Khutbah Jum’ah

Hazrat Amirul Mu’minin Khalifatul Masih V atba.

Tanggal 23 April 2010  dari Masjid Noor, Swizerland

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Saya selalu mengingatkan Jema’at agar menjadi hamba-hamba yang banyak bersykur kepada Allah swt. Rasa syukur yang sesungguhnya dapat timbul didalam kalbu manusia jika didalam kalbunya itu ada taqwa, memahami maksud dan tujuan Allah swt menciptakannya kedunia dan ia berusaha untuk mencapai tujuan itu. Dan selama dalam perjalanan lawatan kebeberapa negara di Eropah ini didalam Khutbah-khutbah Jum’at secara khas mengingatkan para anggauta Jema’at mengenai hal yang sama.

Saya merasa sangat perlu mengingatkan kembali perkara ini bahwa sekalipun Allah swt sudah menyediakan fasilitas MTA bagi kita dan menyiarkan langsung Khutbah-khutbah setiap minggu dan program-program tarbiyyat  juga disiarkan demi meningkatkan kemajuan ruhani para anggauta Jema’at. Namun para anggauta Jema’at tidak mengambil faedah seratus peratus (seratus persen) daripadanya, dan sejumlah besar anggauta Jema’at baik kaum lelaki maupun perempuan serta anak-anak muda ysang tidak mendengarkan khutbah secara dawam, atau mereka mendengar juga khutabh-khutbah itu namun mereka mengira bahwa khutbah yang tengah disampaikan itu ditujukan hanya kepada orang-orang yang langsung hadir didalam mesjid pada waktu itu.  Padahal setiap khutbah ditujukan kepada setiap orang Ahmady dimana-pun mereka tinggal didunia ini. Khususnya orang-orang Ahmady lama mempunyai pikiran yang keliru seperti itu.

Diantara para Ahmady baru, banyak orang-orang Arab yang mengirim surat atau diwaktu mulaqat mereka mengatakan bahwa : Kami merasa bahwa nasihat didalam khutbah-khutbah itu secara langsung ditujukan kepada kami. Dan sejak beberapa waktu yang lalu Khutbah-khutbah diterjemahkan kedalam Bahasa Rusia secara langsung melalui MTA. Saya terima banyak sekali surat dari orang-orang Ahmady dari beberapa negara yang berbicara Bahasa Rusia, mereka mengatakan bahwa kami mulai mendengarkan khutbah-khutbah dan sering kami mendengar khutbah-khutbah tentang tarbiyyat seakan-akan Huzur mengetahui betul keadaan kami sehingga kami merasa khutbah itu secara khas ditujukan kepada kami. Bahkan khutbah yang disampaikan tentang adat kebiasaan yang berlaku didalam perkawinan, pada waktu ini kami sedang terlibat didalam adat kebiasaan itu. Didalam khutbah-khutbah itu tersedia banyak sekali bahan-bahan tarbiyat bagi kami.

Orang-orang Ahmady yang memperhatikan seruan Khalifah masa ini dan berusaha mengamalkan perintahnya, memperhatikan untuk perbaikan dirinya, mereka bukan hanya suka mendengar khutbah itu bahkan mereka menganggap khutbah itu ditujukan kepada mereka. Akan tetapi sebagaimana telah saya katakan bahwa ada sejumlah anggauta yang tidak mendengarkan khutbah atau menganggap khutbah itu bukan ditujukan kepada mereka. Oleh sebab itu disetiap negara saya pergi disana saya berulang kali mengingatkan tentang beberapa masalah. Sebab dalam kesempatan lawatan seperti ini banyak para anggauta Jema’at yang hadir untuk sembahayang Jum’at, didalam diri setiap Ahmady terdapat benih kebaikan, mempunyai ikatan dengan Khilafat, oleh sebab itu sekalipun pada umumnya mereka mempunyai kelemahan-kelemahan, namun apabila mereka mendengar Khalifah mereka datang berkunjung kenegeri mereka, dengan penuh semangat dan gairah yang tinggi mereka-pun datang dan ikut serta didalam program-program Jema’at, baik untuk mendengar khutbah ataupun untuk hadir didalam program-program lainnya. Maka dalam kesempatan demikian, pada hari ini saya ingin mengingatkan para Anggauta Jema’at di Switzerland juga terhadap beberapa perkara. Dan perkara yang pertama adalah, jadilah saudara-saudara hamba-hamba yang bersyukur kepada Allah swt. Terutama orang-orang Ahmady yang datang kenegeri-negeri Eropah. Setelah datang dinegeri Switzerland Allah swt telah menganugerahkan ketenteraman hati dan kemudahan ekonomi kepada saudara-saudara disini. Maka mereka harus banyak-banyak bersyukur. Allah swt telah menjelaskan perkara syukur dibeberapa tempat didalam Alqur’anul Karim. Allah swt berfirman :

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ َلاَزِيْدَنَّـكُمْ‌  وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِىْ لَشَدِيْدٌ

Artinya : Dan ingatlah ketika Tuhan engkau mengumumkan : Jika kamu berterimakasih tentulah akan Ku-limpahkan lebih banyak lagi karunia kepadamu, tetapi jika kamu mengingkarinya (tidak bersyukur), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya azab-Ku sangat keras. (Ibrahim :8)

Didalam ayat ini Allah swt telah memerintahkan untuk menjadi hamba-hamba yang bersyukur. Atau Allah swt telah mengingatkan manusia untuk menzahirkan karunia-karunia-Nya yang telah mereka terima.  Dan apa yang dimaksud dengan mensyukuri karunia-karunia Allah swt dan menzahirkannya ? Menzahirkan rasa syukur atau terima-kasih artinya patuh-taa’t yang sempurna kepada Allah swt. Mematuhi hukum-hukum-Nya. Perkara apa yang Dia perintahkan untuk mengamalkannya, harus diamalkan dengan penuh perhatian. Dan dari perkara apa yang Dia larang melakukannya, harus meninggalkannya sambil  menunjukkan keta’atan yang sempurna kepada-Nya.

Jadi, tugas seorang mukmin sejati adalah bahwa jika ia harus menjadi hamba yang patuh ta’at, maka ia harus menjalani kehidupan dengan rasa bersyukur kapada Allah swt.  Dan untuk menjadi hamba yang bersyukur dia harus ingat kepada kebaikan-kebaikan Allah swt didalam hati dan juga didalam benaknya, serta diwaktu ia duduk atau berdiri. Dan dia harus selalu menggerakkan bibirnya untuk berzikir kepada Allah swt setiap sa’at. Ia harus selalu ingat kepada ni’mat-ni’mat yang telah Allah swt berikan kepadanya. Dan sambil mengingat ni’mat-ni’mat itu ia harus menzahirkan puji-pujian terhadap-Nya. Menzahirkan puji-pujian kepada Allah swt bukan hanya dengan mulut atau dengan lidah saja, melainkan seorang mukmin sejati menzahirkannya dengan seluruh perasaannya, dengan seluruh gerak-geriknya, dan berusaha untuk menjadi hamba yang sangat merendahkan diri dihadapan-Nya. Rasa merendahkan diri akan timbul didalam hati apabila ia menganggap semua ni’mat dan karunia itu sumbernya dari Allah swt. Didalam hati tertanam kecintaan terhadap Allah swt. Dan ni’mat-ni’mat yang telah Dia berikan kepadanya, ia menggunakannya sesuai dengan ajaran agama-Nya. Apabila keadaan jasmaninya sehat walafiat ia bersyukur kapada Allah swt dengan melakukan ibadah dan melakukan pengkhidmatan dijalan agama-Nya. Jika Allah swt menganugerahkan kepadanya kehidupan yang serba ada, hendaknya ia membelanjakan hartanya dijalan Allah swt tanpa menunjukkan rasa sombong dan takabbur. Jika seorang mukmin menggunakan semua anugerah Allah swt berupa kemahiran dan kemampuan, berupa harta dan anak keturunan sesuai dengan ajaran agama-Nya maka hal itu juga salah satu cara bersykur kepada Allah swt. Dan Allah swt yang sangat Pengasih dan Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya memberi pembalasan kebaikan hamba-hamba-Nya itu berlipat kali ganda. Dan Diapun meningkatkan kemampuan hamba-hamba-Nya. Menganugerahkan kesehatan juga kepada hamba-hamba-Nya, memberi kemudahan-kemudahan juga, dan menganugerahkan qurub (kedekatan) terhadap Abid-Nya  (hamba-Nya yang banyak melakuna ibadah). Dia memberi taufiq kepadanya untuk meraih tujuan penciptaannya kedunia.

Tanpa karunia Allah swt dan hanya mengandalkan seluruh kekuatannya saja manusia tidak dapat melakukan ibadah yang makbul. Jika ia melakukan ibadah juga, namun disisi Allah swt ibadahnya itu tidak dapat dikabulkan, maka apa faedahnya ibadah demikian. Jadi, perkara yang tengah saya bahas ini adalah tentang syukur atau terima kasih kepada Allah swt, Yang memberi taufiq kepada manusia untuk meningkatkan amal kebaikan. Dan memberi taufiq untuk meningkatkan taqwa juga. Allah swt berfirman didalam Surat Ali Imran ayat  116 sebagai berikiut :

وَمَا يَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ يُّكْفَرُوْهُ‌ؕ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِالْمُتَّقِيْنَ‏

Artinya : Dan kebaikan apapun yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi menerima ganjarannya dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertaqwa.

Jadi, taqwa juga meningkatkan rasa syukur atau terimakasih, dan menyatakan rasa syukur  atau terima kasih adalah satu kebaikan. Dan taufiq untuk melakukan kebaikan hakiki juga, semua wujud manusia, harta, kepakaran, dan semua nikmat-nikmat dapat diperoleh karena anugerah Allah swt. Bagaimana caranya membuktikan syukurnya Allah swt bagi orang mukmin yang kebaikannya terus meningkat dan bagi orang mukmin yang bersyukur kepada-Nya. Untuk menjelaskan hal itu Allah swt berfirman :

لِيُوَفِّيَهُمْ اُجُوْرَهُمْ وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلهِ ؕ اِنَّهٗ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ‏

Artinya : Agar Dia dapat memberikan kepada mereka ganjaran mereka sepenuhnya dan malahan Dia memperbanyak lagi bagi mereka atas kemurahan-Nya semata-mata. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Menghargai (Surah Al Fathir : 31)

Apabila Allah swt menggunakan perkataan syukur untuk Zat-Nya artinya bukan Dia bersyukur dengan merendahkan diri seperti manusia, Allah swt Malik (Pemilik) semua kekuatan. Jika Allah swt bersyukur kepada hamba-Nya maksudnya Dia sangat mencintai kelemah lembutan hamba-Nya, meningkat dalam rasa syukur hamba-Nya dan meningkat dalam kebaikan hamba-Nya. Dan semua pekerjaan yang dilakukan secara murni dan semua kebaikan-kebaikannya itu menarik turunnya karunia-karunia Allah swt kepadanya. Itulah sebabnya didalam ayat tersebut Allah swt menggunakan lafaz Ghafur disertai dengan lafaz Syukur. Artinya Dia Maha Pengampun dan Maha Menghargai.

Jika manusia yang lemah ini merasa bahwa dia melakukan kebaikan demi keridhaan Allah swt dan demi menjadi hamba-Nya yang bersyukur dan secara murni tunduk dihadapan-Nya, maka Allah swt Yang Maha Pengampun, Yang Rahmat-Nya sangat luas sekali, Dia menyelimuti hamba-Nya itu dengan selimut Maghfirah-Nya. Dia menutupi dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan hamba-Nya. Dia sangat menghargai usaha orang-orang yang datang mendekati-Nya. Dan Dia meningkatkan terus ni’mat-ni’mat-Nya kepada hamba-Nya itu. Jadi, itulah Tuhan kita Yang memberi anugerah nikmat kepada hamba-hamba-Nya dalam setiap segi. Dia menganugerahkan duniawi kepadanya dan memberi pembalasan terhadap setiap kebaikannya. Jadi jika manusia meninggalkan Tuhan Yang begitu Pemurah dan Sangat Menghargai hamba-hamba-Nya lalu dia berpaling kearah lain, maka terhadap orang demikian selain dikatakan bodoh dan sangat malang nasibnya, apa lagi yang dapat dikatakan kepadanya ?

Maka saudara-saudara yang sudah mantap tinggal dinegeri Switzerland ini harus memeriksa pribadi masing-masing, ingatlah kepada masa lampau saudar-saudara, tentu setiap orang akan berkata : “ Dengan karunia Allah swt kami telah berada disini.” Datang kenegeri ini bukan tidak ada alasan. Orang-orang Ahmady datang kenegri ini karena mendapat penganiayaan dari pihak lawan Jema’at atau karena kesulitan ekonomi dinegeri mereka sendiri. Atau mereka meninggalkan negeri sendiri untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Jika orang-orang Ahmady mengoreksi keadaan diri mereka yang sebenarnya, maka jika tidak tepat sepenuhnya seperti yang saya sebutkan pertama, namun alasan yang kedua pasti merupakan alasan mereka datang kenegeri ini. Alasan meninggalkan negeri sendiri juga karena menanggung derita kezaliman dan penganiayaan demi mendapat ketenangan pikiran dan mendapat kehidupan yang lebih baik. Dan Pemerintah negara-negara Barat ini memberi izin tinggal kepada sauadara-saudara, setelah mereka mengetahui betul keadaan sebenarnya yang dihadapi oleh saudara-saudara. Semua karunia Allah swt ini yang telah turun kepada saudara-saudara semata-mata karena Ahmadiyyah. Saudara-saudara harus menzahirkan rasa syukur kepada Allah swt dengan cara menjadi contoh yang baik dalam mengikat hubungan yang se-erat-eratnya dengan Ahmadiyyah. Jika tidak mengadakan hubungan erat dengan Jema’at, jika tidak menyambut seruan Khalifahe waqt  maka lambat laun bukan hanya saudara-saudara sendiri yang akan menjauh dari Allah swt bahkan anak keturunan saudara-saudara juga akan semakin jauh dari agama Allah swt.

Maka, renungkanlah dan pikirkanlah, jika kemajuan duniawi ini membawa sauara-saudara semakin jauh dari agama, maka semua anugerah Allah swt itu bukan sebagai ni’mat melainkan kehancuran bagi saudara-saudara. Sebabnya, perbuatan demikian itu merupakan penolakan terhadap ni’mat Allah swt. Hal itu perbuatan tidak menghargai terhadap ni’mat-ni’mat Allah swt.

Harus selalu diingat bahwa kita semua telah bai’at kepada Hazrat Imam Zaman a.s. yang kedatangannya sangat dinanti-nantikan oleh setiap Kaum atau Bangsa. Hazrat Rasulullah saw sendiri telah memberi amanat baginya dengan kata-kata yang sangat kasih-sayang dan kepadanya Hazrat Rasulullah saw menyampaikan ucapan Salam. Pikirlah, apakah perkara kecil menisbahkan diri kita terhadap orang seperti ini ? Sungguh satu kehormatan yang sangat besar bagi orang-orang Ahmady yang telah memperolehnya. Jadi, menghargai anugerah kehormatan ini menjadi kewajiban setiap orang Ahmady. Dan menghargai anugerah kehormatan ini akan membuat orang-rang Ahmady bersyukur kepada Allah swt. Dan mereka akan menyaksikan barkat-barkat Allah swt akan turun kepada mereka lebih banyak lagi dari sebelumnya. Menisbahkan diri menjadi murid Hazrat Masih Mau’ud a.s. bukan sekarang hanya secara lisan saja bahkan sejak perjanjian bai’at yang dilakukan dengan beliau a.s. dan bai’at kepada Khalifah penerus beliau juga. Dan memahami perkataan bai’at itu sangat penting sekali. Bai’at artinya menjual diri. Yakni perjanjian untuk mengurbankan semua keinginan dan perasaan  karena  Allah swt dan untuk menjalani kehidupan sesuai dengan hukum-hukum-Nya. Juga artinya adalah, menghilangkan semua keinginan pribadi dan selalu menghadirkan Allah swt didalam hatinya. Dan jika yakin akan adanya Hari yaitu Hari pertemuan dengan Allah swt dimana setiap janji akan ditanyai, maka bulu kuduk manusia akan berdiri karena rasa takut. Mengenai apa Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah mengambil janji dari kita, secara ringkas akan saya jelaskan berikut ini. Setiap orang periksalah keadaan pribadi sendiri, apakah ia menjalankan kehidupannya sesuai dengan itu? Atau berusahakah sesuai dengan itu ? Jika tidak, maka ingatlah kepada firman Allah swt ini :

اَوْفُوْا بِالْعَهْدِ‌ۚ اِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُوْلاً

Artinya : Dan tepatilah janji, sesungguhnya tentang janji akan ditanyai. (Bani Israil ayat : 35)

Kita harus berpikir tentang diri kita sendiri bahwa setelah kehidupan dunia sementara ini kita akan mulai menjalani kehidupan akhirat yang kekal abadi. Ingatlah ! Perjanjian apa saja yang Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah ambil dari kita ? Berikut ini ringkasannya. Beliau a.s. bersabda : 1. Dengan sungguh hati akan menjauhkan diri dari setiap jenis perbuatan syirik. Tentang Syirik, ditempat lain beliau bersabda : “ Syirik bukan hanya menyembah benda-benda zahir berupa patung atau batu saja, melainkan ada juga syirik makhfi (syirik tersembunyi). Misalnya demi kegiatan kerja atau niaga pribadi, meninggalkan salat-salat juga termasuk syirik. Menunaikan salat tanpa tawajjuh (konsentrasi) dosanya dua kali lipat. Pertama sebagaimana Allah swt berfirman : wama kholaqtul jinna wal insa illa liya’buduni (Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku) Yang kedua adalah, mendahulukan kepentingan dunia. Seakan-akan Pemberi rizki itu bukanlah Allah swt melainkan usaha atau kegiatan saudara atau bisnis saudara dan pekerjaan saudara. Kadangkala karena anak-anak juga menyebabkan lupa terhadap hukum-hukum Allah swt. Hal itu semua termasuk syirik juga. Dengan menentang hukum-hukum Allah swt dan mengikuti kehendak anak-anak juga termasuk syirik makhfi (syirik tersembunyi). Bahkan kadangkala banyak barang atau benda juga menjadikan manusia lupa kepada Allah swt. Tidak sedikit orang-orang yang menjauh dari Jem’at disebabkan menuruti kehendak anak-anak mereka. Mencintai anak-anak tidak pada tempatnya dan membiarkan pergaulan anak-anak yang bebas yang memisahkan mereka dari agama, membuat orang tua juga jauh dari agama. Didalam Alquranul Karim Allah swt berfirman :

يَاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لاَ تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلاَ اَوْلاَ دُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ‌ۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولَئِكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

Artinya :  Hai orang-orang yang beriman ! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari berzikir Ilahi. Dan siapa juapun yang berbuat demikian , mereka itulah orang-orang yang merugi ( Al Munafiqun ayat : 10)

Maka bila saja manusia menganggap sesuatu lebih penting dari perintah Allah swt maka hal itu akan membuatnya lalai dari berzikir dan dari beribadah kepada Allah swt. Dan perbuatan ini adalah Syirik Makhfi (Syirik tersembunyi) sebab ia telah mendahulukan kepentingan pribadinya dan mengabaikan kepentingan Allah swt. Kelalaian ini bukanlah kelalaian kecil, melainkan kelalaian yang menjerumuskan kejurang kehancuran. Jadi, Allah swt telah memberi peringatan terhadap orang-orang mukmin Ahmady bahwa : “Jangan mengira perjanjian bai’at dengan Aku atau masuk kedalam Jema’at Masih Hazrat Mau’ud a.s. sudah cukup memadai. Melainkan hati dan benak kalian setiap sa’at harus selalu segar dalam mengingat  Aku. Agar kalian betul-betul jauh dari perbuatan syirik.”

Jadi, Hazrat Masih Mau’ud a.s. mengharapkan dari setiap orang Ahmady agar ia terhindar dari setiap jenis bohong, zina, pandangan berahi terhadap bukan muhrim, perbuatan fasiq, kejahatan, aniaya, khianat, mengadakan huru-hara dan memberontak. Setiap Ahmady harus menyadari bahwa mereka berusaha menjauhkan diri dari semua keburukan itu. Banyak orang yang mengira semua perbuatan buruk itu perkara kecil saja. Mereka berdusta didalam perniagaan atau didalam pekerjaan mereka, sebab mereka mengira dusta perkara kecil saja. Padahal Allah swt menyatakan dusta itu serupa dengan syirik.

            Zina dan pandangan mata terhadap bukan muhrim, pada zaman sekarang keburukan-keburukan ini telah biasa dijumpai dirumah-rumah melalui media TV atau Internet, bermacam-macam program berupa perbuatan a-moral yang sangat berbahaya dipertontonkan didalamnya, yang dapat merusak akhlaq para pemuda dan pemudi. Sangat malang sekali ada beberapa keluarga Ahmady yang terlibat didalam kebiasaan menyaksikan program-program yang sangat membahayakan morral itu. Mula-mula perbuatan zina itu melalui pandangan mata dan pikiran, lama kelamaan membawa manusia terlibat langsung dalam perbuatan yang sebenarnya. Kedua ibu-bapak mula-mula tidak melakukan pengawasan secara cermat terhadap anak-anak mereka. Apabila perbuatan mereka sudah terlanjur baru mereka menangis bahwa anak-anak mereka telah rusak. Oleh sebab itu pengawasan terhadap mereka harus dimulai sejak awal. Anaka-anak jangan diizinkan duduk dihadapan TV menyaksikan program-program romantic tak bermoral. Dan penggunaan Internet juga harus betul-betul dikawal dengan cermat. Jika banyak keluarga Ahmady disebabkan tidak berpendidikan tinggi tidak mampu menanggulangi perkara yang membahayakan moral anak-anak ini, maka tugas Nizam Jema’at-lah untuk mengadakan pencegahan terhadap keburukan itu. Ansarullah, Khuddamul Ahmadiyah dan Lajnah Immaillah harus menganjurkan para anggauta masing-masing untuk bekerja sama  bagaimana mengadakan pencegahan terhadap keburukan-keburukan itu.  Para pemuda dan pemudi harus dihubungkan dengan Jema’at se-erat mungkin melaui badan masing-masing. Dalam hal itu para orang tua juga harus sungguh-sungguh bekerja sama dengan Nizam badan-badan Jema’at. Jika para orang tua sendiri memperlihatkan kelemahan atau kelalaian dalam kewajiban itu, berarti mereka sendiri membuka jalan bagi kerusakan dan kehancuran anak-anak mereka sendiri. Khasnya Kepala Keluarga yakni suami yang paling bertanggung jawab untuk mencegah anak-anak mereka dari bahaya Api itu yang mana Allah swt telah menyelamatkan mereka sendiri dari azab Api itu. Yang dengan karunia serta taufiq-Nya mereka telah menerima kebenaran Hazrat Imam Zaman a.s.  Sedangkan dunia sedang terbenam dalam situasi yang sangat menggelisahkan. Khasnya keadaan hati orang-orang Muslim sangat gelisah menantikan seorang Pemimpin yang dapat memberi bimbingan kepada mereka. Sedangkan saudara-saudara semua telah mendapat karunia untuk bai’at kepada Hazrat Imam Zaman a.s. dan mendapat bimbingan dari pada beliau. Berkat hubungan erat dengan Khilafat  saudara-saudara selalu mendapat bimbingan untuk menegakkan amal-amal saleh. Semua karunia Allah swt ini menghendaki agar kita semua berjanji untuk meninggalkan semua jenis keburukan dan menyambut seruan-seruan kearah kebaikan. Para orang tua berusahalah melakukan amal-amal kebaikan dan bimbinglah anak-anak juga kearah itu. Dan ingatlah selalu terhadap nasihat Allah swt berikut ini :

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

Artinya : Hai orang-orang beriman !! Selamatkanlah diri kalian dan anak-anak kalian dari Api (Surah At Tahrim ayat : 7)

Pada zaman sekarang bermacam-macam keburukan akhlaq yang nampaknya sangat gemerlapan yang orang-orang Barat tidak menganggapnya suatu keburukan, namun menurut pandangan Islam sungguh perbuatan sangat buruk dan membawa kehancuran akhlaq atau moral. Mula-mula mengikuti kegiatan-kegiatan tidak bermoral yang biasa diselenggarakan demi toleransi dalam kebebasan berpikir namun lama kelamaan hal itu menggiring manusia kearah keburukan dan kejahatan. Hal itu semua bukanlah suatu rekreasi bukan pula kebebasan berpikir melainkan sebuah jurang Api yang sangat berbahaya. Yang membawa manusia mudah terjerumus kedalamnya. Oleh sebab itu Allah swt Yang Maha Penyayang secara terbuka telah menjelaskannya kepada orang-orang mukmin bahwa hal itu adalah Api. Selamatkanlah kehormatan diri sendiri dan lindungilah anak-anak juga dari Api itu. Saya memberi nasihat kepada para pemuda dan pemudi yang tinggal dilingkungan masyarakat seperti itu bahwa hal semacam itu bukan tujuan hidup kalian. Jangan sampai ada yang berkata bahwa itulah maksud dan tujuan kehidupan kami yang sebenarnya. Hal itulah yang memberi kepuasan kepada kami.

Sebagai orang Ahmady, harus mampu menunjukkan perbedaan pribadi dengan orang yang bukan Ahmady. Begitu juga setiap Ahmady harus menjauhkan diri dari pergaulan buruk seperti itu. Harus saling menghargai antar sesama Ahmady dan mengembangkan sayap persaudaraan satu dengan yang lain dan harus menghindarkan diri dari setiap perkara yang berupa penipuan. Harus menta’ati peraturan-peraturan Jema’at. Keindahan Jema’at Ahmadiyah terletak pada Nizam Jema’at sendiri. Jika kita menjauhkan diri dari Nizam Jema’at maka tidak ada lagi perbedaan antara kita dengan orang-orang bukan Jema’at. Hazrat Masih Mau’ud, Imam Mahdi a.s. bersabda : “ Kalian mengerjakan sembahyang orang lain juga mengerjakan sembahyang seperti kalian, kalian mengerjakan puasa Ramadahan, Muslim lain juga berpuasa bulan Ramadhan, kalian menunaikan ibadah Haji mereka juga menunaikan ibadah Haji, mereka yang membayar Zakat juga seperti kalian membayar  Zakat. Jadi harus ada perbedaan antara kalian dengan mereka.”

Banyak orang mengatakan : Kami juga patuh ta’at kepada Khilafat, hanya kami menentang Nizam Jema’at. Sesungguhnya mereka harus paham betul bahwa Nizam Jema’at itu didirikan oleh Khilafat. Jika seseorang mempunyai pengaduan mengenai salah seorang anggauta pengurus Jema’at ia dapat menulis surat kepada Khalifah, ia boleh menyampaikan pengaduannya kepada Khalifah. Namun melanggar disiplin Nizam Jema’at tidak dapat diizinkan. Para anggauta pengurus juga berkewajiban untuk menegakkan keadilan dan mengembangkan rasa cinta antar sesama. Jangan menyusahkan para anggauta. Harus melayani mereka dengan rasa simpaty dan penuh toleransi.

Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah menekankan tentang ibadah salat didalam syara-syarat bai’at, sebelumnya juga telah saya jelaskan. Namun disamping ibadah salat beliau menegaskan untuk banyak memuji menyanyjung keagungan Allah swt dan selalu ingat terhadap kebaikan-kebaikan-Nya. Dan didalam syarat keempat beliau menjelaskan bahwa : tidak akan mendatangkan kesusahan apapun terhadap makhluk Allah swt  umumnya dan ter hadap sesama kaum Muslimin khususnya. Akan tetap setia terhadap Allah swt baik dalam segala keadaan susah ataupun senang, dalam keadaan suka ataupun duka, nikmat ataupun musibah, pendeknya akan rela terhadap segala keputusan Allah swt. Sebagaimana telah saya katakan bahwa dengan karunia Allah swt saudara-saudara yang tinggal dinegara ini telah mendapat kemudahan-kemudahan ekonomi. Maka hendaknya saudara-saudara jangan lupa untuk menjadi hamba-hamba yang bersyukur hakiki terhadap Allah swt.

Banyak orang yang terkena dampak krisis ekonomi sejak dua tahun lalu. Akibatnya banyak orang-orang yang merasa bingung dan gelisah.  Dalam kesusahan bagaimanapun manusia tidak boleh melepaskan hubungan dengan Allah swt. Demikianlah nasihat-nasihat yang diberikan oleh Hazart  Masih Mau’ud a.s.

Selanjutnya beliau menegaskan syarat berikutnya bahwa, akan berhenti dari adat yang buruk dan dari menurutkan hawa nafsu. Akan benar-benar menjunjung tinggi perintah Alqur’an suci diatas dirinya. Akan menta’ati perintah Allah dan Rasul-Nya secara kamil.  Untuk ta’at terhadap perintah Allah swt dan Rasul-Nya perlu sekali membaca Kitab Suci Alqur’an, menaruh perhatian penuh terhadapnya dan merenungkan isinya. Supaya setelah memahami ajaran-ajarannya akan berusaha mengamalkannya. Syarat selanjutnya dikatakan bahwa, akan meninggalkan segala jenis takabbur dan sombong, akan hidup dengan merendahkan diri, beradat lemah-lembut dan akan sopan santun serta berbudi pekerti yang halus.

Didalam syarat kedelapan dikatakan bahwa, akan menghargai agama, kehormatan agama dan akan mencintai Islam lebih dari pada jiwanya, anak-anaknya dan dari segala yang dicintainya. Syarat ini sangat penting sekali, setiap orang Ahmady harus selalu ingat kepada syarat ini. Kita orang-orang Ahmady menda’wakan diri bahwa kita adalah sebagai contoh Islam hakiki. Maka kita semua bertanggung jawab untuk menegakkan kehormatan Islam diatas dunia ini dengan menjadi contoh yang baik bagi yang lain. Jika kita mampu menampilkan contoh yang baik maka pasti usaha tabligh kita akan mendapat banyak sekali kemajuan. Kehormatan agama dan simpaty Islam, menghendaki dari kita agar kehormatan agama itu ditegakkan diatas dunia ini.

Sekarang pihak lawan Islam dari setiap penjuru berusaha untuk melakukan perlawanan. Tampilkanlah gambar wajah Islam sejati kepada dunia. Dinegeri Switzerland ini juga orang-orang anti Islam berusaha memburuk-burukan nama Islam. Dan mereka melarang pembangunan menara mesjid orang-orang Muslim.  Apakah dengan tidak adanya menara mesjid keburukan dan kejahatan dengan sendirinya akan hilang ? Sekalipun larangan membangun menara telah dikeluarkan namun momentum issue ini harus dipertahankan dan tetap diberi perhatian serius. Sering-seringlah menulis artikel dengan cara yang baik dan kirim keberbagai media surat khabar, dan adakanlah seminar-seminar tentang itu. Atau dengan cara lain agar perkara ini terus berjalan sampai tuntas, seperti mereka selalu berusaha menggelar masalah ini dimuka masyarakat. Sekalipun undang-undang larangan membuat menara itu telah dikeluarkan sesuai hasil referendum. Namun undang-undang itu sendiri dapat dibatalkan dengan bantuan referendum juga. Memang wujud menara itu tidak banyak memiliki peranan penting sebab bentuknyapun dibuat lama kemudian sesuai perkembangan sejarah Islam. Namun disini perkara utama adalah mengenai kehormatan Islam bagaimanapun harus kita pertahankan. Nama Islam sudah diburuk-burukkan melalui issue menara ini. Oleh sebab itu harus diusahakan secara terus-menerus mengenai hal itu. Kemukakanlah contoh Jema’at Ahmadiyah yang telah berdiri di 195 negara didunia. Berilah contoh tentang Jema’at Ahmadiyah di Switzerland, tidak pernah membuat kerusuhan atau melanggar undang-undang dan tidak pernah ambil bagian didalam protest menentang Pemerintahan. Orang-orang Ahmadiyah sangat patuh ta’at terhadap undang-undang Negara. Kita adalah orang-orang yang menampilkan wajah Islam sejati kepada dunia.

Perluaslah hubungan dengan masyarakat dan orang-orang yang duduk dipemerintahan. Orang-orang yang sudah menguasai Bahasa setempat jalinlah hubungan dengan masyarakat disekitar tempat tinggal saudara-saudara. Anggauta yang belum menguasai Bahasa dengan baik mulailah dengan membagikan literature kepada masyarakat sekitar. Bagaimanapun setiap Ahmady harus melibatkan diri didalam setiap kegiatan. Menampilkan wajah Islam hakiki dan mengactivkan tabligh Islam sangat diperlukan untuk menegakkan kehormatan Agama Islam. Selama kita tidak berusaha keras secara terus-menerus dan berusaha meningkatkan jumlah anggauta Jema’at dimasing-masing daerah, kita tidak akan dapat menunaikan kewajiban dengan sesungguhnya dalam menegakkan kehormatan dan simpaty Islam.

Satu lagi kegiatan lawan mencemarkan nama Islam dengan membangkitkan masalah Pardah. Adalah kewajiban anak-anak perempuan dan kaum Ibu Jema’at untuk menulis artikel-artikel tentang pardah dan kirim keberbagai Surat Kabar setempat. Anak-anak perempuan dan Kaum Ibu di UK dan Germany telah melaksanakan hal itu dengan menulis artikel-artikel yang sangat baik sekali. Beritahu kepada dunia bahwa Pardah adalah untuk menjaga kehormatan kaum wanita. Pardah dipakai demi menegakkan kehormatan kaum wanita. Sudah menjadi watak kaum wanita bahwa mereka menghendaki agar kehormatan mereka dijaga melalui Pardah. Mereka mencintai Pardah. Kaum wanita mempunyai martabat dan demi memeliharanya mereka pertahankan penggunaan Pardah. Islam telah berjaya dalam membela kedudukan terhormat dan martabat kaum wanita. Pardah bukan paksaan terhadap kaum wanita untuk menggunakannya. Namun mereka sendiri sangat berkepentingan dengan Pardah bahkan Pardah untuk menegakkan identitas kaum wanita Islam.

Saya ingin katakan kepada para wanita Ahmady agar jangan merasa risau dengan adanya pardah dipermasalahkan ditengah-tengah masyarakat. Jika kalian merasa risau dengan adanya propaganda anti pardah atau kalian terpengaruh oleh fesyen dan mengikuti trends lalu meninggalkan  pardah, maka tidak akan ada lagi jaminan terhadap kehormatan dan martabat kalian. Kehormatan dan martabat kalian sangat erat kaitannya dengan iman. Sudah pernah saya ceritakan peristiwa yang telah terjadi dikalangan orang-orang perempuan  Ahmady. Diantaranya seorang pegawai gadis Ahmady yang mendapat notice (peringatan) dari Bosnya bahwa, jika kamu datang ke Office (kantor) dengan memakai pardah akan saya keluarkan dari pekerjaan. Notice atau peringatan itu diberi waktu sebulan lamanya. Jika dalam tempo sebulan ia tidak meninggalkan pardah maka ia akan dibuang kerja (di keluarkan dari pekerjaan). Maka gadis Jema’at itu berdo’a kepada Allah swt, Ya Allah aku memakai Pardah ini karena Engkau dan demi menta’ati perintah Engkau, ya Allah tolonglah daku, jika tempat kerja ini tidak baik bagiku, tolong sediakan tempat lain yang lebih baik bagiku.!! Selama satu bulan Bosnya itu terus-menerus mengancam sang gadis itu, katanya, tengoklah sekarang tinggal beberapa hari lagi kamu akan dikeluarkan dari pekrjaan ini karena kamu tidak mau melepaskan Pardah. Sang gadis Jema’at itu terus berdo’a kepada Allah swt setiap hari bahkan setiap waktu. Namun apa yang terjadi ? Setelah waktu satu bulan berlalu, Bosnya itulah yang dipecat oleh atasannya karena suatu hal tertentu atau dia dipindahkan ketempat lain dan gadis Jema’at itu selamat tidak dikeluarkan dan tetap didalam pekerjaannya karena Bosnya yang baru tidak mempermasalahkan Pardah. Jadi, jika niat manusia baik, Allah swt-pun menolongnya. Jika ia mempunyai hubungan erat dengan Allah swt maka Dia menjaganya sedemikian rupa hebatnya sehingga manusia lain-pun tercengang keheranan melihatnya sambil memuji keagungan Tuahn.

Selanjutbya dalam syarat bai’at yang kesembilan disebutkan bahwa : Selamanya akan menaruh belas kasih terhadap makhluk Allah umumnya, dan akan sejauh mungkin mendatangkan faedah kepada umat manusia dengan kekuatan dan nikmat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepadanya.

Hal ini juga dapat dilakukan dalam bentuk yang sebenarnya apabila dengan penuh belas kasih dan simpaty yang murni saudara-saudara berusaha mengajak manusia mendekat kepada Allah swt sambil menjelaskan tentang agama yang kamil  dan sempurna kepada mereka. Hal itu baru dapat dilaksanakan dengan baik apabila dia sendiri beramal sesuai dengan apa yang dia jelaskan dengan sungguh-sungguh kepada mereka. Dan dengan penuh rasa tanggung jawab saudara-saudara akan menyampaikan amanat kepada masyarakat dilingkungan sauadar-saudara.

Dalam syarat bai’at yang kesepuluh atau yang terakhir Hazrat Masih mau’ud a.s. bersabda : Akan mengikat tali persaudaraan dengan hamba ini (Imam Mahdi dan Masih maqu’ud) semata-mata karena Allah dan menjunjung tinggi ikatan perjanjian ini melebihi ikatan duniawi, baik ikatan keluarga, ikatan persaudaraan ataupun ikatan kerja. . Sehubungan dengan syarat ini setiap orang harus memeriksa keadaan diri masing-masnig, apakah hubungan kita dengan keluarga, ikatan persaudaraan, ikatan kaum kerabat tidak menjadi penghalang antara ikatan persaudaraan kita dengan Hazrat Masih mau’ud a.s ? Mutu ikatan persaudaraan kita dengan Hazrat Masih Mau’ud a.s. akan sangat baik sekali apabila kita berusaha betul-betul  mengamalkan semua ajaran Beliau a.s. yakni ajaran Islam yang murni dan hakiki. Akan menunjukkan keta’atan yang sempurna terhadap Kudrat tsaniah (khilafat) yang akan muncul setelah beliau a.s. yang akan kekal untuk selama-lamanya. Jika setiap orang Ahmady berjanji akan mengikat hubungan hakiki dengan Khilafat ini maka ia pasti akan dianggap sebagai anggauta Jema’at beliau sesungguhnya. Jika tidak ia akan dianggap anggauta Jema’at yang hanya nama belaka. Jangan sampai terjadi bahwa para anggauta yang baru masuk kedalam Jema’at ini akan menerima banyak sekali karunia dan berkat-berkat dari Allah swt sedangkan para anggauta Jema’at yang sudah lama turun temurun mahrum dari karunia dan berkat-berkat Allah swt. Jadi, untuk itu sangat diperlukan untuk banyak-banyak memanjatkan do’a kepada Allah swt .

Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Ketahulah dengan sesungguhnya bahwa Allah swt tidak mencintai orang-orang yang pakaian mereka indah-indah, sangat kaya-raya dan penampang mereka menyenangkan, melainkan orang-orang yang dicintai Allah swt adalah mereka yang mendahulukan kepentingan agama dari pada kepentingan duniawi. Dan segala niat mereka murni karena Allah swt. Maka curahkanlah perhatian kalian sepenuhnya terhadap perkara ini, jangan kepada perkara yang disebut pertama diatas. Allah swt berfirman :

وَجَاعِلُ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْكَ فَوْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ‌‌ۚ

Artinya : dan (Tuhan) akan menjadikan para pengikut engkau diatas orang-orang yang ingkar hingga Hari Qiamat (Ali Imran : 56) ayat Alqur’an ini diturunkan Allah swt kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s sebagai ilham pada tahun 1883 ketika itu Jema’at beliau a.s.pun belum didirikan.  Maka zaman itu Hazrat Masih Mau’ud a.s bersabda : “ Sungguh benar bahwa para pengikut-ku akan unggul (menang) diatas semua para penentang-ku dan yang memusuhi aku. Akan tetapi perkara yang patut direnungkan adalah diantara pengikut-ku tidak setiap orang hanya dengan bai’at saja dapat masuk kedalam Jema’at-ku jika didalam diri mereka tidak tertanam sifat setia sepenuhnya kepada-ku. Pengikut yang sunggu-sungguh fana didalam keta’atan yang sejati. Dan tidak akan mendapat ketetapan iman selama ia tidak menjadi pengikut yang sebenarnya. Dari hal itu maklumlah bahw Allah swt telah menetapkan sebuah Jema’at bagi-ku yang fana didalam ita’at pada-ku dan secara murni menjadi pengikut-ku. Sangat penting sekali yang aku tekankan bahwa ikatlah hubungan kalian yang benar dengan Allah swt dan dahulukanlah hal itu dari perkara-perkara lainnya…..” Itulah nasihat-nasihat Hazrat Masih Mau’ud a.s. untuk kita semua, Jika sungguh-sungguh kita ingin menjalin hubungan dengan Hazrat Masih Mau’ud a.s. maka kita harus berusaha keras untuk menyempurnakan semua harapan Hazrat Masih Mau’ud a.s dari kita. Untuk menjadi pengikut beliau yang sejati kita harus mengadakan koreksi terhadap diri kita masing-masing. Kedua ibu-bapa harus mengawasi dan membimbing keluarga mereka. Perlu sekali mengawasi pergaulan anak-anak mereka. Nasihatilah mereka dengan penuh kasih sayang melalui ajaran-ajaran Hazrat Masih Mau’ud a.s. Hal itu tugas kewajiban sang ayah dan tugas sang isteri juga. Sangat perlu sekali ditegakkan perbedaan antara orang Ahmady dengan orang yang bukan Ahmady ditengah-tengah mereka. Sesuai dengan sabda Hazrat Masih Mau’ud a.s. bahwa kita harus membuktikan kedaan diri kita sangat berbeda dengan keadaan orang-orang yang bukan ahmady….

Nizam Jema’at dan Badan-badan Jema’at harus membuat program-program tarbiyyat secara amaliah. Jika kita menjalani sepanjang kehidupan hanya untuk mencari kesenangan duniawi saja maka hal itu akan menjadikan kita orang-orang yang tidak bersyukur kepada Allah swt.

Semoga Allah swt menjadikan kita semua orang-orang Ahmady sejati yang selalu menghargai dan mensyukuri karunia-karunia Allah swt. Amin !!!

Alihbahasa dari Video Urdu oleh Hasan Basri