Hhutbah tanggal 12 Oktober 2001 Khu –U

            Khutbah hari ini berkaitan dengan sifat rafiyq-sahabat Allah swt dan kini masih banyak sifat-sifat baik Allah swt yang berkenaan dengan itu akan banyak khutbah-khutbah yang akan disampaikan. Namun, hari ini,sejauh yang saya telah usahakan, khutbah ini telah saya  singkatkan.dan tetap  akan memakan waktu. Pertama-tama saya akan membacakan ayat surah An-Nisa’ ayat 2:Yaa ayyu……………raqiybaa-

            Inilah ayat suci yang dibaca waktu pernikahan. Dan dari ayat-ayat itu, ini merupakan  sebuah  ayat yang terjemah leterliknya sbb:

            Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu dari satu jiwa dan daripadanyalah Dia menciptakan jodohnya. dan kemudian dari keduanya Dia mengembangbiakkan banyak laki-laki dan perempuan dan bertakwalah kepada Allah  yang dengan nama-Nya kamu saling meminta diantara kamu dan perhatikanlah hubungan tali kekerabatan. Sesungguhnya Allah pengawas atas kamu.

            Kini di dalam ayat suci ini hal yang mengherankan adalah Dia telah menciptakan dari satu jiwa yang merupakan perkara permulaan  kelahiran,yang disini Al-Quran tengah  lukiskan. Pada kenyataannya sebelumnya hanya satu  jiwa yang ada, dan tidak ada masaalah pembagian jenis kelamin dalam corak apapun Lama kelamaan jiwa itu terbagi dalam dua bagian.dan lama kelamaan  menjadi mengecil dan seperti inilah rangkaian  terus berjalan.Kemudian dari itulah – yang  merupakan ihsan/kebaikan  agung Allah,  Dia menciptakan sistim memisahkan satu hewan kecil dari itu. Jadi,  setiap yang bernyawa dulunya melemparkan satu kembarannya/misalnya di air Dan di airlah  keduanya itu,  yang keluar dari kembaran jodoh yang  lain,keduannya bertemu   kemudian  menjadi satu jiwa..Jadi, seperti itulah dari kelahiran awal sampai akhirat, teori /sistim apapun yang berlaku semuanya  disebutkan.

            Dan kemudian hal yang menarik adalah bahwa Dia berfirman  sebelum

Adam  jodoh telah terbentuk . Tidak benar pandangan bahwa hanya Adam-lah  manusia pertama.Bahkan sebelum Adam  jodoh-jodoh telah terbentuk .wa batstsa min huma rijaalan katsiyran wanisaa’ –Dan Dia menciptakkan dari jodoh-jodoh itu banyak laki-laki dan juga  perempuan.Jadi, sebelum Adam, telah mulai terbentuk jodoh-jodoh Dan adapun halnya pandangan dungu bahwa Hadhrat Adam merupakan  manusia pertama yang  untuk  seterusnya darinya lahir anak-anak,lalu pandangan bahwa Hadhrat Hawa,terbentuk  dari tulang rusuk Adam, semua itu  merupakan  pandangan-pandangan   salah yang Al-Quran sama sekali   menolak  hal itu.

Di akhir ayat tertulis wattaqullah……..arham- Bertakwalah kamu kepada Allah yang dengan  nama-Nya kamu satu dengan yang lain  saling bertanya.wal-arhaam dan secara khas perkara tali  kekerabatan hendaknya diperhatikan.- Dan merupakan hal yang sangat disayangkan  bahwa dewasa ini banyak sekali pengaduan-pengaduan menyangkut  sikap /perlakuan  terhadap  kerabat dekat bahwa mereka tidak diperhatikan yang  sebagai dampaknya banyak perselisihan  masalah keluarga yang terus terjadi. Dalam urusan keluarga yang penting   diingat adalah bahwa istri menemukan mertua baru yang hendaknya berfungsi sebagai bapak dan demikian  pula  suami  memperoleh mertua perempuan baru yang hendaknya seperti ibu baginya. Jadi, jika di dua pihak  jalinan serupa ini yang terjadi maka sebagai hasilnya komplik dalam  rumah tangga tidak akan terjadi. Akan tetapi karena  kurangnya hal-hal itu,yakni tidak dihiraukannya nasehat pertama Al-Quran tatkala  suami istri menjalin ikatan nikah  akhirnya  timbul semua masaalah itu dan surat-surat saya pun setiap hari penuh dengan masaalah-masaalah  tidak dijaganya  ikatan tali kekerabatan.

Pada akhir ayat  ada innallah ‘alaikum raqiyba Kamu janganlah menganggap bahwa tidak ada pengawas atasmu, Allah Pengawas atas kamu. -Kini kata raqiyb hendaknya dipecahnya dari segi lughat,  bahwa dalam arti apa ? Satu arti raqaba  adalah duduk di tempat pengintaian;duduk menunggu sambil mengintai seseorang Maka manusia pun hendaknya takut bahwa untuknya pun  ada yang duduk sambil mengintainya  yang pada akhirnya dia akan sampai pada akibat buruknya.

Arti kedua raqiyb adalah:alhaafizhulladziy laa yagiybu anhu syaiun-Pengawas/Pelindung yang tidak ada sesuatu tersembunyi darinya.Setiap saat mengetahui  bahaya apa yang akan dihadapi  dan sesuai dengan itu karena mengetahui dari sebelumnya akan bahaya itu Dia lalu menjaganya dari bahaya itu. raqqaba juga artinya adalah juga hati-hati/waspada attaraqqubu: al intizhaar wa tawaqquu’sysyai-Menunggu sesuatu barang dengan harapan juga termasuk dalam arti attaraqqubu. raqiybul-kaum: haarisuhum. Maksud raqiybulkaum adalah pelindungnya/Pengawasnya. Semua arti-arti ini diambil dari Mufradaat Imam Ragiyb dan dari Lisaanul’arab  Dan secara singkat di dalam Aqrabul Mawaarid  arti raqiyb adalah pelindung;penanti/penunggu dan pengawas. Disini  terkumpul tiga arti yang diterangakan.

Kini sebuah hadis dalam Bukhari Kitabulmanaaqiyb :an abi bakrin radhiallahu a’nhu qaala:urqubuw muhammadan shallaahu ‘alahi wasallam fi ahli baitihi-Yakni lindungilah Muhammad bersama  keluarganya Lindungilah beliau  sambil mengorbankn keluargamu dan lindungi pulalah keluarga beliau. Jadi, inilah arti yang diuraikan  Hadhrat Abu Bakar Siddiq r.a.

Ada sebuah  riwayat  Masnad Ahmad bin Hanbal dalam Masnad al-anshar yang diriwayatkan dari Hadhrat Abdullah bin Tsa’labah bahwa beliau bersabda: Bagi Rasulullah saw. sedemikian rupa  perlindungan  Tuhan yang mana itu tidak diperoleh  siapapun. (Masnad Ahmad bin Hanbal, Masnad Ansar) Maksudnya berada dibawah naungan  perlindungan Tuhan dan siapapun tidak mendapatkan perlindungan se mulia /sehebat yang diperoleh Rasulullah saw.

Hadhrat Ali r.a.meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:” Setiap nabi telah dianugerahi  tujuh sahabah/teman yang memiliki silsilah keturunan yang memiliki wibawa tinggi.”- Kini perinciannya kita tidak mengetahui mana yang tujuh yang diberikan dan bagaimana itu dianugerahkan.Namun,yang diketahui hanya  bahwa pasti penolong  dari  silsilah keturunan yang tinggi/wibawa yang dianugerahkan,  yang sesuai dengan petunjuk Tuhan mereka memberikan pertolongan. Namun, Rasulullah saw. bersabda berkenaan dengan diri beliau bahwa saya diberikan empat belas serupa itu  penolong yang melindungi. Ketika ditanyakan kepada Hadhrat Ali r.a.yang empat belas situ yang mana ? Nah,kini hadis ini bukanlah hadis dalam arti bahwa Rasulullah saw. yang mengucapkannya. Ucapan yang serupa itu disebut atsar-jejak. Yakni, Hadhrat Ali sendiri yang  yang menerangkan bahwa saya salah satu dari itu  dan kedua anak saya Ja’far, kemudian Hamzah, Abu Bakar , Umar,Masa’b bin Umair , Bilal, Salman Ammar,Miqdad,Huzaifah dan Abdullah bin Mas’ud

                                                           (Tirmidzy Abwab manaqiyb baitunnnabiy)

Kini terjemahan  sebuah hadis panjang dari Akramah bin Ammar   saya akan sampaikan di hadapan kalian:

Akramah bin Ammar meriwayatkan bahwa Dhamdham bin Jous memberitahukan  bahwa Hadhrat Abu Hurairah menceritakan bahwa saya mendengar Rasulullah saw. bersabda,’Ada dua orang Bani israil yang menjalin ikatan tali persaudaraan diantara mereka. Salah  satu diantara ke  keduanya selalu terjebak dalam dosa dan sementara yang seorang selalu  sibuk dalam ibadah. Sahabat yang selalu beribadah selalu menasehati yang berdosa  untuk meninggalkan dosa kapan saja  mendapatkannya tengah  melakukan dosa. Satu hari dia melihatnya tengah melakukan dosa maka dia berkata padanya tinggalkanlah amal buruk ini . Dia menjawab, ‘Lepaskanlah urusan saya  pada Tuhan saya .Apakah engkau dikirim sebagai pengawas untuk saya ?Atas jawaban /hal itu ahli ibadah itu berkata, demi Allah,Dia tidak akan mengampuni engkau,atau dia berkata bahwa Allah tidak akan memasukkan engkau ke dalam surga. Ruh keduanya dicabut dan keduanya berkumpul di hadapan rabbula’alamiyn(Tuhan).Maka Tuhan berkata kepada yang mujtahid/yang  berijtihad: Apakah berkenaan dengan Aku engkau mengetahui (akan apa yang akan Saya lakukan ?)-atau Dia berfirman apakah engkau kuasa  atas apa yang ada dalam kuasa Saya ?. Dan kemudian berkata pada yang berdosa itu,’Pergilah ke dalam surga,masuklah dengan bersandarkan pada rahmat Saya. Kemudian  berkenaan dengan yang kedua berfirman, supaya malaikat memasukkannya ke neraka

                                                                              (Sunan Abi Daud Kitabul adab)

Jadi nasehat yang bisa diperoleh  dari itu khususnya  berkenaan dengan kekuasaan Tuhan dan ampunan-Nya jangan hendaknya mendakwakan yang tidak benar bahwa si fulan  akan dimaafkan dan si fulan tidak akan dimaafkan. Jika Allah menghendaki maka dosa yang besar-besar sekalipun  Dia akan maafkan dan inilah yang ada dalam Al-Quran bahwa ampunan-Nya meliputi segala sesuatu. Jadi, mengatakan dengan bersumpah atas nama Tuhan bahwa si fulan Tuhan tidak akan maafkan, ini sama sekali merupakan kezaliman  dan merupakan  penganiayaan terhadap  diri  sendiri.Maka orang yang mengambil alih kekuasaan-kekuasaan Tuhan di tangannya hal itu menjadi pertengkaran  dengan-Nya. Jadi, kekuasaan Tuhan hanya baik di tangan Tuhan,seorang  hamba tidak bisa ikut campur dalam urusan Tuhan dan sebagai dampaknya sebagaimana diterangkan dalam hadis seorang yang secara zahir merupakan  penghuni neraka menjadi penghuni surga dan seorang yang secara zahir penghuni surga menjadi penghuni neraka.

Hadhrat Anas bin Malik r.a.bersabda:Seorang datang kepada Rasulullah saw. dan berkata kepada nabi: Ya Nabi Allah saya ingin melakukan perjalanan . Beliau berkata: Kapan?”Besok, insyaallah “ jawabnya.Atas hal itu beliau datang padanya. Beliau memegang tangannya dan bersabda:Semoga engkau berada di bawah perlindungan dan aman-Nya ,semoga Allah menganugerahi engkau perbekalan takwa,memaafkan dosa-dosamu dan kemanapun kamu mengarah, Allah membawa engkau pada kebaikan”

                                                                       (Sunan Addarami Kitabul-isti’dzaan)

Inilah  doa-doa,yang darinya dapat diketahui bahwa pada hakekatnya orang itu pasti akan berhadapan dengan  bahaya yang karena doa Rasulullah saw. itu menjadi terhindar. Sebagaimana pada zaman Hadhrat Masih Mauud a.s. juga sesuai riwayat Maulvi Rajiki Sahib r.a.waktu beliau pergi secara khas beliau a.s. bersabda :”Semoga berada dalam perlindungan Allah,semoga Allah menjadi pelindung dan penolong”-Di jalan ular berkali-kali menyerang beliau,namunbeliau  terus selamat  dari setiap serangan   . Dan beliau kemudian sesudahnya memberikan keterangan bahwa Hadhrat Masih Mauud a.s. yang secara khusus bersabda kepada saya semoga Allah melindungi engkau  itu bukanlah hal yang biasa Karena pengaruh itu saya terus selamat dari setiap  serangan-serangan.

Allamah Fakhruddin Raazi dalam menafsirkan ayat innallaha ‘alaikum raqiyba bersada:Maksud arraqiyb adalah pelindung/pengawas yang mengawasi semua ama-amal engkau dan dari kata inilah sifat raqiyb (pengawas) Allah. Jadi Allah sambil   membertahukan sifat raqiyb menerangkan bahwa Dia mengetahui segala rahasia dan hal-hal yang terselubung. Jika  kondisinya demikian  maka berkenaan  dengan mengerjakan amalnya atau tidak mengerjakan amal penting bagi manusia hendaknya selalu hati-hati dan  selalu mengingat ketakwaan pada Zat-Nya.

Hadhrat Khalifatul Masih 1 bersada:

Innallaha ‘alaikum raqiyba jika kamu memperhatikan bahwa Allah merupakan  pengawas atas hal kamu maka kamu akan bisa selamat dari setiap corak  perbuatan keji dan keburukan yang bisa melemparkan jauh dari ketakwaan. Perhatikanlah, di hadapan seorang manusia  agung seorang  tidak bisa memiliki keberanian melakukan keburukan . Setiap pelaku  keburukan ingin menyembunyikan keburukannya. Kemudian kalau mengimani Allah sebagai raqiyb-Yang Maha Mengawasi dan bashiyr-Yang Maha melihat dan  beriman dengan sejati pada –Nya maka dia akan selamat dari perbuatan seperti itu. Walhasil takwa merupakan ni’mat yang mana seorang yang muttaqi dapat meraih keturunan yang suci/saleh”.

                                                                (Al-Hakam 21 Oktober 1902 hal 14-15)

Dalam rangkaian ini saya teringat sebuah hadis.Beliau bersabda:Mu’min selama berada dalam dosa sampai pada waktu itu dia tidak tetap berada dalam kondisi mu’min dan sesudah itu dia kembali pada iman. Jadi ini merupakan  pokok bahasan makrifat yang sangat dalam ,yakni semua orang pada hakekatnya ketika tengah  melakukan keburukan pada waktu  itu mereka tengah menganggap Tuhan dalam kondisi gaib(jauh), kalau tidak, tidak akan berani melakukan dosa . Ketika telah melakukan dosa maka baru ingat.bahwa dia telah terlanjur melakukan itu. Oleh karena  itu  Rasulullah saw. bersabda: Pada waktu itu(tengah melakukan dosa) dia bukan orang mu’min tetapi setelah melakukan dosa baru kemudian menjadi orang yang beriman. Beranggapan bahwa imannya  selamanya akan  hilang adalah salah.

 Ada satu lagi perkataan Hadhrat Khalifatul Masih 1 :

Resep untuk meraih takwa harus mengimani  Tuhan sebagai raqiyb– Pengawas.Oleh karena itu Allah berfirman  innallah ‘alaikum raqiyba Jika kamu selalu mengingat bahwa Allah selalu menjadi pengawas setiap keadaan/kondisi kamu maka kamu akan selamat dari setiap perbuatan keji  dan keburukan yang menjadikan jauh dari takwa”

                                                               (Ahbar Badar Qadian 5 Maret 1908 hal.6)

Kini ayat surah Al-Maidah dimana disebutkan penggunaan kata raqiyb(118):

Saya tidak pernah mengatakan pada  mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan padaku,yaitu,’Beribadahlah pada Allah,Tuhanku dan Tuhan-mu dan aku menjadi saksi/pengawas selama aku berada diantara mereka. Akan tetapi tatkala  Engkau mewafatkan aku maka Engkau Sendiri-lah yang menjadi Pengawas atas mereka dan Engkau adalah saksi atas segala sesuatu.

Hadhrat Ibnu Abbas berkenaan dengan itu meriwayatkan dalam Bukhari Kitabuttafsir bahwa sekali Rasulullah saw. dalam sebuah ceramah  bersabda:

Pada hari kiamat yang  paling pertama dipakaikan jubah adalah Hadhrat Ibrahim – Kini dikenakannya jubah/pakaian kepada Hadhrat Ibrahim,ini karena Hadhrat ibrahim  telah memilih ketakwaan.dan kertika dikatakan padanya menjadi muslimlah engkau maka beliau berkata di hadapan Tuhan bahwa saya dari sejak dahulu/sebelumnya  telah menjadi muslim/itaat Jadi, penggunaan kata memakaikan Ibrahim pakaian digunakan sebagai satu pribahasa,yang merupakan  pakaian ketakwaan.Dan karena  beliau akan mengenakan jubah ketakwaan oleh karena itu  beliau dipakaikan jubah/pakaian  ini. Namun, di dalam itu timbul satu keraguan, bahwa apakah-naudzubillah min dzaalik-sebelum Rasulullah saw. Hadhrat Ibrahim telah dipakaikan jubah ketakwaan , sebab  itu hal ini hati tidak menerimanya.Di dalam ini ada hikmat yang terselubung, yang karenanya hal ini difirmankan.Akan tetapi hal ini sama sekali  tidak mungkin bahwa sebelum Rasulullah saw. Hadhrat Ibrahim yang dipakaikan jubah/pakaian ketakwaan.

Di dalam sebuah hadis lain tertulis bahwa Rasulullah saw. bersabda:Apabila saya bangkit pada hari kiamat maka Musa yang paling pertama  akan nampak pada  saya,yang satu kali pernah pingsan  tidak sadarkan diri, dia akan bangkit dua kali.-Jadi,  kontradiksi diantara ini memerlukan   penelitian.Dan dalam corak kontradiksi-kontradiksi seperti ini hal yang mudah  adalah kembalilah kepada Al-Quran dan apa yang Al-Quran terangkan itulah yang paling baik, bahwa Rasulullah saw. merupakan  muttaqi yang paling bertakwa dari semua yang muttaqi.

Ada satu riwayat Ibnu Abbas bahwa pada satu hari Rasulullah saw. dalam ceramahnya bersabda: “Pada hari kiamat Hadhrat Ibrahim merupakan orang yang paling pertama dipakaikan jubah” – Bagian keduanya :Waspadalah, sebagian orang dari ummatku  akan dibawa dan mereka  akan dibawa kesebelah kiri . Atas hal itu  saya akan berkata, ya Tuhan ! Ini kan  sahabahku. Maka  dikatakan : Sesudah engkau mereka banyak mengada-ngadakan hal-hal baru/bidaah. Lalu sayapun akan berkata seperti   seorang hamba yang saleh berkata: Selama saya sebagai pengawas mereka, mereka tidak seperti itu. Namun tatkala Engkau mengangkat saya, memanggil saya maka ya Tuhan, Engkau-lah pengawas  mereka Setelah Engkau  mewafatkan saya,maka saya tidak lagi menjadi pengawas atas mereka.

                                                                                             (Bukhari Kitabuttafsir)

Inilah hadis yang dengan berasaskan hadis ini Hadhrat Masih Mauud a.s. mengambil kesimpulan bahwa Hadhrat Masih a.s.telah diangkat dan kini tidak akan kembali,karena apabila dia telah meninggalkan pengawasannya maka tidak bisa dikatakan bahwa kini dia akan kembali untuk kedua kalinya dan dia mengaetahui juga bahwa apa peristiwa yang terjadi dan mekipun demikian tetap akan mengatakan kepada Tuhan bahwa saya tidak tahu apa-apa.

Perincian itu Hadhrat Masih Mauud a.s. menerangkan dalam kata-kata sbb:

Hadhrat Masih Mauud a.s. dalam ayat falamma tawaffaitaniy (Tatkala Engkau mewafatkan aku) dengan jelas menegaskan bahwa saya untuk selama-lamanya telah diangkat dari dunia,perkataannya yang mengatakan ketika Saya diwafatkan maka ya Tuhan ! sesudahku Engkau yang menjadi pengawas ummatku,jelas memberikan kesaksian bahwa  dia telah wafat untuk selama-lamanya.Karena jika kedatangannya di dunia merupakan ketetapan maka pasti akan menyebutkan ke dua peristiwa itu dan tabligh sesudah turunnyapun pasti akan dia terangkan, bukannya  sambil menyebut akan wafat beliau kemudian lalu menyatakan Tuhan-nya sebagai pengawas sampai hari kiamat”.

                    (Izalah Auham bagian kedua hal….Catatan kaki di dala catatan kaki)

Berkenaan dengan topik inilah ada satu kutipan dalam Kisyti Nuh/Bahtera Nuh:

Dari ayat ini dapat dimaklumi bahwa Hadhrat Isa tidak akan datang lagi di dunia ini, karena jika dia  akan datang kembali di dunia ini maka dalam corak itu jawaban Hadhrat Isa hanya dusta belaka bahwa saya (Isa)tidak ada berita akan kerusakan yang dialami orang-orang Kristen.Orang yang untuk kedua kali datang di dunia, tinggal empat puluh tahun; melihat beratus ratus juta orang-orang Kristen yang mengenalnya sebgai Tuhan dan dia mematahkan salib; menjadikan orang kristen sebagai orang Islam, dia bagaimana mungkin bisa beralasan di hadapan Tuhan bahwa saya tidak mengetahui akan kerusakan yang dialami orang-orang Kristen.

                                                                       (Bahtera Nuh hal.18 Catatan kaki)

Adapun kenapa riwayat ini tidak dimengerti akibat para ulama menganggap semua hadis-hadis  secara zahir.Padahal dari riwayat ini  dapat diketahui dengan jelas bahwa Hadhrat Isa merupakan i’lmun lissaa’ti –Tanda sebelum datangnya kiamat,yakni merupakan tanda sebelum revolusi agung. Ketika dia kembali untuk kedua kali di dunia, dia tidak akan datang dengan tubuh kasarnya, yang akan datang matsiyl-kembarannya dan dia akan melihat semua kondisi dan meskipun demikian kekufuran  yang sudah tersebar dan para pemuja salib , salibnya akan dia pecahkan ,yakni maksud Hadhrat Isa adalah bahwa perumpamaan Isa/Masih yang akan memecahkan salib, membunuh dajjal dan membunuh babi. Jadi, ini semua merupakan perumpamaan/bayangan-bayangan ruhani,yang kalau memahaminya dalam  arti zahir adalah salah.Walhasil, jika Allah menganugerahi taufik maka hendaknya selalu merenungkan hal itu sampai ke kedalamannya  yang sebagai hasilnya Allah banyak menganugerahi hal-hal baru.

Kapan saja manusia bimbang dalam suatu masaalah dan  ilmu tidak ada yang (berkenaan dengan suatu masaalah)maka jangan hendaknya mencari para ahli tafsir dll,  bahwa apa yang mereka telah katakan mengenai (suatu maalah).Kebiasan saya selalu mengajukan masaalah itu  di hadapan Tuhan  bahwa Engkau Yang Maha Mengetahui, jauhkanlah keraguan itu dan zahirkanlah  hakekat yang sebenarnya. Maka. sebagai hasilnya selalu tampa ragu-ragu Allah dengan karunia-Nya menzahirkan hakekatnya.

Kini surah Hud ayat 94:wa ya qaumi’maluw………….raqiyb-Hai kaumku teruslah lakukan  apa yang kamu bisa lakukan sesuai kemampuanmu. Sesungguhnya sayapun  akan terus melakukan sesuatu.Kamu pasti akan mengetahui bagaimana menghinakannya azab yang akan datang dan kamu akan mengetahui siapa yang pendusta Dan awasilah/perhatikanlah sesunggunya akupun mengawasi bersamamu-.Disini arti irtaqibuw adalah mengawasi,yakni awasilah apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang.

Hadhrat Allamah Fakhruddin Razi bersabda dalam tafsir :wartaqibuw inni ma’akum raqiyb bahwa ayat ini artinya adalah Tunggulah dia Saya juga menunggunya bersamamu,yakni saya penunggu.

Hadhrat Aqdas Masih Mauud a.s. bersabda:

I’maluw a’la makanatikum inniy a’milun Bahwa jika kalian ragu akan  kebenaranku maka kamupun beramallah sekemampuanmu masing-masing ,sayapun akan beramal. Akibatnya lihatlah nanti dukungan Tuhan dan pertolongan-Nya bersama  siapa.Perkara yang datang dari Tuhan itu bagaimanapun  juga itu pasti akan menang”

                                      (Al-Badar jilid 4 no. 6 tanggal 18 Februari 1905 hal. 4)

Kini surah Ahzab ayat 53: la yahillu ……..raqiyba

Dia tidak menghalalkan/memperbolehkan  sesudah itu perempuan-perempuan lain dan tidak boleh pula  sebagai ganti istri-istri itu kamu mengawini  istri-istri lain meskipun engkau menyenangi kecantikan mereka Kecuali apa yang dibawah kekuasaanmu dan Allah pengawas atas segala sesuatu.

Disini  perlu diperhatikan  bahwa ayat ini  turun tatkala  Rasulullah saw.  mencapai usia tua.Dan banyak para orintalis Barat mengumumkan bahwa dari ini tidak bisa diambil kesimpulan bahwa disini ada keinginan pribadi beliau,karena pada waktu itu, dengan karunia Allah apa yang akan  dianugerahkan kepada Rasulullah saw. itu telah dianugerahkan dan seterusnya beliau tidak ada lagi keinginan.Bahkan,ada semacam beban pada tabeat  beliau jika dalam umur seperti ini ada perintah kawin.

Jadi, sebagian ahli tafsir yang menterjemahkan salah, mereka hendaknya mengambil nasehat dari ini bahwa Allah telah memerintahkan pada beliau bahwa kini tidak  ada lagi waktu untuk menambah  istri  atau mengganti sebagian istri. apakah engkau menyukai  kecantikan mereka. -Jadi, senang pada kecantikan jika tidak termasuk di dalamnya hawa nafsu maka ini tidaklah  dosa. Karena kepada Rasulullah saw.juga inilah yang Allah swt firmankan:Meskipun kamu menyenangi kecantikannya”. Jadi, jika  kecantikan dipandang dengan pandangan bersih dan suci dan seorang/dia menyenangi  maka ini sama sekali bukan dosa.Akan tetapi jika dipandang dengan niat yang buruk  maka ini adalah dosa.

Kini surah Qaf ayat 17-19: walaqad…….raqiybun a’tiyd-Terjemah sederhananya adalah:Dan, sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan kami mengetahui apa yang dibisikkan  hatinya/jiwanya dan kami lebih dekat padanya dari urat nadinya Ketika dua malaikat pencatat duduk mencatat disebelah kanan dan di sebelah kirinya Dia tidak mengatakan sepatah katapun tapi di dekatnya ada malaikat pengawas yang siap sedia mencatatnya.

Riwayat Hadhrat Mufti Muhammad Saadiq r.a.:Pada satu hari di waktu subuh secara tiba-tiba seorang polisi yang berseragam inspektur  polisi sampai ke Qadian dan berkata bahwa saya adalah inspektur  polisi di Gudaspur dan saya ingin berjumpa dengan Mirza Sahib”.-Kini disini kaitan riwayat ini dengan raqiyb adalah bahwa pada waktu itu Allah adalah sebagai raqiyb(Pengawas) Hadhrat Masih Mauud a.s. Dia menjaga Hadhrat Masih Mauud a.s. sedemikian rupa yang (menjadikan) inspektur polisi itu kembali dengan kegagalan dan kebingungan . Jadi riwayatnya:Dia dengan seragam lengkap datang ke Qadian, dan berkata bahwa saya  inspektur polisi Gudaspur, datang untuk bertemu dengan Mirza Sahib.

“ Pada waktu itu telah berdiri Balai Pengobatan dan kantor Percetakan dan dimana kini ada tempat peneriman tamu  disinipun bangunan telah berdiri.Akan tetapi diantara ke dua rumah itu tidak ada bangunan.Hanya ada sebuah teras yang telah direnovasi di tempat tembok  tua kota/benteng tua kota. Di  teras inilah dia didudukkan di kursi/diterima   dan sebuah  kursi disiapkan untuk Hadhrat Sahib.Setelah adanya pemberitahuan Huzur keluar. Sebagaimana biasa di tangan Huzur selalu ada tongkat.Huzur a.s. datang dan duduk di kursi .Orang Inggris itu berkata bahwa saya ingin menanyakan sesuatu kepada Tuan.Beliau bersabda: Silahkan tanyakan.Baru dia mengeluarkan buku saku /caatatan kecil dari kantongnya dan dia mulai membukanya. Dengan sangat hati-hati dia membolik-balik satu-persatu halaman buku sakunya seolah-olah dia tengah mencari pertanyaan-pertanyaan yang ingin dia sampaikan yang tertulis di buku sakunya itu. Dia melihat seluruh halaman buku sakunya dan kemudian dia mulai lihat dari akhir sampai awal dan kemudian menutup itu dan tampa menanyakan satu soalpun dia memasukkan itu di kantongnya dan dia berdiri dan berkata bahwa pertanyaan itu kini tidak ketemu. Baiklah, selamat (kalau begitu).Saya kapan kapan nanti akan datang.Dia kembali dan tidak pernah datang lagi.

  (Dzikri Habib dari Mufti Muhammad Sadiq sahib radhiyallahu ‘anhu hal’21-22)

Jadi, ini merupakan keagungan pengawasan Allah swt.bahwa bagaimana Dia melindungi Hadhrat Masih Mauud a.s. dan dia, entah apa pertanyaan-pertanyaan nakal yang dapat menimbulkan kerusuhan.yang dia ingin tanyakan,namun dia sama sekali tidak nampak apa-apa.

Sebaliknya satu kali Hadhrat Masih Mauud a.s.  perlu sebuah  refrensi maka refrensi itu tidak diketemukan Para ulama duduk tengah mencari refrensi sementara  di hadapan mereka para mulla duduk menuntut  refrensi itu. Hadhrat Masih Mauud a.s. mulai membuka lembaran demi lembaran dan setelah sampai di satu halaman maka beliau berhenti dan itulah refrensi  yang beliau sodorkan. Semua  menjadi heran,  para ulama juga,  bagaimana ini bisa terjadi seperti ini, bahwa   Hadhrat Masih Mauud a.s. begitu saja dengan  cepat menemukan refrensi itu. Akan tetapi sesudahnya ketika ditanyakan maka Hadhrat Masih Mauud a.s. menerangkan penyebabnya bahwa ketika saya membalik-balikkan halaman maka semua halaman nampak putih,kosong,tidak ada yang tampak terlihat.dan ketika  membalik-balikan dan sampai ke halaman itu maka refrensi itu nampak di depan. Jadi, ini merupakan kebesaaran  Tuhan yang bersama itu pula telah membuktikan juga akan pengawasan/perlindungan terhadap Hadhrat Masih Mauud a.s.

Hadhrat Khalifatul Masih 1 bersabda:”Hendaknya orang mu’min sedapat mungkin harus mengambil   nasehat dari segala sesuatu. Kini Gramofon dianggap sebagai sarana untuk hiburan. Jika manusia  merenungkan, maka itu akan bisa menjadi bahan pelajaran.Sebagimana suara seseorng menjadi tertutup/terekam dan kemudian semua gerakgerik suaranya menjadi terekam  dan zahir di setiap majlis, begitu juga jika manusi yakin bahwa apa yang dia bicarakan ada di dekatnya perekam yang akan merekam sesuai kata ma yalfizhu min qaulin illa ladaihi raqiybun a’tiyd-Ia tidak mengucapkan  satu suarapun melainkan ada di dekatnya seorang  malaikat pengawas  yang siap sedia mencatatnya ”

                                                               Tazhizulazhan jilid 7 no. 40 hal 176-177

Apa yang  Hadhrat Khalifatul Masih 1 simpulkan merupakan kenyataan bahwa sebagaimana sesuatu itu direkam dan itu seberapa lama pun berlalu  itu setelah hapus akan menjadi ringan, namun sepenuhnya tidak akan hapus dan serupa itulah Allah telah menciptakan satu sistim rekaman  manusia  dan rekaman itu selalu akan ada.Akan tetapi seperti halnya sistim rekaman  manusia hapus dan menjadi ringan/kabur, tapi (rekaman Allah)itu akan tetap  seperti itu sebagaimana yang ada dan rekaman(perlindungan)ini juga terdapat  di kulit. Sebelumnya meskipun para ilmuan  keberatan bahwa Al-Quran mengatakan bahwa kulit-kulit, kulit-kulit manusia akan bersaksi menentang mereka maka orang-orang jahil biasa mentertawakan bahwa kulit-kulit itu,  apa yang bisa mereka  berikan kesaksian. Akan tetapi kini para ilmuwan sepenuhnya telah membuktikan dengan penelitian  bahwa di dalam setiap zarrah kulit , di setiap cel kulit ada rekaman semua tubuhnya,ada rekaman  semua gerakgeriknya dan kini kemudian mereka membuat rekaman setelah mengambil satu zarrah (cell)dari badan dan  dari kulit. Menurut pandangan para ilmuan  bahwa  jika mendapatkan kulit dinasourus maka bisa dibuat  dinosaurus lengkap. Jadi ini merupakan kebesaran  Tuhan yang sangat aneh bahwa Dia berfirman kepada kulit bahwa diapun akan berbicara.(untuk memberikan kesaksian)ketika waktu akan tiba dan akan memberitahukan kepada engkau akan apa yang terus kamu lakukan.Dan   dalam Maktubat Ahmad Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda:

“Apakah mereka menganggap bahwa mereka akan ditinggalkan di dunia dan  kelezatannya dan haaqqah (  saat yang  pasti  terjadi)dan mereka tidak akan dibawa pada hukumannya  dan mereka tidak akan dicengkerm seperti para perusuh ? Apakah mereka menganggap bahwa bahwa pengawas mereka, yakni raqiyb tidak tengah melihat mereka dan mereka tidak berada selalu dihadapan orang-orang yang menghisab mereka ?.(pencatat)

Kini surah Al-An’am ayat 159:hal yanzhu………..muntazhiruwn..Disini raqiyb dalam arti  yang menunggu. Terjemahnya adalah: Mereka tidak menanti selain  kedatangan malaikat-malaikat pada mereka atau Tuhan engkau datang atau datang sebagian tanda-tanda Tuhan engkau (Tapi) pada hari  ketika  datang sebagian tanda-tanda Tuhan engkau, tidak memberi faedah  berimannya suatu jiwa yang sebelumnya tidak  beriman atau dalam kondisi imannya  dia tidak pernah melakukan kebaikan.Maka katakanlah olehmu bahwa tunggulah bahwa kamipun  orang-orang yang menuggu..-Disini raqiyb dalam arti orang yang menunggu.

Kini surah Yunus ayat yang ke 21:wa yquwluwn…..almuntazhiruwn-Dan mereka berkata: Kenapa tidak diturunkan ayat pada mereka dari Tuhannya  ? Nah, keberatan itu selalu dilemparkan kepada para nabi-nabi. Padahal ayat/tanda-tanda itu turun namun meskupun  mereka melihat  mereka  mengingkari.Oleh karena itu mereka terus mengulangi pertanyaaan-pertanyaan seperti  orang-orang bodoh bahwa pada mereka kenapa dari Tuhan mereka tidak ada ayat yang diturunkan.Katakanlah olehmu bahwa penguasa  yang  gaib hanyalah Allah. Jadi, tunggulah ,sesunggunya kamipun termasuk  orang-orang yang menunggu.

Dalam kaitan ini Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda:

“Dan orang-orang ini berkata kenapa kepada mereka dari Tuhan mereka tidak ada turun tanda dukungan terhadap agama.. Maka katakanlah, pengetahuan yang gaib hanya khas milik Tuhan. Jadi, tunggulah olehmu tanda itu saya pun menunggu bersamamu.”

               Barahin Ahmadiyah Jilid 3 hal.230 catatan kaki no. 11 cetakan pertama

Kini surah Yunus ayat 103:Fahal yan……..muntazhirun…Jadi, apakah mereka tengah menungu  seperti zaman yang telah berlalu  atas mereka  sebelumnya atau tidaklah mereka menunggu kecuali zaman yang telah berlalu atas mereka sebelumnya. .Katakanlah,teruslah menunggu sesungguhnya kami termasuk diantara orang-orang yang menuggu bersamamu.-Disini,di dalam kata “Saya bersama kamu diantara  orang-orang yang menuggu ”terdapat hikmat bahwa apabila nabi menunggu sesuatu, maka hal baik yang diberitahukan padanya itu yang tengah dia tunggu.Dan sementara musuh menunggu azab yang  akan turun padanya. Jadi, kedua-duanya terus menunggu dan pada akhirnya harapan nabilah yang terbukti benar dan kepada musuh   akhirnya azab  turun dan Allah memenangkan nabi sesuai janji-janji-Nya.

Kini ayat surah Hud 122-123: waqul…….muntazhirun Ini juga  seperti ayat-ayat sebelumnya kedua ayat ini menerangkan topik ini qul lilladziyna la yu’minuwna i’maluw a’laa makanatikum-Hai Hud, katakanlah kepada mereka,kerjakanlah terus seberapa banyak yang kalian bisa kerjakan innaa aa‘miluwn –kamipun akan terus  mengerjakan sesuatu. Disini maksud inna aa‘miluwn (Sesunggunya kami mengerjakan)bisa dua. Satu maksudnya adalah Allah bahwa Allah berfirman,Kami pasti akan mengerjakan sesuatu. Kedua, digunakan kata  ganti jamak karena sahabat-sahabat nabi-nabi  semuanya terus  menunggu .Oleh karena itu Dia dalam arti-arti itu untuk diri-Nya menyebut kata  jamak. Wantazhiruw inna muntazhiruwn-Kamupun tunggulah,Kamipun Yang Menunggu dan pada akhirnya kamu akan menyaksikan  perkataan siapa yang  terbukti benar.

Kini ayat 29 surah Assjdah: wayaquwluwna mata haadzal fathu inkuntum shaadiqiyn Mereka berkata kemenangan ini akhirnya kapan  akan tiba.jika kalian  orang-orang yang benar,maka kemenangan  hendaknya datang. Qul yaumal fathi laa yanfau’lladziyna kafaruw iimaanahum-Bahwa ketika kemennangan akan zahir/tiba maka kemudian orang-orang  yang tidak ada iman, kemenangan tidak akan memberikan faedah pada mereka, karena   melihat kemenangan kemudian lalu mereka  mulai menerima Islam maka ini hal lain, dan kini tatkala  datangnya kemenangan Islam masih diragukan,pada waktu itu beriman pada yang gaib ini mutlak  merupakan masaalah lain. Apabila satu  kemenangan telah dicapai maka secara membabi buta dibelakang kemenangan itu akan berdatangan  banyak orang-orang,tapi apabila sedikit saja cobaan datang maka yang datang kemudian  menjadi mundur/lari . Coba perhatikan,  ketika Rasulullah saw. meraih kemenangan di Arabi  betapa  banyak kabilah-kabilah Arab masuk ke dalam Islam dan ketika Rasulullah saw. wafat maka kebanyakan dari mereka yang masuk itu  menjadi murtad. Jadi  dapat diketahui dengan jelas bahwa menerima kebenaran setelah  melihat kemenangan bukanlah iman yang sejati. Iman, itu yang  benar tatkala  kondisi masih diragukan/samar-samar,pada waktu itu siapa yang beriman dia merupakan  mu’min yang sejati/benar.

Kini coba perhatikanlah zaman Hadhrat Masih Mauud a.s. betapa sedikitnya mereka yang dulu beriman dan mereka merupakan orang –orang yang beriman ketika perlawanan  pada  puncaknya dan nampak bahwa  tidak akan ada yang bisa bertahan/  tersisa.Namun, orang yang beriman pada Hadhrat Masih Mauud a.s. waktu itu, iman mereka tidak sama dengan  iman orang yang beriman sesudahnya.Atau iman orang yang sesudahnya tidak seperti iman orang-orang  yang beriman pada zaman Hadhrat Masih Mauud a.s. tatkala kondisi masih  diragukan.. Jadi, di zaman ini orang-orang yang tengah bertebaran/masuk dimana-mana, semoga jangan mereka menerima kebenaran  karena melihat kemenangan,bahkan mereka tengah beriman  sebagai hasil dari melihat tanda-tanda. Yang beriman  setelah melihat kemenangan, itu kemudian  menjadi mentah dan kemudian mereka selalu mundurAkan tetapi saya mengharapkan bahwa tidak akan terjadi seperti itu, karena  laporan-laporan apapun  yang masuk berkaitan dengan banyaknya orang-orang masuk  Ahmadi itu semua tengah beriman dengan melihat tanda.dan jelas berimannya mereka, bagi  mereka merupakan  penyebab musibah yang sangat berat,  tetapi tetap mereka beriman.Dari itu dapat diketahui bahwa iman mereka pun adalah sama seperti iman orang-orang yang beiman pada Hadhrat Masih Mauud a.s.di zaman permulaan. Mereka tidak beriman karena melihat pertolongan Tuhan,bahkan peristiwa-peristiwa iman yang berlalu bersama mereka. Kepada sebagian  wahyu yang turun,sebagian mereka melihat akibat buruk lawan-lawan, maka karena semua hal-hal itu mereka beriman  dan kita mengharapkan bahwa ,insyaallah iman mereka akan tetap teguh.

Qamaruddin Syahid

(Visited 24 times, 1 visits today)