Muslim Ahmadi memiliki keyakinan bahwa Yesus tidak wafat dalam peristiwa penyaliban, dan melakukan perjalanan ke India untuk melanjutkan tugas kenabiannya kepada suku-suku Israel yang hilang. Kemudian, muslim ahmadi menyatakan bahwa makam Yesus, yang berisi jenazahnya, baru-baru ini ditemukan di India dan dapat dilihat sampai hari ini. Muslim Ahmadi juga menegaskan bahwa kepercayaan ini tidak hanya ditegaskan oleh Alquran dan Hadist, tapi oleh Injil sendiri.

Sebelum Penyaliban

Muslim Ahmadi percaya bahwa Yesus adalah Nabi Allah yang lahir dari Maria dan beliau merupakan Almasih Bani Israel sebagaimana telah dinubuatkan oleh Nabi Musa a.s.

Kelahiran tanpa Ayah: Keajaiban kelahiran Yesus telah diterangkan oleh Alquran.

Maria – Seorang Hamba yang Suci

Alquran telah menjelaskan tentang kelahiran Yesus tanpa bapak, dan menolak anggapan bahwa Maria seorang yang tidak suci atau kelahiran Yesus tidak sah. Alquran menerangkan pernyataan Maria kepada malaikat: “Bagaimana aku akan mempunyai seorang anak laki-laki, bila belum pernah seorang laki-laki pun menyentuhku, dan aku tidak pernah berbuat tak senonoh” (QS Maryam [19]: 21)

Selain itu, atas dasar kesuciannya, Surah 19 di dalam Al-Quran dinamai sesuai namanya, dan orang-orang Islam yang saleh telah disamakan dengannya.

Fenomena Sangat Langka

Kelahiran Yesus tanpa bapak tidak diragukan lagi adalah sebuah mukjizat. Namun menurut pandangan Muslim Ahmadiyah, mukjizat selalu bekerja sesuai dengan hukum Allah, betapapun terbatasnya pemahaman kita tentang hukum tersebut. Ilmu pengetahuan modern baru-baru ini mulai mempelajari fenomena langka semacam ini.

Sebagai contoh, terdapat dokumentasi tentang kejadian langka kelahiran tanpa pembuahan pada hewan [klasifikasi] yang lebih rendah, dan hal ini menjadi kejutan bagi para ahli zoologi. Bahkan terdapat juga laporan-laporan (meski belum didalami) tentang kehamilan tanpa bapak pada manusia.

Tentu saja, penelitian terus berlanjut dan penyebutan fenomena ini untuk menunjukkan bahwa apa yang dulu dianggap mustahil, suatu saat akan dapat diterima.

Mukjizat YesusMukjizat Yesus: Tanda kebenaran Yesus sama seperti Nabi-nabi yang lain.

Mukjizat Yesus dalam Al-Quran

Alquran menceritakan beberapa mukjizat Yesus, diantaranya kemampuannya untuk menciptakan burung, menyembuhkan orang buta, dan menghidupkan kembali orang mati (QS Ali Imran [3]:50).

Ahmadiyah menafsirkan tanda-tanda khusus itu bersifat kiasan. Orang-orang yang beriman pada kenabian Yesus akan terbang tinggi laksana burung, menggapai cakrawala rohaniah, meninggalkan perhatian-perhatian duniawi. Demikian pula dalam arti kiasan, Yesus memulihkan penglihatan orang-orang yang buta rohani dan menghidupkan kembali orang-orang yang mati rohaninya.

Yesus sendiri menyebut musuh-musuh beliau itu “buta” karena sifat munafik mereka dalam hal keimanan (Matius 23:26). Jadi makna hakiki tentang penyembuhan adalah bersifat rohaniah, bukan fisik. Harus diingat bahwa Yesus juga seringkali berbicara dalam perumpamaan, seperti sabda beliau yang sangat terkenal, “Biarkan orang mati mengubur orang-orang mati mereka.” (Matius 8:22).

Alquran juga menggambarkan orang-orang kafir sebagai tuli, bisu dan buta (QS Al-Baqarah [2]:19) dan Nabi Muhammad SAW menawarkan ‘kehidupan’ dan kebangkitan dari kematian rohani seperti itu. (QS Al-Anfal [8]:25).

Interpretasi Literal

Tentu saja, akan sulit jika menerapkan penafsiran literal untuk semua mukjizat yang disebutkan Injil. Bahkan tafsir otoritatif Harper’s Bible Commentary lebih jauh telah menganjurkan untuk mengabaikan tentang mukjizat berikut yang berhubungan dengan kebangkitan.

“Dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, mereka pun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.” (Matius 27 : 52-53)

Mirza Ghulam Ahmad menjelaskan makna ayat-ayat ini dalam buku monumental beliau, Yesus di India. Beliau menjelaskan bahwa Injil sebenarnya menceritakan rincian penglihatan rohani. Dan dalam bahasa penglihatan spiritual (kasyaf), jika ada yang melihat “bahwa orang mati telah keluar dari kuburan dan menuju rumah mereka, penafsirannya adalah bahwa seorang tahanan akan dilepaskan dari perbudakannya, dan dia akan diselamatkan dari tangan penganiayanya.”

Kebetulan, penafsiran ini juga dikuatkan oleh buku Gustavus Miller, 10,000 Dreams Interpreted.

Ironisnya, sementara para ilmuwan Kristen menganjurkan agar tidak memberikan pandangan apapun terhadap ayat-ayat tertentu Injil, seorang Muslim, yang mengaku sebagai Almasih yang Dijanjikan, datang membela Injil dengan menggambarkan beberapa keindahan metafora yang terkandung di dalamnya.

Mukjizat dan Ketuhanan

Selanjutnya, harus diingat bahwa Elia (Nabi Ilyas a.s) juga menghidupkan kembali orang yang sudah mati (1 Raja-raja 17: 19-22). Sulit untuk membangun argumen tentang ketuhanan Yesus berdasarkan hal itu, kecuali jika seseorang menganggap Elia (Nabi Ilyas a.s) juga Tuhan. Pendapat bahwa Yesus melakukan mukjizat dengan kekuatannya sendiri, sedangkan Elia dibantu Allah, bertentangan dengan pernyataan yang ada di Perjanjian Baru itu sendiri. Kisah Para Rasul (2:22) menyatakan: “Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Tuhan dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Tuhan dengan perantaraan dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu.”

Yesus anak TuhanAnak Tuhan: Istilah ini digunakan juga untuk orang beriman, bukan hanya Yesus

Istilah ‘Anak Tuhan’

Istilah “Anak Tuhan” telah digunakan untuk merujuk pada Yesus, tetapi perlu dicatat bahwa Allah telah menggunakan istilah ini untuk banyak nabi-nabi yang lain.

Misalnya, Tuhan, dalam Perjanjian Lama yang berkaitan dengan Daud a.s: “Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: “Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.”* (Mazmur 2:7)

*Selain terjemahan yang dituliskan disini, dalam Injil New International Version frasa “telah Kuperanakkan” juga diterjemahkan sebagai “telah menjadi Bapamu.”

Selanjutnya, dalam Perjanjian Baru, Adam a.s disebutkan dalam silsilah “Anak Tuhan” (Lukas 3:38). Bahkan sebagian orang dapat berpendapat bahwa Nabi Adam dapat memiliki dakwah yang lebih besar dibandingkan “Anak Tuhan”, karena tidak seperti Yesus, Adam a.s tidak memiliki ayah atau ibu di dunia.

Untuk menyelarasakan referensi-referensi ini dan yang lainnya, tidak masuk akal jika menyimpulkan bahwa penggunaan istilah “Anak Tuhan” dalam Injil dapat diartikan sebagai ‘anak’ secara harfiah, melainkan sebuah kiasan semata.

Sifat-Sifat Yesus

Pemahaman secara kiasan ini dibuktikan dengan kata-kata dan tindakan Yesus sendiri. Yesus dikenal telah melakukan banyak aktifitas ibadah sebagai manusia biasa, seperti puasa dan doa. Tapi bukti paling penting adalah Yesus sendiri mengakui beliau tidak dapat mengetahui masa depan, karena seperti yang dikatakan oleh Yesus sendiri, hanya Bapa yang memiliki pengetahuan sempurna. (Markus 13:32).

Hal ini sangat penting karena doktrin Kristen berpendapat bahwa sifat Yesus adalah “ketunggalan hipostatik” (merujuk kepada kepercayaan Kristen bahwa Yesus mempunyai dua kodrat sebagai Tuhan dan manusia di dalam satu individu). Artinya, dia “sepenuhnya Tuhan” dan “sepenuhnya manusia” pada saat bersamaan. Jika ini benar, maka beliau seharusnya tidak menyangkal sifat beliau yang maha tahu.

Dari fakta ini dan pertimbangan filosofis lainnya, membuat kita mempertanyakan istilah “Anak Tuhan” di dalam injil dan penafsiran secara harfiah kepada Yesus.

Tugas Yesus: Tugas Yesus hanya untuk 12 suku Israel, bukan seluruh dunia.

Domba-domba Suku Israel

Cakupan wilayah misi Yesus terbatas pada tempat-tempat tinggal Bani Israel. Yesus sendiri mengatakan “Aku diutus hanya untuk domba-domba yang hilang dari Israel.” (Matius 15:24).

Bani Israel mengikuti Taurat, dan Yesus datang untuk menghidupkan kembali ajaran Taurat di dalam hati umat Bani Israel dan menghilangkan segala kesalahpahaman. Yesus adalah pengikut Nabi Musa a.s dan tidak mengubah atau menolak syariat Nabi Musa a.s. Perjanjian Baru menyatakan bahwa Yesus datang hanya untuk memenuhi Hukum Taurat dan tidak menghapusnya (Matius 5:17).

Suku yang Hilang di Afghanistan

Dari kedua belas suku Bani Israel, hanya dua suku yang tinggal di tanah asal mereka. Sepuluh suku lainnya, yang dikenal sebagai suku-suku yang hilang atau domba-domba Israel yang hilang, karena mereka tidak pernah kembali ke kampung halaman. Sebagian besar suku-suku itu menetap di Afghanistan, India utara sampai ke China. Oleh karena itu, sangat penting bagi Yesus untuk pergi ke daerah-daerah itu guna melaksanakan tugas kenabiannya.

Saat ini terdapat beberapa bukti yang menunjukkan bahwa masyarakat tertentu di Afghanistan, India dan wilayah-wilayah sekitarnya merupakan keturunan Bani Israel. Bukti ini dapat dilihat dari tradisi lisan, tulisan, ciri fisik, bahasa, cerita rakyat, peninggalan, dan adat istiadat. Kebanyakan dari mereka bahkan menyebut diri sebagai ‘bani Israel’ atau ‘anak-anak Israel’.

Selamat dari Penyaliban

Muslim Ahmadi percaya bahwa Yesus selamat dari penyaliban karena ia diturunkan dari salib dalam keadaan tidak sadarkan diri – bukan kematian.

Tanda Nabi Yunus: Yesus pernah menubuatkan bahwa beliau akan selamat seperti Nabi Yunus

Mukjizat Terbesar Yesus

Yesus menubuatkan bahwa beliau akan seperti nabi Yunus. Yesus berkata:

“Generasi yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga anak manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.” (Matius 12:39,40)

Keselamatan – Bukan Kebangkitan

Tanda-tanda Yunus yang tertulis di Injil:

“Maka atas perintah Tuhan seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya.” (Yunus 1:17)

“Berdoalah Yunus kepada Tuhan, dari dalam perut ikan itu. Katanya: Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawabku, dari kedalaman kubur aku berteriak, dan Engkau mendengarkan suaraku.” (Yunus 2:1,2)

Tanda yang diberikan kepada orang Niniwe oleh Nabi Yunus a.s adalah beliau diselamatkan dari kematian. Beliau berada dalam kondisi kritis selama beberapa waktu, tapi akhirnya sembuh. Beliau masuk dalam perut ikan secara hidup, bertahan hidup berhari-hari, dan keluar juga secara hidup-hidup.

Nasib yang sama telah dinubuatkan terhadap Yesus. Beliau akan memasuki makam hidup-hidup, tetap selama berhari-hari, dan keluar hidup-hidup. Jika Yesus wafat, maka tidak akan ada kemiripan dengan Yunus as.

Kisah Nabi Yunus a.d adalah cerita keselamatan – bukan kebangkitan.

Doa di Getsemani: Yesus berdoa agar diselamatkan dari kematian di kayu salib.

Doa di Taman

Ketika Yesus menyadari tidak ada cara untuk menghindari rencana licik orang Yahudi untuk menghukum beliau dengan disalib, Yesus berdoa dengan sungguh-sungguh ‘untuk menghapus cawan’ kematian di kayu salib (Markus 14:36).

Yesus memiliki keyakinan penuh bahwa doa-doanya di Taman Getsemani akan diterima karena beliau sendiri memberi tahu murid-muridnya:

“Jika engkau percaya, engkau akan menerima apapun yang engkau minta dalam doa” (Matius 21:22).

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti,atau memberi ular, jika ia meminta ikan?” (Matius 7:7-10)

Tuhan Menerima Doanya

Doa di Taman Getsemani adalah doa terpenting dan agung yang dipanjatkan oleh Yesus, dan digambarkan dengan sangat jelas di dalam Injil. Tidak mungkin doa semacam itu tidak mencapai singgasana Tuhan, terutama saat Yesus mengajarkan kepada murid-muridnya tentang kekuatan doa.

Tidak perlu diragukan, Injil pun memberi bukti bahwa doa Yesus diterima. Injil Lukas menyatakan bahwa malaikat datang dari Surga “menguatkan dia” (Lukas 22:43). Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan telah mendengar ketulusan doa Yesus.

Setelah berdoa di taman, Yesus ditangkap. Salah seorang pengikutnya menghunus pedang, memukul pelayan seorang imam besar dan memotong telinganya. Yesus dengan keras memarahi pengikutnya itu dan berkata:

“Orang-orang yang menggunakan pedang akan dibunuh oleh pedang. Tidakkah kamu sadar bahwa aku dapat meminta kepada Bapa-Ku agar ribuan malaikat melindungi kita, dan Dia akan akan dapat segera mengirim mereka?” (Matius 26: 52-53).

Ini menunjukkan bahwa Yesus yakin sepenuhnya bahwa doanya akan diterima dan menyerahkan semua keadaan di tangan Tuhan, tanpa perlu untuk membela diri.

Akhirnya, ketika kematian tampak dekat dan beliau menderita di kayu salib, beliau berseru “Eli Eli lama sabachthani” (Ya Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku?) (Matius 27: 45-46) karena Yesus tidak menyangka akan mengalami penderitaan seberat ini. Dia sepenuhnya percaya bahwa doanya akan diterima.

pilatus nabi isa yesusRencana Pilatus: Pilatus bersimpati, dan berencana untuk menyelamatkan Yesus.

Pilatus Meyakini Yesus tidak bersalah

Pernyataan penting dalam Perjanjian Baru adalah Pontius Pilatus meyakini bahwa Yesus tidak bersalah dan ia tidak ingin beliau dieksekusi. Salah satu yang mempengaruhinya adalah mimpi Istri Pilatus yang meyakinkannya bahwa Yesus tidak bersalah, dan pesan yang disampaikannya kepada Pilatus adalah “tinggalkan orang yang tidak bersalah itu” (Matius 27:19).

Tetapi karena kerusuhan yang semakin memuncak, akhirnya Pilatus menyetujui permintaan orang-orang Yahudi supaya Yesus disalibkan. Namun dia kemudian meminta semangkuk air dan mencuci tangannya di depan orang banyak dan berseru “Saya tidak bertanggung jawab atas kematian orang ini! Itu urusan kalian!” (Matius 27:24).

Rencana untuk Menyelamatkan Yesus

Analisa terhadap Injil jelas menunjukkan bahwa Pilatus memiliki niat untuk menyelamatkan hidup Yesus dengan segala kemampuannya, sambil mencoba menaati prosedur hukuman sebagaimana diamanatkan oleh hukum Romawi. Tiga poin penting dapat dicatat:

Pilatus menetapkan hari penyaliban tepat sebelum hari Sabat, karena hukum Yahudi secara khusus melarang adanya tubuh yang digantung di kayu salib pada awal hari Sabat. Kematian di atas salib seharusnya tidak akan terjadi dalam waktu singkat selama 6 jam.

Ketika tiba saatnya untuk menurunkan Yesus dan dua orang lainnya dari kayu salib, orang-orang Yahudi meminta Pilatus untuk mematahkan kaki Yesus (Yohanes 19:31). Namun perwira yang bertindak atas perintah Pilatus tidak mematahkan kaki Yesus (Yohanes 19:33). Karena ia telah mengambil langkah-langkah pencegahan ini, ia terkejut ketika diberitahu bahwa Yesus “sudah mati” (Markus 15:44).

Dalam hukum Romawi, seharusnya mayat yang sudah diturunkan dari kayu salib dan dibiarkan menjadi mangsa hewan dan membusuk oleh alam. Namun Pilatus mengizinkan sesuatu yang cukup menarik untuk dilakukan yang menyimpang dari aturan. Pilatus mengizinkan Yesus diberikan kepada sahabat-sahabatnya bukan kepada para musuh beliau.

Kaki yang Tidak Patah: Ini akan mencegah kematian karena kesulitan pernapasan.

Terselamatkan dari Pukulan Keras

Setelah Yesus diduga ‘mati’ di kayu salib seorang tentara Romawi membuat keputusan untuk tidak mematahkan kaki Yesus saat di kayu salib. Kejadian itu menggenapi nubuatan dan bukan tanpa makna.

Injil Yohanes (19:36) mengatakan bahwa Kitab Suci telah digenapi (berdasarkan Mazmur 34:20) – tulangnya tidak akan dipatahkan. Tentara Romawi tidak mau repot-repot mematahkan kaki Yesus untuk mempercepat kematian karena dia mengira Yesus sudah meninggal. Mematahkan kaki akan sangat menyiksa, karena trauma berat kehilangan darah dan syok hipovolemik karena mematahkan salah satu tulang besar di tubuh, tibia, di setiap kaki.

Perhatian Alkitab untuk tidak mematahkan kaki hanya bisa bermakna jika tubuh itu masih hidup – sebaliknya menjadi tidak berarti jika Yesus dinyatakan sudah mati. Bacaan lebih lengkap dari Mazmur 34, ayat 19 dan 20 menggarisbawahi hal itu:

“Banyaklah penderitaan orang baik, tetapi TUHAN membebaskan dia dari semuanya. Tubuhnya tetap dijaga TUHAN, dari tulangnya tak satu pun dipatahkan.”

Darah dan Air: Semburan dari luka tombak sebagai tanda jantung yang masih berdetak.

Mayat tidak Mengeluarkan Darah

Sebuah informasi penting disebutkan dalam Injil Yohanes yang mendukung pandangan bahwa Yesus tidak mati di kayu salib:

“Seorang dari antara prajurit itu menikam sisi tubuh Yesus dengan tombak, dan segera menyembur keluar darah dan air.” (Yohanes 19:34)

Darah yang menyembur keluar adalah pertanda sirkulasi darah yang masih bagus, saat tombak melukai arteri. Kata-kata ‘semburan’ menyiratkan tekanan darah. ‘Air’ kemungkinan merupakan cairan pleura, yang ada di antara tulang rusuk dan paru-paru.

Karena mayat tidak mengeluarkan darah, ayat yang dikutip tersebut menjadi masalah setidaknya bagi seorang Bapa Gereja, Origen. Dalam menafsirkan Yohanes 19:34, dia mengakui bahwa umumnya darah membeku setelah kematian, namun aliran darah dalam kasus ini merupakan mukjizat dan karenanya tidak memerlukan penjelasan. (Contra Celsus, oleh Origen, diterjemahkan oleh H. Chadwick, Cambridge U).

Tombak yang ditusukkan ke sisi tubuh Yesus tidak dimaksudkan sebagai sebuah serangan untuk membunuh, namun untuk mencari indikasi kematian (yang sebenarnya tidak akurat). Jika niatnya untuk membunuh, tentara tersebut seharusnya menikam bagian depan dada untuk melukai jantung. Bagaimanapun, jika seseorang tidak disalibkan untuk jangka waktu yang lama, kematiannya biasanya disebabkan karena patah kaki, seperti yang dilakukan terhadap orang yang disalib bersamaan dengan Yesus.

Melanggar Aturan

Kesaksian Injil yang harus digarisbawahi adalah tidak konsistennya tindakan seorang perwira Romawi yang ingin memastikan kematian Yesus. Di satu sisi, perwira tersebut melihat bahwa Yesus ‘sudah mati’ sehingga dia tidak merasa perlu untuk mematahkan kakinya karena ada tuntutan orang-orang Yahudi untuk mempercepat kematian Yesus dengan menghancurkan tulang-tulangnya karena hari Sabat (Yohanes 19:31) yang merupakan protokol standar. Di sisi lain perwira itu menusuk sisi tubuh Yesus. Apakah ini dilakukan untuk menyebabkan kematian bila ia tidak yakin Yesus sudah mati? Jika demikian, mengapa dia tidak mematahkan kaki Yesus sesuai tata cara standar? Hal ini membuat kita berasumsi bahwa ada unsur simpati setidaknya dari beberapa orang Romawi, dimulai dari Pilatus dan menurunkan simpati tersebut melalui rantai komando.

Dikatakan bahwa algojo Romawi adalah orang-orang yang dingin, brutal dan ahli dalam membunuh orang. Tetapi kita menjumpai beberapa ketidak-konsistenan dalam tindakan dari dokumen-dokumen tentang perwira itu, kita juga melihat rasa simpati dari seorang perwira romawi dan bahkan seorang pengikut setia Yesus, hal itu dapat kita ketahui dari perkataannya saat ia melihat pada salib di mana Yesus diduga meninggal: “Sesungguhnya orang ini adalah Anak Tuhan” (Markus 15:39).

Durasi Singkat: Kematian di kayu salib seharusnya dilakukan berhari-hari, bukan berjam-jam.

Kematian oleh Penyaliban Seharusnya Berlangsung Berhari-hari

Ketika dugaan kematian Yesus sampai ke telinga Pilatus, dia terkejut saat mengetahui bahwa Yesus telah meninggal begitu cepat (Markus 15:44). Kesaksiannya sangat penting dalam pengungkapan kebenaran. Beliau nampaknya sosok yang memiliki lebih banyak pengetahuan di zamannya tentang sifat hukuman penyaliban karena mungkin mengatur banyak penyaliban semacam itu.

Meskipun banyak rincian-rincian tentang penyaliban telah hilang saat berakhirnya Kekaisaran Romawi, terdapat banyak catatan yang menunjukkan bahwa hukuman penyaliban ini seharusnya memakan waktu setidaknya dua sampai tiga hari untuk membunuh seseorang. Sebagai contoh, ada sebuah kesaksian yang berasal dari sejarawan Flavius Josephus pada abad pertama masehi yang menggambarkan orang-orang yang selamat dari penyaliban. Seorang penulis, Plutarch (sekitar tahun 75 masehi) menyebutkan beberapa orang dapat bertahan sekitar sepuluh hari di atas kayu salib.

New Bible Dictionary juga menyimpulkan berdasarkan fakta sejarah penyaliban bahwa “kematian dengan metode ini biasanya memakan waktu lama, beberapa kasus memakan waktu sampai 36 jam, dan kadang-kadang sampai sembilan hari” (1962 ed, Intervarsity Press, Page 282).

Ramuan Herbal: untuk mengobati orang hidup – bukan untuk membalsem orang mati

Gaharu dan Mur

Setelah penyaliban, tubuh Yesus diberikan kepada murid-muridnya, Yusuf Arimatea dan Nikodemus.

Injil Yohanes mencatat bahwa Nikodemus membawa mur dan gaharu “sekitar tiga puluh kilogram” (Yohanes 19:39). Tanaman-tanaman ini, terutama gaharu digunakan sebagai obat dan dioleskan pada luka. Gaharu digunakan secara luas dalam banyak budaya kuno bahkan sampai hari ini untuk meringankan sakit pada luka luar. Tabib Romawi Pedanius Dioscrorides (tahun 75 masehi) merekomendasikan gaharu untuk luka dan gangguan kulit. Guru Alexander Agung, Aristoteles, membujuk Alexander Agung untuk menaklukan pulau Socotra agar dapat memanen tanaman gaharu untuk merawat tentara yang terluka.

Menariknya, buku teks pengobatan abad pertengahan dari daerah timur (Persia, tahun 1025) berjudul Canon of Medicine oleh Avicenna menyebutkan salep yang disebut Marhami Isa (Salep Yesus).

Penyangkalan Yesus: sebagai penampakkan roh, dengan memperlihatkan bekas luka dan meminta makanan.

Terluka, tetapi Masih Hidup

Setelah penyaliban, Yesus berada dalam perawatan para pengikut setia yang membawanya ke sebuah makam yang luas.

Jika seorang selamat dari hukuman mati, kita akan berpikir bahwa orang seperti itu pasti memiliki bukti luka yang jelas di tubuhnya. Kita akan menduga ia diam dan menjauh dari tempat penyalibannya, karena bisa saja orang tersebut ketahuan oleh para tentara dan ditangkap kembali. Ketakutan akan ditunjukkan oleh para pengikutnya karena khawatir kepada tuan mereka.

Kesaksian Injil dengan tepat mengarah pada kesimpulan ini.

Yesus menunjukkan luka-lukanya kepada Tomas (Yohanes 20: 25-7), hal ini menunjukkan bahwa beliau tidak memiliki tubuh supranatural yang dapat hidup kembali, namun tubuh pasien yang penuh luka.

Yesus buru-buru pergi jauh dari area tersebut dan memilih untuk hanya bertemu dengan pengikut terdekatnya:

“Berilah tahu saudara-saudaraku untuk pergi ke Galilea, dan mereka akan melihat aku di sana” (Matius 28:10).

Para pengikut Yesus merasa ketakutan sampai-sampai mereka memutuskan untuk tidak memberitahu siapa pun tentang kemunculan Yesus dari makam (Markus 16: 8).

Tidak sekali pun Yesus tampil di hadapan para penganiaya atau berjalan melalui pusat kota Yerusalem meminta orang-orang untuk menerimanya sebagai Almasih yang telah bangkit yang telah menebus dosa-dosa mereka.

Faktanya Yesus hanyalah manusia dalam tubuh duniawi dengan daging dan tulangnya (Lukas 24:39) yang menderita rasa lapar (Lukas 24:41) dan bersembunyi dari perhatian banyak orang. Untuk meyakinkan murid-muridnya bahwa dia memiliki tubuh terluka yang sama, Yesus menunjukkan bahwa dia tidak pernah mati saat Tuhan menyelamatkan dia dari cobaan tersebut seperti Yunus keluar hidup-hidup dari perut ikan. (lihat “Tanda Yunus”)

Kehidupan Setelah Penyaliban

Setelah selamat dari penyaliban, Yesus mengembara sampai ke Kashmir, India dan berkhotbah kepada Suku-suku Israel yang Hilang. Makamnya bisa ditemukan disana hingga hari ini.

Suku yang Hilang Ditemukan: Yesus pergi ke India untuk mencari suku-suku yang hilang

Di Seberang Sungai Efrat

Sejarah Yahudi tradisional dan teks-teks Injil membagi orang-orang Israel ini dalam dua belas suku. Pada masa Yesus, hanya dua suku yang berada di wilayah dakwah Yesus, sedangkan sepuluh suku lainnya keberadaanya selalu menjadi misteri.

Sejarawan abad kedua Josephus menulis dalam bukunya Antiquities of the Jews bahwa kesepuluh suku tersebut ‘berada di seberang Efrat’ di masa itu, (saat ini terletak di sebelah timur Irak) di wilayah kekaisaran Persia yang pada masa itu meluas sampai ke India.

Penting untuk dicatat bahwa sejarah awal Gereja mendokumentasikan adanya Injil dalam bahasa Ibrani yang ditemukan di India, yang juga menegaskan adanya orang-orang Israel di India. St Jerome (tahun 400 masehi) menulis bahwa seorang cendekiawan bernama Pantaenus pada abad kedua menemukan dokumen tersebut dalam perjalanannya. St Jerome selanjutnya menulis bahwa bangsa Israel pada zamannya menetap di kekaisaran Persia.

Misi Yesus adalah menjangkau suku-suku Israel yang Hilang atau domba yang hilang, seperti yang dinyatakan dalam Matius 15:24. Oleh karena itu, penting baginya untuk hijrah ke timur.

Banyak sekali bukti yang menunjukkan bahwa masyarakat Afghanistan, India barat laut (terutama Kashmir) dan sekitarnya berasal dari keturunan Bani Israel yang terus berkembang. Bukti itu dapat dilihat dari ciri fisik mereka, bahasa, cerita rakyat, adat istiadat dan festival tradisional yang membuktikan warisan Bani Israel yang mereka miliki. Bukti lain dapat dilihat dari nama yang mereka berikan untuk desa tempat mereka tinggal, monumen dan karya sejarah kuno mereka.

Beberapa studi genetika dilakukan pada orang-orang di India yang sampai hari ini menyebut diri mereka ‘Bene Israel’ atau ‘Anak-anak Israel’ mengkonfirmasi asal muasal keturunan mereka dari timur tengah.

Teks Kuno: Teks Buddha dan Hindu mengkonfirmasi perjalanannya ke wilayah tersebut

Kesaksian Tulisan-Tulisan Kuno Hindu dan Buddha

Pada abad pertama masehi, India Utara adalah pusat perkembangan tidak hanya Hindu tetapi juga Budha. Orang-orang Israel yang didakwahi oleh Yesus di daerah ini adalah minoritas yang mempraktikkan Yudaisme, namun kemungkinan banyak dari mereka yang mengadopsi agama asli setempat yaitu Hindu dan Budha.

Dari beberapa teks Hindu dan Buddha memungkinkan kita untuk melacak jejak perjalan Yesus di daerah ini.

Kitab-kitab Kuno Hindu disebut Purana. Salah satu dari naskah-naskah kuno tersebut, Bhavishya Maha Purana (ditulis dalam bahasa Sanskerta) berkisah tentang seorang raja India, bernama Salivahana yang bertemu dengan “Isa-Masiha” (Yesus sang Masih) – seorang tokoh religius asing yang berkulit terang.

Di dalam Naskah Budha terdapat nubuatan Buddha, tentang munculnya seorang bodhisattva, bernama ‘Bagwa Metteyya’ dalam bahasa Pali yang secara harfiah berarti “berkulit putih” atau “musafir berkulit putih”. Kemiripan etimologis kata “Metteyya” menjadi “Masih” dapat disatukan dengan arti kata “Masih”, yaitu ‘Sang Pengelana.’

Saat masa kejayaan kekristenan muncul di India dengan kedatangan Yesus di daerah tersebut, banyak ajaran Yesus tercampur dengan ajaran Buddha Gautama. Bahkan beberapa perumpamaan tertentu seperti yang tercatat dalam Perjanjian Baru dihubungkan dengan Buddha, seperti perumpamaan tentang penabur yang ditemukan dalam teks-teks Budha.

Ada yang menduga bahwa kata Yuz Asaf, nama orang yang dikebumikan di Kashmir, berasal dari Buddha Asaf, karena bisa saja Yesus/Yuz Asaf termasuk ke dalam golongan orang-orang suci Buddha. Buddha Asaf berarti seorang Buddha yang mengumpulkan orang, atau mengumpulkan kawanan orang-orang beriman.

Makam yesusMakam Yesus: Baru-baru ini ditemukan dan dipreservasi di Kashmir, India.

Makam di Kashmir

Tempat pemakaman Yesus di Kashmir dikenal oleh penduduk setempat sebagai Rauzabal, yang berarti Makam Yang Terhormat.

Makam tersebut dikenal sebagai makam Yuz Asaf, yang mungkin berasal dari istilah Buddhis atau mungkin dari Yusu atau Yehoshua (Yesus) Sang Pengumpul.

Tradisi setempat menyatakan bahwa yang dikuburkan di makam tersebut adalah nabi Ahli Kitab, dan namanya adalah Isa – nama Alquran untuk Yesus.

Menurut tradisi kuno yang dipegang oleh pemelihara makam saat ini, Nabi Yuz Asaf datang ke Kashmir dari Barat (Tanah Suci) pada masa pemerintahan Raja Gopdatta (abad ke-1 M).

Penelitian menyeluruh tentang makam tersebut telah dilakukan oleh sejarawan terkenal dan mantan Kepala Arkeologi Negara Bagian Kashmir, Profesor Fida Hassnain.

Makam itu adalah makam seorang Yahudi, dilihat dari arah terbaringnya jenazah. Di sebelah makam ada sebuah tapak kaki yang terukir di batu, sebuah gambaran artistik dari kaki yang terluka karena penyaliban.

Kemenangan Terakhirnya: Terselamatkan dari salib, beliau menyelesaikan misinya.

Tujuan Tercapai

Yesus diterima dengan baik di tanah Suku yang Hilang, dan berarti sudah menyelesaikan misi beliau dengan perjalannya ke timur ke komunitas kuno Bani Israel ini.

Satu hal kritikan yang muncul adalah, jika Yesus menghabiskan sebagian besar hidupnya di India, mengapa bagian hidupnya itu tidak diketahui dan terlupakan?

Kita harus mengingat fenomena yang terjadi saat kemunculan suatu agama, saat agama lain mengambil alih. Misalnya Afghanistan pernah menjadi pusat perkembangan Budha terdapat beberapa patung Buddha terbesar di dunia. Kini Agama Buddha telah hilang di sana. Contoh lain adalah agama pagan di Eropa sebelum datangnya agama kristen.

Orang-orang Israel di Afghanistan dan Kashmir telah menerima Islam. Yesus telah menubuatkan dari kitab-kitab Injil tentang kedatangan utusan setelah beliau yaitu Paraclete yang telah digenapi dalam pribadi Nabi Muhammad saw.

Seiring waktu, keyakinan lama Kekristenan terlupakan selama beberapa generasi sehingga agama yang ada di wilayah itu sekarang sebagian besar adalah Muslim yang memegang kepercayaan yang sama dengan Muslim lainnya di dunia.

Namun, sisa-sisa keturunan pengikut Yesus Kristus masih ada di sekitar Herat, Afghanistan. Peneliti Inggris O.M Burke dalam bukunya Among the Dervishes (Di Antara Para Darwis) telah menggambarkan orang-orang ini. Meski sebagian besar dari mereka adalah Muslim, mereka tidak melupakan warisan Kristen mereka. Mereka memiliki keterikatan khusus pada Yesus dan menyebut dia sebagai ‘Yuz Asaf dari Kashmir’ yang datang untuk berkhotbah kepada mereka.