https://ahmadiyah.id/wp-content/uploads/2021/05/services-head-1.png

Khotbah Idul Fitri 2021

Bahan Khotbah Idul Fitri 2021

khotbah idul fitri 2021 masroor ahmad

Khotbah yang disampaikan Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 24 Mei 2020 di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

Table Of Contents

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Sekali waktu Hadhrat Mushlih Mau‘ūd (ra) menjelaskan sehubungan dengan Id bahwa orang-orang yang merayakan Id itu bermacam-macam dan sesuai dengan kelompok-kelompok orang-orang yang merayakannya, Id itu memiliki jenis-jenisnya juga. Sebagaimana Hadhrat Mushlih Mau‘ūd (ra) menerangkan: Siapakah mereka yang Idnya merupakan Id yang dikabulkan, maksudnya apakah Id hakiki itu? Penjelasan ini akan membantu kita memahami hikmah sempurna dan falsafah mendalam yang terkandung di dalam Id sebagaimana beliau (ra) arahkan perhatian kita akan perbaikan diri kita dan terhadap perayaan Id hakiki.

Dengan mengambil faedah dari topik yang telah diterangkan oleh Hadhrat Mushlih Mau‘ūd (ra) ini, hari ini saya akan bahas tentang Id di hadapan Anda sekalian.

Sesungguhnya kehidupan manusia itu merupakan kumpulan dari segala kebiasaan dan semua ungkapan perasaan, maksudnya kebanyakan dari hal-hal yang terdapat di dalam kehidupan manusia, itu merupakan ekspresi dua hal ini, terutama mengenai apa-apa yang berkenaan dengan kehidupan sosial dan agama.

Kebanyakan dari adat istiadat dan tradisi masyarakat serta perbuatan manusia itu pada batas maksimum mengikuti pengaruh perasaan dan kebiasaan. Hal yang sama terdapat pula dalam perkara yang berkaitan dengan Id, oleh karenanya kebanyakan dari manusia merayakan Id tanpa memahami hakikat dan ruh yang ada dalam Id tersebut, bahkan mereka merayakannya hanya sebatas kebiasaan. Mereka telah mendapati nenak moyangnya dan orang-orang sekililingnya merayakan Id, maka mereka juga merayakannya, juga dikarenakan mereka adalah orang-orang Muslim dan karena Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan untuk merayakannya.

Orang-orang mengulang-ulangi kata-kata bernuansa keagamaan dan melafalkan itu sebagai kebiasaan karena pengaruh lingkungan dan karena seringnya mendengar itu tanpa memahami apa yang mereka ucapkan, tanpa mengerti makna-makna dari kata-kata yang mereka ulang-ulangi itu, tanpa memahami hikmah amalan-amalan yang mereka kerjakan. Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian baru yang indah mereka merasa cukup sebatas sampai ke tempat orang-orang merayakan Id. Adapun sekarang, dalam hal ini ada pembatasan, dimana setelah mandi dan mengenakan pakaian baru mereka merayakan Id di rumah. [1]

Di beberapa negara dan daerah ada kebolehan dan toleransi shalat Id di masjid-masjid pada lingkup terbatas seiring dengan menetapi syarat-syarat [protokol kesehatan menghadapi covid 19]. Di sana mereka merayakan dan menyambut Id. Apa pun keadaannya, orang-orang tidak merenungkan maksud, hakikat dan faedah-faedah dari Id, dan apakah Id yang tengah mereka rayakan hari ini sudah menjadi Id yang diterima di sisi Allah ataukah tidak?

Id Hakiki

Ketahuilah, Id adalah nama untuk kebahagiaan dan tiadalah seseorang itu merasa bahagia melainkan apabila ia memperoleh suatu keberhasilan. Apabila ia mengalami kegagalan, ia akan menangis karena seseorang yang berakal tidak akan merasa senang ketika mengalami kegagalan. Karena itulah, kita harus memerhatikan Id dari sudut pandang ini.

Kenyataannya, seseorang dari antara kita ketika tengah merayakan Id, pada hakikatnya ia tengah mengklaim meraih keberhasilan. Dalam hal ini, selama ada pengakuan keberhasilan, setiap orang dari antara kita harus memikirkan apakah ia benar-benar meraih keberhasilan, apakah dengan keberhasilan ini ia berhak merayakan Id?

Tidakkah apa yang diklaim itu untuk direnungkan bahwa kita menetapkan satu hari untuk Id, mengenakan pakaian yang bagus, mengonsumsi makanan dan minuman yang lezat, kita bergembira, bersukaria, bersenda-tawa, makan minum dan sudah tentu, sedikit maupun banyak mengeluarkan uang untuk itu, dimana semua ini akan menjadi percuma. Maka Id yang mana kita hanya menghabiskan pengeluaran untuk itu, tidak memberikan “sesuatu” pada kita, atau memberikan suatu kebahagiaan sekalipun sifatnya sementara, maka itu sebenarnya tidak bisa dikatakan sebuah Id.

Id itu adalah apa-apa yang memberikan “sesuatu” pada kita dan itu adalah Id yang bersifat batin, internal, dan dari sisi kalbu. Id itu adalah yang memberi minum ruh-ruh kita yang tengah haus dan memberikan kita “sesuatu”.

Sesungguhnya kekayaan terbesar yang dimiliki oleh seorang Muslim adalah keberhasilan meraih keridhaan Allah Ta’ala dan perkara itu seharusnya demikian adanya. Inilah Id hakiki, karena ungkapan keberhasilan kita akan menjadi catatan dan ulasan dalam Id seperti ini.

Allah Ta’ala menjadikan Id ini setelah kita berpuasa supaya membuat kita bergembira bahwa puasa kita telah dikabul. Karena itu, kita harus memeriksa apakah puasa kita benar-benar telah diterima ataukah tidak? Apakah Allah Ta’ala telah memberikan kita taufik untuk beribadah kepada-Nya ataukah tidak? Apakah ibadah-ibadah kita benar-benar meraih pengabulan karena boleh jadi ibadah yang kita jalankan itu tetap tidak dikabulkan ketika sebagian besar ibadah-ibadah yang kita lakukan tidak meraih pengabulan.

Ada seseorang telah melakukan shalat dengan cepat-cepat di hadapan Nabi (saw), dan tatkala telah selesai dari shalatnya, Nabi (saw) berkata kepadanya: “Shalatlah sekali lagi, karena sesungguhnya shalatmu tidak dikabul.” Maka shalatlah ia dengan cepat sekali lagi, maka Nabi (saw) mengatakan lagi kepadanya: “Kamu harus mengulangi lagi shalat karena shalatmu tidak diterima!” maka shalatlah ia untuk yang ketiga kalinya, maka Nabi (saw) untuk yang ketiga kali menyuruhnya kembali. Laki-laki itu berkata: “Beritahukanlah pada saya, bagaimana saya shalat, Ya Rasulullah?” maka Nabi (saw) bersabda: “Engkau harus shalat dengan tenang dan khusyuk.” Inilah shalat yang sebenarnya dan demikianlah seharusnya kita melakukan shalat.

Demikianlah, Allah Ta’ala berfirman, “Mereka yang tidak menunaikan huqūqul-ibād, shalat-shalat mereka tidak diterima.” Sebagaimana shalat-shalatnya sebagian orang yang melakukan shalat tidak meraih pengabulan, demikian pula puasa sebagian orang yang berpuasa tidak diterima juga. Karena itulah Allah Ta’ala memerintahkan menunaikan huqūqul-ibād terutama pada bulan Ramadhan, di samping menunaikan huqūqullāhi Ta‘ālā’. Jika kita tidak menunaikannya, maka bagaimana bisa puasa kita diterima?

Sebagian orang yang diberikan keringanan dari berpuasa karena sakit atau berbagai uzur lainnya, sebenarnya mereka adalah orang-orang yang terpaksa tidak berpuasa dan telah diberikan rukhsah berdasarkan perintah Allah Ta’ala. Namun, kalau saja mereka melaksanakan fardhu-fardhu dan nafal-nafal lainnya selain puasa, maka Allah Ta’ala sekali-kali tidak akan membuat mereka luput dari ganjaran puasa sekalipun mereka tidak berpuasa. Orang-orang ini juga merayakan Id disertai dengan rasa takut pada Allah, dan Allah Ta’ala melihat kalbu mereka, mencatatkan dalam catatan amalan mereka kebahagiaan Id hakiki.

Dalam hal ini ada sebagian orang yang tidak berpuasa padahal ada kekuatan dan kemampuan melakukan itu, namun mereka turut serta dalam berbuka puasa dengan perhatian khusus seakan-akan mereka mempresentasikan kelemahan-lunglaian yang merupakan dampak berpuasa. Apabila mereka ditanya [mereka mengatakan]: “Kami tidak berpuasa karena alasan ini dan itu, dan kami tidak mungkin melaksanakan shalat sebagaimana harusnya dikarenakan benar-benar harus melakukan pekerjaan-pekerjaan atau bisnis dan kami tidak bisa bangun untuk melakukan ibadah-ibadah nafal karena dikuasai rasa kantuk yang berat, kami tidak melakukan amalan-amalan ini dan itu juga, dan jika kami tidak makan buka puasa juga, maka kami benar-benar menjadi kafir, …. “

Gambaran ini benar adanya. Dalam kaitan topik ini, orang-orang telah memformulasi banyak lelucon atau canda-candaan[2], dan itu populer pada media-media informasi atau media sosial di saat ini bahkan sudah ada di masa sebelumnya. Orang-orang semacam ini yang saya sebutkan tadi ada juga. Kisah-kisah semacam ini, bukan anekdot semata, bahkan pasti ada pula orang-orang semacam ini lalu mereka menghadiri Id sebelum yang lainnya datang seakan-akan mereka orang yang paling mengerti dan sangat memahami perayaan Id. Namun, Allah Ta’ala tidak mungkin akan terpedaya dengan tipu daya semacam ini serta tidak mungkin pula diri kita akan mendapatkan faedah dari hal itu.

JENIS-JENIS ID

Seharusnya kita bertanya pada diri kita, jenis apakah Id kita? Id-id itu biasanya ada tiga macam.

Jenis Id Pertama: Id Untuk Meraih Ridha Allah

Pertama: Id seseorang yang mengupayakan dengan kesungguhan supaya sampai pada Allah Ta’ala dan beribadah kepada-Nya disertai ketulusan serta berbakti pada sesama demi meraih ridha Allah Ta’ala, menjalin hubungan baik dengan Allah dan hamba-hamba Allah dengan kebersihan kalbu, menetapi shalat demi Allah Ta’ala saja.

(sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud (as) menasihatkan pada kita mengenai itu dalam Filsafat Ajaran Islam dan bersabda: “Sesungguhnya ibadah-ibadah itu harusnya demi meraih keridhaan Allah Ta’ala bukan demi kepentingan pribadi dan bukan pula untuk pamer….”)

Berpuasa demi Allah Ta’ala, bukan untuk dilihat oleh yang lain..”(perlu diketahui bahwa Allah Ta’ala sendiri yang merupakan ganjaran untuk puasanya seseorang yang berpuasa semata-mata demi ridha Allah dan [Allah Ta’ala merupakan ganjaran puasa] itu tidak merupakan ganjaran untuk setiap puasa, maka orang yang merasa senang bahwa ia telah mendapatkan pujian dari orang-orang atas puasanya, maka puasanya hanya demi orang-orang) dan ia berdzikr kepada Allah menyebutkan demi wajah mulia-Nya Ta’ala semata dan bukan supaya orang-orang mengatakan bahwa kedua bibirnya selalu begerak demi zikir pada Allah, bersedekah dan berinfak pada orang-orang demi meraih ridha Allah ‘Azza wa Jalla dan bukan supaya kebaikan mereka itu diungkit-ungkit pada mereka.

Ia menunaikan Ibadah haji bukan untuk meraih sanjungan padanya dari pihak orang-orang atau demi melancong dan senang-senang saja, justru demi Allah Ta’ala ridha padanya. Ia melakukan penyampaian da‘wat ilallāh bukan supaya orang-orang mengatakan bahwa ia seorang da’I atau mubalig besar. Ia menyampaikan dakwah (tabligh) dengan baik maksudnya bukan untuk meraih reputasi bagus dan ketenaran saja, melainkan ia melakukan itu sebagai pengamalan perintah Allah, baik itu orang-orang memujinya atau tidak menyukainya.

Orang yang melakukan semua itu, ia akan sampai pada Allah Ta’ala dan demikian juga Allah Ta’ala tengah mendapatkan seorang hamba-Nya yang hilang ini dan berakhirlah perpisahan dan usailah berjauhan, terpenuhilah perkumpulan yang menyatukan dua pihak setelah berpisah dan sang pecinta duduk di tempat duduk pujaannya. Seseorang yang termasuk dari antara orang-orang ini, ia mendapatkan bagian di hari ini dan secara terus-menerus akan selalu meraihnya juga di masa yang akan datang.

Mereka termasuk orang-orang yang merayakan Id ini dan meraih qurb Allah Ta’ala sekalipun secara lahiriah wajah mereka nampak sayu dan kesehatan mereka tidak seperti yang diharapkan. Mereka menghadapi kefakiran dan kondisi mereka dari sisi duniawi sangat buruk dan orang yang melihat mereka tidak akan mengira mereka tengah merayakan Id atau merupakan orang-orang yang telah merayakan Id.

Orang yang mengenakan pakaian yang bagus, makan makanan yang lezat dan memakai baju-baju istimewa, terkadang ia mengatakan sehubungan dengan mereka, “Tidak ada Id sama sekali bagi mereka yang menderita kemiskinan”, walaupun mereka itulah orang-orang yang meraih Id hakiki. Dengan demikian, ketika orang-orang duniawi menganggap kemakmuran dan makanan-makanan lezat sebagai Id hakiki dan mereka merasa nikmat dengan itu, Allah Ta’ala dari sisi-Nya tengah memberi makan pada mereka yang tampak dalam pandangan orang-orang yang lain sebagai orang-orang fakir, miskin dan tidak mampu.

Seorang duniawi terkadang mengatakan, “Sesungguhnya Allah tengah memberi makanan yang biasa-biasa saja pada mereka, maka apakah semua ini ada dalam Qudrat Allah?” Tapi ini tiada lain melainkan hanya perbedaan cara berpikir. Ketika orang fakir itu berpandangan bahwa apa pun makanan sederhana yang didapatinya merupakan suatu karunia Allah Ta’ala dan  apa yang dimakannya hari ini demi mengisi perutnya, maka semua itu merupakan karunia Allah Ta’ala juga, dan selanjutnya ia akan bersyukur pada Allah Ta’ala dan dengan cara demikian ia akan merasa lebih dekat lagi dengan Allah. Kefakirannya, kemiskinannya dan syukurnya pada Allah Ta’ala akan mengangkatnya pada suatu derajat yang mana sampai pada derajat demikian seharusnya menjadi tujuan dari Id semua orang.

Para pemuja duniawi tengah tenggelam dan terbenam dalam sarana-sarana kenyamanan dan kemakmuran lahiriah kesenangan-kesenangan duniawi. Mereka memenuhi sarana-sarana kebahagiaan yang sementara bagi dirinya lalu mereka kembali lagi pada kesibukan-kesibukan dunia, merisaukan dunia dan mencemaskannya. Adapun orang miskin yang disebutkan tadi, dialah yang meraih perjumpaan dengan Allah Ta’ala dalam corak yang sebenarnya, selanjutnya ia menyempurnakan sarana-sarana Id yang secara berkesinambungan yang dengan demikian Dia berikan orang itu taufik untuk menikmati Id hakiki di akhirat juga.

Tapi, bukan suatu keharusan Id hakiki seperti ini hanya diperoleh bagi orang-orang fakir dan miskin ini saja. Melainkan, [Id hakiki ini juga bagi] orang-orang yang telah meraih ridha Allah Ta’ala dari antara muqarrabun ilallāh (yang dekat dengan-Nya) dan yang juga telah diberikan nikmat pada mereka berupa nikmat-nikmat duniawi. Mereka memiliki pakaian-pakaian bagus juga. Mereka menikmati makanan-makanan lezat juga. Mereka yang berminyak wangi sesuai sunnah Nabi dan dengan minyak-minyak wangi yang berkualitas tinggi, dengan keindahan yang tampak dan dengan perhiasan yang tampil, pun dalam hal internal batiniahnya mereka meraih qurb (kedekatan) Allah Ta’ala. Mereka itu, di samping meraih kelimpahan nikmat-nikmat yang diberikan Allah Ta’ala, mereka juga menunaikan huqūqul ‘ibād-nya untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala.

Dalam hal ini ada hikmah-hikmah Allah Ta’ala yang tersembunyi yang menjadi motif menetapkan bagaimana memberikan nikmat pada manusia dan dengan beragam cara Dia menganugerahkan qurb-Nya. Allah Ta’ala menyeru seorang hamba-Nya kepada-Nya dengan melewati jalan yang penuh dengan duri-duri. Terkadang Dia memberikan karunia untuk hamba-Nya berupa kedudukan dan langkah di sisi-Nya setelah melintas dari jalan yang bertaburkan bunga-bunga juga.

Seorang bodoh adalah dia yang mengatakan bahwa dia mendatangi Tuhannya melewati duri-duri, ia saja yang akan sampai pada-Nya dan dikabulkan-Nya, sebagaimana jahil juga orang yang mengatakan dia melewati jalan bertaburkan bunga-bunga, ia saja yang diterima di hadirat Allah Ta’ala. Justru seharusnya kita merenungkan, sebagaimana Allah Ta’ala merupakan sifat-sifat yang beragam, demikian pula dalam hal ini ada cara yang beragam untuk sampai pada Allah Ta’ala.

Sebagian orang yang tidak memahami hal ini berkeberatan atas ‘ibādallāh Ta‘ālā’ (hamba-hamba Allah Ta’ala] tersebut. [Contoh keberatan ini disampaikan] Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda bahwa Hadhrat Khalifatul Masih Awwal (ra) menyampaikan: “Suatu hari saya lewat dekat sebuah rumah yang menempel dengan masjid lama Masjidil Aqsha di Qadian. Rumah itu yang dikenal oleh orang-orang Qadian – atau oleh orang-orang yang berkunjung ke Qadian – itu disebut rumah Pejabat yang sekarang menyatu dengan Masjid Aqsha, karena telah dibeli dan di dalamnya didirikan kantor-kantor Jemaat pada masa Khalifatul Masih II (ra) … yakni Jemaat telah membeli dan membangun beberapa kantor-kantor di dalamnya. Namun sekarang mengalami perubahan, saya melihat tempat itu sekarang di dalamnya telah menciptakan tambahan baru pada masjid. Walau bagaimana juga, pemilik rumah ini adalah seorang Hindu dan telah bekerja sebagai seorang jaksa di pengadilan, orang ini mengatakan pada Hadhrat Khalifatul Masih Awwal (ra), ‘Saya ingin mengajukan suatu pertanyaan pada Anda, jika hal itu tidak akan membuat Anda terganggu.’

Hudhur (ra) berkata, ‘Sama sekali tidak!, justru sampaikanlah pertanyaan yang Anda mau tanyakan!’

Dia mengatakan, ‘Saya dengar bahwa Tuan Mirza selalu makan Pulao [Nasi dipadu dengan daging] dan pulao itu mengunakan minyak badam.’

Hudhur (ra) berkata, ‘Ya benar beliau memakannya, dan keduanya adalah termasuk makanan yang baik menurut kami, tidak ada pantangan memakannya dan memakannya adalah jaiz.’

Maka ia terdiam dan tanda-tanda menyayangkan nampak pada raut mukanya, ‘Apakah itu boleh untuk para wali Allah juga?’

Hudhur (ra) menjawab, ‘Ya, boleh untuk para wali Allah Ta’ala juga.’ Maka ia terdiam meskipun dari wajahnya terpancar bahwa ia tidak senang akan jawaban ini, karena menurut anggapannya hal yang menunjukkan kesalehan adalah berpantangan dari makanan-makanan yang lezat.”

Selanjutnya, ada beberapa orang di dunia ini mengira tanda-tanda orang-orang yang sampai pada Allah Ta’ala akan menjadi orang-orang yang berpantang dari duniawi, sepanjang pangkal dari pandangan tersebut adalah mereka menjadi orang-orang yang ridha dengan sepenuh keridhaan terhadap keridhaan Allah Ta’ala, mereka akan makan ketika Allah Ta’ala memberi makan pada mereka berupa makanan-makanan yang baik dan mengenakan pakaian ketika Allah Ta’ala memakaikan pakaian yang bagus pada mereka dan jika Allah Ta’ala menghendaki menganugerahkan qurb-Nya dengan cara menjalani kefakiran dan kemiskinan, maka mereka harus berhasil meraih keberhasilan dalam ujian ini.

Sesungguhnya, dalil atas kecintaan Allah Ta’ala bukan hanya memakan makanan yang baik saja dan tidak menanggung rasa lapar, kepapaan (kemiskinan) pun dapat sebagai tanda kedekatan dengan Allah Ta’ala. Semua sisi ini dapat kita perhatikan dalam peri kehidupan Nabi (saw). Kita melihat pada diri beliau ((saw)) contoh-contoh kefakiran itu juga, memakan makan-makanan biasa dan makanan yang lezat juga. Kedekatan dengan Allah Ta’ala yang diraih oleh Nabi (saw), sekali-kali tidak akan dapat diraih oleh seorang pun, sesungguhnya karakteristik dan teladan beliau (saw) terdapat di hadapan kita.

Ringkasnya, apabila beliau (saw) memakan makanan yang biasa-biasa saja atau melewati kefakiran adalah suatu keharusan untuk menciptakan jalinan dengan Allah Ta’ala, tidakkah di dunia terdapat ratusan ribu orang-orang yang menderita kefakiran, meskipun mereka tidak memiliki hubungan dengan Allah Ta’ala?

Orang yang menikmati makanan [menjadi kaya-raya atau makmur] atau menanggung rasa lapar [mengalami kemiskinan] bukan menjadi bukti bahwa orang itu tidak memiliki ikatan dengan Allah Ta’ala, melainkan perlakuan Allah terhadapnya-lah yang membuktikan hubungan ini. Hal inilah yang harus kita renungkan. Oleh karena itu, kecintaan Allah tidak diraih melalui kekayaan dan tidak pula dengan kefakiran. Sebab, dengan kemakmuran pun bisa mengakibatkan munculnya banyak Firaun. Kefakiran (kemiskinan yang sangat) juga bisa membuat banyak orang menjadi orang-orang kafir yang karena itulah Nabi (saw) pernah bersabda: كَادَ الْفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا ‘Kaadal Faqru ay yakuuna kufran’ – “Hampir-hampir saja kefakiran itu menjadi kekafiran.” Maka dari itu, jalan yang benar adalah apa-apa yang diridhai oleh Allah. Apabila Allah Ta’ala ingin menganugerahkan kedekatan-Nya pada seseorang dengan rasa lapar, maka menanggung rasa lapar itulah kebaikan hakiki, dan apabila Allah Ta’ala hendak memberinya makan, maka makan itulah yang menghasilkan keridhaan Allah. Oleh karena itu, mereka yang ingin meraih kedekatan dan kecintaan Allah atau betul-betul ingin meraih itu, mereka menjalani hidup di dunia ini juga dan menjelajahi dunia dalam urusan lahiriah, namun hati mereka mereka berkali-kali datang di hadapan Allah dan merekalah yang Idnya itu dianggap Id hakiki.

Jenis Kedua: Id Orang-orang untuk Kenikmatan Duniawi Semata

Id jenis kedua adalah dari antara orang-orang yang hanya menikmati makanan-makanan yang lezat sekemampuan mereka, juga mengenakan pakaian-pakaian yang baik, juga mereka yang memakai minyak wangi dan berparfum, juga mereka yang saling bertukar hadiah-hadiah Id dan mereka merasa senang telah meraih Id secara lahiriah. Tiada lain melainkan bahwa Id itu jauh dari mereka seperti jauhnya jarak timur dan barat. Seiring dengan itu mereka bergembira dan mereka berpartisifasi dalam kegembiraan Id.

Kemudian Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) mengemukakan sebuah perumpamaan kegembiraan mereka itu seperti halnya seorang anak kecil tampak padanya seekor ular, ketika ia melihat kedua mata ular berkilau, karena ketidaktahuannya ia mengiranya sebagai sebuah mainan, maka karena rasa suka dan takjub ia memegangnya. [perlu diperhatikan bahwa ular itu, jika ia tidak bergerak-gerak, terkadang anak-anak akan memegangnya] – ia mengira berhasil mendapatkan barang bagus, meskipun ketika ia dimabuk kesenangan dan rasa senang serta kegembiraannya itu tidak berbatas oleh adanya racun ular yang tengah menjalari tubuhnya dan tengah mengantarkannya ke alam lain dalam tempo waktu satu menit.

Ia tidak mengetahui semua kesenangannya akan mengalami pergeseran beberapa saat kemudian. Seluruh kegembiraannya akan musnah dan kehidupannya mengalami kerugian. Inilah perumpamaan orang yang tengah berbahagia dan terkadang – karena kejahilannya – kebahagiaannya lebih besar ketimbang para muqarrab ilallāh yang mendapatkan keridhaan Allah, tapi rasa gembira ini adalah kegembiraan ketidaktahuan dan ketidaksadaran karena anggapannya ia tengah merayakan Id tapi itu mengabarkan kematian dan berita menyedihkan.

Mereka yang melupakan Allah, melupakan huqūqullāh [kewajiban-kewajiban terhadap Allah] dan huqūqu makhlūqillāh [kewajiban-kewajiban terhadap makhluk Allah] dan mereka merayakan kegembiraan pribadi saja atau kebahagiaan kerabat-kerabatnya, dengan cara demikian mereka merayakan Id, maka mereka tengah membeli kemurkaan Allah dan teguran-Nya. Dengan itu pula mereka merusak duniawi dan akhirat mereka sehingga tidak meraih sesuatu apa pun. Bahkan, mereka tengah mengalami kerugian serta Id mereka tidak dihitung sebagai Id hakiki.

Di samping orang-orang dari dua kelompok yang saya sebutkan ini, yang mana kelompok pertama maksudnya para muqarrab ilallāh dan para saleh yang menunaikan kewajiban-kewajiban dimana mereka mendapatkan keyakinan tengah merayakan Id. Akan tetapi, sedangkan kelompok kedua yang saya telah sebutkan, mereka tidak meraih Id hakiki, sementara mereka mengira – karena terkecoh – mereka tengah merayakan Id.

Jenis Id Ketiga: Orang-orang yang Malu Merayakan Id Karena Berlumur Dosa

Dalam hal ini ada juga kelompok yang ketiga dan itu benar-benar berbeda dari kedua kelompok yang telah disebutkan. Mereka benar-benar merupakan kelompok yang benar-benar lain. Mereka ini mengetahui bahwa mereka yang berlumur dosa. Mereka memiliki kesadaran demikian bahwa di dalam relung hati mereka menyangka sudah melaksanakan puasa dan pada waktu yang sama mereka tengah menyembunyikan rasa malu tidak melaksanakan haq puasa. Mereka shalat juga, tapi mereka merasa malu terhadap dirinya sendiri karena tidak bisa melaksanakan shalat sesuai dengan syarat-syarat yang diletakkan Allah Ta’ala.

Setiap orang dari kelompok ini menyangka boleh jadi di hari ini juga datang di majlis karena ikut-ikutan dan mengenakan pakaian yang istimewa supaya hal itu dilihat oleh orang-orang. Ia juga memakan makanan yang lezat, namun hatinya menangis, pikirannya tersiksa dimana satu pandangan ia arahkan pada saudara-saudaranya, satu pandangan yang lain pada hatinya yang teraniaya. Setiap suapan yang berselera lagi lezat membuatnya goyang dan hampir-hampir saja tidak menelannya. Ia masih mengenakan pakaian putih yang bagus, tapi hatinya menangis melihat itu dan berkata pada dirinya, “Batinku juga berharap selalu putih seumpama pakaianku ini.

” Ketika ia melihat saudaranya tampak padanya titik-titik kelemahannya lebih banyak, terutama ketika berjumpa orang-orang yang memiliki ikatan yang khas dengan Allah Ta’ala, maka ia membayangkannya bahwa ia telah terekspos, dan mereka ini boleh jadi sudah melihat aib-aibnya dan mereka telah melihat kekurangan-kekurangannya. Setiap yang didapatkan oleh suatu pandangan terhadap istri, anak-anak, teman-teman dan tetangga-tetangganya, kemudian ia memikirkan dirinya, maka ia merasa malu dan menundukkan kepalanya karena menyesal dan malu.

Secara lahiriah ia berada pada majelis itu, tapi hatinya dipenuhi penyesalan dan rasa malu karena kedurhakaan-kedurhakaannya dan ia menduga di antara yang ada di majlis itu, ia saja yang tidak memperoleh Id hakiki, ia mencela dalam sanubarinya bahwa ia tidak termasuk pada kelompok mereka ini [yakni kelompok yang pertama], namun juga bukan termasuk pula kelompok mereka yang itu [yakni kelompok yang kedua]. Maksudnya: saya bukan termasuk dari mereka yang tengah merayakan Id dengan tidak menaruh perhatian dan tidak mengetahui hakikat Id, begitu pula saya tidak termasuk mereka yang tengah merayakan Id sebagai orang-orang yang berbahagia karena sampai pada Allah. Kemudian ia berpikir bahwa Allah Ta’ala adalah Sattār, maka apa anehnya sekiranya saya merayakan Id secara lahiriah, mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan taufik juga pada saya merayakan Id secara batiniah. Sebagaimana Allah Ta’ala menutupi lahiriah, mudah-mudahan Dia juga menutupi batiniah sehingga Allah Ta’ala yang melimpahkan kasih pada hamba-hamba-Nya dan mengampuni mereka serta tidak menjadikan rasa penyesalan semakin bertumbuh dalam kalbu-kalbu hamba-hamba-Nya.

Ketika hamba itu berpikir Id hakiki itu terdapat dalam perjumpaan dengan Allah dan ia belum berhasil mendapatkan itu dan ia berkali-kali dirinya mencela amal-amalnya, ia bertobat dan datang berkali-kali pada Allah dan merasa menyesal dan ketika ketika rasa penyesalannya itu merisaukan dan menggelisahkannya, Allah akan datang padanya dengan bergerak cepat.

Nabi (saw) bersabda: Allah lebih merasa gembira dengan tobat seorang hamba-Nya dibandingkan dengan kegembiraan seseorang yang berada di padang pasir yang untanya kabur sementara di atas untanya itu terdapat makanan dan minuman miliknya, lalu secara tiba-tiba ia mendapati kembali untanya….,[3] maka kebahagiaannya tidak ada puncaknya. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan membiarkan kesedihan dan rasa penyesalan hambanya sirna sia-sia.

Allah Ta’ala mengetahui, “Orang itu memiliki dua kaki yang dengan kedua kakinya itu ia berjalan dan datang kepada-Ku dan beramal saleh”

Karena ia adalah seorang saleh, maka Allah Ta’ala Dialah yang memberinya taufik untuk berjalan di atas dua kakinya dan datang menuju pada-Nya yang Mahasuci.

Orang jenis yang kedua adalah mereka yang memiliki dua kaki akan tetapi amal-amal mereka adalah riya, maka mereka berjalan menuju setan, bukan berjalan menuju Allah.

Namun, seorang hamba yang tidak memiliki kedua kaki dan tidak mampu pergi ke suatu tempat, Allah Ta’ala akan mengatakan, “Aku sendiri yang akan pergi menuju padanya, karena ia menyadari banyak rasa penyesalan dan rasa malu, ia bertobat dan banyak-banyak beristigfar sementara ia tunduk merendahkan diri dan luka, Aku akan mengangkatnya dan Aku akan membimbingnya kepada-Ku.”

Seyogyanya kita itu berupaya sekurang-kurangnya untuk menjadi kelompok yang ketiga, jika tidak menjadi kelompok yang pertama. Karena kelompok yang ketiga ini juga bukan kedudukan yang rendah dan bukan kedudukan kecil. Mesti diingat, penyesalan sempurna, kerendahan hati sempurna, kesedihan sempurna dan rasa pilu yang sempurna termasuk perkara yang ketika menguasai seseorang, akan membuatnya menjadi kekasih Allah Ta’ala. Karena itu, seyogianya kita tidak menjadi orang-orang yang merayakan Id kelompok yang kedua, yaitu mereka yang merayakan Id hanya bertujuan makan minum dan keriuhan dunia. Melainkan, seharusnya kita berupaya untuk menjadi orang-orang yang dibahagiakan dengan pertemuan Allah Ta’ala atau kita paling tidak sekurang-kurangnya menjadi orang-orang sekalipun tidak sampai pada Allah Ta’ala tapi mereka bersimpuh di sana di gerbang singgasana-Nya. Hati mereka diresahkan oleh penyesalan, kerisauan dan mereka mereka dibinasakan oleh kesedihan, kesusahan hingga tingkat arasy (singgasana) Allah Ta’ala menjadi berguncang karenanya dan Pemilik arasy itu sendiri datang pada mereka dan membawa mereka pada maqam kecintaan.

Karena itu, kita harus berdoa dan selalu mengupayakan supaya Id jenis yang pertama atau jenis yang ketiga berada pada kita, dan Id semacam ini akan memberikan kebahagiaan hakiki pada kita. Ini dia Id yang tidak akan mengambil harta benda kita, justru id ini yang memberikan kenikmatan-kenikmatan pada kita, bahkan kita harus berupaya supaya memberikan pemahaman hakikat Id bagi mereka yang menganggap Id jenis kedua adalah Id hakiki. Kita sampaikan pada dunia risalah yang benar yang diraih oleh khadim sejati Nabi Muhammad (saw) di zaman ini. Kita ajarkan pada kemanusiaan makna hakiki dari huqūqullāh dan huqūqul ‘ibād supaya awan-awan kegelapan hilang dari dunia dan dunia disinari oleh matahari petunjuk dan sinar-sinar keruhanian supaya peribadatan hakiki pada Allah akan tegak di dunia, manakala itu demikian adanya maka Id-id kita akan menjadi Id-id yang hakiki.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik pada kita supaya kita melihat Id ini juga.

Berdoalah pada Allah Ta’ala untuk semua Ahmadi yang tengah ditindas dengan mengatasnamakan agama serta mereka tengah menanggung cobaan-cobaan pemenjaraan dan penahanan, doakanlah untuk pembebasan penahanan keluarga-keluarga ini agar mereka memungkinkan merayakan Id dengan bebas.

Demikian pula banyak-banyaklah berdoa untuk umat Islam dan demi keamanan seluruh dunia sebagaimana sebelumnya saya sampaikan juga bahwa para pemimpin dunia tengah menggerakkan dunia mengarah ke jurang kebinasaan demi mendapatkan tempat yang lapang untuk diri mereka, dan bukannya mereka menghadap pada Allah Ta’ala dikarenakan wabah [Corona] ini, mereka malah telah membangkitkan banyak kemurkaan Allah dikarenakan perbuatan-perbuatan mereka. Perlu sekali mengajak dunia pada Allah Ta’ala dan seiring dengan itu banyak-banyak memanjatkan doa-doa.

Setiap Ahmadi seharusnya mengingat kewajibannya ini dan berupaya untuk menunaikannya. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik pada kita untuk hal itu. Āain.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Doa bersama dipimpin Imam dan Khatib.

Penerjemah: Mln. Abkari Munwana 8, 21-25 Maret 2021. Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Rujukan: https://www.Islamahmadiyya.net (bahasa Arab)


[1] Ramadhan dan Idul Fitri di tahun 2020 adalah di masa-masa Pandemi Covid 19.

[2] Sekarang banyak aplikasi-aplikasi lucu-lucuan dan canda-candaan.

[3]Hadis lengkapnya: لَلّٰهُ أَشَدُّ فَرْحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِيْنَ يَتُوْبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ, فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا, فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا, وَقَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ, فَبَيْنَمَا هُوَ كَذٰلِكَ إِذْ هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ, فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرْحِ : اَللّٰهُمَّ أَنْتَ عَبْدِيْ وَأَنَاْ رَبُّكَ, أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرْحِ. . رواه مسلم artinya: “Sungguh Allah lebih bergembira dengan tobat seorang hamba-Nya, ketika dia bertobat kepada-Nya daripada [kegembiraan] salah seorang dari kalian yang mengendarai untanya di padang pasir, lalu untanya kabur meninggalkannya, padahal makanan dan minumannya ada di atas untanya. Maka dia berputus asa untuk bisa menemukannya kembali, lalu dia mendatangi sebuah pohon dan berbaring di bawah naungannya. Dia sungguh sudah berputus asa terhadap untanya. Tatkala dia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba dia mendapoatkan untanya berdiri di hadapannya. Maka dia memegang tali kendalinya, kemudian dia berkata karena sangat gembiranya, “Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu. Dia salah ucap karena terlalu gembira.” [HR Muslim].

Comments (1)

Tim Ahmadiyah.Id
04/05/2021, 20:00
Alḥamdu lil-Lāh ❕ Terimakasih banyak kepada sang penerjemah dan editor. Sehat dan selamat selalu, bahagia senantiasa. Āmīn ❕

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.