Dari kegiatan lintas iman Peace In Diversity di Jawa Timur. Berbeda-beda tetapi damai. (Redaksi)

“KETIKA menjadi berbeda dan minoritas adalah luka” setidaknya sepenggal kalimat tersebut merupakan gambaran tentang seorang muslim Ahmadi yang sering terluka karena interpretasi dan pemahaman yang dangkal dari seseorang atau sekelompok orang terhadap Ahmadiyah.

Perlu dilakukan banyak diskusi dan partisipasi dalam kegiatan yang berhubungan dengan pluralisme atau kelompok lintas agama agar masyarakat awam tau apa sih Ahmadiyah sebenarnya? Dan jawaban yang didapat oleh orang lain itu langsung dari sumbernya bukan asal comot pendapat orang yang hanya tahu sekilas tentang Ahmadiyah sendiri.

Beruntung bagi kami—Sita Az Zahra—mahasiswi Sastra Inggris UNAIR Surabaya dan Humda Najam, mahasiswi Ilmu Komunikasi UIN Surabaya. Kami berdua adalah anggota Lajnah Imaillah, organisasi badan perempuan Ahmadiyah, dari Gedangan, Jawa Timur, diberi kesempatan mengikuti kegiatan Peace In Diversity.

Kegiatan diselenggarakan oleh Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) bekerja sama dengan Pusat Pengambangan Hak Asasi Manusia dan Demokrasi (PPHD) Universitas Brawijaya Malang, The Asia Foundation, dan Kedutaan Besar Swiss.

Tempat kegiatan “National Peace in Diversity (PiD), Celebrating Diversity, Building Peace” berada di Batu, Malang, Jawa Timur. Sekitar 50 mahasiswa lintas iman meramaikan acara yang dilaksanakan selama empat hari itu, 29 Oktober—1 November 2015.

Peserta muslim antara lain dari perwakilan HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia), IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama), Jamaah Muslim Ahmadiyah atau Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), hingga IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah).

Katholik antara lain diwakili PMKRI (Pergerakan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia), Keuskupan. Dari Kristen diwakili GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) dan beberapa pemuda gereja.

Hindu diwakili oleh KMHDI (Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia). Buddha diwakili HIKMAHBUDHI (Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia) dan Samanera Athasilani STAB Kertarajasa. Dari Konghucu diwakili PAKIN (Pemuda Agama Konghucu Indonesia). Hadir pula dari agama Baha’i.

Kegiatan PiD bertujuan untuk mempertemukan para generasi muda lintas agama dan kepercayaan untuk saling merasakan keunikan, perbedaan, dan persamaan dalam satu perjumpaan. Pada kegiatan ini pula para peserta dapat merasakan kultur yang berbeda dan kental di saat kami harus tinggal dengan peserta lain yang berbeda agama dan mengenal satu sama lain.

Selama mengikuti kegiatan ini, para peserta mendapatkan pelatihan Living Value Education, pelatihan menulis reflektif, dan kunjungan ke tempat-tempat ibadah yang berbeda.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh pihak ICRP dan PPHP Universitas Brawijaya. Setelah itu, para peserta di ajak berkenalan dan di bagi menjadi beberapa kelompok.

Obrolan dan pembicaraan ringan di mulai disitu, pada jam jam di luar acara banyak diskusi dan forum forum kecil untuk bertukar pikiran, pengetahuan, berbagi ilmu atau hanya sekedar bertanya. Di momen itu peserta banyak belajar dan mengerti sedikit banyak tentang ajaran agama lain langsung dari sumbernya bukan dari “katanya”.

Dengan adanya konfirmasi dan penjelasan penjelasan tentang issu issu yang beredar miring dan juga problem dari setiap kelompok agama oleh orang orang nya langsung membuat ini menjadi dasar dari sebuah toleransi.

PADA hari pertama, peserta mengikuti pelatihan Living Value Education yang diberikan oleh  bapak Muhammad Iqbal dari Center for Religion and Philosophy.

Living value mengajarkan cara bertindak dan menghargai orang lain dengan berbagai cara. Dipaparkan juga bagaimana menghargai proses pembelajaran nilai yang ada di masa lalu, masa sekarang juga menata mimpi yang ada di masa depan.

Setelah itu diadakan diskusi berbagi pengalaman tentang problem problem yang sering dialami ketika menjadi minoritas yang didiskriminasi.

Salah satu solusi yang dicatat yaitu ketika seseorang tidak bisa bertoleransi dengan perbedaan itu berarti dia belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri karena sesorang tidak mungkin bisa memberikan kedamaian pada orang lain ketika ia sendiri tak bisa berdamai dengan dirinya sendiri.

Dilanjutkan dengan seminar oleh fasilitator yang bertujuan untuk membuka mata dan menyadarkan kami para peserta akan pentingnya toleransi dan pluralisme untuk memadamkan konflik yang selama ini sering terjadi antar umat beragama.

Di kegiatan yang hebat ini, para peserta diajak berkeliling mengunjungi dan dikenalkan lima tempat ibadah dari berbagai agama.

KUNJUNGAN pertama yaitu ke Pura Luhur Giri Arjuno, kami merasa bersyukur bisa berkunjung di salah satu pura tertinggi yang ada di Pulau jawa.

Pura ini letaknya berada tepat di kaki gunung Arjuno dan termasuk pura yang di anggap suci. Kebun pohon apel terhampar di bawah pura tersebut, bisa di bayangkan kami berada di sebuah pura yang megah dengan pemandangan yang tak bisa dijelaskan bersama teman teman hebat yang menginspirasi.

Di pura ini Pedande bercerita banyak tentang Hindu, banyak filosofi-filosofi kehidupan yang di tuturkan oleh beliau.

Ada salah satu kata menarik yang akan selalu kami ingat “Tuhan itu yang menciptakan manusia, bukan Tuhan yang diciptakan manusia. Nurani dan moral tak mengenal agama. Jika agama menimbulkan kekerasan, lantas apa guna agama?”

PERJALANAN di hari yang kedua dilanjutkan ke Masjid Agung Batu dan disambut baik oleh Ta’mir yang ada di sana, masjid dengan desain interior dan eksterior sehebat ini merupakan masjid tertua yang ada di kota Batu, ukiran ukiran yang ada menggambarkan peradaban yang sudah sangat maju kontras dengan jaman pada saat itu.

Di masjid ini, ustad yang menerangkan kurang interaktif dalam menjelaskan tentang islam dan jawaban ketika ada yang bertanya juga kurang memuaskan.

Ketika matahari berada di atas kepala, kami sedang berada di GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) banyak fakta yang menarik yang kami dapatkan di sini, kami tertarik pada gamelan satu set berada di samping altar gereja.

Ternyata ajaran Kristen masuk melalui akulturasi budaya sama seperti islam.

Ada juga tulisan dengan huruf aksara Jawa di atas salib di tengah altar yang ketika ditanya, artinya bertuliskan “Kemarilah kepadaku, maka aku akan membawa kelegaan. Matius 11:28b”.

Dalam waktu 3 minggu sekali pun khotbah dilakukan menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil.

KUNJUNGAN yang keempat yaitu ke Gereja Gembala Baik, di sini romonya masih muda dan baik banget.

Beliau menjelaskannya juga sangat detail tentang Kristen Protestan itu seperti apa.

Romo juga mengajak kami berkeliling gereja dan menjelaskan arti dari simbol-simbol di balik sebuah ritual.

Salah satu ucapan yang beliau katakan yaitu “Salah satu kekayaan Indonesia yaitu religiusitas.”

ESTIMASI terakhir yaitu ke Vihara Dhammadipa Arama. Di Vihara ini merupakan salah satu tempat pelatihan meditasi.

Pelatihan meditasi tidak hanya diperuntukan untuk umat Buddha saja, tapi berlaku umum untuk orang yang ingin berlatih meditasi.

Di sini terdapat pula bangunan Patirupaka Shwedagon Pagoda, yang merupakan replika Pagoda Shwedagon di Myanmar.

Bangunannya rapi, tertata dan berkonsep, entahlah ketika kami memperhatikan para Bhikku atau Antasilani ada suatu kedamaian di sana, banyak cerita yang kami dapat dari salah satu Antasilani.

Di Vihara juga para peserta dijelaskan mengenai konsep dan inti ajaran Buddha oleh seorang Bhiksu atau Bhikku atau lebih sering disebut Bhante yang berarti guru.

Setelah itu peserta diajak untuk mengelilingi area vihara ini yang cukup luas, termasuk mengelilingi Museum yang berada di areal Vihara.

Di sini banyaak sekali yang menarik perhatian kami karena filosofinya tentang kehidupan yang membawa perdamaian.

LELAH seharian berkeliling tidak lah sebanding dengan pengalaman dan pelajaran baru yang sangat luar biasa didapat.

Setelah sampai di Roemah YWI yang merupakan tempat menginap para peserta, kami semua beristirahat.

Di sini kami di tempatkan satu kamar dengan teman bermacam macam agama.

Banyak yang unik disini, kami jadi tau kebiasaan, tata cara mereka beribadah sehari hari.

Sharing, bertanya dan bertukar pikiran adalah sesuatu yang asik ketika menjelang tidur.

Hari terakhir para peserta dan panitia menilik kembali apa yang kurang dari acara ini dan apa yang harus dipertahankan serta tindak lanjut dari acara ini.

Setelah dilakukan rapat dalam forum akhirnya diputuskan untuk melakukan diskusi lintas agama rutin setiap sebulan sekali yang diikuti oleh seluruh peserta Peace in Diversity.

Banyak pelajaran yang kami petik dari kegiatan ini, salah satu nya yaitu setiap agama mengajarkan kebaikan dan tidak lepas dengan adanya ritual dan symbol.

Di sini, Ahmadiyah, bukanlah satu satunya minoritas yang dipandang sebelah mata.

Hanya saja interpretasi yang salah menyebabkan issu miring dan itu beredar. Kedepannya, semoga kami bisa terus berkontribusi.

Kontributor:  Sita Az Zahra
Editor : Rām DMX

Sumber: Peace In Diversity = Berbhinneka dalam Damai

(Visited 8 times, 1 visits today)