SIARAN PERS

TSUNAMI SELAT SUNDA (GUNUNG KRAKATAU)

DAN PERINGATAN TUHAN UNTUK MANUSIA

 

Longsoran erupsi Gunung Anak Krakatau pada sabtu, 22 Desember 2018 mengakibatkan gelombang tsunami di Selat Sunda yang menerjang wilayah Lampung dan Banten dengan data sementara sedikitnya 373 orang meninggal, 128 orang hilang, 1.459 orang luka luka, ribuan orang mengungsi dan ratusan rumah hancur.

Komunitas Muslim Ahmadiyah menyampaikan duka yang mendalam dan rasa bela sungkawa atas musibah yang terjadi kepada seluruh korban dan keluarga yang terdampak bencana.

Melalui sayap organisasi spesial tanggap bencana, Humanity First Indonesia (HFI), Komunitas Ahmadiyah sedang melakukan survey analisa kebutuhan menentukan jenis kontribusi bantuan kerjasama dengan Badan Nasional Penanggulan Bencana Daerah (BNPB).

Komunitas Ahmadiyah juga mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh aparat keamanan dan instansi terkait yang sudah bergerak melakukan tindakan pertolongan dan evakuasi, khususnya kepada pasukan Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian, yang mengevakuasi 180 anak-anak peserta Kursus Pendidikan Agama (KPA) komunitas muslim Ahmadiyah dari daerah Carita ke Polres Pandeglang – Banten, di tengah situasi dramatis tidak ada satupun transportasi yang bisa mengevakuasi anak-anak tersebut keluar dari zona bahaya bencana.

Peristiwa Tsunami Selat Sunda Desember 2018 merupakan ulangan peristiwa yang hampir persis sama dengan Tsunami Selat Sunda Agustus 1883 akibat meletusnya Gunung Krakatau yang mengakibatkan gelombang tsunami menerjang Lampung, Banten bahkan sampai Afrika dan menewaskan setidaknya 36.000 orang meninggal kala itu.
Peristiwa meletusnya Gunung Krakatau Agustus 1883 yang memicu gelombang tsunami dahsyat di Selat Sunda, dalam majalah Intisari edisi Agustus 1983 disebut 21.574 kali lebih kuat dibanding bom atom, hingga saat itu diibaratkan seperti kiamat dan diyakini sebagai peringatan datangnya Imam Mahdi, sehingga setelah peristiwa tersebut mengakibatkan meningkatnya keyakinan tentang kuasa Tuhan dan kehidupan beragama khususnya di kalangan Muslim.

Bencana alam merupakan peringatan dari Allah swt agar manusia senantiasa berintropeksi memperbaiki diri dalam sikapnya terhadap Tuhan YME, terhadap alam dan sesama manusia. Bencana alam juga merupakan sarana menguji sifat kasih sayang kita pada sesama mahluk Tuhan YME. Solidaritas, intropeksi, do’a dan pengkhidmatan pada korban bencana merupakan bagian dari solusi yang bisa kita kontribusikan atas peristiwa bencana tsunami Selat Sunda.

Kami mendoakan semoga seluruh korban bencana mendapat tempat terbaik di sisi Allah swt dan keluarga diberi keikhlasan dan ketabahan. Kami mendoakan semoga seluruh pengungsi dan relawan diberi kesehatan, kesabaran dan kelancaran. Kami mendoakan semoga seluruh jajaran pemerintah diberi kesuksesan dan amanah segera mampu menangani bencana ini dengan sebaik baiknya, Aamin Ya Robbal Alamin.

LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE
Jakarta, 23 Desember 2018
Yendra Budiana
Sekretaris Pers & Juru Bicara JAI

Kontak : 0812 806 7083
www.ahmadiyah.id
email : info@ahmadiyah.id

Twitter : AhmadiyahID
Facebook : ahmadiyahid
Instagram : ahmadiyahid