Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 81)

Pembahasan seorang Ahlu Badr (Para Sahabat Nabi Muhammad (saw) peserta perang Badr atau ditetapkan oleh Nabi (saw) mengikuti perang Badr). Bahasan lanjutan mengenai Hadhrat Sa’d bin Malik (Abu Waqqash) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.

Beberapa Sariyah (ekspedisi militer) yang diikuti oleh Hadhrat Sa’d bin Abi Waqqash (ra). Tuduhan orientalis Margoliouth terhadap Hadhrat Sa’d bin Abi Waqqash (ra) dan tanggapan Hadhrat Mirza Bashir Ahmad (ra) dalam bukunya, Sirat Khataman Nabiyyin.

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 24 Juli 2020 (Wafa 1399 Hijriyah Syamsiyah/03 Dzulhijjah 1441 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Pada khotbah yang lalu telah saya sampaikan mengenai Hadhrat Sa’d Bin Abi Waqqash radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Beliau ikut serta dalam perang Badr, Uhud, Khandaq, Hudaibiyah, Khaibar, Fath Makkah dan seluruh peperangan lainnya bersama dengan Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Beliau termasuk salah satu pemanah handal Rasulullah.

Berkenaan dengan beliau dikisahkan dalam suatu riwayat, لَمْ يَبْقَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي بَعْضِ تِلْكَ الأَيَّامِ الَّتِي قَاتَلَ فِيهِنَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غَيْرُ طَلْحَةَ وَسَعْدٍ ‏. “Dalam satu peperangan diantara banyak peperangan yang diikuti oleh Rasulullah (saw) pernah tidak ada lagi yang tersisa tetap bersama Rasulullah (saw) kecuali Hadhrat Thalhah dan Hadhrat Sa’d.”[1]

Berkenaan dengan kisah keberangkatan menuju peperangan bersama dengan Rasulullah (saw), Hadhrat Sa’d berkata, إِنِّي لَأَوَّلُ الْعَرَبِ رَمَى بِسَهْمٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَكُنَّا نَغْزُو مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا لَنَا طَعَامٌ إِلَّا وَرَقُ الشَّجَرِ حَتَّى إِنَّ أَحَدَنَا لَيَضَعُ كَمَا يَضَعُ الْبَعِيرُ أَوْ الشَّاةُ مَا لَهُ خِلْطٌ  “Ketika berangkat bersama dengan Rasulullah (saw) menuju suatu peperangan, keadaan kami saat itu adalah kami tidak memiliki sesuatu untuk dimakan, selain dari daun-daun pepohonan. Keadaan kami pada masa itu sedemikian rupa sehingga kami buang air besar bagaikan unta atau kambing buang air besar. Kotoran kami tak ada campurannya apa-apa sehingga tampak kering. Sama sekali tidak lembut.”[2]

Dalam riwayat lain dikatakan, رَأَيْتُنِي سَابِعَ سَبْعَةٍ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مَا لَنَا طَعَامٌ إِلاَّ وَرَقُ الْحُبْلَةِ ـ أَوِ الْحَبَلَةِ ـ حَتَّى يَضَعَ أَحَدُنَا مَا تَضَعُ الشَّاةُ “Makanan kami adalah dedaunan dari pohon Habala atau Hubula, sejenis pohon berduri yang memiliki ranting berdaun.”[3]

Hadhrat Sa’d adalah orang pertama yang mengalirkan darah di jalan Allah dan beliau adalah orang pertama yang melontarkan panah di jalan Allah dan itu terjadi pada Sariyah (ekspedisi militer) pimpinan Hadhrat Ubaidah Bin Harits pada Rabiul Awwal tahun ke-2 Hijriyyah. Menjelaskan mengenai perang tersebut, Hadhrat Mirza Bashir Ahmad menulis dalam Sirat Khatamun Nabiyyin yang mana sebelum ini pernah saya sampaikan juga sebagiannya bahkan saya rasa semuanya, namun saya sampaikan lagi saat ini, “Hadhrat Rasulullah (saw) pada awal bulan Rabi’ul Awwal mengutus sepasukan Muhajirin yang terdiri dari 60-an pasukan pengendara unta dibawah komando kerabat beliau bernama Ubaidah ibn Harits bin al-Muthalib (عُبَيْدَةَ بْنَ الْحَارِثِ بْنِ الْمُطَّلِبِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَيٍّ). Tujuan langkah itu pun adalah untuk menghadapi serangan Quraisy Makkah. Setelah Ubaidah ibn Harits dan pasukannya menempuh perjalanan dan sampai di sebuah tempat bernama Tsaniyatul Murrah (ثَنِيَّةِ الْمُرَّةِ), mereka berhenti di sana.” (Tsaniyatul Murrah terletak diantara Makkah dan Madinah dan pada saat Hijrah, Nabi (saw) melaluinya.) “Pasukan Muslim melihat 200 pasukan muda Quraisy bersenjata lengkap di bawah komando Ikrimah ibn Abu Jahl yang sedang berkemah.         

Kedua pasukan saling berhadapan dan saling melontarkan anak panah, namun pasukan musyrik ketakutan sembari beranggapan bahwa di belakang pasukan Muslim masih ada pasukan Muslim lain yang bersembunyi sebagai bala bantuan. Pasukan Musyrik lalu mundur. Pasukan Muslim tidak mengejar, namun dari antara pasukan musyrik, ada dua orang bernama Miqdad ibn Amru dan Utbah ibn Ghazwan yang melarikan diri dari pasukan yang dikomandoi oleh Ikrimah ibn Abu Jahl itu lalu bergabung dengan pasukan Muslim. Mereka bergabung dengan pasukan Quraisy untuk tujuan tersebut yakni ketika mendapatkan kesempatan bergabung dengan pasukan Muslim, mereka segera bergabung dengan umat Muslim karena hati mereka sudah Muslim. Akan tetapi, disebabkan kelemahan diri dan takut kepada orang Quraisy, mereka tidak dapat berhijrah.”[4]

Pada bulan Jumadil Ula tahun ke-2 Hijriyyah, Rasulullah (saw) menetapkan Sa’d Bin Abi Waqqash bersama satu pasukan yang terdiri dari 8 Muhajirin lalu memberangkatkan mereka ke Kharrar untuk mencari informasi mengenai pergerakan Quraisy. Kharrar merupakan suatu daerah di dekat Juhfah di Hijaz. Mereka pergi ke sana namun tidak bertemu dengan musuh.

Selanjutnya ialah Sariyah Hadhrat Abdullah Bin Jahsy pada bulan Jumadil Akhir. Dalam peperangan tersebut Hadhrat Sa’d juga ikut serta. Hal ini pernah juga saya sampaikan pada khotbah yang lalu namun saya akan sampaikan menurut Sirat Khatamun Nabiyyin secara singkat: “Rasulullah (saw) bermaksud untuk mengetahui pergerakan Quraisy dari dekat supaya dapat diperoleh berbagai informasi pada waktunya sehingga Madinah dapat terjaga dari serangan mendadak. Dalam rangka tugas tersebut Hadhrat Rasulullah (saw) mempersiapkan satu grup yang terdiri 8 orang Muhajirin dan memberangkatkan mereka. Rasulullah (saw) menggunakan strategi mengutus orang-orang yang berasal dari berbagai kabilah Quraisy supaya mendapatkan kemudahan dalam mencari informasi perihal rencana rahasia kuffar Quraisy. Rasulullah (saw) juga menetapkan sepupu beliau dari jalur ibu bernama Abdullah bin Jahsy sebagai ketuanya.

Beliau (saw) pun tidak memberitahukan kepada komandan pasukannya perihal ditugaskan kemana dan untuk apa pasukan ini. Untuk itu Rasulullah (saw) menitipkan surat yang tertutup rapat kepada ketua Sariyyahnya dan bersabda, ‘Di dalam surat ini tertulis petunjuk bagi kalian, ketika kalian sampai di suatu tempat yang jaraknya dua hari perjalanan dari Madinah, bukalah surat ini dan amalkanlah sesuai dengan petunjuk surat ini.’

Abdullah bin Jahsy dan kawan-kawannya berangkat sesuai dengan perintah Rasulullah (saw). Setelah menempuh perjalanan dua hari, Abdullah membuka surat petunjuk Rasulullah (saw) yang di dalamnya tertulis, ‘Pergilah kalian ke lembah Nakhlah yang berada diantara Makkah dan Thaif, di sana carilah informasi mengenai Quraisy lalu kabari kami.’

Di bawah surat itu Nabi (saw) juga menyuruh menuliskan, ‘Setelah mengetahui misi ini, jika ada diantara kawanmu yang enggan untuk terus bergabung dalam grup ini dan ingin pulang maka diizinkan untuk kembali lagi.’

Kemudian Abdullah menyampaikan petunjuk Rasulullah (saw) kepada kawan-kawannya dan semuanya sepakat untuk mempersembahkan diri dengan senang hati dalam melaksanakan tugas ini. Grup tersebut lalu berangkat ke Nakhlah.”[5]

Hadhrat Mirza Bashir Ahmad (ra) menulis berkenaan dengan seorang Orientalis yang bernama Mr. Margoliouth. Demi menimbulkan keraguan, Margoliouth telah menulis bahwa Sa’d bin Abi Waqqash dan Utbah secara sengaja meninggalkan unta-unta sehingga dapat menjadi alasan mereka untuk tetap tertinggal di belakang.[6] Hadhrat Mirza Bashir Ahmad (ra) membantah tuduhan tersebut dengan menulis: “Setiap kisah kehidupan dari pribadi-pribadi pengabdi Islam ini yang rela dan siap sedia mempersembahkan jiwa mereka demi Islam merupakan saksi bagaimana keberanian dan pengabdian mereka. Salah satu dari mereka (Utbah) syahid di tangan Kuffar pada peperangan Bir Maunah. Sahabat yang kedua (Sa’d bin Abi Waqqash) telah berperan penting dalam peperangan yang sangat berbahaya (Perang Qadisiyyah pada zaman Khalifah Umar ra) dan akhirnya dapat menaklukan Iraq. Maka dari itu, meragukan ketulusan orang-orang yang seperti mereka itu, khususnya ketika keraguan tersebut dibentuk dari hal-hal yang diada-adakan memang buatan Margoliouth sendiri. Ironisnya, di dalam bukunya Mr. Margoliouth sendiri telah menulis: ‘Buku yang saya tulis ini sepenuhnya bebas dari berbagai macam prasangka dan kebencian.’”

“Kumpulan kecil umat Muslim ini akhirnya sampai di Nakhlah lalu mulai melakukan tugasnya untuk mencari informasi tengan apa saja rencana kaum kuffar Makkah. Demi merahasiakan misi itu, sebagian dari mereka bahkan mencukur habis rambutnya supaya orang-orang melihat mereka tidak merasa curiga dan menyangka mereka tengah melakukan umrah.

Namun, belum lama mereka sampai di Nakhlah, tiba-tiba datanglah kafilah kecil Quraisy yang tengah melakukan perjalanan ke Makkah dari Thaif. Kedua grup itu saling berhadapan. Walhasil, kafilah itu mengetahui ini adalah grup Muslim. Mereka pun bersiap untuk bertempur dengan pasukan Muslim.

Pasukan Muslim lalu bermusyawarah apa yang harus dilakukan saat itu karena Rasulullah (saw) mengirim mereka untuk mencari informasi secara diam-diam dan bukan untuk bertempur. Sementara itu, di sisi lain pertempuran dengan Quraisy hampir terjadi karena mereka saling berhadapan.

Setelah mempertimbangkan semua itu keenam sahabat ini memutuskan untuk menyerang atau menawan kafilah tersebut atau membunuh. Akhirnya pasukan Muslim menyeru nama Allah lalu menyerang mereka yang mengakibatkan terbunuhnya seorang dari kalangan Kuffar yang bernama Amru bin Al-Hadhrami dan dua orang lainnya ditawan. Namun, yang keempat melarikan diri dan pasukan Muslim tidak berhasil menangkapnya. Dengan demikian usulan untuk menyerang dan menawan itu telah berhasil. Setelah itu pasukan Muslim menguasai harta kafilah. Karena satu orang berhasil kabur sehingga kabar pertempuran itu akan segera menyebar di Makkah maka Abdulah bin Jahsy dan kawan-kawannya segera membawa tawanan dan harta rampasan itu dan kembali ke Madinah.

Ketika Rasulullah (saw) mengetahui pasukan Muslim menyerang kafilah, beliau sangat murka sebagaimana dalam riwayat dikatakan bahwa ketika pasukan Muslim ini menghadap kepada Rasulullah (saw) dan beliau mengetahui seluruh kejadian, beliau sangat marah lalu bersabda, ‘Saya tidak memerintahkan kalian untuk berperang di bulan suci.’

Rasulullah (saw) menolak untuk menerima harta rampasan. Atas hal itu Abdullah dan kawan-kawannya merasa sangat menyesal dan beranggapan, ‘Saat ini kita telah binasa disebabkan oleh murka Tuhan dan marah Rasul-Nya.’

Mereka sangat ketakutan. Para sahabat lain pun marah dan mengatakan, ‘Kalian telah melakukan perbuatan yang tidak diperintahkan dan kalian juga telah bertempur pada bulan yang diharamkan padahal dalam misi tersebut kalian tidak diperintahkan untuk bertempur.’

Di sisi lain, kaum Quraisy pun meributkan umat Muslim telah melanggar kesucian bulan Haram disebabkan yang terbunuh ialah Amru bin Al-Hadhrami, seorang tokoh Quraisy…

Dalam masa itu ada dua orang utusan Quraisy yang datang Madinah untuk membebaskan dua kawannya yang ditawan pihak Muslim dari suatu kafilah. Namun karena Sa’d bin Abi Waqqash dan Utbah – yang mana mereka kehilangan unta pada peristiwa sebelumnya – masih belum kembali. Hadhrat Rasulullah (saw) sangat khawatir berkenaan dengan kedua sahabat tersebut, yakni jika mereka berada di tangan kaum musyrik maka mereka tidak akan selamat. Karena alasan ini, Rasulullah (saw) menolak untuk memulangkan dua tawanan kuffar itu. Ketika utusan kaum Kuffar datang untuk menjemput kawannya itu, beliau bersabda, ‘Jika kedua orang sahabat saya itu kembali ke Madinah dengan selamat maka akan saya lepaskan kawan kalian ini.’

Ketika kedua sahabat itu kembali, beliau melepaskan kedua tawanan itu dengan mengambil jaminan. Namun, salah seorang diantara kedua tawanan itu sangat terkesan dengan akhlak mulia Rasulullah (saw) dan kebenaran ajaran Islam sehingga meskipun telah dibebaskan ia tidak mau kembali lalu baiat kepada Rasulullah (saw). Pada akhirnya beliau syahid pada peristiwa Bir Maunah.”[7]

Dalam menjelaskan keadaan sebelum perang pada perang Badr, Hadhrat Mirza Bashir Ahmad menulis dalam Sirat Khatamun Nabiyyin, “Rasulullah (saw) mulai berangkat menuju ke Badr dengan cepat. Ketika beliau (saw) sampai di dekat Badr, disebabkan suatu pemikiran yang tidak dijelaskan dalam riwayat-riwayat, Rasulullah (saw) meminta Hadhrat Abu Bakr duduk di belakang beliau (saw) di suatu kendaraan tunggangan lalu berangkat meninggalkan pasukan Islam lainnya. Saat itu beliau menjumpai seorang Badui tua yang dari perkataannya beliau dapat mengetahui bahwa saat itu pasukan Quraisy telah sampai di dekat Badr.

Mendengar kabar tersebut, Rasulullah (saw) kembali lalu mengirim Hadhrat Ali (ra), Zubair bin Awam dan Sa’d bin Abi Waqqash dan lain-lain untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Sebelumnya beliau pergi untuk mencari informasi mengenai kafilah. Setelah diketahui lasykar pasukan akan datang, mereka diutus untuk mencari informasi mengenai lasykar musuh.

Ketika mereka sampai di lembah Badr, tiba-tiba apa yang mereka lihat, beberapa orang penduduk Makkah tengah mengisi air dari sumber mata air. Para sahabat tersebut menyerang orang-orang Makkah tersebut lalu menangkap seorang budak belian kulit hitam dan membawanya ke hadapan Rasulullah (saw). Saat itu Rasulullah (saw) tengah melaksanakan shalat.

Melihat hal itu para sahabat sendiri menginterogasi budak belian itu menanyakan keberadaan orang-orang Quraisy. Budak itu memberitahukan kemah mereka, namun tidak tahu tentang jumlah mereka tepatnya

Ketika Rasulullah (saw) mendengar perkataan itu, setelah selesai shalat Rasulullah (saw) bertanya dengan lemah lembut, ‘Dimanakah posisi lasykar itu saat ini?’

Tawanan, ‘Saat ini lasykar berada di belakang bukit kecil yang ada di bagian depan.‘

Rasul, ‘Berapa jumlah orang dalam pasukannya?’                             

Tawanan ‘Banyak sekali. Tapi, jumlah totalnya saya tidak tahu.’

Rasul, ‘Baik, berapa unta yang disembelih untuk memberi makan pasukan itu?’

Tawanan: ‘Sepuluh unta.’

Sepuluh unta disembelih setiap harinya untuk konsumsi pasukan itu selain yang lain-lainnya. Rasulullah (saw) lalu bersabda kepada para sahabat, ‘Jika yang disembelih 10 unta artinya pasukan itu berjumlah seribu orang.’ Memang benar demikianlah jumlah pasukannya.”[8]

Tampaknya bagian tersebut mungkin telah saya sampaikan sebelum ini.

Berkenaan dengan keberanian Hadhrat Sa’d pada saat perang Badr, dijumpai riwayat bahwa meskipun beliau berjalan kaki pada saat perang Badr, beliau bertempur dengan jiwa ksatria layaknya pengendara kuda. Karena itulah beliau dijuluki Farisul Islam, yaitu penunggang kuda Islam.

Pada kesempatan perang Uhud ketika dalam keadaan kisruh, Hadhrat Sa’d termasuk beberapa orang yang tetap bertahan bersama dengan Rasulullah (saw). Saudara Hadhrat Sa’d bin Abi Waqqash bernama Utbah Bin Abi Waqqash yang ikut serta dari pihak musyrik telah menyerang Rasulullah (saw). Berkenaan dengan kisah tersebut, Hadhrat Khalifatul Masih keempat (rha) bersabda dalam sebuah pidato, “Utbah adalah seorang yang kurang ajar yang telah melukai Hadhrat Rasulullah dan mengakibatkan dua gigi bawah penuh berkat beliau syahid  dan wajah beliau terluka. Saudara Utbah bernama Sa’d Bin Abi Waqqash bertempur dari pihak Muslim. Ketika Hadhrat Sa’d mengetahui kekurangajaran saudaranya, dada beliau dipenuhi dengan bara api dendam. Beliau pernah mengatakan, ‘Sedemikian rupa api dendam bergejolak di dalam diri saya sehingga mungkin saya tidak pernah memliki keinginan yang seperti itu. Setelah dua kali menembus barisan musuh untuk mencapai saudaraku yang zalim itu demi membunuhnya dengan tanganku dan demi mendinginkan gejolak api kemarahan di dada dengan bermaksud mengiris-irisnya (menyerang saudara dia yang telah menyakiti Nabi (saw)), namun setelah melihatku dia selalu melarikan diri dariku layaknya serigala. Pada akhirnya setelah saya bermaksud menembus barisan musuh untuk yang ketiga kalinya, dengan penuh kasih sayang Rasulullah (saw) bersabda kepada saya, “Wahai Hamba Allah! Apakah kamu bermaksud untuk mengorbankan nyawamu?” Disebabkan oleh larangan Hadhrat Rasulullah (saw) tersebut, saya mengurungkan niat.’”

Pada kesempatan perang Uhud, ketika para sahabat yang tetap bersama dengan Rasulullah (saw) tinggal sedikit, Hadhrat Mirza Bashir Ahmad (ra) menulis berkenaan dengan Hadhrat Sa’d Bin Abi Waqqash (ra) pada kejadian itu: “Hadhrat Rasulullah (saw) sendiri yang memegangkan anak panah kepada Hadhrat Sa’d dan Hadhrat Sa’d melontarkan banyak sekali anak panah ke arah musuh. Suatu ketika Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda kepada Hadhrat Sa’d, ‘Wahai Sa’d! Aku rela mengorbankan ibu dan bapakku atasmu, teruslah lontarkan panah.’ Sampai akhir hayat, Sa’d selalu mengulang-ulang sabda beliau (saw) tersebut.”

Dalam suatu riwayat diterangkan bahwa Hadhrat Sa’d Bin Abi Waqqash meriwayatkan, “Hadhrat Rasulullah (saw) pada perang uhud mengeluarkan anak panah dari sarangnya lalu menaruhnya untuk saya dan bersabda, ‘Teruslah lontarkan! Saya rela mengorbankan ibu dan bapak saya demi Anda.’”[9]

Hadhrat Ali meriwayatkan, “Saya tidak pernah mendengar Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam mendoakan untuk rela mengorbankan ibu dan ayahnya demi orang lain selain kepada Hadhrat Sa’d. Hadhrat Rasulullah bersabda kepada Hadhrat Sa’d pada perang Uhud, ‘Saya rela mengorbankan ibu dan bapak saya demi Anda. Wahai pemuda yang tangguh! Teruslah lontarkan anak-anak panah!’”[10]

Perlu juga dijelaskan di kesempatan ini bahwa terdapat catatan kepada saya bahwa selain Hadhrat Sa’d dalam Kitab Tarikh (sejarah) disebutkan ada nama Hadhrat Zubair Bin Awwam (ra) yang kepadanya Rasulullah (saw) pernah bersabda, فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي ‘Fidaaka abi wa ummi’ – “Aku rela mengorbankan ibu dan bapakku atasmu.” Ini tercantum dalam riwayat Bukhari.[11]

Hadhrat Sa’d meriwayatkan dalam menjelaskan peristiwa perang Uhud, “Pada hari Uhud Hadhrat Rasulullah telah menyatukan kedua orang tua beliau bagi saya.” Beliau (ra) mengatakan,  “Diantara kaum musyrik ada seorang pria yang telah menyalakan api guna menyerang kalangan Muslim. Rasulullah bersabda kepada Sa’d, ‘Lontarkanlah terus anak-anak panah! Saya rela mengorbankan bapak dan ibu saya demi engkau.’”

Hadhrat Sa’d berkata, “Saya melontarkan anak panah yang tidak ada kepalanya dan mengenai sisinya yang menyebabkan kematian orang musyrik itu dan tersingkap pakaiannya yang membuatnya terlihat bagian pribadinya. Saat itu saya melihat Rasulullah tertawa bahagia.”[12]

Dalam riwayat lain diriwayatkan dalam kitab-kitab Tarikh (sejarah), “Orang musyrik itu bernama Hiban. Orang musyrik itu melontarkan anak panah dan mengenai pakaian Hadhrat Ummu Aiman yang saat itu tengah memberikan air minum kepada para pasukan yang terluka. Melihat itu Hiban tertawa. Hadhrat Rasulullah (saw) menyodorkan satu anak panah kepada Hadhrat Sa’d dan anak panah tersebut mengenai leher Hiban lalu Hiban jatuh ke belakang sehingga auratnya tampak. Melihat itu Rasulullah (saw) tersenyum.”[13]

Lembaga kita Nur Fundation menerjemahkan Shahih Muslim. Terkait riwayat hadits yang dijelaskan baru saja, terdapat catatan, “Rasulullah (saw) merasa bahagia atas ihsan Allah ta’ala yang telah menyingkirkan musuh berbahaya dengan anak panah yang tidak ada kepalanya.”

Dalam riwayat lain dikatakan,“Pada perang Uhud Hadhrat Sa’d melontarkan seribu anak panah.”[14]

Pada kesempatan Sulh Hudaibiyah, ada beberapa sahabat yang membubuhkan tanda tangan sebagai saksi diatas surat perjanjian yang salah satu diantaranya adalah Hadhrat Sa’d Bin Abi Waqqash.[15] Hadhrat Sa’d memegang salah satu bendera diantara tiga bendera Muhajirin pada kesempatan Fath Makkah.

Pada kesempatan Hajjatul Wida Hadhrat Sa’d jatuh sakit. Dalam meriwayatkan hal tersebut, Hadhrat Sa’d menceritakan, “Saya jatuh sakit ketika di Makkah dan sudah mendekati kematian. Rasulullah (saw) berkunjung ke rumah untuk menjenguk saya. Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah! Saya memiliki banyak harta dan pewaris saya hanya seorang putri. Bolehkah saya menyedekahkan 2/3 dari harta saya?’

Rasul bersabda, لاَ ‘Tidak boleh.’

Saya bertanya lagi, أَفَأَتَصَدَّقُ بِشَطْرِهِ ‘Bagaimana jika ½ (seperdua atau setengah bagian)?’

Rasul bersabda, لاَ ‘Tidak boleh.’

Saya bertanya lagi, فَالثُّلُثِ ‘Bagaimana jika 1/3 (sepertiga)?’

Rasul bersabda, ‘Baiklah. Namun itu pun banyak sekali. Jika Anda meninggalkan anak Anda dalam keadaan berharta adalah lebih baik daripada meninggalkannya dalam keadaan miskin lalu meminta-minta kepada orang lain. Apapun yang Anda belanjakan, Anda akan mendapatkan ganjarannya sampai-sampai suapan yang Anda masukkan ke mulut istri Anda.’” [16]

Saya bertanya,“Wahai Rasulullah! Apakah saya tertinggal di belakang para Sahabat dalam hijrah?”

Rasul bersabda,“Sekalipun kamu tetap tinggal, namun amalan yang kamu lakukan untuk menarik keridhaan Tuhan-lah yang membuat derajat dan martabatmu akan tinggi. Saya berharap, kamu akan hidup sepeninggalku sehingga bangsa-bangsa akan meraih manfaat darimu. Dan sebagian orang akan mengalami kerugian dari tanganmu.”[17]

Daam riwayat lain, setelah itu Rasulullah (saw) bersabda, “Ya Allah! Sempurnakanlah hijrah bagi para sahabatku dan janganlah kembalikan mereka.”[18]

Dalam riwayat lain dikatakan, Hadhrat Sa’d meriwayatkan, “Ketika saya sakit Rasulullah datang untuk menjengukku dan bertanya, ‘Apakah kamu telah berwasiyat?’

Saya berkata, نَعَمْ ‘Iya. Sudah.’

Rasul bertanya, بِكَمْ ‘Berapa?’

Saya jawab, بِمَالِي كُلِّهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ‘Seluruh hartaku di jalan Allah.’

Rasul bertanya jawab, فَمَا تَرَكْتَ لِوَلَدِكَ ‘Iya: Apa yang kamu tinggalkan untuk anak-anakmu?’

Saya jawab, هُمْ أَغْنِيَاءُ بِخَيْرٍ ‘Mereka memiliki banyak harta.’

Rasululah bersabda, أَوْصِ بِالْعُشْرِ ‘Kalau begitu wasiyatkan 1/10 nya.

Hadhrat Sa’d berkata, “Saya terus berkata demikian dan Rasulullah pun terus bersabda seperti itu.”

Hadhrat Sa’d ingin menyedekahkan harta yang banyak dan Rasulullah menasihatkan untuk menguranginya sampai sampai Rasulullah (saw) bersabda, “Wasiatkanlah 1/3 nya dan itu pun banyak sekali.”[19]

Para ulama dan ahli Fiqh beristinbat bahwa wasiyat tidak boleh lebih dari 1/3 bagian.

Berkenaan dengan hal ini Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Hadits hadits mendukung bahwa membagikan seluruh harta selebihnya setelah membelanjakan untuk pengeluaran bukanlah perintah Islami. Hal ini sebagaimana Rasulullah (saw) sabdakan, Artinya, ‘Salah seorang diantara kalian membawa seluruh hartanya untuk disedekahkan dan membuat kecukupan bagi orang lain setelah itu meminta-minta kepada orang lain. Sesungguhnya sedekah itu diberikan dari harta lebih.’[20]

Lebih lanjut bersabda, Artinya, ‘Jika kamu meninggalkan ahli waris dengan harta yang cukup itu lebih baik. Dibandingkan dalam keadaan miskin dan meminta-minta kepada orang lain.’[21]

Begitu juga ada dalam hadits, Hadhrat Sa’d Bin Abi Waqqash meminta izin kepada Rasulullah (saw) untuk membagikan 2/3 (dua pertiga) dari hartanya, namun Rasulullah (saw) melarangnya. Beliau (ra) lalu ingin membagi ½ (seperdua)nya, Rasul pun melarangnya. Beliau (ra) pun meminta izin untuk membagikan 1/3 nya. Rasulullah (saw) mengizinkannya. Namun seiring dengan itu bersabda, ‘Sepertiga (1/3). Sepertiga (1/3)  pun sudah banyak.’

Dengan demikian, pemikiran bahwa Islam memerintahkan supaya harta yang lebih dari yang diperlukan hendaknya didermakan di jalan Allah sama sekali bertentangan dengan Islam dan amalan para sahabat karena amal perbuatan sahabat ialah sebagian mereka mewariskan paska kewafatannya sejumlah ratusan ribu dirham untuk dibagikan kepada para ahli waris mereka.”

Dalam satu riwayat diterangkan bahwa Hadhrat Sa’d bin Abi Waqqash meriwayatkan,“Ketika saya sakit di Makkah, Rasulullah (saw) berkunjung untuk menjenguk saya. Rasulullah (saw) meletakkan tangan di dada saya dan saya merasakan dinginnya tangan beliau sampai ke jantung. Setelah meletakkan tangan Rasul bersabda, ‘Kamu mengalami penyakit jantung, pergi temui Harits Bin Kaldah, saudara Banu Tsaqif, seorang tabib, katakan padanya untuk menumbuk 7 buah kurma Ajwah dari Madinah beserta bijinya lalu minumkan padamu sebagai obat.’”[22]

Dalam satu riwayat dikatakan, “Rasulullah (saw) menetapkan seseorang di Makkah untuk merawat Hadhrat Sa’d. Beliau (saw) menekankan, ‘Jika Hadhrat Sa’d wafat di Makkah, janganlah dimakamkan di Makkah, bawalah ke Madinah dan kuburkan di sana.’”[23]

Dalam menjelaskan kisah Hadhrat Sa’d, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda berkenaan dengan berburu, “Meskipun Rasulullah (saw) sendiri tidak biasa berburu, namun diketahui dari hadits-hadits beliau biasa meminta orang lain untuk berburu. Sebagaimana dalam suatu peperangan, Rasulullah memanggil Sa’d Bin Abi Waqqash dan bersabda, ‘Lihatlah, kijang tengah berjalan, panahlah.’ Ketika Sa’d mulai membidik, dengan penuh kasih sayang Rasulullah meletakkan sikut beliau di pundak Sa’d dan bersabda: ‘Ya Tuhan! Tepatkanlah bidikannya mengenai sasaran.’

Allah ta’ala juga memberikan kehormatan kepada Hadhrat Sa’d yakni Iraq dapat ditaklukan di tangan beliau. Pada kesempatan penggalian Khandaq (parit pertahanan) di sekitar Madinah menjelang perang Ahzab (persekutuan), suatu ketika para sahabat datang ke hadapan Rasulullah (saw) dan berkata, ‘Ada sebuah batu besar di Khandaq yang sulit hancur.’

Rasulullah (saw) berangkat menuju Khandaq kemudian beliau memukulkan tiga pukulan ke atas batu besar itu. Setiap kali batu tadi retak, Rasulullah (saw) mengucapkan Allahu Akbar dengan suara tinggi. Para sahabat pun mengucapkan takbir mengikuti Rasulullah (saw). Setelah memukulkan satu hantaman, Rasulullah (saw) bersabda, ‘Tampak kepadaku istana-istana putih di Madain (ibukora Persia atau Iran) pecah.’[24] Apa yang Rasulullah (saw) saksikan tersebut tergenapi di tangan Hadhrat Sa’d.”

Di sekitar Arab terdapat dua kekuatan besar yakni Kisra (gelar Raja Persia atau Iran) dan Qaisar (gelar Raja Romawi). Satu bagian besar Iraq di bawah kekuasaan Kisra. Istana-istana kerajaan mereka berada di Madain. Peperangan yang terkenal seperti Madain, Qadisiyah, Nahawand dan Jalulah, umat Muslim saat itu dipimpin oleh Hadhrat Sa’d Bin Abi Waqqash. Madain terletak beberapa jauh dari Baghdad-Iraq ke arah selatan di pesisir sungai Dajlah. Karena di tempat ini satu per satu kota bermunculan sehingga itu orang-orang Arab mulai menyebutnya dengan istilah Madain yakni kumpulan banyak kota. Qadisiyah juga merupakan kota di Iraq tempat telah terjadi perang yang terkenal antara pasukan Muslim dan bangsa Farsi (Persia). Perang itu disebut Qadisiyah. Kota Qadisiyah saat ini berjarak 15 mil dari kota Kufah. Nahawand merupakan sebuah kota di Iran saat ini yang terletak 70 km dari Hamdan, ibukota provinsi Hamadan, Iran. Jalulah merupakan kota di Iraq saat ini yang terletak di tepi sungai Dajlatul Aiman (bagian kanan sungai Dajlah). Di tempat tersebut pernah terjadi peperangan antara umat Muslim dan bangsa Persia. Diberi nama Jalulah karena kota ini dipenuhi dengan geletakan mayat-mayat pihak Iran.

Pada zaman Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat al-Mutsanna Bin Haritsah (الْمُثَنَّى بْنُ حَارِثَةَ الشَّيْبَانِيُّ) meminta izin untuk menyerang Persia disebabkan oleh gangguan yang kerap dilakukan oleh pasukan Persia di perbatasan. Hadhrat Abu Bakr mengizinkannya. Hadhrat Abu Bakr mengutus Hadhrat Khalid Bin Walid bersama dengan pasukan yang banyak untuk menolong beliau. Ketika Hadhrat Abu Ubaidah dari negeri Syam meminta bantuan kepada Khalifah, Hadhrat Abu Bakr mengirim surat kepada Hadhrat Khalid untuk pergi menolongnya. Hadhrat Khalid Bin Walid menetapkan Hadhrat Al-Mutsanna sebagai penerusnya di Iraq. Namun seiring dengan perginya Hadhrat Khalid dari Iraq, misi tersebut mereda.

Setelah Hadhrat Umar terpilih sebagai Khalifah, maka mulai lagi perhatian pada misi Iraq. Hadhrat Al-Mutsanna mengalahkan musuh-musuh di Dawiyyah dan dalam peperangan lainnya lalu menguasai satu bagian yang luas Iraq.

Pada saat itu daerah Iraq di bawah kekuasaan Kisra. Setelah pasukan Iran menyadari kekuatan pasukan Muslim secara militer dan kemenangan berkesinambungan pihak Muslim telah membuka mata mereka, maka mereka mendudukkan pewaris asli Kisra, Yazdegerd [juga dieja Yazdgerd III and Yazdgird III] pada tahta kerajaan, bukan Burandukht, Ratu mereka.[25]

Sesudah menempati tahta kerajaan ia kumpulkan segenap kekuatan kerajaan Iran. Ia menyulut api dendam  di seluruh negeri untuk melawan Muslim. Dalam keadaan demikian, Hadhrat Al-Mutsanna terpaksa mundur dari perbatasan Arab. Ketika Hadhrat Umar mengetahui kejadian tersebut, beliau mengutus para orator handal ke berbagai tempat dan memerintahkan umat Muslim untuk bangkit menghadapi Kisra. Akibatnya timbul gejolak di Arab dan para pejuang Islam dari berbagai daerah berdatangan dengan penuh semangat menuju ibukota. Hadhrat Umar meminta musyawarah siapa yang tepat untuk diserahkan tanggung jawab sebagai pemimpin misi ini. Atas usulan orang banyak Hadhrat Umar (ra) siap untuk memimpin sendiri misi ini.

Tapi, Hadhrat Ali (ra) dan para sahabat besar lainnya menolak ide ini. Nama Hadhrat Sa’id bin zaid pun diajukan untuk memimpin misi ini. Pada saat itu Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) berdiri dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Saya mengetahu siapa yang orang yang tepat untuk memimpin misi ini.”

Hadhrat Umar (ra) bersabda, “Siapa orang itu?”

Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) berkata, “Hadhrat Sa’d bin Abi Waqqash ra.”

Setelah itu semua orang sepakat dengan nama Hadhrat Sa’d (ra) dan Hadhrat Umar (ra) bersabda tentang Hadhrat Sa’d (ra), أنه رجل شجاع رام Artinya, “Dia adalah seorang yang pemberani dan pemanah terbaik.”

Hadhrat Al-Mutsanna (ra) bersama 8 ribu pasukan pemberani yang siap mengurbankan nyawanya mempersiapkan segala sesuatunya dan menunggu Hadhrat Sa’d (ra) di wilayah Zi Qar yang terletak antara Kufah dan Wasith, sampai beliau dipanggil Tuhan dan beliau wafat. Sebelumnya beliau menunjuk saudaranya al-Mu’anna (المُعَنَّى بن حارثة الشَّيْبانِيّ) sebagai pemimpin pasukan. Sesuai dengan petunjuk saudaranya, Hadhrat al-Mu’anna berjumpa dengan Hadhrat Sa’d dan menyampaikan pesan Hadhrat Al-Mutsanna kepada beliau. Hadhrat Sa’d kemudian menginpeksi tentaranya yang berjumlah kurang lebih 30 ribu. Kemudian beliau (ra) menyusun pasukannya dan membagi-bagi pasukan yang di kiri dan di kanan lalu menunjuk pemimpin untuk masing-masing kelompok pasukan. Beliau maju dan mengepung daerah Qadisiyah.

Perang Qadisiyah terjadi pada akhir tahun ke-16 Hijriyah. Pasukan Kuffar berjumlah sekitar 280 ribu sedangkan pasukan beliau berjumlah 30 ribu. Pasukan Iran dikomandoi oleh Rustum.

Hadhrat Sa’d mengajak orang-orang kafir pada Islam; dan untuk itu beliau mengutus Hadhrat Mughairah bin Su’bah. Rustum berkata, “Kalian ini orang-orang miskin dan kalian melakukan semua ini untuk menjauhkan kemiskinan kalian. Kami akan memberi kalian sehingga kalian kekenyangan.”

Hadhrat Mughirah menjawab,“Kami mengucapkan labbaik pada seruan Rasulullah (saw)  dan kami mengajak kalian ke arah Tuhan Yang Esa dan Rasul-Nya saw. Jika kalian menerimanya maka itu lebih baik bagi kalian. Kalau tidak maka perang dan pedang yang akan memutuskan antara kalian dengan kami.”

Dengan jawaban itu wajah Rustum dipenusi rasa marah karena awalnya ini semua mereka yang mulai dan mereka ingin berperang.

Hadhrat Mughirah berkata, “Baiklah, sebenarnya kami masih tidak mau berperang, justru kami ingin menyampaikan tabligh dan pesan Islam pada kalian. Tapi jika kalian meginginkan perang maka baiklah, pedanglah yang akan memutuskan.”

Bagaimanapun juga wajah Rustum memerah karena marah dan berkata, “Demi matahari dan bulan – dia seorang musyrik – sebelum subuh kami akan memulai perang dan kami akan melenyapkan kalian semua.”

Hadhrat Mughirah berkata, لا حول ولا قوة إلا بالله ‘Laa haula walaa quwwata illa billaah.’ – Artinya, “Segala kekuatan adalah milik Allah Ta’ala.” Setelah mengucapkan ini beliau menunggangi kuda beliau.

Hadhrat Sa’d mendapatkan pesan dari Hadhrat Umar supaya mereka terlebih dahulu mengajak orang-orang Persia pada kebenaran. Dengan demikian Hadhrat Sa’d mengutus penyair terkenal dan penunggang kuda handal Hadhrat ‘Amru bin Madikarb az-Zabidi (عَمْرو بْن معدي كرب الزبيدي) dan Hadhrat Asy’ats bin Qais Al-Kindi (الأشعث بن قيس الكندي) bersama perwakilan itu.[26] Ketika mereka berhadapan dengan Rustum maka dia bertanya, أين تريدون ‘Hendak kemana kalian?’

Mereka menjawab, صاحبكم ‘Kami ingin menemui tuanmu.’ Dengan begitu terjadilah percakapan secara mendetail antara mereka dan Rustum. 

Salah satu anggota perwakilan ini berkata, إن نبينا قَدْ وعدنا أن نغلب عَلَى أرضكم ‘Nabi kami (saw) menjanjikan pada kami bahwa kami akan menguasai tanah kalian.’

Mendengar itu Rustum membawakan sekeranjang tanah dan berkata, هَذَا لكم من أرضنا ‘Ini tanah kami. Ambillah dan bawalah diatas kepala kalian.’

Hadhrat ‘Amru bin Madikarb segera maju dan memasukkan tanah itu ke dalam kain selendangnya lalu beranjak dari sana. Beliau berkata, تفاءلت بأن أرضهم تصير إلينا ونغلب عليها ‘Ini adalah faal (pertanda) bahwa kita akan menang dan menguasai tanah mereka.’

Kemudian beliau pergi ke istana Kisra (Raja) Iran dan mengajaknya pada Islam. Dengan begitu Raja Iran sangat marah dan berkata, ‘Pergilah kalian dari istanaku. Kalau kalian bukan utusan pasti aku sudah bunuh kalian.’ Kemudian dia memerintahkan Rustum untuk memberi mereka pelajaran yang tidak bisa dilupakan. Pada hari kamis setelah Zuhur gendrang perang pun ditabuh.[27]

Hadhrat Sa’d (ra) mengucapkan narae (seruan) takbir 3 kali dan pada takbir yang keempat perang pun dimulai.  Saat itu Hadhrat Sa’d sedang sakit. Sembari duduk di Qashr ‘Adzib, sebuah tempat tinggi yang aman, beliau (ra) memberi petunjuk pada pasukannya di medan perang.

Berkaitan dengan peristiwa ini Hadhrat Mushlih Mauud (ra) juga menjelaskan, “Di zaman Khilafat Hadhrat Umar (ra), setelah cucu Khusro Parwez yang bernama Yazdegerd bertahta maka di Irak mulailah persiapan-persiapan perang dalam skala luas menentang Islam.[28] Dengan begitu Hadhrat Umar mengirim sebuah pasukan yang dipimpin oleh Hadhrat Sa’d bin Abi Waqqash (ra) untuk menghadapinya. Hadhrat Sa’d memilih Qadisiyah sebagai medan perang dan beliau mengirim petanya ke Hadhrat Umar ra. Hadhrat Umar menyukai tempat itu.

Namun bersamaan dengan itu Hadhrat Umar (ra) juga menulis, ‘Sebelum berperang dengan Raja Iran kamu wajib mengutus satu rombongan perwakilan ke Raja Iran dan ajaklah dia menerima Islam.’

Begitu menerima perintah itu Hadhrat Sa’d mengutus perwakilan untuk menemui Yazdegerd [nama raja Persia waktu itu]. Ketika perwakilan ini sampai di istana Raja Iran maka Raja Iran berkata pada penerjemahnya, ‘Tanyakan pada orang-orang ini, mengapa mereka datang ke sini?’

Ketika penerjemah ini menanyakannya maka pemimpin perwakilan Hadhrat Nu’man bin Muqarrin (النُّعْمَانِ بْنِ مُقَرِّنٍ) berdiri dan menjawab dengan mengabarkan tentang kedatangan Rasulullah (saw) beliau berkata, ‘Rasulullah (saw) memerintahkan kami untuk menyebarkan Islam dan mengajak seluruh orang di dunia masuk dalam agama yang benar. Atas dasar perintah itulah kami hadir di hadapan anda dan mengajak anda untuk bergabung ke dalam Islam.’

Dengan jawaban itu Yazdegerd sangat murka dan berkata, ‘Kalian adalah kaum liar dan pemakan bangkai. Jika kelaparan dan kemiskinan yang memaksa kalian untuk berperang maka saya siap memberi kalian bahan makanan sedemikian rupa sehingga kalian bisa menjalani hidup dengan tenang.’  Padahal peperangan ini semua dimulai dari mereka dan tuduhan pun dilancarkan pada umat Muslim – bagaimanapun juga dia berkata, ‘Saya juga akan memberi kalian pakaian. Ambillah semua ini dan kembalilah ke negeri kalian. Untuk apa kalian bercokol di perbatasan ini, yakni untuk apa kalian menjaga perbatasan. Tinggalkanlah perbatasan dan biarkanlah saya melakukan apa yang saya mau. Kalian hanya akan menyia-nyiakan nyawa kalian berperang dengan kami.’

Ketika dia menyelesaikan kata-katanya maka dari antara perwakilan Islam Hadhrat Mughirah bin Zurarah (المغيرة بن زرارة) bangkit dan berkata, ‘Apapun yang anda katakan tentang kami semuanya benar sekali. Kami memang dulunya orang-orang yang liar dan pemakan bangkai. Hingga ular, kalajengking, belalang dan cicak pun dulu kami makan. Tapi Allah Taala menurunkan karunia-Nya pada kami dan Dia mengirim Rasul-Nya untuk memberi kami petunjuk. Kami beriman padanya dan mengamalkan perintahnya. Sehingga sekarang terjadilah sebuah revolusi dalam diri kami dan semua keburukan yang anda sebutkan itu sekarang sudah tidak ada lagi pada kami. Sekarang kami tidak datang demi suatu keserakahan. Perang kami dengan anda sudah dimulai, keputusannya nanti di medan perang. Keserakahan harta duniawi tidak akan mengurungkan niat kami.’

Mendengar ini Yazdegerd sangat marah dan dia memerintahkan seorang pekerjanya, ‘Pergilah! Bawa sekarung tanah ke sini.’

Ketika karung berisi tanah itu datang maka dia memanggil  pemimpin perwakilan Islam ke depan dan berkata, ‘Karena kalian menolak tawaranku, maka kalian tidak akan mendapatkan apa-apa selain sekarung tanah ini…’[29]

Sahabat itu maju dengan sangat serius. Beliau menundukkan kepalanya dan memikul karung tanah itu di pundaknya. Kemudian beliau melompat dan segera dengan cepat keluar dari istana itu. Beliau berkata pada teman-temannya dengan suara lantang, ‘Hari ini Raja Iran menyerahkan dengan tangannya sendiri tanah negerinya pada kita.’ Kemudian mereka menunggangi kuda dan beranjak dari sana dengan kecepatan penuh.

Ketika Sang Raja mendengar ucapan beliau maka dia mulai gemetar dan beliau memerintahkan penjaganya untuk membawa kembali karung tanah itu dari mereka. Dia berkata, ‘Ini suatu kesialan bahwa aku menyerahkan tanah negriku pada mereka dengan tanganku sendiri.’ Namun saat itu mereka sudah pergi jauh dengan kuda mereka. Pada akhirnya apa yang beliau katakan itulah yang terjadi dan hanya dalam waktu beberapa tahun seluruh Iran dikuasai umat Islam.”[30]

Bagaimana perubahan agung ini bisa terjadi dalam umat Islam? Ini terjadi karena ajaran Quran telah menciptakan suatu revolusi dalam akhlak dan kebiasaan mereka. Ajaran Quran telah menciptakan maut dalam kehidupan mereka sebelumnya sehingga mereka dihantarkan pada perilaku dan akhlaq tingkat tinggi. Sebagai hasilnya mereka menjadi orang-orang yang  menyebarkan Islam dan dengan mengamalkan ajaran Islam, mereka menjadi orang-orang yang membuat orang lain menjadi Muslim hakiki; dan tidak ada rasa takut dan kekuatan apapun yang dapat membuat mereka ciut.

Bagaimanapun juga bagian lain tentang kisah mereka akan saya sampaikan kemudian – masih ada bagian yang tersisa.

Hari ini saya juga akan shalat jenazah ghaib untuk beberapa almarhum. Diantaranya jenazah pertama Mukarramah Busyra Akram Sahibah, istri Muhammad Akram Bajwa Sahib Nazir Talimul Quran dan Waqaf Arzi Pakistan. Beliau wafat pada 25 Maret 2020 dalam umur 66 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rajiun. Dikarenakan keadaan maka saat itu jenazah beliau tidak dishalatkan. Almarhumah dengan karunia Allah Taala adalah musiah. Beliau memiliki 2 putra dan 1 putri. Busyra Akram Sahibah tinggal di Liberia bersama suaminya Mukaram Muhammad Akram Bajwa Sahib selama 15 tahun. Dalam masa itu beliau mendapat taufik berkhidmat sebagai sadar Lajnah Imaaillah Liberia. Pada saat perang berkecamuk di Liberia beliau bersama suami dan anak-anak diahan di barak tentara selama 15 hari.

Muhammad Akram Bajwa Sahib menulis, “Almarhumah menajalani hidup dengan penuh keikhlasan, kesabaran dan kesetiaan bersama seorang wakif zindegi – yakni Akram Sahib – selama 37 tahun. Khususnya ketika saya saya bertugas di Liberia sebagai mubaligh dan amir jemaat, ketika tinggal di sana  selama 23 tahun beliau membantu saya dalam tabligh dan tarbiyat. Beliau menyiapkan makanan untuk tamu dan membantu dalam urusan-ursan jemaat lainnya. Beliau mendapat taufik untuk berkhidmat sebagai sadar Lajnah Imaaillah Liberia. Selama 15 tahun tinggal di Liberia almarhumah beberapa kali menderita malaria dan tipus. Meskipun begitu beliau tetap menemani saya dengan penuh sabar.  Almarhumah memberikan tarbiyat agama terbaik pada anak-anak. Maa syaa Allah 2 putra beliau menjalin hubungan kesetiaan yang kuat dengan jemaat.”

Seorang wakif zindegi yang juga merupakan principal Syuhada School di sana, Manshur Nasir Sahib adalah menulis, “Selama tiga tahun berturut-turut ketika saya masih tinggal sendiri di Liberia, Almarhum menampung saya di rumahnya dan mengkhidmati saya. Beliau memperlakukan saya seperti anak dan adik.”

Semoga Allah Taala menjadikan anak-anak beliau pewaris doa-doa beliau dan memberikan taufik pada mereka untuk melanjutkan kebaikan beliau.  Semoga Allah Taala mengampuni dan mengasihi beliau. aamiin.

Jenazah kedua adalah Iqbal Ahmad Nasir Sahib Pirkoti  dari daerah Krondi kabupaten Khairpur. Beliau wafat pada tanggal 14 Juli 2020 pada usia 82 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilihi raajiuwn. Putra beliau bernama Akbar Ahmad Tahir adalah muballigh yang bertugas di Burkinafaso. Almarhum adalah putra dari sahabat Hadhrat Masih Mauud as yang bernama Nur Muhammad Sahib. Beliau juga adalah cucu dari sahabat Hadhrat Masih Mauud as bernama Mia Imamuddin sahib. Beliau juga adalah keponakan Mia Peer Muhammad Sahi danHafiz Muhammad Ishak Sahib sahabat Hadhrat masih Mauud as. Beliau ambil bagian dalam tugas tugas jemaat dengan penuh antusias. Mendapatkan taufik untuk berkhidmat sebagai sekr Maal untuk masa yang lama. Pernah berkhidmat sebagai zaim Ansharullah, menjadi imam shalat, Murabbi athfal dll.

Saya melihat sejak keci beliau selalu mengumpulkan uang pada kotak terpisah da ketika ditanya beliau menjawab bahwa seiring untuk candah uang uang ini juga saya simpan terpisah supaya dapat membayarkannya tepat pada waktunya. Beliau bertabligh dengan penuh semangat, banyak sekali mubayyin baru dengan perantaraan tabligh beliau. Beliau rajin berdoa, disiplin dalam puasa dan shalat dan tahajjud.

Beliau di Burkinafaso. Menuturkan, setekah saya memelas kepada beliau baru almarhum berkenan berkunjung ke Burkinafaso. Beliau mengikuti jalsah jalsah jemaat dan ijtima. Beliau meneriakkan narae takbir dengan semangat dan membakar ghairat para hadirin dengan begitu beliau merasakan ketentraman. Karena di Pakistan sudah lama tidak ada jalsah jalsah jemaat sehingga hal tersebut membuat diri beliau kehausan akan hal itu. Diantara keluarga yang ditinggalkan adalah istri beliau Bashirah Begum Sahibah, tiga putra dan tiga putri.

Amir dan juga Missionary Incharge Burkinafaso menulis, meskipun beliau menghadapi masalah dalam hal Bahasa namun ketika tiba di Burkinafaso yang notabene berbahasa Perancis, namun Bahasa cinta beliau dapat difahami oleh semua orang, beliau menjumpai setiap orang dengan kasih saying sehingga menimbulkan daya Tarik di hati orang orang. Para penduduk local disin menvceritakan mengenai beliau dengan penuh kecintaan.

Sekretaris Nasional isyaat Bapena Sahib men share foto beliau, paska kewafatan almarhum, beliau menulis bahwa ketika tinggal di Burkinafaso dan berjumpa dengan beliau, saya mendapati almarhm sebagai Ahmadi hakiki ang luar biasa.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan magfirah dan rahmatNya kepada beliau dan menjadikan anak keturunan beliau sebagai pewaris segala doa doa beliau. Putra beliau yang Murabbi tidak bisa menghadiri pengurusan jenazah beliau.

Jenazah ketiga adalah Ghulam Fatimah Fahmidah sahib adalah istri dari Muhammad Ibrahim Sahib, penduduk Mulia Catan daerah Kotli Azad Kashmir. 18 juli 2020 wafat pada usia 72 tahun, setelah melewati masa sakit yang panjang. Innaa lillaahi wa inna ilaihi raajiuwn. Pada tahun 1944 ayah beliau baiat, ayah beliau bernama Neik Muhammad Urf Kale Khan. Sebelum baiat beliau melihat mimpi, dalam mimpi itu beliau berkata: Saya akan pergi untuk menemui seorang wujud suci. Ketika melihat orang suci itu, saya berlari kearah beliau. Orang suci itu bertanya kepada Kale shab: Kale Khan! Kapan kamu akan datang kepada kami? Kale Khan Sahib menjawab: Saya sudah datang.

Setelah itu, ketika melihat photo Hadhrat Muslih Mauud di rumah seseorang, beliau mengenali photo tersebut dan berkata: Orang suci inilah yang saya lihat dalam mimpi itu. Lalu beliau menyatakan baiat melalui surat. Setelah baiat istri beliau berkata: Daftarkan juga saya untuk baiat dan beliau pun baiat.

Kedua suami istri itu mukhlis, begitu pun putri beliau, Fahmidah Fatimah Sahibah, almarhumah mendapatkan pengaruh tarbyat mereka, beliau pun rajin shalat 5 waktu dan tahajjud, rutin tilawat Al Quran. Putra putri beliau sering menyaksikan almarhumah sedang shalat dengan rintihan di malam hari.

Ketika kaum wanita diizinkan [karena keadaan] untuk menghadiri shalat Jumat, beliau biasa hadir di masjid satu jam sebelum shalat Jumat dimulai untuk melaksanakan shalat nafal dan doa.

Beliau sangat berani dan penyabar. Suami beliau dipenjara pada dua kesempatan, pada tahun 1965 dan 1971. Pada kali pertama, untuk waktu yang lama, tidak ada kabar apakah suami beliau masih hidup. Diperkirakan bahwa beliau telah mati syahid dan shalat jenazah ghaib pun telah dilakukan. Meskipun demikian, beliau yakin bahwa suami  beliau masih hidup dan pasti akan kembali. Selanjutnya, Allah Ta’ala menganugerahkan rahmat-Nya dan akhirnya suami beliau kembali setelah dibebaskan.

Selain suami, Muhammad Ibrahim sahib, almarhumah meninggalkan empat putra dan dua putri. Tiga putra adalah Waqf-e-Zindagi. Muhammad Javed sahib berkhidmat sebagai Muballigh di Zambia dan tidak dapat pergi ke Pakistan pada saat kewafatan ibu beliau. Semoga Allah Ta’ala menganugerahi magfirah dan kasih sayang-Nya bagi almarhum dan semoga Dia memberikan taufik kepada putra putri beliau untuk dapat meneruskan kebaikan beliau.

Jenazah berikutnya adalah Muhammad Ahmad Anwar sahib Hyderabadi sahib, yang meninggal pada tanggal 22 Mei [2020] pada usia 94 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuwn. Ahmadiyah masuk kedalam keluarga beliau melalui kakek beliau Sheikh Daud Ahmad sahib. Pada tahun-tahun awal ayah beliau , Muhammad Ahmad Anwar sahib mengirim beliau dan saudaranya, Majeed Ahmad Sahib, untuk menempuh pendidikan di Qadian. Beliau juga mendapakan kemuliaan untuk dapat mengumandangkan adzan di Minaratul Masih.

Sejak awal, Muhammad Ahmad sahib tetap menyertai Hadhrat Khalifatul Masih II (ra). Paska peristiwa perpisahan India dan Pakistan, beliau hijrah [ke Rabwah] bersama Hadhrat Khalifatul Masih II (ra). Beliau juga berkhidmat sebagai pengemudi Hadhrat Khalifatul Masih III (rh). beliau kemudian menyelesaikan pendidikannya, pertama mendapatkan gelar diploma dalam Ilmu Fisika dan kemudian meraih gelar M.A dalam bahasa Urdu dan Islamiat [studi Islam]. Setelah lulus, beliau bertugas di Taleem-ul-Islam College untuk waktu yang lama. Dari 1973-1976 beliau mendedikasikan diri dan berangkat ke Gambia. Dari 1978-1986 beliau mengajar ilmu agama di sebuah perguruan tinggi wanita di Nigeria. Pada tahun 1988 beliau bermigrasi dari Pakistan ke Jerman dan pada tahun 2009 pindah ke Inggris dan menetap di sini. Almarhum memiliki empat putra dan dua putri, yang semuanya sudah menikah. beliau menjabat sebagai Naib Sadr dari dewan Qadha di Jerman dan juga menjabat sebagai Auditor Naib untuk Jamaat Jerman.

Putri beliau, Amatul Majeed Sahiba mengatakan, “Ayah saya adalah perwujudan doa. beliau menganggap shalat, Quran, puasa dan mengkhidmati Khilafat sebagai satu-satunya tujuan hidupnya dan selalu menasehati kami tentang hal yang sama. Semoga Allah yang Maha Kuasa melimpahi rahmat dan pengampunan-Nya bagi almarhum.

Jenazah terakhir adalah Saleem Hasan Al-Jabi Sahib dari Suriah. beliau meninggal pada 30 Juni [2020] pada usia 92,  Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuwn.

Putri beliau, Lubna Al-Jabi dan cucu perempuannya, Hiba Al-Jabi, yang merupakan istri dari Dr Bilal Tahir Sahib, keduanya tinggal di Inggris. Beliau menulis: “Saleem Al-Jabi Sahib lahir di pinggiran Damaskus pada tahun 1928. Saleem Al-Jabi sahib diperkenalkan kepada Ahmadiyah pada usia 18 tahun melalui Abu Zahab Sahib, seorang petani Ahmadi yang sederhana. Setelah itu Al-Jabi sahib berdoa dan dalam mimpi melihat melihat bahwa beliau sedang baiat kepada Hadhrat Masih Mauud as. Selanjutnya Abu Zahab Sahib memberinya terjemahan bahasa Arab dari buku Filsafat Ajaran Islam. Melihat gambar photo Hadhrat Masih Mauud (as), beliau pergi ke Ameer Jamaat Suriah, Munir Al-Hosni Sahib lalu melakukan bai’at. Beliau menghadapi penentangan keras dari ayahnya, namun Al-Jabi Sahib tetap tabah.”

Almarhum kemudian mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Pakistan pada zaman Khilafat Hadhrat Khalifatul Masih II (ra). beliau menghabiskan enam tahun di Rabwah menyertai Hadhrat Musleh Maud (ra). beliau memperoleh pengetahuan agama dan juga belajar bahasa Urdu. Atas instruksi Hadhrat Musleh Maud (ra), beliau menikah di Pakistan dan Hadhrat Musleh Maud (ra) menikahkan beliau. Istri beliau adalah orang Pakistan.

Cucu perempuannya, Hiba Al-Jabi Sahiba, menulis: “Kakek kami selalu menasehati kami dan meluangkan waktu untuk talim dan tarbiyat kami. beliau selalu menekankan pentingnya kemajuan ruhani dan tetap melekat pada Khilafat. ”

Istri beliau meninggal beberapa tahun yang lalu. Beliau memiliki enam anak, salah satu dari anak-anak itu, Dr Naeem Al-Jabi Sahib diculik beberapa tahun yang lalu dan sampai sekarang tidak ada informasi tentang keberadaannya.

Waseem Al-Jabi, ayah dari Hiba Al-Jabi, adalah ahmadi dan tinggal di Polandia. Demikian pula, dua anak perempuan dan laki-laki berada di Suriah. Hiba Al-Jabi Sahiba berkhidmat di Jamaat di sini dan memberikan nasihat yang baik terutama dalam kaitannya dengan terjemahan buku. beliau juga membantu suaminya, Bilal Tahir dalam pekerjaan terjemahannya. Semoga Allah Ta’ala meningkatkan keikhlasan dan kesetiaannya, dan juga menambah pengetahuannya.

Putri beliau, Lubna Abdul Khabir Al-Jabi menulis: “[Ayah kami] selalu melarang kami dari mengikuti bidah. beliau selalu menasihati kami untuk selalu menjalin hubungan dengan Allah SWT dan untuk melakukan tabligh. Beliau banyak membelanjakan harta untuk fakir miskin. ” Banyak keluarga di Lebanon dan Suriah yang baiat melalui Al-Jabi sahib, termasuk beberapa orang Kristen juga.”

Beliau lebih lanjut menulis: “Nasihat terakhir yang beliau berikan kepada kami adalah untuk selalu tetap melekat dengan Khilafat dan selalu mengamalkan setiap perintah saran yang diberikan oleh Khalifah, Beliau menasehati] untuk tidak menunjukkan kelalaian dalam Tabligh, berdoalah dalam segala kondisi dan tidak perlu khawatir atas ketidakadilan yang diterima di jalan kebenaran. “

Umar Al-Aman Sahib, Presiden Jamaat Lebanon, menulis: “Sebelum baiat, kami selalu membaca buku-buku Saleem Al-Jabi sahib yang berisi tanda-tanda munculnya Imam Zaman  dan Jamaatnya yang diberkati. Setelah membaca buku-buku tersebut, beliau menasihatkan kami untuk bai’at.”

Ini merupakan gaya beliau, tidak mesti cara demikian berlaku di setiap situasi. Meskipun demikian, beliau bertabligh dengan cara tersebut, dan karena upaya tabligh beliau, banyak orang yang baiat. Beliau kemudian menyarankan kami untuk menghentikan membaca buku-buku karya beliau dan memerintahkan kami untuk membaca buku-buku karya Hazat Masih Mauud as, para khalifah dan buku-buku Jamaat.

Beliau lebih lanjut menulis: “Sebagai pelopor Ahmadiyah di Lebanon, kami bai’at melaui Al-Jabi Sahib. Kami sangat berterima kasih kepada beliau dan mendoakan beliau. ”

Mu’tazil Qazaq Sahib, yang merupakan warga Suriah tetapi saat ini tinggal di Kanada menulis: “Ketika saya berkhidmat sebagai ketua jemaat lokal di Suriah, saya memiliki kesempatan untuk bertemu Al-Jabi sahib pada banyak kesempatan. Setiap kali topik Khilafat yang dibahas, beliau selalu mengatakan bahwa beliau ingin meninggalkan dunia ini di kaki Khilafat. ”

Meer Anjum Sahib Parwez Muballigh di Arabic desk menulis, kapanpun dikatakan berkenaan dengan nizam Khilafat, beliau langsung patuh dan langsung menzahirkan bahwa apapun yang diperintahkan oleh nizam jemaat kepada saya, saya akan mentaatinya.

Pada tahun 2011 beliau datang dari Syria ke jalsah UK. Beliau mengatakan: saya berkeinginan untuk menghembuskan nafas terakhir di kaki Khalifah dan tidak ada kemuliaan yang lebih dari itu bagi saya. Banyak sekali mubayyin baru dalam jemaat ini dengan perantaraan beliau. Kebanyakan dari antara mereka menjadi Ahmadi yang mukhlis. Banyak diantaranya yang menulis surat kepada saya menyampaikan bahwa kami telah mempelajari banyak hal dari almarhum dan baiat dengan perantaraan beliau.

Jabi Sahib berkata: Hadhrat Maulana Ghulam Rasul Rajiki pernah mengatakan kepada saya terjemahkan buku saya Hayat e Qudsi supaya orang-orang menjadi tahu bagaimana sahabat Hadhrat Masih Mauud as. Almarhum pun menerjemahkan buku tersebut. Bahasa Arab adalah Bahasa ibu beliau selain itu beliau juga faham Bahasa Urdu dan dapat berbicara, begitu juga Farsi dan Bahasa Inggris cukup baik.

Pada tahun 2005 ketika saya (Huzur) menghadiri jalsah Qadian, di sana beliau bermulaqat singkat dengan saya dan menemui dengan sangat rendah hati. Di jalsa UK juga bertemu lagi dengan beliau. Dengan penuh kerendah hatian beliau mengatakan: Saya memiliki keyakinan sempurna terhadap Khilafat Ahmadiyah, begitu juga taat dan patuh sepenuhnya. Doakan saya supaya saya senantiasa terjalin dengan nizam jemaat. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjalinkan anak keturunan beliau dengan kesetiaan sempurna terhadap jemaat dan hilafat dan menganugerahkan magfirah dan kasih sayangNya.

Setelah shalat Jumat nanti seperti yang telah saya katakan atau mungkin belum saya katakan. Setelah shalat jumat nanti saya akan memimpin shalat jenazah untuk para almarhum/ah.              

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Saifullah Mubarak Ahmad (Qadian, Bharat/India). Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Rujukan pembanding: Website www.islamahmadiyya.net


[1] Shahih Muslim (كتاب فضائل الصحابة رضى الله تعالى عنهم), (باب مِنْ فَضَائِلِ طَلْحَةَ وَالزُّبَيْرِ رضى الله عنهما), nomor 2414.

[2] Shahih al-Bukhari, Nomor 3446-3449 tentang Sifat terpuji Sa’d bin Abu Waqqash: (عَنْ قَيْسٍ قَالَ سَمِعْتُ سَعْدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ). Konteks ucapan Hadhrat Sa’d ini adalah ketika beliau menjadi Wali (Amir atau Gubernur) daerah Kufah pada zaman Khalifah Umar (ra), penduduk Kufah mengadu kepada Khalifah bahwa shalat Hadhrat Sa’d (ra) tidak bagus padahal Hadhrat Sa’d (ra) ialah orang ketiga yang masuk Islam di luar keluarga Nabi (saw) dan telah menyertai Nabi (saw) dalam banyak situasi sejak Islam didakwahkan. Warga kota Kufah sejak zaman Khalifah Umar (ra) hingga setelahnya memang punya kebiasaan buruk mengeluhkan dan mengadukan hampir semua Amir yang Khalifah kirim untuk mereka, bahkan yang sahabat dekat Nabi (saw) pun mereka adukan. Ibn al-Athīr (d. 1233 CE) – Usd al-ghāba fī maʿrifat al-ṣaḥāba ابن الأثير – أسد الغابة

[3] Shahih al-Bukhari, Kitab makanan (كتاب الأطعمة), bab apa yang dulu biasa Nabi (saw) dan para sahabatnya makan (باب مَا كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَأَصْحَابُهُ يَأْكُلُونَ), 5412.

[4] Seerat Khatam-un-Nabiyyin, Hazrat Mirza Basyir Ahmad(ra), pp. 328-329.

[5] Sirat Khatamun-Nabiyyin, Hadhrat Mirza Bashir Ahmad (ra): Di tengah jalan, unta Sa’d Bin Abi Waqqash dan Utbah Bin Ghazwan hilang. Ketika melakukan pencarian mereka berdua tepisah hilang dan meskipun diupayakan untuk mencari kedua orang itu namun tidak ditemukan. Sehingga grup tersebut tinggal tersisa 6 orang.

[6] David Samuel Margoliouth dalam bukunya “Mohammed and The Rise of Islām” (Muhammad dan Kebangkitan Islam), G. P. Putnam’s Sons, New York & London, The Knickerbocker Press, Third Edition (1905). Orientalis artinya mereka yang dianggap ahli ketimuran. Ketimuran yang dimaksud ialah dari sudut pandang bangsa Barat (Eropa). Artinya hal-ihwal mengenai bangsa-bangsa di sebelah timur Eropa, yaitu Asia, Arab dan sebagainya menurut orang Barat.

[7] Sirat Khatamun-Nabiyyin, Hadhrat Mirza Bashir Ahmad (ra), pp. 330-334. Nama tawanan yang masuk Islam tersebut adalah Hakam bin Kaisan.

[8] Sirat Khatamun-Nabiyyin, Hadhrat Mirza Bashir Ahmad(ra), pp. 355-356.

[9] Shahih al-Bukhari, Kitab Ekspedisi militer (كتاب المغازى), bab (باب {‏إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلاَ وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ}), 4055.

[10] Jami at-Tirmidzi, Kitab Manaqib (كتاب المناقب عن رسول الله صلى الله عليه وسلم), nomor 4119. Juga tercantum dalam Kitab Hadits yang sama di bagian Kitabul Adab.

[11] Hadis Sahih Al-Bukhari, bahasan mengenai keutamaan para Shahabat (كتاب فضائل أصحاب النبى صلى الله عليه وسلم), No. 3442: dari ‘Abdullah bin Az Zubair bin Awwam – saat itu berumur remaja sekitar 15 tahun – berkata, عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، قَالَ كُنْتُ يَوْمَ الأَحْزَابِ جُعِلْتُ أَنَا وَعُمَرُ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، فِي النِّسَاءِ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا أَنَا بِالزُّبَيْرِ، عَلَى فَرَسِهِ، يَخْتَلِفُ إِلَى بَنِي قُرَيْظَةَ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا، فَلَمَّا رَجَعْتُ قُلْتُ يَا أَبَتِ، رَأَيْتُكَ تَخْتَلِفُ‏.‏ قَالَ أَوَهَلْ رَأَيْتَنِي يَا بُنَىَّ قُلْتُ نَعَمْ‏.‏ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏”‏ مَنْ يَأْتِ بَنِي قُرَيْظَةَ فَيَأْتِينِي بِخَبَرِهِمْ ‏”‏‏.‏ فَانْطَلَقْتُ، فَلَمَّا رَجَعْتُ جَمَعَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَبَوَيْهِ فَقَالَ ‏”‏ فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي ‏”‏‏.‏ “Pada hari perang Ahzab [25 hari pengepungan Madinah oleh sekitar 10.000 pasukan Sekutu suku-suku Arab dan Yahudi], aku dan ‘Umar bin Abu Salamah berada dekat dengan kaum wanita lalu aku melihat-lihat ternyata aku dapatkan Zubair (ayahku) berada di atas kudanya bolak-balik menuju Bani Quraizhah dua atau tiga kali. Setelah kembali aku bertanya, ‘Ayah, aku melihatmu berbolak-balik’. Dia bertanya, ‘Apakah benar kamu melihatku, wahai Anakku?’ Aku jawab, ‘Ya, benar’. Dia berkata, “Karena sebelumnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Siapa yang dapat mendatangi Bani Quraizhah lalu membawa kabar mereka kepadaku?’. Maka aku berangkat dan tatkala aku kembali, aku dapati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyertakan kedua orang tua beliau sebagai tebusan bagiku dengan sabdanya, فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي “Tebusanmu adalah bapak dan ibuku”.

[12] Shahih Muslim, Kitab Fadhailush Shahaabah (كتاب فضائل الصحابة رضى الله تعالى عنهم), bab (باب فِي فَضْلِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ رضى الله عنه), nomor 2412 c.

[13] Kitab al-Maghazi karya Muhammad bin Umar al-Waqidi.

[14] Al-Mustadrak ‘alash Shahihain (المستدرك على الصحيحين), Kitab ekspedisi militer (كِتَابُ الْمَغَازِي وَالسَّرَايَا ), dari Hijrah pertama ke Habsyah (مِنْ كِتَابِ الْهِجْرَةِ الْأُولَى إِلَى الْحَبَشَةِ), nomor 4282.

[15] Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam (السيرة النبوية (ابن هشام)), (أمر الحديبية في آخر سنة ست وذكر بيعة الرضوان والصلح بين رسول الله صلى الله عليه وسلم وبين سهيل بن عمرو), (من شهدوا على الصلح): فَلَمّا فَرَغَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْكِتَابِ أَشْهَدَ عَلَى الصّلْحِ رِجَالًا مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَرِجَالًا مِنْ الْمُشْرِكِينَ أَبُو بَكْرٍ الصّدّيقُ، وَعُمَرَ بْنَ الْخَطّابِ، وَعَبْدَ الرّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ، وَعَبْدَ اللهِ بْنَ سُهَيْلِ بْنِ عَمْرٍو، وَسَعْدَ بْنَ أَبِي وَقّاصٍ، وَمَحْمُودَ بْنَ مَسْلَمَةَ، وَمِكْرَزَ بْنَ حَفْصٍ، وَهُوَ يَوْمَئِذٍ مُشْرِكٌ وَعَلِيّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ وَكَتَبَ وَكَانَ هُوَ كَاتِبَ الصّحِيفَةِ. . Setelah teks perdamaian ditulis, perdamaian tersebut disaksikan sejumlah orang dari kaum muslimin dan kaum musyrikin. Para saksi tersebut adalah Abu Bakr, Umar bin Khaththab, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Suhail bin Amru, Sa’ad bin Abu Waqqash, Mahmud (Muhammad) bin Maslamah, Mikraz bin Hafsh yang masih musyrik ketika itu, dan Ali bin Abi Thalib yang menulis teks perdamaian tersebut.

[16] Shahih al-Bukhari Kitab al-Maghazi (كتاب المغازى), bab Hajjatul Wada’ (باب حَجَّةُ الْوَدَاعِ).

[17] Sunan Tirmidzi hadis nomor 2042.

[18] Shahih al-Bukhari Kitab al-Maghazi (كتاب المغازى), bab Hajjatul Wada’ (باب حَجَّةُ الْوَدَاعِ).

[19] Hadits Tirmidzi Nomor 897.

[20] Jami’ul Bayaan karya ath-Thabari bahasan Surah Al-Baqarah 219-220.

[21] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Doa-doa (كتاب الدعوات), doa diangkat wabah penyakit (باب الدُّعَاءِ بِرَفْعِ الْوَبَاءِ وَالْوَجَعِ).

[22] Sunan Abi Daud, Kitab pengobatan (كتاب الطب), bab Kurma al-‘Ajwah (باب فِي تَمْرَةِ الْعَجْوَةِ), nomor 3875.

[23] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d, 2992. Nomor 2991 menyebutkan: قَالَ : أَيْ رَسُولَ اللَّهِ ، أَمَيِّتٌ أَنَا بِالدَّارِ الَّتِي خَرَجْتُ مِنْهَا مُهَاجِرًا ؟ ، قَالَ : إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ يَرْفَعَكَ اللَّهُ فَيَنْكَأَ بِكَ أَقْوَامًا وَيَنْتَفِعَ بِكَ آخَرُونَ ، يَا عَمْرَو بْنَ الْقَارِيِّ إِنْ مَاتَ سَعْدٌ بَعْدِي فَهَاهُنَا ادْفِنْهُ نَحْوَ طَرِيقِ الْمَدِينَةِ ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ هَكَذَا.

[24] Sunan an-Nasai, (), (), nomor .

[25] Yazdegerd III (juga dieja Yazdgerd III and Yazdgird III) adalah putra Shahriyar atau Shahryar. Ia cucu Khosrow II atau Khosrow Parviz (wafat 628), Raja Persia yang merobek-robek surat dari Nabi Muhammad (saw). Khosrow II dibunuh anaknya sendiri, Shērōē atau Shiruyeh (gelarnya Kavad II), karena memfavoritkan Mardansyah, putra ayahnya dari istri yang lain, Shirin, sebagai calon raja. Shiruyeh (Kavad II) berusaha membunuh seluruh saudara laki-lakinya bahkan panglima setianya demi mengamankan posisinya. Shahriyar, saudara Mardansyah adalah satu pangeran yang selamat. Burandukht atau Borandukht dan Azarmidokht ialah putri Khosrow II dan saudari satu ayah dan ibu dengan Shērōē (Kavad II). Kavad II, meninggal di tahun itu juga ia bertahta karena wabah penyakit. Kavad II digantikan Ardashir III (8 tahun). Ardashir III dikudeta oleh seorang Jenderal. Borandukht dan Azarmidokht bergantian naik tahta setelahnya. Yazdegerd III naik tahta ialah sebagai hasil perjanjian Borandukht dengan Rustum dan para bangsawan lain yang ingin pewaris dari kalangan laki-laki menjadi Raja sementara mereka menstabilkan keadaan.

[26] Nama Al-Asy’ats juga adalah Ma’dikarib, tetapi karena rambutnya yang selalu kusut maka dia dijuluki Al-Asy’ats. Dia tokoh Banu Kindah di Yaman. Setelah murtad dan memberontak pada masa Khalifah Abu Bakr, ia tertawan dan bertaubat kembali masuk Islam serta Khalifah Abu Bakr menikahkan putrinya dengannya. Ketika perang Yarmuk (perang dengan Rumawi pada akhir masa Khalifah Abu Bakr dan awal Khalifah Umar), matanya terluka. Dia salah seorang pejabat Khalifah Ali pada waktu perang Shiffin. Putrinya, Ja’dah binti Asy’ats ialah salah satu dari sekian banyak istri Imam Hasan putra Ali (total 17 atau 18 di waktu berbeda). Al-Asy’ats bin Qais dan Tulaihah adalah dua tokoh penting yang pernah murtad bahkan Tulaihah pernah mengaku Nabi, namun keduanya bertobat. Mereka giat dalam penaklukan Persia di masa dua Khalifah awal.

[27] Kitab Futuhul Buldan, bab yaum Qadisiyah, penulis Ahmad Ibn Yahya al-Baladhuri, wafat antara 278-279 H/892 M, beliau orang Persia dan tinggal di Baghdad.

[28] Khosrow II (Chosroes II; Middle Persian: Husrō(y)), dikenal juga dengan Khosrow Parviz (Bahasa Persia Baru (خسرو پرویز) – “Khusrow sang Pemenang”, Shah (Raja) hebat terakhir Dinasti Sasania di Iran, berkuasa dari tahun 590 hingga 628, dengan masa interupsi satu tahun. Setelah Khosrow II ada tiga Raja Iran yang bergelar Khosrow yaitu Khosrow III, Khosrow IV dan Khosrow V.

[29] Nihaayatul Arab fi Funuunil Adab (نهاية الأرب في فنون الأدب) karya An-Nuwairi (النويري). Di Kitab ini disebutkann bahwa Mughirah bin Syu’bah dan Mughirah bin Zurarah adalah dua orang berbeda dan mereka berdua termasuk anggota delegasi utusan Hadhrat Sa’d bin Abi Waqqash kepada pimpinan pihak Persia.

[30] Pidato mengenai Sejarah Bangsa-Bangsa Islam, bagian awal, h. 203-209 dan tercantum juga dalam Mukaddimah Ibnu Khaldun juz kedua, akhbarul Qadisiyyah, h. 91-94.