Khotbah Jum’at

Hadhrat Khalifatul Masih Vatba

Tanggal 25 Desember 2009/Fatah 1388 HS

Di Baitul Futuh, London, U.K.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (١)الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢)الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (٣)مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (٤)إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (٥)اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦)صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)

اَفَمَنۡ شَرَحَ اللّٰہُ صَدۡرَہٗ  لِلۡاِسۡلَامِ  فَہُوَ عَلٰی نُوۡرٍ مِّنۡ رَّبِّہٖ ؕ فَوَیۡلٌ  لِّلۡقٰسِیَۃِ قُلُوۡبُہُمۡ مِّنۡ ذِکۡرِ اللّٰہِ ؕ اُولٰٓئِکَ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿۲۲﴾

 

Afaman syarohal-Lôhu shodrohû lil-islâmi fahuwa ‘alâ nûrim-mir-Robbih, fawaylul-lil-qôsiyati qulûbu-hum min dzikril-Lâh, ulâ-ika fî dholâlim mubîn [1]

Ayat yang telah saya tilawatkan terjemahannya adalah: Apakah orang-orang yang telah Allah bukakan dadanya untuk menerima Islam lalu ia tegak di atas cahaya (juga) dari Rabb-nya (apakah bisa serupa seperti orang-orang yang sama sekali kosong dari dzikir)? Maka celakalah bagi orang yang hatinya keras untuk mengingat Allah. Mereka itulah orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyata.

Petunjuk yang dibawa atau diberikan ini tidak diragukan lagi merupakan pekerjaan Allah Ta’ala. Sebagaimana di satu tempat Allah Ta’ala berfirman :

اِنَّکَ لَا تَہۡدِیۡ مَنۡ  اَحۡبَبۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ ۚ وَ ہُوَ اَعۡلَمُ بِالۡمُہۡتَدِیۡنَ ﴿۵۶﴾

‑innaka lâ tahdî man ahbabta walâkinnal-lôha yahdî may-yasyâ-.  Wa Huwa a’lamu bil-muhtadîn ‑[2]

Yakni, sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai. Tetapi Allah Ta’ala memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki. Dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Nûr yang dibawa Rasulullah saw., yakni petunjuk yang beliau saw. suguhkan di hadapan dunia berupa syariat yang berbentuk Al-Quran Karim dan diturunkan kepada beliau saw. merupakan keinginan beliau saw. supaya dunia menerima petunjuk itu. Dan dengan perantaraan cahaya yang turun kepada beliau saw. itu, mereka mengambil bagian dari cahaya tersebut, kemudian menyinari kalbu mereka, akhirnya mereka bisa meraih kedekatan dengan Allah Ta’ala. Beliau saw. mengetahui bahwa bentuk pengingkaran terhadap cahaya yang turun kepada beliau saw. itu akan menjadi faktor turunnya azab Ilahi. Dan beliau saw. mempunyai tabiat belas-kasih yang sangat luar biasa untuk umat manusia. Beliau saw. tidak tega jika ada manusia pergi dari dunia ini tanpa petunjuk lalu mendapatkan azab. Jadi ini merupakan keadaan hati beliau saw., yang mana ketika malam hari beliau saw. bangun sambil menangis dengan resah di hadapan Allah Ta’ala, supaya Allah Ta’ala memberikan petunjuk kepada orang-orang. Setelah Allah Ta’ala melihat rasa pilu dan perih yang ada di dalam hati beliau saw., dan untuk keinginan beliau saw agar menjadikan mereka menjadi hamba Allah Ta’ala serta untuk kelangsungan kehidupan di dunia, kemudian Allah Ta’ala berfirman:

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ اَلاَّ يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ

La’allaka bâkhi’un nafsaka alâ yakûnû mu-minîn —[3]

Boleh jadi engkau (Muhammad) akan memasukkan dirimu dalam kebinasaan karena orang-orang ini tidak beriman, atau tidak menjadi mukmin. Tetapi Allah Ta’ala berfirman: “Hai Rasul! Memberikan petunjuk bukanlah tugasmu. Engkau hanya bertugas menyampaikan amanat, ini merupakan tanggung jawabmu, kerjakanlah tugas itu. Sedangkan menyampaikan petunjuk atau memberi petunjuk merupakan pekerjaan-Ku. Allah Ta’ala Maha mengetahui siapa orang-orang yang layak mendapat petunjuk, yakni orang-orang yang berusaha meraih petunjuk dan juga yang berkeinginan mendapat petunjuk. Kami memberikan petunjuk kepada orang-orang yang sedang mencari petunjuk. Kemudian mereka memperoleh bagian dari nur yang diturunkan kepada engkau, wahai Muhammad. Lalu dada mereka akan Kami buka untuk Islam. Kemudian kalbu mereka terus-menerus bersinar dengan nur yang Kami turunkan kepada Muhammad Musthafa saw.. Kemudian orang-orang itu memenuhi dada-dada mereka dengan nur kebenaran. Mereka memenuhi kalbu-kalbunya dengan dzikir dan kecintaan kepada Allah Ta’ala. Di lidah mereka terdapat dzikir kepada Allah. Walhasil mereka ini merupakan orang-orang yang meraih keridhaan Allah Ta’ala. Oleh karena itu akan terus menerus timbul keteguhan dalam keimanan mereka. Ajaran Islam yang indah dan nur Al-Quran Karim senantiasa melingkupi dada orang-orang mukmin seperti itu, sehingga dalam kecintaan ilmu dan irfan; dalam kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya, mereka selalu dalam pencarian dan berusaha untuk meraih standar yang terbaik. Dan di dalam usaha serta pencarian itu, Dia senantiasa memperlihatkan jalan indah yang tidak akan pernah berakhir dan yang meningkatkan kesucian fikiran-fikiran mereka; yang juga terus menambah ilmu dan irfan mereka; yang terus mengembangkan nur kebenaran mereka. Dan kemudian di mana pun kalbu tersentuh nur ini, maka di sana orang-orang yang berfitrat baik dan berbudi luhur akan terus diberikan bagian dari nur itu.

Di tempat lain Allah Ta’ala menerangkan tentang topik ini demikian:

فَمَنۡ یُّرِدِ اللّٰہُ اَنۡ یَّہۡدِیَہٗ یَشۡرَحۡ صَدۡرَہٗ لِلۡاِسۡلَامِ ۚ وَ مَنۡ یُّرِدۡ  اَنۡ یُّضِلَّہٗ یَجۡعَلۡ صَدۡرَہٗ ضَیِّقًا حَرَجًا کَاَنَّمَا یَصَّعَّدُ فِی السَّمَآءِ ؕ کَذٰلِکَ یَجۡعَلُ اللّٰہُ الرِّجۡسَ عَلَی الَّذِیۡنَ لَا  یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿۱۲۵﴾

—  Famay-yuridil-Lâhu ay-yahdiyahu yasyroh shodrohû lil-islâm, wa may-yurid ay-yudhillahu yaj’al shodrohû dhoyyiqon harojan ka-annamâ yash-sho’adu fis-samâ’, Ka-dzâlika yaj’alul-Lôhur-rijsa ‘alal-ladzîna lâ yu-minûn  —[4]

Jadi Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Dan Dia menyatakan sesat kepada siapa yang Dia kehendaki, dan menjadikan dadanya sempit dan keras, seolah-olah ia sedang dengan susah payah mendaki ketinggian langit. Seperti itulah Allah Ta’ala memasukkan kekotoran pada diri orang-orang yang tidak beriman.

Walhasil, inilah peraturan Allah Ta’ala bahwa Allah Ta’ala telah meletakkan pekerjaan di tangan-Nya yang menyangkut dengan petunjuk. Tidak diragukan lagi nur sampai ke setiap tempat. Sesungguhnya tatkala matahari itu bersinar maka ia menyinari hari atau memberi sinar pada hari itu. Akan tetapi jika ada orang yang tertutup di dalam kamar, lalu dia menutup pintu dan jendela, maka dia tidak akan mendapat bagian dari nur itu, padahal sinar matahari tengah menerpa orang-orang yang datang di hadapannya, dan juga kepada orang-orang yang berdiri dihadapannya. Jika orang yang serupa itu mengatakan bahwa ‘di mana pun saya tidak melihat cahaya matahari’, maka ini merupakan dampak amalnya yang mana dia telah mendirikan penghalang-penghalang untuk sampainya sinar matahari pada dirinya. Jadi di dalam dunia ruhani pun, cahaya itu sampai pada orang-orang yang senantiasa membiarkan terbuka pintu dan jendela hati serta pikirannya agar cahaya itu sampai. Jadi di sini pun Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنۡ یُّرِدِ اللّٰہُ اَنۡ یَّہۡدِیَہٗ یَشۡرَحۡ صَدۡرَہٗ لِلۡاِسۡلَامِ ۚ

— Famay-yuridil-Lâhu ay-yahdiyahu yasyroh shodrohû lil-islâm —[5]

Oleh karena itu Allah Ta’ala memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Di sini maksudnya adalah amal manusia dalam bentuk amal-amal baik dan yang tersimpan keinginan keras di dalam kalbu untuk meraih bagian dari nur, yakni dengan menyerap karunia Allah Ta’ala. Maka sebagai hasilnya dia akan memperoleh petunjuk. Jadi Allah Ta’ala itu tidak berlaku aniaya kepada siapa pun. Orang yang menuju kepada Allah Ta’ala satu langkah maka Allah Ta’ala akan bergerak dua langkah kepadanya. Dan bagi orang yang berjalan kepada-Nya, maka Allah Ta’ala datang berlari kepadanya. Jadi di sini Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia membuka dadanya untuk Islam. Maksudnya Allah Ta’ala Maha mengetahui bahwa si fulan dengan gembira dan berusaha sambil mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala. Dia menginginkan untuk menerima perintah-perintah-Nya. Dia siap untuk mengikuti hukum-hukum Allah Ta’ala dengan segenap jiwa, raga dan dengan ketaatan yang sempurna. Jika setiap saat manusia siap sedia untuk mematuhi hukum-hukum Allah Ta’ala dengan ketaatan yang sempurna, maka hal ini memperlihatkan bahwa langkahnya tengah berdiri ke arah kemajuan ruhani. Dan bagi mereka yang sedang berdiri ke arah kemajuan ruhani, maka di pandangan Allah Ta’ala, mereka itulah yang kemudian Allah Ta’ala senantiasa melapangkan dadanya. Dia selalu meraih pemahaman dan pengertian Islam yang hakiki. Tidak hanya sekedar nama sebagai muslim; ibadah-ibadahnya; shalat-shalatnya; puasa-puasanya, hajinya; contoh akhlak luhurnya; tidak untuk pamer kepada dunia, melainkan untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala. Tetapi sebagian orang yang bernasib malang pun sedemikian rupa menganggap perintah-perintah Allah Ta’ala itu semacam beban. Dan mereka mengangap agama merupakan sesuatu yang tidak penting serta menjadikannya sebagai sasaran olok-olok. Atau sebagian orang sedemikian rupa menganggap bahwa agama merupakan kisah-kisah yang mereka dapatkan dari nenek moyangnya atau sesuatu yang mereka dengar dari nenek moyangnya itu sebagai kata penutup, maka mereka tidak mau menerima Islam. Mereka berfikir bahwa mereka itu tegak di atas suatu agama di lingkungannya. Namun di pandangan Allah Ta’ala mereka itu tidak tegak di atas agama. Dan alih-alih ada kemajuan dari segi ruhani melainkan mereka tengah mengalami kemunduran dan penurunan. Ketika Rasulullah saw. telah dibangkitkan dan atas nur itu turun juga nur Al-Quran sebagai syariat terakhir Allah Ta’ala, maka sekarang pengumuman Allah Ta’ala adalah اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ — Innad-dîna ‘indal-Lôhil islâm [6]

Sesungguhnya di pandangan Allah Ta’ala, agama sejati adalah Islam. Agama yang mengajarkan kesetiaan yang sempurna dan Dia telah menetapkan jalan-jalan untuk menunaikan hak-hak Allah Ta’ala dan makhluk-Nya. Selain Islam sekarang ini tidak ada lagi agama yang dapat memperlihatkan jalan-jalan kemajuan ruhani. Ini yang telah difirmankan Allah Ta’ala:

وَ مَنۡ یُّرِدۡ  اَنۡ یُّضِلَّہٗ یَجۡعَلۡ صَدۡرَہٗ ضَیِّقًا …

— wa may-yurid ay-yudhillahu yaj’al shodrohû dhoyyiqon —[7]

Dan barangsiapa yang dikehendaki untuk dinyatakan sesat dan dibuat dadanya sempit serta keras. Ini bukanlah merupakan kehendak Allah Ta’ala, yakni siapa yang Allah Ta’ala kehendaki Dia menyempitkan dadanya. Allah Ta’ala telah mengirim Adam ke bumi dan setelah mengutus pada hari pertama Dia menyatakan bahwa engkau bebas. Jika engkau melangkah ke arah kebaikan maka engkau akan mendapatkan bagian dari nur-Ku. Dan jika engkau mengikuti langkah syaitan maka engkau akan menjadi sasaran azab-Ku. Walhasil ini merupakan amal-amal buruk manusia yang menjadi faktor penyebab dadanya menjadi sempit. Ketika manusia terus bertambah dalam dosa-dosa dan mulai memperolok-olokan agama serta Rasul-rasul Allah, maka kemudian dia berjalan ke arah jalan-jalan kesesatan dan terus melangkah jauh dari jalan yang lurus. Jadi orang-orang yang menganggap perintah-perintah Allah Ta’ala sebagai beban, yang mana mereka tengah menutup karunia Allah Ta’ala atas dirinya. Dan tatkala mereka menutup karunia-karunia Allah Ta’ala, maka timbul kesempitan di dalam dada mereka terhadap Allah Ta’ala. Bagi mereka timbul jalan-jalan kesulitan. Ia sedemikian rupa berada dalam kondisi seperti sedang berjalan pada tempat yang tinggi. Napasnya sesak terengah-engah dikarenakan terasa sempit di dadanya. Maka ini merupakan amal manusia sendiri yang menjauhkannya dari Tuhan lalu masuk dalam kesulitan-kesulitan. Kalau tidak sedemikian rupa Allah Ta’ala mengasihi  hamba-hamba-Nya sehingga tatkala timbul perselisihan di antara manusia yang juga timbul dalam suatu kaum, maka Dia mengirim nabi, rasul dan hamba-hamba khususnya. Supaya setelah mereka memberikan bimbingan kepada dunia, mereka berusaha membawa orang-orang pada jalan yang lurus. Dan dengan menganiaya dirinya sendiri para nabi menjalankan tugas ini. Mereka terus berusaha melakukan ini walaupun mendapatkan permusuhan-permusuhan dari kaumnya. Para pemuka yang memiliki ambisi pribadi; yang hanya ingin tinggal dalam ranah kepentingan pribadinya, kemudian mereka menjadi penentang hamba-hamba suci Allah Ta’ala. Mereka meningkatkan perlawanan-perlawanannya kepada hamba-hamba Allah Ta’ala sampai pada puncaknya. Akan tetapi setelah mendapatkan permusuhan-permusuhan dari orang-orang itu, para nabi pun terus berusaha untuk melakukan perbaikan. Mereka tidak menghiraukan hambatan apa pun. Sebagaimana telah saya katakan bahwa seorang insan yang senantiasa berbuat baik kepada manusia, yakni Hadhrat Muhammad Musthofa saw., setelah melihat kegelisahan beliau saw., maka Allah Ta’ala berfirman kepada beliau saw.: “Apakah engkau akan membinasakan jiwa engkau disebabkan orang-orang itu tidak menerima Islam?” Jadi barangsiapa yang dirinya ingin terjun dalam lembah dosa; yang tidak ingin meninggalkan jalan-jalan kesesatan, maka Allah Ta’ala tidak akan memperlihatkan jalan kebaikan kepadanya. Maksud Allah Ta’ala menerangkan hal ini di dalam Al-Quran bukan hanya sekedar menjelaskan peristiwa-pristiwa yang telah berlalu saja atau sesudah kebangkitan Rasulullah saw. kini tidak ada lagi dari antara orang-orang Islam yang bisa sesat. Dan ketika cap Islam telah melekat dengan diri mereka, maka bagi mereka kemajuan ruhani pun merupakan sebuah keniscayaan.

Di dalam Al-Quran Karim tidak terhitung terdapat perintah-perintah seperti ini. Yakni setelah menerima Islam pun kita diingatkan agar selalu memberikan perhatian terhadap ibadah-ibadah, istighfar dan amal-amal soleh untuk kemajuan ruhani. Dan dijelaskan bahwa jika kalian tidak mengikuti perintah-perintah Allah Ta’ala yang hakiki, maka kalian akan menjadi orang yang layak dihukum. Selanjutnya dijelaskan bahwa seperti kaum terdahulu yang mengalami kemunduran ruhani, maka kalian juga akan demikian. Tetapi karena ini merupakan syariat terakhir telah disempurnakan di dalam agama Islam, maka ini merupakan menara nur terakhir yang darinya dunia memperoleh cahaya dari masa yang akan datang sampai hari kiamat. Dan Rasulullah saw. merupakan sinar terakhir dan lampu penerang yang mana dari pondasi kefanaan yang sempurna itu, kemudian Allah Ta’ala akan terus mengirim orang-orang demikian yang akan senantiasa memberikan bimbingan kepada jalan yang lurus. Di kalangan orang akhirin kelak akan bangkit Khaatamul Khulafa yang akan mendapatkan kedudukan kenabian juga supaya terus menerus menyebarkan nur tersebut ke segenap penjuru. Dan untuk menyempurnakan tugas itulah, Allah Ta’ala telah mengutus Rasulullah saw. ke dunia. Inilah mekanisme kerja Allah Ta’ala dalam menyebarkan nur ke segala penjuru yang mana Allah Ta’ala telah menzahirkannya di dunia dalam wujud Rasulullah saw. dan Al-Quran Karim.

Mengenai nubuwatan ini, telah difirmankan oleh Allah Ta’ala dan hadits-hadits Rasulullah saw juga menjelaskan bahwa rangkaian perbaikan dari Allah Ta’ala ini merupakan sebab dari kebangkitan Hadhrat Masih Mau’ud as.. Dan ini merupakan kegelisahan dari pencinta Rasulullah saw., murid sejati majikannya, pengikut sejati dan pengikut setia Hadhrat Rasulullah saw.. Beliau a.s. akan melenyapkan syirik dari dunia, memberikan pemahaman kepada non-muslim tentang hakikat ajaran Islam; Dan memperbaiki keadaan kaum Muslimin agar mereka dapat melangkah di atas jalan-jalan petunjuk. Kondisi umat Islam yang rusak dan juga jauh dari petunjuk ‑yakni sebelum kebangkitan Hadhrat Masih Mau’udas.‑ terdapat ratusan ribu umat muslim di Hindustan meninggalkan Islam lalu masuk ke pangkuan Kristen. Perhatikanlah keadaan petunjuk tersebut hari ini juga. Mereka mengatakan bahwa ‘kami memperoleh petunjuk’, akan tetapi orang-orang Islam tengah memotong leher satu sama lainnya. Apakah ini ajaran Islam? Apakah merampas nyawa orang-orang yang tidak berdosa merupakan ajaran Islam? Apakah pengkhianatan dan suap-menyuap serta dengan perantaraan para pemimpin yang telah merampas hak-hak masyarakat awam merupakan ajaran Islam? Sesungguhnya sama sekali tidak.

Dan untuk zaman ini diperlukan seorang pilihan Allah Ta’ala, yang mana Allah Ta’ala telah mengutusnya sesuai dengan janji-Nya. Dan sebagaimana telah saya katakan bahwa merupakan keinginan keras beliau as., supaya orang-orang Islam meraih kembali kedudukan dan wibawanya yang telah hilang. Ajaran yang telah terlupakan itu bisa mereka raih kembali yaitu Nur yang Allah Ta’ala telah anugerahkan kepada mereka. Dengan nur itu, kalbu-kalbu mereka bisa disinari. Dan sambil berjalan di atas jalan petunjuk dengan benar, mereka berusaha mengamalkan semua perintah-perintah itu sehingga syirik menjadi lenyap. Dan hal ini bisa menjadi sarana petunjuk bagi orang-orang yang menjadikan manusia sebagai Tuhan (kaum Nasrani).

Dan berkenan dengan itu Hadhrat Masih Mau’ud as. dengan rasa gelisah telah berusaha, yakni dengan menulis literatur-literatur dan berdo’a. Dan mana kala melihat kegelisahan beliau as., Allah Ta’ala juga telah mewahyukan kepada beliau:

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ اَلاَّ يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ

La’allaka bâkhi’un nafsaka alâ yakûnû mu-minîn

“Apakah engkau akan membinasakan diri engkau dikarenakan mengapa mereka ini tidak beriman?”

Jadi Allah Ta’ala telah menyediakan sarana petunjuk. Dia senantiasa mengirim hamba-hamba-Nya yang khusus dan menyinari dengan nur-Nya. Akan tetapi orang-orang yang menolak untuk beriman; di mana mereka telah mempersempit dada mereka sendiri dalam mendengar amanat Allah Ta’ala, maka kemudian inilah perlakuan Tuhan terhadap mereka, yakni hati mereka terus menjadi keras. Mereka menjadi jauh dari kebaikan-kebaikan dan menjadi bertambah dekat dengan keburukan-keburukan. Walhasil di dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah Ta’ala hanya menolong orang-orang yang berbuat amal-amal soleh dan orang-orang yang mentaati perintah-perintah Allah Ta’ala dengan sempurna. Dan kemudian orang-orang ini, dengan dukungan dan karunia Allah Ta’ala, mereka terus menempuh jenjang-jenjang kemajuan ruhani. Sedangkan orang-orang yang tidak beriman terus maju dalam dosa-dosa.

Jadi, kedudukan-kedudukan tersebut pun patut direnungkan oleh orang-orang Islam. Dan juga bagi orang-orang Ahmadi kedudukan ini patut difikirkan. Yakni sekiranya mereka mendakwakan diri sebagai muslim, maka ingatlah bahwa Islam merupakan nama dari kesetiaan yang sempurna.

Hadhrat Masih Mau’ud as. di satu tempat bersabda:

“Di dalam diri kebanyakan manusia, kekuatan ruhaniah dan rasa takut pada Tuhan telah menjadi berkurang. Dan dengan perantaraan nur samawi itu, manusia dapat membedakan antara hak dan batil. Hal itu telah sirna dari kebanyakan kalbu manusia. Dan dunia telah berubah menjadi satu bentuk anti Tuhan.

Beliau as. bersabda:

“Atas hal itu, ini merupakan saksi bahwa kondisi amal-amal mereka tidak benar sebagaimana mestinya. Segala sesuatu yang diucapkan melalui lidah, mereka tidak memperlihatkannya dalam bentuk amal.

Beliau as. bersabda:

”Kesucian kalbu yang hakiki, kecintaan sejati kepada Allah Ta’ala, rasa simpati yang sejati kepada makhluk-Nya, santun, rasa belas kasih, adil, rasa rendah hati dan semua akhlak suci lainnya, ketakwaan, kesucian dan kejujuran yang merupakan ruh dari sebuah agama, kebanyakan manusia tidak menaruh perhatian terhadap hal itu.

Beliau as. bersabda:

“Tujuan agama yang sesungguhnya adalah mengenal Tuhan sejati yang telah menciptakan seluruh alam ini. Dan didalam kecintaannya, mampu mencapai taraf menghanguskan kecintaan lain. Serta bersimpati terhadap makhluk-Nya dan mengenakan busana kesucian yang hakiki”.[8]

Jadi bagaimana seharusnya akhlak luhur, ketakwaan, kesucian hati dan kecintaan kepada Allah Ta’ala serta penunaian hak-hak makhluk? Mengenai hal ini saya beritahukan bahwa dengan melangkahkan kaki menuju kepada Allah Ta’ala, maka ia akan meraih nur yang telah Allah Ta’ala turunkan. Dan inilah nur teladan Rasulullah saw. dan Al-Quran Karim. Pada dasarnya ini adalah bentuk pengamalan dari ajaran Al-Quran Karim. Inilah suri tauladan Rasulullah saw.. Inilah jawaban Hadhrat Aisyah ra. atas sebuah pertanyaan yang dilontarkan kepada beliau ra. oleh seorang sahabat, “Kalian menanyakan tentang akhlak. Apakah kalian tidak membaca Al-Quran Karim?” [9]

Kini saya kembali kepada ayat pertama yang telah saya tilawatkan bahwa barangsiapa yang telah dibukakan dadanya kepada Islam oleh Allah Ta’ala dan kemudian mereka tegak di atas nur itu, maka mereka itu tidak bisa disamakan dengan orang-orang yang hatinya telah menjadi keras. Dan mengapa hatinya menjadi keras? Hal itu telah dijelaskan dengan rinci yakni dikarenakan mereka tidak mengamalkan perintah-perintah Allah Ta’ala dan tidak adanya perhatian terhadap ibadah kepada-Nya. Mereka mahrum dari dzikir kepada Allah Ta’ala. Seakan-akan Allah Ta’ala sedang berfirman bahwa jika ingin menjauhkan kekerasan hati, agar dapat meraih kedekatan Allah Ta’ala maka dzikir merupakan satu syarat yang sangat penting dan sangat besar. Apa dzikir itu? Dzikir memiliki corak yang beraneka ragam. Allah Ta’ala juga telah menyebut Al-Quran Karim sebagai dzikir. Sebagaimana Dia berfirman:

اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿۹﴾

In-Nâ Nahnu nazal-Nâdz-dzikro wa in-Nâ lahû la-Hâfizhûn [10]

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan dzikir ‑Al-Quran Syarif‑ dan Kami lah yang akan memeliharanya. Allah Ta’ala sesuai dengan janji-Nya telah menjaga Al-Quran dan Dia tengah berfirman dan sampai hari ini Al-Quran masih dalam kondisinya yang asli dan akan terus seperti itu.

Di dalam ayat tersebut terdapat isyarat kebangkitan Hadhrat Masih Mau’ud as. yang telah dijelaskan oleh beliau as. sendiri. Di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda:

“Ayat ini memberitahukan dengan jelas bahwa tatkala satu kaum terlahir, maka dzikir itu akan hapus dari dunia ini, maka pada saat itu dengan perantaraan seorang pilihan-Nya, Tuhan akan melindunginya dari langit”.[11]

Kini dunia mengetahui bahwa di zaman ini atau yang merupakan zaman Hadhrat Masih Mau’ud as.. Tatkala orang-orang Kristen telah melakukan suatu serangan pada dunia sehingga di Hindustan pun ‑sebagaiamana telah saya katakan‑ ratusan ribu umat Islam menjadi Kristen. Dalam perlawanan terhadap Islam terdapat pergerakan yang sedemikian rupa luar biasa, sehingga dengan sangat cepat tengah dilakukan upaya-upaya untuk menyebarkan Kristen di Asia dan Afrika. Pada saat itu untuk melindungi Islam dengan cahaya ajaran Al-Quran yang hakiki, Allah Ta’ala telah menegakkan Hadhrat Masih Mau’ud as. yang mana beliau as. telah bangkit membela Islam. Dan orang-orang yang bermimpi melihat perkembangan Kristen di Afrika dan di Asia terpaksa harus membela diri bahkan mereka harus angkat kaki. Perhatikanlah! Hari ini pun masih terus timbul kegusaran pertentangan terhadap Islam oleh berbagai kalangan. Terkadang dilontarkan kata-kata sia-sia mengenai Rasulullah saw.. Kadang-kadang dikatakan sesuatu berkenaan dengan Islam.

Beberapa hari yang lalu seorang pemimpin sebuah partai politik di Switzerland angkat suara berkenaan dengan menara mesjid. Maka walaupun begini, laporan orang-orang yang ikut ambil bagian dalam refrendum, kebanyakan dari mereka memberikan suara menentang keberadaan menara. Akan tetapi kebanyakan penduduk negara itu menentang keputusan tersebut, padahal mereka tidak ikut ambil bagian dalam referendum. Walaupun ada refrendum dan adanya sebuah undang-undang yang menentang dengan keberadaan menara. Pemerintah dan banyak para pemimpin partai malu atas perkara itu. Bahkan kembali dilakukan pembahasan bahwa hendaknya mengenai masalah ini jangan diadakan refrendum. Kenapa itu terjadi? Sekarang apa yang hendaknya harus diperbuat? Singkat kata, orang-orang yang semacam itu merupakan penentang Islam dan dari pihak mereka senantiasa terus melakukan upaya-upaya penentangan. Kini pun para penentang Jama’at, para penentang Hadhrat Masih Mau’ud as., seberapapun mereka mendakwakan bahwa Ahmadiyah tidak ada hubungan dan jauh dengan Islam, tetapi tidak ada jalan lain, kecuali mengakui pribadi Hazrat Masih Mau’ud as. yang telah bangkit membela Islam dan menyelamatkan orang-orang Islam dari jatuhnya ke pangkuan Kristen pada zaman itu. Sebagian ulama pada zaman itu telah mengumumkan secara terbuka pengakuan mereka terhadap pengkhidmatan Hadhrat Masih Mau’ud as.. Tidak diragukan lagi sesudah itu akibat penentangan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as.; akibat dari keuntungan-keuntungan pribadi, penentang ini menjadi musuh beliau as.. Tetapi pada zaman itu juga dari mulut para penentang, Allah Ta’ala telah membuat mereka mengakui bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian telah melakukan perlawanan terhadap Kristen hingga membuat mereka berlari. Hal ini disebabkan ulama Islam pada waktu itu tidak memahami ilmu Al-Quran dan ilmu Bibel. Sedangkan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Ahmad dari Qadian memahami ilmu tersebut. Di TV pun program itu telah ditayangkan di mana pada satu kali Dr. Asrarul Haq berbicara secara terbuka mengakui perkara itu. Percaya atau tidak bahwa ilmu Al-Quran yang ada pada pribadi Hadhrat Masih Mau’ud as. merupakan dukungan dari Allah Ta’ala. Dan pekerjaan ini telah diamanatkan kepada beliau as.. Tetapi pada hakikatnya bahwa Allah Ta’ala membangkitkan beliau as. adalah untuk melindungi Islam dan Al-Quran, sehingga mengakibatkan musuh terpaksa berlarian. Ini hanya sebagian dari nur Allah Ta’ala yang Hadhrat Masih Mau’ud as. dapatkan, nur Rasululah saw. dan nur Al-Quran. Perbandingan ilmu kalam beliau as. di zaman ini tidak ada yang bisa dikemukakan. Bahkan kini tafsir-tafsir beliau as. lah yang meliputi setiap tafsir.

Berkaitan dengan Al-Quran sebagai dzikir, beliau as. bersabda:

Al-Quran Karim dinamakan dzikir, karena Al-Quran mengingatkan syariat yang terdapat dalam diri manusia. Al-Quran tidak membawa ajaran baru. Melainkan mengingatkan syariat yang ada di dalamnya. Syariat yang diletakkan dalam bentuk potensi yang berbeda di dalam diri manusia seperti sifat lembut, pengorbanan, keberanian, sifat memaksa, marah, merasa cukup dan lain-lain. Singkatnya fitrah yang telah diletakkan di dalam batin. Al-Quran telah mengingatkannya. Sebagaimana dalam surat Al-Waqi’ah ayat 79 tertera:

فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ ﴿ۙ۷۸﴾

Fî kitâbim maknûn [12]

Yakni lembaran fitrah yang merupakan kitab terselubung yang tidak setiap orang bisa melihatnya. Seperti telah diterangkan nama kitab itu adalah “dzikir”. Supaya kitab itu dibaca, maka dengan demikian potensi-potensi internal, potensi-potensi ruhani dan nur kalbu yang ada dalam diri manusia itu merupakan amanat samawi diingatkan.[13] [14].

Jadi tatkala Allah Ta’ala berfirman, binasalah atas orang yang hatinya keras (sulit) dari berdzikir kepada Allah Ta’ala. Orang-orang ini tidak serupa dengan orang-orang yang berdzikir kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda bahwa dzikir yang dalam bentuk  Al-Quran Syarif itu perlu dimilikinya. Oleh karena itu sangat perlu membacanya supaya dengan membacanya fitrah suci seorang manusia; fitrah suci seorang mukmin menjadi bertambah bercahaya dengan disinari nur itu. Dan tidak hanya bermaksud untuk menyinari kalbunya semata, bahkan merupakan pengamalan terhadap ajaran Al-Quran yang  pada hakikatnya menjadikan orang yang mengambil faedah dari cahaya yang hakiki. Bagi seorang manusia yang berfitrat baik perlu mengamalkan hukum-hukum tersebut. Penting bagi seorang mukmin yang mana hal itu menjadi jalan untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala; yang darinya itu diperoleh potensi-potensi internal di dalam diri manusia; yang darinya ditetapkan jalan-jalan kemajuan dalam keruhanian. Jika amal tidak ada maka hanya kondisi alamiah saja. Dan hal itu tidak bisa memberikan manfaat dari dzikir. Orang-orang Islam ghair Ahmadi sangat banyak yang hafal Al-Quran, banyak yang pandai berceramah, juga ahli tafsir. Akan tetapi mereka tidak merenungkan jalan yang imam zaman telah beritahukan, maka ini hanya merupakan ‘kulit luar’ saja yang mana mereka tidak dapat memperoleh faedah sedikit pun darinya.

Kondisi pengamalan ajaran itu adalah menyerap semua perkara Alquran itu di dalam dirinya sehingga akan memenuhi hak-hak Allah Ta’ala juga dan hak-hak hamba-hamba-Nya, barulah dzikir ini akan menjadi faktor untuk meningkatkan standar keruhanian, akhlak dan standar dari segi ilmu serta amal di dalam kehidupan manusia. Al-Quran Karim yang terdiri dari ratusan hukum, dengan membacanya dan dengan berdzikir pada Allah Ta’ala di samping menyegarkan otak dan lidah, perkara tersebut menuntut supaya semua perkara-perkara yang disebutkan di dalam Al-Quran Karim diamalkan.

 Berkenaan dengan ibadah Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran:

وَ  اَقِمِ  الصَّلٰوۃَ   لِذِکۡرِیۡ ﴿۱۴﴾

Wa aqimish sholâta li-dzikrî [15]

Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. Jadi sejauh Al-Quran Karim mulai dari surah Al-Fatihah hingga surah An-Nas sepenuhnya merupakan sebuah dzikir dan di dalamnya ratusan nasihat-nasihat yang diberikan kepada orang-orang yang beriman; di sana diberikan perintah-perintah untuk senantiasa menegakkan dzikir kepada Allah Ta’ala. Satu perintah yang sangat besar adalah menegakkan shalat yang mana bagi orang-orang mukmin hendaknya senantiasa memperhatikan itu.

Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda:

“Tidak ada wirid yang lebih besar dari shalat karena di dalamnya terdapat pujian terhadap Ilahi, istighfar dan sholawat. Shalat merupakan kumpulan semua bacaan-bacaan serta wirid-wirid. Dan darinya segala macam rasa pilu, rasa sedih menjadi jauh serta kesulitan-kesulitan dapat terpecahkan. Apabila Rasulullah saw. sedikit saja mengalami kesedihan, maka beliau saw. berdiri untuk melakukan shalat. Karena itulah  Allah Ta’ala berfirman:

ؕ اَلَا بِذِکۡرِ اللّٰہِ تَطۡمَئِنُّ الۡقُلُوۡبُ ﴿ؕ۲۸﴾

Alâ bi-dzikril-Lâhi tathma-innul qulûb [16]

Ingatlah hati menjadi tenteram dengan berdzikir kepada Tuhan. Untuk rasa puas dan ketenteraman hati tidak ada cara yang lebih baik dari pada shalat. Dia berfirman, “Shalat merupakan wirid yang paling baik dari semua wirid-wirid yang ada”.[17] Beliau saw. bersabda:

“Shalat merupakan wirid terbaik dari semua wirid-wirid yang ada. Hendaknya lakukan shalat dengan cara yang sebaik-baiknya dan pahamilah semua yang dibaca dan setelah do’a-do’a yang biasa, berdo’alah juga di dalam bahasa kalian sendiri. Darinya kalian akan memperoleh ketenteraman jiwa dan sekiranya Allah Ta’ala menghendaki, semua masalah itu akan dapat terpecahkan. Shalat merupakan satu sarana untuk mengingat Tuhan karena itulah Dia berfirman:

 

اَقِمِ  الصَّلٰوۃَ   لِذِکۡرِیۡ

— aqimish sholâta li-dzikrî —

Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. [18]

Jadi Allah Ta’ala telah memberitahukan tanda-tanda orang-orang yang membuka dadanya untuk Islam dan orang-orang yang tegak pada nur, dengan alasan itu dia biasa berdzikir kepada-Nya; dia senantiasa mengingat-Nya; melakukan ibadah untuk-Nya; mentaati secara teratur perintah-perintah-Nya. Jika ini tidak ada, maka lama kelamaan hati akan menjadi keras.

Kerasnya kalbu-kalbu orang-orang yang tidak mau menerima Islam, inilah yang menjadi alasan hati mereka kosong dari mengingat Allah Ta’ala. Oleh karena itu merupakan tugas seorang mukmin bahwa dia harus mengkonsentrasikan segenap perhatiannya kepada perintah Allah Ta’ala لِذِکۡرِیۡ — li-dzikrî — yakni untuk mengingat–Ku. Maksudnya adalah bahwa sambil memegang teguh ingatan kepada Allah Ta’ala di dalam kalbu, hak ibadah kepada-Nya ditunaikan. Jadilah hamba yang bersyukur pada Allah Ta’ala. Hendaknya shalat-shalat kita untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala dan kita di dalam shalat serta di dalam menegakkan shalat kita menjadi seperti orang-orang yang berusaha secara teratur dalam menunaikannya, sehingga di dunia senantiasa tegak pemandangan orang-orang yang berdzikir secara hakiki di dalam mengingat Allah Ta’ala di dunia. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dan generasi kita dari kesesatan dan kita menjadi orang-orang yang memperoleh bagian dari nur yang hakiki.

Insya Allah, besok Jalsah Salanah Qadian tengah dimulai. Berdo’alah kepada Allah Ta’ala dan kalian semua pun berdo’alah. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada orang-orang yang ikut serta dalam jalsah. Yakni mereka dengan cara teratur shalat-shalat pada saat berlangsungnnya jalsah dan pada saat berjalan di jalan-jalan pun hendaknya mereka menjadi orang yang membasahi bibir mereka dengan berdzikir kepada Allah Ta’ala. Pada hari-hari ini penuhilah kota Masih Mau’ud a.s. itu dengan do’a-do’a sedemikian rupa sehingga tampak dari segala penjuru hujan karunia Ilahi terlihat. Penuhilah udara itu dengan pujian dan sholawat sehingga setiap orang yang ikut serta di dalamnya dapat membawa nur yang hakiki. Menjadikannya orang yang mengambil bagian dari itu. Para Ahmadi di dunia pun berdo’alah, semoga jadi Jalsah yang beberkah dari segala segi dengan karunia Allah Ta’ala dan setiap orang Ahmadi, setiap orang yang ikut serta semoga di sana Allah Ta’ala melindunginya. Meletakkan mereka dalam pengamanan dan perlindungan-Nya dan memelihara mereka dari setiap keburukan. Amin

 

Penterjemah : Mln. Qomarudin Syahid

 

[1] Artinya: “Apakah orang yang Allah telah membukakan dadanya untuk menerima Islam, maka ia mendapat cahaya dari Tuhan-nya sama dengan orang-orang yang keras hatinya? Maka celakalah orang-orang yang hatinya keras dari mengingat Allah. Mereka itulah berada dalam kesesatan yang nyata.” (Az-Zumar[39]:23)

[2] Artinya: “Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada siapa yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ; dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Qashash [28]:57)

[3] Artinya: “Boleh jadi engkau akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak mau beriman.” (Asy-Syu’ara’:4)

[4] Artinya: “Maka, barangsiapa yang Allah menghendaki supaya diberi petunjuk kepadanya, Dia membukakan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang Dia menghendaki supaya Dia membiarkannya sesat, Dia menjadikan dadanya sangat sempit seakan-akan ia sedang naik ke langit. Seperti itulah Allah menimpakan azab kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Al-An’am:126)

[5] Jadi Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam… (Al-An’am:126)

[6] Sesungguhnya agama yang benar  di sisi Allah swt. ialah Islam (Ali Imran: 20)

[7] …Dan barangsiapa yang Dia menghendaki supaya Dia membiarkannya sesat, Dia menjadikan dadanya sangat sempit… (Al-An’am:126)

[8] Pidato Lahore, Ruhani Khazain, jilid 20, hal.147-148

[9] Musnad Ahmad bin Hanba,l jilid 8, hlm 144-145; Musnad Aisyah hadits no.25105, Alamul Kutub Bairut, Libanon 1998

[10] Sesungguhnya, Kami Yang telah menurunkan Peringatan Alquran ini, dan sesungguhnya Kami baginya adalah Pemelihara. (Al-Hijr:10)

[11] Tuhfah Golorwiah,  Ruhani Khazain jilid 17,  catatan kaki, hlm 267

[12] “Dalam suatu kitab yang terpelihara dengan baik.” (Al-Waqi’ah ayat 79)

[13] Laporan Jalsah Salanah 1897, hlm 94, cetakan awal, rujukan Tafsir Masih Mau’ud, jilid, hlm. 770, Cetakan Rabwah

[14] Huzur V atba: Yakni bacalah “dzikir” atau Al-Quran Karim ini, maka barangsiapa terdapat fitrat suci, nur yang ada di kalbu mereka kemudian akan tampil keluar. Al-Quran mengingatkan pada mereka bahwa ini merupakan perintah-perintah; ini adalah ajaran; ini adalah hak-hak Allah dan ini adalah hak-hak hamba yang kalian harus tunaikan

[15] “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku” (Thaha:15)

[16] “Ketahuilah, dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (Ar-Raad:29)

[17] Huzur V atba: Kebanyakan orang-orang terus menanyakan dalam surat-surat. Saya sudah beberapa kali memberikan jawaban. Untuk itu saya kembali memberitahukan

[18] Malfuzhat,  jilid 3, hlm 310-311, Edisi Baru, cetakan Rabwah