Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 24 Januari 2014 di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم.

 بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ،

[آمين. ]

Masalah perbaikan amal berlanjut dalam khotbah Jumat hari ini dengan penekanan pada cara dan sarana untuk mendapatkan hasil terbaik untuk kemajuan mayoritas warga Jama’at. Diuraikan dalam dua khotbah Jumat terakhir bahwa perbaikan amal ditingkatkan dengan menanamkan kekuatan tekad, yang untuk tujuan agama [istilah bahasa lainnya] adalah kekuatan keyakinan (keimanan), dan dengan menghilangkan kurangnya pengetahuan dan dengan menghilangkan kurangnya kemampuan untuk melaksanakan suatu hal.[2] Beberapa poin dalam khotbah hari ini diambil dari penjelasan oleh Hadhrat Muslih Mau’ud ra.

Hudhur bersabda bahwa beliau juga ingin mengatakan bahwa para mubaligh kita, pengurus, amir dan orang lain yang memiliki kapasitas untuk memberi nasehat dalam Jama’at, secara khusus harus memperhatikan nasehat-nasehat Hudhur sehingga mereka dapat memperbaiki amalan warga Jama’at. Banyak aspek semacam ini dari waktu ke waktu disampaikan oleh Hudhur kepada Jama’at dan berkat MTA, para Ahmadi di seluruh dunia dapat mendengarkan nasehat-nasehat Hudhur dan dengan karunia Allah ini terbukti efektif. Namun, adalah tugas para mubaligh, amir dan pengurus untuk merumuskan program-program mereka sesuai dengan nasehat-nasehat ini sehingga hal-hal penting ini terus disampaikan kepada lagi Jama’at, supaya hal ini menjadi sangat jelas bagi setiap Ahmadi dan ditanamkan dalam diri seperti apa hendaknya amalan mereka.

Sumber pertama perbaikan amal adalah kekuatan tekad atau kekuatan iman. Para Rasul Allah datang untuk menanamkan hal ini; mereka memperlihatkan tanda-tanda Allah yang segar dan hidup. Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa banyaknya tanda-tanda segar yang diperoleh Jemaat kita sebelumnya tidak ada tandingannya. Tidak ada agama lain selain Islam dengan tanda-tanda Firman Allah yang selalu segar, mukjizat dan tanda-tanda yang hidup menunjukkan adanya wujud Allah, yang membersihkan hati manusia dari semua jenis kepalsuan dan memberinya pengetahuan dan kedekatan kepada Allah.

Lalu mengapa kita masih menemukan kelemahan amal dalam Jama’at kita? Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa menurut pendapat beliau alasannya adalah karena para ulama, mubaligh dan muallim kita belum memberikan perhatian khusus dalam menyebarkan hal ini. Sebagaimana apa yang Hadhrat Muslih Mau’ud ra sabdakan 75 tahun yang lalu benar ketika itu, hari ini pun hal itu benar, dan perhatian harus diberikan kepada hal itu. Sebagaimana kita secara bertahap menjauh dari zaman Hadhrat Masih Mau’ud as, upaya-upaya harus dilakukan untuk memiliki rencana yang tepat dalam hal ini.

Mengapa kita bisa berdebat tentang masalah kewafatan Isa as secara rinci dan dapat menyampaikan berbagai referensi kepada para penentang dan membungkam mereka tetapi usaha serupa belum dilakukan oleh para ulama Jama’at untuk menyajikan ajaran sejati Jama’at kepada mereka!

Hasilnya, ada orang-orang dalam Jama’at yang dapat menanggapi soal kewafatan Isa as dengan sangat baik dan dapat menanggapi keberatan yang diajukan oleh para maulwi. Ada banyak Ahmadi di sini juga yang memberikan jawaban sangat baik dan meyakinkan di internet dan media dan beberapa orang mengirimkan rincian ini kepada Hudhur. Dalam hal ini kita telah dipersenjatai dengan sangat baik. Namun, sangat sedikit dapat ditemukan orang yang memiliki pengetahuan tentang bagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as memperkenalkan Allah ke hadapan kita dan apa yang telah beliau sabdakan tentang memperoleh makrifat dan kedekatan dengan Allah dan betapa agungnya firman dan mukjizat Tuhan diperlihatkan kepada beliau. Bisa jadi bahwa seseorang mungkin berpengalaman dalam masalah kewafatan Isa as namun karena tidak memiliki pengetahuan tentang aspek-aspek diatas, ia mengalami kelemahan iman, imannya goyah yang membawa pada kelemahan dalam amal. Pengetahuan tentang kewafatan Isa as tidak menimbulkan perbaikan amal. Jika para ulama Jama’at, mubaligh, dan semua pengurus yang bertanggung jawab untuk bertindak sebagai teladan dan melakukan perbaikan tidak memberikan perhatian yang diperlukan dan tidak mengaitkan hal ini dengan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as maka sebagian dari Jama’at yang memiliki kelemahan tekad dan yang tidak bisa memperbaiki diri, akan tetap demikian (tetap tidak bisa memperbaiki amal perbuatannya).

Kita perlu mengetahui dan menganalisa berapa banyak dari kita yang bersemangat dalam hal beribadah kepada Allah! Tidak hanya di bulan Ramadhan, atau duduk Itikaf di bulan Ramadhan dan hanya menceritakannya sepanjang tahun. Sebaliknya, dengan menjadikan kecintaan pada ibadah ini bagian dari kehidupan kita sepanjang tahun sehingga kita memiliki kedekatan kepada Allah secara tetap. Berapa banyak dari kita merasakan pengabulan doa melalui kasih Allah dan Dia berbicara kepadanya? Setelah menerima Hadhrat Masih Mau’ud as setiap Ahmadi wajib untuk berusaha mencapai derajat ini karena beliau datang untuk menghidupkan kembali Islam. Jika setiap Ahmadi mengetahui kedudukan Hadhrat Masih Mau’ud as dan merasakan kepedihan untuk memenuhi tujuan kedatangan beliau dan menyadari berapa banyak tanda-tanda agung yang Allah tunjukkan kepada beliau dan tentunya kepada mayoritas dari mereka yang menerima beliau, maka setiap orang dari kita pasti akan mengharapkan kedudukan itu dan membuat upaya untuk mencapai itu. Kekuatan iman akan dipoles ke tingkat di mana ia membangkitkan kekuatan tekad dan ghairat untuk meraih kedekatan dengan Allah.

Kita meniru orang lain dalam hal-hal duniawi untuk mencapai sesuatu yang baik. Setiap orang berusaha menyamai atau meniru yang lain dalam hal ini sesuai dengan pola pikir dan kemampuannya. Misalnya, melihat seseorang yang memakai pakaian bagus membuat orang ingin memiliki sesuatu yang serupa. Saat ini televisi telah membawa dunia begitu dekat sehingga jangankan orang dari kelas menengah, bahkan orang miskin mengharapkan kenikmatan-kenikmatan ini. Mereka melihat orang lain memiliki televisi atau kulkas dan mereka juga menginginkannya. Mereka tidak berusaha mengerti bahwa orang lain mungkin telah mendapatkan itu sebagai hadiah dan mereka tidak perlu merasa tamak. Mereka segera berupaya mengambil pinjaman [untuk membeli barang yang sama]. Atau beberapa orang bahkan memiliki kebiasaan meminta bantuan dalam hal-hal tersebut.

Tentu saja, Jama’at membantu orang-orang dengan sarana yang terbatas yang membutuhkan pertolongan sesuai dengan kemampuannya, tetapi orang-orang yang membuat permintaan harus meminta barang-barang yang logis dan juga memperhatikan harga diri mereka. Demikian pula, orang-orang yang tidak mampu juga menginginkan televisi model terbaru atau mobil yang lebih baik dan lain-lain, dan mengambil pinjaman untuk tujuan ini. Hudhur menjelaskan bahwa salah satu penyebab terbesar krisis ekonomi di dunia hari ini adalah bunga atas utang yang dikeluarkan untuk membeli barang-barang tersebut [konsumtif, konsumerisme]. Bunga (riba) adalah kutukan besar. Pembelian barang dagangan dengan bungalah yang akhirnya membuat banyak orang bangkrut.

Dalam hal-hal duniawi orang menyalin dan meniru orang lain, tetapi kita tidak meniru dan menyalin dalam urusan agama. Kita tidak meniru teladan Hadhrat Masih Mau’ud as dan para sahabat beliau dalam melakukan hal yang pasti tidak menimbulkan kerugian, bahkan ada keuntungan yang tak terbatas! Lalu apa alasannya, bahwa kita tidak meniru teladan-teladan ini? Hal ini sangat jelas bahwa, entah pengetahuan tentang hal-hal ini tidak diberikan sehingga tidak timbul kesadaran, atau pengetahuan yang diberikan sedikit dan jauh jaraknya, dan kita lupa bahwa Allah menunjukkan tanda-tanda segar-Nya bahkan pada hari ini dan perhatian kita kepada hal-hal ini sedikit. Sedangkan sepanjang hari kita berulang kali melihat iklan untuk hal-hal duniawi dan perolehan hal-hal materi akan bercokol di pikiran kita.

Jika ditanyakan tentang perlunya memperoleh barang-barang tertentu karena dana atau uang kurang, jawabannya adalah apakah orang miskin dan anak-anak juga tidak memiliki perasaan/sentimen! Anehnya perasaan/sentimen ini tidak muncul ketika misalnya wahyu Hadhrat Masih Mau’ud as disebutkan. Mereka tidak memperlihatkan keinginan untuk menjadi penerima wahyu Allah serta tanda dan kasih-Nya! Alasan utama pola pikir ini adalah bahwa ulama kita, mubaligh dan pengurus kita tidak berusaha untuk berulang-ulang menyampaikan di kalangan kita masing-masing bahwa upaya harus dilakukan untuk meraih kecintaan Allah karena memang hal ini perlu dilakukan! Atau teladan mereka sendiri sedemikian rupa sehingga mereka tidak menarik perhatian orang lain.

Peristiwa-peristiwa pertolongan Allah dan tanda-tanda-Nya yang ditunjukkan untuk Hadhrat Masih Mau’ud as dan para sahabat beliau tidak disampaikan dengan penekanan yang diperlukan dan sebagai akibatnya mereka secara perlahan-lahan tidak menanamkan keyakinan bahwa Tuhan tidak membatasi sifat-Nya sampai waktu dan tempat tertentu dan Dia menunjukkan sifat-Nya hari ini seperti yang Dia lakukan sebelumnya. Jika hal-hal tersebut dijelaskan berulang-ulang dan cara untuk menjalin hubungan dengan Tuhan juga dijelaskan dan janji-janji yang Allah berikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as disebutkan, anak-anak dan para pemuda tidak akan memunculkan pertanyaan mengapa doa tidak dikabulkan. Ketika hubungan dengan Tuhan kuat, falsafah doa tentu akan dipahami.

Yang perlu diberitahukan adalah bahwa di zaman ini kedekatan kepada Allah dapat diperoleh dengan menjalin hubungan dengan pecinta sejati dan abdi sejati Rasulullah saw (yaitu Hadhrat Masih Mau’ud) dan Allah memanifestasikan diri-Nya dengan segala kemuliaan-Nya. Jika mencari kesalehan dan kedekatan dengan Allah menyebar luas di Jama’at kita, kita dapat memiliki sekelompok besar orang yang sebagian besar dosanya dapat dihapus. Kita tidak dapat menyatakan untuk menghapus dosa sepenuhnya, namun sebagian besar dosa dapat ditanggulangi dan mayoritas Jama’at dapat menjadi orang-orang yang dapat mengatasi dosa. Untuk tujuan ini, para Mubaligh, Amir dan Pengurus harus mencoba untuk melakukan perbaikan di bidang masing-masing dan memperbaiki orang-orang dengan mengatakan kepada mereka bahwa Allah memberitahu Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa mereka yang mengikuti beliau benar-benar akan mendapatkan kedekatan Ilahi dan Tuhan mendengarkan doa kebanyakan orang-orang seperti ini. Dengan karunia Allah, kita memiliki orang-orang seperti ini dalam Jama’at kita. Mereka menulis kepada Hudhur tentang pengalaman mereka dan Hudhur sering menyampaikannya. Pengalaman ini memotivasi dan menginspirasi orang lain untuk menirunya sehingga menegakkan hubungan yang dekat dengan Allah.

Hadhrat Masih Mau’ud as suatu kali bersabda: ‘Tidak ada jemaat lain di dunia telah menerima Tuhan yang mengabulkan dan mendengarkan doa-doa. Pasti jelas bahwa seorang Kristen tidak bisa mengatakan bahwa ia telah menerima Kristus yang mendengarkan doa-doa dan mengabulkannya! Hanya ada satu Tuhan yang berbicara, Tuhan Islam, yang telah diperkenalkan dalam Alquran dan telah menyatakan: “Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doamu … ‘(40:61) Dan memang benar bahwa jika seseorang beriman kepada Allah Ta’ala dengan niat yang benar dan kemurnian hati, dan melakukan upaya rohani dan tetap sibuk dalam doa, akhirnya doa-doanya pasti akan dikabulkan.”

Jika hal ini berulang-ulang disampaikan kepada Jama’at, itu akan sangat membentengi kekuatan tekad yang dapat mengatasi ribuan dosa dan dapat memberikan kedekatan kepada Tuhan yang tidak akan pernah goyah. Tujuan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as memang untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan untuk menjalin hubungan dengan Tuhan yang akan membuat keridhaan Allah lebih utama atas segala sesuatu dan ibadah kepada-Nya akan dikerjakan dengan penuh ghairat.

Hudhur menyampaikan beberapa contoh bagaimana Ahmadiyah membawa perubahan gaya hidup pada orang.

Mubaligh kita dari Kirgistan menulis bahwa Sahib Umer yang kini berusia 58 tahun Bai’at pada tahun 2002. Ia lahir sebagai Muslim tapi berpandangan komunis. Umer Sahib mengatakan bahwa hari ia Bai’at adalah hari yang tak terlupakan yang ia samakan dengan kelahiran baru. Dia telah mencoba banyak komunitas agama lain tetapi tidak menemukan perubahan dalam dirinya. Sejak Bai’at ia telah mengalami perubahan revolusioner rohani. Shalat adalah sesuatu yang asing baginya sebelum Bai’at tapi sekarang shalat lima waktu telah menjadi bagian utuh dari kehidupannya dan tidak terbayangkan baginya untuk melewatkan shalat Tahajjud. Dia berkata hatinya dipenuhi dengan keyakinan bahwa jika seseorang menetapkan untuk mencari kebenaran, ia menemukan tujuannya yang menjadi sumber pendidikan rohani untuknya dan dia menemukan ketenangan hati.

Mubaligh kita dari Afrika menulis bahwa Idrisso Sahib, yang Bai’at pada tahun 2013 berkata bahwa ia lahir dari ayah musyrik pada hari raya orang Islam, dan dengan demikian sang ayah memberikannya nama Muslim dan menjadikannya seorang Muslim. Ia biasa pergi ke masjid ketika masih muda tapi setelah kembali dari shalat Jumat ia menderita cedera yang membuatnya mempertanyakan mengapa ia menderita cedera setelah menyembah Tuhan, sehingga karena itu ia berubah menjadi seorang Kristen. Dia pindah dari satu gereja ke gereja lain dan satu sekte ke sekte lain. Sementara itu ia mengalami perselisihan dengan istrinya dan menghadapi banyak masalah. Banyak upaya damai dibuat antara dia dan istrinya tetapi tidak berhasil. Ketika itulah ia bertemu dengan seorang Ahmadi yang melakukan Tabligh kepadanya. Idrisso Sahib mengatakan bahwa ia telah mencoba semua cara dan sarana tetapi tidak ada yang bekerja dan ia menawarkan resepnya yakni berdoa kepada Tuhan. Ia mengatakan ia juga akan berdoa untuk Idrisso Sahib dan istrinya untuk didamaikan dan sebagai syaratnya adalah mereka berdua mesti berdoa dengan tulus hati supaya didengar dan begitu masalah Idrisso Sahib diselesaikan dia harus menerima sebagai hasilnya tentang kebenaran Imam orang Ahmadi tersebut. Secara bertahap semua masalah yang dihadapi oleh Idrisso Sahib terselesaikan dan ia berdamai dengan istrinya.

Dia sekarang mengatakan bahwa cara ini adalah cara sejati Islam dan ia mengatakan kondisinya sebagai tanda kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as. Sebuah perubahan besar telah terjadi dalam dirinya. Ini juga merupakan tanda bagi para Ahmadi lama kita yang keluarganya dipenuhi dengan kecemasan. Masalah-masalah disampaikan kepada Hudhur dimana suami tidak memenuhi kewajiban mereka dan istri tidak memenuhi kewajiban mereka. Orang harus memperkuat keyakinan mereka dan berusaha memperbaiki amal mereka. Mereka harus berpaling kepada Allah dan masalah mereka akan terselesaikan. Setiap orang harus mencoba metode ini dan meninggalkan egoisme dan tidak mengikuti pola pikir “bagaimana membalas satu sama lain” dan lain-lain. Sebaliknya, pertolongan hendaknya dicari dari Tuhan Yang menunjukkan jalan yang benar.

Mubaligh kita dari Ghana menulis bahwa mubayyi’in baru (Ahmadi baru) Jabreela Sahib datang menemuinya dan mengatakan bahwa saat itu adalah masa panen dan ayahnya yang musyrik telah memintanya untuk mempersembahkan korban kepada berhala untuk panen ubi jalar yang baik. Guru Ahmadi tersebut menyuruhnya untuk berhenti dari penyembahan berhala dan juga menjauhkan ayahnya dari hal itu dan mengajarinya doa Istakharah. Dengan karunia Allah, ia menghasilkan tanaman yang sangat baik. Ayah yang musyrik mengatakan bahwa Tuhan anaknya adalah Tuhan yang benar dan ia membakar semua berhala yang telah ia simpan. Itulah kekuatan keyakinan yang sedang dihasilkan pada orang-orang yang menerima Hadhrat Masih Mau’ud as

Mubaligh kita dari Eldoret, Kenya menulis bahwa mantan karyawan yang telah diberhentikan entah bagaimana memasuki kompleks masjid kita dan menaruh obat terlarang di langit-langit. Dia kemudian melaporkan ke polisi bahwa mubaligh Ahmadi mengedarkan narkoba dengan kedok Islam. Polisi menggerebek masjid dan menemukan bahan ilegal. Mubaligh kita menjelaskan kepada polisi bahwa ini adalah kejahatan seseorang tapi dia tidak mendengarkan dan mereka membawanya pergi dan memenjarakannya. Hakim memberikan tanggal sidang. Hudhur diberitahu tentang situasi ini dan Hudhur mengirim balasan doa. Sidang kedua berlangsung. Mubaligh menulis bahwa setiap kali ia menghadapi hakim, ia (hakim) melihatnya dengan penuh penuh perhatian, kemudian ia mengucapkan kata-kata ‘tuan, silakan duduk’, ia beralih ke pengacara dan memberi mereka tanggal sidang. Dua hari sebelum hari di pengadilan mubaligh kita cemas ketika ia mengerjakan shalat Subuh. Ia berdoa dan kemudian saat ia hendak membaca Al Qur’an ia berpikir mencari pertanda baik dari Al-Qur’an, membuka Qur’an dan mencari pesan dari kata pertama yang dia lihat.

Ketika ia membuka Qur’an matanya jatuh pada ayat: “Kami berkata, ‘Jadilah dingin, hai api, dan jadilah sumber ketenangan bagi Ibrahim (21:70) Dia merasa yakin pada pesan baik tersebut!. Kemudian, ia pergi untuk memeriksa surat dan menerima surat Hudhur di mana Hudhur telah menulis bahwa semoga Tuhan menjaganya tetap aman dari segala bahaya dan dalam perlindungan-Nya dan semoga rencana-orang munafik tidak berhasil dan Jama’at diselamatkan dari setiap kesulitan dan semoga Allah menganugerahkan kemajuan. Setelah membaca surat mubaligh kita yakin bahwa Tuhan akan memberkatinya. Ketika ia tampil di hadapan hakim, dia memintanya untuk duduk seperti sebelumnya dan setelah berbicara dengan para pengacara berkata kepadanya bahwa tidak ada kasus terhadapnya dan dia bebas untuk pergi. Jadi, jika iman kuat, maka seseorang memiliki keyakinan pada kekuatan Tuhan dan dia hanya berpaling kepada Allah. Memang, Allah menunjukkan tanda-tanda-Nya. Sementara hal ini memperkuat iman sendiri mereka juga menguatkan keimanan orang lain.

Faktor kedua untuk perbaikan amal adalah kekuatan pengetahuan atau memiliki pengetahuan. Kadang-kadang orang keliru berpikir bahwa sebagian dosa besar dan lain-lain kecil. Akibatnya akan tertanam dalam hati dan pikiran seseorang bahwa beberapa dosa kecil dan tidak penting. Perhatian ditarik dalam khotbah baru-baru ini bahwa beberapa pencari suaka menyampaikan permohonan palsu dalam kasus mereka. Mereka tidak hanya membahayakan kasus mereka sendiri, mereka juga menjadi penyebab buruknya nama Jama’at. Seseorang mengatakan kepada Hudhur bahwa setelah mendengarkan khotbah Jumat, pencari suaka pergi ke pengacara yang juga seorang Ahmadi dan mungkin juga mengkhidmati Jama’at dalam beberapa kapasitas. Dia mungkin telah mendengarkan khotbah Jumat. Pengacara menambahkan beberapa informasi yang tidak benar mengenai kasus ini dan mengatakan, penting menambahkannya karena permohonan tidak dapat diajukan tanpa itu, walaupun Hudhur telah bersabda hendaknya tidak menggunakan informasi palsu. Penganiayaan para Ahmadi sangat jelas dan nyata sehingga setiap pengacara licik atau pembohong tidak diperlukan untuk mengajukan permohonan.

Para mubaligh dan pengurus juga harus berulang kali memberikan nasehat mengenai kedustaan. Perlu berulang-ulang disebutkan bahwa tidak ada hal seperti dosa kecil atau besar, dosa adalah dosa dan harus dihindari. Setiap kebohongan adalah kebohongan dan syirik ini harus dihindari. Jika hubungan seseorang dengan Tuhan kuat, tidak perlu khawatir, tanda-tanda akan menampakkan diri. Mereka yang menasehati orang lain juga harus ingat bahwa mereka sendiri harus selalu mencari tingkat kekuatan tekad yang lebih tinggi dan dalam hal amal harus ada keseragaman antara kata-kata dan perbuatan mereka. Mereka seharusnya tidak menjadi orang-orang yang mengatakan sesuatu dan melakukan sesuatu yang lain. Perlu menarik perhatian Jama’at lagi dan lagi kepada hal-hal ini dan jika setiap orang memulai tugas mereka dalam hal ini perubahan akan terlihat.

Dewasa ini anak-anak diajarkan tentang ketidaksopanan tertentu di sekolah-sekolah atas nama pendidikan. Nizam kita perlu secara aktif menginformasikan anak-anak dan pemuda tentang kenyataannya (hal yang sebenarnya, mana yang benar dan mana yang salah atau tidak sopan). Orang tua perlu memperhatikan kondisi mereka sendiri dan mendidik diri mereka sendiri tentang bahaya informasi yang diberikan kepada anak-anak atas nama pendidikan di sekolah. Di sini (di Inggris atau di Barat) anak-anak diajarkan beberapa hal yang sangat tidak perlu pada usia yang sangat muda dan argumen yang diberikan [oleh pihak sekolah] adalah bahwa ini membuat mereka sadar untuk membedakan antara yang baik dan buruk. Padahal sebenarnya itu tidak melakukan hal itu [anak-anak tidak membedakan mana yang baik atau yang buruk], melainkan sebagian hal yang buruk merasuk kedalam pemikiran mayoritas anak-anak sejak usia dini karenanya.

 Banyak contoh dari orangtua dan lingkungan sekitarnya yang buruk dan bukan yang baik. Dengan demikian, mubaligh, pengurus badan-badan dan orang tua, semua harus melakukan upaya bersama untuk memberikan informasi yang benar, untuk melawan informasi salah yang disebarluaskan. Kita tidak bisa menghentikan bagaimana hal-hal dilakukan di sekolah-sekolah dan kita tidak dapat ikut campur, namun dengan mengenalkan anak-anak kita apa yang busuk dan tidak bermoral kita bisa membuat mereka percaya diri dan menunjukkan kepada mereka teladan kita sendiri yang baik dan menyelamatkan mereka dari pengaruh lingkungan. Semoga Tuhan memberi taufik kepada kita semua untuk melakukan kewajiban kita dengan cara yang baik!

Selanjutnya Hudhur mengumumkan bahwa beliau akan memimpin shalat jenazah gaib Mukaramah Nawab Bibi Sahiba dan Sheikh Abdul Rasheed Sherma Sahib.

Penterjemah : Mln. Fadhal Ahmad Nuruddin

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Tiga hal yang akan memungkinkan manusia untuk menyempurnakan ishlah (perbaikan diri) dengan cepat dan sebaik-baiknya dalam dirinya; 1. Menciptakan tekad yang kuat (bahasa agamanya taqwiyatul iman/penguatan iman); 2. Menghilangkan kelemahan ilmu atau pengetahuan; 3. Menghilangkan kelemahan dalam Qudrat/kekuatan untuk beramal. Referensi: terjemahan Arab dari khotbah ini.

واتضح لنا نتيجة ذلك الذكر المفصل أنه لو نشأت في الإنسان ثلاثة أمور لإصلاح الأعمال لأمكن أن يتم الإصلاح سريعا وبأحسن وجه. وتلك الأمور الثلاثة هي إنشاء العزيمة القوية، أو تقوية الإيمان إذا نظرنا للأمر من الوجهة الدينية. وثانيا: إزالة الضعف العلمي، وثالثا: إزالة الضعف في القدرة على العمل.