بسم اللہ الرحمن الرحیم

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 04 Januari 2019 (Sulh 1398 Hijriyah Syamsiyah/27 Rabi’ul Akhir 1440 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Baitul Futuh, Morden UK (Britania)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ.

(آمين)

Hari ini adalah Jumat pertama di tahun 2019. Dalam hal ini saya ingin mengucapkan selamat tahun baru kepada segenap para Ahmadi di seluruh dunia. Semoga Allah Ta’ala menjadikan tahun yang penuh keberkatan bagi kita dan membawa kesuksesan yang tidak terhingga. Namun hendaknya kita ingat, hanya mengucapkan “Mubarak” (Selamat!) secara formalitas saja, tidaklah ada faedahnya. Tidak juga ucapan Selamat di lisan saja akan serta merta membuat kita dapat meraih ridha Allah Ta’ala. Ucapan selamat tahun baru yang hakiki dapat terwujud jika kita bertekad bahwa Allah ta’ala telah memperlihatkan kepada kita matahari pada tahun yang lain dan memasukkan kita kedalamnya, untuk itu berusahalah untuk menjauhkan segala kelemahan dan kegelapan yang ada didalam diri.

Berjanjilah untuk menjauhkan segala kekurangan dan kesalahan yang telah terjadi pada tahun lalu. Berusahalah untuk menciptakan perubahan suci di dalam diri lebih dari sebelumnya yang untuk meraihnya kita telah mengucap janji baiat kepada Hazrat Masih Mau’ud (‘alaihis salaam, as). Dalam satu kesempatan Hazrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan berkenaan bagaimana seharusnya seorang Ahmadi, bersabda, “Setelah baiat seseorang tidaklah hanya meyakini bahwa Jemaat ini benar dan beranggapan dengan meyakini itu saja ia akan mendapatkan keberkatan. Setelah bergabung dengan Jemaat ini berusahalah untuk menjadi saleh, jadilah muttaqi, jauhilah setiap keburukan, sibukkanlah siang malam untuk bertadharu, lembutkanlah ucapan, biasakanlah beristighfar, panjatkanlah doa-doa dalam shalat. Doa-doa didalam shalat akan terkabul jika kita dapat memenuhi hak shalat dan melaksanakannya sebagaimana mestinya.”

Beliau (as) bersabda, “Dengan hanya beriman saja kepada saya, tidak akan bermanfaat bagi manusia, dengan ucapan saja tidak lantas akan membuat Tuhan ridha. Dalam Al-Quran, Allah ta’ala menggandengkan keimanan dengan amalan saleh. Amalan saleh adalah amalan yang di dalamnya tidak terdapat kerusakan sedikit pun.”[1]

Walhasil, inilah standar, inilah pedoman yang mana jika kita amalkan pada tahun ini dan berupaya untuk menggunakan segenap kapasitas untuk meraih hal-hal tersebut, maka sudah barang tentu tahun ini akan menjadi tahun yang berberkat dan membawa serta banyak sekali keberkatan. Jika sebaliknya, seperti yang saya katakan bahwa ucapan selamat tahun baru kita sifatnya hanya formalitas saja. Dengan melaksanakan tahajjud dan shalat subuh berjamaah pada awal tahun baru tidak lantas akan meliputi kebaikan sepanjang tahun, melainkan kebaikan hakiki akan tercapai jika kita sedapata mungkin melaksanakan upaya tersebut sepanjang tahun. Semoga Allah ta’ala memberikan taufik kepada kita dan semoga pada hakikatnya tahun ini dapat membawa keberkatan yang tak terhingga dalam kehidupan pribadi kita dan semoga dapat juga menyaksikan kemajuan Jemaat yang gilang gemilang.

Kemudian, saya akan menyampaikan topik lain. Sebagaimana kita ketahui bahwa tahun Waqf-e-Jadid dimulai pada bulan Januari dan pada jumat pertama atau kedua bulan januari biasanya disampaikan pengumuman tahun Waqf-e-Jadid. Dengan karunia Allah Ta’ala, pengorbanan harta merupakan keistimewaan tersendiri dari Jemaat Hazrat Masih Mau’ud (as). Mengapa bisa demikian? Karena Hazrat Masih Mau’ud (as) pada  zaman ini telah memberikan pemahaman khas kepada kita perihal pengurbanan harta berdasarkan hukum-hukum Al Quran dan sabda-sabda Rasulullah Saw.

Di berbagai tempat di dalam Al-Quran, Allah ta’ala telah menekankan untuk membelanjakan harta di jalan Allah. Hal itu bukanlah karena Allah Ta’ala memerlukan harta kita melainkan supaya kita mendapatkan manfaat darinya. Secara keseluruhan pun kita menyaksikan kemajuan Jemaat dan Jemaat pun mendapatkan manfaatnya. Allah ta’ala berfirman dalam Al Quran, فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ ۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۡ ”Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang sukses.” (Surah at-Taghabun, 64:17)

Pada ayat berikutnya [di Surah yang sama], Allah Ta’ala berfirman, مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.

Demikianlah, Allah Ta’ala mengganjar orang-orang yang membelanjakan hartnya dijalan-Nya dengan balasan berlipat. Dari pengurbanan harta inipun terdapat manfaat bagi individu dan juga bagi kemajuan Jemaat yang juga menjadi sarana bagi kemajuan individu.

Demikian pula, Baginda Nabi Muhammad (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, saw) bersabda, وَإِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ ، فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ “Jauhilah kekikiran, karena kebakhilanlah yang telah membuat kaum terdahulu binasa.”[2] Beliau (saw) juga telah bersabda dalam satu kesempatan, اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ وَالْقَلِيلِ مِنْ الصَّدَقَة “Selamatkan diri dari api neraka dengan memberi sedekah, bahkan jika itu adalah melalui memberikan sepotong buah kurma dan sedikit sedekah.”[3]

Pengorbanan harta di jalan Allah Ta’ala walaupun sedikit, dengan niat untuk meraih keridhaannya, dapat menyelamatkan kita dari api. Jadi pengurbanan harta ini adalah untuk kemanfaatan kita.

Dalam menjelaskan perihal keutamaan pengorbanan harta, Hazrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Tidaklah mungkin bagi kalian untuk mencintai harta dan Allah Ta’ala dalam satu waktu. Kalian hanya dapat mencintai salah satunya. Jadi, beruntunglah orang yang mencintai Allah Ta’ala. Jika diantara kalian ada yang mencintai Allah ta’ala lalu membelanjakan harta di jalan-Nya, maka saya pastikan hartanya akan diberkati melebihi orang lain, karena harta tidak datang dengan sendirinya, melainkan datang atas kehendak Tuhan. Walhasil, siapa yang menyisakan sebagian hartanya demi Allah Ta’ala, pasti ia akan mendapatkannya.

Namun, siapa yang mencintai harta dan tidak menggunakan hartanya untuk pengkhidmatan di jalan Allah sebagaimana harusnya, pasti orang itu akan kehilangan hartanya dan menjadi sia-sia. Jangan beranggapan bahwa harta datang berkat usahamu, melainkan harta datang dari Allah Ta’ala. Jangan juga beranggapan bahwa setelah memberikan sebagian harta atau melakukan pengkhidmatan dalam corak lain, berarti kalian telah berbuat ihsan (baik) kepada Allah ta’ala. Melainkan itu adalah ihsan dari Allah ta’ala yang telah memilih kalian untuk pengkhidmatan ini.”

Beliau (as) bersabda, “Ketahuilah dengan pasti bahwa ini adalah pekerjaan langit dan pengkhidmatan kalian semata-mata hanya untuk kebaikan kalian.”[4]

Dengan karunia Allah Ta’ala, ruh pengorbanan dan pengkhidmatan ini telah difahami oleh orang-orang yang baiat kepada Hazrat Masih Mau’ud (as). Mereka memahami dengan baik dan memberikan perhatian untuk terdepan dalam pengorbanan. Diantara mereka tidak hanya yang sudah baiat sejak lama bahkan para mubayyiin baru pun memahami ruh pengorbanan harta dan hakikatnya. Ada juga orang-orang yang hidup dalam kemiskinan yang sangat, namun tidak tertinggal dari orang lain dalam pengorbanan harta. Mereka memberikan pengorbanan seperti yang telah dilakukan para sahabat Hazrat Masih Mau’ud (as) pada masa beliau.

Ada beberapa contoh pengorbanan mereka, sehingga berkenaan dengannya Hazrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Saya melihat ketulusan dan kasih sayang dari para Jemaat saya dengan takjub karena orang-orang yang sangat miskin (melarat) diantara mereka seperti Mian Jamaludin, Khairuddin, dan Imamuddin asal dari Kashmir yang tinggal di dekat desa saya merupakan tiga orang saudara (sahabat) yang amat miskin. Mereka mungkin memiliki upah sebagai penghasilan sejumlah tiga hingga empat anna (satu Anna = 1/16 Rupee, 16 Anna berarti 1 Rupee) setiap harinya, tapi mereka aktif berkontribusi dalam pembayaran candah setiap bulannya.” [5]

Itu merupakan pengorbanan para leluhur saleh kita pada masa itu untuk penyebaran agama yang mana pada saat ini generasi keturunan mereka hidup dengan kelapangan. Seperti yang telah saya katakan bahwa ruh inilah yang tampak kepada kita pada masa ini di beberapa tempat, bahkan di banyak tempat. Tampak juga hal ini di dalam diri orang-orang miskin yang tinggal jauh di sana yang notabene lahir atau menjadi Ahmadi 100 tahun sepeninggal Hazrat Masih Mau’ud (as) padahal diantara mereka belum pernah berjumpa secara langsung dengan Khalifah-e-Waqt.

Namun diri mereka sedemikian rupa dipenuhi oleh kecintaan yang dalam kepada agama, ketaatan kepada khilafat, janji setia dan janji baiat mereka kepada Hazrat masih Mauud dan semangat pengorbanan demi agama, sehingga takjub dibuatnya. Jika hanya dilihat dari sisi itu saja sudah cukup sebagai satu bukti kebenaran Hazrat Masih Mau’ud (as). Selain Dzat Allah ta’ala, tidak ada yang dapat menciptakan gejolak seperti itu di dalam diri manusia.

Akan saya sampaikan beberapa kisah pengorbanan para Ahmadi dan bagaimana perlakuan Allah Ta’ala kepada mereka, diantaranya sebagai berikut: Ada seorang Ahmadi di Ghana bernama Bpk. Rampong menuturkan, “Beberapa tahun lalu saya harus membayar biaya Pendidikan sebesar 5000 pound. Saat itu pun saya sudah bekerja, namun gaji saya tidaklah besar. Jika saja saya kumpulkan gaji saya selama satu tahun maka tetap masih belum cukup jumlahnya. Lalu, saya mendapatkan pinjaman dari bank sebesar 3000 pound, sehingga 40 % dari jumlah gaji saya dibayarkan untuk mencicil pinjaman tersebut. Meskipun demikian saya tetap membayar candah sesuai dengan jumlah penghasilan saya (Beliau tidak peduli sudah terpotong 40 % untuk cicilan pinjaman)

Suatu hari saya pergi ke rumah misi Jemaat di Kumasi, sebuah kota di Ghana. Pak Muballigh mengingatkan saya perihal Waqf-e-Jadid yang telah saya janjikan. Saat itu saya memasukkan tangan ke saku dan uang yang ada disaku saya mencukupi untuk membayar jumlah perjanjian, namun saya fikir jika saya bayarkan uang ini untuk candah, maka tidak aka n cukup uang untuk ongkos pergi ke tempat kerja dalam beberapa hari kedepan. Namun tetap saya bayarkan uang itu untuk melunasi candah lalu pulang ke rumah. Ketika dalam perjalanan pulang saya mendapatkan pesan di Handphone bahwa ada sejumlah uang yang tertransfer ke rekening saya yang jumlahnya 5 kali lipat dari jumlah uang yang saya bayarkan untuk candah. Sebagaimana Hazrat Masih Mau’ud (as) telah bersabda bahwa Allah Ta’ala mengembalikannya berlipat ganda.

Saya pikir mungkin saja ini kesalahan pihak bank dan nanti akan menarik kembali uang itu dari rekening saya, karena gaji bulan itu sudah saya dapatkan sebelumnya. Namun ketika saya pergi ke tempat kerja esok harinya, diketahui bahwa uang tersebut dari pemerintah, yakni kewajiban yang harus dibayarkan pemerintah beberapa bulan lalu. Saya bersyukur kepada Tuhan atas hal itu, Allah Ta’ala telah memberikan saya semangat untuk melunasi candah meskipun ada perasaan khawatir di benak saya. Semenjak itu saya selalu memperhatikan dengan baik perihal janji pengorbanan dan pelunasannya.”

Kemudian, ada seseorang yang tinggal jauh di pelosok di negeri Afrika sana. Burkina Faso adalah negeri di Afrika yang penduduknya berbahasa Perancis. Muballighnya menulis, “Seorang khadim mubayi baru di kota Bobojalaso bernama Bpk. Zudi sejak beberapa masa sangat gelisah karena terserang depresi. Hal itu membuatnya biasa mengonsumsi obat tidur. Kondisinya semakin parah.

Suatu ketika beliau datang ke rumah misi, mengatakan, ‘Berapa yang harus dibayarkan untuk candah Tahrik jadid dan Waqf-e-Jadid, saya ingin membayarnya.’

Pak Muballig menjawab, ‘Silahkan berikan sesuai kemampuan.’

Lalu Zudi sahib berkata, ‘Berapa idealnya?’

Kemudian, diberitahukanlah oleh Bpk. Muballig. Beliau kemudian melunasinya dengan senang hati lalu pergi.

Beberapa hari kemudian beliau datang lagi ke rumah misi, mengatakan: Sebelum ini saya sakit, namun berkat candah kondisi saya jauh lebih baik saat ini. Sekarang saya sudah tidak lagi mengkonsumsi obat tidur dan merasakan ketentraman jiwa. Setelah baiat timbul kecintaan kepada Allah ta’ala, membayar candah, perhatian kepada ibadah sehingga Allah Ta’ala melimpahkan karunia-Nya. Padahal sebelum ini begitu parah kondisinya sehingga sempat berfikir untuk bunuh diri.”

Seorang anggota Jemaat UK menuturkan, “Beberapa waktu lalu saya mendapatkan telepon yang peneleponnya mengingatkan perihal pelunasan Tahrik Jadid. Disampaikan bahwa pada tahun lalu saya telah membayar sekian dan saya telah menuliskan perjanjian baru yang jumlahnya sedikit lebih besar dibanding tahun lalu.

Saat itu saya sama sekali tidak punya uang. Lalu, mulailah saya berdoa semoga Allah Ta’ala sendiri yang mengaturkan untuk ini.

Dua minggu kemudian saya mendapatkan surat dari departeman pajak yang isinya pemerintah mengembalikan sejumlah uang kepada saya karena dianggap uang yang saya bayarkan melampaui dari yang seharusnya. Padahal saya sendiri adalah seorang akuntan dan saya mengetahui dengan pasti perihal perhitungan pajak dan sebagainya. Namun Allah ta’ala telah mengaturkan datangnya uang tersebut secara mukjizat, karena menurut hemat saya, jumlah besaran pajak telah sesuai.

Beberapa bulan kemudian Bapak Ketua Jemaat menelepon saya lagi, mengingatkan perihal canda Waqf-e-Jadid. Saya mengatakan, ‘Tahun lalu saya telah membayar candah sekian. Lalu saya menulis perjanjian baru yang jumlahnya lebih besar dari tahun lalu.’

Kebetulan saat itu saya tidak punya uang, lalu saya mulai berfikir bahwa sebelum ini cara Allah Ta’ala membantu ialah dengan mengembalikan uang kelebihan pajak, namun saat ini tampak tidak ada celah lagi.

Setelah itu, saya berdoa, seminggu kemudian saya tengah mengecek dokumen-dokumen saya, tampak sebuah nota yang disertai dengan penawaran. Lalu saya telepon pihak perusahaan.

Berdasarkan keterangan pejabat perusahaan bahwa telah dibuatkan untuk saya free paid card yang mana terdapat sejumlah uang yang besarannya melebihi perjanjian candah saya. Dengan demikian Allah ta’ala telah mengaturkan bagi saya untuk dapat melunasi candah Waqf-e-Jadid.”

Dalam hal ini kisah-kisah tersebut tidak hanya dari Afrika saja, di sini [di Inggris, negara maju] pun dan di berbagai tempat Allah Ta’ala memperlihatkan pemandangan kepada mereka yang memiliki niat baik untuk melunasi candahnya.

Muballigh Burkina Faso, Bpk. Basharat Ali menulis, “Seorang mubayi baru dari Boromor Region, Bpk. Adam telah diingatkan perihal Waqf-e-Jadid. Sebelum baiat ia biasa membayarkan sejumlah uang untuk para Maulwi (ulama) setiap tahun di kampungnya. Setelah baiat ia bayarkan untuk candah. Ayah beliau marah ketika mengetahui hal itu. Setelah itu ayah beliau memberikan sebidang tanah dan memisahkannya.

Ketika Bpk. Adam menuai panen tahun ini, dengan karunia Allah ta’ala panennya sangat baik. Sedangkan di tempat lain, disebabkan oleh tingginya curah hujan, sehingga hasil panen rusak. Meskipun menghadapi hal yang sama, namun panen Bpk. Adam baik, sedangkan panen ayah dan kerabat beliau rusak disebabkan hujan. Bpk. Adam membantu ayah beliau untuk menyemaikan benaih dan memberikan sebagian hasil panennya kepada ayahnya.

Bpk. Adam adalah seorang Muslim yang lalu masuk Ahmadiyah. Atas hal itu ayah beliau mengatakan, ‘Disebabkan oleh candah tentunya Allah Ta’ala telah menurunkan karunia-Nya kepada Jemaatmu dan padamu. Jemaat kamu benar, tetaplah di dalam Jemaat, kondisi saya terpaksa, tidak dapat meninggalkan maulwi.’

Mereka telah terjerat dalam tradisi lama. Sementara itu pada tahun ini pun Bpk. Adam membayar dua kali lipat candah.

Di satu kampung, di distrik Kyang di Gambia, para penentang Jemaat berusaha untuk membuat para Ahmadi keluar dari Jemaat. Mereka mengatakan berhasil dalam mengeluarkan para Ahmadi dari Jemaatnya. Atas hal itu anggota kita bernama Jalu sahib mengatakan kepada pak Muallim, “Upaya para maulwi ini berperan sebagai pupuk, karena sebelum adanya penentangan saya tidak aktif dalam Jemaat, namun saat ini tidak hanya membayar candah Tahrik dan Waqf-e-Jadid bahkan saya pun telah masuk dalam gerakan Al Wasiyat yang beberkat. Para penentang berupaya menghapuskan Jemaat, namun justru penentangan tersebut dapat melipat gandakan keimanan para Ahmadi.”

Seorang Ahmadi dari negeri Guinea Conakry bernama Akubi menuturkan, “Tahun lalu bapak Missionary Incharge menyampaikan khutbah Huzur berkenaan dengan kisah-kisah pengorbanan harta Waqf-e-Jadid, setelah mendengarnya hati saya sangat tersentuh.

Hari berikutnya, saya pergi ke Sierra Leon dalam rangka bisnis. Saya hanya memiliki 300 dollar untuk perjalanan tersebut dan saat itu saya sangat memerlukan uang. Meskipun demikian saya pisahkan 100 dollar lalu dimasukkan ke amplop untuk Waqf-e-Jadid. Setelah itu saya mengerjakan pekerjaan lain sehingga lupa mengirimkan amplop tersebut.

Waktu belum berlalu dua jam, ada orang yang masuk ke kantor saya lalu memberikan amplop kepada saya dan berkata, ‘Ini kiriman dari kawan anda.’

Ketika saya buka amplop tersebut, di dalamnya ada uang sejumlah 300 dollar dan tertulis, ‘Kamu akan melakukan perjalanan, saya kirimkan uang ini untuk biaya perjalanan.’

Ketika itu saya langsung teringat belum saja saya mengirimkan uang 100 dollar itu untuk Waqf-e-Jadid, namun bagaimana Allah Ta’ala telah mengembalikannya dengan berlipat. Saat itu hati saya dipenuhi rasa syukur ke hadirat Allah Ta’ala, karena Dia telah memberikan taufik kepada kami untuk baiat kedalam Jemaat Hazrat Masih Mau’ud (as).”

Demikian Allah Ta’ala terus meningkatkan keimanan orang-orang. Hazrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Mereka paham harta datangnya dari Allah Ta’ala.”

Muballigh wilayah Boiko, Benin menulis, “Seorang ketua Jemaat bernama Bpk. Ahungan Jesak mengatakan bahwa beliau memiliki hutang yang jumlahnya cukup besar. Pada saat itu Muallim setempat melakukan kunjungan dan menekankan pembayaran candah Waqf-e-Jadid serta memberitahukan bahwa tahun perjanjian akan segera berakhir, bagi siapa yang belum melunasi, diharapkan segera melunasinya.

Pak ketua mengatakan, ‘Saat itu saya tidak memiliki cukup uang, namun selain hutang saya pun memikirkan untuk melunasi candah Waqf-e-Jadid. Saat itu saya menyerahkan seluruh uang yang ada di saku saya sebesar 500 frang lalu pulang. Saya terus berdoa dan memikirkan bagaimana dapat melunasi hutang. Pada hari berikutnya saya mendapatkan pekerjaan (proyek) untuk beberapa hari saja dan imbalan yang dijanjikan sedikit melebihi jumlah hutang saya. Lalu saya mengerjakan proyek itu dan berakhir dalam beberapa hari. Saya dapat melunasi seluruh hutang dengan imbalannya, begitu juga saya dapat memenuhi keperluan rumah tangga. Saya meyakini bahwa ini merupakan keberkatan candah.’”

Orang-orang ini tidak menganggap hal itu sebagai kebetulan melainkan mereka yakin bahwa Allah-lah yang mengaturnya.

Muballig wilayah Sakaso, di Mali menulis, “Ada seorang mubayyi baru, Bpk. Abu Bakr menuturkan, ‘Setelah baiat masuk Jemaat saya merasakan keberkatan candah yang luar biasa. Ketika tiba musim hujan, putra saya kambuh penyakit yang parah setiap tahunnya dan untuk mengobatinya cukup banyak biaya yang dikeluarkan. Kami dibuatnya gelisah begitu juga terpaksa harus mengambil cuti terpisah dari pekerjaan. Namun semenjak mulai membayar candah, dengan karunia Allah ta’ala, anak itu tidak sakit lagi dan tidak ragu sedikit pun bahwa ini semata-mata disebabkan membelanjakan harta di jalan Allah.’”

Muballig wilayah San Pedro, Ivory Coast menulis, “Beberapa penduduk di desa Kaelifa mendapatkan taufik untuk baiat masuk Jemaat. Pada bulan November 2018 kami mengunjungi desa tersebut. Kami bermalam di sana dan bertabligh sampai larut malam. Cukup banyak ghair Ahmadi yang hadir pada kesempatan itu. Setelah itu kami melaksanakan shalat subuh di rumah seorang Ahmadi bersama para Ahmadi lainnya. Setelah daras disampaikan kepada para Ahmadi tersebut bahwa bulan depan merupakan akhir perjanjian Waqf-e-Jadid. Segenap para Ahmadi harus berusaha untuk ambil bagian.

Setelah daras para Ahmadi pulang ke rumah masih masing. Saya berpikiran karena mereka ini orang-orang yang sederhana sehingga jika mereka membayar candah 5000 francsiva saja sudah cukup bagi mereka. Namun ketika saya akan pulang, saya terheran heran dibuatnya, ada seorang Ahmadi yang datang menghampiri saya mengatakan, ‘Mohon maaf, saat ini panen masih belum siap, kondisi pun masih sulit, untuk itu kami hanya dapat menyerahkan sejumlah 17.000 frang siva saja, mohon doa semoga Allah Ta’ala memberikan keberkatan dalam usaha atau panen kami, sehingga kami dapat membayar candah lebih.’”

Inspektur Maal India, Bpk. Iqbal menulis, “Saya telah menghimbau perjanjian Waqf-e-Jadid di Jemaat Kamoridi. Seorang pemuda saat itu melunasi candahnya. Setelah itu beliau mendapatkan kabar bahwa beliau telah mendapatkan sejumlah uang yang besar yang telah ia tunggu-tunggu sejak 8 lebih tahun lamanya. Begitu lamanya penantian yang beliau lakukan, sehingga sudah tidak berharap lagi akan mendapatkannya. Tidak hanya mendapatkan uang tersebut, bahkan status yang tadinya merupakan pekerja sementara, sekarang sudah menjadi pekerja tetap. Beliau sangat bahagia dan mengatakan bahwa mukjizat ini semata-mata disebabkan oleh pengorbanan di jalan Allah.

Beliau mengatakan, ‘Mulai hari ini saya akan berikan penghasilan lima belas hari kerja saya untuk candah setiap tahunnya.’”

Muballig Rumania, Eropa Timur menulis, “Bpk. Faheem, seorang Ahmadi lokal yang bekerja pada Romanian Tayloring sangat disiplin, suka hati dan tulus dalam membayar candah. Beliau tidak perlu lagi diingatkan untuk membayar candah. Beliau sendiri yang membayarkan candahnya tepat waktu. Ketika membayar candah, sangat memperhatikan kerapihan, dengan memberikan uang candah dalam amplop atau dilipat dalam kertas putih dan diatas amplop itu tertulis pengorbanan harta.”

Beliau menulis surat kepada saya (Huzur atba) di dalamnya menuliskan kesaksiannya.  Beliau juga menyebutkan Muballigh kita di sana. Beliau menuturkan, “Dengan karunia Allah ta’ala saya dawam membayar candah. Semenjak membayar candah, saya perhatikan berkat membayarkan candah dengan keridhaan, pelanggan saya terus meningkat jumlahnya. Begitu juga penghasilan saya meningkat.

Di satu sisi saya membelanjakan harta di jalan Allah dari saku saya, di sisi lain Allah Ta’ala mengembalikan lagi uang tersebut ke saku saya dengan melipat gandakannya, karena berkat membayar candah, meningkat jumlah pelanggan yang menggunakan jasa saya.”

Walhasil, inilah orang-orang yang meskipun mereka hidup di negeri Eropa yang kental dengan duniawi, namun, ketika Allah ta’ala memasukkannya kedalam Jemaat, Allah menganugerahkan hujan karunia-Nya dan keimanan yang matang.

Inspektur Maal di India, Bpk. Salim menulis, “Di Jemaat Jaypur ada seorang Ahmadi yang berprofesi sebagai guru di sekolah swasta. Tahun lalu beliau diingatkan perihal candah Waqf-e-Jadid bahwa perjanjiannya dilihat dari penghasilan seyogyanya 5000 rupees.

Beliau mengatakan, ‘Saya seorang guru di sekolah swasta, belum mampu untuk membayar sebanyak itu.’

Dikatakan kepada beliau bahwa semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada anda.

Ketika menemui beliau pada tahun ini, beliau menjabat sebagai kepala sekolah di sekolah yang sama. Beliau mengatakan, ‘Berkat candah, Allah Ta’ala sedemikian rupa mencurahkan keberkatan kepada saya sehingga saya dapat membeli sekolah ini.’

Lalu disampaikan juga kepada beliau untuk meningkatkan perjanjiannya supaya Allah ta’ala memberikan taufik kepada anda untuk membeli lagi sekolah lainnya.

Beliau mengatakan, ‘Saat ini tengah terjadi perbincangan untuk membeli sekolah lainnya lagi, pemilik sekolah sudah menelpon saya hari ini, meminta saya untuk mengambil kuncinya.’

Saat ini beliau memiliki 4 sekolah. Sebelumnya atap rumah beliau sederhana dan rumahnya kecil. Namun sekarang dengan karunia Allah ta’ala memiliki rumah tiga tingkat yang diantaranya satu lantai beliau gunakan untuk ibadah Jumat.”

Karunia ini semata-mata berkat pengorbanan di jalan Allah dan keimanannya pun semakin bertambah.

Bpk. Amir Jemaat Liberia menuturkan, “Pada bulan desember tim tabligh kami berkunjung ke sebuah desa bernama Sokartown. Bedasarkan jarak tidaklah jauh dari kota Manrawayya, namun masih luput dari fasilitas kemudahan. Jalan tempuh pun masih sulit. Untuk sampai di desa tersebut kita harus melewati jembatan bambu dan tali. Setelah shalat dimulailah tabligh, kami sampaikan tabligh Hazrat Masih Mau’ud (as) dan visi-misi Jemaat Ahmadiyah.

Saat itu ada orang tua yang berdiri lalu menceritakan mimpinya, beliau menuturkan, ‘Beberapa hari lalu saya melihat mimpi langit rubuh, ratapan tangis terdengar dimana-mana. Saat itu ada mobil berhenti di jalan yang di dalamnya ada orang duduk berpakaian putih, orang itu menyeru kami, “Datanglah kemari, kami akan beikan keselamatan kepada kalian.” Selesailah mimpi itu. Setelah itu saya merenung, bagaimana mimpi ini, apa artinya. Dengan kehadiran tuan-tuan kemari, sekarang saya paham arti dari mimpi tersebut. Saya sudah tua, pertama kali saya melihat orang bukan Afrika berpakaian putih yang datang menyampaikan tabligh Islam.’

Lalu semua hadirin yang hadir di sana memutuskan untuk baiat masuk kedalam Jemaat. Saat itupun merupakan tahun terakhir perjanjian Waqf-e-Jadid. Lalu dihimbau kepada mereka untuk memperhatikan candah. Setelah baiat itu mereka membayar candah dan keimanan dan keikhlasan mereka pun bertambah.”

Sadr Lajnah Imaillah Kanada menulis, “Ketika kunjungan ke suatu Jemaat, seorang LI memberitahukan bahwa putrinya yang masih berumur 12 tahun mendapatkan hadiah uang dari sekolah sebesar 80 dollar. Ia ingin membeli sesuatu dengan uang tersebut. Namun setelah dihimbau oleh sekr Waqf-e-Jadid anak itu memberikan semua uang itu untuk candah. Lalu bagaimana Allah Ta’ala membalasnya, yakni pada keesokan harinya dalam Abdus Salam Science Fair ia mendapatkan juara pertama dan mendapatkan hadiah sebesar 300 dollar. Dengan demikian Allah ta’ala telah mematangkan keimanan dan keyakinan anak tersebut.”

Sebagian anak saat ini sudah mulai bermain game baru fortnight. Mereka menyia-nyiakan uang untuk itu. Hendaknya para orangtua melarangnya. Begitu juga badan-badan Jemaat khususnya khuddam dan athfal, karena untuk masuk dari satu tahap ke tahap lainnya, menggunakan kartu pembayarannya. Bahkan beberapa hari lalu ada sebuah artikel terdapat penelitian bahwa telah dibuat satu kelompok yang melakukan pendekatan kepada anak-anak, membujuknya. Lalu meminta nomor rekening bank orang tua si anak dan beberapa waktu kemudian orang tua anak baru menyadari bahwa uangnya di rekening telah hilang karena game tersebut yang membuat anak kecanduan. Tidak hanya waktu anak-anak menjadi sia-sia dan timbul berbagai fikiran yang keliru bahkan sebagian orang tuapun merugi dibuatnya. Hendaknya dihindari. Adapun sesuatu yang Allah ta’ala tekankan yakni untuk berkorban harta di jalan-Nya timbulkanlah kesadaran itu didalam diri anak-anak khususnya Waqf-e-Jadid.

Inspektur Maal Sahib di Wilayah Karnataka, India menulis, “Telah diadakan Refresher Course di daerah Karnatak. Saya yang lemah ikut serta dalam acara tersebut disertai Naib Nazim Maal Waqf-e-Jadid. Naib Nazim maal menuturkan di rumah Muallim setempat bahwa sepanjang tahun curah hujan di Kerala (India Selatan) sangat tinggi sehingga menimbulkan banyak kerugian. Efeknya berpengaruh juga dalam penerimaan candah Waqf-e-Jadid.

Sepulang dari rumah pak Muallim, Naib Nazim Maal memberikan uang kepada dua anak pak Muallim sebesar 100 rupees per anak. Setelah waktu berlalu, ketika saya berkunjung lagi ke daerah itu, kedua anak pak Muallim itu memberikan uang yang dihadiahkan kepada mereka itu untuk Waqf-e-Jadid lalu mengatakan, ‘Karena kondisi Kerala saat ini tidak baik disebabkan oleh banjir, untuk itu terimalah uang ini dari kami sebagai candah.’

Meskipun masih anak-anak namun di dalam diri mereka sudah timbul kesadaran akan keutamaan candah.”

Seorang anggota Lajnah Imaillah di UK menuturkan, “Saya mendapatkan taufik baiat pada tahun 2010. Karena baiat, saya diusir dari rumah. Saat itu saya tidak punya pekerjaan, dan hal itu membuat saya malu karena saya tidak dapat membayar candah. Padahal tahun pertama belum diwajibkan membayar candah bagi para mubayyiin baru. Saya berjanji jika saya mendapat pekerjaan nanti, saya akan membayar candah terhitung sejak tanggal saya baiat. Beberapa bulan kemudian saya mendapat pekerjaan.”

Saya mulai membayar candah. Merupakan keberkatan candah, dengan karunia-Nya yang mana dalam satu tahun saya mendapatkan tiga kali kenaikan gaji. Beberapa masa kemudian, orang tua yang telah memutuskan hubungan dengan saya, saat itu kami berhubungan baik lagi dan hubungan kami sangat baik. Sayapun dapat menikah dan dengan karunia Allah Ta’ala saya mendapatkan kemudahan dalam segala hal.

Muallim lokal Capemount County di Liberia menulis, “Telah dihimbau untuk membayar candah Waqf-e-Jadid di Nagbina. Beberapa hari kemudian seorang anggota Lajnah Imaillah yang mukhlisah bernama Ibu Mosokumara mengatakan, ‘Ketika anda menyampaikan perihal keberkatan pengorbanan harta dan candah Waqf-e-Jadid, orang-orang membayar candahnya. Namun saat itu saya tidak punya uang, sehingga tidak dapat ikut serta dalam gerakan tersebut. Pada malam tadi saya bermimpi tuan-tuan datang lagi kemari lalu saya memberikan 100 dollar Liberian untuk candah. Ketika bangun subuh saya heran karena saya tidak punya uang, bagaimana bisa melunasi candah.

Berikut adalah karunia Allah ta’ala, beberapa saat yang lalu datang seseorang lalu memberikan uang 500 dollar Liberian kepada saya dan mengatakan kepada saya bahwa uang ini adalah kiriman anak saya. Untuk menggenapi mimpi tersebut saya datang kemari untuk membayarkan 100 dollar.’”

anyak sekali kisah-kisah demikian bahkan wanita yang berperan mengishlah (memperbaiki) para suaminya dan menekankan mereka untuk membayar candah dan mereka lebih memahami keutamaan candah ini daripada kaum pria.

Dari Guinea Konacry, Bpk. Abu Bakr, salah seorang ketua Jemaat yang bergelut di bidang pertanian, menulis, “Ketika saya baru baiat, para muballigh dan muallim sering menekankan kepada saya untuk membayar candah, namun saya biasa membayar jumlah yang tidak banyak. Semenjak itu istri saya mulai disiplin dalam pengorbanan harta dan dawam dalam membayar candah, dan menekankan kepada saya untuk membayar candah.

Namun saya selalu menghindar dengan menjawab, ‘Nanti saja kalau uang kita sudah banyak, saya akan rajin bayar candah.’

Lalu istri saya mengatakan bahwa uang akan banyak jika kita memenuhi hak Allah ta’ala. Seperti itulah istri saya menekankan saya untuk membayar candah.

Semenjak saya mulai membayar candah sesuai dengan aturan, saya melihat turunnya karunia seperti hujan. Orang-orang yang lebih berpendidikan dari saya dan bergelar lebih tinggi dari saya tidak mendapatkan panen sebanyak seperti yang Allah ta’ala anugerahkan kepada saya yang lemah dan bodoh ini. Sejak saat itu saya biasa membawa hasil panen setelah terlebih dahulu menghitungnya dan membayarkan candahnya melalui Bapak Muballigh.

Muballig wilayah di Ivory Coast (Pantai Gading) menulis, “Seorang Ahmadi, Bpk. Zablu mendapatkan taufik untuk baiat melalui mimpi. Setelah baiat beliau rutin menyimak khutbah dan menjadi seorang dai yang semangat. Beliau biasa mengeluarkan biaya sendiri atau membeli literatur Jemaat lalu diberikannya kepada ghair Ahmadi.

Bpk. Zablu bekerja di hotel dengan kedudukan yang baik. Namun saat ini beliau tidak punya pekerjaan, sehingga istrinya lah yang membantu beliau dalam membaiayai kebutuhan rumah tangga.

Beberapa hari lalu Zablu menelepon saya (Muballig shab) mengatakan, ‘Saya kirimkan uang sebesar 30 ribu frang siva untuk Waqf-e-Jadid.’

Saya katakana, ‘Saat ini kondisi ekonomi tuan belum baik, untuk itu tidak perlu membayar dalam jumlah banyak dulu, uang yang akan tuan berikan cukup besar untuk tuan dan jalsah salanah juga sudah dekat waktunya.’

Zablu sahib menjawab, ‘Saya sudah katakan kepada istri saya bahwa kita akan bayar 20 ribu frang saja, namun istri saya bersikeras supaya saya membayar 30 ribu frang.’

Dengan karunia Allah Ta’ala beliau ikut serta dalam jalsah. Banyak sekali para wanita yang menekankan para suaminya untuk berkurban harta.

Ketua salah satu Jemaat di Australia menulis, “Seorang Ahmadi telah melunasi candah Waqf-e-Jadid. Suatu ketika beliau diingatkan lagi secara khusus untuk melunasi tunggakan yang masih tersisa. Beliau dihubungi lalu beliau membayar candah dalam jumlah yang besar. Pada hari berikutnya sore hari beliau menelepon, mengatakan dengan penuh haru, ‘Candah Waqf-e-Jadid yang telah saya berikan kemarin, telah mendapatkan ganjaran dalam satu hari dari Allah ta’ala. Saya menjalankan usaha bisnis paket makanan sejak 3 tahun lalu, selama itu tidak pernah saya mendapatkan pembeli sebanyak seperti kemarin setelah saya membayar candah.’”

Demikian juga kisah dari Indonesia. Bagaimana keteguhan iman seseorang sehingga kita takjub dibuatnya. Di Indonesia ada seorang mubayi baru yang baiat pada tahun 2016. Paska baiat beliau mendapatkan penentangan keras dari keluarga dan tetangga. Sampai-sampai suatu hari beberapa anggota keluarganya datang, memukulinya dan memaksa untuk keluar dari Jemaat. Beliau dilarang untuk berjumpa dengan muballigh Jemaat. Setelah itu beliau biasa menjumpai muballigh secara diam-diam.

Pak Muballig menasihatinya, “Kita terkadang harus berkurban seperti ini setelah masuk kedalam Jemaat.”

Beliau mengatakan, “Saya akan siap memberikan pengorbanan ini, sekalipun penentangan terus meningkat.”

Kepada beliau pun dijelaskan perihal keutamaan pengorbanan harta. Beliau mulai membayar candah sebulan paska baiat. Saat itu beliau belum punya pekerjaan tetap, namun meskipun demikian berapapun upah yang beliau dapatkan dari pekerjaan kecil kecilan, segera beliau pisahkan sebagiannya untuk candah. Beliau secara sembunyi sembunyi datang ke rumah misi. Sebelum sampai di rumah misi beliau mengelilingi berbagai kampung dulu supaya tidak ada yang melihat beliau pergi ke rumah misi. Dalam kondisi demikian pun beliau tetap berhubungan dengan Jemaat secara rutin dan datang untuk membayar candah.

Ada satu kisah lagi dimana menggambarkan seorang non Ahmadi pun bagaimana tergerak oleh Allah ta’ala terkadang. Muballig Jemaat Mali menulis, “Suatu saat tengah berlangsung khutbah Huzur di radio Ahmadiyah berkenaan dengan Waqf-e-Jadid. Saat itu tengah diputar rekaman khutbah tahun lalu. Seorang kepala kampung yang jaraknya 45 km dari kota menelepon saya menyampaikan undangan untuk bertabligh ke kampungnya.

Ketika kami berangkat untuk tabligh ke desa tersebut, kepala kampung tadi mengatakan dengan penuh haru, ‘Ketika Khalifah menyampaikan kisah-kisah pengorbanan Waqf-e-Jadid yang menggugah keimanan di berbagai Negara. Setelah mendengar memberikan dampak yang luar biasa di kalangan warga kampung.’

(Sebagaimana telah saya [Huzur atba] sampaikan mereka mendengarkan khotbah-khotbah saya melalui Radio.)

‘Kami sangat menyesalkan karena meski kami mendengar dan menyimak, namun kenapa sampai saat ini kami belum ambil bagian dalam gerakan yang beberkat ini. Untuk itu saya menelpon dan mengundang anda kemari.’

Saat itu diadakan program tabligh dan dengan karunia Allah ta’ala, pada hari itu juga 85 orang baiat masuk Jemaat dan saat itu juga penduduk kampung mempersembahkan pengorbanan beberkat Waqf-e-Jadid dalam bentuk sekarung jagung dan 1000- frang.”

Bagaimana Allah ta’ala tidak hanya menyampaikan tablig Hazrat Masih Mau’ud (as) kepada orang-orang bahkan Dia pun melahirkan para penolong juga.

Muballig wilayah Benin menulis, “Telah disampaikan himbauan kepada Jemaat Lokosa untuk pengorbanan Waqf-e-Jadid. Beberapa hari berikutnya diadakan jalsah wilayah juga. Anngota dihimbau juga untuk dapat hadir.

Ketua Jemaat, Bpk. Ghafar menemui saya dan mengatakan, ‘Saya telah menabung untuk dapat pergi ke jalsah. Namun membayar candahpun adalah perlu. Apa yang harus saya lakukan?’

Saya (Muballigh Benin) katakan kepada beliau, ‘Silahkan tuan ikut serta hadir dalam jalsah, Allah ta’ala akan menurunkan karunia-Nya, untuk candah bayar nanti saja, tidak perlu sekarang.’

Ketika berjumpa dengan saya di jalsah, beliau memberikan sejumlah uangnya dan mengatakan, ‘Terimalah candah saya.’

Saya katakan kepada sekr maal untuk memberikan nota pembayaran. Sekretaris maal menuturkan bahwa uang yang diberikan oleh Bpk. Ghafar adalah uang yang beliau tabungkan untuk hadir di jalsah. Beliau sendiri dan keluarga sampai di jalsah ini dengan berjalan kaki sejauh 15 km.”

Inilah orang-orang yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepada Hazrat Masih Mau’ud (as) yang mendengar perkataan Allah ta’ala, Hazrat Rasulullah dan hazrat Masih mauud dan menciptakan sarana untuk mensucikan jiwa, mereka siap untuk melakukan setiap pengurbanan. Sebenarnya orang-orang seperti itulah yang melaksanakan hak baiat. Jika orang-orang yang buta itu diberikan akal oleh Allah Ta’ala, seharusnya tampak kepada mereka, bukankah kesetiaan ketulusan dan pengorbanan mereka merupakan bukti jelas dukungan Allah Ta’ala terhadap Hazrat Masih Mau’ud (as)?

Jika akal mereka tidak tertutupi, maka ini saja sudah sangat mencukupi sebagai bukti bahwa Hazrat Masih Mau’ud (as) adalah utusan Allah. Hazrat Masih Mau’ud (as) datang ke dunia ini untuk menyebarkan ajaran Hazrat Rasulullah saw. Seandainya umat Muslim itu memahami dan semoga demikian adanya, memahami hakikat, maka dengan karunia Allah ta’ala, Islam – insya Allah – akan dapat segera unggul di dunia ini dan kita akan menyaksikan kondisi Islam tidak akan seperti yang tampak saat ini yakni nama baiknya tercemar dan menjadi ajang olok-olokan. Namun, tugas kita adalah untuk memperbaiki diri masing masing, tunduklah dihadapan Allah Ta’ala dan sebanyak banyaknya menaruh perhatian kepada tabligh dan pengorbanan dan jelaskanlah hakikat Islam kepada dunia.

Selanjutnya saya akan menyampaikan beberapa rincian. Dengan karunia Allah Ta’ala tahun Waqf-e-Jadid ke-61 telah berakhir pada tanggal 31 Desember 2018 lalu. Di periode tersebut para anggota Jemaat Ahmadiyah mendapatkan taufik untuk mempersembahkan pengorbanan sebesar 9.134.000 Poundsterling. Penerimaan ini lebih besar 271.000 Poundsterling dari tahun sebelumnya. Pakistan tetap mempertahankan posisinya. Di luar Pakistan, 10 negara di peringkat teratas adalah UK (Britania Raya) di peringkat pertama. Pada Tahrik Jadid yang menduduki peringkat pertama adalah Jerman. Tn. Amir Jemaat di UK mengatakan waktu itu, “Insya Allah dalam Waqf-e-Jadid kami akan menjadi yang teratas.” Dan posisi teratas UK ini berbeda tipis saja dengan Jerman.

Semoga Allah Ta’ala memberikan keberkahan dalam harta dan jiwa para anggota Jemaat dan memberikan taufik kepada mereka untuk lebih maju lagi di masa yang akan datang. Kemudian di peringkat kedua ada Jerman, kemudian Amerika, selanjutnya Kanada. Kepada Jemaat Amerika pun saya mengatakan bahwa mereka hanya terpaut sedikit saja dari Kanada, jika mereka tidak berusaha lebih keras lagi maka akan turun ke peringkat ketiga atau mungkin lebih bawah lagi. Kemudian Kanada di peringkat keempat. Kemudian India, lalu Australia, selanjutnya Indonesia. Kemudian satu Jemaat di Timur Tengah. Kemudian Ghana. Kemudian satu Jemaat di Timur Tengah lagi.

Dan dari segi pembayaran per kapita Amerika menduduki peringkat pertama, kemudian berturut-turut Switzerland dan Australia.

Di Afrika dari segi total penerimaan, Ghana di peringkat pertama, kemudian berturut-turut Mauritius, Nigeria, Tanzania, Burkina Faso dan Benin.

Dengan karunia Allah Ta’ala di tahun ini 1.732.000 orang ikut serta dalam Waqf-e-Jadid dan jumlah orang yang ikut serta pada tahun ini bertambah 123.000 orang. Jemaat-Jemaat yang menonjol di dalam jumlah dan penambahan peserta diantaranya adalah Niger, Sierra Leone, Nigeria, Kamerun, Benin, Gambia, Kongo Kinshasa, Tanzania, Liberia dan Senegal.

Candah Balighan (dewasa) dan Athfal masing-masing terpisah dalam Waqf-e-Jadid. Hal ini telah dimulai khususnya di Pakistan dan Kanada. Tiga peringkat teratas Jemaat-Jemaat di Pakistan dalam kategori Balighan, peringkat pertama Lahore, kedua Rabwah, kemudian Karachi. Dan untuk wilayah-wilayah, yang pertama Sialkot, Islamabad, Faisalabad, Rawalpindi, Sargodha, Gujranwala, Multan, Haidar Abad, Mirpur Khas dan Dera Ghazi Khan.

Tiga besar Jemaat-Jemaat di Pakistan dalam kategori Daftar Athfal, peringkat pertama Lahore, kedua Karachi, ketiga Rabwah. Dan peringkat dari segi wilayah, Islamabad, Sialkot, Rawalpindi, Sarghoda, Gujranwala, Haidarabad, Dera Ghazi Khan, Sheikhupura, Umarkot dan Nankana Sahib.

Dari segi total penerimaan sepuluh besar Jemaat-Jemaat di UK, peringkat pertama Worcester Park, peringkat kedua Masjid Fazl, kemudian Birmingham South, Gillingham, Birmingham West, Islamabad, Hayes , Bradford Noth, New Malden dan Glasgow.

Dari segi wilayah, peringkat pertama wilayah London B, kemudian wilayah London A, kemudian wilayah Midlands, kemudian di peringkat empat wilayah North East, dan kelima wilayah Middlesex.

Terdapat laporan untuk UK pada kategori Daftar Athfal, di peringkat pertama Bradford South, peringkat kedua سر بٹن, kemudian Glasgow, روہیمپٹن, Islamabad, روہیمپٹن ویل, روہیمپٹن مچم پارک, بیٹرسی مولڈن مینرdan Mosque West.

Di antara keamiran lokal di Jerman, peringkat pertama Hamburg, kedua Frankfurt, kemudian Wiesbaden, kemudian Morfelden Walldorf, kemudian Dastanbagh.

Dari segi penerimaan peringkat sepuluh teratas Jemaat-Jemaat di Amerika, pertama Silicon Valley, kemudian Seattle, kemudian Detroit, Silver Spring, Central Virginia, Boston, Dallas, Lourel, Georgia, Carolina, York.

Kemudian dari segi penerimaan wilayah keamiran di Kanada, yang pertama Vaughan, yang kedua Calgary, Peace Village, Brampton dan Vancouver.

Dan Jemaat-Jemaat yang masuk sepuluh besar, Durham, Windsor, Bradfrod, Edmonton West, Saskatoon North, Saskatoon South, Montreal West, Milton West, Hamilton West, Abbotsford.

Peringkat lima besar Daftar Athfal yang pertama Durham, kemudian Milton West, kemudian Bradford, kemudian Hamilton South dan Saskatoon.

Di India, peringkat provinsi-provinsi dari segi penerimaan, Kerala, Jammu Kasymir, Karnataka, Telangana, Tamil Nadu, Odisha, West Bengal, Punjab, Delhi, Utarpradesh.

Dan peringkat Jemaat-Jemaat dari segi penerimaan, Hyderabad, Kalikut, Qadian, Pathapiriyam, Kolkata, Bangalore, Chenai, Karvalai, Rashti Nigar dan Delhi.

10 besar Jemaat di Australia dari segi penerimaan, Caste Hill, Melbourne Long Warren, Pezith, Melbourne Berwick, Marsden Park, Brisben, Adelaide South, Brisbane Logan, Canbera dan Plumpton.

Pada kategori Athfal peringkat Jemaat-Jemaat di Australia, Pezith, Adelaide South, Brisbane Logan, Melbourne Long Warren, Melbourne Berwick, Brisbane South, Marsden Park, Mount Druitt, Catke Hill, Melbourne East.

Karena nama-nama ini ditulis dalam tulisan Urdu, bisa saja saya keliru mengucapkannya, akan tetapi bagaimanapun informasi-informasi ini telah diperoleh Jemaat-Jemaat setempat.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan keberkatan kepada harta dan jiwa para partisipan di seluruh negara dan juga diberikan taufik untuk mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan yang tinggi di masa yang akan datang.

                                                      

 

 

                                                       Khotbah II

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah   : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Muhammad Hashim (Jakarta, Indonesia); Editor: Dildaar Ahmad Dartono (Indonesia). Referensi proof reading (baca ulang dan komparasi naskah) :http://www.islamAhmadiyya.net (bahasa Arab)

[1] Malfuzhat

[2] Musnad Imam Ahmad ibn Hanbal, Kitab tentang Musnad al-Mukatstsirin minash Shahabah.

إِيَّاكُمْ وَالظُّلْمَ ، فَإِنَّهُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَإِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ ، فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ.
– وفي رواية : اتَّقُوا الظُّلْمَ ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ

[3] Shahih Bukhari, Kitab tentang Zakat, Bab tentang ittaqun naar, no. 1417

[4] Majmu’ah Isytihaarat.

[5] Dhamimah Risalah Anjam-e-Atham, Ruhani Khazain jilid 11, h. 313-314.