Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 06 September 2019 (06 Tabuk 1398 Hijriyah Syamsiyah/ Muharram 1441 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (Britania raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Pada khotbah yang lalu saya sampaikan berkenaan dengan Hadhrat Ubadah Bin Shamit radhiyAllahu ta’ala ‘anhu, namun belum lengkap. Pada hari ini akan saya sampaikan riwayat selengkapnya. Tertulis dalam kitab sejarah, لَمَّا حَارَبَتْ بَنُو قَيْنُقَاعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، تَشَبَّثَ بِأَمْرِهِمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ بن سَلُولَ، وَقَامَ دُونَهُمْ Kaum Yahudi Banu Qainuqa berperang melawan umat Muslim atas hasutan Abdullah Bin Ubay [pemimpin golongan Munafik di Madinah], sekutu mereka. وَمَشَى عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ إلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ أَحَدَ بَنِي عَوْفٍ، لَهُمْ مِنْ حِلْفِهِ مِثْلُ الَّذِي لَهُمْ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ، فَخَلَعَهُمْ إلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَتَبَرَّأَ إلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَإِلَى رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ حِلْفِهِمْ، وَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَتَوَلَّى اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْمُؤْمِنِينَ، وَأَبْرَأُ مِنْ حِلْفِ هَؤُلَاءِ الْكُفَّارِ وَوِلَايَتِهِمْ. فَفِيهِ وَفِي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ نَزَلَتْ هَذِهِ الْقِصَّةُ مِنْ الْمَائِدَةِ Seperti halnya Abdullah Bin Ubay, Hadhrat Ubadah Bin Shamit pun merupakan sekutu Banu Qainuqa. Namun, Ubadah memisahkan diri dari kabilah tersebut disebabkan peperangan itu. Beliau melepaskan dukungannya demi Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Atas peristiwa itu turun ayat [dalam Surah al-Maa-idah] sebagai berikut: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصارى أَوْلِياءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِياءُ بَعْضٍ، وَمن يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ، إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ}  ‘Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani menjadi penolong, sebagian mereka adalah penolong sebagian lainnya. Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi penolong-penolong, maka sesungguhnya ia dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang aniaya.’”[1]

Dalam hal ini perlu saya sampaikan maksudnya bukanlah jangan pernah memberikan manfaat kepada orang Yahudi atau Kristen atau jangan bergaul dengan mereka, melainkan maksudnya janganlah berkawan dengan orang Yahudi dan Kristen yang tengah memerangi kalian. Sebab, pada ayat lain Allah Ta’ala menegaskan bahwa Allah Ta’ala tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan adil kepada mereka yang tidak berperang dengan kalian atau yang tidak mengusir kalian dari rumah apakah mereka kafir atau dari kalangan Yahudi dan Nasrani sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama kamu, dan yang tidak mengusirmu dari rumah-rumahmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Surah al-Mumtahanah)

Dijelaskan dalam hal ini pada ayat sebelumnya supaya tidak menjadikan orang-orang non Muslim sebagai penolong maksudnya ialah janganlah menjadikan mereka sebagai penolong disebabkan kelemahan, rasa takut atau ciut hati dalam diri kalian melainkan kalian harus bertawakkal kepada Allah Ta’ala. Jika kalian memperbaiki keadaan iman kalian maka Allah Ta’ala pun akan beserta kalian.

Namun sayangnya, yang kita saksikan saat ini bagaimana negara-negara Islam saat ini masuk kedalam pangkuan negeri negeri non Muslim untuk meminta bantuan kepada mereka dan takut kepada mereka. Akibat dari suatu negeri Muslim meminta bantuan kepada negara non Muslim untuk berperang melawan negeri Muslim lainnya sehingga negeri-negeri non Muslim itu memotong akar Islam. Kita berdoa semoga Allah Ta’ala memberikan akal kepada negeri negeri Islam itu.

Kembali lagi kepada peristiwa sebelumnya, ketika Banu Qainuqa berperang melawan kaum Muslim, mereka terkepung dan akhirnya mereka kalah. Berkenaan dengan itu dalam buku Sirat Khataman Nabiyyin dijelaskan bahwa setelah kalah pada perang tersebut Banu Qainuqa diperintahkan untuk diusir, lengkapnya sebagai berikut:

“Dengan karunia Allah Ta’ala meskipun jumlah pasukan Muslim sedikit dan dilengkapi persenjataan ala kadarnya, namun mendapatkan kemenangan telak dalam melawan pasukan Quraisy yang besar pada perang Badar sehingga para penguasa Mekah mengalami kehancuran. Keadaan itu menimbulkan kemarahan besar yang terselubung di kalangan kaum Yahudi Madinah. Akhirnya secara terang terangan mereka mulai menampakkan kekesalannya atas umat Muslim. Mereka mulai mengoceh dalam majlis-majlis dengan mengatakan: ‘Apalah istimewanya dapat mengalahkan lasykar Quraisy. Coba Muhammad (saw) berperang melawan kami maka akan mengetahui bagaimana rasanya.’[2]

Pernah suatu ketika mereka mengatakan hal serupa kepada Rasulullah (saw) dalam suatu majlis. Sebagaimana diriwayatkan, ketika Rasulullah (saw) datang di Madinah paska perang Badar, suatu hari Rasul mengumpulkan warga Yahudi lalu memberikan nasihat dan menyampaikan pendawaan beliau lalu menyeru mereka kepada Islam. Setelah mendengar ceramah Rasul yang penuh damai dan simpati, para tokoh Yahudi menanggapi dengan mengatakan, يَا مُحَمَّدُ لاَ يَغُرَّنَّكَ مِنْ نَفْسِكَ أَنَّكَ قَتَلْتَ نَفَرًا مِنْ قُرَيْشٍ كَانُوا أَغْمَارًا لاَ يَعْرِفُونَ الْقِتَالَ إِنَّكَ لَوْ قَاتَلْتَنَا لَعَرَفْتَ أَنَّا نَحْنُ النَّاسُ وَأَنَّكَ لَمْ تَلْقَ مِثْلَنَا ‘Wahai Muhammad! Mungkin kamu menjadi sombong setelah berhasil membunuh beberapa orang Quraisy. Mereka tidak memahami strategi perang. Jika kamu berperang melawan kami, kamu akan mengetahui bagaimana lawan sebenarnya.’[3]

Mereka tidak hanya melontarkan ancaman itu saja bahkan mereka mulai membuat makar untuk membunuh Rasulullah (saw). Sebagaimana diriwayatkan, ketika seorang Muslim yang mukhlis bernama Thalhah Bin Bara (طَلْحَةَ بْنَ الْبَرَاءِ) menjelang wafat berwasiat, ادْفِنُونِي وَأَلْحِقُونِي بِرَبِّي عَزَّ وَجَلَّ، وَلَا تَدْعُوا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنِّي أَخَافُ الْيَهُودَ أَنْ يُصَابَ فِي سَبَبِي ‘Jika saya mati pada malam hari, tidak perlu mengabarkan Rasul untuk menyolatkan jenazah saya, supaya jangan sampai karena saya, Rasulullah (saw) mengalami penderitaan yang ditimpakan oleh orang-orang Yahudi.’ Maksudnya, jika diberitahukan maka Rasul akan datang untuk shalat jenazah pada malam hari sehingga orang Yahudi mendapatkan kesempatan baik untuk mencelakai beliau.[4]

Sebagaimana Banu Qainuqa merupakan kabilah yang paling tangguh dan berani di Madinah, karena itu mereka lah yang paling pertama melanggar perjanjian. Para sejarawan menulis, أنَّ بني قينقاع كانوا أوَّل يهود نقضوا ما بينهم وبين رسول الله صلى الله عليه وسلم، وحاربوا فيما بين بدر وأحد ‘Diantara penduduk Yahudi Madinah, Banu Qainuqa-lah yang paling pertama melanggar perjanjian yang telah dibuat antara mereka dengan Rasulullah (saw).’[5]

Setelah perang Badar mereka mulai membangkang dan memperlihatkan permusuhan dan kedengkian secara terang-terangan dan melanggar perjanjian.[6]

Meskipun mendapatkan perlakuan seperti itu, umat Muslim tetap sabar mengikuti petunjuk sang junjungan dan tidak mengambil langkah sendiri bahkan dalam hadits diriwayatkan bahwa setelah dibuat kesepakatan antara umat Muslim dan Yahudi, Rasulullah (saw) memberikan perhatian khusus untuk membahagiakan orang Yahudi. Sebagaimana ketika terjadi perselisihan antara seorang Muslim dengan seorang Yahudi. Orang Yahudi tersebut mengunggulkan Hadhrat Musa (as) diatas semua nabi. Mendengar itu sahabat Rasul marah dan bersikap keras kepada sang yahudi dan mengatakan bahwa Rasulullah (saw) yang merupakan nabi paling unggul. Ketika kabar ini sampai kepada Rasul, beliau (saw) marah dan memarahi sang sahabat dengan bersabda: “Apa yang kamu lakukan, kenapa mengunggulkan salah satu Nabi diatas Nabi-Nabi lainnya?” Lalu Rasulullah (saw) menyenangkan orang Yahudi dengan menyebutkan keunggulan parsial Hadhrat Musa (as). [7]

Namun meskipun mendapatkan perlakuan lembut dan kasih sayang, orang-orang Yahudi itu semakin menjadi-jadi dalam kejahatannya dan pada akhirnya Yahudi-lah yang menjadi penyebab terjadinya perang, kebencian yang membara di dada mereka sudah tidak dapat terbendungkan lagi. Awal mulanya adalah suatu hari ada seorang wanita Muslim pergi ke pasar untuk membeli sesuatu di toko milik seorang Yahudi Bani Qainuqa (سوق بني قينقاع). Ada beberapa orang Yahudi yang sedang berada di toko tersebut berbuat ulah yang nakal terhadap wanita Muslim tersebut begitu juga pemilik toko tersebut dengan cara memasangkan duri atau kail pada ujung kain bagian bawah wanita itu sehingga ketika wanita tersebut pergi meninggalkan tempat itu karena muak dengan ulah mereka, pakaiannya tertarik dan terbukalah auratnya. Melihat keadaan si wanita itu orang-orang Yahudi tadi mengolok-olok dan menertawakan dengan keras. Sementara sang wanita merasa malu dan berteriak meminta bantuan. Kebetulan saat itu ada seorang pria Muslim berada di sekitar itu lalu datang mendekat lalu terjadilah perkelahian di sana. Yahudi pemilik toko itu terbunuh menyebabkan kawan-kawan Yahudi lainnya menyerangnya dengan pedang dan akhirnya pria Muslim pun syahid di tempat itu. Umat Muslim yang mendengar kabar tersebut langsung naik pitam dan memperlihatkan solidaritas tinggi dan datang ke tempat tersebut. Pada waktu yang sama, orang-orang Yahudi pun berdatangan dari dari tempat lain lalu memadati tempat kejadian dan memang mereka ingin menjadikan kejadian tersebut sebagai alasan untuk berperang.[8]

Setelah Hadhrat Rasulullah (saw) mendapatkan kabar akan kejadian tersebut lalu beliau mengundang para tokoh Banu Qainuqa dan bersabda: ‘Perbuatan seperti ini tidaklah baik, hentikanlah kenakalan seperti ini dan takutlah kepada Tuhan.’

Bukannya memperlilhatkan penyesalan, rasa malu dan meminta maaf, justru mereka malah menjawabnya dengan sombong dan mengulangi lagi ancaman sebelumnya dengan mengatakan: ‘Janganlah engkau sombong karena telah menang pada peperangan Badar, ketika berhadapan dengan kami, baru kamu akan tahu mana jagoan yang sebenarnya.’[9]

Akhirnya Rasulullah (saw) membawa sekelompok sahabat ke benteng Banu Qainuqa. Itu merupakan kesempatan terakhir bagi mereka untuk menyesali perbuatannya. Ketika Rasulullah (saw) berangkat membawa sekelompok sahabat, hendaknya orang-orang Yahudi itu menyesali perbuatan aniayanya dan mengajak berdamai, namun malah bersiap-siap untuk berperang. Diumumkanlah untuk bersiap berperang lalu kedua pasukan siap-siap untuk bertempur.[10]

Sesuai dengan peraturan perang pada zaman itu, mereka berada di balik benteng pertahanannya sedangkan pihak lawannya mengepung bentengtersebut. Ketika mendapat kesempatan untuk bertarung, mereka lakukan, sehingga jika pihak yang mengepung sudah putus asa dan melepaskan kepungannya lalu pergi maka yang berada di balik bentenglah yang dianggap menang, atau jika yang berada dibalik bentengitu sudah tidak berdaya lagi untuk berperang, maka mereka akan membuka pintu gerbangnya lalu menyerahkan diri kepada pihak pengepung. Pada saat itupun, itulah yang dilakukan oleh Banu Qainuqa, mereka tetap berada di dalam banteng. Rasulullah (saw) mengepung sekitar benteng tersebut secara terus-menerus selama 15 hari.

Pada akhirnya, ketika semua keangkuhan Banu Qainuqa hilang, mereka membuka pintu gerbang bentengdengan memberikan persyaratan yang menyatakan bahwa harta mereka akan menjadi milik umat Muslim namun umat Muslim tidak diberikan hak atas nyawa dan keluarga mereka.[11] Rasulullah (saw) menyetujui persyaratan mereka, meskipun berdasarkan syariat Musa dalam Taurat menyatakan bahwa dalam keadaan demikian mereka semua wajib dibunuh dan sesuai perjanjian sebelumnya syariat Musa (as)-lah yang seharusnya diterapkan.[12]

Namun, ini merupakan pelanggaran pertama kaum tersebut dan tabiat Rasulullah (saw) yang penuh kasih dan pemaaf tidak cenderung pada hukuman puncak yang merupakan obat terakhir. Sementara disisi lain, kabilah yang melanggar perjanjian dan penuh kedengkian yang mana jika tetap dibiaran berada di Madinah sama saja dengan memelihara musuh dalam selimut, khusunya ketika sekelompok munafik dari kabilah Aus dan Khazraj tinggal sejak sebelumnya di Madinah. Adapun dari arah luar, penentangan seluruh Arab telah benar-benar menyusahkan umat Muslim. Dalam keadaan demikian, keputusan yang mungkin diberikan oleh Rasulullah (saw) adalah mengusir Banu Qainuqa dari Madinah. Jika melihat pelanggaran mereka dan jika memperhatikan keadaan pada zaman itu, hukuman seperti itu sebetulnya merupakan hukuman yang sangat ringan karena yang tersirat dari hukuman itu hanyalah semata-mata untuk pencegahan.”[13]

Maksudnya, supaya umat Muslim Madinah tetap terjaga, karena menurut Hadhrat Mirza Bashir Ahmad, diusir dari kampung bukanlah sesuatu yang berat karena biasa berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Khususnya jika suatu kabilah tidak memiliki harta kekayaan tidak bergerak, tanah atau kebun seperti halnya Banu Qainuqa yang tidak memiliki harta tidak bergerak, maka seluruh kabilah mendapatkan kesempatan mudah untuk meninggalkan tempatnya berpindah ke tempat lain dengan tenang. Banu Qainuqa lalu meninggalkan Madinah menuju negeri Syam dengan aman.

Untuk mengawasi dan mengatur keberangkatan dan lain lain, Rasulullah (saw) menugaskan sahabat beliau bernama Hadhrat Ubadah Bin Shamit, beliau sebelumnya merupakan salah satu dari antara sekutu Banu Qainuqa. Hadhrat Ubadah Bin Shamit ikut mengantar mereka sampai sekian jauh lalu melepas mereka dan kembali pulang. Sementara harta rampasan yang berpindah ke tangan umat Muslim hanya peralatan perang saja atau alat alat yang digunakan untuk mencari nafkah oleh mereka. Selain benda benda itu tidak ada yang lainnya.

Terkait:   Jalsah SalanahUK (Britania Raya)

Berkenaan dengan hal ini terdapat keterangan lebih lanjut dalam Siratul Halbiyah yang di dalamnya tertulis, وأمر صلى الله عليه وسلم أن يجلوا من المدينة؛ أي ووكل بإجلائهم عبادة بن الصامت رضي الله تعالى عنه وأمهلهم ثلاثة أيام فجلوا منها بعد ثلاث، أي بعد أن سألوا عبادة بن الصامت أن يمهلهم فوق الثلاث، فقال: لا ولا ساعة واحدة، وتولى إخراجهم، وذهبوا إلى أذرعات بلدة بالشام “Hadhrat Rasulullah (saw) memerintahkan untuk mengusir orang-orang Yahudi itu dari Madinah untuk selama-lamanya. Tugas untuk mengusir mereka diberikan kepada Hadhrat Ubadah Bin Shamit Ra. Mereka diberikan tenggang waktu selama tiga hari untuk meninggalkan Madinah. Setelah berlalu tiga hari orang-orang Yahudi itu meninggalkan Madinah. Sebelumnya mereka meminta izin kepada Hadhrat Ubadah untuk ditambahkan lagi waktunya lebih dari tiga hari, namun Hadhrat Ubadah menolaknya dengan mengatakan: ‘Satu menit pun tidak akan ditambahkan untuk kalian.’ Hadhrat Ubadah mengantar mereka dalam pengawasannya dan mereka menempati lapangan-lapangan di sebuah kampung di negeri Syam.[14]

Masih banyak sekali riwayat hadits yang disampaikan oleh Hadhrat Ubadah Bin Shamit, salah satu diantaranya adalah sebagai berikut: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشْغَلُ فَإِذَا قَدِمَ رَجُلٌ مُهَاجِرٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَفَعَهُ إِلَى رَجُلٍ مِنَّا يُعَلِّمُهُ الْقُرْآنَ فَدَفَعَ إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا وَكَانَ مَعِي فِي الْبَيْتِ أُعَشِّيهِ عَشَاءَ أَهْلِ الْبَيْتِ فَكُنْتُ أُقْرِئُهُ الْقُرْآنَ فَانْصَرَفَ انْصِرَافَةً إِلَى أَهْلِهِ فَرَأَى أَنَّ عَلَيْهِ حَقًّا فَأَهْدَى إِلَيَّ قَوْسًا لَمْ أَرَ أَجْوَدَ مِنْهَا عُودًا وَلَا أَحْسَنَ مِنْهَا عِطْفًا فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ مَا تَرَى يَا رَسُولَ اللَّهِ فِيهَا قَالَ “Hadhrat Rasulullah (saw) adalah seorang yang sangat sibuk. Jika ada orang dari kalangan Muhajirin datang ke hadapan Rasulullah (saw), maka Rasulullah (saw) menyerahkannya kepada salah seorang dari antara kami untuk mengajarkannya Al-Quran dan ilmu agama. Suatu ketika Rasulullah (saw) menyerahkan seseorang kepada saya, lalu orang tersebut tinggal bersama saya di rumah dan ikut serta makan bersama dengan kami, saya mengajarkan kepadanya Al-Qur’an. Ketika orang tersebut akan pulang setelah selesai belajar, ia berpikiran untuk memberikan sesuatu hadiah kepada saya karena saya telah mengkhidmatinya dan mengajarnya Al Quran. Ia menghadiahkan sebuah panah kepada saya dan berkata bahwa panah ini terbuat dari kayu berkualitas tinggi, saya tidak pernah melihat panah yang lebih baik dari itu. Lalu saya hadir ke hadapan Rasulullah (saw) dan menanyakan pendapat Rasulullah (saw) bahwa ada yang memberikan hadiah seperti itu. Rasul bersabda: جَمْرَةٌ بَيْنَ كَتِفَيْكَ تَقَلَّدْتَهَا أَوْ تَعَلَّقْتَهَا ‘Itu berarti bara api diantara dua pundakmu yang kau kenakan atau kau gantungkan’ Artinya, orang itu memberikan kepadamu hadiah karena kamu telah mengajarkannya Al-Qur’an dan hal itu sama saja dengan mengambil bara api lalu kamu gantungkan di pundakmu.[15]

Terdapat satu riwayat lagi yang disampaikan oleh Hadhrat Ubadah Bin Shamit, عَلَّمْتُ نَاسًا مِنْ أَهْلِ الصُّفَّةِ الْكِتَابَةَ وَالْقُرْآنَ فَأَهْدَى إِلَيَّ رَجُلٌ مِنْهُمْ قَوْسًا لَيْسَتْ لِي بِمَالٍ وَأَرْمِي عَنْهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ  “Saya pernah mengajarkan beberapa orang dari antara Ahlu Shuffah tulis menulis dan Al-Qur’an. Salah seorang dari mereka menghadiahkan panah kepada saya. Saya berpikir bahwa hadiah ini bukanlah suatu uang, emas atau perak.  Lagipula akan saya gunakan panah ini untuk berjihad di jalan Allah. Saya lalu menanyakan kepada Rasulullah (saw) dan beliau bersabda, إِنْ سَرَّكَ أَنْ تُطَوَّقَ بِهَا طَوْقًا مِنْ نَارٍ فَاقْبَلْهَا ‘in sarraka an tathawwaqa bihaa thauqan min naarin faqbalhaa.’ – ‘Jika Anda senang menggantungkan bara api di leher, silahkan terima.’[16]

Para pemberi komentar Hadits menjelaskan perihal dua riwayat yang berasal dari sumber berbeda, seolah-olah hadiah panah tersebut merupakan imbalan karena telah mengajarkan Al-Qur’an dan perbuatan itu tidak disukai oleh Rasulullah (saw). Walhasil, riwayat ini merupakan pelajaran bagi mereka yang secara pribadi menjadikan pengajaran Al Quran sebagai sarana untuk menghasilkan pendapatan.

Hadhrat Rasyid Bin Hubaisy meriwayatkan (عَنْ رَاشِدِ بْنِ حُبَيْشٍ), أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ يَعُودُهُ فِي مَرَضِهِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “Suatu kali Rasul berkunjung ke rumah Hadhrat Ubadah Bin Shamit untuk menjenguk Hadhrat Ubadah. Rasul bersabda, أَتَعْلَمُونَ مَنِ الشَّهِيدُ مِنْ أُمَّتِي؟  ‘Tahukah kalian siapakah yang syahid diantara umat saya?’ فَأَرَمَّ الْقَوْمُ ، فَقَالَ عُبَادَةُ : سَانِدُونِي ، فَأَسْنَدُوهُ، فَقَالَ :  Orang-orang yang ada di sana saling memandang satu sama lain.

Hadhrat Ubadah berkata kepada sahabat lain, ‘Tolong berikan saya sandaran.’ Orang-orang mendudukkan beliau. Hadhrat Ubadah berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، الصَّابِرُ الْمُحْتَسِبُ ‘Wahai Rasulullah (saw)! Tuan bertanya: Siapakah orang yang syahid itu? Orang yang syahid adalah mereka yang dengan gagah berani dan teguh langkah bertempur dan didasari dengan niat mendapat pahala.’

Rasulullah (saw) bersabda, إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيلٌ ‘Jika hanya seperti itu, maka syuhada di dalam umat saya hanya tinggal sedikit.’

Kemudian beliau (saw) bersabda, إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيلٌ : الْقَتْلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ شَهَادَةٌ ، وَالطَّاعُونُ شَهَادَةٌ ، وَالْغَرَقُ شَهَادَةٌ ، وَالْبَطْنُ شَهَادَةٌ ، وَالنُّفَسَاءُ يَجُرُّهَا وَلَدُهَا بِسُرَرِهِ إِلَى الْجَنَّةِ “Terbunuh di jalan Allah adalah syahid, meninggal karena tha’un adalah syahid, ketika suatu wabah menyebar, jika ada seorang mukmin yang dikarenakan suatu hal terjangkit wabah tersebut sedang ia adalah seorang mukmin yang baik, maka dalam corak seperti ini ia syahid. Kemudian tenggelam di dalam air juga syahid, dan meninggal karena penyakit di perut juga adalah syahid dan wanita yang meninggal dalam keadaan nifas, maka anaknya akan menarik tangannya ke dalam surga.”[17]

Artinya, wanita yang meninggal karena darah yang mengalir pada saat melahirkan anak atau meninggal dikarenakan keadaan yang lemah dalam masa nifas yang berlangsung selama 40 hari, maka anaknya akan menariknya ke dalam surga. Maksudnya, anaknya akan menjadi sarana bagi dirinya untuk dibawa ke dalam surga.

Ada satu riwayat lain dalam Shahih Bukhari yang mirip dengan riwayat yang telah saya jelaskan tadi,  “(عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ) Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah (saw) bersabda, الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ‘Syuhadaa-u khamsatun: al-math’uunu wal mabthuunu, wal gharqu wa shaahibul hadmi wasy syahiidu fi sabiiliLlah.’ – ‘Syahid ada 5 macam: orang yang meninggal karena tha’un, orang yang meninggal karena penyakit di perut, orang yang meninggal karena tenggelam, orang yang meninggal tertimpa reruntuhan dan orang yang syahid di jalan Allah.’”[18]

Sekarang ini thau’n telah dinyatakan sebagai sebuah tanda bagi Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Saat ini thau’n tersebut telah menjadi tanda bahwa orang-orang yang beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dengan keimanan yang sejati, maka tha’un tidak akan menyerangnya. Oleh karena itu dalam kasus ini coraknya betul-betul menjadi berbeda, namun secara umum jika ada suatu wabah tersebar, dan jika ada seorang mukmin yang sempurna meninggal dikarenakan wabah tersebut maka sesuai dengan sabda Hadhrat Rasulullah (saw) ini, ia syahid.

Ismaa’iil Bin ‘Ubaid Anshaari (إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُبَيْدٍ الْأَنْصَارِيُّ) meriwayatkan, “Hadhrat ‘Ubadah berkata kepada Hadhrat Abu Hurairah, يَا أَبَا هُرَيْرَةَ إِنَّكَ لَمْ تَكُنْ مَعَنَا إِذْ بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّا بَايَعْنَاهُ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي النَّشَاطِ وَالْكَسَلِ ، وَعَلَى النَّفَقَةِ فِي الْيُسْرِ وَالْعُسْرِ ، وَعَلَى الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ ، وَعَلَى أَنْ نَقُولَ فِي اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَلَا نَخَافَ لَوْمَةَ لَائِمٍ فِيهِ ، وَعَلَى أَنْ نَنْصُرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ عَلَيْنَا يَثْرِبَ فَنَمْنَعَهُ مِمَّا نَمْنَعُ مِنْهُ أَنْفُسَنَا وَأَزْوَاجَنَا وَأَبْنَاءَنَا ، وَلَنَا الْجَنَّةُ فَهَذِهِ بَيْعَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّتِي بَايَعْنَا عَلَيْهَا فَمَنْ نَكَثَ ، فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ ، وَمَنْ أَوْفَى بِمَا بَايَعَ عَلَيْهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّي اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفَّى اللَّهُ بِمَا بَايَعَ عَلَيْهِ نَبِيَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‘Wahai Abu Hurairah! Anda tidak bersama kami ketika kami baiat kepada Rasulullah (saw). Kami berbaiat kepada beliau untuk mendengar dan taat baik keadaan kami sedang semangat ataupun lemah; kami akan membelanjakan harta di jalan Allah baik dalam keadaan lapang maupun sempit; kami akan melakukan amar bil ma’ruuf dan nahi ‘anil munkar; kami akan menyampaikan kebenaran mengenai keberadaan Allah Ta’ala; kami tidak akan memperdulikan celaan orang-orang yang mencela dalam melaksanakannya dan kami akan menolong Nabi yang mulia (saw) ketika beliau datang ke Madinah Munawaroh dan demi jiwa serta anak-istri kami, kami akan melindungi beliau. Ini adalah semua perkara yang atasnya kami telah berbaiat, yang sebagai balasannya ada janji surga bagi kami. Jadi, inilah baiat Hadhrat Rasulullah (saw) yang mana kita telah berbaiat kepadanya. Siapa yang melanggarnya maka ia telah merugikan dirinya sendiri. Siapa yang memenuhi syarat-syarat baiat kepada Rasulullah (saw) tersebut maka dikarenakan baiat tersebut Allah Ta’ala akan memenuhi janji yang telah disampaikan melalui perantaraan Nabi-Nya (saw).’”[19]

Pada suatu kali Hadhrat Mu’awiyah [yang merupakan Amir atau gubernur di wilayah Syam (Suriah dan sekitarnya)] menulis surat kepada Hadhrat Utsman Ghani [saat itu Khalifah dan bertempat di Madinah], أَنَّ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ قَدْ أَفْسَدَ عَلَيَّ الشَّامَ وَأَهْلَهُ فَإِمَّا تُكِفُ إِلَيْكَ عُبَادَةَ، وَإِمَّا أُخَلِّي بَيْنَهُ وَبَيْنَ الشَّامِ “Dikarenakan Hadhrat ‘Ubadah Bin Shaamit, Syam dan penduduk Syam membuat kegaduhan menentang saya. Panggillah ‘Ubadah untuk menghadap Anda atau saya yang akan pergi dari Syam.”

Hadhrat Utsman menulis surat dan mengirimkannya kepada Muawiyah, “Siapkanlah hewan tunggangan untuk Hadhrat ‘Ubadah dan berangkatlah beliau ke rumah saya di Madinah Munawaroh.” فَكَتَبَ إِلَيْهِ أَنْ رَحِّلْ عُبَادَةَ حَتَّى تُرْجِعَهُ إِلَى دَارِهِ مِنَ الْمَدِينَةِ ، فَبَعَثَ بِعُبَادَةَ حَتَّى قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَدَخَلَ عَلَى عُثْمَانَ فِي الدَّارِ ، وَلَيْسَ فِي الدَّارِ غَيْرُ رَجُلٍ مِنَ السَّابِقِينَ أَوْ مِنَ التَّابِعِينَ قَدْ أَدْرَكَ الْقَوْمَ ، فَلَمْ يُفْجَأْ عُثْمَانُ إِلَّا وَهُوَ قَاعِدٌ فِي جَانِبِ الدَّارِ ، فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ فَقَالَ : Hadhrat Muawiyah memberangkatkan Hadhrat ‘Ubadah dan sampailah beliau di Madinah Munawaroh. Hadhrat ‘Ubadah lalu datang ke rumah Hadhrat Utsman. Di rumah itu Hadhrat Utsman sedang duduk di sudut rumahnya. Hadhrat ‘Ubadah tidak mendapati seorang pun di sana kecuali selain para Shahabat awal dan Tabi’in. Kemudian Hadhrat Utsman mengarahkan perhatian kepada beliau dan berkata, يَا عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ مَا لَنَا وَلَكَ “Wahai ‘Ubadah Bin Shaamit! Apa masalah engkau terhadap kami?”

فَقَامَ عُبَادَةُ بَيْنَ ظَهْرَيِ النَّاسِ فَقَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبَا الْقَاسِمِ ، مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : Hadhrat ‘Ubadah berdiri menghadap orang-orang dan berkata, “Saya mendengar Rasulullah (saw) Abu al-Qasim (Ayah al-Qasim) Muhammad (saw) bersabda, إِنَّهُ سَيَلِي أُمُورَكُمْ بَعْدِي رِجَالٌ يُعَرِّفُونَكُمْ مَا تُنْكِرُونَ ، وَيُنْكِرُونَ عَلَيْكُمْ مَا تَعْرِفُونَ ، فَلَا طَاعَةَ لِمَنْ عَصَى اللَّهَ فَلَا تَعْتَلُّوا بِرَبِّكُمْ ‘Sepeninggal saya akan ada orang-orang yang menjadi penguasa kalian, yang akan memperkenalkan kepada kalian perbuatan-perbuatan yang kalian tidak sukai; dan mereka tidak menyukai perbuatan-perbuatan yang menurut kalian itu adalah baik. Jadi, janganlah menaati orang yang tidak taat kepada Allah Ta’ala. Walhasil, janganlah kalian melanggar batas-batas Allah Ta’ala.’”[20]

Kemungkinan saat itu ada beberapa perkara yang menimbulkan perbedaan pendapat. Demikianlah Hadhrat Amir Muawiyah dan ‘Ubadah Bin Shaamit berbeda pendapat mengenai beberapa perkara.

Di dalam khotbah saya yang lalu juga saya sampaikan di masa Hadhrat Umar suatu kali terjadi juga peristiwa seperti itu dan karena Hadhrat ‘Ubadah Bin Shaamit termasuk diantara para sahabat awwaliin dan beliau mendengar langsung mengenai berbagai permasalahan dari Hadhrat Rasulullah (saw) sehingga dengan teguh beliau mengamalkan hal itu dan mengajarkan orang lain untuk mengamalkannya, dan selalu mengatakan ini-lah yang benar. Ketika perselisihan dengan Amir Muawiyah ini terjadi di masa Hadhrat Umar, Hadhrat Umar mengatakan kepada Amir Muawiyah, “Janganlah menginterogasi beliau! Biarkanlah beliau menyampaikan permasalahan-permasalahan tersebut.” Ketika Hadhrat Ubadah pulang kembali ke Madinah, Hadhrat Khalifah Umar (ra) mengutusnya lagi kembali ke Syam. Namun di masa Hadhrat Khalifah Utsman (ra) hal perselisihan ini terjadi kembali. Dikarenakan situasi tersebut Hadhrat Utsman memanggilnya kembali pulang.

Pendek kata, Hadhrat ‘Ubadah memiliki satu maqom (kedudukan) yang tinggi sehingga beliau bisa menjelaskan beberapa perkara. Sebab, beliau memahaminya dikarenakan pernah mendengarnya langsung dari Hadhrat Rasulullah (saw). Atas dasar hal ini beliau berselisih pendapat dengan Muawiyah dalam beberapa perkara. Misalnya, dalam masalah jual beli (perdagangan) dan masalah barter. Ini merupakan bahasan yang sangat luas dan tidak bisa dijelaskan sekarang. Hadhrat ‘Ubadah mempunyai pendapat tersendiri yang dalam hal ini beliau berselisih pendapat dengan Amir Muawiyah. Bagaimanapun, beliau mempunyai dalil-dalil dan beliau memberikan penjelasan sesuai dengan itu. Pada segi lainnya, demikian juga Amir Muawiyah pun mempunyai dasar pendapat tersendiri. Namun, hal ini bukan berarti setiap orang boleh dapat mengungkapkan perbedaan pendapatnya selama belum mendapati nash yang jelas dari Al-Quran atau Hadits, atau ada penjelasan yang telah diberikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as) di zaman ini. Hal mendasar yang sangat penting dan harus diingat dalam peristiwa ini adalah, janganlah melanggar batasan-batasan Allah Ta’ala, tetaplah berada di dalamnya. Inilah yang harus dikedepankan oleh setiap Ahmadi. Kemudian, tetaplah berada dalam batas-batas ketaatan.

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam) (Manusia-Manusia Istimewa seri 41)

(حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ سُلَيْمٍ، قَالَ: سَمِعْتُ عَطَاءَ بْنَ أَبِي رَبَاحٍ، قَالَ:) ‘Athaa meriwayatkan, سَأَلْتُ الْوَلِيدَ بْنَ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ: كَيْفَ كَانَتْ وَصِيَّةُ أَبِيكَ حِينَ حَضَرَهُ الْمَوْتُ؟  “Saya bertemu dengan Walid, yang adalah putera dari Hadhrat ‘Ubadah Bin Shaamit, sahabat Hadhrat Rasulullah (saw). Saya bertanya kepadanya, ‘Apa wasiyat dari Ayah anda – yakni Hadhrat ‘Ubadah – ketika meninggal?’

Ia menjawab, دَعَانِي فَقَالَ: ‘Beliau – yakni Hadhrat ‘Ubadah – memanggil saya dan berkata, يَا بُنَيَّ، اتَّقِ اللَّهَ وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَتَّقِيَ اللَّهَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْعِلْمَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَحْدَهُ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ، قُلْتُ: يَا أَبَتِ، كَيْفَ لِي أَنْ أُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ؟ قَالَ: تَعْلَمُ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، هَذَا الْقَدَرُ، أَظُنُّهُ قَالَ: فَإِنْ مِتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا، دَخَلْتَ النَّار “Wahai Anakku! Takutlah kepada Allah dan ketahuilah bahwa engkau tidak bisa bertakwa kepada Allah Ta’ala selama engkau tidak beriman kepada Allah Ta’ala dengan keimanan yang sempurna, dan beriman kepada segala taqdir yang baik maupun yang buruk… Jika engkau mati di atas akidah lain selain ini maka akan masuk ke dalam api.”[21]

Diriwayatkan dari Hadhrat Anas Bin Malik (عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ), أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَدْخُلُ عَلَى أُمِّ حَرَامٍ بِنْتِ مِلْحَانَ فَتُطْعِمُهُ وَكَانَتْ أُمُّ حَرَامٍ تَحْتَ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ فَدَخَلَ عَلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمًا فَأَطْعَمَتْهُ ثُمَّ جَلَسَتْ تَفْلِي رَأْسَهُ فَنَامَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ اسْتَيْقَظَ وَهُوَ يَضْحَكُ قَالَتْ “Rasulullah (saw) biasa datang ke rumah Hadhrat Ummu Haraam Binti Milhaan yang adalah istri Hadhrat ‘Ubadah Bin Shaamit. Hadhrat Ummu Haraam menghidangkan makanan untuk Rasulullah (saw), kemudian kepala beliau (saw) bersender, lalu tertidur. Kemudian beliau (saw) terbangun sambil tersenyum.

Hadhrat Ummu Haram bertanya, فَقُلْتُ مَا يُضْحِكُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ “Ya Rasulullah (saw)! Apa yang membuat anda tersenyum?’

Beliau (saw) bersabda, نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَىَّ غُزَاةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَرْكَبُونَ ثَبَجَ هَذَا الْبَحْرِ مُلُوكًا عَلَى الأَسِرَّةِ أَوْ مِثْلَ الْمُلُوكِ عَلَى الأَسِرَّةِ “Beberapa orang dari antara umatku diperlihatkan kepadaku, mereka pergi untuk berperang di jalan Allah Ta’ala, mereka mengarungi lautan sebagai raja-raja yang duduk di atas singgasana-singgasana.” Atau beliau (saw) bersabda, “Seperti raja-raja yang duduk di atas singgasana-singgasana.”

يَشُكُّ أَيَّهُمَا Periwayat ragu mengenai lafaz yang mana yang beliau (saw) sabdakan. قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ Singkatnya, Hadhrat Ummu Haram mengatakan, “Ya Rasulullah (saw)! Berdoalah kepada Allah Ta’ala semoga saya termasuk diantara mereka.”

فَدَعَا لَهَا ثُمَّ وَضَعَ رَأْسَهُ فَنَامَ ثُمَّ اسْتَيْقَظَ وَهُوَ يَضْحَكُ قَالَتْ  Rasulullah (saw) berdoa untuk Hadhrat Ummu Haram. Kemudian beliau (saw) menyenderkan kepalanya dan tertidur. Kemudian setelah itu beliau terbangun sambil tersenyum. Hadhrat Ummu Haram bertanya, فَقُلْتُ مَا يُضْحِكُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ “Ya Rasulullah (saw)! Apa yang membuat anda tersenyum?”, maka beliau (saw) bersabda, نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَىَّ غُزَاةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ ‘Beberapa orang dari antara umat saya diperlihatkan ke hadapan saya mereka pergi untuk berperang di jalan Allah.’

كَمَا قَالَ فِي الأُولَى قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ  Kemudian beliau (saw) mengulangi perkataan yang sama seperti yang disampaikan sebelumnya. Hadhrat Ummu Haram mengatakan, ‘Ya Rasulullah (saw)! Berdoalah kepada Allah Ta’ala semoga saya termasuk diantara mereka.’

قَالَ ‏”‏ أَنْتِ مِنَ الأَوَّلِينَ ‏”‏ ‏.‏ فَرَكِبَتْ أُمُّ حَرَامٍ بِنْتُ مِلْحَانَ الْبَحْرَ فِي زَمَنِ مُعَاوِيَةَ فَصُرِعَتْ عَنْ دَابَّتِهَا حِينَ خَرَجَتْ مِنَ الْبَحْرِ فَهَلَكَتْ‏. Beliau (saw) bersabda, ‘Engkau sejak awal pun sudah termasuk diantara orang-orang itu.’ Maka di masa Muawiyah Bin Abu Sufyan, Hadhrat Ummu Haram ikut serta dalam perjalanan laut dan ketika hendak menepi, beliau terjatuh dari tunggangan beliau dan meninggal.” [22]

Hadhrat Rasulullah (saw) biasa datang ke rumah Hadhrat Ummu Haram karena Hadhrat Ummu Haram adalah salah seorang mahram (kerabat) Hadhrat Rasulullah (saw), bukan sebagai istri beliau (saw). Mengenai hal ini tertulis bahwa Ummu Haram binti Milhan adalah putri Milhan ibnu Khalid yang berasal dari Bani Najjaar (asal ibu Abdul Muththalib, nenek buyut Nabi saw). Hadhrat Ummu Haram ialah bibi Hadhrat Anas dari pihak Ibu. Beliau adik ibu Hadhrat Anas, yakni Ummu Sulaim. Keduanya, yakni Ummu Haraam dan Ummu Sulaim dikarenakan saudara sepersusuan atau hubungan kekerabatan yang lainnya merupakan bibi Hadhrat Rasulullah (saw) dari pihak ibu.

Imam Nawawi menulis, اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهَا كَانَتْ مَحْرَمًا لَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَاخْتَلَفُوا فِي كَيْفِيَّةِ ذَلِكَ ؛ فَقَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ وَغَيْرُهُ : كَانَتْ إِحْدَى خَالَاتِهِ مِنَ الرَّضَاعَةِ ، وَقَالَ آخَرُونَ : بَلْ كَانَتْ خَالَةً لِأَبِيهِ أَوْ لِجَدِّهِ ؛ لِأَنَّ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ كَانَتْ أُمُّهُ مِنْ بَنِي النَّجَّارِ  “Semua Ulama sepakat bahwa Ummu Haram adalah mahram dari Hadhrat Rasulullah (saw)…”[23]

Oleh karena itu beliau (saw) terkadang dengan tanpa segan datang kepada beliau di siang hari untuk beristirahat. Namun hubungan yang mengenainya ada perbedaan pendapat adalah bentuk kemahraman tersebut, memang mahram dan semua orang mengakui atau sepakat akan hal ini, namun mengenai hubungan kekerabatan seperti apa yang membuatnya menjadi mahram terdapat perbedaan pendapat diantara para Ulama. Bagaimanapun seseorang bisa menjadi mahram dari seorang lainnya karena suatu hubungan kekerabatan.

Tertulis dalam riwayat bahwa Hadhrat Ummu Haraam masuk Islam dan bai’at di tangan berberkat Hadhrat Rasulullah (saw) dan di masa Kekhalifahan Hadhrat Utsman Dzun-Nurain (ra), beliau bersama dengan suami beliau ‘Ubadah Bin Shaamit, seorang diantara sahabat Anshor dan seorang sahabat yang berkedudukan tinggi – yang riwayatnya sedang disampaikan – pergi untuk berjihad di jalan Allah Ta’ala, dan sesampainya di tanah Romawi beliau mendapatkan karunia syahid. Inilah yang Hadhrat Rasulullah (saw) lihat di dalam rukya beliau (saw), sesuai dengan rukya tersebut beliau syahid.[24]

Di dalam Syarh Bukhari Umdatul Qaari dan di dalam syarah lainnya Irsyadus Saarii tertulis bahwa Hadhrat Ummu Haram wafat pada tahun 27-28 Hijriah.[25] Sebagian berpendapat bahwa beliau wafat di masa pemerintahan Muawiyah. Riwayat yang pertama lebih masyhur dan para ahli sejarah menjelaskan seperti itu, bahwa pertempuran laut ini terjadi di masa kekhalifahan Hadhrat Utsman, yang pada pertempuran tersebut Hadhrat Ummu Haram wafat. Yang dimaksud masa Muawiyah bukanlah masa pemerintahan Hadhrat Muawiyah, melainkan maksudnya adalah masa ketika Hadhrat Muawiyah melakukan peperangan lautan menghadapi Romawi, dan Hadhrat Ummu Haram juga ikut serta dalam peperangan tersebut bersama suami beliau, Hadhrat ‘Ubadah Bin Shaamit, dan dalam perjalanan pulang dari pertempuran laut tersebut Hadhrat Haram wafat, dan peristiwa ini terjadi di masa kekhalifahan Hadhrat Utsman.[26]

Diriwayatkan dari Junadah Bin Abu Umayyah (عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ قَالَ), دَخَلْنَا عَلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ وَهُوَ مَرِيضٌ فَقُلْنَا “Kami pernah pergi menjenguk Hadhrat ‘Ubadah yang sedang sakit. Kami berkata, حَدِّثْنَا أَصْلَحَكَ اللَّهُ بِحَدِيثٍ يَنْفَعُ اللَّهُ بِهِ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ‘Semoga Allah memberikan kesehatan kepada anda. Ceritakanlah suatu hadits yang anda dengar dari Rasulullah (saw) sehingga memberikan manfaat kepada Anda.’

Beliau berkata, دَعَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَكَانَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا  “Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam memanggil kami dan kami bai’at kepada beliau. Perkara-perkara yang atasnya beliau (saw) mengambil bai’at dari kami adalah, kami berbai’at untuk mendengar dan taat baik dalam suka maupun duka, baik dalam kesempitan maupun kelapangan, dan meskipun pemimpin itu mementingkan dirinya sendiri atas kami. وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ قَالَ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ Kami juga tidak akan menentang penguasa, kecuali kekufuran yang jelas, yang mengenainya ada hujjah dari Allah Ta’ala. Kecuali terpaksa karena kekufuran yang jelas dan terang-terangan maka ini adalah hal lain. Dan itu pun jika memiliki kapasitas untuk melakukan itu.”[27]

Shunabihi (عَنِ الصُّنَابِحِيِّ أَنَّهُ قَالَ) meriwayatkan, دَخَلْتُ عَلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ وَهُوَ فِي الْمَوْتِ فَبَكَيْتُ فَقَالَ “Saya pergi kepada Hadhrat ‘Ubadah Bin Shaamit ketika maut menjelang beliau. Saya menangis. Beliau pun berkata مَهْلًا لِمَ تَبْكِي فَوَاللَّهِ لَئِنْ اسْتُشْهِدْتُ لَأَشْهَدَنَّ لَكَ وَلَئِنْ شُفِّعْتُ لَأَشْفَعَنَّ لَكَ وَلَئِنْ اسْتَطَعْتُ لَأَنْفَعَنَّكَ ‘Berhentilah! Mengapa kamu menangis? Demi Allah! Jika saya dimintai kesaksian maka saya akan memberikan kesaksian di pihakmu. Jika saya diberikan hak untuk memberikan syafa’at, saya akan memberikan syafa’at kepadamu. Jika saya memiliki kekuatan, saya akan memberikan manfaat kepadamu.’

Kemudian beliau berkata, وَاللَّهِ مَا حَدِيثٌ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكُمْ فِيهِ خَيْرٌ إِلَّا حَدَّثْتُكُمُوهُ إِلَّا حَدِيثًا وَاحِدًا سَوْفَ أُحَدِّثُكُمُوهُ الْيَوْمَ وَقَدْ أُحِيطَ بِنَفْسِي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ‘Demi Allah! Setiap hadits yang saya dengar dari Rasulullah (saw) yang di dalamnya ada kebaikan untukmu, saya telah menyampaikannya kepadamu, kecuali satu hadits yang hari ini akan saya beritahukan kepadamu ketika kematian tengah menjelang. Saya mendengar dari Rasulullah (saw), beliau (saw) bersabda, مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حُرِّمَ عَلَى النَّارِ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ مِثْلَهُ قَالَ حَرَّمَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَيْهِ النَّارَ “Siapa yang memberikan kesaksian bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah – yakni ia adalah seorang Muslim – maka Allah Ta’ala akan mengharamkan neraka baginya.”’”[28]

Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat para sahabat tersebut yang telah menyampaikan kepada kita perkara-perkara yang selain merupakan ilmu rohani bagi kita, juga sangat penting bagi kehidupan amalan kita.

Sekarang, saya hendak menyebutkan beberapa almarhum dan saya akan memimpin shalat jenazah mereka. Pertama diantara mereka adalah Tn. Said Suqiya asal Suria. Beliau wafat pada tanggal 18 April. Informasi diterima terlambat. Jenazah beliau dishalati terlambat. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Almarhum termasuk diantara anggota Suriah yang sangat mukhlis dan lama. Beliau telah khatam Alquranul Karim pada usia 5 tahun. Beliau mahir kaidah-kaidah tajwid dan qiraah Alquran semenjak kecil. Beliau mengajar tajwid Alquran kepada banyak anggota Ahmadi. Yang terhormat Bpk. Munirul Husni [Ketua Jemaat Suriah] sangat mempercayai beliau. Beliau menempuh pendidikan hukum, namun tidak senang menjadi penasihat, lalu beliau menempuh pendidikan guru, kemudian beliau termasuk diantara guru-guru hebat di seleuruh negeri. Beliau telah mengajar di beberapa daerah dan meningkat hingga jabatan kepala sekolah. Almarhum sangat gemar tabligh. Beliau senantiasa tabligh pada tiap orang.

Beberapa tahun silam, ketika Arabic Desk menerbitkan ulang buku-buku bahasa Arab Hadhrat Aqdas Masih Mauud (as) (diterjemahkan ulang dan diterbitkan), beliau menelaah semuanya dan mengatakan: “Setelah kian lama menjadi Ahmadi, kini saya tahu apa yang sebenarnya disabdakan Hadhrat Masih Mau’ud (as). Sekarang kali pertama saya mengetahui hakikat jemaat. Kini, saya mendapat pengetahuan baru tentang Ahmadiyah Islam Hakiki.”

Setiap orang yang mengenal beliau menceritakan karakter beliau seperti akhlak beliau, pergaulan baik beliau, kedermawanan beliau, ghairat beliau dan suka membantu orang lain tanpa ingin balas jasa dan sangat terkesan dengan beliau serta tiap orang yang mengenal beliau mencintai beliau karena karakter-karakter beliau tersebut. Beliau tenggelam dalam pekerjaan beliau sendiri. Beliau periang. Beliau adalah ayah yang baik. Beliau suami yang mukhlis.

Link persahabatan beliau amat luas. Beliau dawam shalat dan ibadah. Kapanpun beliau menerima uang, beliau langsung bayar candah. Acap kali beliau menyerahkan semua uang yang beliau dapat. Beliau meninggalkan 3 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Putra sulung beliau adalah tuan Muhammad dan putra bungsu beliau adalah tuan Jalaluddin. Keduanya Ahmadi. Semoga Allah Taala mengasihi dan mengampuni beliau dan meninggikan derajat beliau, mengabulkan doa-doa beliau untuk keturunan beliau dan menganugerahkan taufik kepada anak-anak yang lain untuk mengenal kebenaran.

Jenazah kedua adalah yang terhormat tuan ath-thayyib al-ubaidi asal Tunisia yang wafat pada tanggal 26 Juni dalam usia 70 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Beliau adalah Ahmadi satu-satunya di daerah beliau. Beliau sangat mukhlis, sangat mencintai jemaat dan imam saat ini; beliau juga mencintai khilafat. Beliau hampir melewati sepanjang usia di masjid-masjid. Beliau pecinta Alquran. Beliau adalah insan yang banyak berzikir. Setelah mengenal jemaat, tanpa tunggu lama, beliau sampai di pusat dan segera baiat. Beliau pecinta kalam Hadhrat Aqdas Masih Mauud as. Beliau menempuh perjalanan menggunakan kereta api untuk sampai di pusat hampir 5 jam guna menunaikan shalat jumat. Beliau insan sangat pemberani. Siapapun yang beliau jumpai, beliau perkenalkan jemaat. Beliau mendapat banyak tekanan dari keluarga dan lingkungan. Tetapi beliau teguh dalam keimanan.

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallAllahu ‘alaihi wasallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 34)

Pada hari pertama baiat, beliau mulai bayar candah dengan tulus hati. Ketika beliau mengetahui nizam alwasiat, beliau segera berwasiat. Beliau banyak menganjurkan kepada para pemuda untuk infaq fi sabilillah dan mengatakan bahwa berkat infaq fi sabilillah, banyak berkah dalam harta saya. Almarhum juga mendapat taufik untuk haji ke baitullah. Beliau mencintai jemaat dan khilafat. Semoga Allah Taala mengasihani dan mengampuni beliau serta mengbulkan doa-doa dan harapan-harapan baik beliau tentang keturunan dan kerabat beliau.

Jenazah ketiga adalah yang terhormat nyonya Amatus Syakur, putri sulung Hadhrat Khalifatul Masih III rh. Beliau wafat pada tanggal 3 September dalam usia 79 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Sebagaimana saya telah sampaikan, beliau adalah putri Hadhrat Khalifatul Masih III rh. Dari segi tersebut, beliau adalah cucu Hadhrat Mushlih Mauud ra. Dari garis perempuan, beliau adalah cucu Hadhrat Nawab Mubarikah Begum dan Hadhrat Nawab Muhammad Ali Khan.

Beliau lahir pada bulan April 1940 di Qadian. Beliau menempuh pendidikan dasar dari Qadian, kemudian mendapat gelar BA dari Lahore. Beliau 2 kali menikah. Pertama, menikah dengan putra Nawab Abdullah Khan, Syahid Khan. Dari beliau dikaruniai keturunan: 2 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Salah satu anak laki-laki beliau adalah Amir Ahmad Khan. Beliau seorang waqif zindegi dan sedang be kerja di tahrik jadid. Kedua cucu beliau saat ini sedang menempuh pendidikan di jamiah. Pernikahan kedua dilakukan dengan Dr. Mirza Laiq. Dari beliau tidak dikaruniai keturunan. Beliau tidak banyak melakukan pengkhidmatan jemaat, namun umumnya beliau mendapat taufik untuk bekerja dalam beberapa lembaga atau bidang dalam jemaat di berbagai corak.

Setiap penulis menulis bahwa beliau bekerja dengan kami begitu rendah hati dan suka tolong-menolong. Beliau amat gemar menulis dan membaca. Beliau juga menulis riwayat hidup Hadhrat Amma Jan. Kemudian, beliau menulis tentang riwayat hidup Hadhrat Nawab Mubarakah Begum: Mubarakah ki kahani Mubarakah ki zabani (مبارکہ کی کہانی مبارکہ کی زبانی) ‘Kisah-Kisah Mubarakah dalam penceritaan oleh Mubarakah’. Kemudian buku yang ketiga yang rancangannya sudah komplit, namun belum bisa diterbitkan karena satu dua hal. Buku tersebut terdiri atas riwayat hidup istri Hadhrat Mirza Syarif Ahmad ra, Hadhrat Bu Zainab ra (السيدة  بو زينب رضي الله عنها). Ketiga buku ini adalah literatur bagus bagi Lajnah Imaillah.

Cucu beliau, Mulahat mengatakan bahwa nenek saya biasa mengatakan bahwa Hadhrat Khalifatul Masih III rh selalu bersabda: Biasakanlah tersenyum karena ini sedekah. Oleh karena itu, saya melihat beliau pada saat sakit pun tersenyum, saat menderita pun tersenyum. Penyakit beliau menyakitkan. Di akhir diketahui bahwa itu kanker. Namun, beliau lalui dengan penuh kesabaran. Hadhrat Khalifatul Masih III rh senantiasa mengatakan bahwa beliau menanggung setiap derita dengan penuh kesabaran.

Semoga Allah Taala mengampuni dan mengasihani beliau dan menganugerahkan taufik kepada anak-anak beliau dan generasi mendatang beliau untuk tetap menjalin setia dengan khilafat dan jemaat. Ya, ada yang terlupa. Karena ijtima khudam sudah dimulai, shalat jumat dan shalat ashar akan dijamak.

 

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah                : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Hashim; Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Referensi proof reading (baca ulang dan komparasi naskah): http://www.islamahmadiyya.net (bahasa Arab)

[1] Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam (السيرة النبوية لابن هشام), bab (أَمْرُ بَنِي قَيْنُقَاعَ) riwayat dari (عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الْوَلِيدِ بْنِ عُبَادَةَ ابْن الصَّامِتِ)

[2] Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, p. 50, Thumma Dakhalatis-Sanatuth-Thāniyatu Minal-Hijrah / Dhikru Waq‘ati Badril-Kubrā, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002)

[3] * Sunanu Abī Dāwūd, Kitābul-Khirāji Wal-Imārati Wal-Fai’i, Bābu Kaifa Kāna Ikhrājul-Yahūdi Minal-Madīnah, Ḥadīth No. 3001; * Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, p. 50, Thumma Dakhalatis-Sanatuth-Thāniyatu Minal-Hijrah / Ghazwatu Banī Qainuqā‘, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002); * As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, pp. 513-514, Amru Banī Qainuqā‘, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001)

[4] Al-Mu’jamul Kabir karya ath-Thabrani (المعجم الكبير للطبراني). Thalhah bin Bara sebelum itu tengah sakit parah dan Nabi (saw) telah menjenguknya. Nabi (saw) berpesan kepada para sahabat yang lain agar diberi tahu tentang Thalhah karena melihat tanda-tanda parahnya sakitnya.

[5] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 514, Amru Banī Qainuqā‘, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); * Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, p. 50, Thumma Dakhalatis-Sanatuth-Thāniyatu Minal-Hijrah / Ghazwatu Banī Qainuqā‘, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002)

[6] Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 264, Ghazwatu Banī Qainuqā‘, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[7] Shahih al-Bukhari, Kitab fil Khushuumaat (mengenai perselisihan) bab maa yadzkuru fil asykhaash wal khushuumah bainal Muslim wal Yahud: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ اسْتَبَّ رَجُلَانِ رَجُلٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَرَجُلٌ مِنْ الْيَهُودِ قَالَ الْمُسْلِمُ وَالَّذِي اصْطَفَى مُحَمَّدًا عَلَى الْعَالَمِينَ فَقَالَ الْيَهُودِيُّ وَالَّذِي اصْطَفَى مُوسَى عَلَى الْعَالَمِينَ فَرَفَعَ الْمُسْلِمُ يَدَهُ عِنْدَ ذَلِكَ فَلَطَمَ وَجْهَ الْيَهُودِيِّ فَذَهَبَ الْيَهُودِيُّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ بِمَا كَانَ مِنْ أَمْرِهِ وَأَمْرِ الْمُسْلِمِ فَدَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُسْلِمَ فَسَأَلَهُ عَنْ ذَلِكَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُخَيِّرُونِي عَلَى مُوسَى  Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Ada dua orang laki-laki yang sedang saling mencaci, yang satunya seorang Muslim dan satunya lagi orang Yahudi. Berkata, laki-laki Muslim: “Demi Dzat yang telah memilih Muhammad untuk seluruh alam”. Dan berkata, laki-laki Yahudi: “Demi Dzat yang telah memilih Musa untuk seluruh alam”. Seketika itu laki-laki Muslim mengangkat tangannya dan menampar wajah orang Yahudi itu. Maka orang Yahudi itu pergi menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengabarkan peristiwa yang terjadi antara dirinya dan orang Muslim itu. Kemudian Nabi saw memanggil orang Muslim itu dan bertanya tentang kejadian itu, lalu orang Muslim itu memberitahukan Beliau. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Laa tukhayyiruuni ‘alaa Muusa..’ – “Janganlah kamu lebihkan aku terhadap Musa..”

[8] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 514, Amru Banī Qainuqā‘, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001)

[9] Tārīkhul-Khamīs Fī Aḥwāli Anfasi Nafīs, By Ḥusain bin Muḥammad bin Ḥasan, Volume 1, p. 409, Ghazwatu Banī Qainuqā‘, Mu’assasatu Sha‘bān, Beirut

[10] Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 2, pp. 350-351, Ghazwatu Banī Qainuqā‘, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[11] Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 264, Ghazwatu Banī Qainuqā‘, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[12] Deuteronomy (20:12-14)

[13] Sirah Khataman Nabiyyin Seal of the Prophets – Volume II

[14] As-Sirah al-Halabiyyah juz ke-3 (السيرة الحلبية/الجزء الثالث), bab (باب غزوة بدر الكبرى). Nama lain kitab ini ialah Insanul ‘Uyuun fi Sirah al-Amin al-Ma-mun (إنسان العيون في سيرة الأمين المأمون) artinya Laporan Pandangan Mata atas Sejarah Hidup dia yang Tepercaya lagi Dipercayai, yaitu Nabi (saw) karya Ali bin Ibrahim bin Ahmad al-Halabi, Abu al-Faraj, Nuruddin bin Burhanuddin al-Halabi (علي بن إبراهيم بن أحمد الحلبي، أبو الفرج، نور الدين ابن برهان الدين).

 

[15] Musnad Ahmad bin Hanbal (مسند أحمد ابن حنبل) No.21703: عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ

[16] Musnad Ahmad bin Hanbal (مسند أحمد ابن حنبل) No.21632

[17] Musnad Ahmad bin Hanbal (مسند أحمد ابن حنبل), (مُسْنَدُ الْمَكِّيِّينَ), (حَدِيثُ رَاشِدِ بْنِ حُبَيْشٍ). No.21627

[18] Shahih al-Bukhari (الجامع المسند الصحيح المختصر من أمور رسول الله صلى الله عليه وسلم وسننه وأيامه), (كِتَاب الْوَصَايَا), (بَاب الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ), 2829.

[19] Musnad Ahmad bin Hanbal (مسند أحمد ابن حنبل), (مُسْنَدُ الْأَنْصَارِ), (حَدِيثُ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ), (حديث رقم 22245)

[20] Musnad Ahmad bin Hanbal (مسند أحمد ابن حنبل), (مُسْنَدُ الْأَنْصَارِ), (حَدِيثُ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ), (حديث رقم 22245)

[21] Al-Ibanah al-Kubra karya Ibnu Bathah (الإبانة الكبرى لابن بطة) bab (بَابُ التَّصْدِيقِ بِأَنَّ الْإِيمَانَ لَا يَصِحُّ لِأَحَدٍ، وَلَا يَكُونُ الْعَبْدُ مُؤْمِنًا حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ، وَأَنَّ الْمُكَذِّبَ بِذَلِكَ إِنْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ وَالْمُخَالِفَ لِذَلِكَ مِنَ الْفِرَقِ الْهَالِكَةِ), nomor 1446; tercantum juga dalam al-Baihaqi dan dalam ‘Akidah-Akidah Ahlus Sunnah’ (المتون السبعة في عقائد أهل السنة) karya Mufti Rasyid Ahmad al-‘Alawi (رشيد أحمد العلوي ،المفتي)

[22] Shahih Muslim, Kitab al-Imarah (كتاب الإمارة), (باب فَضْلِ الْغَزْوِ فِي الْبَحْرِ ‏‏), no. 1912. Bukhari dalam shahihnya no. 2788, An-Nasai dalam sunannya no. 3171, Abu Daud no. 2491, Turmudzi no. 1645, Imam Malik dalam Al-Muwatha’ (1689/452). Di Hadits dalam Shahih Muslim dan Shahih al-Bukhari memang disebutkan Ummu Haram menyisir rambut Nabi saw dan ada pula yang menyebutkan membersihkan rambut Nabi (saw) dari kutu.

[23] Syarh Shahih Muslim (komentar atas Shahih Muslim karya Imam Nawawi), 13/58 (شرح الحديث من شرح النووى على مسلم) Imam Nawawi ialah Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi (الإمام العلامة أبو زكريا محيي الدين بن شرف النووي الدمشقي). Beliau berasal dari Nawa, dekat Damaskus, Suriah sekarang dan hidup pada 631 H dan w. 676 H (umurnya hanya 45 tahun). Beliau juga penulis Riyadhush Shaalihin; tercantum juga dalam Tuhfah al-Ahawazi bi Syarh Jami’ al-Turmudzi (تحفة الأحوذي – المباركفوري – ج ٥ – الصفحة ٢٢٩) karya Abu ‘Ula Muhammad ‘Abdurrahman Ibn ‘Abdurrahim al-Mubarakfuri (w. 1353 H, asal Mubarakpur, Uttar Pradesh, India). Arti Mahram ialah semua orang yang haram untuk dinikahi selamanya karena sebab keturunan, persusuan dan pernikahan dalam syariat Islam.

[24] Kuburan Hadhrat Ummu Haram (ra) di Tekke Hala Sultan, kota Larnaca, pulau Siprus bagian selatan. Siprus bagian selatan ialah wilayah mayoritas keturunan Yunani yang non Muslim. Siprus Utara dihuni mayoritas Muslim keturunan Turki. Kesultanan Ottoman Turki pernah menguasai Siprus selama 3 abad (16-18). Siprus merdeka dari Inggris pada 1960. Republik Turki terpaksa menginvansi Siprus lagi pada 1974 untuk melindungi minoritas Muslim karena pihak warga Siprus keturunan Yunani di Siprus mengkudeta pemerintahan dan memaksakan penyatuan dengan Yunani.

[25] Syarh al-Qasthalani Irsyadus Saari li Syarh Shahih al-Bukhari (شرح القسطلاني إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري), (56 – كتاب الجهاد والسير), (63 – باب غَزْوِ الْمَرْأَةِ فِي الْبَحْرِ): فاختة امرأة معاوية بن أبي سفيان وكان أخذها معه لما غزا قبرص في البحر سنة ثمان وعشرين وهو أوّل من ركب البحر للغزاة في خلافة عثمان -رضي الله عنهما-

[26] ‘Umdatul Qaari (عمدة القاري شرح صحيح البخاري), (بابُ مَا قِيلَ فِي قِتالِ الرُّومِ): (أول جَيش من أمتِي يغزون الْبَحْر) أَرَادَ بِهِ جَيش مُعَاوِيَة، وَقَالَ الْمُهلب: مُعَاوِيَة أول من غزا الْبَحْر، وَقَالَ ابْن جرير: قَالَ بَعضهم: كَانَ ذَلِك فِي سنة سبع وَعشْرين، وَهِي غَزْوَة قبرص فِي زمن عُثْمَان بن عَفَّان، رَضِي الله تَعَالَى عَنهُ Pulau Cyprus (Siprus atau Kubros dalam bhs Yunani; dan Qobrosh/Qabrash dalam bahasa Arab) terletak di laut Tengah dan mempunyai posisi yang strategis untuk menjadi pangkalan angkatan laut. Sejak sebelum Islam telah menjadi rebutan antara Persia dan Yunani. Pada masa itu Siprus wilayah Romawi yang berpusat di Bizantium dan dipakai untuk menjadi pangkalan pasukan guna menyerang wilayah Muslim. Hal demikian membuat Amir Muawiyah berkali-kali mengusulkan kepada Khalifah agar dibentuk angkatan laut. Usulan diterima pada zaman Khalifah Utsman. Amir Muawiyah sendiri yang memimpin angkatan laut untuk menundukkan Cyprus 27-28 H/sekitar 649 M. Cyprus menyerah bersyarat dengan sebuah perjanjian bersama. Capaian angkatan laut di masa Muawiyah mundur di zaman Yazid, putranya. Yazid menarik mundur pasukan Muslim dari pulau Cyprus, pulau Arwad dan pulau Rhodes.

[27] Hadits Muslim Nomor 3427

[28] Musnad Ahmad bin Hanbal (مسند أحمد ابن حنبل) No.21653