Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 74)

Pembahasan mengenai seorang Ahlu Badr (Para Sahabat Nabi Muhammad (saw) peserta perang Badr atau dianggap oleh Nabi (saw) mengikuti perang Badr), Hadhrat Shuhaib bin Sinan dan Hadhrat Sa’d bin Rabi’ radhiyAllahu ta’ala ‘anhuma.

Penjelasan Hadhrat Khalifatul Masih II (ra) mengenai tuduhan orientalis yang menyebut Nabi Muhammad (saw) dibantu para budak (termasuk Hadhrat Shuhaib) dalam menyusun ajaran dan wahyunya.

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 05 Juni 2020 (Ihsan 1399 Hijriyah Syamsiyah/Syawwal 1441 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Hari ini saya kembali akan menyampaikan tentang sahabat Badr. Diantaranya adalah Hadhrat. Shuhaib bin Sinan (صُهَيْبُ بْنُ سِنَانِ بْنِ مَالِكِ بْنِ عَبْدِ عَمْرِو بْنِ عَقِيلِ بْنِ عَامِرٍ) ra. Ayah beliau bernama Sinan bin Malik dan ibu beliau bernama Salma binti Qa’id (سلمى بنت قَعيد بن مَهيض).

Negeri asal Hadhrat Shuhaib adalah Maushil (Mosul, الْمَوْصِلِ). Ayah atau paman beliau adalah seorang Amil (pejabat) bawahan Kisra (Raja Iran atau Persia) di kota Ubullah (عَامِلًا لِكِسْرَى عَلَى الْأُبُلَّةِ). Ubullah adalah sebuah kota yang terletak di tepi Dajlah yang di kemudian hari disebut dengan nama Bashrah. Orang-orang Romawi menyerang daerah itu dan mereka menawan Hadhrat Shuhaib yang saat itu masih kecil.[1]

Menurut Abul Qasim Maghribi (أبو القاسم المغربيّ), كان اسمه عميرة فسمّاه الرّوم صهيبا “Nama beliau tadinya Umairah. Kemudian orang-orang Romawi mengganti namanya menjadi Shuhaib.”[2]

Warna kulit Hadhrat Shuhaib sangat merah. Beliau tidak tinggi dan tidak juga pendek. Rambut beliau tebal. Hadhrat Shuhaib tumbuh kembang dalam lingkungan orang-orang Romawi. Hadhrat Shuhaib berlidah cadel.

Orang-orang dari kalangan Kalb membeli beliau dan satu orang lagi bersama beliau dari orang-orang Romawi. Mereka berdua dibawa ke Makkah. Kemudian Abdullah bin Jud’an (عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جُدْعَانَ) membeli dan membebaskan beliau. Hadhrat Shuhaib tinggal di Makkah bersama Abdullah bin Jud’an sampai kewafatannya yaitu sampai diutusnya Rasulullah (saw).

Menurut salah satu riwayat, putri Hadhrat Shuhaib meriwayatkan bahwa ketika Hadhrat Shuhaib mulai berakal dan dewasa beliau melarikan diri dari Rum dan sampai di Makkah. Kemudian beliau berkawan dengan Abdullah bin Jud’an dan tinggal bersamanya sampai kewafatan Abdullah bin Jud’an.

Berkaitan dengan beliau Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Ada seorang budak bernama Shuhaib yang merupakan tawanan orang-orang Romawi. Kemudian dia menjadi budak Abdullah bin Jud’an yang kemudian memerdekakannya. Beliau juga beriman kepada Rasulullah (saw). Beliau menanggung berbagai macam penderitaan demi Rasulullah (saw).”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan hal ini dalam rentetan pembahasan tentang apa yang dituduhkan oleh orang-orang kafir yang tertera dalam Quran Karim, mereka menuduh Rasulullah (saw) membuat Al-Quran dengan bantuan para budak. Salah satu jawaban dari kritikan ini adalah, para budak itu menanggung berbagai musibah dan penganiayaan karena menjadi Muslim. Apakah para budak itu membantu Rasulullah (saw) untuk menimpakan penderitaan-penderitaan pada diri mereka sendiri. Bahkan membantunya bukan hanya secara sembunyi-sembunyi tapi juga secara terang-terangan. Kemudian mereka juga bersabar dari segala musibah dan kezaliman dengan penuh istiqomah. Maka dari itu, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda bahwa ini adalah kritikan yang sangat lemah dan tidak berdasar.

Inilah keadaan orang-orang mukmin yang beriman pada Allah dan Rasul-Nya (saw). Mereka istiqomah dalam keimanannya dan mempelajari Islam dari Rasulullah (saw). Mereka beriman pada wahyu Allah Ta’ala. Pendeknya hal ini dibahas dalam rentetan pembahasan ini.

Hadhrat Ammar Bin Yasir (ra) meriwayatkan, لَقِيتُ صُهَيْبَ بْنَ سِنَانٍ عَلَى بَابِ دَارِ الْأَرْقَمِ ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا ، فَقُلْتُ لَهُ : “Saya berjumpa dengan Shuhaib bin Sinaan di pintu Darul Arqam [rumah Arqam, tempat berkumpul umat Islam awal saat di Makkah]. Saat itu Hadhrat Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wa sallam (saw) tengah berada di Darul Arqam. Saya bertanya kepada Shuhaib, مَا تُرِيدُ ؟ ‘Untuk tujuan apa anda ke sini?’

Lalu Shuhaib balik bertanya, مَا تُرِيدُ أَنْتَ ؟ ‘Kalau anda?’

Saya menjawab, أَرَدْتُ أَنْ أَدْخُلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ، فَأَسْمَعَ كَلَامَهُ ‘Saya berkeinginan untuk bertemu dengan Hadhrat Rasulullah (saw) dan mendengarkan sabdanya.’

Shuhaib mengatakan, وَأَنَا أُرِيدُ ذَلِكَ ‘Tujuan saya pun sama seperti itu.’”

Hadhrat Ammar mengatakan, فَدَخَلْنَا عَلَيْهِ فَعَرَضَ عَلَيْنَا الْإِسْلَامَ فَأَسْلَمْنَا ، ثُمَّ مَكَثْنَا يَوْمَنَا عَلَى ذَلِكَ حَتَّى أَمْسَيْنَا ، ثُمَّ خَرَجْنَا وَنَحْنُ مُسْتَخْفُونَ “Kami hadir ke hadapan Hadhrat Rasulullah (saw). Hadhrat Rasulullah (saw) menjelaskan perihal Islam kepada kami lalu kami baiat. Kami berada di sana sampai sore setelah itu kami keluar dari Darul Arqam secara sembunyi-sembunyi.”

Ketika Hadhrat Ammar dan Hadhrat Shuhaib baiat, saat itu lebih dari 30 orang yang telah baiat lebih dulu.[3]

(عَنْ أَنَسٍ ، رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ :) Hadhrat Anas ra meriwayatkan, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  Rasulullah (saw) bersabda, السُّبَّاقُ أَرْبَعٌ : أَنَا سَابِقُ الْعَرَبِ ، وَصُهَيْبٌ سَابِقُ الرُّومِ ، وَسَلْمَانُ سَابِقُ الْفُرْسِ ، وَبِلَالٌ سَابِقُ الْحَبَشَةِ “Ada empat orang yang paling dahulu menerima Islam. Aku paling dahulu menerima Islam dari bangsa Arab. Shuhaib paling dahulu menerima Islam dari antara orang Romawi. Salman paling dahulu menerima Islam dari antara orang-orang Parsi. Bilal paling dahulu menerima Islam dari antara orang Habsyah.[4]

Diriwayatkan oleh Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud (ra), كَانَ أَوَّلَ مَنْ أَظْهَرَ إِسْلاَمَهُ سَبْعَةٌ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ وَأَبُو بَكْرٍ وَعَمَّارٌ وَأُمُّهُ سُمَيَّةُ وَصُهَيْبٌ وَبِلاَلٌ وَالْمِقْدَادُ “Orang-orang yang paling pertama menampakkan telah masuk Islam ada tujuh orang. Hadhrat Rasulullah (saw), Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat Ammar, ibu Ammar yang bernama Hadhrat Sumayyah, Hadhrat Shuhaib, Hadhrat Bilal dan Hadhrat Miqdad. فَأَمَّا رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ فَمَنَعَهُ اللَّهُ بِعَمِّهِ أَبِي طَالِبٍ وَأَمَّا أَبُو بَكْرٍ فَمَنَعَهُ اللَّهُ بِقَوْمِهِ Allah Ta’ala melindungi Hadhrat Rasulullah (saw) dengan perantaraan paman beliau, Abu Thalib, sedangkan Abu Bakr dengan perantaraan kaum beliau.”

Pada khutbah yang lalu sudah saya jelaskan bahwa ini adalah pemahaman dalam sudut pandang perawi. Sebab, sebenarnya Rasulullah (saw) dan Hadhrat Abu Bakr (ra) pun menjadi sasaran kezaliman-kezaliman. Meskipun di awal masih aman tapi kemudian tetap jadi sasaran kezaliman juga.

Alhasil, perawi meriwayatkan, وَأَمَّا سَائِرُهُمْ فَأَخَذَهُمُ الْمُشْرِكُونَ وَأَلْبَسُوهُمْ أَدْرَاعَ الْحَدِيدِ وَصَهَرُوهُمْ فِي الشَّمْسِ فَمَا مِنْهُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ وَاتَاهُمْ عَلَى مَا أَرَادُوا إِلاَّ بِلاَلاً فَإِنَّهُ قَدْ هَانَتْ عَلَيْهِ نَفْسُهُ فِي اللَّهِ وَهَانَ عَلَى قَوْمِهِ فَأَخَذُوهُ فَأَعْطَوْهُ الْوِلْدَانَ فَجَعَلُوا يَطُوفُونَ بِهِ فِي شِعَابِ مَكَّةَ وَهُوَ يَقُولُ أَحَدٌ أَحَدٌ ‏.‏  “Selain beliau berdua (Nabi (saw) dan Abu Bakr), orang-orang selebihnya ditangkap oleh kaum musyrik lalu dipakaikan pakaian besi dan dijemur di bawah terik matahari. Diantara mereka tidak ada yang tidak mengiyakan apa yang mereka (kuffar) inginkan kecuali Bilal karena Bilal memang sudah pasrahkan kehidupannya demi Allah Ta’ala dan sudah tidak dianggap di kaumnya. Mereka (kaum Quraisy) menangkap Bilal dan ia diserahkan pada para pemuda Quraisy. Mereka mengarak Bilal ra di gang-gang Makkah, namun beliau terus mengatakan, ‘Ahad’ ‘Ahad’ –“Yang Esa, Yang Esa.”[5]

 Mereka semua bersabar menghadapi penganiayaan. Sebagaimana yang sudah saya sampaikan bahwa mereka semua menunjukkan keteguhan dalam keimanannya. Namun, bagaimanapun juga berkaitan dengan Bilal ra inilah riwayatnya bahwa beliau lebih banyak dijadikan target kezaliman.

Kemudian diriwayatkan, “Hadhrat Shuhaib adalah salah satu dari antara orang-orang mukmin yang dianggap lemah dan dianiaya di jalan Allah Ta’ala di Makkah. Beliau terpaksa melewati berbagai penganiayaan.”

Menurut salah satu riwayat disebutkan, كان عمار بن ياسر يعذب حتى لا يدري ما يقول، وكذا صهيب وأبو فائد، وعامر بن فهيرة وقوم، وفيهم نزلت هذه الآية: “Hadhrat ‘Ammar bin Yasir dianiaya sedemikian rupa sehingga beliau tidak sadar apa yang beliau ucapkan. Ini jugalah keadaan Hadhrat Shuhaib, Hadhrat Abu Faid, Hadhrat Amir bin Fuhairah dan sejumlah sahabat lainnya. Berkaitan dengan para sahabat itu ayat ini turun, ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُواْ مِنۢ بَعْدِ مَا فُتِنُواْ ثُمَّ جَٰهَدُواْ وَصَبَرُوٓاْ إِنَّ رَبَّكَ مِنۢ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ‘Kemudian sesungguhnya Tuhan engkau, terhadap orang-orang yang berhijrah sesudah mereka menderita cobaan, kemudian mereka itu berjuang keras di jalan Allah dan tetap bersabar, sesungguhnya Tuhan engkau sesudah itu adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang.’ (QS An-Nahl ayat 11)”[6]

Menurut salah satu riwayat disebutkan, قَدِمَ آخِرُ النَّاسِ فِي الْهِجْرَةِ إِلَى الْمَدِينَةِ عَلِيٌّ وَصُهَيْبُ بْنُ سِنَانٍ ، وَذَلِكَ لِلنِّصْفِ مِنْ رَبِيعِ الْأَوَّلِ ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقُبَاءَ لَمْ يَرِمْ بَعْدُ ، وَشَهِدَ صُهَيْبٌ بَدْرًا ، وأُحُدًا ، وَالْخَنْدَقَ ، وَالْمَشَاهِدَ كُلَّهَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِ جَمِيعِهِمْ  “Orang yang paling terakhir hijrah ke Madinah adalah Hadhrat Ali dan Hadhrat Shuhaib ra. Ini adalah peristiwa yang terjadi pada pertengahan Rabiul Awwal. Saat itu Rasulullah (saw) berdiam di Quba dan belum melanjutkan perjalanan ke Madinah.”[7]

Dalam sebuah riwayat tertera sebagai berikut: “Ketika Hadhrat Shuhaib berangkat menuju Madinah, maka rombongan orang-orang musyrik mengikuti beliau. Beliau ra turun dari tunggangannya dan mengeluarkan semua anak panahnya. Beliau berkata, يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ لَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنِّي مِنْ أَرْمَاكُمْ رَجُلاً، وَايْمُ اللهِ لاَ تَصِلُونَ إِلَيَّ حَتَّى أَرْمِيَ بِكُلِّ سَهْمٍ مَعِي فِي كِنَانَتِي، ثُمَّ أَضْرِبُ بِسَيْفِي مَا بَقِيَ فِي يَدِي مِنْهُ شَيْءٌ، افْعَلُوا مَا شِئْتُمْ، دَلَلْتُكُمْ عَلَى مَالِي وَثِيَابِي بِمَكَّةَ وَخَلَّيْتُمْ سَبِيلِي؟  ‘Hai orang-orang Quraisy, kalian semua tahu aku jago memanah. Demi Allah, sebelum kalian berhasil mendekatiku, aku akan membidik kalian dengan semua anak panah yang kubawa. Setelah itu aku akan melawan kalian dengan pedang ini sampai akhir. Sekarang terserah kalian, jika kalian ingin mendekat, mendekatlah. Jika kalian menginginkan hartaku maka aku akan memberitahu kalian dimana hartaku kusimpan dengan syarat kalian tidak akan menghalangiku (membiarkanku pergi dengan aman).’[8] Mereka berkata, ‘Baiklah kalau begitu.’

Dengan begitu Hadhrat Shuhaib memberitahu dimana hartanya. Ketika beliau hadir di hadapan Rasulullah (saw) maka Rasulullah (saw) bersabda, يَا أَبَا يَحْيَى، رَبِحَ البَيْعُ”“ – ‘Wahai Abu Yahya (Ayahnya Yahya, sebutan untuk Hadhrat Shuhaib)! Apa yang Anda lakukan bukanlah sebuah jual-beli yang sia-sia, namun transaksi yang sangat menguntungkan.’”[9]

Perawi meriwayatkan bahwa atas hal itu turun ayat: وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشۡرِي نَفۡسَهُ ٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ رَءُوفُۢ بِٱلۡعِبَادِ “Dan diantara manusia ada yang menjual dirinya untuk mencari keridhaan Allah swt.; dan Allah swt. Maha Penyantun terhadap hamba-hamba.” (QS Al-Baqarah : 208)

Dalam sebuah riwayat diceritakan, قَدِمَ صُهَيْبٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَهُوَ بِقُبَاءٍ وَمَعَهُ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ بين أَيْدِيهِمْ رُطَبٌ قَدْ جَاءَهُمْ بِهِ كُلْثُومُ بْنُ الْهِدْمِ أُمَّهَاتِ جَرَاذِينَ. وَصُهَيْبٌ قَدْ رَمِدَ بِالطَّرِيقِ وَأَصَابَتْهُ مَجَاعَةٌ شَدِيدَةٌ. فَوَقَعَ فِي الرُّطَبِ فَقَالَ عُمَرُ:  “Setelah Hijrah dari Makkah, Hadhrat Shuhaib hadir di hadapan Rasulullah (saw). Saat itu beliau (saw) di Quba. Bersama beliau juga ada Hadhrat Abu Bakr (ra) dan Hadhrat Umar ra. Saat itu di hadapan mereka semua ada kurma-kurma segar yang dibawa oleh Hadhrat Kultsum bin Hidm ra.

Di perjalanan Hadhrat Shuhaib mengalami gangguan pada matayakni penyakit mata dan beliau pun sangat kelaparan. Beliau juga kelelahan karena perjalanan. Hadhrat Shuhaib langsung maju untuk makan kurma. Hadhrat Umar berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلا تَرَى إِلَى صُهَيْبٍ يَأْكُلُ الرُّطَبَ وَهُوَ رَمِدٌ؟  ‘Wahai Rasulullah (saw), lihatlah Shuhaib, dia mengalami gangguan penglihatan namun terus makan kurma.’

Rasulullah (saw) bersenda gurau, تأكل الرطب وأنت رَمِد؟!  ‘Anda makan kurma sedangkan Anda sakit mata. Mata Anda bengkak dan air matamu terus mengalir.’

Hadhrat Shuhaib berkata, إِنَّمَا آكُلُهُ بِشِقِّ عَيْنِي الصَّحِيحَةِ ‘Saya makan dengan bagian mata saya yang sehat.’ Mendengar itu Rasulullah (saw) tersenyum.

Kemudian Hadhrat Shuhaib berkata pada Hadhrat Abu Bakr (ra) ra, وَعَدْتَنِي أَنْ تَصْطَحِبَ فَخَرَجْتَ وَتَرَكْتَنِي ‘Anda berjanji akan mengajak saya hijrah bersama. Tapi Anda berangkat lebih dulu dan meninggalkan saya.’

Kemudian Hadhrat Shuhaib berkata, وَعَدْتَنِي يَا رَسُولَ اللهِ أَنْ تُصَاحِبَنِيَ فَانْطَلَقْتَ وَتَرَكْتَنِي ، فَأَخَذَتْنِي قُرَيْشٌ فَحَبَسُونِي فَاشْتَرَيْتُ نَفْسِي وَأَهْلِي بِمَالِي ‘Ya Rasulullah (saw), tuan berjanji mengajak saya hijrah bersama engkau. Namun tuan pun berangkat meninggalkan saya. Orang-orang Quraisy menangkap dan menawan saya. Kemudian saya menebus nyawa dan keluarga dengan harta saya.’

Rasulullah (saw) bersabda, ربح البيع ‘Jual belimu sangat menguntungkan.’ Atas hal itu Allah Ta’ala menurunkan ayat ini, {وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ}  ‘Dan diantara manusia ada yang menjual dirinya untuk mencari keridhaan Allah dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hamba.’ (QS Al-Baqarah, 2:208)

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Rasulullah (saw), seri 77

Hadhrat Shuhaib ra berkata, يَا رَسُولَ اللهِ ، مَا تَزَوَّدْتَ إِلاَّ مُدًّا مِنْ دَقِيقٍ عَجَنْتُهُ بِالأَبْوَاءِ حَتَّى قَدِمْتُ عَلَيْكَ ‘Wahai Rasulullah (saw)! Saya membawa segenggam tepung – sekitar setengah kilo tepung – sebagai bekal perjalanan. Saya mengadon tepung itu di Abwa. Sampai saya hadir di hadapan Rasulullah (saw) itu sajalah makanan yang saya makan dalam perjalanan.’” [10]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda berkaitan dengan Hadhrat Shuhaib ra, “Hadhrat Shuhaib ra adalah seorang kaya raya. Beliau dulunya berdagang dan dianggap sebagai orang yang terpandang di Makkah. Namun meskipun beliau kaya raya, sudah merdeka dan bukan lagi budak, tetap saja orang-orang Quraisy memukulinya sampai pingsan.

Ketika Rasulullah (saw) sudah hijrah ke Madinah maka Hadhrat Shuhaib pun ingin hijrah ke Madinah. Tapi orang-orang Makkah menghalanginya. Mereka berkata, ‘Bagaimana bisa kamu membawa keluar Makkah harta yang kamu peroleh di Makkah. Kami tidak akan membiarkan kamu pergi dari Makkah.’

Hadhrat Suhab ra berkata, ‘Kalau aku tinggalkan semua hartaku, apakah kalian membiarkanku pergi?’

Mereka menyetujuinya. Kemudian beliau ra menyerahkan semua hartanya pada orang-orang Makkah dan datang ke Madinah dengan tangan kosong. Kemudian beliau hadir di hadapan Rasulullah (saw). Beliau (saw) bersabda, ‘Jual belimu ini lebih berfaedah dari jual beli sebelumnya. Yakni sebelumnya kamu menghasilkan uang dari jual beli. Tapi sekarang kamu menghasilkan iman dari uangmu.’”

Setelah hijrahnya Hadhrat Shuhaib dari Makkah ke Madinah maka Rasulullah (saw) menjadikan beliau ra bersaudara dengan Hadhrat Harits bin Shimah. Hadhrat Shuhaib ikut perang Badr, Uhud, Khandaq dan seluruh perang bersama Rasulullah (saw).

Hadhrat ‘Aidz Bin Amru (عائذ ابن عمرو) meriwayatkan, أنّ أبا سفيان مَرَّ على سلمان، وصُهيب، وبلال، فقالوا: “Hadhrat Salman, Hadhrat Shuhaib dan Hadhrat Bilal sedang duduk di tengah orang-orang. Kemudian Abu Sufyan bin Harb lewat. Orang-orang berkata, ما أخذت السّيوفُ من عُنق عدوّ الله مأخذَها؟  ‘Pedang-pedang Allah Ta’ala belum menebas leher para musuh Allah.’

Mendengar itu Hadhrat Abu Bakr (ra) berkata, أتقولون هذا لشيخ قريش وسيّدها؟ ‘Apakah kalian berkata seperti itu pada pemimpin dan pemuka Quraisy?’

Hal ini disampaikan pada Rasulullah (saw). Maka beliau (saw) bersabda, يَا أَبَا بَكْرٍ، لَعَلَّكَ أَغْضَبْتَهم، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَئِنْ كُنْتَ أَغْضَبْتَهُم، لَقَدْ أَغْضَبْتَ رَبَّكَ ‘Wahai Abu Bakr (ra), sepertinya kamu telah membuat mereka marah. Jika kamu membuat mereka marah maka kamu telah membuat Tuhan-mu marah.’

Dengan begitu Hadhrat Abu Bakr (ra) ra kembali menemui orang-orang itu dan berkata, يا إخواني، لعلي أغضبتكم‏ ‘Wahai saudara-saudaraku, mungkin kalian marah (padaku).’

Mereka berkata, يا أَبا بكر يغفر الله لك ‘Tidak wahai Abu Bakr (ra), semoga Allah Ta’ala mengampunimu.’”[11]

Hadhrat Shuhaib meriwayatkan, لَمْ يَشْهَدْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَشْهَدًا قَطُّ إِلَّا كُنْتُ حَاضِرَهُ ، وَلَمْ يُبَايِعْ بَيْعَةً قَطُّ إِلَّا كُنْتُ حَاضِرَهُ ، وَلَمْ يُسْرِ سَرِيَّةً قَطُّ إِلَّا كُنْتُ حَاضِرَهَا ، وَلَا غَزَا غَزَاةً قَطُّ أَوَّلَ الزَّمَانِ وَآخِرَهُ إِلَّا كُنْتُ فِيهَا عَنْ يَمِينِهِ أَوْ شِمَالِهِ ، وَمَا خَافُوا أَمَامَهُمْ قَطُّ إِلَّا وَكُنْتُ أَمَامَهُمْ ، وَلَا مَا وَرَاءَهُمْ إِلَّا كُنْتُ وَرَاءَهُمْ ، وَمَا جَعَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنِي وَبَيْنَ الْعَدُوِّ قَطُّ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  “Saya selalu hadir dalam setiap pertempuran yang diikuti oleh Rasulullah (saw). Saya hadir dalam setiap baiat yang diambil oleh Rasulullah (saw). Saya ikut dalam setiap Sariyah (ekspedisi pasukan) yang diutus oleh Rasulullah (saw). Saya ikut dalam setiap Ghazwah (perang yang diikuti Rasulullah saw). Saya selalu berada di sebelah kanan atau kiri Rasulullah (saw). Ketika orang-orang merasakan ada bahaya dari depan maka saya maju ke depan mereka. Ketika orang-orang merasakan ada bahaya dari belakang maka saya pergi ke belakang mereka. Saya tidak pernah membiarkan Rasulullah (saw) berada diantara saya dan musuh sampai masa beliau (saw) wafat.”[12]

Di masa tuanya Hadhrat Shuhaib mengumpulkan orang-orang dan menceritakan dengan sangat indah peristiwa-peristiwa menarik tentang sejarah perang beliau.

Dalam bahasa Hadhrat Shuhaib terdapat ke-a’jami-an, yakni beliau tidak fasih seperti orang Arab. Zaid bin Aslam (زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ) meriwayatkan dari ayahnya, خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَتَّى دَخَلَ عَلَى صُهَيْبٍ حَائِطًا لَهُ بِالْعَالِيَةِ، فَلَمَّا رَآهُ صُهَيْبٌ قَالَ: “Saya berjalan dengan Hadhrat Umar dan beliau masuk dalam salah satu kebun Hadhrat Shuhaib yang berada di daerah Aliyah. Ketika Hadhrat Shuhaib melihat Hadhrat Umar maka beliau berkata, يَا نَاسُ يَا نَاسُ ‘Yanas!’ ‘Yanas!’. Hadhrat umar mengira beliau mengucapkan ‘An-Naas’ (orang-orang). Kemudian Hadhrat Umar berkata, لا أَبَا لَهُ! يَدْعُو النَّاسَ! ‘Ada apa dengannya? Kenapa dia memanggil orang-orang?’

 ‘Saya (Perawi) berkata, إِنَّمَا يَدْعُو غُلامًا يُدْعَى يُحَنِّسُ ‘Beliau memanggil budaknya yang bernama Yohanes.’ Karena lidah beliau cadel maka beliau berbicara seperti itu.

Hadhrat Umar berkata, ‘Wahai Shuhaib!’ Terjadi percakapan di situ. Setelah itu Hadhrat Umar berkata, مَا فِيكَ شَيْءٌ أُعِيبُهُ يَا صُهَيْبُ إِلا ثَلاثَ خِصَالٍ، لَوْلاهُنَّ مَا قَدَّمْتُ عَلَيْكَ أَحَدًا ‘Wahai Shuhaib! Selain dari tiga perkara, tidak saya lihat cela dalam dirimu. Jika ketiga perkara itu tidak ada dalam dirimu maka saya tidak akan mengunggulkan siapapun lebih darimu. أَرَاكَ تَنْتَسِبُ عَرَبِيًّا وَلِسَانُكَ أَعْجَمِيٌّ، وَتَتَكَنَّى بِأَبِي يَحْيَى اسْمُ نَبِيٍّ، وَتُبَذِّرُ مَالَكَ Saya melihat, kamu menghubungkan diri sebagai bangsa Arab padahal bahasamu adalah bahasa A’jam (non Arab). Kedua, kamu menyebut nama panggilanmu Abu Yahya yang merupakan nama seorang Nabi. Ketiga, kamu menghambur-hamburkan harta.’

Hadhrat Shuhaib menjawab; أَمَّا تَبْذِيرِي مَالِي ما أُنْفِقُهُ إِلا فِي حَقِّهِ. وَأَمَّا اكْتِنَائِي بِأَبِي يَحْيَى فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَنَّانِي بِأَبِي يَحْيَى، أَفَأَتْرُكُهَا لَكَ. وَأَمَّا انْتِسَابِي إِلَى الْعَرَبِ فَإِنَّ الرُّومَ سَبَتْنِي صَغِيرًا فَأَخَذْتُ لِسَانَهُمْ، وَأَنَا رَجُلٌ مِنَ النَّمِرِ بْنِ قَاسِطٍ لَوِ انْفَلَقَتْ عَنِّي رَوْثَةٌ لانْتَسَبْتُ إِلَيْهَا. ‘Sejauh tentang saya yang disebut suka menghamburkan uang, saya selalu membelanjakan harta untuk suatu tujuan yang layak untuk dibelanjakan. Berkenaan dengan nama panggilan saya, Hadhrat Rasulullah (saw) memanggil saya Abu Yahya dan saya sekali-kali tidak akan meninggalkan sebutan itu. Sejauh berkenaan dengan diri saya yang menghubungkan diri sebagai orang Arab, ketika saya masih kecil saya ditawan oleh bangsa Romawi sehingga saya memahami bahasa mereka. Saya berasal dari kabilah Namir Bin Qasith [sebuah suku dari bangsa Arab].’”[13]

Hadhrat Umar sangat mencintai Hadhrat Shuhaib dan memiliki pemikiran yang baik berkenaan dengan Hadhrat Shuhaib sampai-sampai ketika Hadhrat Umar terluka parah, beliau mewasiyatkan, إِنْ حَدَثَ بِي حَدَثٌ، فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ صُهَيْبٌ – ثَلاَثاً – ثُمَّ أَجْمِعُوا أَمْرَكُم فِي اليَوْمِ الثَّالِثِ. “Yang akan menshalatkan jenazahku adalah Shuhaib dan Shuhaib akan bertindak sebagai imam shalat bagi umat Islam sampai anggota syura sepakat menetapkan khalifah berikutnya.”[14]

Hadhrat Shuhaib wafat pada bulan Syawal 38 Hijriah. Sebagian berpendapat beliau wafat pada tahun 39 Hijri. Ketika wafat usia beliau 73 tahun. Sebagian riwayat mengatakan: 70 tahun. Beliau dimakamkan di Madinah.

Sahabat berikutnya bernama Hadhrat Sa’d bin Rabi (سعد بن الربيع بن عَمْرو الأنصاري) radhiyallahu ta’ala ‘anhu. Beliau berasal dari Anshar kabilah Khazraj keluarga banu Harits (مِنْ بَنِي الْحَارِثِ بْنِ الْخَزْرَجِ). Ayah beliau bernama Rabi bin Amru. Ibunda beliau bernama Huzailah binti ‘Inabah.

Hadhrat Sa’d memiliki dua istri, pertama bernama ‘Amrah binti Hazm (عَمْرَةُ بنتُ حَزْم الأنصارية) dan kedua bernama Habibah binti Zaid. Hadhrat Sa’d memiliki dua putri yang salah satunya bernama Ummu Sa’d, dalam satu riwayat namanya disebut Ummu Said juga. Nama aslinya adalah Jamilah. Hadhrat Sa’d mengetahui baca tulis pada zaman jahiliyah yang mana sangat jarang orang yang mengetahuinya.

Hadhrat Sa’d adalah Naqib (pemuka) kabilah Banu Harits. Hadhrat Abdullah Bin Rawahah pun adalah Naqib pada kabilah yang sama. Hadhrat Sa’d ikut serta pada baiat Aqabah pertama dan kedua. Ketika Rasulullah (saw) hijrah ke Madinah, beliau (saw) menjalinkan persaudaraan antara Hadhrat Sa’d dengan Hadhrat Abdur Rahman Bin Auf.

Terdapat riwayat dalam Sahih Bukhari, Hadhrat Abdur Rahman Bin Auf meriwayatkan, لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ آخَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنِي وَبَيْنَ سَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ فَقَالَ سَعْدُ بْنُ الرَّبِيعِ “Ketika kami tiba di Madinah, Rasulullah mempersaudarakan saya dengan Hadhrat Sa’d Bin Rabi. Sa’d Bin Rabi mengatakan kepada Hadhrat Abdurrahman bin Auf, إِنِّي أَكْثَرُ الْأَنْصَارِ مَالًا فَأَقْسِمُ لَكَ نِصْفَ مَالِي وَانْظُرْ أَيَّ زَوْجَتَيَّ هَوِيتَ نَزَلْتُ لَكَ عَنْهَا فَإِذَا حَلَّتْ تَزَوَّجْتَهَا “Saya adalah seorag hartawan di kalangan anshar. Saya akan bagikan setengah harta kekayaan saya kepada anda. Begitu pun saya memiliki dua istri, istri yang mana yang anda sukai, lalu saya akan ceraikan istri saya tersebut untuk tuan, setelah masa iddah berlalu silahkan tuan nikahi.”

Setelah mendengar itu, Hadhrat Abdullah berkata, لَا حَاجَةَ لِي فِي ذَلِكَ هَلْ مِنْ سُوقٍ فِيهِ تِجَارَةٌ “Saya tidak memerlukannya. Tolong beritahukan saja kepada saya, apakah disini ada pasar yang mana bisa bertijarat (berdagang) di dalamnya.”

Hadhrat Sa’d mengatakan, سُوقُ قَيْنُقَاعٍ “Di sini terdapat pasar Qainuqa [pasar milik kaum Yahudi Banu Qainuqa].”

فَغَدَا إِلَيْهِ عَبْدُ الرَّحْمَنِ فَأَتَى بِأَقِطٍ وَسَمْنٍ قَالَ ثُمَّ تَابَعَ الْغُدُوَّ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَلَيْهِ أَثَرُ صُفْرَةٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Setelah mencari tahu, Hadhrat Abdurrahman pergi ke pasar tersebut di pagi hari lalu membeli Paneer dan ghee. Seperti itulah beliau pergi ke pasar setiap pagi. Belum berlalu waktu yang panjang, datang Hadhrat Abdur Rahman ke hadapan Rasulullah dan terdapat tanda Zafran pada beliau. Rasulullah bertanya – Saat itu Rasululah tidak mengetahui apa alasan dari tanda itu. Yaitu tanda zafran memberitahukan bahwa beliau sudah menikah – Hadhrat Rasulullah (saw) bertanya, تَزَوَّجْتَ “Apakah anda telah menikah?”

Beliau menjawab, نَعَمْ “Ya benar.”

Beliau (saw) bersabda, وَمَنْ “Dengan siapa?

Beliau menjawab, امْرَأَةً مِنْ الْأَنْصَارِ “Dengan seorang wanita anshar.

Rasul bertanya, كَمْ سُقْتَ “Apa maharnya?”

Beliau menjawab, زِنَةَ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ نَوَاةً مِنْ ذَهَبٍ “Emas sebesar biji.”

Rasul bersabda, أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ “Adakanlah walimah, walau hanya dengan satu ekor kambing.”[15]

Ditekankan kepada beliau untuk mengadakan walimah sesuai dengan kemampuannya.

Hadhrat Sa’d ikut serta pada perang Badr dan Uhud dan syahid pada perang Uhud. Pada perang Uhud, Rasulullah bersabda, من يأتيني بخبر سعد بن الربيع؟ siapa yang akan mencari tahu kabar Sa’d untuk saya? Seseorang berkata: أَنَا يَا رَسُولُ اللهِ Saya.

فذهب يطوف بين القتلى، فوجده وبه رمق، فَقَالَ له سعد بن الربيع: Orang tersebut lalu mencari Sa’d diantara para korban perang. Setelah melihat pencari tersebut, Hadhrat Sa’d berkata, ما شأنك؟  Bagaimana kabarmu?

Pencari mengatakan, بعثني رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لآتيه بخبرك ‘Saya dikirim oleh Rasulullah untuk mencari tahu tentang keadaanmu.

Hadhrat Sa’d berkata, فاذهب إليه فأقرأه مني السلام، وأخبره أني قد طعنت اثنتي عشرة طعنة، وأني قد أنفذت مقاتلي. “Sampaikan salam saya kepada Rasulullah dan kabarkan juga kepada beliau bahwa terdapat 12 luka tusukan tombak di tubuh saya dan orang yang bertarung dengan saya telah sampai di neraka.” Artinya, “Siapapun yang berhadapan dengan saya ketika perang telah saya bunuh.”

وأخبر قومك أنهم لا عذر لهم عند الله إن قتل رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وواحد منهم حي ‘Katakan kepada kaum saya, “Selama Rasulullah (saw) berada diantara kalian, adalah tugas kalian untuk menjaga beliau. Ingatlah selalu, selama masih ada dari kalian yang hidup lalu kalian gagal menjaga beliau [maksudnya beliau syahid terbunuh] maka Allah Ta’ala tidak akan menerima alasan apapun di hari kiamat nanti.”’[16]

Diriwayatkan juga bahwa orang yang datang mencari Hadhrat Sa’d itu adalah Hadhrat Ubay Bin Kaab. Hadhrat Sa’d berkata kepada beliau: اللَّهَ اللَّهَ وَمَا عَاهَدْتُمْ عَلَيْهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم ليلة العقبة، فو الله ما لكم عند الله عذر إن خلص إلى بينكم وَفِيكُمْ عَيْنُ تَطْرَفُ Katakan kepada kaumku: Takutlah kepada Allah, dalam riwayat lai dikatakn: Apapun janji yang kalian ikrarkan pada malam aqabah kepada Rasulullah, ingatlah janji tersebut. Demi Tuhan jika terjadi apa apa dengan Rasulullah, sementara diantar kalian ada yg masih hidup, maka bagi kalian tidak ada alasan di hadapan Allah Ta’ala.

Hadhrat Ubay mengatakan, فَلَمْ أَبْرَحْ حتى مات، فَرَجَعْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ “Saat itu saya masih berada di dekat Hadhrat Sa’d lalu Hadhrat Sa’d wafat. Beliau dipenuhi dengan luka. Saya kemudian kembali kepada Rasulullah dan menceritakan perbincangan saya dengan beliau dan syahidnya beliau.

Rasulullah (saw) bersabda: رحمه اللَّه، نصح لله ولرسوله حيًّا وميتًا ‘Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat-Nya kepada beliau. Dalam kehidupan dan kematiannya Sa’d senantiasa mengharapkan kebaikan bagi Allah dan Rasul-Nya.’ دُفِنَ سَعْدُ بْنُ الرَّبِيعِ وَخَارَجَةُ بْنُ أَبِي زَيْدِ بْنِ أَبِي زُهَيْرٍ في
قَبْرِ وَاحِدٍ
Hadhrat Sa’d dikuburkan pada kuburan yang sama dengan Hadhrat Kharajah Bin Abi Zaid.[17]

Terkait:   Keteladanan Muhammad bin Maslamah, Sahabat Rasulullah (saw)

Hadhrat Sahibzada Mirza Bashir Ahmad (ra) menjelaskan perihal syahidnya Hadhrat Sa’d Bin Rabi, “Hadhrat Rasulullah (saw) pun turun ke medan dan mulai memeriksa jenazah para syuhada. Pemandangan yang ada di hadapan pasukan muslim saat itu membuat yang melihatnya mengalirkan air mata darah. Yakni ketika perang selesai dan Rasulullah pun dalam keadaan terluka dan Rasul tetap turun ke medan dan mulai mengecek jenazah para syuhada. Bagaimana mereka akan dikuburkan, memikirkan untuk merawat para sahabat yang terluka, alhasil pemandangan yang Nampak pada saat itu begitu mencekam, dikatakan mengalirkan air mata darah. Tujuh puluh (70) pasukan Muslim terdampar di medan perang bersimbahkan darah, memperlihatkan bagaimana jenazah pasukan muslim dimutilasi yang merupakan tradisi bangsa Arab saat itu. Dimutilasi artinya tidak hanya dimatikan (disyahidkan), jenazah mereka pun bagian-bagian tubuhnya dipotong dan wajah mereka dirusak. Diantara pasukan yang terbunuh, enam orang diantaranya dari kalangan Muhajirin sementara sisanya dari kalangan Anshar. Sementara jumlah korban tewas dari antara kaum Quraisy adalah 23 orang.

Ketika Rasulullah (saw) sampai di dekat jenazah paman dari pihak ayah yang juga saudara sepesusuan, Hadhrat Hamzah Bin Abdul Muthalib, beliau seketika tertegun tidak berdaya karena wanita zalim Hindun istri Abu Sufyan telah merusak jenazah beliau dengan begitu parah. Sampai beberapa saat Rasul berdiri tertegun dan tampak wajah duka dan murka dari wajah beliau. Sempat terlintas dalam benak beliau yakni sebelum manusia buas Makkah itu mendapatkan perlakuan serupa, mungkin tidak akan sadar dan tidak akan mengambil pelajaran. Namun beliau menghentikan fikiran tersebut dan bersabar bahkan setelah itu Rasulullah melarang tradisi mutslah (memutilasi) tubuh korban perang untuk selama-lamanya dalam Islam.[18]

Beliau bersabda: ‘Apapun yang musuh lakukan, bagaimanapun kalian harus menghentikan perbuatan yang keji seperti itu, tempuhlah sikap yang baik dan ihsan.’

Bibi Nabi (saw) dari jalur ayah Shafiyah binti Abdul Muthalib sangat mencintai saudaranya, Hadhrat Hamzah bin Abdul Muthalib. Setelah mendengar kabar duka dari umat Islam, beliau pergi dari kota Madinah [menuju medan perang Uhud]. Hadhrat Rasulullah bersabda kepada putra beliau (putra Shafiyah), Zubair Bin Al Awwam, ‘Jangan perlihatkan jenazah pamanmu kepada ibumu!’

Namun gejolak rasa cinta sang adik (Shafiyah) terus menggebu sehingga meskipun sang anak meminta supaya sang ibu jangan melihat jenazah Hadhrat Hamzah yang telah rusak karena dimutilasi, sang ibu memelas dengan mengatakan Perliatkan jenazah Hamzah padaku, saya berjanji akan bersabar, tidak akan mengucapkan kalimat duka yang tidak jaiz. Akhirnya pergi untuk melihat jenazah Hadhrat Hamzah lalu mengucapkan Inna lillaahi wa innaa ilaihi raajiuwn dan terdiam. Begitu pun kaum Quraisy memperlakukan jenazah para sahabat lainnya, sebagaimana jenazah sepupu Hadhrat Rasulullah (saw) bernama Abdulah Bin Jahsy telah dirusak parah. Seketika Rasul melihat satu jenazah ke jenazah lainnya tampak sekali wajah duka dan murka dari raut wajah Rasulullah.

Pada kesempatan Rasul bersabda, ‘Coba cari tahu bagaimana keadaan Sa’d Bin Rabi pemimpin Anshar, apakah beliau hidup atau sudah wafat? Karena ketika bertempur saya melihat beliau terluka parah disebabkan serangan tombak musuh.’

Atas perintah Rasulullah, seorang sahabat Anshari bernama Ubay Bin Kaab pergi mencari Hadhrat Sa’d di medan perang, namun belum dapat dijumpai. Beliau pun menyebut nama Sa’d dengan suara keras, namun belum juga dapat ditemukan.

Setelah putus asa dan hampir beranjak kembali, beliau berpikir untuk menyebut nama Rasulullah (saw), mungkin dengan cara seperti itu akan dapat diketahui bahwa Rasulullah (saw)-lah yang telah memerintahkannya untuk mencari Sa’d. Hadhrat Ubay meneriakkan, ‘Sa’d Bin Rabi dimana kamu? Rasulullah telah memerintahkanku untuk mencarimu.’

Suara tersebut telah memberikan aliran listrik ke dalam tubuh Sa’d yang tengah sekarat yang tengah terdampar diantara tumpukan jenazah. Setelah mendengar nama Rasul, seketika itu menimbulkan getaran pada tubuh beliau. Beliau membuka mata namun menjawab dengan suara yang sangat samar, ‘Siapa di sana? Saya di sini.’

Ubay Bin Kaab melihat dengan fokus akhirnya menemukan Sa’d yang tengah sekarat diantara tumpukan jenazah tidak jauh dari sana. Ubay Bin Kaab berkata pada beliau, ‘Rasulullah (saw) mengirim saya padamu untuk mengabarkan keadaanmu pada beliau.’

Sa’d berkata, ‘Sampaikan salam saya kepada beliau (saw) dan katakan, “Sa’d berkata جَزَاكَ اللَّهُ عَنِّي خَيْرَ مَا جَزَى نَبِيّاً عَنْ أُمَّتِهِ bahwa para Rasul Allah selalu meraih ganjaran seiring dengan pengorbanan dan keikhlasan para pengikut mereka. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan ganjaran tersebut kepada Anda (wahai RasuluLlah saw) melebihi segenap Nabi lainnya. Semoga Dia menyejukkan pandangan anda.”’

‘Sampaikan juga salam kepada saudara Muslim saya dan katakan juga pada kaum saya, “Jika selama kalian masih bernafas, Nabi kalian (saw) mendapatkan kesulitan dan penderitaan maka kalian tidak ada alasan lagi di hadapan Allah Ta’ala.”’

Setelah mengatakan demikian Sa’d menghembuskan nafas terakhir.”[19]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan riwayat tersebut dalam kalimat beliau sendiri sebagai berikut: “Setelah selesai perang Uhud, Rasululllah (saw) bersabda kepada Hadhrat Ubay Bin Kaab, ‘Pergi dan lihatlah kondisi pasukan yang terluka.’

Beliau pergi kepada Hadhrat Sa’d Bin Rabi yang saat itu tengah terluka parah dan tengah sekarat. Hadhrat Ka’b berkata, ‘Jika anda ingin menyampaikan pesan untuk karib kerabat, sampaikan kepada saya.’

Sambil tersenyum, Hadhrat Sa’d berkata, ‘Dari tadi saya tengah menunggu datang seorang muslim yang bisa saya titipi pesan.’

Hadhrat Sa’d berkata, ‘Letakkan tanganmu diatas tanganku dan berjanjilah bahwa kamu pasti akan menyampaikan pesanku ini. Pesan yang beliau sampaikan adalah sampaikanlah salamku kepada saudara saudara Muslimku, katakan juga kepada kaum dan kerabatku bahwa Rasulullah merupakan amanat Tuhan terbaik yang kita miliki dan kami telah menjaga amanat ini dengan jiwa kami, saat ini kami akan meninggalkan dunia. Untuk itu kami serahkan amanat ini di pundak kalian, jangan sampai kalian memperlihatkan kelemahan dalam menjaganya.’”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Perhatikanlah! Ketika seseorang merasa akan segera mati, pemikiran apa saja yang muncul di benaknya? Manusia berpikir, ‘Bagaimana keadaan istriku? Siapa yang akan menjaga anak anakku nanti?’

Namun sahabat tersebut tidak menyampaikan pesan seperti itu. Ia hanya menyampaikan, ‘Kami akan meninggalkan dunia setelah menjaga Rasulullah (saw). Karena itu, kalian pun ikutilah jalan kami ini yakni tugas yang terbesar adalah menjaga Rasulullah (saw).’

Di dalam diri mereka terdapat keteguhan iman yang dengannya mereka dapat mengalahkan dunia dan juga dapat menjatuhkan tahta kerajaan Kaisar Dan Kisra. Kaisar Romawi dibuat terheran heran, ‘Siapa orang orang ini?’ Kisra (Raja Persia) menulis surat kepada jenderalnya, ‘Jika kamu tidak dapat mengalahkan orang-orang Arab ini, pulang saja lalu pakailah perhiasan wanita di rumah. Apakah kamu tidak bisa menghentikan orang-orang pemakan biawak ini? Mereka ini remeh-temeh saja, biasa kelaparan dan pemakan biawak.’

Jenderalnya menjawab, ‘Mereka ini (pasukan Muslim) tidak seperti manusia, mereka merupakan bencana, datang menghampiri dengan melompati pedang dan tombak, begitu berani dan semangatnya mereka, bagaimana mungkin kita dapat mengalahkannya?’”

Suatu hari putri Hadhrat Sa’d (yaitu Ummu Sa’id, أُمِّ سَعْدِ بِنْتِ سَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ) datang menjumpai Hadhrat Abu Bakr (ra) lalu Hadhrat Abu Bakr (ra) menggelar kainnya untuknya duduk.

Hadhrat Umar datang dan bertanya, مَنْ هَذِهِ يَا خَلِيفَةَ رَسُولِ اللهِ؟ “Siapa wanita ini?”

Hadhrat Abu Bakr (ra) berkata, هَذِهِ ابْنَةُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي وَمِنْ “Dia adalah putri dari seseorang yang lebih baik dari anda dan saya.”

Hadhrat Umar berkata, وَمَنْ خَيْرٌ مِنِّي وَمِنْكَ إِلَّا رَسُولَ اللهِ؟  “Wahai Khalifah Rasulullah! Siapa ayahnya yang mana lebih baik dari saya dan anda?”

Hadhrat Abu Bakr (ra) berkata, رَجُلٌ قُبِضَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، تَبَوَّأَ مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَبَقِيتُ أَنَا وَأَنْتَ “Dia seseorang yang wafat pada zaman Rasulullah dan telah membuatkan tempat tinggal di surga sedangkan saya dan anda masih tertinggal di dunia.”[20]

(عن جابر بن عبد الله قال) Hadhrat Jabir Bin Abdillah meriwayatkan, جاءت امرأة سعد ابن أبي الربيع بابنتيها من سعد إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقالت  “Janda Hadhrat Sa’d Bin Abir Rabi’ datang ke hadapan Rasulullah dengan membawa serta kedua putrinya dan berkata: يا رسول الله هاتان ابنتا سعد بن الربيع قتل أبوهما معك يوم أحد شهيدا وإن عمهما أخذ مالهما فلم يدع لهما مالا ولا تنكحان إلا ولهما مال ‘Wahai Rasulullah, dua anak perempuan ini adalah putri dari Sa’d bin Rabi. Ayah mereka syahid ketika sedang berperang bersama tuan dalam Perang Uhud. Paman (saudara ayah) mereka mengambil semua warisan dan tidak meninggalkan sedikit pun untuk kedua anak ini. Mereka tidak bisa menikah jika tidak memiliki harta.’

Rasulullah (SAW) bersabda, يقضي الله في ذلك ‘Allah akan menentukan hal tersebut.’ فنزلت آية الميراث فبعث رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى عمهما فقال Tak lama kemudian, turun ayat Allah tentang hukum waris dalam Islam. Rasulullah lalu mengutus orang kepada paman kedua putri tersebut sembari mengirim pesan, أعط ابنتي سعد الثلثين وأعط أمهما الثمن وما بقي فهو لك ‘Berikanlah dua per tiga untuk kedua anak Sa’d dan seperdelapan untuk ibunya. Sisanya adalah untukmu.’”[21]

Dalam menjelaskan lebih rinci perihal riwayat ini Hadhrat Mirza Bashir Ahmad menulis sebagai berikut dalam buku Sirat Khataman Nabiyyin: “Hadhrat Sa’d adalah seorang hartawan dan dipandang terhormat dalam kabilahnya. Beliau tidak memiliki putra, hanya dua dua putri dan seorang istri. Karena pada saat ini belum turun hukum baru kepada Rasulullah perihal pembagian harta warisan sehingga tradisi pembagian harta warisan yang dilakukan di kalangan para sahabat mengikuti tradisi Arab yaitu jika yang meninggal tidak memiliki putra (anak laki-laki) maka yang akan mewarisi hartanya adalah kerabat dari garis ayah sedangkan janda dan anak perempuan tidak mendapatkan warisan. Karena itulah, ketika Sa’d Bin Rabi syahid, saudaranya mengambil semua harta warisannya sehingga janda dan anak perempuannya sama sekali luput.

Dalam keadaan menderita seperti itu janda beliau datang ke hadapan Rasulullah (saw) dengan membawa dua putrinya lalu menceritakan semuanya. Kisah menyedihkan ini telah mengetuk fitrat Rasulullah yang bersih. Namun disebabkan belum turunnya hukum mengenai hal tersebut dari Allah Ta’ala sehingga Rasulullah (saw) bersabda: ‘Tunggulah, hal ini akan diputuskan nanti setelah turun hukum dari Allah Ta’ala.’

Rasulullah (saw) pun bertawajjuh dan tidak lama kemudian turunlah beberapa ayat kepada beliau perihal pembagian waris seperti yang dijelaskan dalam Al Quran surat An Nisa. RasuluLlah (saw) memanggil saudara Sa’d dan bersabda: ‘Dari antara harta peninggalan Sa’d, serahkanlah dua per tiga (2/3) untuk kedua putri Sa’d dan seperdelapan untuk janda beliau (ibu kedua anak perempuan itu). Sedangkan sisanya untuk kamu (saudara laki-laki Almarhum).’[22]

Hal itu merupakan awal mula terbitnya hukum baru berkenaan pembagian warisan yang berdasarkan itu istri mendapatkan seperdelapan dari harta pennggalan suami yang memiliki anak. Jika seorang suami wafat tidak meninggalkan anak, istri mendapat seperempat bagian dari peninggalan suamiya. Seorang anak perempuan mendapatkan setengah dari bagian saudara laki-lakinya dari harta peninggalan ayahnya. Jika anak perempuan itu tidak memiliki saudara laki-laki maka ia mendapatkan dua per tiga atau setengahnya dari peninggalan ayahnya – tergantung kondisi yang berbeda. Seorang ibu akan mendapatkan bagian seperenam dari harta peninggalan putranya yang memiliki anak, sedangkan jika putranya tidak memiliki anak maka ia akan mendapatkan sepertiga. Begitu juga telah ditetapkan bagian-bagian untuk ahli waris lainnya sehingga dengan cara ini hak suci dan alami seorang wanita yang telah dirampas darinya telah diperoleh kembali.”[23]

Hadhrat Mirza Bashir Ahmad (ra) menulis catatan, bersabda:

“Saat ini tidaklah keliru jika saya menuliskan catatan di sini bahwa salah satu keistimewaan diantara keistimewaan ajaran Rasulullah (saw) adalah beliau (saw) telah menjaga sepenuhnya segenap hak hak wanita yang jaiz dan lazim. Bahkan pada kenyataannya, dalam sejarah dunia tidak ada orang sebelum Rasulullah ataupun sesudah beliau yang sedemikian rupa melindungi hak hak wanita seperti yang telah beliau lakukan. Sebagaimana dalam pembagian harta warisan, pernikahan, hubungan suami istri, talaq dan khula, haq untuk memperoleh harta dan menggunakannya, hak mendapatkan pendidikan, hak untuk memelihara anak dan mendidiknya, hak untuk ikut ambil bagian dalam urusan kenegaraan, hak dalam urusan kebebasan individu, hak dan kewajiban dalam beragama. Alhasil, dalam setiap bidang agama dan duniawi yang di dalamnya wanita dapat ambil bagian, seluruh hak hak yang lazim tersebut telah diakui oleh Rasulullah (saw) dan beliau (saw) menyatakan perlindungan hak hak tersebut sebagai suatu amanat suci dan wajib dilindungi oleh umat beliau. Inilah sebabnya para wanita Arab meyakini diutusnya Rasulullah merupakan satu pesan najat keselamatan bagi mereka.”

Kemudian beliau menulis:

“Saya terpaksa untuk beralih sedikit dari alur topik yang tengah diterangkan karena topik mengenai hak-hak kaum wanita tidak diterangkan di sini sehingga saya tidak bisa menjelaskannya. Namun perlu saya sampaikan bahwa dalam urusan hak wanita, ajaran beliau (saw) pada hakikatnya berada pada kedudukan yang tertinggi yang tidak dapat tersentuh oleh agama atau peradaban manapun di dunia ini dan tentu saja sabda Rasul berikut berpondasi pada kebenaran yang dalam, حُبِّبَ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاَةِ Artinya, ‘Di antara berbagai hal di dunia ini, sesuatu yang dijadikan campuran kecintaan ke dalam fitrat saya adalah kaum wanita dan wewangian. Namun yang menjadi penyejuk bagi mata saya diletakkan dalam shalat yakni ibadah Ilahi.’”[24]

Saat ini dunia menyuarakan hak-hak wanita dengan mengangkat beberapa hal yang sifatnya dangkal padahal tidak ada kaitannya dengan hak kebebasan. Adapun batasan-batasan yang Islam berikan kepada kaum hawa semata-mata untuk menegakkan kehormatan wanita dan untuk terciptanya ketentraman dalam rumah tangga dan juga untuk tarbiyat generasi mendatang. Orang-orang duniawi melontarkan keberatan terhadap Islam dalam hal ini padahal hakikatnya adalah ajaran hakiki Islam lah yang menganugerahkan kebebasan dan hak-hak wanita. Semoga dunia dapat memahami hakikat ini dan terhindar dari kekeliruan dan kerusakan.

Terkait:   Keteladanan Sahabat Rasulullah: Thalhah bin Ubaidullah

Semoga para wanita kita (Ahmadi) pun dapat memahami hakikat karena terkadang mereka melangkah mengikuti dunia dan menganggapnya sebagai kebebasan. Semoga mereka dapat memahami hakikat kedudukan wanita yang diberikan oleh Islam yang mana tidak ada agama lain yang dapat memberikan hal itu tidak juga lembaga-lembaga hak azasi manusia yang mengklaim memiliki gagasan yang revousioner atau gerakan apapun itu. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada para pria untuk dapat memenuhi hak wanita sesuai dengn ajaran islam sehingga lingkungan masyarakan menjadi lingkungan yang damai.

Sekarang berkenaan dengan kondisi terkini, saya ingin menyerukan berdoa. Doakanlah semoga di satu sisi Allah Ta’ala segera membersihkan dunia dari wabah virus corona, dan di sisi lain memberikan akal dan pemahaman kepada umat manusia karena yang akan menjadi penjamin keberlangsungan dan keselamatan bagi manusia adalah terletak pada berimannya kepada Tuhan Yang Esa dan memenuhi hak-hak sesamanya, juga dengan berkorban untuk mengakhiri kekisruhan di dunia. Semoga Allah Ta’ala juga memberikan akal kepada para penguasa agar mereka menjalankan pemerintahan dengan adil.

Keresahan dan kekacauan yang terjadi di Amerika saat ini, semoga para Ahmadi khususnya dilindungi dari dampak buruknya dan semoga rakyat juga diberikan taufik untuk menyampaikan aspirasi dan menuntut haknya dengan cara yang benar. Jika para penduduk Amerika ras Afrika menyampaikan aspirasinya dengan berbuat rusuh dan membakar rumahnya sendiri, maka yang rugi adalah mereka sendiri, karena telah dihimbau juga oleh para pemimpin African sendiri untuk tidak membakar rumah rumah sendiri dan berbuat kerusuhan. Silahkan tuntut hak dengan cara yang sah, sampai batas yang diizinkan oleh pemerintah, namun janganlah dengan menghancurkan aset sendiri yang dengan begitu tidak akan mendapatkan manfaat melainkan kerugian. Alhasil, dalam hal ini mereka yang menyampaikan tuntutannya hendaknya memperhatikan hal tersebut.

Pihak pemerintah pun hendaknya paham bahwa kerusuhan yang terjadi saat ini tidak akan terselesaikan dengan mengerahkan kekuatan seperti anggapan mereka. Kekerasan bukanlah solusi untuk semua permasalahan, melainkan dengan menjalankan roda pemerintahan secara adil dalam memenuhi hak warganya. Dengan begitu kedamaian dan kestabilan akan tercipta di dalam negeri, tanpa itu tidak mungkin. Seberapapun tangguhnya suatu pemerintahan, jika rakyatnya diliputi keresahan maka tidak ada pemerintahan yang akan dapat bertahan menghadapinya. Jadi, dimanapun kekisruhan terjadi di dunia ini, semoga segera dijauhkan darinya, semoga pemerintahan Negara-negara dapat memenuhi hak hak rakyatnya dan juga semoga rakyat diberikan taufik untuk menyampaikan tuntutannya kepada pemerintah dalam batas batas yang dilegalkan.

Begitu pula seharusnya pemerintah Pakistan berpikiran disebabkan hanya takut kepada para mullah sehingga membiarkan kezaliman dan kekerasan menimpa para Ahmadi saat ini melainkan pemerintah seharusnya menjalankan roda pemerintahan dengan menempuh keadilan dan mengambil pelajaran dari sejarah masa lalu. Berbuat zalim dengan memanfaatkan isu Jemaat Ahmadiyah terbukti tidak membuat pemerintahan terdahulu berhasil tidak juga di masa yang akan datang. Untuk itu tinggalkanlah anggapan bahwa isu Jemaat Ahmadiyah dapat melanggengkan pemerintahan.

Memang benar, sebagai buah dari kezaliman yang ditimpakan kepada jemaat Ahmadiyah, justru telah membuat jemaat semakin maju dan berkembang di dunia ini lebih dari sebelumnya begitu pun di masa yang akan datang, insya Allah. Ini merupakan perbuatan Allah Ta’ala dan tidak ada yang mampu menghentikannya.

Alhasil, kita berdoa, semoga Allah Ta’ala menghilangkan kezaliman, kekisruhan dan kefasadan diberbagai tempat di dunia ini. Begitu juga wabah pandemic yang terjadi saat ini semoga manusia mengambil pelajaran darinya lalu menciptakan perubahan suci dalam dirinya.

Kita pun para Ahmadi diberikan taufik untuk memenuhi hak-hak Allah Ta’ala dan para hambaNya lebih dari sebelumnya. Sehingga dapat meraih kasih sayang Allah Ta’ala sebesar-besarnya dan segera menyaksikan berbagai kemajuan dalam hidupnya.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Saifullah Mubarak Ahmad (Qadian, Bharat/India). Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Rujukan pembanding: Website www.islamahmadiyya.net


[1] Di Timur Tengah saat itu ada dua kekaiasaran besar. Pertama, Romawi Bizantium yang berpusat di Bizantium atau Konstantinopel (sekarang disebut Istambul dan pernah menjadi ibukota Turki. Kedua, kekaisaran Persia atau Iran yang berpusat di Csetipon atau Madain. Wilayah Romawi mencakup Eropa Timur, Turki, Laut tengah, Afrika Utara termasuk Mesir, negeri-negeri Syam yaitu Suriah, Lebanon, Israel, Palestina, Yordan serta sebagian Irak. Kekaisaran Persia wilayahnya ialah sebagian besar Irak, Iran, Asia Tengah, Afghanistan dan Pakistan sekarang. Keduanya sering berperang dan merebut wilayah musuhnya. Iran dibawah Kisra II pernah merangsek ke Palestina hingga menguasai Mesir selama beberapa tahun hal mana dilawan kembali oleh Romawi dibawah Heraklius. Ubullah – berpenduduk Arab yang kemudian dinamai Bashrah – ialah wilayah perbatasan dibawah Iran yang rentan diserang Romawi. Pada saat itu bangsa Arab terpecah menjadi 3 pihak, pertama, menjadi bawahan Romawi (Syria dan sekitarnya), kedua, menjadi bawahan Iran (Iraq, Bahrain, sebagian Yaman) dan ketiga, bebas merdeka, yaitu wilayah Hijaz, tempat Makkah dan Madinah berada.)

[2] Al-Ishabah fi Tamyizish Shahaabah (الإصابة في تمييز الصحابة نویسنده : العسقلاني، ابن حجر    جلد : 3  صفحه : 365). Abul Qasim al-Maghribi adalah penulis sejarah abad 10.

[3] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. (الطبقات الكبرى لابن سعد), jilid 3, h. 186-187, Ammar ibn Yasir, Darul Ihya at-Turats al Arabi, Beirut, 1990.

[4] Hilyatul Auliya (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء) bahasan mengenai Salman orang Persia (سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ).

[5] Sunan Ibni Maajah, Kitab tentang Sunnah. Musnad Ahmad ibn Hanbal (مسند أحمد بن حنبل), Musnad Abdullah ibn Mas’ud, hadits 3832, ‘Alamul Kutub, Beirut, 1998. Usdul Ghaabah oleh ibnu Al-Atsir.

[6] Al-Ishabah fi Tamyizish Shahaabah (الإصابة في تمييز الصحابة نویسنده : العسقلاني، ابن حجر    جلد : 3  صفحه : 365). Abu Faid ialah nama lain Abu Fukaihah.

[7] Al-Mustadrak ‘alash shahihain (المستدرك على الصحيحين), Kitab tentang pengenalan para Sahabat (كِتَابُ مَعْرِفَةِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ ), Keutamaan Shuhaib bin Sinan (ذِكْرُ مَنَاقِبِ صُهَيْبِ بْنِ سِنَانٍ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ).

[8] Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim; (حلية الأولياء لأبي نعيم » صُهَيْبُ بْنُ سِنَانِ بْنِ مَالِكٍ); Hadits bermakna sama terdapat dalam ابن هشام: السيرة النبوية 1/477، وابن سعد: الطبقات الكبرى 3/171، والبلاذري: أنساب الأشراف 1/182،

[9] Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir; ( الطبراني في الكبير (ح/7156)); Ath-Thabaqaat al-Kubra, Ibn Sa’ad, Shuhaib ibn Sinan, Darul Ihya wat turats al-‘Arabi, Beirut, 1996

[10] Tarikh Madinah Dimashq (تاريخ مدينة دمشق – ابن عساكر – ج ٢٤ – الصفحة ٢٣٠) dan ath-Thabaqaat al-Kubra (الطبقات الكبرى – محمد بن سعد – ج ٣ – الصفحة ٢٢٩).

[11] Hilyatul Auliya (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء ), bahasan mengenai para Ahlush Shuffah (ذِكْرُ أَهْلِ الصُّفَّةِ ), حديث رقم 1254

[12] Hilyatul Auliya (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء ), Shuhaib bin Sinan (صُهَيْبُ بْنُ سِنَانِ بْنِ مَالِكٍ ), حديث رقم 494

[13] Al-Isti’aab; Al-Mustadrak ‘alash shahihain (المستدرك على الصحيحين), Kitab tentang pengenalan para Sahabat (كِتَابُ مَعْرِفَةِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ ), Keutamaan Shuhaib bin Sinan (ذِكْرُ مَنَاقِبِ صُهَيْبِ بْنِ سِنَانٍ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ)

[14] Adz-Dzahabi (wafat 1348 CE) dalam Siyaar a’lamin Nubala (الذهبي – سير أعلام النبلاء); Ath-Thabaqaat al-Kubra, Ibn Sa’ad, Shuhaib ibn Sinan: Di kala sakit menjelang wafat Hadhrat ‘Umar berkata kepada para anggota Dewan Syura (yang berhak memilih Khalifah setelah beliau), “Yang menjadi imam shalat kalian ialah Shuhaib.” عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ عُمَرُ لأَهْلِ الشُّورَى فِيمَا يُوصِيهِمْ بِهِ: وَلْيُصَلِّ لَكُمْ صُهَيْبٌ

[15] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Buyu’, bab ma jaa-a fi qaulillahi ‘azza wa jalla, 2049; Abdurrahman bin Auf, sahabat Rasulullah yang hijrah dari Makkah ke Madinah tanpa membawa apapun. Sama seperti beberapa sahabat lainnya; Bilal dengan Abu Ruwaihah, Abu Bakr (ra) dengan Kharija bin Zaid, Umar dengan Itsban bin Malik, maka Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan (taakhi) dengan Sa’ad bin Rabi’ oleh Rasulullah. Di awal kedatangannya di Madinah, Rasulullah mempersaudarakan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin. Persaudaraan itu dilakukan tanpa melihat apakah mereka itu kaya atau miskin, tua atau muda.

[16] Al-Isti’aab fi Ma’rifatil Ash-haab (الاستيعاب في معرفة الأصحاب) karya Abu Umar Yusuf bin ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdul Barr bin ‘Ashim An-Namari al-Qurthubi (أبو عمر يوسف بن عبد الله بن محمد بن عبد البر بن عاصم النمري القرطبي) (lahir 978 w. 1071). Dikenal dengan nama Ibnu ‘Abdul Barri. Beliau berasal dari Negara Spanyol dan dari Kabilah Namir bin Qasith yang merupakan salah satu kabilah dari negeri Arab. Beliau tumbuh dan berkembang di kota Cordova (Qurthubi ialah pengArab-an dari Cordova) yang merupakan ibu kota negara Spanyol pada waktu itu. Disebutkan, إِنَّهُ لا عُذْرَ لَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ إِنْ خُلِصَ إِلَى نَبِيِّكُمْ وَمِنْكُمْ عَيْنُ تَطْرُفُ dalam Muwatha oleh Imam Malik. رواه مالك في الموطأ (2/465 – 466 – تحقيق فؤاد عبد الباقي)

[17] Usdul Ghaabah (كتاب أسد الغابة) karya Ibnu al-Atsir [ابن الأثير، أبو الحسن]. Al-Isti’aab fi Ma’rifatil Ash-haab (الاستيعاب في معرفة الأصحاب) karya Ibnu ‘Abdul Barri.

[18] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 543, Sha’nu ‘Āṣim ibni Thābit, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, pp. 76-77, Thumma Dakhalatis-Sanatuth-Thālithatu Minal-Hijrah / Ghazwatu Uḥud, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002)

[19] Hadhrat Mirza Bashir Ahmad (ra) dalam Sirah Khataman Nabiyyin. Merujuk pada Kitab Al-Muwaṭṭā, By Imām Mālik bin Anas, Kitābul-Jihād, Bābut-Targhībi Fil-Jihād, Ḥadīth No. 1013 dan Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 2, pp. 445-446, Ghazwatu Uḥud, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[20] Abū Nuʿaym al-Aṣbahānī (أبو نعيم الأصبهاني, wafat 1038 Masehi) dalam Kitabnya Maʿrifat al-ṣaḥāba (معرفة الصحابة). عَنْ خَارِجَةَ بْنِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ، عَنْ أُمِّ سَعْدِ بِنْتِ سَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ، أَنَّهَا دَخَلَتْ عَلَى أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ فَأَلْقَى لَهَا ثَوْبَهُ، حَتَّى جَلَسَتْ عَلَيْهِ، فَدَخَلَ عَلَيْهِ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَقَالَ:

[21] Muhammad bin Isa Abu Isa at-Tirmidzi as-Sulami  (محمد بن عيسى أبو عيسى الترمذي السلمي) dalam karyanya Sunanut-Tirmidhī (الجامع الصحيح سنن الترمذي), Kitābul-Farā’iḍ atau bahasan mengenai pewarisan (كتاب الفرائض عن رسول الله صلى الله عليه و سلم), Bābu Mā Jā’a Fī Mīrāthil-Banāt (باب ما جاء في ميراث البنات), Ḥadīth No. 2092

[22] Muhammad bin Isa Abu Isa at-Tirmidzi as-Sulami  (محمد بن عيسى أبو عيسى الترمذي السلمي) dalam karyanya Sunanut-Tirmidhī (الجامع الصحيح سنن الترمذي), Kitābul-Farā’iḍ atau bahasan mengenai pewarisan (كتاب الفرائض عن رسول الله صلى الله عليه و سلم), Bābu Mā Jā’a Fī Mīrāthil-Banāt (باب ما جاء في ميراث البنات), Ḥadīth No. 2092; Sulaiman bin Asy’ats (سليمان بن الأشعث أبو داود السجستاني الأزدي) dalam karyanya Sunanu Abī Dāwūd (سنن أبي داود), Kitābul-Farā’iḍ (كتاب الفرائض), Bābu Mā Jā’a Fī Mīrāthiṣ-Ṣulb (باب ما جاء في ميراث الصلب), Ḥadīth No. 2891; Jāmi‘ul-Bayān.

[23] Pembahasan bagian-bagian warisan tercantum dalam An-Nisā’ (4:12, 177).

[24] Sunan an-Nasai Kitab perlakuan terhadap kaum wanita (كتاب عشرة النساء), (باب حُبِّ النِّسَاءِ), عَنْ أَنَسٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم‏. Tercantum juga dalam Al-Jāmi‘uṣ-Ṣaghīr Fī Aḥādīthil-Bashīrin-Nadhīr, By Imām Jalāluddīn As-Suyūṭī, Volumes 1-2, p. 223, Ḥarful-Ḥā’i, Ḥadīth No. 3669, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon (2001).