Mutiara-Mutiara Hikmah

Ringkasan Khotbah Jumat
Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz
24 Juli 2015 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ ، آمين

Khutbah Jumat pada hari ini adalah beberapa riwayat yang disampaikan oleh Hadhrat Muslih Mau’ud ra berkenaan dengan Hadhrat Masih Mau’ud as dan para sahabat beliau as.

Hadhrat Masih Mau’ud as menerima sebuah wahyu berbahasa Arab yang tertulis dalam Tadhkirah tanggal 9 Februari 1908. Terjemahan dari wahyu tersebut adalah ‘Jangan bunuh Zainab’ [Tadhkirah, hal 995]

Hadhrat Muslih Mau’ud ra menulis bahwa pada awal tahun 1908, Hafiz Ahmad Sahib mengusulkan pernikahan bagi 2 putrinya Zainab dan Kalsoom. Datang dua lamaran untuk Zainab. Namun Hadhrat Masih Mau’ud as tidak menyukai lamaran dari Misri Sahib. Akan tetapi seperti biasa, beliau as tidak juga terlalu menekankan hal tersebut. Pada saat-saat itulah beliau as menerima wahyu: ‘Jangan bunuh Zainab’. Hafiz Sahib memahami wahyu tersebut bahwa hendaknya ia menikahkan putrinya dengan Misri Sahib dengan anggapan bahwa wahyu tersebut telah mengesampingkan nasehat dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Kemudian ia pun menikahkan putrinya dengan Misri Sahib. Wahyu tersebut tertanggal 9 Februari sedangkan pernikahan tersebut terjadi pada tanggal 19 Februari.

Tanggal pernikahan tersebut tercatat dalam sejarah karena berlangsung bersamaan dengan beberapa pernikahan lainnya termasuk pernikahan Hadhrat Nawab Mubaraka Begum Sahiba. Allah Ta’ala secara jelas telah memberi peringatan sebelumnya berkenaan dengan pernikahan Zainab supaya tidak timbul kehancuran di kemudian hari. Namun sang ayah malah mengambil kesimpulan sebaliknya.

Terbukti bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as telah memberikan nasehat kepada Hafiz Sahib, orang tua Zainab tersebut. Dan memang benar Misri Sahib di kemudian hari memisahkan diri dari Jemaat. Seorang sahabat berkata bahwa sungguh di hadapannya, Hadhrat Masih Mau’ud as telah menasehati Hafiz Sahib agar tidak menikahkan putrinya dengan orang tersebut. Seorang sahabat tersebut tidak suka melihat pernikahan tersebut tetap dilangsungkan. Kemudian sahabat tersebut mendatangi Hadhrat Masih Mau’ud as dan berkata, “Hudhur diutus oleh Allah Ta’ala dan Allah Ta’ala memerintahkan agar orang-orang mendengar perkataan Hudhur. Namun Hafiz Sahib tidak berbuat demikian.” Hadhrat Masih Mau’ud as membenarkannya akan tetapi beliau menambahkan bahwa beliau tidak mencampuri urusan tersebut.

Ketika riwayat ini sampai kepada Hadhrat Muslih Mau’d ra, beliau ra sedikit pun tidak meragukannya. Namun karena riwayat itu hanya satu saja sehingga beliau ra merasa khawatir. Memang seharusnya ada saksi dalam hal ini yang dapat menjelaskan latar belakang keluarnya Misri Sahib dari Jemaat dan sebagainya. Oleh sebab itu beliau ra befikir untuk mencari bukti yang kongkrit. Keesokan harinya, beliau ra menerima surat dimana seseorang telah menulis bahwa ketika ia berada di Qadian, ia mempelajari Al-Quran dari Hafiz Ahmad. Orang tersebut pernah menceritakan padanya bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as telah memintanya untuk menikahkan putrinya dengan seseorang akan tetapi ia mengingkarinya. Karena terdapat wahyu “Jangan bunuh Zainab”, maka ia pun mengambil kesimpulan bahwa nasehat beliau as sebelumnya adalah tidak benar. Ia pun kemudian menikahkan putrinya dengan Misri Sahib.

Ia berkata bahwa Misri Sahib sangat keras terhadap putrinya dan ia rasa bahwa hal itu merupakan akibat dari tidak mengindahkan apa yang telah Hadhrat Masih Mau’ud as katakan. Hadhrat Muslih Mau’ud ra menulis bahwa beliau pun ingat bahwa pada zaman Hadhrat Khalifatul Masih I ra, Misri Sahib pernah memukul ayah mertuanya di tengah kota. Hadhrat Khalifatul Masih I ra merasa sangat tidak senang dengan Misri Sahib dan Hadhrat Muslih Mau’ud ra telah meminta beliau ra untuk memaafkan Misri Sahib.

Sheikh Abdul Rahman Misri Sahib merupakan bagian dari sejarah Jemaat. Ia merupakan seorang terpelajar yang berbaiat pada masa Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Masih Mau’ud as dan Hadhrat Zafrullah Khan Sahib membiayainya untuk pergi ke mesir. Karena perjalanannya ke Mesir itulah maka ia diberi gelar ‘Misri’. Tiba saatnya ketika ia sangat menentang Hadhrat Muslih Mau’ud ra dan melontarkan perkataan yang sangat menentang beliau ra serta berupaya untuk menciptakan perselisihan di dalam Jemaat. Allah Ta’ala senantiasa melindungi Jemaat ini dari rencananya dan beberapa orang diperlihatkan mimpi tentang rencananya tersebut. Dahulunya, Ia begitu dihargai dan dihormati di dalam Jemaat sehingga ketika ia keluar dari Jemaat, seseorang dari Afrika menulis kepada Hadhrat Muslih Mau’ud ra bahwa keluarnya Misri Sahib dari Jemaat sungguh sangat mengkhawatirkan karena jika seseorang yang begitu penting dan berarti seperti ini kehilangan keimanan mereka, lalu bagaimana dengan keimanan orang-orang biasa seperti penulis surat ini. Hadhrat Muslih Mau’ud ra menjawab surat tersebut seraya berkata bahwa adalah Allah Ta’ala lah yang memutuskan siapa yang penting dan berarti bagi Jemaat dan bukan si penulis surat. Kemudian beliau ra menambahkan bahwa Allah Ta’ala telah menjadikan Misri Sahib kehilangan arah dan hal tersebut membuktikan bahwa yang penting dan yang berarti bagi Jemaat adalah si penulis surat ini, bukan Misri Sahib. Setelah mengadakan penentangan dan kemudian meninggalkan Jemaat, Misri Sahib mencoba untuk menunjukan betapa pentingnya dirinya dengan menguhubung-hubungkan dirinya dengan wahyu tersebut. Namun setelah Hadhrat Muslih Mau’ud ra menjelaskan kenyataan dibalik semua itu, ia mengeluh kenapa istrinya diseret ke dalam ini semua.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra mengatakan bahwa pada nubuatan ‘Jangan bunuh Zainab’ tersebut, Misri Sahib sendiri menekankan hal tersebut pada tahapan selanjutnya. Beliau ra bersabda bahwa peristiwa ini adalah seperti kisah yang diceritakan oleh orang-orang Arab tentang seorang pria yang mengambil sebilah pisau hendak menyemblih seekor kambing namun kemudian menyimpan pisau tersebut dan ia pun lupa. Lalu ada seorang anak yang menyembunyikan pisau tersebut di tanah. Ketika orang tersebut mencari pisau yang hilang tersebut, kambing itu menyeret-nyeret kakinya di tanah. Akibatnya, terkikislah tanah tersebut dan pisau yang disembunyikan tadi pun ditemukan. Dengan demikian, orang tersebut dapat menyemblih kambing tersebut. Jadi ketika seseorang menyebabkan kehancurannya sendiri, orang-orang Arab berkata bahwa ia sendiri telah menemukan pisau tersebut seperti kambing dalam kisah itu. Jika ia telah melaksanakan apa yang Hadhrat Masih Mau’ud as nasehatkan, keimanannya tidak akan menjadi sia-sia. Orang-orang mukmin hendaknya mendengarkan perkataan mereka yang diutus oleh Allah Ta’ala.

Terkait:   Nubuatan Mushlih Mau’ud

Maulwi Muhammad Ahsan Sahib memiliki sifat tergesa-gesa. Suatu kali ketika pergi berjalan keluar dengan Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau salah mendengar perkataan Hadhrat Masih Mau’ud as ketika beliau as berkata ada perbedaan antara firman tuhan dengan perkataan hamba-Nya. Kemudian beliau as menyampaikan sebuah wahyu dari Allah Ta’ala dan membandingkannya dengan perkataan Hariri (seorang penulis syair). Karena tergesa-gesa, Ahsan Sahib tidak mendengarkan bagian akhir dari perkataan Hadhrat Masih Mau’ud as dan kemudian berkata bahwa itu merupakan kalam Hariri. Namun Hadhrat Masih Mau’ud as segera menjelaskan bahwa ini bukanlah kalam Hariri melainkan Wahyu Allah Ta’ala. Segera setelah menyadari kesalahannya, ia langsung berkata betapa indahnya perkataan tersebut.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra menceritakan bahwa seorang Sikh datang mengunjungi beliau ra dan berbicara tentang para leluhur beliau ra. Ia berkata bahwa ayahnya telah bertanya kepada Hadhrat Mirza Ghulam Murtada Sahib, “Saya dengar Tuan memiliki anak selain Mirza Ghulam Qadir. Dimana anak itu?”  Hadhrat Mirza Ghulam Murtada Sahib menjawab, “Ia telah menghabiskan hari-hari di dalam mesjid untuk membaca Al-Quran. Saya merasa khawatir darimana ia dapat memperoleh mata pencaharian. Katakanlah kepadanya, agar ia mau bekerja. Saya ingin ia bekerja. Ketika saya telah mengatur segala sesuatunya agar ia dapat bekerja, namun ia selalu menolaknya.”

Ketika orang Sikh tersebut berbicara kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau as menjawab bahwa ayah tidak perlu khawatir. Beliau meminta orang Sikh tersebut untuk menyampaikan kepada ayah beliau bahwa beliau telah bekerja kepada Wujud Yang beliau inginkan dan ia tidak tertarik untuk bekerja kepada manusia. Hal ini sangat memberikan kesan orang Sikh tersebut sehingga ia membuncah setiap kali ia menceritakannya. Suatu kali ia menangis getir karena ia telah pergi ke kuburan Hadhrat Masih Mau’ud as dan ingin bersujud di hadapannya karena kecintaan terhadap beliau as. Namun para ahmadi menghentikannya dan hal tersebut membuatnya tersinggung. Ia berkata bahwa bersujud di kuburan bukanlah sesuatu yang dilarang dalam agamanya.

Maulwi Muhammad Hussain Batalwi dahulu merupakan teman Hadhrat Masih Mau’ud as. Setelah pendakwaan beliau as, ia berkata bahwa adalah ia-lah yang telah membawa Hadhrat Masih Mau’ud as menjadi terkemuka namun sekarang ia akan membuat beliau as jatuh. Namun demikian, Allah Ta’ala menghapuskan namanya dan sebaliknya menyebarkan nama Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Muslih Mau’ud ra mengatakan bahwa seorang anak Maulwi Muhammad Hussain Batalwi telah menganut agama Hindu. Hadhrat Muslih Mau’ud telah menghubunginya dan memintanya untuk kembali kepada Islam. Maulwi Muhammad Hussain menulis surat yang berisi ucapan terima kasih kepada Hadhrat Muslih Mau’ud ra.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa penentangan terhadap Jemaat telah terjadi sejak zaman Hadhrat Masih Mau’ud as namun Jemaat tetap saja mengalami kemajuan. Jemaat telah melewati jalan penuh duri untuk mencapai kesuksesan dan hal ini mengatakan kepada kita bahwa karunia Allah Ta’ala telah menyertainya. Agar karunia ini bertahan lama, Jemaat hendaknya senantiasa sibuk dalam berdoa.

Allah Ta’ala memberkati Hadhrat Maulana Nuruddin, Khalifatul Masih I ra dengan pekerjaan yang sangat mulia. Kemudian, beliau telah sukses menjalankan praktek di kota kelahirannya dimana banyak orang yang mencintainya. Suatu kali, beliau datang ke Qadian untuk mengunjungi Hadhrat Masih Mau’ud as dan ketika hendak pulang, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Tuan telah melihat dunia dan sekarang tinggallah di Qadian.” Beliau mengamalkannya dan kemudian tidak jadi pulang. Beliau meminta agar barang-barangnya dikirimkan dari kampungnya. Beliau tidak mungkin mengadakan praktek di Qadian namun beliau tidak peduli akan hal itu.

Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as lainnya adalah Maulwi Abdul Karim Sahib. Beliau memiliki kecintaan yang luar biasa kepada Hadhrat Masih Mau’ud as yang hanya bisa dinilai oleh orang-orang yang ada di sekitarnya pada saat itu. Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda, “Maulwi Sahib meninggal dunia ketika saya sedang berumur 16 atau 17 tahun namun saya mengenal besarnya kecintaan beliau Hadhrat Masih Mau’ud as sejak saya masih kecil berumur 12 tahun. Namun demikian, kecintaannya tersebut memberikan kesan di dalam hati saya.” Ada 2 aspek kepribadiannya yang tidak terlupakan; cara beliau minum seraya bersyukur pada Allah Ta’ala dan kecintaannya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Pada saat itu, air sumur mesjid Aqsa sangat terkenal dan beliau akan berkata kepada orang-orang untuk mengambilkannya air. Ketika ia berada di antara para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as, terlihat seolah-olah mata beliau sedang memakan fisik Hadhrat Masih Mau’ud as. Seluruh wujud Maulwi Sahib akan menjadi gambaran kegembiraan yang tidak terhingga karena melihat wujud Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau sangat bergairah terhadap segala sesuatu yang beliau as katakan. Adalah kebiasaan Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa beliau mengadakan pertemuan setelah shalat Maghrib. Beliau menghentikan rutinitas ini setelah kewafatan Maulwi Sahib. Ketika seseorang menanyakan hal ini, beliau as menjelaskan bahwa hal tersebut membuat beliau sakit karena kehilangan Maulwi Sahib.

Terkait:   Idul Fitri, Hari Bertobat dan Turunnya Karunia

Suatu kali di Qadian, ada seseorang yang melontarkan kata-kata kasar berkenaan dengan Maulwi Abdul Karim Sahib dan orang-orang pun mulai memukulinya. Namun demikian, ia tetap keras kepada dan terus mengulangi kata-kata kasarnya. Pertengkaran pun terjadi. Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa beliau masih kecil pada saat itu dan bagi anak-anak dan tentu hal ini menjadi tontonan. Seorang pegulat non-ahmadi biasa mendatangi Hadhrat Khalifatul Masih I ra untuk mendapatkan pengobatan. Ketika mendengar tersebut, ia berfikir untuk ikut ambil bagian dalam keributan tersebut dan kemudian memukuli orang tersebut. Akan tetapi,  tetap saja orang tersebut mengatakan apa yang ia ingin katakan. Hadhrat Masih Mau’ud as sangat tidak senang ketika beliau mengetahui kejadian tersebut dan bersabda bahwa ini bertentangan dengan ajaran kita. Beliau bersabda bahwa orang-orang mencaci maki kita namun hal tersebut tidaklah merugikan kita sedikit pun, lalu apa masalahnya jika ada seseorang yang berbuat demikian kepada kita!

Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as lainnya adalah Munshi Roora KhanSahib. Beliau sangat mencintai Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau berasal dari Kapoorthala. Hadhrat Masih Mau’ud as sangat memuji para Ahmadi Kapoorthala atas ketulusan mereka dan bersabda bahwa mereka menunjukan ketulusan yang sedemikian rupa sehingga mereka akan bersama beliau di surga. Suatu kali Hadhrat Masih Mau’ud as tiba di Kapoorthala tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Seorang penentang melihat beliau as ketika turun di stasiun. Terkejut akan kehadiran beliau as, ia berlari ke tempat Roora Sahib dan mengatakan padanya bahwa Mirza Sahib telah datang. Mendengar hal tersebut, Roora Sahib juga bergegas ke stasiun tanpa mengenakan tutup kepala yang merupakan suatu hal yang wajib pada saat itu. Di pertengahan jalan, beliau berhenti dan bertanya-tanya apakah ini benar, apakah penentang tersebut telah mempermainkannya dan apakah mereka begitu beruntung sekali mendapatkan karunia atas kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as. beliau mengutuk penentang tersebut karena telah mengatakan kebohongan. Namun kemudian beliau mengubah pikirannya lagi dan mulai berjalan ke stasiun. Beliau berhenti dan mulai melihat dengan rasa tak percaya hingga beliau melihat Hadhrat Masih Mau’ud as sedang berjalan ke arahnya. Demikianlah gelora kecintaannya terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as.

Setelah kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud as, Roora Sahib datang ke Qadian dan memberikan beberapa koin emas kepada Hadhrat Muslih Mau’ud ra serta meminta beliau untuk memberikannya kepada ibunda tercintanya. Beliau kemudian mulai menangis getir. Awalnya, Hadhrat Muslih Mau’ud ra berfikir bahwa beliau menangis karena kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau menangis hampir setengah jam dan selama itu Hadhrat Muslih Mau’ud ra terus bertanya padanya apa yang menyebabkan beliau menangis.  Namun karena sedang dikuasai emosi, beliau tidak dapat menjawabnya. Pada akhirnya, beliau menjelaskan bagaimana beliau telah berhemat dan menyimpan uang sejak pertama kali baiat untuk dapat memberikan sesuatu kepada Hadhrat Masih Mau’ud as serta menjelaskan pula bagaimana ketika telah memiliki simpanan yang cukup, beliau berkeinginan memberi sesuatu yang lebih kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan pada saat itu beliau berharap dapat memberikan emas kepada beliau as. Namun, setiap kali beliau menabung, beliau merasa gelisah melihat Hadhrat Masih Mau’ud as dan memberikannya apapun yang ia telah simpan. Dengan demikian beliau tidak pernah memiliki cukup simpanan untuk memberikan emas. Pada saat beliau telah cukup menyimpan 2 keping emas, Hadhrat Masih Mau’ud as wafat. Dengan demikian, beliau telah menghabiskan 30 tahun merindukan untuk memberikan emas kepada Hadhrat Masih Mau’ud as namun tak dapat terlaksana karena beliau as telah meninggal dunia.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa beberapa huruf Arab hanya dapat diucapkan dengan benar oleh orang-orang Arab. Suatu kali, seorang Arab menghadiri majelis Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau as menablighinya dan mengutip dari Al-Quran seraya mengucapkan kata ‘Quran’ dalam aksen bukan Arab. Orang Arab tersebut memberikan komentar bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as menganggap diri sebagai seorang nabi namun tidak mengetahui bagaimana cara mengucapkan kata ‘Quran’ dengan benar. Lalu bagaimana beliau dapat memberikan tafsirannya! Seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as mengangkat tangannya hendak memukul orang tersebut namun Hadhrat Masih Mau’ud as meraih tangannyadan menghentikannya. Beliau as menjelaskan bahwa orang-orang ini hanyamemiliki senjata hanya dengan melontarkan cacian ini. Jika merekatidak menggunakannya, lalu apa lagi yang akan mereka gunakan. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa hendaklah kita tidak mengharapkan kebenaran dan dalil-dalil yang benar yang akan keluar dari mulutmereka. Jika demikian, apa pula perlunya kedatangan beliau as. Dengan kedatangan beliau as ini membuktikan bahwa mereka tidak lagi memiliki kebenaran. Jadi yang dapat mereka lakukan adalah menghina beliau as dan tidak mungkin bagi kita untuk menghalangi mereka untuk tidakmenggunakan satu-satunya senjata yang mereka miliki tersebut. Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa ketika orang-orang Arab sendiri mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengucapkan huruf ‘qaf’ dan ‘dhadh’ seperti mereka, lalu mengapa pula mereka begitu kritis ketika seseorang salah mengucapkannya?

Hadhrat Muslih Mau’ud ra menjelaskan bahwa kisah ini adalah tentang huruf ‘qaf’ dan ‘dhadh’. Beliau menjelaskan hal ini supaya orang-orang tidak menulis seraya mengatakan kisah yang mereka ketahui adalah tentang huruf ‘dhat’ dan hal ini menyebabkan banyaknya surat yang beliau terima. Hudhur ra bersabda bahwa tim yang berurusan dengan surat menyurat tersebut merasa khawatir akan tumpukan surat yang diterima!

Terkait:   Riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiiq Ra (Seri 37)

Berkenaan dengan kesabaran, Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa para penentang menulis surat yang sangat kotor kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan membaca surat-surat tersebut dapat membuat darahnya mendidih. Namun Hadhrat Masih Mau’ud as begitu sabar dalam memberikan jawaban. Hadhrat Muslih Mau’ud ra berkata bahwa surat-surat yang seperti ini sering datang, mungkin 2 atau 3 kali seminggu sementara beliau ra sendiri menerima surat-surat seperti ini 4 atau 5 kali setahun. Surat-surat ini sangat bodoh dan penuh caci makian. Suatu kali Hadhrat Muslih Mau’ud ra tidak sengaja membaca beberapa surat tersebut yang membuat darah beliau mendidih. Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as melihat beliau ra sedang membaca surat-surat tersebut, beliau membawa tas yang berisikan surat-surat tersebut dan berkata bahwa beliau ra hendaknya tidak membaca surat-surat ini. Hadhrat Masih Mau’ud as biasa menyimpan surat-surat tersebut di dalam tas-tas dan kemudian disimpan di dalam peti kayu. Beliau as sering membakar surat-surat tersebut namun surat-surat semacam itu terus saja berdatangan. Inilah tas-tas yang Hadhrat Masih Mau’ud as tulis bahwa aku mempunyai tas-tas yang penuh caci makian para penentang. Surat-surat ini tidak hanya berisi caci makian saja namun juga tuduhan palsu dan fitnahan. Bodoh sekali jika harus marah karena hal-hal ini. Surat-surat tersebut malah menjadi pupuk untuk menegakan ketakwaan kita. Tidak perlu merasa marah dan terbawa emosi. Pada akhirnya, sebuah bejana hanya akan menumpahkan apa yang ada di dalamnya dan hanya kebodohanlah yang akan menjadi bukti dari hati para penentang. Hendaklah kita menjaga dan mengintrospeksi akhlak dan tingkah laku kita.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa tercantum di dalam surat kabar Badr dan beliau juga ingat dengan baik bahwa pada salah satu kunjungan beliau ke Delhi, Hadhrat Masih Mau’ud as pergi ke tempat-tempat ibadah para orang suci untuk berdoa. Orang-orang suci tersebut adalah Khawaja Baqi Billa Sahib, Hazrat Qutb Sahib, Khawaja Nizam ud Din Sahib Aulia, Shah Wali Ullah Sahib, Hazrat Khawaja Mir Dard Sahib dan Naseer ud Din Sahib Chiragh. Meskipun tidak tercatat di dalam diari beliau as pada saat itu, namun apa yang Hadhrat Muslih Mau’ud ra ingat dengan baik adalah bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as memanjatkan doa: “Hati orang-orang Delhi ini telah mati. Kami ingin pergi ke kuburan para orang suci yang telah wafat untuk memanjatkan doa bagi mereka, bagi keturunan mereka dan juga bagi orang-orang Delhi sehingga semangat para orang suci ini akan dibangkitkan untuk memanjatkan doa agar mereka memperoleh petunjuk.” Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa kisah yang tercatat di dalam diari beliau as hanyalah sebatas ini yakni di tempat-tempat ibadah para orang suci, Hadhrat Masih Mau’ud as memanjatkan doa bagi mereka, bagi diri beliau dan untuk beberapa perkara lainnya.

Dalam buku beliau yang berjudul Tadkiratush Shahadatain, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Ketika Aku mulai menulis buku ini, aku berniat untuk segera menyelesaikannya dan membawanya ke Gurdaspur. Namun yang terjadi adalah aku menderita rasa sakit di Ginjal dan aku memahami bahwa rencanaku tidak akan terpenuhi karena waktu sangat singkat. Allah Ta’ala kemudian menarik perhatianku untuk berdoa. Saat itu adalah pukul 3 dini hari dan aku berkata kepada istriku bahwa aku akan berdoa kepada Allah Ta’ala dan ia pun mengaminkannya. Dalam situasi demikian dan seraya mengingat Sahibzada Abdul Latif, aku mulai memohon kepada Allah Ta’ala serta berdoa bahwa aku telah berkehendak untuk menulis buku ini untuk mengenangnya. Aku sungguh telah sembuh sebelum pukul 6 pagi dan aku selesai menulis setengah buku pada hari tersebut.”  Beliau menulis kisah ini dengan judul: Suatu mukjizat yang baru dari Almarhum Maulwi Abdul Latif Sahib. Terbukti bahwa Hadhrat Rasulullah saw sendiri seringkali berdoa dengan corak seperti ini.

Adalah dilarang untuk menganggap bahwa seseorang yang telah meninggal dapat memberikan faedah bagi kita. Hal ini adalah salah dan haram di dalam Islam. Akan tetapi, pergi ke tempat-tempat demikian seraya memanjatkan doa senantiasa membangkitkan kelembutan dan kerendahan hati atau berdoa dengan mengingat janji-janji Allah Ta’ala kepada Hadhrat Rasulullah saw dan dengan memohon agar semua janji tersebut terpenuhi di dalam diri kita merupakan sebuah realitas kerohanian dan wajib bagi setiap mukmin mencari keberkatan dari tempat-tempat semacam itu. Sebagai contoh, kita dapat berdoa di makam Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa ini merupakan seorang wujud yang bersama dengannya terdapat janji Engkau untuk menghidupkan kembali agama Islam. Adalah janji Engkau untuk membawa nama beliau as ke ujung dunia. Buatlah diri kita menjadi bagian dari janji tersebut dan penuhilah tanggung jawab kita untuk menyempurnakan misi beliau as.

Semoga Allah Ta’ala memungkinkan kita untuk merasakan gambaran sejati agama Islam bagi diri kita dan juga untuk menunjukannya kepada dunia!

Akan dilaksanakan shalat jenazah ghaib bagi Maulwi Muhammad Yusuf Sahib, seorang Darwaisy, Qadian yang meninggal dunia pada tanggal 22 Juli pada umut 94 tahun. Hudhur membacakan penghargaan singkat bagi beliau.


Penerjemah: Hafizurrahman.

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.