Ahmadiyah Medan Hadiri Undangan Komunitas We Read Bahas Dilema Ahmadiyah Di Indonesia

Selasa (13/09) Komunitas “We Read” mengundang Jamaat Ahmadiyah Medan untuk hadir dalam acara diskusi santai via Zoom Meeting yang mengangkat tema “Agama Dalam Negara : Dilema Ahmadiyah  di Indonesia”.  Diskusi santai ini telah menjadi kegiatan rutin komunitas We Read yakni sebuah komunitas tempat berkumpulnya para Dosen muda dari berbagai Perguruan Tinggi di kota Medan bahkan juga dari kota-kota yang lain. Dua pembicara yang mewakili komunitas ini adalah Surya Adi Sahfutra selaku “Tuan Guru” dan Purjatian Azhar selaku “Diplomat” dalam komunitas ini. Dari pihak Ahmadiyah sendiri diwakili oleh Mln. Muhammad Idris. Sebanyak 65 peserta terlihat ikut berpartisipasi dalam diskusi yang diadakan secara virtual ini.

Acara langsung dibuka oleh Syaiful Anwar selaku moderator. Karena beliau seorang Dosen dan historian sehingga dalam membuka acara diskusi memaparkan dengan detil sejarah Ahmadiyah dari mulai kisah tiga serangkai murid-murid Sumatra Thawalib yang belajar ke India dan pada akhirnya masuk Ahmadiyah hingga awal mula dikirimnya Muballigh Ahmadiyah Qadian yang pertama ke Indonesia hingga perkembangan pergerakan Jamaat Ahmadiyah sampai ke pulau Jawa.

Beliau juga menyampaikan di tahun 1933 terjadi peristiwa debat antara perwakilan Ahmadiyah dengan A.Hasan dan dihadiri oleh ribuan orang tanpa ada keributan dan kericuhan. Perdebatan berlangsung dengan aman, santun tanpa ada emosi kemarahan dari para pembicara maupun hadirin. Dan hal ini tidak dijumpai lagi saat ini sehingga Ahmadiyah acapkali masih menjadi sasaran dari tindakan persekusi oleh sekelompok massa yang mengatasnamakan Islam.

Lalu kemudian moderator meminta Purjatian Azhar untuk mengawali memaparkan pandangannya atas tema diskusi kali ini. Purjatian menyampaikan bahwa perkenalan dengan Ahmadiyah ini sudah sejak lama ketika beliau masih sebagai mahasiswa di Medan dan dilanjutkan saat menempuh pendidikan S2 di Yogya. Hubungan perkenalan dengan Ahmadiyah berlangsung cukup intens. Bahkan beliau sudah pernah mengikuti acara live in di desa Manislor, Kuningan. Beliau menyampaikan bahwa praktek-praktek ibadah yang dilakukan oleh warga Ahmadi sama dengan umat Islam pada umumnya. Nabinya juga sama yaitu Nabi Muhammad (SAW), kitab sucinya jg Al-Quran bukan Tadzkirah. “Hal ini bisa diketahui bila kita semua mau bertabayyun”, ungkapnya. Silahkan coba datangi Masjid Ahmadiyah dimana saja berada mereka pasti akan dengan senang hati menerima dan melayani para tamu dengan baik. Beliau menyampaikan bahwa belajarlah untuk mencari apa yang benar bukan siapa yang benar supaya dapat hidup damai berdampingan dengan yang berbeda.

Pembicara kedua, Mln. Muhammad Idris memaparkan bahwa Ahmadiyah adalah satu Jama’ah dalam Islam yang melaksanakan rukun Islam dan meyakini rukun Iman sama dengan Muslim lainnya. Adapun fatwa MUI yang muncul pertama kali di tahun 1980 seperti yang disinggung oleh moderator tidak melalui proses tabayyun terlebih dahulu. Sampai saat ini tidak pernah ada upaya tabayyun yang dilakukan oleh pihak MUI. Sesuai dengan tema yang diangkat dalam diskusi ini, Mln. Idris sangat menyayangkan persekusi yang terjadi di desa Tempunak, Sintang justru di saat Pemerintah dalam hal ini Kemenag sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan tentang moderasi beragama. Dari Jamaat Ahmadiyah akan selalu mengingatkan Pemerintah dan publik bahwa kebebasan beribadah dan berkeyakinan itu dijamin oleh Konstitusi negara kita. Aparat keamanan juga diminta tegas dalam menegakkan hukum supaya supremasi hukum tdk diabaikan dan diinjak-injak oleh para pelanggar hukum. “Warga Ahmadiyah akan tetap menunjukkan kepatuhan dan ketaatan kepada Pemerintah karena itu bagian dari iman para ahmadi”, ungkapnya dengan tegas. Jangan pernah bermimpi Ahmadiyah akan membalas kekerasan dng kekerasan karena Ahmadiyah punya motto love for all hatred for none. Beliau juga sekilas menjelaskan bahwa motto ini lahir justru di saat Jama’ah Ahmadiyah sedang mengalami persekusi yang luar biasa hebatnya di Paksitan yang dimulai sejak tahun 1974.

Pembicara ketiga Surya Adi Sahfutra selaku Tuan Guru Komunitas We Read lebih menyoroti kurangnya toleransi masyarakat Indonesia atas paham yg berbeda dan ada problem dalam Pemerintah kita yang masih mempertimbangkan mayoritas dan minoritas dalam upaya penegakkan hukum. Bahkan beliau sendiri sangat tdk setuju dng penggunaan istilah “minoritas” karena dari istilah saja sdh terkesan menekan yg jumlahnya lebih sedikit. Beliau juga menceritakan pengalaman beliau saat bergaul dng teman-teman dari Ahmadiyah baik itu saat di Yogya maupun di Medan. Mereka itu komunitas yg terbuka, silahkan datang lgsung dan tabayyun mengenai masalah apapun yg dirasa masih menjadi persoalan utk bisa menerima perbedaan. Berbeda boleh, tidak sepakat dengan ajarannya silahkan, namun yang terpenting bagaimana bisa menerima segala perbedaan itu sehingga dapat hidup berdampingan dengan damai.

Terkait:   “Fadhli Umar Open”, Turnamen Bulu Tangkis Penghapus Sekat-sekat Perbedaan

Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Banyak diantara para peserta yang mengajukan pertanyaan maupun sekedar sharing pada malam itu. Beberapa penanya juga memberikan semangat kepada Jamaat Ahmadiyah untuk terus berjuang dan tidak patah semangat dalam situasi yang saat ini dialami oleh mereka. Purjatian mewakili komumitas We Read menyampaikan bahwa mereka merencanakan untuk bisa silaturahim ke Masjid Ahmadiyah di kota Medan. Rencana ini disambut dengan baik oleh Mln. Idris mewakili Jamaat Ahmadiyah Medan. Acara diskusi yang berlangsung selama 2 jam lebih ini diakhiri tepat pukul 22.00 WIB oleh moderator acara.

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.