Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa seri 39)

Pembahasan seorang Sahabat peserta perang Badr: Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un radhiyAllahu ta’ala ‘anhu

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 19 April 2019 (Syahadat 1398 Hijriyah Syamsiyah/13 Sya’ban 1440 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Baitul Futuh, Morden UK (Britania)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Riwayat sahabat peserta perang Badr yang akan saya sampaikan pada hari ini adalah Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un (عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونِ بْنِ حَبِيبِ بْنِ وَهْبِ بْنِ حُذَافَةَ بْنِ جُمَحَ) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Beliau dipanggil dengan nama Abu Saa-ib. Ibunda beliau bernama Sukhailah binti ‘Anbas (سُخَيْلَةُ بِنْتُ الْعَنْبَسِ بْنِ وهْبَانَ بْنِ حُذَافَةَ بْنِ جُمَحَ). Beliau dan saudara beliau Hadhrat Qudamah (قُدَامَةُ بْنُ مَظْعُونٍ) berwajah mirip. Beliau berasal dari keluarga kalangan Banu Jumah (مِنْ بَنِي جُمَحِ بْنِ عَمْرٍو) yang termasuk kalangan Quraisy di Makkah.[1]

Kisah baiatnya beliau dikisahkan sebagai berikut. Hadhrat Ibnu Abbas (ابْنُ عَبَّاسٍ) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu meriwayatkan, suatu ketika RasuluLlah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam tengah berada di halaman rumah beliau (saw). Saat itu Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un lewat. Beliau tersenyum melihat RasuluLlah (saw). RasuluLlah (saw) bersabda kepada beliau, “Maukah Anda duduk?”

Beliau menjawab, “Kenapa tidak.” Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un duduk di depan Rasul.

Ketika RasuluLlah (saw) tengah berbicara kepada beliau, tiba-tiba RasuluLlah (saw) mengangkat pandangan ke atas dan sekejap melihat ke arah langit. Lalu perlahan-lahan RasuluLlah (saw) menurunkan pandangannya, hingga beliau melihat ke arah tanah di sebelah kanan. Beliau mengalihkan pandangan ke arah lain dari orang yang tengah duduk di depan beliau yakni Utsman lalu menundukkan pandangan. Pada saat itu RasuluLlah (saw) menggelengkan kepala, seolah-olah tengah memahami sesuatu hal. Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un melihat semua pemandangan ini karena tengah duduk di depan beliau.

Tidak lama kemudian, ketika RasuluLlah (saw) selesai dari keadaan tersebut; dan telah selesai apapun keadaan yang nampaknya tengah terjadi kepada beliau saat itu dan apa pun yang dikatakan kepada beliau, secara jelas sesuatu telah disampaikan kepada beliau (saw). Meskipun demikian, Hadhrat Utsman (ra) tidak mengetahui apa yang tengah disampaikan kepada Rasul. Setiap kali Rasulullah (saw) memahami sesuatu yang dikatakan kepada beliau (saw) lalu pandangan beliau (saw) mengarah ke langit, seperti sebelumnya. Pandangan RasuluLlah (saw) tengah mengikuti sesuatu, hingga sesuatu itu menghilang di langit.

Setelah itu, RasuluLlah (saw) mengarahkan pandangan kepada Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un seperti sebelumnya. Lantas Utsman bertanya, “Untuk tujuan apa saya duduk berada di dekat tuan?” Lebih lanjut Utsman berkata, “Apa yang Anda (RasuluLlah (saw)) lakukan pada hari ini tidak pernah saya lihat sebelumnya.”

RasuluLlah (saw) bertanya, “Perbuatan apa yang telah saya lakukan?”

Utsman menjawab, “Saya melihat pandangan tuan mengarah ke langit lalu tuan mengalihkan pandangan dari saya ke arah kanan. Tuan lalu menggelengkan kepala seolah tengah berusaha untuk memahami apa yang tengah disampaikan kepada tuan.”

RasuluLlah (saw) bersabda, “Apakah benar kamu memperhatikan seperti itu?”

Utsman menjawab, “Ya.”

RasuluLlah (saw) bersabda, “Baru saja ketika Anda duduk di dekat saya, utusan Allah telah datang membawa pesan bagi saya.”

Utsman bertanya, “Utusan Tuhan [malaikat]?”

RasuluLlah (saw) menjawab, “Ya.”

Utsman bertanya, “Apa yang ia katakan?”

Nabi (saw) menjawab, “Dia menyampaikan bahwa Allah berfirman, إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَInnallaaha ya’muru bil adli wal ihsaan wa iitaaidzil qurbaa wa yanhaa anil fahsyaa-i wal munkar wal baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkaruun.’”Artinya, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian berbuat adil dan ihsan, memberi kepada karib kerabat, dan Dia melarang kita dari perbuatan keji dan mungkar, serta pembangkangan. Demikianlah Allah mengajari kalian, agar kalian mengambil sebaik-baik peringatan.”

Utsman mengatakan, فَذَلِكَ حِينَ اسْتَقَرَّ الإِيمَانَ فِي قَلْبِي وَأَحْبَبْتُ مُحَمَّدًا “Itulah waktunya keimanan mulai terpatri di dalam hati saya dan saya mulai menyintai Muhammad (saw).”[2]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda berkenaan dengan masa awal paska pendakwaan kenabian RasuluLlah (saw), “Pada masa yang dekat yaitu pada masa awal, Thalhah, Zubair, Umar, Hamzah dan Utsman bin Mazh’un merupakan sahabat yang rela mengobankan segala sesuatu demi RasuluLlah (saw). Setiap orang dari mereka siap untuk menumpahkan darahnya demi RasuluLlah (saw). Tidak diragukan lagi selama tiga belas tahun beliau terpaksa bersabar dalam menghadapi musibah kesuitan dan penderitaan, namun RasuluLlah (saw) tetap tenang karena orang-orang yang cerdas, berpemahaman baik, berkedudukan, bertakwa dan suci dari kalangan penduduk Makkah telah beriman kepada beliau (saw) dan pada saat itu umat Muslim dianggap dan disegani sebagai sebuah golongan yang berkekuatan. Ketika ada orang yang mengatakan gila kepada RasuluLlah (saw) (naudzubillah) maka sahabat RasuluLlah (saw) menyangkalnya dengan mengatakan kepada orang itu, ‘Jika memang Muhammad gila, lantas bagaimana mungkin orang yang cerdas dan bijak mau beriman kepadanya?’ Ini merupakan jawaban yang dapat membungkam mulut.”

“Para penulis Eropa mengerahkan segenap kekuatannya untuk menyerang RasuluLlah (saw) sehingga terkadang tidak segan-segan untuk berkata lancang tentang beliau.” (Saat ini pun masih terjadi.) “Namun, ketika mereka menulis tentang nama Abu Bakr, mereka memujinya dengan mengatakan bahwa Abu Bakr adalah figur yang tidak mementingkan diri sendiri. Sebagian penulis Eropa menulis bahwa orang yang telah diimani Abu Bakr, bagaimana mungkin pendusta. Jika kalian memuji Abu Bakr, maka orang yang diimani olehnya pun tentunya terpuji juga. Jika memang Abu Bakr adalah orang yang tidak egois, lantas kenapa ia beriman kepada orang yang serakah? Jika memang Abu Bakr adalah orang yang tidak egois, berarti kalian terpaksa mengakui bahwa junjungannya pun tidak egois. Ini merupakan dalil kuat yang tidak mudah dibantah.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) mengaitkan hal ini dengan Hadhrat Masih Mau’ud (as), “Berkenaan dengan Hadhrat Masih Mau’ud (as) pun kita menyaksikan bahwa orang-orang menuduh beliau sebagai orang yang jahil (bodoh), namun untuk membantah tuduhan seperti itu, Allah ta’ala telah memberikan suatu sarana yaitu Hadhrat Khalifatul Masih pertama baiat kepada beliau (as) sejak awal. Maulwi Muhammad Husein Batalwi pun termasuk kalangan orang yang selalu memuji Hadhrat Masih Mau’ud (as) sebelum beliau (as) mendakwakan. Selanjutnya, ketika Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah mengumumkan pendakwaan beliau kepada dunia sebagai utusan Allah, satu jamaah orang-orang yang berpendidikan tinggi telah dikirimkan oleh Allah Ta’ala untuk segera baiat kepada beliau (as). Orang-orang berpendidikan tinggi tersebut terdiri dari kalangan ulama (cendekiawan), umara (pemimpin masyarakat) dan dari kalangan yang mahir berbahasa Inggris.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menganalisa hal ini lalu bersabda, “Ru’b (kewibawaan, keseganan dari orang-orang) dapat ditimbulkan oleh tiga hal yaitu oleh keimanan, ilmu pengetahuan dan harta kekayaan. Allah Ta’ala pun telah memberkahi ketiga sarana itu kepada Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud (as).”[3]

Pada masa permulaan, Allah Ta’ala juga telah menganugerahi Hadhrat Masih Mau’ud (as) dengan para sahabat yang dikagumi oleh orang-orang. Faktanya, ilmu dan ketrampilan ketabiban (pengobatan) Hadhrat Khalifatul Masih pertama sampai saat ini masih diakui dan dipuji. Para pakar kesehatan non Ahmadi pun menggunakan resep buatan beliau dan menulis berkenaan dengan itu. Bagaimanapun, para pengikut RasuluLlah (saw) pada masa awal pun berasal dari berbagai kalangan keluarga terpandang dan para pembesar.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan berkenaan dengan kedengkian Kuffar Makkah, “Allah Ta’ala sedemikian rupa menyediakan sarana sehingga hati kaum Kuffar terus terbakar oleh api kedengkian, namun mereka pun tidak paham bagaimana cara memadamkan api tersebut. Tidak ada satu pun keluarga pembesar Quraisy yang anggotanya tidak baiat kepada RasuluLlah (saw). Hadhrat Zubair berasal dari keluarga pembesar, begitu pun Hadhrat Talhah, Hadhrat Umar (ra), Hadhrat Utsman (ra), Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un. Begitu juga, Hadhrat Amru bin al-Ash dan Hadhrat Khalid bin Walid yang baiat di kemudian hari berlatar belakang dari keluarga yang sangat disegani di Makkah. al-Ash adalah penentang Islam, namun anaknya Amru baiat masuk Islam. Walid adalah penentang, namun anaknya Khalid baiat.”[4]

Beliau menulis, “Dengan demikian, ribuan orang yang pada awalnya merupakan penentang keras Islam, namun anak keturunan mereka dengan sendirinya menjadi pengikut RasuluLlah (saw) lalu berperang melawan ayah dan kerabatnya di medan perang.”[5]

Kita menemukan penyebutan mengenai hijrahnya Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un ke Habsyah. Demikian pula, kembalinya beliau ke Makkah dari Habsyah. Sebagaimana telah dijelaskan, Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un termasuk Muslim sejak masa awal. Menurut Ibnu Ishaq, beliau menerima Islam pada urutan ke-14. Beliau dan putra beliau Saa-ib hijrah ke Habsyah pada hijrah pertama bersama sekelompok umat Muslim.

Ketika tinggal di Habsyah ketika beliau mendapatkan kabar burung telah baiatnya orang-orang Quraisy kedalam Islam, beliau kembali pulang ke Makkah. Ibnu Ishaq meriwayatkan Ketika para Muhajirin Habsyah mendapatkan kabar sujudnya penduduk Makkah bersama RasuluLlah (saw), mereka pulang ke Makkah. Selengkapnya pernah saya sampaikan pada khutbah sebelumnya. Muhajirin lain pun ikut serta pulang bersama beliau. Apa yang menjadi penyebab sujudnya penduduk Makkah? Mereka beranggapan penduduk Makkah telah baiat kepada RasuluLlah (saw).

Ketika para Muhajirin ini sampai di dekat Makkah, diketahuilah peristiwa yang sebenarnya, sedangkan saat itu tidaklah mudah untuk langsung kembali ke Habsyah. Berdasarkan beberapa riwayat lainnya, sebagian muhajirin itu kembali lagi ke Habsyah, karena merekapun merasa khawatir untuk masuk ke Makkah tanpa ada jaminan perlindungan. Sebagian dari mereka terhenti di sana untuk beberapa saat sehingga sebagian lagi masuk ke Makkah dengan jaminan perlindungan dari beberapa penduduk Makkah. Sebelum mendapatkan jaminan perlindungan, mereka belum memasuki Makkah. Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un mendapatkan jaminan perlidungan dari Walid bin Mughirah.

Ibnu Ishaq (ابْنُ إِسْحَاقَ) meriwayatkan, Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un ra mendapatkan jaminan keamanan baik pagi hingga sore dari Walid bin Mughirah (الْوَلِيدِ بْنِ الْمُغِيرَةِ), seorang non Muslim dan salah seorang pemimpin Makkah, tetapi demi melihat RasuluLlah (saw) dan sahabat-sahabat beliau mengalami penderitaan dan teraniaya maka beliau berpikir, ان غدوي ورواحي فِي جِوَارِ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الشِّرْكِ وَأَصْحَابِي وَأَهْلُ دِينِي يَلْقَوْنَ مِنَ الْبَلَاءِ وَالْأَذَى فِي اللَّهِ مَا لَا يُصِيبُنِي لَنَقْصٌ كَثِيرٌ فِي نَفْسِي “Saya merasa aman dan dapat bebas bergerak pagi hingga petang karena perlindungan seorang musyrik. Demi Allah! sungguh diri saya merasa tidak nyaman dan sangat hancur dikarenakan di sisi lain, teman-teman saya dan saudara rohani saya mengalami berbagai musibah, penganiayaan dan kesulitan.” (beliau mengatakan pada dirinya sendiri)

Setelah itu beliau pergi menemui Walid bin Mughirah dan berkata: “Wahai Abu Abdusy Syams! Perlindunganmu sudah selesai. Sekarang saya ingin keluar dari jaminan perlindungan ini dan pergi kepada RasuluLlah (saw), karena bagi saya di dalam diri RasuluLlah (saw) dan para sahabat terdapat teladan mulia.”

Walid berkata, “Wahai keponakan! Mengapa? Mungkin kamu merasakan penderitaan disebabkan oleh jaminan kemanan yang saya berikan ini atau merasa tidak dihormati.”

Beliau berkata: لَا وَلَكِنِّي أَرْضَى بِجِوَارِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَا أُرِيدُ أَنْ أَسْتَجِيرَ بِغَيْرِهِ “Tidak. Tetapi, saya lebih ridha (menyukai) perlindungan Allah dan saya tidak menyukai perlindungan selain-Nya.”

Walid berkata: “Baiklah, mari kamu bersama saya pergi ke Masjid (tempat beribadah yakni Ka’bah). Sebagaimana sebelumnya telah saya umumkan untuk memberikan jaminan keamanan padamu, demikian juga kamu hendaknya mengumumkan kepada orang-orang bahwa perlindungan saya telah kamu kembalikan kepada saya.”

Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un berkata, “Baik.” Pergilah kedua orang itu ke Ka’bah.

Walid berkata: “Ini Utsman yang datang untuk mengembalikan jaminan perlindungan saya.” Hadhrat Utsman (ra) berkata: “Dia berkata benar. Sesungguhnya saya mendapati Walid sebagai orang yang menepati janji dan terhormat dalam menyediakan perlindungan [saya telah mendapatkan jaminan perlindungannya dengan baik]. Tetapi, sekarang saya tidak mau hidup dibawah jaminan perlindungan siapapun selain Allah ta’ala. Untuk itulah saya mengembalikan jaminan perlindungannya.” Setelah berkata itu, Hadhrat Utsman (ra) kembali.[6]

Berkenaan dengan hijrah para Sahabat ke Habsyah (Abbesinia) telah saya sampaikan beberapa kali ketika membahas sahabat-sahabat Nabi (saw) lainnya. Secara singkat akan saya sampaikan yang telah ditulis oleh Hadhrat Mirza Bashir Ahmad (ra) dari berbagai rujukan sejarah, “Ketika penderitaan umat Muslim sudah sampai pada puncaknya dan Quraisy semakin menjadi-jadi dalam penganiayaan, Hadhrat Rasulullah (saw) memerintahkan umat Muslim, لو خرجتُم إلى أرض الحبشة فانّ بِها ملِكاً لا يُظلَمُ عِندهُ أحد وهي أرضُ صِدق حتى يجعلَ اللّه لكُم فرجاً مما أنتُم فيهِ ‘Jika kalian keluar untuk hijrah ke Habsyah, niscaya kalian temui di sana seorang Raja adil dan menyukai keadilan. Dalam pemerintahannya tidak ada kezaliman kepada siapapun.’[7]

Negeri Habsyah dalam Bahasa Inggris disebut Etiophia dan/atau Abbesinia, dikatakan letaknya berada di sebelah timur laut benua Afrika. Dari sisi letak terletak tepat berhadapan dengan Arabia bagian selatan. Di tengah-tengah keduanya selain Laut Merah, tidak ada lagi. Pada masa itu di Habsyah berdiri sebuah pemerintahan Kristen yang kuat dan rajanya disebut dengan gelar Najasyi (Negus), bahkan sampai saat ini penguasanya disebut dengan nama tersebut.

Habasyah dan Arabia memiliki hubungan dagang. Negeri yang tengah dibahas ini yakni Habasyah, ibukotanya Axsum yang saat ini letaknya berdekatan dengan kota Adowa dan sampai saat ini didiami dan dianggap sebagai kota suci. Axsum pada saat itu merupakan pusat satu pemerintahan yang sangat tangguh. Najasyi yang memimpin saat itu bernama Ashamah yang merupakan seorang raja yang adil, bijak dan amat powerful (berkuasa, tangguh).

Ringkasnya, ketika penderitaan umat Muslim sampai pada puncaknya, Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda kepada mereka bahwa bagi mereka yang mampu silahkan hijrah ke Habasyah. Mendengar sabda Rasulullah (saw) tersebut pada bulan Rajab 5 Nabawi (sekitar 615 Masehi) telah hijrah 11 pria dan 4 perempuan ke Habasyah.

Diantara mereka terdapat sahabat terkenal, yaitu Utsman bin Affan beserta istrinya Ruqayyah putri Rasulullah (saw), Abdur Rahman bin Auf, Zubair bin Al-Awam, Abu Huzaifah bin Utbah, Utsman bin Mazh’un, Mush’ab bin Umair, Abu Salamah bin Abdul Asad beserta istrinya, Hadhrat Ummu Salamah.”

Hadhrat Mirza Bashir Ahmad menulis, “Merupakan hal aneh bahwa sebagian besar sahabat yang hijrah pada masa awal adalah orang-orang yang berasal dari kalangan pembesar (keluarga kaya dan terpandang) kabilah Quraisy sedangkan kalangan yang lemah jumlahnya kurang yang dengannya dapat diketahui dua hal. Pertama, umat Muslim dari kalangan pembesar pun tidak luput dari penganiayaan kaum Quraisy. Kedua, orang-orang lemah misalnya hamba sahaya dan lain-lain keadaannya sedemikian lemah dan tak berdaya sehingga untuk hijrah pun mereka tidak mampu.”[8]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan peristiwa tersebut dengan cara beliau, terkait penjelasan mengenai Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un mendapatkan perlindungan di Makkah dan peristiwa penyair Labid bin Rabi’ah, beliau (ra) menulis, “Sebelumnya telah disampaikan bahwa Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un telah mengembalikan (membatalkan lagi) jaminan keamanan dan perlindungan atas diri beliau. Ketika kezaliman telah memuncak, RasuluLlah (saw) me­ngumpulkan para pengikut, dan sambil menunjuk arah ke barat beliau mengatakan tentang suatu negeri di seberang lautan, tempat orang tidak dibunuh karena berganti agama, tempat mereka dapat beribadah kepada Tuhan tanpa diganggu dan di sana ada seorang raja yang adil. Sebaiknya mereka pergi ke sana; mungkin perubah­an suasana akan membawa perbaikan dan kelegaan.

Serombongan Muslimin — wanita, pria, dan anak-anak — mengikuti nasihat itu dan berangkat ke Abessinia. Keluarnya mereka meninggalkan Makkah bukanlah hal yang mudah. Sebab, orang-orang Arab di Makkah memandang diri mereka sebagai pen­jaga Ka’bah dan memang demikian kenyataannya. Untuk mening­galkan Mekkah adalah suatu peristiwa yang sangat pahit dan tidak ada seorang Arab pun yang mau berbuat demikian kecuali jika kehidupannya di Mekkah sudah sama sekali tidak mungkin.

Walhasil, kepergian mereka meninggalkan Makkah merupakan kejadian yang memilukan dan mereka pun melakukannya dengan diam-diam dan sangat rahasia, karena mereka tahu orang-orang Mekkah tidak sudi membiarkan gerakan semacam itu. Mereka tidak akan membiarkan orang-orang yang menjadi mangsa itu melarikan diri dan mempunyai kesempatan sedikit untuk hidup di tempat lain. Maka, rombongan itu membuat persiapan untuk perjalanan itu dan keberangkatan pun terpaksa dilakukan tanpa minta diri dari sanak-saudara dan handai tolan. Tetapi keberangkatan mereka terlihat juga oleh beberapa orang dan yang menyaksikannya sangat tersentuh melihat kepergian mereka.

Ketika kafilah yang hijrah itu bertolak, Hadhrat Umar (ra) [yang kemudian menjadi Khalifah Islam yang kedua], pada saat itu masih belum beriman dan menjadi musuh penganiaya kaum Muslimin, secara kebetulan ia berjumpa dengan beberapa anggota rombongan itu. Seorang di antara mereka adalah seorang Sahabiyah (wanita Sahabat Nabi saw), Umm Abdullah.

Ketika Umar melihat perkakas rumah tangga telah dipak dan dimuatkan di atas binatang angkutan, ia dengan segera mengerti bahwa rombongan itu akan meninggalkan Mekkah untuk mencari perlindungan di tempat lain. ’Apa kalian akan pergi?’ tanyanya.

‘Betul, Tuhan menjadi saksi kami,’ jawab Umm Abdullah, ’Kami akan pergi ke negeri lain, karena kalian memperlakukan kami sangat keji di sini. Kami tak akan kembali sampai Allah ridha membuat kami hidup aman.’

Umar sangat terkesan dan berkata, ‘Tuhan beserta kamu.’

Umm Abdillah mengatakan, ‘Saya merasakan nada suara yang nestapa dari ucapan Hadhrat Umar (ra), padahal saat itu Hadhrat Umar (ra) penentang Islam, namun beliaupun sangat tersentuh menyaksikan peristiwa hijrah tersebut. Dari suara Hadhrat Umar (ra) saya merasakan kesedihan yang sebelumnya tidak pernah saya lihat darinya. Lalu Hadhrat Umar (ra) segera memalingkan wajah dan pergi. Saya merasakan bahwa beliaupun sangat sedih dibuatnya oleh peristiwa tersebut.’

Ketika penduduk Makkah mengetahui kabar hijrahnya umat Muslim, diberangkatkan oleh mereka suatu rombongan pengejar. Mereka sampai ke pelabuhan di tepi pantai, tetapi didapati mereka pelarian-pelarian itu sudah naik kapal.

Ketika penduduk Makkah mengetahui kabar itu [yaitu tidak berhasil menyusul mereka itu], mereka me­mutuskan untuk mengirim delegasi ke Abessinia untuk meng­hasut raja agar membenci pelarian-pelarian itu dan membujuknya agar menyerahkan mereka itu kepada mereka (di Makkah). Delegasi itu berangkat ke Abessinia menemui raja dan bersengkongkol dengan pejabat-pejabat istana. Mereka memprovokasi. Namun Allah ta’ala tetap meneguhkan hati raja Abessinia yang mana walaupun mendapat tekanan dari delegasi dan para pejabat istananya, ditolaknya penyerahan rombongan pelarian itu kepada para pengejar mereka.

Delegasi Quraisy pulang dengan kecewa, tetapi setiba di Mekkah didapatkan ren­cana baru untuk memaksa orang-orang Muslim pengungsi itu kembali sendiri dari Abessinia. Kepada kafilah-kafilah mereka yang menuju ke Abessinia disebarkan desas-desus bahwa seluruh Mekkah telah menerima Islam. Ketika kabar itu sampai ke Abessinia, beberapa orang Muslimin dengan gembira pulang kembali ke Mekkah, tetapi sedatangnya di sana mereka ketahui bahwa kabar itu hanya isapan jempol dan tipuan belaka. Beberapa orang kembali lagi ke Abessinia, tetapi sebagian lain memutuskan tetap tinggal di Mek­kah lagi.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menulis, “Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un ialah salah seorang diantara orang-orang Muslim yang tetap bertahan di Makkah. Beliau putra seorang pembesar di Makkah. Saat itu kawan ayahnya-lah, Walid bin Mughirah yang memberikan jaminan keamanan kepada Hadhrat Utsman (ra), sehingga beliau dapat hidup di Makkah dengan damai. Tetapi, disaksikannya bahwa orang-orang Muslim lainnya terus menanggung penderitaan aniaya yang kejam. Karena Hadhrat Utsman (ra) adalah seorang pemuda yang memiliki ghairat tinggi, hal itu menjadikannya sangat gelisah. Beliau pergi menemui Walid dan mengatakan padanya bahwa beliau ingin mengembalikan jaminan perlindungan padanya, karena beliau tidak tega melihat kawan-kawan Muslim lainnya dianiaya sedangkan beliau hidup dalam keadaan damai. Lalu Walid mengumumkan bahwa sejak saat itu Utsman tidak lagi dalam perlindungannya.

Pada suatu hari, Labid (لَبِيدُ بْنُ رَبِيعَةَ بْنِ مَالِكِ بن جعفر), ahli syair kenamaan dari Arabia, duduk di antara para pemimpin Mekkah, membawakan syairnya dan Hadhrat Utsman (ra) tengah duduk di dalam majlis itu. Labid membacakan bait syairnya, وَكُلُّ نَعِيمٍ لَا مَحَالَةَ زَائِلُ ‘wa kullu na’iimil laa mahaalata zaa-il’ yang mengandung arti bahwa segala karunia akan habis juga akhirnya. Utsman dengan tegas menyangkalnya dan berkata, كَذَبْتَ نَعِيمُ الْجَنَّةِ لَا يَزُولُ ‘kadzabta, na’iimul jannati laa yazuulu.’ – ‘Kamu dusta! (Itu keliru!) Nikmat surga tidak akan pernah sirna.’

Labid seorang penyair besar yang tidak biasa disangkal sehingga demikian naik darah dan berkata, ‘Quraisy, tamu-­tamumu tak pernah dihina demikian sebelum ini. Sejak mana cara ini dimulai?’ Untuk menentramkan hati Labid, salah seorang dari antara para pendengar bangkit dan berkata, ’Teruskan dan jangan hiraukan orang tolol itu.’

Utsman menegaskan bahwa ia tidak mengatakan sesuatu yang tolol. Hal itu membangkitkan marah orang Quraisy. Ia menyergap Utsman dan memukul keras mata­nya. Walid hadir pada peristiwa itu. Ia adalah sahabat karib ayah Utsman. Ia tidak sampai hati melihat perlakuan itu terhadap anak almarhum sahabatnya. Tetapi, sesuai tradisi Makkah, Wallid tidak dapat lagi membela Utsman karena Utsman tidak lagi secara resmi dan dalam perlindungannya. Adat Arab melarangnya sekarang untuk berpihak kepadanya. Jadi, ia tak dapat berbuat apa-apa.

Dalam setengah marah dan setengah kesal disapanya Utsman, ‘Wahai putra sahabat, kamu dapat menyelamatkan matamu, andaikata kamu tidak membatalkan perlindungan saya yang kuat. Kamu hanya dapat menyesali dirimu telah berbuat demikian.’

Utsman men­jawab, ‘Demi Allah! Apa yang terjadi pada saya hari ini, telah saya dambakan. Kamu tengah meratapi mata saya yang bengkak ini padahal mata saya yang sebelah lagi tengah cemburu karena tidak mengalami musibah seperti yang dialami oleh mata yang sebelahnya.’

Utsman berkata, ‘Teladan Muhammad RasuluLlah (saw) bagi saya sangatlah cukup. Jika beliau mengalami penderitaan, kenapa saya tidak? Cukuplah bagi saya perlindungan Tuhan.’”[9]

Berkenaan dengan peristiwa antara Utsman bin Mazh’un dan penyair terkenal itu kita jumpai juga dalam sejarah sebagai berikut akan saya sampaikan: Suatu ketika Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un tengah duduk dalam majlis seorang penyair terkenal Arab bernama Labid. Ubaid membacakan bait syair, أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلُAalaa kullu syai-im maa khalaLlaha baathil’ – “Ingatlah bahwa segala sesuatu selain Allah tidak ada nilainya apa-apa di sisi-Nya.”

Hadhrat Utsman (ra) mengatakan, صَدَقْتَ “Kamu benar!”.

Lalu Labid berkata, وَكُلُّ نَعِيمٍ لَا مَحَالَةَ زَائِلُ ‘wa kullu na’iimil laa mahaalata zaa-il’ – “segala kenikmatan akan habis juga akhirnya.”

Hadhrat Utsman (ra) menyangkalnya dengan mengatakan, “Itu dusta.”

Pandangan orang-orang mengarah padanya. Utsman meminta Labid untuk membacanya lagi lalu ia baca sekali lagi. Seperti semula Hadhrat Utsman (ra) membenarkan kalimat pertama dan mendustakan kalimat kedua bahwa nikmat surga tidak akan pernah sirna.

Labid berkata, “Wahai kaum Quraisy, sebelum ini majlis kalian tidak seperti ini.”

Lalu seorang yang bodoh berdiri dari antara mereka dan memukul wajah Hadhrat Utsman (ra) yang menyebabkan mata beliau bengkak. Orang-orang di sekeliling beliau mengatakan, “Utsman, demi Tuhan sebelum ini kamu berada dalam perlindungan kesukuan yang kuat sehingga mata kamu terhindar dari penderitaan seperti yang kamu alama saat ini.”

Utsman berkata, “Perlindungan Allah lebih aman dan lebih terhormat. Mata saya yang sebelah lagipun saat ini berhasrat untuk mendapatkan musibah yang sama. Adalah lazim bagiku untuk mengikuti teladan RasuluLlah (saw) dan para orang-orang yang beriman kepada beliau.”

Walid berkata, “Kerugian apa yang kamu alami di bawah perlindungan saya?”

Hadhrat Utsman (ra) berkata, “Saya tidak membutuhkan perlindungan selain perlindungan Allah.”[10]

Demikianlah keadaan keimanan mereka dan seperti itulah rasa sependeritaan bagi kawan-kawannya, jika sahabat yang lain mengalami penderitaan, lantas kenapa mereka tidak. Bahkan, jalinan kecintaan para Sahabat dengan RasuluLlah (saw) ialah, “Jka beliau (saw) berada dalam penderitaan, kenapa saya malah terhindar? Demikian juga saya menderita melihat penderitaan yang dialami oleh para sahabat Nabi (saw) lainnya.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Jawaban Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un seperti itu ialah karena beliau telah mendengar Al-Quran, memahami ajaran Islam dan menelaah Al-Quran sehingga menurut beliau syair-syair sudah tidak memiliki hakikat lagi. Bahkan setelah itu Labid pun ikut baiat dan mengikuti sikap yang pernah diamalkan oleh Utsman. Sebagaimana suatu ketika Hadhrat Umar (ra) pernah mengirim pesan kepada seorang gubernurnya untuk meminta syair-syair terbaru dari para penyair terkenal. Labid yang saat itu sudah masuk Islam dimintai syairnya yang terbaru. Bukannya mengirimkan syair terbarunya, Labid justru mengirimkan beberapa ayat Al Quran kepada Hadhrat Umar (ra).”

Hubungan kecintaan antara Hadhrat Utsman (ra) dengan RasuluLlah (saw) dapat kita ketahui dari satu peristiwa berikut. Di dalam sebuah riwayat disebutkan, عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَبَّلَ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُونٍ وَهُوَ مَيِّتٌ وَهُوَ يَبْكِي setelah kewafatan Hadhrat Utsman (ra), Hadhrat RasuluLlah (saw) mencium kening jenazah Hadhrat Utsman (ra) dan air mata mengalir dari mata Rasul.[11]

Ketika putra RasuluLlah (saw), Hadhrat Ibrahim wafat, RasuluLlah (saw) pun bersabda di depan jenazahnya, اِلْحَقِيْ بِسَلَفِنَا الصَّالِحِ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُوْنٍ. ‘ilhaqi bisalafinaash shaalih Utsman bin Mazh’un’ artinya, “Pergilah engkau untuk bersahabat dengan pendahulu kita yang saleh, Utsman bin Mazh’un.”[12]

Berkenaan dengan hijrahnya Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un kita temukan riwayat sbb: Pada saat hijrah Madinah, Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un, Hadhrat Qudamah bin Mazh’un (قُدَامَةُ بْنُ مَظْعُونٍ), Hadhrat Abdullah bin Mazh’un (عَبْدُ اللّهِ بْنُ مَظْعُونٍ) dan Hadhrat Saa-ib bin Utsman bin Mazh’un (السّائِبُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ) tinggal di rumah Hadhrat Abdullah bin Salamah al-Ajlani (عبد الله بن سلمة العجلاني). Berdasarkan pendapat lain [yaitu Mujammi’ bin Yaqub dari ayahnya (مُجَمِّعُ بْنُ يَعْقُوبَ ، عَنْ أَبِيهِ)] mereka semua tinggal di rumah Hadhrat Hizam bin Wadiah (حِزَامِ بْنِ وَدِيعَةَ).

Muhammad bin Umar al-Waqidi (penulis sejarah) meriwayatkan, وَآلُ مَظْعُونٍ مِمَّنْ أَوْعَبَ فِي الْخُرُوجِ إِلَى الْهِجْرَةِ رِجَالُهُمْ وَنِسَاؤُهُمْ ، وَلَمْ يَبْقَ مِنْهُمْ بِمَكَّةَ أَحَدٌ حَتَّى غُلِّقَتْ دُورُهُمْ bahwa para pria dan wanita dari keluarga Mazh’un kesemuanya berangkat hijrah bersama sehingga tidak ada yang tersisa dari keluarga itu di Makkah.

Hadhrat Ummi Alaa meriwayatkan ketika RasuluLlah (saw) dan para Muhajirin tiba di Madinah, kaum Anshar menghendaki supaya mereka tinggal di rumahnya sehingga akhirnya diundi, ternyata Utsman bin Mazh’un tinggal di rumah kami.

وآخَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم بَيْنَ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ وَأَبِي الْهَيْثَمِ بْنِ التَّيِّهَانِ ، وَشَهِدَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ بَدْرًا ، وَمَاتَ فِي شَعْبَانَ عَلَى رَأْسِ ثَلاَثِينَ شَهْرًا مِنَ الْهِجْرَةِ. Hadhrat RasuluLlah (saw) menjalinkan persaudaraan antara Hadhrat Utsman (ra) dengan Hadhrat Abul Haitsam bin Tayyihaan. Hadhrat Utsman (ra) hijrah ke Madinah dan ikut serta dalam perang Badr.[13]

Beliau termasuk orang yang sangat junun (tergila-gila) beribadah lebih dari sahabat lainnya. Berpuasa di siang hari dan beribadah pada malam hari, terbiasa menjauhi hawa nafsu duniawi dan berusaha menjauhi istri. Beliau pernah meminta izin dari RasuluLlah (saw) untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan menjauhi hawa nafsu, namun RasuluLlah (saw) tidak mengizinkannya. Hal tersebut tertulis dalam buku sejarah Islam, Usdul Ghaabah.[14]

Dalam riwayat lain disebutkan, دَخَلَتِ امْرَأَةُ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ عَلَى نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم فَرَأَيْنَهَا سَيِّئَةَ الْهَيْئَةِ فَقُلْنَ لَهَا “Suatu ketika istri Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un (yaitu Hadhrat Khaulah binti Hakim) datang menjumpai istri-istri Nabi (saw). Melihat kondisi istri Hadhrat Utsman (ra) (ra) yang lusuh, Ummul Mukminiin bertanya, مَا لَكِ ؟ فَمَا فِي قُرَيْشٍ أَغْنَى مِنْ بَعْلِكِ ‘Baju kamu lusuh. Rambut pun tidak rapi. Kenapa kamu tampil seperti ini? Biasakanlah berdandan. Pada bangsa Quraisy ini tidak ada yang lebih kaya-raya dari suamimu. Kamu mampu untuk itu karena suamimu orang kaya.’

Istri Utsman menjawab, مَا لَنَا مِنْهُ شَيْءٌ ، أَمَّا لَيْلَهُ فَقَائِمٌ ، وَأَمَّا نَهَارَهُ فَصَائِمٌ ‘Tidak ada bagian bagi kami dari harta itu. Artinya, Hadhrat Utsman (ra) tidak memiliki kekayaan seperti yang Anda katakan. Kenapa? Karena Utsman sudah tidak berhasrat lagi kepada kami, pada malam haripun ia terus-menerus beribadah kepada Allah. Tidak memperhatikan kami, pada malam siang harinya berpuasa.’

فَدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم فَذَكَرْنَ ذَلِكَ لَهُ فَلَقِيَهُ فَقَالَ Saat itu datanglah Rasul. Ummul Mukminiin mengabarkan hal itu kepada Rasul. Mendengar hal tersebut RasuluLlah (saw) menemui Hadhrat Utsman (ra) dan bersabda, يَا عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُونٍ ، أَمَا لَكَ بِيَّ أُسْوَةٌ ؟  ‘Tidakkah pribadi saya cukup sebagai teladan bagimu?’

Hadhrat Utsman (ra) berkata, يَا بِأَبِي وَأُمِّي وَمَا ذَاكَ ؟ ‘Saya rela mengurbankan orang tua saya demi tuan ya Rasul. Apa yang terjadi? Saya selalu berusaha untuk senantiasa mengikuti Sunnah tuan.’

RasuluLlah (saw) bersabda, تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ ‘Anda terus-menerus berpuasa di siang hari dan beribadah pada malam hari.’

Beliau menjawab, إِنِّي لأَفْعَلُ ‘Ya. Saya lakukan itu.’

RasuluLlah (saw) bersabda, لاَ تَفْعَلْ ، إِنَّ لِعَيْنَيْكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِجَسَدِكَ حَقًّا ، وَإِنَّ لأَهْلِكَ حَقًّا ، فَصَلِّ وَنَمْ وَصُمْ وَأَفْطِرْ ‘Janganlah berbuat demikian. Matamu memiliki hak atasmu, tubuhmu, keluargamu, anak istrimu juga memiliki hak atasmu. Untuk itu silahkan shalat namun tidur juga perlu. Silahkan bangun dan beribadah nafal pada malam hari namun tidurpun perlu. Jika ingin puasa nafal, silahkan, namun tinggalkan juga untuk beberapa hari.’

فَأَتَتْهُنَّ بَعْدَ ذَلِكَ عَطِرَةً كَأَنَّهَا عَرُوسٌ ، فَقُلْنَ لَهَا : مَهْ Setelah Hadhrat RasuluLlah (saw) menasihatkan demikian kepada Hadhrat Utsman (ra), beberapa lama kemudian, istri beliau datang menjumpai Ummul Mukminiin dalam keadaan memakai wewangian layaknya pengantin. Istri-istri RasuluLlah (saw) berkata, ‘Wah, penampilanmu hari ini sungguh menawan.’

Istri Hadhrat Utsman (ra) menanggapi, أَصَابَنَا مَا أَصَابَ النَّاسَ ‘Sekarang kami merasakan apa yang dirasakan para istri lainnya.’” Artinya, sekarang suaminya perhatian terhadapnya.[15]

Hadhrat ‘Aisyah meriwayatkan lagi, عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ إِلَى عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ، فَجَاءَهُ، فَقَالَ: “RasuluLlah (saw) memanggil Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un dan bersabda, يَا عُثْمَانُ، أَرَغِبْتَ عَنْ سُنَّتِي ‘Apakah Anda tidak menyukai sunnah saya?’

Ia menjawab, لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَكِنْ سُنَّتَكَ أَطْلُبُ ‘Wahai Rasulullah, tidak demikian, saya selalu mengikuti Sunnah tuan.’

RasuluLlah (saw) bersabda, فَإِنِّي أَنَامُ وَأُصَلِّي، وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأَنْكِحُ النِّسَاءَ، فَاتَّقِ اللَّهَ يَا عُثْمَانُ، فَإِنَّ لِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِضَيْفِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَصُمْ وَأَفْطِرْ، وَصَلِّ وَنَمْ ‘Saya juga tidur, shalat, berpuasa dan terkadang saya tidak berpuasa juga. Saya pun menikahi perempuan. Wahai Utsman! Takutlah kepada Allah. Istrimu memiliki hak atasmu, tamumu juga berhak atasmu, dirimu pun memiliki hak atasmu, jangan terus-menerus lakukan puasa, shalatlah dan tidur jugalah.[16]

Hadhrat Mirza Bashir Ahmad menjelaskan dengan merujuk pada Bukhari bahwa Sa’d bin Abi Waqas meriwayatkan, “Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un meminta izin kepada RasuluLlah (saw) untuk sama sekali hidup terjauh dari istri, namun RasuluLlah (saw) tidak mengizinkannya. Seandainya RasuluLlah (saw) mengizinkan, kami pun siap untuk berusaha menghilangkan hawa nafsu tersebut.”[17]

Saya sampaikan terjemahan hadits Bukhari kitabun nikah, Hadhrat Sa’d bin Abi Waqqash (سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ) meriwayatkan, لَقَدْ رَدَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم عَلَى عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ التَّبَتُّلَ ، وَلَوْ أَذِنَ لَهُ فِي ذَلِكَ لاَخْتَصَى “Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un meminta izin kepada RasuluLlah (saw) untuk tabattul (asketisme, menjauhkan diri dari duniawi termasuk menikah), namun RasuluLlah (saw) tidak mengizinkannya. Di dalam riwayat Hadits ini juga disebutkan, Seandainya RasuluLlah (saw) mengizinkan, kami pun siap untuk berusaha menghilangkan hawa nafsu tersebut [mengebiri diri sendiri].”[18]

Hadhrat Mirza Bashir Ahmad selengkapnya menulis, “Utsman bin Mazh’un yang berasal dari Banu Jumah, seorang yang sangat sufi. Beliau sejak zaman Jahiliyah sudah menjauhi minuman keras. Setelah masuk Islam pun beliau berkeinginan untuk menjauhi duniawi. Namun RasuluLlah (saw) bersabda bahwa Islam tidak mengizinkan Rahbaniyyat.”[19]

Islam memerintahkan untuk hidup di dunia dan memanfaatkan segala nikmat yang Allah berikan didunia ini, namun jangan melupakan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala harus senantiasa diingat.

Hadhrat Qudamah bin Mazh’un meriwayatkan, أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَدْرَكَ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُونٍ عَلَى رَاحِلَتِهِ عَلَى ثَنِيَّةِ الأثَايَةِ مِنَ الْعَرْجِ “Suatu ketika Hadhrat Umar (ra) bin Khatab berjumpa dengan Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un. Keduanya tengah menaiki kendaraan. Keduanya saling bertemu di sebuah bukit yang bernama Utsayah.” (terletak setelah Dzul Halifah, arah menuju Juhfah, 70 mil dari Madinah. Unta Hadhrat Umar (ra) sedikit mendorong unta Hadhrat Utsman (ra) karena terlalu dekat.) فَزُحِمَتْ رَاحِلَتُهُ فِي عُمْرَةٍ اعْتَمَرَهَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَقَدْ تَقَدَّمَتْ رَاحِلَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَامَ الرَّكْبِ Sedangkan unta RasuluLlah (saw) berada cukup jauh di depan kafilah.

Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un mengatakan, أَوْجَعْتَنِي يَا غلقَ الْفِتْنَةِ ! ‘Ya Ghalqal Fitnah (wahai penutup fitnah)! Anda telah menyusahkan saya.’ فَلَمَّا أَسْهَلَتِ الرَّوَاحِلُ بِهِمَا دَنَا مِنْهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ، وَقَالَ: Ketika kendaraan-kendaraan berhenti, Hadhrat Umar (ra) bin Khatab mendekat dan berkata: يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ أَبَا السَّائِبِ ؛ فَمَا هَذَا الاسْمُ الَّذِي سَمَّيْتَنِي بِهِ ‘Wahai Abu Saa-ib! Semoga Allah Ta’ala mengampuni Anda. Sebutan apa yang Anda berikan pada saya tadi, Ghalqul fitnah?’

Beliau menjawab, لا واللَّهِ مَا سَمَّيْتُكَهُ ، وَلِكِنَّهُ سَمَّاكَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، هَذَا هُوَ أَمَامُ الرَّكْبِ تَقَدَّمَ الْقَوْمَ ‘Tidak! Demi Tuhan, bukan saya yang memberikan nama itu, melainkan RasuluLlah (saw) yang menyebut Anda seperti itu. RasuluLlah (saw) berada di depan kafilah tengah berkendara. Silahkan konfirmasi sendiri.’”[20]

Selengkapnya dikisahkan demikian oleh Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un, مَرَرْتَ بِنَا يَوْمًا وَنَحْنُ جُلُوسٌ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : “Suatu ketika Anda (Hadhrat Umar (ra)) lewat di dekat kami sementara kami tengah bersama Rasul. RasuluLlah (saw) bersabda, هَذَا غلقُ الْفِتْنَةِ ‘Orang ini Ghalqul Fitnah.’ Artinya, hambatan untuk jalan fitnah. وَأَشَارَ بِيَدِهِ Sambil mengatakan demikian, RasuluLlah (saw) mengisyaratkan dengan tangan beliau dan mengatakan lagi, لا يَزَالُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الْفِتْنَةِ بَابٌ شَدِيدٌ الْغَلْقِ مَا عَاشَ هَذَا بَيْنَ أَظْهُرِكُم ‘Diantara kalian dan fitnah akan terdapat pintu yang tertutup sangat rapat. Selama orang ini (Hadhrat Umar (ra)) berada di tengah-tengah kalian, yakni selama Hadhrat Umar (ra) hidup, fitnah tidak akan muncul dalam Islam.’”[21] Seperti itu jugalah kesaksian sejarah, yaitu fitnah (kekacauan dan perpecahan) muncul dalam Islam sepeninggal Hadhrat Umar (ra).

Berkenaan dengan sebutan Ghalqul Fitnah yang disampaikan oleh Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un kepada Hadhrat Umar (ra), selengkapnya akan saya jelaskan. Hadhrat Hudzaifah meriwayatkan, كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ ، فَقَالَ : أَيُّكُمْ يَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْفِتْنَةِ كَمَا قَالَ ؟ “Kami tengah duduk di dekat Hadhrat Umar (ra), beliau bertanya, ‘Siapa diantara kalian yang masih ingat ucapan RasuluLlah (saw) berkenaan dengan fitnah?’

Saya berkata, أَنَا ‘Saya! Saya ingat persis apa yang RasuluLlah (saw) ucapkan.’

Hadhrat Umar (ra) berkata, إِنَّكَ لَجَرِيءٌ ، وَكَيْفَ قَالَ ؟ ‘Kamu ini sungguh berani dalam meriwayatkan sabda Rasul.’ Yakni yakin sekali.

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ Saya katakan, فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ ، يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ ، وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ  ‘Seorang pria mendapatkan cobaan disebabkan istrinya, hartanya, anaknya dan tetangganya, itu pun merupakan fitnah. Puasa, shalat, sedekah, memerintahkan untuk kebaikan dan melarang dari keburukan dapat menjauhkan cobaan tersebut.’

Hadhrat Umar (ra) berkata, لَيْسَ هَذَا أُرِيدُ إِنَّمَا أُرِيدُ الَّتِي تَمُوجُ كَمَوْجِ الْبَحْرِ ‘Maksud saya bukan itu. Melainkan fitnah yang dapat mendatangkan badai seperti datangnya gelombang ombak samudera, fitnah yang sangat dahsyat akan menimpa umat.’

Hadhrat Huzaifah berkata, مَا لَكَ وَلَهَا يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ، إِنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا ‘Amirul Mukminin, fitnah tersebut tidak akan membahayakan Anda, fitnah tersebut tidak akan muncul dalam kehdupan Anda, karena antara Anda dan fitnah terhalang oleh pintu.’

Hadhrat Umar (ra) bertanya, “Apakah pintu tersebut akan dihancurkan atau akan dibukakan?”

Hadhrat Huzaifah menjawab seperti apa yang disabdakan oleh RasuluLlah (saw) yakni di tengahnya akan terhalang oleh pintu tertutup.

Hadhrat Umar (ra) bertanya, أَفَيُكْسَرُ الْبَابُ أَمْ يُفْتَحُ ؟  Apakah pintu tersebut akan dihancurkan atau dibukakan?’

Beliau menjawab, بَلْ يُكْسَرُ ‘Akan dihancurkan.’

Hadhrat Umar (ra) berkata, إِذًا لاَ يُغْلَقَ أَبَدًا‏ ‘Jika demikian tidak akan pernah tertutup. Jika sebuah pintu dapat dibuka, ada kemungkinan untuk dapat ditutup. Namun jika dihancurkan, akan sulit untuk menutupnya.’”[22]

Demikianlah fitnah jika sekali bermula, maka akan terus berlanjut. Kita sendiri menyaksikan bagaimana fitnah ini terus meningkat dalam umat Islam, akan muncul silih berganti. Pada zaman Hadhrat Utsman (ra), Hadhrat Ali dan zaman sesudahnya sampai saat ini fitnah tersebut terus berlangsung di kalangan umat Islam. Saling membunuh satu sama lain. Mereka tidak mau berada di balik benteng [Khilafat] yang telah Allah dirikan untuk menutup pintu tersebut dengan perantaraan Hadhrat Masih Mau’ud (as) sehingga fitnah tersebut terus berlangsung.

Semoga Allah Ta’ala pun melindungi kita sehingga para Ahmadi tetap berada dibalik tameng dan banteng yang telah Allah sediakan bagi kita dengan perantaraan Hadhrat Masih Mau’ud (as) di zaman ini.

Hadhrat Umar (ra) berkata, ذَلِكَ أَحْرَى أَنْ لَا يُغْلَقَ أَبَدًا “Fitnah tersebut tidak akan pernah berakhir.”

Kami bertanya kepada Hadhrat Hudzaifah, هَلْ كَانَ عُمَرُ يَعْلَمُ مَنِ الْبَابُ ؟  “Apakah Hadhrat Umar (ra) mengetahui pintu tersebut?”

Hadhrat Huzaifah menjawab, نَعَمْ ، كَمَا يَعْلَمُ أَنَّ دُونَ غَدٍ اللَّيْلَةَ إِنِّي حَدَّثْتُهُ حَدِيثًا لَيْسَ بِالْأَغَالِيطِ “Ya. Beliau mengetahuinya dengan benar-benar yakin.” Hadhrat Umar (ra) mengetahui bahwa fitnah akan bermula setelah beliau wafat.[23]

Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un adalah Muhajir pertama yang wafat di Madinah, pada 2 Hijriyah. Beberapa riwayat menyebutkan beliau wafat pada bulan ke-22 setelah perang Badr. Beliau adalah orang pertama yang dimakamkan di Jannatul Baqi.[24] Berkenaan dengan Hadhrat Utsman (ra) bin Mazh’un masih ada lagi yang akan disampaikan, insya Allah akan saya jelaskan nanti.


[1] Al-Tabaqaat-ul-Kubra li ibn Sa‘d, Vol. 3, pp. 305-306, Usman(ra) bin Mazoon, Dar-ul-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1990.

[2] Al-Adabul Mufrad karya al-Bukhari (الأدب المفرد للبخاري), bab mengenai baghy (بَابُ الْبَغْيِ) dan Musnad Ahmad bin Hanbal, Vol. 1, p. 807, Musnad Abdillah bin Abbas, Hadith 2921, Alamul Kutub, Beirut, 1998).

[3] Tafsir-e-Kabir, Vol. 9, pp. 139-140.

[4] Zubair bin Awwam bin Khuwailid dari jalur ayah berasal dari Banu (klan, keluarga besar) Asad. Satu klan dengan Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid. Hadhrat Utsman bin Affan berasal dari Banu Umayyah bin Abdu Syams, satu klan dengan Abu Sufyan, tokoh kuffar Makkah. Thalhah bin UbaidiLlah berasal dari Klan Taym, satu klan dengan Hadhrat Abu Bakr. Hadhrat Umar (ra) berasal dari klan Adiyy. Satu klan dengan Sa’id bin Zaid. Hadhrat Utsman bin Mazh’un berasal dari klan Jumah. Hadhrat Amr bin Al-Ash bin Wail berasal dari Klan Sahm. Hadhrat Khalid bin Walid bin al-Mughirah berasal dari Klan Makhzum. Klan Asad, Klan Umayyah bin Abdu Syams, Klan Hasyim (contoh anggotanya ialah Nabi dan Hadhrat Ali), Klan Naufal, Klan Muththalib ialah klan Quraisy Batha’ atau Bithah (inti, bertempat dekat Ka’bah) yang biasanya menjadi pimpinan tertinggi. Tingkatan di bawah klan Bithah ialah klan penyangga. Di bawah lagi ialah klan pinggiran namun diperhitungkan kekuatannya sebagai sekutu yang membantu, contohnya, Banu Makhzum, Banu Sahm, banu Adiyy, Banu Jumah dan Banu Taym. Terpilihnya Hadhrat Abu Bakr (ra) dan Hadhrat Umar (ra) sebagai Khalifah ialah hal yang anomali (aneh, kekecualian) menurut kebiasaan bangsa Arab saat itu. Sebab, mereka berasal dari Quraisy namun termasuk pinggiran. Referensi: Sirah Muhammad Rasulullah karya Fuad Hashem.

[5] Tafsir-e-Kabir, Vol. 9, p. 588.

[6] Usdul Ghaba, Vol. 3, pp 589-590, Usman bin Mazoon(ra), Dar-ul-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 2003.

[7] Tertulis dalam Sirah an-Nabawiyah (السيرة النبوية: ج 1 ص 321), Tarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري: ج 2 ص 70) dan Biharul Anwar, mengutip dari Majma’ul Bayan karya ath-Thabarisi. (بحار الأنوار: ج 18 ص 412 نقلاً عن مجمع البيان للطبرسي)

[8] Sirat Khatamun-Nabiyyin, Hadhrat Mirza Bashir Ahmad(ra), pp. 146-147.

[9] Pengantar Mempelajari Al-Qur’an, Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (Khalifatul Masih II dan Mushlih Mau’ud).

[10] Usdul Ghaba, Vol. 3, p. 590, Usman bin Mazoon (ra), Dar-ul-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 2003.

[11] Sunan at-Tirmidzi, Kitab Jenazah (كتاب الجنائز عن رسول الله صلى الله عليه وسلم), bab mencium mayat (باب مَا جَاءَ فِي تَقْبِيلِ الْمَيِّتِ). Ath-Thabaqaat al-Kabir atau al-Kubra karya Ibn Sa’d (الطبقات الكبير لابن سعد), jilid ketiga (المجلد الثالث ), bab Utsman bin Mazh’un (عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونِ بْنِ حَبِيبِ بْنِ وَهْبِ بْنِ حُذَافَةَ بْنِ جُمَحَ) tertulis juga ( عَنْ عَائِشَةَ : أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم قَبَّلَ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُونٍ ، وَهُوَ مَيِّتٌ ، قَالَتْ : فَرَأَيْتُ دُمُوعَ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم تَسِيلُ عَلَى خَدِّ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ).

[12] Fada’il-ul-Qur’an 4, Anwarul Ulum, Vol. 12, p. 456; Ansabul Asyraf (أنساب الأشراف 1-8 ج1) karya Abu Hasan Ahmad bin Yahya bin Jabir al-Baladzuri (أبي الحسن أحمد بن يحيى بن جابر/البلاذري). Sabda ini juga Nabi (saw) ucapkan kepada jenazah Hadhrat Zainab (rha) binti RasuluLlah (saw), putri sulung beliau yang wafat pada 8 Hijriyah (629), setahun setelah berjumpa dan rujuk dengan suaminya yang baru masuk Islam. Dalam kitab lain seperti al-Mu’jam al-Ausath karya ath-Thabrani (المعجم الأوسط للطبراني), al-Kafi karya Kulaini (الكليني، الكافي، ج3، ص241) dan A’yanusy Syi’ah (أعيان الشيعة – السيد محسن الأمين – ج ٧ – الصفحة ٣٥) disebutkan ucapan itu juga untuk jenazah Ruqayyah putri Rasulullah (رُقَيَّةُ بِنْتُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) yang wafat pada 2 Hijriyah (624 M, berumur dibawah 30 tahun).

[13] Ath-Thabaqaat al-Kubra li ibn Sa‘d, Vol. 3, pp. 302-303, Dar-ul-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1990

[14] Usdul Ghaba, Vol. 3, p. 590, Usman bin Mazoon, Dar-ul-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 2003.

[15] Ath-Thabaqaat al-Kubra li ibn Sa‘d, Vol. 3, p. 302, Dar-ul-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1990

[16] Sunan Abi Daud (سنن أبي داود), Kitab Shalat (كتاب الصلاة), (أبواب قيام الليل), (باب ما يؤمر به من القصد في الصلاة), 1369. Ath-Thabaqaat menyebutkan sabda Nabi (saw) yang diantaranya ialah, “Tidak termasuk umat saya bagi siapa yang sengaja menjalani hidup sebagai Rahib..”, عَنِ ابْنِ شِهَابٍ ؛ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُونٍ أَرَادَ أَنْ يَخْتَصِي وَيَسِيحَ فِي الأَرْضِ ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم : أَلَيْسَ لَكَ فِيَّ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ ؟ فَأَنَا آتِي النِّسَاءَ ، وَآكُلُ اللَّحْمَ ، وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ ، إِنَّ خِصَاءَ أُمَّتِي الصِّيَامُ ، وَلَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ خَصَى ، أَوِ اخْتَصَى.

[17] Sirat Khatamun-Nabiyyin, Hadhrat Mirza Bashir Ahmad (ra), p. 418.

[18] Shahih al-Bukhari, Kitab pernikahan (كتاب النكاح), bab dibenci melakukan perbuatan memutus diri dari duniawi dan mengebiri diri sendiri (باب مَا يُكْرَهُ مِنَ التَّبَتُّلِ وَالْخِصَاءِ).

[19] Sirat Khatamun-Nabiyyin, Hadhrat Mirza Bashir Ahmad(ra), p. 124.

[20] Kasyful Astar ‘an Zawaaidil Bazaar (كشف الأستار عن زوائد البزار), Kitab tanda-tanda kenabian (كِتَابُ عَلامَاتِ النُّبُوَّةِ), bab Manaqib atau keutamaan Umar (مَنَاقِبُ عُمَرَ); penulis Nuruddin al-Haitsami (نور الدين الهيثمي),w. 807 Hijriyah. Tercantum juga dalam kitab Majma’uz Zawaaid wa mambaul Fawaaid (مجمع الزوائد ومنبع الفوائد), (كتاب المناقب), (باب مناقب عمر بن الخطاب رضي الله عنه), (باب أمان الناس من الفتن في حياته); tercantum juga di dalam Kitab Irsadusy Syari, komentar al-Qasthalani atas kitab Shahih al-Bukhari (شرح القسطلاني إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري)

[21] Al-Mu’jam al-Kabir karya ath-Thabrani (المعجم الكبير), bab ‘ain (باب العين), mereka yang bernama ‘Utsman (من اسمه عثمان), ‘Utsman bin Mazh’un (عثمان بن مظعون الجمحي), (ما أسند عثمان بن مظعون); Al-Mu‘jam Al-Kabir Li Al-Tabarani, Vol. 9, pp. 38-39, Maa Asnada Usman(ra) bin Mazoon, Hadith 8321, Dar Ihyaa Al-Turath Al-Arabi, Beirut, 2002; Farhang Sirat Az Sayed Fadlur Rahman, p. 29, Zawwar Academy Publications, Karachi, 2003.

[22] Shahih Muslim (صحيح مسلم), Kitab fitnah-fitnah dan syarat-syarat terjadinya as-Saa’ah (كِتَاب الْفِتَنِ وَأَشْرَاطِ السَّاعَةِ ), bab fitnah yang seperti ombak lautan (بَاب فِي الْفِتْنَةِ الَّتِي تَمُوجُ كَمَوْجِ الْبَحْرِ); Shahih al-Bukhari, Kitab fitnah-fitnah (كتاب الفتن), bab fitnah yang seperti ombak lautan (باب الْفِتْنَةِ الَّتِي تَمُوجُ كَمَوْجِ الْبَحْرِ). Bila pintu yang menghalangi fitnah itu ialah Hadhrat ‘Umar (ra) dan pintu itu akan dihancurkan berarti keberadaan Hadhrat ‘Umar akan diakhiri dengan pensyahidan.

[23] Sahih Bukhari, Kitab Mawaaqit As-Salah, Bab As-Salatu Kaffarah, Hadith 525.

[24] Usdul Ghaba, Vol. 3, p. 591, Usman bin Mazoon(ra), Dar-ul-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 2003: وهو أول رجل مات بالمدينة من المهاجرين، مات سنة اثنتين من الهجرة، قيل: توفي بعد اثنين وعشرين شهرا بعد شهوده بدرا، وهو أول من دفن بالبقيع.

(Visited 2,577 times, 1 visits today)