Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 05 Oktober 2018 (Ikha 1397 HS/25 Muharram 1440 HQ) di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ.

(آمين)

Pada khotbah yang lalu, saya telah menyampaikan berkenaan dengan sahabat RasuluLlah (saw) bernama Hadhrat Abdullah bin Mas’ud. Pada saat ini akan saya sampaikan sehubungan banyak riwayat yang lainnya tentang beliau dan juga seorang Sahabat lainnya.

Para sahabat mulia menuturkan bahwa dalam hal kedekatan dan jalinan dengan Allah Ta’ala, Hadhrat Abdullah bin Mas’ud memiliki kedudukan yang luar biasa. Secara khusus RasuluLlah (saw) menganjurkan kepada orang-orang bahwa diantara para sahabat yang untuk dijadikan sebagai teladan dan panutan ialah Hadhrat Abu Bakr dan Hadhrat Umar serta Hadhrat Abdullah bin Mas’ud pun termasuk diantaranya. Hadhrat RasuluLlah (saw) bersabda, اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي مِنْ أَصْحَابِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، وَاهْتَدُوا بِهَدْيِ عَمَّارٍ، وَتَمَسَّكُوا بِعَهْدِ ابْنِ مَسْعُودٍ “…peganglah dengan teguh teladan Abdullah bin Mas’ud.”[1]

RasuluLlah (saw) memiliki kepercayaan yang khas pada beliau (ra) dan begitu juga Hadhrat Abdullah bin Mas’ud memiliki kecintaan yang luar biasa kepada pribadi RasuluLlah (saw). Sebagian riwayat beliau (ra) telah saya sampaikan juga yang berkaitan dengan Rasulullah (saw). Masih ada beberapa riwayat lagi yang terkadang mirip namun dijelaskan dalam sudut pandang yang berbeda.

Tertulis berkenaan dengan beliau bahwa disebabkan banyak bergaul dengan RasuluLlah (saw) sehingga membentuk beliau menjadi seorang insan bertakwa, orang yang menjauhi perbuatan dosa dan juga yang ahli ibadah. Begitu dalamnya kecintaan beliau terhadap ibadah fardhu maupun nafal sehingga selain melaksanakan shalat fardhu dan tahajjud, beliau pun biasa mengerjakan shalat Dhuha. Begitu juga beliau biasa melaksanakan puasa nafal senin dan kamis. Meskipun demikian beliau selalu dibayang-bayangi kekhawatiran ibadah puasa beliau masih kurang.

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud selalu mengatakan, “Saya tidak banyak berpuasa karena saya merasa badan saya mulai merasa letih saat melaksanakan tahajjud.”

Hal demikian karena beliau melaksanakan shalat tahajjud sangat lama dan luar biasa. Memang benar, seandainya shalat nafal dan tahajjud dilaksanakan dengan sebagaimana mestinya, maka manusia akan merasa lelah. Atas hal itu beliau mengatakan, “Saya mengutamakan shalat diatas puasa. Jika shalat dan puasa nafal saya dibandingkan, saya tidak terlalu sering melaksanakan puasa nafal.”

Suatu ketika setelah RasuluLlah (saw) menyampaikan pidato singkat, beliau (saw) memerintahkan kepada Hadhrat Abu Bakr, “Sekarang silahkan Anda berpidato.” Lalu Hadhrat Abu Bakr menyampaikan pidato singkat.

Kemudian, RasuluLlah (saw) bersabda serupa lagi kepada Umar. Hadhrat Umar lalu menyampaikan pidato yang lebih singkat dari Hadhrat Abu Bakr.

Selanjutnya, beliau (saw) bersabda kepada orang lainnya lagi, orang itu menyampaikan pidato panjang. Lalu RasuluLlah (saw) bersabda padanya, “Duduklah” atau “Sudah cukup.”

Kemudian, RasuluLlah (saw) memerintahkan Hadhrat Abdullah bin Mas’ud untuk berpidato lalu beliau (ra) menyampaikan puji sanjung atas Allah Ta’ala setelah itu hanya mengatakan, “Wahai manusia! Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi kita, Baitullah adalah kiblat kita, Muhammad RasuluLlah (saw) adalah nabi kita.”

Dalam riwayat lain beliau mengatakan, رَضِيتُ بِاللَّهِ رِبًا، وَبِالْإِسْلاَمِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً، ثُمَّ قَالَ‏:‏ رَضِيتُ لَكُمْ مَا رَضِيَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ، وَكَرِهْتُ لَكُمْ مَا كَرِهَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم‏:‏ ‏.‏ “Kita ridha bahwa Tuhan adalah Rabb dan Islam adalah agama kita dan aku meridhai bagi kalian atas apa apa yang Allah dan Rasul-Nya ridhai.

Atas hal itu RasuluLlah (saw) bersabda, رَضِيتُ لِأُمَّتِي مَا رَضِيَ لَهَا ابْنُ أُمِّ عَبْدٍ “Apa yang dikatakan Ibnu Ummi ‘Abdin (Abdullah ibn Mas’ud) adalah benar dan aku meridhai bagi umatku apa-apa yang diridhai oleh Ibnu Mas’ud.”

Ketika Hadhrat Ali berangkat ke Kufah, dalam majlis beliau, disinggung mengenai Hadhrat Abdullah bin Mas’ud, karena beliau pernah tinggal di Kufah. Orang-orang memuji beliau dengan mengatakan, يا أمير المؤمنين ما رأينا رجلًا كان أحسن خُلْقًا ولا أرفق تعليمًا ولا أحسن مجالسةً ولا أشدّ وَرَعًا من عبد الله بن مسعود “Wahai Amirul Mukminin! Kami tidak pernah melihat manusia yang melebihi Hadhrat Abdullah bin Mas’ud dalam hal akhlak mulia, mendidik dengan kelembutan, terbaik dalam pergaulan dan dalam hal rasa takut kepada Allah.”

Untuk tujuan menguji (mencari tahu lebih dalam), Hadhrat Ali bertanya pada mereka, نشدتكم الله إنه للصدق من قلوبكم ؟  “Saya bertanya pada kalian dengan bersumpah atas nama Allah, katakan sejujurnya, apakah kalian memberikan kesaksian tersebut dengan hati yang tulus?”

Semuanya menjawab, نعم “Ya.”

Atas hal itu Hadhrat Ali bersabda, اللهمّ إني أُشْهِدُكَ، اللهمّ إني أقول فيه مثل ما قالوا أو أفضلَ، قَرَأ القُرآنَ فأحَلّ حَلالَهُ وحَرّمَ حَرَامَه، فَقيهٌ في الدّين، عالم بالسنّة “Ya Allah! Jadilah Engkau sebagai saksi bahwa keyakinan saya mengenai Abdullah bin Mas’ud pun seperti apa yang mereka katakan, bahkan lebih dari itu.”[2]

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud telah melaksanakan hak persaudaraan yang telah ditegakkan oleh RasuluLlah (saw) yakni dengan saudara ruhani beliau bernama Hadhrat Zubair bin Al Awwam. Dengan mengungkapkan kepercayaan penuh kepada beliau, Hadhrat Abdullah bin Mas’ud menyampaikan wasiyat, “Yang akan bertanggung jawab untuk mengawasi harta kekayaan sepeninggal saya nantinya adalah Hadhrat Zubair bin Al Awwam dan putranya. Begitu juga dalam urusan keluarga, putusan beliau adalah mutlak dan harus ditaati.”

Abu Wail meriwayatkan bahwa Hadhrat Abdullah bin Mas’ud melihat seseorang memakai kain sarung sampai melewati mata kaki, lalu beliau meminta supaya meninggikannya. Orang itu kemudian menjawabnya dengan berkata, “Anda pun harus meninggikan kain sarung Anda juga karena kain Anda melewati mata kaki.”

Beliau bersabda, “Saya tidak seperti anda, betis saya tipis dan badan saya kurus.”[3]

Lalu kabar tersebut sampai kepada Hadhrat Umar. Disebabkan sikap buruk orang tersebut dalam merespon dan menjawab Hadhrat Abdullah bin Mas’ud, lalu orang itu mendapatkan sanksi dari Hadhrat Umar.

Mungkin saja ketakabburan dalam diri orang itu yang membuatnya berlaku demikian karena pada zaman itu sudah menjadi tradisi orang biasa memanjangkan kain sarungnya disertai kesombongan sehingga beliau (ra) mengingatkan orang itu akan hal tersebut.

Lalu tanpa memperhatikan betapa rendah hatinya, disiplin dalam mengamalkan perintah Tuhan dan sedemikian takutnya kepada Allah Ta’ala dalam diri Abdullah ibn Mas’ud yang mengingatkan tersebut lantas orang ini menjawab seperti itu. Ketika Hadhrat Umar tahu kabar tersebut, beliau menjatuhkan sanksi.

Berkenaan dengan ketaatan Hadhrat Abdullah bin Mas’ud kepada Rasul, Hadhrat Khalifatul Masih kedua (ra) pernah bersabda yang mana terdapat riwayat dalam hadits yang darinya dapat kita ketahui betapa tingginya ruh ketaatan dalam diri beliau. Meskipun pada lahirnya merupakan kisah yang dengan mendengarnya seseorang dapat mengatakan betapa bodohnya, namun seperti yang saya katakan, Hadhrat Khalifatul Masih kedua (ra) mengatakan, “Inilah yang menjadi rahasia kesuksesan beliau yaitu ketika mendengarkan perintah keluar dari mulut RasuluLlah (saw), beliau saat itu juga siap untuk mengamalkannya.”

Terdapat dalam hadits bahwa suatu ketika Hadhrat Abdullah bin Mas’ud tengah berjalan menuju majelis RasuluLlah (saw). Pada saat beliau tengah berjalan di suatu gang dan terdengar suara RasuluLlah (saw) yang mengatakan, ‘Duduklah!’

Tampaknya saat itu di dalam majlis RasuluLlah (saw) ramai orang sehingga mungkin ada yang berdiri di pojok, lalu RasuluLlah (saw) bersabda kepada orang-orang yang berdiri dalam majelis itu, ‘Duduklah!’

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud belum lagi sampai dalam majelis RasuluLlah (saw) dan ketika mendengar perintah RasuluLlah (saw) beliau masih berjalan di gang, seketika itu juga beliau langsung duduk diatas jalan lalu seperti halnya anak kecil beliau maju sambil duduk di tanah menuju masjid tempat majlis RasuluLlah (saw) dan akhirnya sampai.

Saat itu ada orang yang tidak memahami rahasia ruh ketaatanlah yang membuat suatu kaum sukses di dunia ini, lantas ketika melihat perbuatan Hadhrat Abdullah bin Mas’ud, menegur dengan berkata, ‘Betapa bodoh apa yang Anda lakukan? Yang diperintah oleh RasuluLlah (saw) untuk duduk adalah mereka yang berada di dalam masjid, kenapa Anda malah duduk di tanah lalu merangkak maju menuju masjid. Seharusnya Anda duduk ketika sampai di masjid nanti, tidak ada manfaatnya duduk diatas jalan seperti ini.’

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud menjawab, ‘Ya bisa saja, namun jika saya mati sebelum sampai di masjid, maka aku akan terhitung tidak mengamalkan perintah RasuluLlah (saw) tersebut, sekurang-kurang akan menjadi satu hal yang tidak saya amalkan.’

Bagaimana kecintaan para sahabat supaya jangan sampai ada perintah RasuluLlah (saw) yang tidak mereka amalkan. Beliau mengatakan, ‘Saya mendengar perintah tersebut dan jika saat itu saya tidak melaksanakannya lalu saya mati maka akan tercatat sebagai orang yang meskipun mendengar namun tidak mengamalkan.’

Walhasil, beliau menjawab pada orang itu, ‘Untuk itu saya merasa tidak sesuai jika saya tetap berjalan lalu duduk ketika sampai di masjid, karena saya berfikir bahwa usia tidaklah dapat dipastikan apakah saya dapat sampai di masjid ataukah tidak? Untuk itu saya harus duduk supaya tercatat sebagai orang yang mengamalkan perintah tersebut.’ Betapa dalamnya para sahabat memandang sesuatu.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menulis lebih lanjut mengenai riwayat Hadhrat Abdullah bin Mas’ud, “Suatu ketika Hadhrat Utsman (ra) pada masa kekhalifahan beliau pernah mendirikan shalat di Makkah pada hari hari haji sebanyak 4 rakaat. Beliau berangkat haji dan tinggal untuk sementara saja di Makkah lalu melaksanakan shalat 4 rakaat penuh [yaitu shalat fardhu yang 4 raka’at].

Ketika RasuluLlah (saw) pergi ke Makkah untuk haji, beliau pun mendirikan shalat 2 rakaat saja, karena bagi seorang musafir diperintahkan untuk melaksanakan shalat 2 rakaat saja. Begitu juga Hadhrat Abu Bakr (ra) ketika pergi haji pada masa kekhalifahannya, beliaupun melaksanakan dua rakaat saja. Begitu juga Hadhrat Umar (ra) ketika pergi haji pada masa kekhalifahannya, beliau pun melaksanakan dua rakaat saja yakni mengqashar shalat.

Namun Hadhrat Utsman mengimami shalat empat rakaat. Mengetahui hal itu, saat itu terjadilah keributan dan tanda tanya di benak orang-orang. Mereka beranggapan Hadhrat Utsman telah mengubah Sunnah RasuluLlah (saw). Lalu, orang-orang datang menjumpai Hadhrat Utsman menanyakan, ‘Kenapa tuan melaksanakan shalat 4 rakaat?’

Hadhrat Utsman (ra) bersabda, ‘Dalam hal ini saya telah berijtihad bahwa saat ini orang-orang yang baiat berasal dari tempat yang jauh juga dan banyak juga orang yang datang untuk ibadah haji dari tempat yang jauh yang mana kebanyakan dari mereka tidak memiliki pengetahuan yang dalam berkenaan dengan Islam tidak seperti baiatan lama. Mereka hanya memperhatikan amalan kita, apa yang mereka lihat dari kita itu yang akan mereka amalkan juga dan menganggap hal tersebut sebagai hukum islam.

Karena para mubayyiin baru ini sangat jarang datang ke Madinah sehingga tidak dapat melihat bagaimana kita shalat untuk itu saya berfikir pada musim haji ini jika mereka melihat saya melakukan shalat sebanyak dua rakaat saja yakni qashar, begitu jugalah yang akan mereka amalkan sepulangnya mereka dari haji ini, yakni mereka akan berdalil bahwa mereka melihat Khalifah mengimami shalat 2 rakaat saja. Walhasil, hukum Islam yang sebenarnya adalah melakukan shalat di qashar sebanyak dua rakaat, namun karena mereka tidak tahu alasan kenapa memendekkan shalat karena dalam perjalanan, sehingga dikhawatirkan ketika kembali ke kampungnya nanti dapat timbul perselisihan pendapat dan dapat mengakibatkan ketergelinciran.’

Hadhrat Utsman bersabda, ‘Untuk itu saya menganggap lebih saya melakukan shalat tidak diqashar yakni penuh 4 rakaat, supaya mereka tidak melupakan 4 rakaat shalat. Selebihnya, kenapa saya diperbolehkan melakukan shalat tanpa diqashar, sebagai jawabannya adalah saya telah menikah di sini, istri saya berasal dari Makkah, begitu juga keluarga istri dan mertua. Karena kampung halaman istri terhitung sebagai kampung halaman saya juga, untuk itu saya beranggapan bahwa saya bukan musafir sehingga saya harus shalat dengan rakaat penuh tidak diqashar.’

Seperti itulah dalil lain yang mendukung ijtihad beliau tadi. Walhasil, beliau menjelaskan alasan kenapa beliau mengimami shalat sebanyak 4 rakaat yang bertujuan supaya orang-orang yang berasal dari tempat jauh tidak terkecoh dan supaya tidak tergelincir dalam memahami ajaran islam yang sahih.

Amal perbuatan yang dilakukan oleh Hadhrat Utsman sangatlah halus dan mendalam. Ketika para sahabat mengetahui alasan itu, sebagian dapat memahaminya namun sebagian lagi tidak dan tetap diam.

Adapun para penebar fitnah menghebohkan hal tersebut dengan mengatakan Hadhrat Utsman telah melakukan amal perbuatan yang bertentangan dengan Sunnah Rasul. Lalu beberapa diantara para penebar fitnah itu datang menjumpai Hadhrat Abdullah bin Mas’ud dan mengatakan, “Apakah Anda tahu apa yang terjadi hari ini? Apa yang dulu biasa disunnahkan RasuluLlah (saw) dan apa yang dilakukan oleh Utsman pada hari ini? Hadhrat RasuluLlah (saw) ketika haji di Makkah biasa melakukan shalat dengan di qashar 2 rakaat, namun Hadhrat Utsman mengimami shalat 4 rakaat.”

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud menjawab, ‘Bukanlah tugas kita untuk menebarkan fitnah ini, karena pasti seorang Khalifah melakukan demikian didasari hikmah yang tidak kita fahami. Untuk itu kalian janganlah timbulkan fitnah, saya pun ikut bermakmum shalat 4 rakaat di belakang beliau, namun setelah shalat saya mengangkat tangan berdoa pada Allah Ta’ala: Ya Tuhan! Diantara 4 rakaat shalat saya ini, terimalah dua rakaat saja sesuai dengan yang biasa kami kerjakan ketika bermakmum kepada RasuluLlah (saw) dan dua rakaat lainnya janganlah Engkau anggap sebagai shalatku.’”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Betapa indahnya corak kecintaan dalam diri Hadhrat Abdullah bin Mas’ud. Memang beliau melaksanakan shalat 4 rakaat, namun beliau tidak mengharapkan pahala yang lebih dari dua rakaat yang biasa RasuluLlah (saw) amalkan, Beliau (ra) berdoa, ‘Ya Tuhan terimalah yang dua rakaat saja, jangan yang empat.’

Makmum yang berada di belakang khalifah Utsman melaksanakan shalat 4 rakaat dan melakukannya dengan ketaatan. Mereka memperoleh pahala shalat dan pahala ketaatan. Sementara itu, Abdullah ibn Mas’ud mempunyai pendapat yang istimewa dan beliau mengatakan, “Saya telah menaati Khalifah dan seiring dengan itu berdoa juga pada Allah Ta’ala, ‘Saya tidak menghendaki untuk mendapatkan ganjaran melebihi dari ganjaran shalat yang dicontohkan oleh RasuluLlah (saw).’”

Lalu Hadhrat Mushlih Mau’ud menulis, “Dari riwayat ini dijumpai contoh yang indah dalam ketaatan pada Khalifah padahal beliau tidak mengetahui penyebab Hadhrat Utsman shalat empat rakaat bukannya dua rakaat. Sementara itu, alasan beliau dibenarkan oleh banyak orang bahwa saat itu beliau tengah berada di Makkah yang merupakan kampung halaman istri beliau. Artinya, berkunjung ke kampung halaman istri, berkunjung ke kampung halaman anak atau berkunjung ke kampung halaman ayah-ibu itu tidak terhitung sebagai safar.

Langkah yang beliau tempuh adalah benar. Terlebih langkah tersebut merupakan bentuk kehati-hatian Hadhrat Utsman supaya para mubayyin baru yang datang dari tempat jauh tidak terkecoh dan jangan sampai tercipta perpecahan dalam umat karena itu. Itu merupakan bukti ketinggian derajat ketakwaan beliau. Dalam benak beliau tercetus pandangan agar jangan sampai terjadi fitnah di kalangan orang-orang.

Namun Hadhrat ibnu Mas’ud saat itu masih belum mengetahui hikmah di balik shalat Hadhrat Utsman (عثمانَ ؓ), namun demikian beliau tidak lantas meninggalkan shalat. Beliau tetap shalat dan taat pada khilafat lalu setelah itu berdoa pada Allah Ta’ala, ‘Kabulkanlah dua rakaat shalat saya, jangan empat.’

Betapa dalamnya ruh ketaatan beliau kepada RasuluLlah (saw). Inilah sebab kenapa meskipun mayoritas sahabat RasuluLlah (saw) adalah buta huruf dan diriwayatkan hanya 7 orang saja yang terpelajar, namun bagaimana mereka dapat menaklukan dunia. Walhasil, ketaatan inilah yang membuat mereka meraih maqam (kedudukan) tersebut dan sukses. Inilah point yang harus selalu kita ingat. Dari amalan Hadhrat Abdullah bin Mas’ud ini tampak ketaatan pada Khalifah dan kedudukan tinggi beliau dalam kecintaan pada RasuluLlah (saw). Untuk itulah dalam berbagai kesempatan Hadhrat RasuluLlah (saw) senantiasa memuji amalan Hadhrat Abdullah bin Mas’ud dalam berbagai kesempatan dan ini merupakan cara hakiki untuk terhindar dari fitnah. Inilah teladan yang harus dijadikan contoh oleh para Ahmadi.

Suatu ketika pada malam hari Hadhrat Umar (عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ؓ) menemui satu rombongan kafilah yang karena suasana gelap sehingga tidak dapat mengenali mereka. Hadhrat Abdullah bin Mas’ud berada dalam rombongan tersebut.

Kemudian, Hadhrat Umar mengutus seseorang untuk menanyakan beberapa pertanyaan kepada kafilah tersebut, مِنْ أَيْنَ الْقَوْمُ؟ “Dari mana Anda sekalian?”

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud menjawab, أَقْبَلْنَا مِنَ الْفَجِّ الْعَمِيقِ “al-Fajjul ‘amiiq” (Kami dari tempat yang jauh.)

Lalu bertanya lagi, أَيْنَ تُرِيدُونَ؟  “Anda sekalian hendak pergi kemana?”

Beliau menjawab, الْبَيْتُ الْعَتِيقُ “al-Baitul ‘Atiiq.” (artinya, Ka’bah).

Hadhrat Umar bertanya, إِنَّ فِيهِمْ لَعَالِمًا، فَأَمَرَ رَجُلا يُنَادِيهِم “Diantara kafilah tersebut ada seorang berilmu”, lalu beliau mengutus lagi seorang Sahabat untuk bertanya lagi, أَيُّ الْقُرْآنِ أَعْظَمُ؟  “Ayat apakah yang paling agung dalam Al Quran?”

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud menjawab, اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيّ الْقَيُّومُ “Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum laa takhudzuhuu sinatun walaa nauum…” (Ayat Kursi) hingga akhir ayat. “Allah, tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya) tidak mengantuk dan tidak pula tidur…” (QS Al-Baqarah: 255).

Lalu bertanya, أَيُّ الْقُرْآنِ أَحْكَمُ؟ “Ayat Quran yang mana yang paling muhkam (tegas)?”

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud menjawab, إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِinnallaaha ya’muru bil adli wal ihsaan wa iitaa idzil qurbaa…” Sesungguhnya Allah memerintah kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang kamu dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An-Nahl: 10).

Hadhrat Umar memerintahkan untuk bertanya lagi, أَيُّ الْقُرْآنِ أَجْمَعُ؟  “Ayat Quran manakah yang paling lengkap (jami)?”

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud menjawab, فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُfa man ya’mal mitsqaala dzarratin khairan yarah wa man ya’mal mitsqaala dzarratin syarran yarah.” “Siapa yang mengerjakan kebaikan walaupun seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan siapa mengerjakan kejahatan walaupun sebesar dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya pula.” (QS Al-Zalzalah: 9)

Lalu bertanya lagi, أَيُّ الْقُرْآنِ أَحْزَنُ؟  “Ayat Al Quran yang mana yang paling mengerikan (paling membuat sedih)?”

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud menjawab, لَّيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ ۗ مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًاlaisa biamaaniyyikum wa laa amaaniyyi ahlil kitaabi man ya’mal suuan yajzi bihii wa laa yajid lahuu min duunillaahi waliyyan walaa nashiiraa.”

Hadhrat Umar Faruq mengatakan, نَادِهِمْ: أَيُّ الْقُرْآنِ أَرْجَى؟  “Tanyakan kepada kafilah tersebut, ayat Quran manakah yang paling memberikan harapan?”

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud menjawab, قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِQul yaa ibaadiyalladziina asrafuu alaa anfusihim laa taqnathuu min rahmatillaahi innallaaha yaghfirudz dzunuuba jamiian innahuu huwal ghafuururahiim.

Hadhrat Umar bersabda setelah meminta untuk menanyakan semua itu, نَادِهِمْ، أَفِيكُمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ؟ “Tanyakan pada mereka apakah di dalam kalangan tersebut ada Hadhrat Abdullah bin Mas’ud?”

Mereka menjawab, اللَّهُمَّ نَعَمْ “Kenapa tidak? Demi Tuhan beliau berada di tengah-tengah kami.”

Pertanyaan yang disampaikan Hadhrat Umar perihal keberadaan Hadhrat Abdullah bin Mas’ud mengungkapkan Hadhrat Abdullah bin Mas’ud adalah sahabat yang menguasai ilmu fiqih.

Setelah mendengar seluruh jawaban itu Hadhrat Umar menjadi yakin bahwa Hadhrat Abdullah bin Mas’ud-lah yang dapat memberikan jawaban yang cerdas seperti itu.

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa pada hari Badar RasuluLlah (saw) bertanya kepada para sahabat, مَا تَقُولُونَ فِي هَؤُلاءِ الأَسْرَى ؟ “Apa pendapat kalian mengenai para tawanan kita?”

Hadhrat Abu Bakr menjawab, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَوْمُكَ وَأَهْلُكَ اسْتَبْقِهِمْ وَاسْتَتِبْهُمْ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ  “Wahai RasuluLlah (saw)! Mereka berasal dari kaum dan keluarga tuan, mohon untuk dapat memaafkan dan memperlakukan mereka dengan lembut. Mungkin saja Allah Ta’ala memberikan taufik pada mereka untuk bertaubat.”

Lalu Hadhrat Umar berkata, “Wahai RasuluLlah (saw)! Mereka telah mendustakan tuan dan juga menganggu, kita penggal saja leher mereka.”

Lalu Hadhrat Abdullah bin Rawaha berpendapat, “Mohon Anda carilah hutan yang di dalamnya banyak pohon rindang, lalu masukkan mereka ke dalamnya dan bakar.”

Hadhrat RasuluLlah (saw) telah mendengar semua pendapat mereka namun tidak mengambil keputusan lalu beranjak ke kemah beliau. Hadhrat Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Orang-orang mulai berbincang satu sama lain mengatakan, ‘Coba lihat, pendapat siapa yang akan diterima oleh Rasul.’

Tidak lama kemudian RasuluLlah (saw) keluar dari kemah dan bersabda, ‘Sedemikian rupa Allah melembutkan hati sebagian orang, sehingga lebih lembut dari susu sekalipun dan Sedemikian rupa Allah mengeraskan hati sebagian orang, sehingga lebih keras dari batu sekalipun, wahai Abu Bakr! Permisalanmu seperti Hadhrat Ibrahim (as) yang mana telah bersabda, فمن تبعني فإنه مني ومن عصاني فإنك غفور رحيم faman tabi’anii fainnahuu minniiy wa man asaaniiy fainnaka ghafuurur rahiim. Jadi, siapa yang mengikutiku berarti dia dariku dan barangsiap yang tidak taat padaku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Lalu RasuluLlah (saw) bersabda: Wahai Abu Bakr! Permisalanmu seperti Hadhrat Isa (as), yang mana telah bersabda, إن تعذبهم فإنهم عبادك وإن تغفر لهم فإنك أنت العزيز الحكيم in tu’adzdzibhum fainnahum ibaaduka wa in taghfir lahum fainnaka antal aziizul hakim. Jika Engkau mengazab mereka, padahal mereka adalah hambaMu. Jika Engkau memaafkan mereka, sesungguhnya Engkau adalah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.

Rasul bersabda kepada Hadhrat Umar, “Permisalanmu seperti Hadhrat Nuh (as), yang mana telah bersabda, رب لا تذر على الأرض من الكافرين دياراRabbi laa tadzar alal ardhi minal kaafiriina dayyaaraa.’ – ‘Wahai Tuhanku jangan biarkan seorang kafir pun hidup di muka bumi ini.’”

Bersabda juga kepada Hadhrat Umar, “Permisalanmu seperti Hadhrat Musa (as) yang mana mengatakan, ربنا اطمس على أموالهم واشدد على قلوبهم فلا يؤمنوا حتى يروا العذاب الأليم Rabbana athmis ala amwaalihim wasydud alaa quluubihim falaa yuminuu hatta yarawul adzaabal aliim. ‘Ya Tuhan kami! Hancurkanlah harta mereka keraskanlah hati mereka, karena mereka tidak akan beriman sehingga mereka akan melihat azab yang mengerikan.’

Hadhrat RasuluLlah (saw) bersabda, فلا يَنفلتنَّ منهم أحدٌ إلَّا بفداءٍ ، أو ضَربةِ عنقٍ “Karena kalian adalah orang yang membutuhkan, untuk itu setiap tawanan akan membayar fidyah atau lehernya dipenggal.

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, “Saya bertanya, ‘Wahai RasuluLlah (saw)! Dalam melaksanakan perintah tersebut. Mohon kiranya Sahal bin Baidha dikecualikan, karena saya pernah mendengarnya menyebutkan tentang Islam dengan baik.’

Mendengar itu RasuluLlah (saw) terdiam.

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud berkata, “Betapa khawatirnya saya saat itu layaknya seperti dihujani batu dari langit dan saya tidak pernah sekhawatir itu sebelumnya. Pada akhirnya Hadhrat RasuluLlah (saw) bersabda, إلا سهيل بن بيضاء ‘Kecualikan orang itu.’”[4]

Melihat Hadhrat RasuluLlah (saw) terdiam, Hadhrat Abdullah bin Mas’ud beranggapan bahwa RasuluLlah (saw) tengah marah dan disebabkan oleh hal itu karena takut kepada Allah Ta’ala dan takut akan hukuman dari-Nya, sehingga beliau merasa sangat khawatir. Sungguh luar biasa bagaimana rasa takut beliau kepada Allah Ta’ala.

Sesuai dengan Sunnah RasuluLlah (saw), Hadhrat Abdullah bin Mas’ud biasa menyampaikan ceramah pada hari kamis dengan singkat dan padat dan penyampaian beliau sedemikian rupa indah dan mantap sehingga diriwayatkan Hadhrat Abdullah bin Mardas, كان عبد الله يخطبنا كل خميس فيتكلم بكلمات فيسكت حين يسكت ونحن نشتهي أن يزيدنا “Ketika Hadhrat Abdullah bin Mas’ud mengakhiri ceramahnya, kami ingin supaya beliau menyambung lagi ceramahnya. Pada umumnya waktu sore beliau menyampaikan satu hadits RasuluLlah (saw) dan ketika menyampaikan hadits tampak terpancar dari diri beliau gejolak rasa cinta beliau kepada RasuluLlah (saw).”

Murid beliau menyebut beliau dengan nama Masruuq (مسروق). Mereka menceritakan suatu ketika Hadhrat Abdullah bin Mas’ud menyampaikan sebuah hadits kepada kami dan ketika sampai pada kalimat Sami’tu Rasulallah yang artinya, “Saya mendengar dari RasuluLlah (saw).” Disebabkan rasa takut badan beliau menggigil sampai sampai tampak dari gerakan pakaian beliau. Setelah itu untuk kehati-hatian beliau selalu bersabda, “Mungkin Nabi Saw bersabda demikian atau yang semisal dengannya.”

Ketika menjelaskan hadits beliau sangat berhati-hati dan nampaknya itu disebabkan oleh peringatan yang disampaikan oleh RasuluLlah (saw) yakni orang yang menyampaikan hadits RasuluLlah (saw) secara keliru akan mendapat azab Ilahi.

Dari riwayat lain dapat kita perkirakan bagaimana kehati hatian beliau. Amru bin maimun meriwayatkan: Saya selalu datang menemui Hadhrat Abdullah bin Mas’ud selama satu tahun berturut turut, beliau sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Suatu ketika saya melihat setalah mengatakan Qola RasuluLlah (saw) yang artinya RasuluLlah (saw) telah bersabda, beliau diliputi oleh keadaan yang aneh sehingga bercucuran keringat dari kening beliau lalu beliau mengatakan bahwa: RasuluLlah (saw) telah bersabda seperti itu atau menggunakan kata yang mirip dengan itu. Gambaran rasa takut beliau keada Allah ta’ala sehingga beliau biasa mengatakan, ما أنا له اليوم بمتيسر… وددتُ أني إذا ما مت لم أُبعث “Saya ingin supaya setelah mati nanti saya tidak dibangkitkan lagi dan terhindar dari penghisaban di akhirat.”

Hadhrat Abdullah meriwayatkan bahwa suatu ketika Hadhrat Abdullah bin Mas’ud jatuh sakit dan sangat ketakutan. Kami bertanya, “Sebelum ini Anda pernah sakit, namun tidak pernah nampak sangat ketakutan seperti sekarang ini?”

Beliau menjawab, “Penyakit yang sekarang datang tiba-tiba. Saya sendiri merasa belum siap untuk melakukan perjalanan ke akhirat, karena itu saya khawatir.”

Beliau bersabda mengenai kewafatan beliau, ما أنا له اليوم بمتيسر… وددتُ أني إذا ما مت لم أُبعث. “Saat ini tidak akan mudah bagi saya, saya ingin supaya setelah mati nanti tidak dibangkitkan lagi.”

Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Hadhrat Abdullah bin Mas’ud mewasiatkan sesuatu dan dalam wasiyat tersebut tertulis بسم الله الرحمن الرحيم bismillaahir rahmaanirrahiim. Saat ini setiap orang menulis بسم الله الرحمن الرحيم bismillaahirrahmaanirrahiim. Dalam riwayat tersebut disampaikan secara khusus karena beliau memahami secara hakiki mengenai ayat tersebut. Beliau memahami sifat Rahman dan Rahim Allah Ta’ala. Untuk itu beliau menulis wasiyatnya dimulai dengan sifat Allah Ta’ala, dengan nama Allah Ta’ala supaya dalam wasiyat tersebut jika ada hal-hal yang dapat memancing cengkraman Ilahi Allah Ta’ala yang Maha Rahman dan Rahm dapat menghindarkannya.

Dengan karunia Allah Ta’ala kondisi ekonomi Hadhrat Abdullah bin Mas’ud menjadi begitu baik sehingga pada masa tua, beliau menolak untuk mendapatkan tunjangan. Dalam kondisi ekonomi yang baik tersebut harta peninggalan beliau berjumlah 90 ribu dirham, namun berkenaan dengan kain kafan untuk dirinya sendiri beliau mewasiatkan supaya menggunakan kain yang sederhana yang bernilai 200 dirham dan berwasiyat juga supaya dikuburkan di dekat kuburan Hadhrat Utsman bin Mazh’un. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa Hadhrat Utsman memimpin shalat jenazah beliau. Beliau dimakamkan di Jannatul Baqi dan dimakamkan pada malam hari.

Terdapat satu riwayat juga, paska pemakaman beliau, ketika seorang perawi melewati makam beliau pada pagi hari, perawi tersebut melihat kuburan beliau telah ada yang membasahi dengan air. Dari hal itu dapat diketahui bagaimana kecintaan orang-orang kepada beliau sehingga untuk mengokohkan tanah kuburan pun pada malam harinya seseorang telah menyiramkan air diatas kuburan beliau.

Abul Ahwash (أبي الأحوص) meriwayatkan, “Setelah kewafatan Hadhrat Abdullah bin Mas’ud, saya menemui Hadhrat Abu Musa dan Hadhrat Abu Mas’ud, salah satu darinya mengatakan kepada kawannya, ‘Apakah paska kewafatannya Ibnu Mas’ud meninggalkan orang yang semisalnya?’

Beliau mengatakan: Mungkin saja ada yang menyerupainya setelah kepergian kita, namun saat itu tidak Nampak kepada kita orangnya.

Hadhrat Tamin bin Haram (تميم بن حرام) meriwayatkan, “Saya sering duduk dalam majlis para sahabat RasuluLlah (saw), namun saya tidak menjumpai sahabat yang melebihi beliau dalam hal tidak cinta dunia dan mencintai akhirat.”

Sahabat kedua yang akan saya sampaikan pada hari ini adalah Hadhrat Qudamah bin Mazh’un (قدامة بن مظعون ؓ). Beliau adalah saudara Hadhrat Utsman bin Mazh’un (عثمان بن مظعون). Beliau menikah dengan saudari Hadhrat Umar yakni Hadhrat Sofiyah. Hadhrat Qudamah bin Mazh’un memiliki istri lebih dari satu. Satu istri beliau bernama Hind Binti Waleed (هند بنت الوليد) yang dari perutnya terlahir Umar dan Fatimah. Istri lainnya lagi bernama Fatimah Binti Abu Sufyan yang darinya terlahir putri beliau bernama Aisyah. Demikian juga dari perut Ummi Walad Hafsah sedangkan dari perut Sofyah bin Khatab terlahir Hadhrat Ramlah.

Ketika baiat beliau berusia 19 tahun, seolah-olah beliau baiat pada usia muda. Ketika Hijrah ke Madinah seluruh keluarga beliau meninggalkan semua rumah di Makkah dan pindah ke Madinah. Di Madinah Hadhrat Abdullah bin Salma al-Ajlani (عبد الله بن سلمى العجلاني) menjadikan keluarga tersebut sebagai tamunya. Ketika Nabi (saw) hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau memberikan beberapa kapling tanah kepada Hadhrat Qudamah dan saudara saudara beliau sebagai tempat tinggal permanen.

Hadhrat Qudamah bin Mazh’un adalah termasuk Muslim awwalin. Beliau ikut serta dalam kedua hijrah yakni hijrah ke Habsyah (Abbesinia atau Etiopia-Eritria) dan ke Madinah. Beliau mendapatkan taufik untuk ikut serta dalam perang Badar, Uhud dan seluruh peperangan lainnya bersama dengan RasuluLlah (saw).

Ketika Hadhrat Utsman bin Mazh’un wafat, beliau meninggalkan seorang anak perempuan yang mengenainya beliau mewasiyatkan kepada saudaranya, Hadhrat Qudamah. Hadhrat Abdullah bin Umar meriwayatkan, “Hadhrat Utsman bin Mazh’un dan Hadhrat Qudamah bin Mazh’un keduanya adalah paman saya. Saya pergi kepada Hadhrat Qudamah dan memohon kepada beliau untuk menikahkan putri Hadhrat Utsman bin Mazh’un dengan saya. Lalu beliau mematangkannya dan akhirnya berjodoh.

Kemudian pria lain bernama Mughirah bin Syu’bah (الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ) pergi menjumpai ibu dari si gadis tersebut untuk melamar si gadis tersebut dan berusaha menarik perhatiannya dengan harta dan dalam hal ini ibunya memiliki wewenang penuh untuk memilih jodoh si anak. Namun si anak gadis dan ibunya lebih cenderung kepada pria yang kedua (Mughirah). Sampailah perkara ini ke hadapan RasuluLlah (saw). RasuluLlah (saw) memanggil Hadhrat Qudamah lalu bertanya mengenai perjodohan tersebut. Beliau menjawab, يَا رَسُولَ اللهِ ابْنَةُ أَخِي أَوْصَى بِهَا إِلَيَّ فَزَوَّجْتُهَا ابْنَ عَمَّتِهَا عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ “Wahai Rasul, anak gadis ini adalah putri saudara saya yang dia wasiyatkan kepada saya. Saya akan menikahkannya dengan jodoh terbaik karena dia anak kakak saya yang sudah almarhum. Untuk itu saya menjodohkan dengan pria yang telah disetujui di awal (Abdullah bin Umar). فَلَمْ أُقَصِّرْ بِهَا فِي الصَّلَاحِ وَلَا فِي الْكَفَاءَةِ، وَلَكِنَّهَا امْرَأَةٌ وَإِنَّمَا حَطَّتْ إِلَى هَوَى أُمِّهَا

RasuluLlah (saw) bersabda, هِيَ يَتِيمَةٌ وَلَا تُنْكَحُ إِلَّا بِإِذْنِهَا “Anak ini adalah yatim.” Artinya, “Jodohnya harus sesuai dengan keinginannya, karena ayahnya sudah wafat. Apa yang kamu lakukan sudah benar, namun tanyakan juga kecondongan si gadis tersebut, dari antara dua lamaran tersebut nikahkanlah dengan pria yang dipilihnya.

Walhasil, setelah itu RasuluLlah (saw) memutuskan. Pertama-tama kerabat sendiri yakni keponakan yang mengirimkan lamaran, namun justru mereka menikahkan dengan Mughirah yakni lamaran kedua yang disukai oleh si gadis tersebut. Ini merupakan kebebasan berpendapat bagi para wanita yang telah ditegakkan oleh RasuluLlah (saw). RasuluLlah (saw) juga memerintahkan untuk memperhatikan secara khusus anak yatim karena sudah tidak ada naungan ayah lagi sehingga tidak ada pemaksaan. Untuk itu dalam hal ini hendaknya memperhatikan keinginan si gadis. Hadhrat Qudamah wafat pada 36 Hijriyah dalam usia 68 tahun.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk melangkah diatas jejak langkah para sahabat tersebut dan meraih, memiliki standar tinggi dalam pengetahuan agama, teladan hakiki dalam ketaatan dan kesetiaan juga dalam kecintaan kepada RasuluLlah (saw) lalu dapat mengamalkannya. [aamiin]

Setelah shalat, saya akan mengimami shalat jenazah ghaib dua Almarhum/ah. Pertama, Mukarramah (مکرمہ, yang terhormat) Amatul Hafizh Bhatti Shahibah (امۃ الحفیظ بھٹی صاحبہ) yang merupakan ahliyah (اہلیہ, istri) Tn. Mahmood Bhatti yang berasal dari Karachi. Almarhumah menjadi Sadr Lajnah Imaillah wilayah (District) Karachi untuk waktu yang lama. Almarhumah meninggal pada usia 93 tahun pada tanggal 27 September 2018. انا للہ وانا الیہ راجعون . Nama ayahnya adalah Dr. Ghulam Ali dan ayahnya ialah Shahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Dikarenakan ayahnya menjadi dokter di ketentaraan maka ia banyak tinggal di berbagai kota berganti-ganti. Di mana pun dia tinggal di kota yang berbeda, dia membuat sebuah lingkungan yang beragama. Inilah cara hidup menakjubkan dari Shahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as). Dengan tabligh beliau selama beberapa bulan, orang-orang yang di bawah pengaruh beliau menjadi Ahmadi dan kemudian mendirikan sebuah komunitas (Jemaat) di sana. Dr. Sahib juga menjadikan rumahnya sebagai pusat aktifitas Jemaat, dan dengan cara ini ia mendirikan sejumlah kelompok Jemaat. Dia berharap keluarganya tetap tinggal di lingkungan yang religius sehingga dia mempertahankan keluarganya berada di Qadian. Ibu Almarhumah Dr. Amatul Hafizh juga mendedikasikan sebagian besar dari umurnya untuk Jemaat. Beliau tinggal di lingkungan agamis di Qadian dari tahun 1936.

Setelah menamatkan Metrik, Amatul Hafizh Bhatti Shahibah belajar di Diniyah Class hingga darjah (level) ke-4. Pada era ini beliau mendapat keberuntungan berupa mengikuti secara teratur pelajaran Dars Qur’an oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra)… Jenazah kedua adalah Adnan Vanen Brokie, yang adalah Sekretaris Kharijiah Belgia. Beliau wafat pada 29 September. إنا لله وإنا إليه راجعون

Ayahnya adalah Ahmadi pertama orang Belgia.

Ibu Almarhum menyatakan, “Ahmadiyah masuk di keluarganya karena ayah Adnan yang tinggal di Irak selama tujuh tahun ketika ia memiliki kesempatan untuk membaca Alquran dan menerima Islam. Ketika ia datang ke Belanda dan bertemu imam Bashir dan sebagai hasil dari tablighnya ia menjadi Ahmadi. Suatu waktu ketika Khalifatul Masih IV (rha) datang ke Belgia dan Almarhum mengatakan kepada beliau, ‘Doakanlah saya semoga Allah selalu membuat saya teguh.’” …

Semoga Allah Ta’ala meningkatkan derajat mereka, memperlakukan mereka dengan pengampunan dan belas kasihan, serta memberikan Jemaat dengan para Khadim yang tulus secara tetap seperti itu. Almarhum meninggalkan dua putra dan dua putri, juga istrinya. Semoga Allah Ta’ala meneguhkan mereka pada agama, menambah keimanan mereka dan memberi mereka taufik untuk mengikuti jejak ayah mereka.

Penerjemah         : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid.

Editor                   : Dildaar Ahmad Dartono

Referensi proof reading (baca ulang dan komparasi naskah) : http://www.islamahmadiyya.net (bahasa Arab)

[1] Sunan at-Tirmidzi (سنن الترمذي), Manaqib (أبواب المناقب), bab Manaqib Abdullah ibn Mas’ud (باب مناقب عبد الله بن مسعود رضي الله عنه), 3805. عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ أَبِي الزَّعْرَاءِ، عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ

Di dalam Sunan at-Tirmidzi (سنن الترمذي), Kitaab/Abwaab al-Manaaqib (المناقب), Bab Manaqib Shahabat, bab Manaqib ‘Ammar ibn Yasir (باب مناقب عمار بن ياسر رضي الله عنه), sub bab keutamaan Ammar (فضل عمار), 3799.

Diriwayatkan oleh Hadhrat Hudzaifah (حُذَيْفَةَ), كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ “Ketika kami tengah duduk bersama dengan Nabi yang mulia (saw), beliau (saw) bersabda, إِنِّي لاَ أَدْرِي مَا قَدْرُ بَقَائِي فِيكُمْ فَاقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي وَأَشَارَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَاهْتَدُوا بِهَدْىِ عَمَّارٍ وَمَا حَدَّثَكُمُ ابْنُ مَسْعُودٍ فَصَدِّقُوهُ ‘Saya tidak tahu berapa lama lagi akan tinggal di tengah-tengah kalian. Untuk itu sepeninggal saya ikutlah orang-orang ini – beliau mengisyarahkan kepada Abu Bakr (ra) dan Umar (ra), tirulah cara-cara Ammar (ra) dan yakinilah apa yang disampaikan oleh ibnu Mas’ud (ra) kepada kalian.’”

[2] Ath-Thabaqat al-Kubra karya ibn Sa’ad.

[3] Mushannaf Ibn Abi Syaibah.

[4] Musnad Ahmad ibn Hanbal.