Khotbah Idul Adh-ha

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal  26 Ikha 1391 HS/Oktober 2012

Di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

 

Kemarin, [dalam khotbah Jumat tanggal 26 Oktober 2012] saya telah bacakan satu bait syair dari penyair ‘Haali’ [2] dan pada hari ini akan saya bacakan dua bait lainnya melanjutkan bait sebelumnya yang telah saya bacakan kepada Saudara-saudara, gambaran kondisi orang-orang Muslim pada waktu itu;ekarang saya juga akan menjelaskan masalah yang berkaitan dengan yang telah saya jelaskan dalam khotbah yang lalu, atau sebagiannya, atau lanjutannya. Keadaan kaum Muslimin pada saat itu [saat diutusnya Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam] mirip dengan keadaan kaum Muslimin saat ini, dimana mereka menyerukan (meneriakkan) agar seseorang datang untuk mengangkat kembali kedudukan mereka; seseorang perlu datang dan untuk menyebarkan kecintaan dan harmoni diantara mereka; seseorang perlu datang dan menciptakan dalam hati mereka kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan;   seseorang perlu datang dan mengembalikan kejayaan umat Islam pada masa silam; mereka menyerukan (meneriakkan) agar di antara mereka muncul seseorang yang akan menjadikan mereka satu umat; dan mereka menyerukan (meneriakkan) adanya seseorang yang akan menegakkan Tauhid Ilahi dalam warna hakiki di dunia.

Nah tsarwat rahi un ki qaim nah ‘izzat

Gae chor sath un ka iqbal-o-daulat

Huwe ‘ilm-o-fann un se eik eik rukhsat

Mithi khubiyaa sari naubat beh naubat

 Mereka telah kehilangan kekayaan dan kehormatannya, Kekuatan dan kekuasaan telah berpaling jauh dari mereka,

Ilmu dan kecakapan telah dicabut dari mereka,

Segala macam kebaikan semuanya telah sirna;

Inilah keadaan mereka pada saat itu. Semakin Saudara-saudara membaca [syair ‘Hali’ yang masyhur itu – yang dinamakan ‘Musaddas-e-Haali’ – Sajak  Hali], tiap syair-syair tersebut bukan hanya menggambarkan kondisi zaman itu, bahkan juga menggambarkan kondisi menyedihkan zaman ini.

Hari inipun setiap orang Muslim  — baik pemimpin Muslim, atau Muslim biasa — setiap orang berusaha supaya bagaimana sebanyak mungkin memperoleh kepentingan-kepentingan pribadinya. Sebelumnya, hanya para pemimpin politik (politisi) yang berusaha untuk mengejar kepentingan-kepentingan pribadinya dan mereka pun sampai ke gerbang kekuasaan, menguasai pemerintahan. Sekarang, karena keserakahan pada kekuasaan, para ulama juga membentuk kelompok atau partai sendiri, dengan mengatasnamakan agama [dan berupaya untuk duduk di atas singgasana kekuasaan.]

Kalau di masa sebelumnya, para pimpinan agama dan ulama ini sebagian mereka memancung leher sebagian lainnya atas dasar perbedaan firqah dan perbedaan madzhab; sekarang, atas nama partai politik, dan kelompok jihad yang hanya namanya, mereka juga memotong leher orang yang mengucapkan Kalimat Syahadat, dan kondisinya sudah demikian aneh bahwa mereka sama sekali tidak menganggap itu sebagai dosa, sehingga mereka tidak merenungkan kembali konsep dan kebiasaan mereka [mereka sangat bersisi-kukuh tidak mau beranjak dari posisi mereka demi memperbaiki langkah mereka yang salah.]

Hali telah menggambarkan keadaan mereka yang tidak layak untuk mengadakan perbaikan (ishlah) sekitar 120-125 tahun yang lalu. Sekarang pun, seperti yang telah saya katakan, itulah yang terlihat. Bahkan jika mata orang yang berpikir dan memperhatikan melihat, maka nampak lebih mengerikan. Keserakahan dan kekuasaan telah membutakan sekelompok masyarakat. Orang-orang menjadi semakin buta.

Selanjutnya ‘Hali’ mengatakan,

Nehi tazgi ka kehi naam jiz par

Hari tehniya char gai jis ki jal kar

 

Laksana sebuah pohon yang tak lagi hijau, bahkan dahan-dahannya berjatuhan setelah mengering dan terbakar.”

Jadi, sekarang inilah suara setiap Muslim yang mempunyai kepedulian kepada Islam, dan di dalamnya ada juga pengungkapan keputusasaan, bahwa mungkin sekarang kita tidak akan bisa diperbaiki. Tetapi ini adalah juga karena tidak mendengarkan suara Allah. Dan para ulama serta para pemimpin juga, secara sengaja menjadi sarana kehancuran masyarakatnya. Bahkan orang yang berkeluhkesah sendiri pun luput dari mendengar suara Allah dan menerima orang yang datang sebagai utusan-Nya. Orang-orang awam mendengarkan perkataan orang-orang ini, yang merupakan perkataan yang salah. Tetapi mereka tidak memperhatikan perkataan orang yang datang dari Allah. Bahkan, bukan hanya tidak memperhatikannya, tetapi mereka juga melanggar segala batas dalam memusuhinya.

Mereka siap melakukan segala hal, yang jaiz (dibolehkan) maupun tidak, untuk merugikan para Ahmadi, dan mereka memang melakukannya. Para pedagang, mereka merampas kekayaan orang Ahmadi, tidak mau menyerahkannya. Walaupun mengetahui secara pasti bahwa mereka sedang memakan barang haram. Tetapi mereka berkata, “Merampas harta orang-orang Ahmadi, dan memakan barang-barang haram darinya juga mendapat pahala!”

Inilah ajaran yang diberikan para ulama mereka kepada mereka. Pada kenyataannya, ini adalah yang dikatakan oleh semua orang Muslim saat ini, bahkan karena begitu putus asanya mereka mengatakan bahwa sekarang-sekarang ini tidak ada lagi harapan untuk mengubah keadaan mereka menjadi lebih baik. Itu dikarenakan mereka tidak mendengarkan seruan Allah Ta’ala, dan ulama serta para pemimpin menjadi penyebab kerusakan masyarakat umum dengan sengaja. Justru mereka inilah yang meneriaki dirinya sendiri, tidak menyelidiki orang yang diutus kepada mereka dan menyambut seruan Allah Ta’ala.

Masyarakat yang awam hanya mendengarkan perkataan yang salah dari yang dikatakan oleh para pimpinan dan ulama mereka, akan tetapi mereka tidak mendengarkan seruan sang penyeru yang datang dari Allah Ta’ala, dan tidak hanya itu saja, bahkan mereka sudah sangat melampaui batas dalam penentangan, oleh karena itu mereka tidak henti-hentinya berupaya mendatangkan kerugian kepada para Muslim Ahmadi dengan segara cara. Sebagai contoh, para pebisnis dari kalangan mereka tidak mau membayar [barang dagangan yang mereka beli] kepada para pengusaha Ahmadi, bahkan mereka mengingkari telah mengambil sesuatu dari mereka. Mereka mengetahui dengan baik, bahwa mereka memakan yang haram, seiring dengan itu mereka katakan bahwa merampas harta benda para Ahmadi dan memakannya dengan cara yang haram mendapatkan pahala. Inilah yang diajarkan oleh para ulama mereka. Maka boleh jadi, ‘Hali’ di sini sudah menggambarkan para ulama ini yang mengajari para pengikutnya hal-hal yang batal ini, di sini para pemimpin ini bermaksud berlaku lalim kepada orang-orang, yang mana [dalam syairnya] ia mengatakan yang artinya:

Sungguh pohon-pohon di kebun ini telah menjadi kayu bakar yang pantas dibakar.

Meskipun kewajiban para ulama dan pimpinan agama itu sesuai dengan kedudukannya sebagai pohon, menaungi orang-orang dan mengajari mereka masalah agama, walaupun para pemimpin itu mestinya bersimpati kepada masyarakat (umat) untuk pelipur lara mereka, justru sebaliknya, para ulama dan penguasa ini menjulurkan lidahnya karena kehausan di balik kepentingan pribadinya [tidak pernah puas mencari keuntungan dari umatnya], sehingga mustahil menggantungkan harapan apa pun kepada mereka. Mereka telah menjadi pohon-pohon yang sebaiknya dibakar saja, ketika mereka melakukan penyimpangan dari Islam.

Mereka adalah sumber segala fitnah dan kerusakan pada Umat Islam. Sesungguhnya mereka adalah pohon-pohon yang ditakdirkan akan menjadi kayu bakar bagi api, ketika tidak ada yang dapat memberikan manfaat kepada dunia sekarang ini selain pohon yang ditanam sendiri oleh Tangan Allah Ta’ala, [pohon itu] akan ditanam manakala kondisi orang-orang Muslim dan ulamanya berdasarkan nubuatan-nubuatan Nabi Saw adalah sebagaimana yang sekarang ini terjadi dan mereka akan menangisinya. Terdapat pada Hadits dari Ali R.a bahwasanya Nabi Saw bersabda:

“Akan datang suatu zaman, Islam tinggal namanya dan Al-Qur’an hanya tulisannya, masjid-masjidnya ramai akan tetapi kosong dari petunjuk dan ulamanya adalah seburuk-buruk orang yang ada di bawah kolong langit, dari sisi mereka keluar fitnah dan fitnah itu akan kembali kepada mereka.”[3]

Maksudnya adalah mereka akan menjadi pangkal (sumber penyebab) segala kejahatan dan keburukan. Nabi Saw bersabda dalam Hadits yang lain:

“Akan datang dan akan tersebar suatu kecemasan dalam umatku, maka orang-orang akan mendatangi ulama-ulama mereka, maka tiba-tiba mereka [yang disebut ulama itu] menjadi kera dan babi.”[4] Maksudnya bahwa orang-orang akan pergi kepada ulama mereka untuk meminta bimbingannya, akan tetapi mereka mendapati mereka seperti kera-kera dan babi-babi, para ulama akan menjadi para perusak agama dan orang-orang yang buruk akhlaknya, sampai keadaan mereka yang memalukan itu terungkap.

Kemudian telah diriwayatkan dari Tsalabah al-Bahraniy bahwa Nabi S.a.w. bersabda: “Akan dekat suatu masa dimana ilmu itu akan dicabut dari dunia, maka mereka sekali-kali tidak akan mengetahui ilmu, petunjuk dan pemahaman sedikit pun.” Maka para Sahabat bertanya: “Wahai Rasul Allah, bagaimana bisa ilmu itu dicabut sedangkan pada kami terdapat Kitab Allah, kami akan mengajarkannya pada anak-anak kami.” Nabi S.a.w. bersabda: “Tidak adakah Taurat dan Injil pada Bani Israil, maka sekali-kali keduanya tidak memberikan manfaat kepada mereka sedikit pun?”[5]

Artinya tentunya al-Kitab [Al-Quran] akan ada di antara orang-orang Muslim betapa pun mereka tidak mengamalkannya. Kemudian mereka akan benar-benar mencoreng ajaran-ajaran Al-Qur’an yang hakiki sebagai dampak dari penyiaran tafsir-tafsir yang salah di antara mereka. Kemudian ada juga riwayat yang lain:

Dari Abdillah bin Amr bin al-‘Ash ia mendengar Rasulullah S.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu benar-benar tercabut dari para hamba, akan tetapi ia akan mencabut ilmu itu dengan mewafatkan ulama sehingga apabila tidak terdapat seorang alim pun tinggal, manusia mengambil pemimpin-pemimpin yang jahil, lalu mereka ditanya, maka mereka berfatwa tanpa ilmu, oleh karena itu mereka itu sesat dan menyesatkan.”[6]

Perhatikanlah saluran-saluran Televisi sekarang-sekarang ini, yang mana acara-acara komedi yang nyeleneh disiarkan, maka di sana menjadi acara favorit salah satu channel Tivi yang programmer-nya mengadakan jajak pendapat (survey), mereka mengajukan beberapa pertanyaan kepada orang yang memilih (responden), dan dengan segera mereka mendapatkan jawabannya, kita tidak tahu apakah mereka akan tetap dengan pilihannya atau tidak, jika tidak, dengan segera mereka akan mendapatkan respon karena responden akan memberikan masukan tayangan seperti ini dan seperti itu. Oleh karena itulah mereka mengadakan inovasi dengan program-program yang nyeleneh untuk mencari uang.

Kemudian Hadhrat Abu Hurairah menerangkan, bahwa Rasulullah sedang menerangkan kepada orang-orang di dalam majelis, ketika seorang Badui datang kepada Rasulullah s.a.w. dan bertanya, ‘Kapan as-Saa’ah (Saat itu, kiamat) akan datang?’ Rasulullah s.a.w. tidak memperhatikannya dan terus berbicara. Sebagian orang berpikir bahwa Rasulullah s.a.w. mendengar perkataan orang Badui itu, tetapi tidak menyukai (perkataan)nya. Sebagian orang berpikir bahwa Rasulullah s.a.w. tidak mendengar perkataannya. Pendeknya, ketika Rasulullah saw telah selesai menerangkan, beliau berpaling kepada orang badui itu dan bertanya, ‘dimana orang yang bertanya tentang as-Saa’ah (Saat itu, kiamat) tadi?’ orang badui itu menjawab, ‘Saya ya Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Ketika amanat disia-siakan, maka tunggulah saatnya as-Saa’ah (Saat itu, kiamat atau kemunduran umat).’ Dia bertanya, ‘Bagaimana amanat disia-siakan?’ Beliau bersabda, ‘Ketika pekerjaan penting diserahkan kepada yang bukan ahlinya.’”[7]

Yakni orang yang tidak jujur dan tidak mampu, dan karena ketidakjujuran dan ketidakmampuan mereka, mereka akan menghancurkan kaum, dan kita melihat semua ini hari ini; dan ini semua menjadi perhatian kita saat ini. Tidak terdapat perbedaan sikap mengenai ini di negara Islam mana pun, maka sekiranya Rasulullah S.a.w. bersabda itu mengenai ulama pada zaman sekarang ini dan juga para pimpinannya, kenyataannya terbukti demikian, maka bagaimana mungkin dapat menghasilkan ilmu dan tafsir Al-Qur’an dari mereka dan bagaimana mungkin dapat membimbing kepada Tauhid Ilahi dengan perantaraan mereka?

Akan tetapi orang-orang Muslim tidak seperti umat-umat yang lain, yang tidak memiliki secercah pun harapan dalam mendapatkan hidayah, dan tidak ada yang tertinggal selain keputus-asaan dan hilangnya harapan, serta apabila agamanya rusak maka tidak memiliki pembaharu dan telah ditakdirkan untuknya,  bahwa hakikat agama serta ajaran fundamentalnya diabaikan. Sekali-kali tidak! Bahkan orang-orang Muslim itu mereka adalah sebaik-baik umat, maka dari itu Nabi S.a.w. memberi mereka harapan sekali pun kondisi menakutkan yang digambarkan gambarannya oleh Nabi S.a.w. serta sudah saya terangkan dari Hadits-hadits, bahkan telah memperkukuh dan mempertegas bahwa Allah Ta’ala akan mengutus kepada aakharin (orang-orang lain di masa akhirin) juga untuk perbaikan umat dan kemanusiaan dengan keparipurnaannya, seorang figur yang akan membawa kembali iman dari bintang tsurayya, dan menegakkan nama baik Islam yang sudah sirna, diperbaharui di atas pondasi yang kokoh.

Dialah yang akan menghimpun semua orang-orang Muslim dan yang berfitrah baik untuk kedua kali pada satu tangan, mengantarkan mereka di bawah panji Nabi S.a.w., menjadikan mereka satu umat dan ia akan menjadi pecinta sejati  Nabi S.a.w.. Oleh karena itu penting sekali mendengarkan dan memerhatikan Amanat Nabi s.a.w. ini dengan membantu dan berkontribusi kepada pembawa kembali iman dari bintang tsurayya. Maka apabila Saudara-saudara memberikan salam, karena [menyampaikan salam atau pesan damai] ini merupakan pesan bagi para pembawa panji agama sesuai nubuatan Nabi S.a.w. maka penting sekali untuk memperhatikan obat (formula) yang telah diberikan resepnya oleh Nabi S.a.w. kepadanya, jika tidak, bagaimana pun Saudara-saudara mengetuk-ngetuk, maka selain wujud yang sudah datang ini atau gambaran (figur) yang lain — orang yang perkembangan Islam yang kedua kali dipercayakan kepadanya — tidak akan pernah ada seorang pun datang untuk menghidupkan Islam sekali lagi.

Mungkin akan dikatakan, bahwa pemerintahan-pemerintahan Islam eksis di dunia, maka kira-kira di sebagian belahan dunia terdapat pemerintahan-pemerintahan Islam, di sana juga terdapat Liga [Liga Arab dan Rabitah Alam Islam] yang membuat negara-negara Islam bergabung, akan tetapi apakah Liga ini akan memberikan pengaruh dalam Dunia Islam? Maka apakah akan terlihat perubahan bagi negara-negara Islam? Seyogianya kekuatan Liga ini nampak di dunia, bukan Islam saja, akan tetapi apa yang terjadi pada prakteknya? Dalam negara-negara Islam sendiri tidak ada seorang pun dapat memberikan jawabannya.

Kenyataannya, negara-negara Islam membentuk Liga ini hanya atas nama saja, untuk mengambil posisi dan bentuk manifestasi persatuan mereka, padahal masing-masing anggota Liganya berselisih satu sama lain. Lalu yang harus diperhatikan adalah bahwa kelompok-kelompok teroris banyak terdapat di negara-negara Islam; peristiwa-peristiwa pembunuhan dan pertumpahan darah yang sudah kelewat batas, kebanyakannya terjadi pada negara-negara Islam.

Sebagaimana kezaliman paling banyak menimpa masyarakat awam di negara-negara Islam, dan itu untuk menjalankan kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan,  dimana harta kekayaan milik masyarakat dirampas dan mereka dimahrumkan (diluputkan) mendapatkan hak-haknya, pembunuhan dipraktekkan kepada mereka karena menganggap jiwa mereka lebih rendah daripada binatang, maka sebagian mereka menjalankan segala keserakahan akan kekuasaan itu, akan lebih sial lagi setiap kezaliman ini diperkenankan dengan mengatasnamakan Allah Ta’ala dan mengalirkan darah atas nama syariat dan Rasulullah S.a.w..

Ya, kezaliman ini dipraktekkan dengan mengatasnamakan Rasul yang digambarkan oleh Allah Ta’ala sebagai Rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).

Hari ini kita sedang merayakan ‘Id Besar dan ‘Idul qurban, yang orang-orang Muslim diberikan pemahaman bahwa Sayyidina Ibrahim a.s. memberikan larangan tradisi penyembelihan manusia yang berlangsung sejak dahulu, dan sebagai ganti dari mengorbankan Hadhrat Ismail a.s. dan memenggalnya, dimulailah pemotongan binatang-binatang sebagai gantinya. Di tengah nyawa-nyawa orang dianggap lebih murah daripada nyawa binatang di negara-negara Islam pada zaman sekarang ini, maka tubuh-tubuh dari anak-anak yang tak berdosa dan para wanita dihancurleburkan oleh serangan bom bunuh diri dan mereka tak dapat dikenali lagi di mana anggota tubuh jenazahnya itu jatuh. Oleh karena itu seorang anak ketika keluar dari rumah kedua orang tuanya tidak diketahui, apakah akan kembali ke rumah pada sore hari dalam keadaan selamat atau tidak, ataukah jika ia datang berupa jenazah, maka apakah kedua orang tuanya dapat mengenalinya atau tidak.

Pendeknya, inilah keaniayaan busuk yang dipraktekkan pada Hari ‘Id. Hari kemarin terjadi ledakan di Afganistan pada perayaan ‘Id yang membuat gugur puluhan orang pada peristiwa itu, begitu juga situasi di Suriah yang sedang terjadi kemelut, maka di Suriah, Pemerintah tidak turun menengahi serta tidak juga partai Oposisi. Dikatakan bahwa sebagian teroris atau kelompok-kelompok teroris juga telah bergabung kepadanya, maka tidak terdapat seorang pun yang menggunakan akal dan nalarnya, oleh karena itu mereka berada dalam tindakan-tindakan buruk dan pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak berdosa yang telah menjadikan mereka lebih buruk daripada binatang, tanpa memfungsikan akalnya.

Kondisi (situasi) ini tidak terbatas di satu negara saja, bahkan di setiap tempat. Di Pakistan hari-harinya puluhan jiwa dibinasakan, di Afghanistan juga puluhan jiwa mati, keadaan seperti itu terjadi juga di beberapa negara-negara Afrika dan negara-negara Arab, semua itu terjadi dengan mengatasnamakan Syariat dan atas nama agama yang dengan jalan demikian menyediakan kesempatan kepada yang lain (non Muslim) untuk menertawakan Syariat dan mengajukan keberatan atas Syariat itu.

Peristiwa seorang gadis kecil yang bernama ‘Malaala’‘  [8]  yang berumur 14 atau 15 tahun, menarik perhatian (reaksi) dunia akhir-akhir ini, dan telah memberikan peluang kepada para penentang Islam untuk mencemooh dan menentangnya. Telah dijatuhkan vonis kepada gadis itu dan mereka berusaha membunuhnya dengan melepaskan tembakan kepadanya, karena ia telah menuliskan beberapa fakta mengenai beberapa organisasi.

Mereka yang berupaya membunuhnya mengatakan bahwa membunuhnya diperkenankan sesuai keterangan Al-Qur’an bahwasanya di dalam Al-Qur’an terdapat – sebagaimana mereka beropini – tersebut seorang anak kecil yang melakukan pemberontakan, ketika mencapai mudanya Nabi membunuhnya, boleh jadi mereka mengatakan itu mengindikasikan kepada peristiwa yang terdapat di dalam Surah Al-Kahfi.[9]

Pada kenyataannya mereka itu tidak memiliki ilmu hakiki, seiring dengan itu mereka tidak bersedia untuk beriman kepada Masih Mau’ud yang datang untuk memberikan ilmu hakiki, maka mereka akan tersisih di balik urusan-urusan yang bersifat luar (kulit). Maksud sebenarnya dari ‘membunuh’ itu adalah ‘membunuh’ penyampaian ajaran-ajaran tidak bermoral, dan tujuannya adalah untuk perbaikan diri.

Bagaimana pun, di sini saya tidak ingin membahas terlalu dalam, hanya menyampaikan abstraksi bahwa aksi-aksi mereka ini merupakan puncak kezaliman, dan hanya akan meluangkan kesempatan kepada para penentang, karena para penentang Islam akan sibuk dalam urusan-urusan ini sesuai rencana mereka yang sudah dipelajari. Kenyataannya, di sana gadis-gadis muda sebaya dengan ‘Malalah’ yang dibunuh,  baik di Pakistan maupun di tempat-tempat yang lain,  setiap harinya, di sana juga banyak gadis-gadis sebayanya yang saudara-saudara perempuan, saudara-saudara laki-laki dan bapak-bapaknya dibunuhi dan seorang pun tidak diutus ke luar negeri untuk menjalankan pengobatan dan tidak timbul gejolak seperti [kasus Malalah] ini. Jika demikian, boleh jadi ini merupakan rencana yang sudah dipelajari, akan tetapi orang-orang Muslim-lah yang mempersiapkan pondasinya. Dengan demikian, pamor negara-negara Islam — baik di dalam negeri maupun di luar negeri — tidak turun serta tidak akan dianggap nyaris tidak mempunyai kepentingan karena tidak adanya persatuan dan kerjasama yang terjadi di antara mereka.

Sebenarnya Organisasi negara-negara Islam memang ada, akan tetapi tidak berfaedah sama sekali, karena mereka selalu melihat kepada negara yang lain ketika ada kepentingan. Sekarang-sekarang ini, di sana terjadi kekacauan-kekacauan antara Turki dan Suriah atau merupakan indikasi-indikasi peperangan jarak dekat, ketika kedua negara ini saling serang dari waktu ke waktu dan penduduk yang tidak berdosa terbunuh pada peristiwa tersebut. Di sini saya ingin sampaikan komentar  seseorang yang berasal dari salah satu negara Barat, dalam komentarnya tentang situasi di Turki ini ia menyampaikan bahwa Turki melakukan serangan-serangan ini berdasarkan komando dari Amerika, dan arahan-arahan dari Amerika akan diambil sebelum melakukan setiap serangan.

Inilah keadaan pemerintahan-pemerintahan Islam. Saya tidak tahu kredibilitas berita yang mengatakan “berdasarkan hasil konsultasi dengan Amerika tiap kali sebelum melakukan serangan”, Allah yang lebih tahu itu. Tapi, orang-orang yang menyampaikan komentar itu berasal dari negara yang berani mengeluarkan statemen-statemen seperti ini karena mereka tahu negara-negara Islam tidak memiliki kekuasaan apa pun dan selalu melihat Barat.

Setiap peristiwa itu terjadi diakibatkan karena jauhnya mereka dari Tauhid yang diajarkan Sayyidina Rasulullah S.a.w. Memang benar mereka mengucapkan, ‘Laa ilaaha illa-Llaahu’ dengan lidah akan tetapi hati mereka kosong dari itu. Berhala-berhala yang telah dibersihkan Rasul Agung S.a.w. dari Baitullah, ambisi dan nafsu untuk mendapatkan kekuasaan membuatnya menjadi berhala-berhala yang bersemi kembali di dalam kalbu., maka bagaimana mungkin orang-orang ini menegakkan Tauhid? Sesungguhnya ibadah haji yang mereka tunaikan hanya bentuknya saja, dan boleh jadi hati dari mayoritas orang di antara mereka “tawaf di Ka’bah” yang lain. Terdapat dalam Tarikh Islam, bahwa pada suatu tahun hanya satu orang saja yang ibadah hajinya diterima sedangkan ia sebenarnya tidak pergi berhaji.[10]

Contoh-contoh seperti ini bukan dulu-dulu saja, melainkan dapat disaksikan pada saat-saat ini lebih banyak lagi daripada sebelumnya. Allah Sendirilah Yang paling tahu siapa orang yang hajinya diterima dan siapa yang tidak diterima.

Saat ini orang-orang Ahmadi dilarang beribadah haji, akan tetapi Allah Sendiri yang lebih mengetahui apakah hajinya orang-orang Ahmadi akan diterima, yaitu mereka yang dalam hatinya ada kepedihan hati dan kesedihan mendalam untuk melaksanakan ibadah haji akan tetapi tidak bisa menunaikannya [karena dihalangi pemerintahnya], ataukah orang-orang itu yang melakukan kezaliman lalu pergi berhaji yang akan diterima, sedang mereka melupakan hakikat Tauhid dan esensinya?

Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam dan Ismail ‘alaihis salaam meninggikan bangunan Khanah Ka’bah untuk menegakkan Tauhid lalu berdoa untuk kedatangan Nabi Agung yang ditetapkan untuk menyampaikan risalah Tauhid ke seluruh dunia dan membuat orang-orang tunduk di hadapan Allah Ta’ala. Tetapi sungguh malang keadaan sebagian besar umat Muslim, secara lahiriah mereka memang menyatakan Tauhid, namun mereka terbelit dalam ribuan syirik. Kemudian, untuk memusnahkan syirik ini, Hadhrat Rasulullah s.a.w. juga menubuatkan tentang Masih dan Mahdi yang akan menegakkan Tauhid, yang sekali lagi akan menegakkan keimanan di dunia; dia yang akan menghancurkan berhala-berhala yang ada di dalam hati dan menegakkan Tauhid, dan juga berhala-berhala lahiriah. Yakni  yang untuk menegakkan hal itu Hadhrat Rasulullah s.a.w. telah datang. Inilah tujuan beliau s.a.w., yaitu menegakkan Tauhid, dan inilah juga tujuan diutusnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s..

Jika Hadhrat Ibrahim a.s., untuk menegakkan Tauhid dan menyempurnakan tujuan berdirinya Ka’bah, dan menyebarkan keamanan dan keselamatan dari sini beliau berdoa untuk dibangkitkannya seorang Nabi Agung dari antara keturunannya, ya,   doa ini mendapatkan derajat pengabulan di sisi Allah Ta’ala (yaitu dengan telah diutusnya Nabi Muhammad s.a.w.); dan Nabi Agung ini menjadikan orang-orang yang tunduk pada berhala menjadi tunduk pada satu Tuhan. Beliau s.a.w. menjadikan orang-orang yang menyimpan kebencian secara turun-temurun menjadi pembawa pesan keamanan dan keselamatan. Maka Nabi Agung ini — untuk menjadikan tujuan-tujuan agungnya tetap berjalan sampai hari kiamat — berdoa untuk adanya seorang ghulam-e-shadiq (hamba yang benar), yang Hadhrat Rasulullah s.a.w. dengan penuh kecintaan menyebutnya Mahdiyinaa – Mahdi kami.[11]

Oleh karenanya, Ghulam-e-Shadiq (pelayan sejati) itu telah datang. Allah Ta’ala telah mengirimnya untuk menegakkan kembali kejayaan Islam yang telah hilang. Agama yang oleh orang-orang yang memiliki keprihatinan terhadapnya pada zamannya dipersamakan dengan puing-puing ditegakkan kembali oleh  Khadim Islam ini di atas asas hakiki pondasi bangunan aslinya. Allah Ta’ala menurunkan ilham kepada beliau:

Ae Ibrahim, tujh par salaam. Ham ne tujhse khalis dosti ke sath cun liya. Khuda tere sab kam durust kardega, aor teri sari muraade tujhe dega. tu mujhse aisa hi he jaisa meri Tauhid aor tafrid.”

“Salam bagi engkau wahai Ibrahim. Kami telah memilih engkau dengan persahabatan yang tulus. Tuhan akan membereskan semua urusan engkau dan mengaruniai kepada engkau apa yang engkau inginkan. Engkau bagi-Ku adalah seperti Ketauhidan-Ku dan Ke-Esaan-Ku.” [Tadzkirah halaman 148, Edisi keempat, Terbitan Rabwah, 2004]

Maka pada zaman ini Ghulam Shadiq dari Baginda Nabi Saw memperoleh kedudukan tersebut karena ia menegakkan Tauhid sebagaimana Ibrahim a.s. meraihnya karena membangun Kabah. Keperihan dan praktek Hadhrat Masih Mau’ud a.s. untuk menegakkan Tauhid diterima di Hadirat Allah, untuk meraih kedudukan Allah Ta’ala memanggilnya dengan sebutan ‘Ibrahim’.

Ada juga wahyu yang lain:  غَرَسْتُ لَكَ بِيَدِيْ رَحْمَتِيْ وَ قُدْرَتِيْ, إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِيْنٌ أَمِيْنٌ  — “Rahmat dan Qudrat-Ku telah Ku-tanam dengan tangan-Ku sendiri untuk engkau. Sesungguhnya engkau di sisi Kami adalah orang yang berkedudukan dan terpercaya”.[12]

Lalu Allah mewahyukan lagi kepadanya :دَوْحَةُ إْسْمَاعِيْلَ    —‘dauhah Ismail’ maksudnya adalah “Pohon Isma’il”.[13]

Terdapat dalam Kamus Lughat banyak arti untuk kata ‘dauhah’  satu di antaranya  Dauhah: “pohon yang besar dan menyebar” —  دَوْحَةُ : الشَّجَرَةُ الْعَظِيْمَةُ الْمُتَّسِعَةُ  [14]

Jadi, pohon yang telah Allah tanam ini, ditakdirkan untuk menyebar, berbuah dan berbunga, supaya dunia mengetahui bahwa pohon yang ditanam dengan doa-doa Ibrahim a.s. dan Isma’il a.s. yang hendak membawa dunia ke bawah naungannya dan memberikan keamanan serta keselamatan, dan memang Dia sudah melakukannya – yakni dengan telah diutusnya Rasul Agung itu [Nabi Muhammad saw]. Pohon itu tidak mati. Sesungguhnya dahan-dahan dan kayunya – maksudnya para alim agama ini – tidak akan kering dan pantas untuk dibakar sebagaimana Penyair ‘Hali’ katakan, bahkan pohon ini tetap hijau dengan perantaraan khadim sejati Nabi S.a.w. dan menjadi pohon besar hijau untuk kedua kali.

Atau bisa juga firman bahwa Allah Ta’ala menumbuhkan pohon yang lain lagi dari pokok pohon agung itu sesuai janji-Nya, dan yang lain itu sebagaimana induknya merupakan pohon yang sama karena akan menaungi dunia dengan naungan ketenteraman dan kedamaian sekali lagi, dan orang-orang akan mengenalinya dari buah-buah Tauhid. Sekarang, para maulwi silakan ribut seperti apapun yang mereka inginkan. Mereka boleh berusaha sebisa mungkin untuk memisahkan Ahmad dengan Muhammad. Tetapi mereka tidak akan bisa mendapat berkat karunia kecuali dari pohon itu, yang mengandung kedua sifat Rasulullah s.a.w., yakni Ahmadi dan Muhammadi.

Para penentang, dalam usaha mereka telah melewatkan selama 124 tahun. Apa yang mereka peroleh kecuali ribut-ribut dan nama buruk mereka sendiri. Sementara dari sela-sela pohon yang ditanam oleh Tangan Allah Ta’ala Sendiri – dengan diutusnya pecinta sejati Nabi Saw – Dia tengah menyebarkan dahan-dahannya ke seluruh dunia. Angin penentangan yang bertiup, memang sedikit menggoyangkan daun-daun pohon itu, tapi tidak bisa sedikit pun merusakkannya. Tidakkah itu mendorong para ulama ini dan orang-orang yang mengikutinya untuk membuka matanya?

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, “Allah Ta’ala telah memenangkan kami di setiap medan dan menghinakan musuh. Mereka memberikan fatwa kafir, berusaha membunuh, mereka menggunakan segala cara untuk merugikan kami. Tapi adakah yang bisa berperang dengan Allah Ta’ala?”

Para musuh kita [orang-orang yang memusuhi kita] sendiri justru menjadi sebab kemajuan. Banyak sekali orang yang setelah mendapat risalah-risalah dari mereka [dari para penentang] justru baiat kepada kita. Dan hari inipun, demikianlah yang terjadi. Banyak orang Arab yang menjadi Ahmadi, mereka menulis surat-surat [kepada saya] bahwa mengetahui tentang Ahmadiyah dari melihat website-website dan channel tv para penentang [Jemaat] dan dari pembicaraan mereka dengan para maulwi. Kemudian setelah memahami hal yang sebenarnya, kemudian mereka menerimanya [baiat menerima Ahmadiyah].

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Sekiranya ada para penasehat yang bekerja di samping kami, tentunya kami terpaksa berterima kasih kepada mereka untuk itu, dan ini juga merupakan cabang syirik, akan tetapi Allah membebaskan kita dari itu. Sesungguhnya petani menanam dan menyirami, dan Allah Ta’ala juga menanam dan menyirami. Sesungguhnya Jemaat kita ditanam dan disirami oleh tangan Allah Ta’ala, dan siapakah yang  berusaha untuk mencabut akar dari pohon yang ditanam Allah Ta’ala?”[15]

Kemudian di satu tempat beliau bersabda, “Aku tidak melewatkan satu malam pun dalam pekerjaanku dimana aku tidak mendapat jaminan dari-Nya, ‘Aku beserta engkau, dan pasukan samawi-Ku beserta engkau.’ Meskipun orang yang berhati suci akan melihat Allah setelah mati, tetapi aku bersumpah demi wajah-Nya bahwa sekarang inipun aku melihat-Nya. Dunia tidak mengenaliku, tapi Dia yang mengirimku, mengenalku.

Ini adalah kesalahan orang-orang itu, dan kesialan mereka, bahwa mereka menginginkan kehancuranku. Aku adalah pohon yang Malik Hakiki itu telah menanamnya dengan tangan-Nya sendiri. Orang yang ingin memotongku, hasilnya tidak lain kecuali dia ingin merasakan nasib yang sama dengan Qarun, Yudas Iskariot, dan Abu Jahal. Aku setiap hari menangis dan memohon, supaya ada yang turun ke medan mencari keputusan denganku berdasarkan minhaj nubuwwat (cara kenabian), kemudian kita lihat, Tuhan menyertai siapa.”[16]

Jadi, tidak diragukan lagi, bahwa tidak ada yang bisa mendatangkan kerugian pada pohon yang ditanam sendiri oleh Allah Ta’ala. Karena sesuai dengan janji yang dibuat Allah dengan Rasulullah s.a.w., bahwa Tauhid sejati dan ajaran sejati Islam akan disebarkan dan ditegakkan oleh pecinta sejati Rasulullah s.a.w.. tetapi setiap ‘Idul kurban mesti menarik perhatian kita kepada hal ini, bahwa kita bukan hanya harus siap menyerahkan jiwa, harta, waktu, dan kehormatan kita untuk mengairi pohon ini, tetapi setiap saat, apapun yang dibutuhkan kita langsung menyerahkannya. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita.

Saya ingin memberi perhatian pada kesempatan ini, terlebih kepada setiap anggota Ahmadi yang memberikan persembahan pengorbanan kepada Jemaat, seharusnya ia juga berusaha untuk memberikan pengorbanan untuk orang yang lain juga. Apabila semangat ini tumbuh di dalam Jemaat, maka segala kesulitan yang masuk akan berakhir dan musnah dengan sendirinya.

Sebagian menuntut, bahwa itu adalah hak mereka maka harus mengambilnya, di pihak yang lain juga berusaha untuk membuktikan bahwa itu adalah haknya, maka harus mengambilnya. Kedua-duanya terus-menerus berselisih dalam hal ini yang akan membawa sia-sianya waktu, yang terkadang dapat dipergunakan untuk kegiatan yang positif, artinya waktu yang diberikan untuk perkembangan Jemaat akan menjadi sia-sia. Sekiranya kedua pihak ini berkeras kepala, ketegasan dalam memberi putusan kepada keduanya tidaklah mudah.

Jika yakin kepada Dzat Allah Ta’ala, bahwa Dia yang akan menggantikan semua kerugian-kerugian, maka semestinya semuanya berupaya untuk berkontribusi (berperan-serta) dalam menyebarkan kedamaian dan keselamatan sekali pun dengan mengabaikan hak-haknya juga apabila hal itu perlu. Maka jika pemikiran semacam ini tumbuh, tentunya kita akan melihat motivasi untuk menjadi lebih baik, bahkan nampak cantik dan indah menghiasi akhlak-akhlak para anggota Jemaat.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk memahami dan menyerap hal ini, dan memberi kita taufik untuk mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan dengan semua tingkatan dan semua jenjang. Seyogianya Saudara-saudara itu tidak semata-mata mengambil pelajaran dari penyembelihan kurban yang telah terjadi 4000 tahun sebelumnya, bahkan sepatutnya Saudara-saudara itu berusaha sekuat tenaga untuk mempraktekkan contoh-contoh pengorbanan ini pada setiap level  dan pada setiap tingkatan, semoga Allah Ta’ala memberikan kita taufik untuk itu. Amin.

 

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ  أُذكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Doa Bersama Setelah Khotbah Kedua

Sekarang setelah Khotbah kedua kita akan berdoa bersama, seyogianya Saudara-saudara mengingat dalam doa-doa Saudara-saudara keluarga-keluarga syuhada yang telah mengalirkan darahnya untuk mengairi pohon ini, itu karena mereka telah mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan dengan darah mereka. Ingatlah juga dalam doa-doa Saudara-saudara, para tahanan di jalan Allah, sebagian [Ahmadi yang] berada di Saudi Arab dan juga di Pakistan; ingatlah orang-orang yang berkorban harta, orang-orang yang mewakafkan hidupnya juga karena mereka juga mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan di berbagai tempat.

Ingatlah dalam doa-doa Saudara-saudara orang-orang yang sakit dan juga orang-orang yang membutuhkan, dan doakanlah juga untuk umat Muslim supaya Allah Ta’ala mengeluarkannya dari keadaan-keadaan yang tadi telah dijelaskan dan mengaruniakan mereka akal sehat dan pengertian, dan demikian juga seyogianya Saudara-saudara berdoa kepada Allah Ta’ala untuk insaniyat (semua manusia) semoga Allah Ta’ala menyelamatkan mereka dari kejatuhan ke dalam jurang-jurang kebinasaan.  [Aamiin].

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2]Musaddas-e-Madd-o-Jazr-e-Islam (Sebuah Elegi/Sajak Kesedihan mengenai Jatuh bangunnya Islam) karya Maulana Althaf Husain Hali, lebih akrab disebut Musaddas-e-Hali. Maulana Althaf Husain Hali (1837-1914) adalah seorang Penyair Urdu dan murid terakhir Mirza Ghalib (Penyair juga). Puisi panjang yang terkenal dengan sebutan Musaddas-e-Hali, diterbitkan pada tahun 1879, belasan tahun setelah kekalahan kerajaan Islam terbesar di India, Moghul dalam perang melawan Inggris, yang dibantu oleh sebagian umat Islam juga (waktu itu belum ada Ahmadiyah). Puisi ini kritis dalam menceriterakan tentang jatuh bangunnya umat Islam. Pada akhirnya meneliti keadaan degradasi sosial dan moral, lazim di mayarakat Muslim kontemporer kemudian.

Tak tertinggal lagi agama, tak tertinggal lagi Islam, yang tertinggal dari Islam hanyalah sebuah nama ; * 

*Musaddas-e-Haali : oleh Khawajah Althaaf Husain Haali, h.32 Terbitan Feroz Sons, Lahore, edisi pertama tahun1988. [Khotbah Jumat Edisi VI No.47, 14 Fatah 1391 HS/Desember 2012].

[3] Al-Jaami’ li Syi’bil Iman (Kumpulan mengenai cabang-cabang Iman) karya al-Baihaqi, cabang ke-18, bab nasyril ‘ilmi (penyebarluasan ilmu), pasal berkata, ‘yanbaghi li thalibil ‘ilmi..’, jilid 3, halaman 317-318, hadits 1763, Maktabah ar-Rusyd, Riyadh-Saudi Arabia, 2004.

يُوْ شِكُ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يَبْقَى مِنَ الإِسْلاَمِ إِلاَّ اسْمُهُ, وَلاَ يَبْقَى مِنَ الْقُرْآنِ إِلاَّ رَسْمُهُ, مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى, عُلَمَاؤُهُمْ شَرُّ مَنْ تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ, مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةِ وَفِيْهِمْ تَعُوْدُ. (شعب الإيمان للبيهقي).

‘Yuusyika ‘alan naasi zamaanun laa yabqa minal Islami illa ismuhu, wa laa yabqa minal Qur’aani illa rasmuhu, masaajiduhum ‘aamiratun wa hiya kharaabum minal huda, ‘ulamaa-uhum syarru man tahta adiimis samaa-i, min ‘indihum takhrujul fitnati wa fiihim ta’uud.’

[4] Kanz al-‘Ummal, Jilid VII, juz 14, halaman 124, Kitab al-Qiyaamah min qismil aqwaal, al-bab al-awal, fi umur taqa’a qablaha (perkara-perkara yang terjadi sebelumnya), al-fashlir raabi’, fi dzikri asyratis saa’ah al-kubra (penyebutan mengenai tanda-tanda besar Saat itu),  Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut-Lebanon, 2004.

تَكُوْنُ فِيْ أُمَّتِيْ فَزَعَةٌ, فَيَصِيْرُ النَّاسُ إِلَى عُلَمَائِهِمْ, فَإِذَاهُمْ قِرَدَةً وَخَنَازِيْرَ. (كنْزل العمال, ج 7 ص 190).

‘Takuunu fii ummati faza’atun fayashirun naasu ilaa ‘ulamaa-ihim, fa idza hum qiradatan wa khanaziir.’

[5] Usd al-Ghaabah fii Ma’rifatish Shahaabah, jilid awwal, halaman 323, pada huruf tsa, bahasan tentang Tsa’labah al-Bahrani, Darul Fikr, Beirut-Lebanon, 2003

سَيُنْزَعُ الْعِلْمُ مِنَ الدُّنْيَا, فَلَنْ يَعِرَفُوْا شَيْئًا مِنَ الْعِلْمِ وَالْهُدَى وَالْعَقْلِ. فَقَالَ الصَّحَابَةُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ يُنْزَعُ الْعِلْمُ وَفِيْنَا كِتَابُ اللهِ,سَنُعَلِّمُهُ أَوْلاَدَنَا. فَقَالَ النَّبِيُّ صلّى الله عليه وسلّم: أَوَ لَمْ تَكُنِ التَّوْرَاةُ وَالإِنْجِيْلُ فِيْ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ, فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمْ شَيْئًا؟ (أسد الغابة,حرف الثاء).

[6] Shahih al-Bukhari, kitab al-‘ilmi, bab tentang bagaimana ilmu itu dicabut.

عَنْ عَبْدِ اللهِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم يَقُوْلُ إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ اْْلعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوْسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا. (البخاري).

[7] Shahih al-Bukhari, kitab al-‘ilmi, bab tentang man sa-ala ‘ilman wa huwa mustaghilu fi haditsihi.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا رَسُوْلُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم جَالِسٌ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ فِيْ مَجْلِسِهِ حَدِيْثًا جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ فَمَضَى رَسُوْلُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم يُحَدِّثُ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ سَمِعَ فَكَرِهَ مَا قَالَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ لَمْ يَسْمَعْ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيْثَهُ قَالَ أَيْنَ السَّائِلُ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ هَا أَنَا ذَا يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ أَوْ قَالَ مَ إِضَاعَتُهَا؟ قَالَ إِذَا تَوَسَّدَ اْلأَمْرَ غَيْرُ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةُ. (مسند أحمد)

[8] Malala Yousafzai ( ملاله یوسفزۍ ) Malālah Yūsafzay, lahir (12 Juli, 1997 adalah seorang murid sekolah dan aktivis pendidikan dari kota Mingora di Distrik Swat dari provinsi Pakistan Khyber Pakhtunkhwa. Dia diketahui untuk pendidikan dan aktivisme hak-hak perempuan di Lembah Swat, di mana Taliban telah melarang gadis-gadis bersekolah. Pada awal tahun 2009, saat berumur sekitar 11 dan 12, Yousafzai menulis di blognya di bawah nama samaran untuk BBC secara mendetail tentang betapa mengerikannya hidup di bawah pemerintahan Taliban, upaya mereka untuk menguasai lembah, dan pandangannya tentang mempromosikan pendidikan untuk anak perempuan.

Malala lahir dari keluarga bersuku Pusthun[1] dan menganut Islam Sunni. Namanya diambil dari penyair dan pejuang wanita suku Pusthun, Malalai dari Maiwan. Ia dibesarkan di Mingora, bersama dua adik laki-laki dan dua ayam peliharaan. Keberaniannya dalam menulis berkat bimbingan ayahnya yang juga penyair, pemilik sekolah, sekaligus aktivis pendidikan. Ayahnya menjalankan beberapa sekolah yang dinamai Khushal Public School. Meskipun Malala mengaku ingin jadi dokter, Ayahnya mendorongnya untuk menjadi politisi.

Ia mulai berbicara di depan publik untuk memperjuangkan hak atas pendidikan pada tahun 2008. “Berani-beraninya Taliban merampas hak saya atas pendidikan!” adalah seruan pertamanya di depan televisi dan radio. [2]

Pada tanggal 9 Oktober 2012, Malala Yousafzai ditembak di kepala dan leher dalam upaya pembunuhan oleh kelompok bersenjata Taliban ketika kembali pulang di bus sekolah. [3] Ia sempat dirawat di Pakistan sebelum akhirnya diterbangkan ke Inggris untuk dirawat di rumah sakit di Birmingham. Pimpinan Taliban, Adnan Rasheed, mengiriminya surat yang menjelaskan bahwa alasan penembakan adalah sikap kritisnya terhadap kelompok militan, bukan karena ia seorang penggiat pendidikan perempuan. Lebih lanjut Rasheed mengungkapkan penyesalannya atas kejadian ini namun tidak meminta maaf atas penembakan yang dialami Malala Yousafzai.[4] Ia juga menyarankan Malala kembali ke Pakistan dan meneruskan pendidikan di Madrasah bagi perempuan. [5] Kelompok yang terdiri atas 50 ulama di Pakistan mengeluarkan fatwa menentang penembakan ini.[6]

Pada tanggal 12 Juli 2013, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 16, Malala berpidato di depan Forum Majelis Kaum Muda di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat. Pidatonya memuat tiga isu penting, yaitu hak perempuan, perlawanan terhadap terorisme dan kebodohan. PBB juga mendeklarasikan hari tersebut sebagai hari Malala. [7]   [Wikipedia, diambil 3 Oktober 2013].

[9] Surah al-Kahfi ayat 75, menyebutkan, terjemahannya sebagai berikut: “Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena ia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.” Ayat 81: “Dan adapun anak muda itu, maka kedua orang tuanya adalah orang mukmin, dan Kami khawatir bahwa ia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.’ Ayat 82: “Dan Kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya [kepada ibu bapaknya].”

[10] Tadzkiratul Auliya, karya tulis oleh Hadhrat Syaikh Fariduddin Aththar rahmatullah ‘alaihi, halaman 165, bab 15, membicarakan manaqib (keistimewaan) dan keadaan Hadhrat Abdullah bin Mubarak rahmatullah ‘alaihi, Penerbit Mumtaz Academi, Lahore.

[11] Sunan Ad-Daru Qutni juz 2 halaman 51, Kitab al-‘Idain bab shifatush Shalat  al Khushufu wal kushuf haiatuhuma Darul Kutubil Ilmiah, Beirut, 2003

إِنَّ لِمَهْدِينَا آيَتَيْنِ لَمْ تَكُونَا مُنْذُ خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ تَنْكَسِفُ الْقَمَرُ لأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ وَتَنْكَسِفُ الشَّمْسُ فِى النِّصْفِ مِنْهُ وَلَمْ تَكُونَا مُنْذُ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ. (الدارقطني)

Muhammad bin Ali meriwayatkan Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya bagi Mahdi kami telah ditetapkan dua tanda yang belum pernah terjadi sejak saat bumi dan langit diciptakan; gerhana bulan akan terjadi di bulan Ramadhan pada malam pertama (dari malam-malam yang telah ditetapkan baginya) dan matahari akan ber-gerhana pada pertengahannya (dari hari-hari yang sudah ditentukan bagi gerhana ini). Dan ini adalah Tanda yang belum pernah terjadi semenjak Allah menciptakan langit dan bumi.” Muhammad bin Ali yang dimaksud diatas ialah Imam Muhammad al-Baqir, putra Ali Zainul Abidin, putra Husain, putra Ali bin Abi Thalib dengan istri beliau a.s., Siti Fatimah, putri Nabi Muhammad s.a.w..

[12] Tadzkirah halaman 199, Edisi keempat, Terbitan Rabwah, 2004

[13] Tadzkirah halaman 507, Edisi keempat, Terbitan Rabwah, 2004

[14] Kamus Lisanul ‘Arab, pada kata dauh

[15] Malfuzhat, jilid 2, halaman 501, edisi 2003, terbitan Rabwah.

[16] Arba’in nomor 3, Ruhani Khazain jilid 17, halaman 399-400

(Visited 56 times, 1 visits today)