Terorisme Tidak Pernah Dibenarkan oleh Rasulullah

Oleh Hazrat Mirza Masroor Ahmad pada kesempatan National Peace Symposium, UK, 19 Maret 2016

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu

Pertama-tama dalam kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada tamu-tamu yang terhormat yang telah menerima undangan dan bergabung bersama kami pada malam ini. Kehadiran anda sangatlah penting, mengingat acara ini diadakan pada saat ketakutan terhadap Islam terus meningkat secara luas, disebabkan oleh tindakan kelompok-kelompok teroris yang mengerikan dan tercela.

Sebagai contohnya, November lalu, dunia telah menyaksikan dengan ngeri serangan teroris di Paris, dan selain itu terjadi pula bom bunuh diri dan serangan-serangan di berbagai negara secara berturut-turut. Di Inggris sendiri, baru-baru ini Asisten Komisaris Polisi telah memperingatkan bahwa Daesh (ISIS) telah merencanakan serangan teroris yang sangat hebat dan spektakuler di Inggris, yang menargetkan tempat-tempat umum dan penting.

Lebih lanjut lagi, gelombang arus pengungsi ke Eropa selama setahun terakhir telah meningkatkan ketakutan, ketidakpastian, dan juga kepanikan di dalam pikiran masyarakat. Dari semua hal ini, kehadiran dan itikad Anda sebagai non-Muslim untuk hadir dalam acara yang diselenggarakan oleh sebuah komunitas Muslim, telah membuktian bahwa Anda sekalian merupakan orang-orang yang berani, toleran dan memiliki pikiran yang luas.

Tidak Perlu Takut Pada Islam

Meski demikian, sesungguhnya setiap orang tidak perlu merasa takut kepada Islam hakiki. Walaupun terdapat sebagian orang yang mengatakan Islam sebagai agama ekstremisme dan agama yang mengajarkan serangan bunuh diri atau bentuk terorisme lainnya, tetapi semua itu tidaklah benar. Baru-baru ini, seorang kolumnis Inggris terkenal menulis tentang Islamofobia di surat kabar nasional. Ia menulis bahwa ia telah melakukan penelitian yang ekstensif tentang bom bunuh diri dan telah menemukan bahwa serangan semacam itu pertama kali terjadi pada tahun 1980 an, padahal Islam telah ada sejak 1300 tahun.

Ia menyimpulkan bahwa jika Islam mengizinkan atau mendorong serangan bom bunuh diri, maka tentu serangan itu sudah terjadi sejak awal adanya Islam atau sepanjang sejarah Islam. Pendapatnya itu sangatlah bagus dan tepat dan membuktikan bahwa serangan bunuh diri adalah kejahatan modern yang sangat jauh dari ajaran Islam yang benar dan damai. Sesungguhnya Islam dengan tegas melarang segala bentuk bunuh diri sehingga tidak ada pembenaran sama sekali untuk serangan bunuh diri atau bentuk terorisme lainnya.

Tindakan keji seperti itu mengakibatkan pembunuhan dan pembantaian biadab terhadap perempuan tak berdosa, anak-anak, dan masyarakat lainnya.

Hasil penelitian baru-baru ini oleh Dr. Considine dari Rice University di Houston, Texas dengan jelas menyebutkan bahwa persekusi terhadap orang-orang Kristen di negara-negara yang disebut Islam tidak dibenarkan oleh Rasulullah (shallallahu alaihi wa sallam). Lebih lanjut ia menyatakan bahwa visi Rasulullah (shallallahu alaihi wa sallam) tentang negara Islam adalah pluralisme agama dan hak-hak sipil.

Jadi jelaslah bahwa tindakan seperti itu benar-benar bertentangan dengan ajaran Islam. Kalaupun Islam pernah mengizinkan untuk berperang, hal itu hanyalah sebatas untuk membela diri, ketika Anda terpaksa untuk berperang. Sebagai contoh, dalam Surah Al-Hajj: 40 Allah Ta’ala telah berfirman bahwa izin untuk berperang telah diberikan kepada orang-orang ketika perang telah diarahkan kepada mereka secara paksa.

Dalam ayat yang sama, Allah Ta’ala telah berfirman bahwa pada kasus perang agama, Allah akan menolong dan mendukung mereka yang telah dianiaya. Pada masa awal Islam, peperangan yang terjadi adalah murni peperangan agama yang dilakukan semata-mata untuk menegakkan prinsip kebebasan beragama yang universal. Sejarah membuktikan bahwa peperangan yang dilakukan dengan niat ini telah membuat Islam menang, terlepas dari fakta bahwa segelintir umat Islam yang tidak memiliki perlengkapan memadai itu melawan pasukan besar dengan persenjataan lengkap.

Namun, sebagai seorang Muslim, ketika saya menganalisa peperangan yang melibatkan orang-orang Islam saat ini, saya yakin bahwa peperangan tersebut tidak dapat digolongkan sebagai peperangan agama. Pertama, sebagian besar perang yang terjadi di dunia Muslim adalah perselisihan sipil dalam internal negara atau terjadi antara negara-negara Muslim dengan tetangganya. Kedua, kalaupun negara-negara non Muslim terlibat, mereka tidak pernah menyatakan melakukan peperangan agama, tetapi lebih membantu kedua belah pihak negara Islam. Jadi perang saat bukan diperjuangkan untuk Islam atau untuk agama, tetapi untuk keuntungan ekonomi, geopolitik dan hanya menjadi sarana untuk mencemarkan nama baik Islam.

Dari apa telah saya sampaikan, semoga hal ini menjadi jelas bahwa tidak perlu takut pada Islam, karena Islam bukanlah agama ekstrimisme ataupun agama yang mengizinkan serangan bunuh diri ataupun kekerasan secara membabi buta. Tidak perlu ada Islamofobia karena ajaran Islam sejati adalah kedamaian, toleransi dan saling menghormati. Ajaran Islam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan melindungi kehormatan, martabat dan kebebasan bagi semua orang.

Meskipun demikian, tentu saja kita semua mengetahui bahwa memang terdapat beberapa ekstremis dan kelompok-kelompok Islam yang melakukan berbagai bentuk kebrutalan yang sangat buruk atas nama Islam. Namun, ayat Al-Quran yang telah saya kutip di awal telah menjelaskan bahwa tindakan seperti itu tidak diizinkan atau dibenarkan dalam bentuk apapun oleh Islam.

Allah Maha Penyayang Tidak Mengajarkan Terorisme

Hal penting lainnya adalah, terdapat dalam surah pertama (Al-Fatihah) ayat kedua yang menjelaskan bahwa Allah itu adalah ‘Penyedia dan Pemelihara seluruh dunia’ (Robbul ‘aalamiin). Dan ayat ketiga menyatakan bahwa Dia adalah ‘Maha Pemurah dan Penyayang’ (Ar-Rahman dan Ar-Rohim). Ayat ini alih-alih mengarahkan saya sebagai muslim pada peperangan dan kekerasan, tetapi justru membimbing saya pada cinta bagi seluruh umat manusia.

Jadi, ketika Allah adalah Maha Pemberi dan Maha Pemelihara seluruh manusia, serta Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, maka bagaimana mungkin Allah menghendaki orang-orang yang beriman kepada-Nya untuk melakukan pembunuhan tanpa belas kasihan, menentang dengan kekerasan, ataupun menyakiti makhluk-Nya dengan cara apapun? Tentu saja jawabannya adalah tidak mungkin. Meskipun demikian Allah taala telah mengizinkan melakukan tindakan guna menghentikan kekejaman, tindakan yang tidak manusiawi dan ketidakadilan.

Islam menyatakan bahwa seorang Muslim harus berusaha menghentikan tangan penindas dan mengakhiri segala bentuk ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.

Menurut Islam ada dua cara untuk mencapai hal ini. Pertama, jauh lebih baik jika kedamaian dapat dicapai melalui saling dialog, negosiasi, dan diplomasi. Namun jika ini tidak dapat terjadi, kekuatan dapat ditempuh untuk menghentikan tindakan yang semena-mena dengan tujuan membangun perdamaian jangka panjang.

Di luar konteks agama, di setiap masyarakat dan negara, ada aturan-aturan dan hukum-hukum yang tersedia yang jika dilanggar maka biasanya diambil tindakan hukuman. Jika memungkinkan untuk diperbaiki tanpa hukuman atau hanya sanksi dan teguran ringan, hal itu lebih baik. Namun jika tidak memungkinkan, maka diberlakukan hukuman berat yang sepatutnya untuk kepentingan masyarakat luas dan menjadi sarana pencegah bagi orang lain.

Terkait:   Dunia dalam Krisis, Bagaimana Kita Mengatasinya?

Kembali ke konteks agama, menurut Islam, tidak boleh melakukan hukuman atau sanksi sebagai sarana untuk balas dendam, tetapi hanya sebagai sarana untuk mengakhiri kekejaman atau penganiayaan dan sebagai sarana untuk perubahan yang positif.

Al-Quran telah menyebutkan bahwa jika seseorang ataupun kelompok dapat diperbaiki melalui pemberiaan maaf atau ampunan maka cara ini harus diterapkan. Namun, jika grasi atau kesabaran tidak efektif maka hukuman harus dikenakan sebagai sarana reformasi dan perbaikan. Jadi filosofi yang mendasari pemberian hukuman dalam Islam memiliki pandangan jauh ke depan dan sangat unik. Tujuannya adalah untuk mereformasi, rehabilitasi, dan perbaikan. Semua ini untuk mengembangkan standar tinggi nilai-nilai kemanusiaan di antara umat manusia sehingga dengan mengadopsi sifat-sifat Allah, semua manusia akan berlaku saling menghormati dan peduli satu sama lain.

Jadi ketika hak-hak individu ataupun kelompok dirampas secara tidak adil, Islam membolehkan hukuman yang setimpal sesuai dengan kejahatannya, namun demikian tetap saja bahwa jika perbaikan dapat dicapai tanpa sanksi, maka hal itu lebih disukai. Itulah mengapa Allah Ta’ala telah berfirman dalam surat An-Nur [24]: 23 bahwa lebih baik untuk memaafkan dan berlapang dada.

Demikian pula dalam surah Ali Imran [3]: 135, Allah Ta’ala telah berfirman bahwa mereka yang menahan amarah dan memaafkan dan melupakan kesalahan maka mereka akan dicintai dan diridhai Allah. Selain itu, di banyak tempat dalam Al-Quran, disebutkan bahwa seseorang sedapat mungkin harus memaafkan, karena tujuan utama kita adalah perbaikan akhlak, bukan pembalasan.

Dalam hal konflik antar bangsa atau kelompok, Allah Ta’ala telah memberikan prinsip emas untuk membentuk perdamaian jangka panjang dalam Surah Al-Hujurat [49]: 10.

“Dan, jika dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah di antara keduanya, maka jika salah satu dari kedua mereka menyerang yang lain, maka perangilah pihak yang menyerang, hingga ia kembali kepada perintah Allah, kemudian jika ia kembali, damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berbuat adillah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.”

Dalam ayat ini disebutkan bahwa jika ada perselisihan antara bangsa atau kelompok, pihak ketiga harus berusaha untuk menengahi dan membawa resolusi damai atas konflik yang terjadi. Dalam hal kesepakatan, semua pihak harus bertindak secara adil, namun jika salah satu pihak melanggar kesepakatan dan mengambil langkah yang agresif, maka negara ataupun kelompok yang lain harus bersatu dan menggunakan kekuatan bila perlu untuk menghentikan pihak pelanggar. Tetapi ketika kelompok yang agresif tersebut memutuskan memilih damai, mereka tidak boleh diberlakukan pembatasan-pembatasan secara berlebihan tetapi diperkenankan untuk bangkit sebagai negara yang merdeka dan masyarakat yang bebas.

Jadi sebagai wujud Maha Pemberi dan Maha Pemelihara seluruh umat manusia, Allah Ta’ala menghendaki agar semua orang dapat hidup bersama dalam suasana damai dan bebas dari segala bentuk persekusi serta ketidakadilan.

Tidak ada Paksaan dalam Agama

Berkenaan dengan keyakinan agama, Islam telah menerapkan prinsip-prinsip kebebasan beribadah dan kebebasan berkeyakinan yang universal. Menurut Islam, setiap orang tidak hanya memiliki hak kebebasan dalam berkeyakinan, tetapi juga memiliki hak untuk menyebarkan keyakinannya dengan cara damai.

Keimanan adalah masalah hati sehingga tidak boleh ada paksaan dalam bentuk apapun dalam hal agama. Sementara Allah telah menganggap Islam sebagai sebuah ajaran yang sempurna, maka tidak ada seorang pun yang memiliki hak untuk memaksa orang lain ke dalam Islam. Setiap orang, baik yang religius atau tidak, bebas untuk menerima Islam, tetapi yang terpenting adalah ia harus menerima dengan kebebasan, sepenuhnya atas kemauan dan pilihan sendiri. Begitu juga jika seorang Muslim memutuskan untuk meninggalkan Islam, maka sesuai ajaran Al-Quran, ia memiliki hak untuk melakukannya.

Satu sisi kami meyakini Islam sebagai agama universal dan memiliki ajaran yang kekal, namun jika seseorang memilih untuk meninggalkannya, maka itu adalah pilihan dan hak prerogatif mereka. Di dalam surat Almaidah [5]: 55, Allah taala berfirman bahwa jika seseorang ingin meninggalkan Islam, maka silakan mereka pergi. Allah akan mengganti mereka dengan kaum yang lebih baik dan tulus. Tidak ada pemerintah, kelompok ataupun individu yang memiliki hak untuk menghukum mereka atau memberikan sanksi kepada mereka dalam bentuk apapun.

Jadi, tuduhan bahwa Islam memerintahkan hukuman bagi kemurtadan maka hal itu tidaklah benar dan tanpa dasar. Oleh karena itu ajaran Islam semuanya berksiar seputar Allah dan Eksistensi-Nya dan hakikat bahwa Dia adalah Maha Pemelihara dan Maha Pemberi bagi seluruh alam semesta. Sehingga jika ada seorang Muslim yang berusaha menimbulkan kekejaman tanpa belas kasih atau terlibat dalam dalam kegaitan-kegiatan ektrimisme maka mereka telah mengingkari sifat Allah sebagai Pemelihara semua umat manusia.

Atau kemungkinan lainnya, bisa jadi umat Islam tertentu menerima Allah sebagai Penguasa Alam Semesta dan Pemelihara Seluruh Dunia, tetapi ia belum benar-benar memahami hakikatnya, sehingga ia melenceng jauh dari ajaran Islam yang hakiki. Jadi, untuk mencerahkan dan memberikan pengajaran kepada manusia tentang ajaran Islam yang hakiki, kami, Muslim Ahmadi meyakini bahwa Allah taala telah mengutus Pendiri Jamaah Ahmadiyah sebagai Al-Masih Yang Dijanjikan dan sebagai Reformer di zaman ini.

Beliau memberitahukan kepada kami bahwa masa peperangan agama telah usai dan Allah taala menghendaki umat manusia untuk hidup dalam damai dan memenuhi hak-hak Sang Pencipta dan hak sesama. Berbicara kepada para pengikutnya tentang hal ini, Hadhrat Masih Mau’ud, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (as) dari Qadian bersabda:

”Menurut spirit yang benar dari ajaran Islam, hanya ada dua bagian dari agama, atau dapat dikatakan bahwa agama berdasarkan atas dua tujuan utama. Yang pertama adalah untuk mengenali Tuhan yang Satu dengan kepastian yang sepenuhnya dan mencintai Dia dengan tulus dan meleburkan dirimu sendiri sepenuhnya dalam ketaatan kepada-Nya, sesuai dengan tuntutan cinta dan ketundukkan. Tujuan yang kedua adalah untuk mengkhidmati hamba-Nya dan mempergunakan seluruh kemampuan dan keahlianmu dalam membantu orang lain dengan penuh kecintaan dan selalu menunjukkan rasa syukur dengan tulus kepada siapapun yang berbuat baik kepadamu, dan membalas mereka dengan kebaikan, apakah mereka itu raja atau penguasamu ataukah mereka hanyalah orang biasa dan sederhana. Dan kamu harus tetap menjaga ikatan cinta kepada mereka.”

Lebih lanjut, Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah juga menjelaskan makna hakiki Surah an-Nahl [16]: 91:

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan dan memberi kepada kaum kerabat.”

Pendiri Jamaat Muslim Ahmadiyah bersabda bahwa di dalam ayat ini umat Islam diperintahkan oleh Allah untuk bersikap adil dan berbuat baik kepada orang lain. Jadi, Muslim diperintahkan untuk bersikap baik dan memberikan bantuan kepada orang lain, termasuk kepada mereka yang tidak bersimpati atau tidak baik kepada mereka dengan cara apapun. Akhirnya, beliau menjelaskan bahwa ayat tersebut meminta kepada seorang Muslim untuk mencintai ciptaan Tuhan sampai kepada batas bahwa mereka menganggap setiap orang di dunia menjadi seperti anggota kerabat dekatnya sendiri.

Terkait:   Rasulullah, Kebebasan Berbicara dan Kontroversi Kartun

Puncaknya, beliau menjelaskan bahwa ayat tersebut mengharuskan seorang Muslim untuk mencintai Makhluk Allah sedemikian rupa dengan menganggap semua orang dunia seperti kerabatnya sendiri.

Bahkan beliau menjelaskan bahwa seorang Muslim sejati harus mencintai orang lain tanpa memandang latar belakang atau agama mereka, dengan cara layaknya seorang ibu mencintai anaknya. Sungguh, ini adalah bentuk kecintaan yang paling tinggi dan paling suci, karena pada tingkatan kedua, seseorang yang melakukan kebaikan ataupun memberikan bantuan, ada kemungkinan unsur ego pribadi masih muncul, baik tersamar ataupun secara zahir, dan pada titik tertentu, seorang dapat mengungkit-ngungkit kebaikannya kepada orang lain dan mengharapkan balasannya.

Namun, kecintaan seorang ibu benar-benar tulus dan tanpa pamrih, dan ikatan istimewa dengan anaknya sangatlah tinggi sehingga ia rela mengorbankan segalanya demi anak-anaknya.

Ia tidak mengharapkan imbalan dan membutuhkan pujian atau penghargaan apapun. Jadi ini adalah standar tertinggi yang dianjurkan oleh Islam, yaitu umat Islam diajarkan untuk mencintai semua orang selayaknya ibu mencintai anaknya. Ini adalah ajaran Islam yang hakiki.

Allah taala telah berfirman bahwa mereka yang telah beriman kepada-Nya harus mengadopsi sifat-sifat-Nya, sehingga tidak mungkin seorang Muslim hakiki akan berbuat kekejaman, dan tidak mungkin agama Islam mengizinkan segala bentuk ketidak-adilan, kekerasan ataupun ekstrimisme. Bertahun-tahun saya telah menyatakan poin-poin ini berulang kali dan menyoroti inti dari ajaran Islam ini.

Peran Media dalam Menciptakan Perdamaian

Saya berulangkali telah mengutip ayat-ayat Al-Quran untuk membuktikan bahwa apa yang saya katakan adalah berdasarkan ajaran Islam yang otentik. Namun tetap saja pesan damai dan inklusif kami tidak diliput secara luas di media, sebaliknya mereka yang relatif sedikit yang terlibat dalam kebrutalan dan pembantaian telah diliput dan mendapat perhatian media di seluruh dunia tanpa henti.

Tidak diragukan lagi bahwa media memainkan peranan yang sangat besar dalam mempengaruhi opini publik, sehingga media seharusnya menggunakan kekuatan ini dengan penuh tanggungjawab sebagai sebuah kekuatan untuk kebaikan dan kekuatan untuk perdamaian. Media harus menunjukan kepada dunia apa yang di representasikan oleh Islam yang benar, bukannya fokus pada perbuatan yang tak berperikemanusiaan dari sekelompok kecil orang.

Publisitas adalah oksigen yang menopang sebagian besar kelompok teroris dan ekstremis, sehingga saya tidak memiliki keraguan bahwa jika media melakukan apa yang telah saya katakan kita akan segera menyaksikan terorisme dan kekerasan yang merebak di dunia ini akan mulai lenyap. Secara pribadi saya tidak dapat memahami bagaimana para ekstrimis yang telah menodai Islam dan merusak ajarannya yang suci dapat menjustifikasi perbuatan penuh kebencian mereka atas nama Islam.

Ajaran Islam yang damai melarang segala bentuk ekstrimisme, bahkan sekalipun terjadi peperangan yang logis, Allah memerintahkan supaya berbagai tindakan atau hukuman tetap proposional dengan kejahatan yang dilakukan dan akan lebih baik juga menerapkan kesabaran dan pengampunan. Jadi orang-orang yang menyebut diri Muslim, yang terlibat dalam kekerasan, ketidakadilan dan kebrutalan, mengundang murka dan amarah Ilahi ke hadapan mereka.

Di masa-masa ketika ketakutan terhadap Islam semakin meningkat ini, izinkan saya menekankan kembali bahwa Al-Quran berulangkali mengajarkan cinta, kasih sayang dan kebajikan. Jika pada kondisi yang sangat mendesak Al-Quran mengizinkan peperangan yang bersifat defensif, hal itu dilakukan semata untuk menegakkan perdamaian. Hari ini, kita menyaksikan bahwa sebagian besar negara atau kelompok, baik Muslim atau non-Muslim, yang terlibat dalam peperangan juga menyatakan bahwa mereka berperang demi membangun perdamaian.

Dalam hal persepsi, nampaknya sebagian besar orang mau mengabaikan perang yang dilakukan oleh negara-negara besar atau setidaknya tidak mengaitkan tindakan mereka dengan agama atau keyakinan apapun. Namun ketika kita hidup dalam suasana dunia saat ajaran Islam menjadi sasaran, kita menyaksikan bahwa semua kekejaman atau perang yang dilakukan oleh Umat Islam langsung dikaitkan dengan ajaran Islam. Dan suara-suara dari kelompok-kelompok yang bersungguh-sungguh beritikad menyebarkan ajaran Islam yang benar dan damai tidak didengar dan tidak dipublikasikan secara luas.

Menurut pendapat saya ini tidaklah adil dan sangat kontra produktif. Di saat konflik melanda seluruh dunia, kita harusnya berpegang pada prinsip ini, yaitu, segala bentuk kejahatan dan kekejaman harus ditindas dan semua bentuk kebaikan dan kemanusiaan harus didukung. Dengan cara ini, kejahatan akan dapat ditekan, sementara kebaikan akan tersebar luas dalam masyarakat.

Jika kita menyebarkan kebaikan yang terjadi di dunia, maka kita dapat mengalahkan mereka yang berupaya merusak nilai-nilai kasih sayang dan kemanusian. Namun dunia tampaknya tidak menerima atau menyadari prinsip ini, itulah sebabnya media terus memprioritaskan cakupan siaran dan jumlah penonton mereka dibanding perdamaian dunia. Media yang terus berfokus pada minoritas kecil yang kejam, telah menjadikan mereka sebagai mesin-mesin propaganda kelompok-kelompok jahat seperti ISIS, tetapi media gagal dalam tugas mereka untuk menyoroti hal-hal yang baik di dunia. Ini adalah bentuk ketidakadilan yang menebar benih perpecahan dan konflik lebih lanjut.

Perdamaian Harus Menjadi Perhatian Utama

Dalam hal politik dunia dan cara mengalahkan terorisme, kita perlu untuk sama-sama menyadari bahwa pembentukan perdamaian merupakan tujuan utama kita sehingga diperlukan kompromi dari semua pihak.

Tapi jika Anda bersedia mendengar kata-kata dari seorang Muslim, maka izinkan saya mengemukakan kepada anda pandangan-pandangan dari non-muslim yang terkenal yang sangat mengerti urusan-urusan politik dan yang menghendaki perdamaian dunia. Sebagai contoh, ketika berbicara tentang bagaimana mengalahkan ekstrimisme, khususnya kelompok teroris Daesh (ISIS), Menteri Luar Negeri Austria baru-baru ini mengatakan:

“Kita memerlukan pendekatan pragmatis, termasuk melibatkan presiden Al-Assad dalam pertempuran melawan teror IS. Dalam pandangan saya prioritasnya adalah perang melawan terorisme. Hal ini tidak mungkin tanpa adanya kekuatan seperti Rusia dan Iran.”

Lebih lanjut, Prof. John Gray mantan filsuf politik yang mengajar selam bertahun-tahun di London School of Economics, baru-baru ini menulis tentang pentingnya memprioritaskan perdamaian dibanding jenis sistem politik yang ada. Ia menulis:

“Bentuk pemerintahan – demokratik, despotik, monarki atau republik – kurang penting dibandingkan dengan upaya untuk mewujudkan perdamaian.”

Menurut pendapat saya, ini adalah komentar yang sangat mendalam, namun negara-negara besar terus memprioritaskan pergantian rezim di negara-negara yang sebelumnya relatif stabil.

Terkait:   Perdamaian Dunia Hakiki yang Berkelanjutan

Misalnya, Barat bertekad untuk mengingkirkan Saddam Hussein di Irak dan akibatnya adalah perang yang terjadi 13 tahun lalu masih terasa sampai saat ini. Contoh lainnya adalah Libya, ketika Presiden Khadafi diturunkan secara paksa dari jabatannya pada tahun 2011, dan sejak saat itu Libya telah berubah menjadi negara tidak memiliki kepastian hukum dan terus terjadi kekacauan yang tak terkendali.

Dampak langsung dari kekosongan politik di Libya adalah ISIS telah membangun basis yang signifikan dan jaringan teror di negara tersebut yang semakin kuat. Situasi sekarang ini sangatlah berbahaya, tidak hanya bagi kawasan ini, tetapi juga Eropa. Ini adalah sesuatu yang telah saya peringatkan beberapa tahun yang lalu. Oleh karena itu prioritas di negara-negara tersebut seharusnya bukan penggantian rezim. Sebaliknya, yang dilakukan adalah menjamin hak-hak warga sipil untuk perdamaian jangka panjang.

Masih terkait Suriah, saya setuju dengan Menteri Luar Negeri Austria ketika ia mengatakan bahwa tujuan utama adalah membangun perdamaian. Oleh karena itu, negara-negara besar harus membuka jalur komunikasi dengan Pemerintah Suriah dan mencari bantuan dari negara-negara tetangga lainnya yang memiliki pengaruh di wilayah tersebut.

Ingatlah perubahan positif hanya dapat terwujud jika setiap orang bersedia mengesampingkan kepentingan pribadi demi kebaikan yang lebih besar dan bersedia untuk berlaku adil setiap saat. Sebagaimana telah saya katakan, Islam mengajarkan bahwa keadilan merupakan pondasi terbentuknya perdamaian. Jadi kita harus menaruh perhatian pada isu-isu penting di zaman sekarang. Selama beberapa tahun saya telah mengingatkan bahwa dunia begitu cepat mengarah pada perang dunia dan saat ini orang-orang pun memiliki kesimpulan yang sama.

Bahkan beberapa orang terkemuka mengatakan bahwa mereka yakin perang dunia telah dimulai. Namun saya yakin bahwa kita masih memiliki waktu untuk menghentikan perang seperti itu, tapi solusinya tetap sama, seperti yang telah saya jelaskan, yaitu menerapkan keadilan dan menyingkirkan semua kepentingan pribadi. Pada beberapa kesempatan sebelumnya, saya telah berbicara tentang pentingnya memotong jalur pendanaan dan pasokan kelompok-kelopok ekstrimis.

Tetapi bisa dikatakan upaya penuh belum dilakukan untuk masalah ini. Sebagai contoh, sebuah laporan investigasi khusus baru-baru ini, yang diterbitkan oleh The Wall Street Journal menyebutkan bahwa ISIS memperoleh dolar Amerika yang besar dari lelang yang dilaksanakan oleh Bank Central Irak. Dolar itu diberikan ke Irak langsung dari Federal Reserve, Amerika. Artikel tersebut menyatakan bahwa pemerintah Amerika telah mengetahui hal ini, setidaknya sejak Juni 2015, namun secara pribadi saya yakin bahwa negara-negara besar telah mengetahui perdagangan semacam ini sudah sejak lama.

Selain itu, dalam hal penjualan minyak, sudah diketahui bersama bahwa berbagai kelompok bahkan pemerintah membeli minyak dari ISIS. Mengapa perdagangan ini tidak dihentikan? Mengapa sanksi komprehensif tidak diberlakukan untuk mencegah kesepakatan seperti itu? Tampaknya ketika sampai harus membeli minyak, moralitas sudah tidak ada lagi.

Berikut adalah pendapat yang dibuat oleh Prof Leif Wenar dari King’s College London dalam artikel baru-baru ini, ia mengatakan:

”Dunia mentolerir semua bentuk kekejaman demi mendapatkan minyak. Sehingga negara-negara telah membeli minyak dari ISIS dan Sudan yang di sana banyak terjadi pelanggaran terhadap hak-hak manusia. Ini adalah peanggaran terhadap pasar ekonomi yang fundamental, bahwa kekerasan seharusnya tidak menciptakan hak milik.”

Lebih lanjut dalam artikel lain, direktur Iraq Energy Institut menjelaskan bagaimana ISIS menjual minyaknya. Ia menulis :

“Minyak mentah diangkut oleh kapal tanker ke Yordania melalui provinsi Anbar, ke Iran melalui Kurdistan, ke Turki melalui Mosul, ke pasar lokal Suriah dan ke wilayah Kurdistan di Irak, sebagian besar minyak tersebut disuling secara lokal. Hal yang tidak masuk akal jika menganggap pejabat negara tidak terlibat dalam perdagangan ini.”

Jadi ketika banyak klaim yang mengatakan bahwa telah dilakukan segala upaya untuk memberantas terorisme dan ekstrimisme, tetapi bukti tidak mendukung klaim tersebut. Atas dasar ini, bagaimana dapat dikatakan bahwa terdapat keadilan hakiki di dunia? Bagaimana dapat dikatakan bahwa kejujuran dan integritas dianggap hal yang penting?

Demikian pula, baru-baru ini terdapat liputan media yang luas yang mendokumentasikan perdagangan senjata global.

Menurut laporan resmi tahun lalu, Amerika Serikat telah mengekspor senjata seharga 46,6 Miliar Dollar, meningkat 12 miliar dolar dari tahun sebelumnya. Lebih lanjut dilaporkan bahwa sebagian besar senjata itu dijual ke negara-negara Timur Tengah, yang pada gilirannya hal itu memicu perang di Suriah, Irak dan Yaman. Saya tegaskan kembali bahwa jika perdagangan seperti ini terus berlangsung, bagaimana mungkin keadilan dan perdamaian dapat diwujudkan.

Beberapa contoh yang saya kemukakan ini semuanya merupakan domain publik dan merupakan pandangan dari para analis dan pengamat yang terkemuka. Sebelum prinsip-prinsip keadilan diterapkan di semua level masyarakat dan di antara bangsa-bangsa, kita tidak akan melihat terwujudnya perdamaian sejati di dunia ini. Tanpa keadilan, maka akan dibutuhkan waktu beberapa dekade untuk mengalahkan kejahatan, yaitu ISIS dan kelompok ektrimis lainnya.

Namun, jika dunia memperhatikan pesan ini menerapkan keadilan dan melakukan upaya tulus untuk mencegah pendanaan dan jalur suplai bagi terorisme, maka saya yakin jaringan terorisme yang telah menyengsarakan dunia dapat dihancurkan dalam waktu dekat ini, tidak seperti apa yang dikatakan seorang pensiunan Jendral Amerika yang baru-baru ini mengatakan bahwa perang melawan ISIS akan berlangsung hingga 10 sampai 20 tahun.

Sebagai kesimpulan, keyakinan kami adalah sebelum dunia mulai mengenali Penciptanya dan menerima Dia sebagai Pemelihara umat manusia, maka keadilan sejati tidak akan terwujud. Bukan hanya keadilan yang tidak akan terwujud, tetapi kita juga akan mengalami perang nuklir yang sangat mematikan, yang dampaknya akan di rasakan oleh generasi mendatang.

Saya berdoa semoga dunia dapat memahami realitas ini. Saya berdoa semoga kita semua dapat berperang aktif untuk memajukan tujuan kemanusiaan. Dan saya berdoa semoga perdamaian sejati berdasarkan keadilan dapat ditegakkan di seluruh bagian dunia.

Melalui kata-kata ini, sekali lagi saya ingin berterima kasih kepada para tamu yang telah bergabung bersama kami pada malam ini. Semoga Allah memberkati Anda semua.

Sumber: Review of Religions
Penerjemah: Mln. Muhammad Idris
Editor: Mln. Khaeruddin Ahmad Jusmansyah