Konspirasi Besar Menentang Khilafat Ahmadiyah

konspirasi melawan khilafat khilafah ahmadiyah

Konspirasi Besar Menentang Khilafat Ahmadiyah – Kisah Pilu tentang Rasa Bangga dan Prasangka

Romaan Basit, Jamiah Ahmadiyya UK (Britania Raya)

Dalam catatan sejarah, dalam banyak kesempatan para penentang Ahmadiyah mengatakan bahwa Ahmadiyah “akan segera binasa” – tinggal menunggu waktu saja”.

Ancaman ini terus bergema selama lebih dari satu abad, tetapi semuanya sia-sia. Hasil yang kita lihat adalah kegagalan para konspirator. Di sisi lain, Jemaat selalu mencapai kemajuan.

Setiap kali cobaan seperti itu datang kepada Jemaat, sering timbul kekhawatiran dan goncangan bagi banyak orang. Apakah ini kehancuran Jemaat? Apakah ini akhir dari Jemaat? Jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut adalah “tidak”.

Tapi bagaimana kita bisa begitu yakin? Ya, kita perlu menelusuri jejak sejarah untuk melihat bagaimana ancaman semacam itu muncul, terungkap, dan diselesaikan.

Tidak hanya itu, kita sebenarnya melihat bagaimana tren dan pola konspirasi yang sama terus muncul untuk menentang Jemaat Ahmadiyah.

Menyinggung hal ini, Hadhrat Khalifatul Masih V (atba) baru-baru ini mengatakan:

“Beberapa kalangan generasi muda menjadi terlalu khawatir. Orang-orang […] yang telah mempelajari sejarah walau sedikit saja, tidak merasa cemas dalam kondisi seperti itu.” (Al Hakam, 4 Februari 2022, www.alhakam.org/reporting-the-insightful-words-of-huzoor/)

Untuk meningkatkan pengetahuan saya sendiri tentang sejarah dan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang konspirasi tersebut, saya memutuskan untuk menelisik secara rinci bagaimana putra-putra Hadhrat Hakim Maulvi Nuruddin, Khalifatul Masih I (ra) menjadi mangsa rancangan Setan. Mengenai orang-orang yang malang ini, Hadhrat Khalifatul Masih II (ra) menyatakan pada tahun 1956:

“Di zaman kita, Setan telah memilih putra-putra Hadhrat Khalifatul Masih I (ra), dengan cara yang sama seperti dulu [Setan] memilih pohon kehidupan pada masa Adam.” (Khilafat-e-Haqqa Islamia, Anwar-ul-Ulum, Vol. 26, hal. 32)

Sangat disayangkan bahwa putra seorang Khalifah memilih berpihak pada penentang Jemaat Muslim Ahmadiyah.

Dalam tulisan singkat ini, saya akan menitikberatkan pada penjelasan-penjelasan Hadhrat Khalifatul Masih II (ra) untuk menceritakan rangkaian peristiwa ini.

Kampanye untuk Meruntuhkan Khilafat

Semuanya dimulai pada tahun 1914 ketika sebagian Jemaat memutuskan untuk tidak mengikuti Khilafat sebagai kepemimpinan Jemaat. Sebaliknya, mereka percaya bahwa Sadr Anjuman yang harus mengatur segala urusannya. Aliran pemikiran ini memisahkan diri dari Jamaat arus utama dan membuat komunitas kecil sendiri dengan nama Ahmadiyah Anjuman-e-Ishaat-e-Islam Lahore. Mereka kemudian disebut “Lahori” (Ahmadiyah Lahore) karena ini adalah nama yang biasa mereka gunakan.

Karena banyak hal yang tidak sejalan dengan aspirasi mereka, dan sebagian besar Jemaat berpihak pada Khilafat Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad (ra), rencana dan keinginan kelompok Lahori menjadi terhambat. Dari sini mulailah kampanye buruk di mana orang-orang Lahori berusaha sekuat tenaga untuk merusak institusi Khilafat.

Perdebatan memenuhi literatur Jemaat dan juga Lahori, di mana perang tulisan berlanjut selama beberapa bulan.

Setelah mendapati kegagalan, langkah kelompok Lahori selanjutnya adalah menciptakan keresahan dan perselisihan di antara orang-orang yang telah berbai’at kepada Hadhrat Khalifatul Masih II (ra). Menurut mereka, upaya mereka akan terwujud dengan menciptakan kontestan (pesaing) Khilafat dari dalam Jemaat.

Mereka cukup cerdik, mereka tahu bahwa cara termudah mendapatkan pesaing seperti itu adalah berasal dari keluarga bangsawan dan terhormat; dan siapa lagi yang lebih terhormat dari Hadhrat Khalifatul Masih I (ra).

Hazrat Hakim Maulvi Nuruddin, Khalifatul Masih I
Hazrat Hakim Maulvi Nuruddin, Khalifatul Masih I ra

Aspek penting yang perlu diperhatikan adalah identifikasi pola yang biasa digunakan dalam konspirasi-konspirasi semacam itu. Dalam upaya mereka untuk menjatuhkan Jemaat, kelompok Lahori tahu bahwa mereka harus menyerang institusi Khilafat terlebih dahulu.

Menebar Benih Kecemburuan

Para penentang Jemaat Ahmadiyah menghasut putra-putra Hadhrat Khalifatul Masih I (ra) untuk mengklaim sebagai “pewaris sah” Khilafat, karena ayah mereka adalah Khalifah. Beginilah benih keraguan pertama kali ditanam, perlahan tapi pasti.

Setelah kewafatan Hadhrat Khalifatul Masih I (ra), para penentang mengunjungi istri beliau dan mengatakan kepadanya, “Jika Abdul Haye [putra tertua Hadhrat Khalifatul Masih I] telah menjadi Khalifah, mereka akan berbaiat di tangannya.” (Anwar-ul-Ulum, Jilid 26, hal. 71)

Jelas, ini semua adalah tipu daya mereka, karena Lahori selalu menentang sistem Khilafat. Hasutan itu tidak lain adalah sebuah plot untuk membangkitkan keluarga mereka melawan Khalifah saat itu (Khalifatul Masih II). Meskipun kemudian Abdul Haye Sahib tetap setia pada Khilafat, saudara-saudara yang lain – Abdul Salam Umar Sahib, Abdul Wahab Umar Sahib dan Abdul Mannan Umar Sahib – semuanya menjadi mangsa para penentang.

Terkait:   Mengapa Khilafah Ahmadiyah Tidak Memiliki Agenda Politik?

Mereka diyakinkan bahwa hak mereka atas Khilafat telah dirampas oleh Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmood Ahmad (ra), putra Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Hadhrat Khalifatul Masih II (ra) kemudian mengatakan sebagai berikut:

“Allah Yang Mahakuasa menyelamatkan Abdul Haye dari keterlibatan dalam konspirasi ini; namun, putra-putra Khalifah Pertama lainnya memiliki pemikiran berikut: ‘Khilafat adalah hak kami dan kami harus mengambilnya kembali. Pikiran ini terus berkecamuk di hati mereka.’” (Anwar-ul-Ulum, Vol. 26, hal. 74)

Hasutan ini begitu mengakar dalam hati mereka sehingga mereka mulai berkeliling memberi tahu para Ahmadi yang tidak tahu apa-apa, “Ingatlah bahwa Qadian berpenghuni karena Hadhrat Khalifatul Masih I […] Qadian sekarang akan lenyap.” (Tarikh-e-Ahmadiyyat, Vol. 18, hal. 12)

Kerusuhan Lebih Besar dapat Dipicu dari Dalam

Seiring akhlak mereka semakin rendah, kejahilan mereka semakin meningkat. Putra-putra yang malang dari sosok yang mulia ini, dengan memanfaatkan garis keturunan mereka dan kecintaan yang dimiliki oleh para Ahmadi untuk mereka, mulai menabur benih kecurigaan, keraguan dan inovasi-inovasi jahat.

Mereka ingin membangkitkan pemberontakan melawan Khilafat, walaupun mereka terus mengklaim masih berada dalam janji bai’at pada Khalifah. Sebuah pernyataan dari Abdul Wahab Umar Sahib membuktikan upaya ini:

“Tidak boleh ada dars Tafsir Kabir, karena itu adalah pendapat individu. Khalifah bisa membuat kesalahan; oleh karena itu diperbolehkan untuk tidak setuju dengan Khalifah tentang masalah-masalah pokok. Diperbolehkan juga untuk tetap berada dalam janji bai’at sambil menjunjung tinggi perbedaan kalian dengan Khalifah.” (Tarikh-e-Ahmadiyyat, Vol. 18, hal. 17)

Sekali lagi, nampak sebuah pola: Bersikeras tetap berada di Jemaat supaya dari dalam dapat muncul kerusuhan yang lebih besar.

Suatu ketika, keluarga Hadhrat Khalifatul Masih I yang menentang Khilafat dan tinggal di Qadian, datang menemui Hadhrat Khalifatul Masih II (ra). Istri Khalifah Pertama menjelaskan bagaimana keluarganya tidak merasa dihargai lagi dan mengungkapkan harapannya agar orang-orang Lahori dapat menghargai nilai keturunan mereka. Dia menjelaskan bagaimana orang Lahori menghujani mereka dengan hadiah, uang, dan hak istimewa lainnya.

Hadhrat Khalifatul Masih II (ra) mengatakan Jemaat menghormati keluarga Hadhrat Khalifatul Masih I (ra), tetapi Khilafat tidak didasarkan pada garis keturunan, dan jika mereka ingin bergabung dengan Lahori dan meninggalkan Qadian, mereka dapat melakukannya. Beliau menegaskan: “Engkau bisa pergi jika itu menyenangkan engkau dan melampiaskan kemarahan engkau […]”.

Keyakinan di balik kata-kata ini membuat mereka tetap berada di Qadian dan tidak berangkat ke Lahore. (Anwar-ul-Ulum, Jilid 26, hal. 75)

Peristiwa ini terbukti bermanfaat bagi Jemaat, karena nampak semakin jelas bahwa terdapat orang-orang munafik dan hidup dekat dengan institusi Khilafat, di Qadian. Maka kewaspadaan harus lebih ditingkatkan dari sebelumnya. Tiba-tiba, keadaan berubah menjadi hal yang tidak terduga.

Segala Cara Dilakukan – Rencana Untuk Meracuni

Sampai saat ini, siasat para penentang dan orang-orang munafik hanya sebatas pemikiran dan kata-kata. Akhirnya rasa frustasi mereka muncul dan mengarahkan mereka pada rencana baru: Khalifah harus disingkirkan dengan cara apa pun – bahkan jika itu berarti mengakhiri hidupnya.

Pada tahun 1918, sebuah rencana dibuat untuk meracuni Hadhrat Khalifatul Masih II (ra).

Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih II
Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih II ra

Di mana rencana ini dilakukan? Sayangnya, di rumah Hadhrat Khalifatul Masih I (ra) – sosok yang sangat menjunjung tinggi Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad (ra), dan mencintai beliau lebih dari anak-anak beliau sendiri.

Meski mengejutkan, kesaksian berikut menunjukkan gawatnya situasi saat itu:

“Beberapa penentang dari Lahore menyusun rencana untuk meracuni Hudhur dengan cara berikut: Makan malam akan diadakan di rumah Amma Ji [istri Hadhrat Khalifatul Masih I (ra)], tetapi semua pengaturan makanan dilakukan secara diam-diam oleh orang Lahore. Bagaimanapun rencana ini telah diungkap oleh seseorang yang telah mendengar rencana rahasia itu.” (Anwar-ul-Ulum, Jilid 26, hal. 75)

Karena rencana ini digagalkan berkat pertolongan Allah, hal itu semakin memicu niat jahat dari para pelaku konspirasi dan kaki tangan mereka.

Terkait:   Khilafah Ahmadiyah dan Dunia Islam

Pemerasan dan Propaganda Palsu

Pada waktu yang hampir bersamaan, telah dilakukan upaya untuk memeras Hadhrat Khalifatul Masih II (ra). Abdus Salam Umar Sahib menyebutkan dalam sebuah pertemuan bahwa ia memiliki surat-surat pribadi Hudhur, yang naudzubillah min dzaalik isinya cabul dan vulgar. Mereka mengancam akan mempublikasikannya sehinga aib Huzur (ra) tersebar ke seluruh Jemaat.

Ketika Hudhur mengetahui hal ini, beliau menjawab:

“Jika masih ada sedikit saja kejujuran yang tersisa dalam keluarga ini, mereka harus menerbitkan surat-surat ini; jika tidak, semoga laknat Allah atas para pendusta.” (Anwar-ul-Ulum, Jilid 26, hal. 76)

Pola ini tidak memerlukan penjelasan. Penentang melakukan langkah selanjutnya dengan cara mengancam dan memeras Jemaat.

Fitnah dan upaya pencemaran nama baik Hudhur terus meningkat. Pada tahun 1926, Abdul Wahab Umar Sahib menuduh Hudhur melakukan tindak pidana berat – membunuh saudaranya, Abdul Haye Sahib. Atas hal ini Huzur mengatakan:

“Mian Abdul Wahab Sahib menuduh saya meracuni almarhum Abdul Haye, dan juga menjalani kehidupan yang royal dan mewah.” (Anwar-ul-Ulum, Jilid 26, hal. 77)

Pada tahun 1929, para penentang bertemu Abdul Wahab Umar Sahib, Abdul Mannan Umar Sahib dan Abdus Salam Umar Sahib dan dibuatlah sebuah rencana untuk menyebarkan tuduhan palsu kepada Hadhrat Khalifatul Masih II (ra). Ini adalah elemen lain dari pola yang biasa dilakukan dalam setiap persekongkolan.

Pada tahun 1930, Abdul Mannan Umar Sahib menyebarkan isu bahwa Jemaat berusaha menyingkirkan keluarganya, agar nama Hadhrat Maulvi Hakim Nuruddin (ra) dihapuskan dari sejarah Jemaat.

Perbuatan keji lainnya yang dituduhkan kepada Hadhrat Khalifatul Masih II (ra), dalam berbagai kesempatan adalah sedemikian rupa sehingga tidak ada orang sipil mau mengulangi atau mau mendengarkannya.

Para penentang tidak peduli dan melemparkan berbagai tuduhan kepada Khilafat. Hudhur bahkan dituduh berusaha menjadikan Hadhrat Mirza Nasir Ahmad (rha) sebagai “pewaris takhta” – pemilihan kata-kata yang mereka gunakan menunjukkan bagaimana mereka memahami Khilafat. Para penentang mengklaim bahwa Jemaat telah memulai propaganda untuk mengangkatnya sebagai Khalifah berikutnya.

Hadhrat Nawab Mubaraka Begum (ra) pernah berkata kepada Hadhrat Khalifatul Masih II (ra):

“Mereka mengatakan hal-hal yang menyakitkan tentang engkau sehingga sulit untuk mendengarkan mereka. Mengapa Anda tidak melakukan sesuatu tentang mereka?” (Tarikh-e-Ahmadiyyat, Vol. 18)

Hudhur (ra) menjawab dengan mengatakan bahwa beliau memiliki kecintaan yang begitu dalam kepada Hadhrat Khalifatul Masih I (ra) sehingga beliau merasa sulit untuk mengungkapkan cara-cara keji yang dilakukan putra-putra Khalifah I.

Perlu kita ketahui bahwa Abdul Mannan Umar Sahib diberi banyak tanggung jawab untuk mengkhidmati Jemaat. Dia tetap menjadi afsar (petugas) Jalsah Salanah selama beberapa tahun dan diberi peran penting lainnya. Tetapi ketika motif utama utamanya adalah ambisi, maka sepertinya tidak pernah ada kata cukup.

Sakitnya Hadhrat Khalifatul Masih II (ra)

Persekongkolan ini unik karena berlangsung selama beberapa dekade. Terkadang berkurang dan kemudian berlanjut lagi dari waktu ke waktu. Putra-putra Hadhrat Khalifatul Masih I (ra) tetap menjadi favorit para penentang, terutama kelompok Lahore, yang mereka manfaatkan untuk membuat kerusuhan di dalam Jemaat.

Kemudian datanglah suatu masa di tahun 1953, ketika dilakukan sebuah upaya yang mengancam kehidupan Hadhrat Khalifatul Masih II (ra). Beliau ditikam di leher oleh seorang penyerang. Meskipun Hudhur (ra) selamat dari serangan tersebut tetapi cedera tersebut meninggalkan efek yang buruk bagi kesehatan beliau dalam jangka panjang.

Para komplotan melihat ini sebagai kesempatan emas untuk mencoba peruntungan mereka sekali lagi. Kali ini, Abdul Mannan Umar Sahib terpilih secara khusus.

Untuk mendapatkan petunjuk medis lebih lanjut, Hadhrat Khalifatul Masih II (ra) harus melakukan perjalanan ke Eropa pada tahun 1955. Ketika Hudhur (ra) berada jauh dari markaz (pusat Jemaat), Abdul Mannan Umar Sahib dan rekan-rekannya mengajukan propaganda tentang kesehatan Hudhur yang buruk dan usia tua.

Dengan kedok simpatisan Jemaat, mereka membuat propaganda bahwa mereka hanya menginginkan Khalifah yang “lebih sehat” dan lebih “fungsional” (menjalankan tugasnya).

Dengan menggunakan trik ini, mereka mencoba menjauhkan orang-orang dari Hudhur (ra) dengan melukiskan beliau sebagai “Khalifah yang lemah dan tidak berfungsi” yang perlu digantikan oleh “orang yang lebih berpendidikan dan lebih sehat” – sifat yang ditujukan untuk dirinya sendiri.

Terkait:   Pentingnya Khilafah

Sekali lagi ini adalah persamaan yang unik dalam setiap upaya semacam itu dalam sejarah.

Abdul Wahab Sahib, yang mempromosikan saudaranya atas nama silsilah keluarga mereka, mengunjungi para Ahmadi dan berupaya menimbulkan keraguan. Salah seorang Ahmadi mengingat bagaimana Abdul Wahab Sahib berkata kepadanya, “Pernahkah engau melihat berapa banyak uang yang dibelanjakan? […] Khalifah sekarang telah kehilangan akal sehatnya dan tidak cukup fit untuk tetap menjadi Khalifah.” (Anwar-ul-Ulum, Jilid 26, hal. 116)

“Dia sudah terlalu tua sekarang. Harus dipilih orang lain untuk menggantikannya.” (Tarikh-e-Ahmadiyyat, Vol. 18, hal. 14)

Kasih Sayang Hadhrat Khalifatul Masih dan Nasib Buruk para Pembuat Kerusakan

Karena kecintaannya yang besar kepada Hadhrat Khalifatul Masih I (ra), Hadhrat Khalifatul Masih II (ra) tetap diam dan tidak pernah mengambil tindakan disipliner terhadap keluarga Hadhrat Khalifatul Masih I (ra) selama beberapa dekade. Beliau tidak sampai mengambil tindakan untuk kepentingan Jemaat yang lebih besar.

Hudhur (ra) mencoba menjelaskan kepada mereka bahwa Hadhrat Khalifatul Masih I (ra) selalu bangga telah mengkhidmati Hadhrat Masih Mau’ud (as). Beliau tidak pernah menginginkan posisi tinggi apa pun untuk dirinya sendiri dan cukup mendapat kehormatan dalam Jemaat hanya dengan tetap menjadi pengkhidmat Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Hudhur (ra) menjelaskan bahwa posisi agung yang diberikan kepada Hadhrat Khalifatul Masih I (ra) itu adalah berkat kecintaan dan pengkhidmatan yang semata-mata untuk Hadhrat Masih Mau’ud (as), dan Khilafat adalah tanggung jawab yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada siapa pun yang Dia pilih; bukan posisi yang diperoleh melalui tipu daya manusia.

Beliau mencoba memberi pemahaman kepada mereka bahwa usia, pengetahuan, kekayaan, dan garis keturunan tidak masalah jika itu terkait pilihan Allah.

Namun terlepas dari semua kasih sayang ini, mereka terus bersekongkol dengan para penentang, menjadi mangsa konspirasi mereka dan selalu memilih untuk bergandengan tangan dengan mereka dalam berbagai skema jahat.

Mereka akhirnya terlepas dari Jemaat Masih Mau’ud (as), yaitu jemaat yang sangat disayangi ayah mereka sepanjang hidupnya.

Kesimpulan

Ini adalah kisah yang pilu lagi menyedihkan, tetapi benar-benar membuka mata. Kita menyadari bahwa garis keturunan, betapapun mulianya, bukanlah penjamin keimanan.

Hadhrat Khalifatul Masih V (atba), menyampaikan tentang kesyahidan Syed Taalay Ahmed Shaheed dalam Khotbah Jumat 3 September 2021:

“Kehormatan keluarga [Masih Mau’ud] atau secara jasmani memiliki keterkaitan dengan mereka tidak memberikan status seseorang. Jika ada yang menghormati mereka […] hal itu adalah karena mereka menjadi pengkhidmat agama dan mendahulukan agama di atas urusan duniawi.”

“Menjadi putra atau putri dari orang yang dihormati bukanlah sumber kebanggaan jika tindakan Anda tidak membuat Anda layak untuk kehormatan itu.

“[Taalay] adalah berlian yang kini telah pergi dari kita. Semoga Allah Ta’ala terus memberikan Jemaat orang-orang yang setia, memiliki hubungan yang tulus dan berdedikasi dengan Khilafat, dan mengutamakan agama mereka atas hal-hal duniawi.”

Semoga Allah memberi taufik kepada kita supaya menjadi hamba-hamba yang setia, tulus, dan berkhidmat dan semoga Allah selalu menjaga kita tetap teguh di jalan yang benar:

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bengkokkan hati kami sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan berilah kami rahmat dari sisi Engkau; sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS Ali Imran [3]: 9)

(Abdus Salam Umar Sahib kemudian bergabung kembali dengan Khilafat Ahmadiyah dan dimakamkan di Bahisti Maqbarah, Rabwah. Melalui cucu Hadhrat Khalifatul Masih I (ra), Abdul Wasay Umar Sahib (Putra Abdus Salam Umar Sahib), beberapa anggota keluarga Hadhrat Khalifatul Masih I terhubung kembali kepada Khilafat Ahmadiyah dan tetap sampai hari ini. Sementara kebanggaan dalam garis keturunan bisa menjadi ujian bagi sebagian orang, mayoritas orang-orang seperti itu tetap setia kepada Khilafah Ahmadiyah sampai hari ini. Satu atau dua contoh yang telah keliru memahami hanya dilakukan beberapa individu, sementara keluarga mereka tetap teguh pada Khilafat)

Penerjemah: Dildaar A.D.
Sumber: An unfortunate story of pride and prejudice: A grave conspiracy against Khilafat

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.