7 Langkah Mendapatkan Lailatul Qadr

7 langkah meraih lailatul qadar

Frasat Ahmad, Mubaligh AS

Waktu cepat berlalu, Ramadhan hampir berakhir, kita sangat mendambakan malam yang sulit diraih – malam yang dapat mengubah takdir kita selamanya dan mewarnai hati kita dengan karunia Ilahi.

Lailatul Qadar, malam penentuan takdir, kini berada di ujung jari kita. Momen singkat ini memiliki bobot lebih besar dibanding kesuksesan kita selama hidup ini.

Jika kita mendapati momen yang singat ini, Rasulullah saw telah mengajarkan kepada kita untuk berdoa:

اَللَّہُمَّ إِنَّکَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّی

“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Pengampun. Menyukai Pengampunan, maka ampunilah aku.”

Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa di momen yang luar biasa ini di mana kita bisa meminta apapun yang kita inginkan tetapi kita diajarkan doa untuk memohon ampun?

Hal ini karena pengampunan merupakan pondasi utama tempat bertumpunya semua karunia ilahi, seperti yang dijelaskan oleh Hazrat Mirza Tahir Ahmad.

Bagaimana Allah dapat mencurahkan Karunia-Nya dalam cawan hatiku jika cawan ini sudah penuh, meluap dan meneteskan dosa? Bagaimana Allah dapat mewarnai sifat-sifat-Nya ke dalam hatiku jika hatiku sudah begitu hitam dan kotor? Tanya beliau.

“Karunia Allah hanya akan turun kepada manusia ketika hatinya bersih. Kain hanya akan berwarna setelah dicuci bersih. Tidak ada warna yang meresap ke dalam kain yang kotor.” (Khotbah Jumat, 12 Maret 1993)

Jika kita tidak membasuh dan memeras hati kita dari dosa, maka Karunia Allah tidak akan memenuhi hati kita. Dan memohon ampunan kepada Allah adalah cara yang dapat kita gunakan untuk mengeringkan hati kita sampai kosong, dari kubangan dosa yang telah menggenang. Barulah Karunia Allah mendapat ruang untuk mengalir.

Terkait:   Kebiasaan Hazrat Masih Mau'ud (as) di Bulan Ramadhan

7 Langkah Meraih Ampunan Allah

Berikut adalah 7 langkah meraih ampunan Allah dan mendatangkan karunia Lailatul Qadar dalam hidup kita, berdasarkan tulisan Hazrat Muslih Mau’ud (ra) diambil dari buku Pengenalan Allah: Irfan Ilahi, Anwarul Ulum, Vol. 4, hlm. 365- 367.

Penyesalan

“Orang itu menanamkan penyesalan atas dosa masa lalunya; bahwa ia mengingat dosa-dosanya yang lalu dan membawanya ke dalam ingatannya, ia kemudian menyesalinya sampai membuatnya seperti berkeringat keras.”

Tanggung Jawab Masa Lalu

    “Langkah kedua menuju tobat adalah ia menyelesaikan dan memenuhi semua tanggung jawabnya di masa lalu sejauh yang ia dapat penuhi. Contohnya adalah ada seseorang yang dulunya tidak menunaikan shalat. Jika dia berkeinginan untuk bertobat, dan kemudian tiba waktu shalat, maka dia harus menunaikan shalatnya. Atau jika seorang hartawan belum menunaikan haji, maka ia harus menunaikan haji. Jika dia belum membayar zakat, maka hendaklah ia melupakan masa lalunya itu, ia ia harus mengeluarkannya [zakat] untuk tahun ini.

    Jadi, pertama-tama manusia harus harus menyesali dosa-dosanya yang telah lalu dan kedua, ia harus memenuhi dan menyelesaikan tanggung jawab masa lalu yang saat ini dapat penuhi.”

    Menghapus Semua Dosa Masa Lalu

      “Langkah ketiga adalah ia menghapus dan menyucikan dirinya dari segala dosa yang telah lalu. Yang saya maksud dengan mengahapuskan bukanlah seseorang harus menghidupkan kembali orang yang telah dibunuhnya atau membatalkan perzinahan yang pernah ia lakukan. Sebaliknya, yang saya maksudkan adalah dia menghapus semua dosa yang mampu ia hapus. Misalnya jika seseorang mencuri seekor kerbau dan menyimpannya sebagai barang miliknya, maka ia harus mengembalikannya dan tidak menyimpannya untuk dirinya sendiri.”

      Terkait:   Tujuan Puasa Untuk Pensucian Rohani

      Mintalah Ampunan dari Orang Yang Disakiti

        “Syarat keempat adalah seseorang tidak hanya diharuskan menghilangkan rasa sakit yang telah ditimbulkannya pada orang lain, tetapi juga harus meminta maaf padanya.

        Ini adalah masalah yang sensitif sehingga Allah telah menetapkan syarat ini untuk pengampunan manusia, bahwa ia harus meminta maaf kepada korbannya dan korbannya tersebut memaafkannya sehingga Allah tidak meminta lagi meminta pertanggungjawabannya. Jadi, jika memungkinkan, seseorang harus meminta maaf kepada orang yang telah ia sakiti dan rugikan.”

        Memperbaiki Kesalahan

          “Syarat kelima adalah ia harus sebisa mungkin menunjukkan kebaikan kepada orang yang telah ia sakiti, dan jika ia tidak bisa berbuat apa-apa, setidaknya ia harus mendoakannya.

          “Para wali yang suci juga telah menulis bahwa jika seseorang telah merampas kekayaan orang tanpa hak dan tidak memiliki kemampuan untuk mengembalikannya, maka ia harus berdoa dengan memohon ‘Saya tidak mempunyai sarana untuk mengembalikan kekayaan orang tersebut. Maka berikanlah karunia kepdaanya melalui sarana-sarana-Mu.’

          Bertekad Tidak Mengulangi Dosa

            “Syarat keenam adalah berikrat dalam hatinya untuk tidak berbuat dosa dan bertekad kuat bahwa ia tidak akan mengulanginya lagi.

            “Jika setelahnya ia terpaksa berbuat dosa, maka ini adalah masalah yang berbeda, tetapi ia harus meneguhkan tekad sambil bertobat. Dalam hal ini bukanlah maksud saya bahwa seseorang berbuat dosa di malam hari, kemudian di pagi hari ia memutuskan untuk tidak mengulanginya lagi; yang saya maksudkan adalah niat manusia harus tulus ketika ia bertobat dan bertekad untuk tidak melakukan dosa itu lagi dan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhinya.

            Terkait:   Apakah Shalat Tarawih sama Dengan Shalat Tahajud?

            Condongkan Diri pada Kebaikan

            “Syarat ketujuh adalah mulai mencondongkan diri pada kebaikan dan berusaha menanamkan pikiran dan perbuatan yang tulus dalam hatinya. Selain itu, ia harus mempersiapkan dirinya untuk berbuat baik.”

              “Ini adalah tujuh syarat yang diperlukan untuk bertobat. Jika syarat-syarat ini tidak ada dalam diri manusia, maka tobat nya tidak akan sempurna. Sekarang, kalian harus merenungkan apakah kalian telah melakukan tobat ini atau sesuatu hal yang lain?”

              “Setiap orang hendaknya mengingat hal-hal yang telah saya sampaikan dan melakukan tobat sejati agar catatan amalnya di masa lalu bersih. Sebab sebelum catatan masa lalu seseorang bersih, maka urusan masa depannya tidak akan berkembang dengan suci dan bersih, dan kekurangannya yang telah ia miliki sebelumnya hanya akan semakin meningkat.

              Oleh karena itu, setiap orang harus bertobat untuk membersihkan catatan masa lalunya dan hendaknya ia melakukan tobat sejati. Dengan mengikuti apa yang telah aku tunjukkan, maka seseorang akan terbebas dari hutang-hutangnya di masa lalu, sehingga tidak ada lagi uang sepeser pun yang tersisa di rekeningnya.

              (Mingguan Al Hakam, 16 Mei 2020)

              Sumber: Alislam.org

              Leave a Reply

              Begin typing your search above and press return to search.
              Select Your Style

              You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.