Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 10 Tabligh 1391 HS/Februari 2012

Di Mesjid Baitul Futuh – Morden – London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

 

Pentingnya Surah Al-Fatihah

Surah Al-Fatihah adalah satu surah yang biasa kita baca tiap kali kita shalat. Hadits-hadits meriwayatkan betapa banyaknya nama dan keutamaan surah ini, yang salah satu riwayat menyebut bahwa namanya adalah Surah ash-Shalaah.

 عن أبي هريرة يقول: سمِعْتُ رَسُولَ اللهِ  يَقُولُ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ (مسلم)

‘an Abi Hurairata yaquulu, sami’tu Rasuulallahi yaquulu, Qaalallahu ta’aala qasamtush shalaata bainii wa baina ‘abdii nishfain.’ – Abu Hurairah ra mengatakan, saya mendengar Rasulullah saw bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, Aku telah membagi ash-Shalaah (surah al-Fatihah) antara diri-Ku dan hamba-Ku, dua bagian (masing-masing separuh).” (Hadits Muslim) Yakni, separuh pertama mengemukakan sifat-sifat Ilahiyyah, dan separuh yang kedua mengandung doa-doa yang diperlukan oleh para hamba-Nya.

Alhasil, inilah pentingnya surah ini yang bagi setiap orang yang membacanya setiap kali shalat harus menaruh perhatian atasnya. Maka setiap insan yang mengerjakan shalat hendaknya mendalami dan merenungkan makna berbagai sifat Allah yang tercantum di dalam Surah tersebut agar memperoleh faedahnya yang lebih banyak dan khusyu dalam mendirikan Shalat, dan mendapatkan berbagai pahala dari setiap gerakannya. Hendaknya diingat pula bahwa Surah ini memiliki hikmah yang luas, merujuk kepada situasi di akhir zaman sekarang ini, sebagaimana telah dinubuatkan di dalam berbagai Kitab terdahulu, yang hikmah faedah kandungannya akan dibukakan di zaman Hadhrat Masih Mau’ud as, sehingga menyelamatkan umat dari kesesatan. Maka dalam kaitan kondisi sekarang ini, sudah seharusnya hal ini menjadi sangat penting bagi kaum Muslimin pada umumnya. Namun, sangat disayangkan, para ulama kaum Muslimin sampai sedemikian telah mengendalikan pemikiran mereka; sampai sedemikian menghentikan kemampuan mereka untuk dapat merenungkannya sehingga mereka tidak siap untuk menaruh perhatian agar merenungkannya. Sebagian besar dari mereka, disebabkan hal itu secara umum ‘aamatul muslimiin (mayoritas kaum Muslimin) tidak ingin memikirkannya. Akan tetapi dengan karunia Allah Ta’ala, ada segolongan manusia yang memikirkan, merenungkan dan memahami perlunya Masih dan Mahdi.

Ringkasnya, orang-orang ini; yang ada dalam genggaman tangan para maulwi (ulama), mereka tengah dibawa oleh para maulwi ini kearah kejahatan dan kesesatan. Jadi, kaum Muslimin yang menyadari telah merajalelanya kemudharatan, kemusyrikan, dan kemunkaran tersebut menyimpulkan perlunya seorang Utusan Ilahi untuk mengakhiri segala kemudharatan tersebut. Mereka ini hendaknya terus mencari hingga dapat wujud itu yang sesungguhnya telah datang. Yakni, beliau seorang utusan khusus Allah Ta’ala ini sungguh telah datang, namun disebabkan sikap takut mereka kepada kaum mullah, maka mereka pun tidak siap untuk menerimanya. Oleh karena itu mohonlah petunjuk kepada Allah Ta’ala agar dapat membebaskan diri dari belenggu tersebut. Dan kewajiban kita adalah menyampaikan syiar tabligh ini, yang kita akan senantiasa melakukannya. Akan tetapi, bersamaan dengan itu kita yang telah menggabungkan diri kepada seorang pecinta dan hamba sejati Hadhrat Rasulullah Saw ini, hendaknya senantiasa berusaha untuk meningkatkan kesadaran dan ilmu rohani. Yakni berusaha mencari berbagai faedah dari hikmah Surah Al-Fatihah sesuai dengan nur hidayah yang telah diberikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Masih Mau’ud as telah membukakan dan menjelaskan di hadapan kita dalam tulisan-tulisan beliau as di berbagai tempat mengenai berbagai topik dari surah al-Fatihah; sungguh adalah tanggung jawab kita untuk berusaha dapat mengetahuinya, meraih pemahaman atasnya sehingga kita pun dapat menanamkan tema itu di dalam diri sendiri dan menarik faedah darinya.

Penjelasan ayat ‘Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamin’ berdasarkan rujukan Hadhrat Masih Mau’ud as

Pada waktu ini, berdasarkan kata-kata Hadhrat Masih Mau’ud as saya akan menjelaskan ayat kedua dari Surah Al-Fatihah ini setelah “بسم الله الرحمن الرحيم” yaitu “الحمد لله رب العالمين” “Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam” dengan rujukan-rujukan dari beliau as. Beliau as telah menerangkan berbagai topik pengertian yang terkandung didalam ayat ini dengan berbagai macam corak yang berlainan. Rujukan kutipan yang saya sajikan ini mengenai ayat itu dari beberapa segi yang ada dan corak warnanya; tersimpan dalam khazanah keilmuan dan kerohanian beliau as yang mana telah beliau as sabdakan. Sungguh! ilmu dan ‘irfaan’ akan bertambah dengan membacanya, dengan menyimaknya. Namun demikian, makna-maknanya tidak akan dapat diperoleh oleh seseorang jika mendengarnya hanya satu kali saja dan ini benar-benar tidak mungkin dapat mencapainya. Untuk memahaminya penting pula untuk menelaahnya lebih dalam; barulah dengan cara itu kita dapat meraih pengertian dan pemahaman yang benar atas ruhani khazaa-in (khazanah-khazanah kerohanian) Imam Zaman tersebut dan kita pun mendapatkan banyak faedah darinya.

Penjelasan singkat mengenai ayat اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ini, Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan sebagai berikut,

“[Alhamdu lillaah] – ialah segala pujian adalah hak bagi Dzat Yang Patut Disembah, Yang Berhak, Terbukti memiliki semua keistimewaan yang sempurna; yang namanya ‘Allah’.” (seluruh pujian, seluruh penghargaan terbukti pasti atas Allah Ta’ala, Yang memiliki seluruh sifat, terkumpul pada-Nya seluruh sifat dan hanya pada Allah Ta’ala sajalah sifat-sifat ini secara sempurna dapat ditemukan) Sesungguhnya telah saya jelaskan sebelumnya bahwa ‘Allah’ dalam peristilahan Alqur’anul Karim adalah nama Dzat Yang Sempurna itu, Sesembahan Hakiki dan Pemilik kumpulan semua sifat sempurna dan suci dari segala kelemahan; (kumpulan seluruh sifat dan Dia suci dari segala macam jenis kelemahan, kekurangan dan cacat) Dia Tunggal tanpa serikat; Sumber segala keberkahan. Dan dikarenakan Allah Ta’ala, di dalam Kalam Suci-Nya, yakni Alqur’anul Karim, telah menyatakan nama-Nya “Allah” yang sudah mencakup semua nama dan semua sifat-Nya yang lain, dan Dia tidak akan menjadikan nama-nama-Nya yang lain pada kedudukan ini; oleh karena itulah, nama itu adalah Allah; yang menunjukkan pada semua sifat, yang disifatkan dengan [sifat-sifat] itu untuk keadaan diri-Nya tersifatkan dengan semua sifat dan disebabkan Dia itu adalah pemilik semua nama dan sifat, maka bersatulah di dalamnya segala sifat yang sempurna. (yakni, nama Allah ialah “Allah” itulah, yang di dalam lafaz ini terdapat seluruh sifat terkumpul secara sempurna) Maka arti ringkas dari ’Alhamdu lillaah’, adalah segala jenis pujian, baik yang lahiriah maupun batiniah; atau yang berupa kesempurnaan Dzaatiyah maupun yang berupa keajaiban-keajaiban Qudrat (fenomena alamiah), semuanya secara khusus adalah untuk Allah; tidak ada satu pun sekutu di dalamnya. Dan begitu pula segala pujian yang sebenarnya dan semua kesempurnaan yang sepenuhnya, yang dapat dipikirkan oleh orang secerdas apa pun atau yang seorang ahli pikir dapat bayangkan, semuanya ada dalam Dzat Allah Ta’ala. Tidak ada keistimewaan (kesempurnaan) yang dapat disaksikan oleh akal sempurna macam apa pun sesuai kemampuan terbaiknya yang Allah Ta’ala mahrum (lepas kendali) dari itu semua seperti manusia yang penuh kelemahan. Bahkan, akal pikiran seorang paling cerdas pun tidak akan mampu menyajikan keindahan macam apa pun, yang mana hal itu tidak ada dalam Dzat Tuhan. (Pemikiran manusia terbatas, dia tak mampu mencapai ke sana, ia juga tidak bisa melampaui sifat-sifat itu) Namun, segala keindahan (kesempurnaan, ketinggian) yang manusia dapat pikirkan sebanyak-banyaknya (semampunya), semuanya ada dalam Dzat Allah Ta’ala; Dia itu sempurna dalam Dzat-Nya, dalam sifat-sifat-Nya dan dalam keistimewaan-Nya, dalam segala hal; dan suci dari segala kelemahan maupun kekurangan.” [2]

Oleh karena itu, Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kita suatu doa yang di dalamnya dimohonkan, “Aku memohon perlindungan kepada Engkau yang sifat-sifat dan nama-nama Engkau telah kuketahui, aku menginginkan kebaikan darinya [dari nama-nama dan sifat-sifat tersebut] dan aku memohon perlindungan dari keburukannya juga, dan [nama-nama dan sifat-sifat] yang tidak aku ketahui, aku juga menginginkan kebaikannya dan terlindung dari keburukannya.” [3]

Jadi, manusia tidak dapat melampaui nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala.

Menerangkan secara ringkas makna ayat اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ beliau as bersabda,

“Ketahuilah bahwa الحمد ‘al-hamdu’ adalah pujian atas perbuatan indah yang patut dipujikan; dan juga pujian atas seseorang yang telah memberi hadiah-hadiah yang diberikannya dengan kehendak sendiri dan berbuat baik atas usahanya sendiri. Dan tidak terbukti hakikat ‘al-hamdu’ sesuai haknya kecuali bagi Dia yang menjadi Sumber segala fuyuudh (karunia) dan semua nur; senantiasa memberikan ihsaan (kebaikan) atas dasar sebab bashirah; bukan berasal dari tanpa kesadaran pengetahuan ataupun karena keterpaksaan; maka dalam makna ini takkan dapat ditemukan kecuali pada Allah, Al-Khabiir (Maha Mengetahui) dan Al-Bashiir (Maha Melihat). Dan sesungguhnya Dia adalah Al-Muhsin (Maha Baik, Pemberi Kebaikan dan Anugrah). Dari Dia-lah segala karunia dari awal hingga akhir. Bagi Dia-lah segala puji di tempat ini (dunia) maupun di tempat itu (akhirat nanti). Semua pujian yang diberikan kepada [makhluk] yang lain, berpulang kembali kepada-Nya.” [4] (Yakni, apa saja pujian yang disampaikan kepada selain Allah, itu pun penyebabnya ialah Allah; dikarenakan kekhususan-kekhususan itu; dikarenakan perbuatan-perbuatan baik itu; sifat-sifat Allah Ta’ala yang menjadikannya demikian dan Dia yang membuatnya demikian; atau Rahiimiyyat Allah Ta’ala atau Rahmaaniyyat Allah Ta’ala yang memasukkan pengaruh (kesan, dampak) kedalamnya sehingga membuatnya layak (pantas) sehingga ia dapat melakukan apa saja dan selanjutnya orang itu menjadi layak (berkemampuan) sehingga membuat orang-orang bisa memujinya. Sebagaimana dasar segala sesuatu saja yang dikerjakan manusia di dunia ini hanya dengan taufik dari Allah-lah yang menjadikannya mampu melakukan demikian maka karena itu, segala puji berpulang kepada-Nya.

Kemudian mengenai hal ini beliau as menulis,

– “[Al-hamdu lillaah] adalah pujian dengan lisan yang diberikan dengan niat sebagai pemuliaan kepada Yang Maha Berkuasa lagi Maha Mulia atas segala perbuatan-Nya yang baik. Pujian yang sempurna adalah hak khusus bagi Rabb al-Jaliil (Tuhan Yang Maha Agung); setiap pujian, baik yang banyak maupun yang sedikit; kembali kepada Tuhan kita, yang memberi petunjuk kepada mereka yang tersesat; memuliakan mereka yang rendah; dan Yang Maha Terpuji dari segala yang terpuji.” [5]

Orang-Orang Yang Dipandang Rendah oleh Dunia    

Jadi, sebagaimana telah saya katakan, segala sesuatu menunjuk kepada hal itu. Bersabda demikian, Dia adalah pemberi petunjuk orang-orang yang sesat. Tatkala Dia memberi petunjuk kepada orang-orang sesat maka secara otomatis sebagai dampaknya orang-orang yang mendapat hidayah (petunjuk) akan merendahkan diri kepada-Nya, memuji-Nya. Orang-orang duniawi memandang mereka orang-orang yang rendah; padahal mereka mendapatkan kedudukan mulia di pandangan Allah. Seperti itulah sunnah para nabi. Mereka berkata, هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ “Orang-orang yang beriman kepada engkau di pandangan kami termasuk orang-orang yang paling rendah.” Akan tetapi Allah Ta’ala di satu waktu mengganti keadaan demikian, itulah dia Fir’aun yang memohon-mohon agar diselamatkan hidupnya, itulah dia para pemimpin Makkah yang memohon-mohon keselamatan bagi nyawa mereka dan hal-hal inilah yang menjadikan orang-orang beriman lalu sekali lagi mengarahkan perhatian kepada pujian (hamd) hakiki dan peneguhan pemahaman mereka. Begitu pula mereka yang di zaman sekarang ini yang menganggap rendah Jemaat Ahmadiyah, tidak menganggap Jemaat Ahmadiyah berharga (bernilai) sedikit pun; dengan merendahkan mereka mengatakan, “Kami akan melakukan begini dan kami akan melakukan begitu [kepada Jemaat].” Bersamaan dengan Allah Ta’ala menunjukkan qudrat-Nya (kekuasaan-Nya) maka akan tiba pula saatnya ketika mereka itu akan diakhiri [dihancurkan oleh-Nya].

Ringkasnya, berdasarkan hal ini, حَمْدُ ‘hamd’ Allah Ta’ala mengisyaratkan juga bahwa pujian sempurna adalah milik Tuhan dan Dia pun memberikan pujian yang sempurna. Dan sumber bagi semua kemuliaan adalah hanya ‘hamd’ Allah Ta’ala dan kewajiban seorang mu’min adalah meraih pemahaman mengenai hamd ini dan masuk kedalam perlindungan-Nya.

Dasar Alqur’an Dimulai dengan Memuji Allah

Penjelasan lebih lanjut tentang lafaz hamd mengenai mengapa Allah Ta’ala memulai Alqur’anul Majid dengan kata hamd? Mengenai hikmahnya beliau as menulis,

“… dan sesungguhnya Allah Ta’ala telah memulai kitab-Nya dengan al-hamd bukan asy-syukr dan ats-tsanaa. Sebab, حَمْدُ ‘hamd’ sudah mencakup kedua kata tersebut dan menggantikannya bahkan didalamnya terdapat pemaknaan yang jauh lebih banyak dalam hal ar-rifaa (keindahan), at-tazyiin (hiasan mengagumkan) dan at-tahsiin (perbaikan). Disebabkan orang-orang kuffaar biasa memuji berhala mereka tanpa hak (tanpa alasan yang benar) dan mereka (orang-orang penyembah berhala) menggunakan kata حَمْدُ ‘hamd’ untuk memuji mereka (para berhala) dan mereka meyakininya sebagai sumber rahmat dan berkat bahkan [mereka meyakini] para berhala itu termasuk sangat dermawan dalam memberi karunia; demikian pula mereka membesar-besarkan pujian terhadap para lelaki mereka yang telah meninggal di beberapa waktu tertentu bahkan juga di medan laga dan saat menerima tetamu; mereka memuji-muji seperti seharusnya mereka memuji Allah yang adalah ar-Razzaaq (Maha Pemberi Rezeki), al-Mutawalli (Maha Penjaga) dan adh-Dhamiin (Maha Penjamin). Jadi, al-hamdu lillaah ini adalah sebagai penolakan terhadap orang-orang semacam mereka itu dan semua orang yang musyrik (menyekutukan Allah) dan menjadi nasehat bagi mereka yang menggunakan firasat. Di dalam [kalam-Nya] itu, Allah Ta’ala menyalahkan para penyembah berhala, kaum Yahudi, kaum Kristen, dan siapa saja yang menyekutukan Allah. [Terkait ayat alhamdu lillaah] seolah-olah Dia berkata, ‘Wahai orang-orang musyrik! Mengapa kalian memuja-muja dan memuji-muji berhala-berhala sekutu kalian? Mengapa kalian demikian mendewakan (memberikan pujian berlebihan kepada) tokoh-tokoh besar diantara kalian? Apakah mereka itu tuhan-tuhan kalian yang memelihara kalian dan anak keturunan kalian? Atau, apakah mereka itu para pengasih yang memperlakukan kalian dengan kasih sayang yang menolakkan bala bencana dari kalian; menghentikan kesedihan dan penderitaan dari dalam diri kalian? Atau menjaga kebaikan yang telah ada pada kalian? Ataukah mereka yang menghindarkan musibah-musibah dari kalian dan yang menyembuhkan berbagai penyakit kalian? Atau, apakah mereka itu Maalik Yaumid Diin (pemilik hari akhir)? Tidak. Melainkan, hanya Allah sajalah yang memelihara dan mengasihi dengan kesempurnaan keindahan, memberikan sarana-sarana petunjuk (menuju kebenaran), mengabulkan doa-doa, menyelamatkan dari serangan musuh, dan pasti memberikan ganjaran pahala bagi mereka yang beramal saleh.” [6]

Selanjutnya menjelaskan tentang Tuhan kita adalah Tuhan yang Sempurna dan sifat-sifat sempurna serta segala macam dan jenis pujian adalah hak Allah Ta’ala semata; dan pada diri-Nyalah semua terkumpul; beliau as bersabda,

“… dan bersamaan dengan itu, di dalamnya [ayat alhamdu lillaah ini] terdapat satu isyarat ini juga yaitu mengenai mereka yang dalam hal ma’rifat (mengenal) Allah Ta’ala telah menjadi binasa disebabkan keburukan amal perbuatan mereka atau disebabkan mereka menjadikan suatu yang lain sebagai tuhan mereka; maka pahamilah sesungguhnya telah hancurlah mereka disebabkan tidak mempedulikan kesempurnaan-kesempurnaan-Nya dan yang tidak memandang keajaiban-keajaiban-Nya, dan mengabaikan segala kewajiban terhadap Dzat-Nya, sebagaimana kebiasaan para penolak kebenaran. (Mereka yang tidak meraih makrifat Allah Ta’ala mengalami kebinasaan rohani, menjadikan sesuatu sebagai tuhan, menjadikan seseorang untuk meraih kesempurnaan-kesempurnaan Tuhan, memandangnya seperti memandang keagungan Tuhan, mereka tidak datang sepenuhnya di hadapan-Nya dengan pandangan yang sempurna, tersembunyi atau ia menjadikan tantangan atau tandingan untuk Allah dan sebagai dampaknya orang-orang semacam itu akan binasa) Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang an-Nashara (Kristen)? Mereka telah diundang kepada Tauhid, tidak lain yang menghancurkan mereka selain karena kelemahan penyakit ini; jiwa-jiwa mereka yang sesat dan menyesatkan hasrat-hasrat yang menggelincirkan memperlihatkan kepada mereka betapa indahnya kesesatan itu maka mereka pun menjadikan seorang hamba yang lemah menjadi tuhan mereka [menjadikan Yesus, manusia biasa sebagai tuhan]. Mereka meminum air minum kesesatan dan kebodohan. Mereka melupakan kesempurnaan Allah Ta’ala dan sifat-sifat dzaatiyah-Nya dan menyandangkan sesuatu putra atau putri kepada-Nya. Seandainya mereka merenungi dalam-dalam sifat-sifat Allah Ta’ala dan keistimewaan-keistimewaan kesempurnaan-Nya, maka akal mereka pun tidak akan mengalami kesalahan dan mereka tidak termasuk kedalam golongan yang binasa. Jadi, di sini Allah Jalla Syaanah telah mengisyaratkan kepada hal ini bahwa qanuun (pedoman, panduan) untuk menyelamatkan dari kesalahan dalam hal ma’rifat al-Baari [mengenal dan memahami tentang Tuhan Pencipta ialah sebagai berikut:] ‘Dalamilah! Renungkanlah secara komprehensif kesempurnaan-kesempurnaan-Nya; selidikilah sifat-sifat yang layak dan pantas untuk Dzat-Nya! (Raihlah pemahaman akan sifat-sifat Tuhan! Carilah Dia!) Dekati dan masukilah sifat-sifat itu! (Hendaklah meniru sifat-sifat-Nya) dan senantiasalah ingat [sifat-sifat-Nya] jauh lebih baik dibandingkan setiap pemberian materi, dan jauh lebih menolong dibandingkan setiap macam bantuan dan sifat-sifat itu telah Dia buktikan secara pasti yang terwujud di dalam karya-karya [ciptaan]-Nya. Yakni, kekuatan-Nya, kekuasaan-Nya, keperkasaan-Nya dan kedermawanan-Nya telah tergambarkan. Ketahuilah! (Ingatlah selalu akan hal ini! Jangan sekali-kali melupakannya!) Rabbubiyyat seluruhnya adalah milik Allah semata; sifat Rahmaniyyat hanya milik Allah; begitupun sifat Rahiimiyyat, dan Maha Menghakimi pada hari pembalasan ganjaran dan hukuman adalah bagi Allah saja. Oleh karena itu, wahai orang-orang yang kuajak bicara! Janganlah menolak untuk taat kepada Pemeliharamu ini dan jadilah termasuk kedalam golongan Muslimin yang muwahhid (menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan mengesakan-Nya). Selanjutnya di dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengarahkan kepada hal ini bahwa Dia suci dari pembaharuan sifat (akan ada sifat-Nya yang baru disebabkan adanya kemunduran sifat-Nya yang lain), perubahan dalam status ataupun kemuliaannya, mengalami aib (kerusakan, kemerosotan), memerlukan perbaikan setelah kerusakan (yakni, di dalam diri-Nya tidak bisa ada kekurangan oleh karena itu tidak perlu dipertanyakan kesempurnaan-Nya, dalam diri-Nya terdapat keindahan demi keindahan, tidak mungkin terjadi bahwa ada keindahan-Nya yang sebelumnya kurang kemudian menjadi lebih baik/perbaikan). Sebaliknya, sesungguhnya telah terbukti (pasti) Dia-lah pemilik segala pujian dari awal hingga akhir, baik pada yang zahir maupun yang batin untuk selama-lamanya. Maka barangsiapa yang berkata bertentangan dengan hal itu berarti menolak kebenaran, dan termasuk kedalam orang-orang kafir.” [7]

Ringkasnya, Allah Ta’ala suci dari kekurangan-kekurangan. Barangsiapa yang tidak memahami dengan benar sifat-sifat Allah Ta’ala, tentu mereka akan jatuh kedalam lubang bencana (kerusakan). Semua bangsa terdahulu menjadi rusak disebabkan mereka tidak mengenali sifat-sifat Allah Ta’ala lalu tenggelam dalam kemusyrikan dan kalau pun telah memahaminya namun kemudian mereka melupakannya.

Selanjutnya beliau as menjelaskan hal ini bahwa ajaran tersebut telah diberikan kepada kaum Muslimin bahwa Sesembahan mereka adalah Dia yang bagi-Nya segala puji,

“Dan di dalam kalimat اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ Alhamdu lillaah – segala puji bagi Allah, terdapat pelajaran bagi kaum Muslimin, manakala mereka ditanya dan dikatakan kepada mereka, ‘Man Ilaahukum’ – “Siapa Tuhanmu?” Maka wajib bagi setiap Muslim menjawab, Tuhanku adalah Yang milik-Nya segala pujian seluruhnya. Tidak ada kesempurnaan dan kekuatan macam apa pun, kecuali pasti ada pada-Nya saja. Oleh karena itu, janganlah kamu sekali-kali menjadi termasuk orang-orang yang telah melupakan.” [8]

Maksudnya, hanya secara lisan mengucapkan ‘alhamdu lillaah’ tidaklah cukup, tatkala mengucap ‘alhamdu lillaah’ hendaklah terpatri dalam pikiran kearah hal ini, “Tuhan dan sesembahanku hanya Satu, yang kepada-Nya aku beribadah dan oleh karena itulah ibadah aku lakukan karena ‘woh mera Rabb, mera Allah’ – Dialah Rabbku ( Tuhanku), Allahku.”

Hadhrat Masih Mau’ud as menulis di satu tempat,

“Surah [Al-Fatihah] ini dimulai dengan اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ Alhamdu lillaah, yang maknanya ‘Segala pujian dan segala keagungan hanyalah untuk Dzat itu yang bernama Allah; dan oleh karenanya dimulai dengan kata-kata ‘al-hamdu lillaah’ karena maksud pokoknya ialah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan ruh yang bersemangat dan sepenuh kekuatan fitrat dan totalitas sedemikian rupa yang penuh dengan ‘isyq (jiwa asyik) dan mahabbat (kecintaan), yang tidak akan tercipta sebelum terbukti hal ini bahwa orang itu dengan menaruh perhatian kepada Sang Pemilik kumpulan keindahan yang sempurna; hatinya pun tergerak secara spontan disebabkan ketakjubannya sehingga ia memuji-Nya dengan segera. Nyatanya, pujian yang sempurna, tergerak oleh karena dua jenis keindahan; pertama ialah kamaal husn (keelokan yang sempurna), dan satu lagi kamaal ihsaaan (kebaikan yang sempurna). Dan apabila di dalam diri seseorang terkumpul dua macam keindahan tersebut maka selanjutnya qalbu pun melunak dan menyeru-Nya dengan segenap jiwa dan raga. Dan inilah maksud besar (terutama) dari Alqur’an asy-Syarif yaitu menunjukkan dua macam keindahan Tuhan kepada para pencari kebenaran sejati, sehingga orang-orang pun dapat tertarik kepada Dzat yang unik (tidak ada contohnya) dan tidak bertepi tersebut, lalu menghambakan diri kepada-Nya dengan jiwa yang bersemangat dan penuh haru. Dia telah memperlihatkan gambaran paling halus ini di surah yang pertama ini bahwa Tuhan itu yang kepada-Nya Alqur’an mengundang seluruh umat manusia betapa di dalam diri-Nya terdapat keindahan-keindahan. Maka dikarenakan hal itu, Surah ini yang dimulai dengan ‘Alhamdu lillaah’, yang maknanya ‘Segala puji hanya pantas bagi Dzat itu, yang nama-Nya Allah.”[9]

Empat Ihsaan (Kebaikan) Tuhan

Jadi, Dzat Allah Ta’ala adalah Dzat yang pada diri-Nya terkumpul husn (keindahan) dan ihsaan (kebaikan); oleh karena itu dimulai dengan ‘al-hamdu lillaah’ – “Segala puji bagi Allah”. Di dalamnya dengan sangat jelas beliau as menjelaskan apa itu husn Allah Ta’ala dan apa itu ihsaan Allah Ta’ala? Akan tetapi itu satu topik yang terpisah yang pada kesempatan ini hanya dijelaskan secara ringkas bahwa husn Allah Ta’ala adalah demikian bahwa seluruh macam dan jenis keindahan ada pada diri-Nya sebagaimana telah disebutkan bahwa Dia adalah kumpulan seluruh sifat sempurna; seluruh sifat ada pada-Nya dan untuk ihsaan Hadhrat Masih Mau’ud as telah memerincinya ke dalam 4 (empat) pokok mendasar berdasarkan surah [Al-Fatihah] ini, yang saya akan terangkan secara ringkas. Ihsaan yang pertama, Dia itu adalah Rabb, yakni Yang Maha Pencipta, yang setelah menciptakan lalu berdasarkan [sifat] itu membawa dan mengarahkan [makhluk ciptaan-Nya] menuju kearah ketinggian kedudukan yang semestinya sekaligus memelihara mereka. Ihsaan yang Kedua, adalah sifat Rahmaniyyat-Nya, yang sesuai dengan itu Dia memberikan berbagai kemampuan kepada setiap makhluk hidup, dan menyediakan segala sesuatu yang diperlukan untuk kelangsungan hidup mereka, yang dalam hal ini, bagi umat manusia diberi porsi bagian yang terbesar. Ihsaan yang ketiga, adalah sifat rahimiyyat-Nya, yang dengan itu, Dia mengabulkan doa-doa dan amal-amal saleh manusia, menjaganya dari berbagai malapetaka (bala-bencana), memberikan ganjaran kepada mereka. Ihsaan yang keempat, malikiyyat yaumiddiin, yang dibawah itu, Dia memberikan karunia-Nya yang khas kepada siapa dan seberapa banyak yang Dia inginkan. Dia memberikan buah-buah hasil dari amal perbuatan yang dikaitkan dengan karunia Allah secara ikhlas.

Maka inilah empat ihsaan yang telah dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as yang ringkasannya telah saya sebutkan. Kemudian dalam rangka menjelaskan hal itu lebih jauh bahwa di dalam Rabbul ‘aalamiin terdapat indikasi bahwa Allah Ta’ala membawakan periode petunjuk setelah kesesatan. Beliau as bersabda,

“Allah subhaanahu wa ta’aala telah mengisyaratkan dalam firman-Nya, ‘Rabbil ‘aalamiin’ bahwa Dia itulah Khaliq (Pencipta) dari segala makhluk dan dari-Nya segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Kata الْعَالَمِيْنَ al’aalamin mencakup semua hal yang dapat ditemukan di bumi, baik golongan yang diberi petunjuk, maupun mereka yang disesatkan atau tersesat. Adakalanya ‘alam’ kesesatan, kekafiran dan pelanggaran batasnya sudah demikian bertambah memuncak dan meninggalkan keadilan, hingga seluruh daratan pun dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan pelanggaran serta penduduknya meninggalkan jalan-jalan Allah Al-Jalaal (Maha Perkasa). Mereka tidak memahami hakikat ‘ubudiyyah (penghambaan) dan tidak mempedulikan hak Rabbubiyyah. Sehingga dunia pun menjadi gelap oleh malam yang sedemikian pekat, dan agama tergerus oleh tekanan ini. Maka Allah Ta’ala membangkitkan ‘alam’ lainnya, sehingga bumi pun  tergantikan dengan yang bumi yang baru, dan keputusan turun dari Langit. Sehingga manusia pun dikaruniai qalbu dan lidah yang elok dalam mengungkapkan rasa syukur mereka kepada Allah atas segala rahmat dan karunia-Nya ini. Dan menjadikan jiwa-jiwa mereka laksana celak-celak yang dihaluskan untuk Hadhrat al-Kibriyaa-I (Tuhan Yang Maha Agung), dan mereka datang kepada-Nya dengan ketakutan dan harapan dengan pandangan menunduk karena malu dan wajah-wajah sedemikian rupa begitu bersemangat dalam penghambaan yang membuatnya mengetuk pintu tertinggi keluhuran.” [10]

Penjelasan mengenai Mimpi dan Kasyaf ‘Menciptakan Bumi Baru dan Langit Baru’

Hadhrat Masih Mau’ud as di sini telah menyebutkan bahwa ada satu alam lain akan diadakan bersamaan dengan bumi ini tergantikan dengan bumi yang lain. Hadhrat Masih Mau’ud as juga telah mendapat ilham. Dalam corak kasyaf, beliau as melihat dan bersabda, “Saya menciptakan sebuah bumi baru dan langit baru dan kemudian saya berkata, ‘Marilah kita ciptakan manusia!’” Atas hal ini, pada masa itu para maulwi bersorak memprotes, “Lihatlah ia mengaku menjadi Tuhan!” Maka kemudian beliau as bersabda, “Ini bukan pengakuan menjadi Tuhan. Maksudnya adalah demikian bahwa Tuhan Yang Mahakuasa dengan memakai perantaraan tangan saya akan menciptakan perubahan sedemikian rupa seolah-oleh langit dan bumi akan diperbaharui dan insan hakiki akan diciptakan, ialah mereka yang dengan ikhlas beribadah kepada Allah. Mereka menunaikan hak ‘ubudiyyat (penghambaan) dan mengenali rabbubiyyat (pemeliharaan dari Tuhan).”

Beliau as bersabda,

“Mereka menghampiri-Nya dengan pandangan-pandangan menunduk karena malu dan penuh harapan; dengan wajah-wajah polos memelas memerlukan sesuatu; dengan semangat dalam hal ubudiyyat (penyerahan diri dan penghambaan) disebabkan telah terhantamnya ketakabburan di puncaknya yang tertinggi. Begitu sangat memerlukan mereka [orang-orang semacam itu] di saat kesesatan telah merosot ke titik nadir yang terendah [kesesatan telah sempurna], sehingga manusia pun tak ubahnya seperti hewan buas disebabkan perubahan keadaan tersebut. Pada saat itulah Rahmat Ilahiyyah (kasih sayang abadi Allah Ta’ala) dan Inaayah Azaliyyah (naungan inayah-Nya semenjak zaman azali)  menitahkan agar diciptakan di langit seorang wujud sedemikian rupa untuk mengusir kegelapan, menghancurkan segala sesuatu yang dibangun oleh iblis baik itu bangunan-bangunannya maupun kemah-kemahnya. Maka turunlah seorang imam dari ar-Rahman [muncullah manusia utusan Tuhan Maha Pemurah]; ia datang untuk memerangi lasykar Setan.” (Seperti telah saya (Hudhur V atba) baru saja jelaskan, Hadhrat Masih Mau’ud as menerima ilham, beliau as menyaksikannya dalam kasyaf) “Kedua kekuatan tersebut bertempur (satu pihak lasykar Rahmaani dan pihak lain lasykar Setani yang keduanya saling berperang); tidaklah dapat disaksikan kecuali hanya oleh mereka yang memiliki dua mata (yakni mereka menyaksikannya dengan mata mereka sendiri, dapat melihatnya dengan mata bashirat (pandangan rohani), orang yang benar-benar menghambakan diri secara betul kepada Tuhan mampu menyaksikannya dan orang-orang yang telah mencapai rabbubiyyat-Nya tentu dapat menyaksikannya pula); “…hingga leher-leher kebatilan pun terbelenggu, dalil-dalil kebatilan (keburukan, kesalahan) yang mengilusi atau menipu pun lenyap. Jadi, Imam itu selalu saja unggul diatas pihak musuh; ia memberi dukungan kepada (menolong) pihak yang telah diberi petunjuk; ia mengibarkan bendera hidayah (meninggikan standar petunjuk); ia menghidupkan kembali musim semi ruhani (ia senantiasa hidup dalam ketakwaan, kebaikan dan kebanyakan waktunya digunakan untuk membincangkan kebaikan dan ketakwaan; ia mengumpulkan orang-orang yang semacam itu yang senantiasa berdzikir kepada Allah, dalam keadaan beribadah dan menyebut-nyebut sifat-sifat-Nya), hingga akhirnya umat manusia pun menyadari, bahwa ia [sang Imam] telah berhasil menangkap para pimpinan kekufuran; ia mengekang mereka, mengikat tali penghela di leher mereka dan menghancurkan bangunan-bangunan bid’ah dan kubah-kubah mereka. Di lain pihak, Imam itu merapatkan (mengumpulkan) kalimah iman; ia mengokohkan nizam (peraturan)nya; ia meneguhkan kerajaan langit, dan menutup semua celah penyusupan.” [11]

Jadi, sekarang ini bumi baru dan langit baru yang tercipta dikarenakan adanya Hadhrat Masih Mau’ud as, yang dengan itu kita dapat mengambil faedahnya, secara khusus kita harus menaruh perhatian agar masing-masing dari kita menyelamatkan dari dari semua bid’ah dan menguatkan keimanan kita. Berusaha memenuhi hak ‘ubudiyyat’ Allah Ta’ala. Hendaknya mengenali dengan benar ‘rabbubiyyat’-Nya. Barulah saat itu dapat mendapatkan faedah dari bumi baru dan langit baru.

‘Aalimiin, hamba Rabbil ‘Aalamiin

Selanjutnya, menjelaskan hal ini bahwa manakala seorang insan telah sungguh-sungguh mengenali Allah Ta’ala dalam corak yang sebenarnya (haqiqi), ia menegakkan mutu ibadah tertinggi maka ia pun memahami hakekat رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Rabbil Aalamin yang menjadi keistimewaan baginya dibanding orang-orang lain.

Hadhrat Masih Mau’ud as menulis detail penjelasannya,

“Allah, Yang Maha Suci telah menunjukkan di dalam firman-Nya “رَبِّ الْعَالَمِينَ” Rabbil Aalamin, pencipta segala sesuatu dan bahwa Dia dipuja-puji di langit maupun di bumi. Para pemuji terus menerus memuji-Nya dan ingatan mereka selalu berpusat kepada-Nya. Tidak ada sesuatu apa pun kecuali mereka memuji-Nya dan bertasbih kepada-Nya. Ketika seorang hamba Allah telah berhasil menanggalkan pakaian ananiyah (keakuan)nya, menjaga jarak dari (mengendalikan) hawa nafsu dirinya, dan ia pun telah fana di jalan-Nya dan beribadah kepada-Nya. Ia telah mengenali Rabbnya; yang memelihara dirinya dengan inayah-Nya (kasih sayang-Nya). Maka ia pun memuji-Nya di setiap waktu; mencintai-Nya dan memuji-Nya dengan sepenuh hatinya, bahkan dengan seluruh dzarrah-dzarrah dalam wujudnya, saat itulah orang itu menjadi ‘aalim’ (berpengetahuan) dari antara ‘aalimin (orang-orang yang berpengetahuan).” [12] Kemudian selanjutnya beliau as memberikan contoh dan bersabda bahwa salah seorang ’Aalim dari para ‘Aalim adalah dia Hadhrat Khatamun Nabiyyin saw [Nabi Muhammad saw] yang telah diutus.

Dan selanjutnya beliau as menjelaskan contoh di zaman beliau bahwa Allah Ta’ala merahmati orang-orang yang mencari-Nya kemudian menciptakan suatu golongan manusia yang adalah golongan Masih Mau’ud dan Mahdi Ma’huud. Ringkasnya, ketika kita telah terurut bersama orang yang dikirim oleh Rabbul ‘Alamin ini maka untuk menjadi bagian dari ‘Aalim ini kita harus memprioritaskan khaalishatan lillaah (keikhlasan karena Allah) dan untuk itu kita harus berusaha supaya kita menjadi orang-orang yang mendapatkan keberkahan dari nikmat-nikmat Rabbul ‘Alamin; selanjutnya beliau as menjelaskan mengenai hal ini bahwa di dalam ‘aalamiin (alam-alam) ini apa saja yang termasuk di dalamnya? Apa itu definisi ‘aalamiin? Beliau as bersabda,

“Dan telah engkau ketahui bahwa الْعَالَمِيْنَ ‘al-‘aalamin’ mencakup segala sesuatu wujud eksistensi selain Allah, Khaliq (Pencipta) para makhluk (segala yang ada di seluruh alam semesta ini), baik itu yang termasuk dalam ‘alam’ para roh (rohani) maupun ‘alam’ fisika ragawi; seperti misalnya semua benda dan makhluk yang berada di bumi, atau seperti matahari dan bulan, serta berbagai macam benda langit selain keduanya. Semuanya itu termasuk ke dalam الْعَالَمِيْنَ ‘al-‘aalamin’ yang berada di dalam pemeliharaan al-Hadhrat (Yang Mulia Itu, Tuhan).” [13]

Ringkasnya, tatkala segala sesuatu berada dalam rabbubiyyat (pemeliharaan) Allah Ta’ala dan kita pun mengetahui bahwa Tuhan sajalah yang memelihara dan melindungi kita, namun ada kejadian pula tatkala manusia menganggap seorang manusia lainnya sebagai rabb (Tuhan) dan razzaaq (pemberi rezeki) mereka. Disebabkan oleh pengaruh masyarakat kadangkala ia terkalahkah oleh pengaruh duniawi, di saat itulah dalam keadaan seperti itu seorang Mu’min harus segera mawas diri (instrospeksi), harus berusaha dan sembari mawas diri ia melakukan taubat dan istighfar lalu kembali kepada رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ‘Rabbil ‘aalamin’ supaya kita menjadi penduduk bumi baru dan langit baru menaungi kepala kita dan kita dapat memperolah faedah keberkahan darinya.

Rabbil ‘Aalamiin, Penyedia Sarana Perkembangan Fisik dan Rohani Untuk Manusia (diantaranya dengan mengutus Nabi-nabi)

Kemudian dalam menerangkan mengenai رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ‘Rabbil ‘aalamin’ beliau as menjelaskan bahwa bersamaan dengan kebutuhan zhahiri (jasmani, fisik) Allah Ta’ala pun memenuhi kebutuhan rohani,

“Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah ilaah (Tuhan) alam semesta, seluruhnya; sebagaimana Dia menciptakan (menyediakan) segala macam kebutuhan jasmani yang diperlukan seluruh makhluk tanpa kecuali, tanpa membeda-bedakan diantara para makhluknya; dan Dia adalah Rabbul ‘aalamin menurut prinsip kita; dan Dia telah menciptakan biji-bijian bahan pangan, udara, air, sinar cahaya, dan lain sebagainya untuk seluruh makhluk; maka begitu pula ada saatnya di beberapa waktu di tiap-tiap zaman Dia mengutus para mushlih (reformer, para nabi) untuk memperbaiki setiap kaum (bangsa). Dan firman-Nya,  وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلا خَلا فِيهَا نَذِيرٌ ‘wa im min ummatin illaa khalaa fiiha nadziir’ – “Dan tiada satu kaum pun kecuali telah diutus kepada mereka seorang pemberi ingat.” (Surah al-Fathir, 35 : 25) [14]

Jadi, Dia yang pada masa sekarang telah dan tengah mengutus maka pada zaman dulu pun Dia telah mengutus (rasul-rasul).

Kemudian menjelaskan satu segi dari رَبِّ الْعَالَمِيْنَ  ‘Rabbil Aalamin’ bahwa Allah Ta’ala tidak mengkhususkan karunia-Nya hanya kepada satu bangsa saja, beliau as bersabda (menulis),

“Allah Ta’ala telah mengawali Alqur’anul Karim dengan ayat dari Surah Al Fatihah اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ‘Alhamdu lillaahi Rabbil ‘aalamiin, yakni sesungguhnya hanya Allah Ta’ala yang memiliki segala sifat yang sempurna dan suci-bersih. Sesungguhnya kata ‘al-aalam’ mencakup seluruh bangsa yang bermacam-macam, segala zaman yang berbeda-beda, dan seluruh negeri yang beraneka ragam. Ayat permulaan di dalam Al Quran Karim ini pun mengandung penolakan terhadap berbagai bangsa yang sesumbar mengatakan bahwa rabbubiyyat (kepedulian, pemeliharaan) Allah yang umum dan karunia-Nya yang luas hanya dibatasi untuk mereka saja dan mereka menyangka bahwa bangsa-bangsa lain seolah-olah bukanlah hamba-hamba Allah. Dan seolah-olah Allah menciptakan mereka, lalu Allah pun seperti menolak dan membuang mereka atau melupakan mereka atau mereka [dianggap] bukan ciptaan Allah, wal ‘iyaadz billaah (perlindungan kepada Allah atas hal itu).” [15]

Jadi, sebagaimana Rabbul ‘Aalamiin menyediakan sarana dan prasarana madiah (materi, fisik) untuk pemeliharaan manusia begitu pula untuk pemeliharaan kerohaniannya pun Dia menyediakan sarana dan prasarana rohani. Ini adalah rabbubiyyat-Nya. Barangsiapa menolaknya, berarti ia menolak sifat rabbubiyyat Allah Ta’ala. Jadi, orang-orang yang pada zaman ini mempelajari Surah Al-Faatihah dan menolak Hadhrat Masih Mau’ud as, hendaknya mereka pun berpikir merenungkan dan kita pun setelah baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as seperti telah saya sampaikan kita masing-masing harus demikian bahwa kita menjadi orang yang mengalami kemajuan dalam hal kerohanian dan ketakwaan.

Kemudian beliau as menulis,

“Ada indikasi lainnya di dalam kata”الحمد”  ‘al-hamd’, yakni Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Wahai hamba-hamba-Ku, ketahuilah Diri-Ku melalui sifat-sifat-Ku dan kenalilah Aku dengan melalui kesempurnaan-Ku. Aku sama sekali tidak memiliki cacat maupun kekurangan. Segala puji bagi-Ku jauh melebihi batas pujian tertinggi yang dapat diungkapkan oleh mereka yang memuji-Ku. Engkau tidak akan menemukan sesuatu pujian di langit maupun di bumi ini yang tidak ada di dalam Wujud-Ku. Seandainya engkau mencoba dengan sekuat tenaga dan derita untuk menghitung-hitung kesempurnaan-kesempurnaan-Ku, engkau tak akan sanggup menyelesaikannya. Carilah dengan teliti apakah engkau  menemukan satu saja sifat terpuji yang tidak ada pada Diri-Ku? Apakah engkau juga menemukan kesempurnaan yang jauh dari-Ku dan bukan daripada-Ku? Jika pun engkau sangka menemukannya, artinya engkau tidak mengenali-Ku dan engkau buta (pandangan engkau kabur). Aku dapat dikenali melalui keterpujian dan kesempurnaan-Ku. Betapa awan tebal yang menjenuh adalah disebabkan karunia-Ku, yang menunjukkan keberkatan-Ku yang tak terhingga. Mereka yang beriman kepada-Ku disebabkan memahami segala sifat dan kesempurnaan-Ku apapun kesempurnaan dan keagungan yang dapat mereka temukan atau bayangkan hingga ke tingkatan yang tertinggi, lalu mengaitkannya kepada Diri-Ku, bahwa setiap keagungan yang ada di dalam pikiran atau setiap kekuatan yang tercetus di dalam pikiran adalah berpulang kepada Diri-Ku, mereka itulah yang menapaki jalan menuju ke arah pengenalan Diri-Ku. Mereka telah memperoleh Kebenaran dan mereka itulah orang-orang yang berhasil.

Maka, bangkitlah! Semoga Allah memaafkanmu. Segeralah membaca (mencari-cari) sifat-sifat Tuhan Dzul Jalaal (Pemilik Keagungan) dan renungkanlah dalam-dalam sebagaimana para ahli pikir melakukannya. Carilah dengan sebaik-baiknya (teliti) dan pandanglah setiap segi kesempurnaannya. Carilah baik yang zahir maupun yang batin di alam semesta ini seperti seorang yang penuh hasrat memburu sesuatu yang diinginkannya.’ Maka, manakala engkau telah memahami sepenuhnya kesempurnaan-Nya dan mulai mencium wangi kesturi Ilahi seolah-olah itulah tanda engkau telah menemukan-Nya dan inilah rahasia sedemikian rupa yang hanya dibukakan kepada para pencahari hidayat (petunjuk Ilahi).

Jadi, inilah Dia Rabb (Tuhan) engkau dan Junjungan engkau, Yang Diri-Nya Maha Sempurna, Pemilik kumpulan segala sifat dan pujian yang sempurna. Seseorang yang demikian itulah yang dapat mengenal-Nya yaitu yang mempelajari dalam-dalam Surah Al-Fatihah; yang memohon pertolongan Tuhan dengan hati yang pedih dan resah. Mereka yang saat mengikat perjanjian kepada Allah disertai dengan niat yang penuh keikhlasan dan berjanji baiat kepada-Nya; membersihkan jiwa (pikiran)nya dari segala macam kebencian dan dendam (pengaruh dan pikiran buruk), akan dibukakan baginya pintu gerbang Surah ini dan seketika pula ia akan menjadi shahibi bashirah (pemilik pandangan yang melihat dengan cahaya rohaniah).” [16]

Seperti telah saya sampaikan sebelumnya, setelah baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, inilah maqam yang hendaknya kita selalu berusaha untuk mencarinya dan sampai kepadanya. Jalan untuk tadabbur (mempelajari) Surah Al-Fatihah dan seluruh Alqur’anul Karim dapat kita temukan dengan mengikuti berbagai kaidah yang dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita untuk dapat meraih pemahaman akan sifat-sifat-Nya sehingga kita pun dapat menjadi orang-orang yang berusaha mengamalkan perintah-perintah-Nya dalam kehidupan kita, sesuai keinginan atau harapan Hadhrat Masih Mau’ud as.

Dzikr Khair dan Shalat Jenazah Ghaib untuk dua almarhumah

Pada hari ini, setelah shalat-shalat di Jum’at ini, saya akan memimpin shalat jenazah gaib untuk dua orang. Jenazah pertama, Mukarramah Fateh Begum Sahibah, istri almarhum mukarram tuan Maulana Ahmad Khan Nasim, Additional Nazir Islah O Irshad, tinggal di Rabwah. Almarhum mukarram tuan Maulana Ahmad Khan Nasim telah wafat beberapa waktu lalu. Istri beliau wafat pada 4 Februari 2012. إنا لله وإنا إليه راجعون . Wanita yang sangat baik, rajin berdoa, rajin dan teratur shalat dan tahajjud, melewatkan hari dalam ketakwaan dan kesetiaan. Rajin membaca Alqur’an sesuai kaidah. Suami almarhumah, seperti telah saya sampaikan ialah Maulana Ahmad Khan Nasim, mendapat tugas sebagai Additional Nazir Islah O Irshad; membawahi wilayah tugas umumnya daerah kampung atau beberapa kabupaten atau jemaat-jemaat yang termasuk wilayah pedesaan dan wilayah Jhang dan Sargodha. Dikarenakan dekat Rabwah; Ahmadi di tempat-tempat itu sering datang ke Rabwah. Mereka sering datang ke rumah Maulana Ahmad Khan Nasim serta menganggapnyas layaknya rumah mereka sendiri. Salah satu putra almarhumah menulis, “Beberapa kali datang ke rumah kami rombongan sejumlah masing-masing 50 orang laki-laki dan perempuan dari berbagai tempat, almarhumah tanpa memperlihatkan sikap susah melayani para tamu dengan hormat dan ramah sekalipun para tamu datang tiba-tiba tanpa menyampaikan kabar terlebih dahulu seperti sering terjadi pada masyarakat kami orang-orang kampung, dengan segera mereka disuguhi makanan-minuman yang panas-panas. Wajah beliau (almarhumah) tidak menunjukkan sikap sempit hati dan susah. Tidak pula mengatakan, ‘Macam mana para tamu ini! [Datang tanpa janji dan kabar!]‘ Mereka adalah orang-orang yang dulunya menegakkan hubungan dengan suaminya saat masih hidup, dan setelah suami beliau wafat, beliau tetap menjaga hubungan baik dengan mereka yang biasa datang ke rumah. Peduli dengan orang-orang miskin; tidak pernah meminta sesuatu dari putra-putrinya namun menasehatkan mereka, “Berilah sesuatu untuk orang-orang fakir-miskin!” Apa saja yang beliau miliki, beliau biasa berbagi untuk orang miskin, orang yang membutuhkan dan anak-anak yatim. Beliau selalu mengatakan, “Jangan pernah menutup pintu untuk orang-orang papa!” Beliau biasa siap menyambut (menemani) kaum wanita yang dalam kegembiraan dan duka (musibah). Kebaikan beliau yang paling besar adalah hubungan yang sangat tinggi dan setia dengan Khilafat dan beliau senantiasa menasehatkan putra-putrinya akan hal itu, menciptakan kecintaan dalam diri mereka dan selalu berupaya untuk hal tersebut. Beliau seorang mushiah, semoga Allah Ta’ala mengampuni beliau dan meninggikan derajat-derajatnya. Almarhumah meninggalkan tiga orang anak perempuan dan tiga orang anak laki-laki yang salah satunya tetap tinggal dengan beliau (almarhumah di Pakistan). Kedua putranya yang lain tinggal di luar negeri [Pakistan] yaitu Mukarram tuan Nashir Perwezi dan Tuan Naseem Mahdi, yang merupakan muballigh di Amerika [Raisut Tabligh dan Naib Amir di Jemaat USA]. Tuan Perwezi tidak bisa datang atas jenazah tersebut begitu pula karena beberapa sebab Tuan Maulana Naseem Mahdi juga tidak bisa datang [ke Pakistan]. Tuan Maulana Naseem Mahdi mubaligh silsilah kita dan senyatanya, doa-doa ibu beliau itulah yang telah terbukti banyak membantu beliau di medan tugas. Semoga pula untuk masa yang akan datang doa-doa tersebut tetap berpengaruh.

Jenazah kedua, adalah untuk Hakim Bi bi sahibah, istri Mukarram Tuan Maulwi Ghulam Rasul, seorang mu’allim yang bekerja di kantor Islah O Irshad (semacam sekretaris tarbiyat di Rabwah, Pakistan). Almarhumah meninggal dunia pada tanggal 9 Februari ini dan berumur hampir seratus tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون beliau adalah seorang wanita yang shalihah, banyak berdoa dan bertawakkal kepada Allah. Hidup bersama suami dengan setia dalam keadaan kesempitan (keuangan). sangat menjaga harga diri (menahan dari dari meminta bantuan orang lain), meskipun di kala sedang dilanda kesulitan keuangan rumah tangga. Pandai menjaga penampilan diri dan berbusana apik. Keuangan rumah tangga diatur sedemikian rupa walau dalam sedikitnya uang. Hidup (tinggal) selama 28 tahun di suatu desa bernama Rasul Nagar yang menjadi pusat jemaat di sekitarnya. Tamu-tamu dari Rabwah sering hadir di sana. Mereka biasa diterima di rumah beliau dan beliau biasa menerima mereka dengan senang hati. Pada masa-masa fitnah (penentangan keras terhadap Jemaat) tahun 1974, suami beliau jarang di rumah dan beliau tinggal bersama anak-anak dan kaum perempuan; tidak ada laki-laki. Sering berjaga sepanjang malam duduk di tempat tidur sembari memegang senjata yang tersedia di dalam rumah; semangat ghairat kejemaatan, ghairat agama dalam diri beliau begitu tinggi. Pada hari-hari rusuh itu, orang-orang menyarankan kepada beliau agar menurunkan tulisan yang tertera di perpustakaan Ahmadiyah di rumah beliau, sebuah board (papan tulis) yang tertulis di sana kutipan-kutipan dari karya tulis Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau menjawab, “Ini akan tetap terpampang di situ, kalau kami takut tentu akan kami turunkan itu!” [maksudnya, tidak takut] Allah Ta’ala memberi taufik kepada almarhumah untuk berkhidmat sebagai ketua Lajnah Imaillah dan juga pernah menjabat sebagai sekretaris dari tahun 1947-1975. Biasa mengajar membaca Alqur’an kepada anak-anak Ahmadi dan ghair Ahmadi. Seorang yang berpegang teguh kepada nizam Jemaat dan nizam Khilafat secara istimewa. Almarhumah meninggalkan tiga orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Salah seorang anak lelaki beliau itu adalah Mubarak Ahmad Zafar sahib, yang mewakafkan hidupnya untuk Islam, bekerja sebagai Additional Vakilul Maal di London. Putra almarhumah yang kedua, Mubasyar Ahmad Zafar juga mewakafkan hidupnya di jalan Islam setelah berhenti dari pekerjaannya. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kesabaran dan ketabahan kepada yang ditinggalkan; meninggikan derajat-derajat almarhumah. Dan seperti telah saya sampaikan tadi kita menyalatkan jenazah almarhumah setelah kita menunaikan shalat-shalat.

Penerjemahan oleh   Mln. Dildaar Ahmad Dartono (Arab-Urdu)
Mahmud Ahmad Surahman (Inggris)

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang perkasa

[2] Barahin Ahmadiyah, Volume IV halaman 364-365

[الْحَمْدُ للهِ]

أي جميع المحامد متحققة في ذلك المعبود الحقيقي الجامع لجميع الصفات الكاملة الذي اسمه “الله”. لقد بيّنتُ من قبل أن “الله” في مصطلح القرآن الكريم هو اسم ذلك الذات الكامل الذي هو المعبود الحق والجامع لجميع الصفات الكاملة والمنـزَّه عن جميع الرذائل، وهو واحد لا شريك له، وهو مبدأ جميع الفيوض. ولما كان الله قد وصف اسـمَـه “الله” في كلامه المقدس -القرآن الكريم- موصوفا لسائر أسمائه وصفاته الأخرى.. ولم يجعل لأيٍّ من الأسماء الأخرى هذه المنـزلة، لذا فإن الاسم “الله”؛ يدل على كافة الصفات التي وُصف بها لكونه متصفا بجميع الصفات ولأنه قد جُعل موصوفا لجميع الأسماء والصفات، لذا تعيَّن مدلولُه أنه يشمل جميع الصفات الكاملة. فملخص “الحمد لله” هو أن كافة أنواع الحمد ظاهرية كانت أم باطنية أو باعتبار الكمالات الذاتية أو عجائب القدرة خاصةٌ بالله تعالى ولا شريك له فيها. وكذلك إن جميع المحامد الصحيحة والكمالات التامة التي يمكن أن يتفكر بها عاقل أو يمكن أن تخطر ببال متفكر كلها موجودة في ذات الله تعالى. وليس هناك ميزة يمكن أن يشهد العقل بإمكانية وجودها ويكون الله محروما منها مثل الشقيّ. فلا يسَعُ عقلَ عاقل أن يكتشف ميزة لا توجد في الله، بل مهما فكر الإنسان بمزايا فإنها موجودة كلها في ذات الله تعالى، وهو حائز على الكمال في ذاته وصفاته ومحامده من كل الوجوه، ومنـزَّه من الرذائل كلها على أكمل وجه.

[3] Teks lengkapnya sebagai berikut:

“أعوذ بوجه الله العظيم الذي ليس شيءٌ أعظمَ منه، وبكلمات الله التامات التي لا يجاوزهن بَرٌّ ولا فاجرٌ، وبأسماء الله الحسنى ما علِمتُ منها وما لم أعلم منها، مِنْ شرِّ ما خَلَقَ وذَرَأَ وبَرَأَ” (الموطأ).

A’uudzu bi wajhillaahil ‘azhiimi lladzii laisa syai-un a’zhama minhu, wa bikalimaatillaahit taammaatil latii laa yujaawizu hunna barrun wa laa faajirun, wa bi asmaa-illaahil husnaa maa ‘alimtu minhaa wa maa lam a’lama minhaa, min syarrin maa khalaqa wa dzara-a wa bara-a.

“Aku berlindung dengan Wajah Allah Nan Agung yang tiada sesuatu pun lebih agung dari-Nya, dan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna yang tiada dapat melebihinya baik orang baik maupun pendosa, dan dengan nama-nama Allah yang Indah yang aku ketahui dari [nama-nama dan sifat-sifat-Nya] itu dan juga yang tidak aku ketahui, dari kejahatan apa-apa yang diciptakan-Nya, baik di angkasa maupun di daratan.” (al-Muwatha Imam Malik)

[4] I’jaazul Masih, Ruhani Khazain jilid (volume) 18, bab ar-raabi’ (bab cehaaram/IV) halaman 129.

“اعلمْ أن الحمد ثناءٌ على الفعل الجميل لمن يستحق الثناء، ومدحٌ لمنعِمٍ أنعمَ من الإرادة وأحسنَ كيف شاء. ولا يتحقق حقيقةُ الحمد كما هو حقُّها إلا للذي هو مَبْدَأٌ لجميع الفيوض والأنوار، ومُحسِنٌ على وجه البصيرة، لا مِن غير الشعور ولا من الاضطرار، فلا يوجد هذا المعنى إلا في الله الخبير البصير، وإنه هو المحسن ومِنْه المِننُ كلها في الأول والأخير، وله الحمد في هذه الدار وتلك الدار، وإليه يرجع كلُّ حمد يُنسَب إلى الأغيار.”

[5] Karaamatush Shaadiqiin, Ruhani Khazaain jilid 7, halaman 64; The Commentary on the Holy Qur’an, Vol. I, hlm. 72

 [الْحَمْدُ للهِ]

   هو الثناء باللسان على الجميل للمقتدر النبيل على قصد التبجيل، والكامل التام من أفراده مختصٌّ بالرب الجليل، وكل حمدٍ من الكثير والقليل، يرجع إلى ربنا الذي هو هادي الضال ومُعِز الذليل، وهو محمود المحمودين.

‘al-hamdu lillaahi, huwats tsanaa-u bil lisaani ‘alal jamiili lil muqtadirin nabiili ‘alaa qashdit tabjiil, wal kaamilut taami min afraadihi mukhtashshun bir Rabbil Jaliil, wa kullu hamdin minal katsiiri wal qaliil, yarji’u ilaa Rabbinaa lladzii huwa Haadi dh-dhaalli wa mu’izidz dzaliil, wa huwa mahmuudul mahmuudiin’

[6] Karaamatush Shaadiqiin (Karomah Orang-Orang Yang Benar), Ruhani Khazaain jilid 7, halaman 65 (107).

وإن الله تعالى افتتح كتابه بالحمد لا بالشكر ولا بالثناء، لأن الحمد يُحيط عليهما بالاستيفاء، وقد ناب منابَهما مع الزيادة في الرِّفاء وفي التزيين والتحسين ولأن الكُفّار كانوا يحمدون طواغيتهم بغير حق، ويؤثرون لفظ الحمد لمدحهم ويعتقدون أنهم منبع المواهب والجوائز ومن الجوّادين؛ وكذلك كان موتاهم يُحمَدون عند تعديد النوادب، بل في الميادين والمآدب، كحمد الله الرازق المتولي الضمين؛ فهذا ردٌّ عليهم وعلى كل من أشرك بالله وذكرٌ للمتوسّمين. وفي ذلك يلوم الله تعالى عَبَدةَ الأوثان واليهود والنصارى وكل من كان من المشركين. فكأنه يقول أيها المشركون.. لِمَ تحمدون شركاءكم وتُطرُون كبراءكم؟ أهم أربابكم الذين ربّوكم وأبناءكم؟ أم هم الراحمون الذين يرحمونكم ويردّون بلاءكم، ويدفعون ما ساءكم وضَرَّاءكم، ويحفظون خيرًا جاءكم، ويَرحَضون عنكم قَشَفَ الشدائد ويداوون داءكم، أم هم مالِكُ يوم الدين؟ بل الله يُربّي ويرحم بتكميل الرفاء، وعطاء أسباب الاهتداء، واستجابة الدعاء، والتنجية من الأعداء، وسيعطي أجر العاملين الصالحين.

[7] Karaamatush Shaadiqiin (Karomah Orang-Orang Yang Benar), Ruhani Khazaain jilid 7, halaman 66 – 67 (108-109).

ومع ذلك فيه إشارة إلى أنه مَن هلَك بخطاه في أمر معرفة الله تعالى، أو اتخذ إلها غيره، فقد هلك مِن رفْضِ رعاية كمالاته وترْكِ التأنق في عجائباته، والغفلةِ عما يليق بذاته، كما هو عادة المبطلين. ألا تنظر إلى النصارى أنهم دُعوا إلى التوحيد، فما أهلكهم إلا هذه العلّة، وسوّلتْ لهم النفسُ المضلّة، والشهوة المُزِلّة، أن اتخذوا عبدًا إلهًا، وارتضعوا عُقار الضلالة والجهالة، ونسوا كمال الله تعالى وما يجب لِذاته، ونحتوا لله البنات والبنين. ولو أنهم أمعنوا أنظارهم في صفات الله تعالى وما يليق له من الكمالات لما أخطأ توسُّمُهم وما كانوا من الهالكين. فأشار الله تعالى ههنا أن القانون العاصم من الخطأ في معرفة البارئ عز اسمه إمعانُ النظر في كمالاته، وتتبُّعُ صفات تليق بذاته، وتذكُّر ما هو أولى من جدوى، وأحرى من عدوى، وتصوُّرُ ما أثبتَ بأفعاله من قوّته وحوله وقهره وطَوْله، فاحفَظْه ولا تكنْ من اللافتين. واعلم أن الربوبية كلها لله، والرحمانية كلها لله، والرحيمية كلها لله، والحكم في يوم المجازاة كله لله، فإياك وتَأَبِّيك مِن مطاوعةِ مُربّيك، وكُنْ من المسلمين الموحّدين. وأشار في الآية إلى أنه تعالى مُنزّه مِن تجدُّد صفةٍ، وحُؤول حالةٍ، ولُحوق وصمةٍ، وحَوْرٍ بعد كَوْرٍ, بل قد ثبَت الحمد له أوّلا وآخرا، وظاهرا وباطنا، إلى أبد الآبدين. ومن قال خلاف ذلك فقد احْرَوْرَف وكان من الكافرين.

[8] Karaamatush Shaadiqiin (Karomah Orang-Orang Yang Benar), Ruhani Khazaain jilid 7, halaman 68 (110).

“وفي لفظ الحمد لله تعليم للمسلمين أنهم إذا سُئلوا وقيل لهم من إلهكم.. فوجَب على المسلم أن يجيبه أن إلهي الذي له الحمد كله، وما مِن نوعِ كمال وقدرة إلا وله ثابت، فلا تكن من الناسين”.

‘Wa fii lafzhil hamdu lillaahi ta’limul lil muslimiina annahum idzaa suiluu wa qiila lahum man ilaahukum fawajaba ‘alal muslimi an yujiibuhu an ilaahi lahul hamdu kulluh, wa maa min nau’i kamaalin wa qudratin illa wa lahu tsaabit, falaa takun minan naasiin’

[9]Ayyamus-Sulh, Ruhani Khazaain jilid 14, hlm 19 (21)

[10] I’jaazul Masih, Ruhani Khazain jilid (volume) 18, bab IV h. 131.

“وأشار الله سبحانه في قوله: “رَبِّ الْعَالَمِينَ” إلى أنه هو خالقُ كل شيء ومنه كلُّ ما في السماوات والأرضين. ومِن العالَمين ما يوجد في الأرضين مِن زُمر المهتدين وطوائف الغاوين والضالين، فقد يزيد عالَمُ الضلال والكفر والفسق وتركِ الاعتدال، حتى يُملأ الأرضُ ظلمًا وجورًا ويترُك الناس طرقَ اللهِ ذي الجلال، لا يفهمون حقيقة العبودية، ولا يؤدّون حقّ الربوبية.

فيصير الزمان كالليلة الليلاء، ويُداسُ الدين تحت هذه اللأواء. ثم يأتي الله بعالَمٍ آخر فتُبدَّل الأرضُ غيرَ الأرض وينْزل القضاء مُبدَّلاً من السماء، ويُعطَى للناس قلبٌ عارفٌ ولسانٌ ناطقٌ لشكر النعماء، فيجعلون نفوسهم كمَوْرٍ مُعبَّد لحضرة الكبرياء، ويأتونه خوفًا ورجاء بطرفٍ مغضوض من الحياء، ووجهٍ مُقبِل نحو قبلة الاستجداء، وهمّةٍ في العبودية قارعةٍ ذُروةَ العلاء.”

[11] I’jaazul Masih, op. cit., halaman 132.

“يأتونه خوفًا ورجاء بطرفٍ مغضوض من الحياء، ووجهٍ مُقبِل نحو قبلة الاستجداء، وهمّةٍ في العبودية قارعةٍ ذُروةَ العلاء. ويشتدّ الحاجة إليهم إذا انتهى الأمر إلى كمال الضلالة، وصار الناس كسباعٍ أو نَعَمٍ من تغيُّرِ الحالة، فعند ذلك تقتضي الرحمة الإلهية والعناية الأزلية أن يُخلَق في السماء ما يدفع الظلام، ويهدم ما عمر إبليسُ وما أقام، من الأبنية والخيام. فينْزل إمامٌ من الرحمن، ليذُبّ جنودَ الشيطان.

 ولم يزل هذه الجنود وتلك الجنود يتحاربان، ولا يراهم إلا من أُعطِيَ له عينان، حتى غُلَّ أعناقُ الأباطيل، وانعدمَ ما يُرى لها نوعُ سرابٍ من الدليل. فما زال الإمام ظاهرًا على العِدا، ناصرًا لمن اهتدى، مُعْلِيًا معالمَ الهدى، مُحيِيًا مواسمَ التُّقَى، حتى يعلم الناس أنه أَسَرَ طواغيتَ الكفر وشدَّ وِثاقَها، وأخَذ سباع الأكاذيب وغلَّ أعناقَها، وهدَم عمارةَ البدعات وقوّض قِبابَها، وجمَع كلمةَ الإيمان ونَظَمَ أسبابها، وقوّى السَّلْطَنةَ السماوية وسدَّ الثغور.”

[12] I’jaazul Masih, op. cit., halaman 138.

“وأشار الله سبحانه في قوله: “رَبِّ الْعَالَمِينَ”. فهو الذي يُحمد في السماوات والأرض، ويحمده الحامدون دائما وينهمكون في ذكره، وما من شيء إلا ويحمده ويسبحه. وعندما يخلع العبد لباس أنانيته ويتخلى عن أهوائه ويفني في سبله وعبادته، ويعرف ربه الذي ربّاه بألطافه، فيحمده في كل الأوقات، ويحبه ويحمده بكل قلبه بل بكل ذرات وجوده، عندئذ يصبح هذا الشخص عالَما من العالَمين.”

[13] I’jaazul Masih, op. cit., halaman 139-140.

“وعرفتَ أن العالَمين عبارة عن كل موجود سوى الله خالقِ الأنام، سواء كان مِن عالم الأرواح أو من عالم الأجسام، وسواء كان من مخلوق الأرض أو كالشمس والقمر وغيرهما من الأجرام. فكلٌّ من العالَمين داخلٌ تحت ربوبية الحضرة.”

[14] Al-Hakam, 10-08-1902; The Commentary on the Holy Qur’an I, hlm.94–95.

“إن الله تعالى إله العالم كله، وكما خلق المواد والأسباب لسد الحاجات الجسدية لكل المخلوقات، مشتركة بين الجميع دون التمييز بين الخلق وهو رب العالمين بحسب مبدئنا، وقد خلق الغلال والهواء والماء والضوء وغيرها من الأمور لكافة المخلوقات كذلك ظل يرسل المصلحين بين حين وآخر في كل زمان لإصلاح كل قوم. فيقول تعالى. وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلا خَلا فِيهَا نَذِيرٌ”

[15] Jang-Muqaddas, Ruhani Khazaain jilid 6.

“لقد استهل اللهُ تعالى القرآن الكريم بآية سورة الفاتحة الحمد لله رب العالمين.. أي أن الله تعالى يملك جميع الصفات الكاملة والطيبة. إن كلمة “العالَـم” تشمل الأقوام المختلفة والأزمنة المختلفة والبلاد المختلفة أيضا. وفي استهلال القرآن الكريم بهذه الآية تفنيد الأقوام التي تعتبر ربوبية الله العامة وفيضه العميم مقتصرا على قومهم فقط ويظنون الأقوام الآخرين وكأنهم ليسوا عباد الله، وكأن الله خلقهم ثم رماهم كشيء رديء أو نسيهم، أو ليسوا من خلقه أصلا والعياذ بالله.”

[16] Karaamatush Shaadiqiin (Karomah Orang-Orang Yang Benar), Ruhani Khazaain jilid 7, halaman 65-66 (107-108).

“في لفظ “الحمد” إشارة أخرى وهي أن الله تبارك وتعالى يقول أيها العباد اعرفوني بصفاتي، وتعرّفوني بكمالاتي، فإني لست كالناقصين، بل يزيد حمدي على إطراء الحامدين، ولن تجد محامدًا لا في السماوات ولا في الأرضين إلا وتجدها في وجهي، وإن أردتَ إحصاء محامدي فلن تحصيها، وإن فكّرتَ بشقّ نفسك وكَلِفْت فيها كالمستغرقين. فانظر هل ترى مِن حمد لا يوجد في ذاتي؟ وهل تجد من كمال بُعِّدَ مني ومن حضرتي؟ فإن زعمت كذلك فما عرفتني وأنت من قوم عمين. بل إنني أُعرَف بمحامدي وكمالاتي، ويُرَى وابلي بسُحُبِ بركاتي، فالذين حسبوني مستجمِعَ جميعِ صفات كاملة وكمالات شاملة، وما وجدوا من كمال وما رأوا من جلال إلى جولانِ خيال، إلا ونسبوها إليَّ، وعزوا إليّ كل عظمة ظهرت في عقولهم وأنظارهم، وكلَّ قدرة تراءت أمام أفكارهم، فهم قوم يمشون على طرق معرفتي، والحق معهم وأولئك من الفائزين.

فقوموا، عافاكم الله، واستقرِئوا محامده عزَّ اسمه، وانظروا وأمعِنوا فيها كالأكياس والمتفكرين. واستنفِضوا واستشِفّوا أنظاركم إلى كل جهة كمال وتَحسَّسوا منه في قَيْض العالم ومُحِّه، كما يتحسس الحريص أمانيه بشُحّه، فإذا وجدتم كماله التام وريّاه، فإذا هو إيّاه، وهذا سرّ لا يبدو إلا على المسترشدين.

فذلكم ربكم ومولاكم الكامل المستجمِع لجميع الصفات الكاملة، والمحامد التامة الشاملة، ولا يعرفه إلا من تدبر في الفاتحة، واستعان بقلب حزين. وإن الذين يُخلصون مع الله نيّةَ العقد، ويعطونه صفقة العهد، ويُطهّرون أنفسهم من الضغن والحقد، تُفتح عليهم أبوابها فإذا هم من المبصرين.”

(Visited 422 times, 1 visits today)