WAHYU DALAM BERBAGAI BAHASA MIRZA GHULAM AHMAD

 

Sebagian orang berkeberatan tentang wahyu yang diterima oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dalam berbagai bahasa.

Perhatikanlah kutipan tentang keberatan KH. Achidin Noor, MA terhadap wahyu dalam berbagai bahasa yang diterima Pendiri Ahmadiyah berikut:

Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia-lah Tuhan Yang Mahakuasa lagi Mahabijaksana” (QS Ibrohim, 14: 4)1

Berdasarkan ayat tersebut, KH. Achidin Noor, MA berkeberatan kepada wahyu Allah Ta’ala yang diturunkan kepada Pendiri Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad yang telah menerima wahyu dalam 7 bahasa (Bahasa Arab, Urdu, Persia, Inggris, Yahudi, Hindi dan Punjabi), karena beliau dianggap keluarga India yang berbahasa Urdu. Bahkan, selanjutnya KH. Achidin Noor, MA mengatakan: Malah ada wahyu dalam bahasa yang ke delapan yaitu bahasa yang Mirza sendiri tidak tahu dan tidak mengerti apa maksudnya, boro-boro untuk dijelaskan kembali kepada kaumnya, seperti dalam Tadzkirah halaman 120 Mirza menerima ilham seperti berikut: (هو شعنا – نعسا). (Ada Apa Dengan Ahmadiyah, hal.30-31)

Jawaban Ahmadiyah:

Pertama: Perhatikanlah komentar Ahli Tafsir berikut ini sebagai pertimbangan!

a. Dalam Al-Quran (surat Ibrahim, 14:4) itu disebutkan bahwa Rasul itu mendapatkan wahyu dalam bahasa kaumnya sendiri. Para Mufassir mengartikannya demikian:

إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ أَيْ مُتَكَلِّمًا بِلُغَةِ مَنْ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ مِنَ اْلأُمَمِ

“Kecuali dengan bahasa kaumnya sendiri maksudnya adalah Nabi itu berbicara dengan bahasa bangsa yang kepada mereka Nabi itu diutus (Ruhul-Ma’ani, jilid 4 hal. 209)

b. ِDemikian pula:

إلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ إِلاَّ مُتَكَلِّمًا بِلُغَتِهِمْ

“Kecuali dengan bahasa kaumnya adalah Nabi itu berbicara dengan bahasa kaumnya sendiri. (Tafsir Madarik at-Tanzil di bawah ayat (وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُولٍ) dan dibawah catatan kaki Tafsir Khazin, jilid 3 hal 82 )

Dalam hubungannya dengan ayat itu Pendiri Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mauud  pun berbicara dalam bahasa Punjabi dan juga bahasa Urdu sebagai bahasa bangsa India.

Kedua: Ayat tersebut di atas menunjukkan tentang para Nabi dan Rasul yang terdahulu karena di dalam ayat tersebut digunakan “Sighah Madhi” yang artinya kata kerja masa lalu/past tense.

Dengan kata “arsalnaa” yang artinya telah Kami utus adalah merupakan dukungan penjelasan ayat tersebut. Sedangkan kata “qaumihi” yang artinya “kaumnya” merupakan dukungan penjelasan kedua. Adapun para Nabi dan Rasul terdahulu diutus hanya kepada kaum atau bangsanya yang tertentu saja, sedangkan Nabi yang tidak khusus diutus untuk satu bangsa saja, melainkan diutus untuk semua bangsa tidak dapat berlaku ayat ini baginya. Kalau saja KH. Achidin Noor, MA memaksudkan “Qaumihi “ itu adalah kebangsaan Nabi itu, yakni orang-orang itu memiliki kebangsaan Nabi itu sebagaimana Rasulullah shollAlolohu ‘alaihi wa sallam berasal dari bangsa Quraisy, maka pendapat demikian itu salah, sebab seluruh Al-Qur’an itu tidak diturunkan dalam bahasa Quraisy saja, sebagaimana dikatakan dalam satu ayat:

إِنْ هذَانِ لَسَاحِرَانِ
(In haadzaani lasaahiraani)
Artinya: Sesungguhnya ini ialah dua penyihir.” (Surah Thaha, 20:64 ).

Seharusnya menurut lughat Quraisy ayat tersebut berbunyi:

إِنَّ هذَيْنِ لَسَاحِرَانِ
(Inna haadzaini lasaahiraani)
Artinya: Sesungguhnya ini ialah dua penyihir.

Ketiga: Kalau dikatakan bahwa yang dimaksud dalam ayat itu adalah wahyu itu hanya turun dalam bahasa kaum Nabi itu kendati kata wahyu dalam ayat itu ada atau tidak itupun salah, sebab tentang Nabi Sulaiman dalam Al-Quran dikatakan:

عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ
Artinya : Kami diajari bahasa burung.

Nabi Sulaiman ‘alaihis salam berkata: Aku diajari bahasa burung. Pengakuan beliau ini seolah-olah segala macam bahasa burung seperti: burung gagak, elang, merpati, perkutut, hud-hud dan segala bahasa binatang burung lainnya telah diwahyukan kepada beliau ‘alaihis salam. Bagaimanapun bahasa-bahasa seperti: Inggris, Arab, Persi dan lain-lain adalah-bahasa manusia yang dalam bahasa-bahasa itu Pendiri Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mauud mendapatkan wahyu. Tapi, bunyi koak-koak, citcit cuwit dan kurketekuk bukan bahasa manusia. Kalau dalam bahasa itu pun Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dapat memperoleh wahyu itu, lalu apa keberatan KH. Achidin Noor, MA atas hal ini. Pada akhirnya Allah Ta’ala mungkin saja telah mengajarkan bahasa burung kepada Nabi Sulaiman ‘alaihis salam, tentunya kepada beliau ‘alaihis salam diajarkan pula kaidah-kaidah bahasa burung dan kata-kata lainnya.

Perlu direnungkan catatan berikut ini:

a. Adapun kata ( عُلِّمْنَا ) itu hanyalah memberikan pemahaman atau memberi pemahaman secara alami, tidak cukup untuk meninggalkan ketergantungan atau dukungan atau sandaran, sebab dalam ayat yang dibahas, yaitu: “Wa maa arsalnaa” ( وَمَا أَرْسَلْنَا ) juga tidak ada kata wahyu. Di sana pun, mengapa tidak diambil makna pemahaman atau memberi pemahaman secara alami, yakni wahyu yang hanya untuk memberikan pemahaman dan memberikan pemahaman secara alami itu tentu di dalam bahasa Nabi itu sendiri, tetapi yang merupakan petunjuk untuk bangsa-bangsa lain itu dapat dalam bahasa yang beragam.

b. Dikatakan bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihis salam telah diberi wahyu dalam bahasa burung, itu bukanlah petunjuk bagi umat manusia, melainkan hanya merupakan pengertian saja sebab hal itu tidak dapat menjadi petunjuk bagi siapapun juga. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah wahyu tersebut dalam bahasa Nabi Sulaiman ‘alaihis salam atau bukan? Apakah bahasa burung itu bahasa kaumnya? Bukan, sama sekali bukan. Dari pemahaman itu, terbuktilah bahwa maksud dari ayat ( وَمَا أَرْسَلْنَا), artinya “dan tidaklah Kami utus”, bukanlah seperti yang KH. Achidin Noor, MA jelaskan, tetapi maksudnya ialah bahwa setiap Nabi berbicara dalam bahasa kaumnya supaya ia dapat mempersiapkan para pengikutnya untuk dapat bertabligh dan menyiarkan risalah wahyu Ilahi tersebut.

Disana sama sekali tidak disebutkan tentang bahasa wahyunya. Dan ayat tersebut diatas menyebutkan tentang para Rasul sebelum Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wa sallam. Silakan pembaca memahami hal itu.

c. Pendiri Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud sama sekali tidak memahami satu katapun bahasa Inggris, bagaimanapun juga dengan diwahyukannya kepada beliau wahyu dalam bahasa Inggris itu merupakan suatu mukjizat, khususnya pada masa itu di Qadian desa yang sangat pelosok (terpencil) itu tak seorangpun dapat berbahasa Inggris. Wahyu dalam bahasa Inggris yang diberikan oleh Allah subhanahu wa Ta’ala kepada beliau ini dapat dijadikan sebagai dalil bagi orang yang telah mengimaninya supaya diketahui bahwa di dalam wahyu-wahyu tersebut sama sekali tidak ada campur tangan khayalan Nabi itu. Bahkan wahyu itu dapat turun dalam bahasa yang sedemikian rupa yang mana penerima wahyu sendiri tidak memahaminya. Kebanyakan Allah subhanahu waTa’ala sendiri yang menjelaskan kepada sang penerima wahyu itu tentang arti dan makna dari wahyu-wahyu itu dalam waktu dekat atau dalam waktu lama sebagaimana perlakuan Tuhan kepada Pendiri Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mauud.

d. Apa yang kami tuliskan bahwa dalam ayat:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُولٍ ِإِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ  adalah bahasa yang mengenai para Rasul sebelum Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wa sallam, sebab mereka diutus hanya terbatas kepada bangsa dan kaumnya sendiri yang hal tersebut didukung oleh beberapa Hadis sebagaimana di dalam Misykatu Syarif terdapat sebuah Hadis yang menerangkan tentang keunggulan Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wa sallam di atas semua Nabi:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ اللهُ تَعَالَى فَضَّلَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَلَى اْلأَنْبِيَاءِ قَالَ اللهُ تَعَالَى – وَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُولٍ ِإِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللهُ مَنْ يَّشَآءُ … وَقَالَ اللهُ تَعَالَى لِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ مَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَّةً لِّلنَّاسِ – فَأَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْجِّنِّ وَاْلإِنْسِ

bahwa Ibnu Abbas berkata, “Allah subhanahu wa Ta’ala menerangkan berkenaan tentang keunggulan Nabi Muhammad di atas Nabi-nabi terdahulu. Allah subhanahu wa Ta’ala tidak mengutus seorang Rasul, melainkan dalam bahasa kaumnya supaya ia dapat menjelaskan dengan terang di hadapan kaumnya, maka Allah menyatakan sesat siapa yang dikehendaki … tetapi berkenaan dengan Nabi kita shallAllahu ‘alaihi wa sallam, Dia berfirman : “Kami tidak mengutus engkau, kecuali kepada segenap umat manusia, seolah-olah beliau diutus kepada segenap jin dan manusia.” (Misykatu Syarif, jilid III, bab Fadha’ilul-Anbiya, hadis nomor 5524. Hadis ini sanadnya sangat sahih, dikutip dari Al-Mustadrak lil-Hakim cetakan Haidar Abad Jilid VI hal 360).

Dari penjelasan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa ada 4 hal yang berkaitan dengan ayat Al-Quran ini:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُولٍ ِإِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ
1. Ayat itu berkaitan dengan para Rasul terdahulu.
2. Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wa sallam tidak termasuk dalam para Rasul itu
3. Yang dimaksud dengan kaum atau bangsa adalah orang-orang, yang kepada mereka Nabi dan para Rasul itu diutus.
4. Kaum dan bangsa Nabi Muhammad shallAllahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia seluruh dunia, sebab beliau diutus oleh Allah subhanahu wa Ta’ala untuk seluruh alam. Jadi, Pendiri Ahmadiyah Hazrat Masih Mauud  juga tidak termasuk di dalam ayat tersebut, sebab beliau   sebagai bayangan Nabi Muhammad shallAllahu ‘alaihi wa sallam tidak diutus hanya kepada kaum tertentu saja melainkan diutus kepada seluruh dunia juga.

Adapun wahyu yang berbunyi: ( هُوْ شَعْنَا نَعْسًا ) yang oleh KH. Achidin Noor, MA dianggap Pendiri Ahmadiyah yang menerima wahyu itu sendiri tidak mengerti adalah salah, sebab beliau ‘alaihis salam sendiri telah menjelaskannya, untuk itu perhatikanlah tanggapan berikut ini:

a. Arti dari ( هُوْ شَعْنَا نَعْسًا ) adalah, selamatkanlah dengan belas kasih!

Wahai Tuhanku aku sangat mengharapkan keselamatan, maka: “selamatkanlah dengan belas kasih!” (Zabur, 25:18).

b. Dalam Injil, cetakan 1928 M, dikatakan kepada Ibnu Daud: ( هُوْ شَعْنَا ). Di dalam kalimat tersebut pada catatan kakinya tertulis: “Dengan belas kasih, selamatkanlah!” (Matius, 21:9). (نَعْسًا) dalam bahasa Ibrani maknanya “terkabul”. Seolah-olah di dalam kalimat ( هُوْ شَعْنَا ) mengandung suatu doa dalam kalimat bersamaan dengan kata (نَعْسًا). Diberitahukan secara wahyu tentang pengabulannya juga.

c. Pendiri Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mauud  menulis tentang penjelasan terjemahan wahyu tersebut, sebagaimana firman Allah subhanahu wa Ta’ala dalam wahyu itu: (هُوْ شَعْنَا نَعْسًا ), yang artinya: Wahai Tuhan aku berdoa: “Anugerahkanlah keselamatan kepadaku dan bebaskanlah aku dari kesulitan-kesulitan!”.Kedua kalimat ini terdapat dalam bahasa Ibrani yang mengandung sebuah nubuwwatan yang berbentuk doa dan akan dizhahirkan pengabulannya. Kesimpulannya adalah kesulitan-kesulitan yang dialami di tengah-tengah kesendirian, ketidak berdayaan dan ketidakmampuan itu akan dijauhkan dariku di masa yang akan datang. Maka, setelah 25 tahun berlalu wahyu inipun terpenuhi kebenarannya. Dan sekarang kesulitan-kesulitan itu telah hilang sirna.” (Barahin Ahmadiyah, jilid V, hal. 80)