Dengan demikian, suatu amal perbuatan akan terhitung sebagai amal perbuatan saleh jika seseorang melakukannya dengan ketaatan sempurna, disertai ketaatan sejati dilandasi demi meraih ridha Ilahi. Ia runtuhkan seutuhnya dinding-dinding hawa nafsu pribadi dan tidak ada padanya tujuan apa pun kecuali hanya satu tujuan yaitu dibalik setiap amal perbuatan selalu mengutamakan keridhaan Allah dan mengamalkannya sesuai dengan perintah Ilahi. Inilah yang merupakan ketaatan sejati. Bukanlah bersikap taat ketika dia mendapatkan apa yang menjadi tujuannya, namun jika tidak sesuai dengan keinginannya, mulai protes dan mengeluh.”

Ingatlah selalu, menyampaikan protes yang tidak berdasar (tidak bisa dianggap benar) kepada Nizham akan menjauhkan kita dari Nizham, menjauhkan kita dari agama dan menjauhkan kita dari Khilafat. Sebagai akibatnya, orang tersebut akan terjauh dari Allah Ta’ala. Inilah akhir kehidupan orang-orang seperti itu yang dapat kita saksikan peristiwanya.

Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud (as) bersabda: “Senjata kemenangan kita adalah istighfar, taubat, mengetahui ilmu agama, memperhatikan kemuliaan Tuhan dan melaksanakan shalat lima waktu. Shalat merupakan kunci pengabulan doa, Ketika shalat, berdoalah dan janganlah lalai. Hindarilah segala keburukan apakah itu berhubungan dengan hak-hak Allah Ta’ala ataupun hak-hak para hamba-Nya.”[15]

Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik melakukan penyebaran pesan Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan menjadikan kita sebagai bagian kemenangannya. Semoga Dia menjadikan kita sebagai bagian untuk menyampaikan pesan seruan (dakwah) kepada Allah, memenuhi kewajiban-kewajiban terhadap Allah dan sesama para hamba-Nya. Inilah hal-hal yang akan mengarahkan kita pada pelaksanaan amal saleh.

Semoga yang menjadi tumpuan dalam setiap perbuatan kita adalah keridhaan Ilahi. Semoga kita termasuk kedalam orang-orang yang memiliki ketaatan sejati. Jika kita menaruhkan perhatian kita pada hal-hal tersebut, maka insya Allah kita akan menyaksikan masa kemenangan Islam sesuai dengan janji-Nya. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik pada kita semua. [Aamiin].

[1] Tadzkirah, no. 84, edisi 4.

[2] Al-Washiyat, Ruhani Khazain jilid 20, h. 304.

[3] Nuzulul Masih, Ruhani Khazain jilid 18, h. 380-381.

[4] Empat puluh (40) tahun dari sekarang, yaitu 1970-an, Spanyol masih menyatakan agama Katholik ialah agama Negara sehingga lebih menonjolkan agama itu di berbagai acara publik. Pada 1978, Spanyol memperbaharui Konstitusinya dan tidak lagi menyebut agama Katholik sebagai agama resmi Negara namun mengakui perannya. Dampaknya, tidak ada agama resmi Negara dan kebebasan beragama dan berkeyakinan dilindungi. Data tahun 2018 yang mengaku Katolik Roma (68.5%), Irreligious atau tidak beragama (16.8%), Atheist atau tidak percaya Tuhan (9.6%), mengaku beragama lain (2.6%), tidak menjawab: 2,6 %.

[5] Malfuuzhaat, jilid 5, h. 13-14, edisi 1985, terbitan UK.

[6] Malfuuzhaat, jilid 6, h. 329, edisi 1985, terbitan UK.

[7] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Jihaad was Sair bab man ikhtaral ghazw ba’dal bina, 2942

[8] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Ilmu Pengetahuan. Lanjutan dari Hadits diatas, وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا siapa yang menyeru kepada sebuah kesesatan maka atasnya dosa seperti dosa-dosa yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikit pun.”

[9] Malfuuzhaat, jilid 6, h. 263-264, edisi 1985, terbitan UK.

[10] Malfuuzhaat, jilid 3, h. 408, edisi 1985, terbitan UK.

[11] Malfuuzhaat, jilid 6, h. 237, edisi 1985, terbitan UK.

[12] Malfuuzhaat, jilid 6, h. 239-240, edisi 1985, terbitan UK.

[13] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang hukum-hukum.

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً ذَاتَ شَرَفٍ يَرْفَعُ الْمُسْلِمُونَ إِلَيْهَا رُءُسَهُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ

[14] Malfuuzhaat, jilid 6, h. 366-367, edisi 1985, terbitan UK.

[15] Malfuzhat, Vol. 5, hal. 303, edisi 1985, UK.