Dampak Bencana Perang di Timur Tengah
Khotbah Jumat Sayidina Amirulmukminin, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih Al-Khamis ayyadahullāhu ta’ālā binashrihil ‘azīz, pada 6 Maret 2026 di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford (Surrey), UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهٗ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَأَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ١ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ٢ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ٣ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ٤ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ٥ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ٦ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ٧
Pesan yang dibawa oleh Hazrat Rasulullah saw. memiliki tujuan untuk beriman kepada Tuhan yang Maha Esa, beribadah kepada-Nya, untuk menegakkan tauhid-Nya dan berupaya sekuat tenaga untuknya, serta menunaikan hak-hak para hamba-Nya, dan kemudian hidup sebagai satu umat yang bersatu, yang saling bersaudara. Akan tetapi pada saat ini, meskipun mengakui bahwa kami mengucapkan kalimat syahadat dan kami beriman kepada Lā ilāha illā Allāh Muḥammadur Rasūlullāh, namun di antara mereka terdapat perpecahan dan tidak ada persatuan. Amal perbuatan mereka bukanlah seperti ajaran yang mereka yakini. Akibatnya, jika kita merenungkan keadaan dunia Muslim saat ini, maka keadaannya sangat memprihatinkan. Meskipun beberapa negara Islam memiliki sumber daya alam dan kekayaan, tapi di hadapan kekuatan-kekuatan dunia mereka tidak memiliki kedudukan apa-apa, dan tidak juga ada peran istimewa mereka dalam bidang kemajuan agama, dan tidak terlihat upaya yang seharusnya ada untuk mengamalkan ajaran-ajaran Islam. Akibatnya sangat jelas, sebagaimana telah saya sebutkan berulang-kali sebelumnya, bahwa pihak lain memanfaatkan keadaan ini.
Oleh karena itu pemerintah-pemerintah Muslim, para politisi, dan kerajaan-kerajaan seharusnya, alih-alih hanya memperoleh kepentingan pribadi mereka, berupayalah bahwa kita harus bersatu sebagai umat muslim dan untuk itu kita harus berupaya dengan sungguh-sungguh. Ketika hal ini terjadi, barulah kita dapat terselamatkan dari serangan-serangan dunia, barulah kita dapat menegakkan kehormatan kita, dan barulah kita dapat mencegah kekuatan-kekuatan anti-Islam merobek-robek kita dari dalam. Untuk ini, kita juga harus merenungkan, pengaturan apa yang telah Allah Taala tetapkan di zaman ini? pengaturan Ilahi apakah itu, yang jika kita mengamalkannya atau mempercayainya maka kita dapat terselamatkan dari hal-hal tersebut dan dapat menjadi ummatan wahidah (umat yang bersatu). Pengaturan Allah Ta’ala itu adalah bahwa Dia telah mengutus Masih Mau’ud (Al-Masih yang Dijanjikan) untuk membentuk satu ummatan wahidah. Jadi, kita juga harus merenungkan hal ini. Ketika kita memikirkan hal ini, negara-negara dunia Islam, dan kaum Muslimin memikirkan hal ini, barulah mereka dapat terselamatkan dari fitnah-fitnah dan kerusakan-kerusakan yang bangkit menentang mereka.
Bagaimanapun juga, sebagai seorang Ahmadi, upaya dan doa kita adalah agar Allah Taala mempersatukan umat Islam dan menyelamatkan mereka dari kekisruhan dan kezaliman-kezaliman yang saat ini mereka terperosok di dalamnya. Tentang keadaan dunia, sejak lama saya telah mengatakan. Pada awalnya ada pemikiran bahwa mungkin hanya Eropa dan negara-negara Barat lainnya yang akan menjadi penyebab keadaan-keadaan ini; mereka memang menjadi penyebabnya, namun negara-negara Islam sendiri juga telah menjadi penyebabnya. Untuk hal ini, kekuatan-kekuatan Barat itulah yang pertama kali menciptakan kerusakan di negara-negara Islam, kemudian secara perlahan-lahan, seraya terus meniup angin terhadap kerusakan ini, mereka terus menyebarkannya dari satu negara ke negara lainnya. Rencana-rencana apa yang ada di balik ini sangatlah jelas bahwa mereka ingin menguasai sumber daya negara-negara tersebut melalui kekuatan mereka dan ingin membawanya ke bawah kendali mereka. Meskipun beberapa negara Arab memiliki kekayaan sumber daya, sebagaimana yang telah saya katakan sebelumnya, kekuatan-kekuatan Barat ini telah menjadikan mereka berada di bawah kekuasaan mereka.
Bagaimanapun juga, hal-hal yang telah saya sampaikan sejak lama di hadapan orang-orang itu, di hadapan orang-orang luar, dan di hadapan orang-orang kita sendiri juga, hari ini kita melihat akibat-akibatnya dengan sangat jelas. Kita harus selalu mengingat bahwa kekuatan-kekuatan Dajjal tidak pernah ingin melihat kita, kaum Muslimin, hidup dengan damai dan tenteram. Agenda mereka yang sebenarnya memang adalah bahwa di dunia Muslim harus selalu tercipta kekisruhan.
Kekuatan-kekuatan Dajjal selalu menipu (dengan mengatakan) bahwa di negara-negara Arab, di mana terdapat kekayaan minyak atau sumber daya lainnya, kami membuat perjanjian dengan kalian untuk menegakkan perdamaian, tetapi pada kenyataannya rencana-rencana mereka yang sebenarnya adalah sesuatu yang lain yang hari ini telah terbuka dan tampak jelas. Maka tugas kita adalah bahwa saat ini, melalui doa-doa, secara khusus kita harus bersujud di hadapan Allah Taala dan berdoa khusus untuk dunia Muslim. Pada saat ini hal itu sangat diperlukan.
Dengan mengkaji perang-perang yang terjadi dewasa ini, yang sedang berlangsung di Timur Tengah, kita melihat dan hal ini menjadi sangat jelas bahwa Amerika telah mendirikan banyak pangkalan militernya di berbagai negara Muslim, tetapi untuk apa? Apa alasannya? Apakah untuk melindungi negara-negara tersebut? Lagi pula, dari siapakah negara-negara Arab tersebut menghadapi ancaman? Kekuatan-kekuatan ini sendirilah yang menciptakan bahaya-bahaya, kemudian menetapkan persepsi bahwa kalian menghadapi ancaman. Oleh karena itu, untuk perlindungan kalian perlu agar pangkalan-pangkalan ini didirikan, dan terhadap mereka yang menjadi ancaman bagi kaum Muslimin mungkin mereka tidak akan pernah menggunakan kekuatan atau senjata mereka atau kemudian kaum Muslimin diyakinkan oleh mereka agar menyediakan pangkalan-pangkalan bagi mereka, mereka akan memberikan manfaat bagi kepentingan-kepentingan dan perdagangannya, padahal tujuan sebenarnya mereka di kawasan ini dan di wilayah ini adalah agar dalam menghadapi kekuatan-kekuatan yang menjadi lawan mereka sendiri, kehadiran mereka dipertahankan atas dasar-dasar yang kuat. Jika negara-negara Arab pun menghadapi suatu ancaman, maka itu adalah ciptaan dari kekuatan-kekuatan ini; jika tidak, maka mereka tidak akan membicarakan ancaman-ancaman itu.
Bagaimanapun juga, mereka mendirikan pangkalan-pangkalan ini agar keunggulan mereka di kawasan tetap terjaga. Mereka ingin menegakkan keunggulan mereka atas dunia non-Islam dan juga atas dunia Islam. Iran selalu menjadi kekhawatiran bagi orang-orang ini, dan karena perbedaan akidah, beberapa negara Muslim juga menentang Iran, yang kemudian ini dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan ini, karena kebijakan Iran terhadap Israel lebih keras; oleh karena itu, mereka menganggap tepat bahwa negara-negara Arab dengan cara bagaimanapun harus dijinakkan dan di sana pangkalan-pangkalan didirikan agar perlindungan Israel dapat dipastikan; dan untuk menakut-nakuti Iran, kehadirannya dipertahankan. Hal ini sangat jelas dan kita juga telah melihat akibatnya bahwa karena pangkalan-pangkalan ini, terdapat kemungkinan serangan terhadap negara-negara Arab, yang mana ini akhirnya terjadi, dan ekonomi mereka juga hancur. Di mana terdapat kekayaan minyak atau pariwisata, dampak-dampak buruk telah dan sedang terjadi atas mereka. Keuntungan dari situasi ini juga diraih oleh kekuatan-kekuatan ini, dan di masa depan juga akan mereka raih. Sebab, ketika perang terjadi, dan ekonomi terdampak, maka jelas bahwa pihak lawan juga akan menyerang dan berusaha menghancurkan pangkalan-pangkalan musuhnya.
Karena mereka berperang dengan Iran, maka Iran juga melakukan hal yang sama, yang hari ini kita saksikan, yakni Iran menargetkan pangkalan-pangkalan Amerika yang ada di negara-negara Arab dan menghancurkannya atau menimpakan kerugian padanya. Seorang jurnalis Arab kemarin menulis bahwa orang-orang Arab harus berhati-hati karena semua serangan ini yang dituduhkan ke Iran, bukanlah Iran yang melakukannya, tetapi Amerika dan Israel sendiri juga dapat melakukannya. Jika sebelumnya Iran telah melakukannya, maka sekarang dengan memanfaatkannya mereka akan melakukannya, dan beberapa serangan memang telah dibantah oleh Iran, dan dia juga bahkan menulis sampai sejauh ini, bahwa mungkin pada suatu waktu Amerika dan Israel keluar dari perang ini dan dunia Muslim ini saling berperang satu sama lain, dan inilah yang mereka inginkan.
Hazrat Khalifatul Masih Ar-Rabi’ r.h. juga telah memberikan peringatan ini selama perang Irak bahwa sekarang fitnah ini akan terus menyebar di dunia. Seandainya saja dunia Muslim memahami hal ini.
Sekarang lihatlah, bersamaan dengan perang Irak, upaya juga dilakukan untuk menyebarkan ketidakamanan di negara-negara Muslim lainnya. Kekacauan terjadi di dalamnya dan sejak itu ketidakamanan terus menerus terjadi di negara-negara Muslim lainnya, yang tidak dapat disangkal oleh siapa pun. Beberapa negara Muslim bahkan saling berperang satu sama lain, yang kita saksikan di dunia Muslim. Sebagaimana saya katakan bahwa pertikaian ini disebarkan oleh kekuatan-kekuatan Barat, dan secara lahiriah tidak tampak ada kemungkinan untuk berhenti kecuali ada takdir khusus Allah Taala, dan untuk itu bagaimanapun juga mereka harus berusaha.
Bagaimanapun juga kita harus berdoa agar Allah Ta’ala melindungi dan menjaga dunia Muslim dari peperangan dan pertikaian ini dan dunia Muslim serta kaum Muslimin harus menjadi damai dan hidup sebagai saudara satu sama lain. Inilah ajaran Islam mereka, bukan saling memenggal leher satu sama lain.
Jadi, inilah tugas kita dan sejak lama kita berupaya bahwa kita harus menyadarkan kawan dan lawan untuk menghentikan mereka dari kezaliman. Kita harus memperingatkan mereka karena kezaliman ini sekarang semakin meningkat dari hari ke hari sehingga tampak bahwa perang besar dalam skala luas akan terjadi. Bahkan, menurut beberapa analis Barat perang dunia telah dimulai, saya pun mengatakan hal yang sama bahwa perang dunia telah dimulai. Akan tetapi, jika sekarang juga dunia Muslim menggunakan akal, tersadar, bersatu dan bersepakat satu sama lain maka mereka masih dapat terlindungi dari fitnah-fitnah Dajjal. Jika kita mengamati dunia, maka saat ini bahaya yang dihadapi sangat besar, sebagaimana saya katakan sebelumnya, yakni setiap orang memiliki kepentingannya sendiri dan ketika keegoisan yang sangat ekstrim muncul, maka manusia tidak memikirkan apa pun lagi, dia hanya memikirkan tentang dirinya sendiri. Maka kita harus melihat bahwa jika ingin mengurangi kerusakan di dunia, maka ini tidak akan berkurang hanya dengan mengambil hak sendiri, melainkan harus memberikan hak juga. Jika dunia Muslim memahami hal ini, dan berkata kepada para pendukung mereka yang ada di negara-negara Barat dan kekuatan-kekuatan besar bahwa untuk menegakkan perdamaian kalian juga harus melepaskan sebagian hak kalian (sekarang jangankan melepaskan hak, mereka sendiri sedang merampas hak-hak orang lain). Mereka harus diberitahu bahwa kalian juga harus bertindak dengan keadilan, hanya dengan begitu kita dapat menegakkan perdamaian di dunia.
Untuk itu, sebagaimana saya katakan, saya telah menarik perhatian orang-orang sejak lama, orang-orang yang sama yang pada saat itu, setelah mendengar perkataan saya kerap berkata “Anda berbicara hal-hal yang sangat menyedihkan tentang dunia, memiliki pandangan negatif bahwa dunia akan masuk dalam perang yang berbahaya”, saat ini orang-orang itu mulai mengatakan sendiri, “Hal yang kami anggap mustahil beberapa tahun yang lalu, sekarang telah menjadi mungkin dan perang-perang telah dimulai.” Para analis mereka sendiri, yang berada di Amerika dan Eropa, sekarang mulai menulis bahwa Perang Dunia telah dimulai, sebagaimana yang telah saya katakan sebelumnya, dan ini akan terus meningkat; dan selama orang-orang ini terus berusaha untuk mencapai kepentingan-kepentingan mereka yang keliru, tidak ada kemungkinan bahaya ini akan berkurang. Ketika perang terjadi, kerugian ada di kedua belah pihak. Sekarang perang yang terjadi di Timur Tengah, secara lisan perang ini dimulai oleh Amerika dengan menyerang Iran, tetapi Iran telah memberikan peringatan dengan jelas sebelumnya bahwa jika mereka diserang, maka pangkalan-pangkalan Amerika yang ada di negara-negara Arab, yang mereka bangun untuk tujuan tertentu dan sekarang mereka juga sedang mencapai tujuan tersebut, Iran akan menyerang pangkalan-pangkalan tersebut. Iran telah mengatakan dengan jelas.
Kemudian ketika perang dimulai, maka Iran dibom, kota-kota mereka dihancurkan, orang-orang yang tidak bersalah dan anak-anak dibunuh. Tempat tinggal pemimpin rohani mereka diserang dan kehidupan sebagian besar anggota keluarga mereka diakhiri. Kekuatan-kekuatan ini berpikir, dan meneriakkan slogan-slogan bahwa mereka akan mengakhiri rezim ini, lalu orang-orang Iran akan mendapatkan kebebasan. Akan tetapi, apa pengaruh yang ditimbulkan dari hal ini? Mereka yang sedikit banyak juga merupakan penentang sebelumnya, sekarang justru berpihak kepadanya; dan karena [serangan] itu, pemimpinnya yang bernama Tuan Khamenei, lantas diberi kedudukan syahid, dan karena kedudukan syahid ini kehormatannya di tengah bangsanya semakin meningkat. Anak-anak beliau juga dibunuh, seluruh keluarganya dibunuh. Maka kezaliman yang terjadi ini bukannya mengubah rezim, tetapi justru penghormatan terhadapnya semakin meningkat.
Bagaimanapun juga, Iran pun, sebagai reaksi, menyerang pangkalan-pangkalan di negara-negara Arab yang merupakan pangkalan kekuatan-kekuatan Barat dan Amerika. Selain itu ada beberapa tempat seperti sumur-sumur minyak dan sebagainya di mana Amerika mulai memberikan ancaman bahwa jika Iran menyerang wilayah minyak tertentu di Arab Saudi, maka mereka akan melakukan hal ini, dan di beberapa tempat lain juga dikatakan bahwa itu telah diserang sehingga mereka akan melakukan ini dan itu. Atas hal ini Iran dengan jelas menjawab bahwa mereka tidak menyerang tempat-tempat seperti itu dan tidak memiliki niat seperti itu. Ini adalah satu tipu muslihat lagi untuk menimbulkan kebencian di antara hati sesama kaum Muslimin. Peperangan memang sudah terjadi sejak awal, ini hanyalah upaya untuk lebih menyulut kebencian-kebencian tersebut dengan mengatakan demikian dan sebagaimana sebelumnya saya telah membacakan pernyataan seorang jurnalis, dia mengatakan bahwa mungkin saja mereka sendiri menimbulkan kerusakan dan menuduh nama Iran.
Sebagaimana telah saya sampaikan, dalam kondisi seperti ini, dunia muslim harus mengambil langkah dengan sangat hati-hati. Namun kita kaum Ahmadi, meskipun merasakan simpati, kita tidak berdaya, kita tidak dapat melakukan apa-apa kecuali memperingatkan mereka, mendoakan mereka dan berupaya menjelaskan bahwa apa yang sedang terjadi adalah salah. Hendaknya pemerintah-pemerintah muslim sekarang juga menyadari dan tidak hanya mementingkan kepentingan negara mereka sendiri, tetapi mengutamakan kepentingan umat Islam dan jangan sampai melakukan pengkhianatan dalam bentuk apa pun. Dengan ini, maka hingga batas tertentu masih dapat diselamatkan.
Negara-negara Arab di Timur Tengah, meskipun sebagian dari mereka memiliki kekayaan minyak, namun mereka tidak memiliki kemampuan pertahanan dan industri mereka pun tidak berkembang. Hanya dengan kekayaan minyak, atau di beberapa tempat hanya dengan memajukan dan mengembangkan pariwisata, tidak dapat mencapai kemajuan. Ketergantungan mereka sepenuhnya pada dunia Barat dan kekuatan-kekuatan Barat, sebagaimana telah saya katakan bahwa dengan memanfaatkan kelemahan mereka inilah kekuatan-kekuatan Barat telah mendirikan pangkalan-pangkalan mereka di sana. Kemudian ketika perang melawan Iran dimulai, maka Iran juga memulai serangan terhadap negara-negara Arab. Bukan serangan terhadap negara-negara Arab, tetapi serangan dilakukan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika. Namun, sekarang kesan yang diberikan kepada negara-negara Arab adalah bahwa mereka yang diserang.
Sebagaimana telah jelas, sekarang perang ini telah mengambil bentuk yang mengerikan. Dari pihak Iran rudal-rudal diluncurkan. Untuk mencegatnya, Amerika telah membangun sistem pertahanan mereka. Namun, para analis sekarang menulis bahwa jika Iran meluncurkan satu rudal seharga lima puluh ribu dolar, maka biaya yang dikeluarkan untuk menghancurkannya, rudal-rudal yang menangkalnya adalah senilai beberapa juta dolar. Beberapa analis bahkan menulis bahwa dari segi ekonomi, Amerika mengalami kerugian, namun ini hanyalah satu pemikiran. Kekuatan-kekuatan ini sejak awal sudah memperhitungkan segala sesuatunya dan mengambil penilaian menyeluruh. Mereka telah memilih semua ini dan saya tidak berpikir bahwa kekuatan-kekuatan ini akan benar-benar menanggung kerugian ini pada diri mereka sendiri, tetapi mereka akan meminta uang ini dari negara-negara Arab tersebut dengan mengatakan, “Kami sedang berupaya mempertahankan kalian.” Di satu sisi sumur-sumur minyak mereka menjadi ditutup, inflasi meningkat, dan produksi minyak berkurang, lalu di sisi lain mereka juga harus menutup kerugian ini yang akan membuat cadangan mereka sangat berkurang atau habis. Pada akhirnya ekonomi dunia Arab akan mengalami kerugian yang sangat besar. Meskipun dunia Barat atau kekuatan-kekuatan besar juga akan mengalami kerugian, namun kerugian terbesar akan menimpa orang-orang Arab dan mereka bahkan sekarang juga harus memahami hal ini.
Sekarang kita melihat bahwa Presiden Amerika saat ini sedang mewujudkan kebijakan pemerintah-pemerintah mereka yang sebelumnya. Ini bukan hanya kebijakan pemerintah saat ini, karena sejak dahulu kebijakan mereka selalu seperti ini, yakni di mana pun mereka menginginkan, mereka merebut sumber dayanya secara paksa dan kemudian dengan dalih tertentu mereka berusaha menciptakan pembenaran bahwa ini atau itu adalah alasannya; bahkan sekarang Wakil Presiden Amerika yang saat ini menjabat telah mengatakan sampai sejauh ini, “Jika negara-negara itu tidak bergabung dengan kami, maka kami akan merebut sumber daya mereka secara paksa dan akan membuat mereka bergabung dengan kami.” Negara-negara yang tidak bergabung dalam perang dikenakan pembatasan dan sanksi.
Beberapa hari yang lalu Perdana Menteri Spanyol menunjukkan keberanian ini dan mengatakan, “Kami tidak akan ikut dalam perang ini dan tidak pula akan memberikan pangkalan-pangkalan kami.” Maka, dia diancam bahwa Amerika akan memutuskan hubungan perdagangan dengannya. Dengan cara menggertak seperti ini dan dengan cara-cara yang buruk mereka berusaha menimbulkan kerugian; negara-negara dipaksa agar bergabung dengan mereka. Dalam situasi ini, keadilan sama sekali tidak tersisa lagi, dan ketika keadilan tidak ada, maka kehancuran datang dan akibat-akibat berbahaya yang sedang terjadi akan muncul, bahkan akibat-akibat yang lebih berbahaya dan lebih mengerikan dari ini akan terjadi.
Beberapa hari yang lalu di Parlemen Eropa, salah seorang anggota parlemen mereka yang berasal dari Spanyol dan seorang wanita, dia memberikan pernyataan yang sangat terbuka di sana bahwa dalam perang apa pun yang dilakukan Amerika, wanita tidak pernah mendapatkan kebebasan. Dia adalah seorang wanita sehingga dia mengangkat isu wanita karena katanya Amerika mengaku, “Kami berperang untuk kebebasan wanita Iran.” Maka, ini semua adalah kebohongan dan wanita Iran tidak akan pernah mendapatkan kebebasan dari ini dan Amerika tidak pernah berperang untuk kebebasan wanita di mana pun dan tidak pula mereka pernah berhasil memberikan kebebasan kepada para wanita. Bagaimanapun juga, kesimpulannya adalah bahwa di negara-negara ini, meskipun Amerika memang sudah memiliki monopoli sampai batas tertentu sejak sebelumnya, tetapi sekarang dengan memasukkan Israel secara terang-terangan, monopoli ini sedang diperkuat.
Negara-negara Arab dan Islam tidak memahami bahwa dengan kekerasan, intimidasi, cara-cara yang keji dan tipu daya dajjal, kita sedang dijebak ke suatu tempat dengan sedemikian rupa di mana kita berperang dengan sesama negara Muslim. Orang-orang Islam sedang diadu dengan orang-orang Islam lainnya.
Bagaimanapun juga, sekarang Rusia dan Tiongkok juga sedang membentuk blok mereka dan hal ini jelas bahwa blok-blok yang sekarang sedang dibentuk akan bertambah di masa depan atau akan mengalami perluasan dan akan terus terbentuk lebih banyak lagi dan akan menjadi kuat. Dunia Islam sekarang akan tetap menjadi medan perang karena mereka memiliki sumber daya yang ingin dikuasai oleh orang-orang ini. Seandainya orang-orang Islam memahami hal ini dan menggunakan akal pikiran.
Sekarang, Amerika dan sekutu-sekutunya mengatakan, “Kami menyerang Iran karena mereka memiliki niatan tertentu, jika mereka melakukan itu maka akan terjadi begini. Mereka membuat bom atom atau akan terjadi hal seperti itu.” Artinya hanya dengan menciptakan sebuah anggapan, perang pun dimulai. Yakni jika hal ini terjadi, maka akan terjadi begitu. Ini adalah hal yang sungguh dipaksakan. Sekarang bahkan para analis Barat, mereka sendiri telah mulai mengatakan bahwa menghancurkan Iran atau berperang dengannya tidak semudah yang mereka kira. Iran adalah negara yang besar, luas, dan tersebar. Mereka memiliki kekuatan tertentu dan perang ini bisa berlangsung lama meskipun kerugiannya akan menimpa ekonomi seluruh dunia, tetapi dampaknya akan sangat besar terhadap dunia Muslim. Akan tetapi, hal yang paling besar dan menyedihkan adalah bahwa dalam hal ini darah Muslim ditumpahkan oleh Muslim sendiri.
Bagaimanapun, kaum Muslimin harus takut kepada azab Allah Taala. Ratusan anak-anak dibunuh. Ratusan orang yang tidak bersalah dibunuh. Jika kita melihat ke negara-negara Barat, para kolumnis di sana mulai menulis bahwa jika terjadi serangan kepada Israel atau Amerika atau di negara Barat mana pun, dan di sana anak-anak terbunuh, maka kolom demi kolom akan ditulis di surat kabar dan akan terus ada selama beberapa hari, tetapi di sini, sebuah sekolah dibom dan ratusan anak-anak dibunuh, namun tidak ada seorang pun di sana yang mengatakan apa-apa. Sebelumnya mereka melakukan ini di Palestina dan sekarang hal yang sama terjadi di Iran juga. Tampaknya menurut mereka nyawa seorang Muslim tidak memiliki nilai apa pun.
Bagaimanapun, semoga Allah Taala memberikan pemahaman kepada kaum Muslimin agar mereka menggunakan akal dan berusaha menyelesaikan masalah dengan duduk bersama. Ketika mereka adalah orang-orang yang mengaku bertauhid, maka mereka harus bersatu untuk menegakkan tauhid. Tidak ada perlunya menciptakan pertengkaran dengan dasar hanya tuduhan-tuduhan, dan mengatakan bahwa pertikaian meningkat karena akidahnya si fulan. Terkadang pertikaian memang meningkat karena akidah-akidah dan ini adalah hal yang umum dan lumrah terjadi. Perselisihan internal di antara kaum Muslimin juga terjadi karena alasan ini, padahal Hazrat Rasulullah saw. begitu berhati-hati dan begitu penuh kasih sayang sehingga ketika para Sahabat terkadang menyebutkan di hadapan beliau saw. bahwa seseorang adalah munafik, maka beliau saw. bersabda, “Selama dia mengucapkan Lā ilāha illā Allāh, aku tidak dapat mengatakan apa pun kepadanya dan kalian pun jangan menyebutnya munafik.”
Jadi, bertengkar karena hal-hal kecil sebenarnya adalah hal yang merugikan diri sendiri. Semoga Allah Taala juga memberikan pemahaman kepada dunia Muslim mengenai hal ini. Semoga mereka sekarang juga memahami dan tidak berbalik melawan Iran hanya karena perbedaan keyakinan. Islam datang untuk menegakkan tauhid. Oleh karena itu, upaya untuk ini harus dilakukan. Janganlah menganggap kekuatan-kekuatan besar sebagai tuhan kalian karena kekuatan yang kekal hanyalah milik Allah Taala. Jika kekuatan-kekuatan besar ini dianggap sebagai segalanya, maka orang-orang ini satu persatu akan menguasai seluruh dunia Islam dan pemerintahan-pemerintahan yang ada pun akan berakhir. Maka sekarang masih ada waktu, perlu untuk sadar, condongkanlah diri kepada Allah Taala. Orang-orang duniawi ini telah merusak kedamaian dan ketenteraman dunia dan khususnya kedamaian dan ketentraman dunia Muslim, dan mereka akan terus melakukannya di masa depan. Dalam Al-Qur’an, Allah Taala memberikan petunjuk kepada kaum Muslimin dengan berfirman:
وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ فَاِنْۢ بَغَتْ اِحْدٰىهُمَا عَلَى الْاُخْرٰى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْۤءَ اِلٰٓى اَمْرِ اللّٰهِۖ فَاِنْ فَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
Yakni, jika dua kelompok dari kalangan orang-orang beriman saling berperang, maka damaikanlah di antara keduanya; kemudian jika setelah perdamaian terjadi, salah satu dari keduanya menyerang yang lain, maka bersatulah semua untuk berperang melawan penyerang itu hingga mereka kembali kepada hukum-hukum Allah; kemudian jika mereka kembali kepada hukum-hukum Allah, maka damaikanlah di antara kedua pihak yang berperang itu dengan adil dan jagalah keadilan; sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (Al-Hujurat: 10)
Jadi, inilah gambaran, inilah poin sangat penting untuk kedamaian dunia, dan dunia Muslim khususnya harus mengamalkannya karena Allah Taala telah memberikan petunjuk yang jelas bagi mereka dalam Al-Qur’an. Maka penuhilah prinsip keadilan dan kebenaran, dan organisasi negara-negara Islam juga harus menjalankan perannya dalam hal ini.
Hal ini juga harus jelas bahwa ketika mendamaikan, janganlah mengedepankan kepentingan pribadi, melainkan harus mencari keputusan dari akar masalahnya, yakni apa yang menjadi sebab musababnya, dan sebab-sebabnya adalah yang jelas terlihat oleh kita bahwa kekuatan-kekuatan Dajjal ingin membuat kita berperang satu sama lain. Perserikatan Bangsa-Bangsa, PBB, dan sebagainya yang telah dibentuk, mereka juga tidak menjalankan peran positif apa pun, bahkan sekarang orang-orang ini sendiri mulai berbicara menentangnya. Maka jika kita melakukan pekerjaan ini tanpa mementingkan kepentingan pribadi, tanpa mementingkan kepentingan negara kita, barulah kita dapat diselamatkan, jika tidak, kita akan jatuh ke dalam pangkuan kekuatan-kekuatan Dajjal tersebut. Maka semua negara Muslim perlu duduk bersama dengan menyatukan kepala. Demikian pula Allah Taala selanjutnya berfirman di ayat ini:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَࣖ
Yakni, orang-orang beriman itu bersaudara. Maka damaikanlah di antara dua saudaramu yang saling berperang dan bertakwalah kepada Allah agar kamu diberi rahmat. (Al-Hujurat: 10)
Jika di antara kaum Muslimin terjadi perselisihan, sebagaimana dikatakan bahwa ada perselisihan antara Iran dan beberapa negara Arab atau ada perselisihan di negara-negara Muslim lainnya, maka mereka harus mengingat bahwa hubungan utama di antara mereka adalah ukhuwah islamiah (persaudaraan Islam). Perselisihan-perselisihan kecil tidak boleh menjadi penyebab untuk memutuskan persaudaraan Islam ini dan negara-negara Muslim harus memberikan perhatian khusus pada hal ini, jika tidak, maka sebagaimana telah saya katakan bahwa kekuatan-kekuatan anti-Islam akan mengambil keuntungan darinya. Maka negara-negara Arab dan juga pemerintah Iran harus mencari solusi perdamaian. China dan beberapa negara lain yang di dalamnya Pakistan juga termasuk. Mereka telah menawarkan untuk menjalankan peran mereka untuk perdamaian. Semoga dunia Muslim memahami hal ini. Semoga Allah Taala memberi pemahaman kepada mereka.
Bagaimanapun juga, pekerjaan kita hanyalah ini, yaitu kita berdoa khususnya untuk dunia Muslim dan untuk orang-orang yang tak bersalah ini. Di bulan Ramadan khususnya, janganlah hanya memberikan perhatian pada doa-doa pribadi kita, melainkan berdoalah juga untuk umat Islam.
Semoga Allah Taala memberi mereka akal sehingga kedamaian dapat tercipta di dunia dan khususnya di dunia Muslim, seorang Muslim tidak menjadi pemotong leher Muslim lainnya. Orang-orang ini, yang saling berperang dan dengan cara yang keliru saling membunuh satu sama lain, dengan perbuatan ini mereka menjadi sasaran kemurkaan Allah Taala. Orang-orang seperti ini tidak hanya akan merugi di dunia ini, tetapi juga akan merugi di dunia yang akan datang. Oleh karena itu, perlu memberikan perhatian khusus terhadap hal ini dan untuk ini kita khususnya memerlukan doa. Semoga Allah Taala juga menganugerahkan kepada kita taufik untuk berdoa dalam artian yang hakiki.
Hari ini saya juga akan memimpin beberapa salat Jenazah gaib. Saya akan menyebutkan beberapa almarhum. Pertama adalah Mukarramah Sahibzadi Amatul Jamil Sahibah yang merupakan putri bungsu Hazrat Khalifatul Masih Tsani r.a. dan istri almarhum Nasir Muhammad Siyal Sahib. Beliau adalah menantu Chaudhry Fateh Muhammad Siyal Sahib yang juga pernah menjadi mubalig di sini. Beberapa hari yang lalu beliau wafat pada usia sekitar 99 tahun. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Almarhumah adalah seorang musiah. Beliau adalah putri bungsu Hazrat Sayyidah Maryam Begum Sahibah, Ummu Tahir dan juga merupakan yang termuda di antara anak-anak Hazrat Muslih Mau’ud r.a. Pernikahan beliau dipimpin oleh Hazrat Muslih Mau’ud r.a. pada tahun 1955 dan karena Huzur sedang sakit, beliau memberikan khotbah nikah dan memimpin doa dalam keadaan berbaring di tempat tidur dan hanya beberapa anggota keluarga yang hadir. Namun, penulis telah mencatat bahwa selama pernikahan tersebut dari awal hingga akhir, Hazrat Khalifatul Masih Tsani r.a. tampak berada dalam gejolak kerohanian yang khas. Hazrat Muslih Mau’ud r.a. pada tahun 1956 melepaskan beliau dengan doa.
Beliau memiliki empat anak. Satu putra, Zair Mustafa, adalah putra pertama beliau yang telah beliau berikan kepada saudari beliau Sahibzadi Amatul Qayyum Sahibah yang membesarkannya sejak kecil. Putrinya adalah Yasmin Malik yang juga berada di Kanada. Sadia Ahmad, beliau tinggal di sini di Inggris. Sofia Ahmad berada di Rabwah, beliau adalah istri Nazir Khidmat Darwishan, Mirza Samad Ahmad Sahib. Almarhum Nasir Muhammad Sayal Sahib adalah waqaf zindagi. Ketika Hazrat Muslih Mau’ud r.a. memulai Fazle Umar Research, beliau menugaskannya untuk penelitian di dalamnya. Setelah itu ketika penelitian dihentikan maka Jemaat memberikan izin kepada beliau untuk melakukan pekerjaan beliau sendiri.
Putri beliau, Sofia menulis: Beliau sangat memperhatikan orang-orang miskin, dan orang-orang juga telah menulis kepada saya bahwa beliau memperhatikan mereka dan berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Dari masa kecil beliau, ada beberapa peristiwa dengan Hazrat Muslih Mau’ud r.a. Ada beberapa mimpi Hazrat Muslih Mau’ud r.a. yang menyebutkan tentang beliau. Dalam konteks ini, beberapa sejarah yang lama juga ikut terkait dengan penyebutan beliau.
Satu peristiwa di rumah tangga yang beliau sendiri sebutkan mengenai Hazrat Muslih Mau’ud r.a. tentang ketaatan pada prinsip dan betapa beliau menghargai para pengkhidmat di Jemaat yakni: Sepatu Hazrat Muslih Mau’ud yang diletakkan di luar, dibersihkan oleh seorang pengkhidmat, lalu Almarhumah juga meletakkan sepatunya di sana. Hazrat Muslih Mau‘ud r.a. kemudian mengambil sepatu itu dan membawanya masuk, lalu bertanya, “Sepatu siapa ini?” Beliau sedang dalam keadaan marah. Karena tidak ada yang menjawab, akhirnya beliau berkata, “Baiklah, katakan saja ini sepatu siapa. Saya tidak akan mengatakan apa-apa.” Padahal sebenarnya beliau adalah seseorang yang sangat Hazrat Muslih Mau‘ud r.a. sayangi. Maka beliau pun berkata, “Itu sepatu saya.” Hazrat Muslih Mau‘ud r.a. kemudian bersabda, “Mulai sekarang, jika engkau sendiri tidak dapat memolesnya, maka berikan saja kepadaku. Tetapi jangan meminta seorang pekerja Jemaat untuk memolesnya.”
Bagaimanapun juga, beliau adalah seorang yang suka bersedekah dan sangat memperhatikan orang-orang miskin. Putri beliau menuturkan, “Ketika saya mengeluarkan catatan-catatan lama beliau dari buku-buku, terdapat banyak sekali pengeluaran yang secara jelas tertulis untuk membantu orang-orang miskin, yang memang secara teratur beliau berikan.”
Ketika beliau berusia tujuh tahun, ibu beliau, Hazrat Maryam, yakni Ummu Tahir Sahibah, wafat. Hazrat Muslih Mau‘ud r.a. menulis, “Ketika kami membawa jenazah almarhumah ke rumah Syekh Bashir Ahmad Sahib, saya melihat seorang anak perempuan kecil, Amatul Jamil, yang sangat disayangi baik oleh beliau maupun oleh saya. Usianya saat itu baru tujuh tahun. Ia menangis sambil menjerit-jerit, ‘Hai Ibu! Hai Ibu!’ Saya kemudian mendekati anak itu dan berkata kepadanya, ‘Jami.’ Kami biasa memanggilnya Jami dengan penuh kasih sayang.” Hazrat Muslih Mau‘ud bersabda, “Saya berkata kepadanya, ‘Ibumu telah pergi ke rumah Allah Taala. Di sana ia akan mendapatkan lebih banyak ketenangan. Dan memang itulah kehendak Allah Taala bahwa sekarang ia pergi ke sana. Lihatlah, Hazrat Rasulullah saw. telah wafat, kakekmu juga telah wafat. Apakah ibumu lebih besar daripada mereka?”
Kemudian Hazrat Muslih Mau‘ud r.a. bersabda, “‘Semoga naungan Tuhan saya tidak terpisah dari anak ini walaupun hanya satu menit.’ Setelah kalimat saya ini, sejak saat itu sampai sekarang ia tidak pernah lagi menjerit menangisi ibunya. Begitu mendengar kalimat tersebut, ia langsung menjadi tenang sama sekali. Bahkan pada keesokan harinya, ketika waktu pemakaman tiba dan kakaknya yang lebih besar menjerit karena sangat terpukul hingga jatuh pingsan, maka Jami mendatangi istri saya yang lebih muda, Maryam Sadiqah. Anak-anak biasa memanggil Hazrat Maryam Sadiqah Sahiba dengan sebutan “Chhoti Apa”. Lalu ia berkata kepadanya, ‘Chhoti Apa, Kakak benar-benar seperti orang gila. Ayah mengatakan bahwa dalam wafatnya Ibu terdapat kehendak Allah Taala, tetapi ia masih saja menangis.’”
Kemudian Hazrat Muslih Mau‘ud bersabda, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku! Anak kecil yang demi keridaan-Mu tidak meratapi kematian ibunya—apakah Engkau tidak akan melindunginya dari setiap kesedihan di alam yang akan datang?”
Hazrat Maryam Sadiqah Sahiba kemudian berdoa untuk Hazrat Ummu Tahir Sahibah. Lalu beliau berkata, “Wahai Tuhanku Yang Maha Pengasih, bagi hamba-hamba-Mu adalah hak untuk menaruh harapan seperti itu kepada-Mu, dan memenuhi harapan tersebut adalah sesuatu yang layak bagi keagungan-Mu.”
Bagaimanapun juga, dalam hal pembayaran candah dan semacamnya beliau sangat teratur. Hissa Jaidad beliau telah beliau selesaikan sejak sebelumnya. Apabila ada tetangga yang meninggal dunia, beliau secara rutin mengirimkan makanan ke rumah mereka. Selain itu, kepada orang-orang yang datang dan pergi beliau sering berkata—bahkan kepada saya sendiri beliau beberapa kali mengatakan—“Doakanlah agar kesudahan saya baik.”
Cucunya, Nusrat, mengatakan bahwa neneknya sudah bersiap-siap bahkan sebelum waktu salat tiba, lalu duduk menunggu dengan penuh kegelisahan sambil menantikan waktunya. Beliau memanjatkan doa-doa yang panjang. Bahkan beliau membuat sebuah daftar berisi nama-nama orang yang harus didoakan. Ia berkata bahwa ketika masih kecil, pada masa kanak-kanaknya, ia sering merasa takut ketika mendengar doa-doa neneknya yang panjang dan penuh tangisan. Namun demikian, beliau tetap mendoakan orang-orang tersebut.
Hazrat Hadi Ali Sahib menulis bahwa, sebagaimana telah saya sebutkan, ada beberapa kenangan lama yang juga berkaitan dengan beliau, juga beberapa peristiwa, bahkan sebagian ru’ya (penglihatan dalam mimpi) Hazrat Muslih Mau‘ud r.a. Bagaimanapun, Hazrat Hadi Ali Sahib mengatakan, “Beliau pernah menceritakan kepada saya: ‘Suatu ketika saya sedang melakukan perjalanan dengan mobil bersama Hazrat Khalifatul Masih II r.a. Saya duduk di kursi belakang bersama Huzur.’
Beliau berkata, ‘Saya melihat Hazrat Muslih Mau‘ud r.a. berulang kali menghitung sesuatu dengan jari-jari tangannya. Lalu saya bertanya, “Abba Jan, apa yang sedang Anda hitung?’ Huzur menjawab, “Saya sedang memperkirakan jumlah mubaligh saya di seluruh negara di dunia. Dan menurut perkiraan saya, di seluruh dunia setidaknya saya memerlukan sekian ratus ribu mubalig. Hanya dengan demikian kita dapat memperkenalkan Islam yang sejati kepada dunia.’”
Inilah kegelisahan Hazrat Muslih Mau‘ud r.a., dan sebagian riwayat beliau tentang hal itu juga terdapat dalam kisah ini.
Hazrat Muslih Mau‘ud r.a. juga mendapatkan sebuah ru’ya. Karena ru’ya itu berkaitan dengan beliau, maka saya akan menyebutkannya. Mimpi ini terjadi pada bulan Juni 1948. Beliau bersabda:
“Pada bulan Juni saya berada di Nasirabad, Sindh. Di sana saya melihat sebuah menara yang sangat tinggi dan berwarna putih, bentuknya seperti menara Qadian. Pada balkon lantai di atas lantai dasar menara itu, di dekat pintu, anak perempuan saya, Amatul Jamil, sedang duduk. Dengan sangat santai ia menggantungkan kedua kakinya dari tepi balkon tersebut.
Tiba-tiba pandangan saya tertuju kepada menara itu. Saya melihat bahwa dari pintu di lantai paling atas—atau tepatnya dari pintu lantai di bawahnya—seekor ular yang sangat besar muncul. Ular itu panjangnya beberapa kaki, bahkan beberapa yard, dan tebalnya sekitar satu setengah kaki. Warnanya hijau. Ular itu mengeluarkan kepalanya dari pintu dan bergerak menuju lantai di bawahnya. Dengan cara demikian ia datang dari lantai di atas lalu turun ke lantai berikutnya.”
Untuk meringkas kisahnya—karena penjelasannya sebenarnya cukup panjang—ular itu terus bergerak hingga sampai dari lantai yang paling bawah ke lantai atas, kemudian ia mengarah menuju atap lantai bawah tersebut.
Hazrat Muslih Mau‘ud r.a. bersabda:
“Pada saat itu terlintas dalam hati saya bahwa Amatul Jamil sedang duduk di balkon dekat pintu. Jangan sampai ular itu berbalik lalu menggigitnya. Pada saat yang sama saya juga takut bahwa jika anak itu bergerak, ia bisa terjatuh dan terluka. Maka saya mulai memanjatkan doa kepada Allah Taala dengan sangat memohon dan penuh kerendahan. Kalimat doa itu masih saya ingat, yaitu:
اللّٰهُمَّ أَعِزَّهَا لِي وَلِلْجَمَاعَةِ الْأَحْمَدِيَّةِ وَلِغُرَبَائِهَا
Artinya:
“Wahai Tuhan kami, selamatkanlah dia dari bala ini demi aku, demi Jemaat Ahmadiyah, dan demi para gurabā’-nya.”
Hazrat Muslih Mau‘ud r.a. kemudian menulis, “Dalam bahasa Arab, kata gurabā’ berarti para musafir, sedangkan dalam bahasa Urdu kata gurabā’ berarti orang-orang miskin. Allah Taala lebih mengetahui apakah pada bagian ini digunakan ungkapan idiom Urdu atau idiom Arab, dan di dalamnya juga terdapat isyarat kepada beberapa musafir.
Bagaimanapun, beliau mengatakan, “Saya terus memanjatkan doa ini. Lalu saya melihat bahwa Ummatul Jamil dengan sendirinya merasakan adanya bahaya, sehingga ia mulai bergeser menjauh dari tepi atap. Sedikit demi sedikit ia terus bergeser hingga beberapa hasta menjauh dari pintu itu. Sementara itu, ular turun dari pintu tersebut dan bergerak menuju ke arah Jamil. Namun, karena ia sudah berada agak jauh, maka ular itu tidak mengejarnya, melainkan mulai turun ke tanah.”
Beliau menulis, “Ru’ya ini secara lahiriah sangat diberkati bagi anak tersebut, karena di dalamnya terdapat doa. Anak itu, selain menjadi penyejuk hati bagi saya, juga akan bermanfaat bagi Jemaat dan bagi para gurabā’. Wallāhu a‘lam. Masih ada beberapa ru’ya Hazrat Muslih Mau‘ud r.a. lainnya yang di dalamnya disebutkan tentang beliau. Semoga Allah Taala menganugerahkan magfirah dan rahmat kepada beliau.
Jenazah kedua yang hendak saya sebutkan adalah Dr. Rashid Ahmad Khan Sahib dari Belanda, yang merupakan putra dari Mukarram Nizamuddin Sahib. Beberapa hari yang lalu beliau wafat pada usia sembilan puluh satu tahun. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Dengan karunia Allah Taala, beliau adalah seorang mūṣī. Beliau meninggalkan empat orang putra dan empat orang putri.
Ayah Dr. Rashid Sahib, yaitu Nizamuddin Sahib, adalah adik dari Dr. Fatiḥuddin Sahib, mantan Amir Provinsi Sarhad. Melalui beliau inilah Ahmadiyah masuk ke dalam keluarga mereka.
Pada suatu waktu, Hazrat Masih Mau‘ud a.s. menyampaikan sebuah ceramah di Ludhiana. Pada saat itu Fatihuddin Sahib masih bersekolah. Para guru di sekolah dengan tegas melarang para siswa dan berkata, “Jangan sekali-kali pergi ke sana untuk mendengarkan pidatonya. Dia adalah seorang penyihir dan akan mempengaruhi kalian.”
Seperti tuduhan yang sejak dahulu selalu dilontarkan kepada para nabi, para maulvi juga menuduhkan hal yang sama kepada Hazrat Masih Mau‘ud a.s.
Bagaimanapun juga, Fatihuddin Sahib menceritakan bahwa beliau tetap pergi untuk mendengarkan ceramah Hazrat Masih Mau‘ud a.s. Ketika melihat wajah beliau a.s., pada usia yang masih sangat muda itu beliau langsung yakin bahwa beliau a.s. adalah orang yang benar. Oleh karena itu, setelah menyelesaikan pendidikannya, pada tahun 1914, di masa Hazrat Khalifatul Masih I r.a., beliau datang dan melakukan baiat.
Almarhum Rashid Sahib adalah seorang yang sangat saleh. Beliau berakhlak baik, berhati lurus, ramah dan mudah bergaul, bertakwa kepada Allah, suka menyambung silaturahmi, bahkan sering menanggung kesulitan demi orang lain. Beliau juga sangat pemberani, sangat mencintai Khilafat, serta selalu siap untuk memberikan setiap pengorbanan kapan pun diperlukan.
Beliau biasa menyantuni orang-orang miskin dan membantu orang-orang yang membutuhkan, serta melakukannya tanpa memberi tahu siapa pun. Banyak mubayiin baru yang terhadap mereka para penentang membuat tuduhan dan perkara palsu; untuk menjamin mereka di pengadilan pun beliau sering datang membantu. Beliau juga pernah menjadi anggota Furqan Force.
Beliau juga memperoleh suatu kehormatan ketika Hazrat Khalifatul Masih II r.a. mengutus beliau—bersama ayah mertua beliau Abbas Khan Sahib dan saudara beliau Manzoor Sahib—ke berbagai daerah di Provinsi Sarhad dalam rangka Waqf-e-Jadid. Kepada mereka diberikan tanggung jawab untuk memulihkan hubungan dengan keluarga-keluarga Ahmadi lama serta melaksanakan tugas tabligh. Beliau pun melaksanakan tugas tersebut dengan cara yang sangat baik dan penuh dedikasi.
Beliau sangat gemar melakukan tablig. Melalui tablig kepada seorang teman, Daulat Khan Sahib, orang tersebut pun melakukan baiat. Akibatnya, sebuah perkara hukum pun diajukan terhadapnya; bahkan terhadap Rashid Sahib juga dibuat perkara dan beliau pun ditangkap. Ketika hendak mengajukan jaminan, tidak ada seorang pun yang berani tampil sebagai penjamin, dan jaminan yang diajukan pun tidak diterima. Maka Rashid Sahib sendiri pergi ke sana dengan membawa menantunya.
Di sana terdapat arak-arakan para maulvi sekitar lima ribu orang. Mereka mulai melempari batu. Sebuah batu mengenai kepala menantunya; ia pun terjatuh. Setelah itu mereka terus memukulinya hingga akhirnya ia gugur syahid di tempat itu.
Mereka mengatakan bahwa dengan melakukan hal itu mereka sedang memperoleh pahala. Kemudian atas hal itu polisi pun kemudian mulai menendang-nendang jenazah tersebut sambil berkata bahwa mereka juga ingin memperoleh pahala.
Bagaimanapun juga, mereka juga memukuli beliau dan hampir semua tulang di tubuhnya patah. Beliau mengalami banyak luka. Bekas luka tersebut bahkan kemudian masih sering saya lihat; di wajahnya juga ada bekas luka, dan lengan-lengannya pun menjadi bengkok akibat cedera tersebut. Namun Allah Taala menyelamatkan beliau. Setelah memukulinya dengan sangat kejam, mereka mengira bahwa beliau sudah meninggal, lalu meninggalkannya begitu saja. Kemudian polisi membawa tubuhnya sebagai jenazah. Ketika mereka sampai di dekat rumah sakit, beliau berkata, “Saya masih hidup. Tolong antar saya ke tempat tertentu.” Para dokter pun memeriksanya dan mereka juga merasa heran bagaimana beliau masih bisa hidup. Namun Allah Taala memang berkehendak untuk mempertahankan hidupnya. Setelah peristiwa itu, beliau masih hidup lebih dari tiga puluh tahun lagi. Meskipun mengalami luka-luka tersebut, beliau tetap aktif.
Beliau kemudian berkata kepada polisi, “Antarkan saya ke Peshawar.” Sementara itu polisi di sana juga bersikap memusuhi, sehingga membawa beliau ke sana pun menjadi sulit. Namun terkadang ada juga manfaatnya bagi sebagian orang bahwa jika polisi diberi uang, urusan bisa menjadi mudah. Maka beliau berkata kepada mereka, “Ambillah uang yang kalian inginkan dari saya, tetapi antarkanlah saya ke sana.”
Akhirnya petugas polisi yang menjadi perwira di sana menyetujui hal itu dan mengantarkan beliau ke Peshawar. Setelah itu beliau datang ke Rabwah, mendapatkan perawatan, dan dengan karunia Allah Taala beliau diberi kehidupan baru. Padahal sebelumnya beliau sedang dibawa ke kamar mayat sebagai orang yang dianggap sudah meninggal, tetapi Allah Taala kemudian tetap memberi beliau kehidupan selama tiga puluh tahun lagi—dan itu pun kehidupan yang sangat aktif.
Beliau juga pernah tinggal di Belanda dan di sana pun terus melakukan khidmat bagi Jemaat. Pada tahun 1974, para penentang juga pernah menodongkan pistol kepada beliau. Pada saat itu beliau dengan sangat berani berkata demikian ketika para maulvi mengatakan kepadanya, “Bacalah kalimat syahadat dan jadilah seorang Muslim.” Beliau menjawab, “Lā ilāha illallāh Muhammadur Rasūlullāh. Itu sudah saya baca sejak dahulu; itulah iman saya. Jadi bagaimana mungkin saya ‘menjadi’ Muslim lagi?” Mereka lalu berkata, “Tidak, kamu harus memaki Mirza Sahib.” Beliau menjawab, “Saya tidak akan memaki. Itu bukanlah ajaran Islam.” Kemudian beliau berkata lagi, “Saya adalah orang yang membaca sholawat dan mengikuti ajaran Hazrat Rasulullah saw. Saya tidak dapat melakukan perbuatan seperti itu.”
Kemudian beliau berkata bahwa beliau juga menceritakan kepada mereka sebuah peristiwa tentang seorang sahabat. Ketika pada Perang Uhud tersebar kabar bahwa Hazrat Rasulullah saw. telah syahid, sahabat tersebut berkata, “Di antara aku dan surga hanya ada sebutir kurma.” Lalu ia mengambil kurma itu dan melemparkannya ke samping, kemudian sendirian menyerang musuh hingga tubuhnya terpotong-potong.
Beliau berkata, “Peristiwa ini saya ceritakan kepada mereka, lalu saya katakan: ‘Di antara saya dan kalian bahkan tidak ada kurma yang menghalangi—bahkan udara pun tidak—karena kalian sudah menodongkan senapan di dada saya. Kalian tinggal menarik pelatuknya dan saya akan menjadi syahid. Tetapi saya tidak akan mengatakan hal-hal yang kalian minta, yaitu memaki Hazrat Masih Mau‘ud a.s.’” Dengan demikian beliau menunjukkan keberanian yang sangat besar.
Semoga Allah Taala menganugerahkan ampunan dan rahmat-Nya kepada beliau, meninggikan derajat beliau, serta memberi taufik kepada anak-anak beliau untuk terus menegakkan dan melanjutkan kebaikan-kebaikan beliau.
Jenazah ketiga adalah Mukarramah Zainab Bibi Sahibah. Beliau adalah istri dari almarhum Bashir Ahmad Sahib, mantan Sadr Jemaat dan Imam Masjid Chak 275 Kartarpur. Beberapa hari yang lalu beliau wafat pada usia delapan puluh lima tahun. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Dengan karunia Allah Taala, beliau adalah seorang musiah. Ayah beliau, Ali Muhammad Sahib, adalah khadim Masjid Dar-uz-Zikr Faisalabad.
Beliau adalah seorang wanita yang rajin berdoa, rajin melaksanakan tahajud, disiplin dalam melaksanakan salat, serta setiap hari membaca Al-Qur’an. Beliau juga sangat memuliakan tamu dan seorang wanita yang berfitrah baik yang memiliki kecintaan yang mendalam kepada Khilafat. Beliau juga sering membantu orang-orang miskin.
Beliau juga secara teratur mendengarkan khotbah Jumat, bahkan sering memanggil anggota keluarganya untuk berkumpul agar dapat mendengarkannya bersama-sama.
Di antara mereka yang ditinggalkan terdapat tiga orang putra dan empat orang putri. Beberapa cucu beliau adalah waqif-e-zindegi. Salah satu putranya, Tahir Ahmad Saifi Sahib, adalah mubalig yang bertugas di Lusaka, Zambia. Sementara itu, putrinya Ummatur Rashid Sahibah, yang merupakan istri seorang mubalig, juga berada di Lusaka saat ini.
Ketika beliau wafat, putrinya tersebut berada di Lusaka sehingga tidak dapat menghadiri pemakaman ibunya dan tidak sempat melihat jenazahnya.
Semoga Allah Taala menganugerahkan kesabaran kepada keluarganya dan memperlakukan almarhumah dengan ampunan serta rahmat-Nya.[1]
اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهٗ وَنَسْتَعِيْنُهٗ وَنَسْتَغْفِرُهٗ وَنُؤْمِنُ بِهٖ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهٗ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهٗ – وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهٗ -عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ أُذكُرُوْ االلهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
[1] Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Shd., Mln. Fazli Umar Faruq, Shd. dan Mln. Muhammad Hasyim. Editor: Mln. Muhammad Hasyim