Menghapus Satu Kesalahan

Judul : Menghapus Satu Kesalahan
Penulis : Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as
Judul Asli : Eik Ghalaţĩ Kã Izãlah (Urdu)
Alih Bahasa : Jusmansyah
Penyunting: Ekky O. Sabandi
Edisi: Cetakan Ketiga, Jakarta 2015
Ukuran : 14.8 X 21 Cm
Isi : x + 22 halaman
Penerbit : Neratja Press, 2015
ISBN : 978-602-0884-08-0

Sinopsis

Buku Menghapus Satu Kesalahan (Eik Ghalaţĩ Kã Izãlah) merupakan karya Hadhrat Ahmadas yang ditulis beliau untuk melenyapkan kesalahpahaman tentang kenabian Hadhrat Ahmadas. Hadhrat Ahmadas mengatakan bahwa salah seorang pengikut beliau dikecam oleh seseorang karena ia telah mempercayai seseorang yang mengaku nabi. Jawaban pengikut beliau itu kemudian menyangkal adanya pengakuan kenabian itu. Hadhrat Ahmadas bersabda bahwa jawaban seperti itu tidaklah benar, karena wahyu-wahyu yang telah beliau terima dari Allahswt mengandung kata-kata sebutan 'nabi' dan 'rasul' tidak hanya sekali dua kali, melainkan ratusan kali.

Sebelum menulis buku ini, Hadhrat Ahmadas juga memegang pemahaman dan penafsiran kata 'nabi' dan 'rasul' sebagaimana kebanyakan umat Islam pada umumnya, bahwa seorang nabi dan rasul itu harus membawa syariat dan agama baru dan bukan mengikuti syariat nabi manapun sebelumnya. Namun kemudian beliau diberi pemahaman oleh Allahswt bahwa hal seperti itu tidak benar, kerena beliau sendiri nabi, tetapi tidak membawa syariat dan tidak membawa agama baru, atau tidak memiliki kedudukan dan pangkat kenabian yang mandiri, melainkan sebagai seorang nabi ummati yaitu seorang umat dan pengikut Nabi Muhammadsaw yang dianugerahi kenabian berkat mengikuti syariat beliau saw .

Dalam buku ini beliau menulis:

"Pada saat saya membantah pengakuan sebagai Nabi dan Rasul, hal itu dimaksudkan adalah saya tidak membawa Syariat tersendiri atau menjadi Nabi yang independen. Saya disebut sebagai Nabi dan Rasul, hanya dalam pengertian bahwa saya telah menerima karunia rohani yang berasal dari Rasulullah saw yang saya taati, dan setelah saya menyandang namanya, maka melalui beliau saw - lah saya menerima kabar-kabar ghaib dari Allah Taala. Tetapi saya tidak datang dengan Syariat baru. Saya tidak pernah membantah disebut Nabi dalam pengertian ini. Memang dalam arti inilah Allah Taala telah memanggil saya sebagai Nabi dan Rasul; dan dalam pengertian inilah saya tidak menyangkal menjadi Nabi atau Rasul. "

(Visited 163 times, 1 visits today)