23 Agustus 2017 | SIARAN PERS

masjid baru ahmadiyah

Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan bahwa semua imigran harus setia kepada negara tempat tinggal dan menyerukan toleransi dan saling pengertian (dalam) beragama.

Jemaat Muslim Ahmadiyah dengan gembira mengumumkan bahwa pada tanggal 21 Agustus 2017, Imam Jemaat Ahmadiyah, Khalifah Kelima, Hazrat Mirza Masroor Ahmad telah meresmikan Masjid Baitus Samad di Giessen, Jerman.

masjid baitus samad Giessen

Pada kunjungan ini, Huzur meresmikan pembukaan Masjid tersebut dengan membuka sebuah plakat peringatan dan memimpin doa bersama sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Setelah itu, Huzur memimpin salat Zuhur dan Asr di Masjid.

Kemudian, sebuah resepsi khusus diadakan untuk menandai pembukaan Masjid di Kongresshalle Giessen yang dihadiri oleh 265 pejabat dan tamu setempat.

Acara utama resepsi tersebut adalah sambutan utama yang disampaikan oleh Hazrat Mirza Masroor Ahmad, beliau menekankan pentingnya toleransi beragama dan juga berbicara mengenai masalah imigrasi yang meluas ke dunia Barat.

Di awal sambutannya, Imam Jemaat Muslim Ahmadiyah menyebut nama Masjid baru tersebut.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad berkata:

“Masjid ini bernama Baitus-Samad. Al-Samad adalah sifat Tuhan yang berarti Wujud yang Kekal Abadi dan Berdiri Sendiri dimana segala sesuatu bergantung pada-Nya”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad melanjutkan:

“Surah Al Anbiya ayat 31, Al-Qur’an menjelaskan bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu (massa nebular), kemudian dipisahkan keduanya oleh Allah Yang Maha Kuasa. Jadi, berabad-abad sebelum ilmuwan modern menemukan ‘Teori Big Bang’ (Teori Penciptaan Alam Semesta yang dimulai dengan Ledakan Besar), Alquran telah memberikan penjelasan mengenai penciptaan alam semesta. Selanjutnya, di surah yang sama, Alquran menjelaskan tentang suatu masa ketika segala sesuatu di dunia akan ditutup dan diakhiri, yang mengacu pada apa yang sekarang disebut sebagai “lubang hitam” oleh para ilmuwan. Namun, sebagaimana Dia yang Maha Abadi, Alquran memperjelas bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa selalu ada dan akan selalu demikian. Dengan demikian, Allah Yang Maha Kuasa menyeru umat manusia untuk hanya menyembah-Nya dan memohon perlindungan hanya kepada-Nya karena hanya Dia-lah Al-Samad, Yang Maha Abadi.

khalifah ahmadiyah

Huzur mengatakan bahwa toleransi beragama dan rasa hormat terhadap kepercayaan orang lain adalah ajaran mendasar Islam.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Islam mengajarkan bahwa semua agama besar dulunya adalah (ajaran yang) benar dalam bentuk aslinya dan bahwa pendirinya masing-masing adalah nabi yang datang untuk menyebarkan ajaran-ajaran Tuhan Yang Maha Esa dan diutus ke seluruh belahan dunia. Oleh karenanya, merupakan kewajiban bagi Muslim sejati untuk memberikan penghormatan yang sebesar-besarnya kepada para pendiri semua agama dan juga menghormati dan perduli terhadap para pengikutnya. Bahkan Alquran dan Rasulullah saw menginstruksikan secara berulang agar umat Islam perduli dan menghormati perasaan orang lain dalam segala situasi. “

Hazrat Mirza Masroor Ahmad melanjutkan:

“Ketika kami berbicara tentang orang-orang Yahudi dan menyebutkan nama Musa, kami mengucapkan  ‘damai besertanya’ (alaihis salam) karena kami menghormati Musa dan para pengikutnya. Ketika kami menyebutkan nama Yesus, kami juga mengucapkan ‘damai besertanya’ (alaihisalam) karena kami percaya beliau adalah nabi Allah yang benar yang diutus untuk menyebarkan kedamaian di dunia ini. Dengan demikian, kami menghormati dan memuliakan semua nabi dan ajaran mereka, dan hal ini merupakan sarana untuk mewujudkan perdamaian dan keharmonisan sejati di dunia ini. “

peresmian masjid ahmadiyah

Huzur juga menyerukan para imigran untuk mematuhi hukum di negara-negara tempat mereka tinggal dan untuk mengkhidmati warganya sebaik mungkin.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad berkata:

“Tentunya, semua Muslim Ahmadi yang tinggal di negeri ini, baik yang lahir disini maupun imigran, harus menjadi warga negara yang setia dan berusaha membantu kemajuan negara. Para Siswa harus berusaha untuk meraih prestasi tinggi sehingga mereka dapat terus mengabdi kepada negara, para pengusaha harus selalu jujur ​​dalam urusan mereka dan menunjukkan integritas serta harus memastikan bahwa mereka membayar semua pajak mereka dan memenuhi kewajiban-kewajiban mereka kepada Negara. Anggota Jemaat harus selalu mengingat kebaikan negara yang memungkinkan mereka bisa menjalankan keyakinannya secara bebas dan diterima di negara ini. Mereka harus hidup di sini sebagai warga yang benar-benar setia kepada negara ini. “

Mengacu pada tuntutan ‘integrasi yang hakiki’ menurut ajaran Islam, Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Sebelum acara ini, saya ditanya oleh seorang wartawan tentang bagaimana umat Islam bisa berintegrasi ke Barat karena kelihatannya ada banyak perbedaan di antara kita. Saya menjelaskan kepadanya bahwa jika ada perbedaan agama di antara kita, seperti pria dan wanita yang duduk terpisah atau jika wanita Muslim memakai hijab, hal itu tidak mempengaruhi integrasi kita ke dalam masyarakat. Sebaliknya, integrasi sejati mengharuskan semua orang hidup dengan damai satu sama lain, mewujudkan semangat cinta dan kebaikan dan, apakah laki-laki atau perempuan, menggunakan semua potensi dan kemampuan mereka untuk mengabdi kepada negara mereka dan untuk mendorong kemajuannya. Oleh karena itu, wanita Muslim Ahmadi kami bekerja sebagai dokter, perawat dan di bidang-bidang lain untuk berkontribusi pada masyarakat dengan cara terbaik. “

Hazrat Mirza Masroor Ahmad melanjutkan:

“Jika wanita Muslim lebih suka duduk terpisah dari pria selama sholat atau selama acara tertentu maka orang lain seharusnya tidak mengkritik mereka untuk hal ini atau objeknya. Preferensi seperti itu tidak mengurangi rasa cinta atau kesetiaan mereka kepada negara. Wanita Muslim Ahmadi adalah warga negara yang sangat loyal, mereka dididik dan sepenuhnya terintegrasi di negara manapun mereka tinggal. Dengan demikian, orang seharusnya tidak keberatan dengan perbedaan keagamaan yang mungkin ada di antara masyrakat karena hal itu akan mendorong perpecahan dan memprovokasi perasaaan orang. “

Huzur juga menyebutkan bagaimana beberapa saat sebelum kejadian itu beliau diminta oleh Walikota Giessen untuk menyiram pohon yang diberikan (walikota) untuk Masjid baru. Huzur mengatakan bahwa secara bergiliran, beliau meminta Walikota untuk bergabung dengannya untuk menyirami pohon itu.

Menggambarkan reaksi Walikota (atas hal ini), Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Walikota sangat terkejut sekaligus gembira dan bertanya apakah tidak apa-apa jika dia (walikota) bergabung dengan saya dan kemudian saya katakan kepadanya bahwa saya sangat senang karena hal ini merupakan contoh nyata dari integrasi sejati, di mana seorang pemimpin agama dan Walikota kota bergabung bersama untuk mempercantik kota ini dan lebih penting lagi untuk menumbuhkan lingkungan yang penuh dengan cinta, kedamaian dan toleransi. “

Sebagai penutup, Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Keinginan, harapan dan impian kami adalah agar dunia mengenali Penciptanya dan agar seluruh umat manusia hidup bersama dalam semangat saling cinta, kebaikan dan persaudaraan. Kami ingin  hidup di dunia yang penuh dengan kasih sayang dan kebaikan, bukan di dunia yang dipenuhi oleh meningkatnya permusuhan, kekacauan, kesedihan dan konflik. Inilah tujuan kami dan karena alasan inilah kami membangun Masjid-mesjid di seluruh dunia. “

Sebelumnya, sebuah pidato pembuka disampaikan oleh Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Jerman, Abdullah Wagishauser, yang disusul oleh sambutan-sambutan dari pembicara tamu.

sambutan untuk ahmadiyah

Mewakili Menteri Utama (Chief Minister) Hesse, Martin Rossler, Wakil Presiden Divisi Giessen (Vice President of Giessen Division) mengatakan:

“Anggota Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah contoh rasa cinta dan kesetiaan kepada negara mereka. Anda mematuhi hukum di negara ini dan hidup dengan damai, dan saya senang Anda bisa membangun Masjid di Giessen.”

Gerhard Merz, Anggota Parlemen Provinsi mengatakan:

“Kami percaya pada kebebasan beragama yang sejati, di mana semua orang bebas untuk mempraktekkan keyakinan atau kepercayaan mereka tanpa adanya ketakutan atau kekhawatiran dan kami sangat gembira dengan Jemaat Muslim Ahmadiyah yang menunjukkan keinginannya  untuk menjadi bagian tetap kota kami dengan membangun Rumah Tuhan di sini. “

Dietlind Grabe-Bolz, Walikota Giessen mengatakan:

“Hari ini bukan hanya hari yang penting bagi Jemaat Muslim Ahmadiyah namun juga merupakan hari yang sangat penting bagi kota kami karena Huzur, Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengunjungi kami dan oleh karena itu kami sangat menyambut dan berterima kasih karena telah datang ke sini ….. Muslim Ahmadi adalah (Muslim) yang damai dan jika orang-orang mengikuti nilai-nilai (ajaran) Anda maka kita tidak akan pernah melihat kekejaman teroris seperti yang kita lihat beberapa hari yang lalu di Barcelona. “

golden book

Setelah sambutannya, Walikota meminta Huzur untuk menandatangani dan meninggalkan pesan di ‘Golden Book’ Giessen.

Sesi formal resepsi ini diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh Huzur, dan dilanjutkan dengan acara makan malam. Sebelum resepsi, Huzur juga diwawancarai oleh berbagai media Jerman.

Sumber: Pressahmadiyya.com

(Visited 108 times, 1 visits today)