Jalsah Salanah UK 2022: Petunjuk bagi para Panitia dan Peserta

Jalsah Salanah UK 2022: Petunjuk bagi para Panitia dan Peserta

  • Tanggungjawab para panitia, sukarelawan dan peserta Jalsah Salanah
  • Pentingnya mengikuti ketentuan selama Jalsah
  • Senantiasa ingat tujuan penyelenggaraan Jalsah: Jalsah ini bukanlah perayaan duniawi, melainkan berhimpun dalam rangka menyimak firman-firman Allah Ta’ala dan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (صلی اللہ علیہ وسلم).
  • Langkah-langkah antisipasif dan pencegahan dari wabah: disiplin penggunaan masker bagi semua dan penggunaan obat homeopathi.
  • Kesediaan para Ahmadi mengorbankan waktu mereka sehingga banyak sukarelawan yang datang untuk membantu kepanitiaan melebihi ekspektasi (perkiraan) panitia.
  • Orang-orang duniawi berusaha untuk mendapatkan para sukarelawan bagi pekerjaan mereka, namun sejarah Jemaat Ahmadiyah benar-benar menunjukkan contoh yang berkebalikan dari itu dengan begitu banyaknya sukarelawan yang datang, sehingga pihak manajemen mengalami kesulitan bagaimana untuk menangani mereka.
  • Kesalahan bidang dhiyafat yang menyiapkan makanan tidak melebihi perkiraan. Makanan harus disiapkan lebih dari perkiraan jumlah yang datang.
  • Saran-Saran Berharga untuk para panitia Jalsah dan Petunjuk dari pendiri Jemaat Ahmadiyah perihal Jalsah Salanah: Para panitia berkhidmat dengan pemikiran semua tamu berhak dihormati dan dikhidmati. Para panitia tidak menganggap diri sebagai petinggi (pejabat) tapi pengkhidmat dan bisa berkhidmat karena karunia Ilahi bukan karena kehormatan diri.
  • Kesadaran di dalam benak para panitia dan sukarelawan bahwa dalam tiga hari Jalsah itu mereka berkhidmat tanpa pamrih (mengharap upah) dari atasan dan hadiah dari para tamu, melainkan demi ridha Allah semata dan dengan mengamalkan teladan terbaik pengkhidmatan para tamu oleh para Sahabat Nabi Muhammad (saw).
  • Para panitia – khususnya mereka yang berhubungan langsung dengan para peserta – senantiasa mengedepankan asas ini.
  • Sesama panitia saling berkomunikasi dengan baik dan perkataan yang santun. Panitia yang berkedudukan berkomunikasi dengan bawahan secara santun dan bila menemukan kesalahan bawahan agar menasehati dengan kecintaan dan lemah lembut.
  • Para panitia bidang penyediaan makanan agar memastikan tamu makan di tempat makan dengan waktu yang wajar dan tidak berlama-lama di tempat makan untuk ngobrol dan sebagainya.
  • Para panitia, khususnya yang tidak sedang bertugas agar ikut shalat berjamaah.
  • Para panitia bagian scanning (pintu masuk) agar meminta tamu membuka masker untuk memastikan ia orang yang sama dengan kartu masuk.
  • Petunjuk-petunjuk bagi para peserta Jalsah: Doa berdasarkan Hadits Nabi Muhammad (saw) bagi mereka yang melakukan perjalanan. Berdoa sebanyak-banyaknya agar Allah Ta’ala melindungi semua peserta dan mereka yang ditinggalkan di rumah; dzikr Ilahi; shalawat untuk Nabi Muhammad (saw) menyertai doa-doa yang umum dipanjatkan dalam hari-hari Jalsah; kehadiran dalam shalat-shalat berjamaah tepat pada waktunya dan tidak memboroskan waktu; menyimak pidato-pidato Jalsah; banyaknya pameran dan mengambil manfaat darinya; pengaturan parkir bagi para pengendara roda empat; bagi para pemakai toilet dan kamar mandi agar menjaga kebersihan dan tidak boros air; bahaya kebakaran dikarenakan sedang musim kemarau; waspada dan jeli bila melihat ancaman bersifat keamanan agar tidak ragu-ragu melapor ke tim keamanan.
  • Himbauan doa Hudhur untuk kemajuan Jemaat; penegasan petunjuk dari Hudhur; Doa Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu-minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 05 Agustus 2022 (Zhuhur 1401 Hijriyah Syamsiyah/ Muharram 1444 Hijriyah Qamariyah) di Jalsah Gah Hadiqatul Mahdi, Oaklands Farm, Green Street, East Worldham, Alton, Distrik Hampshire, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

[بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يوْم الدِّين * إيَّاكَ نعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ]

(آمين)

Dengan karunia Allah Ta’ala, pada tahun ini Jalsah Salanah Inggris kembali diselenggarakan dengan skala yang besar setelah terakhir kali pada 2019. Pada tahun lalu pun Jalsah dilaksanakan, namun dengan jumlah kehadiran yang terbatas. Meskipun pada tahun ini juga Jalsah Salanah diperuntukkan bagi Jemaat Inggris saja dan tamu dari luar negeri hadir dalam jumlah yang sangat terbatas, namun di tiga hari ini, insya Allah (انشاء اللہ تعالیٰ), seluruh Jemaat di Inggris diizinkan untuk hadir dan insya Allah, akan berlangsung seperti itu. Semoga angka kehadirannya akan baik, insya Allah.

Sebagaimana kita ketahui bersama, keberlangsungan Jalsah Salanah yang reguler harus terputus dikarenakan wabah virus korona dan kita tidak dapat mengambil faedah dari keberkatan-keberkatan Jalsah seperti biasanya. Bahkan, ada satu tahun di mana sama sekali tidak dapat diselenggarakan. Tahun ini pun serangan wabah ini masih terus mengalami pasang-surut dan saat ini belum sepenuhnya berakhir, bahkan di beberapa tempat, termasuk di sini dan di beberapa negara lain di dunia, dalam beberapa hari ini sedang meningkat, namun pembatasan-pembatasan untuk berkumpul yang diberlakukan pemerintah, untuk sekarang ini tidaklah terlalu ketat.

Namun, bukan berarti kita meniadakan upaya-upaya antisipasi. Bagaimanapun, seluruh peserta hendaknya memperhatikan seluruh aspek pencegahan ini dan mematuhinya. Salah satu upaya pencegahan tersebut adalah, hendaknya seluruh peserta beserta para panitia hendaknya selalu menggunakan masker pada saat duduk di Jalsah Gah, menjalankan tugas maupun berjalan-jalan di luar Gah. Demikian juga di tahun ini, pada saat kedatangan di pagi hari maupun kepulangan, pihak panitia telah mengatur untuk memberikan obat homeopathi yang menurut mereka merupakan yang terbaik untuk penyakit ini.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan daya penyembuh di dalamnya. Menganugerahkan daya penyembuh merupakan tugas Allah Ta’ala, namun kita juga hendaknya melakukan upaya-upaya lahiriah. Kaitannya dengan hal ini, saya ingin menghimbau segenap peserta Jalsah untuk bekerja sama dengan panitia.

Biasanya dalam khotbah seminggu sebelum pelaksanaan Jalsah, saya menarik perhatian para sukarelawan yang mengorbankan waktunya untuk mengkhidmati para tamu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pada beberapa hal berkenaan dengan Jalsah. Pada khotbah yang lalu saya tidak dapat menyampaikannya, oleh karena itu hari ini saya akan menyampaikan beberapa hal berkenaan dengan itu. Beberapa ada yang masih muda dan baru bertugas, dengan ini pada diri mereka akan timbul perhatian. Dalam tiga tahun terakhir ini juga banyak yang datang ke sini dari Pakistan, yang mana mereka belum berpengalaman dalam tugas-tugas Jalsah. Telah cukup lama di sana tidak dilaksanakan Jalsah. Dengan menarik perhatian mereka terhadap kewajiban-kewajibannya, mereka akan mengetahui cara pelaksanaannya. Demikian juga ini akan menjadi pengingat bagi para panitia lama.

Bagaimanapun, saya akan menyampaikan mengenai hal ini secara singkat dan selain itu, sebagai pengingat, saya juga akan menyampaikan beberapa hal kepada para tamu yang datang. Jika kita memperhatikan hal-hal tersebut, maka insya Allah kita akan meraih faedah dari suasana Jalsah yang hakiki.

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam (علیہ الصلوٰة والسلام) bersabda, “Jalsah ini bukanlah suatu pertemuan duniawi.”[1] Bahkan, kita berkumpul di sini untuk mendengarkan firman-firman Allah Ta’ala dan sabda-sabda Rasul-Nya, serta menyesuaikan diri kita dengannya. Ketika kita mengamalkan perkara-perkara yang disampaikan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tersebut, maka kita akan dapat memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak hamba dengan cara yang terbaik.

Bagaimanapun, sebagaimana telah saya sampaikan, pertama saya ingin menyampaikan beberapa hal kepada para panitia. Di awal saya telah menyampaikan berkenaan dengan pengunaan masker dan pemberian obat-obatan, hendaknya ini dipatuhi.

Dengan karunia Allah Ta’ala, para pemuda kita, anak-anak, para sesepuh dan wanita juga memiliki kesenangan dan pemahaman, “Kami harus mempersembahkan diri kami untuk mengkhidmati para tamu Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang datang ke Jalsah dan mengkhidmati mereka dengan cara yang terbaik.” Terlepas dari apa pun latar belakang profesi para pengkhidmat tersebut atau berasal dari keluarga seperti apa pun, baik kaya atau pun miskin, mereka semua datang dengan semangat itu.

Pekerjaan dalam Jalsah tidak hanya berlangsung selama tiga hari ini saja, bahkan telah dimulai sejak beberapa pekan sebelumnya dan sekarang MTA menayangkan dalam program-program beritanya dan dalam bentuk klip-klip yang memperlihatkan bagaimana pekerjaan itu berlangsung.

Beberapa pekerjaan memang dilakukan oleh perusahaan dan kontraktor luar, namun selain itu ada banyak pekerjaan lainnya yang membutuhkan tenaga kerja dan para sukarelawan mengorbankan waktu mereka dan mempersembahkan pengkhidmatan mereka untuk memenuhi kebutuhan ini, dan sebagaimana telah saya sampaikan, mereka berasal dari berbagai kalangan.

Orang-orang duniawi berusaha untuk mendapatkan para sukarelawan bagi pekerjaan mereka, namun sejarah Jemaat Ahmadiyah benar-benar menunjukkan contoh yang berkebalikan dari itu bahwa, begitu banyaknya sukarelawan yang datang, sehingga pihak manajemen mengalami kesulitan bagaimana untuk menangani mereka. Di antara tugas-tugas rutin Jalsah, terlebih dahulu telah dibuat perencanaan dan program, dilakukan upaya untuk menyediakan tenaga kerja pada masing-masing departemen sesuai dengan kebutuhannya, namun untuk pekerjaan wiqari amal yang dilakukan sebelum dan sesudah Jalsah, terkadang begitu banyak orang yang datang melebihi dari yang diharapkan karena diberikan himbauan secara umum.

Pada hari minggu yang lalu pun begitu banyak sukarelawan berkumpul di Hadiqatul Mahdi di luar harapan dari pihak manajemen dan saya mengetahui bahwa konsumsi yang baik tidak dapat disediakan untuk mereka, padahal manajemen melihat bahwa ada begitu banyak orang, semestinya mereka membuat pengaturan lebih awal. Ini adalah tugas mereka yang ada di bidang Dhiafat. Para sukarelawan ini berkumpul bukan di jam makan, bahkan mereka sudah bekerja atau berkumpul di sana sejak pagi.

Menurut saya, ketika di akhir khotbah yang lalu saya menghimbau untuk berdoa bagi pelaksanaan Jalsah dan bagi mereka yang bertugas sebagai panitia, maka segera dengan penuh semangat orang-orang lainnya juga mengajukan pengkhidmatan mereka. Namun, bagaimanapun juga, pihak manajemen hendaknya melakukan suatu pengaturan khusus untuk akhir pekan.

Terkait:   Riwayat Umar bin Khattab (Seri 11)

Bidang dhiafat harus mencatat hal ini untuk di masa yang akan datang. Demikian juga merupakan tugas dari bidang dhiafat untuk menyiapkan makanan dalam jumlah yang berlimpah pada hari-hari Jalsah. Karena Jalsah tahun ini perkiraannya tidak tepat, beberapa orang memiliki pertimbangan-pertimbangan antisipatif. Dikarenakan adanya wabah, mereka tidak tahu apakah orang-orang akan datang atau tidak. Adarasa takut, apakah mereka akan datang atau tidak. Sebagian berpemikiran bahwa setelah sekian lama Jalsah kembali dilaksanakan sehingga orang-orang pasti hadir. Namun secara umum, sejauh menyangkut masalah anggaran, para pengurus kita – khususnya bidang dhiafat – cenderung kepada perkiraan negatif. Bukannya menyiapkan makanan dalam jumlah yang lebih, mereka meyakini bahwa akan sedikit orang yang datang, sehingga menyiapkan lebih sedikit konsumsi. Ini adalah hal yang sangat keliru. Tanggung jawab dari dhiafat adalah menjamu sepenuhnya para tamu yang datang.

Demikian juga, berkenaan dengan konsumsi, saya ingin menyampaikan petunjuk bahwa sekarang cuaca sedang panas. Bidang dhiafat hendaknya, ketika memotong-motong daging, masukkanlah segera ke dalam freezer (pendingin) jangan dibiarkan tergeletak seharian dan menjadi busuk lalu menimbulkan penyakit. Demikian juga, bahan makanan yang lainnya pun harus dipastikan. Bagaimanapun, para sukarelawan yang datang tersebut, mereka datang untuk berkhidmat. Baik itu mereka mendapat makanan atau tidak, mereka pulang tanpa protes, namun dari sini terlihat kelemahan manajemen.

Saya juga ingin menyampaikan kepada para panitia, selama tiga hari ini khidmatilah para tamu Hadhrat Masih Mau’ud (as) dengan semangat berikut ini bahwa, di dalam hati mereka harus senantiasa ada kesadaran, “Kami tidak ingin menerima suatu upah apa pun dari atasan kami atau hadiah dari tamu untuk pengkhidmatan ini dan tidak juga kami akan mendapatkannya”, bahkan hendaknya mereka mengkhidmati para tamu demi ridha Allah Ta’ala dan mengedepankan suri teladan seorang Sahabat Nabi Muhammad (saw) beserta istrinya yang menidurkan anak-anak mereka dalam kondisi lapar dan mereka sendiri dalam keadaan lapar, serta memenuhi hak menjamu tamu.

Dengan memadamkan lampu, mereka menunjukkan kepada para tamu seolah-olah mereka pun ikut makan bersamanya dan Allah Ta’ala sangat senang dengan apa yang mereka lakukan, sehingga mengabarkan ini kepada Hadhrat Rasulullah (saw).

Keesokan harinya Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda kepada sahabat tersebut, “Allah Ta’ala tersenyum atas apa yang kalian upayakan tadi malam.” Maksudnya, upaya mereka untuk memberikan jamuan makan kepada tamu tersebut. Allah Ta’ala sangat senang akan hal ini dan tersenyum dan Dia pun menyebutkan orang-orang yang melakukan pengorbanan seperti ini di dalam Al-Qur’an. Ini adalah orang-orang yang berkorban dengan tanpa pamrih dan orang-orang seperti ini lah yang akan meraih kesuksesan. Alhasil, inilah cara para sahabat dalam mengkhidmati tamu. [2]

Betapa beruntungnya mereka yang demi ridha Allah Ta’ala berusaha untuk memenuhi hak pengkhidmatan kepada para tamu. Kemudian orang-orang yang datang atas seruan dari Sang Imam Zaman, yang datang untuk menyimak firman-firman Allah Ta’ala dan sabda-sabda Rasul-Nya (saw), yang datang dengan keinginan untuk meraih ridha Allah Ta’ala, mereka juga adalah tamu. Alhasil, sungguh beruntung para sukarelawan yang untuk menyenangkan Allah Ta’ala, mereka mengkhidmati para tamu yang datang demi agama.

Ketika orang-orang hadir dalam jumlah besar, maka terdapat beragam karakter orang. Sebagian berkarakter temperamental dan terkadang berkata kasar kepada para panitia atau menuntut sesuatu dengan kasar, namun merupakan tugas dari para panitia baik itu panitia laki-laki maupun lajnah, untuk tidak bersikap kasar kepada siapapun. Hendaknya jangan membalas perkataan kasar seseorang dengan kekasaran lagi, melainkan jawablah dengan tersenyum. Jika keperluan tersebut bisa dipenuhi, maka penuhilah, jika tidak mohonlah maaf dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, atau bawalah mereka kepada atasan anda yang bisa memberikan solusi atas permasalahan tamu. Terkadang tugas ini sangat sulit, namun tugas ini hendaknya dikerjakan untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Hendaknya kuasailah perasaan kita dan lidah kita.

Demikian juga, di antara para panitia pun hendaknya saling berbicara dengan lemah lembut. Para atasan dan pengawas juga hendaknya berbicara dengan lembut kepada para asistennya. Jika seseorang melakukan kesalahan, maka berikanlah pemahaman dengan kasih sayang.

Para atasan juga hendaknya menyadari bahwa para sukarelawan ini datang untuk mengkhdimati para tamu Hadhrat Masih Mau’ud (as) demi ridha Allah Ta’ala dan meskipun tidak terdidik untuk suatu bidang tertentu, dengan semangat pengkhidmatan, mereka melakukan pengkhidmatan dengan tanpa pamrih, maka untuk itu mereka harus dihormati.

Semoga Allah Ta’ala pun memberi taufik kepada kita semua untuk bekerja secara bersama-sama. Dan gejolak ini akan lahir tatkala para pengurus dan panitia yang membantunya memahami bahwa pengkhidmatan ini harus kami lakukan dengan semangat pengorbanan.

Terkait perilaku tamu yang salah pun, betapa Rasulullah (saw) telah memperlihatkan suatu derajat pengkhidmatan dan pengorbanan yang tinggi. Tentang hal ini di dalam satu riwayat tertera: Ada seorang tamu non muslim yang datang, lalu [Beliau] memberikan hidangan untuknya dan mempersiapkan tempat tidur untuk tidur malamnya. Disebabkan makan makanan yang berlebih atau ada sebab lainnya, di waktu malam ia lantas mengeluhkan sakit perut, atau mungkin ia sengaja melakukan hal demikian untuk menyusahkan beliau, lalu ia mengotori tempat tidurnya dan langsung pergi di pagi buta. Rasulullah (saw) tidaklah membalas perilaku buruknya itu; tetapi, beliau meminta diambilkan air dan mencuci sendiri tempat tidurnya itu. Para sahabat berkata, “Mengapa Hudhur sedemikian menyusahkan diri, sementara kami para khadim hadir di sini, sehingga biarkan kami mencucinya?” Beliau bersabda: “Ia adalah tamu saya, sehingga saya yang harus melakukannya.”[3]

Rasulullah (saw) bersabda: “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ia [harus] menghormati tamunya.”[4]

Maka dari itu, kita semua yaitu para sukarelawan, para panitia, jajaran pengurus Jalsah baik pria maupun wanita, semuanya berkewajiban bahwa para tamu yang datang dengan tujuan agama ini adalah tamu-tamu Hadhrat Masih Mau’ud (as). Seraya mengucapkan labbaik pada seruan Hadhrat Masih Mau’ud (as), kita pun akan melakukan pengurbanan demi mengkhidmati mereka. Kita pun akan setiap saat memperlihatkan semangat yang tinggi. Kita akan berkhidmat dengan wajah penuh kegembiraan tanpa sedikitpun rona keengganan. Inilah gejolak semangat yang dengan karunia Allah Ta’ala ada di segenap panitia yang bekerja. Saya berharap segenap panitia melakukan tugasnya dengan gejolak semangat ini.

Bagi seluruh jajaran pengurus [Jalsah] yang telah diangkat di berbagai bidang, mereka pun harus senantiasa ingat bahwa mereka tengah mendapat kesempatan untuk berkhidmat berkat karunia Allah Ta’ala. Hendaknya mereka menjalankan kewajiban-kewajiban mereka layaknya seorang pengkhidmat, bukan sebagai petinggi [menganggap diri pejabat atau lebih tinggi]. Tampakkanlah contoh ketinggian akhlak mereka, supaya yang ada di bawah mereka pun memperlihatkan ketinggian akhlaknya. Semoga Allah Ta’ala pun menganugerahkan taufik-Nya kepada semua.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) di banyak kesempatan telah memberi nasihat-nasihat terkait perlakuan baik kepada para tamu. Di satu kesempatan beliau (as) bersabda: “Lihatlah, telah banyak tamu yang datang. Diantara mereka ada yang Anda mengenalnya dan ada yang Anda tidak mengenalnya. Oleh karena itu, suatu hal yang seharusnya bahwa Anda selalu sadar untuk menganggap wajibul ikram (harus menghormati) terhadap semuanya sembari bersikap rendah hati.”[5]

Dengan demikian, hendaknya para panitia – khususnya mereka yang berhubungan langsung dengan para peserta – senantiasa mengedepankan asas ini. Khususnya bagi bagian penerimaan tamu, konsumsi, dan lainnya hendaknya dengan penuh kepatuhan mengamalkan ini.

Di tahun ini, karena pandemi wabah virus korona, kita harus sangat berhati-hati. Oleh karena itu hendaknya ada suatu pengaturan (dan menurut saya hal ini sudah diupayakan dengan adanya bagian khusus) yaitu agar di waktu makan jumlah peserta dibatasi dan tidak duduk dalam waktu lama serta segera keluar seusai makan. Para tamu pun hendaknya memperhatikan hal ini dan hendaknya membantu panitia dalam hal ini. Meskipun tidak mungkin [memakai masker] di saat makan, tetapi di kondisi umum sebagaimana telah saya sampaikan, hendaknya senantiasa mengenakan masker dan berbicaralah seminimal mungkin saat makan. Berusahalah makan dengan diam, dan segeralah beranjak dari sana. Janganlah memasukkan diri Anda dan juga panitia dalam kesulitan.

Saya telah menyampaikan beberapa hal-hal mendasar bagi para panitia dan juga menekankan mereka terkait pengkhidmatan tamu. Jika para tamu memahami dan patuh akan hal ini yang juga merupakan ajaran Islam untuk tidak memberi beban yang tidak perlu dan diluar kemampuan tuan rumah, maka suasana penuh kecintaan akan senantiasa tegak. Jika para tamu menaruh harapan yang tidak tepat dan di luar kemampuan tuan rumah, maka akan timbul berbagai permasalahan. Maka dari itu, hendaknya para tamu tidak menaruh harapan di luar kemampuan mereka.

Kemudian jika keadaan ini terwujud, tuan rumah pun akan menjadi dimudahkan, dan para tamu yang ada dibawah tanggung jawab panitia pun akan selalu ada dalam kemudahan. Alhasil, hal ini hendaklah senantiasa diingat.

Kepada mereka yang mengemban amanat kepengurusan di Jemaat dan juga menjadi panitia, saya menyampaikan ungkapan terima kasih bagi mereka karena mereka baik pria maupun wanita telah mempersembahkan diri mereka terlepas apapun jabatan mereka untuk mengkhidmati para tamu.

Terkadang makanan yang diberikan tidak sesuai dengan selera tamu, padahal setiap ahmadi mengetahui tradisi yang ada di Jemaat ini bahwa umumnya yang akan dihidangkan di waktu Jalsah adalah alu gost ‘kari kentang daging’ dan sup dal, sehingga mereka pun hendaknya menyantapnya meski mereka tidak mendapat makanan yang sesuai dengan selera mereka.

Rasulullah (saw) bersabda: “Hendaknya tamu menyantap apapun makanan yang dihidangkan oleh tuan rumah untuknya dengan senang hati.”[6]

Di beberapa tahun lalu, jika seorang tidak makan makanan langgar khana, atau ia tidak menginginkannya, maka ia dapat pergi ke Bazar yang telah disiapkan sementara selama waktu Jalsah ini supaya ia dapat makan apa saja yang tersedia disana. Untuk saat ini tidak tersedia Bazar seperti itu. Maka dari itu bagi mereka yang memiliki selera berbeda hendaknya menyantap apa yang tersedia dengan hati gembira demi mengharap keridhaan Allah Ta’ala. Tetapi saya sampaikan juga kepada bagian Diafat supaya mereka berupaya keras menghidangkan masakan yang baik. Meskipun jumlah mereka yang memiliki selera tadi hanya beberapa orang saja, namun terkadang beberapa orang itu dapat menjadi sumber kekhawatiran.

Terkait:   Peristiwa Pensyahidan Ali (ra) dan Pesan untuk Dunia di 2021

Memperlihatkan akhlak yang baik bukanlah hanya menjadi tugas para panitia, tetapi menjadi tugas semua yang hadir di Jalsah. Hadhrat Masih Mau’ud (as) pun bersabda kepada semua yang hadir di Jalsah agar memperlihatkan akhlak yang baik dan memperhatikan satu sama lain.[7]

Hendaknya setiap yang hadir mengedepankan hal ini bahwa mereka mengikuti Jalsah ini semata demi menghilangkan dahaga agama, ilmu, dan kerohaniannya. Dan untuk meraih hal ini, Hadhrat Masih Mau’ud (as) senantiasa mengedepankan hal bahwa Jalsah ini adalah murni pertemuan demi Allah Ta’ala sehingga hendaknya janganlah sama sekali hal-hal kecil menjadi benih kekisruhan dan kebencian.

Para panitia pun adalah manusia. Jika mereka melakukan kekeliruan maka hendaknya memaafkannya, dan ini merupakan cara yang sangat besar untuk perbaikan akhlak masing-masing. Memang benar bahwa terkadang timbul peristiwa dimana perkataan seseorang dapat memicu kemarahan di pihak lain. Hal ini terjadi baik di antara para tamu dan juga panitia. Tetapi akhlak yang luhur adalah hendaknya insan tidak menghiraukannya seraya beralih dari tempat itu dan tidak menambah kekisruhan itu. Terkadang keadaan ini muncul di kalangan pemuda.

Maka dari itu, hendaknya selalu diingat bahwa kita semua berkumpul di sini adalah untuk suatu tujuan yang sangat besar yaitu untuk menghilangkan dahaga kerohanian dan untuk menambah ilmu keagamaan kita. [Jalsah ini] bertujuan untuk mempelajari jalan pemenuhan Huququllahdan Huququl ‘ibad. Oleh karena itu, demi hal ini pun hendaknya kita sekurang-kurangnya harus mengorbankan keinginan kita dan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala melalui perantaraan doa. Tatkala gejolak ini timbul, dan segenap lidah tertuju pada dzikr Ilahi, dan mereka menjadi condong pada taubah dan istigfar, maka jika ada salah satu diantara mereka yang tertimpa ketidaknyamanan, ia akan lantas memaafkannya. Alhasil, hendaknya hal ini pun selalu diingat di dalam hari-hari ini bahwa kita telah meninggalkan rumah kita lalu menempuh safar demi Allah Ta’ala untuk datang di sini.

Rasulullah (saw) di satu kesempatan seraya mengajarkan doa dalam perjalanan bersabda: Berdoalah selalu, اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى “Ya Allah! Kami mengharapkan kebaikan dan takwa dari Engkau dalam perjalanan ini, berikanlah kami taufik untuk dapat mengamalkan kebaikan yang Engkau sukai.” [8]

Jadi, jika kita berdoa seperti itu, Allah Ta’ala akan mencurahkan keberkatan pada perjalanan kita dan juga keberadaan kita di sini.

Jadi berupayalah untuk mengisi hari-hari ini dengan doa dan dzikir Ilahi. Nabi Suci (saw) telah mengajarkan kita berdoa untuk setiap kesempatan. Sebagian orang telah meninggalkan rumah mereka dan datang untuk mencari berkah dari Jalsah ini. Mereka juga khawatir tentang keluarga mereka yang ditinggalkan.

Rasulullah (saw) bersabda, bacalah doa berikut, اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ “Ya Tuhan kami, aku berlindung kepada-Mu, dari kesulitan perjalanan, dari pemandangan yang buruk dan menggelisahkan, dari akibat buruk dalam urusan harta dan keluarga dan dari perubahan yang tidak disukai.”[9]

Ini adalah doa yang lengkap untuk menjaga diri tetap aman dalam segala hal selama perjalanan dan juga agar Allah Ta’ala tetap melindungi anggota keluarga. Jika setiap pria dan wanita berkeliling di area ini sembari merenungkan dan membasahi lisan dengan doa seperti itu, maka selain lingkungan akan menjadi tenang dan hati mendapatkan ketenangan, Allah Ta’ala pun akan melindungi mereka dari setiap kejadian buruk.

Saat ini ada kekhawatiran karena wabah virus korona, lebih banyak perhatian harus diberikan pada doa agar Allah melindungi orang-orang di sini dan juga mereka yang tinggal di rumah, semoga Allah melindungi mereka juga.

Jadi , selain doa doa umum, perbanyak juga shalawat secara khusus pada hari-hari ini, datanglah untuk salat pada waktunya, dan jangan sia siakan waktu untuk urusan duniawi.

Begitu juga para panitia yang tidak sedang bertugas juga harus berusaha untuk shalat berjamaah pada waktunya. Demikian pula, semua peserta harus berusaha untuk duduk di Jalsah gah dan mendengarkan pidato selama acara berlangsung.

Para penceramah telah bekerja keras untuk mempersiapkan pidato yang bermanfaat dari sisi pengetahuan dan ruhani, untuk itu jangan hanya melihat siapa yang menyampaikan pidato dengan baik atau siapa pembicara yang baik. Lihatlah apa esensi dari topik yang dibicarakan dan kebermanfaatnya. Biasanya pidato-pidato yang disampaikan tentang topik-topik yang sedang dibutuhkan saat ini dan jika disimak dengan seksama, banyak pertanyaan yang timbul di hati akan terjawab.

Alhasil, simaklah ceramah ceramah dengan penuh perhatian.

Jalsah kali ini tidak membuka bazar, seperti yang saya katakan, tetapi berbagai pameran yang diadakan, kunjungilah ketika masa masa istirahat dari program Jalsah, meskipun pamerannya dalam skala kecil. Kunjungi dan ambillah faidah darinya. Insya Allah, jika situasinya membaik, pameran pun akan diperbesar skalanya dan sistem lainnya juga akan mulai berjalan seperti itu.

Perlu diperhatikan bahwa saat ini tengah musim kemarau tidak ada hujan, sehingga saya berharap tidak mengalami kesulitan parkir seperti tahun lalu, insya Allah. Tahun lalu mengalami banyak kesulitan karena hujan, adapun tahun ini telah dibuat pengaturan yang lebih baik, pengaturan jalan jalan untuk lalu lintas mobil pun telah ditingkatkan dan pekerjaan drainase air yang ekstensif telah dilakukan bulan lalu dengan bantuan ahli untuk drainase air di jalan-jalan. Dengan cara mengalirkan air hujan yang turun, tampaknya cara ini juga akan sangat bermanfaat di masa depan, insya Allah. Namun, tahun ini, cuaca kering diprediksi akan terjadi selama hari-hari ini, tetapi dengan adanya lebih banyak mobil di tempat parkir, panitia pun terpaksa menghadapi beberapa kesulitan, tetapi jika orang-orang yang datang mengendarai mobil dapat kooperatif, maka semua ini dapat dengan mudah dikendalikan. Untuk itu para pengendara diharapkan dapat kooperatif dengan sabar denagn panitia agar tidak muncul permasalahan apapun.

Demikian pula yang saya katakan setiap tahun, para pengguna toilet dan kamar mandi, juga harus menjaga kebersihan dan tidak menyia-nyiakan air, terutama tahun ini. Karena curah hujan yang rendah, pemerintah juga menekankan untuk menghemat air. Gunakan air dengan hati-hati.

Demikian pula, rumput kering mudah terbakar di sini, jadi berhati-hatilah. Segala jenis kecerobohan dapat menimbulkan kesulitan. Dapat membahayakan diri sendiri atau tetangga.

Setiap orang juga harus berhati-hati dari sudut pandang keamanan. Tetap waspada dengan lingkungan. Jika Anda melihat tas atau sesuatu yang mencurigakan, segera laporkan ke panitia.

Para panitia yang melakukan scanning mintalah para tamu untuk membuka masker dan lihatlah wajah semua orang sambil memeriksa kartu. Apakah sesuai dengan gambar di kartu atau tidak?

Semoga Allah melindungi semua orang dari setiap kejahatan dan senantiasa menurunkan hujan keberkatan-Nya yang khas.

Kemudian saya sampaikan lagi bahwa selama hari-hari ini berikan perhatian khusus pada zikir Ilahi dan ibadah ibadah.

Banyak-banyak berdoa untuk kemajuan Jemaat dan terlindung dari kejahatan para penentang.

Berdoalah bagi para ahmadi menanggung penderitaan di penjara di jalan Allah. Semoga Allah menciptakan sarana agar mereka terbebas.

Doakanlah secara khusus dalam salat Jumat dan di hari-hari lainnya juga selain Jumat.

Terakhir, saya akan sampaikan rangkaian kalimat doa Hadhrat Masih Mau’ud (as) kaitannya dengan Jalsah. Beliau (as) bersabda, ’’ہریک صاحب جو اس للّہی جلسہ کے لئے سفر اختیار کریں ۔ خدا تعالیٰ اُن کے ساتھ ہو اور اُن کو اجرعظیم بخشے اور ان پر رحم کرے اور ان کی مشکلات اور اضطراب کے حالات اُن پر آسان کر دیوے اور اُن کے ہمّ و غم دور فرمادے۔ اور ان کی ہر یک تکلیف سے مخلصی عنایت کرے اور ان کی مُرادات کی راہیں اُن پر کھول دیوے اور روز آخرت میں اپنے اُن بندوں کے ساتھ اُن کو اٹھاوے جن پر اس کا فضل و رحم ہے اور تا اختتام سفر اُن کے بعد ان کا خلیفہ ہو۔ اے خدا اے ذوالمجد و العطاء اور رحیم اور مشکل کُشا،یہ تمام دعائیں قبول کر اور ہمیں ہمارے مخالفوں پر روشن نشانوں کے ساتھ غلبہ عطا فرما کہ ہر یک قوت اور طاقت تجھ ہی کو ہے۔ آمین ثم آمین‘‘۔  “Semoga Tuhan menyertai orang-orang yang menempuh perjalanan untuk hadir dalam Jalsah yang diselenggarakan demi Ilahi ini, menganugerahkan pahala melimpah kepada mereka, mengasihi mereka, memberikan kemudahan pada mereka dalam menghadapi situasi sulit dan mencemaskan, menjauhkan segala kesedihan dan kekhawatiran mereka, membebaskan mereka dari segala penderitaan, membuka jalan bagi mereka bagi terkabulnya segala maksud dan tujuan mereka, mengangkat mereka pada hari akhirat beserta para hamba yang mendapatkan karunia dan rahmat-Nya, dan semoga Dia (Tuhan) menjadi Khalifah mereka hingga akhir perjalanan mereka. Wahai Tuhan! Pemilik Kemuliaan dan Karunia, Maha Penyayang dan Dzat yang menjauhkan segala kesulitan, kabulkanlah semua doa ini dan berikan kami keunggulan diatas para penentang kami disertai dengan tanda-tanda terang karena setiap daya dan kekuatan adalah milik Engkau. Aamiin tsumma aamiin.”[10]

Semoga Allah Ta’ala menjadikan semua pria dan wanita yang hadir dalam Jalsah ini sebagai pewaris doa Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Terkait:   MEMENUHI HAK-HAK ORANG LAIN

Ada yang hadir di Jalsah ini dari luar negeri dengan niat untuk mengikuti Jalsah, namun setibanya di sini jatuh sakit atau ada yang ingin berpartisipasi dengan keinginan kuat tapi tidak bisa (karena sesuatu hal). Semoga Allah memberikan ganjaran atas niat mereka dan menjadikan mereka pewaris doa-doa ini.[11]

Khotbah II

الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا – مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ – عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ – أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُاللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


[1] Syahadatul Qur’aan, Ruhani Khazain jilid 6, halaman 395 (ماخوذ از شہادۃ القرآن، روحانی خزائن جلد 6 صفحہ 395).

[2] Shahih al-Bukhari, Kitab Manaqib al-Anshar (keutamaan orang Anshar), bab (بَابُ: {وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ}), 3798: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ إِلَى نِسَائِهِ فَقُلْنَ مَا مَعَنَا إِلَّا الْمَاءُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَضُمُّ أَوْ يُضِيفُ هَذَا فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَا فَانْطَلَقَ بِهِ إِلَى امْرَأَتِهِ فَقَالَ أَكْرِمِي ضَيْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ مَا عِنْدَنَا إِلَّا قُوتُ صِبْيَانِي فَقَالَ هَيِّئِي طَعَامَكِ وَأَصْبِحِي سِرَاجَكِ وَنَوِّمِي صِبْيَانَكِ إِذَا أَرَادُوا عَشَاءً فَهَيَّأَتْ طَعَامَهَا وَأَصْبَحَتْ سِرَاجَهَا وَنَوَّمَتْ صِبْيَانَهَا ثُمَّ قَامَتْ كَأَنَّهَا تُصْلِحُ سِرَاجَهَا فَأَطْفَأَتْهُ فَجَعَلَا يُرِيَانِهِ أَنَّهُمَا يَأْكُلَانِ فَبَاتَا طَاوِيَيْنِ فَلَمَّا أَصْبَحَ غَدَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ضَحِكَ اللَّهُ اللَّيْلَةَ أَوْ عَجِبَ مِنْ فَعَالِكُمَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ Dari Abu Hazim dari Abu Hurairah ra bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi saw lalu beliau (saw) datangi istri-istri beliau. Para istri beliau berkata; “Kami tidak punya apa-apa selain air”. Maka kemudian Rasulullah saw berkata kepada orang banyak: “Siapakah yang mau mengajak atau menjamu orang ini?”. Maka seorang laki-laki dari Anshar berkata; “Aku”. Sahabat Anshar itu pulang bersama laki-laki tadi menemui istrinya lalu berkata; “Muliakanlah tamu Rasulullah saw ini”. Istrinya berkata; “Kita tidak memiliki apa-apa kecuali sepotong roti untuk anakku”. Sahabat Anshar itu berkata; Suguhkanlah makanan kamu itu lalu matikanlah lampu dan tidurkanlah anakmu”. Ketika mereka hendak menikmati makan malam, maka istrinya menyuguhkan makanan itu lalu mematikan lampu dan menidurkan anaknya kemudian dia berdiri seakan hendak memperbaiki lampunya, lalu dimatikannya kembali. Suami-istri hanya menggerak-gerakkan mulutnya (seperti mengunyah sesuatu) seolah keduanya ikut menikmati hidangan. Kemudian keduanya tidur dalam keadaan lapar karena tidak makan malam. Ketika pagi harinya, pasangan suami istri itu menemui Rasulullah saw. Maka beliau berkata: “Malam ini Allah tertawa atau terkagum-kagum karena perbuatan kalian berdua”. Maka kemudian Allah menurunkan firman-Nya dalam QS al-Hasyr ayat 9 atau 10 bila dengan basmalah, وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ  artinya: (“Dan mereka lebih mengutamakan orang lain (Muhajirin) dari pada diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan apa yang mereka berikan itu, dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”).

[3] Malfuuzhaat jilid 3 pada halaman 370-371, edisi baru bersumber dari al-Hakam 17 Juli 1903 halaman 15-16 (ملفوظات جلد 3 صفحہ371-370 جدید ایڈیشن ـ الحکم 17؍ جولائی 1903ء صفحہ 16`15) sementara pada edisi 1984 berada di halaman 295 (ماخوذ از ملفوظات جلد 5صفحہ 295۔ایڈیشن1984ء). Matsnawi Maulwi Ma’nawi (ماخوذ از مثنوی مولوی معنوی دفتر پنجم صفحہ 20 تا 25).

[4] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Adab (صحیح البخاری، کتاب الأدب), bab siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir (باب مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ) nomor 6018. Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Adab (صحیح البخاری، کتاب الأدب), bab memuliakan tamu dan mengkhidmatinya, no. 6135.

Dari Abi Syarih al-Ka’bi bahwa Rasulullah (saw) bersabda, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، جَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ، وَالضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ، فَمَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهْوَ صَدَقَةٌ، وَلاَ يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ ‏”‏ “Siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya dan menjamunya siang dan malam, dan bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah baginya, tidak boleh bagi tamu tinggal (bermalam) hingga (ahli bait, tuan rumah) merasa keberatan.”

[5] Malfuuzhaat (ماخوذ از ملفوظات جلد 6 صفحہ 226).

[6] Musnad Ahmad ibnu Hanbal, Musnad Jabir bin ‘Abdillah (مسند أحمد ابن حنبل مسند جابر بن عبد الله رضي الله عنه حديث رقم 14759) atau pada terbitan ‘Alamul Kutub, Beirut, 1998 pada nomor 15048 (مسند احمد بن حنبل جلد 5 صفحہ 204 حدیث 15048 مطبوعہ عالم الکتب بیروت 1998ء): عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ ، قَالَ : دَخَلَ عَلَى جَابِرٍ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَدَّمَ إِلَيْهِمْ خُبْزًا وَخَلًّا ، فَقَالَ : كُلُوا ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : نِعْمَ الْإِدَامُ الْخَلُّ ، إِنَّهُ هَلَاكٌ بِالرَّجُلِ أَنْ يَدْخُلَ عَلَيْهِ النَّفَرُ مِنْ إِخْوَانِهِ ، فَيَحْتَقِرَ مَا فِي بَيْتِهِ أَنْ يُقَدِّمَهُ إِلَيْهِمْ ، وَهَلَاكٌ بِالْقَوْمِ أَنْ يَحْتَقِرُوا مَا قُدِّمَ إِلَيْهِمْ dari Abdullah bin ‘Ubaid bin ‘Umair berkata; ada beberapa orang sahabat Nabi yang mendatangi Jabir. Lalu dia menghidangkan kepada mereka roti dan cuka, lalu dia berkata, “Makanlah kalian, saya telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sebaik-baik lauk adalah cuka’. Sungguh seseorang akan celaka jika ada para sahabatnya yang menemuinya, kemudian ia mengejek makanan yang dianggapnya tidak berharga untuk disuguhkan tamunya, Demikian pula seseorang akan celaka jika mengejek makanan yang disuguhkan tuan rumah kepada mereka.” https://pesantrenmaqi.net/hadits/etika-menghormati-tamu-2/

[7] Syahadatul Qur’aan, Ruhani Khazain jilid 6, halaman 394 (ماخوذ از شہادۃ القرآن، روحانی خزائن جلد 6 صفحہ 394).

[8] Shahih Muslim (صحیح مسلم), Kitab al-Hajj (كتاب الحج), (بَابُ اسْتِحُبَابِ الذِّكْرِ إِذَا رَكِبَ دَابَّتَهُ مُتَوَجِّهَا لَسَفَرِ حَجُّ أَوْ غَرْرِهِ وَبَيَانِ الْأَفْضَلِ مِنْ ذٰلِكَ الذِّكْرِ), 3275 atau bab doa saat di kendaraan dalam perjalanan Haji atau yang lainnya (باب مَا يَقُولُ إِذَا رَكِبَ إِلَى سَفَرٍ الْحَجِّ وَغَيْرِهِ ‏‏); Jami` at-Tirmidhi 3447, Kitab tentang doa-doa (كتاب الدعوات عن رسول الله صلى الله عليه وسلم), bab saat menunggangi kendaraan unta (باب مَا يَقُولُ إِذَا رَكِبَ النَّاقَةَ): عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا سَافَرَ فَرَكِبَ رَاحِلَتَهُ كَبَّرَ ثَلاَثًا وَيَقُولُ ‏:‏ ‏(‏ سبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ * وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ ‏)‏ ثُمَّ يَقُولُ . [Ibnu Umar], telah mengajarkan kepada mereka, bahwasanya; Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berada di atas kendaraan hendak bepergian, maka terlebih dahulu beliau bertakbir sebanyak tiga kali (Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar). Kemudian beliau membaca ayat al-Qur’an sebagai berikut: Subḥān alladzī sakh-khara lanā hādzā wa mā kunnā lahū muqrinīn. Wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn ‘Mahasuci Tuhan Yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, sedang sebelumnya kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hari Kiamat)’ (QS. Az-Zukhruf: 13-14), lalu berdoa, ‏”‏ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِي سَفَرِي هَذَا مِنَ الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا الْمَسِيرَ وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَ الأَرْضِ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الأَهْلِ اللَّهُمَّ اصْحَبْنَا فِي سَفَرِنَا وَاخْلُفْنَا فِي أَهْلِنَا ‏”‏  Allāhumma innī as’aluka fī safarī hādzā minal-birri wat-taqwā, wa minal-`amali mā tarḍā. Allāhumma hawwin `alainal-masīra, waṭwi `annā bu`dal-arḍ. Allāhumma antaṣ-ṣāḥibu fis safari wal-khalīfatu fil-ahli. Allāhumma aṣḥabnā fī safarinā wakhlufnā fī ahlinā. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam bepergian ini, kami mohon perbuatan yang meridhakan-Mu. Ya Allah, mudahkanlah pcrjalanan kami ini, dan dekatkan jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah teman dalam bepergian dan yang mengurusi keluarga(ku). Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dan kesulitan dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan keburukan ketika kembali dalam harta dan keluarga.’ وَكَانَ يَقُولُ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ ‏”‏ آيِبُونُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ ‏”‏ Dan ketika pulang, semua itu dibaca dengan tambahan: ‘Kami semua kembali, kami semua bertaubat, kami semua beribadah. Kepada Rabb kami, kami memuji.”

[9] Shahih Muslim (صحیح مسلم), Kitab al-Hajj (كتاب الحج), (بَابُ اسْتِحُبَابِ الذِّكْرِ إِذَا رَكِبَ دَابَّتَهُ مُتَوَجِّهَا لَسَفَرِ حَجُّ أَوْ غَرْرِهِ وَبَيَانِ الْأَفْضَلِ مِنْ ذٰلِكَ الذِّكْرِ), 3275 atau bab doa saat di kendaraan dalam perjalanan Haji atau yang lainnya (باب مَا يَقُولُ إِذَا رَكِبَ إِلَى سَفَرٍ الْحَجِّ وَغَيْرِهِ ‏‏); Jami` at-Tirmidhi 3447, Kitab tentang doa-doa (كتاب الدعوات عن رسول الله صلى الله عليه وسلم), bab saat menunggangi kendaraan unta (باب مَا يَقُولُ إِذَا رَكِبَ النَّاقَةَ).

[10] Majmu’ah Isytihaaraat – kumpulan selebaran, jilid 1, halaman 342, isytihar – selebaran – 7 Desember tahun 1892 (اشتہار ۷؍ دسمبر ۱۸۹۲ ء۔ مجموعہ اشتہارات جلداول۔ صفحہ ۳۴۲) (۷دسمبر ۱۸۹۲ء), (یہ اشتہار ۸/۲۰*۲۶ کے دو صفحوں پر ہے مطبوعہ ریاض ہند پریس قادیان).

[11] Sumber referensi: al-Fadhl International https://www.alfazl.com/2022/08/20/53096/; https://www.alislam.org/urdu/khutba/2022-08-05/ (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Inggris dan Urdu) dan www.Islamahmadiyya.net (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Arab). Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli Umar Faruq. Editor: Dildaar Ahmad Dartono.

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.