بسم اللہ الرحمن الرحیم

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 10 Mei 2019 (Hijrah 1398 Hijriyah Syamsiyah/ Ramadhan 1440 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ.

(آمين)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ()

 أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ()

 شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ()

 وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ()

Terjemahan ayat-ayat tersebut ialah sebagai berikut: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelummu, supaya kamu bertakwa yaitu terpelihara dari segala keburukan dan terhindar dari kelemahan ruhani dan akhlaki.

Berpuasa ialah pada beberapa hari yang telah ditentukan bilangannya. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan, hendaklah ia berpuasa sebanyak itu pada hari-hari lain, dan bagi orang-orang yang tidak sanggup berpuasa hendaklah membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Dan siapa berbuat kebaikan dengan rela hati maka hal itu lebih baik baginya. Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang turun dengan keagungannya atau yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan. Al-Qur’an tersebut sebagai petunjuk bagi semua manusia dan mencakup keterangan-keterangan yang nyata mengenai petunjuk. Al-Qur’an ini juga mengandung tanda-tanda Ilahi.

Maka dari itu, siapa di antaramu hadir pada bulan ini hendaklah ia berpuasa. Tetapi, siapa yang sakit atau dalam perjalanan maka berpuasalah pada hari-hari lain sebanyak bilangan hari yang luput dari berpuasa itu. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan Dia tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dia memerintahkan hal ini supaya kamu tidak dalam kesukaran, kamu menyempurnakan bilangan puasa yang hilang itu dan supaya kamu mengagungkan Allah karena Dia telah memberi petunjuk kepadamu dan supaya kamu menjadi hamba-hamba yang bersyukur.

Wahai Rasul! Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, katakanlah kepada mereka sesungguhnya Aku dekat dengan mereka. Aku kabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, karena itu hendaklah mereka yang berdoa kepada-Ku menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka meraih petunjuk.” (Surah al-Baqarah: 2: 184-187. Bismilllahir Rahmaanir Rahiim dihitung ayat ke-1.)

Di dalam ayat-ayat tersebut Allah Ta’ala menjelaskan mengenai keutamaan dan kewajiban berpuasa, tanggung jawab orang mukmin pada bulan tersebut dan cara-cara untuk terkabulnya doa. Allah Ta’ala telah menetapkan suatu bulan bagi kita berpuasa yang di dalam bulan itu Allah Ta’ala berada pada posisi terdekat dengan hamba-hamba-Nya dan membelenggu syaitan.[1]

Jadi, ketika sedemikian rupa dibukakan pintu-pintu rahmat dan karunia oleh Allah Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya, betapa kita harus mendengar perintah Allah Ta’ala dan berusaha untuk berpuasa seraya melaksanakan hak-hak puasa. Hazrat Rasulullah pernah bersabda, لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُونَ رَمَضَانُ السَّنَةَ كُلَّهَا ‘Law ya’lamul ‘ibaadu ma fi Ramadhana la-tamannat ummati ay yakuuna Ramadhanus sanata kullaha.’ – “Jika saja kalian mengetahui apa saja keutamaan Ramadhan dengan sebenar-benarnya dan betapa dan bagaimana kasih sayang Allah Ta’ala atas kalian di bulan ini maka kalian akan berhasrat supaya sepanjang tahun berlangsung Ramadhan, supaya kalian dapat mengumpulkan karunia Allah ta’ala sepanjang tahun.”[2]

Dengan demikian, Allah Ta’ala telah mewajibkan puasa semata-mata untuk kemanfaatan kita juga. Kita dapat meraih berbagai macam manfaat dari puasa baik ruhani maupun jasmani. Saat ini para dokter non Muslim pun tengah mengakui – sebelum ini hanya beberapa saja – namun sekarang jumlahnya terus meningkat bahwa berpuasa dapat berdampak baik bagi kesehatan manusia. Bahkan, sebagian non Muslim pun menulis bahwa puasa dapat menimbulkan kedisiplinan dalam hidup manusia.

Seorang mukmin hakiki berpengalaman dalam hal itu, sekalipun orang-orang duniawi itu mengatakannya ataupun tidak, yakni di satu sisi puasa dapat memperbaiki keadaan fisik manusia sementara di sisi lain, lebih dari itu, puasa juga dapat membawa manusia kepada keadaan ruhani yang lebih baik. Maka dari itu, kita harus mengamalkan perintah Allah Ta’ala tersebut dan berusaha penuh pada bulan Ramadhan ini agar keadaan ruhani kita mengalami peningkatan.

Hal-hal yang Allah Ta’ala jelaskan pada ayat-ayat tadi ialah seorang Muslim hakiki diwajibkan berpuasa yang mana maksud puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga dari subuh sampai sore. Hazrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Tujuan berpuasa ini ialah Allah Ta’ala menghendaki supaya kita mengurangi satu jenis asupan makanan untuk meningkatkan asupan makanan jenis lainnya.” Maka dari itu, seorang yang berpuasa hendaknya memperhatikan bahwa yang menjadi tujuan tidak hanya menahan lapar dan dahaga melainkan menyibukkan diri untuk mengingat Allah Ta’ala sepanjang waktu supaya dapat meraih tabattal dan inqitha yaitu meningkat dalam jalinan dengan Allah Ta’ala, ibadah dan berzikir kepada-Nya seraya mengurangi perhatian kepada duniawi. Memang urusan duniawi selalu mengikuti tanpa putus, namun sembari mengerjakannya, pusatkanlah ingatan pada Allah Ta’ala, tujukanlah pandangan senantiasa pada hukum-hukum-Nya, dan janganlah putus dalam mengingat-Nya.

Beliau (as) bersabda, “Tujuan berpuasa semata-mata untuk meninggalkan satu roti yang dapat merawat tubuh jasmani lalu meraih roti lainnya yang dapat memenuhi kebutuhan ruh.”

Siapa yang berpuasa semata-mata karena Allah Ta’ala, bukan sebagai formalitas (ikut-ikutan) maka orang tersebut hendaknya menyibukkan diri untuk bertahmid, tasbih dan tahlil kepada Allah Ta’ala. Baginda Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, “Allah Ta’ala tidaklah memerlukan lapar dan dahaga kalian.”[3]

Setelah menjelaskan bahwa puasa diwajibkan bagi kita, Allah Ta’ala berfirman pada ayat yang pertama ditilawatkan bahwa puasa diwajibkan supaya kalian meraih ketakwaan. Apa ketakwaan itu? Takwa adalah melindungi diri dari kelemahan ruhani dan akhlaki.

Sebagaimana telah saya terangkan sebelumnya bahwa Rasul bersabda, Allah Ta’ala tidak memerlukan lapar dan dahaga kalian. Sebelum puasa kalian dapat menciptakan standar ketakwaan dalam diri kalian yang dengannya kalian terhindar dari kelemahan ruhani dan akhlaki, berarti puasa kalian tidak berguna.

Hazrat Masih Mau’ud (as) bersabda berkenaan dengan takwa, “Untuk menjadi muttaqi (orang bertakwa), seseorang perlu sekali bertekad untuk menjauhkan diri dari keburukan-keburukan besar seperti zina, mencuri, merampas hak sesama, riya, bangga diri, menghina orang lain, kikir dan menghancurkannya sepenuhnya..” (Yakni hendaknya benar-benar meninggalkan keburukan-keburukan tersebut.) “…serta meninggalkan akhlak rendah semuanya. Selanjutnya, sebagai imbangan dari itu, majulah dalam pengamalan akhlak mulia. Yaitu, perbaikilah akhlak, hadapilah orang lain dengan perangai simpati, sopan santun dan dengan akhlak yang terpuji. Jadikanlah diri bersifat setia dan benar di hadapan Allah Ta’ala. Raihlah Maqom Mahmud dalam perbuatan dan pengkhidmatan terhadap sesama makhluk. Termasuk dalam hal ini ialah penunaian hak-hak Allah Ta’ala dan mengamalkan hukum-hukum Ilahi termasuk dalam hal pergaulan dan pengkhidmatan terhadap sesama manusia. Yakni melakukan pengkhidmatan tanpa pamrih sehingga orang-orang yang menyaksikan akan berkesan dan berkata, ‘Memang benar orang ini tengah berkhidmat karean Allah ta’ala semata, tidak ada unsur kepentingan pribadi di dalamnya.’

Jika semua hal itu dapat terpenuhi, maka seorang manusia layak disebut muttaqi. Barangsiapa yang di dalam dirinya terkumpul semua kebaikan itu maka dialah yang merupakan muttaqi sejati. Artinya, jika di dalam diri seoserang hanya terdapat salah satu dari sekian akhlak mulia itu maka orang seperti itu tidak dapat disebut muttaqi. Ia disebut muttaqi sampai segenap akhlak mulia itu berkumpul di dalam dirinya.

Bagi orang-orang muttaqi sejati, Allah Ta’ala berfirman, وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ “Maka tidak ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.” (Al ‘Araf ayat 36). (Allah Ta’ala telah memberikan jaminan tersebut kepada mereka. Lantas apalagi yang manusia harapkan, jika sudah mendapatkan jaminan dari Allah Ta’ala?) Setelah itu Allah Ta’ala menjadi Pelindung orang-orang seperti itu sebagaimana firman-Nya, وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ ‘wa huwa yatawallash shaalihiin’ – “Dan Dia melindungi orang-orang saleh.” (Al ‘Araf:197).

Terdapat riwayat didalam Hadis Syarif, ‘Allah Ta’ala menjadi tangannya dengan mana ia (orang itu) memegang. Dia menjadi matanya dengan mana ia melihat. Dia menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar. Dia menjadi kakinya dengan itu ia berjalan.’

Terdapat juga di dalam sebuah Hadis lain, “Barang siapa yang memusuhi Wali-Ku maka Aku berkata kepadanya, ‘Siapkah kamu berperang melawan-Ku?’ [4]

Di satu tempat lagi beliau (Rasulullah saw) bersabda, “Apabila ada orang yang menyerang wali (kekasih) Tuhan maka Tuhan dengan cepat menyambarnya seperti seekor singa betina menyambar mangsa yang akan menangkap (menculik) anaknya.’”[5]

Jadi, jika setelah seseorang berpuasa dapat meraih standar ketakwaan seperti itu maka puasa tersebut akan menggiring seorang manusia, seorang mukmin, seorang Muslim untuk berada di balik tameng (perisai) Allah Ta’ala.

Hazrat Abu Hurairah meriwayatkan, Hazrat Rasulullah bersabda, قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ  “Allah ta’ala berfirman, ‘Setiap amalan anak Adam (manusia) adalah bagi dirinya sendiri, kecuali amalan puasa. Manusia berpuasa demi Aku. Aku pula yang mengganjarnya.’”[6]

Artinya, “Seorang mukmin hakiki berpuasa karena Aku (Allah) dan siapa yang berpuasa karena Aku, maka Aku sendiri yang akan menjadi ganjaran baginya, aku akan mengganjarnya dari sisi-Ku, sekehendak-Ku.”

Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلاَ يَسْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ ‏ “Puasa merupakan tameng. Siapa yang berpuasa diantara kalian, janganlah mengucapkan sesuatu yang dapat menimbulkan hawa nafsu dan mencaci-maki. Jika ada yang mencacinya atau ada yang mengajaknya berkelahi, hendaknya menjawab, إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ  ‘Saya sedang berpuasa, tidak mau terjerumus dalam perbuatan sia sia.’”[7]

Beliau Saw bersabda, وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam kuasa-Nya, aroma bau yang keluar dari mulut orang yang berpuasa, dalam pandangan Allah Ta’ala lebih wangi dari wangi kesturi.”[8]

Beliau (saw) bersabda, وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ “Bagi orang yang berpuasa terdapat dua kebahagiaan yang membahagiakannya. Pertama, ketika berbuka puasa, ia bahagia karena Allah ta’ala telah memberikan taufik untuk berbuka puasa. Kedua, ketika ia berjumpa dengan Tuhannya.”[9]

Ia akan berbahagia saat berbuka puasa karena Allah ta’ala menyediakan menu berbuka makan-minum baginya dan dia akan berbahagia dengan puasanya pada saat berjumpa Tuhannya karenau Allah ta’ala berfirman, “Aku akan menjadi ganjaran baginya. Aku akan berikan ganjaran padanya.” Ketika Allah Ta’ala memberikan ganjaran yang tidak terhingga kepada orang yang berpuasa karena Allah, pada saat itu kebahagiaan orang itu pun tidak terhingga dan tidak terbatas. Tidak diragukan lagi bahwa kebahagiaannya mencapai puncaknya. 

Walhasil, inilah standar ketakwaan yang harus diraih oleh orang yang berpuasa secara hakiki dan ia meraihnya yakni puasa yang dilakukan dengan mensucikan diri dari berbagai jenis kekotoran dunia dan melewati hari dengan terhindar dari berbagai macam kelemahan ruhani dan jasmani. Jangan lantas bahagia bahwa kita telah puasa, sebagaimana di dunia ini banyak sekali orang yang tampaknya berpuasa, namun standar shalatnya tidak seperti yang seyogyanya, begitu juga akhlaknya.

Rasulullah bersabda bahwa pada bulan Ramadhan setan dibelenggu. Namun kenapa pada bulan tersebut orang-orang masih banyak yang melakukan keburukan? Jawabannya ialah berpuasa menjadi tameng dari serangan syaitan bagi orang-orang yang memahami hakikat puasa dan ia bertakwa. Inilah tujuan sebenarnya berpuasa yang harus kita perhatikan setiap saat. Memang, pada tempat lain Rasul juga bersabda, إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ “Ketika tiba bulan Ramadhan, pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan akan dibelenggu” [10], namun, meskipun demikian, Rasulullah juga menekankan, “Siapa yang mendapati Ramadhan, tetapi tidak diampuni dari dosa, lantas kapan lagi akan diampuni?”[11]

Terkait:   Puasa Menyucikan Rohani

Sabda Nabi (saw) ini ditujukan kepada kita dan kepada mereka yang mengaku sebagai Muslim yang kepada mereka Allah Ta’ala berfirman, “Berpuasa telah diwajibkan bagi kalian supaya pada bulan tersebut kalian hanya dan hanya mengupayakan untuk meraih ketinggian dalam ibadah kepada Allah Ta’ala dan standar akhlaki. Namun jika tidak melakukannya, maka tibanya bulan Ramadhan, dibelenggunya syaitan, dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka tidak akan memberikan manfaat apa-apa.”

Rasul bersabda, “Meskipun rahmat Allah maha luas, namun jika tidak memperoleh pengampunan, lantas kapan lagi kalian mendapatkan pengampunan?” Oleh karena itu, kita hendaknya tidak lantas merasa cukup mengucapkan Mubarak kesana-kemari atas datangnya Ramadhan, melainkan kita harus mengevaluasi diri apakah kita tengah berupaya untuk dapat meraih tujuan puasa Ramadhan seperti yang telah Allah jelaskan atau tidak? Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk dapat meraihnya dan semoga Allah Ta’ala menyelimuti kita dengan cadar ampunan dan maghfirah-Nya.

Pada ayat berikutnya Allah Ta’ala memfirmankan mengenai dalam keadaan apa saja kalian mendapat rukhshah (keringanan, diizinkan) untuk tidak berpuasa? Namun, Allah Ta’ala menjelaskan terlebih dahulu agar tidak menganggap firman yang menyatakan, “Puasa ialah bagi-Ku. Aku sendiri yang akan manjadi ganjaran bagi orang berpuasa dan secara khusus memberikan sarana pengampunan kepada orang-orang beriman”, bahwa dengan berpuasa kita telah melakukan satu pengorbanan besar yang karenanya Allah Ta’ala otomatis pasti melebarkan cadar kasih sayang, kecintaan dan ampunan-Nya bagi kita.

Tidak diragukan lagi, Allah Ta’ala mempunyai kasih sayang nan luas. Namun, dengan berpuasa bukanlah berarti kita telah melakukan pengorbanan sangat besar. Pada saat sahur pun kita makan sekenyangnya begitu pun pada waktu berbuka puasa. Itu pun bukan pengorbanan permanen melainkan dalam setahun hanya terhitung beberapa hari saja. Setelah berpuasa sebagian orang berkata dengan bangga bahwa dia telah berpuasa. Akan tetapi, itu bukanlah satu pengorbanan besar yang patut dinyatakan. Sebab, seorang beriman sejati, setelah melakukan pengorbanan teramat besar pun, bukannya menggembar-gemborkannya, malahan tetap merasa khawatir memikirkan bagaimana supaya Allah Ta’ala ridha dengannya.

Allah ta’ala berfirman, “Hitungan puasa hanya beberapa hari saja. Ia hanya 1/12 (seperdua belas) dalam setahun.” Dengan demikian, ini bukan satu pengorbanan yang sangat besar.

Selanjutnya, Dia berfirman, “Di dalam bulan tersebut Allah Ta’ala menganugerahkan rahmat-Nya nan luas kepada kalian. Dalam beberapa hari tersebut, jika kalian jatuh sakit atau dalam safar (perjalanan) maka ada keringanan untuk tidak berpuasa. Tetapi, bilangan hari yang luput dari puasa itu harus dipenuhi kapan pun pada hari-hari lainnya sepanjang tahun. Begitu juga bagi yang sakit menahun yang mana bahkan dokter menganjurkan untuk tidak berpuasa, jika demikian adanya maka jika mampu, berikanlah makanan kepada seorang miskin supaya dapat melaksanakan puasa. Jika mampu, penting baginya untuk memberi makan kepada seorang miskin sesuai dengan makanan yang dimakannya, kecuali jika dia lemah keadaan ekonominya sehingga ia sendiri menggantungkan hidupnya dari sedekah dan bantuan.

Bagi orang-orang selain mereka, berikanlah makanan kepada orang miskin sesuai yang ia makan dalam sehari-hari biasanya. فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ “Dan siapa berbuat kebaikan dengan rela hati maka hal itu lebih baik baginya.” Artinya, jika ia mampu maka bayarlah fidyah dan juga mengganti puasa yang luput setelahnya.

Hazrat Masih Mau’ud (as) pernah bersabda, “Allah ta’ala tidaklah memberikan kesulitan kepada seseorang melebih batas kemampuannya. Bayarlah fidyah sesuai dengan kemampuan yakni sesuai dengan apa yang ia makan dan minum dalam sehari-hari dan untuk masa yang akan datang berjanjilah nanti akan puasa secara penuh.”

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: ”Suatu ketika saya merenungkan tentang perintah membayar Fidyah. Tahulah saya kemudian bahwa itu demi taufik untuk kesanggupan berpuasa. Tuhan adalah Pemberi taufik (kesempatan, keadaan dan kekuatan) atas segala hal. Maka dari itu, kita harus meminta segala sesuatu kepada-Nya saja. Dia adalah yang Maha Mutlak Yang memiliki Kekuatan untuk memberikan kekuatan pada orang yang lemah untuk berpuasa. Maka dari itu, maksud fidyah bagi orang yang luput berpuasa ialah untuk mendapatkan kekuatan tersebut yang mana adalah karunia dari Tuhan.” (Allah ta’ala Maha Kuasa, jika Dia menghendaki, dapat memberikan taufik kepada seorang berpenyakit TBC untuk berpuasa yakni dengan menyembuhkannya sehingga dapat berpuasa.)

Hal yang tepat menurut pandangan saya ialah orang yang luput berpuasa harus berdoa dengan amat sangat, ‘Ilahi! (Tuhanku) Ini adalah bulan Engkau yang penuh berkat, dan hamba merasa kehilangan berkat karena hamba tidak dapat berpuasa. Hamba tidak tahu apakah di masa mendatang hamba dapat berpuasa untuk puasa-puasa yang tertinggal atau tidak, apakah hamba akan masih hidup ataukah akan sudah mati…karuniakanlah hamba taufik untuk itu.’”[12]

Jadi, seorang yang sakit sementara pun dapat memberikan fidyah dan satu keharusan baginya setelah sehat untuk melunasi puasanya yang bolong karena sakit atau setelah selesai safar. Kedua hal tersebut terbukti darinya.

Beliau (as) bersabda: “Bagi mereka yang sembuh dan mampu untuk berpuasa kembali, jika mereka berpikiran cukup hanya membayar fidyah saja maka sama saja dengan membuka pintu bid’ah yang keliru.” (Maksudnya, bagi mereka yang sakit ketika di bulan Ramadhan lalu sembuh setelah Ramadhan berlalu, jika orang seperti itu hanya mencukupkan pada fidyah saja berarti membuka pintu bidah. Sekalipun seseorang telah membayar fidyah pada bulan Ramadhan, tetap saja perlu melunasi puasanya yang bolong paska bulan Ramadhan yaitu kapan saja sepanjang tahun itu.)

Beliau (as) bersabda: “Bagi mereka yang sakit menahun, ibu menyusui dan ibu hamil, bagi mereka – sepanjang tahun itu – cukup dengan hanya membayar fidyah saja. Namun seiring dengan fidyah, perlu untuk memenuhi bulan ini dengan ibadah, dzikr Ilahi dan kebaikan-kebaikan.”

Tidaklah setelah membayar fidyah lantas kita terbebas dari segala tanggungjawab lain. Jadi, orang-orang tersebut tetap dapat meraih keberkatan Ramadhan bahkan meskipun mereka tidak berpuasa tetapi membayar fidyah dan melakukan juga kebaikan-kebaikan lainnya. Jika setelah membayar fidyah lantas melupakan shalat, melupakan kebaikan-kebaikan lainnya maka hal itu tidak akan menjadikannya sebagai mukmin hakiki dan tidak akan membuatnya menjadi peraih keberkatan Ramadhan.

Allah ta’ala berfirman dalam ayat ini, “Kebaikan apapun yang kalian lakukan dengan penuh ketaatan, meskipun hati tidak menginginkannya namun tetap mengamalkan karena itu merupakan perintah Allah ta’ala, maka Dia akan memberikan buah-buah yang lebih baik darinya.”

Sebagian orang berpendapat arti faman tathawwa’a khairan adalah, “Amal apapun yang kalian lakukan sebagai nafal (tambahan) maka itu adalah kebaikan bagimu.”

Ada dua arti yang sama-sama benar. Pertama (1), seseorang memberikan fidyah tambahan yaitu memberi makan kepada dua orang miskin bukannya satu; atau (ke-2) meskipun tahu pada suatu hari tidak dapat berpuasa karena sesuatu hal lalu tahu betul pada keesokan harinya mampu berpuasa, ia tetap membayar fidyah sebagai kebaikan tambahan. Mengenai hal ini Allah Ta’ala berfirman, “Hal itu lebih baik bagi kalian”, karena Allah Ta’ala akan memberikan ganjaran atas kebaikan yang kalian lakukan, sekalipun melakukannya sebagai beban atau sebagai kebaikan tambahan yakni dengan senang hati.

Pada akhir ayat tersebut Allah ta’ala berfirman, “Pengamalan kalian dalam berpuasa adalah lebih baik bagi kalian dari berbagai sisi.”

Pada ayat berikutnya Allah ta’ala berfirman, “Pada bulan ini Kami telah menurunkan Al-Qur’an yang merupakan sumber hidayah bagi kalian, dan merupakan dalil-dalil yang terang dan jelas serta di dalamnya terkandung tanda-tanda.”

Dengan demikian, Al-Quran memiliki keterikatan khusus dengan bulan Ramadhan. Pada bulan ini kita harus berusaha untuk membacanya, merenungkannya, mencari hukum-hukumnya lalu mengamalkannya supaya dengan mengamalkan itu kita dapat meraih keberkatan hakiki dari puasa Ramadhan. Tidak mungkin bagi setiap orang untuk dapat sampai pada kedalaman makna Al-Qur’an sehingga selain menilawatkan Al-Qur’an dan membaca terjemahannya, – setiap orang dapat melakukannya sendiri – dimanapun diselenggarakan Dars Al-Qur’an oleh Jemaat, kita hendaknya memanfaatkannya.

Demikian juga di MTA ditayangkan Dars secara rutin yang perlu bagi kita untuk mengambil manfaat darinya. Di dalamnya ditayangkan daras Hazrat Khalifatul Masih Ar Rabi.

Begitu juga, nasihat Rasulullah (saw) untuk menilawatkan Al-Qur’an sebanyak-banyaknya pada bulan ini. Bagi seorang Ahmadi memang pada hari-hari biasa pun harus menaruh perhatian terhadap Tilawat Al-Qur’an, namun pada bulan Ramadhan ini perlu diatur secara khusus sedemikian rupa terhadap hal itu karena jika tidak maka hanya puasa saja tidaklah bermanfaat.

Secara khusus Allah Ta’ala telah menjelaskan turunnya Al-Quran pada bulan ini dan Rasululah (saw) juga menekankan akan hal itu.

Kita adalah orang yang beruntung, karena Allah Ta’ala telah memberikan taufik kepada kita untuk beriman kepada hamba sejati Rasulullah (saw) di zaman ini yang telah menyingkapkan kepada kita dalamnya ilmu-ilmu Al-Quran, hakikat-hakikatnya, tafsirnya dan pokok-pokok segar maknanya. Selain itu, beliau (as) juga menekankan kepada kita untuk mengamalkan Al-Quran, memuliakannya, membacanya, merenungkannya dan juga menyampaikan bahwa kita harus membaca dan mengamalkannya dengan penuh perhatian serta menciptakan perubahan di dalam diri kita; sebagaimana beliau (Hazrat Masih Mau’ud as) bersabda:, “Terdapat perbedaan jelas dan terang antara menuntut ilmu-ilmu lahiriah (duniawi) dengan menuntut ilmu-ilmu Al-Qur’an. Untuk meraih ilmu duniawi tidak disyaratkan adanya ketakwaan. Tidak diperlukan adanya kedisiplinan dalam shalat dan puasa serta mematuhi perintah-perintah Ilahi dan menjauhi larangan-larangan-Nya demi mempelajari ilmu sharaf nahwu (tata bahasa), falsafah, astronomi dan ketabiban (kedokteran).”

(Ini hal yang penting bahwa untuk memahami Al-Qur’an diperlukan kedisiplinan dalam berpuasa, ibadah, shalat dan meningkat dalam ketakwaan.)

“Untuk meraih ilmu-ilmu duniawi bukan suatu keharusan bagi siapa saja untuk disiplin dalam shalat, puasa dan setiap saat memperhatikan perintah dan larangan yang telah Allah berikan. Akan tetapi, hal-hal tersebut diperlukan guna meraih ilmu-ilmu Al-Qur’an.”

Beliau (as) bersabda: “Setiap orang hendaknya menyelaraskan perbuatan dan ucapannya dengan hukum hukum Ilahi. Sungguh, terkadang tampak orang yang mahir dalam keilmuan dunia terjerumus dalam berbagai dosa dan atheisme. Pada saat ini di hadapan dunia terdapat satu contoh pengalaman luar biasa yaitu meskipun negeri-negeri Barat sedemikian rupa maju dalam keilmuan dunia, penemuannya silih berganti, namun keadaan akhlaki dan ruhani sangatlah memalukan.”

(Saat ini kita menyaksikan sendiri bagaimana degradasi akhlak semakin meningkat atas nama kebebasan.)

“Berita-berita yang diterbitkan berkenaan dengan taman-taman di London dan hotel-hotel di Paris yang sangat memilukan, sehingga untuk menyebutkannya pun kita malu.

Namun, untuk meraih ilmu-ilmu Samawi dan rahasia-rahasia Al-Quran, ketakwaan merupakan syarat utama. Hal itu juga memerlukan taubatan nasuha (taubat yang benar). Artinya, sebelum manusia melaksanakan hukum-hukum Ilahi dengan segenap kerendahan hati dan ketundukan, dan sebelum ia tergetar dengan keperkasaan dan kekuasaan Allah Ta’ala dan patuh kepada-Nya maka sampai saat itu pintu ilmu-ilmu Al-Qur’an tidak akan dapat terbuka kepadanya dan ia tidak akan mendapatkan sarana-sarana dari Al-Qur’an guna mengembangkan potensi dan kekuatan ruh, yang dengan meraihnya akan timbul kelezatan dan ketentraman di dalam ruh.”

Jadi, untuk memahami ilmu Al-Qur’an, sangat diperlukan ketakwaan.

Beliau bersabda, “Al-Quran syarif adalah kitab Allah dan ilmu-ilmu mengenainya berada di tangan Allah. Ketakwaan berfungsi sebagai tangga menuju padanya.” (Jika kalian menggunakan tangga tersebut maka kalian akan dapat memahami ilmu Al-Qur’an.)

“Lantas bagaimana mungkin seorang yang tidak beriman, jahat, buruk dan terperangkap dalam hawa nafsu yang rendah dapat meraih ilmu tersebut? Maka dari itu, jika seorang Muslim, baik itu yang mengaku Islam saja atau yang sangat mahir dalam ilmu sharaf, nahwu, ma’ani, badi’ (kaidah, tata bahasa, makna, sastra Bahasa Arab) dan ilmu-ilmu lainnya sehingga dalam pandangan dunia dianggap sebagai ‘Syaikhul kull’ (Syeikh besar) sekalipun, tetap tidak akan dianugerahi bagian dari ilmu-ilmu Al-Qur’an jika dia tidak menaruh perhatian pada penyucian dirinya.”

“Saya menyaksikan pada saat ini perhatian dunia sangat tertuju kepada ilmu-ilmu duniawi. Cahaya pencerahan Barat telah mencengangkan seluruh dunia dengan penemuan-penemuannya. Jikapun umat Muslim memikirkan kemaslahatannya dan jalan perbaikan, sayangnya mereka menjadikan diri sebagai pengikut penduduk Eropa.” (yaitu condong pada duniawi dan mulai menganggap kemajuan duniawi sebagai segala galanya.)

Seperti itulah keadaan umat Islam era baru. Sedangkan mereka yang disebut sebagai umat Muslim era lama dan menganggap dirinya sebagai penolong agama, inti dari capaian segenap umurnya adalah terjerembab dalam perdebatan mengenai kaidah Bahasa Arab (Sharaf Nahwu) dan disibukkan untuk meluruskan pengucapan sebuah kata dari firman Allah, yaitu ‘Dhaalliin’.” (Artinya, mereka sibuk dalam bahasan bagaimana tata bahasanya, bagaimana kaidah sharaf dan nahwunya, bagaimana cara melafazkan kata-kata dalam bahasa Arab.) “Mereka sama sekali tidak menaruh perhatian pada (isi kandungan) Al-Qur’an, karena mereka tidak menaruh perhatian pada penyucian jiwa.”

Terkait:   Ramadhan dan Ketakwaan

Dengan demikian, para Ahmadi hendaknya merenungkan untuk tidak hanya terjerumus dalam hal pencarian ilmu-ilmu duniawi, bahkan berupayalah juga untuk meraih ilmu-ilmu Al-Qur’an.

Dalam suatu kesempatan ada yang bertanya kepada Hazrat Masih Mau’ud (as): Bagaimana cara membaca Al-Qur’an? Beliau bersabda, ”Hendaknya membaca Alqur’anul Karim dengan tadabbur (penelitian), tafakkur (pemikiran) dan penuh perhatian. Terdapat riwayat dalam sebuah hadis, ’rubba qaarin yal’anuhul qur’anu’ [13]– ‘Banyak sekali pembaca Alqur’an yang bersamaan dengan itu Alqur’an pun melaknat mereka.’ Siapa yang membaca Alqur’an namun tidak mengamalkan ajarannya, maka Alqur’an mengirimkan laknat kepada mereka itu. Apabila sedang [mendengar atau membaca] tilawat Alqur’anul Karim terdapat ayat yang menjelaskan tentang rahmat maka mohonlah rahmat dari Allah Ta’ala dan jika menyebutkan tentang azab atas suatu kaum maka mohonlah perlindungan kepada Allah Ta’ala dari azab-Nya itu. Bacalah [Alqur’an] dengan tadabbur dan menaruh perhatian lalu beramallah sesuai hal itu.” [14]

Demikianlah cara membaca Al-Qur’an. Ketika kita menaruh perhatian khusus pada Tilawat Al-Qur’an pada bulan ini, maka kita harus berusaha untuk menilawatkan Al-Qur’an sesuai dengan car acara tadi.

Hazrat Masih Mau’ud (as) bersabda, ”Oleh karena itu berhati-hatilah dan janganlah melangkahkan kaki biarpun hanya selangkah tetapi bertentangan dengan ajaran Tuhan dan petunjuk Quran Syarif. Saya berkata dengan sungguh-sungguh, bahwa siapa yang mengabaikan satu perintah sekecil-kecilnya di antara sejumlah 700 buah perintah Quran Syarif, ia menutup pintu keselamatan bagi dirinya sendiri dengan tangannya sendiri. Jalan keselamatan yang sempurna dan hakiki dibukakan oleh Quran Syarif, sedang semua jalan lainnya adalah bayangannya. Oleh karena itu bacalah Quran Syarif dengan seksama dan hendaknya kamu sangat mencintainya, dan dengan demikian rupa cintanya, sehingga kamu belum pernah mencintai sesuatu yang lain dari itu, karena sebagaimana Tuhan berfirman kepadaku: Al-khayru kulluhu fil-qur‘aan yakni, bahwa segala macam kebaikan terdapat di dalam Quran Syarif, itu sungguh benar!

Alanglah sayangnya orang-orang yang lebih mengutamakan sesuatu selain Quran Syarif. Sumber segala kebahagiaan dan keselamatan bagi kamu terdapat di dalam Quran Syarif. Tidak sebuah pun keperluan agama kamu yang tidak terdapat di dalam Quran Syarif. Saksi yang membenarkan maupun yang mendustakan keimanan kamu pada Hari Kiamat adalah Quran Syarif. Di bawah kolong langit ini tidak ada sebuah Kitab pun yang secara langsung memberikan petunjuk kepada kamu kecuali Quran Syarif. Allah Ta’ala telah berkenan berbuat banyak kebajikan kepada kamu dengan menganugerahkan kepada kamu sebuah Kitab Suci seperti Quran Syarif.

Saya berkata dengan sesungguh-sungguhnya kepada kamu sekalian, bahwa Kitab yang telah dibacakan kepada kamu itu seandainya dibacakan kepada kaum Kristen, mereka tidak akan binasa. Dan nikmat serta petunjuk yang dilimpahkan kepada kamu itu andaikan diberikan kepada kaum Yahudi sebagai pengganti Kitab Taurat maka sebagian firqah (aliran, golongan) mereka tidak akan mengingkari Hari Kiamat. Oleh karena itu hargailah nikmat yang dilimpahkan kepada kamu. Nikmat tersebut sungguh berharga sekali. Nikmat kesayangan itu merupakan suatu harta-pusaka yang besar nilainya. Jika sekiranya Quran Syarif tidak diturunkan maka seantero dunia ini tak ubahnya hanya laksana segumpal daging yang menjijikkan belaka. Quran Syarif adalah sebuah Kitab agung, dan semua petunjuk tandingannya tidak berarti.” [15]

Walhasil, kita harus menaruh perhatian khusus untuk membaca, memahami dan mengamalkan seluruh petunjuk Al-Qur’an. Di dalam bulan Ramadhan perhatian banyak orang tertuju pada Al-Qur’an sehingga perlu baginya untuk menjadikannya sebagai bagian permanen dari kehidupannya. Sebagaimana Allah Ta’ala menekankan orang mukmin untuk secara khusus membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadhan ini, untuk itu dengan melalui bulan mujahadah ini, jika kita menaruh perhatian khusus terhadap Al-Qur’an sehingga kebiasaan itu pula akan menular pada hari-hari biasa selain Ramadhan. Jika tidak, tujuan Allah Ta’ala mengarahkan perhatian pada Al-Qur’an pada bulan Ramadhan akan berakhir di sana. Seorang mukmin adalah orang yang mencari kebaikan secara istiqamah dan terus menjalankannya. Ini merupakan petunjuk agung yang Allah Ta’ala sampaikan kepada kita dengan perantaraan Rasulullah. Untuk itu kita harus berusaha sebisa mungkin untuk menjadikannya sebagai sarana petunjuk bagi diri kita sendiri.

Allah Ta’ala menjelaskan lebih lanjut dari ayat tersebut terdapat petunjuk untuk disiplin dalam berpuasa. Tetapi, bagi orang yang sakit dan dalam perjalanan, terdapat perintah untuk harus mengganti puasa mereka yang luput setelahnya. Dengan hanya membayar fidyah saja tidak lantas kalian dapat mengganti puasa yang luput itu. Pemberian keringanan untuk tidak puasa bagi orang sakit dan musafir merupakan bentuk ihsan (kebaikan) dari Allah Taala kepada kalian, karena Allah Ta’ala tidak menghendaki kesulitan bagi para hamba-Nya.

Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman, “Pada saat puasa secara khusus lewatkanlah hari-hari untuk menyanjung keagungan Allah Ta’ala, dzikr Ilahi dan penuhilah waktu dengan ibadah. Bersyukurlah karena Allah Ta’ala telah menurunkan suatu kitab petunjuk yang agung bagi kalian, kitab lengkap yang berisi petunjuk yang sempurna. Adapun hak dalam bersyukur akan terpenuhi jika kalian mengamalkannya.”

Pada ayat berikutnya Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-hamba-Ku yang mencari-Ku dan dalam pencarian itu secara khusus ia memohon dan di dalam bulan Ramadhan lebih ditingkatkan lagi pencarian itu, Aku dekat, Aku mendengarkan permohonannya. Jika para hamba-Ku memohon dengan tulus, Aku pasti kabulkan. Namun untuk menjadikan doa itu terkabul, penting supaya orang yang berdoa itu menaati ucapan-Ku, taat pada perintah-Ku dan memiliki keimanan yang teguh pada-Ku.”

Ada orang yang mengeluh dengan berkata bahwa mereka selalu berdoa dan banyak berdoa, namun tidak dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Biasanya keluhan seperti ini terlontar beberapa hari setelah memanjatkan doa. Jika kita tidak menuruti petunjuk Allah Ta’ala, tidak mengamalkannya, tidak berusaha meraih kecintaan kepada Allah Ta’ala, tidak menjadi hamba sejati-Nya, sementara hanya menyeru kepadaNya ketika menghadapi kesulitan atau penderitaan, setelah itu melupakanNya lagi, jika begitu keadaannya bagaimana kita bisa mengeluh dengan berkata bahwa Allah Ta’ala tidak mengabulkan doa kita.

Pertama, kita harus menata diri kita terlebih dahulu. Untuk menata diri dan menarik karunia Allah Ta’ala, diperlukan doa. Maka dari itu, kita harus berdoa. Dengan demikian, Allah Ta’ala juga akan memberikan sarana-sarana bagi ketentraman dan ketenangan kita serta kualitas untuk pengabulan doa. Jika hati seseorang mendapatkan ketentraman dan ketenangan, maka itu merupakan suatu jenis pengabulan. selanjutnya, seperti halnya Allah Ta’ala mengabulkan doa-doa para hamba-Nya yang tulus dan doa-doa mereka yang mengasihi-Nya, demikian pula Dia mengabulkan doa-doa kita.

Walhasil, terlebih dahulu harus ada upaya dari pihak kita pada bulan Ramadhan ini, dengan begitu Allah Ta’ala akan mengatur secara khusus bagi orang mukmin untuk meraih kedekatan-Nya dan Dia mengabulkan doa-doa orang beriman itu. Jadi, kita harus melakukan upaya khusus, jika tidak kita tidak berhak untuk melontarkan keluhan kepada Allah Ta’ala, kenapa Dia tidak mengabulkan doa kita.

Berkenaan cara berdoa dan untuk mengkeadaankan diri untuk terkabulnya doa, Hazrat Masih Mau’ud (as) memberikan petunjuk, sebagai berikut, “Memang benar, siapa yang tidak beramal, dia tidak sungguh-sungguh berdoa melainkan menguji Allah Ta’ala. Maka dari itu, seiring dengan doa, perlu bagi kita untuk mengerahkan segenap kapasitas dan inilah makna doa.”

“Janganlah berpikiran setiap hari kita sudah berdoa dan shalat-shalat yang kita lakukan pun merupakan doa.”

(Tidak diragukan lagi bahwa shalat juga adalah doa namun adalah perlu menciptakan keadaan di dalam diri kita suatu mutu tinggi yang istimewa karena hal itu merupakan tujuan hakiki doa.)

“Doa yang muncul setelah makrifat dan dengan perantaraan karunia, memiliki corak dan keadaan yang berbeda. Doa semacam itu menjadi sesuatu yang dapat dikecap rasanya hingga terasa fana, menjadi api yang membakar, menjadi magnet yang dapat menarik rahmat, menjadi maut yang pada akhirnya akan menghidupkan, menjadi badai ombak yang pada akhirnya akan menjadi kapal  yang menyelamatkan, segala permasalahan akan terselesaikan dengannya, dengannya setiap racun pada akhirnya akan menjadi penawarnya.”

Walhasil, doa hakiki akan memperlihatkan pengaruhnya seperti itu. Selanjutnya, beliau (as) bersabda, “Berbahagialah bagi para tahanan yang tidak kenal lelah dalam berdoa, karena suatu saat ia akan meraih kebebasan. Berbahagialah bagi orang buta yang tidak malas berdoa, karena suatu hari ia akan dapat melihat. Berbahagialah bagi para penghuni kubur  (orang yang mati ruhani) yang memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dengan doa, karena suatu hari ia akan dikeluarkan dari kubur.

Selamat bagi mereka yang tidak lalai berdoa, ruh yang meleleh untuk berdoa, mata kalian mengalirkan air mata, di dalam dada kalian menimbulkan suatu api yang akan membawa kalian ke tempat gelap dan hutan yang sunyi untuk meraih kelezatan dalam kesendirian dan menjadikan kalian tidak berdaya, mendekati kegilaan dan jatuh cinta dengan sendirinya. Berbahagialah kalian, karena pada akhirnya kalian akan diberikan karunia Ilahi.

Tuhan yang kita seru adalah Maha Mulia, Maha Penyayang, Maha Pemalu, Maha Benar, Maha setia dan mengasihi mereka yang rendah hati. Untuk itu, kalian pun jadilah orang yang setia dan berdoalah dengan segenap ketulusan dan kesetiaan supaya Dia mengasihimu. Hindarilah duniawi dengan kegemerlapannya. Janganlah kalian warnai perseteruan duniawi kalian dengan corak agama.

Allah Ta’ala akan memperlihatkan mukjizat kepada orang-orang yang berdoa. Orang-orang yang memohon akan Dia anugerahi ni’mat yang luar biasa. Doa datang dari Allah Ta’ala dan kembali tertuju kepada Allah Ta’ala juga. Dengan doa, Allah Ta’ala akan begitu dekat sebagaimana jiwamu dekat denganmu. Ni’mat pertama dari doa adalah akan tercipta perubahan suci di dalam diri manusia.”

Beliau (as) bersabda, “Doa merupakan eliksir (elixir) yang dapat merubah segenggam debu menjadi emas murni. Ia merupakan air yang akan membasuh kekotoran batiniah. Dengan doa tersebut, ruh menjadi meleleh dan layaknya air, mengalir terjatuh pada singgasana Ilahi. Ia berdiri di hadapan Allah Ta’ala, ruku juga, sujud juga. Shalat yang diajarkan oleh Islam ialah bayangan dari itu. Tegaknya ruh maksudnya ia bersikap tabah dalam menghadapi setiap musibah demi Tuhan, senantiasa siaga untuk taat pada perintah Ilahi. Ruku maksudnya tunduk yakni meninggalkan segenap kecintaan dan hubungan lain lalu tunduk kepada Allah Ta’ala dan menjadi milik-Nya. Sujud maksudnya, ia tersungkur di haribaan-Nya lalu melenyapkan diri dan menghilangkan jejak wujudnya. Inilah shalat yang dapat mempertemukan dengan Allah Ta’ala dan syariat Islam menampilkan gambaran tersebut dalam shalat biasa supaya shalat gerakan jasmani itu menjadi penggerak dan menggiring kita kepada shalat ruhani.”

Jadi, inilah keadaan yang harus kita ciptakan di dalam diri kita sehingga kita dapat melihat pengabulan doa-doa. Bersamaan dengan berpuasa di bulan Ramadhan, kita pun mengambil faedah dari hakikat ibadah dan juga melihat pengabulan dari doa-doa. Jika ada suatu kekurangan dalam pengabulan doa-doa kita maka ada kelemahan di dalam diri kita. Sebab, firman Allah Ta’ala tidak mungkin keliru. Di hari-hari puasa ini kita hendaknya secara khusus banyak berdoa untuk perbaikan keadaan diri kita. Allah Ta’ala yang sejak sebelumnya pun sudah dekat dengan para hamba-Nya, di hari-hari ini menjadi lebih dekat lagi. Bersujudlah di hadapan Allah Ta’ala dengan penuh keikhlasan dalam ibadah-ibadah wajib dan nafal kita.

Hadhrat Rasulullah s.a.w. telah mengabarkan kepada kita, أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ “Sepuluh hari pertama di bulan ini adalah rahmat. Sepuluh hari kedua di bulan ini adalah sarana untuk meraih maghfirah (ampunan), dan sepuluh hari terakhirnya adalah sarana untuk menyelamatkan diri dari api jahanam.”[16]

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang hakiki dan menaungi kita dalam naungan rahmat dan ampunan-Nya serta kita dapat meraih kemanfaatan dari bulan ini secara kokoh sebagaimana mestinya.

Di hari-hari ini secara khusus berdoalah untuk Jemaat, semoga Allah Ta’ala membalikan kejahatan para musuh Jemaat kepada diri mereka sendiri; dan di mana pun makar-makar untuk menentang Jemaat dilancarkan, semoga Allah Ta’ala menggagalkan usaha-usaha dan makar-makar mereka.

Berdoa jugalah bagi umat Muslim, semoga Allah Ta’ala menghentikan dan menyelamatkan mereka dari berbuat kezaliman dan saling menyembelih leher satu sama lain, dan menyelamatkan kaum Muslimin yang tulus ikhlas. Semoga mereka menjadi pengikut Imam zaman ini.

Berdoa jugalah untuk keadaan dunia yang tengah begitu cepat melaju ke arah kerusakan yang begitu besar. Semoga Allah Ta’ala memberikan akal kepada dunia dan mereka dapat mengenal Allah Ta’ala sehingga bisa selamat dari kehancuran ini.

Terkait:   Ramadhan dan Ketakwaan

Setelah shalat saya akan mengimami shalat jenazah ghaib dua Almarhum. Dua jenazah yang wafat dua bulan yang lalu, akan tetapi saya baru menerima laporan rinciannya sekarang. Yang pertama bernama Almarhum Mukaram Dokter Tahir Aziz Ahmad Sahib Bin Arsyadullah Bhatti Sahib dari Islamabad, Pakistan. Jenazah yang kedua, Almarhum Dokter Iftikhar Ahmad Sahib Bin Dokter Khawajah Nazir Ahmad Sahib dari Amerika. Keduanya pergi ke suatu daerah di dekat Fatah Jang untuk urusan pertanahan mereka. Di sana seorang pegawai Dokter Iftikhar Ahmad Sahib mengatur penculikan mereka berdua pada tanggal 13 Maret. Selanjutnya, penculik itu mengatur pembunuhan mereka berdua dengan sadis. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.

Di sana (Pakistan) para pembunuh tidak takut akan ditangkap dan dihukum mati khususnya jika mereka membunuh seorang Ahmadi. Mereka beranggapan akan mendapatkan pahala karena membunuh seorang Ahmadi. Kemudian, para Maulwi (yang mereka anggap Ulama) juga akan bersimpati dan berusaha untuk membebaskan mereka, bahkan betul-betul mengusahakannya sehingga mengikut-sertakan faktor ke-ahmadiyah-an korban. Jadi, kita bisa mengatakan kedua Almarhum ini juga mengalami pensyahidan dari sisi ini.

Dokter Tahir Aziz Sahib lahir di Mitha Tiwana pada 27 November 1967. Jemaat dalam keluarga beliau bermula dari kakek buyut beliau, Hadhrat Maulwi Nur Ahmad Sahib r.a. dari Ludhi Nanggal, Distrik Gurdaspur. Hadhrat Maulwi Nur Ahmad Sahib r.a. menolak untuk menandatangani fatwa kafir yang disiapkan Maulwi Muhammad Husain Batalwi untuk menentang Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan beliau menulis surat kepada Maulwi Muhammad Husain Batalwi mengenai hal ini yang diterbitkan di dalam edisi pertama majalah Al-Hakam pada 10 Oktober 1897. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. juga memanggil ayah Hadhrat Maulwi Nur Ahmad Sahib yang bernama Maulwi Datah Bhatti Sahib ke Qadian untuk mengajar Mirza Sultan Ahmad Sahib dan Mirza Fazl Ahmad Sahib, yang mana ini diriwayatkan juga dalam Tarikh Ahmadiyah Jilid pertama.

Almarhum setelah menyelesaikan matrik (SMP-SMA), lulus mengikuti ujian DHMS dari Islamabad Homeopathic Medical College. Kemudian beliau mulai membuka praktik di Chatta Bakhtawar, Islamabad. Almarhum ialah seorang Dokter yang penyayang, berakhlak mulia, rendah hati, sosok yang simpatik dan berkepribadian menawan. Beliau menjadi Dokter untuk waktu yang lama dan rumah beliau digunakan juga untuk Shalat Center. Beliau memiliki hubungan yang sangat baik dengan Khilafat.

Ketika beliau wafat ratusan ghair ahmadi baik laki-laki maupun perempuan melakukan takjiah dan mereka menyatakan kewafatan beliau sebagai kedukaan nasional. Selain istri beliau, beliau meninggalkan dua puteri dan satu putera. Putera beliau tinggal di sini, di London, menantu dari Rana Khalid Sahib. Kakak beliau, Fuzail Iyaz Sahib seorang waqif zindegi dan mubaligh. Sebelumnya beliau berkhidmat di MTA, saat ini di Jamiah Ahmadiyah Rabwah.

Syahid yang kedua adalah Almarhum Dokter Iftikhar Ahmad Sahib, beliau berasal dari Tarigri, Distrik Gujranwala. Beliau dari jalur ibunya adalah cucu sahabat Hadhrat Masih Mau’ud a.s., Hadhrat Muhammad Jamal Sahib r.a. Di dalam keluarga beliau Ahmadiyah bermula dari kakek beliau, Khawajah Jalaluddin Sahib di masa Khalifatul Masih Tsani r.a.. Ayah beliau Khawajah Nazir Ahmad Sahib mendapatkan taufik untuk mengajar kimia di Ta’limul Islam Rabwah. Almarhum Dokter Sahib setelah menyelesaikan MBBS di King Edward Medical College Lahore, beliau mendapatkan taufik berkhidmat di Klinik Ahmadiyah di Kaduna Nigeria selama kurang lebih tiga tahun. Setelah itu beliau pergi ke Amerika. Di sana beliau menyelesaikan MD. Kemudian beliau tinggal di Pakistan selama kurang lebih 15 tahun. Kemudian, tiga tahun yang lalu beliau pindah ke Amerika, di mana di California beliau lulus tes dan mulai bekerja di sana. Kemudian beliau kembali ke Pakistan.

Almarhum adalah seorang dermawan yang memiliki semangat tinggi untuk mengkhidmati kemanusiaan, selalu berlomba-lomba ikut ambil bagian dalam gerakan-gerakan pengorbanan harta dan seorang yang mukhlis.

Selain istri, beliau meninggalkan 3 orang puteri. Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat dan ampunan-Nya kepada kedua almarhum dan juga senantiasa menjaga anak keturunan mereka tetap terikat dengan Jemaat dan Khilafat.

 

 

 

 

 

 

 

Khotbah II

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

Penerjemah     : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Hashim; Editor: Dildaar Ahmad Dartono (Indonesia). Rujukan komparasi pemeriksaan naskah: www.Islamahmadiyya.net (bahasa Arab)

 

[1] Hadits riwayat Abdullah ibn Abbas, tercantum dalam Kitab ar-Radd ‘alal Jahmiyah h. 41 karya ad-Darimi; Ibni Abi Ashim dalam as-Sunnah 1/224, no. 513; Al-Albani dalam Takhrijus Sunnah. إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيُمْهِلُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ كُلَّ لَيْلَةٍ حَتَّى إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الأَوَّلُ هَبَطَ إِلَى السَّمَاءِ ثُمّ قَالَ هَلْ مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يُغْفَرُ لَهُ هَلْ مِنْ تَائِبٍ يُتَابُ عَلَيْهِ (Pada hari-hari Ramadhan ini, Allah Ta’ala turun dari langit ketujuh ke langit terendah di dunia)

[2] Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no.886) dan Ibnul Jauzi dalam Kitabul Maudhuat (2/188-189), Mu’jamul Kabir jilid 22, h. 388-389, hadits 967, Abu Mas’ud al-Ghifari, Dar ihya Turats al-‘Arabi, Beirut.

[3] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang shaum, bab mal lam, no. 1903, مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه ”Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan selalu mengamalkan keburukan maka Allah tidak memerlukan lapar dan hausnya.”

[4] Shahih al-Bukhari Kitab ar-Riqaaq, Bab at-Tawadhu (Kerendahan Hati) [Lengkapnya adalah sebagai berikut: Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, ‏”‏ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِي بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَىْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ، يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ ‏”‏‏ “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang berupaya memusuhi wali-Ku, niscaya Aku umumkan perang terhadapnya.’ Hamba-Ku tidak mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku sukai dari pada sesuatu yang Aku fardhukan atasnya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sunnah-sunnah sampai Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengaran yang untuk mendengarnya, penglihatan yang untuk melihatnya, tangan yang untuk menamparnya dan kaki yang untuk berjalan olehnya. Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku benar-­benar memberinya. Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar melindunginya. Dan Aku tidak bimbang terhadap sesuatu yang Aku lakukan seperti kebimbangan-Ku terhadap jiwa hamba-Ku yang beriman yang mana ia tidak senang mati sedang Aku tidak senang berbuat buruk terhadapnya”.

[5] Malfuuzhaat, jilid 2, halaman 680-681

[6] Shahih Muslim, Kitab tentang puasa (كتاب الصيام), bab keutamaan puasa (باب فَضْلِ الصِّيَامِ).

[7] Shahih Muslim, Kitab tentang puasa (كتاب الصيام), bab keutamaan puasa (باب فَضْلِ الصِّيَامِ). Shahih al-Bukhari, Kitab tentang puasa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا “Puasa adalah perisai (tameng). Maka janganlah dia berkata-kata kotor dan berbuat bodoh. Apabila ada orang lain yang memerangi atau mencacinya, hendaklah dia katakan, ‘Aku sedang puasa’ (dua kali). Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah Ta’ala daripada bau minyak kasturi. Dia rela meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

[8] Shahih Muslim, Kitab tentang puasa (كتاب الصيام), bab keutamaan puasa (باب فَضْلِ الصِّيَامِ).

[9] Shahih Muslim, Kitab tentang puasa (كتاب الصيام), bab keutamaan puasa (باب فَضْلِ الصِّيَامِ).

[10] Shahih al-Bukhari; dalam Sunan at-Tirmidzi, Kitab tentang shaum (puasa) bab fi fadhli syahr Ramadhan, 682, juga ada hadits serupa, “‏ إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ. وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ ‏”‏ Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Jika datang malam pertama bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satupun dari pintu-pintunya yang terbuka; dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pun dari pintu-pintunya yang tertutup, serta penyeru menyeru, wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah, Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadlan’.” 

[11] Adabul Mufrad karya Al-Bukhari (الأدب المفرد للبخاري ), (بَابُ : مَنْ ذُكِرَ عِنْدَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ). عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، ” أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَقَى الْمِنْبَرَ ، فَقَالَ : آمِينَ ، آمِينَ ، آمِينَ ” ، قِيلَ لَهُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا كُنْتَ تَصْنَعُ هَذَا ؟ فَقَالَ : قَالَ لِي جِبْرِيلُ : رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا لَمْ يُدْخِلْهُ الْجَنَّةَ ، قُلْتُ : آمِينَ ، ثُمَّ قَالَ : رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ ، فَقُلْتُ : آمِينَ ، ثُمَّ قَالَ : رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ ” . Dari Abi Hurairah Ra, Rasulullah naik ke atas mimbar, kemudian beliau berkata : 
“Amin..amin. .amin..”. Kemudian ditanyakan (para sahabat), kepada beliau, “Wahai Rasulullah, saat Engkau naik ke atas mimbar, Engkau sampai mengatakan Amin (3x) (ada apakah gerangan?)”  Kemudian Rasulullah memberikan keterangan sbb: “Jibril telah datang kepadaku dengan mengatakan : “Barang siapa yang telah datang kepadanya bulan Ramadhan(puasa) , kemudian dia tidak mendapatkan pengAMPUNan (pada bulan Ramadhan tersebut), maka ia dimasukkan kedalam api neraka, dan Allah jauh dari dirinya, maka katakanlah :Amin”  Kemudian aku meng aminkannya. “Dan barang siapa yang mendapatkan orang tuanya (ketika keduanya masih hidup), atau salah satu diantara kedua orang tuanya masih hidup, sementara (dia mampu berbuat baik untuk kedua atau salah satu diantara keduanya), kemudian dia tak mau berbuat baik kepada keduanya, atau salah satu diantara keduanya (yang masih hidup tadi), kemudian mati, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka, dan Allah sangat jauh dari dirinya, maka aku katakan :Amin”

[12] Malfuzhat, jilid 4, h. 258-259, edisi 1985, UK.

[13] “رُبَّ قارئ للقرآن والقرآن يلعنه” Salah satu riwayat hadits kami temukan ’rubba qaari-in lil qur’aani wal qur’anu yal’anuhu’ terjemahan sama, Red. Riwayat Anas bin Malik dalam ‘Ihya Ulumiddin karya Imam al-Ghazali ditemukan hadits dengan teks berikut, “رب تال للقرآن والقرآن يلعنه”. ’rubba taala lil qur’aani wal qur’anu yal’anuhu’. Riwayat hadits lain, “رُبَّ قارئ للقرآن والقرآن يلعنه” ’rubba qaari-in lil qur’aani wal qur’anu yal’anuhu’ terjemahannya, “Banyak sekali pembaca Alqur’an yang bersamaan dengan itu Alqur’an pun melaknatnya.”

[14] Malfuuzhaat jilid pancjam (V) halaman 157, edisi 2003, cetakan Rabwah.

[15] Kisyti Nuh (Bahtera Nuh), Ruhani Khazaain jilid 19 halaman 26-27

[16] Kanzul ‘Ummal jilid 8, h. 463, hadits 23668, Muassasah ar-Risalah, Beirut, 1985. Al-Jaami’ li Syi’bil Iimaan, Kitab tentang Shiyam (Puasa), bab keutamaan bulan Ramadhan, jilid 5, h. 224, Maktabah ar-Rusyd, Saudi Arabia, terbitan 2004, no. 3336; HR. Ibnu Adi, al-Kamil fi Dhu’afa ar-Rijal, IV:325, Al-Uqaili, Adh-Dhu’afa al-Kabir, III:437, No. hadis 750,Ad-Dailami, Al-Firdaws bi Ma’tsur al-Khithab, I:138, No. 79, dan Al-Khathib al-Baghdadi, Mawdhih Awham al-Jam’I wat Tafriq, II:144, No. 233, Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ’Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah magfirah, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka.”