RASULULLAH (SAW) DALAM PANDANGAN NON-MUSLIM

RASULULLAH (SAW) DALAM PANDANGAN NON-MUSLIM

Oleh: Ahmad Salam (Sekr. Sanat Wa Tijarot, UK)

اِنَّ فِيْ هٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوْمٍ عٰبِدِيْنَ ۗوَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

“Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah. Dan tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiyya 21: 107-108)

Saya telah diminta untuk menyampaikan beberapa pemikiran berkenaan dengan kedudukan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dalam pandangan non-Muslim.

Sebagai muslim Ahmadi, kita memperoleh karunia untuk mengetahui dengan baik keunggulan dan kemuliaan karakter Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dan kita telah diajarkan sejak masa kanak-kanak untuk mencintai dan meneladani beliau melalui Al-Qur’an, Hadis dan Sunnah.

Tiada keraguan dalam benak kita mengenai kedudukan seorang hamba tercinta Allah Taala ini; beliau adalah manusia terbaik, dan ayat yang saya bacakan tadi memberitahukan secara sempurna bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) merupakan rahmat bagi seluruh manusia, bukan umat Islam saja.

Dalam penelusuran terhadap topik ini, saya mendapati berbagai komentar dari kalangan non-Muslim sepanjang masa. Sangat menarik untuk melihat bagaimana pandangan mereka telah berubah dari waktu ke waktu.

Pada tinjauan pertama, sejumlah komentar bisa dianggap sebagai kritik berbahaya, dengan adanya sedikit pengakuan terhadap karakter Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dan lebih banyak kesimpulan bahwa Islam pada intinya adalah agama kekerasan dan sebuah ancaman terhadap dunia non-Muslim. Sebagai tambahan, kesalahan informasi yang diberikan oleh para ekstrimis selama bertahun-tahun menjadikan perkara ini kompleks dan ambigu. Mungkin ini sebagian alasan kenapa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) telah dan masih disalahpahami secara luas.

Saat ini, sebagai contoh, pandangan para non-Muslim tentang kedudukan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) secara dramatis dipengaruhi oleh perilaku mereka yang disebut muslim yang mengikuti penafsiran mereka sendiri mengenai ajaran Rasulullah saw. Lihatlah Taliban, Boko Haraam atau ISIS dan kita lihat kehancuran jasmani, rohani dan politik yang telah mereka lakukan terhadap wajah Islam dan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam).

Seiring berjalannya waktu, menjadi jelas bahwa sejumlah intelektual non-Muslim sepanjang 1300 tahun yang lalu memperlihatkan rasa kagum yang kuat kepada Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam). Ada kutipan menarik dari seorang sejarawan Amerika John Tolan yang berpendapat bahwa pandangan bangsa Barat terhadap Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) secara pasti didorong atas fakta bahwa:

“Nabi Islam tampil sebagai cermin bagi penulis eropa, yang mengungkapkan rasa takut, harapan dan ambisi mereka yang menempatkan beliau sebagai bagian dari budaya Barat. Jadi, kedudukan beliau telah bergeser secara negatif dan positif tergantung zamannya dan sebagaimana yang kita lihat, siklus ini sendiri telah mengulang sejarah sejak kelahiran Islam hingga hari ini”

Kata-kata ini memberikan gambaran ringkas dari penelusuran saya.

Karena waktu, saya insya Allah hanya akan secara singkat mereview dan menyampaikan studi dan pemikiran sejarah di berbagai periode, mulai dari penulis kontemporer di masa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam). Bisa terlihat bahwa penggambaran Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) itu bervariasi dan kompleks – tentunya kontradiktif – dan lebih memperlihatkan kondisi saat gambaran ini muncul daripada wujud (shallallahu ‘alaihi wasallam) atau Islam.

Dengan kata lain, tulisan non-Muslim Eropa mengenai Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) mungkin mencerminkan obsesi penulis di rumah. Sebagai contoh, saat Perang Salib, pribadi Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dihinakan dan merupakan musuh utama penulis Kristen. Namun, selama Reformasi Protestan, Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) diterima lebih positif, meskipun tidak secara konsisten.

Saya secara singkat juga akan sampaikan di hadapan anda beberapa komentar terbaru, dimana Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) secara jelas dipandang sebagai manusia yang paling berbakat dengan banyak sifat positifnya. Beliau benar-benar dituliskan dengan rasa hormat yang besar.

Kita akan melihat bagaimana perubahan ini bisa terjadi, mungkin karena semakin banyak pandangan para komentator saat ini yang objektif, terinformasi, dan terselidiki dengan baik.

Apapun alasannya, saya dengan rendah hati mempersembahkan tulisan para non-Muslim yang menyelami sebanyak mungkin aspek kepribadian luhur Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam). Khususnya, para komentator dan intelektual non-Muslim di masa sebelumnya dari tidak bisa membedakan antara wujud lelaki ini dan adanya ancaman agamanya.

Teks-teks agama Yahudi tentang Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam)

Sedikit sekali teks-teks terdahulu dalam agama Yahudi yang merujuk atau memiliki catatan tentang Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam). Mereka yang menuliskannya umumnya menolak pendakwaan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) bahwa beliau menerima wahyu samawi serta menyebut beliau sebagai nabi palsu, dan bahkan lebih buruk lagi.

Seorang filsuf Yahudi, Maimonides, dalam bukunya Epistle to Yemen mengatakan bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah bagian rencana Tuhan untuk mempersiapkan dunia demi kedatangan Al-Masih Israili:

“Semua perkataan Yesus dari Nazareth dan dari seorang Bani Ismail ini (yakni Muhammad) yang datang setelahnya hanya untuk meluruskan jalan sang raja messiah.”

Pengetahuan umat kristen tentang Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam)

Pengetahuan umat kristen tentang Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) yang terdokumentasikan awal sekali ditemukan dalam sumber-sumber Byzantium, yang ditulis secara ringkas setelah kewafatan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) pada tahun 632 masehi.

Kemudahan yang dirasakan kekaisaran Ottoman dalam meraih kemenangan militer menimbulkan rasa takut bangsa Barat di Eropa bahwa kesuksesan mereka akan menjatuhkan infrastruktur politik dan sosial mereka dan menyebabkan jatuhnya kekristenan. Ancaman ini tidak bisa diabaikan dan karenanya Perang Salib pun terjadi.

Dengan terjadinya Perang Salib dan peperangan melawan kekaisaran Ottoman selama abad pertengahan, pandangan umat kristen terhadap Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dan Islam menjadi lebih berbahaya. Beliau dianggap sebagai orang yang sesat, lalu memberikan gambaran yang semakin menghina yang tidak bisa, dan hendaknya tidak disebutkan.

Bisa saja disebutkan bahwa komentar tersebut bukanlah bermaksud kasar melainkan tradisi Yunani terhadap penggambaran polemik seorang tokoh yang diyakini menyesatkan orang lain dari jalan kaum Ortodoks.
Tidak diragukan, kaum non-Muslim saat ini khawatir terhadap semakin tersebarnya pesan Islam, dan karenanya para komentator terdahulu ini tidak berani memperlihatkan pandangan yang penuh arti tentang hal itu, atau untuk memuji wujud tersebut, yakni Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam)

Dalam ajaran Yakub, ditulis sekitar tahun 634 Masehi, dalam sebuah dialog antara seorang yang baru masuk Kristen dan beberapa Yahudi, seorang peserta menulis bahwa “saudaranya menuliskan bahwa seorang nabi palsu telah datang di kalangan Saracen.”

Peserta lainnya di dalam buku tersebut menjawab tentang Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam):

“Ia berkata dusta. Karena apakah para nabi datang dengan pedang dan kereta tempur? Tiada yang akan kalian temukan benar dari nabi tersebut kecuali pertumpahan darah.”

Sebeos, seorang uskup dan sejarawan Armenia pada abad ke-7 menulis dalam cara yang sedikit lebih berimbang dan terhormat:

“Muhammad saw mengajarkan mereka untuk mengenal Tuhan Ibrahim, khususnya karena ia diajarkan dan mengetahui tentang sejarah Musa. Karena perintah telah datang dari Yang Maha Tinggi, ia memerintahkan mereka semua untuk berkumpul bersama dan bersatu dalam satu keyakinan, meninggalkan rasa takzim kepada benda yang sia-sia.”

Bisa juga disampaikan bahwa komentar yang lebih positif terhadap Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) muncul dari mereka yang menganggap Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) sebagai penolakan terhadap dominansi, keselewengan dan keserakahan tradisional yang kuat yang agama-agama saat itu miliki.

Ingatlah, ini adalah saat ketika banyak perang sekuler terjadi atas nama agama, namun sebenarnya terjadi demi meraup kekayaan dan ekspansi wilayah.

Pada masa abad pertengahan awal, Kristen sangat memandang sesat agama Islam. Di akhir abad pertengahan, Islam secara khusus dikelompokan bersama penyembahan berhala, dan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dipandang, naudzubillah, memperoleh wahyu syaitan.

Terkait:   MEMENUHI HAK-HAK ORANG LAIN

Pengetahuan tentang Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) yang dimiliki umat Kristen terdokumentasi setelah ekspansi Islam di masa awal. Sungguh, John dari Damaskus adalah orang pertama yang menggunakan istilah “nabi palsu” dalam bukunya “Heresies in Epitome” tahun 750 masehi. Berdasarkan Ensiklopedia Britannica 2007, pengetahuan umat Kristen tentang kehidupan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) hampir selalu digunakan secara kasar.

Sejak abad ke-9 dan seterusnya, biografi yang sangat negatif tentang Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) ditulis dalam bahasa Latin seperti oleh Alvaro dari Cordoba. Begitu pula, tahun 1148, Petrus menganggap Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) sebagai “pseudo-prophet (nabi palsu) yang mengada-adakan keyakinan agama untuk mengejar tujuan utamanya yakni kekuasaan duniawi.”

Pada tahun-tahun belakangan ini, dunia Islam telah diserang, dikejutkan dan dihinakan oleh skandal kartun yang keji di Denmark, Perancis dan bahkan di sini di Inggris.

Namun saya juga sedih mengetahui bahwa kartun pertama tentang Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) muncul di awal tahun 1315. Gambar ini jauh lebih menghinakan dan menyakitkan hati dari apapun yang pernah kita lihat di dalam hidup ini; apalagi hal ini muncul dari kekhawatiran atas meningkatnya pengaruh ajaran indah Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) terhadap agama-agama yang telah ada.

Penghormatan Kaisar Hongwu Dinasti Ming pada Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam)

Mari saya perjelas dengan membandingkan kekhawatiran dan penghinaan umat Kristen terhadap Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam), dengan penghormatan Kaisar Hongwu Dinasti Ming di Cina. Dinasti Ming mendorong dan bertanggung jawab atas tersebarnya ajaran Budha di Cina. Tahun 1375, Kaisar Ming menulis 100 kata-kata pujian terhadap Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam).

“Menyampaikan dan menerima 30 juz kitab samawi, yang secara universal mengubah semua makhluk. Dibantu oleh takdir, melindungi kaumnya. Dalam setiap shalat 5 waktu, ia khusyuk berdoa demi kesejahteraan mereka. Ia bermaksud agar Allah mengingat mereka yang membutuhkan. Membebaskan mereka dari ujian menuju keselamatan, Yang Maha Mengetahui segala yang Gaib. Mulia di atas setiap jiwa dan sukma, bebas dari perilaku tercela apapun. Suatu rahmat bagi seluruh dunia, yang jalannya unggul sepanjang masa. Muhammad adalah wujud suci yang paling mulia.”

Seiring berjalannya waktu, kita temukan lebih banyak pengakuan terhadap Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam). Kurangnya waktu membuat saya tidak bisa menyampaikan lebih banyak kutipan, namun tulisan saya adalah latar belakang perubahan hati dan pikiran ini mencerminkan suatu masa pencerahan sosial, politik, dan filosofi di negara Barat, suatu masa munculnya pendidikan yang berwawasan ketika peran Geraja mulai berubah dan berkurang. Keteladanan sifat Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) disorot secara konstruktif, yang bersinar sangat khas berbeda dari agama-agama yang ada yang telah usang, basi yang terperosok dalam kerusakan.

George Sale

Dalam terjemahan Al-Qur’an berbahasa Inggrisnya tahun 1972, George Sale menulis dengan merujuk pada Spanhemius – seorang penganut Calvinisme Jerman, dan penentang keras Islam, yang telah menyebutkan banyak hal negatif terkait Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Sale menulis:

“Karena betapa jahatnya Muhammad dalam memaksakan agama palsu kepada manusia, pujian atas kebajikannya tidak boleh disangkal; saya juga tidak bisa untuk tidak menghargai keterbukaan Spanhemius yang saleh dan terpelajar, yang walaupun ia menganggapnya sebagai seorang pendusta yang jahat, namun mengakuinya telah diperkaya hiasan anugrah fitrati, indah dalam wujudnya, kecerdasan yang tajam, akhlak yang menyenangkan, kemurahan hati kepada orang miskin, sopan kepada setiap orang, tabah terhadap musuh, dan terutama sekali, rasa takzim terhadap nama Tuhan; seorang pendakwah agung atas kesabaran, kedermawanan, kasih sayang, kemurahan hati, rasa syukur, penghormatan kepada orang tua dan yang lebih dewasa, dan seorang yang selalu menyanjung Tuhannya.”

Kontradiksi dalam analisis Sale sangat mencolok dan tidak perlu komentar lebih lanjut.

Edward Gibbon

Edward Gibbon, sejarawan di pertengahan abad ke-18 dan juga anggota parlemen, menulis:

“Rasul Tuhan turut melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar keluarga, ia menyalakan api; menyapu lantai; memerah susu; dan dengan tangannya sendiri memperbaiki sepatu dan pakaiannya. Ia memiliki pola makan seorang Arab yang ketat tanpa usaha atau sia-sia. Dengan kata lain, ia tidak hanya menanggung kasarnya hidup yang keras ini, namun hal tersebut mengalir secara alami baginya. Ia tidak menjalani jalan petapa atau pelenyapan diri, tidak pula ia memalsukan kesederhanaanya agar mendapatkan pujian dari orang-orang. Di saat-saat khidmat, ia menjamu para sahabat dengan makanan yang sederhana dan banyak. Namun dalam rumah tangganya, berminggu-minggu berlalu tanpa nyala api di dapur.”

Saya rasa kutipan terakhir sangat menyentuh bagaimana hal tersebut mengingatkan kita pada kesederhanaan yang tiada taranya dan kesucian karakter serta teladan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam). Tidak diragukan lagi, saya rasa di sini kita bisa lihat analisis yang lebih berimbang dan penerimaan yang lebih menjanjikan mengenai kedudukan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam)

Thomas Carlyle

Para tahun 1840, Thomas Carlyle, negarawan Inggris, memberikan kuliah dengan judul “The Hero as Prophet” di hadapan para tokoh publik, filsuf, pejabat gereja dan penulis Inggris terkemuka. Carlyle berkata:

“Ini sangat bertentangan dengan teori pendusta, faktanya ia hidup dengan cara yang sama sekali tidak mewah, tenang dan biasa saja. Bagi saya, saya tidak memiliki keyakinan apapun dalam hal teori pendusta itu. Kebohongan ini, fitnah bangsa Barat yang telah ditumpuk di atas pundak lelaki ini, yakni Muhammad saw, hanya memalukan diri kita sendiri.”
Baris terakhir ini menurut saya sama pentingnya karena mencerminkan dan menerima kesalahan para komentator picik sebelumnya.

Carlyle melanjutkan:

“Suatu kondisi lainnya yang jangan kita lupakan yakni ia tidak memiliki pendidikan sekolah atau apapun yang kita sebut sekolah, sama sekali tidak. Kehidupan di padang pasir dengan segala pengalamannya adalah pendidikannya.”

“Bagaimana ia ditempatkan bersama Khadijah, seorang Janda kaya, sebagai penjaganya, dan pergi menjalankan bisnisnya ke pasar Syiria; bagaimana beliau mengatur semuanya, seperti seorang yang memahami dengan baik, dengan kesetiaan dan kecakapan; bagaimana rasa terima kasih dan penghargaan Hadhrat Khadijah kepada beliau tumbuh, kisah pernikahan mereka benar-benar terdengar anggun. Ia tampak hidup dengan cara yang penuh kecintaan, kedamaian, kemakmuran, benar-benar mencintainya dan hanya ia seorang.”

Ini adalah pernyataan yang sangat kuat untuk menyanjung dan juga membela karakter Hadhrat Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) oleh seorang negarawan Kristen terhormat.

Ingatlah bahwa periode ini bisa dibilang puncak kekaisaran Ottoman, bersamaan dengan periode pengaruh kerajaan Inggris, serta meningkatnya perdagangan budak. Bisa dibilang bahwa dunia non-Muslim mulai mengerti dan mengetahui Islam dengan lebih baik. Secara alami akan terjadi bahwa kehidupan dan karya Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dipelajari dan dihargai dengan keadilan dan toleransi yang lebih besar.

Juga bisa menjadi alasan bahwa banyak orang Afrika, yang ditangkap sebagai budak dan dibawa paksa ke amerika, membawa Islam bersama mereka, yang pada gilirannya mendorong beberapa intelektual untuk lebih mempelajari Islam dan pendirinya.

Washinton Irving

Washington Irving, seorang penulis biografi dan diplomat Amerika di pertengahan abad ke 19 menulis:

“Ia sederhana dan memiliki pola makan yang ketat dan seorang yang teguh dalam puasa. Ia tidak tertarik pada kemewahan pakaian dan pikiran picik; tidak pula kesederhanaannya itu dibuat-buat melainkan buah dari sikap tidak acuhnya terhadap rasa hormat kepada hal-hal yang remeh-temeh. Kemenangan pasukannya tidak membangkitkan rasa bangga dan tidak pula rasa angkuh seperti yang akan orang-orang lakukan jika ada terselubung keegoisan. Di masa kejayaannya, ia menjaga kesederhanaan dalam bersikap dan berpenampilan sama seperti saat saat penuh perjuangannya. Sangat jauh dari kondisi layaknya seorang raja, ia tidak senang jika kepadanya diperlihatkan tanda penghormatan yang berlebihan saat memasuki ruangan.”

Bosword Smith

Pada tahun 1888, yang terhormat Bosword Smith, seorang uskup Inggris dan penulis membuat tulisan ringkas – yang orang mungkin sebut suatu analisis khas yang ‘tanpa basa-basi – mengenai Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Ia berkata:

Terkait:   Apakah Nabi Muhammad Mengharapkan Perceraian Zainab dan Zaid?

“Kepala negara dan juga Gereja; ia adalah Kaisar dan Paus yang menjadi satu; namun ia adalah Paus tanpa pretensi Paus, dan Kaisar tanpa pasukan Kaisar, tanpa tentara yang tetap, tanpa pengawal, tanpa pasukan polisi, tanpa pendapatan yang tetap. Jika pernah ada seseorang yang diperintah oleh suatu ketuhanan yang benar, maka itu adalah Muhammad, karena ia memiliki segala kuasa tanpa dukungan mereka. Ia tidak peduli terhadap balutan kekuasaan. Kehidupan pribadinya yang sederhana sejalan dengan kehidupan sosialnya.”

Beberapa pandangan yang baru dibacakan kepada anda ini jelas menunjukan perubahan pandangan non-Muslim terhadap kedudukan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam).

Pemikiran yang objektif dan kritis terus menjadi lebih terkendali dalam pemikiran sejarah Barat; alih-alih hanya menjadi alat yang digunakan penulis abad pertengahan sembari mencari alasan untuk mengkampanyekan serta menyuarakan perasaan anti-Islam, kita melihat perubahan pemahaman selama periode sejarah dunia ini.

Ada pengakuan terhadap keberhasilan luar biasa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dalam membangun dunia Islam, yang dibimbing secara terus-menerus melalui perintah sang Khalik, juga pengakuan terhadap kemampuannya sebagai pemimpin pasukan, sebagai negarawan dan sebagai seorang suami tercinta. Hal ini bukanlah suatu kebetulan melainkan melalui rencana Allah Ta’ala bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) membuat suatu loncatan dari seorang manusia yang mendapat perintah menjadi seseorang yang memiliki pengaruh paling besar dalam sejarah dunia.

Alfonse de Lamartine

Para orientalis adalah orang yang menganggap diri mereka cendikiawan mengenai berbagai persoalan dan bahasa di Asia, yang seringkali berfokus pada Islam dan umat Islam. Alfonse de Lamartine, seorang penulis, politisi, dan orientalis berkebangsaan Perancis menulis pada tahun 1854:

“Tidak pernah ada orang yang secara sengaja atau tidak sengaja menetapkan bagi dirinya, suatu tujuan yang lebih luhur, karena tujuan ini luar biasa; Tidak pernah ada seseorang yang menjalankan suatu pekerjaan sedemikian rupa melebihi kekuatannya dengan sarana yang sangat lemah, karena ia adalah suatu perencanaan dan juga pelaksanaan suatu desain yang begitu hebat yang tidak ada instrumen lain selain dirinya sendiri dan tidak ada bantuan lain selain segelintir orang yang hidup di sudut padang pasir. Jika besarnya tujuan, kecilnya sarana dan hasil yang mengejutkan adalah tiga kriteria kejeniusan manusia, siapa yang berani membandingkan seseorang yang hebat dalam sejarah modern ini dengan Muhammad? Orang-orang terkenal tersebut hanya menciptakan senjata, hukum, kerajaan. Jika ada, mereka mendirikan tidak lebih dari kekuasaan duniawi yang seringkali hancur di hadapan mata mereka. Lelaki ini tidak hanya menggerakan bala tentara, peraturan, kerajaan, rakyat dan dinastinya, melainkan jutaan orang dalam sepertiga dunia yang saat ini dihuni.”

Apa yang De Lamartine lewatkan tentunya fakta yang termasyhur bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dibimbing dan memperoleh taufik dari Allah Taala. Ia tidak pernah sendiri sama sekali.

Dr. Gustav Weil

Dr. Gustav Weil, seorang Kristen yang setia dan juga Orientalis Jerman, menulis pada tahun 1870 dalam buku “History of Islamic Peoples”

“Muhammad adalah teladan yang menyinari kaumnya. Karakternya suci dan tanpa cela. Begitu bersahaja sehingga ia tidak akan menerima tanda takzim khas dari sahabatnya, dan tidak pula ia akan menerima pelayanan apapun dari budaknya terhadap sesuatu yang ia bisa lakukan sendiri. Ia juga diterima semua orang dan di sepanjang waktu. Ia menjenguk yang sakit dan bersimpati kepada semua. Tak terhingga kemurahan hati dan kedermawanannya, begitu pula kepeduliannya terhadap kesejahteraan umatnya.”

Stanley Lane Pole

Pada abad ke-20, saya dapat laporkan bahwa kita temukan semakin banyak pandangan yang baik, khususnya ketika dibandingkan dengan moral di dunia barat yang relatif menurun. Stanley Lane Poole, seorang orientalis Inggris berkata dalam “Speeches and Table Talk of the Prophet” tahun 1920:

“Ia adalah seorang pelindung yang paling setia, paling lembut dan paling menyenangkan dalam berbicara. Mereka yang melihatnya langsung dipenuhi rasa takzim, mereka yang mendekatinya akan mencintainya; mereka yang menggambarkannya akan berkata; ‘saya tidak pernah melihat yang serupa dengannya baik sebelum ataupun sesudahnya’. Ia sangat pendiam namun ketika bicara, ia berbicara dengan penekanan dan pertimbangan, dan tidak ada satupun bisa melupakan apa yang ia katakan.”

Tiga kutipan yang saya bacakan barusan adalah dari non-Muslim. Latar belakang mereka beragam dari politik, diplomat, sampai agama dan mereka memiliki afiliasi keagamaan yang berbeda-beda. Namun, satu kesamaan yang mereka miliki bersama adalah pengakuan mereka, tanpa kualifikasi apapun, terhadap keunggulan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam). Yang terpenting, mereka tidak takut merekam secara terbuka penghargaan dan penghormatan terhadap kedudukan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam).

Mahatma Gandhi

Seorang pemimpin politik dan agama Hindu yang terkemuka, Mahatma Gandhi, yang juga seorang pengagum Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam). Ia menulis dalam “Young India” pada tahun 1924:

“Saya sangat ingin tahu mengenai kehidupan seseorang yang memberikan pengaruh yang kuat terhadap jutaan hati umat manusia. Saya merasa yakin, lebih dari pada sebelumnya bahwa bukanlah pedang yang memenangkan Islam pada hari-hari tersebut. Kesederhanaan yang kokoh, pelenyapan diri yang total nabi tersebut, penghormatan yang cermat terhadap janji, kecintaan yang kuat terhadap sahabat dan pengikutnya, keberaniannya, keyakinan yang absolut kepada Tuhan dan misinya. Inilah dan bukan pedang yang membawa segala sesuatu di hadapan mereka dan mengatasi semua rintangan. Ketika saya menutup jilid kedua (biografi sang Nabi), saya merasa sedih tidak ada lagi yang bisa saya baca tentang kehidupan yang luar biasa tersebut.”

Saya sekarang akan sampaikan kepada anda beberapa kutipan dari para tokoh berpengaruh dan terpandang dari awal atau pertengahan abad ke-20 dan seterusnya. Kita bisa lihat sekarang pergeseran pendapat non-Muslim 180 derajat sejak fitnah pertama hingga penghargaan yang berwibaba terhadap kedudukan khas Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam).

Leo Tolstoy

Seorang novelis terkenal Rusia, Leo Tolstoy, yang karyanya dianggap mempengaruhi Martin Luther King dan Mahatma Ghandi, menulis:

“Muhammad selalu berdiri lebih tinggi daripada kristen. Ia mengajarkan umat Islam untuk tidak menyembah apapun selain Tuhan dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Tidak ada misteri dan rahasia di dalamnya.”

George Bernard Shaw

Penulis Inggris, George Bernard Shaw, seorang ateis yang teguh dan sangat kritis terhadap agama yang terorganisir, khususnya gereja Kristen, menulis di dalam “The Genuine Islam” tahun 1936. Dan sebelum saya bacakan, ini adalah kutipan yang cukup panjang namun saya rasa penting untuk disampaikan semuanya agar kita bisa mengerti sepenuhnya rasa hormat yang seorang intelektual bernama Shaw ini berikan kepada Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Ia menulis:

“Jika suatu agama berkesempatan memerintah Inggris, bahkan Eropa dalam 100 tahun ke depan, maka itu adalah Islam.”

“Saya selalu memiliki rasa hormat terhadap agama Muhammad saw karena semangatnya yang luar biasa. Inilah satu-satunya agama, yang menurut saya, memiliki kemampuan berpadu dengan fase kehidupan yang berubah, yang bisa membuatnya sendiri menarik di setiap zaman. Saya telah mempelajari wujud Muhammad, seorang lelaki luar biasa dan menurut saya, jauh dari menjadi seorang anti-Kristus, ia pastilah disebut penyelamat umat manusia.”

“Saya yakin bahwa jika seseorang sepertinya memikul kepemimpinan dunia modern, ia akan berhasil dalam memecahkan berbagai masalah dengan cara yang akan memberikan kedamaian dan kebahagiaan. Saya telah meramalkan tentang agama Muhammad saw bahwa agama ini akan diterima di Eropa di masa mendatang karena agama ini mulai diterima di Eropa hari ini.”

“Sejauh ini, ia adalah orang yang paling hebat yang pernah menginjakan kakinya di muka bumi. Ia mendakwakan suatu agama, mendirikan suatu negara, membangun suatu bangsa, meletakan kode moral, memulai banyak reformasi sosial dan politik, membangun masyarakat yang kuat dan dinamis untuk mengamalkan dan menggambarkan ajarannya dan benar-benar menciptakan revolusi dunia pikiran dan sikap manusia di sepanjang masa yang akan datang.”

Deskripsi yang menggetarkan dari seorang penentang agama yang kokoh menegaskan besarnya rasa takzim dan hormat yang dimiliki bahkan oleh seorang yang sangat skeptis ini terhadap Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam)

Terkait:   Apakah Rasulullah Memerintahkan Memerangi umat Yahudi?

Annie Besant

Begitu pula, kita peroleh suatu kutipan pada tahun 1932 oleh Annie Besant yang saya rasa penting, karena ia adalah seorang advokat yang gigih terhadap hak asasi wanita; kita mengetahui dengan baik bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah seorang pejuang hak asasi wanita yang tiada tara, suatu kehormatan yang diberikan kepada dunia 1300 tahun yang lalu oleh Islam.

Besant menulis:

“Tidaklah mungkin bagi seseorang yang mempelajari kehidupan dan karakter seorang nabi besar dari Arab ini, yang mengetahui bagaimana ia mengajarkan dan bagaimana ia hidup, lalu tidak merasakan apapun kecuali rasa takzim terhadap nabi tersebut, salah seorang utusan agung dari Yang Maha Kuasa. Dan walaupun di dalam apa yang saya sampaikan ini, saya mengatakan hal yang sama dengan yang lain, namun saya sendiri merasa bahwa setiap kali saya kembali membacanya, muncul suatu rasa kagum baru, suatu rasa takzim yang baru terhadap guru besar dari Arab ini.”

William Montgomery Watt

Seorang orientalis terkenal, William Montgomery Watt, seorang Anglikan yang teguh, yang dilatih untuk menjadi seorang pendeta, menulis pada tahun 1956 dalam bukunya “The Holy Prophet at Medina”:

“Semakin banyak seseorang merenungkan sejarah Muhammad saw dan Islam di masa awal, semakin takjub ia terhadap besarnya pencapaiannya. Keadaan memberinya kesempatan seperti yang dimiliki segelintir orang, namun lelaki ini sepenuhnya cocok dengan zamannya. Jika bukan karena bakatnya sebagai seorang nabi, negarawan, dan pemimpin dan di balik semua ini, keyakinannya kepada Tuhan dan keimananya yang teguh bahwa Tuhan telah mengutusnya, suatu babak penting dalam sejarah umat manusia akan tetap tidak tercatat.”

Ini hanyalah sedikit kutipan yang mencerminkan bagaimana kedudukan baru Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dan merefleksikan bagaimana hal ini berubah dari waktu ke waktu.

Michael Hart

Suatu contoh menarik lainnya mengenai penerimaan yang sulit dipercaya terhadap kedudukan tinggi Hadhrat Rasulullah ditulis oleh Michael Hart dalam karyanya yang terkenal “The 100, A Ranking of the Most Influential Persons in the History”. Hart adalah seorang astrofisikawan, peneliti kehidupan asing dan seorang separatis putih dan nasionalis.

Sungguh suatu karakter yang paling menarik! Hart menulis:

“Pilihan saya terhadap Muhammad untuk menduduki peringkat teratas dalam daftar orang yang paling berpengaruh di dunia mungkin membuat kaget beberapa pembaca dan mungkin yang lain mempertanyakannya, namun ia adalah satu-satunya orang dalam sejarah yang benar-benar sukses di level agama dan sekular…”

“… Bagaimana orang akan menghitung dampak menyeluruh yang Muhammad saw berikan terhadap sejarah manusia? Awalnya tampak aneh bahwa Muhammad saw telah ditempatkan lebih atas dari Yesus. Ada dua alasan mendasar untuk keputusan ini. Pertama, Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) memainkan peran yang jauh lebih penting dalam perkembangan Islam daripada yang Yesus lakukan dalam perkembangan Kristen…”

“… Muhammad saw bertanggung jawab terhadap teologi Islam dan dasar-dasar etika dan moralnya. Selain itu, ia memainkan peran penting dalam menarik orang-orang kepada agama baru tersebut dan dalam menegakan amalan agama Islam. Dan pengaruhnya masih lebih besar daripada pengaruh Yesus dan St. Paul disatukan terhadap kekristenan. Khusus dalam level agama, kemungkinan besar Muhammad saw tampak memiliki pengaruh yang sama dengan Yesus dalam sejarah manusia…”

“… Kesiapannya memperoleh persekusi demi keyakinannya, karakter orang-orang yang beriman padanya dan memandangnya sebagai seorang pemimpin, dan hebatnya pencapaian tertingginya.”

Mengingat bahwa saya menyinggung latar belakang Hart sebagai seorang separatis putih, seseorang tidak akan bisa menahan diri untuk merenungkan bagaimana ia bahkan telah menulis dengan penuh bijaksana untuk menjelaskan kenapa ia meninggikan kedudukan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) di puncak daftar 100 orang paling berpengaruh tersebut.

Dalai Lama

Dalai Lama, kepala biksu Agama Buddha di Tibet yang mengenal kualitas Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) berkata:

“Kehidupan Muhammad adalah teladan terbaik bagi seluruh umat manusia. Kita hendaknya mengikuti jalan yang diperlihatkan oleh sang nabi. Demi membangun kedamaian global dan mengakhiri terorisme serta tirani dari dunia, pesan kedamaian, kecintaan, keadilan dan toleransi agama yang nabi tersebut bawa akan selalu menjadi cahaya yang membimbing seluruh manusia.”

Pendek kata, saya akan berikan kepada anda pemikiran berikut ini: Arthur Schopenhauer, seorang filsuf Jerman, berkata, “Semua kebenaran melalui 3 tahapan. Pertama, ia akan ditertawakan, kedua ia akan ditentang habis-habisan. Ketiga ia akan diterima karena terbukti dengan sendirinya.”

Adalah adil untuk mengatakan bahwa pernyataan ini berlaku terhadap pengakuan para non-Muslim mengenai kedudukan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam). Kita telah melihat bahwa di masa awal agama Kristen dan Yahudi, Islam dan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) menjadi sasaran serangan yang berkelanjutan dan menyakitkan hati karena adanya ancaman yang dirasakan dari agama baru yakni Islam. Ketika ancaman ini mereda setelah bertahun-tahun, maka analisis tentang kehidupan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) menjadi jauh lebih objektif, bijaksana, terselidiki dengan baik dan saling melengkapi ketika para intelektual dan pemimpin pemikiran mengenal banyaknya kualitas dan karakter mulia Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam)

Para Muslim Ahmadi mendapatkan karunia untuk mengetahui bahwa seorang pecinta yang paling agung dan mulia dari Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah Al-Masih dan Mahdi yang dijanjikan, yakni Hadhrat Masih Mauud as.

Perasaan dan emosi yang Hadhrat Masih Mauud as ungkapkan berkenaan dengan majikan dan kekasihnya merupakan suatu samudra kecintaan, kehormatan, dan ketaatan total yang tak bertepi. Dengan penuh keyakinan bisa dikatakan bahwa kecintaan yang Hadhrat Masih Mau’ud as ungkapkan bagi kekasihnya itu dan cara beliau melenyapkan dirinya sendiri dalam kecintaan ini adalah sesuatu yang tidak bisa ditemukan di sepanjang sejarah manusia.

Saya akhiri dengan sabda yang membangkitkan semangat dari Khalifah tercinta kita, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba:

“Semoga Allah memberikan taufik agar dunia dapat memahami dejarat wujud terbaik ini. Alih-alih menentang dan menghina, semoga mereka berusaha untuk berpegang pada jubahnya dan berada di bawah perlindunganya sehingga mereka dapat diselamatkan dari hukuman Tuhan. Satu-satunya sarana keselamatan pada hari ini adalah Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Setiap penulis yang adil dan setiap non-Muslim yang jujur dan saleh akan mengakui hal ini. Kebenaran para nabi sebelumnya memperoleh kesaksian dari Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam). Inilah kedudukan Khataman Nabiyyin yang kita sebagai para Muslim Ahmadi harus sampaikan kepada seluruh dunia dan hendaknya kita berupaya untuk mencapai hal ini.”


Penerjemah: Mln. Hafizhurrahman

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.