Kebiasaan Hazrat Masih Mau’ud (as) di Bulan Ramadhan

kebiasaan Hazrat Masih Mau'ud puasa Ramadhan

Hazrat Dr Mir Muhammed Ismail (ra) menceritakan kepada Hazrat Mirza Bashir Ahmad (ra):

“Pada tahun 1895, saya menghabiskan bulan Ramadan di Qadian dan melaksanakan salat Tahajud – yaitu salat Tarawih – di belakang Hazrat Masih Mau’ud (as) sepanjang bulan itu. Kebiasaan Huzur (as) adalah melaksanakan salat Witir di bagian awal malam dan delapan rakaat salat Tahajud yang dikerjakan dua-dua di bagian akhir malam.

“Di dalamnya beliau membacakan Ayat Kursi pada rakaat pertama yaitu اَللّٰہُ لَا اِلٰہَ اِلَّا ھُوَ sampai وَ ھُوَ الْعَلِیُّ الْعَظِیْم dan pada rakaat kedua beliau membaca Surat al-Ikhlas. Biasanya, saat ruku’ atau sujud beliau membaca:

یَا حَیُّ یَا قَیُّوْمُ بِرَحْمَتِکَ اَسْتَغِیْث

“Wahai Tuhan Yang Maha Hidup dan Maha Pemelihara, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.’

Beliau membacanya sedemikian rupa sehingga saya dapat mendengar suara beliau. Selain itu, beliau langsung makan sahur setelah shalat Tahajud, dan terkadang beliau mengakhirkannya sampai azan berkumandang saat beliau sedang makan.”

Hazrat Mirza Bashir Ahmad (ra) menambahkan:

“Saya ingin memperjelas bahwa sahur diperbolehkan hingga fajar menyingsing di cakrawala timur [fajar sadiq]. Sahur tidak ada hubungannya dengan azan karena waktu azan subuh telah ditentukan untuk berkumandang saat fajar menyingsing. Oleh karena itu, kebanyakan orang menganggap akhir sahur itu adalah saat azan dikumandangkan. Karena azan subuh segera dikumandangkan saat fajar menyingsing di Qadian dan mungkin, pada beberapa kesempatan karena kesalahan dan kurangnya perhatian, azan dikumandangkan bahkan sebelum itu. Hazrat Masih Mau’ud (as) pada umumnya tidak berhenti makan dan minum saat azan berkumandang dan biasa makan sahur hingga fajar menyingsing.

Terkait:   Puasa Menyucikan Rohani

“Dan faktanya dalam hal ini, syariat Islam tidak menganjurkan berhenti makan dan minum saat fajar menyingsing berdasarkan fakta dan persepsi ilmiah. Sebaliknya, makan dan minum hendaknya dihentikan ketika cahaya fajar pertama terlihat oleh masyarakat. Oleh karena itu, kata تَبَیَّنَ juga memperjelas hal ini. Dalam sebuah hadits, diriwayatkan juga bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jangan berhenti makan dan minum saat azan Bilal berkumandang, tetapi lanjutkanlah sampai azan Ibnu Maktum berkumandang, karena beliau tuna netra dan beliau mengumandangkan azan jika orang-orang mulai riuh di pagi hari.”

Mengenai makanan Hazrat Masih Mau’ud as ketika sahur di Bulan Ramadhan, beliau biasanya memakan salan [kari] atau paha ayam dan firni [manisan India]. Hazrat Ahmad (as) makan paratha [roti kering India] sebagai pengganti roti [roti pipih], meskipun beliau hanya memakannya sedikit.

Terkait:   Puasa Ramadhan dalam Islam, Manfaat dan Keutamaannya

Pada masa khalwat, beliau banyak melakukan penempaan rohani dan bertafakur. Pada suatu kesempatan, Hazrat Ahmad (as) berpuasa selama enam bulan berturut-turut atas kehendak Allah. Saat berbuka puasa, beliau hanya makan setengah roti atau kurang. Beliau juga tidak makan hidangan sahur tetapi beliau bagikan kepada orang-orang yang kurang mampu, dan hal itu beliau lakukan diam-diam sehingga keluarga beliau tidak mengetahuinya. Namun sikap umum beliau adalah beliau tidak menginginkan pengikut beliau melakukan amalan semacam itu; dan sebagai gantinya beliau menyatakan bahwa jihad di zaman ini adalah dengan berjuang di medan tabligh dengan pena melawan musuh-musuh Islam. Jadi, jika menganggap orang seperti itu menginginkan kesenangan duniawi bukanlah suatu keaniayaan, lalu apa lagi?

Hafiz Nur Muhammad Sahib dari Faizullah Chak meriwayatkan kepada Hazrat Mirza Bashir Ahmad (ra) bahwa suatu ketika di bulan Ramadhan, seseorang mengumandangkan azan sebelum waktunya ketika sahur. Hazrat Masih Mau’ud as masuk masjid dan mengatakan, “Aku baru saja mengangkat segelas susu ke mulutku saat aku mendengar azan berkumandang. Jadi, aku langsung meletakkan gelas itu.” Seseorang dengan rendah hati berkata, “Huzur, masih ada waktu untuk makan dan minum.” Beliau menjawab, “Aku tidak ingin makan atau minum apa pun setelah azan.”

Terkait:   Niat Puasa dan Doa Berbuka Puasa

Mengenai riwayat ini, Hazrat Mirza Bashir Ahmad (ra) menjelaskan:

“Saya ingin menambahkan bahwa jika riwayat ini benar, maka Huzur (as) pasti telah mengambil tindakan pencegahan demi diri beliau sendiri pada kesempatan itu. Sebaliknya, kebiasaan Hazrat Masih Mau’ud as adalah beliau tidak memperkirakan waktu [akhir sahur] berdasarkan azan, tetapi berdasarkan munculnya fajar. Dalam hal ini beliau juga berpegang pada pendirian bahwa fajar harus nampak jelas sebagaimana tujuan ayat Al-Qur’an. Bagaimanapun, menurut pendapat para ulama, fatwa dan takwa adalah dua hal yang berbeda.”

(Diambil dari kumpulan riwayat yang berkaitan dengan kehidupan Hazrat Masih Mau’ud (as) dalam Sirat-ul-Mahdi karya Hazrat Mirza Bashir Ahmad (ra). Diterjemahkan oleh Fateh Alam, UK. Diterbitkan di Mingguan Al Hakam)

Sumber: Alislam.org

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.