Mungkin ada yang bertanya bahwa jika darah Yesus tidak bisa mensucikan manusia dari dosa (yang memang jelas tidak akan bisa), lalu apakah ada cara lain guna memperoleh pensucian dari dosa, mengingat hidup bergelimang dosa itu lebih buruk daripada maut. Jawabanku atas pertanyaan ini yang dipertegas melalui pengalaman pribadiku sendiri ialah bahwa sejak manusia diciptakan di muka bumi sampai dengan sekarang ini hanya ada satu cara guna menghindari dosa dan kedurhakaan. Cara itu adalah mencapai suatu pemahaman melalui argumentasi yang meyakinkan dan tanda-tanda Samawi yang cemerlang yang semuanya lalu menjadikan wujud Ilahi dimanifestasikan dimana yang bersangkutan bisa menyadari bahwa kemurkaan Tuhan itu merupakan api yang memusnahkan, sedangkan melalui manifestasi keindahan-Nya ia menyadari adanya kenikmatan sempurna bersama Tuhan-nya. Dengan kata lain, melalui pemahaman seperti itu maka semua tabir yang menutupi akan disingkapkan dari keindahan dan keagungan Wujud-Nya. Hanya inilah cara untuk mengekang nafsu dan manusia bisa mengalami perubahan di dalam dirinya.

Mendengar jawaban ini lalu banyak orang yang berkomentar: “Tidakkah kami ini beriman kepada Tuhan, apakah kami ini tidak takut kepada-Nya, apakah bukan semua manusia dengan beberapa kekecualian semuanya mengimani Tuhan? Lalu mengapa masih saja mereka melakukan berbagai laku dosa dan terlibat dalam berbagai kekejian?” Jawaban atas hal ini ialah keimanan itu suatu hal tersendiri sedangkan yang namanya pemahaman adalah hal lain lagi. Bukan karena keimanan maka seseorang menghindari laku dosa tetapi karena pemahaman yang sempurna melalui pengalaman rasa takut dan rasa kasih kepada Tuhan-nya.

Seseorang mungkin bertanya: “Mengapa syaitan mendurhaka meskipun ia memiliki pemahaman yang sempurna?” Jawabannya adalah karena syaitan tidak memiliki pemahaman yang sempurna yang hanya dikaruniakan kepada mereka yang beruntung saja. Sudah menjadi bagian dari fitrat manusia bahwa dirinya dikendalikan oleh pengetahuan yang dimilikinya dan ia tidak akan menghancurkan dirinya sendiri ketika menyadari godaan dari wujud syaitan yang merugikan tersebut. Keimanan adalah meyakini sebagai akibat dari berfikir baik tentang sesuatu, sedangkan yang dimaksud dengan pemahaman adalah menyadari sepenuhnya hal yang diimani tersebut. Karena itu dosa dan pemahaman tidak mungkin eksis bersamaan di dalam suatu kalbu sebagaimana malam dan siang tidak mungkin muncul bersamaan. Sudah menjadi kebiasaan umum dimana sesuatu yang dianggap berharga akan menarik minat orang kepadanya, sedangkan jika ada sesuatu yang merugikan maka orang cenderung menjauh. Sebagai contoh, seseorang yang tidak mengetahui bahwa yang ada dalam genggamannya adalah racun arsenik, mungkin saja akan menelannya karena dikira sejenis obat. Namun seseorang yang mengenal bentuk arsenik tersebut, pasti tidak akan mau mencicipinya meski hanya sekelumit kecil, karena sadar bahwa hal itu akan membawanya segera pindah ke dunia lain. Begitu juga halnya jika manusia menyadari secara pasti bahwa Tuhan itu memang ada dan semua bentuk dosa akan dihukum oleh-Nya, maka secara otomatis ia akan meninggalkan segala bentuk dosa