“…. Mereka (Jemaat Ahmadiyah, pen.) tidak pernah menggunakan taktik pintu belakang atau membonceng kekuatan-kekuatan lain secara tidak sportif dan karena itu tak pernah terdengar berita kericuhan di Indonesia dalam hal Ahmadiyah”. (Tempo; 21 September 1974).

Kiprah Ahmadiyah Dalam Perjuangan Kemerdekaan R.I.

Untuk menyegarkan kembali ingatan kita kepada sejarah, berikut ini diterangkan kembali selintas peristiwa yang melatar belakangi peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Dalam bulan Agustus 1945, tiga hari sebelum diproklamirkannya kemerdekaan Republik Indonesia oleh Bung Karno dan Bung Hatta, Amerika menjatuhkan bom atomnya di kota Hiroshima dan Nagasaki yang selanjutnya memaksa Kaisar Hirohito menyerah dan bertekuk lutut kepada Sekutu, dan melepaskan cengkeramannya di negeri-negeri Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang telah dikuasainya selama tiga setengah tahun.

Pada pagi hari tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia dan serentak menyusun pemerintah Republik Indonesia. Dalam pada itu Tentara Sekutu yang diwakili oleh Balatentara Inggris mendarat di kota Surabaya dengan tugas melucuti senjata balatentara Jepang. Belanda yang merasa masih berkuasa di Indonesia mempergunakan kesempatan itu dengan membonceng Tentara Sekutu masuk ke Indonesia dengan nama NICA[1].

kiprah ahmadiyah perjuangan indonesia

Gambar 11.1. Proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, Ir. Soekarno, dalam suatu kesempatan menerima Al-Qur’an terbitan Ahmadiyah, yang diberikan oleh Mln. Sayyid Shah Muhammad Al-Jaelani, seorang Muballigh Ahmadiyah.

mohammad hatta dan ahmadiyah

Gambar 11.2. Proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, Drs. Mohammad Hatta, dalam suatu kesempatan menerima Al-Qur’an terbitan Ahmadiyah, yang diberikan oleh Wakil-ut Tabshir

Para anggota Jemaat Ahmadiyah, baik anggota biasa maupun pemimpin-pemimpinnya senantiasa ikut aktif bersama-sama rekan sebangsanya memasukkan diri dalam kancah perjuangan baik secara langsung mengangkat senjata sebagai anggota BKR-TKR[2] ataupun sebagai lasykar-lasykar rakyat seperti TRIP[3] dan dalam badan-badan perjuangan lainnya seperti Kowani, KNI[4], dan sebagainya. Ketika itu Pemerintah Republik Indonesia merasa sukar untuk melanjutkan perjuangan di ibukota Jakarta, dan oleh Presiden Sukarno ibukota Republik Indonesia dipindahkan ke Jogyakarta.

Ketua Hoofdbestuur  Jemaat Ahmadiyah Indonesia pada waktu itu adalah almarhum R. Mohammad Muhyiddin pegawai tinggi Kementerian Dalam Negeri, aktif dalam mempertahankan kedaulatan RI di Jakarta, pada tahun 1946 telah diangkat sebagai Sekretaris Panitia Perayaan Kemerdekaan RI yang pertama, yang sedianya juga akan memegang bendera Sang Merah Putih di muka barisan. Akan tetapi delapan hari sebelum sebelum peringatan proklamasi yang pertama itu beliau telah diculik oleh Belanda dan hingga kini hilang tak tentu rimbanya[5].

Sebelum Balatentara NICA memasuki dan merebut kota Bandung dua orang Muballigh Ahmadiyah almarhum Abdul Wahid HA dan almarhum Malik Aziz Ahmad Khan yang pada akhir tahun 1945 bertugas di Yogyakarta telah aktif sebagai penyiar RRI untuk siaran Bahasa Urdu untuk memperkenalkan perjuangan bangsa Indonesia ke benua alit India. Juga beberapa orang Ahmadi di Padang dan Medan tidak ketinggalan mengambil bagian dalam perjuangan fisik melawan Belanda. Perlu kiranya menjadi catatan, ketika pemerintah RI memerlukan pinjaman uang dari rakyat maka anggota Jemaat Ahmadiyah telah memberikan segenap kemampuan yang ada pada mereka. Sebagai contoh Jemaat Ahmadiyah Garut telah menyumbangkan sejumlah uang kepada pemerintah ketika itu.

Gambar 11.3. Sebagian penghargaan yang diterima oleh orang-orang Ahmadi dari pemerintah Republik Indonesia atas jasa-jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia

Gambar 11.3. Sebagian penghargaan yang diterima oleh orang-orang Ahmadi dari pemerintah Republik Indonesia atas jasa-jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia

Sedangkan pada tanggal 4 Mei 1945, seorang Ahmadi[6] asal Cikalongkulon yang dipenjara atas tuduhan pemberontakan oleh Jepang wafat di penjara Cipinang di Jakarta, sementara satu peristiwa penting lainnya adalah pada 18 Agustus 1945 seorang Ahmadi asal Gondrong Tangerang menyampaikan dakwah Ahmadiyah di daerah itu.

Pada akhir tahun 1946, tepatnya hari Selasa, tersiarlah sebuah pernyataan dari Imam Jemaat Ahmadiyah, Pimpinan tertinggi Jemaat Ahmadiyah Internasional yang dimuat dalam berbagai surat kabar, diantaranya “Kedaoelatan Rakjat” edisi Selasa Legi, tanggal 10 Desember 1947 dengan judul: Memperhebat Penerangan Tentang Repoeblik, Gerakan Ahmadiyah Toeroet Membantoe. Selengkapnya sebagai berikut:

”Betapa besarnya perhatian gerakan Ahmadiyah tentang perdjoeangan kemerdekaan bangsa kita dapat diketahoei dari soerat-soerat kabar harian dan risalah-risalah dalam bahsa Oerdoe djang baroe-baroe ini diterima dari India. Dalam soerat-soerat kabar terseboet, didjoempai banyak sekali berita-berita dan karangan-karangan jang membentangkan sedjarah perdjoeangan kita, soal-soal djang berhoeboengan dengan keadaan ekonomi dan politik negara, biografi pemimpin-pemimpin kita, terdjemahan dari Oendang-Oendang Dasar Negara Repoeblik dll “.

“Selain itoe tercantoem djoega beberapa pidato djang pandjang lebar, mengenai “seroean dan andjoeran kepada pemimpin-pemimpin negara Islam, soepaja mereka dengan serentak menyatakan sikapnya masing-masing oentoek mengakoei berdirinya pemerintahan Repoeblik Indonesia. Hal jang mengharoekan ialah soeatoe perintah oemoem dari Mirza Bashiroeddin Mahmoed Ahmad, pemimpin gerakan Ahmadiyah kepada pengikoet-pengikoetnya di seloeroeh doenia jang djoemlahnya 82 djoeta orang soepaya mereka selama boelan September dan Oktober jang baroe laloe ini, tiap-tiap hari Senin dan Kemis berpoeasa dan memohonkan do’a kepada Allah SWT goena menolong bangsa Indonesia dalam perdjoangannya, memberi semangat hidoep oentoek tetap bersatoe padoe dalam cita-citanya, memberi ilham dan pikiran kepada pemimpinnya goena memadjoekan negaranya menempatkan roe’b (ketakoetan) di dalam hati moesoehnya serta tercapainya sekalian tjita-tjita bangsa Indonesia”.

Begitu juga harian Al-Fazl edisi 10 Desember 1946 memuat berita berkenaan pernyataan Imam Jemaat Ahmadiyah:

“Djika bangsa Indonesia akan mendapat kemerdekaan 100%, tentoelah hal ini akan berfaedah besar bagi doenia Islam. Oentoek hal itoe ada baiknya djika negara-negara Islam pada masa ini dengan serentak memperdengarkan soearanya oentoek mengakoei kemerdekaan Indonesia serta meminta soepaya negara-negara lain joega mengakoeinya. Selain itoe saya berharap soepaya seloeroeh moeballigh (oetoesan) Ahmadiyah jang kini ada di India dan diloear India yaitoe Palestina, Mesir, Iran, Afrika, Eropa, Kanada, Amerika Selatan dll, mendengoengkan serta menoelis dalam dalam soerat-soerat kabar harian dan madjalah -madjalah jang mereka keloearkan, karangan-karangan jang berhoeboengan dengan perdjoeangan kemerdekaan bangsa Indonesia, khoesoesnya meminta kepada negara-negara Islam oentoek membantoe bangsa Indonesia mencapai kemerdekaannya. Soal kemerdekaan Indonesia haroes tiap-tiap waktoe didengoeng-dengoengkan, soepaya negara-negara didoenia ini memperhatikan hal itoe. Soedah mendjadi haknya bangsa Indonesia oentoek merdeka di masa ini. Bangsa ini adalah bangsa jang madjoe, memiliki peradaban tinggi serta mempoenyai pemimpin-pemimpin jang bidjaksana. Mereka adalah soeatoe bangsa jang besar dan bersatoe. Bangsa Belanda jang djoemlahnya begitoe kecil sekali-sekali tidak berhak oentoek memerintah mereka “

Perjuangan di Ibukota Jogjakarta

“Tuan akan bicara dalam bahasa apa?” demikian Bapak Presiden Soekarno membuka percakapan setelah kami bersalaman “Dalam bahasa persatuan Bangsa Indonesia”, jawab saya. Atas jawaban itu nampak benar beliau sangat terkesan dan muka beliau berseri-seri. Waktu saya menyerahkan bingkisan kepada beliau saya ucapkan kata-kata demikian, “kami menghadiahkan kitab ini kepada Bung Karno dengan khidmat dan penuh hormat dengan penghargaan agar Paduka Yang Mulia sudi mempelajari kitab ini (Ahmadiyyat or the True Islam). Di kala kena peluru kesucian karena isi kitab ini, kami harap Paduka Yang Mulia akan berani memproklamirkan keimanan kesuciannya sebagaimana Paduka Yang Mulia berani memproklamirkan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945”.

Mendengar kata-kata yang diucapkan dengan penuh kesungguhan dan khidmat tapi sederhana itu, beliau tersentak berdiri dari duduknya lalu sambil memegang tangan saya mengucapkan kata-kata “Laa haula wa laa quwwata illa billaah … minta didoakan …. minta didoakan …” Kata-kata itu diucapkan dengan berulang-ulang, sedangkan mata beliau tampak berkaca-kaca, seakan-akan air mata beliau mau keluar. Sementara kami minum-minum beliau mengatakan, “saya sangat gembira dan terima kasih kepada tuan atas segala bantuan dan perjuangan serta darma-bakti pada bangsa dan pemerintah kami”.

Beliau menganjurkan, “hendaknya tuan pindah di Jogyakarta saja, supaya kita dapat sering bertemu dan membicarakan soal-soal agama”. Saya menjawab, “saya akan istikharah dahulu; setelah itu baru dapat mengambil keputusan”. Setelah melaksanakan sembahyang istikharah, diambillah keputusan untuk pindah ke Jogyakarta sesuai anjuran Bung Karno. Semenjak itu mulailah saya memberikan sumbangan tenaga dan pikiran dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Konferensi Ahmadiyah di Jogjakarta

Di Jogyakarta sudah menetap beberapa saudara anggota PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia seperti Bapak R. Hidayat dan Bapak Ahmad Sarido serta Bapak-bapak Ahmadi dari Jawa Barat, antara lain Bapak Harmaen, Bapak Dahnan Mansur, Bapak Karnaen dan lain-lain. Setelah mengadakan perundingan, Bapak-bapak tersebut mengambil prakarsa untuk mengadakan konferensi Jemaat Ahmamdiyah Indonesia di daerah RI bertempat di Jogyakarta.

Konperensi memikirkan langkah-langkah yang seharusnya diambil oleh Jemaat pada waktu itu sehubungan dengan diterimanya perintah dari Hadhrat Khalifatul Masih II ra supaya kita membantu perjuangan Republik, sedang pada waktu itu belum mendapat pengakuan dari luar. Tanah air Indonesia masih dipersengketakan dengan Belanda. Badan itulah yang menjadi wadah bagi Jemaat untuk membantu perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia pada waktu itu.

Atas prakarsa Dewan Keamanan PBB, di masa itu dibentuk sebuah komisi yang terdiri dari beberapa Konsul Jendral negara-negara asing yang berkedudukan di Jakarta. Anggota-anggota komisi itu seringkali mondar-mandir ke Jogyakarta. Pada suatu ketika Konsul Jendral Tiongkok Nasionalis yang namanya Mr. Chiang, sebagai anggota komisi tersebut mengunjungi Jogyakarta. Untuk menghormati kedatangan Konsul Jendral itu, di Presidenan diadakan suatu pertemuan yang dihadiri oleh para Menteri Kabinet, pembesar-pembesar militer maupun sipil dan para terkemuka.

Dalam pertemuan itu Mr. Chiang berpidato dengan bersemangat dan dengan nada sombong. Ia sangat mencela dan menghantam bangsa Indonesia atas kejadian-kejadian di Tangerang, Tegal, Malang dan lain-lain tempat di mana banyak penduduk China jadi korban. Setelah ia selesai berpidato, maka hadirin diberikan kesempatan untuk memberikan kata sambutan. Karena tiada seorang pun yang tampil ke muka dan memang keadaan tak mengizinkan dan kurang tepat untuk orang-orang Indonesia, saya memberanikan diri untuk menyambut pidato Mr. Chiang itu. Kurang lebih setelah jam lamanya saya kupas pidatonya itu.

Selesai memberikan sambutan, saya diserbu oleh para pemimpin bangsa Indonesia seperti almarhum Bapak Panglima Besar Sudirman, Sri Sultan Hamengkubowono IX, Dr. Sukirman, Mr. Sujarwo Condronegoro, H. Tabrani, Bung Tomo dan lain-lain. Mereka semua mengucapkan selamat dan terima kasih serta memeluk saya. Pidato sambutan saya dianggap mereka sebagai pembelaan di forum Internasional.

Uraian saya itu disiarkan dalam berbagai bahasa seperti bahasa Inggris, Perancis,

Tionghoa, Arab, Urdu dan bahasa Indonesia oleh IBC (Indonesian Broadcasting Corporation) dan harian-harian yang terbit di Jogyakarta.

Saya teringat juga kejadian ketika dalam bulan Oktober 1948 mendapat instruksi untuk membawa satu kopor penuh uang Belanda dari pihak pemerintah pusat R.I. ke Jakarta untuk membantu perjuangan kaum Republik di Jakarta dan di antaranya untuk membiayai “Sari Pers” yang ada di bawah pimpinan Sastro Suwignyo di jalan Guntur. Untuk menyelundupkan uang itu saya harus menempuh jalan-jalan yang berbahaya dan mempunyai kisah tersendiri.

Setelah Belanda melakukan aksi militer kedua, saya tetap tinggal di Jogyakarta dan terus membantu para pejuang misalnya kontak dengan pemuda-pemuda, tentara, pelajar dan anak-anak gerilyawan di luar kota Jogyakarta. Karena hal itu nyawa saya sering hampir melayang.

Setelah resolusi Dewan Keamanan mengenai perundingan RI – Belanda, di Jogyakarta terbentuk Panitia Pemulihan Pemerinah RI Pusat, yang diketuai oleh Bapak Ki Hajar Dewantara dan saya sendiri pun menjadi anggota dalam panitia tersebut.

Ketika Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa pemimpin lainnya kembali dari Bangka ke Jogyakarta, di Jogyakarta dibentuk Panitia Penyambutan untuk menyambut rombongan para Pemimpin itu, di mana saya pun menjadi anggota panitia itu.

Ketika Belanda menyerahkan kedaulatan ke tangan Republik Indonesia, Bung Karno harus pindah lagi dari Jogyakarta ke Jakarta. Saya mendapat kehormatan terpilih dalam rombongan 12 orang pengantar beliau ke Jakarta dengan plane pertama “Garuda”, di mana saya satu-satunya orang yang bukan warga-negara RI. Di antara ke-12 orang itu terdapat antara lain Ki Hajar Dewantara, Mr. Susanto Tirtoprojo, Sri Paku Alam, Raden Mas Haryoto dan lain-lain.

Kejadian-kejadian itu menjadi kenangan yang indah dan memberikan suatu perasaan bangga karena perintah dari Imam Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Khalifatul Masih II ra. Dengan demikian merasa sebagai suatu kewajiban yang suci untuk mempertahankan kemerdekaan dan kehormatan bangsa Indonesia, sesuai dengan sabda Rasulullah saw: ”Hubbul wathan minal iimaan”, bahwa kecintaan kepada tanah air adalah sebagian daripada iman.

Pemerintah RI/Kementerian Penerangan telah mengeluarkan Surat Penghargaan atas nama saya tertanggal 3 Agustus nomor 39/UP/Ktr dengan kata-kata antara lain:

“Pernyataan penghargaan ini didasarkan atas jasa-jasanya yang telah diberikan kepada perjuangan Bangsa dan Negara Republik Indonesia sewaktu masih harus mempertahankan dan memperkokoh kedudukan negara. Ia selalu menyumbangkan fikiran dan tenaganya dengan sepenuh keyakinan untuk membuat pendapat umum internasional bahwa perjuangan RI adalah benar dan adil”.

Selain Sayyid Shah Muhammad selaku tokoh Ahmadiyah yang pengabdiannya baru kami turunkan penuturannya di atas, masih banyak lagi tokoh Ahmadiyah yang lain yang benar-benar telah mencurahkan segenap apa yang ada padanya untuk kepentingan perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Misalnya Bapak E. Moh. Tayyib. Ia seorang pejuang kemerdekaan yang tabah. Setelah Proklamasi Kemerdekaan ia terpilih menjadi anggota KNI Singaparna. Ia ikut gerakan BKR-TKR. Ia turut mendirikan Gerakan Orang Tua Murid yang dilanjutkan dengan Yayasan Putera Bahagia.

Untuk jasa-jasanya mendapat Piagam tanda penghormatan dari Presiden Republik Indonesia berupa Setia Lencana. Ia diakui sebagai Pejuang Perintis Kemerdekaan. Kini ia menjadi Sekjen P.U. Perintis Kemerdekaan Indonesia. Dari tahun 1946 hingga tahun 1952, orang Ahmadi dari Cukangkawung dan 8 orang dari Sangianglobang (Tasikmalaya) telah mati syahid di tangan keganasan teror DI-TII, berhubung kesetiaan mereka kepada Pemerintah RI.

Pemuda Ahmadiyah Menjadi Pahlawan Ampera.

Hari Jumat tanggal 25 Februari 1966, ratusan penduduk kota metropolitan Jakarta mengantarkan jenazah Arief Rahman Hakim, Pahlawan Ampera, ke pemakaman Blok P, Kebayoran Baru.

Arief Rahman Hakim lahir pada tanggal 24 Februari 1943 di Padang. Kedua orang tuanya, Haji Syair dan Hakimah, adalah Ahmadi lama di kota itu. Nama yang sebenarnya ialah Ataur Rahman, tetapi nama pertama Ataur itu digantinya sendiri dengan Arief. Untuk menunjukkan keistimewaannya, lebih lanjut menambahkan nama Hakim pada akhir namanya, yang diambilnya dari nama ibunya Hakimah.

Pada tahun 1958 ia tamat di SMP dan pindah ke Jakarta untuk meneruskan pelajarannya di SMA dan kemudian pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dan selama di Jakarta ia merupakan seorang Khadimul Ahmadiyah yang aktif. Dalam pergolakan yang dicetuskan mahasiswa-mahasiswa untuk merobohkan Orde Lama, pemuda Arief tidak ketinggalan. Hari Kamis tanggal 24 Februari 1966, persis pada hari kelahirannya, pemuda Ahmadiyah itu gugur kena peluru. Ia digelari Pahlawan Ampera.

 

[1] Netherlands Indies Civil Administration.

[2] Badan Keamanan Rakyat – Tentara Keamanan Rakyat.

[3] Tentara Repoeblik Indonesia Pelajar.

[4] Korps Wanita Indonesia, Komite Nasional Indonesia.

[5] Menurut keterangan Suwiryo mantan Walikota Jakarta, beliau telah dibawa serdadu-serdadu Belanda ke suatu daerah di Depok dan ditembak mati disana.

[6] Martawi asal Cikalongkulon dihukum empat tahun baru satu tahun menjalaninya beliau wafat, sedangkan rekannya Julaemi dibebaskan setelah itu.

< Previous | Next >
(Visited 566 times, 1 visits today)