Ahmadiyah Ahlus-Sunnah wal-Jamaah


Ahmadiyah Ahlus-Sunnah wal-Jamaah:
Download (711 kb)

 إِنَّمَا المُؤمِنونَ الَّذينَ آمَنوا بِاللَّهِ وَرَسولِهِ وَإِذا كانوا مَعَهُ عَلىٰ أَمرٍ جامِعٍ لَم يَذهَبوا حَتّىٰ يَستَأذِنوهُ ۚ

ahmadiyah ahlus sunnah wal jamaah“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berkumpul bersamanya berkenaan dengan urusan penting, mereka tidak pergi sebelum mereka minta izin kepadanya…” (QS.An-Nur 24:63) [1]

 Makna Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah

  Ahlun artinya orang yang menaati atau pengikut, sebagaimana pernyataan:

اَهْلُ الْمَذْهَبِ : مَنْ يَدِيْنُ بِهِ. وَاَهْلُ الْاِسْلَامِ : مَنْ يَدِيْنُ بِهِ

 “Ahlul-madzhabi artinya orang yang mengikuti madzhab itu dan Ahlul-Islami artinya orang yang mengikuti Islam itu.” (Lisaanul-‘Arab, Juz 1 halaman 253) آ

 

As-Sunnah maksudnya Hadits Rasulullah saw, sebagaimana pernyataan:

اَلْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ اَىِ الْقُرآنُ وَاْلحَديْثُ

 “Al-Kitaabu was-Sunnatu berarti Al-Quran dan Hadits.” (Lisaanul-‘Arab, halaman 399)

 

Secara terminologi Hadits itu sinonim dengan Sunnah. Keduanya diartikan sebagai segala sesuatu yang diambil dari Rasulullah saw sebelum dan sesudah diangkat menjadi Rasul. Akan tetapi bila disebut kata “Hadits” umumnya dipakai sebagai segala sesuatu yang diriwayatkan dari Rasulullah saw setelah kenabian, baik berupa sabda, perbuatan maupun taqrir atau ketetapan (Majmu’atul-Fataawaa Ibnu Taimiyah, dan Ushulul-hadits DR. M. Ajaj Al-Khathib, hal. 8). Adapun Al-Jamaa’ah artinya identik dengan Al-Ummah (Al-Mujnid, halaman 17), yaitu: Satu kumpulan orang-orang beriman yang dipimpin seorang Imam untuk bekerja sama dalam urusan penting dan mereka tidak akan pergi sampai mereka meminta izin imamnya.

Allah swt berfirman:

إِنَّمَا المُؤمِنونَ الَّذينَ آمَنوا بِاللَّهِ وَرَسولِهِ وَإِذا كانوا مَعَهُ عَلىٰ أَمرٍ جامِعٍ لَم يَذهَبوا حَتّىٰ يَستَأذِنوهُ ۚ

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin sejati hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berkumpul bersamanya berkenaan dengan urusan penting, mereka tidak pergi sebelum mereka minta izin kepadanya… ” (QS. An-Nur, 24 : 63)”

 Rasulullah saw bersabda:

اِنَّ بَنِىْ اِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقُوْا عَلٰى اِثْنَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَسَتَفْتَرِقُ اُمَّتِى عَلٰى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهّا فِى النَّارِ غَيْرَ وَاحِدَةٍ قِيْلَ وَمَا تِلْكَ اْلوَاحِدَةُ قَالَ مَا اَنَا عَلَيْهِ اْليَوْمَ وَاَصْحَا بِىْ

“Sesungguhnya Bani Israil itu telah terpecah menjadi 72 golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya dalam Neraka, selain yang satu.” Ditanyakan siapa golongan yang yang satu itu, beliau saw menjawab, “Apa yang aku dan sahabat-sahabatku ada padanya pada masa itu.” (HR Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak”, dan Ibnu Asakir- dari Ibnu Amrra.; dan Kanzul-Umal, Juz 1/1060)

 وَاَنَّكُمْ تَكُوْنُوْنَ عَلَى اثْنَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهَا ضَالَّةٌ اِلاّ الْاِسْلَامُ وَجَمَاعَتُهُمْ

“Dan sesungguhnya kamu akan terbentuk menjadi 72 firqah, semuanya sesat, kecuali Al-Islam dan Jama’ah mereka.” (HR Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak” dari Katsir bin Abdillah bin Amir bin Auf dari ayahnya dari kakeknyara.; dan Kanzul-Umal, Juz I/1061, ‘Allamah ‘Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, cet. Muassisah Al-Risalah, Beirut, Libanon 1989)

Berdasarkan Ayat Al-Quran dan Hadits-hadits tersebut, Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah itu adalah satu golongan umat Islam secara Internasional di bawah satu komando seorang Imam dalam urusan agama Islam sesuai dengan ajaran Rasulullah saw dalam Hadits dan ajaran para sahabatnya.

Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah Zaman Ini

ahlus-sunnah wal-jamaah baiat ahmadiyah

 Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah pada masa Rasulullah saw adalah semua sahabat yang beliau pimpin, sedangkan Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah pada masa Khulafaur-Rasyidin adalah umat Islam yang berada di bawah komando imam-imam secara berurutan, yaitu: Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, kemudian Khalifah Umar bin Al-Khaththab ra, kemudian Khalifah Usman bin ‘Affan ra, dan kemudian Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib ra.

Adapun sesudah masa Khulafa’ur-Rasyidin tersebut umat Islam mulai pecah menjadi firqah-firqah yang semakin lama semakin bertambah jumlahnya. Kondisi kaum muslimin yang demikian itu telah dinubuatkan oleh Rasulullah saw bahwa umat beliau akan pecah menjadi 73 firqah yang dalam bahasa Arab berarti menunjuk jumlah yang banyak sekali, secara matematis dapat lebih banyak dari angka 73. Pada masa ini, kaum muslimin banyak diwarnai oleh para penguasa zalim yang suka menindas dan bertindak diktator, yang dalam Hadits Rasulullah saw dinubuatkan sebagai “mulkan ‘adhan dan mulkan jabariyyah”.

Dalam masa kerusakan umat Islam tersebut, Allah swt masih menunjukkan kasih sayang-Nya kepada mereka dengan membangkitkan Mujaddidmujaddid-Nya sesuai dengan kebutuhan pemahaman agama mereka saat itu. Kaum Muslimin yang mengenal dan mengikuti Mujaddid pada abadnya itulah yang termasuk Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah masa itu. Rasulullah saw bersabda:

اِنَّ اللهَ يَبْعَثُ هٰذِهِ الْاُمَّةُ رَأْسِ كُلِّ مِاَةٍ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

“Sesungguhnya Allah akan senantiasa membangkitkan untuk umat ini pada awal setiap abad orang yang memperbarui pemahaman agamanya (mujaddid).” (HR Abu Daud, 36:1; dan Kanzul-Umal, Juz XII/34623)

Adapun nama-nama Mujaddid yang telah dibangkitkan sesudah masa Khulafaur-Rasyidin dari abad pertama Hijriyah hingga abad empat belas Hijriyah menurut Nawwab Shiddiq Khasan bin Ali Al-Qanuji rh (1258-1307 H) dalam kitabnya Hujajul-Kiraamah fii Atsaaril-Qiyaamah, halaman 135-139, ialah sebagai berikut:

  1. Hadhrat Umar bin Abdul-Aziz rh.;
  2. Hadhrat Imam Syafi’i dan Hadhrat Imam Hambali rh;
  3. Hadhrat Imam Abu Syarah dan Hadhrat Imam Abu Hasan Al-Asy’ari rh.;
  4. Hadhrat Imam Ubaidillah dan Hadhrat Imam Qadhi Abu Bakar Baqlani rh;
  5. Hadhrat Imam Ghazali rh;
  6. Hadhrat Syekh Abdul-Qadir al-Jailani rh;
  7. Hadhrat Ibnu Taimiyah dan Khawaja Mu’inuddin Cisti rh;
  8. Hadhrat Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Hadhrat Shalih Ibnu Umar rh;
  9. Hadhrat Sayyid Muhammad Janfuri rh;
  10. Mujaddid Hadhrat Jalaluddin As-Sayuthi rh ;
  11. Hadhrat Syekh Ahmad Sirhind Mujaddid Alfi Tsani rh ;
  12. Hadhrat Syekh Waliyullah Ad-Dehelwi rh;
  13. Hadhrat Sayyid Ahmad Berelwi rh.

Sedangkan Mujaddid abad ke-14 akan bergelar Al-Mahdi dan Al-Masih.

Mengingat setiap Mujaddid itu dibangkitkan oleh Allah swt, maka ia memberitahukan kepada umatnya agar mereka mengerti dan mengikutinya. Demikian pula, pada tahun 1882, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mengumumkan ke-mujaddid-an beliau melalui 20.000 eksemplar selebaran. Diantara pengakuan beliau sebagai mujaddid. Beliau as bersabda:

وَوَاللهِ اِنِّىْ قَدْ تَبِعْتُ مُحَمَّدًا

وَوَاللهِ اِنِّى جِئْتُ مِنْهُ مُجَدِّدًا

“Dan demi Allah, sesungguhnya aku mengikuti Muhammad dan demi Allah, sesungguhnya aku datang sebagai Mujaddid dari-Nya.” (Al-Istifta, hal. 354)

Adapun Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah pada Abad XIV yang dibangun oleh Hadhrat Imam Mahdi dan Masih Mau’ud as akan terus berdiri dan berkembang menuju kesempurnaannya hingga hari kiamat. Jamaah inilah yang disebut Khilafaah ‘alaa Minhaaji Nubuwwah dalam Hadits. (HR Abu Daud Al-Thayalisi, Abu Daud, Ahmad bin Hanbal dalam “Musnad”-nya, Al-Rauyani, dan Sa’id bin Manshur dalam “Sunan”-nya dari Nu’man bin Basyir dari Khudzaifah ra.; dan Kanzul-Umal, Juz VI/15114)

Ciri-ciri Jamaah Islam yang dibangun oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi dan Masih Mau’ud as ini dijelaskan dengan terang dalam Al-Qur’an dan Hadits-hadits Rasulullah saw, antara lain seperti berikut:

Pendirinya:

  • Namanya seperti nama Rasulullah saw. (HR Ahmad bin Hanbal dalam “Musnad”-nya, Abu Daud, At-Turmudzi—dari Ibnu Mas’ud; dan Kanzul-Ummal, Juz XIV/38655)
  • Berpangkat Nabi dan Rasul berkat mengikuti Nabi Besar Muhammad saw dan berasal dari umat beliau saw. (Al-Jumu’ah, 62 : 3-4; An- Nisa : 70)
  • Kedua moyangnya dari keturunan Fathimah binti Rasulillah dan keturunan Persi, yaitu kebangsaan sahabat Salman Al-Farisi ra. (HR Abu Daud dalm “Musnad”-nya, Juz II, hadits ke-4284; Misykatu Syarif, hadits ke-5217; dan Shahih Bukhari, Juz III,”Fasal Surat Al- Jumu’ah”)
  • Tempat kebangkitannya berada di sebelah timur Damsyiq (Damaskus). (HR Al-Thabrani serta Haitami; dan Kanzul-Ummal, Juz XIV/38852)
  • Akhlaknya menyerupai akhlak Rasulullah saw. (HR Abu Daud; dan Misykatu Syarif, hadits ke- 5226)
  • Ajarannya dianggap asing, seperti anggapan orang-orang pada permulaan lahirnya Islam. (HR Muslim; dan Misykatu Syarif, hadits ke-151)
  • Pendirinya mendapat gelar Isa ibnu Maryam dan Imam Mahdi. (HR Ath-Thabrani; dan Kanzul-Ummal, Juz XIV/38808)
  • Pengakuannya sebagai Mahdi akan disaksikan oleh peristiwa gerhana bulan dan matahari dalam bulan Ramadhan. (Surat Al-Qiyamah, 75: 9-10; HR Ad-Daruquthni, Juz II, hadits ke-10)

Ciri – ciri Jamaah Islam yang didirikannya, antara lain:

  • Mengajarkan 10 (sepuluh) perintah yang merupakan rumusan ajaran Islam yang dituangkan dalam 10 syarat ( janji) bai’at. (HR Ath- Turmudzi; dan Kanzul-Umal, Juz XIV/38626)
  • Setiap pengikut Jamaahnya menyatakan bai’at (HR Ibnu Majah, Juz II, hadits ke-4084)
  • Bendera Jamaahnya berwarna hitam. (HR Ahmad bin Hanbal, Al-Baihaqi; dan Misykatu Syarif, hadits ke-5225)
  • Panji-panji Jamaahnya bertuliskan “Laa ilaaha illaa Allah”, artinya: “Tidak ada Tuhan kecuali Allah”. (HR Ath-Turmudzi, Ibnu Majah; dan Misykatu Syarif, hadits ke-5322)
  • Para pengikutnya senantiasa memperbaiki apa yang dirusak manusia. (HR Ath-Turmudzi; dan Misykatu Syarif, hadits ke-161)

Semua ciri diatas telah tergenapi pada Jamaah Islam Ahmadiyah yang didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikaruniai gelar Imam Mahdi dan Masih Mau’ud ‘alaihis-salaam (1835-1908 M). Jamaah ini memperlihatkan keluhuran akhlak dengan penuh kesabaran dalam menghadapi cobaan-cobaan sebagaimana kesabaran yang dicontohkan oleh yang mulia Rasulullah saw dan para sahabat ra di kota Mekah. Karena itulah, tidak diragukan lagi bahwa Jamaah ini adalah Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah di zaman sekarang ini. Dan lebih ajaib lagi, jika kita baca kitab Talmud, yaitu kitab kaum Yahudi yang menghimpun Hadits-hadits Nabi Musa as, disana ada satu nubuatan yang terjemahan Inggrisnya berbunyi:

It is also said He (the Messiah) shall die and His kingdom descend to His son and grandson.” (Artinya: “Di situ juga dikatakan Ia (Al-Masih) akan mati, dan kepemimpinannya akan diwariskan kepada putranya dan cucunya.”) (Talmud, p. 37, Ed. Joseph Berkley)

Nubuatan ini cocok jika ditujukan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, sebagai Al-Masih umat Islam, karena beliaulah pendiri kerajaan ruhani, bernama Jamaah Islam Ahmadiyah di akhir zaman ini. Kemudian setelah beliau wafat, kepemimpinan Jamaah beliau diteruskan oleh seorang Khalifah melalui suatu pemilihan. Dan di antara para Khalifah penerus beliau, terpilihlah putra beliau bernama Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra yang terpilih menjadi Khalifah II. Kemudian melalui pemilihan seperti itu pula terpilih cucu beliau bernama Hadhrat Mirza Nashir Ahmad ra menjadi Khalifah III. Kemudian melalui pemilihan seperti itu pula terpilih cucu beliau lagi bernama Hadhrat Mirza Tahir Ahmad rh menjadi Khalifah IV dan melalui pemilihan seperti itu pula terpilih cicit (buyut) beliau Hadhrat Mirza Masrur Ahmad atba sebagai Khalifatul-Masih Al-Khamis, Pemimpin Jamaah Islam Ahmadiyah yang sekarang.

Dua Fitnah Besar di Zaman Ini

Kehadiran Jamaah Islam Ahmadiyah bertujuan untuk menyelamatkan Islam dan kaum Muslimin dari berbagai khurafat, bid’ah dan ancaman fitnahnya Dajjal, Ya’juj wa Ma’juj. Namun sebagian kaum Muslimin yang tidak berhati arif akan melakukan protes (QS 43 : 58). Bahkan, sebagian ulama yang tidak mau ber-tabayyun[2]) (QS 49: 7) dan tidak mau mengadakan penelitian secara ilmiah akan membenci dan menghasut kaum awam dengan fitnah yang merugikan umat dan mereka sendiri. Rasulullah saw bersabda:

عُلَمَاءُهُمْ شَرٌّ مَنْ تَحْتَ اَدِيْمِ السَّمَآءِ مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةُ وَ فِيهِمْ تَعُوْدُ

“Ulama mereka seburuk-buruk manusia di kolong langit, dari mereka keluar fitnah dan kepada mereka fitnah itu akan kembali.” (HR Ibnu Addi dalam “Al-Kamil”, Al-Baihaqi dalam “Syi’abul-Iman”—dari Ali Radhiyallaahu’anhu; dan Kanzul-Umal, Juz IX/31136, ‘Allamah ‘Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalahm Beirut, Libanon 1989)

 

Penerbit:

Sektab PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia

Cet. 1. 2017

 

[1] Penulisan nomor ayat Al-Quran dalam brosur ini berdasarkan Hadits Nabi Besar Muhammadsaw. riwayat sahabat, Ibnu Abbasra yang menunjukkan bahwa setiap Basmalah pada tiap awal surah adalah ayat pertama dari surah itu.

كَنَا لاَ يَعْرِفُ فَصْلَ السُّوْرَةِ حَتّٰى يَنْزِلَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

“Nabi Muhammadsaw. tidak mengetahui pemisahan antara surah itu sehingga bismillaahirrahmaanirrahiim turun kepada beliausaw..” [HR. Abu Daud, “Kitab Shalat” dan Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak”]

[2] Menurut ayat ini, informasi yang disampaikan oleh seorang pendurhaka pun harus diselidiki dengan teliti (tabayyun) tentang benar atau salahnya informasi itu. Apalagi, informasi yang disampaikan oleh orang beriman dan berakhlak luhur yang mengemukakan Al-Quran dan Hadist Rasulullah saw.

(Visited 59 times, 1 visits today)