juru selamat, mujadid islam

Sebagian orang berpendapat bahwa karena umat Islam telah memiliki kitab yang sempurna, yaitu Al-Qur’an, yang menjadi pedoman bagi umat Islam, maka tidak lagi diperlukan seorang pembaharu, mereka cukup mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an.

Pendapat ini sangat keliru dan fakta-fakta sejarah tidak mendukungnya.

Pertama-tama, kami mengamati bahwa meskipun orang-orang yang berpendapat bahwa mereka sudah memiliki Al Quran, mereka justru kian terpuruk dari hari ke hari.

Percakapan di antara mereka menghasilkan perbedaan pendapat yang luas bahkan perbedaan dalam penafsiran Al-Qur’an semakin meruncing. Tentu mereka sadar bahwa rohani mereka turun, tetapi mereka tidak memiliki kekuatan untuk tegak dan bangkit kembali. Seperti itulah kondisi yang kita dapati dalam sejarah agama-agama terdahulu, setiap kali kerohanian mereka rusak, mereka tidak bisa bangkit sendiri.

Kedua, sunatullah menolak pandangan ini, setiap kali kegelapan menyelimuti dunia kerohanian, Allah mengutus seorang Pembaharu (juru selamat) untuk membimbing manusia. Lihatlah para pengikut Musa; mereka memiliki kitab yang sempurna (sesuai dengan kebutuhan zaman mereka) yang berisi petunjuk bagi mereka. Tetapi setiap kali kegelapan menyelimuti mereka, mereka diberi petunjuk lagi dalam bentuk seorang Pembaharu yang memperbaiki umat Nabi Musa (as).
Sedemikian rupa sehingga difirmankan dalam Alquran bahwa Kami mengirim Rasul-rasul ketika ia wafat.

Ketiga, maksud sebenarnya dari kesempurnaan suatu ajaran adalah Allah telah menyebutkan semua sarana untuk meraih ketinggian rohani dalam suatu kitab dan semua kebutuhan (agama dan kerohanian) telah diberikan dengan cara-cara yang dapat diraih. Tetapi jika pikiran manusia membelokkannya dengan penafsirannya yang sesuai kebutuhannya sendiri, kitab itu akan kehilangan maknanya untuk mereka dan mereka tidak akan dapat direformasi sebelum kebenaran terungkap dengan menghilangkan tirai penafsiran pribadi. Ajaran yang sempurna tidak diragukan lagi seperti pedang tajam yang memotong dosa, tetapi mesti ada seseorang yang tahu cara menggunakannya.

Keempat, betapapun sempurna dan efektifnya suatu ajaran, sebelum nampak contoh pengamalan ajaran tersebut kepada orang lain maka mereka tidak mendapat apa-apa dari ajaran itu. Hanya melalui orang-orang yang memiliki tingkat kerohanian tinggi Allah memberikan teladan sempurna bagi manusia sehingga mereka dapat menyaksikan dan mengikuti mereka untuk kemajuan rohani.

Kelima, keimanan kepada Allah seperti sebatang pohon yang jika tidak disiram dengan tanda-tanda segar, maka ia akan mengering. Ia akan kehilangan kepastian tentang adanya wujud Allah dan berubah menjadi kesimpulan filosofis belaka, yaitu sebatas “Tuhan mestinya ada”. Kondisi ini penuh dengan keraguan dan angin beracun mulai menghembusinya untuk merusak pohon itu, yang kemudian mengering. Tetapi iman yang diperoleh melalui para nabi dan orang-orang suci, adalah iman yang hidup dan itu adalah kenyataan hidup yang menampakkan Allah kepada orang-orang dan menciptakan hubungan kedekatan antara Allah dan para hamba-Nya dan sehingga memberikan kehidupan baru.

Hal itu dengan jelas menunjukkan bahwa meskipun terdapat ajaran yang sempurna, wujud-wujud suci seperti itu diperlukan sebagai manifestasi dari sifat-sifat Allah yang melalui mereka tanda-tanda Allah yang baru mulai mengalir. Selain itu, para Pembaharu (juru selamat) yang dibangkitkan oleh Allah yang dianugerahi firman-firman Allah yang hidup, memiliki dayat tarik istimewa bagi orang-orang yang berhati bersih. Ketertarikan inilah yang membangunkan orang-orang yang sedang tidur.

Keenam, dapat dikatakan hal yang tak dapat disanggah bahwa sebelum reformasi nampak nyata dan sempurna, maka ia tidak akan berbuah baik, malah dapat berbahaya. Tetapi sejauh kaitannya dengan reformasi dunia kerohanian, hal itu tidak mungkin dilakukan oleh sosok lain selain orang yang diutus oleh Allah dan menerima pengetahuan dari-Nya. Sosok tersebut mendapatkan firman Allah yang hidup dan ia senantiasa berpedoman padanya. Ulama duniawi dapat saja memperbaiki orang-orang dengan pengetahuan duniawi yang mungkin otentik dalam beberapa aspek dan tidak otentik dalam banyak hal lainnya. Adanya berbagai perbedaan di dunia Islam saat ini berasal dari pengetahuan duniawi ulama. Perbedaan itu tidak dapat dihilangkan kecuali oleh seorang Hakim yang Adil (hakaman ‘adalan) memberikan kepastian kepada mereka.

Ketujuh, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda kepada umat Islam bahwa para Pembaharu akan senantiasa dibangkitkan di antara mereka. Ini adalah bukti nyata bahwa meskipun Syariat telah sempurna, tetapi para Pembaharu (juru selamat) masih diperlukan.

Kedelapan, para Pembaharu telah muncul di antara kaum Muslimin dan hal itu merupakan bukti nyata bahwa Pembaharu diperlukan meskipun Syariat Islam telah sempurna.

Sumber: Alislam.org – Why and When a Reformer?
Penerjemah: Lia Muflihah